DOWNLOAD BUKU TIK KTSP 2006 SMP SEDERAJAT

 

Buku TIK Kelas VII SMP/Sederajat KTSP 2006
  1. Cerdas dan Terampil Teknologi Informasi dan Komunikasi 1 Kelas 7 Reynold serta Djuharis Rasul 2010.pdf
  2. Dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas 7 Kismiantini RIna Dyah Rahmawati dan Evi Rine 2010.pdf
  3. Kelas 07 SMP Cerdas serta Terampil Teknologi Informasi dan Komunikasi 1.pdf
  4. Kelas 07 Sekolah Menengah pertama Dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi.pdf
  5. Kelas 07 Sekolah Menengah pertama Membuka Cakrawala Teknologi Informasi serta Komunikasi 1.pdf
  6. Kelas 07 SMP Mengenal Teknologi Informasi dan Komunikasi 1.pdf
  7. Kelas 07 SMP Satelit TIK.pdf
  8. Kelas 07 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi Dan Komunikasi Erick Kurniawan.pdf
  9. Kelas 07 SMP Teknologi Informasi serta Komunikasi Joko Pramono.pdf
  10. Kelas 07 Sekolah Menengah pertama Terampil Berkomputer.pdf
  11. Membuka Cakrawala Teknologi Informasi serta Komunikasi 1 Kelas 7 Iwan Sofana serta Epsi Budihardjo 2010.pdf
  12. Mengenal Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas 7 Ida Bagus Budiyanto dan RR Phitsa Mauliana 2010.pdf
  13. Teknologi Informasi serta Komunikasi Kelas 7 Joko Pramono serta Pris Priyanto 2010.pdf
  14. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Eric Kurniawan Antonius Rachmat 2010.pdf
  15. Terampil Berkomputer Kelas 7 Rohmat Nur Ibrahim serta Hendi Hudaya 2010.pdf
Buku PKn Kelas VIII Sekolah Menengah pertama/Sederajat KTSP 2006
  1.  Generasi Cyber Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas 8 Dede Imat Mutakin Maryono 2010.pdf
  2. Kelas 08 SMP Generasi Cyber Teknologi Informasi serta Komunikasi.pdf
  3. Kelas 08 SMP Mari Belajar Teknologi Informasi serta Komunikasi.pdf
  4. Kelas 08 Sekolah Menengah pertama Membuka Cakrawala TIK.pdf
  5. Kelas 08 SMP Mengenal Teknologi Informasi serta Komunikasi.pdf
  6. Kelas 08 SMP Pengantar Teknologi Informasi.pdf
  7. Kelas 08 SMP Satelit TIK Teknologi Informasi dan Komunikasi.pdf
  8. Kelas 08 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi dan Komunikasi 2 Dikky Kurnia.pdf
  9. Kelas 08 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi serta Komunikasi dua Doni Wahyudi.pdf
  10. Kelas 08 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi dan Komunikasi 2 Hendra Subagja.pdf
  11. Kelas 08 SMP Teknologi Informasi serta Komunikasi Erick Kurniawan.pdf
  12. Kelas 08 SMP Teknologi Informasi serta Komunikasi Iswandari Wahyu.pdf
  13. Kelas 08 SMP Teknologi Informasi serta Komunikasi Jani Kusanti.pdf
  14. Kelas 08 SMP Teknologi Informasi dan Komunikasi Kusyanto Benny.pdf
  15. Kelas 08 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi serta Komunikasi Lusi Endang.pdf
  16. Kelas 08 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi serta Komunikasi Purnama Wijaya.pdf
  17. Kelas 08 SMP Teknologi Informasi serta Komunikasi Suyatman Erna.pdf
  18. Kelas 08 Sekolah Menengah pertama Terampil Berkomputer Teknologi Informasi serta Komunikasi.pdf
  19. Membuka cakrawala TIK Kelas 8 Iwan Sofana dan Epsi Budihardjo 2010.pdf
  20. Mengenal Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Ida Bagus Budianto Raden Roro Phitsa Mauliana 2010.pdf
  21. Satelit TIK Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas 8 Novyan Siswanto Akfen Efendi 2010.pdf
  22. Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Kelas 8 Suyatman Erna Ari Hastuti 2010.pdf
  23. Teknologi Informasi Dan Komunikasi 2 Kelas 8 Hendra Subagja Lilis Suryani 2010.pdf
  24. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Dikky Kurnia Dina Riska Lestari 2010.pdf
  25. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Doni Wahyudi Ade Ayustina Kinari 2010.pdf
  26. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Eric Kurniawan Antonius Rachmat 2010.pdf
  27. Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas 8 Erick Kurniawan dan Antonius Rachmat 2010.pdf
  28. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Iswandari Wahyu Pratomo Siwi Dwi Widiyanti 2010.pdf
  29. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Jani Kusanti Noor Abdul Haris 2010.pdf
  30. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Kusyanto Benny Ikhwanudin 2010.pdf
  31. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Lusi Endang Sudarmi Bahrul Ulum 2010.pdf
  32. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Purnama Wijaya Tati Ermawati 2010.pdf
  33. Terampil Berkomputer Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 8 Roni Yana Hendi Hudaya 2010.pdf 
Buku PKn Kelas IX SMP/Sederajat KTSP 2006
  1. Kelas 09 SMP Membuka Cakrawala Teknologi Informasi serta Komunikasi.pdf
  2. Kelas 09 Sekolah Menengah pertama Satelik TIK.pdf
  3. Kelas 09 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi serta Komunikasi Adi Setyawan.pdf
  4. Kelas 09 SMP Teknologi Informasi serta Komunikasi Agung Bonowo.pdf
  5. Kelas 09 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi serta Komunikasi Dhanang Sukmana.pdf
  6. Kelas 09 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi serta Komunikasi Doni Wahyudi.pdf
  7. Kelas 09 SMP Teknologi Informasi serta Komunikasi Julianto.pdf
  8. Kelas 09 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi dan Komunikasi Mashadi Arif.pdf
  9. Kelas 09 Sekolah Menengah pertama Teknologi Informasi dan Komunikasi Tuti Hartati.pdf
  10. Membuka Cakrawala Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 9 Iwan Sofana Epsi Budihardjo 2010.pdf
  11. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 9 Adi Setyawan Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa 2010.pdf
  12. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 9 Agung Bonowo Irawan Eka Padittya 2010.pdf
  13. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 9 Dhanang Sukmana Adi Yuliyani Siyamtiningtyas 2010.pdf
  14. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 9 Doni Wahyudi Ade Ayustina Kinari 2010.pdf
  15. Teknologi Informasi serta Komunikasi Kelas 9 Julianto Arif Setiadi Bahrul Ulum 2010.pdf
  16. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 9 Mashadi Arif Dwi Armawan 2010.pdf
  17. Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas 9 Tuti Hartati Sussi 2010.pdf
  18. Satelik TIK Kelas 9 Novyan Siswanto Akfen Efendi 2010.pdf

