4 DASAR POKOK KESADARAN BENAR

7. KesadaranBenar

Kesadaran Benar adalah suatu pencerahan yang ditujukan kepada diri kitasendiri dengan menyadarinya sebagai suatu proses kehidupan yg selalu tidakkekal adanya, dimana terdapat empat dasar kesadaran pokok di dalam pencerahan benar tadi, yaitu :
(1) tubuh kitakotor dan tidak murni
(dua) seluruh perasaan akan selalu mengakibatkan penderitaan
(tiga) pikiran itu tidak kekal
(4) segala sesuatu bergantung dalam yang lain serta nir mempunyai suatu intiyang abadi
Adakalanya kita berpikir bahwa tubuh kita ini sehat, kita bebas berbuat apasaja serta nir tergantung satu sama lain. Tetapi di lain waktu dalam saat tubuhkita sakit, kita akan mencela tubuh ini yg tidak bermanfaat dimana harustergantung orang lain. Kita tak jarang tidak sadar dan menyalahkan sekeliling kitayang nir benar, jarang seorang itu mau bercermin diri melihat kesalahan dankelemahan sendiri.

Tas Berisi Kotoran

Dalam suatu persamuan yangdiketuai oleh seseorang Mahabhikshu, tibalah sesi buat membicarakan segalapermasalahan yg dihadapi sang para bhikshu. Seorang bhikshu muda yg bernamaDasa, terkenal seringkali pindah-pindah vihara karena aneka macam alasan, dan kali inipundia telah siap dengan permasalahannya buat membicarakan kepada Mahabhikshutersebut, bahwa dia bermaksud pindah ke vihara lain menggunakan aneka macam alasan yangtelah dipersiapkannya.


Mahabhikshu tersebutmengetahui muridnya ini, maka permintaan tersebut dikabulkan saja. Begitubhikshu Dasa mempersiapkan diri dan mengambil tasnya siap untuk memohon ijinberangkat, maka tiba-tiba Mahabhikshu berseru, "Bhikshu Dasa selalumembawa tas yang isinya penuh menggunakan tai anjing, karenanya selalu mengeluh sekelilingnyabau tai anjing!" Bhikshu Dasa seketika itu jua sadar akan ucapanMahabhikshu tersebut serta mencapai pencerahan. Diapun membatalkan niatnya untukpindah vihara dan terus menetap pada vihara tadi. 

SEBAB AKIBAT YANG SALING BERGANTUNGAN DAN KEKOSONGAN

Pada permulaan topik ini telah digambarkan bagaimana kecambah serta nyalalampu minyak tergantung pada suatu kombinasi karena serta syarat untukkeberadaannya. Ini berarti bahwa kecambah serta nyala lampu, misalnya jua hallainnya, tidak dapat berdiri sendiri. Keberadaan hal tadi karena adanyahubungan dengan hal lain. Ini yg dinamakan relativitas atau `kekosongan'pada pengertian Buddhisme yg merupakan aspek lain tentang Sebab - Akibat.

baca juga: sebab dampak kebenaran


Suatu benda atau hal merupakan apa adanya dan tergantung dalam benda atau hallainnya. Sebagai contoh, seorang laki-laki merupakan ayah menurut anaknya serta anak dariayahnya. Demikianlah sehingga identitasnya tergantung menurut hubungan tersebutyang dinamakan relativitas. Jarak antara Jakarta dan Bandung merupakan lebih jauhdibandingkan menggunakan jarak antara Jakarta dan Bekasi, namun dibandingkan denganjarak antara Jakarta dan Semarang akan lebih dekat jadinya. Dekat serta jauhseperti ayah serta anak adalah relativitas. Hal tadi dipercaya ada serta masukakal hanya bila terjadinya interaksi menggunakan hal lainnya.
Relativitas atau ` kekosongan ' berarti bahwa nir ada suatu hal yangberdiri sendiri serta nir bisa berubah. Tidak ada seseorang yang tiba-tibamenjadi seseorang ayah. Seorang laki-laki menjadi ayah karena hubungannya terhadapanaknya. ` Kekosongan ' bukan berarti nir ada berapa. Sebaliknya ` kekosongan' bisa berarti keterbukaan dan kepastian yang nir terbatas. Setiap anaklelaki bisa sebagai seorang ayah, jika terjadi kombinasi yg sahih darisebab serta syarat. Demikian pula setiap orang bisa mencapai pencerahan, jikadia melaksanakan Delapan Ruas Jalan Kemuliaan, yaitu : (1). Tingkah-laris Baik(Perkataan benar, Perbuatan benar, Mata Pencaharian benar), (dua). PerkembanganMental (Usaha benar, Kesadaran benar, Konsentrasi benar) serta Kebijaksanaan,(3). (Pandangan benar, Pikiran sahih).
Kebenaran utama tentang Hukum Sebab-Akibat merupakan inti ajaran SangBuddha. Dengan memahami Hukum Sebab-Akibat, Sang Buddha mencapai Pencerahan.beliau bersabda, "Kebenaran yang sebenarnya merupakan Hukum Sebab Akibat. Tanpa menyadari kebenaranpokok tersebut, maka orang akan menjadi rumit misalnya sebuah bola benang, tidakmampu buat menghentikan penderitaan dan kelahiran balik ."

Uraian tentang konsep kekosongan ini bisa ditemui pada naskah Sanskertasebagaimana tercatat pada Prajnaparamita Hrdaya Sutera (Sin-Cing), Avalokitesvara Bodhisattvamengungkapkan pengertian Kekosongan tersebut secara sempurna kepada Y.A.sariputra, "Dalamhal ini, O , Sariputra, wujud (rupa) merupakan kekosongan (sunyata), dankekosongan itu sendiri merupakan wujud; kekosongan tidak tidak selaras berdasarkan wujud, danwujud juga nir tidak sama dari kekosongan; apapun yang adalah wujud, ituadalah kekosongan, apapun yg merupakan kekosongan itu merupakan wujud. Begitupun halnya menggunakan vedana (perasaan), samjna (pencerapan/persepsi), samskara(dorongan pikiran/bentuk-bentuk mental), serta vijnana (kesadaran). Demikianlah,O, Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak kekosongan (sunyata); mereka takmuncul, juga tak berakhir; tidak kotor, pula tidak murni bersih; tidak kurang,tidak lengkap atau bertambah."
Sedangkan pada naskah Pali masih ada sabda berikut: "Beginilah, menggunakan cara yg sama, O parasiswa, seseorang bhikkhu wajib memandang seluruh rupa (bentuk jasmani), vedana(perasaan), sanna (pencerapan/persepsi), sankhara (doronganpikiran/bentuk-bentuk mental), dan vinnana (kesadaran), tidak peduli dari jamanlampau, dari jaman kini atau pun menurut jaman yang akan tiba, jauh ataudekat. Dan ia mengamat-amatinya serta menelitinya secara cermat, serta setelahditeliti menggunakan cermat, semua itu tertampak kepadanya sebagai sesuatu yangkosong , hampa dan tanpa diri." (Samyutta Nikaya XXI : lima-6).
Lihat juga: bekerjanya karma
lokasi foto: Arca Wairocana di kuil Tōdai-ji pada Nara, Jepang

SANG BUDDHA DELAPAN RUAS JALAN KEMULIAAN

SangBuddha bersabda : " Di antarasemua jalan, maka ` Delapan Ruas Jalan Kemuliaan ' adalah yang terbaik. Diantara seluruh kesunyataan, maka ` Empat Kesunyataan Mulia ' merupakan yang terbaik.di antara seluruh keadaan, maka keadaan tanpa nafsu merupakan yang terbaik; serta diantara semua makhluk hidup, maka orang yg `melihat' merupakan yangterbaik." (Dhammapada, 273).
Seperti seseorang dokter yang berpengalaman, Sang Buddhamengenali dulu penyakit penderitaan tadi. Beliau kemudianmengidentifikasikan penyebabnya serta menentukan penyembuhannya. Untuk kemudianguna kepentingan umat manusia, Beliau meracik penemuannya tadi dalam suaturumusan yg sistimatis, dimana dapat menggunakan mudah diikuti sang umat manusiaguna melenyapkan penderitaan . Rumusan tadi mencakup pengobatan fisik danmental, dimana galat satunya dianggap Delapan Ruas Jalan Kemuliaan.
Delapan Ruas Jalan Kemuliaan yang ditemukan oleh SangBuddha merupakan galat satu jalan buat melenyapkan penderitaan serta menujuNirvana. Jalan ini menghindari penyiksaan diri yg berlebihan yang mana dapatmelemahkan intelektual seorang serta pemanjaan diri hiperbola yg dapatmenghambat kemajuan spiritual seorang. Delapan Ruas Jalan Kemuliaan tersebutterdiri menurut Pandangan Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar,Mata Pencaharian Benar, Usaha Benar, Kesadaran Benar serta Konsentrasi Benar.
lihat selengkapnya: kesadaran bernar


ZEN STORY AJARANAJARAN POKOK SANG BUDDHA DHARMA

Secara generik ajaran Buddha Gautama dapat diringkas menjadi berikut :
A. Tri-Ratna : Buddha, Dharma serta Sangha
Ini adalah pokok ajaran Buddha Gautama, dimana umatBuddha menyatakan perlindungan terhadap Buddha, Dharma dan Sangha (dalamBuddhisme Vajrayana/Tantrayana dibubuhi pernyataaan proteksi terhadapGuru spiritual yang membimbingnya pada Dharma ).
B. Empat Kebenaran Mulia

[Catvari Arya Satyani/ Ariya Sacca], terdiri dari :
·KebenaranMulia tentang Adanya Penderitaan [DukkhaArya Satyani/ Dukkha Ariya Sacca].
·KebenaranMulia tentang Penyebab Penderitaan [DukkhaSamudya Arya Satyani/Dukka Samudaya Ariya Sacca].
·KebenaranMulia tentang Pelenyapan Penderitaan [DukkhaNirodha Arya Satyani/ Dukkha Nirodha Ariya Sacca].
·KebenaranMulia mengenai Jalan menuju Pelenyapan Penderitaan [Dukkha Nirodha Gamini

·Patipada Arya Satyani/ Dukkha Nirodha Gamini PatipadaAriya Sacca], yang mana
·mencakup
 Delapan Ruas Jalan Kemuliaan  [HastaArya Marga], yaitu :
1. Pandangan Benar [Samyag-drsti/Samma-ditthi].
2. Pikiran Benar[Samyag-samkalpa/ Samma-samkappa].
3. Ucapan Benar [Samyag-vag/Samma-vaca].
4. Perbuatan Benar [Samyag-karmanta/Samma-kammanta].
5. Mata Pencaharian Benar [Samyag-ajiva/ Samma-ajiva].
6. Usaha Benar [Samyag-vyayama/Samma- vayama].
7. Kesadaran Benar [Samyag-smrti/Samma-sati].
8. Konsentrasi Benar [Samyag-samadhi/Samma-samadhi].
bacaan seru >> Tao te Ching
C. Tiga Tanda Keberadaan AlamSemesta
 [Trilaksana/Tilakhana] , terdiri dari :
1. Ketidak-kekalan [Anitya/ Anicca].
2. Penderitaan [Dukkha].
3. Ketanpa-intian/Ketanpa-aku -an [Anatma / Anatta].
Hukum Sebab Akibat

[Pratityasamudpada / PatticcaSamuppada] : Hukum tentang sebabakibat yg saling berkaita (HUKUMKARMA) DAN Tiga Keranjang Sutra [Tripitaka/Tipitaka].



