TEKNOLOGI INFORMASI DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi 
Realisiasi pemanfaatan TIK di negara Indonesia baru memasuki termin memeriksa buat aneka macam kemungkinan pengembangan dan penerapan TIK (teknologi liputan dan komunikasi). Lebih khusus penggunaan TIK di bidang pendidikan sekarang ini masih belum dikuasai oleh sebagian orang, terlebih bagi energi pendidik dan energi kependidikan pada mengaplikasikan tugas pokok dan manfaatnya. TIK sangat berperan pada teknologi pendidikan, lantaran TIK itu dikembangkan buat mengolah, membagi, berbagi, mendiskusikan dan melahirkan komunikasi. Perkembangan ini berpengaruh akbar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan kegiatan insan yang sekarang banyak bergantung kepada Teknologi Informasi dan Komunikasi. TIK (Teknologi Informasi serta Komunikasi) bagi dunia pendidikan se harusnya berarti tersedianya saluran atau wahana yang bisa dipakai untuk menyiarkan atau mempublikasikan program pendidikan.

Proses pembelajaran merupakan suatu proses penciptaan lingkungan yg memungkinkan terjadinya proses belajar. Belajar pada pengertian aktivitas dari peserta didik (pelajar) pada berinteraksi menggunakan lingkungan yang membentuk perubahan konduite yang bersifat nisbi konstan. Sebagai institusi, sekolah mempunyai mekanisme yang bhineka dalam proses pembelanjaran anggaran di setiap tahunnya. Banyak sekolah yg masih berpikir bahwa fasilitas yg terpenting dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal jika turut diprogramkan adanya infrastruktur TIK maka sebuah sekolah akan memiliki arah yang kentara pada pengembangan TIK. Terbukti banyak sekolah sudah mulai menampilkan fasilitas TIK sebagai nilai jual, terutama bagi sekolah partikelir. Pesatnya perkembangan TIK, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan kabar yang lebih baik pada suatu institusi pendidikan. Di lingkungan persekolahan, pemanfaatan TIK lainnya yaitu diwujudkan pada suatu sistem yg diklaim School Net, Information Communication Technology (ICT), yaitu bertujuan buat mendukung penyelenggaraan serta pengembangan pendidikan sehingga sekolah atau satuan pendidikan dalam umumnya dapat menyediakan dan menyajikan layanan kabar yg lebih baik pada komunitasnya, baik didalam juga diluar institusi tadi melalui internet. Layanan pendidikan lain yg mampu dilaksanakan melalui wahana internet yaitu dengan menyediakan pengembangan materi belajar secara online menurut situs Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional) menggunakan beraneka konten yg bisa diakses oleh siapa saja yg membutuhkan.

Dari hasil-output teknologi kabar serta komunikasi telah banyak membantu manusia buat dapat belajar secara cepat. Dengan demikian selain menjadi bagian berdasarkan kehidupan sehari-hari, teknologi warta dan komunikasi dapat dimanfaatkan buat merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan siswa menggunakan lingkungan dan global kerja. Istilah Teknologi Informasi mulai populer pada akhir tahun 70-an. Pada masa sebelumnya kata Teknologi Informasi biasa dianggap teknologi personal komputer atau pengolahan data elektronis (electronic data processing). Teknologi Informasi serta Komunikasi adalah kajian secara terpadu tentang data, warta, pengolahan, dan metode penyampaiannya. Keterpaduan berarti masing-masing komponen saling terkait bukan merupakan bagian yg terpisah-pisah atau parsial. Kemajuan Teknologi Informasi serta Komunikasi telah mendorong terjadinya poly perubahan, termasuk dalam bidang pendidikan yang melahirkan konsep e-learning. 

Di lapangan energi pendidik hanya banyak disuguhi berbagai diklat, pembinaan menggunakan materi yang berkisar pada kurikulum, pakem (contextual learning), MBS (manajemen berbasis sekolah) serta materi lain yang bekerjasama pribadi dengan tugas guru pada kelas. Jarang ada pelatihan guru yang bersifat pembekalan mengenai suatu ketrampilan atau keahlian khusus, misalnya aplikasi TIK, padahal pembinaan seperti ini tidak kalah krusial dan berguna bagi guru, terutama guru yg masih gagap teknologi. Menurutnya ada beberapa faktor yang berakibat para guru masih gagap TIK, pertama yaitu Lokasi, bagi pengajar yg mengajar pada daerah terpencil, teknologi sophisticated seperti komputer bukanlah sesuatu yang urgen buat dikuasai lantaran kebutuhan buat memakai sangat rendah, ke 2, kesadaran yang asih rendah tentang mengenari ati krusial teknologi buat menunjang profesi guru pada menyelesaikan tugas, ketiga, nir adanya kesempatan serta peluang buat sanggup lebih dekat dengan teknologi canggih.

Persoalan-persoalan intern pendidikan hingga ketika ini masih sebagai momok sekaligus tantangan akbar bangsa Indonesia dan Sulawesi Utara. Mulai menurut sistem kurikulum pendidikan yang diajarkan selama ini, berakibat peserta didik sebagai obyek pasif yg senantiasa siap menerima segala yg diberikan oleh pihak pengajar. Metode pembelajaran semacam itu cenderung memposisikan peserta didik menjadi manusia yang hanya dapat membisu tanpa mempunyai kreativitas dan inovasi apapun. 

Di dalam ilmu komunikasi, syarat semacam ini diibaratkan misalnya teori Peluru yg notabene siswa diidentikan menggunakan komunikan/audience bersikap pasif terhadap respon atau stimulus yang diberikan tanpa adanya respon kembali. Wajar apabila hasil yang diperoleh tidak akan aporisma atapun mengagumkan. Hal ini pula akan berimbas dalam sulit terwujudnya tujuan awal yaitu upaya menaikkan mutu pendidikan, selama ini belum mencapai pada tingkat memadai yang sanggup menaikkan taraf kehidupan rakyat dalam umumnya.

Sesuai menggunakan perkembangan teknologi yg terdapat, pendidik/pengajar pada ketika ini sangat terbantu dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam akhir-akhir ini mengalami perkembangan yg sangat pesat seiring menggunakan perkembangan dan konvergensi yang terjadi dalam teknologi telekomunikasi. Pengajar/pendidik sekarang tidak boleh gaptet (gagap teknologi) dengan median TIK sebab aneka macam teknologi dan pelaksanaan tercipta pada upaya mendukung aktivitas operasional kehidupan insan juga organisasi, termasuk kegiatan belajar mengajar. Dalam hai ini pekembangan serta kemajuan TIK para guru/pendidik sebagai tenaga profesional dituntut supaya dapat menyusun bahan ajar berbasis TIK. TIK adalah keliru satu faktor perubahan dalam menyampaikan kabar, pelaksanaan, serta jua manajemen pengetahuan yg terjadi pada dunia pembelajaran.

Seusuai dengan pridikat pengajar/pendidik sebagai energi profesional dari permintaan profesionalisme setiap guru/pendidik harus menguasai sistem pembelajaran berbasis TIK khususnya pada sekolah. Kebanyakan sekolah masih didominasi oleh kiprah guru (teacher oriented) sebagai sumber pengetahuan bagi peserta didiknya/siswanya. Proses belajar memngajar nmasih dibatasi terselenggara dalam ruang kelas, dan hubungan pembelajaran dalam bentuk transfer pengetahuan berdasarkan guru/pendidik ke siswanya/peserta didik. Sementara perkembangan pengetahuan sangat cepat sudah menciptakan asal belajar pada perpustakaan tidak relatif mengakomodasi proses latihan intelektual murid. Di era komunikasi dunia antar institusi, pakar, dan sumber pembelajaran yang bervariasi, hubungan dapat dilakukan dimana saja serta kapan saja sang siapa saja. Perkembangan pendidikan berbasis TIK (teknologi Informasi serta Komunikasi) bergatung pada infrastruktur dan budaya TIK di rakyat. Dalam kerangka itu, langkah pertama buat pendidikan berbasis TIK merupakan pendidikan berbasis personal komputer . Pada termin ini, personal komputer dipakai buat mengatur dan melaksanakan interaksi proses pendidikan. Selanjutnya, dipakai buat pembelajaran berbantukan personal komputer menggunakan acara tutorial dan simulasi sebagai program yang berdiri sendiri buat pembelajaran mahasiswa. Pendidikan e-supported menawarkan penggunaan TIK menggunakan LAN (local area network) yang dipakai buat skop yg lebih akbar misalnya database kesiswaan, database perpustakaan, database aministrasi, e-learning. Dll.

TEKNOLOGI INFORMASI DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi 
Realisiasi pemanfaatan TIK pada negara Indonesia baru memasuki termin menilik buat aneka macam kemungkinan pengembangan serta penerapan TIK (teknologi warta dan komunikasi). Lebih spesifik penggunaan TIK di bidang pendidikan sekarang ini masih belum dikuasai sang sebagian orang, terlebih bagi energi pendidik dan energi kependidikan pada mengaplikasikan tugas pokok dan fungsinya. TIK sangat berperan pada teknologi pendidikan, karena TIK itu dikembangkan buat mengolah, membagi, berbagi, mendiskusikan dan melahirkan komunikasi. Perkembangan ini berpengaruh akbar terhadap aneka macam aspek kehidupan, bahkan konduite dan aktivitas manusia yg kini poly bergantung pada Teknologi Informasi serta Komunikasi. TIK (Teknologi Informasi serta Komunikasi) bagi global pendidikan se harusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yg bisa digunakan buat menyiarkan atau mempublikasikan acara pendidikan.

Proses pembelajaran merupakan suatu proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Belajar pada pengertian kegiatan menurut peserta didik (pelajar) pada berinteraksi dengan lingkungan yg membuat perubahan konduite yang bersifat relatif kontinu. Sebagai institusi, sekolah mempunyai mekanisme yg bhineka dalam proses pembelanjaran anggaran pada setiap tahunnya. Banyak sekolah yg masih berpikir bahwa fasilitas yang terpenting dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal apabila turut diprogramkan adanya infrastruktur TIK maka sebuah sekolah akan memiliki arah yang jelas dalam pengembangan TIK. Terbukti banyak sekolah sudah mulai menampilkan fasilitas TIK menjadi nilai jual, terutama bagi sekolah swasta. Pesatnya perkembangan TIK, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Di lingkungan persekolahan, pemanfaatan TIK lainnya yaitu diwujudkan pada suatu sistem yg dianggap School Net, Information Communication Technology (ICT), yaitu bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan serta pengembangan pendidikan sebagai akibatnya sekolah atau satuan pendidikan pada umumnya bisa menyediakan serta menyajikan layanan informasi yang lebih baik pada komunitasnya, baik didalam maupun diluar institusi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang mampu dilaksanakan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan pengembangan materi belajar secara online berdasarkan situs Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional) menggunakan beraneka konten yg dapat diakses sang siapa saja yang membutuhkan.

