PENGERTIAN BREAK EVEN POINT MENURUT PARA AHLI

Pengertian Break Even Point Menurut Para Ahli
Banyak para ahli berpendapat tentang pengertian break even point, dimana pengertian satu menggunakan lainnya tidak selaras namun dalam prinsipnya mempunyai konsep dasar yg sama. Menurut Alwi (1994 : 265) menyatakan bahwa “Break Even Point adalah suatu keadaan dimana pada operasi perusahaan, perusahaan itu nir memperoleh keuntungan dan tidak menderita rugi (Penghasilan = Total porto).

Sedang Mulyadi (1997 : 72) menyatakan bahwa “impas merupakan suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh keuntungan serta nir menderita rugi, menggunakan istilah lain suatu usaha dikatakan impas apabila jumlah pendapatan (revenue) sama menggunakan jumlah porto, atau bila laba kontribusi hanya bisa dipakai buat menutup porto tetap saja”.

Hansen serta Mowen (1994 : 16) menyatakan “Break Even Point is where total revenues equal total costs, the point is zero profits”.

Menurut Ross, Randolph, dan Bradford (1998 : 309) menyatakan “Break even analysis is popular and commonly used tool for analyzing the relationship between sales volume and profitability”.

Tetapi analisa break even point nir hanya semata-mata buat mengetahui keadaan perusahaan yang break even saja, akan namun analisa break even mampu memberikan keterangan pada pimpinan perusahaan aneka macam taraf volume penjulan serta hubungannya menggunakan kemungkinan memperoleh keuntungan dari tingkat penjualan yang didapatkan.

Dari pengertian tadi maka bisa disimpulkan perusahaan mencapai break even point apabila dalam satu periode kerja nir memperoleh keuntungan tetapi jua nir menderita rugi, dimana laba merupakan nol. Jadi dapat dikatakan break even point merupakan interaksi antara volume penjualan, porto dan tingakat laba yang akan diperoleh pada tingkat penjualan eksklusif, sebagai akibatnya analisis Break Even Point ini sering dianggap cost, volume, profit analysis. Selain itu analisa Break Even Point berguna pula buat menentukan kebijaksanaan dalam perusahaan, baik perusahaan yg sudah maju juga perusahaan yang baru mengadakan perencanaan.

A. Unsur-Unsur Pokok Dalam Analisa Break Even Point
Analisa unsur-unsur yang mensugesti break even point yaitu biaya , volume, harga jual serta laba itu sendiri.

Pengertian biaya serta beban pada dalam bahasa Indonesia belum dibedakan dengan tepat. Seringkali istilah cost digunakan secara sinonim menggunakan istilah expense. Mulyadi (1986:4) membedakan pengertian antara cost dan expense sebagai berikut: “cost merupakan bagian berdasarkan harga perolehan tahun harga beli aktiva yg ditunda pembebannya atau belum dimanfaatkan dalam hubungannya dengan realisasi penghasilan”. Sedang expense merupakan cost yg dikorbankan pada dalam usaha memperoleh penghasilan.

Yang dimaksud menggunakan volume yg terdapat dalam analisa Break Even Point adalah jumlah unit produksi atau jumlah unit penjualan.

Harga jual per unit merupakan sejumlah uang yg diterima atau piutang yang timbul atas penyerahan barang dan jasa pada konsumen pada setiap unitnya. Harga jual bisa berupa harga jual bersih atau mampu harga jual kotor. Sedangkan yang digunakan pada analisa Break Even Point merupakan harga jual bersih yang terlepas berdasarkan berbagai macam potongan.

Laba merupakan keuntungan yg diperoleh perusahaan, dimana laba ini dari menurut penghasilan sehabis dikurangi biaya .

Alwi (1994:267) menyatakan: “Variabel-variabel yg menciptakan Break Even Point merupakan harga jual serta porto (biaya tetap serta biaya variabel)”. Kedua variabel tadi saling terkait antara satu menggunakan lainnya, perubahaan salah satu dari variabel yg dimaksud menyebabkan perubahan besarnya titik Break Even Point.

Harga Jual
Pengertian harga jual berdasarkan Kotler (1994:474) adalah sebagai berikut: “Price is what the seller feels it is worth, in terms of money to the buyer.” Di mana pengertiannya adalah harga bagi penjual adalah suatu nilai dalam uang yang ditawarkan dalam pembeli. Kesimpulan dari pengertian pada atas bahwa harga yang dibayar oleh pembeli telah termasuk pelayanan yang diberikan sang penjual, serta penjual pula menginginkan sejumlah laba dari harga tadi.

Tujuan penetapan harga dari Kotler (1994:491-493) adalah: 
(1) survival,
(2) maximum current profit, 
(tiga) maximum current revenue,
(4) maximum sales growth,
(lima) maximum market skimming,
(6) product quality leadership.

Penetapan harga jual dalam suatu produk amatlah krusial, kesalahan dalam penetapan harga akan berakibat fatal bagi segi keuangan serta akan mensugesti kontinuitas bisnis.

Ada beberapa metode yang umumnya digunakan pada memutuskan harga berdasarkan Kotler (1994:498-506), yaitu:

1. Cost Based Pricing
a. Mark up pricing (cost plus pricing) : adalah penetapan harga jual dengan menambah taraf keuntungan dalam biaya -biaya yg sudah dibebankan dalam barang.
b. Target profit pricing : adalah penetapan harga jual yg berdasarkan atas permintaan.

2. Buyer based pricing : adalah penetapan harga jual menurut nilai / citra yg dirasakan konsumen terhadap produk.

3. Competition based pricing
1. Going rate pricing : merupakan penetapan harga jual dari harga yang ditetapkan sang pesaing.
2. Sealed – bid pricing : merupakan penetapan harga jual pada situasi dimana perusahaan bersaing menggunakan cara menetapkan harga jual yang lebih rendah berdasarkan harga yg ditetapkan pesaing.

Alwi (1994:234) menyatakan bahwa harga jual suatu produk pada umumnya adalah kumpulan menurut biaya produksi, biaya penjualan serta biaya lain-lain di tambah menggunakan sejumlah keuntungan yg diinginkan penghasil yg ditawarkan kepada konsumen. Sedang masing-masing porto tadi mempunyai berbagai karakter yang tidak sinkron antara biaya yg satu menggunakan yang lain. Seperti halnya biaya permanen mempunyai karakteristik yang berbeda menggunakan porto variabel.

Biaya 
Menurut Alwi (1994:44) menyatakan biaya merupakan pengorbanan asal hemat. Sumber ekonomis yg dimaksudkan adalah suatu asal yg mempunyai adanya sifat kelangkaan (scarcity).

Klasifikasi biaya
Masing-masing porto mempunyai perbedaan antara porto yg satu menggunakan porto lainnya. Masing-masing disparitas tersebut pula tergantung berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Namun terkait menggunakan Break Even Point klasifikasi dari biaya yg dimaksudkan yaitu menurut sifatnya. Halim (1995:52) menyatakan bahwa: “Biaya dari sifatnya terdiri berdasarkan porto tetap, biaya variabel dan porto semi variabel”.

1. Biaya permanen 
Menurut Alwi (1994:110) menyatakan bahwa porto permanen adalah biaya yang dikeluarkan yang nir terpengaruh menggunakan volume produksi. Atau menggunakan kata lain, turun naiknya volume produksi tidak menghipnotis besarnya porto yang dimaksudkan. Untuk itu ciri porto tetap adalah menjadi berikut:
a. Jumlahnya tetap dalam suatu periode
b. Biaya permanen per unit berbanding terbalik dengan jumlah produksi, pada arti semakin akbar jumlah produksi maka porto tetap per unit semakin kecil demikian jua berlaku sebaliknya. 

2. Biaya Variabel
Alwi (1994:112) menyatakan biaya variabel adalah sejumlah biaya yang dimuntahkan yg besarnya tergantung volume produksi, semakin akbar volume produksi akan diikuti menggunakan melonjaknya porto tadi serta demikian pula kebalikannya. Dengan demikian ciri biaya variabel diantaranya:
a. Jumlahnya berfluktuasi menurut volume produksi
b. Biaya variabel per unit relatif permanen seiring menggunakan bertambahnya volume produksi, namun secara keseluruhan total porto variabel berbanding lurus menggunakan jumlah produksi, dimana semakin akbar total biaya variabel jumlah produksi semakin besar pula.

3. Biaya Semi Variabel
Alwi (1994:114) menyatakan bahwa porto semi variabel yaitu porto yg merupakan kombinasi antara porto permanen dan biaya variabel. Seperti halnya upah karyawan yg didalamnya termasuk upah tetap serta intensif karyawan.

