MANFAAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM BUDIDAYA IKAN

MANFAAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM BUDIDAYA IKAN - Ditengah euforia produksi budidaya ikan уаng semakin tinggi, tаnра disadari bеbеrара impak negatif dаrі aktivitas budidaya mulai bermunculan. 

Dan umumnya didominasi оlеh impak penggunaan pakan уаng hiperbola, eksploitasi lahan buat ekspansi tambak tаnра disertai dеngаn kajian lingkungan secara komprehensif, hіnggа meningkatnya akumulasi sisa obat (antibiotika) serta hormon dalam tubuh ikan. 

Nаmun poly nya peluang dalam budidaya ikan jua memiliki banyak hambatan serta hambatan. Dimana Hambatan serta kendala уаng dihadapi budidaya јugа dari dаrі kegiatan yg sangat berpenagruh pada perkembangan budidaya antara lain Industri dan Pertambangan.

MANFAAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM BUDIDAYA IKAN

Banyak Prakek industri serta pertambangan уаng tіdаk ramah lingkungan sebagai akibatnya Menyebabkan para pembdidaya merugi pada lantaran diantaranya 

- mengganggu kualitas air perairan dan 

- persepsi negatif masyarakat tеntаng produk budidaya уаng dараt menghipnotis genetik seseorang dеngаn info Genetic modified organisms (GMOs) 

Pengaruh Isu sangatlah memukul para pembudidaya ikan, Dimana isu Genetic modified organisms (GMOs)  уаng banyak diaplikasikan dі bеbеrара spesies ikan budidaya, misalnya ikan nila. 

Sеmuа impak serta impak dan ancaman іnі membutuhkan ѕеbuаh solusi serta penanganan уаng terintegrasi dеngаn peningkatan output produksi, serta іtu hаnуа bіѕа dilakukan dеngаn penguasaan serta penerapan teknologi budidaya.

MANFAAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM BUDIDAYA IKAN


Berkaitan dеngаn teknologi, mungkіn kita dараt belajar dаrі ѕеbuаh negara dі Eropa dеngаn luas hаmріr ѕаmа dеngаn provinsi Jawa Barat : 

Belgia. Negara уаng memegang rekor dunia tаnра pemerintahan іnі berhasil memegang peranan krusial dalam memajukan budidaya karena perhatian besar dаrі pemerintah buat pengembangan Artemia, 

Dimana artemia уаng merupakan pakan hayati penting buat kelangsungan hidup larva ikan dan udang. 

Ekspansi produk komersil Artemia hasil pengembangan teknologi dі Belgia іnі ѕudаh merambah kе ѕеmuа benua serta kita negara Indonesia termasuk negara dеngаn permintaan impor terbesar. 

Pertanyaan уаng ada kеmudіаn merupakan: Kok mampu?. Secara teori Artemia hаnуа hidup dі lingkungan dеngаn salinitas tinggi atau dі lingkungan tаnра ada predator sehingga mеrеkа dараt tumbuh dan berkembang dі lingkungan tadi. 

Sumber alami Artemia іnі рun keliru satunya berada dі Great Salt Lake, Utah, USA dan Belgia tіdаk punya lingkungan уаng mendukung buat pengembangan Artemia secara massal. 

Nаmun dengan kondisi ѕеmuа іnі dimana kita miris melihat belum termaksimalkan kemauan pemerintah buat memajukan potensi budidaya ikan bukan sebagai alasan buat tіdаk berperan aktif 

Karena pada pengembangan komoditas budidaya ikan іnі dan akhirnya terbukti bаhwа dеngаn ketekunan уаng tinggi, negara mini misalnya belgia іnі berhasil menjadi sentra pengembangan komoditas Artemia.


Sаngаt miris јіkа kita bandingkan hal іnі dеngаn realita уаng ada dі negeri tercinta. Kita dianugerahi sumber daya alam nаmun ѕаngаt sedikit dаrі kita уаng berpikir buat mengoptimalkan asal daya tеrѕеbut menjadi sumberdaya уаng dараt berguna buat kemaslahatan orang poly. 

Dan іnі diperparah dеngаn sistem birokrasi уаng dalam akhirnya mengendurkan semangat pengembangan teknologi. 

Hal-hal seperti іnі harus ѕеgеrа diantisipasi kаlаu kita tіdаk іngіn jumlah produksi perikanan budidaya semakin berkurang dan tertinggal dаrі negara lain.

Pengembangan akan teknologi serta penemuan buat budidaya ikan terus poly yg pada minati oleh petambak serta pembudidaya 

Bеbеrара teknologi budidaya perikanan ketika іnі уаng sedang digandrungi аdаlаh 

- Sistem resirkulasi (Recirculation Aquaculture System) dan 

- pengendalian mikroba pada usaha pencegahan penyakit ikan. 

Kedua teknologi dan inovasi sistem іnі ѕudаh ѕаngаt generik kita dengar, nаmun kаlаu mаu jujur, ѕudаh ѕаmраі mаnа tahapan уаng kita lalui? 

Apakah ѕеbаgаі sumber liputan atau hаnуа ѕеbаgаі pengguna. 

negara indonesia patut berbangga bаhwа kita memiliki bеbеrара ahli dan pakar di bidang уаng mendalami kedua bidang ini, 

Nаmun habatan jua masih berlaku buat para ahli tadi dimana dukungan уаng tіdаk optimal membuat pengembangan teknologi іnі terkesan berjalan dі tempat, 

Kurangnya dana serta perhatian pemerintah membuahkan akhirnya, pulang kita hаnуа puas ѕеbаgаі pengguna.


Teknologi sistem resirkulasi ѕаngаt krusial buat terus dikembangkan serta diaplikasikan, mengingat syarat kualitas perairan kita уаng semakin terdegradasi. 

Seperti уаng kita lihat dі Kepulauan Riau, kegiatan industri serta pertambangan уаng ѕudаh melewati daya dukung lingkungan menyebabkan banyaknya kematian ikan dі bеbеrара sentra produksi budidaya. 

Bеbеrара daerah ѕudаh menginstall teknologi ini, nаmun perlu dilakukan sistem training secara terpola dan riset уаng lebih menunjuk pada optimalisasi kualitas air уаng didapatkan serta efisiensi nilai ekonomi buat pelaksanaan teknologi ini.

Untuk pengendalian mikroba dalam lingkungan budidaya, pemahaman komunikasi antar bakteri (Quorum sensing) sebagai dasar buat produksi bеbеrара bahan alami уаng dараt menghambat komunikasi bakteri ini, уаng bіаѕа disebut dеngаn quorum quenching. Bеbеrара bahan alami misalnya : 

Halogenated furanones уаng diekstrak dаrі makro alga D.pulchra atau bahan alami misalnya Cinnamaldehyde. 

Kedua bahan іnі mempunyai kemampuan buat Mengganggu komunikasi antar bakteri. 

Teknologi іnі dараt diterapkan buat mengurangi pemggunaan antibiotika pada sistem budidaya kita, karna misalnya уаng kita ketahui bеrѕаmа bаhwа penggunaan massal antibiotika уаng tіdаk bertanggungjawab dараt mengakibatkan resistensi pada bakteri уаng pada akhirnya tidakan pengobatan sebagai tіdаk efektif.


Teknologi lаіn уаng dараt diaplikasikan pada aktivitas pengendalian mikroba аdаlаh pelaksanaan Poly-β-hydroxy butirate (PHB) 

Dimana manfaat berdasarkan teknologi ini adalah dараt mengendalikan akumulasi jumlah bakteri dі lingkungan budidaya. 

Poly-β-hydroxy butirate (PHB) уаng ketika іnі ѕаngаt dibutuhkan buat sebagai solusi pengendalian mikroba јugа sedang dikembangkan оlеh ѕеbuаh perusahaan komersil, уаng ѕаngаt disayangkan bukan berada dі Indonesia. 

Bеbеrара teknologi pencegahan јugа dараt dilakukan, diantaranya аdаlаh dеngаn penerapan probiotik dan immunostimulan. Dua tindakan prophylaxis terakhir іnі bukanlah hal aneh lаgі bagi pembudidaya dalam penerapan. 

Namun, pengembangan teknologi уаng sempurna untuk komoditas уаng dikembangkan mаѕіh ѕаngаt diperlukan sebagai akibatnya tіdаk terkesan seperti tumpang tindih pelaksanaan ѕеbuаh produk buat poly komoditas dan sistem budidaya.

SISTEM INFORMASI STRATEGIK

Sistem Informasi Strategik
Selama berabad-abad organisasi telah mengelola knowledge serta teknologi. Terutama dalam masa revolusi industri, terlihat jelas organisasi bisnis mengalami pertumbuhan pesat akibat adopsi teknologi terbaru pada waktu itu. Di abad ini, selama lebih berdasarkan 3 dekade, sejak organisasi usaha menggunakan personal komputer buat kebutuhan pemrosesan data, penggunaan teknologi warta (TI) dalam organisasi usaha terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal ini didukung menggunakan timbulnya pemahaman umum bahwa penggunaan TI dalam organisasi akan mengurangi berbagai porto dampak adanya efisiensi dan bahwa eksistensi TI akan membuat organisasi yang memilikinya akan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing.

Sejak waktu itu, organisasi usaha terus melakukan investasi akbar-besaran pada perangkat TI. Dari tahun 1996 sampai 2000 saja, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat membelanjakan hampir 2 trilyun dolar dalam hardware serta software buat mengejar peningkatan efisiensi, produktifitas yang lebih tinggi dan penguatan keuntungan. (Stiroh, 2001) Besarnya investasi yang dikeluarkan sang perusahaan-perusahaan tersebut tentunya diikuti pula dengan besarnya ekspektasi akan output yg bisa diperoleh atas investasi tadi. Investasi yang akbar, diperlukan akan membawa peningkatan yang akbar terhadap kinerja atau produktifitas bagi organisasi bisnis tadi. 

Namun demikian, belakangan disadari bahwa organisasi bisnis yang merupakan top performer di Amerika Serikat merupakan organisasi usaha yang tergolong irit pada melakukan belanja perangkat TI. Studi yg dilakukan oleh Forrester Research pada Maholtra (2005) menemukan bahwa perusahaan dengan performa terbaik yg diukur dengan pendapatan, Return on Assets (ROA) dan pertumbuhan cash flow memiliki belanja TI yg lebih rendah menurut homogen-homogen perusahaan lain. Penelitian Collins dalam Maholtra (2005) pada perusahaan Amerika Serikat dengan performa terbaik selama 30 tahun membuat temuan yang serupa. Temuan tadi menjadi bertolak belakang dengan sejumlah penelitian, seperti yang dilakukan oleh Barua, Kriebel & Mukhopadhyay (1991), Brynjolfsson serta Hitt (1994), ataupun Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001)yang mengambarkan adanya interaksi positif antara investasi perusahaan dalam TI menggunakan kinerja. Tetapi tidak bertolak belakang dengan sejumlah penelitian lainnya yg gagal pertanda adanya interaksi antara TI dengan kinerja atau produktifitas Hal ini menyisakan pertanyaan apakah teknologi liputan benar-benar bisa menaruh manfaat bagi kinerja perusahaan? 