Dari output-output teknologi keterangan serta komunikasi sudah banyak membantu manusia buat bisa belajar secara cepat. Dengan demikian selain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi keterangan dan komunikasi bisa dimanfaatkan buat merevitalisasi proses belajar yg pada akhirnya bisa mengadaptasikan siswa dengan lingkungan serta global kerja. Istilah Teknologi Informasi mulai terkenal pada akhir tahun 70-an. Pada masa sebelumnya kata Teknologi Informasi biasa disebut teknologi personal komputer atau pengolahan data elektronis (electronic data processing). Teknologi Informasi serta Komunikasi merupakan kajian secara terpadu mengenai data, keterangan, pengolahan, serta metode penyampaiannya. Keterpaduan berarti masing-masing komponen saling terkait bukan merupakan bagian yg terpisah-pisah atau parsial. Kemajuan Teknologi Informasi serta Komunikasi sudah mendorong terjadinya banyak perubahan, termasuk dalam bidang pendidikan yang melahirkan konsep e-learning. 

Di lapangan tenaga pendidik hanya poly disuguhi aneka macam diklat, training menggunakan materi yg berkisar pada kurikulum, pakem (contextual learning), MBS (manajemen berbasis sekolah) dan materi lain yg berhubungan pribadi dengan tugas pengajar di kelas. Jarang terdapat pelatihan pengajar yang bersifat pembekalan mengenai suatu ketrampilan atau keahlian khusus, contohnya aplikasi TIK, padahal pelatihan misalnya ini tidak kalah krusial serta berguna bagi guru, terutama pengajar yg masih gagap teknologi. Menurutnya ada beberapa faktor yang menjadikan para pengajar masih gagap TIK, pertama yaitu Lokasi, bagi pengajar yang mengajar pada wilayah terpencil, teknologi canggih misalnya komputer bukanlah sesuatu yg urgen untuk dikuasai lantaran kebutuhan buat menggunakan sangat rendah, kedua, kesadaran yang asih rendah tentang mengenari ati krusial teknologi buat menunjang profesi pengajar pada menuntaskan tugas, ketiga, nir adanya kesempatan serta peluang buat sanggup lebih dekat dengan teknologi canggih.

Persoalan-problem intern pendidikan sampai saat ini masih sebagai momok sekaligus tantangan akbar bangsa Indonesia dan Sulawesi Utara. Mulai menurut sistem kurikulum pendidikan yang diajarkan selama ini, membuahkan siswa menjadi obyek pasif yang senantiasa siap mendapat segala yg diberikan oleh pihak pengajar. Metode pembelajaran semacam itu cenderung memposisikan siswa sebagai insan yg hanya bisa membisu tanpa memiliki kreativitas serta inovasi apapun. 

Di pada ilmu komunikasi, syarat semacam ini diibaratkan misalnya teori Peluru yang notabene siswa diidentikan dengan komunikan/audience bersikap pasif terhadap respon atau stimulus yg diberikan tanpa adanya respon pulang. Wajar jika output yang diperoleh nir akan maksimal atapun rupawan. Hal ini jua akan berimbas dalam sulit terwujudnya tujuan awal yaitu upaya meningkatkan mutu pendidikan, selama ini belum mencapai dalam tingkat memadai yg mampu menaikkan taraf kehidupan masyarakat dalam umumnya.

Sesuai dengan perkembangan teknologi yang terdapat, pendidik/guru pada waktu ini sangat terbantu menggunakan Teknologi Informasi serta Komunikasi (TIK) dalam akhir-akhir ini mengalami perkembangan yg sangat pesat seiring dengan perkembangan serta konvergensi yang terjadi dalam teknologi telekomunikasi. Pengajar/pendidik sekarang nir boleh gaptet (gagap teknologi) menggunakan median TIK karena berbagai teknologi dan aplikasi tercipta dalam upaya mendukung aktivitas operasional kehidupan manusia juga organisasi, termasuk aktivitas belajar mengajar. Dalam hai ini pekembangan serta kemajuan TIK para guru/pendidik sebagai energi profesional dituntut agar dapat menyusun materi ajar berbasis TIK. TIK adalah keliru satu faktor perubahan dalam mengungkapkan warta, aplikasi, dan pula manajemen pengetahuan yg terjadi pada dunia pembelajaran.

Seusuai dengan pridikat guru/pendidik sebagai energi profesional dari permintaan profesionalisme setiap guru/pendidik harus menguasai sistem pembelajaran berbasis TIK khususnya di sekolah. Kebanyakan sekolah masih didominasi oleh kiprah pengajar (teacher oriented) menjadi asal pengetahuan bagi peserta didiknya/siswanya. Proses belajar memngajar nmasih dibatasi terselenggara pada ruang kelas, serta interaksi pembelajaran pada bentuk transfer pengetahuan berdasarkan guru/pendidik ke siswanya/siswa. Sementara perkembangan pengetahuan sangat cepat sudah menciptakan asal belajar di perpustakaan tidak relatif mengakomodasi proses latihan intelektual murid. Di era komunikasi global antar institusi, pakar, serta sumber pembelajaran yg bervariasi, interaksi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja sang siapa saja. Perkembangan pendidikan berbasis TIK (teknologi Informasi serta Komunikasi) bergatung dalam infrastruktur serta budaya TIK pada warga . Dalam kerangka itu, langkah pertama buat pendidikan berbasis TIK adalah pendidikan berbasis personal komputer . Pada termin ini, komputer digunakan buat mengatur serta melaksanakan hubungan proses pendidikan. Selanjutnya, digunakan buat pembelajaran berbantukan komputer menggunakan program tutorial dan simulasi menjadi acara yg berdiri sendiri buat pembelajaran mahasiswa. Pendidikan e-supported menunjukkan penggunaan TIK dengan LAN (local area network) yg digunakan buat skop yg lebih akbar misalnya database kesiswaan, database perpustakaan, database aministrasi, e-learning. Dll.

TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM PENDIDIKAN

Teknologi Komunikasi Dan Informasi Dalam Pendidikan
Perkembangan teknologi keterangan serta komunikasi (TIK) telah menaruh pengaruh terhadap global pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK terdapat 5 pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) menurut training ke penampilan, (dua) dari ruang kelas ke di mana serta kapan saja, (3) berdasarkan kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (lima) dari saat siklus ke waktu konkret. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan menggunakan menggunakan media-media komunikasi misalnya telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara pengajar dan anak didik tidak hanya dilakukan melalui interaksi tatap muka tetapi juga dilakukan menggunakan menggunakan media-media tersebut. Guru bisa memberikan layanan tanpa wajib berhadapan eksklusif menggunakan siswa. Demikian jua anak didik dapat memperoleh kabar dalam lingkup yang luas menurut banyak sekali sumber melalui cyber space atau ruang maya menggunakan memakai personal komputer atau internet. Hal yang paling terkini merupakan berkembangnya apa yang diklaim “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pedagogi yang dilakukan menggunakan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper waktu ini artinya e-learning yaitu satu model pembelajaran menggunakan memakai media teknologi komunikasi dan warta khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning adalah satu penggunaan teknologi internet pada penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan 3 kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan buat memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau liputan, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui personal komputer dengan memakai teknologi internet yg standar, (3) memfokuskan dalam pandangan yg paling luas tentang pembelajaran di pulang kerangka berpikir pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning telah berkembang pada banyak sekali contoh pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb. 

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan pada ambang abad 21. Kehadirannya sudah memberikan efek yg relatif akbar terhadap kehidupan umat manusia pada aneka macam aspek dan dimensi. Internet adalah keliru satu instrumen dalam era globalisasi yg telah membuahkan global ini sebagai transparan serta terhubungkan menggunakan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia dunia buat memperoleh fakta dalam aneka macam bidang serta pada glirannya akan menaruh efek dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir sudah terjadi revolusi internet di aneka macam negara dan penggunaannya dalam aneka macam bidang kehidupan. Keberadaan internet dalam masa sekarang telah merupakan satu kebutuhan pokok insan modern dalam menghadapi aneka macam tantangan perkembangan global. Kondisi ini telah tentu akan memberikan efek terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat insan secara holistik. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yg ingin lestari pada menghadapi tantangan dunia, perlu menaikkan kualitas dirinya buat beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK sudah membarui wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai menggunakan hubungan tatap muka antara pengajar dengan siswa baik pada kelas maupun pada luar kelas. 

Di masa-masa mendatang, arus keterangan akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global pada seluruh global serta menuntut siapapun buat menyesuaikan diri menggunakan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat nir dapat terlepas berdasarkan keberadaan personal komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan pada tema "Asia in the New Millenium" yg menaruh citra aneka macam kesamaan perkembangan yang akan terjadi pada Asia dalam banyak sekali aspek misalnya ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. Termasuk pada dalamnya imbas revolusi internet dalam aneka macam dimensi kehidupan. Salah satu goresan pena yg berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul "Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam goresan pena tadi dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh tidak sinkron dengan ruang kelas misalnya sekarang ini yaitu dalam bentuk misalnya laboratorium personal komputer pada mana tidak masih ada lagi format anak duduk di bangku dan pengajar berada pada depan kelas. Ruang kelas di masa yg akan tiba diklaim sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" menjadi tempat anak-anak melakukan kegiatan pembelajaran secara individual maupun grup menggunakan pola belajar yg disebut "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan menggunakan personal komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet buat memperoleh materi belajar menurut aneka macam sumber belajar. Anak akan melakukan aktivitas belajar yang sesuai menggunakan syarat kemampuan individualnya sehingga anak yg lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai menggunakan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yg lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sinkron dengan kondisi lingkungan serta syarat anak sebagai akibatnya memberikan peluang buat terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik pada dimensi saat juga ruang dan materi. Dalam situasi misalnya ini, guru bertindak menjadi fasilitator pembelajaran sesuai dengan kiprah-kiprah sebagaimana dikemukakan di atas. 