MATA PENCAHARIAN BENAR MICCHAVANIJJA/MITHAYAVANIJYA

5. Mata Pencaharian Benar
Mata Pencaharian Benar berkaitan dengan adanya 5 jenisperdagangan yang harus dihindarkan [micchavanijja/mithayavanijya]karena bisa merugikan diri sendiri serta orang lain, yaitu:
(1) berdagang senjata yang mematikan [sattha-vanijja/sastra-vanijya]
(2) berdagang makhluk hidup [satta-vanijja/sattva-vanijya]
(3) berdagang daging [mamsa-vanijja/mamsavanijya]
(4) berdagang minuman memabukkan [majja-vanijja/madya-vanijya]
(5) berdagang racun [visa-vanijja/visavanijya]

Sering kita membaca pada koran tentang banyak sekali tindakpeperangan yg menyebabkan musnahnya penduduk suatu kota hanya karenapenggunaan senjata yg mematikan. Perdagangan makhuk hayati termasuk manusiatelah menyebabkan banyak sekali penderitaan, belum lagi banyak sekali penyakit yg mudahmenyerang fauna peliharaan misalnya masalah sapi gila di Eropa, perkara virus burungdi Hong Kong, dan masalah flu babi di Malaysia, dimana semuanya itu menimbulkankerugian yang relatif besar hanya untuk mencegah bertambahnya korban insan,dengan jalan mematikan secara masal hewan peliharaan tadi, mulai dari pemberiangas beracun, dipukul, dikubur hayati-hidup, dibakar hayati-hayati serta berbagaipembasmian kejam lainnya. Kasus-perkara tadi jua mengakibatkan poly pedagangdaging terpaksa rol tikar karena nir terdapatnya pasokan daging, danberkurangnya niat pembeli yang takut terjangkit virus fauna peliharaantersebut.

Berbagai kejahatan sudah acapkali kita dengar yangditimbulkan oleh lantaran seseorang itu sedang mabuk minuman keras ataupun habismenegak pil, ganja, morfin yg menciptakan kesadaran seseorang itu sebagai rendahseperti binatang. Demikian jua aneka macam masalah bunuh diri dengan meminum racunataupun kasus kematian korban yg diracuni tak jarang juga terpampang dalamberbagai koran harian .

PENGERTIAN TEORI EKSISTENSIAL HUMANISTIK

Pengertian, Teori Eksistensial Humanistik
1. Konsep Dasar Tentang Manusia
Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus dalam diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yg menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksisteneial-Humanistik pada konseling memakai sistem tehnik-tehnik yg bertujuan buat mensugesti konseli. Pendekatan konseling eksistensial-humanistik bukan merupakan konseling tunggal, melainkan suatu pendekatan yg mencakup konseling-konseling yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-perkiraan mengenai insan. Konsep-konsep primer pendekatan eksistensial yg menciptakan landasan bagi praktek konseling, yaitu:

a. Kesadaran Diri
Manusia mempunyai kesanggupan buat menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik serta konkret yg memungkinkan insan bisa berpikir serta memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar juga kebebasan yang terdapat dalam orang itu. Kesadaran buat menentukan cara lain -cara lain yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya merupakan suatu aspek yang esensial dalam manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan insan bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya. 

b. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab mampu mengakibatkan kecemasan yang sebagai atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yg tak terhindarkan untuk tewas (nonbeing). Kesadaran atas kematian mempunyai arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tadi menghadapkan individu pada fenomena bahwa beliau mempunyai saat yang terbatas buat mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang jua merupakan bagian kondisi insan. Adalah dampak dari kegagalan individu buat benar-benar menjadi sesuatu sinkron dengan kemampuannya.

c. Penciptaan Makna
Manusia itu unik dalam arti bahwa beliau berusaha buat memilih tujuan hayati dan membangun nilai-nilai yg akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia pula berarti menghadapi kesendirian (insan lahir sendirian dan mati sendirian juga). Walaupun pada hakikatnya sendirian, insan memiliki kebutuhan buat berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, karena manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan pada membentuk interaksi yg bermakna mampu menimbulkan syarat-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, kerasingan, serta kesepian. Manusia jua berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap eksklusif, jika tidak sanggup mengaktualkan diri, beliau bisa menajdi “sakit”.

2. Proses Konseling
Ada 3 tahap proses konseling yaitu
  1. Konselor membantu konseli pada mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka mengenai global. Konseli diajak buat mendefinisikan serta menayakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan keberadaan mereka sanggup diterima. Mereka meneliti nilai mereka, keyakinan, serta perkiraan buat memilih kesalahannya. Bagi banyak konseli hal ini bukan pekerjaan yang gampang, sang karenanya awalnya mereka memaparkan problema mereka. Konselor disini mengajarkan mereka bagaimana caranya buat bercermin pada eksistensi mereka sendiri.
  2. Konseli didorong semangatnya buat lebih dalam lagi meneliti asal dan otoritas dari sistem nilai mereka. Proses eksplorasi diri ini umumnya membawa konseli ke pemahaman baru serta berapa restrukturisasi menurut nilai serta perilaku mereka. Konseli menerima cita rasa yg lebih baik akan jenis kehidupan macam apa yg mereka anggap pantas. Mereka membuatkan gagasan yang jelas tentang proses anugerah nilai internal mereka.
  3. Konseling eksistensial serius pada menolong konseli buat sanggup melaksanakan apa yg sudah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran konseling adalah memungkinkan konseli untuk bisa mencari cara pengaplikasikan nilai hasil penelitian dan internalisasi menggunakan jalan kongkrit. Biasanya konseli menemukan jalan mereka buat menggunakan kekuatan itu demi menjalani konsistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.
3. Penerapan langkah / Teknik pada konseling
Teori eksis­tensial-hunianistik nir memiliki teknik-teknik yg ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling sanggup dipungut berdasarkan beberapa teori konseling lainnya. Metode-metode yg asal menurut teori Gestalt serta Analisis Transaksional sering dipakai, dan sejumlah prinsip serta mekanisme psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam teori eksistensial-humanistik. Buku The Search for "Authenticity (1965) menurut Bugental merupakan sebuah karya lengkap yg mengemukakan konsep-konsep dan mekanisme-prosedur psiko­konseling eksistensial yg berlandaskan model psikoanalitik. Bu­gental memperlihatkan bahwa konsep inti psikoanalisis mengenai resistensi serta transferensi sanggup diterapkan dalam filsafat dan praktek konseling eksistensial. Ia memakai kerangka psikoanalitik buat menampakan fase kerja konseling yang berlandaskan konsep-konsep eksistensial seperti pencerahan, emansipasi dan kebebasan, kece­masan eksistensial, dan neurosis eksistensial. 

Rollo May (1953,1958,1961), seorang psikoanalisis Amerika yang diakui luas atas pengembangan psikokonseling eksistensial pada Amerika, jua sudah mengintegrasikan metodologi serta konsep-konsep psikoanalisis ke pada psikokonseling eksistensial. 

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial yg menempati kedudukan sentral dalam konseling adalah: Seberapa akbar aku menyadari siapa aku ini? Bisa sebagai apa saya ini? Bagaimana saya mampu memilih menciptakan balik bukti diri diri aku yg kini ? Seberapa akbar kesanggupan aku buat mendapat kebebasan menentukan jalan hayati saya sendiri? Bagaimana saya mengatasi kecemasan yang ditimbulkan sang pencerahan atas pilihan-pilihan? Sejauh mana aku hayati menurut pada sentra diri saya sendiri? Apa yg aku lakukan buat menemukan makna hidup ini? Apa saya menjalani hayati, ataukah saya hanya puas atas eksistensi saya? Apa yg aku lakukan buat membentuk identitas langsung yang aku inginkan? Pada pembahasan pada bawah ini diungkap dalil-dalil yang mendasari praktek konseling eksistensial-humanistik. Dalil-dalil ini, yang dikembangkan dari suatu survai atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial, dari dari Frankl (1959,1963), May (1953, 1958, 1961), Maslow (1968), Jourard (1971), serta Bugental (1965), merepresentasikan sejumlah tema yg krusial yg merinci praktek-praktek konseling. 

a. Tema-Tema Dan Dalil-Dalil Utama Eksistensial dan Penerapan-Penerapan Pada Praktek Konseling

Dalil 1 : Kesadaran diri 
Manusia memiliki kesanggupan buat menyadari diri yang berakibat dirinya mampu melampaui situasi sekarang dan membangun basis bagi aktivitas-kegiatan berpikir dan menentukan yang spesial insan. 

Kesadaran diri itu membedakan insan dari makhluk-makhluk lain. Manusia sanggup tampil pada luar diri serta berefleksi atas keberadaannya. Pada hakikatnya, meningkat kesadaran diri seorang, maka ia semakin hidup sebagai pribadi atau sebagaimana dinyatakan sang Kierkegaard, "Semakin tinggi pencerahan, maka semakin utuh diri seorang." Tanggung jawab berlandaskan kesanggupan untuk sadar. Dengan kesadaran, seseorang bisa sebagai sadar atas tanggung jawabnya buat menentukan. Sebagaimana dinyatakan oleh May (1953), "Manusia merupakan makhluk yang sanggup menyadari serta, sang karena itu, bertanggung jawab atas keberadaannya”.

Kesadaran sanggup dikonseptualkan dengan cara sebagai berikut: Umpamakan Anda berjalan di lorong yg pada ke 2 sisinya masih ada banyak pintu, Bayangkan bahwa Anda sanggup membuka beberapa pintu, baik membuka sedikit ataupun membuka lebar-lebar. Barangkali, jika Anda membuka satu pintu, Anda nir akan menyukai apa yang Anda temukan di dalamnya menyeramkan atau menjijikkan. Di lain pihak, Anda bisa menemukan sebuah ruangan yg dipenuhi sang keindahan. Anda mungkin berdebat dengan diri sendiri, apakah akan membiarkan pintu itu tertutup atau terbuka. 

Apabila seseorang konselor dihadapkan dalam konseli yang pencerahan dirinya kurang maka konselor harus menerangkan kepada konseli bahwa harus ada pengorbanan buat menaikkan pencerahan diri. Dengan menjadi lebih sadar, konseli akan lebih sulit buat “ pulang ke rumah lagi “, menjadi orang yg seperti dulu lagi.

Dalil 2 : Kebebasan serta tanggung jawab 
Manusia adalah makhluk yang memilih diri, pada arti bahwa dia mempunyai kebebasan buat menentukan pada antara altematif-altematif. Karena manusia dalam dasamya bebas, maka beliau wajib ber­tanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri. 

Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan, serta putusan pad a pusat ke beradaan insan. Apabila pencerahan serta kebebasan dihapus menurut manusia, maka beliau tidak lagi hadir sebagai manusia, sebab kesanggupan-k esanggupan itulah yg memberinya humanisme. Pandangan eksistensial merupakan bahwa individu, menggunakan putusan-putusannya, membangun nasib serta mengukir keberadaannya sendiri. Seseorang menjadi apa yang diputuskannya, serta beliau wajib bertanggung jawab atas jalan hid.up yang ditempuhnya. Tillich mengingatkan, "Manusia sahih-benar menjadi manusia hanya waktu merogoh putusan. Sartre berkata, "Kita adalah pilihan kita." Nietzsche men­jabarkan kebebasan sebagai "kesanggupan buat menjadi apa yang memang kita alami". Ungkapan Kierkegaard, "memilih diri sen­diri", menyiratkan bahwa seorang bertanggung jawab atas ke­hidupan serta keberadaannya. Sedangkan Jaspers mengungkapkan bahwa "kita adalah makhluk yang memutuskan". 

Tugas konselor adalah mendorong konseli buat belajar menanggung risiko terhadap dampak penggunaan kebebasannya. Yang jangan dilakukan adalah melumpuhkan konseli dan membuatnya bergantung secara neurotik dalam konselor. Konselor perlu mengajari konseli bahwa beliau mampu mulai membuat pilihan meskipun konseli boleh jadi sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya buat melarikan diri berdasarkan kebebasan menentukan. 

Dalil tiga: Keterpusatan serta kebutuhan akan orang lain 
Setiap individu memiliki kebutuhan buat memelihara keunikan tetapi dalam waktu yg sama dia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri serta buat berhu­bungan menggunakan orang lain serta menggunakan alam. Kegagalan pada berhubungan dengan orang lain serta dengan alam mengakibatkan dia kesepian dan mengalamin keterasingan. 

Kita masing-masing memiliki kebutuhan yang bertenaga untuk menemukan suatu diri, yakni menemukan bukti diri eksklusif kita. Akan namun, penemuan siapa kita sesungguhnya bukanlah suatu proses yg otomatis; beliau membutuhkan keberanian. Secara para­doksal kita juga mempunyai kebutuhan yang kuat buat keluar menurut eksistensi kita. Kita membutuhkan interaksi menggunakan keberada­an-eksistensi yang lain. Kita harus menaruh diri kita pada orang lain dan terlibat dengan mereka. 

Usaha menemukan inti dan belajar bagaimana hayati dari pada memerlukan keberanian. Kita berjuang buat menemukan, buat menciptakan, dan buat memelihara inti menurut terdapat kita. Salah satu ketakutan terbesar dari para konseli adalah bahwa mereka akan tidak menemukan diri mereka. Mereka hanya menganggap bahwa mereka bukan siapa-siapa.

Para konselor eksistensial sanggup memulai dengan meminta kepada para konselinya buat mengakui perasaannya sendiri. Sekali konseli menerangkan keberanian untuk mengakui ketakutannya, membicarakan ketakutan menggunakan istilah-istilah serta membaginya, maka ketakutan itu tidak akan begitu menyelubunginya lagi. Untuk mulai bekerja bagi konselor merupakan mengajak konseli untuk menerima cara-cara dia hayati di luar dirinya sendiri dan mengeksplorasi cara-cara buat keluar menurut pusatnya sendiri. 

Dalil 4 : Pencarian makna 
Salah satu ciri yg spesial dalam manusia merupakan per­juangannya buat mencicipi arti dan maksud hidup. Manusia pada dasarnya selalu pada pencarian makna serta identitas eksklusif. 

Biasanya konflik-konflik yg mendasari sehingga membawa orang-orang ke pada konseling merupakan problem-duduk perkara yg berkisar dalam pertanyaan-pertanyaan eksistensial: Mengapa aku berada? Apa yang saya inginkan berdasarkan hidup? Apa maksud dan makna hidup saya? 

Konseling eksistensial mampu menyediakan kerangka konseptual buat membantu konseli pada usahanya mencari makna hidup. Pertanyaan-pertanyaan yg mampu diajukan sang konselor pada konseli adalah: 'Apakah Anda menyukai arah hayati Anda? Apa­kah Anda puas atas apa Anda kini dan akan sebagai apa Anda nanti? Apakah Anda aktif melakukan sesuatu yang akan men­dekatkan Anda pada ideal-diri Anda? Apakah Anda mengetahui apa yg Anda inginkan? Apabila Anda bingung mengenai siapa Anda dan apa yang Anda inginkan, apa yg Anda lakukan buat mem­peroleh kejelasan? 

Salah satu perkara dalam konseling adalah penyisihan nilai-nilai tradisional (dan nilai-nilai yang dialihkan kepada seorang) tanpa disertai penemuan nilai-nilai lain yg sesuai buat menggantikannya. Tugas konselor dalam proses konseling merupakan membantu konseli pada membangun suatu sistem nilai berlandaskan cara hayati yang konsisten dengan cara ada-nya konseli. 

Konselor wajib memberikan agama terhadap kesanggupan konseli pada menemukan sistem nilai yg bersumber pada dirinya sendiri dan yg memungkinkan hidupnya bermakna. Konseli tidak diragukan lagi akan bingung dan mengalami kecemasan menjadi akibat tidak adanya ni1ai-nilai yg kentara. Kepercayaan konselor terhadap konseli adalah variabel yg krusial pada mengajari konseli supaya mempercayai kesanggupannya sendiri dalam menemukan sumber nilai-nilai baru dari pada dirinya.

Dalil 5 : Kecemasan sebagai kondisi hidup
Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yg patologis, karena beliau sanggup sebagai suatu tenaga motivasi yang kuat buat pertumbuhan. Kecemasan adalah dampak berdasarkan kesadaran atas tanggung jawab buat menentukan.

Kebanyakan orang mencari donasi profesional lantaran mereka mengalami kecemasan atau depresi. Banyak konseli yg memasuki tempat kerja konselor disertai asa bahwa konselor akan mencabut penderitaan mereka atau setidaknya akan memberikan formula eksklusif buat mengurangi kecemasan mereka. Konselor yang berorientasi eksistensial, bagaimanapun, bekerja tidak semata-mata buat menghilangkan tanda-tanda-gejala atau mengurangi kecemasan. Sebenamya, konselor eksistensial nir memandang kecemasan menjadi hal yg tidak dibutuhkan. Ia akan bekerja dengan cara eksklusif sehingga untuk ad interim konseli sanggup mengalami peningkatan tingkat kecemasan. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan merupakan: Bagaimana konseli mengatasi kecemasan? Apakah kecemasan adalah fungsi menurut pertumbuhan ataukah fungsi kebergantungan dalam tingkah laku neurotik? Apakah konseli menampakan keberanian untuk membiarkan dirinya menghadapi kecemasan atas hal-hal yg tidak dikenalnya? 

Kecemasan adalah bahan bagi konseling yang produktif, baik konseling individual maupun konseling gerombolan . Apabila konseli nir mengalami kecemasan, maka motivasinya buat berubah akan rendah. Kecemasan dapat ditransformasikan ke dalam energi yang diharapkan buat bertahan menghadapi risiko bereksperimen menggunakan tingkah laku baru. 

Dalil 6: Kesadarau atas kematian dan non-terdapat 
Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia yang mendasar, yang menaruh makna kepada hayati. Frankl (1965) sejalan menggunakan May menyebutkan bahwa kematian menaruh makna kepada eksistensi manusia. Jika kita nir akan pernah mangkat , maka kita mampu menahan tindakan buat selamanya. Akan tetapi, karena kita terbatas, apa yang kita lakukan kini memiliki arti spesifik. Bagi Frankl, yg menentukan kebermaknaan hidup seseorang bukan lamanya, melainkan bagaimana orang itu hidup.

Dalil 7 Perjuangan buat ekspresi 
Manusia berjuang buat ekspresi, yakni kecenderungan buat sebagai apa saja yg mereka bisa. Setiap orang memiliki dorongan bawaan buat sebagai seorang pribadi, yakni mereka mempunyai kecenderungran kearah pengembangan keunikan serta ketunggalan, penemuan identitas langsung, dan perjuangan demi aktualisasi potensi-potensinya secara penuh. Jika seseorang mampu mengaktualkan potensi-potensinya menjadi eksklusif, maka beliau akan mengalami kepuasan yang paling dalam yg sanggup dicapai oleh insan, sebab demikianlah alam mengharapkan mereka berbuat. Alam seolah-olah mengungkapkan kepada kita, "Kamu wajib menjadi apa saja yang kamu mampu." Menjadi sesuatu memerlukan keberanian. Dan apakah kita ingin menjadi sesuatu atau nir menjadi sesuatu merupakan pilihan kita. Maslow merancang suatu studi yang menggunakan subjek-subjek yg terdiri berdasarkan orang-orang yang mengaktualkan diri. Beberapa karakteristik yg ditemukan oleh Maslow (1968, 1970) pada orang-orang yg mengaktualkan diri itu adalah: kesanggupan menoleransi dan bahkan menyambut ketidaktentuan dalam hayati mereka, penerimaan terhadap diri sendiri serta orang lain, kespontanan dan kreatifitas, kebutuhan akan privacy serta kesendirian, otomoni, kesanggupan menjalin interaksi interpersonal yang mendalam serta intens, perhatian yang tulus terhadap orang lain, rasa humor, keterarahan pada diri sendiri (kebalikan berdasarkan kecenderungan buat hayati dari pengharapan orang lain), dan nir adanya dikotomi-dikotomi yg artifisial (misalnya kerja-bermain, cinta-benci, lemah-bertenaga). 

4. Fungsi dan Peran Konselor
Tugas utama Konselor adalah berusaha tahu konseli sebagai terdapat pada-global. Teknik yang dipakai mengikuti alih-alih melalui pemahaman. Lantaran menekankan dalam pengalaman konseli sekarang, para konselor eksistensial menampakan keleluasaan dalam menggunakan metode-metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bervariasi nir hanya menurut konseli yg satu pada konseli yg lainnya, tetapi juga berdasarkan satu ke lain fase konseling yang dijalani oleh konseli yang sama.