TEKNOLOGI INFORMASI DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi 
Realisiasi pemanfaatan TIK di negara Indonesia baru memasuki termin memeriksa buat aneka macam kemungkinan pengembangan dan penerapan TIK (teknologi liputan dan komunikasi). Lebih khusus penggunaan TIK di bidang pendidikan sekarang ini masih belum dikuasai oleh sebagian orang, terlebih bagi energi pendidik dan energi kependidikan pada mengaplikasikan tugas pokok dan manfaatnya. TIK sangat berperan pada teknologi pendidikan, lantaran TIK itu dikembangkan buat mengolah, membagi, berbagi, mendiskusikan dan melahirkan komunikasi. Perkembangan ini berpengaruh akbar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan kegiatan insan yang sekarang banyak bergantung kepada Teknologi Informasi dan Komunikasi. TIK (Teknologi Informasi serta Komunikasi) bagi dunia pendidikan se harusnya berarti tersedianya saluran atau wahana yang bisa dipakai untuk menyiarkan atau mempublikasikan program pendidikan.

Proses pembelajaran merupakan suatu proses penciptaan lingkungan yg memungkinkan terjadinya proses belajar. Belajar pada pengertian aktivitas dari peserta didik (pelajar) pada berinteraksi menggunakan lingkungan yang membentuk perubahan konduite yang bersifat nisbi konstan. Sebagai institusi, sekolah mempunyai mekanisme yang bhineka dalam proses pembelanjaran anggaran di setiap tahunnya. Banyak sekolah yg masih berpikir bahwa fasilitas yg terpenting dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal jika turut diprogramkan adanya infrastruktur TIK maka sebuah sekolah akan memiliki arah yang kentara pada pengembangan TIK. Terbukti banyak sekolah sudah mulai menampilkan fasilitas TIK sebagai nilai jual, terutama bagi sekolah partikelir. Pesatnya perkembangan TIK, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan kabar yang lebih baik pada suatu institusi pendidikan. Di lingkungan persekolahan, pemanfaatan TIK lainnya yaitu diwujudkan pada suatu sistem yg diklaim School Net, Information Communication Technology (ICT), yaitu bertujuan buat mendukung penyelenggaraan serta pengembangan pendidikan sehingga sekolah atau satuan pendidikan dalam umumnya dapat menyediakan dan menyajikan layanan kabar yg lebih baik pada komunitasnya, baik didalam juga diluar institusi tadi melalui internet. Layanan pendidikan lain yg mampu dilaksanakan melalui wahana internet yaitu dengan menyediakan pengembangan materi belajar secara online menurut situs Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional) menggunakan beraneka konten yg bisa diakses oleh siapa saja yg membutuhkan.