Dalam goresan pena itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-kitab dan alat tulis seperti kini ini, akan namun berupa: (1) personal komputer notebook menggunakan akses internet tanpa kabel, yg bermuatan materi-materi belajar yg berupa bahan bacaan, materi buat ditinjau atau didengar, serta dilengkapi dengan kamera digital dan perekam suara, (2) Jam tangan yg dilengkapi menggunakan data langsung, uang elektronika, kode sekuriti buat masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan software, akses internet, permainan, musik, serta TV, (4) indera-indera musik, (5) alat olah raga, serta (6) bingkisan buat makan siang. Hal itu memperlihatkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah pada masa itu nanti berupa perlengkapan yg bernuansa internet menjadi alat bantu belajar. 

Meskipun teknologi fakta komunikasi pada bentuk komputer dan internet sudah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif serta produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan serta kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah menggunakan internetnya itu sendiri dibandingkan menggunakan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yg terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek warta yg diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan liputan berdasarkan internet sehingga sangat berbahaya bila anak kurang mempunyai sikap kritis terhadap warta yg diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yg kurang proporsional bisa mengabaikan peningkatan kemampuan yg bersifat manual misalnya menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu mempunyai kemampuan pada mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian juga perlunya kerjasama yg baik dengan orang tua buat membimbing anak-anak belajar di tempat tinggal masing-masing.

Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk bisa memanfaatkan TIK pada memperbaiki mutu pembelajaran, terdapat tiga hal yang wajib diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus mempunyai akses kepada teknologi digital serta internet pada kelas, sekolah, dan forum pendidikan guru, (2) wajib tersedia materi yang berkualitas, bermakna, serta dukungan kultural bagi siswa dan pengajar, serta (tiga) pengajar harus memilikio pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan asal-sumber digital buat membantu siswa supaya mencaqpai standar akademik. Sejalan menggunakan pesatnya perkembangan TIK, maka sudah terjadi pergeseran pandangan mengenai pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa kemudian (serta masih ada pada masa sekarang), proses pembelajaran dilihat sebagai: (1) sesuatu yg sulit serta berat, (dua) upoaya mengisi kekurangan siswa, (tiga) satu proses transfer serta penerimaan keterangan, (4) proses individual atau soliter, (lima) kegiatan yg dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan mini serta terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif serta pasif, (4) proses linear serta atau nir linear, (5) proses yg berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur murid, (7) aktivitas yg dievaluasi menurut pemenuhan tugas, perolehan output, dan pemecahan masalah konkret baik individual maupun gerombolan .

Hal itu telah menguban kiprah pengajar serta siswa pada pembelajaran. Peran pengajar telah berubah menurut: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber primer fakta, akhli materi, serta sumber segala jawaban, menjadi menjadi fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan kawan belajar; (dua) berdasarkan mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih poly menaruh lebih poly alternatif serta tanggung jawab pada setiap anak didik dalam proses pembelajaran. Sementara itu kiprah murid dalam pembelajaran sudah mengalami perubahan yaitu: (1) menurut penerima keterangan yg pasif sebagai partisipan aktif pada proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan pulang pengetahuan menjadi menghasilkan dan aneka macam pengetahuan, (3) berdasarkan pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif menggunakan siswa lain. 

Lingkungan pembelajaran yang pada masa kemudian berpusat pada guru sudah bergesar menjadi berpusat pada siswa. Secara rinci bisa digambarkan sebagai berikut:
Lingkungan
Berpusat dalam guru
Berpusat pada siswa
Aktivitas kelas
Guru menjadi sentral dan bersifat didaktis
Siswa menjadi sentral dan bersifat interaktif
Peran guru
Menyampaikan warta-kabar, guru sebagai akhli
Kolaboratif, kadang-kadang siswa menjadi akhli
Penekanan pengajaran
Mengingat informasi-fakta
Hubungan antara informasi serta temuan
Konsep pengetahuan
Akumujlasi keterangan secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman , evaluasi acuan patokan
Penilaian
Soal-soal pilihan berganda
Protofolio, pemecahan kasus, serta penampilan
Penggunaan teknologi
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kerja sama, ekspresi
Kreativitas dan kemandirian belajar

Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang relatif berarti terhadap proses serta output pembelajaran baik di kelas maupun pada luar kelas. TIK sudah memungkinkan terjadinya individuasi, percepatan, pengayaan, ekspansi, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yg pada gilirannya akan mempertinggi kualitas pendidikan menjadi infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap murid akan terangsang buat belajar maju berkelanjutan sinkron dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Pembelajaran menggunakan memakai TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan menyebarkan seluruh potensi yang dimilikinya.. 

Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern pada abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan buat mampu beradaptasi menggunakan aneka macam tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hayati ini menggunakan beberapa alasan antara lain: pertama, kreativitas menaruh peluang bagi individu buat mengaktualisasikan dirinya, ke 2, kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan kasus, ketiga, kreativitas bisa menaruh kepuasan hayati, dan keempat, kreativitas memungkinkan insan menaikkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yg memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai menggunakan motivasi yg bertenaga, rasa ingin tahu, tertarik menggunakan tugas beragam, berani menghadapi resiko, nir mudah putus harapan, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, bisa ditransformasikan, dan bisa dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diharapkan pada kehidupan yg penuh tantangan ini sebab kemandirian adalah kunci utama bagi individu buat mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan pada kehidupannya. Kemandirian didukung menggunakan kualitas langsung yg ditandai dengan dominasi kompetensi eksklusif, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif pada berfikir dan bertindak, sanggup mengendalikan dirinya, serta mempunyai komitmen yang kuat terhadap banyak sekali hal.

Dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik kreativitas serta kemandirian tersebut, maka bisa dikatakan bahwa TIK menaruh peluang buat berkembangnya kreativitas serta kemandirian anak didik. Pembelajaran menggunakan dukungan TIK memungkinkan bisa membentuk karya-karya baru yg orsinil, mempunyai nilai yg tinggi, dan bisa dikembangkan lebih jauh buat kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh banyak sekali berita dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga mempertinggi wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yg kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri juga terhadap pihak lain. 

Peran guru
Semua hal itu nir akan terjadi menggunakan sendirinya karena setiap murid mempunyai kondisi yg tidak sama antara satu menggunakan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun menurut orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran menggunakan dukungan TIK. Dalam kaitan ini pengajar memegang peran yang amat krusial serta harus menguasai seluk beluk TIK serta yang lebih krusial lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi fakta wajib bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah kiprah-kiprah tertentu, karena pengajar bukan satu-satunya asal berita melainkan hanya keliru satu asal informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. Dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang kiprah-kiprah guru mengalami perluasan yaitu guru menjadi: instruktur (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, serta pengarang. Sebagai instruktur (coaches), pengajar wajib menaruh peluang yang sebanyak-besarnya bagi anak didik buat mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai menggunakan syarat masing-masing. Pengajar hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja serta tidak memberikan satu cara yg mutlak. Hal ini adalah analogi pada bidang olah raga, pada mana pelatih hanya menaruh petunjuk dasar-dasar permainan, ad interim pada permainan itu sendiri para pemain akan menyebarkan kiat-kiatnya sinkron menggunakan kemampuan dan syarat yg ada. Sebagai konselor, pengajar harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana murid melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif serta tidak ada jeda yang kaku menggunakan pengajar. Disamping itu, pengajar dibutuhkan bisa tahu kondisi setiap anak didik serta membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru mempunyai kemandirian dan swatantra yg seluas-luasnya pada mengelola keseluruhan aktivitas belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh asal-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi pula berperilaku belajar menurut interaksinya menggunakan anak didik. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi beliau sebagai fasilitator pembelajaran murid. Sebagai pemimpin, diperlukan guru bisa sebagai seorang yg mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan beserta. Disamping sebagai pengajar, guru wajib mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab pada aneka macam kegiatan lain pada luiar mengajar. Sebagai pembelajar, pengajar harus secara terus menerus belajar pada rangka menyegarkan kompetensinya dan menaikkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, pengajar wajib selalu kreatif dan inovatif membentuk aneka macam karya yg akan dipakai buat melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang berdikari bukan sebagai tukang atau teknisi yg harus mengikuti satu buku petunjuk yg standar, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang sanggup membuat banyak sekali karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu wajib didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yg tinggi menjadi basis kualitas profesionaliemenya.

TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM PENDIDIKAN

Teknologi Komunikasi Dan Informasi Dalam Pendidikan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah memberikan efek terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran pada proses pembelajaran yaitu: (1) menurut training ke penampilan, (2) menurut ruang kelas ke pada mana serta kapan saja, (tiga) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (lima) dari saat siklus ke ketika nyata. Komunikasi menjadi media pendidikan dilakukan menggunakan memakai media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui interaksi tatap muka tetapi pula dilakukan menggunakan menggunakan media-media tersebut. Pengajar dapat menaruh layanan tanpa harus berhadapan eksklusif menggunakan siswa. Demikian pula anak didik bisa memperoleh berita dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yg paling terkini adalah berkembangnya apa yg diklaim “cyber teaching” atau pedagogi maya, yaitu proses pengajaran yg dilakukan menggunakan memakai internet. Istilah lain yang makin poluper waktu ini merupakan e-learning yaitu satu model pembelajaran menggunakan memakai media teknologi komunikasi serta keterangan khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran pada jangkauan luas yg belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi bahan ajar atau warta, (dua) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui personal komputer dengan menggunakan teknologi internet yg standar, (tiga) memfokuskan dalam pandangan yg paling luas tentang pembelajaran pada balik paradigma pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning sudah berkembang pada berbagai contoh pembelajaran yang berbasis TIK misalnya: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb. 

