SISTEM INFORMASI STRATEGIK

Sistem Informasi Strategik
Selama berabad-abad organisasi telah mengelola knowledge dan teknologi. Terutama dalam masa revolusi industri, terlihat jelas organisasi usaha mengalami pertumbuhan pesat dampak adopsi teknologi terbaru pada ketika itu. Di abad ini, selama lebih menurut 3 dasa warsa, sejak organisasi bisnis menggunakan personal komputer buat kebutuhan pemrosesan data, penggunaan teknologi liputan (TI) dalam organisasi usaha terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal ini didukung menggunakan timbulnya pemahaman generik bahwa penggunaan TI dalam organisasi akan mengurangi aneka macam porto akibat adanya efisiensi dan bahwa keberadaan TI akan menciptakan organisasi yg memilikinya akan mempunyai keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing.

Sejak saat itu, organisasi bisnis terus melakukan investasi akbar-besaran dalam perangkat TI. Dari tahun 1996 hingga 2000 saja, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat membelanjakan hampir dua trilyun dolar pada hardware dan aplikasi untuk mengejar peningkatan efisiensi, produktifitas yang lebih tinggi dan penguatan laba. (Stiroh, 2001) Besarnya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut tentunya diikuti jua menggunakan besarnya ekspektasi akan output yang bisa diperoleh atas investasi tersebut. Investasi yang besar , diharapkan akan membawa peningkatan yang besar terhadap kinerja atau produktifitas bagi organisasi usaha tersebut. 

Namun demikian, belakangan disadari bahwa organisasi usaha yg merupakan top performer pada Amerika Serikat merupakan organisasi bisnis yg tergolong hemat dalam melakukan belanja perangkat TI. Studi yg dilakukan sang Forrester Research pada Maholtra (2005) menemukan bahwa perusahaan dengan performa terbaik yang diukur dengan pendapatan, Return on Assets (ROA) serta pertumbuhan cash flow memiliki belanja TI yg lebih rendah berdasarkan homogen-homogen perusahaan lain. Penelitian Collins pada Maholtra (2005) dalam perusahaan Amerika Serikat menggunakan performa terbaik selama 30 tahun membuat temuan yg serupa. Temuan tadi menjadi bertolak belakang menggunakan sejumlah penelitian, misalnya yg dilakukan oleh Barua, Kriebel & Mukhopadhyay (1991), Brynjolfsson dan Hitt (1994), ataupun Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001)yang membuktikan adanya interaksi positif antara investasi perusahaan pada TI dengan kinerja. Tetapi tidak bertolak belakang menggunakan sejumlah penelitian lainnya yg gagal pertanda adanya hubungan antara TI menggunakan kinerja atau produktifitas Hal ini menyisakan pertanyaan apakah teknologi liputan benar-benar dapat menaruh manfaat bagi kinerja perusahaan? 

Sejumlah studi realitas tentang pengaruh TI bagi organisasi bisnis itu sendiri sebenarnya telah banyak dilakukan sejak pertengahan era 1980’an. Penelitian tentang imbas TI pada organisasi bisnis berakar pada topik penelitian mengenai information technology investment and firm performance yg selama bertahun-tahun telah sebagai perdebatan tentang apakah investasi pada TI memiliki dampak yg positif menggunakan berukuran-ukuran kinerja ataupun produktifitas. Penelitian yg dilakukan semenjak 2 dekade lalu membuat temuan yg mixed mengenai manfaat TI tersebut. Ketika TI diyakini memberi manfaat bagi organisasi bisnis yang memilikinya, sejumlah penelitian justru membuat temuan berupa ketiadaan hubungan antara investasi perusahaan pada TI menggunakan peningkatan produktifitas, suatu situasi yg dianggap sebagai productivity lawan asas (Dedrick, Gurbaxani & Kraemer, 2002) Penelitian yg dilakukan tadi, secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu studi yang dilakukan dalam level perusahaan dan studi yang dilakukan dalam level negara. Hasil berdasarkan sejumlah penelitian tersebut bisa ditinjau pada tabel berikut, yg menunjukkan bahwa investasi perusahaan bagi TI tidaklah selalu diikuti menggunakan peningkatan kinerja/produktifitas

Tabel Studi Empiris tentang Dampak TI terhadap Kinerja/Produktifitas (Studi dalam perusahaan sektor jasa hingga Manufaktur)
Peneliti


Sumber Data

Temuan

Strassmann [1985]
Strassmann [1990]

Computerworld,
survei terhadap 38 perusahaan
Tidak ada hubungan antara  investasi pada  TI menggunakan berukuran-berukuran kinerja, semisal ROI
Bender [1986]
LOMA insurance data
Dari 132 perusahaan
Korelasi lemah antara TI dengan berbagai rasio kinerja
Franke [1987]
Data industri keuangan
Investasi dalam TI berhubungan dengan penurunan tajam pada capital productivity serta nir terdapat imbas dalam labor productivity
Dudley & Lasserre [1989]

TI serta komunikasi mengurangi biaya yang berkaitan menggunakan inventory
Parsons, Gottlieb dan
Denny  [1990]
perbankan
Dampak yang rendah berdasarkan teknologi informasi terhadap produktifitas
Alpar & Kim [1991]
perbankan
TI mengakibatkan pengurangan biaya . 10 %. Peningkatan pada investasi TI membawa efek dalam 1.9% penurunan total cost.
Harris & Katz [19 91]
40 perusahaan  anggota LOMA
Hubungan positif yang lemah antara TI dengan berbagai rasio kinerja
Barua, Kriebel &
Mukhopadhyay [1991]
manufaktur
Investasi pada TI herbi  sejumlah intermediate performance measure yang lalu herbi berukuran-berukuran kinerja yg lebih tinggi misalnya revenue, ROA & market share

Mahmood & Mann (1993)

Computerworld  data dalam 100 perusahaan
Investasi dalam TI mempunyai hubungan yg lemah dengan pencapaian  strategi organisasi serta kinerja secara ekonomi. Tetapi memiliki hubungan yg signifikan apabila diuji dengan canonical analysis yg bisa mengukur efek kombinasi dari variabel-variabel investasi TI
Diewert & Smith [1994]
Perusahaan ritel Kanada
Peningkatan produktifitas melalui pengelolaan inventory yg lebih baik dengan TI
Brynjolfsson & Hitt [1994]
IDG, Compustat, Bureau of Economics Analysis (BEA)
TI membawa impak pada peningkatan produktifitas dan membentuk value bagi customer
Loveman [1994]
 PIMS/MPIT
Invetasi pada TI tidak membawa efek apapun terhadap output
Kwon & Stoneman [1995]
UK Based survey
TI mempunyai pengaruh positif  terhadap hasil dan produktifitas.
Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001)
Perusahaan yang tercantum dalam Fortune 500 serta  Fortune Service 500
Investasi pada TI memiliki hubungan positif menggunakan sejumlah berukuran kinerja, seperti penjualan, asset & ekuitas
Sumber: Barua, Kriebel & Mukhopadhyay (1995), Brynjolfsson &Yang (1996), Mahmood & Mann (2000),Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001) 

Pada studi level negara, pada Amerika Serikat, Oliner & Sichel (1994, 2000) menemukan bahwa penggunaan teknologi warta misalnya computer hardware, aplikasi serta perangkat komunikasi berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produktifitas pada era pertengahan tahun 90’an. Tetapi demikian, Gordon (2000) dalam Simon & Wardop (2002) mengemukakan bahwa teknologi liputan pada Alaihi Salam tidak membawa efek yg luas terhadap pertumbuhan output, sebagaimana yg ditimbulkan oleh gelombang inovasi akbar pada abad lalu misalnya ditemukannya listrik dan mesin menggunakan pembakaran internal. Di Australia sendiri, penelitian oleh Simon& Wardop (2002) memperlihatkan Australia mengalami peningkatan pertumbuhan output yg signifikan sehubungan menggunakan penggunaan teknologi berita dalam organisasi. Lebih jauh lagi Jorgenson (2004) mencoba buat melihat dampak TI pada pertumbuhan ekonomi negara-negara G7. Ia menyatakan bahwa semenjak 1995, masih ada investasi yang akbar terhadap perangkat TI pada negara-negara G7 dimana hal ini membawa donasi terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut. 

Penjelasan mengenai productivity lawan asas pernah dilakukan sang Brynjolfsson &Yang (1996) yang mengemukakan bahwa masih ada 4 aspek buat mengungkapkan terjadinya productivity paradoks Keempatnya adalah : (1) Kesalahan pengukuran. Terjadi dalam kemungkinan terjadinya kesalahan pengukuran input serta Output akibat masih digunakannya pendekatan tradisional pada pengukurannya.(dua) Adanya waktu tunda atau lags. Waktu tunda disini timbul dari disparitas ketika menurut analisa tentang payoff berdasarkan porto versus manfaat. (tiga) Redistribution: TI dipakai dalam aktifitas redistribusi antar perusahaan. Hal ini membuahkan TI berguna, namun manfaat ini tidak bisa diukur pada total output. (4). Mismanagement, kesalahan dalam pengelolaan TI bisa menciptakan TI terlihat nir produktif bila diukur secara statistik. Lebih lanjut, Ahadiat (2006) mencoba menyebutkan tentang hal tersebut dengan mengutip Bakos (1998) bahwa Investasi pada TI sendiri merupakan investasi pada sesuatu yang gampang menjadi usang (obsolete) sebagai akibatnya terdapat kesulitan buat menampakkan manfaatnya dalam skala pengukuran kinerja atau produktifitas yang sudah umum dipakai. 

INTANGIBLE BENEFIT DARI TEKNOLOGI INFORMASI 
Perkembangan terkini dari studi empiris mengenai pengaruh TI, waktu ini nir hanya mencoba buat mengkaitkan investasi TI menggunakan tangible benefit, namun pula intangible benefit. Hal ini terutama terus mengemuka sejalan menggunakan makin maraknya implementasi Knowledge Management (KM) pada sejumlah organisasi usaha. KM merupakan upaya organisasi dalam mengelola aktiva intelektual yg dimilikinya melalui praktek-praktek pendokumentasian dan sharing pengetahuan diantara anggota organisasi. Untuk melakukan pendokumentasian dan sharing pengetahuan ini diharapkan TI buat mewujudkannya, yaitu dalam bentuk pengembangan intranet, extranet dan perangkat pendukung lainnya berupa hardware, software dan telekomunikasi yang dikenal sebagai KM technology. Meski praktek KM diyakini bisa menaikkan intangible asset bagi organisasi, namun Maholtra (2005) mencoba menyoroti penggunaan kata knowledge management technology berdasarkan sisi lain, yaitu hanyalah sebagai perkembangan terbaru atau re-labelling yg dilakukan oleh para vendor TI selesainya selama dua dekade terakhir istilah teknologi warta telah poly dipakai. 

Pasar KM technology sendiri merupakan pasar yg menarik bagi para vendor TI. Pasar global KM diestimasikan sebesar US$8.8 billion selama tahun 2005. Sedangkan pelaksanaan usaha yang digunakan buat menunjang KM, misalnya CRM diproyeksikan buat bertumbuh sebanyak $148 billion dalam tahun 2006 (Maholtra, 2005) KM sendiri telah dimanfaatkan sang vendor TI buat memasarkan produk-produknya. Sehngga terlepas berdasarkan sisi positif implementasi KM bagi organisasi namun wajib disadari bahwa vendor TI pun membutuhkan slogan baru buat memasarkan produk berupa perangkat yang dimilikinya melalui popularitas KM. Hal ini tentu jua melahirkan pertanyaan lanjutan, yaitu apakah KM technology berguna bagi organisasi? 

Bila di dua dekade lalu, waktu kata productivity paradoks mulai mengemuka, terdapat sebuah quote yg sangat populer yaitu: “You can see the computer everywhere but in the productivity statistics” (Robert Solow) maka kini Maholtra melanjutkannya dengan “One can see the impact of knowledge management everywhere but in the KM technology-performance statistics ’’ 

Bila ditinjau berdasarkan sisi definisi, Knowledge management sendiri mempunyai sejumlah definisi yg mengadung penekanan yang tidak selaras. Definisi tadi diantaranya:

‘‘Knowledge management systems (KMS) refer to a class of information systems applied to managing organizational knowledge. That is, they are IT-based systems developed to support and enhance the organizational processes of knowledge creation, storage/retrieval, transfer, and application’’ (Alavi dan Leidner, 2001) 

Definisi yg berikutnya adalah:
‘‘Knowledge Management refers to the critical issues of organizational adaptation, survival and competence against discontinuous environmental change. Essentially it embodies organizational processes that seek synergistic combination of data and information-processing capacity of information technologies, and the creative and innovative capacity of human beings’’ (Malhotra,2005)

Bila ditinjau, dalam kedua definisi tersebut terdapat perbedaan yg esensial. Jika definisi yang pertama lebih poly menekankan pada ketersediaan sistem berbasis TI buat mengelola knowledge, definisi yang ke 2 lebih menekankan dalam proses lanjutan yaitu daya kreatif dan inovasi manusia pada memakai data serta warta.

Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa tersedianya intranets, extranets, hingga groupware tidak dan merta bisa menghantarkan dalam kinerja perusahaan yang lebih baik. Teknologi ini, perlu diadopsi dan disesuaikan dengan manusia sebagai user, diintegrasikan sinkron dengan konteks pekerjaan dan secara efektif dipakai oleh organisai.

Sehingga sama halnya menggunakan pertanyaan pertama, yaitu apakah apakah teknologi liputan sungguh dapat memberikan manfaat bagi kinerja organisasi? Pertanyaan ke 2, yaitu apakah KM technology berguna bagi organisasi? Membutuhkan kajian lebih lanjut untuk menjawabnya. Namun satu hal yang sudah pasti bahwa investasi perusahaan dalam perangkat TI atau yg sekarang juga diberi nama perangkat KM technology nir akan serta merta memberikan manfaat yg terukur bagi organisasi yg memilikinya. Dibutuhkan sejumlah penataan selanjutnya untuk membuat teknologi tersebut sebagai berdampak positif bagi organisasi bisnis.

MEREALISASIKAN DAMPAK POSTIF TI; PEOPLE, PROSES & BUSINESS MODEL.
Dengan mengamati praktek-praktek yg telah dilakukan oleh organisasi usaha yg berhasil pada memanfaatkan TI, maka buat bisa merealisasikan pengaruh positif TI bagi organisasi bisnis tersebut, paling nir bisa dilakukan melalui tiga hal yaitu: people, proses & business contoh.

Dalam kaitannya dengan people, peranan dari TI sudah tidak selaras menggunakan peranan mesin pada era industri yg digunakan buat menggantikan tenaga manusia. Meski penggunaan yang mula-mula menurut komputer adalah diarahkan pada factor substitution, yaitu menggantikan low skill clerical worker melalui otomatisasi proses kerja. Dalam organisasi modern, TI tidak semata-mata menggantikan kekuatan otot ataupun kepandaian insan. Dari hasil analisa makroekonomi multi tahun dari ratusan perusahaan, Strassmann pada Malhotra (2005) menegaskan bahwa bukanlah komputer yang penting, tetapi apa yg dilakukan insan dengan personal komputer tadi adalah yg terpenting. Sebagaimana bukanlah sebuah palu yg dapat mendirikan sebuah rumah yg baik, tetapi tergantung dalam ditangan siapakah palu itu dipegang, sebagai akibatnya dapat membuat sebuah rumah yang baik. Dari sini semakin jelas terlihat bahwa manfaat yg dihasilkan sang teknologi, tidaklah semata dari berdasarkan teknologi itu sendiri, namun dari apa yang dilakukan oleh insan menggunakan teknologi tadi. 

Terkait menggunakan proses, manfaat yg dihasilkan sang organisasi bisnis berdasarkan TI terletak pada bagaimana organisasi tersebut menggunakannya nir sekedar buat otomatisasi, tetapi pula untuk mentransformasi proses bisnis, hingga mengubah atau membangun contoh bisnis yang sesuai manakala aktifitas kerja dan aneka macam proses bisnis sudah didukung TI. Hammer & Champy dalam Hartono (2005) mengidentifikasi kegagalan investasi TI buat memberikan impak terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan lantaran implementasi TI dianggap sekedar mengotomatisasi aktivitas tradisionil yang ada. Menurut Hammer, buat memberikan manfaat investasi TI wajib dipakai buat mengubah secara revolusioner proses bisnis yg ada dalam organisasi. Pendekatan ini diklaim sebagai Business Process reengineering (BPR), dimana BPR ini bersifat mendasar, radikal, dramatis dan berorientasi dalam proses.

Bila ditinjau berdasarkan perkembangan ilmu manajemen, efek luar biasa menurut inovasi teknologi misalnya listrik dan mesin-mesin pada abad industri terhadap kemajuan industri tidaklah melulu ditimbulkan karena organisasi mempunyai mesin-mesin tadi. Organisasi bisnis dalam masa itu juga melakukan perubahan proses kerja buat bisa mewujudkan keunggulannya, misalnya melalui diterapkannya division of labor. Sehingga nir heran di abad berita keilmuan manajemen memperkenalkan kata teamwork, interconnection, serta shared information menjadi suatu penemuan menurut ilmu manajemen buat mengadopsi teknologi pada proses kerja. (Senn, 2004 ).

Carr pada artikel kontroversialnya IT Doesn’t Matter yg dipublikasikan melalui Harvard Business Review (2003) menyoroti kemampuan TI untuk mendeliver keunggulan kompetitif yg semakin memudar. Beberapa dasawarsa kemudian bank yg menerapkan online banking bisa mempunyai keunggulan kompetitif serta merebut hati nasabah. Tetapi saat ini teknologi ini sudah dimiliki seluruh bank. Demikian pula menggunakan Reuters yang mempunyai sistem TI yang tidak dapat disaingi pada dasawarsa kemudian, tetapi sekarang bahkan surat kabar lokal sekalipun juga bisa memiliki jaringan yang terkenal diseluruh dunia melalui teknologi internet.