Dari hasil-output teknologi kabar serta komunikasi telah banyak membantu manusia buat dapat belajar secara cepat. Dengan demikian selain menjadi bagian berdasarkan kehidupan sehari-hari, teknologi warta dan komunikasi dapat dimanfaatkan buat merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan siswa menggunakan lingkungan dan global kerja. Istilah Teknologi Informasi mulai populer pada akhir tahun 70-an. Pada masa sebelumnya kata Teknologi Informasi biasa dianggap teknologi personal komputer atau pengolahan data elektronis (electronic data processing). Teknologi Informasi serta Komunikasi adalah kajian secara terpadu tentang data, warta, pengolahan, dan metode penyampaiannya. Keterpaduan berarti masing-masing komponen saling terkait bukan merupakan bagian yg terpisah-pisah atau parsial. Kemajuan Teknologi Informasi serta Komunikasi telah mendorong terjadinya poly perubahan, termasuk dalam bidang pendidikan yang melahirkan konsep e-learning. 

Di lapangan energi pendidik hanya banyak disuguhi berbagai diklat, pembinaan menggunakan materi yang berkisar pada kurikulum, pakem (contextual learning), MBS (manajemen berbasis sekolah) serta materi lain yang bekerjasama pribadi dengan tugas guru pada kelas. Jarang ada pelatihan guru yang bersifat pembekalan mengenai suatu ketrampilan atau keahlian khusus, misalnya aplikasi TIK, padahal pembinaan seperti ini tidak kalah krusial dan berguna bagi guru, terutama guru yg masih gagap teknologi. Menurutnya ada beberapa faktor yang berakibat para guru masih gagap TIK, pertama yaitu Lokasi, bagi pengajar yg mengajar pada daerah terpencil, teknologi sophisticated seperti komputer bukanlah sesuatu yang urgen buat dikuasai lantaran kebutuhan buat memakai sangat rendah, ke 2, kesadaran yang asih rendah tentang mengenari ati krusial teknologi buat menunjang profesi guru pada menyelesaikan tugas, ketiga, nir adanya kesempatan serta peluang buat sanggup lebih dekat dengan teknologi canggih.

Persoalan-persoalan intern pendidikan hingga ketika ini masih sebagai momok sekaligus tantangan akbar bangsa Indonesia dan Sulawesi Utara. Mulai menurut sistem kurikulum pendidikan yang diajarkan selama ini, berakibat peserta didik sebagai obyek pasif yg senantiasa siap menerima segala yg diberikan oleh pihak pengajar. Metode pembelajaran semacam itu cenderung memposisikan peserta didik menjadi manusia yang hanya dapat membisu tanpa mempunyai kreativitas dan inovasi apapun. 

Di dalam ilmu komunikasi, syarat semacam ini diibaratkan misalnya teori Peluru yg notabene siswa diidentikan menggunakan komunikan/audience bersikap pasif terhadap respon atau stimulus yang diberikan tanpa adanya respon kembali. Wajar apabila hasil yang diperoleh tidak akan aporisma atapun mengagumkan. Hal ini pula akan berimbas dalam sulit terwujudnya tujuan awal yaitu upaya menaikkan mutu pendidikan, selama ini belum mencapai pada tingkat memadai yang sanggup menaikkan taraf kehidupan rakyat dalam umumnya.

Sesuai menggunakan perkembangan teknologi yg terdapat, pendidik/pengajar pada ketika ini sangat terbantu dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam akhir-akhir ini mengalami perkembangan yg sangat pesat seiring menggunakan perkembangan dan konvergensi yang terjadi dalam teknologi telekomunikasi. Pengajar/pendidik sekarang tidak boleh gaptet (gagap teknologi) dengan median TIK sebab aneka macam teknologi dan pelaksanaan tercipta pada upaya mendukung aktivitas operasional kehidupan insan juga organisasi, termasuk kegiatan belajar mengajar. Dalam hai ini pekembangan serta kemajuan TIK para guru/pendidik sebagai tenaga profesional dituntut supaya dapat menyusun bahan ajar berbasis TIK. TIK adalah keliru satu faktor perubahan dalam menyampaikan kabar, pelaksanaan, serta jua manajemen pengetahuan yg terjadi pada dunia pembelajaran.