Meskipun konseling eksistesial bukan merupakan metode tunggal, pada kalangan konselor eksistensial dan humanistik ada kesepakatan menyangkut tugas-tugas dan tanggung jawab konselor. Buhler serta Allen (1972) sepakat bahwa psikokonseling difokuskan pada pendekatan terhadap interaksi manusia alih-alih system teknik. Menurt Buhler serta Allen, para pakar psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
  1. Mengakui pentingnya pendekatan berdasarkan eksklusif ke pribadi.
  2. Menyadari dari kiprah menurut tangung jawab konselor.
  3. Mengakui sifat timbal kembali berdasarkan interaksi konseling.
  4. Berorientasi dalam pertumbuhan.
  5. Menekankan keharusan konselor terlibat dengan konseli menjadi suatu eksklusif yg menyeluruh.
  6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak ditangan konseli.
  7. Memandang konselor menjadi model, pada arti bahwa konselor menggunakan gaya hayati dan pandangan humanistiknya mengenai insan mampu secara implisit menerangkan kepada konseli potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
  8. Mengakui kebebasan konseli buat menyampaikan pandangan serta buat membuatkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
  9. Bekerja kearah mengurangi kebergantungan konseli dan meningkatkan kebebasan konseli.
May (1961) memandang tugas konselor di antaranya adalah membantu konseli supaya menyadari keberadaannya dalam dunia: “Ini merupakan saat waktu konseli melihat dirinya menjadi orang yg terancam, yang hadir di dunia mengancam, serta menjadi subjek yang mempunyai global”.

Jika konseli membicarakan perasan-perasaannya kepada konselor pada rendezvous konseling, maka konselor usahakan bertindak menjadi berikut:
  1. Memberikan reaksi-reaksi pribadi dalam kaitan menggunakan apa yang dikatakan oleh konseli.
  2. Terlibat dalam sejumlah pernyataan pribadi yang relevan dan pantas tentang pengalaman-pengalaman yg seperti menggunakan yg dialami sang konseli.
  3. Meminta pada konseli buat sanggup mengungkapkan ketakutannya terhadap keharuan menentukan pada dunia yang tak niscaya.
  4. Menantang konseli buat melihat semua cara dia menghindari pembuatan putusan-putusan, dan menaruh evaluasi terhadap penghindaran itu.
  5. Mendorong konseli untuk memeriksa jalan hidupnya dalam periode semenjak mulai konseling menggunakan bertanya.
  6. Beri tahu pada konseli bahwa dia sedang menilik apa yang dialaminya sesungguhnya adalah suatu sifat yang spesial sebagai insan. 
Bahwa dia dalam akhirnya sendirian, bahwa dia harus menetapkan buat dirinya sendiri, bahwa beliau akan mengalami kecemasan atas ketidakpastian putusan-putusan yg beliau buat, dan bahwa beliau akan berjuang buat menetapkan makna kehidupannya di global yg seringkali tampak tak bermakna.

a. Hubungan antara Konselor dan Konseli 
Hubungan konselor sangat penting pada konseling eksistensial. Penekanan diletakkan dalam rendezvous antar insan dan perjalanan bersama alih-alih pada teknik – teknik yg memepengaruhi konseli. Isi pertemuan konseling merupakan pengalaman konseli kini , bukan “kasus” konseli. Hubungan menggunakan orang lain pada kehadiran yang otentik difokuskan kepada “disini serta kini ”. Masa lampau atau masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan eksklusif. 

Dalam menulis tentang hubungan konseling, Sidney Jourard (1971) menghimbau supaya konselor, melalui tingkah lakunya yang otentik dan terbuka, mengajak konseli kepada keontetikan. Jourard meminta agar konselor bisa menciptakan interaksi Aku-Kamu, dimana pembukaan diri konselor yang spontan menunjang pertumbuhan dan keontetikan konseli. Sebagaimana dinyatakan oleh Jourard, “Manipulasi melahirkan kontramanipulasi. Pembukaan diri melahirkan Pembukaan diri jua”.

Jourard permanen bependapat bahwa jika konselor menyembunyikan diri pada rendezvous konseling, maka beliau terlibat dalam tingkah laku nir otentik sama menggunakan yang menyebabkan gejala-gejala dalam diri konseli. Menurut jourard, cara buat membantu kien supaya menemukan dirinya yg sejati serta agar nir menjadi asing menggunakan dirinya sendiri adalah, konselor secara impulsif membukakan pengalaman otentiknya pada konseli pada ketika yang tepat dalam pertemuan konseling. Hal ini bukan berarti bahwa konselor harus menghentikan penggunaan teknik-tenik, penaksiran-diagnosis, serta penilaian-penilaiannya, melainkan berarti bahwa konselor wajib acapkali menyatakan atau membicarakan kepada konseli bahwa beliau tidak ingin membicarakan apa yang dipikirkan atau dirasakan.

b. Pengalaman Konseli
Dalam konseling pendekatan ini, konseli bisa mengalami secara subjektif persepsi-persepsi mengenai dunianya. Dia harus kreatif pada proses konseling, karena dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan-kecemasan apa yg akan dieksplorasinya. Memutuskan buat menjalani konseling saja sering merupakan tindakan yang angker.

Dengan kata lain, konseli pada konseling pendekatan ini terlibat pada pembukaan pintu menuju diri sendiri. Pengalaman acapkali seram atau menyenangkan, mendepresikan atau campuran berdasarkan seluruh perasaan tadi. Dengan membuka pintu yang tertutup, konseli mulai melonggarkan belenggu deterministik yang telah mengakibatkan beliau terpenjara secara psikologi. Lambat laun konseli menjadi sadar, apa dia tadinya dan siapa dia kini dan konseli lebih sanggup menetapkan masa depan misalnya apa yg diinginkannya.

ZEN STORY DIRI SEJATI AKU TIDAK TAHU

Heiteman! Pernahkah anda berpikir mengenai siapa diri anda ini? Ataukahmempertanyakan kenapa aku bisa berada pada sini, kini ini? Untuk menjawabpertanyaan itu, ada baiknya kita kutip sebuah kisah Zen yg usianya ratusankali lebih tua menurut kita yg mungkin akan memberikan sedikit citra mengenaiapa itu “Diri sejati”.
Kaisarbenar-sahih masuk ke dalam Buddhisme. Dia membaca segala yg mampu diadapatkan, beliau berbicara menggunakan para filsuf serta biarawan mengenai Buddhisme, diabahkan mencoba buat menulis aneka macam ceramahnya sendiri serta Haiku. Suatu haridia mendengar bahwa seseorang pengajar Zen populer sedang mengunjungi kota besaritu. Maka, secara alami sebagai Kaisar, beliau meminta supaya oleh Pengajar tiba untukmengunjungi beliau di Istana. Dia menghidangkan pada Pengajar makanan yang lezat dansetelah itu melakukan upacara teh yang elok . Sepanjang ketika, sang Guru hanyabersikap damai dan diam, misalnya Anda mungkin harapkan berdasarkan guru Zen – tetapiKaisar mempunyai lidah yg tajam. Dia ingin memungut isi otak orang initentang Zen. Jadi akhirnya, ketika minum teh,beliau memecahkan kesunyian itu.“Pengajar, berdasarkan Zen, apa Diri itu?”

Guruitu dengan singkat mendongakkan wajah kemudian mengungkapkan, “Aku nir tahu,”Dengan damai pada melanjutkan hisapan tehnya.

Mungkinpenulis hanya pengelana ilmu yang masih amatir dan ingin mencoba menjelajahisamudera tanya yg membentang di depan. Tapi setidaknya penulis telah mencoba.mencoba buat mengail pengetahuan menggunakan joran sederhana  bak seorang nelayan belia dengan perahukecilnya. Bukankah begitu teman?
Makauntuk mengawali diskusi pendek ini, penulis ingin anda menjadi seorang temandan pembaca yg baik mencoba sebuah meditasi sederhana. Silakan anda dudukdengan tegap dan nyaman pada kursi atau pada lantai lalu tutuplah mata anda.gunakan cara yg anda ketahui atau yg paling anda sukai untuk membersihkanpikiran anda. Tapi awas! Jangan hingga melamun.
Sekarangbuatlah kesadaran anda bersantai... Abaikan sensasi atau gambaran merambahkesadaran anda... Sensasi atau citra apapun. Lalu sadari menggunakan benarsensasi atau gambaran itu saat anda mendengar kata “Diri”.
Sekarangbukalah mata anda, dan cobalah buat bertahan dalam pengalaman itu. Sekalipunapa yang anda lihat atau anda nikmati tampak samar, atau bahkan anda tidakmelihat apapun, itu nir apa-apa, kalem saja teman! Mungkin saja terdapat sesuatuyang penting di pulang kekosongan itu. Sekarang gunakanlah pengalaman anda ituuntuk tahu “Diri”.
Sebuahkisah Zen yg lain mungkin akan menambah citra pada anda tentang konsepDiri.
Suatuhari terjadi gempa bumi yg mengguncang semua kuil Zen. Beberapa bagianbahkan sudah roboh. Banyak berdasarkan biarawan merasa ketakutan. Ketika gempa bumiberhenti, guru berkata,”Sekarang kalian telah memiliki kesempatan buat melihatbagaimana seseorang Zen bertindak dalam situasi krisis. Kalian mungkin melihatbahwa saya nir panik. Aku benar-benar sadar akan apa yg terjadi serta memahami harusberbuat apa. Aku membimbing kalian seluruh ke dapur, bagian yang paling kuat darikuil ini. Ini merupakan keputusan yg baik, karena kalian lihat seluruh telahselamat tanpa luka. Akan namun, selain kenyamanan dan pengendalian-diri, akumerasa sedikit tegang – yang mungkin kalian simpulkan dari kabar bahwa akutelah minum air berdasarkan sebuah gelas akbar, sesuatu yang tidak pernah aku lakukandalam syarat biasa.”

Salahsatu berdasarkan biarawan itu tersenyum, namun tidak berkata apa pun.

“Apayang kamu tertawakan?” Tanya pengajar.

“Itubukan air,” Jawab biarawan, “Tapi air ampas memahami.”