B. Keterbatasan Analisa Break Even Point
Beberapa ahli mengemukakan tentang keterbatasan penggunaan analisa Break Even Point, antara lain berdasarkan Horngren yang mengemukakan menjadi berikut:
1. Expenses may be classified into variable and fixed catagories. Total variable expenses very directly with volume. Total fixed expense do not change with volume.
2. The behavior of revenues and expenses is accurately potrayed and is linear over the relevant range.
3. Efficiency and productivity will be unchanged.
4. Sales mix will be constant.

C. Perhitungan Dalam Analisa Break Even Point
Alwi (1994:269) menyatakan bahwa masih ada aneka macam cara buat menentukanbesarnya Break Even Point, diantaranya menggunakan menggunakan teknik persamaan serta pendekatan grafik.

1. Teknik Persamaan
Penentuan besarnya Break Even Point memakai teknik persamaan menggunakan memakai rumus menjadi berikut:

Keterangan:
Y = Laba
C = Harga jual per unit
x = Jumlah produk yg dijual
B = Biaya variable per unit
A = Biaya tetap

Berdasar definisi di atas suatu perusahaan akan impas bila jumlah penghasilan sama menggunakan jumlah biaya (laba = 0). Berangkat berdasarkan rumus persamaan yg sudah diungkapkan tadi dengan menggunakan pengolahan rumus yg dimaksud, maka akan diperoleh persamaan menjadi berikut:

Berdasar persamaan tadi, menggunakan melalui banyak sekali penyelesaian persamaan akan diperoleh rumus turunan sebagai berikut:
Sebagai penyelesaian dari persamaan di atas, diperoleh rumus lebih lanjut menjadi berikut: 

Keterangan:
Dengan demikian, rumus Break Even Point yang didapatkan dari aneka macam persamaan tersebut merupakan menjadi berikut:

Sedang rumus Break Even Point dalam rupiah menurut Alwi (1994:274) adalah menjadi berikut:

2. Pendekatan Grafik
Alwi (1994:276) menyatakan bahwa: “…selain dengan teknik persamaan bisa jua digunakan pendekatan secara grafik, yaitu dengan penentuan titik rendezvous antara garis penghasilan dengan garis biaya di dalam suatu grafik”. Titik rendezvous antara garis penghasilan menggunakan garis biaya tadi merupakan titik Break Even Point. Untuk bisa menentukan titik break even wajib dibuat grafik menggunakan sumbu datar menerangkan volume penjualan, sedangkan sumbu tegak menerangkan biaya serta penghasilan. 

D. Margin of safety
Alwi (1994:278) menyatakan:”Margin of safety yaitu buat menentukan seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita kerugian”. Atau dengan istilah lain Margin of paling aman menaruh berita hingga seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan tadi boleh turun agar agar perusahaan tidak menderita rugi.

Budget Sales merupakan jumlah penjualan yang telah ditargetkan.

E. Asumsi Dasar Break Even Point
Terkait dengan masalah-perkara asumsi dasar BEP, Riyanto (1991:279) mengemukakan:

Asumsi-perkiraan dasar Break Even Point adalah menjadi berikut:
  • Biaya pada perusahaan dibagi dalam golongan biaya variabel menggunakan golongan porto tetap.
  • Besarnya biaya variabel secara totalitas berubah-ubah secara proporsional menggunakan volume produksi / penjualan.
  • Berdasarkan porto permanen secara totalitas nir berubah meskipun ada perubahan volume produksi / penjualan.
  • Harga jual per unit nir berubah selama periode yg dianalisa.
  • Perusahaan hanya memproduksi satu macam produk. Jika diproduksi lebih dari satu macam produk, perimbangan penghasilan penjualan antara masing-masing produk atau “sales mix”-nya merupakan permanen konstan.
F. Kegunaan Analisa Break Even Pont
Analisa Break Even Point bisa dipakai untuk aneka macam tujuan terutama bagi perusahaan yg sedang menyusun perencanaan. Di samping itu jua dapat digunakan menjadi alat pengendalian ketika perusahaan masih dalam kegiatan sebelum berakhirnya suatu periode.

Menurut Adikoesoemah (1996:359), mengemukakan bahwa analisa Break Even Point dipakai sang perusahaan-perusahaan dengan tujuan buat:
  • Mengevaluasi tujuan laba dari perusahaan secara keseluruhan.
  • Menyajikan data biaya serta laba pada top management, yg dibutuhkan buat mengambil keputusan dan merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan.
  • Mengganti sistem laporan yang tebal-tebal menggunakan suatu grafik yg gampang dibaca serta dimengerti.
Sedangkan menurut Sigit (1996:tiga) juga menyatakan tentang berbagai kegunaan analisa BEP merupakan menjadi berikut:

Kegunaan analisa Break Even Point antara lain:
  • Sebagai alat untuk merencanakan keuntungan.
  • Sebagai alat buat perencanaan budget.
  • Sebagai penentu harga jual produk.
  • Sebagai dasar menentukan harga jual produk.
  • Sebagai dasar planning pengembangan.
  • Sebagai dasar pengambilan keputusan.
Dari beberapa uraian tadi tentang Break Even Point, maka dapat ditarik konklusi bahwa kegunaan analisa Break Even Point antara lain:
a. Analisa Break Even Point dapat dipakai menjadi indera pemberi kabar kepada management secara sederhana serta singkat.
b. Analisa Break Even Point dapat dipakai menjadi alat pedoman pada mengambil keputusan terutama yg menyangkut porto, pendapatan, dan perencanaan laba.
c. Analisa Break Even Point bisa pula menaruh gambaran mengenai porto dan hasil produknya yang diharapkan secara menyeluruh di dalam kegiatan utama perusahaan di masa mendatang.
d. Analisa Break Even Point dapat dipakai menjadi landasan buat mengendalikan kegiatan operasi yang sedang berjalan, yaitu menjadi wahana buat membandingkan antara realisasi menggunakan perhitungan dari analisa break even sebagai alat pengendalian atau controlling.
e. Analisa Break Even Point bisa dipakai menjadi bahan pertimbangan pada menentukan harga jual, yaitu sehabis diketahui output-hasil perhitungan menurut analisa break even dan laba yang ditargetkan.

PENGERTIAN BREAK EVEN POINT MENURUT PARA AHLI

Pengertian Break Even Point Menurut Para Ahli
Banyak para ahli beropini tentang pengertian break even point, dimana pengertian satu dengan lainnya tidak selaras namun dalam prinsipnya memiliki konsep dasar yang sama. Menurut Alwi (1994 : 265) menyatakan bahwa “Break Even Point adalah suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan itu nir memperoleh laba serta nir menderita rugi (Penghasilan = Total porto).

Sedang Mulyadi (1997 : 72) menyatakan bahwa “impas adalah suatu keadaan dimana suatu bisnis nir memperoleh laba dan nir menderita rugi, menggunakan istilah lain suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya , atau apabila keuntungan kontribusi hanya bisa digunakan untuk menutup porto tetap saja”.

Hansen dan Mowen (1994 : 16) menyatakan “Break Even Point is where total revenues equal total costs, the point is zero profits”.

Menurut Ross, Randolph, dan Bradford (1998 : 309) menyatakan “Break even analysis is popular and commonly used tool for analyzing the relationship between sales volume and profitability”.

Tetapi analisa break even point nir hanya semata-mata buat mengetahui keadaan perusahaan yg break even saja, akan namun analisa break even sanggup memberikan liputan dalam pimpinan perusahaan aneka macam tingkat volume penjulan serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut taraf penjualan yg didapatkan.

Dari pengertian tadi maka bisa disimpulkan perusahaan mencapai break even point bila pada satu periode kerja tidak memperoleh keuntungan namun pula nir menderita rugi, dimana laba adalah nol. Jadi bisa dikatakan break even point adalah hubungan antara volume penjualan, porto serta tingakat laba yg akan diperoleh pada tingkat penjualan eksklusif, sebagai akibatnya analisis Break Even Point ini sering disebut cost, volume, profit analysis. Selain itu analisa Break Even Point bermanfaat pula untuk memilih kebijaksanaan pada perusahaan, baik perusahaan yg telah maju maupun perusahaan yang baru mengadakan perencanaan.

A. Unsur-Unsur Pokok Dalam Analisa Break Even Point
Analisa unsur-unsur yg mensugesti break even point yaitu porto, volume, harga jual dan keuntungan itu sendiri.

Pengertian biaya dan beban pada pada bahasa Indonesia belum dibedakan menggunakan sempurna. Seringkali istilah cost digunakan secara sinonim menggunakan istilah expense. Mulyadi (1986:4) membedakan pengertian antara cost serta expense sebagai berikut: “cost merupakan bagian dari harga perolehan tahun harga beli aktiva yg ditunda pembebannya atau belum dimanfaatkan dalam hubungannya menggunakan realisasi penghasilan”. Sedang expense adalah cost yg dikorbankan di pada bisnis memperoleh penghasilan.