Seusuai dengan pridikat pengajar/pendidik sebagai energi profesional dari permintaan profesionalisme setiap guru/pendidik harus menguasai sistem pembelajaran berbasis TIK khususnya pada sekolah. Kebanyakan sekolah masih didominasi oleh kiprah guru (teacher oriented) sebagai sumber pengetahuan bagi peserta didiknya/siswanya. Proses belajar memngajar nmasih dibatasi terselenggara dalam ruang kelas, dan hubungan pembelajaran dalam bentuk transfer pengetahuan berdasarkan guru/pendidik ke siswanya/peserta didik. Sementara perkembangan pengetahuan sangat cepat sudah menciptakan asal belajar pada perpustakaan tidak relatif mengakomodasi proses latihan intelektual murid. Di era komunikasi dunia antar institusi, pakar, dan sumber pembelajaran yang bervariasi, hubungan dapat dilakukan dimana saja serta kapan saja sang siapa saja. Perkembangan pendidikan berbasis TIK (teknologi Informasi serta Komunikasi) bergatung pada infrastruktur dan budaya TIK di rakyat. Dalam kerangka itu, langkah pertama buat pendidikan berbasis TIK merupakan pendidikan berbasis personal komputer . Pada termin ini, personal komputer dipakai buat mengatur dan melaksanakan interaksi proses pendidikan. Selanjutnya, dipakai buat pembelajaran berbantukan personal komputer menggunakan acara tutorial dan simulasi sebagai program yang berdiri sendiri buat pembelajaran mahasiswa. Pendidikan e-supported menawarkan penggunaan TIK menggunakan LAN (local area network) yang dipakai buat skop yg lebih akbar misalnya database kesiswaan, database perpustakaan, database aministrasi, e-learning. Dll.

TEKNOLOGI INFORMASI DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi 
Realisiasi pemanfaatan TIK pada negara Indonesia baru memasuki termin menilik buat aneka macam kemungkinan pengembangan serta penerapan TIK (teknologi warta dan komunikasi). Lebih spesifik penggunaan TIK di bidang pendidikan sekarang ini masih belum dikuasai sang sebagian orang, terlebih bagi energi pendidik dan energi kependidikan pada mengaplikasikan tugas pokok dan fungsinya. TIK sangat berperan pada teknologi pendidikan, karena TIK itu dikembangkan buat mengolah, membagi, berbagi, mendiskusikan dan melahirkan komunikasi. Perkembangan ini berpengaruh akbar terhadap aneka macam aspek kehidupan, bahkan konduite dan aktivitas manusia yg kini poly bergantung pada Teknologi Informasi serta Komunikasi. TIK (Teknologi Informasi serta Komunikasi) bagi global pendidikan se harusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yg bisa digunakan buat menyiarkan atau mempublikasikan acara pendidikan.

Proses pembelajaran merupakan suatu proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Belajar pada pengertian kegiatan menurut peserta didik (pelajar) pada berinteraksi dengan lingkungan yg membuat perubahan konduite yang bersifat relatif kontinu. Sebagai institusi, sekolah mempunyai mekanisme yg bhineka dalam proses pembelanjaran anggaran pada setiap tahunnya. Banyak sekolah yg masih berpikir bahwa fasilitas yang terpenting dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal apabila turut diprogramkan adanya infrastruktur TIK maka sebuah sekolah akan memiliki arah yang jelas dalam pengembangan TIK. Terbukti banyak sekolah sudah mulai menampilkan fasilitas TIK menjadi nilai jual, terutama bagi sekolah swasta. Pesatnya perkembangan TIK, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Di lingkungan persekolahan, pemanfaatan TIK lainnya yaitu diwujudkan pada suatu sistem yg dianggap School Net, Information Communication Technology (ICT), yaitu bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan serta pengembangan pendidikan sebagai akibatnya sekolah atau satuan pendidikan pada umumnya bisa menyediakan serta menyajikan layanan informasi yang lebih baik pada komunitasnya, baik didalam maupun diluar institusi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang mampu dilaksanakan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan pengembangan materi belajar secara online berdasarkan situs Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional) menggunakan beraneka konten yg dapat diakses sang siapa saja yang membutuhkan.