Carr (2003) juga menyoroti kesamaan organisasi usaha dalam masa sekarang yang terlalu mengandalkan vendor aplikasi ataupun perangkat keras sampai konsultan TI agar organisasi bisnis bisa tetap up to date dengan perkembangan TI, dibandingkan dengan berupaya buat melakukan penemuan sendiri. Ketergantungan ini menyebabkan setiap organisasi bisnis cenderung mempunyai sistem dan teknologi yg seragam, sebagai akibatnya selama nir dilakukan inovasi maka nir akan terdapat nilai lebih yang bisa ditampilkan sang suatu organiasi usaha jika dibandingkan dengan pesaingnya. Kondisi ini juga didukung menggunakan praktek organisasi bisnis selama ini dimana berdasarkan total pembelanjaannya dalam TI, persentase terbesar adalah buat pengadaan komoditas berupa berbagai perangkat serta hanya sedikit yg mengalokasikan dana buat upaya menemukan inovasi atau melakukan proses kreatif dari aneka macam perangkat tersebut.

Satu hal lain yang perlu ditinjau adalah pilihan akan contoh bisnis. Perkembangan teknologi telah memungkinkan organisasi untuk membangun new business model yang baru pada hal penawaran barang serta jasa ataupun baru dalam hal cara mendelivernya ke konsumen (Hartono, 2005) Dalam kaitannya dengan contoh bisnis, peritel Wal Mart telah muncul menjadi sebuah organisasi bisnis yang akbar lantaran berhasil memanfaatkan TI secara maksimal buat menjalankan model usaha yang dipilihnya. Wal-Mart juga terus mencari cara buat meningkatkan efisiensi pada TI melalui pengelolaan rantai pasokan secara elektronis. Wal Mart mengarahkan seluruh pemasoknya untuk memakai sistem pengadaan barang secara elektronis yg sesuai menggunakan miliknya, sehingga mau tak mau supplier yang ingin terus berhubungan dengan WalMart harus mengadopsi sistem tadi. (Maholtra, 2005) Lebih jauh mengenai model usaha, Amazon, Google serta e-bay merupakan tiga nama akbar pada dunia e-commerce yg menjalankan bisnisnya murni secara impian atau hanya ada didunia maya. Siapapun sebenarnya bisa memulai usaha di internet, sebuah infrastruktur terbuka yg bisa dipakai sang siapa saja dan sudah lazim diadopsi sang organisasi bisnis lainnya. Tetapi menggunakan kreatifitas para pendirinya, ketiganya menentukan suatu model usaha yang bisa diterima sang pengguna internet di seluruh dunia. Amazon, pioner pada usaha ritel yg terus melengkapi diri menggunakan fitur-fitur baru dan kemudahan yang membuat pelanggan enggan berpaling. E-bay pada bidang pelelangan yg membuat segala hal jadi mungkin buat dilelang dan seluruh orang di seluruh dunia dapat menjadi peserta lelang asalkan memiliki akses ke internet. Serta Google sebagai angka satu pada search engine yang menggunakan perangkat TI sederhana secara aporisma yaitu dengan menciptakan prosedur pemecahan pemrograman yang memungkinkan user men-search ‘apapun’ secara lebih cepat dan teliti dibanding berdasarkan search engine manapun termasuk Yahoo. Masih banyak model lain, misalkan Encyclopedia Britannica yg pada abad keterangan ini jua wajib merubah model bisnisnya pada menjajakan keterangan akibat adanya internet dan munculnya Wikipedia, suatu free ensiklopedia di internet yg mempunyai lebih menurut 1,8 juta artikel dan dikerjakan sang para sukarelawan berdasarkan semua dunia (Hammel, 2006)

Akhirnya, buat dapat mengukur dampak TI dalam organisasi, Luftman (2004) memaparkan sejumlah aspek yg bisa diukur selain aspek keuangan buat mengukur impak positif TI menggunakan lebih naratif. Luftman menegaskan bahwa aspek-aspek yang bisa diukur buat menilai manfaat bisa mencakup pengaruh terhadap bisnis, interaksi pelanggan, impak pada internal organisasi hingga value chain. Dicontohan juga, misalkan TI digunakan buat memperbaiki order management, maka pengukuran dapat dilakukan dalam short order lead times, In-stock availability, order accuracy, access to order status information sampai response time to customer inquiries, sebagai akibatnya lebih jelasnya berdasarkan efek positif tersebut bisa lebih terlihat.

SISTEM INFORMASI STRATEGIK

Sistem Informasi Strategik
Selama berabad-abad organisasi telah mengelola knowledge serta teknologi. Terutama dalam masa revolusi industri, terlihat jelas organisasi bisnis mengalami pertumbuhan pesat akibat adopsi teknologi terbaru pada waktu itu. Di abad ini, selama lebih berdasarkan 3 dekade, sejak organisasi usaha menggunakan personal komputer buat kebutuhan pemrosesan data, penggunaan teknologi warta (TI) dalam organisasi usaha terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal ini didukung menggunakan timbulnya pemahaman umum bahwa penggunaan TI dalam organisasi akan mengurangi berbagai porto dampak adanya efisiensi dan bahwa eksistensi TI akan membuat organisasi yang memilikinya akan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing.

Sejak waktu itu, organisasi usaha terus melakukan investasi akbar-besaran pada perangkat TI. Dari tahun 1996 sampai 2000 saja, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat membelanjakan hampir 2 trilyun dolar dalam hardware serta software buat mengejar peningkatan efisiensi, produktifitas yang lebih tinggi dan penguatan keuntungan. (Stiroh, 2001) Besarnya investasi yang dikeluarkan sang perusahaan-perusahaan tersebut tentunya diikuti pula dengan besarnya ekspektasi akan output yg bisa diperoleh atas investasi tadi. Investasi yang akbar, diperlukan akan membawa peningkatan yang akbar terhadap kinerja atau produktifitas bagi organisasi bisnis tadi. 

Namun demikian, belakangan disadari bahwa organisasi bisnis yang merupakan top performer di Amerika Serikat merupakan organisasi usaha yang tergolong irit pada melakukan belanja perangkat TI. Studi yg dilakukan oleh Forrester Research pada Maholtra (2005) menemukan bahwa perusahaan dengan performa terbaik yg diukur dengan pendapatan, Return on Assets (ROA) dan pertumbuhan cash flow memiliki belanja TI yg lebih rendah menurut homogen-homogen perusahaan lain. Penelitian Collins dalam Maholtra (2005) pada perusahaan Amerika Serikat dengan performa terbaik selama 30 tahun membuat temuan yang serupa. Temuan tadi menjadi bertolak belakang dengan sejumlah penelitian, seperti yang dilakukan oleh Barua, Kriebel & Mukhopadhyay (1991), Brynjolfsson serta Hitt (1994), ataupun Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001)yang mengambarkan adanya interaksi positif antara investasi perusahaan dalam TI menggunakan kinerja. Tetapi tidak bertolak belakang dengan sejumlah penelitian lainnya yg gagal pertanda adanya interaksi antara TI dengan kinerja atau produktifitas Hal ini menyisakan pertanyaan apakah teknologi liputan benar-benar bisa menaruh manfaat bagi kinerja perusahaan? 

Sejumlah studi realitas tentang dampak TI bagi organisasi bisnis itu sendiri sebenarnya sudah banyak dilakukan sejak pertengahan era 1980’an. Penelitian mengenai imbas TI pada organisasi usaha berakar dalam topik penelitian mengenai information technology investment and firm performance yg selama bertahun-tahun sudah menjadi perdebatan tentang apakah investasi dalam TI memiliki impak yang positif menggunakan ukuran-berukuran kinerja ataupun produktifitas. Penelitian yg dilakukan sejak 2 dekade kemudian membuat temuan yg mixed tentang manfaat TI tersebut. Ketika TI diyakini memberi manfaat bagi organisasi bisnis yang memilikinya, sejumlah penelitian justru membentuk temuan berupa ketiadaan hubungan antara investasi perusahaan dalam TI menggunakan peningkatan produktifitas, suatu situasi yg disebut sebagai productivity paradoks (Dedrick, Gurbaxani & Kraemer, 2002) Penelitian yang dilakukan tersebut, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu studi yg dilakukan pada level perusahaan serta studi yang dilakukan dalam level negara. Hasil dari sejumlah penelitian tadi bisa dipandang pada tabel berikut, yang menerangkan bahwa investasi perusahaan bagi TI tidaklah selalu diikuti dengan peningkatan kinerja/produktifitas

Tabel Studi Empiris tentang Dampak TI terhadap Kinerja/Produktifitas (Studi dalam perusahaan sektor jasa hingga Manufaktur)
Peneliti


Sumber Data

Temuan

Strassmann [1985]
Strassmann [1990]

Computerworld,
survei terhadap 38 perusahaan
Tidak terdapat korelasi antara  investasi dalam  TI dengan berukuran-ukuran kinerja, semisal ROI
Bender [1986]
LOMA insurance data
Dari 132 perusahaan
Korelasi lemah antara TI dengan berbagai rasio kinerja
Franke [1987]
Data industri keuangan
Investasi pada TI berhubungan dengan penurunan tajam pada capital productivity serta tidak ada dampak dalam labor productivity
Dudley & Lasserre [1989]

TI serta komunikasi mengurangi biaya yg berkaitan menggunakan inventory
Parsons, Gottlieb dan
Denny  [1990]
perbankan
Dampak yg rendah berdasarkan teknologi warta terhadap produktifitas
Alpar & Kim [1991]
perbankan
TI menyebabkan pengurangan porto. 10 %. Peningkatan pada investasi TI membawa pengaruh dalam 1.9% penurunan total cost.
Harris & Katz [19 91]
40 perusahaan  anggota LOMA
Hubungan positif yg lemah antara TI dengan aneka macam rasio kinerja
Barua, Kriebel &
Mukhopadhyay [1991]
manufaktur
Investasi dalam TI herbi  sejumlah intermediate performance measure yang kemudian herbi ukuran-berukuran kinerja yang lebih tinggi seperti revenue, ROA & market share

Mahmood & Mann (1993)

Computerworld  data pada 100 perusahaan
Investasi pada TI mempunyai hubungan yg lemah dengan pencapaian  strategi organisasi serta kinerja secara ekonomi. Namun mempunyai hubungan yang signifikan jika diuji dengan canonical analysis yg dapat mengukur pengaruh kombinasi menurut variabel-variabel investasi TI
Diewert & Smith [1994]
Perusahaan ritel Kanada
Peningkatan produktifitas melalui pengelolaan inventory yang lebih baik menggunakan TI
Brynjolfsson & Hitt [1994]
IDG, Compustat, Bureau of Economics Analysis (BEA)
TI membawa pengaruh pada peningkatan produktifitas dan membangun value bagi customer
Loveman [1994]
 PIMS/MPIT
Invetasi pada TI tidak membawa dampak apapun terhadap output
Kwon & Stoneman [1995]
UK Based survey
TI mempunyai impak positif  terhadap hasil serta produktifitas.
Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001)
Perusahaan yang tercantum dalam Fortune 500 serta  Fortune Service 500
Investasi pada TI mempunyai interaksi positif dengan sejumlah ukuran kinerja, seperti penjualan, asset & ekuitas
Sumber: Barua, Kriebel & Mukhopadhyay (1995), Brynjolfsson &Yang (1996), Mahmood & Mann (2000),Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001) 

Pada studi level negara, di Amerika Serikat, Oliner & Sichel (1994, 2000) menemukan bahwa penggunaan teknologi berita misalnya computer hardware, aplikasi serta perangkat komunikasi berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produktifitas dalam era pertengahan tahun 90’an. Tetapi demikian, Gordon (2000) dalam Simon & Wardop (2002) mengemukakan bahwa teknologi berita di AS nir membawa dampak yg luas terhadap pertumbuhan output, sebagaimana yang disebabkan oleh gelombang inovasi besar dalam abad lalu misalnya ditemukannya listrik dan mesin dengan pembakaran internal. Di Australia sendiri, penelitian oleh Simon& Wardop (2002) menunjukkan Australia mengalami peningkatan pertumbuhan output yang signifikan sehubungan menggunakan penggunaan teknologi fakta pada organisasi. Lebih jauh lagi Jorgenson (2004) mencoba buat melihat pengaruh TI pada pertumbuhan ekonomi negara-negara G7. Ia menyatakan bahwa sejak 1995, masih ada investasi yg akbar terhadap perangkat TI pada negara-negara G7 dimana hal ini membawa kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut. 

Penjelasan mengenai productivity lawan asas pernah dilakukan sang Brynjolfsson &Yang (1996) yg mengemukakan bahwa masih ada 4 aspek buat mengungkapkan terjadinya productivity lawan asas Keempatnya merupakan : (1) Kesalahan pengukuran. Terjadi pada kemungkinan terjadinya kesalahan pengukuran input serta Output akibat masih digunakannya pendekatan tradisional dalam pengukurannya.(2) Adanya waktu tunda atau lags. Waktu tunda disini muncul berdasarkan perbedaan ketika dari analisa mengenai payoff menurut porto versus manfaat. (3) Redistribution: TI dipakai dalam aktifitas redistribusi antar perusahaan. Hal ini menjadikan TI bermanfaat, namun manfaat ini nir bisa diukur dalam total hasil. (4). Mismanagement, kesalahan pada pengelolaan TI bisa menciptakan TI terlihat tidak produktif jika diukur secara statistik. Lebih lanjut, Ahadiat (2006) mencoba mengungkapkan tentang hal tadi menggunakan mengutip Bakos (1998) bahwa Investasi pada TI sendiri adalah investasi pada sesuatu yg gampang sebagai lama (obsolete) sehingga terdapat kesulitan untuk menampakkan keuntungannya pada skala pengukuran kinerja atau produktifitas yang sudah umum digunakan. 

INTANGIBLE BENEFIT DARI TEKNOLOGI INFORMASI 
Perkembangan modern dari studi realitas tentang impak TI, saat ini tidak hanya mencoba buat mengkaitkan investasi TI dengan tangible benefit, tetapi jua intangible benefit. Hal ini terutama terus mengemuka sejalan menggunakan makin maraknya implementasi Knowledge Management (KM) pada sejumlah organisasi usaha. KM merupakan upaya organisasi pada mengelola aktiva intelektual yang dimilikinya melalui praktek-praktek pendokumentasian serta sharing pengetahuan diantara anggota organisasi. Untuk melakukan pendokumentasian serta sharing pengetahuan ini dibutuhkan TI buat mewujudkannya, yaitu dalam bentuk pengembangan intranet, extranet serta perangkat pendukung lainnya berupa hardware, perangkat lunak serta telekomunikasi yang dikenal sebagai KM technology. Meski praktek KM diyakini bisa menaikkan intangible asset bagi organisasi, tetapi Maholtra (2005) mencoba menyoroti penggunaan kata knowledge management technology berdasarkan sisi lain, yaitu hanyalah menjadi perkembangan terkini atau re-labelling yang dilakukan sang para vendor TI selesainya selama dua dekade terakhir istilah teknologi warta sudah banyak digunakan. 

Pasar KM technology sendiri merupakan pasar yg menarik bagi para vendor TI. Pasar dunia KM diestimasikan sebanyak US$8.8 billion selama tahun 2005. Sedangkan pelaksanaan usaha yang digunakan untuk menunjang KM, misalnya CRM diproyeksikan buat bertumbuh sebanyak $148 billion dalam tahun 2006 (Maholtra, 2005) KM sendiri telah dimanfaatkan sang vendor TI buat memasarkan produk-produknya. Sehngga terlepas berdasarkan sisi positif implementasi KM bagi organisasi tetapi harus disadari bahwa vendor TI pun membutuhkan jargon baru buat memasarkan produk berupa perangkat yang dimilikinya melalui popularitas KM. Hal ini tentu jua melahirkan pertanyaan lanjutan, yaitu apakah KM technology berguna bagi organisasi? 

Bila di dua dasa warsa kemudian, waktu istilah productivity lawan asas mulai mengemuka, masih ada sebuah quote yg sangat populer yaitu: “You can see the computer everywhere but in the productivity statistics” (Robert Solow) maka kini Maholtra melanjutkannya menggunakan “One can see the impact of knowledge management everywhere but in the KM technology-performance statistics ’’ 

Bila ditinjau berdasarkan sisi definisi, Knowledge management sendiri mempunyai sejumlah definisi yg mengadung penekanan yang tidak sinkron. Definisi tadi diantaranya:

‘‘Knowledge management systems (KMS) refer to a group of information systems applied to managing organizational knowledge. That is, they are IT-based systems developed to support and enhance the organizational processes of knowledge creation, storage/retrieval, transfer, and application’’ (Alavi serta Leidner, 2001) 

Definisi yang berikutnya merupakan:
‘‘Knowledge Management refers to the critical issues of organizational adaptation, survival and competence against discontinuous environmental change. Essentially it embodies organizational processes that seek synergistic combination of data and information-processing capacity of information technologies, and the creative and innovative capacity of human beings’’ (Malhotra,2005)

Bila dicermati, pada kedua definisi tadi terdapat perbedaan yg esensial. Bila definisi yg pertama lebih poly menekankan dalam ketersediaan sistem berbasis TI buat mengelola knowledge, definisi yang kedua lebih menekankan dalam proses lanjutan yaitu daya kreatif dan penemuan manusia pada menggunakan data serta informasi.

Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa tersedianya intranets, extranets, hingga groupware tidak dan merta dapat menghantarkan pada kinerja perusahaan yang lebih baik. Teknologi ini, perlu diadopsi serta disesuaikan dengan insan menjadi user, diintegrasikan sesuai dengan konteks pekerjaan serta secara efektif digunakan sang organisai.

Sehingga sama halnya dengan pertanyaan pertama, yaitu apakah apakah teknologi liputan benar-benar bisa memberikan manfaat bagi kinerja organisasi? Pertanyaan ke 2, yaitu apakah KM technology berguna bagi organisasi? Membutuhkan kajian lebih lanjut buat menjawabnya. Tetapi satu hal yg telah niscaya bahwa investasi perusahaan pada perangkat TI atau yang sekarang jua diberi nama perangkat KM technology tidak akan dan merta memberikan manfaat yang terukur bagi organisasi yg memilikinya. Dibutuhkan sejumlah penataan selanjutnya buat menciptakan teknologi tersebut sebagai berdampak positif bagi organisasi bisnis.

MEREALISASIKAN DAMPAK POSTIF TI; PEOPLE, PROSES & BUSINESS MODEL.
Dengan mengamati praktek-praktek yg telah dilakukan sang organisasi bisnis yg berhasil dalam memanfaatkan TI, maka buat bisa merealisasikan pengaruh positif TI bagi organisasi usaha tadi, paling nir bisa dilakukan melalui 3 hal yaitu: people, proses & business contoh.

Dalam kaitannya dengan people, peranan dari TI telah tidak sama menggunakan peranan mesin pada era industri yang dipakai untuk menggantikan tenaga insan. Meski penggunaan yg mula-mula menurut komputer adalah diarahkan pada factor substitution, yaitu menggantikan low skill clerical worker melalui otomatisasi proses kerja. Dalam organisasi modern, TI nir semata-mata menggantikan kekuatan otot ataupun akal budi manusia. Dari hasil analisa makroekonomi multi tahun menurut ratusan perusahaan, Strassmann pada Malhotra (2005) menegaskan bahwa bukanlah personal komputer yg penting, namun apa yang dilakukan insan dengan komputer tersebut adalah yang terpenting. Sebagaimana bukanlah sebuah palu yang dapat mendirikan sebuah rumah yang baik, namun tergantung dalam ditangan siapakah palu itu dipegang, sebagai akibatnya dapat membuat sebuah tempat tinggal yang baik. Dari sini semakin kentara terlihat bahwa manfaat yg didapatkan sang teknologi, tidaklah semata asal menurut teknologi itu sendiri, tetapi berdasarkan apa yg dilakukan oleh insan dengan teknologi tersebut. 

Terkait menggunakan proses, manfaat yang didapatkan oleh organisasi bisnis berdasarkan TI terletak pada bagaimana organisasi tersebut menggunakannya nir sekedar buat otomatisasi, namun pula buat mentransformasi proses usaha, hingga mengganti atau membangun contoh bisnis yang sesuai manakala aktifitas kerja serta berbagai proses usaha telah didukung TI. Hammer & Champy pada Hartono (2005) mengidentifikasi kegagalan investasi TI buat menaruh pengaruh terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan lantaran implementasi TI dipercaya sekedar mengotomatisasi kegiatan tradisionil yg terdapat. Menurut Hammer, buat menaruh manfaat investasi TI harus dipakai buat mengubah secara revolusioner proses bisnis yang ada dalam organisasi. Pendekatan ini dianggap sebagai Business Process reengineering (BPR), dimana BPR ini bersifat fundamental, radikal, dramatis dan berorientasi pada proses.

Bila dipandang menurut perkembangan ilmu manajemen, dampak luar biasa berdasarkan inovasi teknologi misalnya listrik dan mesin-mesin dalam abad industri terhadap kemajuan industri tidaklah melulu disebabkan lantaran organisasi mempunyai mesin-mesin tersebut. Organisasi usaha dalam masa itu juga melakukan perubahan proses kerja buat dapat mewujudkan keunggulannya, contohnya melalui diterapkannya division of labor. Sehingga tidak heran pada abad fakta keilmuan manajemen memperkenalkan kata teamwork, interconnection, serta shared information sebagai suatu inovasi berdasarkan ilmu manajemen buat mengadopsi teknologi pada proses kerja. (Senn, 2004 ).

Carr dalam artikel kontroversialnya IT Doesn’t Matter yang dipublikasikan melalui Harvard Business Review (2003) menyoroti kemampuan TI buat mendeliver keunggulan kompetitif yg semakin memudar. Beberapa dasawarsa kemudian bank yg menerapkan online banking dapat mempunyai keunggulan kompetitif dan merebut hati nasabah. Namun ketika ini teknologi ini sudah dimiliki semua bank. Demikian pula dengan Reuters yg mempunyai sistem TI yg tidak dapat disaingi dalam dasawarsa lalu, namun sekarang bahkan surat berita lokal sekalipun pula bisa memiliki jaringan yang terkenal diseluruh dunia melalui teknologi internet.

Carr (2003) juga menyoroti kecenderungan organisasi usaha pada masa kini yang terlalu mengandalkan vendor software ataupun perangkat keras sampai konsultan TI agar organisasi usaha bisa tetap up to date dengan perkembangan TI, dibandingkan dengan berupaya untuk melakukan penemuan sendiri. Ketergantungan ini mengakibatkan setiap organisasi usaha cenderung mempunyai sistem serta teknologi yang seragam, sebagai akibatnya selama nir dilakukan penemuan maka tidak akan ada nilai lebih yg bisa ditampilkan sang suatu organiasi usaha jika dibandingkan menggunakan pesaingnya. Kondisi ini pula didukung dengan praktek organisasi bisnis selama ini dimana dari total pembelanjaannya pada TI, persentase terbesar adalah buat pengadaan komoditas berupa aneka macam perangkat dan hanya sedikit yang mengalokasikan dana buat upaya menemukan inovasi atau melakukan proses kreatif berdasarkan aneka macam perangkat tadi.

Satu hal lain yang perlu dicermati adalah pilihan akan contoh usaha. Perkembangan teknologi sudah memungkinkan organisasi buat membangun new business model yg baru dalam hal penawaran barang serta jasa ataupun baru pada hal cara mendelivernya ke konsumen (Hartono, 2005) Dalam kaitannya menggunakan contoh bisnis, peritel Wal Mart telah timbul menjadi sebuah organisasi bisnis yg besar karena berhasil memanfaatkan TI secara maksimal buat menjalankan model usaha yg dipilihnya. Wal-Mart juga terus mencari cara buat menaikkan efisiensi pada TI melalui pengelolaan rantai pasokan secara elektronis. Wal Mart mengarahkan seluruh pemasoknya buat memakai sistem pengadaan barang secara elektronis yg sesuai dengan miliknya, sebagai akibatnya mau tidak mau supplier yang ingin terus berhubungan menggunakan WalMart harus mengadopsi sistem tadi. (Maholtra, 2005) Lebih jauh tentang model usaha, Amazon, Google serta e-bay merupakan tiga nama besar pada dunia e-commerce yang menjalankan bisnisnya murni secara virtual atau hanya terdapat didunia maya. Siapapun sebenarnya dapat memulai bisnis pada internet, sebuah infrastruktur terbuka yang bisa digunakan oleh siapa saja serta sudah lazim diadopsi sang organisasi bisnis lainnya. Tetapi dengan kreatifitas para pendirinya, ketiganya menentukan suatu contoh bisnis yang dapat diterima oleh pengguna internet pada semua dunia. Amazon, pioner pada usaha ritel yg terus melengkapi diri dengan fitur-fitur baru serta kemudahan yang membuat pelanggan enggan berpaling. E-bay dalam bidang pelelangan yg membuat segala hal jadi mungkin buat dilelang serta seluruh orang pada semua dunia bisa sebagai peserta lelang asalkan mempunyai akses ke internet. Serta Google sebagai nomor satu dalam search engine yg menggunakan perangkat TI sederhana secara aporisma yaitu dengan membangun algoritma pemrograman yg memungkinkan user men-search ‘apapun’ secara lebih cepat dan teliti dibanding berdasarkan search engine manapun termasuk Yahoo. Masih banyak model lain, misalkan Encyclopedia Britannica yang pada abad liputan ini pula harus merubah contoh bisnisnya pada menjajakan berita akibat adanya internet dan keluarnya Wikipedia, suatu free ensiklopedia pada internet yg mempunyai lebih menurut 1,8 juta artikel dan dikerjakan oleh para sukarelawan berdasarkan semua global (Hammel, 2006)

Akhirnya, buat bisa mengukur impak TI pada organisasi, Luftman (2004) memaparkan sejumlah aspek yang dapat diukur selain aspek keuangan buat mengukur dampak positif TI menggunakan lebih terinci. Luftman menegaskan bahwa aspek-aspek yg dapat diukur untuk menilai manfaat bisa mencakup imbas terhadap usaha, interaksi pelanggan, impak dalam internal organisasi hingga value chain. Dicontohan jua, misalkan TI digunakan untuk memperbaiki order management, maka pengukuran bisa dilakukan dalam short order lead times, In-stock availability, order accuracy, access to order status information hingga response time to customer inquiries, sebagai akibatnya lebih jelasnya dari pengaruh positif tadi bisa lebih terlihat.

BALANCED SCORECARD UNTUK ORGANISASI PEMERINTAH

Balanced Scorecard Untuk Organisasi Pemerintah
Balanced scorecard adalah metoda yg dikembangkan Kaplan dan Norton buat mengukur setiap aktivitas yang dilakukan sang suatu perusahaan pada rangka merealisasikan tujuan perusahaan tadi. Balanced scorecard semula merupakan kegiatan tersendiri yang terkait menggunakan penentuan sasaran, namun lalu diintegrasikan menggunakan sistem manajemen strategis. Balanced scorecard bahkan dikembangkan lebih lanjut menjadi sarana buat berkomunkasi menurut aneka macam unit pada suatu organisasi. Balanced scorecard juga dikembangkan sebagai alat bagi organisasi buat berfokus dalam strategi. Bagaimana balanced scorecard diterapkan bagi organisasi pemerintah merupakan tujuan menurut penulisan artikel ini. Diskusi tentang hal itu dimulai dengan pembahasan mengenai sistem manajemen strategis.

Sistem Manajemen Strategis
Sistem manajemen strategis adalah proses merumuskan dan mengimplementasikan strategi untuk mewujudkan visi secara terus menerus secara terstruktur. Strategi merupakan pola tindakan terpilih buat mencapai tujuan eksklusif. Pada mulanya, sistem manajemen strategis bercirikan: mengandalkan aturan tahunan, berjangka panjang serta serius dalam kinerja keuangan. Penerapan sistem manajemen strategis yg demikian pada banyak perusahaan swasta mengalami kegagalan. Sebab-sebabnya antara lain: hanya 25% manajer yang mempunyai insentif yg terhubung ke taktik, 60% perusahaan tidak menghubungkan anggarannya ke strategi, 85% menurut tim eksekutif menghabiskan saat kurang menurut satu jam buat membahas taktik tiap bulan, serta hanya 5% pegawai yg tahu strategi.

Namun sistem manajemen strategis tetap diharapkan karena perusahaan dituntut buat berkembang secara bersiklus dan terukur, sebagai akibatnya memerlukan peta bepergian menghadapi masa depan yg nir pasti, memerlukan langkah-langkah strategis, serta perlu mengarahkan kemampuan serta komitmen SDM buat mewujudkan tujuan perusahaan. Balanced scorecard yang dikembangkan oleh Norton serta Kaplan menaruh solusi terhadap tuntutan ini. Peran balanced scorecard pada sistem manajemen strategis merupakan: memperluas perspektif pada setiap termin sistem manajemen strategis, membuat penekanan manajemen menjadi seimbang, mengaitkan berbagai sasaran secara koheren, dan mengukur kinerja secara kuantitatif.

Penggunaan balanced scorecard dalam konteks perusahan partikelir ditujukan buat membuat proses yang produktif dan cost effective, membuat financial return yang berlipat ganda serta berjangka panjang, berbagi asal daya insan yg produktif serta berkomitmen, mewujudkan produk serta jasa yang mampu membentuk value terbaik bagi customer/pelanggan.

Balanced scorecard diyakini bisa membarui taktik sebagai tindakan, berakibat taktik sebagai pusat organisasi, mendorong terjadinya komunikasi yg lebih baik antar karyawan dan manajemen, mempertinggi mutu pengambilan keputusan serta menaruh keterangan peringatan dini, dan membarui budaya kerja. Potensi buat mengganti budaya kerja terdapat lantaran menggunakan balanced scorecard, perusahaan lebih transparan, keterangan bisa diakses menggunakan gampang, pembelajaran organisasi dipercepat, umpan kembali menjadi obyektif, bersiklus, dan sempurna buat organisasi dan individu; dan membangun sikap mencari konsensus lantaran adanya perbedaan awal pada menentukan target, langkah-langkah strategis yg diambil, ukuran yg dipakai, dll.

Kelebihan sistem manajemen strategis berbasis balanced scorecard dibandingkan konsep manajemen yg lain merupakan bahwa dia menerangkan indikator outcome dan output yg kentara, indikator internal dan eksternal, indikator keuangan serta non-keuangan, dan indikator sebab dan akibat. Balanced scorecard paling tepat disusun dalam ketika-ketika tertentu, misalnya waktu terdapat merjer atau akuisisi, ketika terdapat tekanan menurut pemegang saham, waktu akan melaksanakan strategi besar serta ketika organisasi berubah haluan atau akan mendorong proses perubahan. Balanced scorecard juga diterapkan pada situasi-situasi yang rutin, diantaranya: dalam waktu menyusun planning alokasi anggaran, menyusun manajemen kinerja, melakukan pengenalan terhadap kebijakan baru, memperoleh umpan balik , menaikkan kapasitas staf.

Adakah kemungkinan kegagalan pada menerapkan balanced scorecard? Menyusun balanced scorecard bukanlah pekerjaan yg gampang. Banyak organisasi gagal membuat balanced scorecard lantaran aneka macam karena. Sebab-sebab itu diantaranya: nir terdapat komitmen pimpinan, terlalu sedikit staf terlibat, scorecard disimpan saja, proses penyusunan yg lama dan sekali jadi, menganggap balanced scorecard menjadi sebuah proyek, kesalahan memilih konsultan, atau memakai balanced scorecard hanya buat keperluan hadiah kompensasi. 

Siapa yang memakai balanced scorecard? Banyak organisasi swasta, pemerintah dan nirlaba yang telah menggunakan balanced scorecard 60% menurut 1000 organisasi dalam Fortune menggunakan balanced scorecard. Balanced scorecard semakin banyak diadopsi pada Eropa, Australia serta Asia sang organisasi akbar, menengah serta mini . Industri pengguna balanced scorecard sendiri terdiri berdasarkan banyak sekali macam perusahaan, misalnya bank, konstruksi, jasa konsultansi, IT, perminyakan, farmasi, penerbangan, premi, manufacturing, perusahaan dagang dan distribusi. Perusahaan yg memberitahuakn keberhasilan luar biasa sehabis menerapkan balanced scorecard merupakan antara lain: MOBIL Oil yang pada tahun 1993 menempati posisi ke 6 pada provitability, lalu menjadi angka satu dalam periode 1995–1998; CIGNA dalam tahun 1993 rugi $275 M, tahun 1994: sebagai laba sebesar $15 M dan tahun 1997 sebesar $98 M; BROWN & ROOT ENG. Tahun 1993 rugi tetapi tahun 1996 menjadi nomor satu pada pertumbuhan profit.

Konsepsi Balanced Scorecard
Kemunculan gagasan balanced scorecard berawal dari temuan riset Kaplan serta Norton (dari Harvard Business School) pada awal tahun 1990an. Konsep awal balanced scorecard berdasarkan riset tersebut ditulis dalam tahun 1992 di majalah prestisius Harvard Business Review. Pada tahun 1996 Norton dan Kaplan menerbitkan buku The Balanced Scorecard – Translating Strategy into Action, dari pengalaman mereka dalam menerapkan balanced scorecard pada banyak perusahaan di Amerika. Buku ini semakin mempopulerkan balanced scorecard, hingga ke negara-negara di Eropa, Australia dan Asia. Belum usang ini mereka menerbitkan kitab The Strategy Focused Organisation – How BSC Companies Thrive in the New Business Environment (2001). Para penemu serta rekan-rekannya membentuk sebuah lembaga Balanced Scorecard Collaboration buat mempopulerkan penggunaan balanced scorecard dalam aneka macam institusi pada banyak sekali negara. Secara teratur Norton dan Kaplan menyelenggarakan konferensi pada banyak sekali negara buat memperkenalkan serta membahas konsep-konsep terkini mereka. Disayangkan Indonesia hingga saat ini belum bisa menghadirkan pencetus ide balanced scorecard ini, tetapi kursus-kursus dan kitab -kitab mengenai balanced scorecard sudah terdapat, walau masih bersifat terbatas.

Balanced scorecard secara singkat merupakan suatu sistem manajemen buat mengelola implementasi taktik, mengukur kinerja secara utuh, mengkomunikasikan visi, strategi serta sasaran pada stakeholders. Kata balanced pada balanced scorecard merujuk pada konsep ekuilibrium antara aneka macam perspektif, jangka waktu (pendek dan panjang), lingkup perhatian (intern dan ekstern). Kata scorecard mengacu pada planning kinerja organisasi serta bagian-bagiannya serta ukurannya secara kuantitatif.