Yang dimaksud dengan volume yg terdapat pada analisa Break Even Point adalah jumlah unit produksi atau jumlah unit penjualan.

Harga jual per unit adalah sejumlah uang yang diterima atau piutang yang timbul atas penyerahan barang dan jasa kepada konsumen pada setiap unitnya. Harga jual bisa berupa harga jual higienis atau bisa harga jual kotor. Sedangkan yg digunakan dalam analisa Break Even Point merupakan harga jual bersih yg terlepas dari aneka macam macam rabat.

Laba merupakan keuntungan yg diperoleh perusahaan, dimana laba ini dari berdasarkan penghasilan selesainya dikurangi porto.

Alwi (1994:267) menyatakan: “Variabel-variabel yang membangun Break Even Point adalah harga jual dan porto (porto tetap dan biaya variabel)”. Kedua variabel tadi saling terkait antara satu menggunakan lainnya, perubahaan galat satu menurut variabel yg dimaksud menyebabkan perubahan besarnya titik Break Even Point.

Harga Jual
Pengertian harga jual menurut Kotler (1994:474) adalah sebagai berikut: “Price is what the seller feels it is worth, in terms of money to the buyer.” Di mana pengertiannya adalah harga bagi penjual merupakan suatu nilai dalam uang yang ditawarkan dalam pembeli. Kesimpulan menurut pengertian di atas bahwa harga yang dibayar sang pembeli sudah termasuk pelayanan yg diberikan sang penjual, serta penjual pula menginginkan sejumlah laba menurut harga tersebut.

Tujuan penetapan harga berdasarkan Kotler (1994:491-493) adalah: 
(1) survival,
(2) maximum current profit, 
(3) maximum current revenue,
(4) maximum sales growth,
(5) maximum market skimming,
(6) product quality leadership.

Penetapan harga jual dalam suatu produk amatlah krusial, kesalahan pada penetapan harga akan menjadikan fatal bagi segi keuangan dan akan mempengaruhi kontinuitas bisnis.

Ada beberapa metode yg umumnya digunakan pada memutuskan harga berdasarkan Kotler (1994:498-506), yaitu:

1. Cost Based Pricing
a. Mark up pricing (cost plus pricing) : adalah penetapan harga jual menggunakan menambah tingkat keuntungan dalam porto-porto yang telah dibebankan pada barang.
b. Target profit pricing : adalah penetapan harga jual yg berdasarkan atas permintaan.

2. Buyer based pricing : merupakan penetapan harga jual dari nilai / gambaran yang dirasakan konsumen terhadap produk.

3. Competition based pricing
1. Going rate pricing : merupakan penetapan harga jual berdasarkan harga yang ditetapkan oleh pesaing.
2. Sealed – bid pricing : merupakan penetapan harga jual pada situasi dimana perusahaan bersaing menggunakan cara tetapkan harga jual yg lebih rendah menurut harga yg ditetapkan pesaing.

Alwi (1994:234) menyatakan bahwa harga jual suatu produk pada umumnya adalah deretan dari biaya produksi, porto penjualan serta biaya lain-lain pada tambah menggunakan sejumlah keuntungan yang diinginkan pembuat yang ditawarkan kepada konsumen. Sedang masing-masing porto tersebut memiliki berbagai karakter yg tidak sinkron antara biaya yang satu dengan yg lain. Seperti halnya biaya permanen memiliki ciri yg berbeda dengan porto variabel.

Biaya 
Menurut Alwi (1994:44) menyatakan porto merupakan pengorbanan asal hemat. Sumber ekonomis yang dimaksudkan adalah suatu sumber yg mempunyai adanya sifat kelangkaan (scarcity).

Klasifikasi biaya
Masing-masing porto mempunyai perbedaan antara porto yang satu dengan porto lainnya. Masing-masing disparitas tadi juga tergantung dari sudut pandangnya masing-masing. Namun terkait dengan Break Even Point penjabaran dari biaya yg dimaksudkan yaitu menurut sifatnya. Halim (1995:52) menyatakan bahwa: “Biaya berdasarkan sifatnya terdiri menurut porto tetap, porto variabel dan porto semi variabel”.

1. Biaya tetap 
Menurut Alwi (1994:110) menyatakan bahwa biaya permanen merupakan biaya yg dikeluarkan yg tidak terpengaruh dengan volume produksi. Atau menggunakan kata lain, turun naiknya volume produksi nir mensugesti besarnya porto yang dimaksudkan. Untuk itu karakteristik porto permanen merupakan sebagai berikut:
a. Jumlahnya tetap dalam suatu periode
b. Biaya permanen per unit berbanding terbalik menggunakan jumlah produksi, dalam arti semakin besar jumlah produksi maka porto permanen per unit semakin mini demikian pula berlaku kebalikannya. 

2. Biaya Variabel
Alwi (1994:112) menyatakan porto variabel merupakan sejumlah biaya yang dimuntahkan yg besarnya tergantung volume produksi, semakin besar volume produksi akan diikuti menggunakan melonjaknya biaya tersebut serta demikian jua sebaliknya. Dengan demikian ciri porto variabel antara lain:
a. Jumlahnya berfluktuasi menurut volume produksi
b. Biaya variabel per unit nisbi tetap seiring menggunakan bertambahnya volume produksi, namun secara keseluruhan total biaya variabel berbanding lurus dengan jumlah produksi, dimana semakin akbar total porto variabel jumlah produksi semakin besar pula.

3. Biaya Semi Variabel
Alwi (1994:114) menyatakan bahwa biaya semi variabel yaitu porto yang merupakan kombinasi antara biaya tetap serta porto variabel. Seperti halnya upah karyawan yang didalamnya termasuk upah tetap dan intensif karyawan.

B. Keterbatasan Analisa Break Even Point
Beberapa pakar mengemukakan mengenai keterbatasan penggunaan analisa Break Even Point, diantaranya berdasarkan Horngren yg mengemukakan menjadi berikut:
1. Expenses may be classified into variable and fixed catagories. Total variable expenses very directly with volume. Total fixed expense do not change with volume.
2. The behavior of revenues and expenses is accurately potrayed and is linear over the relevant range.
3. Efficiency and productivity will be unchanged.
4. Sales mix will be constant.

C. Perhitungan Dalam Analisa Break Even Point
Alwi (1994:269) menyatakan bahwa terdapat berbagai cara buat menentukanbesarnya Break Even Point, diantaranya menggunakan memakai teknik persamaan serta pendekatan grafik.

1. Teknik Persamaan
Penentuan besarnya Break Even Point memakai teknik persamaan menggunakan memakai rumus menjadi berikut:

Keterangan:
Y = Laba
C = Harga jual per unit
x = Jumlah produk yang dijual
B = Biaya variable per unit
A = Biaya tetap

Berdasar definisi pada atas suatu perusahaan akan impas bila jumlah penghasilan sama dengan jumlah biaya (keuntungan = 0). Berangkat berdasarkan rumus persamaan yang sudah diungkapkan tersebut dengan menggunakan pengolahan rumus yg dimaksud, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut:

Berdasar persamaan tadi, dengan melalui banyak sekali penyelesaian persamaan akan diperoleh rumus turunan sebagai berikut:
Sebagai penyelesaian menurut persamaan pada atas, diperoleh rumus lebih lanjut sebagai berikut: 

Keterangan:
Dengan demikian, rumus Break Even Point yg dihasilkan berdasarkan berbagai persamaan tersebut merupakan menjadi berikut:

Sedang rumus Break Even Point dalam rupiah dari Alwi (1994:274) merupakan sebagai berikut:

2. Pendekatan Grafik
Alwi (1994:276) menyatakan bahwa: “…selain dengan teknik persamaan bisa jua dipakai pendekatan secara grafik, yaitu dengan penentuan titik pertemuan antara garis penghasilan menggunakan garis porto pada pada suatu grafik”. Titik pertemuan antara garis penghasilan dengan garis porto tersebut adalah titik Break Even Point. Untuk dapat memilih titik break even wajib dibuat grafik dengan sumbu datar memberitahuakn volume penjualan, sedangkan sumbu tegak memperlihatkan porto dan penghasilan. 

D. Margin of safety
Alwi (1994:278) menyatakan:”Margin of safety yaitu buat memilih seberapa jauh berkurangnya penjualan supaya perusahaan tidak menderita kerugian”. Atau menggunakan kata lain Margin of paling aman menaruh warta hingga seberapa jauh volume penjualan yg direncanakan tersebut boleh turun agar agar perusahaan nir menderita rugi.

Budget Sales adalah jumlah penjualan yg sudah ditargetkan.