Dari output-output teknologi keterangan serta komunikasi sudah banyak membantu manusia buat bisa belajar secara cepat. Dengan demikian selain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi keterangan dan komunikasi bisa dimanfaatkan buat merevitalisasi proses belajar yg pada akhirnya bisa mengadaptasikan siswa dengan lingkungan serta global kerja. Istilah Teknologi Informasi mulai terkenal pada akhir tahun 70-an. Pada masa sebelumnya kata Teknologi Informasi biasa disebut teknologi personal komputer atau pengolahan data elektronis (electronic data processing). Teknologi Informasi serta Komunikasi merupakan kajian secara terpadu mengenai data, keterangan, pengolahan, serta metode penyampaiannya. Keterpaduan berarti masing-masing komponen saling terkait bukan merupakan bagian yg terpisah-pisah atau parsial. Kemajuan Teknologi Informasi serta Komunikasi sudah mendorong terjadinya banyak perubahan, termasuk dalam bidang pendidikan yang melahirkan konsep e-learning. 

Di lapangan tenaga pendidik hanya poly disuguhi aneka macam diklat, training menggunakan materi yg berkisar pada kurikulum, pakem (contextual learning), MBS (manajemen berbasis sekolah) dan materi lain yg berhubungan pribadi dengan tugas pengajar di kelas. Jarang terdapat pelatihan pengajar yang bersifat pembekalan mengenai suatu ketrampilan atau keahlian khusus, contohnya aplikasi TIK, padahal pelatihan misalnya ini tidak kalah krusial serta berguna bagi guru, terutama pengajar yg masih gagap teknologi. Menurutnya ada beberapa faktor yang menjadikan para pengajar masih gagap TIK, pertama yaitu Lokasi, bagi pengajar yang mengajar pada wilayah terpencil, teknologi canggih misalnya komputer bukanlah sesuatu yg urgen untuk dikuasai lantaran kebutuhan buat menggunakan sangat rendah, kedua, kesadaran yang asih rendah tentang mengenari ati krusial teknologi buat menunjang profesi pengajar pada menuntaskan tugas, ketiga, nir adanya kesempatan serta peluang buat sanggup lebih dekat dengan teknologi canggih.

Persoalan-problem intern pendidikan sampai saat ini masih sebagai momok sekaligus tantangan akbar bangsa Indonesia dan Sulawesi Utara. Mulai menurut sistem kurikulum pendidikan yang diajarkan selama ini, membuahkan siswa menjadi obyek pasif yang senantiasa siap mendapat segala yg diberikan oleh pihak pengajar. Metode pembelajaran semacam itu cenderung memposisikan siswa sebagai insan yg hanya bisa membisu tanpa memiliki kreativitas serta inovasi apapun. 

Di pada ilmu komunikasi, syarat semacam ini diibaratkan misalnya teori Peluru yang notabene siswa diidentikan dengan komunikan/audience bersikap pasif terhadap respon atau stimulus yg diberikan tanpa adanya respon pulang. Wajar jika output yang diperoleh nir akan maksimal atapun rupawan. Hal ini jua akan berimbas dalam sulit terwujudnya tujuan awal yaitu upaya meningkatkan mutu pendidikan, selama ini belum mencapai dalam tingkat memadai yg mampu menaikkan taraf kehidupan masyarakat dalam umumnya.

Sesuai dengan perkembangan teknologi yang terdapat, pendidik/guru pada waktu ini sangat terbantu menggunakan Teknologi Informasi serta Komunikasi (TIK) dalam akhir-akhir ini mengalami perkembangan yg sangat pesat seiring dengan perkembangan serta konvergensi yang terjadi dalam teknologi telekomunikasi. Pengajar/pendidik sekarang nir boleh gaptet (gagap teknologi) menggunakan median TIK karena berbagai teknologi dan aplikasi tercipta dalam upaya mendukung aktivitas operasional kehidupan manusia juga organisasi, termasuk aktivitas belajar mengajar. Dalam hai ini pekembangan serta kemajuan TIK para guru/pendidik sebagai energi profesional dituntut agar dapat menyusun materi ajar berbasis TIK. TIK adalah keliru satu faktor perubahan dalam mengungkapkan warta, aplikasi, dan pula manajemen pengetahuan yg terjadi pada dunia pembelajaran.