Balanced scorecard memberi manfaat bagi organisasi pada beberapa cara:
  • menjelaskan visi organisasi
  • menyelaraskan organisasi buat mencapai visi itu
  • mengintegrasikan perencanaan strategis serta alokasi sumber daya
  • meningkatkan efektivitas manajemen menggunakan menyediakan informasi yg sempurna untuk mengarahkan perubahan
Selanjutnya pada menerapkan balanced scorecard, Robert Kaplan dan David Norton, mensyaratkan dipegangnya 5 prinsip utama berikut:
(1) menerjemahkan sistem manajemen strategi berbasis balanced scorecard ke pada terminologi operasional sebagai akibatnya semua orang dapat tahu 
(dua) menghubungkan dan menyelaraskan organisasi menggunakan taktik itu. Ini buat menaruh arah menurut eksekutif pada staf garis depan 
(3) menciptakan strategi merupakan pekerjaan bagi seluruh orang melalui donasi setiap orang dalam implementasi strategis
(4) menciptakan taktik suatu proses terus menerus melalui pembelajaran serta adaptasi organisasi dan 
(lima) melaksanakan rencana perubahan oleh eksekutif guna memobilisasi perubahan.

Penggunaan Balanced Scorecard
Balanced scorecard dipakai pada hampir holistik proses penyusunan planning. Tahapan penyusunan planning dalam dasarnya meliputi enam kegiatan berikut: perumusan taktik, perencanaan strategis, penyusunan acara, penyusunan anggaran, implementasi dan pemantauan.

1. Perumusan Strategi
Tahap ini ditujukan buat membuat misi, visi, keyakinan dan nilai dasar, serta tujuan institusi. Proses perumusan strategi dilakukan secara bertahap, yaitu: analisis eksternal, analisis internal, penentuan jati diri, dan perumusan taktik itu sendiri.

Analisis Eksternal dan Internal
ANALISIS EKSTERNAL terdiri dari analisis lingkungan makro serta mikro. Analisis lingkungan makro bertujuan mengidentifiksasi peluang dan ancaman makro yang berdampak terhadap value yang dihasilkan organisasi pada pelanggan. Obyek pengamatan pada analisis ini adalah diantaranya: kekuatan politik serta hukum, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi, kekuatan sosial, faktor demografi. 

Analisis eksternal mikro diterapkan pada lingkungan yang lebih dekat menggunakan institusi yang bersangkutan. Dalam global perusahaan, lingkungan tersebut adalah industri di mana suatu perusahaan termasuk di dalamnya. Analisis yang dilakukan bisa memakai teori Porter tentang persaingan, yaitu: kekuatan tawar pemasok, ancaman pendatang baru, kekuatan tawar pembeli, ancaman produk atau jasa pengganti.

ANALISIS INTERNAL ditujukan buat merumuskan kekuatan dan kelemahan perusahaan. Kekuatan suatu perusahaan diantaranya: kompetensi yg unik, sumberdaya keuangan yang memadai, keterampilan yang unggul, citra yang baik, keunggulan biaya , kemampuan penemuan tinggi, dll. Sedangkan kelemahan perusahaan diantaranya: nir ada arah taktik yg jelas, posisi persaingan yg kurang baik, fasilitas yg ‘lama ’, kesenjangan kemampuan manajerial, lini produk yang sempit, citra yang kurang baik, dll.

Penentuan Jati Diri
Penentuan jati diri organisasi terdiri menurut perumusan misi, visi, keyakinan dasar, nilai dasar serta tujuan organisasi. 

MISI mengungkapkan lingkup, maksud atau batas usaha organisasi, yaitu kebutuham pelanggan apa yg akan dipenuhi sang organisasi, siapa serta pada mana; serta produk inti apa yg dihasilkan, menggunakan teknologi inti serta kompetensi inti apa. Misi ditulis sederhana, ringkas, terfokus. Unsur-unsur misi mencakup produk inti, kompetensi inti, serta teknologi inti. Yang dimaksud dengan produk inti adalah barang atau jasa yg dipersepsi bernilai tinggi sang pelanggan, berupa komponen kunci dilindungi hak paten serta menghasilkan keuntungan terbesar. Kompetensi inti merupakan kemampuan kunci yg dimiliki organisasi pada membentuk produk inti. Sedang teknologi inti adalah know-how, perangkat keras serta software yg menjadi basis kompetensi inti.

Beberapa contoh misi adalah sebagai berikut.
“To engineer, produce, and market the world’s finest automobiles, known for uncompromised levels of distinctiveness, comfort, convenience, and refined performance.” (Cadillac Motor Co.)

“To produce outstanding financial returns by providing totally reliable, competitively superior global air-ground transportation of high priority goods and document that require rapid, time-sensitive delivery.” (FedEx).

VISI mendeskripsikan akan menjadi apa suatu organisasi pada masa depan. Ia bersifat sederhana, menumbuhkan rasa wajib , memberikan tantangan, mudah dan realistik, dan ditulis pada satu kalimat pendek. Contoh-contoh visi merupakan:

“We will be an outstanding company by exceeding pelanggan expectations through empowered people, guided by shared values.” (PepsiCo.)

“From managing a world-group port, we shall grow into world-class corporation with network of perts, logistics and related businesses throughout the world. We shall be recognized everywhere for quality and value.” (Otoritas Pelabuhan Singapore).

“Menjadi perusahaan jasa konsultan perencana angka satu di Jakarta.”

“Menjadi BPR terbesar, andal dan dihargai di Cianjur Selatan.”

Visi perlu diperinci dalam banyak sekali perspektif. Dalam perspektif finansial, misalnya: “Kami akan menyerahkan nilai superior jangka panjang secara konsisten pada pemegang saham”. Dalam perspektif pelanggan: “Kami akan menaruh nilai terbaik dalam setiap penawaran yang memenuhi kebutuhan pelanggan pada pasar yang dipilih buat dilayani.” Dalam perspektif proses internal: “Kami akan meningkatkan nilai pelanggan melalui berfikir pulang, menaikkan serta memperlancar (mengefisienkan) proses bisnis kami.” Dalam perspektif pembelajaran serta pertumbuhan: “Kami akan selalu berfikir tentang pelanggan serta bangga sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap pelanggan.”

KEYAKINAN DASAR merupakan pernyataan yg perlu dipegang direksi dan karyawan pada menghadapi kendala serta ketidakpastian. Pernyataan ini buat mendorong semangat manajemen dan karyawan dalam menghadapi kendala dan ketidakpastian. Contoh: “We believe that customer service and satisfaction are mendasar to any succesful long-term partnership. We shall provide our customers with service of high quality and at the right price.” (PSA Co.)

NILAI DASAR adalah buat membimbing manajemen serta karyawan dalam menetapkan pilihan yang bisa muncul setiap saat. Contoh: nilai dasar PepsiCo merupakan: Diversity – menghargai disparitas setiap orang, Integrity – melakukan apa yg dikatakan, Honesty – berbicara terbuka serta bekerja keras tahu serta menyelesaikan kasus, Teamwork – bekerja untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Accountability – kesungguhan memenuhi asa, Balance – menghargai keputusan seorang buat mencapai ekuilibrium dalam hidup.

TUJUAN merupakan pernyataan tentang apa yang akan diwujudkan menjadi pembagian terstruktur mengenai visi organisasi. Tujuan dijabarkan pada empat perpektif juga: Apa tujuan yg berkaitan dengan perspektif pelanggan? Apa tujuan yg berkaitan dengan perspektif finansial ? Apa proses bisnis internal yang akan mendukung pencapaian tujuan pelanggan serta finansial? Apa tujuan yang berkaitan menggunakan perspektif pembelajaran serta pertumbuhan? 

Contoh-model pernyataan tujuan merupakan: “Menjadi perusahaan jasa konstruksi paling menguntungkan pada Indonesia pada tahun 2005 dari keunggulan pada manajemen, teknologi, serta sumber daya manusia.” ”Mencapai oplah 100.000 eksemplar pada tahun 2006.” “Membangun 15.000 unit RSS per tahun sejak tahun 2007 dengan contoh yang paling diminati, didukung teknologi terbaik, dilaksanakan oleh pekerja bangunan yg handal serta berkomitmen.” 

Perumusan Strategi
Strategi dibentuk pada beberapa strata: tingkat organisasi, taraf unit bisnis, serta taraf fungsional. Dalam memilih taktik perlu dikenali penghalang intern yg dihadapi, antara lain management barrier: pada mana management system didisain secara tradisional buat pengawasan aplikasi aktivitas dan terkait dengan anggaran, bukan taktik, vision barrier: dimana taktik sering tidak dimengerti oleh mereka yang wajib menerapkannya, operational barrier: dimana proses-proses krusial tidak dibuat buat menggerakkan taktik, dan people barrier: dimana tujuan orang per orang, peningkatan kemampuan serta pengetahuan karyawan nir terkait menggunakan implementasi strategi organisasi.

Strategi yg baik umumnya mengikuti kriteria menjadi berikut: konsisten secara intern, realistik, berfokus dalam pencarian peluang serta penyelesaian akar kasus, menaikkan customer value, menonjolkan keunggulan kompetitif, fleksibel, gampang dilaksanakan pada perusahaan, serta tanggap terhadap lingkungan eksternal.

2. Perencanaan Strategis
Perencanaan strategis mencakup proses penentuan target, tolok ukur, sasaran dan inisiatif.
SASARAN merupakan syarat masa depan yg dituju. Sasaran bersifat komprehensif: sesuai menggunakan tujuan serta taktik, merumuskan sasaran secara koheren, seimbang dan saling mendukung. Beberapa pedoman dalam menentukan target adalah: sasaran harus menentukan hasil tunggal terukur yg wajib dicapai, target wajib memilih sasaran tunggal atau rentang waktu buat penyelesaian, target harus memilih faktor-faktor porto maksimum, target harus sedapat mungkin khusus dan kuantitatif (serta sang karena itu sanggup diukur dan dapat diuji), target harus menentukan hanya apa dan kapan; harus menghindari spekulasi kata mengapa dan bagaimana, target harus dalam arah mendukung, atau sesuai dengan, planning strategis organisasi serta planning tingkat tinggi lainnya, dan sasaran harus realistik dan bisa dicapai, namun tetap mendeskripsikan tantangan yang berat. Antara visi, tujuan dan sasaran harus saling terkait dalan alur logikanya kentara. 

Sasaran pula wajib dijabarkan dalam berbagai perspektif. Contoh: Perspektif finansial: “Kami akan mencapai suatu output total yg secara konsisten akan menempatkan perusahaan kami diantara 125 organisasi zenit yang terdaftar pada the S&P 500”. Perspektif pelanggan: “Kami akan secara terus-menerus menaikkan persepsi pelanggan mengenai nilai-nilai yg ditawarkan perusahaan kami sehingga jumlah pelanggan yg tidak memberikan nilai “sangat baik” akan menurun sebesar 40% ketika melakukan survei pelanggan dalam tahun 1998”. Perspektif proses internal: “Pada tahun 1998, rasio porto total operasional kami akan turun sepertiga (33,33%)”. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran: “Sasaran kami adalah peningkatan tahunan pada skor yang ditetapkan sang survei benchmark. Selain itu, kami akan memantau kemajuan kami melalu pengumpulan opini karyawan, baik secara formal juga non-formal, secara periodik”.

TOLOK UKUR merupakan alat buat mengukur kemajuan sasaran. Tolok ukur terdiri berdasarkan dua jenis: tolok ukur output (lag indicator) dan tolok ukur pemacu kinerja (lead indicator). Keduanya merupakan key performance indicators. Indikator kinerja kunci wajib adalah faktor-faktor yang mampu diukur, masuk secara logis dalam area output kunci tertentu yg sasarannya kentara, mengidentifikasi apa yang akan diukur, bukan berapa poly atau ke arah mana, adalah faktor-faktor yg dapat ditelusuri asalnya (tracked) secara monoton sampai tingkat yang memungkinkan. 

Jika outcome indicator serius dalam hasil-hasil kinerja pada akhir periode saat atau aktivitas serta merefleksikan keberhasilan masa kemudian atau kegiatan-kegiatan serta keputusan-keputusan yang sudah dilaksanakan, maka hasil indicator mengukur proses-proses serta aktivitas-kegiatan antara dan hipotesis menurut interaksi karena-akibat strategik. Contoh ukuran hasil pada konteks peningkatan profit: pertumbuhan pendapatan, sedang ukuran pemacunya: revenue mix. Dalam konteks mempertinggi agama pelanggan, ukuran output: persentase pendapatan dari pelanggan baru, sedang berukuran pemacu: pertumbuhan pelanggan baru.

TARGET berfungsi menaruh usaha tambahan namun nir bersifat melemahkan semangat, berjangka waktu dua sampai 5 tahun agar memberikan banyak waktu buat melakukan terobosan, membatasi banyak target, berfokus pada terobosan dalam satu atau 2 area kunci, tergantung pada nilai (value), kesenjangan (gap), ketepatan ketika (timeliness), hasrat/harapan (appetite), keterampilan (skill). Target dapat ditentukan dengan memakai hasil benchmarking. Benchmarking adalah buat menerima liputan praktek terbaik, buat membentuk suatu masalah yg jelas guna mengkomunikasikan betapa pentingnya mencapai target-target itu. 

INISIATIF adalah langkah-langkah jangka panjang buat mencapai tujuan. Inisiatif nir wajib spesifik dalam satu bagian, namun dapat bersifat lintas fungsi/bagian, mengindentifikasi hal-hal krusial yang harus dilakukan oleh organisasi supaya mencapai tujuan, harus kentara agar manajer dan karyawan dapat memilih planning yg diperlukan, dan memperkirakan sumberdaya yg diharapkan buat mendukung pencapaian taktik secara keseluruhan.

3. Penyusunan Program
Proses penyusunan program merupakan: menjabarkan inisiatif sebagai beberapa program yg akan dilaksanakan beberapa tahun yad., memperkirakan investasi yang dibutuhkan buat setiap acara, menghitung perkiraan penerimaan yang dapat diperoleh dan menghitung asumsi keuntungan/output yg akan diperoleh.

4. Penyusunan Anggaran
Penyusunan aturan bertujuan buat memilih kegiatan tahun berikutnya serta asal daya yg diperlukan. Anggaran disusun berdasarkan iniatif yang telah dirumuskan. Anggaran yg baik merupakan: adalah planning tindakan jelas, adalah planning satu-2 tahunan, menguraikan porto yg diharapkan, mengidentifikasi pencapaian terpenting aktivitas tsb., menjelaskan siapa yg akan bertanggung jawab, menjadi referensi menyusun planning kinerja individual, ditulis secara singkat namun lengkap, alat buat memantau kinerja dan diperbarui jika terjadi perubahan-perubahan. Dengan sdemikian balanced scorecard mendukung suatu sistem manajemen yang lengkap menggunakan mengkaitkan strategi jangka panjang ke penganggaran tahunan.

PENGEMBANGAN MANAJEMEN STRATEGI

Pengembangan Manajemen Strategi 
Perusahaan bisnis multidevisional besar , umumnya memiliki 3 level strategi, yaitu strategi korporasi, taktik bisnis dan strategi fungsional. Strategi korporasi mendeskripsikan arah perusahaan secara keseluruhan mengenai perilaku perusahaan secara umum terhadap pertumbuhan dan manajemen berbagai bisnis dan lini produk buat mencapai keseimbangan portofolio produk dan jasa. Strategi bisnis atau taktik bersaing umumnya dikembangkan pada level devisi serta menekankan pada perbaikan posisi persaingan produk barang atau jasa perusahaan dalam industri khusus atau segmen pasar yang dilayani sang devisi tadi. Strategi fungsional menekankan terutama dalam pemaksimalan sumberdaya produktivitas, contohnya strategi pemasaran, strategi keuangan, strategi sumberdaya insan, strategi operasi serta taktik penelitian serta pengembangan.

Strategi Korporasi
Strategi korporasi terdiri dari strategi korporasi bisnis tunggal dan taktik korporasi multibisnis. Strategi korporasi usaha tunggal adalah strategi korporasi yang berorientasi dalam pertumbuhan dan industri yang akan sebagai tempat bersaing. Sedangkan korporasi multibisnis nir hanya berorientasi pada pertumbuhan dan industri yang akan menjadi loka bersaing, tetapi juga pengelolaan unit-unit bisnisnya buat mencapai sinergi. 

Strategi Korporasi Bisnis Tunggal
Strategi korporasi bisnis tunggal terdiri dari strategi pertumbuhan, taktik stabilitas dan taktik pengurangan. Strategi pertumbuhan mencakup strategi pertumbuhan terkonsentrasi serta taktik pertumbuhan terdiversifikasi. Strategi stabilisasi mencakup strategi berhenti ad interim dan strategi stabilitas keuntungan. Sedangkan taktik pengurangan bisa berupa taktik berputar, taktik jual habis dan strategi likuidasi.

Strategi pertumbuhan terkonsentrasi adalah strategi perusahaan yang berekspansi dalam industri yg kini , baik melalui integrasi vertikal maupun integrasi horisontal. Apple Computer, Bridgestone serta McDonald’s memakai strategi pertumbuhan terkonsentrasi. Perusahaan-perusahaan tersebut memakai pengetahuan menurut tangan pertama serta melibatkan secara mendalam dengan segmen produk yang spesifik buat mengakibatkan kekuatan bersaingnya luar biasa dalam industri mereka.

“Menjual lebih dari 39 juta iPod dan lima,tiga juta Mac dalam ketika melakukan sebuah transisi arsitektur kompleks yg luar biasa merupakan sesuatu yg menciptakan kita seluruh sangat bangga. Melihat ke depan, 2007 kemungkinan akbar menjadi satu berdasarkan tahun produk baru yang paling luar biasa dalam sejarah Apple“ istilah Steve Jobs.