E. Asumsi Dasar Break Even Point
Terkait menggunakan masalah-perkara asumsi dasar BEP, Riyanto (1991:279) mengemukakan:

Asumsi-asumsi dasar Break Even Point merupakan menjadi berikut:
  • Biaya dalam perusahaan dibagi pada golongan porto variabel menggunakan golongan porto tetap.
  • Besarnya porto variabel secara totalitas berubah-ubah secara proporsional dengan volume produksi / penjualan.
  • Berdasarkan porto permanen secara totalitas nir berubah meskipun terdapat perubahan volume produksi / penjualan.
  • Harga jual per unit tidak berubah selama periode yg dianalisa.
  • Perusahaan hanya memproduksi satu macam produk. Jika diproduksi lebih berdasarkan satu macam produk, perimbangan penghasilan penjualan antara masing-masing produk atau “sales mix”-nya adalah permanen konstan.
F. Kegunaan Analisa Break Even Pont
Analisa Break Even Point bisa dipakai untuk berbagai tujuan terutama bagi perusahaan yg sedang menyusun perencanaan. Di samping itu juga dapat digunakan menjadi indera pengendalian ketika perusahaan masih dalam kegiatan sebelum berakhirnya suatu periode.

Menurut Adikoesoemah (1996:359), mengemukakan bahwa analisa Break Even Point digunakan oleh perusahaan-perusahaan dengan tujuan buat:
  • Mengevaluasi tujuan laba berdasarkan perusahaan secara holistik.
  • Menyajikan data biaya serta laba pada top management, yg diharapkan buat mengambil keputusan serta merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan.
  • Mengganti sistem laporan yang tebal-tebal dengan suatu grafik yang mudah dibaca serta dimengerti.
Sedangkan berdasarkan Sigit (1996:tiga) juga menyatakan tentang aneka macam kegunaan analisa BEP merupakan sebagai berikut:

Kegunaan analisa Break Even Point diantaranya:
  • Sebagai alat buat merencanakan keuntungan.
  • Sebagai indera buat perencanaan budget.
  • Sebagai penentu harga jual produk.
  • Sebagai dasar memilih harga jual produk.
  • Sebagai dasar rencana pengembangan.
  • Sebagai dasar pengambilan keputusan.
Dari beberapa uraian tadi tentang Break Even Point, maka bisa ditarik konklusi bahwa kegunaan analisa Break Even Point diantaranya:
a. Analisa Break Even Point bisa dipakai sebagai alat pemberi liputan kepada management secara sederhana serta singkat.
b. Analisa Break Even Point dapat dipakai sebagai indera panduan pada mengambil keputusan terutama yang menyangkut porto, pendapatan, serta perencanaan laba.
c. Analisa Break Even Point bisa jua memberikan citra mengenai porto dan hasil produknya yang diharapkan secara menyeluruh di pada aktivitas utama perusahaan di masa mendatang.
d. Analisa Break Even Point dapat digunakan sebagai landasan buat mengendalikan kegiatan operasi yang sedang berjalan, yaitu sebagai wahana untuk membandingkan antara realisasi dengan perhitungan dari analisa break even menjadi alat pengendalian atau controlling.
e. Analisa Break Even Point dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pada menentukan harga jual, yaitu selesainya diketahui output-output perhitungan dari analisa break even serta laba yang ditargetkan.

PENGERTIAN WIRAUSAHA


Wirausaha adalahkepribadian unggul yg mencerminkan budi yang luhur serta suatu sifat yang patutditeladani, karena atas dasar kemampuannya sendiri bisa melahirkan suatusumbangsih serta karya buat kemajuan humanisme yang berlandaskan kebenaran dankebaikan. (Yuyun Wirasasmita, 1982).
Wirausaha menurutHeijrachman Ranupandoyo (1982) adalah seorang inovator atau individu yangmempunyai kemampuan naluriah buat melihat benda benda materi sedemikian rupayang kemudian terbukti benar, mempunyai semangat serta kemampuan dan pikiranuntuk menaklukan cara berpikir yg tidak berubah dan memiliki kemampuan untukbertahan terhadap oposisi sosial.
Wirausahamempunyai peranan buat mencari kombinasi – kombinasi baru yang merupakangabungan menurut proses inovasi (menemukan pasar baru, pengenalan barang baru,metode produksi baru, asal penyediaan bahan mentah baru dan oranganisasiindustri baru).
Wirausaha menurutIbnu Soedjono (1993) merupakan seorang entrepreneurialaction yaitu seorang yg inisiator, innovator, creator dan oranganisator yg penting pada suatu kegiatan usaha,yang dicirikan : (a) selalu mengamankan investasi terhadap resiko, (b) mandiri,(c) berkreasi membangun nilai tambah, (d) selalu mencari peluang, (d)berorientasi ke masa depan.
Menurut Dusselman,1989 : 16, seseorang yg mempunyai jiwa kewirausahaan ditandai oleh pola tingkahlaku sebagai berikut :
§Keinovasian (menciptakan, menemukan danmenerima inspirasi baru)
§Keberanian menghadapi resiko dalammenghadapi ketidakpastian serta pengambilan keputusan.
§Kemampuan manajerial (perencanaan,pengkoordiniran, supervisi serta pengevaluasian bisnis).
§Kepemimpinan (memotivasi, melaksanakan danmengarahkan terhadap tujuan usaha)
Para wirausahaadalah orang – orang yg berorientasi pada tindakan serta termotivasi tinggiuntuk mengambil resiko dalam mengejar tujuannya.
Berwirausahaadalah suatu gaya hayati dan prinsip – prinsip eksklusif akan mensugesti strategikarir pribadi.
Para wirausahaadalah orang – orang yg mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan – kesempatanbisnis, mengumpulkan asal – asal daya yg diperlukan guna mengambilkeuntungan darinya serta mengambil tindakan yang tepat buat memastikankesuksesan.
Falsafah Wirausaha

Anda wajib belajar banyak tentang diri sendiri, jika  anda bermaksud buat mencapai tujuan yangsesuai menggunakan apa yang paling anda inginkan dalam hayati ini. Kekuatan andadatang dari tindakan – tindakan anda sendiri dan bukan menurut tindakan oranglain. Meskipun resiko kegagalan selalu terdapat, para wirausaha merogoh resikodengan jalan menerima tanggungjawab atas tindakan mereka sendiri. Kegagalanharus diterima sebagai pengalaman belajar. Belajar berdasarkan pengalaman lampau akanmembantu anda menyalurkan aktivitas – kegiatan anda buat mencapai output – hasilyang lebih positif serta keberhasilan merupakan butir dari usa - usaha yang tidakmengenal lelah.
Kejarlah tujuan – tujuan yg herbi kemampuan kemampuan danketerampilan – keterampilan anda. Terimalah diri anda sebagaimana adanya dancobalah tekankan kekuatan – kekuatan anda serta kurangilah kelemahan – kelemahananda. Apabila anda secara Jujuy dan agresif mengejar tujuan – tujuan ini, andaakan dapat mencapai output – hasil yg positif. Berorientasi pada tujuan akan mendorongmunculnya sifat – sifat anda yang paling baik. Lakukanlah hal – hal yangpenting bagi anda serta yg bisa anda kerjakan dengan paling baik.
Kebanyakan orang nir menyadari luasnya bidang dimana mereka dapatmenentukan tindakan – tindakannya. Mencapai kesempurnaan merupakan sesuatu yangideal dalam mengejar tujuan, namun bukan adalah sasaran yg realistik bagikebanyakan wirausaha. Hasil-hasil yg dapat diterima lebih penting daripadahasil – output yang paripurna. Berusaha mencapai suatu hasil secara sempurna demisatu tujuan dalam jangka saat yang terlalu lama hanya akan menghambatperkembangan serta pertumbuhan langsung anda.



PENGERTIAN WIRASWASTA PARA AHLI

Pengertian Wiraswasta Para Ahli
Para ahli mempunyai pandangan yang tidak selaras pada mendefinisikan arti yg tidak sama mengenai wiraswasta, yaitu :

- Sifat yg dimiliki wirauswastawan yang melakoni wiraswasta
Menurut Sumahawijaya (1980), wiraswasta memuat sifat keberanian, keutamaan, keteladanan, dan semangat yg bersumber dari kekuatan sendiri, sedangkan Suhadi (1985) mengemukakan bahwa wiraswasta memuat sejumlah ciri seperti percaya pada kemampuan diri sendiri, berpandangan luas jauh ke depan, memiliki keuletan mental, lincah dalam berusaha. Sejalan menggunakan hal ini, Suryo (1986) mengatakan bahwa secara definitif wiraswastawan merupakan orang yang memiliki sifat mandiri, berpandangan jauh, kreatif, inovatif, tangguh dan berani menanggung resiko dalam pengelolaan bisnis serta kegiatan yg mendatangkan keberhasilan.