Teman...berdasarkan kisah pada atas pastilah bisa kita peroleh citra mengenai hubunganantara pencerahan menggunakan Diri. Diri menjadi kesadaran adalah sebuah prosesmengamati atau keterjagaan alam sadar kita terhadap diri dan lingkungannya.kita bisa menjadi sadar dan mempunyai kemampuan refleksi-diri terhadap Dirikita. Kesadaran diri adalah sesuatu yg baik, akan namun kita dapatmembawanya terlalu jauh ke arah yg galat. Ini seperti menatap bayangan Andadi atas air terlalu lama . Anda akan kehilangan perspektif, seperti halnya gurudalam kisah pada atas yg merasa dirinya 'sadar' padahal sebenarnya tidak dalam'pencerahan penuh'. Akibatnya si pengajar itu meminum air ampas tahu yg dikiranyaair putih biasa.
Pelajarandari si guru itu sebagai pesan yang tersirat bagi kita bahwa terdapat waktu pada mana kita merasasadar namun sebenarnya kita tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya. Mungkin andapernah mengalami insiden yang acapkali penulis alami dalam kehidupansehari-hari. Ini sebagai salah satu model mini . Saat anda pergi kuliah,seperti biasa, anda eksklusif pulang ke kosan, membuka pintu, membuka sepatu –bagi yg punya sepatu, lalu menyimpan tas serta sebagainya, lalu berbaringdi atas kasur – lagi-lagi ini bagi yang punya kasur. 
Halini mungkin anda lakukan tanpa anda sadari. Bahkan ketika anda berbaring, andatidak sadar bahwa ketika pergi berdasarkan kampus serta sedang pada bepergian andaberkenalan menggunakan seseorang pria, dan anda tidak sadar pula bahwa anda telahkehilangan dompet.
Barulahpada waktu akan berbelanja serta mencari dompet, anda akan menyadari bahwa dompetanda telah hilang. Kemudian, anda berusaha keras buat mengingat kembalikejadian pada waktu pulang kuliah. Hal yg niscaya pertamakali diingat adalahsaat berkenalan menggunakan laki-laki itu. Lalu serta merta menjamin bahwa dialahyang mencuri dompet anda. Tanpa bukti-bukti yang bertenaga, tak mungkin anda lansungmenuduh dia menjadi pencuri dompet. Sehingga, mau tidak mau anda terpaksa berdiamdiri merenungi kelalaian anda. Tetapi ketika anda membuka lemari buat bergantipakaian, secara datang-tiba anda menemukan dompet anda tergeletak di atastumpukkan baju. Sudah menjadi kebiasaan bagi diri anda bahwa sesudah pulangkuliah anda selalu menyimpan dompet pada lemari, dan dalam waktu kejadian itu dirianda pada keadaan nir sadar sepenuhnya. Betapa malunya anda jika  saat itu anda sadar bahwa anda telah membuatkesalahan lantaran telah berprasangka buruk kepada orang lain.
Padaumumnya apa yg kita lakukan hari ini tidak jauh tidak sinkron menggunakan apa yg kitalakukan kemarin, serta bahkan mungkin nir jauh berbeda menggunakan apa yang kitalakukan keesokkan harinya. Apa yg menjadi norma itu menciptakan kitabertindak secara refleks karena kita telah hapal apa yang kita lakukan. Halinilah yang menciptakan kita tidak sadar menggunakan apa yg kita lakukan. Kesadaranpenuh kita menjadi kesadaran yg 1/2-setengah. Tindakan yang menjadikebiasaan itu dampak dari ingatan yang ada pada kepala kita. Ingatan menjadikanmanusia bertindak menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini dari Zen diklaim karma. Agar memperoleh karmayang baik, maka kita wajib melepas ingatan menurut kepala kita (pikiran).  Dan ini dapat kita lakukan denganbermeditasi, atau pada Islam dengan melakukan shalat; lantaran meditasi ataushalat bisa menaikkan taraf kesadaran kita. Itu juga bila meditasi ataushalatnya dilakukan menggunakan benar, serta tidak asal-asalan.
Dariuraian singkat di atas dapatlah kita ketahui tentang konsep Diri. Secarasederhananya kesimpulan menurut uraian di atas yaitu; Diri anda merupakan kesadarananda. Pada ketika anda nir sadar maka itu bukan diri anda. Cukup sederhanabukan! Dan perlu diingat, itu hanyalah sekedar konsep saja, bukan sebuahjawaban akhir. Sekarang kita kembali pada cerita awal uraian ini, kita tengoksang Kaisar dengan oleh pengajar Zen.

“Pengajar,berdasarkan Zen, apa Diri Sejati itu?”

Guruitu menggunakan singkat mendongakkan wajah kemudian menyampaikan,


“Akutidak memahami.”



PENGERTIAN TEORI EKSISTENSIAL HUMANISTIK

Pengertian, Teori Eksistensial Humanistik
1. Konsep Dasar Tentang Manusia
Pendekatan Eksistensial-humanistik serius dalam diri insan. Pendekatan ini mengutamakan suatu perilaku yg menekankan pada pemahaman atas insan. Pendekatan Eksisteneial-Humanistik dalam konseling memakai sistem tehnik-tehnik yang bertujuan buat mempengaruhi konseli. Pendekatan konseling eksistensial-humanistik bukan merupakan konseling tunggal, melainkan suatu pendekatan yg mencakup konseling-konseling yg berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep serta perkiraan-asumsi tentang manusia. Konsep-konsep primer pendekatan eksistensial yang membangun landasan bagi praktek konseling, yaitu:

a. Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan buat menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan konkret yg memungkinkan insan bisa berpikir serta menetapkan. Semakin bertenaga kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar juga kebebasan yg ada dalam orang itu. Kesadaran buat menentukan cara lain -cara lain yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya merupakan suatu aspek yang esensial dalam manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas eksistensi dan nasibnya. 

b. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan serta tanggung jawab bisa mengakibatkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada insan. Kecemasan ekstensial mampu diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan buat meninggal (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu dalam fenomena bahwa beliau mempunyai saat yang terbatas buat mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang jua merupakan bagian syarat manusia. Adalah akibat menurut kegagalan individu buat sahih-sahih menjadi sesuatu sinkron menggunakan kemampuannya.

c. Penciptaan Makna
Manusia itu unik pada arti bahwa beliau berusaha untuk menentukan tujuan hayati serta menciptakan nilai-nilai yg akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia pula berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian serta mati sendirian pula). Walaupun dalam hakikatnya sendirian, insan memiliki kebutuhan buat berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yg bermakna, karena manusia merupakan mahluk rasional. Kegagalan pada membangun hubungan yg bermakna sanggup menimbulkan kondisi-syarat isolasi dipersonalisasi, alineasi, kerasingan, serta kesepian. Manusia jua berusaha buat mengaktualkan diri yakni menyampaikan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, apabila tidak mampu mengaktualkan diri, dia mampu menajdi “sakit”.

2. Proses Konseling
Ada tiga tahap proses konseling yaitu
  1. Konselor membantu konseli pada mengidentifikasi dan mengklarifikasi perkiraan mereka mengenai global. Konseli diajak buat mendefinisikan serta menayakan tentang cara mereka memandang serta mengakibatkan keberadaan mereka sanggup diterima. Mereka meneliti nilai mereka, keyakinan, dan asumsi buat menentukan kesalahannya. Bagi banyak konseli hal ini bukan pekerjaan yg gampang, sang karena itu awalnya mereka memaparkan problema mereka. Konselor disini mengajarkan mereka bagaimana caranya buat bercermin pada eksistensi mereka sendiri.
  2. Konseli didorong semangatnya buat lebih pada lagi meneliti sumber serta otoritas menurut sistem nilai mereka. Proses eksplorasi diri ini umumnya membawa konseli ke pemahaman baru serta berapa restrukturisasi dari nilai serta perilaku mereka. Konseli mendapat cita rasa yang lebih baik akan jenis kehidupan macam apa yg mereka anggap pantas. Mereka menyebarkan gagasan yang kentara tentang proses anugerah nilai internal mereka.
  3. Konseling eksistensial berfokus dalam menolong konseli buat mampu melaksanakan apa yang telah mereka pelajari mengenai diri mereka sendiri. Sasaran konseling adalah memungkinkan konseli buat bisa mencari cara pengaplikasikan nilai hasil penelitian dan internalisasi dengan jalan kongkrit. Biasanya konseli menemukan jalan mereka buat menggunakan kekuatan itu demi menjalani konsistensi kehidupannya yg memiliki tujuan.
3. Penerapan langkah / Teknik dalam konseling
Teori eksis­tensial-hunianistik tidak mempunyai teknik-teknik yg dipengaruhi secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut menurut beberapa teori konseling lainnya. Metode-metode yg asal menurut teori Gestalt dan Analisis Transaksional seringkali digunakan, dan sejumlah prinsip dan mekanisme psikoanalisis sanggup diintegrasikan ke dalam teori eksistensial-humanistik. Buku The Search for "Authenticity (1965) menurut Bugental merupakan sebuah karya lengkap yang mengemukakan konsep-konsep dan mekanisme-prosedur psiko­konseling eksistensial yang berlandaskan contoh psikoanalitik. Bu­gental menampakan bahwa konsep inti psikoanalisis mengenai resistensi dan transferensi sanggup diterapkan pada filsafat dan praktek konseling eksistensial. Ia menggunakan kerangka psikoanalitik buat menerangkan fase kerja konseling yg berlandaskan konsep-konsep eksistensial seperti kesadaran, emansipasi dan kebebasan, kece­masan eksistensial, serta neurosis eksistensial. 

Rollo May (1953,1958,1961), seorang psikoanalisis Amerika yg diakui luas atas pengembangan psikokonseling eksistensial pada Amerika, pula telah mengintegrasikan metodologi dan konsep-konsep psikoanalisis ke dalam psikokonseling eksistensial. 

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menempati kedudukan sentral dalam konseling adalah: Seberapa besar aku menyadari siapa aku ini? Bisa menjadi apa saya ini? Bagaimana aku sanggup memilih membentuk balik bukti diri diri aku yang sekarang? Seberapa akbar kesanggupan aku buat mendapat kebebasan memilih jalan hayati saya sendiri? Bagaimana aku mengatasi kecemasan yang disebabkan sang kesadaran atas pilihan-pilihan? Sejauh mana saya hayati menurut pada sentra diri aku sendiri? Apa yg saya lakukan buat menemukan makna hayati ini? Apa aku menjalani hidup, ataukah aku hanya puas atas keberadaan aku ? Apa yang aku lakukan buat membentuk identitas eksklusif yang saya inginkan? Pada pembahasan pada bawah ini diungkap dalil-dalil yg mendasari praktek konseling eksistensial-humanistik. Dalil-dalil ini, yg dikembangkan berdasarkan suatu survai atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial, berasal berdasarkan Frankl (1959,1963), May (1953, 1958, 1961), Maslow (1968), Jourard (1971), serta Bugental (1965), merepresentasikan sejumlah tema yg penting yg merinci praktek-praktek konseling. 

a. Tema-Tema Dan Dalil-Dalil Utama Eksistensial dan Penerapan-Penerapan Pada Praktek Konseling

Dalil 1 : Kesadaran diri 
Manusia memiliki kesanggupan buat menyadari diri yang mengakibatkan dirinya mampu melampaui situasi sekarang dan menciptakan basis bagi kegiatan-aktivitas berpikir serta menentukan yang khas insan. 

Kesadaran diri itu membedakan insan menurut makhluk-makhluk lain. Manusia mampu tampil pada luar diri dan berefleksi atas keberadaannya. Pada hakikatnya, semakin tinggi pencerahan diri seseorang, maka beliau semakin hidup sebagai eksklusif atau sebagaimana dinyatakan sang Kierkegaard, "Semakin tinggi pencerahan, maka semakin utuh diri seorang." Tanggung jawab berlandaskan kesanggupan untuk sadar. Dengan pencerahan, seorang mampu sebagai sadar atas tanggung jawabnya buat menentukan. Sebagaimana dinyatakan sang May (1953), "Manusia adalah makhluk yang sanggup menyadari serta, sang karena itu, bertanggung jawab atas keberadaannya”.

Kesadaran bisa dikonseptualkan dengan cara sebagai berikut: Umpamakan Anda berjalan pada lorong yang di ke 2 sisinya terdapat poly pintu, Bayangkan bahwa Anda mampu membuka beberapa pintu, baik membuka sedikit ataupun membuka lebar-lebar. Barangkali, apabila Anda membuka satu pintu, Anda tidak akan menyukai apa yang Anda temukan pada dalamnya menakutkan atau menjijikkan. Di lain pihak, Anda mampu menemukan sebuah ruangan yang dipenuhi sang estetika. Anda mungkin berdebat menggunakan diri sendiri, apakah akan membiarkan pintu itu tertutup atau terbuka. 