Gambar  Steve Jobs dan iPod

Strategi pertumbuhan terkonsentrasi bisa dicapai melalui integrasi vertikal serta integrasi horisontal. Strategi pertumbuhan terkonsentrasi melalui integrasi vertikal adalah mengambil alih fungsi yang semula dilakukan pemasok (integrasi ke belakang) atau distributor (integrasi ke depan). Untuk meningkatkan posisi bersaing, apabila perusahaan melakukan integrasi ke belakang, maka yg wajib dilakukan adalah minimisasi porto akuisisi sumberdaya serta operasi yg nir efisien. Sedangkan, bila melakukan integrasi ke depan, maka yang harus dilakukan adalah menjaga kualitas dan distribusi produk yg dampaknya menambah kompetensinya buat memperoleh keunggulan kompetitif yg lebih besar . Amoco merupakan perusahaan pemimpin dalam produk dan cadangan gas alam Amerika Utara melakukan akuisisi terhadap Dome Petrolium dengan integrasi ke balakang. Hal ini dilakukan buat mendukung bisnis –usaha hilirnya dalam pengilangan minyak dan dalam SPBU.

Strategi pertumbuhan terkonsentrasi melalui integrasi horisontal adalah strategi pertumbuhan melalui akuisisi satu atau beberapa korporasi homogen yang beroperasi dalam tingkat rangkaian produksi-pemasaran yg sama. Warner Lambert mengakuisisi Park Davis.

Strategi diversifikasi merupakan taktik perusahaan yang berekspansi di luar industri yang kini . Strategi diversifikasi meliputi diversifikasi konsentris serta diversifikasi konglomerasi. Diversifikasi konsentris cocok dilakukan apabila perusahaan memiliki posisi bersaing yang kuat tetapi daya tarik industri rendah. Wal-Mart menetapkan buat memasuki industri jasa keuangan lantaran keyakinan manajer strategik yang akan menggunakan jumlah pelanggan mereka yang sangat besar buat memberikan rabat harga misalnya pada produk. 

Gambar  Hadiah menurut Wal-Mart

Diversifikasi konglomerasi cocok dilakukan jika perusahaan mempunyai posisi bersaing hanya homogen-homogen serta daya tarik industri rendah. Biasanya perusahaan besar yg berkeinginan buat mengakuisisi suatu bisnis, lantaran usaha itu menaruh peluang investasi yang paling menjanjikan. Korporasi yang melakukan strategi ini adalah pola laba menurut bisnis korporasi tadi. ITT, Textron, American Brands, Litton, U.S. Industries, Fuqua dan I.C. Industries melakukan sinergi pada keuangan.

Strategi berhenti ad interim dilakukan jika posisi bersaing yg kuat dalam industri, namun daya tarik industri sedang-sedang saja. Strategi berhenti ad interim digunakan perusahaan buat melakukan konsolidasi sehabis pertumbuhan industri yang pesat, namun menghadapi masa depan yang nir niscaya. 

Strategi stabilitas laba dilakukan jika posisi bersaing rata-rata dalam industri serta daya tarik industri pula sedang-sedang saja. Strategi ini mendorong perusahaan melakukan taktik saat itu serta hanya melakukan penyesuaian mini bagi inflasi pada tujuan penjualan dan labanya.

Strategi berputar cocok dilakukan apabila posisi bersaing lemah pada industri, tapi daya tarik industri tinggi. Strategi ini menekankan peningkatan efisiensi dengan melakukan kontraksi dan konsolidasi. Kontraksi adalah uhaha awal dengan cepat menurunkan ukuran serta biaya secara keseluruhan. Sedangkan konsolidasi merupakan aplikasi sebuah acara perampingan buat menstabilkan perusahaan. 

Strategi divestasi cocok dilakukan bila posisi bersaing lemah dalam industri menggunakan daya tarik industri sedang. Hal ini dilakukan jika strategi berputar tidak menjadikan hasil serta tidak mampu membangun kekuatan serta mengurangi kelemahan dan dalam saat dekat industri tersebut nir menarik. Strategi ini menjual suatu korporasi atau komponen utama korporasi. Sara Lee Corp. Adalah contoh yg baik. Prediennya yg baru, C. Steven McMillan berhadapan dengan pendapatan laba yg stagnasi. Maka beliau melakukan konsolidari, merampingkan serta memfokuskan korporasi dalam kategor pada dasarnya, yaitu makanan, pakaian pada serta produk tempat tinggal tangga. Ia mendevestasi atau memanen 15 usaha, meliputi jaket dari kulit yang secara holistik lebih dari 20 % pendapatan korporasi dan mempensiunkan 13.200 karyawan yang mendekati 10 % menurut wiraniaganya.

Strategi likuidasi cocok dilakukan jika posisi bersaing lemah dalam industri serta daya tarik industri juga rendah. Kondisi likuidasi adalah kodisi kegagalan pengelolaan perusahaan dilihat berdasarkan sisi manajemen. Reputasi, pujian, pekerjaan, kekayaan finansial harus dikuburkan atau dilikuidasi. Jika strategi ini nir dilakukan, maka perusahaan akan rugi monoton serta bahkan kekayaan perusahaan akan habis. 

Strategi Korporasi Multibisnis
Strategi korporasi multibisnis nir hanya berorientasi dalam pertumbuhan serta industri yang akan sebagai tempat bersaing, namun pula pengelolaan unit-unit bisnisnya buat mencapai sinergi. Dengan demikian taktik korporasi bisnis tunggal, yaitu strategi pertumbuhan. Strategi stabilisasi dan strategi pengurangan bisa diterapkan dalam korporasi multibisnis. 

Salah satu indera bantu yg penting dalam mengembangkan strategi korporasi multibisnis merupakan analisis portofolio. Pendekatan ini menempatkan kantor sentra menjadi pengatur sumberdaya arus kas di antara unit-unit usaha bersamaan menggunakan melakukan identifikasi fungsi strategis yg mendasar pada semua portofolio. Dua model penilaian portofolio usaha yang paling terkenal adalah model Boston Consulting Group dan model General Electric.

Boston Consulting Group (BCG), perusahaan konsultan manajemen terkemuka, menyebarkan dan mempopulerkan matriks pertumbuhan-pangsa-pasar (growth-share matrix) yg trelihat dalam Gambar Kedelapan bundar mewakili berukuran dan posisi saat ini delapan unit bisnis pada suatu perusahaan hipotesis. Ukuran volume penjulan pada dolar masing-masing usaha itu sebanding dengan luas lingkaran. Jadi, bisnis yg terbesar adalah angka lima dan 6. Lokasi masing-masing unit bisnis menerangkan tingkat pertumbuhan pasar serta pangsa pasar nisbi.

Gambar Matriks pertumbuhan pangsa pasar

Tingkat pertumbuhan pasar di sumbu tegak menerangkan tingkat pertumbuhan pasar tahunan pada loka bisnis beroperasi. Dalam Gambar, rentang pertumbuhan berdasarkan 0 % sampai 20 persen, walaupu rentang yg lebih lebar dapat pula ditunjukkan. Pertumbuhan di atas 10 persen termasuk tinggi. Pangsa pasar relative, yang ditunjukkan di sumbu mendatar, menerangkan pangsa pasar relatif Strategic Business Unit (SBU) dibandingkan pesaing terbesarnya. Pangsa pasar nisbi mendeskripsikan ukuran kekuatan perusahaan pada pasar itu. Pangsa pasar nisbi 0,1 berarti volume penjualan perusahaan hanya 10 % menurut volume penjualan pemimpin pasar; dan 10 ialah SBU perusahaan tadi memimpin pasar menggunakan penjualan sebesar 10 kali lipat menurut pesaing terdekatnya. Pangsa pasar relative dibagi sebagai pangsa pasar tinggi dan pangsa pasar rendah, dengan taraf 1,0 sebagai garis pembatasnya. Pangsa pasar relative digambarkan pada skala logaritma, sehingga jarak yg sama menunjukkan peningkatan persentase yang sama.

Matriks pertumbuhan pangsa pasar dibagi sebagai empat sel, masing-masing menunjukkan jenis usaha yg tidak sinkron :
  1. Tanda Tanya (Question mark): unit bisnis yg beroperasi pada pasar dengan pertumbuhan yg tinggi, tetapi pangsa pasar relatifnya rendah. Sebagian akbar usaha dimulai dengan tanda Tanya, lantaran perusahaan baru memasuki pasar yg pertumbuhannya tinggi dimana telah terdapat pemimpin pasar. Berada di sel pertanda Tanya memerlukan dana yg akbar, lantaran perusahaanharus mengeluarkan uang buat pabrik, peralatan, dan karyawan buat mengikuti pertumbuhan pasar yang cepat, serta jua lantaran perusahaan ingin mengambil alih peran pemimpin pasar. Istilah tanda Tanya merupakan tepat karena perusahaan harus berpikir keras buat memilih apakah dia akan tetap mengucurkan dana ke bisnisnya. Perusahaan dalam gambar menjalankan 3 bisnis yg termasuk pada kategori pertanda tanya, yang mungkin terlalu poly baginya. Akan lebih baik bagi perusahaan jika menanamkan dananya pada jumlah yang lebih akbar dalam satu atau dua usaha saja daripada menyebarkan dananya ke dalam 3 bisnis.
  2. Bintang (star): jika bisnis indikasi tanya berhasil, bisnis tadi akan masuk ke kategori bintang. Bintang adalah pemimpin pasar yg berada di pasar yg tumbuh menggunakan cepat. Akan namun, nir berarti bahwa bintang akan memeberikan arus kas positif bagi perusahaan. Perusahaan wajib mengeluarkan banyak uang supaya tumbuh secepat pertumbuhan pasar dan bisa mengalahkan pesaingnya. Dalam gambar, perusahaan memiliki dua bisnis bintang. Perusahaan patut merasa cemas jika dia tidak mempunyai bisnis yang berkategori bintang.
  3. Sapi perah (Cash cow): Jika pertumbuhan pasar tahunan turun menjadi kurang dari 10 persen, sang bintang menjadi sapi perahan apabila masih mempunyai pangsa pasar yg nisbi terbesar. Sapi perah membentuk poly kas bagi perusahaan. Perusahaan nir perlu lagi membiayai pengembangan kapasitas usaha lantaran pertumbuhan pasar sudah melambat. Dan lantaran SBU tersebut merupakan pemimpin pasar, dia bisa menikmati skala ekonomis serta margin laba yg lebih tinggi. Perusahaan memakai usaha sapi perahnya buat membayar tagihan serta mendukung usaha kategori lainnya. Dalam Gambar, perusahaan hanya memiliki satu sapi perah dan hal itu bisa membahayakan perusahaan. Kalau sapi perah itu kehilangan pangsa pasar relatifnya, perusahaan wajib menanamkan ulang dana ke SBU itu agar bisa tetap memimpin pasar. Akan tetapi, jika perusahaan nir menanamkan ulang dananya ke SBU itu, sapi perah yg bertenaga itu akan menurun sebagai seekor anjing.
  4. Anjing (dog): Anjing menggambarkan usaha yang mempunyai pangsa pasar yang rendah pada pasar yang tumbuh menggunakan lambat. Umumnya SBU anjing membuat keuntungan yang rendah, atau bahkan menderita rugi, walaupun kadang-kadang juga membuat kas. Perusahaan dalam model di sini, memiliki 2 butir SBU kategori anjing, serta jumlah itu mungkin terlalu poly. Perusahaan perlu mempertimbangkan apakah SBU anjing tersebut memang patut dipertahankan menggunakan alasan yang kuat (misalnya, adanya harapan bahwa taraf pertumbuhan pasar akan berubah atau adanya kemungkinan buat menjadi pemimpin pasar) atau hanya buat alasan emosional. 
Setelah menempatkan aneka macam bisnisnya ke matriks pertumbuhan pangsa pasar, perusahaan harus tetapkan apakah portofolio bisnisnya sehat. Portofolio yg nir seimbang merupakan yg memiliki terlalu poly anjing atau pertanda tanya dan/atau terlalu sedikit bintang dan sapi perah.

Tugas perusahaan selanjutnya merupakan memilih tujuan, strategi dan anggaran yg diberikan kepada masing-masing SBU. Ada empat strategi yg bisa dilakukan :
  1. Kembangkan : Di sini tujuannya merupakan menaikkan pangsa pasar SBU, meskipun harus mengorbankan keuntungan jangka pendek. Strategi itu cocok buat tanda Tanya yg pangsa pasarnya harus ditingkatkan jika beliau ingin sebagai bintang.
  2. Pertahankan : Di sini tujuannya merupakan mempertahankan pangsa pasar SBU. Strategi itu cocok buat sapi kas yang bertenaga agar bisa terus menaruh arus kas yang positif.
  3. Panenlah : Di sini tujuannya merupakan meningkatkan pemasukkan kas jangka pendek SBU menggunakan mengabaikan dampak jangka panjangnya. Strategi panen mencakup keputusan buat menarik diri berdasarkan bisnis menggunakan menjalankan suatu acara perampingan (pengurangan) biaya secara berkelanjutan. Perusahaan “menuai atau memetik output usahanya” buat “menyusul bisnis lainnya”. Panen biasanya juga meliputi penghapusan pengeluaran penelitian serta pengembangan, tidak mengubah pabrik fisik yang telah rusak, tidak menambah energi penjual, mengurangi pengeluaran iklan, dan lain-lain. Harapannya merupakan buat mengurangi biaya menggunakan lebih cepat dibandingkan pengurangan penjualan, sebagai akibatnya menghasilkan peningkatan arus kas positif bagi perusahaan. Pengurangan porto itu wajib dilakukan dengan hati-hati sebagai akibatnya nir mencemaskan karyawan, pelanggan, dan distributor perusahaan. Strategi itu cocok untuk sapi perah yg lemah yang mempunyai masa depan suram serta yg terdapat pada akhirnya justru memerlukan suntikan dana yg lebih akbar. Strategi itu bisa jua diterapkan dalam kategori tanda tanya serta anjing. Perusahaan yang menjalankan taktik panen akan menhadapi pertanyaan-pertanyaan sosial serta etis menyangkut seberapa banyak informasi yg diberikan kepada berbagai para pemercayanya.
  4. Lepaskan : Di sini tujuannya merupakan buat menjual atau melikuidasi suatu usaha karena sumber daya akan lebih baik dipakai pada loka lain. Strategi itu cocok buat bisnis kategori anjing serta indikasi tanya yg Mengganggu laba perusahaan.
Perusahaan harus hati-hati dalam menetapkan apakah akan menuai/ memanen atau melepas/pelepasan yang adalah strategi terbaik bagi unit bisnis yg lemah. Menuai akan mengurangi nilai masa depan bisnis tersebut, serta menggunakan demikian, juga harganya apabila bisnis itu akan dijual/dilepas pada kemudian hari. Keputusan divestasi yg dilakukan lebih awal, sebaliknya, cenderung akan membentuk harga penawaran yg cukup tinggi apabila bisnis pada keadaan yang relative baik serta mempunyai nilai lebih dibandingkan perusahaan lainnya.

Dengan berjalannya waktu, posisi SBU pada pada matriks pertumbuhan pangsa pasar dapat berubah. SBU yang berhasil mempunyai sebuah daur hidup. Mereka mulai menggunakan pertanda tanya, sebagai bintang, lalu sebagai sapi perah, dan akhirnya menjadi anjing menjelang akhir siklus hidupnya. Oleh karenanya, perusahaan nir hanya perlu memperhatikan posisi usaha mereka waktu ini pada dalam matriks (seperti dalam gambar bundar), tetapi pula konvoi posisi mereka (seperti dalam gambar bergerak). Masing-masing bisnis wajib dilihat posisi usahanya dalam tahun-tahun sebelumnya dan perkembangan posisinya di tahun-tahun mendatang. Kalau perkembangan suatu SBU dievaluasi nir memuaskan, perusahaan-perusahaan perlu meminta manajer SBU tersebut buat mengusulkan strategi baru dan kemungkinan output perkembangan taktik baru itu.

Kesalahan terbesar yang dibuat perusahaan merupakan mengharuskan seluruh SBU-nya mencapai taraf pertumbuhan atau tingkat pengembalian kapital yang sama. Bagian terpenting menurut analisis SBU merupakan bahwa masing-masing usaha mempunyai potensi yg bhineka sehingga membutuhkan penetapan tujuan tersendiri. Kesalahan lainnya meliputi : menunda terlalu sedikit dana di dalam sai perah (sebagai akibatnya melemahkan usaha itu) atau menunda dana terlalu banyak (sebagai akibatnya perusahaan gagal menanamkan dana yg relatif ke usaha yang berpotensi buat tumbuh); menanamkan poly dana ke unit bisnis anjing, dengan asa memperbaikinya, tetapi selalu gagal; menjalankan terlalu poly ke unit bisnis indikasi tanya serta kurang menanamkan modal ke masing-masing unit tadi. Tanda tanya seharusnya diberi relatif dukungan agar dapat mendominasi segmen pasar atau seharusnya ditinggalkan sama sekali. 

Tujuan yg paling sempurna bagi sebuah SBU tidak dapat dipengaruhi hanya dari posisinya pada matriks pertumbuhan pangsa pasar. Jika beberapa faktor tambahan dipertimbangkan, matriks pertumbuhan pangsa pasar dapat dipandang sebagai kasus khusus dari matriks portofolio multi faktor yang dipelopori sang General Electric (GE). Model itu ditunjukkan dalam Gambar, di situ digambarkan tujuh unit bisnis suatu perusahaan. Dalam hal ini ukuran bundar memberitahuakn berukuran pasar eksklusif, bukannya berukuran usaha tersebut. Jadi, bisnis andalan perusahaan beroperasi di pasar yg berukuran menengah menggunakan pangsa pasar yang mendekati 30 persen.