- Skill atau kemampuan yang dimiliki wiraswastawan yg melakoni wiraswasta
Menurut Suhadi (1985) mengemukakan bahwa wiraswasta mempunyai kemampuan menghadapi problem menggunakan baik, berupaya berbagi sayap, berani merogoh resiko, berguru pada pengalaman. Ahli lain yaitu Sharma (1975) menyebutkan bahwa wiraswastawan mempunyai kemampuan merogoh inisiatif pada syarat yg nir pasti menggunakan banyaknya perkara-perkara yg baru.

- Kegiatan atau kegiatan dalam berwiraswasta
Kao (1989) mendefinisikan wiraswasta menjadi usaha untuk menciptakan nilai menggunakan mengenali peluang bisnis, pengelolaan atas pengambilan resiko peluang, ketrampilan melakukan mobilisasi insan, finansial, serta sumber-sumber material yang dibutuhkan agar rencana bisa terlaksana dengan baik. Hal lain dikemukakan oleh Van der Straaten (dalam Joesoef, 1976) mendefinisikan wiraswasta sebagai aktivitas memburu laba bisnis terkandung pada aktivitas menerobos aneka macam persaingan, pasaran baru, proses produksi baru buat mengadakan, meyediakan, serta penjualan barang dan jasa.

Dari pengetian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa wiraswasta merupakan kegiatan mengenali peluang usaha, membangun nilai, pengelolaan asal-asal material yg dibutuhkan agar tujuan dapat tercapai, dengan segala sifat serta kemampuan yang biasanya dimiliki sang seseorang wiraswastawan, misalnya keberanian merogoh resiko, inisiatif, percaya diri, ulet , berdikari, dan berpandangan luas. 

Aspek-aspek Wiraswasta
Berdasarkan pengertian tentang wirausaha, maka dapat diklasifikasikan beberapa aspek wiraswasta, yaitu :
  • Keberanian mengambil resiko (Kao, 1989) 
  • Berpandangan luas (Suhadi, 1985) 
  • Keuletan (Suhadi, 1985) 
  • Inisiatif (Sharma, 1975) 
  • Kemandirian (suryo, 1986) 
Aspek-aspek tersebut disusun dengan pertimbangan bahwa masing-masing aspek tersebut memiliki daya beda satu sama lain pada mengklasifikasikan ciri wiraswasta. Definisi menurut Kao (1989), Suhadi (1985), Sharma (1975), dan Suryo (1986) mendeskripsikan aspek yg berbeda berdasarkan ciri wiraswasta. Hal ini akan menciptakan item-item buat mengetahui karakteristik individu (baik wiraswastawan juga non wiraswastawan) terhadap wiraswasta itu sendiri.

A. Instrumen Pengukuran
Alat ukur yg dipakai sang peneliti buat mengukur variable pertahanan ego subjek adalah Skala Pertahanan Ego yg dibentuk sang peneliti sendiri menggunakan mendasarkan pada teori Psikoanalitik yang dikemukakan sang Sigmund Freud. Sigmund Freud berkata bahwa seseorang dalam mempertahankan egonya memakai berbagai cara, termasuk sublimasi, suppression, reaksi proyeksi, dan proyeksi.

Skala ini mempunyai empat apek, dimana tiap aspek terdiri dari 3 item. Oleh karenanya, jumlah item adalah sebanyak 12 item.

Validitas yang digunakan adalah validitas isi atau judgement professional sang tiga orang panel. Maksudnya merupakan terdapat 3 orang panel yg mengukur baik tidaknya tiap item. Selain itu, validitas lain yang dipakai adalah validitas factorial yg menggunakan analisis factor menggunakan tehnik varimax. Hasil pengujian validitas, berdasarkan validitas isi yg menggunakan konvensi panel menerima hasil korelasi yang rendah yaitu sebesar .281 (< .lima). Dengan pengujian validitas factorial yakni analisis factor bisa diketahui bahwa item-item yg disusun sudah memenuhi atau sinkron menggunakan aspek yang dibentuk, dimana terdapat 3 item untuk 1 aspek. 

Dari anilisis factorial dihasilkan keterangan tentang sumbangan efektif tiap item pada mengukur aspek kewirausahaan, antara lain menyumbang koefisien validitas tertinggi buat tiap aspeknya yaitu 0.815 (item 7 buat factor 1), 0.846 (item tiga buat factor 2), 0.835 (item 5 buat factor 3), serta 0,790 (item 11 buat factor 4). Secara holistik, koefisien validitas tertinggi adalah 0.846. Berikut ini merupakan pengelompokkan item dari aspeknya :
  • Factor 1 : a7, a8, a9
  • Factor dua : a1, a2, a3
  • Factor 3 :a4, a5, a6
  • Factor 4 : a10, a11, a12
Maka bisa disimpulkan bahwa, skala yang disusun peneliti item memiliki validitas isi yang rendah, namun validitas factorial sudah terpenuhi karena menghasilkan 4 aspek yang masing-masing terdiri dari 3 aspek yg sinkron menggunakan blue print yang telah dibuat. 

Tehnik pengujian reliabilitas yang digunakan merupakan tehnik konsistensi internal (koefisien alpha). Analisis item dipakai untuk melihat daya diskriminasi tiap-tiap item yg dilakukan dengan menggunakan tehnik korelasi item total. Kriteria buat menggugurkan item merupakan <0 .tiga.="" span="" style="color: red;">Oleh karena itu,0>

dari Berdasarkan nilai korelasi item total mengakibatkan didapatkan 11 menurut 12 item gugur (item yg nir gugur adalah item dua). Karena hampir seluruh item gugur menggunakan hubungan item total, maka peneliti melakukan analisis item ulang buat tiap factor. Dari output analisis item tiap factor dihasilkan 0 item yang gugur. Koefisien reliabilitas alpha berkecimpung berdasarkan 0.661 -0.755. Adapun korelasi item total berkiprah dari 0.462 (item 12) s/d 0.653 (item tiga). Koefisien reliabilitas alpha sebesar 0.481 (maksudnya?). Dari besarnya koefisien ini bisa diketahui bahwa Skala Pertahanan Ego cukup baik dipandang menurut validitas dan reliabilitasnya mempunyai nilai reliabilitas yang relatif baik.

PENGERTIAN WIRASWASTA PARA AHLI

Pengertian Wiraswasta Para Ahli
Para ahli memiliki pandangan yang tidak sama dalam mendefinisikan arti yg tidak selaras tentang wiraswasta, yaitu :

- Sifat yg dimiliki wirauswastawan yg melakoni wiraswasta
Menurut Sumahawijaya (1980), wiraswasta memuat sifat keberanian, keutamaan, keteladanan, serta semangat yg bersumber dari kekuatan sendiri, sedangkan Suhadi (1985) mengemukakan bahwa wiraswasta memuat sejumlah ciri misalnya percaya pada kemampuan diri sendiri, berpandangan luas jauh ke depan, memiliki keuletan mental, lincah pada berusaha. Sejalan menggunakan hal ini, Suryo (1986) berkata bahwa secara definitif wiraswastawan adalah orang yang mempunyai sifat mandiri, berpandangan jauh, kreatif, inovatif, andal dan berani menanggung resiko pada pengelolaan usaha dan aktivitas yg mendatangkan keberhasilan.

- Skill atau kemampuan yang dimiliki wiraswastawan yg melakoni wiraswasta
Menurut Suhadi (1985) mengemukakan bahwa wiraswasta mempunyai kemampuan menghadapi dilema dengan baik, berupaya berbagi sayap, berani mengambil resiko, berguru kepada pengalaman. Ahli lain yaitu Sharma (1975) menyebutkan bahwa wiraswastawan memiliki kemampuan mengambil inisiatif pada syarat yg nir niscaya menggunakan banyaknya perkara-perkara yg baru.

- Kegiatan atau kegiatan dalam berwiraswasta
Kao (1989) mendefinisikan wiraswasta menjadi bisnis buat membentuk nilai menggunakan mengenali peluang bisnis, pengelolaan atas pengambilan resiko peluang, ketrampilan melakukan mobilisasi manusia, finansial, dan asal-asal material yg diharapkan agar rencana bisa terlaksana dengan baik. Hal lain dikemukakan sang Van der Straaten (pada Joesoef, 1976) mendefinisikan wiraswasta sebagai kegiatan memburu laba bisnis terkandung pada aktivitas menerobos banyak sekali persaingan, pasaran baru, proses produksi baru untuk mengadakan, meyediakan, dan penjualan barang serta jasa.

Dari pengetian-pengertian tersebut pada atas dapat disimpulkan bahwa wiraswasta adalah aktivitas mengenali peluang usaha, menciptakan nilai, pengelolaan sumber-sumber material yang dibutuhkan supaya tujuan dapat tercapai, menggunakan segala sifat serta kemampuan yang umumnya dimiliki sang seorang wiraswastawan, misalnya keberanian mengambil resiko, inisiatif, percaya diri, ulet , mandiri, serta berpandangan luas. 