Sejumlah studi realitas tentang dampak TI bagi organisasi bisnis itu sendiri sebenarnya sudah banyak dilakukan sejak pertengahan era 1980’an. Penelitian mengenai imbas TI pada organisasi usaha berakar dalam topik penelitian mengenai information technology investment and firm performance yg selama bertahun-tahun sudah menjadi perdebatan tentang apakah investasi dalam TI memiliki impak yang positif menggunakan ukuran-berukuran kinerja ataupun produktifitas. Penelitian yg dilakukan sejak 2 dekade kemudian membuat temuan yg mixed tentang manfaat TI tersebut. Ketika TI diyakini memberi manfaat bagi organisasi bisnis yang memilikinya, sejumlah penelitian justru membentuk temuan berupa ketiadaan hubungan antara investasi perusahaan dalam TI menggunakan peningkatan produktifitas, suatu situasi yg disebut sebagai productivity paradoks (Dedrick, Gurbaxani & Kraemer, 2002) Penelitian yang dilakukan tersebut, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu studi yg dilakukan pada level perusahaan serta studi yang dilakukan dalam level negara. Hasil dari sejumlah penelitian tadi bisa dipandang pada tabel berikut, yang menerangkan bahwa investasi perusahaan bagi TI tidaklah selalu diikuti dengan peningkatan kinerja/produktifitas

Tabel Studi Empiris tentang Dampak TI terhadap Kinerja/Produktifitas (Studi dalam perusahaan sektor jasa hingga Manufaktur)
Peneliti


Sumber Data

Temuan

Strassmann [1985]
Strassmann [1990]

Computerworld,
survei terhadap 38 perusahaan
Tidak terdapat korelasi antara  investasi dalam  TI dengan berukuran-ukuran kinerja, semisal ROI
Bender [1986]
LOMA insurance data
Dari 132 perusahaan
Korelasi lemah antara TI dengan berbagai rasio kinerja
Franke [1987]
Data industri keuangan
Investasi pada TI berhubungan dengan penurunan tajam pada capital productivity serta tidak ada dampak dalam labor productivity
Dudley & Lasserre [1989]

TI serta komunikasi mengurangi biaya yg berkaitan menggunakan inventory
Parsons, Gottlieb dan
Denny  [1990]
perbankan
Dampak yg rendah berdasarkan teknologi warta terhadap produktifitas
Alpar & Kim [1991]
perbankan
TI menyebabkan pengurangan porto. 10 %. Peningkatan pada investasi TI membawa pengaruh dalam 1.9% penurunan total cost.
Harris & Katz [19 91]
40 perusahaan  anggota LOMA
Hubungan positif yg lemah antara TI dengan aneka macam rasio kinerja
Barua, Kriebel &
Mukhopadhyay [1991]
manufaktur
Investasi dalam TI herbi  sejumlah intermediate performance measure yang kemudian herbi ukuran-berukuran kinerja yang lebih tinggi seperti revenue, ROA & market share

Mahmood & Mann (1993)

Computerworld  data pada 100 perusahaan
Investasi pada TI mempunyai hubungan yg lemah dengan pencapaian  strategi organisasi serta kinerja secara ekonomi. Namun mempunyai hubungan yang signifikan jika diuji dengan canonical analysis yg dapat mengukur pengaruh kombinasi menurut variabel-variabel investasi TI
Diewert & Smith [1994]
Perusahaan ritel Kanada
Peningkatan produktifitas melalui pengelolaan inventory yang lebih baik menggunakan TI
Brynjolfsson & Hitt [1994]
IDG, Compustat, Bureau of Economics Analysis (BEA)
TI membawa pengaruh pada peningkatan produktifitas dan membangun value bagi customer
Loveman [1994]
 PIMS/MPIT
Invetasi pada TI tidak membawa dampak apapun terhadap output
Kwon & Stoneman [1995]
UK Based survey
TI mempunyai impak positif  terhadap hasil serta produktifitas.
Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001)
Perusahaan yang tercantum dalam Fortune 500 serta  Fortune Service 500
Investasi pada TI mempunyai interaksi positif dengan sejumlah ukuran kinerja, seperti penjualan, asset & ekuitas
Sumber: Barua, Kriebel & Mukhopadhyay (1995), Brynjolfsson &Yang (1996), Mahmood & Mann (2000),Sircar, Turnbow & Bordoloi (2001) 

Pada studi level negara, di Amerika Serikat, Oliner & Sichel (1994, 2000) menemukan bahwa penggunaan teknologi berita misalnya computer hardware, aplikasi serta perangkat komunikasi berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produktifitas dalam era pertengahan tahun 90’an. Tetapi demikian, Gordon (2000) dalam Simon & Wardop (2002) mengemukakan bahwa teknologi berita di AS nir membawa dampak yg luas terhadap pertumbuhan output, sebagaimana yang disebabkan oleh gelombang inovasi besar dalam abad lalu misalnya ditemukannya listrik dan mesin dengan pembakaran internal. Di Australia sendiri, penelitian oleh Simon& Wardop (2002) menunjukkan Australia mengalami peningkatan pertumbuhan output yang signifikan sehubungan menggunakan penggunaan teknologi fakta pada organisasi. Lebih jauh lagi Jorgenson (2004) mencoba buat melihat pengaruh TI pada pertumbuhan ekonomi negara-negara G7. Ia menyatakan bahwa sejak 1995, masih ada investasi yg akbar terhadap perangkat TI pada negara-negara G7 dimana hal ini membawa kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut. 

Penjelasan mengenai productivity lawan asas pernah dilakukan sang Brynjolfsson &Yang (1996) yg mengemukakan bahwa masih ada 4 aspek buat mengungkapkan terjadinya productivity lawan asas Keempatnya merupakan : (1) Kesalahan pengukuran. Terjadi pada kemungkinan terjadinya kesalahan pengukuran input serta Output akibat masih digunakannya pendekatan tradisional dalam pengukurannya.(2) Adanya waktu tunda atau lags. Waktu tunda disini muncul berdasarkan perbedaan ketika dari analisa mengenai payoff menurut porto versus manfaat. (3) Redistribution: TI dipakai dalam aktifitas redistribusi antar perusahaan. Hal ini menjadikan TI bermanfaat, namun manfaat ini nir bisa diukur dalam total hasil. (4). Mismanagement, kesalahan pada pengelolaan TI bisa menciptakan TI terlihat tidak produktif jika diukur secara statistik. Lebih lanjut, Ahadiat (2006) mencoba mengungkapkan tentang hal tadi menggunakan mengutip Bakos (1998) bahwa Investasi pada TI sendiri adalah investasi pada sesuatu yg gampang sebagai lama (obsolete) sehingga terdapat kesulitan untuk menampakkan keuntungannya pada skala pengukuran kinerja atau produktifitas yang sudah umum digunakan. 

INTANGIBLE BENEFIT DARI TEKNOLOGI INFORMASI 
Perkembangan modern dari studi realitas tentang impak TI, saat ini tidak hanya mencoba buat mengkaitkan investasi TI dengan tangible benefit, tetapi jua intangible benefit. Hal ini terutama terus mengemuka sejalan menggunakan makin maraknya implementasi Knowledge Management (KM) pada sejumlah organisasi usaha. KM merupakan upaya organisasi pada mengelola aktiva intelektual yang dimilikinya melalui praktek-praktek pendokumentasian serta sharing pengetahuan diantara anggota organisasi. Untuk melakukan pendokumentasian serta sharing pengetahuan ini dibutuhkan TI buat mewujudkannya, yaitu dalam bentuk pengembangan intranet, extranet serta perangkat pendukung lainnya berupa hardware, perangkat lunak serta telekomunikasi yang dikenal sebagai KM technology. Meski praktek KM diyakini bisa menaikkan intangible asset bagi organisasi, tetapi Maholtra (2005) mencoba menyoroti penggunaan kata knowledge management technology berdasarkan sisi lain, yaitu hanyalah menjadi perkembangan terkini atau re-labelling yang dilakukan sang para vendor TI selesainya selama dua dekade terakhir istilah teknologi warta sudah banyak digunakan. 

Pasar KM technology sendiri merupakan pasar yg menarik bagi para vendor TI. Pasar dunia KM diestimasikan sebanyak US$8.8 billion selama tahun 2005. Sedangkan pelaksanaan usaha yang digunakan untuk menunjang KM, misalnya CRM diproyeksikan buat bertumbuh sebanyak $148 billion dalam tahun 2006 (Maholtra, 2005) KM sendiri telah dimanfaatkan sang vendor TI buat memasarkan produk-produknya. Sehngga terlepas berdasarkan sisi positif implementasi KM bagi organisasi tetapi harus disadari bahwa vendor TI pun membutuhkan jargon baru buat memasarkan produk berupa perangkat yang dimilikinya melalui popularitas KM. Hal ini tentu jua melahirkan pertanyaan lanjutan, yaitu apakah KM technology berguna bagi organisasi? 

Bila di dua dasa warsa kemudian, waktu istilah productivity lawan asas mulai mengemuka, masih ada sebuah quote yg sangat populer yaitu: “You can see the computer everywhere but in the productivity statistics” (Robert Solow) maka kini Maholtra melanjutkannya menggunakan “One can see the impact of knowledge management everywhere but in the KM technology-performance statistics ’’ 

Bila ditinjau berdasarkan sisi definisi, Knowledge management sendiri mempunyai sejumlah definisi yg mengadung penekanan yang tidak sinkron. Definisi tadi diantaranya:

‘‘Knowledge management systems (KMS) refer to a group of information systems applied to managing organizational knowledge. That is, they are IT-based systems developed to support and enhance the organizational processes of knowledge creation, storage/retrieval, transfer, and application’’ (Alavi serta Leidner, 2001) 

Definisi yang berikutnya merupakan:
‘‘Knowledge Management refers to the critical issues of organizational adaptation, survival and competence against discontinuous environmental change. Essentially it embodies organizational processes that seek synergistic combination of data and information-processing capacity of information technologies, and the creative and innovative capacity of human beings’’ (Malhotra,2005)

Bila dicermati, pada kedua definisi tadi terdapat perbedaan yg esensial. Bila definisi yg pertama lebih poly menekankan dalam ketersediaan sistem berbasis TI buat mengelola knowledge, definisi yang kedua lebih menekankan dalam proses lanjutan yaitu daya kreatif dan penemuan manusia pada menggunakan data serta informasi.

Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa tersedianya intranets, extranets, hingga groupware tidak dan merta dapat menghantarkan pada kinerja perusahaan yang lebih baik. Teknologi ini, perlu diadopsi serta disesuaikan dengan insan menjadi user, diintegrasikan sesuai dengan konteks pekerjaan serta secara efektif digunakan sang organisai.