Gambar Matrik Model General Electric

Masing-masing bisnis dinilai dua dimensi utamanya, yaitu daya tarik pasar serta kekuatan bisnisnya. Kedua faktor itu cocok buat menilai suatu usaha berdasarkan sudut pandang pemasaran. Perusahann-perusahaan akan berhasil jikalau terjun ke pasar yang menarik dan mereka juga mempunyai kekuatan bisnis yg dibutuhkan buat berhasil pada pasar tersebut. Kalau galat satu kondisi tadi tidak terpenuhi, bisnis tadi nir akan membuahkan hasil yg baik. Baik perusahaan kuat yang beroperasi pada pasar yg kurang menarik juga perusahaan lemah yang beroperasi di pasar yang menarik, nir akan menjadi perusahaan yg sukses.

Untuk mengukur ke 2 dimensi tersebut, perencana taktik harus memahami faktor-faktor yg melandasi masing-masing dimensi dan menemukan cara untuk mengukur serta menggabungkannya ke pada suatu indeks. 

Sebenarnya, matriks GE terdiri berdasarkan sembilan sel yang terbagi menjadi tiga bagian (Gambar). Tiga sel pada bagian kiri atas menerangkan SBU yang kuat pada mana perusahaan wajib menanamkan investasi dan mengusahakannya agar bertumbuh. Sel diagonal menurut kiri bawah ke kanan atas memberitahuakn SBU yang memiliki daya tarik holistik yg sedang-sedang saja. Perusahaan seharusnya menentukan menggunakan selektif serta mengelola keuntungan SBU-SBU itu. Tiga sel di kanan bawah memperlihatkan SBU yg rendah daya tarik keseluruhannya. Perusahaan mempertimbangkan menggunakan serius buat melakukan strategi panen atau melepas jenis bisnis itu. Misalnya, usaha Katup Pengaman adalah SBU yang memiliki pangsa pasar yang mini di pasar menengah yang tidak begitu menarik, serta posisi kompetitif perusahaan lemah: SBU itu merupakan calon yg tepat buat dipanen atau dilepas.

Manajemen pula harus memprediksi posisi yang diharapkan berdasarkan tiap SBU pada 3 sampai 5 tahun mendatang menggunakan menjalankan taktik eksklusif. Tugas itu mencakup analisis posisi produk pada daur hidupnya demikian pula perkiraan taktik pesaing, teknologi baru, kejadian ekonomi, serta sebagainya. 

Tujuan perusahaan nir selalu menaikkan penjualan tiap-tiap SBU. Lebih menurut itu, tujuannya mungkin mempertahankan taraf permintaan menggunakan menggunakan dana pemasaran yg lebih sedikit, atau menarik dana berdasarkan bisnis itu serta membiarkan permintaannya berkurang. Jadi, tugas manajemen pemasaran merupakan mengelola permintaan atau penerimaan buat mencapai taraf sasaran yg dibicarakan bersama menggunakan manajemen korporasi. Pemasaran memberikan sumbangan pada evaluasi atas potensi penjualan serta keuntungan tiap-tiap SBU, namun bila tujuan serta aturan tiap SBU ditetapkan, tugas pemasaran adalah melaksanakan planning tersebut secara efisien serta menguntungkan.

Selain contoh BCG serta GE, model portofolio lain pula telah dikembangkan serta dipakai, terutama contoh Arthur D. Little dan contoh kebijakan terarah Shell. Model-contoh portofolio mempunyai beberapa manfaat. Model tersebut membantu manajer untuk berpikir secara strategis, memahami keekonomisan usaha mereka secara lebih baik, menaikkan kualitas rencana mereka, memperbaiki komunikasi antar manajemen taraf SBU dan manajemen tingkat korporasi, memberitahuakn kesenjangan warta maupun masalah penting lain, serta melepaskan usaha yg lemah dan memperkuat investasi mereka ke bisnis yg lebih menjanjikan.

Akan tetapi, contoh portofolio harus dipakai dengan hati-hati. Model-contoh tersebut bisa menciptakan perusahaan terlalu menekankan pada pertumbuhan pangsa pasar serta hanya memasuki pasar yang tumbuh cepat atau mengabaikan usahanya yg kini . Hasil berdasarkan model tersebut bergantung dalam anugerah peringkat dan bobot yang bisa dimanipulasi buat mencapai lokasi yg diinginkan pada dalam matriks. Selain itu, karena contoh tersebut menggunakan proses perataan, terdapat kemungkinan 2 atau lebih bisnis akan berada pada posisi sel yg sama, padahal peringkat serta bobot yang mendasarinya jauh tidak sinkron. Akan banyak unit bisnis yang berada pada tengah matriks karena adanya kompromi pada hadiah peringkat, sehingga sulit buat memilih strategi yang tepat. Akhirnya, contoh-model tersebut gagal mencerminkan adanya sinergi antara 2 atau lebih bisnis, yg berarti bahwa pengambilan keputusan atas sebuah unit usaha yang merugi, walau sebenarnya dia memberikan kompetensi yang dibutuhkan sang beberapa unit bisnis lainnya. Bagaimanapun secara keseluruhan, contoh portofolio telah menaikkan kemampuan analisis serta kemampuan strategis manajer serta memungkinkan mereka buat merogoh keputusan yang lebih baik daripada keputusan yang diambil dari perasaan.

Strategi Bisnis
Strategi Bisnis menurut Michael E. Porter
Walaupun poly macam strategi yg tersedia. Michael Porter sudah merangkumnya sebagai 3 jenis generik yg memberikan awal yg rupawan buat pemikiran strategis : keunggulan porto secara holistik, diferensiasi, dan penekanan.

Strategi Keunggulan porto secara holistik merupakan taktik yang menciptakan unit bisnis bekerja keras mencapai biaya produksi dan distribusi terendah, sebagai akibatnya harganya dapat lebih rendah daripada pesaing dan mendapat pangsa pasar yang besar . Perusahaan dengan taktik ini wajib terampil dalam rekayasa, pembelian, produksi, juga distribusi. Kuncinya adalah perusahaan harus mencapai porto yg paling rendah dibanding dengan pesaing yg menggunakan strategi penekanan dan pembedaan yg serupa. McDonald di Inggris memakai taktik keunggulan porto secara holistik. Iklan televisi burger menurut McDonald dibuka dengan menampilkan burger serta pojok kanan bawah logo McDonald, dilanjutkan menggunakan kesaksian dari Hansen yang menyatakan bahwa harganya benar-sahih murah , serta ditutup menggunakan burger disertai harga 99 p. 

Gambar Iklam McDonald

Strategi Diferensiasi merupakan strategi unit bisnis yang berkonsentrasi buat mencapai kinerja terbaik dalam menaruh manfaat bagi pelanggan yg dievaluasi penting sang sebagian akbar pasar. Unit usaha dapat menjadi yg terbaik pada pelayanan, kualitas, gaya, teknologi, dan lain-lain, tetapi tidak mungkin buat sebagai yang terbaik dalam segala hal. Perusahaan akan membina kekuatan-kekuatan yang memberikan keunggulan kompetitif dalam satu atau lebih manfaat. Jadi perusahaan yg ingin mempimpin dalam kualitas. Strategi ini dijalankan oleh Canon dalam industri mesin fotokopi. Diferensiasi menonjolkan perbedaan yg mencolok mereknya dengan merek pesaing tidak secara superior. Diferensiasi terdiri dari diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi personal, diferensiasi saluran dan diferensiasi citra. Diferensiasi produk terdiri menurut bentuk, pernik-pernik, kualitas, kehandalan, gampang diperbaiki gaya serta rancangan. Diferensiasi produk terdiri dari bentuk, pernik-pernik, kualitas, kehandalan, gampang diperbaiki gaya serta rancangan. 

General Electric (GE) memakai diferensiasi produk, yaitu menonjolkan kualitasnya. Iklan menurut General Electrin yang berjudul “Clean Air” tersebut ditunjukkan dalam Gambar General Electric adalah perusahaan yg paling dikagumi global peringkat satu dalam tahun 2007, versi majalah Fortune. 


Diferensiasi pelayanan meliputi gampang pemesanan, instalasi training pelanggan, konsultasi pelanggan, pemeliharaan serta perbaikan, serta pelayanan lainnya. Federal Express (FedEx) menggunakan taktik diferensiasi pelayanan buat meraih kesuksesannya, sehingga menempatkan FedEx sebagai peringkat tujuh perusahaan yang paling indah global pada tahun 2002. Iklan FedEx protesis BBDO New York yg berjudul “Sweeps” ditutup menggunakan jargon “Relax, it’s FedEx” buat mendeskripsikan pelayanan yg menyenangkan. Iklan tadi bisa dicermati dalam gambar.

Diferensiasi personal adalah diferensiasi lewat keunggulan personal. Salah satu perusahaan yang menggunkan taktik diferensiasi personal IBM. Selain menggunakan taktik diferensiasi personal, IBM juga membentuk produk menggunakan kualitas yg istimewa. IBM merupakan perusahaan peringkat 19 global berdasarkan pendapatan dan perusahaan peringkat pertama dunia dari industri komputer serta peralatan kantor. Perusahaan yang mempunyai filosofi rasa hormat kepada individu, menaruh terbaik dalam pelanggan dan melaksanakan semua tugas dengan gagasan bahwa seluruh bisa dicapai dengan cara yang unggul. IBM merupakan perusahaan teknologi yang berkomitmen yg tidak habis-habisnya dalam mutu. Iklan IBM yang berjudul ”deeper” ditunjukkan pada gambar. 

Diferensiasi Saluran merupakan diferensiasi lewat keunggulan rancangan distribusi, cakupan, keahlian dan kinerja. HSBC Bank menggunakan strategi ini buat memenangkan persaingan. Kemampuan cabang-cabangnya menyesuaikan diri dengan kondisi lokalnya, adalah keunggulan yg tidak gampang disaingi oleh bank yg lainnya. Bahkan pada Indonesia dan Malaysia buat beradaptasi, HSBC bank membuka unit Syariah.. Iklan televisi HSBC Bank yang dibentuk LOWE London ini ditunjukkan dalam gambar.

Diferensiasi Citra adalah diferensiasi yg tangkap sang konsumen berupa citra merek. Iklan Nike neon box yang terletak tepi jalan pada Paris ditunjukkan dalam Gambar. 

Gambar Iklan HSBC Bank


Strategi Fokus merupakan taktik unit usaha yg memfokuskan diri dalam satu atau lebih segmen pasar yg sempit dari pada mengejar pasar yang lebih besar . Perusahaan tahu kebutuhan segmen target. Amstrong Rubber memfokuskan diri dalam membuat bandingan menggunakan kualitas terbaik bagi mesin pertanian atau kendaraan rekreasi dan terus mencari celah pasar buat dilayani.

Menurut Porter, perusahaan-perusahaan yg melakukan taktik yang sama serta ditujukan buat pasar atau segemen sasaran yang sama menciptakan kelompok strategis. Perusahaan yang melaksanakan strategis tadi menggunakan paling baik akan memperoleh keuntungan paling akbar. Jadi perusahaan yang mempunyai biaya paling rendah diantara perusahaan-perusahaan yang melaksanakan taktik porto rendah akan tampil paling baik. Perusahaan yg nir ,menerapkan taktik yg kentara “pengambil jalan tengah” akan gagal. Sebagai contoh, International Harvester mengalami masa sulit, lantaran dalam industri beliau bukanlah perusahaan dengan biaya terendah, mencapai nilai yang tertinggi, atau terbaik pada melayani beberapa segmen pasar. Pengambil jalan tengah mencoba buat tampil baik dalam semua dimensi strategis, namun karena banyak sekali dimensi strategis memerlukan cara pengelolaan perusahaan yg tidak sama dan kadang kala tidak konsisten, perusahaan-perusahaan ini akhirnya nir unggul pada satu bidangpun.

Strategi Bisnis berdasarkan Jack Trout
1. Strategi adalah Bertahan Hidup
Menurut Webter’s New World Dictionary, definisi taktik ádalah ilmu perencanaan dan penentuan arah operasi-operasi militer berskala besar . Strategi merupakan bagaimana menggerakkan pasukan ke posisi paling menguntungkan sebelum pertempuran aktual menggunakan musuh.

Sedangkan Jack Trout dalam bukunya Trout On Stategy, inti menurut taktik adalah bertahan hidup, persepsi, menjadi tidak sama, persaingan, spesialisasi, kesederhanaan, kepemimpinan dan empiris.

Menggunakan taktik yg baik adalah bagaimana bertahan hayati pada global kompetitif. Kunci sukses adalah memahami dasar-dasar usaha. Dasar bisnisyang angka satu merupakan merancang serta mempertahankan taktik yg jelas dan terfokus. “Kami sudah usang sebagai perusahaan yang sukses sekali, namun sukses bisa menjadi musuh yg paling buruk. Kami ingin berhati-hati supaya kami nir terlalu percaya diri. Beberapa orang memakai kata angkuh. Dalam keadaan sukses seperti kami, kami tidak ingin merasa puas. Kami ingin mendekati setiap hari menggunakan ketidakpuasan yg sehat menggunakan status quo” istilah Arnold Langbo, CEO Kellog Company.

2. Strategi merupakan Persepsi
Inti berdasarkan strategi adalah persepsi. Keunggulan bersaing perusahaan, sesungguhnya adalah keunggulan komunikasi. Sehingga masalah dalam bersaing merupakan perkara dalam berkomunikasi. Strategi Positioning sesungguhnya merupakan taktik komunikasi. Periklanan adalah bentuk komunikasi yang, dari sudut pandang penerima, dibangun pada penghargaan yg rendah. Jika Anda berhasil dalam dalam periklanan, kemungkinan Anda akan berhasil dalam bidang usaha, kepercayaan , politik atau kegiatan lainyang membutuhkan komunikasi massa. Positioning adalah konsep yang membarui keaslian iklan, konsep yang sederhana yg membuat orang menghadapi kesulitan dalam tahu kekuatannya. Positioning dimulai dengan sebuah produk, barang, jasa, perusahaan, atau orang. Namun positioning bukanlah sesuatu yg Anda lakukan terhadap produk. Positioning merupakan sesuatu yg Anda lakukan terhadap pikiran calon konsumen, yaitu menempatkan produk itu pada pikiran calon konsumen. Maka merupakan kesalahan jika menyebut konsep ini menjadi “positioning produk”. Seperti halnya Anda melakukan sesuatu hal terhadap fisik produk itu. Juga salah jika positioning tidak melibatkan perubahan. Namun perubahan tadi merupakan perubahan terhadap nama, harga serta bungkus bukan terhadap produk secara keseluruhan. Pada dasarnya terdapat perubahan penampilan yang akan dilakukan dengan tujuan mengklaim sustu posisi yg lebih berharga pada persepsi calon konsumen. Positioning pula merupakah tubuh pemikiran yg pertama yang dibuat untuk memegang permasalahan pada mendengarkan rakyat kita yang kebanjiran warta. Satu-satunya pertahanan yang dimiliki seseorang dalam masyarakat merupakan pemikiran yang sangat sederhana. Maka pendekatan terbaik yang akan diambil sesorang pada rakyat merupakan pesan yang sederhana. John Sculley, mantan Chairman Apple Computer menyampaikan “Segala hal yg telah kita pelajari pada era industri cenderung menciptakan kerumitan yang semakin parah. Saya kira semakin banyak orang yang sadar bahwa Anda wajib melakukan penyederhanaan, bukan kebalikannya. Ini pandangan baru yg sangat Asia, bahwa kesederhanaan adalah kecanggihan terhebat”.

3. Strategi merupakan Menjadi Berbeda
Jack Trout pada bukunya Trout On Stategy, keliru satu inti berdasarkan taktik adalah sebagai tidak sinkron. Menjadi yang pertama, dominasi atribut, kepemimpinan, senjata, bagaimana produk dibuat, serta peristiwa. Apabila nir bisa, maka dengan harga rendah. 

Michael Dell memutuskan menjual PC menggunakan cara tidak selaras, yaitu menjadi pertama yang menjual PC eksklusif ke konsumen serta merakit pesanan. Michael Dell nir menjual PC ke ditributor. Kini, setiap orang dalam industri ini sedang mencoba meniru taktik Dell, namun telah terlambat. “Ketika hanya terdapat Anda dan pelanggan, Anda sebenarnya telah memulai interaksi menggunakan pelanggan “ istilah Michael Dell.

Harvard adalah universitas pertama di Amerika serta ketika ini dipercaya sebagai Universitas yg terpandang pada global, terutama dalam bidang bisnisnya. Harvard Business School didirikan 1908 serta mewisuda gelar master pertama kalinya pada manajemen pada 1910. Harvard Business School adalah sekolah bisnis pertama yg mensyaratkan gelar universitas buat memasuki program manajemennya. Untuk mempertahankan kepemimpinannya Harvard Business School meluncurkan The Harvard Business Review, yg menjadi tonggak penerbitan. Selama lebih berdasarkan 75 tahun The Harvard Business Review sudah berpengaruh pada menciptakan pemikiran manajemen di global.

Strategi handal buat bersaing adalah sebagai yg pertama pada kategori produk yg Anda masuki. Band Aid merupakan plester luka yg pertama. Charles Schwab adalah perusahaan broker saham menggunakan diskon yg pertama. CNN, jaringan TV kabel yang pertama. Compaq, PC portabel yang pertma. Domino’s, kedai pizza antara yg pertama. ESPN, jaringan TV kabel olah raga yang pertama. Gore-Tex, kain anti air yang pertama. Hewlett-Packard merupakan penghasil printer laser desktop yg pertama. Intel, mikroprosesor yg pertama. Jell-O, supaya-supaya pencuci verbal yg pertama. Kentucky Fried Chicken, restoran ayam goreng yang pertama. Q-Tips, kapas penyeka pertama. Reynold Wrap, alumunium foil yang pertama. Rollerblate, sepatu luncur yg pertama. Sun Microsystems, personal komputer jaring berbasis Unix (linux) yang pertama. Tide, deterjen yang pertama. Time, majalah keterangan mingguna yang pertama. Xerox, mesin fotokopi yang pertama.