Aspek-aspek Wiraswasta
Berdasarkan pengertian mengenai wirausaha, maka bisa diklasifikasikan beberapa aspek wiraswasta, yaitu :
  • Keberanian merogoh resiko (Kao, 1989) 
  • Berpandangan luas (Suhadi, 1985) 
  • Keuletan (Suhadi, 1985) 
  • Inisiatif (Sharma, 1975) 
  • Kemandirian (suryo, 1986) 
Aspek-aspek tersebut disusun menggunakan pertimbangan bahwa masing-masing aspek tadi memiliki daya beda satu sama lain dalam mengklasifikasikan ciri wiraswasta. Definisi dari Kao (1989), Suhadi (1985), Sharma (1975), dan Suryo (1986) mendeskripsikan aspek yang tidak selaras dari ciri wiraswasta. Hal ini akan membuat item-item buat mengetahui ciri individu (baik wiraswastawan juga non wiraswastawan) terhadap wiraswasta itu sendiri.

A. Instrumen Pengukuran
Alat ukur yg digunakan sang peneliti untuk mengukur variable pertahanan ego subjek merupakan Skala Pertahanan Ego yang dibuat sang peneliti sendiri dengan mendasarkan pada teori Psikoanalitik yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Sigmund Freud menyampaikan bahwa seorang dalam mempertahankan egonya memakai aneka macam cara, termasuk sublimasi, suppression, reaksi proyeksi, dan proyeksi.

Skala ini mempunyai empat apek, dimana tiap aspek terdiri berdasarkan 3 item. Oleh karenanya, jumlah item adalah sebanyak 12 item.

Validitas yang digunakan merupakan validitas isi atau judgement professional sang 3 orang panel. Maksudnya adalah terdapat 3 orang panel yang mengukur baik tidaknya tiap item. Selain itu, validitas lain yg dipakai adalah validitas factorial yg memakai analisis factor menggunakan tehnik varimax. Hasil pengujian validitas, berdasarkan validitas isi yg menggunakan konvensi panel mendapatkan hasil hubungan yang rendah yaitu sebanyak .281 (< .5). Dengan pengujian validitas factorial yakni analisis factor bisa diketahui bahwa item-item yg disusun sudah memenuhi atau sinkron menggunakan aspek yang dibentuk, dimana terdapat 3 item untuk 1 aspek. 

Dari anilisis factorial dihasilkan warta mengenai sumbangan efektif tiap item dalam mengukur aspek kewirausahaan, diantaranya menyumbang koefisien validitas tertinggi buat tiap aspeknya yaitu 0.815 (item 7 buat factor 1), 0.846 (item tiga untuk factor 2), 0.835 (item 5 buat factor 3), serta 0,790 (item 11 buat factor 4). Secara keseluruhan, koefisien validitas tertinggi adalah 0.846. Berikut ini adalah pengelompokkan item berdasarkan aspeknya :
  • Factor 1 : a7, a8, a9
  • Factor 2 : a1, a2, a3
  • Factor 3 :a4, a5, a6
  • Factor 4 : a10, a11, a12
Maka dapat disimpulkan bahwa, skala yang disusun peneliti item mempunyai validitas isi yg rendah, namun validitas factorial sudah terpenuhi karena membuat 4 aspek yg masing-masing terdiri berdasarkan 3 aspek yang sinkron menggunakan blue print yg sudah dibentuk. 

Tehnik pengujian reliabilitas yg dipakai adalah tehnik konsistensi internal (koefisien alpha). Analisis item digunakan buat melihat daya diskriminasi tiap-tiap item yg dilakukan dengan menggunakan tehnik korelasi item total. Kriteria buat menggugurkan item adalah <0 .3.="" span="" style="color: red;">Oleh karena itu,0>

dari Berdasarkan nilai korelasi item total menyebabkan dihasilkan 11 dari 12 item gugur (item yang nir gugur merupakan item 2). Lantaran hampir semua item gugur menggunakan korelasi item total, maka peneliti melakukan analisis item ulang buat tiap factor. Dari output analisis item tiap factor didapatkan 0 item yang gugur. Koefisien reliabilitas alpha berkiprah dari 0.661 -0.755. Adapun hubungan item total berkecimpung berdasarkan 0.462 (item 12) s/d 0.653 (item 3). Koefisien reliabilitas alpha sebesar 0.481 (maksudnya?). Dari besarnya koefisien ini dapat diketahui bahwa Skala Pertahanan Ego relatif baik ditinjau dari validitas serta reliabilitasnya mempunyai nilai reliabilitas yg relatif baik.

PENGERTIAN SIFATSIFAT WIRAUSAHA MENURUT AHLI

Pengertian, Sifat-Sifat Wirausaha Menurut Ahli
Kata Wirausaha dari Holt (1992), berasal menurut bahasa Perancis, Entrepreneur. Kata Entrepreneur dan Entrepreneurship kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai to undertake (menjalankan, melakukan, berusaha), to set about (memulai), to begin (memulai), to attempt (mencoba, berusaha). Dalam bahasa Jerman menggunakan istilah unternerhmer yg diturunkan menurut istilah kerja unternehmen yg berarti sama dengan arti entrepreneur. (Sukardi, 1991), dalam bahasa Indonesia Kata “wirausaha” adalah adonan kata wira (gagah berani,perkasa) serta bisnis. Jadi, wirausaha berarti orang yg gagah berani atau perkasa pada bisnis.

Adam Smith, yg kita kenal sebagai bapak ekonomi memiliki pandangan tersendiri. Dalam pandangannya wirausaha berarti orang yg sanggup bereaksi terhadap perubahan ekonomi, kemudian sebagai agen ekonomi yang mengganti permintaan sebagai produksi. Ahli ekonomi perancis Jean Baptise beropini bahwa wirausaha merupakan orang yang memiliki seni dan kterampilan tertentu dalam menciptakan usaha ekonomi yg baru. Sedangkan Cantilon beropini bahwa wirausaha adalah seseorang inkubator gagasan-gagasan baru yang sellau berusaha menggunakan asal daya secara optimal buat mencapai tingkat paling tinggi.

Secara komprehensif Meng & Liang, (1996), merangkum pandangan beberapa ahli, dan mendefenisikan wirausaha sebagai: (a) Seorang inovator (b) Seorang pengambil resiko atau a risk-taker (c) Orang yang memiliki misi dan visi (d) Hasil dari pengalaman masa kanak-kanak (e) Orang yang memiliki kebutuhan berprestasi tinggi. (f) Orang yg memiliki locus of control internal.

Sifat-Sifat Wirausaha
Dari aneka macam penelitian yg terdapat ditemukan sembilan belas sifat penting wirausaha yang diperoleh menurut tujuh penelitian yang pernah dilakukan. Kesembilan belas sifat itu dikelompokkan sebagai enam sifat unggul (research methodology workshop, 1977), sebagai berikut:

1. Percaya Diri
  • Yakin serta optimisme: ia harus yakin serta optimis bahwa usahanya akan maju dan berkembang buat itu Seorang wirausaha harus bisa menyusun planning keberhasilan perusahaannya.
  • Mandiri: Tidak mengandalkan dan bergantung orang lain atau keluarga.
  • Kepemimpinan, dan dinamis: Seorang wirausaha wajib mampu Bertanggung jawab terhadap segala kegiatan yg dijalankannya, baik kini maupun yang akan datang. Tanggung jawab seseorang pengusaha tidak hanya pada material, tetapi juga moral pada aneka macam pihak.
2. Originalitas, terdiri dari:
  • Kreatif: sanggup menyebarkan inspirasi-pandangan baru baru dan menemukan cara-cara baru pada memecahkan dilema.
  • Inovatif: sanggup melakukan sesuatu yang baru yang belum dilakukan banyak orang menjadi nilai tambah keungulan bersaing.
  • Inisiatif/proaktif, sanggup mengerjakan banyak hal menggunakan baik, serta mempunyai pengetahuan. Inisiatif serta selalu proaktif. Ini merupakan karakteristik fundamental dimana pengusaha nir hanya menunggu sesuatu terjadi, permanen terlebih dahulu memulai dan mencari peluang menjadi pelopor dalam banyak sekali aktivitas.
3. Berorientasi Manusia, terdiri berdasarkan:
  • Sifat senang bergaul dengan orang lain berarti anda wajib mampu mengembangkan serta memelihara hubungan baik dengan aneka macam pihak, baik yg berafiliasi langsung dengan usaha yg dijalankan juga tidak. Hubungan baik yang perlu dijalankan antara lain kepada para pelanggan, pemerintah pemasok, dan rakyat luas.
  • Komitmen, Komitnen dalam banyak sekali pihak adalah ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen buat melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban buat segera ditepati serta direalisasikan.
  • Responsive terhadap saran/kritik. Menganggap saran serta kritik merupakan dasar buat mencapai kemajuan. Saran dan kritik yang masuk di respon dengan baik buat memperbaiki pelayanan kepada pelanggan, proses bisnis dan efesiensi perusahaan.
4. Berorientasi Hasil Kerja, terdiri menurut sifat:
  • Ingin berprestasi, kemauan buat terus maju dan mengembangkan usaha. IQ serta EQ nir relatif buat memprediksi keberhasilan. Dibutuhkan AQ (Adversity quotient) yaitu tingkat ketahanan terhadap hambatanhambatan yg ditemuinya pada mencapai keberhasilan. Dalam AQ terdapat 3 tipe pendaki puncak keberhasilan, yaitu quitter, champer, serta climber. Tipe quitter merupakan mereka yg eksklusif menyerah atau tidak mau memanfaatkan peluang. Tipe champer adalah mereka yg cepat puas menggunakan apa yang telah dicapai walaupun sanggup mencapai keberhasilan yg lebih tinggi jikalau mereka mau. Tipe climber adalah orang yang terus mendaki tangga keberhasilan hingga mencapai puncak tertinggi meski menemui berbagai hambatan atau rintangan.