Apabila seseorang konselor dihadapkan dalam konseli yg pencerahan dirinya kurang maka konselor harus menerangkan kepada konseli bahwa harus ada pengorbanan buat menaikkan pencerahan diri. Dengan sebagai lebih sadar, konseli akan lebih sulit buat “ pulang ke rumah lagi “, sebagai orang yg misalnya dulu lagi.

Dalil 2 : Kebebasan serta tanggung jawab 
Manusia adalah makhluk yg menentukan diri, dalam arti bahwa beliau memiliki kebebasan buat memilih pada antara altematif-altematif. Karena manusia pada dasamya bebas, maka beliau harus ber­tanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri. 

Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, hasrat, dan putusan pad a sentra ke beradaan manusia. Apabila pencerahan dan kebebasan dihapus menurut insan, maka beliau nir lagi hadir menjadi manusia, karena kesanggupan-k esanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan eksistensial adalah bahwa individu, dengan putusan-putusannya, membangun nasib serta mengukir keberadaannya sendiri. Seseorang menjadi apa yang diputuskannya, serta beliau wajib bertanggung jawab atas jalan hid.up yang ditempuhnya. Tillich mengingatkan, "Manusia sahih-benar menjadi insan hanya saat mengambil putusan. Sartre mengatakan, "Kita merupakan pilihan kita." Nietzsche men­jabarkan kebebasan menjadi "kesanggupan buat menjadi apa yg memang kita alami". Ungkapan Kierkegaard, "menentukan diri sen­diri", menyiratkan bahwa seorang bertanggung jawab atas ke­hidupan serta keberadaannya. Sedangkan Jaspers menjelaskan bahwa "kita merupakan makhluk yang tetapkan". 

Tugas konselor adalah mendorong konseli buat belajar menanggung risiko terhadap akibat penggunaan kebebasannya. Yang jangan dilakukan adalah melumpuhkan konseli serta membuatnya bergantung secara neurotik dalam konselor. Konselor perlu mengajari konseli bahwa beliau bisa mulai menciptakan pilihan meskipun konseli boleh jadi sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya buat melarikan diri berdasarkan kebebasan memilih. 

Dalil 3: Keterpusatan dan kebutuhan akan orang lain 
Setiap individu mempunyai kebutuhan buat memelihara keunikan namun dalam saat yg sama beliau memiliki kebutuhan buat keluar berdasarkan dirinya sendiri dan buat berhu­bungan dengan orang lain serta menggunakan alam. Kegagalan pada berhubungan dengan orang lain dan dengan alam menyebabkan ia kesepian serta mengalamin keterasingan. 

Kita masing-masing mempunyai kebutuhan yg bertenaga buat menemukan suatu diri, yakni menemukan bukti diri langsung kita. Akan tetapi, penemuan siapa kita sesungguhnya bukanlah suatu proses yang otomatis; beliau membutuhkan keberanian. Secara para­doksal kita pula mempunyai kebutuhan yg bertenaga untuk keluar dari eksistensi kita. Kita membutuhkan hubungan menggunakan keberada­an-eksistensi yang lain. Kita harus menaruh diri kita pada orang lain serta terlibat dengan mereka. 

Usaha menemukan inti serta belajar bagaimana hayati berdasarkan dalam memerlukan keberanian. Kita berjuang buat menemukan, untuk membentuk, serta buat memelihara inti menurut ada kita. Salah satu ketakutan terbesar menurut para konseli merupakan bahwa mereka akan tidak menemukan diri mereka. Mereka hanya menduga bahwa mereka bukan siapa-siapa.

Para konselor eksistensial sanggup memulai dengan meminta kepada para konselinya untuk mengakui perasaannya sendiri. Sekali konseli membuktikan keberanian buat mengakui ketakutannya, mengungkapkan ketakutan menggunakan istilah-istilah dan membaginya, maka ketakutan itu nir akan begitu menyelubunginya lagi. Untuk mulai bekerja bagi konselor merupakan mengajak konseli buat mendapat cara-cara dia hidup di luar dirinya sendiri serta mengeksplorasi cara-cara buat keluar menurut pusatnya sendiri. 

Dalil 4 : Pencarian makna 
Salah satu ciri yg spesial pada insan merupakan per­juangannya buat merasakan arti serta maksud hidup. Manusia pada dasarnya selalu pada pencarian makna serta identitas eksklusif. 

Biasanya permasalahan-permasalahan yang mendasari sebagai akibatnya membawa orang-orang ke dalam konseling merupakan problem-masalah yang berkisar pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial: Mengapa aku berada? Apa yg saya inginkan berdasarkan hidup? Apa maksud serta makna hayati saya? 

Konseling eksistensial sanggup menyediakan kerangka konseptual buat membantu konseli dalam usahanya mencari makna hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan oleh konselor kepada konseli merupakan: 'Apakah Anda menyukai arah hidup Anda? Apa­kah Anda puas atas apa Anda kini serta akan sebagai apa Anda nanti? Apakah Anda aktif melakukan sesuatu yg akan men­dekatkan Anda pada ideal-diri Anda? Apakah Anda mengetahui apa yang Anda inginkan? Apabila Anda galau mengenai siapa Anda dan apa yang Anda inginkan, apa yg Anda lakukan buat mem­peroleh kejelasan? 

Salah satu masalah dalam konseling merupakan penyisihan nilai-nilai tradisional (serta nilai-nilai yg dialihkan kepada seorang) tanpa disertai inovasi nilai-nilai lain yg sinkron buat menggantikannya. Tugas konselor dalam proses konseling merupakan membantu konseli pada membangun suatu sistem nilai berlandaskan cara hidup yg konsisten menggunakan cara terdapat-nya konseli. 

Konselor harus menaruh kepercayaan terhadap kesanggupan konseli pada menemukan sistem nilai yang bersumber pada dirinya sendiri serta yang memungkinkan hidupnya bermakna. Konseli tidak diragukan lagi akan galau serta mengalami kecemasan sebagai akibat tidak adanya ni1ai-nilai yang kentara. Kepercayaan konselor terhadap konseli merupakan variabel yg penting dalam mengajari konseli agar mempercayai kesanggupannya sendiri pada menemukan asal nilai-nilai baru dari pada dirinya.

Dalil lima : Kecemasan sebagai syarat hidup
Kecemasan merupakan suatu karakteristik dasar insan. Kecemasan nir perlu adalah sesuatu yg patologis, sebab beliau bisa menjadi suatu tenaga motivasi yang kuat buat pertumbuhan. Kecemasan merupakan akibat berdasarkan kesadaran atas tanggung jawab buat memilih.

Kebanyakan orang mencari donasi profesional lantaran mereka mengalami kecemasan atau depresi. Banyak konseli yg memasuki tempat kerja konselor disertai asa bahwa konselor akan mencabut penderitaan mereka atau setidaknya akan menaruh formula tertentu buat mengurangi kecemasan mereka. Konselor yg berorientasi eksistensial, bagaimanapun, bekerja tidak semata-mata buat menghilangkan tanda-tanda-gejala atau mengurangi kecemasan. Sebenamya, konselor eksistensial tidak memandang kecemasan menjadi hal yang tak dibutuhkan. Ia akan bekerja menggunakan cara tertentu sehingga buat sementara konseli sanggup mengalami peningkatan tingkat kecemasan. Pertanyaan-pertanyaan yang mampu diajukan merupakan: Bagaimana konseli mengatasi kecemasan? Apakah kecemasan merupakan fungsi berdasarkan pertumbuhan ataukah fungsi kebergantungan pada tingkah laris neurotik? Apakah konseli menampakan keberanian buat membiarkan dirinya menghadapi kecemasan atas hal-hal yg tidak dikenalnya? 

Kecemasan adalah bahan bagi konseling yang produktif, baik konseling individual maupun konseling gerombolan . Apabila konseli nir mengalami kecemasan, maka motivasinya buat berubah akan rendah. Kecemasan dapat ditransformasikan ke dalam energi yg dibutuhkan buat bertahan menghadapi risiko bereksperimen menggunakan tingkah laku baru. 

Dalil 6: Kesadarau atas kematian dan non-ada 
Kesadaran atas kematian merupakan kondisi manusia yang mendasar, yang menaruh makna pada hidup. Frankl (1965) sejalan menggunakan May menjelaskan bahwa kematian menaruh makna kepada keberadaan insan. Jika kita tidak akan pernah meninggal, maka kita mampu menahan tindakan buat selamanya. Akan tetapi, lantaran kita terbatas, apa yg kita lakukan kini memiliki arti khusus. Bagi Frankl, yg memilih kebermaknaan hayati seseorang bukan lamanya, melainkan bagaimana orang itu hayati.

Dalil 7 Perjuangan buat aktualisasi diri 
Manusia berjuang untuk aktualisasi diri, yakni kecenderungan untuk sebagai apa saja yang mereka sanggup. Setiap orang mempunyai dorongan bawaan buat menjadi seorang langsung, yakni mereka memiliki kecenderungran kearah pengembangan keunikan dan ketunggalan, inovasi bukti diri eksklusif, serta perjuangan demi aktualisasi potensi-potensinya secara penuh. Jika seseorang mampu mengaktualkan potensi-potensinya menjadi pribadi, maka dia akan mengalami kepuasan yang paling pada yang bisa dicapai oleh insan, sebab demikianlah alam mengharapkan mereka berbuat. Alam seolah-olah berkata kepada kita, "Kamu wajib menjadi apa saja yang kamu bisa." Menjadi sesuatu memerlukan keberanian. Dan apakah kita ingin menjadi sesuatu atau nir sebagai sesuatu merupakan pilihan kita. Maslow merancang suatu studi yang memakai subjek-subjek yg terdiri menurut orang-orang yang mengaktualkan diri. Beberapa karakteristik yg ditemukan oleh Maslow (1968, 1970) pada orang-orang yang mengaktualkan diri itu adalah: kesanggupan menoleransi serta bahkan menyambut ketidaktentuan pada hayati mereka, penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain, kespontanan dan kreatifitas, kebutuhan akan privacy dan kesendirian, otomoni, kesanggupan menjalin interaksi interpersonal yang mendalam dan intens, perhatian yg nrimo terhadap orang lain, rasa humor, keterarahan pada diri sendiri (kebalikan dari kecenderungan buat hidup dari pengharapan orang lain), serta nir adanya dikotomi-dibagi dua yang artifisial (seperti kerja-bermain, cinta-benci, lemah-bertenaga). 

4. Fungsi dan Peran Konselor
Tugas utama Konselor merupakan berusaha tahu konseli menjadi ada dalam-dunia. Teknik yg dipakai mengikuti alih-alih melalui pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman konseli kini , para konselor eksistensial memberitahuakn keleluasaan dalam memakai metode-metode, serta prosedur yang digunakan sang mereka bervariasi nir hanya dari konseli yang satu pada konseli yang lainnya, tetapi jua berdasarkan satu ke lain fase konseling yg dijalani sang konseli yang sama.