Sehingga sama halnya dengan pertanyaan pertama, yaitu apakah apakah teknologi liputan benar-benar bisa memberikan manfaat bagi kinerja organisasi? Pertanyaan ke 2, yaitu apakah KM technology berguna bagi organisasi? Membutuhkan kajian lebih lanjut buat menjawabnya. Tetapi satu hal yg telah niscaya bahwa investasi perusahaan pada perangkat TI atau yang sekarang jua diberi nama perangkat KM technology tidak akan dan merta memberikan manfaat yang terukur bagi organisasi yg memilikinya. Dibutuhkan sejumlah penataan selanjutnya buat menciptakan teknologi tersebut sebagai berdampak positif bagi organisasi bisnis.

MEREALISASIKAN DAMPAK POSTIF TI; PEOPLE, PROSES & BUSINESS MODEL.
Dengan mengamati praktek-praktek yg telah dilakukan sang organisasi bisnis yg berhasil dalam memanfaatkan TI, maka buat bisa merealisasikan pengaruh positif TI bagi organisasi usaha tadi, paling nir bisa dilakukan melalui 3 hal yaitu: people, proses & business contoh.

Dalam kaitannya dengan people, peranan dari TI telah tidak sama menggunakan peranan mesin pada era industri yang dipakai untuk menggantikan tenaga insan. Meski penggunaan yg mula-mula menurut komputer adalah diarahkan pada factor substitution, yaitu menggantikan low skill clerical worker melalui otomatisasi proses kerja. Dalam organisasi modern, TI nir semata-mata menggantikan kekuatan otot ataupun akal budi manusia. Dari hasil analisa makroekonomi multi tahun menurut ratusan perusahaan, Strassmann pada Malhotra (2005) menegaskan bahwa bukanlah personal komputer yg penting, namun apa yang dilakukan insan dengan komputer tersebut adalah yang terpenting. Sebagaimana bukanlah sebuah palu yang dapat mendirikan sebuah rumah yang baik, namun tergantung dalam ditangan siapakah palu itu dipegang, sebagai akibatnya dapat membuat sebuah tempat tinggal yang baik. Dari sini semakin kentara terlihat bahwa manfaat yg didapatkan sang teknologi, tidaklah semata asal menurut teknologi itu sendiri, tetapi berdasarkan apa yg dilakukan oleh insan dengan teknologi tersebut. 

Terkait menggunakan proses, manfaat yang didapatkan oleh organisasi bisnis berdasarkan TI terletak pada bagaimana organisasi tersebut menggunakannya nir sekedar buat otomatisasi, namun pula buat mentransformasi proses usaha, hingga mengganti atau membangun contoh bisnis yang sesuai manakala aktifitas kerja serta berbagai proses usaha telah didukung TI. Hammer & Champy pada Hartono (2005) mengidentifikasi kegagalan investasi TI buat menaruh pengaruh terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan lantaran implementasi TI dipercaya sekedar mengotomatisasi kegiatan tradisionil yg terdapat. Menurut Hammer, buat menaruh manfaat investasi TI harus dipakai buat mengubah secara revolusioner proses bisnis yang ada dalam organisasi. Pendekatan ini dianggap sebagai Business Process reengineering (BPR), dimana BPR ini bersifat fundamental, radikal, dramatis dan berorientasi pada proses.

Bila dipandang menurut perkembangan ilmu manajemen, dampak luar biasa berdasarkan inovasi teknologi misalnya listrik dan mesin-mesin dalam abad industri terhadap kemajuan industri tidaklah melulu disebabkan lantaran organisasi mempunyai mesin-mesin tersebut. Organisasi usaha dalam masa itu juga melakukan perubahan proses kerja buat dapat mewujudkan keunggulannya, contohnya melalui diterapkannya division of labor. Sehingga tidak heran pada abad fakta keilmuan manajemen memperkenalkan kata teamwork, interconnection, serta shared information sebagai suatu inovasi berdasarkan ilmu manajemen buat mengadopsi teknologi pada proses kerja. (Senn, 2004 ).

Carr dalam artikel kontroversialnya IT Doesn’t Matter yang dipublikasikan melalui Harvard Business Review (2003) menyoroti kemampuan TI buat mendeliver keunggulan kompetitif yg semakin memudar. Beberapa dasawarsa kemudian bank yg menerapkan online banking dapat mempunyai keunggulan kompetitif dan merebut hati nasabah. Namun ketika ini teknologi ini sudah dimiliki semua bank. Demikian pula dengan Reuters yg mempunyai sistem TI yg tidak dapat disaingi dalam dasawarsa lalu, namun sekarang bahkan surat berita lokal sekalipun pula bisa memiliki jaringan yang terkenal diseluruh dunia melalui teknologi internet.

Carr (2003) juga menyoroti kecenderungan organisasi usaha pada masa kini yang terlalu mengandalkan vendor software ataupun perangkat keras sampai konsultan TI agar organisasi usaha bisa tetap up to date dengan perkembangan TI, dibandingkan dengan berupaya untuk melakukan penemuan sendiri. Ketergantungan ini mengakibatkan setiap organisasi usaha cenderung mempunyai sistem serta teknologi yang seragam, sebagai akibatnya selama nir dilakukan penemuan maka tidak akan ada nilai lebih yg bisa ditampilkan sang suatu organiasi usaha jika dibandingkan menggunakan pesaingnya. Kondisi ini pula didukung dengan praktek organisasi bisnis selama ini dimana dari total pembelanjaannya pada TI, persentase terbesar adalah buat pengadaan komoditas berupa aneka macam perangkat dan hanya sedikit yang mengalokasikan dana buat upaya menemukan inovasi atau melakukan proses kreatif berdasarkan aneka macam perangkat tadi.

Satu hal lain yang perlu dicermati adalah pilihan akan contoh usaha. Perkembangan teknologi sudah memungkinkan organisasi buat membangun new business model yg baru dalam hal penawaran barang serta jasa ataupun baru pada hal cara mendelivernya ke konsumen (Hartono, 2005) Dalam kaitannya menggunakan contoh bisnis, peritel Wal Mart telah timbul menjadi sebuah organisasi bisnis yg besar karena berhasil memanfaatkan TI secara maksimal buat menjalankan model usaha yg dipilihnya. Wal-Mart juga terus mencari cara buat menaikkan efisiensi pada TI melalui pengelolaan rantai pasokan secara elektronis. Wal Mart mengarahkan seluruh pemasoknya buat memakai sistem pengadaan barang secara elektronis yg sesuai dengan miliknya, sebagai akibatnya mau tidak mau supplier yang ingin terus berhubungan menggunakan WalMart harus mengadopsi sistem tadi. (Maholtra, 2005) Lebih jauh tentang model usaha, Amazon, Google serta e-bay merupakan tiga nama besar pada dunia e-commerce yang menjalankan bisnisnya murni secara virtual atau hanya terdapat didunia maya. Siapapun sebenarnya dapat memulai bisnis pada internet, sebuah infrastruktur terbuka yang bisa digunakan oleh siapa saja serta sudah lazim diadopsi sang organisasi bisnis lainnya. Tetapi dengan kreatifitas para pendirinya, ketiganya menentukan suatu contoh bisnis yang dapat diterima oleh pengguna internet pada semua dunia. Amazon, pioner pada usaha ritel yg terus melengkapi diri dengan fitur-fitur baru serta kemudahan yang membuat pelanggan enggan berpaling. E-bay dalam bidang pelelangan yg membuat segala hal jadi mungkin buat dilelang serta seluruh orang pada semua dunia bisa sebagai peserta lelang asalkan mempunyai akses ke internet. Serta Google sebagai nomor satu dalam search engine yg menggunakan perangkat TI sederhana secara aporisma yaitu dengan membangun algoritma pemrograman yg memungkinkan user men-search ‘apapun’ secara lebih cepat dan teliti dibanding berdasarkan search engine manapun termasuk Yahoo. Masih banyak model lain, misalkan Encyclopedia Britannica yang pada abad liputan ini pula harus merubah contoh bisnisnya pada menjajakan berita akibat adanya internet dan keluarnya Wikipedia, suatu free ensiklopedia pada internet yg mempunyai lebih menurut 1,8 juta artikel dan dikerjakan oleh para sukarelawan berdasarkan semua global (Hammel, 2006)

Akhirnya, buat bisa mengukur impak TI pada organisasi, Luftman (2004) memaparkan sejumlah aspek yang dapat diukur selain aspek keuangan buat mengukur dampak positif TI menggunakan lebih terinci. Luftman menegaskan bahwa aspek-aspek yg dapat diukur untuk menilai manfaat bisa mencakup imbas terhadap usaha, interaksi pelanggan, impak dalam internal organisasi hingga value chain. Dicontohan jua, misalkan TI digunakan untuk memperbaiki order management, maka pengukuran bisa dilakukan dalam short order lead times, In-stock availability, order accuracy, access to order status information hingga response time to customer inquiries, sebagai akibatnya lebih jelasnya dari pengaruh positif tadi bisa lebih terlihat.

PENGERTIAN CRM CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT MENURUT AHLI

Pengertian CRM (Customer Relationship Management)
CRM diartikan menjadi satu kesatuan penjualan, pemasaran dan strategi pelayanan yg mencegah terjadinya aktivitas pekerjaan yg tidak terkoordinasi antar bagian dengan baik serta itu tergantung pada aksi-aksi perusahaan yang terkoordinasi (Kalakota, 2001). 

CRM berkonsentrasi dalam apa yg dievaluasi oleh pelanggan, bukan dalam apa yang perusahaan ingin jual. Pelanggan nir menginginkan diperlakukan secara sama. Akan namun mereka ingin diperlakukan secara individual. Namun, pada dasarnya CRM adalah suatu cara untuk menganalisa konduite pelanggan yang dimiliki perusahaan, dimana melalui output analisa tersebut, perusahaan dapat menentukan cara bagaimana agar bisa melayani para pelanggannya secara lebih personal, sehingga menimbulkan loyalitas pelanggan terhadap perusahaan. Sasaran utama CRM bukan terletak dalam kepuasan pelanggan, tetapi lebih menunjuk pada loyalitas pelanggan. Maksudnya merupakan agar pelanggan tidak hanya puas saat memakai produk perusahaan, melainkan menaikkan loyalitas pelanggan dalam perusahaan. (Strene, 2000). 