Satu bentuk produk TIK merupakan internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan pada ambang abad 21. Kehadirannya sudah menaruh dampak yang relatif besar terhadap kehidupan umat insan pada banyak sekali aspek serta dimensi. Internet merupakan galat satu instrumen dalam era globalisasi yg sudah menjadikan dunia ini menjadi transparan serta terhubungkan dengan sangat mudah serta cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia dunia buat memperoleh informasi pada berbagai bidang serta pada glirannya akan memberikan dampak dalam holistik perilakunya. Dalam kurun ketika yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir sudah terjadi revolusi internet pada aneka macam negara serta penggunaannya dalam banyak sekali bidang kehidupan. Keberadaan internet dalam masa kini telah merupakan satu kebutuhan pokok insan modern pada menghadapi banyak sekali tantangan perkembangan dunia. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan impak terhadap corak serta pola-pola kehidupan umat insan secara holistik. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yg ingin lestari pada menghadapi tantangan global, perlu menaikkan kualitas dirinya buat beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah membarui paras pembelajaran yang berbeda menggunakan proses pembelajaran tradisional yg ditandai menggunakan interaksi tatap muka antara pengajar dengan anak didik baik di kelas juga pada luar kelas. 

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin semakin tinggi melalui jaringan internet yg bersifat dunia di semua global dan menuntut siapapun buat menyesuaikan diri menggunakan kesamaan itu jikalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat nir bisa terlepas dari keberadaan personal komputer serta internet sebagai indera bantu primer. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 sudah menurunkan goresan pena-goresan pena pada tema "Asia in the New Millenium" yg menaruh citra banyak sekali kecenderungan perkembangan yg akan terjadi di Asia pada berbagai aspek seperti ekonomi, politik, kepercayaan , sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. Termasuk pada dalamnya pengaruh revolusi internet pada banyak sekali dimensi kehidupan. Salah satu goresan pena yang berkenaan menggunakan global pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo menggunakan judul "Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas pada era millenium yg akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti kini ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak masih ada lagi format anak duduk di bangku dan pengajar berada pada depan kelas. Ruang kelas pada masa yg akan datang dianggap sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" menjadi loka anak-anak melakukan kegiatan pembelajaran secara individual maupun grup menggunakan pola belajar yg diklaim "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer serta internet. Anak-anak berhadapan menggunakan komputer serta melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet buat memperoleh materi belajar berdasarkan aneka macam asal belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan syarat kemampuan individualnya sebagai akibatnya anak yg lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yg lebih elastis atau lunak serta fleksibel sinkron menggunakan kondisi lingkungan serta kondisi anak sehingga menaruh peluang buat terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik pada dimensi ketika maupun ruang serta materi. Dalam situasi seperti ini, pengajar bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan pada atas. 

Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa pada masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi kitab -kitab serta indera tulis seperti kini ini, akan namun berupa: (1) komputer notebook menggunakan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dipandang atau didengar, dan dilengkapi menggunakan kamera digital serta perekam suara, (dua) Jam tangan yg dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti buat masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku menggunakan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) indera-indera musik, (5) indera olah raga, serta (6) bingkisan buat makan siang. Hal itu menerangkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah pada masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai indera bantu belajar. 

Meskipun teknologi liputan komunikasi dalam bentuk personal komputer dan internet sudah terbukti poly menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih poly kelemahan serta kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan menggunakan materi yg dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yg terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek berita yg diperoleh, nir terjamin adanya ketepatan fakta dari internet sebagai akibatnya sangat berbahaya jika anak kurang mempunyai perilaku kritis terhadap informasi yg diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yg kurang proporsional bisa mengabaikan peningkatan kemampuan yg bersifat manual misalnya menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam interaksi ini guru perlu memiliki kemampuan pada mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian jua perlunya kerjasama yang baik menggunakan orang tua buat membimbing anak-anak belajar pada tempat tinggal masing-masing.

Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk bisa memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yg harus diwujudkan yaitu (1) anak didik serta pengajar wajib mempunyai akses pada teknologi digital serta internet dalam kelas, sekolah, dan forum pendidikan guru, (dua) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi anak didik serta pengajar, serta (3) pengajar harus memilikio pengetahuan serta ketrampilan pada menggunakan alat-indera serta sumber-sumber digital buat membantu siswa agar mencaqpai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik pada kelas juga di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa kemudian (serta terdapat pada masa sekarang), proses pembelajaran dilihat sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upoaya mengisi kekurangan anak didik, (tiga) satu proses transfer serta penerimaan berita, (4) proses individual atau soliter, (lima) kegiatan yg dilakukan menggunakan menjabarkan bahan ajar pada satuan-satuan kecil serta terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan menggunakan perkembangan TIK sudah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran menjadi: (1) proses alami, (dua) proses sosial, (3) proses aktif serta pasif, (4) proses linear serta atau tidak linear, (5) proses yg berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yg berbasis dalam contoh kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur anak didik, (7) aktivitas yg dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan perkara nyata baik individual juga grup.

Hal itu telah menguban peran guru dan siswa pada pembelajaran. Peran guru sudah berubah dari: (1) menjadi penyampai pengetahuan, sumber primer informasi, akhli materi, dan asal segala jawaban, menjadi menjadi fasilitator pembelajaran, instruktur, kolaborator, navigator pengetahuan, serta mitra belajar; (dua) berdasarkan mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih poly memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab pada setiap anak didik pada proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa pada pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) berdasarkan penerima liputan yang pasif sebagai partisipan aktif pada proses pembelajaran, (dua) berdasarkan menyampaikan balik pengetahuan sebagai membuat dan aneka macam pengetahuan, (tiga) berdasarkan pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) sebagai pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain. 

Lingkungan pembelajaran yang pada masa kemudian berpusat dalam pengajar telah bergesar menjadi berpusat pada murid. Secara rinci bisa digambarkan sebagai berikut:
Lingkungan
Berpusat pada guru
Berpusat dalam siswa
Aktivitas kelas
Guru sebagai sentral serta bersifat didaktis
Siswa menjadi sentral dan bersifat interaktif
Peran guru
Menyampaikan liputan-fakta, pengajar menjadi akhli
Kolaboratif, kadang-kadang murid menjadi akhli
Penekanan pengajaran
Mengingat liputan-fakta
Hubungan antara informasi dan temuan
Konsep pengetahuan
Akumujlasi fakta secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman , penilaian acuan patokan
Penilaian
Soal-soal pilihan berganda
Protofolio, pemecahan kasus, dan penampilan
Penggunaan teknologi
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kerja sama, ekspresi
Kreativitas dan kemandirian belajar

Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK memiliki pengaruh yg relatif berarti terhadap proses dan output pembelajaran baik pada kelas juga di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, percepatan, pengayaan, perluasan, efektivitas serta produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan menaikkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara holistik. Melalui penggunaan TIK setiap murid akan terangsang buat belajar maju berkelanjutan sesuai menggunakan potensi serta kecakapan yg dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sebagai akibatnya memungkinkan mengembangkan semua potensi yg dimilikinya.. 

Dalam menghadapi tantangan kehidupan terkini di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diharapkan buat bisa menyesuaikan diri dengan banyak sekali tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hayati ini dengan beberapa alasan diantaranya: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya, ke 2, kreativitas memungkinkan orang bisa menemukan aneka macam alternatif dalam pemecahan perkara, ketiga, kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia menaikkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang mempunyai kelancaran, keluwesan, keaslian, serta perincian. Sedangkan berdasarkan segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yg bertenaga, rasa ingin memahami, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, nir gampang putus harapan, menghargai estetika, mempunyai rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri serta orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai menggunakan orisinalitas, mempunyai nilai, bisa ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini karena kemandirian adalah kunci primer bagi individu buat bisa mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas langsung yang ditandai menggunakan penguasaan kompetensi eksklusif, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan mempunyai komitmen yg kuat terhadap banyak sekali hal.

Dengan memperhatikan ciri-karakteristik kreativitas dan kemandirian tadi, maka bisa dikatakan bahwa TIK memberikan peluang buat berkembangnya kreativitas serta kemandirian anak didik. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan bisa membuat karya-karya baru yg orsinil, mempunyai nilai yg tinggi, dan bisa dikembangkan lebih jauh buat kepentingan yg lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh aneka macam fakta dalam lingkup yg lebih luas serta mendalam sebagai akibatnya menaikkan wawasannya. Hal ini adalah rangsangan yg kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama pada hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, serta komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. 

Peran guru
Semua hal itu tidak akan terjadi menggunakan sendirinya lantaran setiap siswa memiliki syarat yg berbeda antara satu menggunakan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik berdasarkan guru juga dari orang tuanya pada melakukan proses pembelajaran menggunakan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang kiprah yang amat penting serta harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih krusial lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi warta harus bergeser menjadi manajer pembelajaran menggunakan sejumlah peran-kiprah tertentu, lantaran pengajar bukan satu-satunya asal kabar melainkan hanya keliru satu sumber liputan. Dalam bukunya yg berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. Dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-kiprah pengajar mengalami perluasan yaitu pengajar sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, serta pengarang. Sebagai pelatih (coaches), pengajar harus memberikan peluang yg sebesar-besarnya bagi anak didik buat mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai menggunakan kondisi masing-masing. Pengajar hanya menaruh prinsip-prinsip dasarnya saja serta nir menaruh satu cara yg mutlak. Hal ini merupakan analogi pada bidang olah raga, pada mana pelatih hanya menaruh petunjuk dasar-dasar permainan, ad interim pada permainan itu sendiri para pemain akan berbagi kiat-kiatnya sinkron dengan kemampuan serta kondisi yg ada. Sebagai konselor, guru harus sanggup membangun satu situasi hubungan belajar-mengajar, pada mana murid melakukan konduite pembelajaran pada suasana psikologis yg kondusif dan nir terdapat jarak yang kaku menggunakan pengajar. Disamping itu, pengajar diperlukan bisa tahu syarat setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, pengajar memiliki kemandirian serta swatantra yg seluas-luasnya pada mengelola keseluruhan aktivitas belajar-mengajar dengan mendinamiskan semua sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, pengajar tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi jua berperilaku belajar dari interaksinya menggunakan anak didik. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya asal belajar bagi anak, akan namun beliau menjadi fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yg sanggup menggerakkan orang lain buat mewujudkan konduite menuju tujuan bersama. Disamping sebagai guru, guru wajib mendapat kesempatan buat mewujudkan dirinya menjadi pihak yg bertanggung jawab pada banyak sekali aktivitas lain pada luiar mengajar. Sebagai pembelajar, pengajar harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta menaikkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, pengajar harus selalu kreatif serta inovatif membuat berbagai karya yg akan dipakai untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Pengajar yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang standar, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yg bisa menghasilkan aneka macam karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu wajib didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yg tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.

PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI TIK

Pengertian Dan Perkembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK)
TIK merupakan berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa serta teknik pengelolaan yang digunakan pada pengendalian serta pemrosesan berita serta penggunaannya, personal komputer dan interaksi mesin (komputer) serta manusia, serta hal yang berkaitan dengan sosial, ekonomi dan kebudayaan [British Advisory Council for applied Research and Development: Report on Information Technology; H.M. Stationery Office, 1980). Definisi lain tentang TIK yaitu semua bentuk teknologi yang terlibat dalam pengumpulan, memanipulasi, komunikasi, presentasi dan memakai data (data yg ditransformasi sebagai informasi) [E.W. Martin et al. 1994. Managing Information Technology: What Managers Need to Know. New York :Prentice Hall].

Teknologi informasi merupakan suatu teknologi yg dipakai untuk memasak data, termasuk memproses, menerima, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara buat membuat berita yg berkualitas, yaitu informasi yg relevan, seksama serta tepat saat, yang dipakai buat keperluan eksklusif, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan keterangan yang strategis buat mengambil keputusan. Teknologi komunikasi adalah perluasan dari ilmu komunikasi dengan basis teknologi misalnya wireless, internet, faximille, personal komputer dan sebagainya. Dengan adanya teknologi tadi diperlukan tidak terdapat lagi batasan ketika/jeda dalam berkomunikasi. Teknologi keterangan serta teknologi komunikasi tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mendukung. Peran yg dapat diberikan oleh aplikasi teknologi keterangan serta teknologi komunikasi ini merupakan mendapatkan informasi untuk kehidupan langsung misalnya liputan tentang kesehatan, hobi, rekreasi serta rohani. Kemudian buat profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, kabar, usaha, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara eksklusif atau gerombolan yang satu menggunakan eksklusif atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak serta waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yg bisa Mengganggu bertukar pikiran.

Internet merupakan jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar pada semua dunia. Jaringan ini mencakup jutaan pesawat personal komputer yang terhubung satu menggunakan yg lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon ( baik kabel maupun gelombang elektromagnetik). Jaringan jutaan personal komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer pada jaringan internet menggunakan dukungan aplikasi dan hardware yang diperlukan. Untuk bergabung pada jaringan ini, satu pihak ( pada hal ini provider ) wajib memiliki acara aplikasi serta bank data yang menyediakan liputan serta data yang dapat pada akses sang pihak lain yg tergabung dalam internet. Pihak yg sudah tergabung pada jaringan ini akan mempunyai alamat tersendiri ( bagaikan nomor telepon ) yang bisa dihubungi melalui jaringan internet. Provider inilah yg sebagai server bagi pihak-pihak yg mempunyai personal komputer ( PC ) buat sebagai pelanggan ataupun buat mengakses internet.

1. Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK )
Di dunia pendidikan, poly sekali lembaga pendidikan yg telah berhasil menyebarkan Teknologi Informasi serta Komunikasi dalam mendukung proses pembelajarannya. Dunia, saat ini sedang memasuki era yang ditandai menggunakan gencarnya inovasi teknologi dan peluang ekonomi yg belum pernah terbayangkan sebelumnya. Perubahan-perubahan besar terjadi dalam bidang teknologi, politik, sosial serta ekonomi. Segala perubahan ini telah menyebabkan terjadinya pergeseran dalam aneka macam bidang yang antara lain adalah; 
a. Masyarakat industri ke masyarakat fakta (kita masih berkutat menurut masyarakat agraris ke rakyat industri)
b. Teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi (hi-tech).
c. Ekonomi nasional ke perekonomian global.
d. Kebutuhan jangka pendek ke jangka panjang.
e. Sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi.
f. Bantuan ke lembagaan berpindah ke swakarsa.ari pola hirarchi ke jaringan kerja (networking).
g. Dari pilihan terbatas ke banyak pilihan 

Dalam global pendidikan, keberadaan sistem informasi serta komunikasi adalah salah satu komponen yg nir dapat dipisahkan berdasarkan kegiatan pendidikan. Dalam sebuah lembaga pendidikan wajib memiliki komponen-komponen yang diharapkan untuk menjalankan operasional pendidikan, seperti siswa, sarana dan prasarana, struktur organisasi, proses, asal daya insan (energi pendidik), dan porto operasi. Sedangkan sistem komunikasi dan keterangan terdiri dari komponen-komponen pendukung forum pendidikan buat menyediakan informasi yg diharapkan pihak pengambil keputusan waktu melakukan aktivitas pendidikan (PUSTEKKOM,2006). 

Peran-Peran TIK dalam global pendidikan : 
a. TIK sebagai keterampilan (skill) dan kompetensi.
b. TIK menjadi infratruktur pedidikan.
c. TIK sebagai sumber materi ajar.
d. TIK menjadi alat bantu dan fasilitas pendidikan.
e. TIK menjadi pendukung manajemen pendidikan.
f. TIK menjadi sistem pendukung keputusan 

2. Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK )
Pemanfaatan TIK, akan mengatasi masalah menjadi berikut:
a. Masalah geografis, ketika dan sosial ekonomis Indonesia.
b. Negara Republik Indonesia adalah Negara kepulauan, wilayah tropis serta pegunungan hal ini akan menghipnotis terhadap pengembangan infrastruktur pendidikan sehingga bisa menyebabkan distribusi fakta merata.
c. Mengurangi ketertinggalan pada pemanfaatan TIK pada pendidikan dibandingkan menggunakan negara berkembang dan negara maju lainnya.
d. Akselerasi pemerataan kesempatan belajar serta peningkatan mutu pendidikan yg sulit diatasi menggunakan cara-cara konvensional.
e. Peningkatan kualitas asal daya insan melalui pengembangan serta eksploitasi teknologi kabar dan komunikasi.
f. Anak-anak dapat memakai aplikasi pendidikan seperti program-acara pengetahuan dasar membaca, berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan juga, sekarang perangkat pendidikan ini kini pula diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yg sinkron menggunakan materi, sehingga anak semakin suka .
g. Membuat anak semakin tertarik buat belajar.
h. Dapat sebagai solusi bagi para orangtua yg mempunyai anak yang merasa gampang bosan buat belajar.
i. Dapat menambah wawasan.
j. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp serta www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet pada semua global bisa saling bertukar keterangan menggunakan cepat dan murah.
k. Kemudahan bertransaksi dan berbisnis pada bidang perdagangan sehingga nir perlu pergi menuju ke loka penawaran/penjualan

3. Dampak Negatif TIK terhadap pendidikan 
a. Pengalih fungsian guru yg, lantaran sistem pembelajaran bisa dilakukan menggunakan hanya seorang diri, serta kemungkinan etika dan disiplin siswa susah atau sulit untuk diawasi serta dibina sehungga lambat laun kualitas etika dan insan khusunya para siswa akan menurun drastis, serta hakikat insan yang utama yaitu sebagai makhluk sosial akan musnah.
b. Ketergantungan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi.
c. Kecanduan terhadap games, terutama games online menonjolkan unsur-unsur dan agresivitas, sebagai akibatnya bisa menghabiskan uang karena hanya buat melayani kecanduan tadi.
d. Penipuan, Hal ini memang merajalela pada bidang manapun. Internet pun nir luput dari agresi penipu. Cara yg terbaik adalah nir mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi fakta yg Anda dapatkan pada penyedia informasi tadi.
e. Violence and Gore yaitu Kekejaman serta kesadisan pula banyak ditampilkan. Karena segi usaha dan isi dalam global internet nir terbatas, maka para pemilik situs memakai segala macam cara agar bisa ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yg bersifat tabu
f. Mengurangi sifat sosial insan lantaran cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara eksklusif (face to face).
g. Bukanya sahih-benar memanfaatkan TIK menggunakan optimal malah mengakses hal-hal yg tidak baik, seperti pornografi yang sangat gampang pada akses yang berefek buruk bagi anak dibawah umur ataupun bagi yg telah dewasa sekalipun.
h. Membuat seorang kecanduan, terutama yg menyangkut pornografi serta bisa menghabiskan uang lantaran hanya buat melayani kecanduan tadi.
i. Carding, Karena sifatnya yg ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling poly digunakan pada dunia internet. Para penjahat internet pun paling poly melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yg terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yg menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang dipakai. Untuk selanjutnya mereka memakai data yg mereka dapatkan buat kepentingan kejahatan mereka. 
j. Perjudian menggunakan jaringan yg tersedia, para penjudi nir perlu pulang ke tempat spesifik buat memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, lantaran umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan menurut pengunjungnya.
k. Health Issues ( Issue Kesehatan ), penggunaan BTS serta Elektromagnetis yang dapat mengganggu kesehatan pengguna dan dapat mengakibatkan banyak penyakit misalnya persendian, kanker dan lain – lain
l. Impact on Globalization on Culture, makin menipisnya nilai - nilai budaya lokal dampak pengaruh globalisasi. Salah satu contohsederhananya yaitu seberapa baikkah kemampuan bahasa daerah kita dibandingkan dengan bahasa asing