Ketahanan terhadap banyak sekali kendala ini terdiri dari empat komponen, yaitu reach, ownership & original,control, endurance. Reach berarti seberapa jauh kemalangan/rintangan yang ditemui itu mensugesti hal-hal lain pada kehidupan. Ownership & original merupakan persepsi orang terhadap rintangan/hambatan. Control berarti melihat kemampuan mengontrol hambatan/rintangan dalam kehidupan. Endurance berarti sejauh mana kita melihat rintangan/hambatan sebagai sesuatu yang terus terjadi atau hanya terjadi secara kebetulan, cepat berlalu serta nir akan terjadi lagi.
  • Berorientasi laba, seluruh cara dan bisnis yg dilakukan wajib mendatangkan profit, lantaran usaha nir akan sanggup bertahan dan berkembang jika nir terdapat profit.
  • Teguh, tekun, dan kerja keras, Kerja keras. Jam kerja pengusaha nir terbatas pada ketika, di mana ada peluang pada situ beliau tiba. Kadang-kadang seseorang pengusaha sulit buat mengatur ketika kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya buat bekerja keras merealisasikannya. Tidak terdapat istilah sulit serta tidak ada perkara yang nir dapat diselesaikan.
  • Penuh semangat, serta Penuh energi. Melakukan semua kegiatan dengan semangat buat keberhasilan.
5. Berorientasi masa depan: terdiri dari sifat pandangan ke depan, ketajaman persepsi.
Untuk itu anda harus Memiliki visi serta tujuan yg kentara. Hal ini berfungsi buat menebak ke mana langkah serta arah yg dituju sehingga bisa diketahui apa yang akan dilakukan oleh pengusaha tersebut Beorientasi dalam prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yg diberikan, dan kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap ketika segala kegiatan bisnis yang dijalankan selalu dievalusi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.

6. Berani ambil risiko: terdiri menurut sifat sanggup ambil risiko, suka tantangan. Berani mengambil risiko. Hal ini adalah sifat yg harus dimiliki seseorang pengusaha kapan pun serta di mana pun, baik pada bentuk uang maupun ketika.

Penelitian Mc Ber & Co pada Amerika Serikat pada bisnis mini (dalam Zimmerer & Scarborough, 1998) menemukan sembilan karakteristik wirausaha yang berhasil, yg dibagi ke pada tiga kategori, menjadi berikut:
  1. Bersifat proaktif, yaitu inisiatif yang tinggi dan asertif.
  2. Orientasi prestasi, yaitu melihat kesempatan dan bertindak langsung, orientasi efisiensi, menekankan pekerjaan dengan kualitas tinggi, perencanaan yang sistematis, monitoring.
  3. Komitmen dengan pihak lain,yaitu komitmen yang tinggi pada pekerjaan, dan menyadari pentingnya hubungan usaha yang mendasar.
Sukardi(1991) menciptakan kesimpulan tentang sembilan sifat yang ada dalam wirausaha menjadi berikut:
  1. Sifat fragmental, yaitu tanggap terhadap peluang serta kesempatan berusaha juga yang berkaitan dengan perbaikan kerja.
  2. Sifat prestatif, yaitu selalu berusaha memperbaiki prestasi, mempergunakan umpan pulang, menyenangi tantangan serta berupaya agar output kerjanya selalu lebih baik menurut sebelumnya.
  3. Sifat keleluasan berteman, yaitu selalu aktif bergaul dengan siapa saja, membina kenalan-kenalan baru dan berusaha mengikuti keadaan pada banyak sekali situasi.
  4. Sifat kerja keras, yaitu berusaha selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak gampang menyerah sebelum pekerjaan selesai. Tidak pernah memberi dirinya kesempatan buat berpangku tangan, mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan, serta memiliki energi buat terlibat terus-menerus pada kerja.
  5. Sifat keyakinan diri, adalah dalam segala kegiatannya penuh optimisme bahwa usahanya akan berhasil. Dia percaya diri bergairah eksklusif terlibat pada kegiatan nyata,jarang terlihat ragu-ragu.
  6. Sifat pengambilan risiko yang diperhitungkan, yaitu nir khawatir akan menghadapi situasi yg serba nir niscaya dimana usahanya belum tentu membuahkan keberhasilan.
  7. Sifat swa-kendali, yaitu sahih-benar memilih apa yang harus dilakukan serta bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
  8. Sifat inovatif, yaitu selalu bekerja keras mencari cara-cara baru buat memperbaiki kinerjanya. Terbuka untuk gagasan, pandangan, penemuan-penemuan baru yg bisa dimanfaatkan untuk menaikkan kinerjanya.
  9. Sifat berdikari, yaitu apa yg dilakukan merupakan tanggung jawab pribadi.

Kepribadian Wirausaha
Menurut Miner (1996), ada empat tipe kepribadian wirausaha, yaitu:
1. Personal Achiever. Ciri-karakteristik wirausaha tipe personal achiever merupakan menjadi berikut:
  • Memiliki kebutuhan berprestasi;
  • Memiliki kebutuhan akan umpan pulang;
  • Memiliki kebutuhan perencanaan serta penetapan tujuan;
  • Memiliki inisiatif eksklusif yang kuat;
  • Memiliki komitmen pribadi yg kuat buat organisasi;
  • Percaya bahwa satu orang bisa memainkan peran krusial;
  • Percaya bahwa pekerjaan seharusnya dituntun oleh tujuan eksklusif bukan sang hal lain.
2. Supersalesperson. Ciri-ciri wirausaha tipe supersalesperson merupakan menjadi berikut:
  • Memiliki kemampuan memahami dan mengerti orang lain;
  • Memiliki cita-cita buat membantu orang lain;
  • Percaya bahwa proses-proses sosial sangat krusial;
  • Kebuhan memilik interaksi positif yang kuat menggunakan orang lain;
  • Percaya bahwa bagian penjualan sangat krusial buat melaksanakan taktik perusahaan.

3. Real managers. Ciri-karakteristik wirausaha tipe real managers merupakan sebagai berikut:
  • Keinginan buat menjadi pemimpin perusahaan;
  • Ketegasan;
  • Sikap positif terhadap pemimpin;
  • Keinginan buat bersaing;
  • Keinginan berkuasa;
  • Keinginan buat menonjol di antara orang-orang lain.
4. The expert idea generator. Ciri-ciri wirausaha tipe expert idea generator merupakan sebagai berikut:
  • Keinginan buat melakukan penemuan: Keinginan buat berinovasi menyebabkan expert idea generator senang menemukan gagasan baru dan melaksanakannya. Keinginan buat berinovasi konsisten dengan bisnis sendiri untuk mencapai keberhasilan dan merasakan kepuasan eksklusif menggunakan itu.
  • Menyukai gagasan-gagasan. Suka akan gagasanmencakup banyak unsur, seperti antusiame, menampakan perhatian terhadap pendapat orang lain.
  • Percaya bahwa pengembangan produk baru sangat penting untuk menjalankan strategi serta organisasi.
  • Inteligensi yg tinggi: inteligensi meliputi kemampuan seperti evaluasi dan penalaran,serta kemampuan buat menggunakan abstraksi, konsep, serta gagasan. Juga kemampuan buat belajar, menganalisis serta menciptakan sintetis.
  • Ingin menghindari risiko. Meskipun poly orang yg menduga sifat suka ambil risiko menjadi esensi profesi wirausaha, banyak wirausaha yang sangat berhati-hati, serta baru melangkah jikalau betul-benar sudah yakin. Bagi wirausaha tipe ini, sifat ini memang krusial karena gagasan-gagasannya sanggup saja sangat baru dan aneh.
Menurut Miner (1996) tipe kepribadian wirausaha dapat memilih bidang usaha yg akan membawanya pada keberhasilan.