Sasaran dari kerangka kerja bisnis CRM merupakan menggunakan hubungan yang terdapat buat menaikkan penghasilan, memakai kabar yg terintegrasi buat pelayanan yg baik, memperkenalkan konsisten, proses serta prosedur chanel yang replicable. (Kalakota, 2001)

Keuntungan Penggunaan CRM 
Keuntungan menurut penggunaan CRM merupakan servis yg lebih cepat, mengurangi harga, memperbesar keuntungan, mempunyai rasa memiliki, menaikkan koordinasi tim, taraf kepuasan pelanggan sebagai lebih tinggi, menaikkan loyalitas pelanggan. (Widjaja, 2000)

Manfaat dan Tantangan CRM
Potensi manfaat usaha menurut manajemen hubungan pelanggan sangat banyak. Contohnya, CRM memungkinkan sebuah perusahaan buat mengidentifikasi dan serius pada para pelanggan terbaik mereka, yaitu mereka yang paling menguntungkan bagi perusahaan, supaya mereka dapat dipertahankan sebagi pelanggan seumur hayati untuk layanan yg lebih besar serta menguntungkan. Manajemen interaksi pelanggan memungkinkan penyesuaian serta personalisasi real-time atas berbagai produk serta jasa dari dalam impian, kebutuhan, norma membeli dan siklus hayati para pelanggan. CRM juga dapat menelusuri waktu ketika pelanggan menghubungi perusahaan, darimana pun titik hubungannya. Sistem CRM juga memungkinkan perusahaan buat memberi pengalaman yg konsisten dan layanan dan dukungan superior bagi pelanggan, di seluruh titik kontak yg dipilih oleh pelanggan. Semua manfaat ini akan memberi nilai bisnis strategis bari perusahaan dan nilai pelanggan yg akbar bagi para pelanggannya. (O’Brien, 2005)

Tiga Fase CRM 
Tiga fase yg dilakukan pada CRM adalah mengakuisisi pelanggan baru (acquire). Pelanggan baru didapatkan menggunakan memberikan kemudahan pengaksesan liputan, penemuan baru, serta pelayanan yg menarik. Meningkatkan laba berdasarkan pelanggan yang telah ada (enhance). Perusahaan berusaha menjalin interaksi dengan pelanggan melalui pemberian pelayanan yg baik terhadap pelanggannya. Mempertahankan pelanggan yg menguntungkan (retain). Dengan memperlihatkan apa yang diharapkan sang pelanggan spesifik bukan yang diperlukan oleh pelanggan pasar, lantaran nilai jasa bagi pelanggan merupakan nilai agresif yang paling sinkron menggunakan kebutuhannya. Fokus perusahaan waktu ini adalah bagaimana mempertahankan pelanggan yang telah terdapat niscaya memberikan keuntungan bagi perusahaan dari pada bagaimana menerima pelanggan baru yg belum tentu menguntungkan serta loyal terhadap perusahaan. (Kalakota, 2001)

Klasifikasi CRM
Aplikasi yg menerapkan CRM diklasifikasikan menjadi dua (Dyche, 2002), yaitu:

CRM Operasional 
CRM Operasional dikenal menjadi “front office” perusahaan. Aplikasi CRM ini berperan dalam hubungan menggunakan pelanggan. CRM Operasional meliputi proses otomatisasi yang terintegrasi dari keseluruhan proses usaha, seperti otomatisasi pemasaran, penjualan, serta pelayanan. 

Salah satu penerapan CRM yg termasuk dalam kategori operasional CRM merupakan pada bentuk aplikasi web. Melalui web, suatu perusahaan bisa menaruh pelayanan kepada pelanggan. Beberapa model pelayanan yang diberikan melalui web, antara lain:
1) Menyediakan pencarian produk. Pelanggan acapkali kali mengalami kesulitan pada mencari produk yg mereka inginkan, karenanya diharapkan fasilitas search
2) Menyediakan produk atau pelayanan perdeo, sesuatu yg bisa menarik pelanggan buat mengunjungi web adalah tersedianya produk atau pelayanan gratis
3) Menyediakan pelayanan atau liputan tentang penggunaan produk
4) Menyediakan pemesanan on line
5) Menyediakan fasilitas berita status pemesanan 

CRM Analitik 
CRM Analitik dikenal sebagai “back office” perusahaan. Aplikasi CRM ini berperan dalam tahu kebutuhan pelanggan. CRM Analitik berperan pada melaksanakan analisis pelanggan serta pasar, seperti analisis trend pasar dan analisis perilaku pelanggan. Data yang digunakan pada CRM Analitik adalah data yang dari menurut CRM Operasional.

Fokus Bisnis pada CRM
Mengelola banyak sekali interaksi pelanggan melibatkan 2 tujuan yang saling berkaitan : pertama, memberi organisasi serta semua karyawannya yang berhadapan menggunakan pelanggan, satu pelanggan lengkap mengenai setiap pelanggan di setiap hal serta pada lintas semua saluran; dan, ke 2, memberi pelanggan satu pandangan lengkap tentang perusahaan dan saluran-salurannya yg luas. CRM memakai teknologi kabar buat menciptakan sistem lintas fungsi perusahaaan yg mengintegrasikan dan mengotomatisasi banyak proses layanan pada pelanggan dalam penjualan, pemasaran, serta layanan pelanggan yg berinteraksi menggunakan pelanggan perusahaan. Sistem CRM pula menciptakan kerangka kerja TI software serta database yang dijalankan melalui Web, yg mengintegrasikan proses-proses ini menggunakan operasi bisnis perusahaan lainnya, dan mendukung kolaborasi antara perusahaan dengan para pelanggan, dan mitranya.(O’Brien, 2005).

Pemasaran serta Pemenuhan Pesanan dalam CRM
Sistem CRM membantu para praktisi pemasaran menuntaskan kampanye pemasaran pribadi dengan mengotomatisasi tugas-tugas misalnya pengkualifikasian pemasaran pada sasaran, serta penjadwalan serta penelusuran pengiriman surat pemasaran eksklusif. Kemudian, aplikasi CRM akan membantu para praktisi pemasaran buat menangkap serta mengelola data respons pelanggn serta calon pelanggan pada database CRM, serta menganalisis nilai pelanggan serta nilai usaha dari kampanye pemasaran langsung perusahaan. CRM pula membantu dalam pemenuhan respons calon pelanggan dan pelanggan dengan secara sempurna menjadwalkan hubungan penjualan serta memberi informasi yg sempurna atas produk serta jasa bagi mereka, sementara sambil menangkap warta yang relevan buat disimpan ke pada database CRM. (O’Brien, 2005)

Layanan serta Dukungan buat Pelanggan
Sistem CRM memberi para staf penjualan alat software dan akses real-time ke database umum pelanggan yang dapat dibagi beserta menggunakan para praktisi penjualan dan pemasaran. CRM membantu para manajer layanan pelanggan membuat, memutuskan, serta mengelola berbagai permintaan atas layanan dari pelanggan. Software call center mengirimkan semua panggilan ke para staf dukungan buat pelanggan dari dalam keahlian serta otoritas mereka buat menangani permintaan layanan tertentu. Software help desk membantu para staf layanan buat pelanggan membantu para pelanggan yang mempunyai perkara dengan suatu produk atau jasa, menggunakan memberi data layanan serta saran yang relevan untuk mengatasi masalah tersebut. Layanan mandiri berbasis web memungkinkan para pelanggan mengakses dengan mudah fakta pendukung eksklusif di situs Web perusahaan, dengan tetap memberi mereka pilihan untuk mendapat bantuan lebih jauh secara online atau melalui telepon menurut personel layanan pelanggan.(O’ Brien, 2005)

Aktivitas Utama menurut Konsep CRM
Aktivitas CRM dalam dasarnya betujuan agar perusahaan Unilever dapat mengenali pelanggan secara lebih lebih jelasnya dan melayani mereka sesuai kebutuhannya. Secara generik, beberapa aktifitas primer berdasarkan konsep CRM adalah menjadi berikut:

1. Membangun database pelanggan yg kuat
Database pelanggan yg bertenaga adalah kunci primer aplikasi CRM. Ada poly alasan mengapa perusahaan perlu membentuk database pelanggan yang kuat. Pertama, database pelaggan merupakan keliru satu aset primer perusahaan, yang pula bisa dihitung performanya sebagaimana performa finansial yang lain. Kedua, database pelanggan dapat dijadikan berukuran mengenai nilai perusahaan sekarang serta kemungkinan performanya pada masa mendatang.

Untuk perusahaan yang menangani pelanggan corporate mungkin akan lebih gampang karena jumlah pelaggannya terbatas. Tetapi bagi perusahaan yg menangani pelanggan retail tentu saja diperlukan sistem serta prosedur pengumpulan database yg lebih kompleks.

Banyak cara yg dapat dilakukan untuk mengumpulkan database pelanggan. Misalnya melalui pengambilan kartu garansi yg datanya harus diisi menggunakan lengkap oleh pelanggan, melalui form aplikasi buat pengajuan kredit ataupun permintaan suatu layanan serta yg paling terkenal tentu saja adalah dengan menerbitkan katu keanggotaan.

Beberapa perusahaan retail akbar di Indonesia menerbitkan kartu keanggotaan buat kepentingan pemasaran mereka seperti Matahari menerbitkan Matahari Club Card, Makro menerbitkan kartu anggota Makro, Carrefour menerbitkan kartu belanja yg sekaligus berfungsi menjadi kartu kredit serta bekerja sama menggunakan GE Finance.

Contoh lainnya merupakan Telkomsel yg mengeluarkan layanan SimpatiZone buat pelanggan pra bayarnya. Ini dilakukan lantaran yg terdaftar pada Telkomsel tentu saja merupakan pelanggan pasca bayar, ad interim pelanggan pra bayar nir terdaftar profilnya.

Salah satu faktor krusial supaya pelanggan menaruh data-datanya kepada perusahaan adalah dengan menaruh penawaran benefit buat pelanggan. Kebanyakan ritel menaruh reward point serta pula bonus bila mereka manjadi anggota contohnya Telkomsel memberikan laba kepada pelanggan Simpati jika kartu mereka hilang serta pelanggan masih dapat memakai nomor yg sama menggunakan hanya membayar 50% menurut harga perdana.

2. Membuat profil berdasarkan setiap pelanggan 
Langkah selanjutnya merupakan membuat profil berdasarkan masing-masing pelanggan. Ini adalah pengembangan lebih lanjut menurut proses segmentasi konsumen yang sudah dilakukan perusahaan.

Profil pelanggan menyangkut segala aktifitas yg dilakukan oleh pelanggan mengenai penggunaan produk ataupun layanan perusahaan. Profil pelanggan akan menaruh citra mengenai kebutuhan, impian, dan jua concern mereka mengenai produk atau layanan perusahaan.

Ada 2 hal yang bisa sebagai parameter perusahaan dalam menentukan profiling pelanggan adalah usage dan uses. Usage menyangkut seberapa poly mereka menggunakan produk atau layanan perusahaan, kapan menggunakannya dan produk atau layanan apa saja yang dipakai. Sedangkan uses menyangkut bagaimana pelanggan memakai produk atau jasa perusahaan.

Digabungkan dengan data-data demografis, psikografis dan berbagai data pendukung lain, profilling semacam ini akan memberikan citra yang lebih komprehensif tentang kebutuhan serta asa pelanggan. Profil inilah yg kemudian dapat digunakan oleh perusahaan buat menentukan aktifitas marketing misalnya apa yang cocok diaplikasikan kepada pelanggan

3. Analisis profitabilitas menurut tiap-tiap pelanggan
Dalam analisis profitabilitas terdapat 2 hal yang dievaluasi dari masing-masing pelanggan. Pertama merupakan penerimaan ( revenue ) yang dihasilkan berdasarkan masing-masing pelanggan dan kedua merupakan biaya ( cost ) yang harus dikeluarkan buat melayani masing-masing pelanggan.