Seusuai dengan pridikat guru/pendidik sebagai energi profesional dari permintaan profesionalisme setiap guru/pendidik harus menguasai sistem pembelajaran berbasis TIK khususnya di sekolah. Kebanyakan sekolah masih didominasi oleh kiprah pengajar (teacher oriented) menjadi asal pengetahuan bagi peserta didiknya/siswanya. Proses belajar memngajar nmasih dibatasi terselenggara pada ruang kelas, serta interaksi pembelajaran pada bentuk transfer pengetahuan berdasarkan guru/pendidik ke siswanya/siswa. Sementara perkembangan pengetahuan sangat cepat sudah menciptakan asal belajar di perpustakaan tidak relatif mengakomodasi proses latihan intelektual murid. Di era komunikasi global antar institusi, pakar, serta sumber pembelajaran yg bervariasi, interaksi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja sang siapa saja. Perkembangan pendidikan berbasis TIK (teknologi Informasi serta Komunikasi) bergatung dalam infrastruktur serta budaya TIK pada warga . Dalam kerangka itu, langkah pertama buat pendidikan berbasis TIK adalah pendidikan berbasis personal komputer . Pada termin ini, komputer digunakan buat mengatur serta melaksanakan hubungan proses pendidikan. Selanjutnya, digunakan buat pembelajaran berbantukan komputer menggunakan program tutorial dan simulasi menjadi acara yg berdiri sendiri buat pembelajaran mahasiswa. Pendidikan e-supported menunjukkan penggunaan TIK dengan LAN (local area network) yg digunakan buat skop yg lebih akbar misalnya database kesiswaan, database perpustakaan, database aministrasi, e-learning. Dll.

TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM PENDIDIKAN

Teknologi Komunikasi Dan Informasi Dalam Pendidikan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah memberikan efek terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran pada proses pembelajaran yaitu: (1) menurut training ke penampilan, (2) menurut ruang kelas ke pada mana serta kapan saja, (tiga) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (lima) dari saat siklus ke ketika nyata. Komunikasi menjadi media pendidikan dilakukan menggunakan memakai media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui interaksi tatap muka tetapi pula dilakukan menggunakan menggunakan media-media tersebut. Pengajar dapat menaruh layanan tanpa harus berhadapan eksklusif menggunakan siswa. Demikian pula anak didik bisa memperoleh berita dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yg paling terkini adalah berkembangnya apa yg diklaim “cyber teaching” atau pedagogi maya, yaitu proses pengajaran yg dilakukan menggunakan memakai internet. Istilah lain yang makin poluper waktu ini merupakan e-learning yaitu satu model pembelajaran menggunakan memakai media teknologi komunikasi serta keterangan khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran pada jangkauan luas yg belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi bahan ajar atau warta, (dua) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui personal komputer dengan menggunakan teknologi internet yg standar, (tiga) memfokuskan dalam pandangan yg paling luas tentang pembelajaran pada balik paradigma pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning sudah berkembang pada berbagai contoh pembelajaran yang berbasis TIK misalnya: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb. 

Satu bentuk produk TIK merupakan internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan pada ambang abad 21. Kehadirannya sudah menaruh dampak yang relatif besar terhadap kehidupan umat insan pada banyak sekali aspek serta dimensi. Internet merupakan galat satu instrumen dalam era globalisasi yg sudah menjadikan dunia ini menjadi transparan serta terhubungkan dengan sangat mudah serta cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia dunia buat memperoleh informasi pada berbagai bidang serta pada glirannya akan memberikan dampak dalam holistik perilakunya. Dalam kurun ketika yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir sudah terjadi revolusi internet pada aneka macam negara serta penggunaannya dalam banyak sekali bidang kehidupan. Keberadaan internet dalam masa kini telah merupakan satu kebutuhan pokok insan modern pada menghadapi banyak sekali tantangan perkembangan dunia. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan impak terhadap corak serta pola-pola kehidupan umat insan secara holistik. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yg ingin lestari pada menghadapi tantangan global, perlu menaikkan kualitas dirinya buat beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah membarui paras pembelajaran yang berbeda menggunakan proses pembelajaran tradisional yg ditandai menggunakan interaksi tatap muka antara pengajar dengan anak didik baik di kelas juga pada luar kelas. 

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin semakin tinggi melalui jaringan internet yg bersifat dunia di semua global dan menuntut siapapun buat menyesuaikan diri menggunakan kesamaan itu jikalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat nir bisa terlepas dari keberadaan personal komputer serta internet sebagai indera bantu primer. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 sudah menurunkan goresan pena-goresan pena pada tema "Asia in the New Millenium" yg menaruh citra banyak sekali kecenderungan perkembangan yg akan terjadi di Asia pada berbagai aspek seperti ekonomi, politik, kepercayaan , sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. Termasuk pada dalamnya pengaruh revolusi internet pada banyak sekali dimensi kehidupan. Salah satu goresan pena yang berkenaan menggunakan global pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo menggunakan judul "Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas pada era millenium yg akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti kini ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak masih ada lagi format anak duduk di bangku dan pengajar berada pada depan kelas. Ruang kelas pada masa yg akan datang dianggap sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" menjadi loka anak-anak melakukan kegiatan pembelajaran secara individual maupun grup menggunakan pola belajar yg diklaim "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer serta internet. Anak-anak berhadapan menggunakan komputer serta melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet buat memperoleh materi belajar berdasarkan aneka macam asal belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan syarat kemampuan individualnya sebagai akibatnya anak yg lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yg lebih elastis atau lunak serta fleksibel sinkron menggunakan kondisi lingkungan serta kondisi anak sehingga menaruh peluang buat terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik pada dimensi ketika maupun ruang serta materi. Dalam situasi seperti ini, pengajar bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan pada atas. 

Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa pada masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi kitab -kitab serta indera tulis seperti kini ini, akan namun berupa: (1) komputer notebook menggunakan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dipandang atau didengar, dan dilengkapi menggunakan kamera digital serta perekam suara, (dua) Jam tangan yg dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti buat masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku menggunakan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) indera-indera musik, (5) indera olah raga, serta (6) bingkisan buat makan siang. Hal itu menerangkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah pada masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai indera bantu belajar. 

Meskipun teknologi liputan komunikasi dalam bentuk personal komputer dan internet sudah terbukti poly menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih poly kelemahan serta kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan menggunakan materi yg dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yg terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek berita yg diperoleh, nir terjamin adanya ketepatan fakta dari internet sebagai akibatnya sangat berbahaya jika anak kurang mempunyai perilaku kritis terhadap informasi yg diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yg kurang proporsional bisa mengabaikan peningkatan kemampuan yg bersifat manual misalnya menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam interaksi ini guru perlu memiliki kemampuan pada mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian jua perlunya kerjasama yang baik menggunakan orang tua buat membimbing anak-anak belajar pada tempat tinggal masing-masing.

Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk bisa memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yg harus diwujudkan yaitu (1) anak didik serta pengajar wajib mempunyai akses pada teknologi digital serta internet dalam kelas, sekolah, dan forum pendidikan guru, (dua) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi anak didik serta pengajar, serta (3) pengajar harus memilikio pengetahuan serta ketrampilan pada menggunakan alat-indera serta sumber-sumber digital buat membantu siswa agar mencaqpai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik pada kelas juga di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa kemudian (serta terdapat pada masa sekarang), proses pembelajaran dilihat sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upoaya mengisi kekurangan anak didik, (tiga) satu proses transfer serta penerimaan berita, (4) proses individual atau soliter, (lima) kegiatan yg dilakukan menggunakan menjabarkan bahan ajar pada satuan-satuan kecil serta terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan menggunakan perkembangan TIK sudah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran menjadi: (1) proses alami, (dua) proses sosial, (3) proses aktif serta pasif, (4) proses linear serta atau tidak linear, (5) proses yg berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yg berbasis dalam contoh kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur anak didik, (7) aktivitas yg dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan perkara nyata baik individual juga grup.

Hal itu telah menguban peran guru dan siswa pada pembelajaran. Peran guru sudah berubah dari: (1) menjadi penyampai pengetahuan, sumber primer informasi, akhli materi, dan asal segala jawaban, menjadi menjadi fasilitator pembelajaran, instruktur, kolaborator, navigator pengetahuan, serta mitra belajar; (dua) berdasarkan mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih poly memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab pada setiap anak didik pada proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa pada pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) berdasarkan penerima liputan yang pasif sebagai partisipan aktif pada proses pembelajaran, (dua) berdasarkan menyampaikan balik pengetahuan sebagai membuat dan aneka macam pengetahuan, (tiga) berdasarkan pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) sebagai pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain. 

Lingkungan pembelajaran yang pada masa kemudian berpusat dalam pengajar telah bergesar menjadi berpusat pada murid. Secara rinci bisa digambarkan sebagai berikut:
Lingkungan
Berpusat pada guru
Berpusat dalam siswa
Aktivitas kelas
Guru sebagai sentral serta bersifat didaktis
Siswa menjadi sentral dan bersifat interaktif
Peran guru
Menyampaikan liputan-fakta, pengajar menjadi akhli
Kolaboratif, kadang-kadang murid menjadi akhli
Penekanan pengajaran
Mengingat liputan-fakta
Hubungan antara informasi dan temuan
Konsep pengetahuan
Akumujlasi fakta secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman , penilaian acuan patokan
Penilaian
Soal-soal pilihan berganda
Protofolio, pemecahan kasus, dan penampilan
Penggunaan teknologi
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kerja sama, ekspresi
Kreativitas dan kemandirian belajar

Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK memiliki pengaruh yg relatif berarti terhadap proses dan output pembelajaran baik pada kelas juga di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, percepatan, pengayaan, perluasan, efektivitas serta produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan menaikkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara holistik. Melalui penggunaan TIK setiap murid akan terangsang buat belajar maju berkelanjutan sesuai menggunakan potensi serta kecakapan yg dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sebagai akibatnya memungkinkan mengembangkan semua potensi yg dimilikinya.. 