Meskipun konseling eksistesial bukan adalah metode tunggal, di kalangan konselor eksistensial serta humanistik ada konvensi menyangkut tugas-tugas serta tanggung jawab konselor. Buhler serta Allen (1972) sepakat bahwa psikokonseling difokuskan dalam pendekatan terhadap hubungan manusia alih-alih system teknik. Menurt Buhler dan Allen, para pakar psikologi humanistik memiliki orientasi beserta yang meliputi hal-hal berikut :
  1. Mengakui pentingnya pendekatan dari langsung ke langsung.
  2. Menyadari menurut kiprah menurut tangung jawab konselor.
  3. Mengakui sifat timbal pulang menurut interaksi konseling.
  4. Berorientasi pada pertumbuhan.
  5. Menekankan keharusan konselor terlibat dengan konseli sebagai suatu pribadi yg menyeluruh.
  6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak ditangan konseli.
  7. Memandang konselor sebagai contoh, dalam arti bahwa konselor menggunakan gaya hayati serta pandangan humanistiknya mengenai manusia sanggup secara implisit menerangkan pada konseli potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
  8. Mengakui kebebasan konseli buat menyampaikan pandangan dan buat berbagi tujuan-tujuan serta nilainya sendiri.
  9. Bekerja kearah mengurangi kebergantungan konseli serta menaikkan kebebasan konseli.
May (1961) memandang tugas konselor pada antaranya adalah membantu konseli agar menyadari keberadaannya dalam global: “Ini merupakan ketika waktu konseli melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia mengancam, dan sebagai subjek yg mempunyai dunia”.

Jika konseli membicarakan perasan-perasaannya kepada konselor pada pertemuan konseling, maka konselor usahakan bertindak sebagai berikut:
  1. Memberikan reaksi-reaksi langsung pada kaitan dengan apa yang dikatakan oleh konseli.
  2. Terlibat pada sejumlah pernyataan eksklusif yang relevan dan pantas mengenai pengalaman-pengalaman yang seperti dengan yg dialami oleh konseli.
  3. Meminta pada konseli buat mampu mengungkapkan ketakutannya terhadap keharuan memilih pada dunia yg tak niscaya.
  4. Menantang konseli buat melihat seluruh cara beliau menghindari pembuatan putusan-putusan, serta menaruh penilaian terhadap penghindaran itu.
  5. Mendorong konseli buat menilik jalan hidupnya pada periode sejak mulai konseling dengan bertanya.
  6. Beri memahami kepada konseli bahwa beliau sedang menilik apa yg dialaminya sesungguhnya merupakan suatu sifat yg khas menjadi manusia. 
Bahwa dia dalam akhirnya sendirian, bahwa dia wajib tetapkan buat dirinya sendiri, bahwa dia akan mengalami kecemasan atas ketidakpastian putusan-putusan yg dia buat, dan bahwa dia akan berjuang buat tetapkan makna kehidupannya pada dunia yang seringkali tampak tidak bermakna.

a. Hubungan antara Konselor dan Konseli 
Hubungan konselor sangat krusial pada konseling eksistensial. Penekanan diletakkan dalam pertemuan antar manusia dan perjalanan beserta alih-alih dalam teknik – teknik yang memepengaruhi konseli. Isi rendezvous konseling merupakan pengalaman konseli sekarang, bukan “masalah” konseli. Hubungan dengan orang lain pada kehadiran yg otentik difokuskan kepada “disini dan sekarang”. Masa lampau atau masa depan hanya penting apabila waktunya bekerjasama pribadi. 

Dalam menulis mengenai hubungan konseling, Sidney Jourard (1971) menghimbau supaya konselor, melalui tingkah lakunya yang otentik dan terbuka, mengajak konseli pada keontetikan. Jourard meminta agar konselor mampu membangun hubungan Aku-Kamu, dimana pembukaan diri konselor yang spontan menunjang pertumbuhan serta keontetikan konseli. Sebagaimana dinyatakan sang Jourard, “Manipulasi melahirkan kontramanipulasi. Pembukaan diri melahirkan Pembukaan diri pula”.

Jourard permanen bependapat bahwa apabila konselor menyembunyikan diri dalam rendezvous konseling, maka beliau terlibat pada tingkah laku nir otentik sama menggunakan yang mengakibatkan tanda-tanda-gejala pada diri konseli. Menurut jourard, cara buat membantu kien supaya menemukan dirinya yang sejati dan supaya tidak sebagai asing dengan dirinya sendiri merupakan, konselor secara impulsif membukakan pengalaman otentiknya pada konseli dalam saat yg tepat pada rendezvous konseling. Hal ini bukan berarti bahwa konselor harus menghentikan penggunaan teknik-tenik, penaksiran-penaksiran, serta penilaian-penilaiannya, melainkan berarti bahwa konselor wajib sering menyatakan atau menyampaikan pada konseli bahwa dia nir ingin membicarakan apa yang dipikirkan atau dirasakan.

b. Pengalaman Konseli
Dalam konseling pendekatan ini, konseli mampu mengalami secara subjektif persepsi-persepsi tentang dunianya. Dia wajib kreatif pada proses konseling, sebab dia wajib memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa, serta kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasinya. Memutuskan buat menjalani konseling saja tak jarang adalah tindakan yg menyeramkan.

Dengan kata lain, konseli dalam konseling pendekatan ini terlibat pada pembukaan pintu menuju diri sendiri. Pengalaman tak jarang menakutkan atau menyenangkan, mendepresikan atau adonan berdasarkan semua perasaan tadi. Dengan membuka pintu yg tertutup, konseli mulai melonggarkan belenggu deterministik yang telah mengakibatkan beliau terpenjara secara psikologi. Lambat laun konseli menjadi sadar, apa beliau tadinya dan siapa dia sekarang dan konseli lebih bisa menetapkan masa depan seperti apa yang diinginkannya.

SILA DHARMA KEBAJIKAN MORAL


Pelaksanaan Sila pada Buddhismeadalah merupakan suatu kebajikan moral, etika atau rapikan-tertib dalam menjalanikehidupan dimana akan bisa menuntun seseorang itu bertingkah laris secara baikdan sahih bagi diri sendiri, orang lain termasuk semua alam semesta besertaisinya. Kebajikan moral dapat dianggap menjadi suatu dasar yang menciptakan semuahal-hal yg positif dalam kehidupan kita ketika ini.
"Kebajikan moral adalahsebagai dasar, sebagai pendahulu dan pembentuk dari seluruh yg baik serta indah.oleh karenanya , hendaklah orang menyempurnakan kebajikan moral (Sila)." (Theragatha, 612)
Pemahaman aneka macam kitab suci agama bila jua diwujudkan denganperbuatan atau konduite yg baik dalam kehidupan sehari-hari (Sila) baik secara badan (kaya), ucapan (vak) dan pikiran (citta), maka akan tercipta suatu dasar kebajikan moral yang paripurna berupa tingkahlaku yang terpuji dan bijaksana.
Sang Buddha bersabda, "Pada orang yg memiliki kebajikan moral yang paripurna,memiliki kebijaksanaan serta pikiran yg terarah, senantiasa melihat ke pada(diri/batin) dan selalu penuh perhatian murni; demikianlah beliau menyeberangibanjir akbar." (Sutta Nipata, 174).

Panca-Sila Buddhis

Pelaksanaan Sila tadi dapat berupa perbuatan-perbuatan yang pantangdilakukan dimana sebaiknya kita menunda diri [veramani] , yaitu :
Panca-Sila :