Aspek revenue dipandang dari beberapa hal :
(1) Dari penggunaan produk atau layanan perusahaan yg mereka konsumsi kini .
(2) Menghitung seberapa poly kemungkinan penggunaan produk atau layanan tersebut padan tahun-tahun mendatang
(3) Kemungkinan penggunaan produk atau layanan lain yang disediakan sang perusahaan

Sedangkan berdasarkan aspek biaya , yang perlu dihitung adalah mulai dari porto akuisisi ( acquisition cost ) sampai porto buat mempertahankan mereka ( retention cos ). Satu lagi porto yg perlu diperhitungkan adalah opportunity cost, biaya berdasarkan kesempatan yg hilang lantaran melayani pelanggan tersebut.

Dengan menghitung serta membandingkan antara aspek penerimaan serta porto yg harus dikeluarkan, perusahaan bisa mulai memilih pelanggan mana yang memberikan keuntungan yg lebih poly serta mana yg nir terlalu menaruh keuntungan yang akbar. Pemilihan ini sebagai indera yang krusial supaya perusahaan dapat menaruh layanan yang sinkron dengan tingkat profitabilitas dari setiap pelanggan.

4. Interaksi dengan pelanggan yg lebih targeted dan customized
Dengan profil yang lebih jelas, perusahaan akan lebih mudah buat melihat kebutuhan yang bhineka berdasarkan setiap pelanggan. Informasi ini tentu saja akan memudahkan perusahaan buat memberikan penawaran tentang produk dan layanan yg diadaptasi kebutuhan mereka.

Dengan taraf kebutuhan yang dipetakan, perusahaan pula bisa menaruh komunikasi pemasaran terpadu yg lebih personal serta customized. Pelanggan akan merasa lebih diharapkan secara individual dan tentu saja akan menaruh pengalaman yg lebih menarik dan mendukung proses kepuasan pelanggan. Dan tentu saja buat jangka panjang merupakan bagaimana hal tersebut bisa membangun loyalitas pelanggan buat terus menggunakan produk atau layanan perusahaan.

Selain aktifitas komunikasi yang lebih targeted, perusahaan pula dapat memberikan penawaran produk ataupun layanan yang secara spesifik dibuat tidak sama buat setiap pelanggan. Dengan demikian lantaran perusahaan sudah bisa mengenali kebutuhan pelanggan tentunya akan lebih mudah bagi mereka buat melakukan respond serta transaksi.

Berhubungan dengan hal di atas, perusahaan dapat mendesain acara loyalitas ( loyality acara ) yang sesuai menggunakan pelanggannya. Program loyalitas ini akan sangat membantu perusahaan di dalam mempertahankan pelanggan, menaikkan kepuasan dan menjaga supaya pelanggan tidak tergoda oleh banyak sekali tawaran yang diberikan oleh kompetitor lain.

Program customer retention inilah yg sebagai galat inti utamadari aktifitas Customer Relationship Management ( CRM ). Paradigma dan cara berpikir perusahaan nir lagi didominasi dalam bagaimana mendapatkan pelanggan baru, tetapi lebih ke bagaimana mempertahankan pelanggan usang. Karena dari informasi lapangan, biaya buat mempertahankan pelanggan lama jauh lebih murah menurut biaya buat menerima pelanggan baru

Apalagi pelanggan lama mempunyai potensi yg akbar bukan hanya dalam pengunaan produk atau layanan perusahaanyang mereka gunakan sekarang, namun jua produk serta layanan perusahaan yang lain. Asal pelanggan puas, perusahaan punya potensi buat melakukan penjualan produk atau layanan yg berbeda melalui cross selling ataupun up selling.

Peran software pelaksanaan CRM
Software/aplikasi CRM ini sudah banyak beredar di pasaran, kebanyakan dibentuk oleh perusahaan Amerika serta Eropa yang lebih dulu mengimplemtasikan aplikasi CRM pada perusahaan mereka.

Aplikasi CRM bermanfaat bagi perusahaan pada poly hal. 
Pertama, proses otomatisasi menurut semua data yang ingin dipakai perusahaan dalam membangun database pelanggan. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mengumpulkan data-data pelanggan, mencatat berapa kali mereka menghubungi perusahaan dalam satu bulan, berapa kali memakai produk atau layanan perusahaan serta banyak sekali data lain bila dilakukan secara manual.

Kedua, aplikasi CRM menaruh laporan-laporan menurut data yg dikumpulkan sebagai akibatnya dapat menjadi liputan yg bermanfaat bagi manajemen buat proses pengambilan keputusan. Aplikasi CRM akan sebagai Decision Support System(DSS) dimana pihak manajemen tidak lagi direpotkan lagi dalam urusan teknis dalam menciptakan laporan dan menyusun liputan yg diperlukan.

Namun demikian, inisiatif CRM pada perusahaan tidaklah semata hanya berhenti pada implementasi pelaksanaan CRM. Aplikasi CRM hanyalah sekedar teknologi yg menjadi indera ( tool ) bagi perusahaan. Untuk menamin implementasi CRM yg sukses, banyak faktor yang wajib dibenahi terlebih dahulu oleh perusahaan.

Ada empat kemampuan primer dalam strategis CRM yaitu :
Technology ( teknologi ) 
Teknologi yang mendukung CRM
People ( Manusia ) 
Kemampuan insan serta sifatnya pada mengelola CRM
Process ( Proses ) 
Proses perusahaan yg digunakan buat mengakses serta berinteraksi dengan pelanggan buat mengetahui kebutuhan serta memenuhi kepuasan pelanggan
Kowledge and Insight ( Pengetahuan dan Wawasan ) 
Memberikan masukan dalam perusahaan dalam menaruh nilai pada data pelanggan sehingga mereka membutuhkan pengetahuan serta wawasan buat menaikkan hubungannya dengan pelanggan

Aspek orang meliputi internalisasi cara berpikir orang tentang bagaimana melayani konsumen. Visi implementasi CRM wajib kentara terlebih dahulu serta dipahami secara benar sang semua karyawan pada perusahaan. Selanjutnya adalah aspek kesiapan dari sisi pengetahuan serta ketrampilan. Perusahaan perlu mengadakan pelatihan-pelatihan serta proses belajar yang membuat karyawan lebih siap dalam proses implementasi CRM.

Aspek kedua merupakan proses dan mekanisme. Perusahaan wajib mendefinisikan secara lebih jelas target market yg akan dibidik dan prosedur perusahaan secara lebih rinci dalam melayani konsumen. Hal ini penting karena karyawan bekerjasama pribadi dengan konsumen mempunyai aturan yg jelas tentang bagaimana melayani pelanggan.

Aspek ketiga adalah sistem serta teknologi. Perusahaa perlu menciptakan cetak biru tentang teknologi CRM seperti apa yg akan digunakan, bagaimana proses implementasinya, pelatihan dan jua penerapannya yang herbi sistem yg telah ada sekarang.

Penerapan Strategi CRM
Tujuan menurut strategi CRM merupakan buat membentuk interaksi antara perusahaan serta pelanggannya dengan cara memaksimalkan nilai hidup pelanggan buat perusahaan. Hal inii juga mencerminkan filosofi bahwa tidak seluruh pelanggan diciptakan sama.

Gambar : Komponen Strategi CRM

Penjelasan Gambar
Strategi CRM membutuhkan empat komponen :
  • Customer-management orientation 
  • Customer-management orientation meliputi sekumpulan nilai-nilai perusahaan dan taktik serta aksinya pada mengimplementasikan customer management principles
  • Integration and alignment of organizational processes 
  • Integration and alignment of organizational processes dikelola dengan memahami nilai yang akan diberikan dalam pelanggan yang telah ditargetkan sinkron dengan prosesnya. Komponen ini bisa digunakan buat mengungkapkan serta merancang proses organisasinya
  • Information capture and alignment of technology 
  • Information capture and alignment of technology dikarakteristikan oleh kemampuan dalam mentransfer data sebagai pada bentuk informasi
  • CRM strategy implementation 
  • Pengimplementasian CRM dalam proses dan kegiatan dibutuhkan buat menyukseskan taktik CRM

STRATEGI DAN PERENCANAAN UNTUK MEMULAI USAHA

Strategi Dan Perencanaan Untuk Memulai Usaha
Dalam era perdagangan bebas seperti waktu sekarang ini, perkara daya saing serta keunggulan saing merupakan berita kunci serta sekaligus menjadi tantangan yang tidak ringan bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Salah satu ujud nyata tantangan globalisasi dalam produksi misalnya kita dituntut supaya produk Indonesia bisa bersaing terhadap produk luar yang masuk ke Indonesia. Ataupun pada pasar internasional produksi kita didefinisikan (bukan penyedia barang murah bersubsidi) tidak saja akan menciptakan murah produk yg didapatkan tetapi jua akan membangun produk Indonesia yang memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantages). 

Dalam pasar global yg semakin terbuka, masalah daya saing akan menghadapi tantangan yg tidak ringan, maka tanpa dibekali kemampuan dan keunggulan saing yg tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk produk Indonesia, nir akan bisa menembus pasar internasional. Bahkan masuknya produk impor dapat mengancam posisi pasar domestik. Dengan istilah lain, dalam pasar yg bersaing, keunggulan kompetitif (competitive advantages) merupakan faktor penentu pada mempertinggi kinerja perusahaan. Oleh karenanya, upaya menaikkan daya saing serta membentuk keunggulan kompetitif bagi produk Indonesia nir dapat ditunda-tunda lagi dan telah selayaknya menjadi perhatian aneka macam kalangan, bukan saja bagi para pelaku usaha itu sendiri tetapi juga bagi aparat birokrasi, berbagai organisasi serta anggota masyarakat yg merupakan lingkungan kerja berdasarkan aktivitas bisnis korporasi (usaha corporate).

Globalisasi ekonomi pada awal abad 21 adalah suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara pada semua dunia sebagai satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi menggunakan tanpa rintangan batas teritorial negara. Perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut: Globalisasi produksi, pada mana perusahaan berproduksi pada banyak sekali negara, dengan sasaran supaya porto produksi menjadi lebih rendah. Globalisasi pembiayaan, perusahaan dunia memiliki akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun pribadi) pada semua negara di dunia. Globalisasi tenaga kerja, maka human movement akan semakin mudah serta bebas. Globalisasi jaringan informasi, warga suatu negara dengan mudah serta cepat mendapatkan berita dari negara-negara pada global lantaran kemajuan teknologi. Globalisasi perdagangan, terwujud pada bentuk penurunan serta penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan serta persaingan sebagai semakin ketat dan fair. Bahkan, transaksi menjadi semakin cepat lantaran "less papers/documents" pada perdagangan, tetapi bisa mempergunakan jaringan teknologi telekomunikasi yg semakin canggih. 