4. Pemecahan Masalah serta Solusi pada mengatasi efek negatif TIK 
Agar penggunaan TIK lebih optimal dan di jalankan menggunakan baik serta sahih, berikut terdapat beberapa metode pemecahan perkara agar pengaruh negatif menurut TIK bisa tertanggulangi.
a. Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya buat anak pada bawah umur yg masih wajib pada pengawasan saat sedang melakukan pembelajaran menggunakan TIK. Analisis laba ruginya pemakaian.
b. Tidak mengakibatkan TIK menjadi media atau wahana satu-satunya pada pembelajaran, contohnya kita tidak hanya mendownload e-book, tetapi masih tetap membeli buku-buku cetak, nir hanya berkunjung ke digital library, tetapi juga masih berkunjung ke perpustakaan.
c. Pihak-pihak guru baik orang tua juga guru, memberikan pengajaran-pedagogi etika dalam ber-TIK agar TIK bisa digunakan secara optimal tanpa menghilangkan etika.
d. Perlu terdapat pencerahan peran dan kerjasama antara seluruh pengguna lanyanan TIK.
e. Menggunakan aplikasi yg dirancang spesifik buat melindungi ‘kesehatan’ anak. 
f. Letakkan personal komputer pada ruang publik tempat tinggal , misalnya perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan pada dalam kamar anak. Meletakkan personal komputer pada pada kamar anak, berdasarkan Nina akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan. Anak mampu leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yg berbau dan sadistis pada pada kamar terkunci. Bila komputer berada pada ruang keluarga, keleluasaannya buat melanggar aturan pun akan terbatas karena terdapat anggota keluarga yang kemudian lalang.
g. Untuk mencegah kecanduan orang tua perlu menciptakan konvensi menggunakan anak soal waktu bermain personal komputer . Sehingga dalam usia yang lebih akbar, diperlukan anak telah dapat lebih bisa mengatur saat menggunakan baik.
h. Pemerintah menjadi pengendali sistem-sistem berita seharusnya lebih peka serta menyaring apa-apa saja yg bisa di akses sang para pelajar serta seluruh masyarakat Indonesia di global maya. Selebihnya, Kementrian juga bisa mengembangkan filter berupa program software untuk menekan impak tidak baik teknologi informasi. Kedua, perlu adanya dukungan berdasarkan orangtua, tokoh budaya sampai kalangan agamawan, buat mensosialisasikan mengenai saran, manfaat serta sisi positif facebook.
Jadi, solusinya merupakan kita jangan sampai menyampaikan tidak pada teknologi (say no to technology) karena jika kita berbuat demikian, maka kita akan ketinggalan banyak liputan yg sekarang ini kabar-informasi tersebut paling banyak ada pada internet. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan kita terhadap teknologi, mempertimbangkan baik-buruknya teknologi tersebut dan permanen menggunakan etika, jua tidak lupa jangan terlalu hiperbola supaya kita nir kecanduan menggunakan teknologi.

Selain itu dengan teknologi yang sederhana dari dimanfaatkan menggunakan aporisma, maka teknologi itu akan membentuk kualitas yang optimal. Seperti jua facebook dan jejaring sosial lainnya jika dimanfaatkan menggunakan baik, maka akan mampu memberikan manfaat bagi kita. Yang terpenting merupakan berdasarkan diri kita sendiri buat memakai teknologi moderen ini secara sehat. Facebook pada dasarnya merupakan wahana, sebuah output karya teknologi berita komunikasi yg bertujuan memudahkan hidup kita. Facebook bisa sebagai sarana mengembangkan kabar, hiburan, menambah jaringan pertemanan, serta banyak hal positif lainnya. Facebook di tangan yang salah adalah pula indera buat melakukan, pelecehan, bahkan tindak kriminal misalnya penipuan, pemerasan, dan sebagainya.

MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENDUKUNG KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Manfaat Teknologi Informasi Dalam Mendukung Komunikasi Dalam Organisasi
Pengertian Komunikasi
Istilah manajemen komunikasi merupakan nisbi baru. Komunikasi itu sendiri bukan adalah bagian penting dari perbendaharaan ka_ ta manajemen sampai akhir tahun 1940-an serta permulaan 1950-an. Namun, sejalan dengan organisasi sebagai semakin."sadar manusia" dalam pendekatan interaksi manusiawi (lihat bab tiga) serta sejalan de­ngan para ahli konduite mulai menerapkan penelitian-penelitian me­reka pada organisasi, komunikasi menjadi bagian penting yang diper­hatikan manajemen. Bagaimanapun jua, komunikasi tetap merupa­kan alat-alat (tool) manajemen yg dibuat buat mencapai tu­juan serta nir dievaluasi atas dasar output akhir pada komunikasi itu sen­diri.

Komunikasi merupakan proses pemindahan pengertian pada ben­tuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Perpindahan pengertian tadi melibatkan lebih dari sekedar istilah-istilah yang pada­gunakan pada dialog, namun juga aktualisasi diri paras, intonasi, ti­tik putus vokal serta sebagainya. Dan perpindahan yg efektif me­merlukan nir hanya transmisi data, tetapi bahwa seseorang mengi­rimkan informasi serta menerimanya sangat tergantung dalam ketrampilan­ketrampilan tertentu (membaca, menulis, mendengar, berbicara dan lain-lain) buat menciptakan sukses pertukaran fakta.

Komunikasi, menjadi suatu proses dengan mana orang-orang ber­maksud menaruh pengertian-pengertian melalui pengiringan be­rita secara simbolis, bisa menghubungkan para anggota berbag~ sa­tuan organisasi yang tidak sama dan bidang yang tidak sama pula, sebagai akibatnya seringkali dianggap rantai pertukaran fakta. Konsep ini mempunyai unsur-unsur : 
1. Suatu aktivitas buat menciptakan seseorang mengerti, 
2. Suatu sarana pengaliran berita serta 
3. Suatu sistem bagi ter­jalinnya komunikasi pada antara individu-individu. 

Pandangan tradisional tentang komunikasi sudah banyak diubah oleh perkembangan teknologi, yaitu bahwa komunikasi nir hanya terjadi antara dua atau lebih individu, tetapi meliputi juga komunikasi antara orang­-orang serta mesin-mesin, dan bahkan antara mesin dengan mesin lain­.

Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995) mendefinisikan komunikasi sebagai the process by which people attempt to share meaning via the transmission of symbolic messages. Komunikasi adalah proses di mana seseorang berusaha untuk memberikan pengertian atau pesan pada orang lain melalui pesan simbolis. Komunikasi sanggup dilakukan secara eksklusif maupun nir langsung, menggunakan memakai banyak sekali media komunikasi yang tersedia. Komunikasi langsung berarti komunikasi disampaikan tanpa penggunaan mediator atau mediator, sedangkan komunikasi tidak pribadi berarti sebaliknya. 

Berdasarkan pengertian di atas, maka komunikasi mempunyai beberapa elemen krusial, yaitu:
  • Komunikasi melibatkan orang-orang, sehingga komunikasi yg efektif terkait dengan bagaimana orang-orang bisa berinteraksi satu sama lain secara lebih efektif. 
  • Komunikasi berarti terjadinya menyebarkan informasi atau anugerah fakta mau­pun pengertian (sharing meaning), sehingga supaya anugerah informasi juga pengertian ini dapat terjadi, maka pihak-pihak yg berkomunikasi perlu me­nyadari serta mengerti berbagai kata atau pengertian yg mereka pakai pada melakukan komunikasi. Apabila nir, maka kemungkinan terjadinya galat persepsi dalam komunikasi sangat tinggi. 
  • Komunikasi melibatkan simbol-simbol, yg berarti komunikasi bisa berupa bahasa tubuh, suara, huruf, angka, dan lain-lain sebagai bentuk simbolis dari komunikasi yang dilakukan. 
Proses Terjadinya Komunikasi
Bagaimana sesungguhnya komunikasi terjadi? Gambar berikut ini menyebutkan tentang proses komunikasi.

Suatu sistem komunikasi organisasi mencerminkan berbagai macam individu menggunakan latar belakang, pendidikan, agama, ke­budayaan, keadaan jiwa, dan kebutuhan yang bhineka. Tetapi apabila individu-individu dalam organisasi berkomunikasi, apa yang pada­perbuat ? Berikut ini akan dibahas contoh komunikasi dasar agar da­pat dipahami mengapa komunikasi sering gagal dan kegiatan-aktivitas yang perlu diambil manajer untuk menaikkan efektifitas komu­nikasi.

Model Komunikasi Antar Pribadi
Model proses komunikasi yg paling sederhana merupakan sebagai berikut :

Pengirim →→ Berita →→ Penerima

Model ini memperlihatkan tiga (3) unsur esensi komunikasi. Bila keliru satu unsur hilang, komunikasi nir bisa berlangsung. Sebagai con­toh, seorang bisa mengirimkan keterangan, tetapi bila nir ada yang menerima atau mendengar, komunikasi tidak terjadi.

Meskipun modelnya sederhana, proses komunikasi merupakan kom­pleks. Sebagai satu gambaran kompleksnya proses komunikasi adalah "telephone", di mana pengirim mengungkapkan suatu keterangan, namun penerima mungkin mendengar atau menerima fakta bukan yg pada­maksudkan pengirim.

Model proses komunikasi yg lebih terang, menggunakan unsur­unsur penting yang terlibat pada komunikasi antara serta pada antara para anggota organisasi, bisa digambarkan pada Gambar dibawah ini.

Sumber (source). Sumber atau pengirim berita memainkan langkah pertama dalam proses komunikasi. Sumber mengendalikan macam keterangan yang dikirim, susunan yang digunakan, serta sering saluran me­lalui mana informasi dikirimkan. Dalam organisasi, asal adalah pihak yang memiliki kebutuhan serta hasrat buat mengkomu­nikasikan sesuatu gagasan, pemikiran, fakta, serta sebagainya, ke­pada pihak lain.

Pengubahan warta ke dalam sandi/kode (encoding). Langkah ke 2 ini encoding the message megubah fakta ke pada berbagai bentuk simbol-simbol mulut atau nonverbal yg mampu memindah­kan pengertian, seperti kata-istilah pencakapan atau tulisan, nomor , ge­rakan, ataupun aktivitas.

Dari beberapa simbol yg tersedia, pengirim keterangan menye­leksi salah satu yang akan bisa memenuhi kebutuhan khusus. Pe­ngirim fakta seharusnya nir hanya memikirkan apa yg akan pada­katakan namun pula bagaimana hal itu akan tersaji supaya pengaruh yg diinginkan menurut penerima terpenuhi. Jadi, informasi wajib disesuai­kan dengan taraf pemahaman, kepentingan dan kebutuhan pene­rima buat mencapai konsekuensi-konsekuensi yang diinginkan. Simbol-simbol harus diseleksi atas dasar pemahaman yg akan di­peroleh menurut pendengar atau pembaca. Kesamaan pengertian ini pen­ting, lantaran ketidaksamaan pengertian akan menyebabkan salah ko­munikasi.