Tidak melakukan pembunuhan makhluk hayati [panatipata-veramani]
Tidak mencuri [adinnadanaveramani]
Tidak berjinah [kamesumicchacaraveramani]
Tidak berbohong [musavadaveramani]
Tidak minum minuman memabukkan[surameraya majjapamadatthanna veramani]
Sebagai umat Buddha, kita seharusnya melaksanakan secara konsistenPanca-Sila Buddhis tadi. Tidak melakukan pembuhuhan makhluk hayati haruslahkita latih mulai berdasarkan tidak membiasakan untuk membunuh makhluk terkecil sepertisemut serta nyamuk. Adakalanya memang kita jengkel sekali bila menemukanadanya nyamuk pada ruangan kamar kita. Masalahnya harus kita lihat secara kentara,bukan dengan membunuh nyamuk tadi, melainkan kenapa nyamuk tersebut masukke kamar kita. Kemungkinan akbar adanya kawat nyamuk yang nir terpasangsecara baik, ataupun pintu kamar yg tidak senantiasa ditutup. Itulah yangharus kita selesaikan, karena kalau tidak maka nyamuk tersebut akan terusberdatangan setiap hari. Dari melihat kebiasaan-kebiasaan kecil inilah, kitaakan sanggup melihat pada ruang lingkup yg lebih luas. Dapat kita bayangkankedamaian pada dunia ini, jika setiap orang selalu menghindari pembunuhan,sehingga tentunya perang yg seringkali melanda berbagai tempat bisa berubahmenjadi pesan-pesan kasih yg lebih berarti. Akibat tidak baik dari perbuatanmembunuh adalah umur pendek, kesehatan yang buruk, selalu berduka karenaberpisah menggunakan mereka yang dicintai, serta hayati selalu dalam bayang-bayangketakutan.
Perbuatan mencuri merupakan perbuatan yang paling hina lantaran mengambil hakmilik orang lain tanpa sepengetahuan ataupun seijin orang bersangkutan. Apabilaterdapat suatu barang yang kita ambil tanpa diberikan sang pemiliknya kepadakita, walaupun dari kita barang tersebut kemungkinan akbar nir dipakailagi, tetap hal ini dipercaya menjadi pencurian. Keinginan buat mencuri jugamerupakan suatu kehendak yg tidak baik, karena impian tadi akanmenyebabkan tindakan yang sesungguhnya. Akibat jelek berdasarkan perbuatan mencuriadalah kemiskinan, penderitaan yang berkepanjangan, kekecewaan, dan kehidupanyang selalu bergantung pada orang lain.
Sudah banyak kita dengar serta baca menurut banyak sekali media mengenai pelanggaranseksual yang sangat kental dengan dunia kejahatan. Pelanggaran seksual inisemakin sulit untuk dihindari apalagi ditunjang sang kebebasan media dalammengeksploitasikan berbagai cerita pemuasan, kejahatan hubungan seksualitasataupun mengeksploitasikan keindahan tubuh wanita. Pikiran yg tidakterkendali untuk menikmati kepuasan interaksi seksualitas menggunakan pasangan hidupsuami atau istri, dapat mengakibatkan interaksi intim di luar pasangan hidupnyamasing-masing. Dalam penjabarannya tentang sila pelanggaran seksual initermasuk hubungan seksual yang bukan dilakukan sang pasangan hayati yg telahmenikah, ataupun interaksi seksual yang menyimpang. Akibat pelanggaranseksualitas maka seseorang itu akan menjalani kehidupan dimana memiliki banyakmusuh, menerima pasangan hidup yang tidak diinginkan, serta lahir sebagailelaki atau perempuan yang bertingkah laku tidak menjadi lelaki ataupun sebagaiperempuan (banci).
Berbicara yang nir sahih yaitu: berbohong, memfitnah, menipu, berbicarakasar, serta bergunjing merupakan merupakan perbuatan yg sangat tidak terpuji.sekali kita berbicara tidak benar maka akan dicap sebagai suka berbohong, pemfitnahdan penipu untuk suatu jangka saat yg sulit dilupakan orang begitu saja. Demikianjuga kebiasan kita mencaci maki seorang dengan kata-kata yg kasar akanmenciptakan kebencian orang lain terhadap diri kita sendiri. Akibat daripembicaraan yg tidak sahih tadi akan menyebabkan kita tak jarang dicaci maki,difitnah, tidak dianggap, verbal yg bau, pecahnya persahatan tanpa ada sebabyang memadai, dibenci, memiliki bunyi yang parau, stigma alat tubuh, danpembicaraan yang tidak masuk diakal.
Kebanyakan kepercayaan pada global ini selalu mengajarkan buat menghindari darimeminum minuman memabukkan atau minuman keras mengandung alkohol, karenaminuman keras demikian akan mengakibatkan seorang kehilangan kesadarannyadimana bisa menyebabkannya berbuat kriminal sebagaimana telah seringkali dilansirdi aneka macam kabar harian surat informasi. Akibat menurut ketagihan akan minuman kerasdimana sering kehilangan kesadaran dirinya, maka akan menyebabkan seseorang ituterlahir pada alam yg menyedihkan ataupun jika terlahir pada alam manusia akanmemiliki ingatan atau kesadaran jiwa yg lemah.
Selain itu dalamBuddhisme Mahayana juga menjabarkan lebih lanjut pada Sad Paramita yaitu SilaParamita dengan hal-hal yang pantang dilakukan sebagai 10 perbuatan tidak baik(kusala hukuman alam) yg diistilahkan virati (pantangan) sebagaimana tercatat dalamDasabhumika Sutra, Satasaharrika Prajnaparamita dan Maha-Vyutpatti yaitu :
Perbuatan yang pantang buat dilakukan olehTubuh/Badan[kaya]
Yaitu suatuperbuatan yang pantang dilakukan sang anggota tubuh (badan) kita. Terdapat 3(tiga) pantangan yg wajib diperhatikan yaitu pantangan membunuh, pantanganmencuri serta pantangan berjinah.
1. Pantangan membunuh [Pranatipatad-virati]
Pantangan membunuhtersebut bisa dijabarkan dengan tidak membunuh ataupun menyiksa tubuh ataubadan yang mengandung kehidupan [pranin], yg akbar atau yg mini , yangberdosa atau nir berdosa, selama makhluk itu masih hayati [pranin]. Sila inimengajarkan supaya kita selalu mempunyai sifat Cinta Kasih serta Kasih Sayangterhadap seluruh makhluk hidup.
2. Pantangan mencuri [Adattadanad-virati]
Pantangan mencuridapat diartikan bahwa kita tidak boleh mengambil atau memiliki sesuatu apakahberharga ataupun tidak berharga apabila tidak diijinkan oleh pemiliknya.Pelaksanaan Sila ini akan mengakibatkan kita selalu merasa puas terhadap apayang telah kita miliki.
3. Pantangan melakukan perbuatan berjinah[Kamamithayacara-virati]
Pantanganmelakukan perbuatan berjinah bisa diartikan nir melakukan persetubuhandengan pasangan yang bukan adalah suami atau istri sendiri. Sila inimengajarkan supaya kita nir terjerumus dalam hawa nafsu birahi yg rendah.

Perbuatan yg pantang buat dilakukan olehucapan [Vak]
Yaitu suatupantangan perbuatan yang dilakukan melalui ucapan . Terdapat 4 (empat)perbuatan yg pantang dilakukan yaitu pantangan berdusta, pantangan menyebarkanisu yang nir benar, pantangan mengucapkan istilah-istilah kotor, serta pantanganmelakukan pembicaraan yg sia-sia.
4. Pantangan berdusta [Mrsavadad-virati]
Pantangan berdustaberarti kita harus berbicara secara amanah dimana dengan kekuatan kejujurantersebut akan dapat dimanfaatkan buat menghadapi segala rintangan. Sila inimengajarkan supaya kita senantiasa berterus terperinci serta bersikap konsekwenterhadap segala sesuatu yang sudah diucapkan .
5. Pantangan mengembangkan isu yang tidak benar [Paisunyad-virati]
Hal ini berartikita tidak boleh menyebarkan berita-berita yang tidak benar (palsu) dengantujuan merugikan orang lain, menimbulkan pertentangan dan perpecahankelompok/masyarakat. Pelaksanaan Sila ini akan menyebabkan kita senatiasamemiliki sifat toleransi dan kesabaran yang tinggi serta hidup dengan penuhkedamaian.
6. Pantangan mengucapkan istilah-istilah kotor[Parusyad-virati]
Larangan ini dapatdiartikan supaya kita tidak mencaci-maki dengan kata-istilah kasar, kotor, tajam,penuh penghinaan ataupun yg dapat menyinggung perasaan seseorang. Sila inimengajarkan supaya kita dapat bersikap sopan santun, sabar dan penuh kewibawaanserta bijaksana.
7. Pantangan melakukan pembicaraan sia-sia[Sambhinnapralapad-virati]
Artinya segalapembicaraan yang kita lakukan haruslah dipikirkan terlebih dahulu serta tidakmelakukan suatu pembicaraan yg nir bermanfaat. Sila ini mengajarkan agar kitadapat bersikap dewasa serta penuh pengertian.

Perbuatan yang pantang buat dilakukan olehpikiran [Citta]
Yaitu suatu pikiran-pikiranyang buruk dimana tidak kelihatan oleh orang lain, hanya diri kita sendiriyang bisa mengetahuinya. Terdapat tiga (tiga) perbuatan yang pantang dilakukanoleh pikiran yaitu pantang memikirkan nafsu serakah, pantang berniat jahat danpantang berpandangan sesat.
8. Pantangan memikirkan nafsu serakah [Abhidhyaya-virati]
Pantangan inidapat diartikan bahwa kita janganlah memikirkan sesuatu untuk memenuhikeinginan dalam memiliki sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang bukanmerupakan milik/hak kita. Pelaksanaan Sila ini akan mengajarkan kita menghadapirealita hidup ini dengan penuh keyakinan dan kebijaksanaan.
9. Pantangan berniat jahat [Vyapadad-virati]
Pantang berniatjahat bisa diartikan bahwa kita janganlah mempunyai pikiran untuk berbuatjahat sehingga tidak terperangkap dalam niat jahat tersebut yang dapatmendorong kita buat melakukan perbuatan jahat tanpa kita sadari. Sila inimengajarkan agar kita selalu mensucikan pikiran kita menurut segala niat jahatsehingga kita dapat bertindak secara bijaksana.
10. Pantangan berpandangan sesat [Mithyadrster-virati]
Hal ini dapatdiartikan bahwa kita janganlah mempunyai pandangan yang keliru terhadap segalasesuatu. Pelaksanaan Sila ini akan membuat kita tidak terperangkap dalamkesesatan pikiran yang dapat mengakibatkan perbuatan-perbuatan yang tidak baikoleh tubuh dan ucapan .
Selain perbuatan-perbuatan yg seharusnya nir dilakukan atau dimana kitaharus menunda diri dari melakukan perbuatan-perbuatan tadi, maka terdapatjuga beberapa sifat dimana seharusnya kita pancarkan buat kebahagiaan semuamakhluk lantaran akan memperkokoh pelaksanaan Sila-sila tadi di atas, antaralain :
Panca-Dharma atau dikenal juga menjadi Panca Kalyana-Dharma, terdiri menurut:
Sifat Cinta Kasih serta Kasih Sayang [Metta Karuna/Maitri Karuna].
Pencaharian Benar [Samma-Ajiva/SamyakAjiva]. Dalam melakukan pencaharian yang benar ini, haruslah kita ingatbahwa masih ada lima macam perdagangan yang tidak boleh [micchavanija/mithyavanijya], yaitu (a) memperdagangkan senjata [sattha-vanijja/sastra-vanijya]; (b)memperdagangkan makhluk hidup (menjadi germo ataupun memperjual-belikan budak)[satta-vanijja/sattva-vanijya]; (c)memperdagangkan daging [mamsa-vanijja/mamsa-vanijya];(d) memperdagangkan minuman yang memabukkan [majja-vanijja/madya-vanijya]; serta (e) memperdagangkan racun [visa-vanijja/visa vanijya].
Menunjukkan sifat yg tidak mencerminkan nafsu inderarendah [Kamasamvara/Kamasamvara].
Menjunjung tinggi kebenaran baik dalam perbuatan, ucapanataupun pikiran [Sacca/Satya].
Memiliki taraf pencerahan yang sahih [Sati-Sampajanna/Smrti-Samprajnya].
Selain itu, terdapat pula enam sifat baik [Ajjhasaya/Adhiasaya] yang semestinya dikembangkan buat mendukungpelaksanaan Sila, yaitu:
Sifat tidak tamak atau sifat bahagia berdana [Alobha]
Sifat tidak membenci atau senang mendoakan kebahagiaansemua makhluk [Adosa]
Sifat nir ndeso atau bahagia belajar Dharma dimana dapatmembedakan mana yang baik dan mana yang jelek [Amoha]
Sifat nir melekat pada nafsu seksualitas atau senangdalam ketentraman [Naiskramya/Nekkhamma]
Sifat suka akan ketenangan atau bahagia dalam ketentraman[Praviveka/Paviveka]
Sifat yg tertarik dalam Nirvana atau senang berusahaterbebas menurut kelahiran di 31 Alam Kehidupan [Nihsarana/Nissarana].
Bukanlah kelahiran yang berakibat kita itu kudus atau hina, melainkanperbuatanlah yg akan menilai kita itu sebagai kudus atau hina. Ajaran SangBuddha tidak mempermasalahkan kehidupan sebelumnya, tetapi lebih mementingkankehidupan saat ini sebagai cerminan kehidupan sebelumnya serta derap langkah awalkehidupan yang akan tiba. Sehingga dalam kehidupan saat ini, kita haruslahsenantiasa berjuang demi kesucian karena kesalahan seujung rambutpun akankelihatan sebesar mendung hitam.

Sang Buddha bersabda, "Seseorang tidaklah hina karena kelahiran, nir jugakelahiran mengakibatkan seseorang suci. Hanya perbuatan (Sila) yang membuatseseorang menjadi hina, hanya perbuatan yang membuat seorang menjadi kudus." (Sutta Pitaka, 136).
"Bagi orang yg tanpakejahatan, selalu berjuang demi kesucian, kesalahan seujung rambutpun tampaksebesar mendung hitam."(Theragatha, 1001)