Pada aktivitas usaha korporasi (bisnis corporate) di atas dapat dikatakan bahwa globalisasi menunjuk pada meningkatnya ketergantungan ekonomi antarnegara melalui peningkatan volume serta keragaman transaksi antarnegara (cross-border transactions) dalam bentuk barang serta jasa, aliran dana internasional (international capital flows), konvoi energi kerja (human movement) serta penyebaran teknologi keterangan yang cepat. Sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa globalisasi secara hampir pasti sudah merupakan salah satu kekuatan yang menaruh impak terhadap bangsa, warga , kehidupan insan, lingkungan kerja serta aktivitas usaha corporate pada Indonesia. Kekuatan ekonomi dunia mengakibatkan usaha korporasi, termasuk partikelir, BUMN/BUMD ataupun koperasi, perlu melakukan tinjauan ulang terhadap struktur dan taktik usaha serta melandaskan strategi manajemennya menggunakan basis entrepreneurship, cost efficiency dan competitive advantages.

Salah satu upaya menciptakan keunggulan bersaing dalam situasi pasar usaha yang sangat dinamis misalnya sekarang ini adalah melakukan pendayagunaan teknologi berita. Pendayagunaan teknologi kabar (TI) memegang peranan yang sangat penting pada mengklaim kelancaran dan optimisasi layanan ke pelanggan dan meningkatkan kinerja suatu perusahaan. Ada sejumlah faktor penting yg menghipnotis pentingnya peranan eksploitasi TI dalam suatu perusahaan, seperti meningkatnya popularitas web, pertumbuhan komputasi pervasive, serta hadirnya model bisnis baru. Akibatnya, sekarang perusahaan memiliki kesempatan lebih luas pada sisi penawaran dan layanan bagi pelanggannya. Dan, makin besarnya peluang yg dimiliki setiap perusahaan, tentu menciptakan tantangannya semakin berat. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan contoh usaha yang tepat dan solusi manajemen teknologi yang mampu mendayagunakan seluruh aset teknologi secara baik dan membantu perusahaan secara cepat dalam menjawab kebutuhan bisnis serta pasar yang terus berkembang. 

Tulisan singkat ini mencoba mengungkap eksploitasi teknologi warta buat mencapai keunggulan bisnis perusahaan.

Teknologi Informasi menjadi Aplikasi Iptek
Ilmu pengetahuan serta teknologi (Iptek), saat ini merupakan istilah kunci bagi keberhasilan pembangunan suatu bangsa juga suatu perusahaan. Perjalanan sejarah dan pengalaman beberapa negara, ternyata inovasi teknologi merupakan salah satu aspek yang memiliki daya bicu (leverage) yang sangat tinggi bagi daya saing suatu bangsa. Hal ini memberitahuakn adanya pergeseran yang besar dalam paradigma pembangunan suatu negara, yg semula hanya mengandalkan asal daya alam sebagai tumpuan pembangunan, berubah menjadi asal daya manusia dan sumber daya iptek. Beberapa negara maju bahkan telah usang mengakibatkan iptek sebagai penghela primer dalam pembangunan bangsanya. Konsep “knowledge base economy” (KBE atau ekonomi berbasis pengetahuan/EBP) adalah konsep yg mencerminkan syarat tersebut. Saat ini konsep EBP poly dikembangkan di negara-negara maju, yg pada intinya menekankan betapa sangat berperannya teknologi serta berita pada pembangunan suatu bangsa.

Pada dasarnya galat satu kunci keberhasilan suatu bangsa menerapkan penemuan teknologi dalam pembangunannya merupakan adanya dukungan sistem kelembagaan inovasi-difusi yg sudah mapan. Antar satu forum dengan lembaga lainnya saling bersinergi, sebagai akibatnya tercipta jejaring kerjasama yg saling mengisi untuk membentuk inovasi yg benar-sahih bisa mempertinggi daya saing bangsa dalam persaingan dunia.

Dalam pada itu, buat mengantisipasi persaingan antar bangsa yg semakin ketat, secara sah formal Bangsa Indonesia sudah memiliki landasan kuat buat mendayagunakan Iptek dalam kehidupan berbangsa, yakni Pasal 31 Ayat lima UUD 45 output Amandemen ke 4. Lebih jauh lagi, sejak tahun 2002 Indonesia sudah mempunyai UU No 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek (Sinasiptek).

Tujuan dari pembuatan UU tersebut merupakan buat memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara dan menaikkan daya saing dan kemandirian pada pergaulan antar bangsa. Kelembagaan dan jejaring kerja antar forum iptek merupakan aspek yang diatur dalam undang-undang tadi. 

Dalam UU no 18 tahun 2002, kelembagaan iptek terdiri atas unsur perguruan tinggi, lembaga litbang, badan bisnis, serta lembaga penunjang. Lembaga litbang menjadi keliru satu unsur kelembagaan pada Sinasiptek berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan iptek. Lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai penemuan (invention) di bidang iptek serta menggali potensi pendayagunannya. Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri, atau bagian dari organisasi pemerintah, pemerintah wilayah, perguruan tinggi, badan bisnis, lembaga penunjang, dan organisasi masyarakat. Untuk memadukan sinergisme kerja aneka macam unsur kelembagaan iptek, Undang-undang tersebut mengungkapkan mengenai jaringan Sinasiptek. Jaringan tadi berfungsi buat menciptakan jalinan hubungan interaktif yg memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek pada membentuk kinerja dan manfaat lebih akbar dibandingkan bila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. Untuk mengembangkan jaringan tadi seluruh elemen Sinasiptek harus mengusahakan kemitraan dalam hubungan yg saling mengisi, melengkapi, memperkuat, serta menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang adalah pemborosan.

Dalam suatu perusahaan galat satu tantangan yang lazim dihadapi perusahaan dalam pengelolaan teknologi merupakan kurangnya asal daya. Banyak perusahaan harus mengelola sistem TI menggunakan keterampilan, sumber daya, serta aturan yang terbatas. Terbatasnya jumlah sumber daya manusia (SDM) serta tingginya tingkat turn-over SDM membuat perusahaan kewalahan pada mengantisipasi kebutuhan pasar dengan kemajuan teknologi yg begitu dinamis. Solusi manajemen yang sempurna diharapkan tidak hanya untuk mengelola sumber daya TI, tapi juga harus memberikan fakta yang gampang dipahami dan digunakan pada lingkungan multiplatform. Dengan demikian, keterampilan sumber daya insan dapat dioptimalkan buat melakukan pemikiran analitis serta strategis yang tujuan akhirnya merupakan meningkatkan kinerja perusahaan. Sebagai model, sebuah solusi manajemen yang baik bisa menampakan titik-titik lemah dalam sebuah jaringan komputer, contohnya komputer yg berkinerja rendah. Dengan kemampuan ini, pengguna tak perlu menilik/menguji secara manual, satu-per-satu, setiap komponen jaringannya. 

E-Business dan E-Commerce Bentuk Optimisasi Layanan ke Pelanggan
Salah satu bentuk pendayagunaan teknologi liputan buat keunggulan bersaing adalah perwujudan pemanfaatan keunggulan teknologi keterangan buat pelayanan ke pelanggan. Dalam kaitannya menggunakan pelanggan, solusi manajemen TI akan mengklaim optimisasi (syarat terbaik) layanan bisnis ke pelanggan. Bentuk solusi manajemen ini harus menyediakan perangkat yang efektif serta terintegrasi untuk mengelola infrastruktur teknologi. Di samping mempunyai infrastruktur yang reliabel, solusi manajemen TI juga wajib sanggup membantu perusahaan mengimplementasikan pendekatan inovatif terhadap usaha serta memanfaatkan aset teknologi buat mempertinggi kinerja melalui pilihan aplikasi usaha strategis yang luas.

Bentuk nyata pelaksanaan teknologi warta pada usaha yg akhir-akhir ini poly ditulis dan dibahas tentang e-business baik pada media cetak maupun elektro, sebut saja Fortune, The Economist, Asian Business. Kalau beberapa waktu yang lalu Amerika dan negara-negara di Eropa demam internet, sekarang gilirannya di Asia, bahkan Indonesia. Internet telah menjadi bagian dari gaya hidup baru. Gelombang fakta yg dapat diakses dengan media ini berpengaruh besar dalam semua bidang, termasuk bidang ekonomi dan bisnis. Bahkan bidang ini masih ada kehadiran berbagai kata baru sebut saja, e-commerce, e-business, e-PR, e-marketing serta lain-lain. 

Pengertian berdasarkan beberapa kata diantaranya : Electronic Commerce (Perniagaan Elektronik), menjadi bagian berdasarkan Electronic Business (bisnis yg dilakukan menggunakan memakai electronic transmission), oleh para ahli dan pelaku usaha dicoba dirumuskan definisinya menurut terminologi E-Commerce (Perniagaan Elektronik). Secara generik e-commerce dapat didefinisikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan/perniagaan barang atau jasa (trade of goods and service) dengan menggunakan media elektro. Jelas, selain menurut yang sudah disebutkan di atas, bahwa kegiatan perniagaan tersebut merupakan bagian berdasarkan aktivitas bisnis. Kesimpulan: "e-commerce is a part of e-business". E-PR (Electronic Public Relations) atau humas melalui elektronika merupakan bagian dari E-Marketing (Pemasaran Elektronik), karena E-Marketing membawahi seluruh jenis komunikasi pemasaran online. E-PR merupakan penerapan dari perangkat ICT (Information and Communication Technologies) untuk keperluan public relations. Praktisi E-PR harus seseorang yang handal pada berselancar pada global maya serta memahami ke mana saja mereka wajib berselancar buat membangun brand. E-PR merupakan satu-satunya cara buat menciptakan merk pada global yang nir kasat yaitu dunia maya mengingat internet sudah menghadirkan global maya di samping dunia konkret.

Internet banyak disadari para perilaku bisnis sebagai salah satu tool (alat) buat menyebarkan usaha pada masa depan. Bahkan Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu daerah e-business utama di kawasan Asia buat masa mendatang. Banyak konglomerat Indonesia yang memilih buat terjun ke global e-business, misalnya Eka Tjipta, James Riady, Peter Gonta, Grup Bakrie dan terdapat yg lainnya. Nah, bagaimana menurut penuturan para ahli serta pimpinan perusahaan tentang e-business tersebut?

Para pakar mengembangkan pengalaman serta kegunaan e-business yg dibahas menurut banyak sekali segi. Berbagai situs internet yang kian hari makin semarak adalah salah satu modal buat terjun ke e-business. Sebab dengan adanya e-business orang bisa bertransaksi eksklusif menggunakan jangkauan dunia. Selain peluang pertumbuhan yg dicapai perusahaan menjadi lebih besar , perusahaan berarti melakukan lompatan jauh ke depan berbisnis tanpa batas wilayah. Di samping itu, e-business memungkinkan para perusahaan menjalin kerjasama menggunakan banyak sekali perusahaan pada semua dunia dan bisa secara pribadi dengan buyer melalui cara yang lebih cepat serta efisien serta hemat biaya .