Di Yogyakarta, Anda jua bisa mengenal Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai universitas yang pertama pada Yogyakara. STMIK AMIKOM Yogyakarta sebagai loka kuliah orang berdasi yg pertama. Al-Fath toko kostum muslim yang pertama. Karita toko busana muslim buat remaja yang pertama. Priamagama adalah bimbingan tes dengan program agunan diterima yg pertama. Retjo Buntung adalah radio partikelir yang pertama. Geronimo adalah radio partikelir buat remaja yg pertama. Menjadi yg pertama adalah salah satu taktik bersaing yg relatif handal.

4. Strategi adalah Persaingan
Inti berdasarkan taktik adalah persaingan. Kenalilah pesaing-pesaing Anda, hindarilah kekuatan mereka, eksploitasi kelemahan mereka. Sam Walton meciptakan suatu organisasi yang sukses dengan tak henti-hentinya mengumpulkan liputan berdasarkan garis depan. Baik dia maupun wakil presdir regionalnya tak henti-hentinya berkunjung ke toko-toko Wal-Mart, sambil mengumpulkan gagasan-gagasan menurut para karyawan pada semua strata. Walton lebih lanjut mencegah terjadinya jebakan kepicikan dengan jalan secara t menilik toko-toko pesaing. Sepanjang pekan Walton dan para manajer topnya mengumpulkan kabar-informasi intelejen hingga sekecil-kecilnya, yang nir disaring dulu oleh lapisan-lapisan fungsionaris perusahaan yg banyak itu. Setiap Sabtu, mereka bertemu buat mengambil keputusan mengenai penjualan barang buat pekan-pekan mendatang. Di penghujung hari itu jua, semua rencana dikomunikasikan pada seluruh tingkatan karyawan di semua toko. Demikian tulis Martin S. Fridson pada bukunya How to Be a Billionaire.

5. Strategi adalah Menjadi Spesialis
Beritahu konsumen bahwa Anda adalah seorang ahli. Hemming Motor News adalah majalah seorang ahli motor menggunakan penjualan 265.000 kopi per bulan. Pendapatan kotornya mencapai 20 juta dolar setahun. Satu terbitan memiliki 800 page menggunakan 20.000 iklan, yg memberikan segalanya, mulai menurut wheel bearing set buat Model T Ford (seharga $55) sampai roadster Rolls-Royce Harley tahun 1932 seharga $650.000. Sebagian akbar majalah berisi iklan mini hitam-putih, yg sanggup dibayar melalui cek atau kartu kredit. Kandungan editorialnya amat sedikit. Departemen penjualannyapun amat kecil. “Saya hanya seorang biasa pada atas kuda luar biasa” kata Terry Ehrich, keliru satu pemilik majalah tersebut. Sebuah kuda yg sangat seorang ahli, tulis Jack Trout.

Martin Baker Aircraft Company adalah perusahaan yg spesialis produsen kursi lempar buat pesawat jet militer. Perusahaan yang bertempat tinggal pada Denham Inggris ini, mensuplai hampir semua pesawat jet militer yg ada pada semua global. Kursi lempar yg berteknologi tinggi protesis Martin Baker ini, melemparkan orang yg mendudukinya keluar berdasarkan pesawat ketika keadaan genting. Harga satu kursi mencapai $150.000, serta Martin Baker sudah memproduksi kurang lebih 70.000 kursi semacam itu. Saking terkenalnya kursi itu diklaim kursi Martin Baker.

Gillette merupakan perusahaan seorang ahli mata cukur, dengan kualitas tinggi dan harga premium (di atas rata-homogen). Perusahaan yg beraset $8 milyar ini merupakan perusahaan yang memiliki pangsa pasar dunia lebih menurut 60 %. Meskipun Gillette mempunyai produk baterai Duracell, perlengkapan rumah tangga Braun, serta perawatan gigi Oral-B, produk-produk ini hanyalah bisnis sampingan, spesialisnya merupakan mata cukur. 

Subaru, penghasil mobil berdasarkan Jepang pernah bermasalah. Untuk mengatasi perkara tadi, menjadikan Subaru sebagai seorang ahli all-wheel drive. Mulai waktu itu, Subaru menetapkan buat memfokuskan pada keahlian spesifik tadi. “Kami menciptakan komitmen buat hanya menjual all-wheel drive pada rangka mendeferensiasikan diri kami dengan Toyota serta Honda” kata sang Presiden Subaru, George Muller. Saru menggunakan bangga mengumumkan bahwa perusahaannya tidak membuat kendaraan beroda empat, tetapi hanya berspesialisasi dalam tunggangan four-wheel drive. Tindakan ini telah memulihkan Subaru menurut syarat penjualan yang menurun 60 % dan akhirnya selamat dari kebangkrutan. “Lebih baik menjadi luar biasa pada satu hal daripada jago dalam banyak hal” tulis Jack Trout pada bukunya Trout On Strategy. 

6. Strategi merupakan Kesederhanaan
Kesederhanaan merupakan galat satu berdasarkan inti taktik. Menguasai satu istilah di ketua, istilah yang sederhana buat meraih keunggulan bersaing. Emery Air Freight, berdiri 1946 merupakan perusahaan kargo udara pertama di dunia. Emery terjebak, bukan memfokuskan diri dalam layanan kargo eksklusif, malah memberikan layanan kargo apapun. Layanan kargo semalam, layanan 2 hari, layanan paket kecil serta layanan paket akbar. Apapun yg Anda kirim Emery akan melayaninya. Di awal 1970-an Federal Express adalah pemain yg baru berjuang pada bisnis pengiriman barang. Tetapi dengan sangat brilian CEO Fred Smith membuat taktik yang berfokus pada pengiriman barang semalan (overnight) saja. Kata “semalam (overnight)” inilah yg menghantar kejayaan Federal Express.

Volvo mempunyai satu kata keamanan (paling aman) di benak konsumen. Hasilnya, beberapa dasa warsa kemudian Volvo telah sebagai mobil glamor pada Eropa serta penjualan tertinggi di amerika Serikat. Ketika merek sudah memiliki sebuah kata sederhana yang gampang diingat, sulit bagi pesaing buat mengambil kata tadi. Dapatkah Anda memproduksi mobil yang lebih kondusif menurut Volvo?. Mungkin Anda bisa menghasilkan mobil yg lebih kondusif menurut Volvo, misalnya Saab, Audi, serta Mercedes Benz, tetapi pada benak konsumen yg mempunyai istilah sederhana safety, hanyalah Volvo.

BMW memakai kata sederhana driving buat yg secara lengkap The ultimate driving machine (kendaraan beroda empat yg lezat dikendarai). Dengan kesederhanaan ini BMW sebagai mobilo glamor Eropa menggunakan penjualan tertinggi kedua pada amerika perkumpulan. 

“Salah satu kecenderungan paling Mengganggu sepanjang 40 tahun terakhir merupakan keyakinan bahwa jika Anda mudah difahami, bahasa Anda vulgar. Saat aku tumbuh, ekonom, pakar ekamatra, psikolog, pemimpin dalam seluruh disiplin akan selalu berupaya membuat diri mereka gampang difahami. Einstein menghabiskan tahun demi tahun bersama tiga asisten tidak sinkron buat membuat teori relativitasnya difahami sang orang awam. John Maynand Keynespun berupaya keras menciptakan teori-teori ekonominya mudah difahami “ komentarter Drucker pada bukunya The effective Executive. “Ide-inspirasi strategis akbar hampir selalu muncul dengan kata-kata sederhana” tulis Jack Trout pada buku Trout On Strategy.

7. Strategi adalah Kepemimpinan
Menurut Drucker, fondasi berdasarkan kepemimpinan yang efektif adalah memikirkan visi serta misi organisasi, mendefinisikannya, dan menegakkannya secara jelas serta konkret. Pemimpin memutuskan tujuan, menentukan prioritas, dan tetapkan serta memonitor standar. Sedangkan dari Tony Buzan pada buku The Power of Spiritual Intelegence, visi didefinisikan menjadi kepandaian atau merencanakan masa depan dengan bijak dan imajinatif, memakai gambaran mental tentang situasi yg dapat serta mungkin terjadi pada masa mendatang. 

“Kepemimpinan merupakan inti menurut strategi” kata Jack Trout . Tidak seorangpun akan mengikuti Anda bila Anda tidak memahami kemana mesti melangkah. Akio Morita memberikan arah Sony untuk menemukan pasar-pasar baru menggunakan sebutan “semangat pioner”. “Sony merupakan perintis dan nir pernah bertujuan buat mengikuti yang lain. Melalui kemajuan, Sony ingin melayani semua dunia. Sony akan selalu sebagai penemu hal yang belum diketahui. Sony mempunyai prinsip menghargai serta mendukung kemampuan seseorang serta selalu membawa yang terbaik dari seseorang. Ini merupakan kekuatan penting bagi Sony” istilah Morita. Sony membentuk handycam, home video recorder pertama serta floppy disk. Kesuksesannya paling populer adalah ide Morita tetantang Walkman.

“Sebuah komputer di atas setiap meja kerja pada setiap rumah, menjalankan perangkat Microsoft” kata Bill Gates. Maka selesainya Bill Gates membentuk MS-DOS, ia menciptakan sistem operasi Windows misalnya halnya tempat tinggal menggunakan jendela (window) yg mengakibatkan Bill Gates menjadi entrepreneur terkaya di dunia. Tidaklah benar benar bahwa hanya Bill Gates semata yg berperan pada menempatkan PC di kantor-kantor dan pada tempat tinggal -tempat tinggal di seluruh dunia, tetapi Bill Gates memiliki visi untuk melihat apa yg mungkin serta impian buat mengubah visi tadi menjadi fenomena.

Thomas Watson Sr. Membarui nama perusahaan Computing Tabulating Recording Company sebagai International Business Machine (IBM), meskipun pada ketika belum beroperasi secara internasional, namun Thomas Watson mempunyai visi bahwa perusahaan tersebut pada lalu hari sebagai perusahaan yang beroperasi secara internasional. Ketika Watson menamai International Business Machine (IBM) banyak orang ketika itu mentertawakannya. Bahkan ada yg bilang bahwa Watson memberi nama tersebut terlalu membesar-besarkan perusahaannya. Namun kini IBM adalah perusahaan terbaru dan para manajernya menjadi model peranan utama menggunakan setelan baju putih, dasi polos, semangat menjual yg luar biasa. Pada tahun 2003 ini IBM terpilih menjadi Perusahaan Komputer yg paling rupawan global versi majalah Fortune. 

8. Strategi adalah Realitas
“Hampir semua prinsip-prinsip strategis dan strategi yang berhasil bagi perusahaan akbar juga dapat dipakai secara efektif buat memasarkan produk oleh perusahaan mini . Setiap strategi atau pembelajaran konsumen yang berhasil dalam suatu kategori produk tertentu umumnya bisa diterapkan dengan sukses pada produk lain yg tidak terkait, namun dinamika konsumen yg sama. Perusahaan-perusahaan papan atas mendidik para personil pemasaran mereka memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang konsumen melalui kehidupan sehari-hari. Melihat iklan-iklan pada televisi, berjalan-jalan pada pertokoan, berbincang-bincang menggunakan sahabat serta keluarga. Kegagalan buat menyatakan menggunakan kentara manfaat bagi konsumen adalah kasus terbesar di global pemasaran dewasa ini. Banyak perusahaan yang telah menghabiskan jutaan dolar buat menaruh informasi mengenai perusahaan pada konsumen, tetapi mereka nir berhasil melakukan penjualan” istilah Eric Schulz pada bukunya The Marketing Game. Itulah realitas. 

Carol Loomis, editor majalah Fortune melakukan riset terhadap 150 perusahaan dalam tiga periode saat, yaitu 1960-1980, 1970-1990 serta 1989-1999. Dalam masing-masing periode tadi, hanya tiga atau empat yang sanggup tumbuh 15 % atau lebih. Sekitar 20 hingga 30 perusahaan meraih pertumbuhan 10 % sampai 15 %, 40 sampai 60 perusahaan mencapai pertumbuhan lima % hingga 10 %, 20 sampai 30 perusahaan tumbuh 0 % hingga 5 % dan 20 hingga 30 perusahaan tidak tumbuh (menurun). Dengan realitas seperti itu, tidaklah mengejutkan bila perusahaan mulai melakukan sejumlah hal buruk buat menaikkan laju pertumbuhan mereka.

Realitas merupakan inti menurut taktik. Tujuan serupa dengan mimpi, bangunlah serta hadapi realitas. Intinya merupakan realitas pasar. Lebih baik menjadi yg pertama daripada menjadi yang lebih baik, itulah realitas bukan khayalan. “Meskipun para CEO tidak mampu melakukan seluruh hal dewasa ini, satu hal yang wajib selalu mereka perhatikan merupakan ralitas pasar. Jika keliru satu ahli pemasaran Anda menemui Anda dengan membawa sebuah produk baru, tanyakan berapa poly produk serupa yang sudah terlebih dahulu terdapat di pasar. Lalu desak beliau buat mengungkapkan mengapa konsumen mau membeli produk tersebut, bukan produk-produk pesaing. Apabila jawabannya nir memuaskan, kirimkan balik ke ruang kerjanya. Namun sebelum dia pergi, ingatkan beliau bahwa galat satu hukum pertama dari positioning merupakan Lebih baik sebagai yg pertama daripada sebagai yg lebih baik. Itulah empiris bukan imajinasi. Tujuan serupa menggunakan mimpi. Bangunlah, dan hadapi empiris “kata Jack Trout. “Pemasaran terlalu krusial buat diserahkan kepada departemen pemasaran” kata almarhum David Packard, keliru satu pendiri Hewlett-Packard. 

Strategi Bisnis berdasarkan Hammel serta Prahalat
Menurut Hamel dan Prahalad dalam bukunya Competing for The Future, persaingan yang akan datang merupakan persaingan buat membangun dan mendominasi peluang-peluang yang timbul. Menciptakan masa yg akan datang merupakan lebih berdasarkan sekedar menangkap peluang yg yang telah kita memutuskan sebelumnya. Tujuan kita nir hanya meniru produk, proses dan metode pesaing kita, namun bagaimana menyebarkan buat membangun peluang masa yang akan tiba dan mengekploitasinya. 

Untuk bersaing masa yg akan tiba yang diperlukan empat hal. Pertama, harus memahami bahwa bagaimana bersaing dalam masa yang akan tiba adalah tidak selaras menggunakan bersaing di masa kini . Kedua, melakukan langkah buat menemukan dan meningkatkan pengetahuan yang mendalam mengenai peluang-peluang yg akan datang. Ketiga, melakukan mobilisasi sumberdaya perusahaan buat menuju perjalanan dalam masa yg akan datang. Keempat, mengambil masa yang akan datang yang pertama, tanpa merogoh mengambil risiko yang berlebihan. 

Bersaing dalam masa yg akan tiba tidah hanya melakukan rekayasa ulang tetapi juga memperbarui taktik, nir hanya melakukan transformasi organisasi tetapi jua melakukan transformasi industri serta tidak hanya bersaing buat merebutkan pangsa pasar namun jua bersaing buat merebutkan peluang pasar yang akan tiba.

Untuk menemukan dan meningkatkan pengetahuan yang mendalam mengenai peluang-peluang yg akan datang tidak sekedar strategi sebagai belajar namun juga taktik yg kemudian menjadi yg harus dilupakan, nir hanya taktik menjadi positioning namun taktik menjadi tinjauan masa yg akan datang, nir hanya planning strategis atau manajemen strategis tetapi lebih menurut itu menjadi arsitektur strategis. 

Untuk melakukan mobilisasi sumberdaya perusahaan buat menuju perjalanan dalam masa yg akan tiba, stretegi nir hanya sekedar cocok saja namun strategi wajib jua luwes sesuai menggunakan peluang-peluang masa yang akan tiba, taktik nir hanya melakukan alokasi sumberdaya namun strategi pula merupakan akumulasi dan penggerak sumberdaya.

Sedangkan mengambil masa yang akan tiba yang pertama, nir hanya bersaing pada struktur industri yg telah ada tetapi bersaing dalam bentuk struktur industri yg akan tiba, bersaing tidak hanya buat kepemimpinan produk namun juga kepemimpinan kompetensi inti, bersaing nir hanya sebagai perusahaan tunggal namun jua sebagai koalisi, tidak hanya memaksimumkan rasio hits produk baru tetapi pula nilai belajar produk baru serta tidak hanya meminimalisasi ketika produk masuk ke pasar tetapi jua meminimalisasi ketika produk buat mempunyai kemampuan superior di pasar dunia. Selamat Anda bersaing pada masa yg akan tiba serta berhasil.

Strategi Bisnis menurut Kim serta Mauborgne
W. Chan Kim dan Renee Mauborgne menyatakan bahwa Red Ocean Strategy sudah tidak lagi digdaya buat menciptakan pertumbuhan serta laba pada masa depan. Mereka berdua mengusulkan sebuah taktik baru yg disebut Blue Ocean Strategy. Blue Ocean Strategy, menganggap bahwa bersaing adalah membangun ruang pasar yg tidak terdapat lawannya. Pasar yang sangat luas bagaiakan “lautan biru”. W. Chan Kim serta Renee Mauborgne menyatakan bahwa 86 % memakai Red Ocean Strategy dan hanya 14 % yang menggunakan Blue Ocean Strategy. Dari perusahaan yang menggunaikan Red Ocean Strategy tersebut memperoleh pendapatan total 62 % serta keuntungan total 39 %, sedangkan perusahaan yg memakai Blue Ocean Strategy hanya mendapat pendapatan total 38 % tetapi laba totalnya 61 %. 