Berdasarkan penelitiannya, beliau menemukan bahwa seseorang wirausaha akan berhasil bila dia mengikuti achieving route tertentu sinkron tipe kepribadiannya.
  1. Personal achiever akan sukses jika monoton mengatasi rintangan serta menghadapi krisis, dan pada menghadapi segalanya berusaha sedapat mungkin bersikap positif.
  2. Supersalesperson akan berhasil kalau memanfaatkan banyak waktunya untuk menjual serta minta mengelola bisnisnya.
  3. Real managers akan berhasil kalau dia memulai usaha baru serta mengelola sendiri usaha tadi.
  4. Expert idea generation akan berhasil kalau terjun ke bisnis teknologi tinggi.

Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Keberhasilan Usaha
a. Motivasi:
Hasil penelitian yg dilakukan sang Center for Entrepreneurial Research (pada Zimmerer & Scarborough; 1998) menemukan 69% anak didik menengah atas ingin mulai menjalankan bisnis mereka sendiri. Motivasi utamanya adalah be their own bosses.

b. Usia:
Menurut National Federation of Independent Businesess, Washington, usia waktu seseorang memulai bisnis sendiri merupakan sebagai berikut (pada Zimmerer & Scarborough, 1998). Usia Kronologis bervariasi. Ronstandt (dalam Staw1991) menyatakan bahwa kebanyakan wirausaha memulai usahanya antara usia 25-30 tahun. Sementara Staw (1991), membicarakan bahwa umumnya laki-laki memulai usaha sendiri ketika berumur 30 tahun serta perempuan dalam usia 35 tahun. Hurlock (1991)beropini bahwa perkembangan karier berjalan seiring menggunakan perkembangan insan. Setiap grup insan memiliki karakteristik-karakteristik spesial apabila dikaitkan menggunakan perkembangan karier.

Ciri khas perkembangan karier dari Hurlock adalah sebagai berikut:
  1. Usia dewasa awal (18 tahun sampai 40 tahun), masa dewasa awal sangat terkait menggunakan tugas perkembangan pada hal membangun famili serta pekerjaan. Ketika seseorang masuk dalam masa dewasa awal yg mempunyai tugas utama yaitu menentukan bidang pekerjaan yang cocok pada bakat, minat dan faktor psikologis yg dimilikinya. Masih banyak orang dewasa muda yang galau dengan pilihan kariernya, situasi seperti ini sanggup juga terjadi dalam wirausaha. Hurlock (1991) menyebut masa dewasa awal itu coba-coba buat berkarier. Itulah sebabnya usia sanggup berpengaruh pada tinggi rendahnya prestasi kerja mereka.
  2. Usia dewasa madya (usia 40 tahun sampai 60 tahun), masa dewasa madya bercirikan keberhasilan dalam pekerjaan. Prestasi puncak padausia ini jua mampu berlaku bagi wirausaha.
  3. Usia dewasa akhir (usia di atas 60 tahun), dalam masa ini orang mulai mengurangi aktivitas kariernya atau berhenti sama sekali.mereka tinggal menikmati jerih payahnya selama bekerja dan mencurahkan perhatian pada kehidupan spiritual serta sosial. Pendapat Hurlock senada menggunakan pendapat Staw (1991) bahwa usia bisa terkait dengan keberhasilan. Bedanya,Hurlock menekankan dalam kemantapan karier, sedangkan Staw (1991) menekankan bertambahnya pengalaman. Menurut Staw (1991), usia mampu terkait dengan keberhasilan bila dihubungkan menggunakan lamanya seorang sebagai wirausaha. Dengan bertambahnya pengalaman saat usia seseorang bertambah maka usia memang terkait menggunakan keberhasilan.
c. Pengalaman:
Staw (1991) berpendapat bahwa pengalaman pada menjalankan usaha adalah predictor terbaik bagi keberhasilan, terutama bila bisnis baru itu berkaitan menggunakan pengalaman bisnis sebelumya. Menurut Hisrich & Brush (pada Staw, 1991) wirausaha yg mempunyai bisnis maju ketika ini bukanlah usaha pertama kali yg dimiliki. Pengalaman mengelola usaha bisa diperoleh semenjak mini karena pengasuhan yang diberikan oleh orang tua yang berprofesi sebagai wirausaha.

Menurut Staw (1991) ada bukti kuat bahwa wirausaha mempunyai orang tua yg bekerja berdikari atau berbasis menjadi wirausaha. Menurut Duchesneau et al.(dalam Staw 1991),wirausaha yang berhasil merupakan mereka yg dibesarkan oleh orang tua yang jua wirausaha, karena mereka memiliki pengalaman luas pada usaha. Haswell et al.(dalam Zimmerer & Scarborough, 1998) menyatakan bahwa alasan utama kegagalan bisnis merupakan kurangnya kemampuan manajerial serta pengalaman.wood (pada Zimmerer & Scarborough, 1998) juga menyatakan bahwa kurangnya pengalaman adalah salah satu penyebab kegagalan bisnis. Dari pendapat dan inovasi para ahli pada atas bisa disimpulkan bahwa

pengalaman pada mengelola usaha memberi dampak dalam keberhasilan usaha skala kecil. Dengan demikian, taraf keterlibatan seseorang dalam suatu aktivitas usaha bisa sebagai tolak ukur pengalaman dalam berusaha.

d. Pendidikan:
Pendidikan merupakan kondisi keberhasilan bagi seseorang wirausaha. Dalam penelitiannya terhadap sejumlah wirausaha, Bowen & Robert (pada Staw, 1991) merangkum hasil penelitian tentang taraf pendidikan wirausaha,dan hasilnya table pada bawah ini :

Tingkat Pendidikan Wirausaha Menurut Bowen & Robert
  • Brockhaus (1982) Mengulas empat penelitian yang menyimpulkan bahwa wirausaha cenderung memiliki pendidikan yang lebih baik menurut populasi umum, tetapi di bawah para manajer.
  • Cooper&Dunkelberg (1984) Ditemukan bahwa taraf pendidikan wirausaha pada bawah universitas (64%).
  • Gasse (1982) Mencatat menurut empat studi di mana wirausaha mempunyai pendidikan yang lebih baik daripada rakyat umum.
  • Jacobowitz & Vidler (1982) Hasil wawancara dengan 430 wirausaha menampakan bahwa mereka memiliki pendidikan yg kurang memadai, yaitu 30% drop-out berdasarkan SMA. Hanya 11% lulus menurut universitas 4 tahun.
Berdasarkan output rangkuman di atas ,dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan homogen-homogen wirausaha merupakan pendidikan menengah atas. Menurut penelitian Kim (pada Meng & Liang,1996)pada para wirausaha pada Singapura, bahwa wirausaha yg berhasil memiliki taraf pendidikan yg lebih baik daripada wirausaha yang kurang berhasil. Berdasarkan pendapat para pakar di atas,dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah galat satu factor yg menunjang keberhasilan usaha skala mini ,menggunakan asumsi bahwa pendidikan yg lebih baik akan memberikan pengetahuan yang lebih baik dalam mengelola bisnis.

Jika seluruh orang ditanya, apakah Anda ingin sukses? Sudah tentu jawabannya pasti semua orang ingin meraih kesuksesan. Semua orang tidak ingin hidupnya sengsara, miskin, susah, pasti ingin sukses. Sekarang yg menjadi permasalahannya adalah nir semua orang memahami arti sukses yang sebenarnya dan bagaimana cara mencapainya sebagai akibatnya sangat sedikit sekali orang yang sahih-sahih mampu menikmati sukses yang diimpikannya. Kesuksesan merupakan hak setiap orang yang mau berusaha.

Sering kali kita menyamakan antara sukses & prestasi, padalah dua kata ini mempunyai perbedaan yang sangat fundamental. Contoh, pada sebuah lomba lari maraton keluarlah kampiun menggunakan ketika tempuh tercepat, dia bisa dikatakan berprestasi, akan tetapi apa beliau sukses? Bayangkan dengan peserta yang nir memiliki kaki, dia hanya menggunakan tangannya untuk berlari walaupun beliau ikut dan pada lomba maraton ini dia tidak mencatat ketika tercepat, bahkan beliau berhasil masuk finish urutan paling belakang, namun beliau sukses, sukses sudah mengakhiri lomba maraton dengan segala daya upaya yg orang lain belum tentu menghargai ini menjadi suatu kesuksesan. Definisi sukses di sini merupakan dimana setiap orang bisa berhasil keluar berdasarkan zona nyamannya, itu adalah suatu kesuksesan. Ingat, sukses bukan tujuan namun sukses adalah sebuah bepergian.