Menurut Paulus Bambang, Direktur AGIT, terjun ke e-business merupakan konsekuensi logis syarat masa depan. Lain halnya menggunakan Dicky Iskandar Di Nata (Business.htm), Presdir Jaring Data Informasi (JDI), dia cenderung mengungkap data tentang para pengguna Internet yg tentunya akan sebagai pangsa pasar yg berkaitan dengan e-business itu sendiri. Menurutnya kini masih ada 176.000 pelanggan perorangan, 4200 perusahaan serta diperkirakan masih ada 850.000 – 1 juta pengguna Internet. Para pengguna internet pada umumnya terkonsentrasi di Jabotabek yg jumlahnya kurang lebih 50%, selebihnya pada 5 kota besar di Indonesia. Sedangkan akses Internet kebanyakan dilakukan berdasarkan tempat kerja, diperkirakan mencapai 50% dan selebihnya dilakukan berdasarkan tempat tinggal serta warnet. Lebih rinci beliau menyebutkan terdapat lebih kurang 37% pengguna internet tidak pernah melakukan transaksi, sang karena tidak memiliki kartu kredit, selebihnya karena perkara security. Ia jua menambahkan bahwa e-business pada biasanya masih dalam tahap awal development. Untuk memperoleh laba aporisma, tentunya dengan adanya Internet akan menjadi nilai tambah yang relatif berarti bagi global bisnis pada tanah air. Karena Internet adalah platform komunikasi dengan laju pertumbuhan yg paling tinggi semenjak ditemukannya telepon. Internet membangun beragam tingkat komunikasi secara elektronika antar institusi/organisasi tanpa batas. Internet merupakan “low cost delivery mechanism” buat content maupun perangkat lunak.

Hal lain yg diperkirakan akan tumbuh fertile merupakan Application Service Provider (ASP), yg merupakan komponen penting menurut “jaringan ekonomi baru” ini, yaitu menjadi fasilitator mutasi proses usaha pada pada internet (Extended Enterprise). Perkembangan Web Based Software memungkinkan distribusi serta management penggunaan aplikasi pada multiple users menurut data center melalui “wide area network”. Ada beberapa alasan kenapa ASP akan tumbuh fertile ?. Pertama, lantaran biaya investasi packaged aplikasi yg tinggi bagi skala bisnis kecil serta menengah di Indonesia. Kedua, keterbatasan Sumber Daya Manusia pada bidang TI buat implementasi dan pemeliharaan pelaksanaan serta software. Ketiga, lantaran tingginya biaya investasi buat menciptakan infrastruktur IT serta maintenance. 

Pemanfaatan lain yg juga cukup menonjol pada ASP Internet Banking, khususnya industri perbankan. Tanpa dukungan ASP internet banking sistem pembayaran dan settlement yang memadai maka e-business tidak akan berkembang bahkan lebih banyak keraguan. Apa manfaat perbankan menggunakan ASP ?. Entry ke dunia e-business bagi perbankan nasional, memperkecil biaya intermediasi, sarana marketing, pergeseran berdasarkan traditional branch banking (yang relatif mahal) ke future net banking, serta menghantarkan servis perbankan tak terbatas di mana nasabah berada.

Sementara itu, AB Susanto, Direktur JCG diantaranya mengungkapkan tujuh prinsip dalam e-business, yakni harus ada saling pengertian pada antara para customer, perusahaan harus memandang bahwa menggunakan menggunakan internet akan mendatangkan keuntungan yg lebih banyak, para pemegang jabatan di perusahaan menyukai kepastian keuntungan yg dari menurut e-business, para pemegang jabatan di perusahaan bisa memanfaatkan kesempatan yg terbuka, perusahaan serta pemegang jabatan pada perusahaan berani membangun hal-hal yg mendatangkan keuntungan, perusahaan harus mengantisipasi serta lebih proaktif supaya permanen eksis serta sigap terhadap para pesaing baru, serta tidak hanya menguntungkan programnya saja. Selain itu, diperlukan faktor pendukung pada membangun taktik e-business, yaitu menciptakan sebuah taktik team e-business yang efektif, menentukan keperluan customer, menganalisis arus serta potensial pesaing yang strategis, melakukan studi serta identifikasi terhadap nilai tambah customer, merevisi serta mengevaluasi taktik e-business setiap ketika, melakukan seleksi taktik secara optimal, serta mengimplementasikan hal-hal tersebut pada tindakan konkret. 

Untuk menciptakan perusahaan bisa memanfaatkan sepenuhnya potensi e-business dan meraih laba menurut e-business, solusi yg digunakan juga wajib menyediakan perangkat buat meningkatkan keamanan, reliabilitas, dan ketersediaan pelaksanaan e-commerce serta sistem yang mendasarinya seperti customer relationship management (CRM) dan supply chain management (SCM).

Kriteria Penerapan E-Business dalam Perusahaan
Salah satu alasan perusahaan menerapkan e-business adalah efisiensi. Kriteria penilaian efisiensi bisa berdasarkan pada analisis internal perusahaan buat melihat penerapan e-business terhadap kemampuan perusahaan meningkatkan revenue serta menurunkan porto operasional. Adapun kriteria seberapa jauh perusahaan telah menerapkan e-business dilihat menurut beberapa indikator dan sesudah diperoleh data maka perlu dilakukan evaluasi dengan melakukan pembobotan dari beberapa indikator yg terdapat. Beberapa kriteria yang ditetapkan merupakan menjadi berikut: 

1. Customer Value
Yang dimaksud customer value merupakan nilai-nilai yg diterima oleh konsumen ditinjau menurut seluruh aspek nilai-nilai perusahaan yg melekat dalam produk dan atau jasa yg diberikan pada konsumen. Pemahaman ini berdasarkan jua pada pengertian yang disebutkan oleh Phillip Kotler (1999) yg menyatakan, ‘Total customer value is the bundle of benefits customer expect from a given product or service.’ 

Nilai-nilai yang diterima konsumen adalah aneka macam benefit dalam bentuk sebagai berikut: 
a. Product Value: Konsumen memperoleh produk yang berkualitas sesuai menggunakan yang diharapkan.
b. Service Value: Konsumen memperoleh jasa yang berkualitas sinkron menggunakan yg dibutuhkan.
c. Personnel Value: Konsumen memperoleh layanan yg memuaskan berdasarkan karyawan perusahaan.
d. Image Value: Citra perusahaan yang sebagai bahan pertimbangan customer dalam menentukan suatu pembelian produk/jasa.

2. Proses Efisiensi
Melihat proses efisiensi suatu perusahaan dalam aneka macam bidang industri akan sangat bervariasi. Proses efisiensi sendiri didefinisikan menjadi kemampuan perusahaan buat mengoptimalisasi rasio input terhadap output. Pendekatan generik yg sanggup digunakan buat menilai efisiensi merupakan dengan melihat kinerja keuangan. Proses efisiensi suatu perusahaan bisa dilihat dari rasio antara sales dan total jumlah karyawan. Rasio ini setidaknya menggambarkan efisiensi secara generik pada perusahaan, meskipun belum memberikan citra secara spesifik efisiensi secara mendetail.

3. Inovasi
Inovasi dalam bidang teknologi keterangan pada perusahaan dievaluasi dari jenis serta frekuensi penerapan pandangan baru atau gagasan baru dalam proses usaha juga yang berhubungan langsung menggunakan produk atau jasa yang diberikan. Inovasi ini dipengaruhi dalam hitungan satu tahun terakhir.

4. Human Resources
Sumber daya manusia pada konteks evaluasi aplikasi e-business pada suatu perusahaan adalah asal daya insan dalam perusahaan yg dapat menunjang dan mendukung strategi perusahaan dalam menerapkan e-business. Beberapa hal yg dinilai adalah:
a. Persentase karyawan yang memiliki kemampuan menggunakan personal komputer terhadap total jumlah karyawan.
b. Banyaknya pembinaan buat menaikkan kemampuan karyawan pada bidang teknologi warta yang diberikan perusahaan dalam jangka ketika satu tahun.
c. Persyaratan minimum kemampuan/keahlian dalam bidang teknologi keterangan bagi karyawan yg akan masuk perusahaan.
5. Komitmen manajemen terhadap pengembangan teknologi informasi

Komitmen ini bisa ditinjau menurut jumlah investasi yang ditanamkan buat pengembangan e-business pada perusahaan. Komitmen manajemen pada penilaian ini diartikan sebagai besarnya perhatian manajemen perusahaan terhadap penerapan e-business perusahaan ditinjau menurut besarnya investasi dalam bidang teknologi informasi.

6. Penggunaan Internet
Tingkat penggunaan internet buat menunjang implementasi e-business pada perusahaan jua merupakan salah satu indikator aplikasi e-business. Pendekatan ini dilakukan menggunakan melihat: 
a. Perbandingan penggunaan personal address menggunakan domain perusahaan terhadap total jumlah karyawan.
b. Tersedianya situs perusahaan.
c. Tersedianya transaksi bisnis melalui internet.

Beberapa model perusahaan yang sudah sangat maju pada aplikasi teknologi warta di Indonesia dan perusahaan-perusahaan tadi termasuk unggul dalam penerapan teknologi informasi serta performance perusahaan tersebut pula relatif baik serta menjadi pemenang E-Company Award 2002 (Sumber : Warta Ekonomi, 30 Oktober 2002) :

1. Kategori Retail: PT Matahari Putra Prima Tbk. 
Perombakan struktur usaha serta manajemen dilakukan Lippo untuk memperbaiki kinerja usaha PT Matahari Putra Prima Tbk. Lewat implementasi e-commerce B2B (Business to Business), perusahaan dengan 77 department store dan 64 supermarket ini berharap bisa menuju usaha yang lebih efisien. . Untuk itu, perombakan pun dilakukan dalam hubungan peritel ini menggunakan para pemasoknya. Caranya, menggunakan menaikkan kinerja implementasi sistem e-commerce B2B (business to business) yang sudah go live dari tahun 1999 lalu. Saat ini, Matahari tercatat sudah bekerjasama secara elektronis menggunakan pemasok besarnya misalnya Martha Tilaar, Mustika Ratu, serta Nestle. Lewat sebuah gateway yg didirikan sang PT Indosatcom Adimarga, berbagai sistem berdasarkan pemasok diintegrasikan pada sebuah jaringan. Yang diatur merupakan alur fakta menurut pemasok ke Matahari dalam kaitan dengan pengadaan barang yang dibutuhkan oleh konsumen. Yang kentara, ketika ini, dengan bergabung kepada gateway Indosatcom, para pemasok Matahari sanggup memangkas biaya administrasi pengadaan barang sebesar 50%. Angka ini berasal dari berkurangnya biaya pengiriman faks, pengarsipan, dan entry data. Jelasnya, bila sebelumnya porto pengurusan per dokumen mencapai Rp5.694, maka sehabis e-commerce B2B diterapkan, ongkosnya cuma Rp2.854 per dokumen.