Pengiriman kabar (transmitting the message). Langkah ketiga men­cerminkan pilihan komunikator terhadap media atau "saluran distri­busi". Komunikasi verbal mungkin disampaikan melalui banyak sekali sa­luran - telephone, mesin pendikte, orang atau videotape. Hal ini mungkin dilakukan secara langsung atau dalam rendezvous gerombolan dengan banyak orang. Dalam kenyataannya, keliru satu keputusan krusial yang wajib dibuat pengirim merupakan pada penentuan saluran yang sempurna atau sesuai bagi pengiriman keterangan eksklusif.

Manfaat komunikasi mulut, orang per orang, adalah kesempatan buat berinteraksi antara sumber serta penerima, memungkinkan ko­munikasi nonverbal (gerakan tubuh, intonasi suara, dan lain-lain), di sampaikannya fakta secara cepat, dan memungkinkan umpan ba­lik diperoleh segera.

Sedangkan komunikasi tertulis dapat disampaikan melalui salur­an-saluran seperti memo, surat, laporan, catatan, bulletin dewan di­rektur, manual perusahaan, serta surat liputan. Komunikasi tulisan mempunyai manfaat dalam hal penvediaan laporan atau dokumen untuk kepentingan di waktu mendatang.

Agar komunikasi lebih efisien dan efektif manajer perlu mem­pertimbangkan penentuan media atau saluran yang ada. Sebagai con­toh, ucapan "selamat pagi" nir perlu ditulis dalam bentuk memo, sebaliknya hadiah pesanan sebaiknya ditulis dengan bentuk me­mo.

Penerimaan keterangan. Langkah keempat adalah penerimaan kabar sang pihak penerima. Pada dasanya, orang-orang mendapat informasi melalui ke lima pancaindera mereka penglihatan, indera pendengaran, lidah, perabaan dan penciuman. Pengiriman warta belum lengkap atau ti­dak terjadi bila suatu pihak-belum menerima warta. Banyak Komuni­kasi penting gagal lantaran seorang tidak pernah menerima berita.

Pengartian atau penterjemahan kembali liputan (decoding). Langkah kelima proses komunikasi merupakan decoding. Hal ini menyangkut pe­ngartian simbol-simbol oleh penerima. Proses ini ditentukan oleh la­tar belakang, kebudayaan, pendidikan, lingkungan, praduga, serta gangguan pada sekitarnya. Selalu terdapat kemungkinan bahwa kabar berdasarkan sumber, saat diartikan oleh penerima, akan menghasilkan pengerti­an yg jauh tidak selaras dengan yg dimaksud oleh pengirim. Jadi, pe­nerima mempunyai tanggung jawab akbar buat efektifitas komuni­kasi, dalam hal komunikasi dua arah. Manajer dan bawahan bisa berperan baik sebagai asal maupun penerima pada suatu interak­si. Berbagai macam interaksi bisa dilakukan dengan ruang lingkup, taraf kepentingan dan periode saat yg bhineka.

Umpan balik (feedback). Setelah keterangan diterima serta diterjemahkan, penerima mungkin mengungkapkan liputan balasan yang ditujukan ke­pada pengirim mula-mula atau orang lain. Jadi, komunikasi merupakan proses yang berkesinambungan serta tak pernah berakhir. Seseorang berkomunikasi, penerima menanggapinya melalui komunikasi selan­jutnya menggunakan pengirim atau orang lain, dan seterusnya. Tanggapan ini diklaim umpan kembali.

Manajemen bisa mendistribusikan suatu bulletin yang berisi kebijaksanaan baru kepada grup-penyelia, tetapi sampai terdapat tanggapan pada bentuk pertanyaan, persetujuan, komentar atau konduite atau hingga sudah adanya pengujian buat melihat apakahkebijaksanaan dijalankan atau nir, manajemen nir akan memahami se­berapa efektif penyataan tersebut.

Komunikasi Organisasi
Semua faktor yg dibahas pada model proses komunikasi di atas, bisa pula diterapkan dalam komunikasi pada organisasi. Kom­munikasi efektif di mana saja, menyangkut penyampaian berita dari seorang kepada orang lain secara akurat. Hanya bedanya efektifi­tas komunikasi dalam organisasi pdipengaruhi oleh beberapa faktor spesifik. Raymond V. Lesikar telah menguraikan 4 (empat) faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikasi organisasi, yaitu saluran komunikasi formal, struktur organisasi, spesialisasi iabatan serta apa yg disebut Lesikar menjadi "pemilikan berita". 

Saluran komunikasi formal mensugesti efektifitas komuni­kasi pada dua cara. Pertama, keterangan saluran formal semakin mele­bar sesuai perkembangan serta pertumbuhan organisasi. Sebagai con­toh, komunikasi efektif umumnya semakin sulit dicapai pada organi­sasi yg akbar menggunakan cabang-cabang yg menyebar. Kedua, saluran komunikasi formal dapat menghambat genre liputan antar taraf­tingkat organisasi. Sebagai contoh, karyawan lini perakitan hampir selalu akan mengkomunikasikan perkara-masalah dalam penyelia (mandor) mereka serta bukan dalam manajer pabrik. Keterbatasan ini mempunyai kebaikan (misalnya menghindarkan manajer atas berdasarkan ke­banjiran informasi), namun juga memiliki kelemahan (seperti meng­hindarkan manajer atas berdasarkan warta yg seharusnya mereka per­oleh).

Struktur kewenangan organisasi mempunyai imbas yang sama terhadap efektifitas organisasi. Perbedaan kekuasaan dan kedudukan (status) dalam organisasi akan memilih pihak-pihak yang berko­munikasi dengan seseorang serta isi serta ketepatan komunikasi. Seba­gai model, dialog antara direktur perusahaan dengan karyawan akan dibatasi formalitas serta kesopanan, sehingga nir terdapat pihak yg berkehendak untuk menyampaikan sesuatu yg krusial.

Spesialisasi jabatan umumnya akan mempermudah komunikasi dalam grup-grup yg tidak sinkron. Para anggota suatu kelom­pok kerja yang sama akan cenderung berkomunikasi dengan kata, tujuan, tugas, ketika, serta gaya yang sama. Komunikasi antara kelom­pok-grup yg sangat tidak sinkron akan cenderung di hambat.

Pemilikan fakta berarti bahwa individu-individu mempu­nyai kabar khusus serta pengetahuan tentang pekerjaan-pekerjaan mereka. Sebagai contoh, manajer produk akan mempunyai penga­matan yang lebih tajam dalam perumusan taktik-taktik pemasar­an, ketua departemen mungkin memiliki cara tertentu yg efek­tif buat menangani konflik pada antara para bawahannya. Individu­individu yang mempunyai keterangan-warta spesifik ini bisa ber­fungsi lebih efektif daripada lainnya, dan banyak pada antara mereka yang tidak bersedia membagikan berita tersebut kepada yg lain.

Jaringan komunikasi pada organisasi. Organisasi bisa merancang jaringan atau struktur komunikasi dalam aneka macam cara. Jaringan ko­munikasi mungkin dirancang kaku, misalnya bahwa karyawan dihentikan berkomunikasi dengan siapapun kecuali atasannya eksklusif. Jaringan semacam ini umumnya dimaksudkan buat menghindarkan manajer atas berdasarkan keterangan berlebihan yg nir perlu serta menjaga kekuasa­an serta statusnya. Sebaliknya, jaringan mungkin dibuat lebih be­bas, pada mana individu-individu dapat berkomunikasi dengan setiap orang dalam setiap tingkat. Jaringan seperti ini dipakai jika aliran komunikasi yg lebih bebas sangat dibutuhkan, misalnya dalam depar­temen riset.

Ada 4 (empat) macam jaringan komunikasi, misalnya terlihat da­lam gambar diatas. Dalam jaringan "lingkaran" ; sebagai contoh, B ha­nya bisa berkomunikasi dengan A serta C. Untuk berkomunikasi de­ngan E, B wajib melalui A atau melalui C dan D. Pola "rantai" me­nunjukkan dua bawahan (A serta E) yang melapor pada atasan me­reka (B dan D), yg selanjutnya sang B serta D dilaporkan ke C. Pa­da jaringan "bintang"; C bisa berkomunikasi eksklusif dengan A, B, D serta E, walaupun mereka ini tidak bisa berkomunikasi langsung satu sama lain. Sebagai model, empat tenaga penjual (A, B, D, E) melapor ke manajer cabang (C). Sedangkan jaringan "huruf Y" ; sanggup masih ada dalam bagian sekretariat di mana surat-surat diteri­ma oleh E, disortir sang D serta distribusikan oleh C.

Jaringan "huruf Y" dan "bintang" merupakan komunikasi yang ter­pusat, menggunakan C dalam posisi sentra. Komunikasi yang disentralisasi ini lebih efektif buat merampungkan kasus-masalah rutin dan nir kompleks, lantaran lebih cepat serta lebih akurat. Tetapi jika kasus­nya kompleks, jaringan "bundar" dan "rantai" yang didesentrali­sasi, akan lebih cepat serta akurat penyelesaiannya. Kepuasan anggota gerombolan jua cenderung lebih tinggi pada jaringan jaringan yg didesentralisasi.

SALURAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
Pemahaman yang lebih baik mengenai komunikasi organisasi da­pat diperoleh dengan mengusut arah-arah dasar gerakannya yang tampak dengan terbentuknya saluran-saluran komunikasi. Saluran­saluran komunikasi formal dipengaruhi oleh struktur organisasi atau ditunjukkan oleh banyak sekali sarana formal lainnya, tipe saluran-saluran dasar komunikasi terdapat­lah vertikal, lateral serta diagonal.

Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertikal terdiri atas komunikasi ke atas serta ke ba­wah sesuai rantai perintah. Komunikasi ke bawah (downward com­munication) dimulai menurut manajemen puncak lalu mengalir ke bawah melalui tingkatan-tingkatan manajemen hingga ke karyawan lini serta personalia paling bawah. Maksud primer komunikasi ke ba­wah merupakan buat memberi pengarahan, fakta, instruksi, nase­hat/saran dan evaluasi pada bawahan serta menaruh informa­si kepada para anggota organisasi mengenai tujuan serta kebijaksanaan organisasi.