Cirque du Soleil merupakan keliru satu perusahaan yang memakai Blue Ocean Strategy. Cirque du Soleil. Perusahaan yg didirikan dalam 1984 oleh sekelompok pemain sandiwara jalanan, Cirque telah melakukan pentas dengan menampilkan lusinan produksi yang dilihat oleh kira-kira 40 juta orang pada 90 kota pada sekeliling global. Dalam 20 tahun, Cirque telah mencapai pendapatan sirkus pemimpin global Ringling Bros serta Barnum & Bailey. Kedua perusahaan sirkus pemimpin global tersebut buat mencapainya diharapkan saat 100 tahun.

Ringling Bros serta Barnum & Bailey merancang sirkus baku serta bersaing menggunakan sirkus homogen dalam skala pasar yang terus menurun. Ringling Bros dan Barnum & Bailey memakai perspektif taktik berbasiskan persaingan, sehingga akhirnya industri sirkusyang timbul sebagai tidak menarik. Sedangkan Cirque du Soleil’s meraih sukses dengan tidak mengambil pasar menurut industri sirkus yg ada, yang secara histories pasarnya anak-anak. Cirque du Soleil tidak bersaing Ringling Bros serta Barnum & Bailey, lantaran membentuk pasar baru yang tidak terdapat lawannya dan menciptakan persaingan nir relevan lagi. Cirque du Soleil memunculkan pasar baru selain anak-anak adalah grup pelanggan baru orang dewasa serta klien perusahaan menggunakan tidak hanya menampilkan sirkus, tetapi menampilkan teater, opera serta balet sebagai akibatnya penontonnya bersedia membayar beberapa kali lipat dibandingkan menggunakan sirkus tradisional biasa. Strategi dari Cirque du Soleil inilah yang diklaim Blue Ocean Strategy. 

Blue Oceans adalah seluruh industri yg tidak terdapat waktu ini, tidak dikenal ruang pasarnya dan tidak terdapat persaingan. Dalam blue oceans permintaan itu diciptakan, bukan diperebutkan dengan persaingan. Permintaan itu bisa tumbuh menggunakan cepat dan menguntungkan. Untuk menciptakan blue oceans dengan 2 cara, yaitu perusahaan dapat meningkatkan industri baru yang lengkap, misalnya eBay menciptakan lelang, tetapi secara online. Cara kedua, blue oceans dapat diciptakan berdasarkan dalam red oceans dalam saat perusahaan membarui batas industri yang ada, misalnya yg dilakukan oleh Cirque du Soleil. 

Hal ini membentuk sebuah konsep sirkus baru yg mematahkan dilema/pertukaran biaya -nilai serta menciptakan samudra biru berupa ruang pasar baru. Simak perbedaan-perbedaan ini. Sementara sirkus-sirkus lain serius dalam me­nawarkan pertunjukan-pertunjukan hewan, merekrut seniman bintang, menampilkan beragam arena pertunjukan pada 3 pentas bulat, dan berusaha mendongkrak penjualan karcis diskon untuk jalur di antara deretan tempat duduk (aisle), Cirque du Soleil nir ambil pusing menggunakan segala faktor itu. Faktor-faktor ini sudah lama diterima begitu saja pada industri sirkus tradisional, yg nir pernah mempertanyakan relevansi berdasarkan faktor-faktor tersebut. Akan retapi, protes publik terhadap penggunaan binatang pada sirkus mulai meningkat. Selain itu, pertunjukan binatang merupakan keliru satu menurut elemen termahal, karena tidak hanya mencakup harga hewan itu sendiri, akan tetapi jua porto training, layanan kesehatan, kandang, asuransi, dan transportasi bagi hewan tersebut.

Sama halnya, sementara industri sirkus serius pada me­nampilkan bintang-bintang, publik awam merasa bintang-bintang sirkus tidaklah setara dengan bintang film. Padahal, bintang sirkus jua adalah komponen berbiaya tinggi yg nir punya pengaruh besar pada penonton. Cirque juga membuang 3 pentas lingkaran yang umum dalam sirkus tradisi­onal. Pengaturan tiga pentas lingkaran misalnya ini sebenarnya mengakibatkan kegelisahan pada antara penonton karena mereka harus secara cepat mengalihkan pandangan mereka menurut satu lingkaran ke lingkaran lain. Selain itu, pengaturan 3 pentas jua meningkatkan jumlah pementas yang dibutuhkan dan ini tentu berujung dalam membengkaknya biaya . Dan, meskipun penjualan karcis bonus buat jalur di antara tempat duduk penonton tampak menjadi cara yang bagus untuk menaikkan pemasukan, tetapi dalam praktiknya harga yang tmggi meng-urungkan niat konsumen buat membeli dan menciptakan mereka merasa ditipu.

Daya tarik langgeng berdasarkan sirkus tradisional hanya terdiri atas 3 faktor: tenda, badut, serta aksi akrobat klasik seperti pemain roda serta aksi-aksi maut berdurasi pendek. Jadi, Cirque du Soleil mempertahankan badut, tapi membarui humornya dari slapstik yang mengandalkan fisik menjadi lawakan yang lebih intelektual dan memikat. Cirque membuat tenda lebih mewah, sebuah elemen yg ironisnya mulai diabaikan sang banyak sirkus demi mampu membayar sewa tanah buat pertun-jukan. Memahami bahwa karakteristik unik ini secara simbolis sanggup menangkap keajaiban sirkus, Cirque du Soleil merancang simbol klasik sirkus menggunakan tampilan luar yg megah serta tingkat ketenangan prima. La membuat tenda-tendanya bernuansa sirkus-sirkus epik akbar masa lampau. Bangku-bangku keras dan serbuk gergaji jua menghilang. Akrobat serta aksi-aksi mendebarkan lainnya dipertahankan, akan tetapi perannya dibatasi dan dibuat lebih elegan dengan tambahan gaya artistik dan daya pikat intelektual pada aksi-aksi itu.

Dengan melirik batasan pasar teater, Cirque du Soleil jua menawarkan elemen-elemen nonsirkus, seperti struktur cerita dan, bersama itu, kekayaan intelektual, musik dan tarian artistik, serta majemuk pentas karya. Faktor-faktor ini, yang sepenuhnya baru bagi industri sirkus, diambil dari industri-hiburan-eksklusif alternatif bernama teater.

Tidak seperti pertunjukan sirkus tradisional yg rangkaian aksi-aksinya nir berkaitan, setiap kreasi Cirque du Soleil memiliki tema serta struktur cerita yang menyerupai pertunjukan teater. Meskipun temanya kabur (serta mcmang dibentuk demi-kian), tema itu membawa harmoni dan elemen intelektual bagi pertunjukan—tanpa membatasi potensi menurut aksi-aksi yg ada. Le Cirque pula merogoh ide menurut pertunjukan Broadway. Misalnya, Le Cirque menampilkan beragam produksi dibandingkan pertunjukan tradisional “satu buat seluruh”. Sama jua menggunakan pertunjukan Broadway, setiap pertunjukan Cirque du Soleil menampilkan lagu pengiring (original score] dan be­ragam musik, yang mengarahkan penataan visual, rapikan lampu, dan timing menurut aksi-aksi, dibandingkan scbaliknya. Pcrtunjukan-pertunjukannya menampilkan tarian abstrak serta spiritual, sebuah idc yg diambil berdasarkan teater dan balet. Dengan memperkenalkan faktor-faktor baru ini, Cirque du Soleil telah menciptakan pertunjukan yg lebih berkelas dengan sofistikasi tinggi. Selain itu, dengan menyuntikkan konsep majemuk produksi dan dengan memberikan alasan bagi orang buat lebih acapkali mengunjungi sirkus, Cirque du Soleil secara dramatis telah menaikkan permmtaan.

Pendek istilah, Cirque du Soleil menawarkan elemen terbaik berdasarkan sirkus serta teater dan mengurangi atau menghilangkan elemen-elemen remehnya. Dengan menunjukkan manfaat yang tak terdapat sebelumnya, Cirque du Soleil sudah menciptakan sebuah samudra biru serta membangun bentuk baru berdasarkan hiburan lang-sung, yaitu bentuk yang berbcda berdasarkan sirkus tradisional serta teater. Pada waktu yg sama, dengan menghilangkan poly elemen termahal dari sirkus, Cirque secara dramatis sudah me­ngurangi struktur biayanya serta mencapai diferensiasi sekaligus porto rendah. Le Cirque secara strategis menghargai tiketnya sesuai menggunakan harga tiket teater. Dengan cara ini, dia menaikkan harga tiket pasaran industri sirkus beberapa kali lipat, akan tetapi permanen mempertahankan harga yg mampu menarik konsumen de-wasa, yg sudah terbiasa menggunakan harga tiket teater.

Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di atas, penciptaan samudra biru adalah soal menekan porto sambil menaikkan nilai bagi pembeli. Beginilah bagaimana lompatan nilai bagi perusahaan dan pembeli dicapai. Karena nilai pembeli dari dari utilitas (manfaat) dan harga yang ditawarkan per­usahaan kepada pembeli, serta lantaran nilai bagi perusahaan itu didapatkan berdasarkan harga dan struktur biaya , maka penemuan nilai tercapai hanya ketika holistik sistem kegiatan utilitas, harga, dan biaya perusahaan terpadu dengan tepat. Pendekatan keseluruhan sistem inilah yang menjadikan penciptaan samudra biru sebagai sebuah strategi berkesinambungan (sustainable). Strategi samudra biru mengintegrasikan kegiatan-aktivitas fungsional serta operasional perusahaan.

Sebaliknya, inovasi seperti penemuan produksi mampu dilakukan dalam level subsistem tanpa memengaruhi holistik taktik perusahaan. Sebuah penemuan pada proses produksi, misalnya, bisa menurunkan struktur porto perusahaan buat memperkuat strategi-kepemimpinan-porto yg telah ada tanpa membarui proporsi utilitas dalam penawarannya. Meskipun inovasi semacam ini bisa membantu mempertahankan serta bahkan mempertinggi posisi perusahaan dalam ruang pasar yang ada, pendekatan subsistem yg demikian jarang membentuk samudra biru berupa ruang pasar baru.

Dalam pengertian ini, penemuan nilai adalah lebih menurut sekadar inovasi. Inovasi nilai merupakan soal strategi yang merangkul seluruh sistem aktivitas perusahaan. Inovasi nilai menuntut perusahaan buat mengarahkan semua sistem dalam tujuan mencapai lompatan pada nilai bagi pembeli serta bagi per­usahaan itu sendiri. Tanpa pendekatan integral semacam ini, penemuan akan selalu terpisah berdasarkan inti strategi. Gambar membeberkan karakteristik-ciri khas primer dari strategi samudra biru dan samudra merah.

Strategi samudra merah yg berbasiskan kompetisi mengasumsikan bahwa kondisi-kondisi struktural itu terberi dan bahwa perusahaan dipaksa buat berkompetisi pada kondisi-kondisi itu; sebuah asumsi yang berdasarkan pada apa yang diklaim akademisi sebagai pandangan strukturalis, atau determinisme lingkungan. Sebaliknya, inovasi nilai berdasarkan pada pandangan bahwa batasan-batasan pasar serta struktur industri tidaklah terberi serta mampu direkonstruksi melalui tindakan serta keyakinan pelaku industri. Kami menyebut ini sebagai pan­dangan rekonstruksionis. Dalam samudra merah, diferensiasi menelan porto akbar karena perusahaan berkompetisi dari aturan praktik sukses yang sama. Dalam samudra biru, pilihan strategis bagi perusahaan merupakan mengejar baik diferen-siasi juga biaya rendah. Di sisi lain, dalam pandangan rekonstruksionis, tujuan strategi merupakan menciptakan anggaran-aturan praktik sukses baru menggunakan mendobrak duduk perkara/pertukaran nilai-biaya yg terdapat dan, menggunakan demikian, menciptakan samudra biru. 

Cirque du Soleil mendobrak aturan praktik sukses berdasarkan industri sirkus, serta mencapai diferensiasi sekaligus biaya ren­dah menggunakan merekonstruksi elemen-elemen lain dalam batasan-batasan industri yang terdapat. Apakah Cirque du Soleil itu sahih-benar sirkus, dengan semua elemen yang dibuang, dikurangi, ditambah, dan diciptakan? Ataukah ia sebuah teater? Dan, apabila ia sebuah teater, tergolong pada aliran apa pertunjukan Broadway, opera, balet? Tidaklah kentara. Cirque du Soleil me­rekonstruksi elemen-elemen lain melampaui cara lain -cara lain ini dan, pada akhirnya, beliau merupakan adonan menurut kepingan-kepingan mini seluruh cara lain tersebut sekaligus pula bukan secara tegas bisa tergolong ke pada galat satu cara lain . Cirque du Soleil menciptakan samudra biru berupa ruang pasar baru yg belum ada pesaingnya serta belum diberi nama.

Menurut Kim serta Mauborgne, hal yang secara konsisten membedakan pemenang serta pe­cundang pada menciptakan samudra biru adalah pendekatan mereka atas strategi. Perusahaan yang terperangkap dalam samudra merah mengikuti pendekatan konvensional, yakni berlomba memenangi kompetisi dengan menciptakan posisi kokoh dalam tatanan industri yg ada. Kreator dari samudra biru, secara mengejutkan, nir memakai kompetisi sebagai patokan mereka. Sebaliknya, mereka mengikuti akal strategis tidak sama yang kami sebut inovasi nilai. Inovasi nilai adalah batu-pijak dari strategi samudra biru. Anda berfokus berakibat kompetisi itu nir relevan menggunakan menciptakan lompatan nilai bagi pembeli dan perusahaan Anda. Dengan demikian, Anda sekaligus membuka ruang pasar yg baru dan tanpa pesaing.

Inovasi nilai memberikan penekanan setara pada nilai serta penemuan. Nilai tanpa inovasi cenderung berfokus pada pencipta­an nilai dalam skala akbar, sesuatu yang meningkatkan nilai tapi tidak memadai buat menciptakan Anda unggul secara me-nonjol pada pasar. Inovasi tanpa nilai cenderung bersifat mengandalkan teknologi, pelopor pasar, atau futuristis, dan tak jarang membidik sesuatu yang belum siap diterima serta dikonsumsi oleh pembeli. Dalam pengertian ini, penting buat membeda­kan antara penemuan nilai, inovasi teknologi, serta bisnis sebagai pelopor pasar. Pemenang menurut pecundang pada menciptakan samudra biru bukanlah teknologi super canggih maupun "saat yg tepat buat memasuki pasar." Terkadang hal-hal itu diperlukan; akan tetapi seringnya nir. Inovasi nilai terjadi hanya saat perusahaan memadukan penemuan dengan utilitas (manfaat), harga, dan posisi biaya . Apabila mereka gagal memadukan inovasi serta nilai dengan cara ini, para inovator teknologi serta pelopor pasar sering hanya memberikan telor yang akan ditetaskan sang perusahaan-perusahaan lain.

Inovasi nilai adalah cara baru buat memikirkan serta melaksanakan strategi yg menunjuk pada penciptaan samudra biru dan ditinggalkannya kompetisi. Yang krusial, inovasi nilai menolak keliru satu berdasarkan dogma yg paling umum diterima dalam taktik berbasiskan-kompetisi: dilema/pertukaran (tradeoff) nilai-porto. Secara generik, diyakini bahwa perusahaan hanya bisa antara membentuk nilai lebih tinggi bagi pelanggan menggunakan biaya tinggi atau membangun nilai lumayan menggunakan porto lebih rendah. Di sini, taktik ditinjau sebagai menciptakan pilihan antara diferensiasi serta porto rendah. Sebaliknya, perusahaan yg berusaha menciptakan samudra biru mengejar diferensiasi dan porto rendah secara bersamaan.

Pada saat debut Cirque, sirkus-sirkus lain berfokus pada saling membandingkan pesaing serta memaksimalkan pangsa permintaan mereka yang telah menciut dengan cara mengerahkan habis-habisan banyak sekali pertunjukan sirkus tradisional. Pengerahan habis-habisan ini meliputi usaha perekrutan lebih banyak badut dan pawang singa terkenal, sebuah taktik yg melambungkan struktur porto sirkus tanpa secara substansial mengubah pengalaman menyaksikan sirkus. Hasilnya adalah porto yg meroket tanpa diiringi peningkatan pemasukan, dan menurunnya permintaan akan sirkus secara keseluruhan.

Kemunculan Cirque du Soleil membuat upaya-upaya itu tak lagi relevan. Keberadaan Cirque yg bukan menjadi sirkus biasa maupun produksi teater klasik membuatnya nir ambil peduli dengan apa yang dilakukan para pesaing pada kom­petisi. Daripada mengikuti akal konvensional buat memenangi kompetisi dengan memberikan solusi lebih baik terhadap satu konflik yaitu solusi berupa membangun sirkus yg menjanjikan kesenangan dan kegairahan yg lebih besar . Cirque berusaha menawari orang menggunakan kesenangan dan kegairahan sirkus serta kerumitan intelektual serta kekayaan artistik berdasarkan teater dalam waktu yang bersamaan; jadi, Cirque meredefinisikan kasus itu sendiri. Dengan mendobrak batasan-batasan pasar menurut teater serta sirkus, Cirque du Soleil memperoleh pengertian baru bukan hanya serta konsumen sir­kus, melainkan jua menurut nonkonsumen sirkus: konsumen atau penikmat teater dewasa. Hal ini membuat sebuah konsep sirkus baru yg mematahkan duduk perkara/pertukaran porto-nilai serta membentuk samudra biru berupa ruang pasar baru.