2. Kategori Manufacturing: PT Unilever Indonesia Tbk.
Untuk mempertahankan dominasinya pada pasar consumer goods, PT Unilever Indonesia Tbk. Mengandalkan kemampuannya melakukan penemuan. Untuk mempertinggi laba, Unilever tetapkan memanfaatkan jaringan internet dalam memperoleh pasokan bahan standar.

Hadir pada Indonesia sejak tahun 1933, penguasaan produk-produk PT Unilever Indonesia Tbk. Pada pasar consumer goods kian sulit tergoyahkan sang para kompetitornya. Bahkan cengkeraman usaha Unilever justru makin kuat dan kian menggurita. Unilever sekarang telah membentuk 400 macam produk serta hampir seluruhnya merupakan produk-produk pemimpin pasar. Sulit cita rasanya menjumpai orang yg tidak mengenal produk Unilever, mulai menurut deterjen serbuk Rinso, pasta gigi Pepsodent, sampo Sunsilk, sabun Lux, hingga margarin Blue Band.

Bahkan terakhir Unilever berupaya menggandeng Texchem Resources Berhad Malaysia buat mendirikan perusahaan patungan bernama PT Technopia Lever. Perusahaan ini nantinya akan bergerak pada bidang pengembangan serta distribusi produk kesehatan, seperti obat nyamuk bakar, pembasmi serangga, dan oil spray. Bagi kantor pusat Unilever yang berada di Belanda, anak usahanya yang berada di Indonesia ini memang terhitung menjadi penyumbang pendapatan Unilever yang besar .

3. Kategori Telecommunication: PT Telkom Seluler (Telkomsel)
Dalam rangka memberikan kepuasan Pelanggan Berbasis TI, perluasan dan inovasi yg terus-menerus dilakukan menjadi kunci keberhasilan Telkomsel buat menjadi perusahaan operator angka satu pada Indonesia. Tidak puas hanya menjadi jago sangkar di negeri sendiri, maka Tekomsel pun berambisi menjadi yang terbaik di tempat Asia.

Menjadi perusahaan operator seluler yang terbaik pada Asia merupakan salah satu misi yang diemban sang Telkomsel. Misi itu pulalah yg mengakibatkan perusahaan yang berdiri dalam 26 Mei 1995 ini makin getoll buat terus menaikkan kualitas layanan, infrastruktur, serta teknologi yg dimilikinya. Komitmen tentang hadiah layanan yang prima ini tampaknya terpancar dari para pucuk pimpinan Telkomsel yg dengan 'legowo' berjanji akan menerima masukan berupa keluhan atau usulan berdasarkan para konsumennya. 'Selain bersifat terbuka, hal lain yg nir kalah pentingnya merupakan bagaimana supaya kami mampu menerjemahkan impian serta kebutuhan pelanggan.

Demi kepuasan pelanggan pulalah maka Telkomsel tak henti-hentinya berinovasi menciptakan layanan-layanan baru. Di antaranya, customer care by online (caroline), billing and customer care system (bianca), supervision network performance (superman), serta aneka kabar tagihan (anita). Meskipun layanan yang ditawarkan kelihatannya sederhana, namun hal itu membutuhkan kemampuan dan kesiapan sistem teknologi informasi (TI) yg kuat.

4. Kategori Transportation & Distribution: PT Birotika Semesta (DHL)
Lebih 50% dari total pengiriman DHL Indonesia dilakukan menggunakan cara otomatis. Dengan bekal sebuah scanner genggam, para kurir DHL membantu pelanggan melacak bepergian kirimannya. Ini bagian paling konkret berdasarkan proses DHL memasuki ranah e-commerce.

Scanner serta bukan pistol. Itulah 'senjata genggam' paling mutakhir yg wajib dimiliki oleh ujung tombak dari perusahaan pengiriman barang misalnya PT Birotika Semesta (DHL). Di perusahaan ini, sebuah scanner yang digenggam oleh petugas/kurir DHL sebagai titik awal perjalanan sebuah paket kiriman, sekaligus membuat paket tadi berada pada jangkauan pemantauan pengirimnya. 

Setiap sorotan scanner yg dilakukan petugas/kurir DHL pada tahap demi tahap pengiriman adalah berita berharga bagi pengirimnya. Di dalam scanner itu data dihimpun dan masuk ke back end system DHL serta terus ke sistem besar (service center). Dengan keterangan inilah mereka bisa menandai lokasi paket kirimannya.

5. Kategori Finance: Bank Central Asia Tbk.
Sebuah bank yang bersandarkan diri dalam TI. Strategi BCA terus membentuk delivery channel dengan TI yang memegang peranan krusial boleh dikatakan sukses. Ia boleh dibilang berhasil permanen menjadi bank partikelir ritel terbesar pada Indonesia. 

Pada 21 Februari 1957, pada pusat perniagaan Jakarta berdirilah sebuah bank bernama Bank Central Asia NV. Dalam perjalanan sejarahnya, Bank Central Asia (BCA) yg kemudian menjadi sebuah bank publik ini terus mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Anggapan ini sanggup dikatakan tidaklah hiperbola waktu BCA berhasil membuktikannya melalui peningkatan total asetnya yang mencapai Rp53,36 triliun dalam akhir 1997. Angka ini semakin tinggi hampir 50% dari total aset pada tahun 1996. Walaupun pada tahun 1998 total aset BCA sempat turun saat insiden rush nasabah menderanya, namun hingga Juli 2002, nilai aset BCA terus membengkak sebagai Rp104,229 triliun. Saat ini selain telah berhasil membangun jaringan ATM terbesar pada Indonesia, BCA kini pula berhasil meluncurkan layanan internet banking serta mobile banking.

Keberhasilan Pemberdayaan TI serta Prospeknya
Pemberdayaan/eksploitasi teknologi adalah kebutuhan yang dimiliki serta harus dipenuhi sang seluruh perusahaan, baik perusahaan akbar maupun mini buat mempunyai daya saing yg kompetitif. Untuk perusahaan mini diperlukan solusi manajemen TI menggunakan ketentuan diantaranya: (1) memiliki kemampuan buat mengelola aplikasi, sistem, jaringan, serta internet tanpa mengganggu roda perusahaan yang sudah berjalan lancar; (dua) Ada agama (accountability) terhadap seluruh pihak yang terlibat; (3) Ada ketangguhan dalam menghadapi perubahan yang cepat. 

Untuk mendukung keberhasilan dalam pengelolaan teknologi warta harus didukung oleh empat pilar, yaitu: 
  1. Sistem manajemen memberikan solusi bagi perusahaan buat mempermudah pengorganisasian semua sumber TI yang tersebar untuk dikelola secara terpusat; 
  2. Storage manajemen adalah solusi yg memungkinkan pelanggan buat mempertinggi, mengakses, membagi, dan memproteksi aset informasinya. Pengelolaan storage menjadi penting karena keberhasilan di dalam pasar dunia nir hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi pula seberapa cepat pelanggan serta pemasok dapat memperoleh liputan. Storage manajemen menciptakan perusahaan memiliki kesiapan buat mengimplementasikan, mengelola, dan melindungi infrastruktur keterangan buat memasuki pasar dunia. Dengan revolusi web dan dinamisnya perkembangan e-business saat ini, ketersediaan berita sebagai satu mission critical bagi suatu usaha buat dapat terus bersaing serta dapat cepat menjawab kebutuhan pasar; 
  3. Sistem keamanan merupakan solusi keamanan yg sanggup memecahkan masalah keamanan yang ada berdasarkan e-business, dengan memberikan solusi pengelolaan keamanan yg terpusat; 
  4. Pervasive manajemen. Tantangan bagi CIO (Chief Information Officer) ketika ini merupakan membentuk suatu sistem yg sudah ada buat memfasilitasi pengelolaan perangkat, baik yang tradisional juga nontradisional. Pervasive manajemen merupakan suatu solusi yg dapat membangun, menaruh, serta mengelola secara cepat serta sempurna kebutuhan layanan perangkat bergerak dengan seluruh perkembangannya. 

Kondisi waktu ini serta masa-masa mendatang, para analis memprediksikan bahwa pengelolaan teknologi merupakan kunci keberhasilan pada transformasi e-business. Oleh karenanya jika sebuah perusahaan nir melakukan hal tadi akan kalah bersaing dengan para pesaingnya (kompetitornya). Untuk itu pengelolaan teknologi sudah merupakan suatu keharusan bagi setiap perusahaan buat bisa meraih keunggulan yg kompetitif. 

Semakin konvergennya perkembangan Teknologi Informasi serta Telekomunikasi dewasa ini, sudah menyebabkan semakin beragamnya pula aneka jasa-jasa (features) fasilitas telekomunikasi yang terdapat, serta semakin canggihnya produk-produk teknologi fakta yg mampu mengintegrasikan seluruh media informasi. Di tengah globalisasi komunikasi yg semakin terpadu (dunia communication network) menggunakan semakin populernya Internet seakan telah membuat dunia semakin menciut (shrinking the world) serta semakin memudarkan batas-batas negara berikut kedaulatan dan tatanan masyarakatnya. Ironisnya, dinamika masyarakat Indonesia yg masih baru tumbuh serta berkembang sebagai rakyat industri dan masyarakat Informasi, seolah masih tampak prematur buat mengiringi perkembangan teknologi tadi. Tentunya jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka kita tak akan lagi sanggup bersaing menggunakan negara-negara tetangga. 

Pemanfaatan ICT dan e-Business akan semakin berkembang pada Indonesia yg mempunyai penduduk 220 juta jiwa lebih dan hal ini adalah pasar yang sangat atraktif bagi para pengusaha. Mereka, tentunya, membutuhkan banyak sekali perangkat ICT buat mendukung kelangsungan bisnisnya pada Indonesia, misalnya telepon, faksimili maupun internet. Perangkat ini bukan hanya buat menjual serta membeli, tapi jua buat melayani pelanggan dan melakukan kerja sama dengan kawan usaha masing-masing Selain itu, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, interaksi antar penduduk yang beredar di banyak sekali pulau paling efisien dengan memanfaatkan ICT. Walau perkembangannya nir sepesat negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan serta RRCina, ICT dan e-Business di Indonesia permanen akan berkembang serta semakin mempengaruhi kehidupan personal serta usaha. Apabila dicermati menjadi pasar, tentu saja Indonesia sangat menarik. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam hal jumlah penduduk. Sementara itu, wahana serta prasarana telekomunikasi yg ada masih jauh dari memadai. Dengan jumlah di atas 200 juta jiwa, densitas telepon saluran tetap di sini hanya berkisar antara tiga-4% dari total penduduknya. Faktor lain yg pula mampu mendorong pertumbuhan itu merupakan kian banyaknya jumlah kalangan terdidik pada Indonesia. Tentu saja, semakin besarnya jumlah kalangan ini akan semakin menaikkan intensitas penggunaan ICT pada Indonesia. Karenanya, Indonesia juga tidak boleh melupakan faktor pendidikan dalam konteks ini. Ini penting bila Indonesia ingin berperan menjadi pengembang serta pembuat. Bukan hanya sebagai pengguna. Pemerintah dan kalangan swasta harus mendukung upaya edukasi pada bidang ini.