Berita-berita ke bawah bisa berbentuk goresan pena maupun mulut, dan umumnya disampaikan melalui memo, laporan atau dokumen lain­nya, bulletin, pertemuan atau rapat, dan dialog serta melalui in­teraksi orang per orang atau grup-kelompok kecil. Manajemen seharusnya nir hanya memusatkan perhatiannya pada usaha komu­nikasi ke bawah, tetapi juga komunikasi ke atas.

Fungsi utama komunikasi ke atas (upward communication) terdapat­lah buat mensuplai informasi kepada strata manajemen atas ten­tang apa yang terjadi pada tingkatan bawah. Tipe komunikasi ini mencakup laporan-laporan periodik, penjelasan, gagasan, dan permin­taan buat diberikan keputusan. Hal ini dapat dilihat menjadi da­ta atau berita umpan balik bagi manajemen atas.

Bentuk-bentuk komunikasi misalnya kebijaksanaan "pintu terbu­ka", sistem komunikasi informal, kuesioner perilaku, dewan manajemen­karyawan, atau sistem inspektur jenderal didesain buat memudah­kan komunikasi ke atas ke manajemen puncak .

Komunikasi Lateral atau Horizontal
Komunikasi lateral atau horizontal meliputi hal-hal berikut adalah :
1. Komunikasi pada antara para anggota dalam grup kerja yang sama.
2. Komunikasi yang terjadi antara dan pada antara departemen-de­partemen dalam tingkatan organisasi yang sama.

Bentuk komunikasi ini dalam dasarnya bersifat koordinatif, dan adalah output dari konsep spesialisasi organisasi. Sehingga komu­nikasi ini dibuat guna mempermudah koordinasi serta penanganan kasus. Komunikasi lateral, selain membantu koordinasi aktivitas­kegiatan lateral, pula menghindarkan prosedur pemecahan perkara yang lambat.

Komunikasi Diagonal
Komunikasi diagonal merupakan komunikasi yg memotong secara menyilang diagonal rantai perintah organisasi. Hal ini acapkali terjadi sebagai hasil hubungan-interaksi departemen lini dan staf. Seperti telah dibahas dalam bab 10 bahwa hubungan-interaksi yg terdapat antara personalia lini dan staf dapat bhineka, yang akan membentuk beberapa komunikasi diagonal yg bhineka jua.

PERANAN KOMUNIKASI INFORMAL
Pembahasan genre-genre komunikasi di atas merupakan berkenaan menggunakan yg dianggap komunikasi "formal", sebagai saluran penyam­paian informasi yang dibuat manajer organisasi buat memudahkan hubungan pekerjaan. Komunikasi informal, bagaimanapun juga, ada­lah jua bagian penting genre komunikasi organisasi. Bentuk komuni­kasi ini timbul menggunakan banyak sekali maksud, yg mencakup antara lain :
1. Pemuasan kebutuhan-kebutuhan manusiawi, seperti kebutuhan buat herbi orang lain.
2. Perlawanan terhadap pengaruh-efek yang terus-menerus atau membosankan.
3. Pemenuhan keinginan buat menghipnotis perilaku orang lain. 
4. Pelayanan menjadi sumber berita hubungan pekerjaan yg tidak disediakan saluran-saluran komunikasi formal.

Tipe komunikasi informal yang paling terkenal merupakan 'grapevme " (mendengar sesuatu bukan berdasarkan asal resmi, namun dari desas­desus, liputan angin atau "slentingan"). Sistem komunikasi "grapevme" cenderung dipercaya menghambat atau merugikan, lantaran nir sporadis terjadi penyebaran informasinya nir sempurna, tidak lengkap dan me­nyimpang. Selain itu, desas-desus cenderung bersifat membakar, nir sinkron dengan fenomena, lebih bersifat emosional daripada logika, dan kadang-kadang dirahasiakan menurut anggota yg memiliki we­wenang manajerial lebih tinggi. 

Di lain pihak, komunikasi "grapevme" memiliki peranan fungsional menjadi alat komunikasi tambahan bagi organisasi. Banyak penelitian yang mengambarkan bahwa komunikasi "grapevme" lebih cepat, lebih seksama dan lebih efektif dalam menyalurkan liputan. Manajer bisa mempergunakan komunikasi ini menggunakan warta yg sengaja "dibocorkan".

Manajer wajib menyadari bahwa komunikasi informal dan ter­utama "grapevme" tidak dapat dihilangkan. Bahkan, sebaiknya ma­najer perlu memahami dan memakai "grapevme" sebagai peleng­kap komunikasi formal. Peran galat komunikasi ini dapat diminimal­kan menggunakan merancang saluran komunikasi formal yg baik, dan me­nyebarkan keterangan dengan cepat dan sempurna.

EFEKTIVITAS KOMUNIIKASI
Berbagai pennyebab timbulnya kasus-perkara komunikasi dan betapa sulitnya mencapai komunikasi efektif telah dibahas di atas. Sekarang akan dibicarakan banyak sekali cara dengan mana para manajer bisa menaikkan efektivitas komunikasi. Teknik-teknik ini dalam dasarnya merupakan cara-cara buat mengatasi kesulitan-kesulitan yang tersaji sebelumnya.

Kesadaran Akan Kebutuhan Komunikasi Efektif
Karena berbagai kendala organisasional dan antar pribadi, komunikasi efektif nir bisa dilaiarkan terjadi begitu saja. Mana­jer' wajib memainkan peranan penting dalam proses komunikasi, pada mana hanya menggunakan cara itu kemudian dapat diambil langkah-langkah buat menaikkan efektivitas komunikasi.

Pentingnya komunikasi mengakibatkan poly perusahaan besar menggunakan para "ahli komunikasi". Para seorang ahli komunikasi ini membantu pemugaran komunikasi menggunakan bantuannya pada para penyelia memecahkan perkara-perkara komunikasi internal; penen­tuan taktik komunikasi perusahaan sehubungan dengan "layoffs", penutupan pabrik atau relokasi, serta terminasi; dan pengukuran kua­litas kegiatan-aktivitas komunikasi, melalui interview (wawancara) atau berita umum.

Penggunaan Umpan - Balik
Peralatan krusial pengembangan komunikasi lainnya adalah penggunaan umpan pulang keterangan-fakta yang dikirim. Komunikasi dua arah ini memungkinkan proses komunikasi berjalarn lebih efektif. Para manajer bisa melakukan paling sedikit 2. Hal buat mendo­rong umpan balik serta menggunakannya secara efektif. Manajer dapat membentuk lingkungan yang mendorong umpan kembali, dan menda­patkan umpan balik melalui aktivitas mereka sendiri.

Cara manajer berkcmunikasi dengan para bawahannya bisa memilih jumlah umpan kembali yg akan mereka terima. Di sam­ping itu, tipe komunikasi yang dipakai serta lingkungan komunika­si krusial dalam penentuan umpan kembali macam apa yang akan dida­patkannya. Dalam hal ini manajer perlu memainkan peranan aktif dalam pengadaan umpan balik tersebut. Sebagai model, sehabis menaruh penugasan suatu pekerjaan manajer dapat bertanya, "Apakah saudara mengerti ?" atau "Apakah saudara memiliki pertanyaan ?" atau "Apakah terdapat yg belum saya jelaskan ?" Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak mendorong timbulnya jawaban ja­waban, sebagai akibatnya pendekatan yg lebih langsung dapat dilakukan de­ngan mengatakan :"Pekerjaan ini merupakan krusial; karena itu pahami sahih setiap langkah, laporkan kepada saya apa yang akan saudara lakukan".

Di lain pihak, para manajer perlu secara aktif mencari umpan pulang. Manajemen partisipatif dan komunikasi tatap muka merupa­kan cara-cara yang dapat digunakan buat menaikkan efektifi­tas komunikasi melalui penggunaan umpan kembali.

Menjadi Komunikator yg Lebih Efektif
Teknik-teknik komurikasi yang tidak baik mengganggu poly ma­najer, misalnya ha.lnya mengganggu interaksi mereka dengan para ba­wahannya pada luar pekerjaan. Oleh karenanya, latihan-latihan dalam penulisan serta penyampaian fakta secara mulut perlu dilakukan un­tuk meningkatkan pemahaman akan simbol-simbol, penggunaan ba­hasa, pengutaraan yg sempurna dan kepekaan terhadap latar belakang penerima kabar.

Salah satu alat-alat yang dipakai secara efektif oleh para psi­kolog, pembimbing, dan orang-orang yang profesinya memerlukan pemahaman yg mendalam tentang klien mereka, yaitu active listen­ing,bisa dipergunakan untuk berbagi dimensi baru ke­trampilan manajemen para manajer. Prinsip dasar peralatan ini ada­lah penggunaan reflective statements (pernyataan balik ) oleh pende­ngar. Bagaimanapun pula, posisi kunci para manajer dalam proses ko­munikasi, membuat kebutuhan mendesak bagi pengembangan diri untuk menjadi komunikator yg lebih efektif.

Pedoman Komunikasi yang Baik
American Management Associations (AMA) sudah menyusun se­jumlah prinsip-prinsip komunikasi yang diklaim "the Ten Command­ments of Good Communication" (sepuluh pedoman komunikasi yang baik). Pedoman-pedoman ini disusun buat mempertinggi efektifitas komunikasi organisasi, yang secara ringkas merupakan menjadi berikut:
1. Cari kejelasan gagasan-gagasan terlebih dahulu sebelum dikomu­nikasikan.
2. Teliti tujuan sebenarnya setiap komunikasi.
3. Pertimbangkan keadaan phisik serta insan holistik kapan saja komunikasi akan dilakukan.
4. Konsultasikan menggunakan pihak-pihak lain, bila perlu, dalam peren­canaan komunikasi.
5. Perhatikan tekanan nada dan aktualisasi diri lainnya sesuai isi dasar kabar selama berkomunikasi.
6. Ambil kesempatan, jika ada, buat menerima segala se­suatu yang membantu atau umpan kembali.
7. Ikuti lebih lanjut komunikasi yg sudah dilakukan.
8. Perhatikan konsistensi komunikasi.
9. Tindakan atau perbuatan wajib mendorong komunikasi.
10. Jadilah pendengar yang baik, berkomunikasi nir hanya buat dimengerti tetapi buat mengerti.

Prinsip-prinsip komunikasi AMA ini menaruh kepada para manajer panduan buat menaikkan efektifitas komunikasi.