Dalam menghadapi tantangan kehidupan terkini di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diharapkan buat bisa menyesuaikan diri dengan banyak sekali tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hayati ini dengan beberapa alasan diantaranya: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya, ke 2, kreativitas memungkinkan orang bisa menemukan aneka macam alternatif dalam pemecahan perkara, ketiga, kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia menaikkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang mempunyai kelancaran, keluwesan, keaslian, serta perincian. Sedangkan berdasarkan segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yg bertenaga, rasa ingin memahami, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, nir gampang putus harapan, menghargai estetika, mempunyai rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri serta orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai menggunakan orisinalitas, mempunyai nilai, bisa ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini karena kemandirian adalah kunci primer bagi individu buat bisa mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas langsung yang ditandai menggunakan penguasaan kompetensi eksklusif, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan mempunyai komitmen yg kuat terhadap banyak sekali hal.

Dengan memperhatikan ciri-karakteristik kreativitas dan kemandirian tadi, maka bisa dikatakan bahwa TIK memberikan peluang buat berkembangnya kreativitas serta kemandirian anak didik. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan bisa membuat karya-karya baru yg orsinil, mempunyai nilai yg tinggi, dan bisa dikembangkan lebih jauh buat kepentingan yg lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh aneka macam fakta dalam lingkup yg lebih luas serta mendalam sebagai akibatnya menaikkan wawasannya. Hal ini adalah rangsangan yg kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama pada hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, serta komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. 

Peran guru
Semua hal itu tidak akan terjadi menggunakan sendirinya lantaran setiap siswa memiliki syarat yg berbeda antara satu menggunakan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik berdasarkan guru juga dari orang tuanya pada melakukan proses pembelajaran menggunakan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang kiprah yang amat penting serta harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih krusial lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi warta harus bergeser menjadi manajer pembelajaran menggunakan sejumlah peran-kiprah tertentu, lantaran pengajar bukan satu-satunya asal kabar melainkan hanya keliru satu sumber liputan. Dalam bukunya yg berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. Dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-kiprah pengajar mengalami perluasan yaitu pengajar sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, serta pengarang. Sebagai pelatih (coaches), pengajar harus memberikan peluang yg sebesar-besarnya bagi anak didik buat mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai menggunakan kondisi masing-masing. Pengajar hanya menaruh prinsip-prinsip dasarnya saja serta nir menaruh satu cara yg mutlak. Hal ini merupakan analogi pada bidang olah raga, pada mana pelatih hanya menaruh petunjuk dasar-dasar permainan, ad interim pada permainan itu sendiri para pemain akan berbagi kiat-kiatnya sinkron dengan kemampuan serta kondisi yg ada. Sebagai konselor, guru harus sanggup membangun satu situasi hubungan belajar-mengajar, pada mana murid melakukan konduite pembelajaran pada suasana psikologis yg kondusif dan nir terdapat jarak yang kaku menggunakan pengajar. Disamping itu, pengajar diperlukan bisa tahu syarat setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, pengajar memiliki kemandirian serta swatantra yg seluas-luasnya pada mengelola keseluruhan aktivitas belajar-mengajar dengan mendinamiskan semua sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, pengajar tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi jua berperilaku belajar dari interaksinya menggunakan anak didik. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya asal belajar bagi anak, akan namun beliau menjadi fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yg sanggup menggerakkan orang lain buat mewujudkan konduite menuju tujuan bersama. Disamping sebagai guru, guru wajib mendapat kesempatan buat mewujudkan dirinya menjadi pihak yg bertanggung jawab pada banyak sekali aktivitas lain pada luiar mengajar. Sebagai pembelajar, pengajar harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta menaikkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, pengajar harus selalu kreatif serta inovatif membuat berbagai karya yg akan dipakai untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Pengajar yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang standar, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yg bisa menghasilkan aneka macam karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu wajib didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yg tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.

TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM PENDIDIKAN

Teknologi Komunikasi Dan Informasi Dalam Pendidikan
Perkembangan teknologi keterangan serta komunikasi (TIK) telah menaruh pengaruh terhadap global pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK terdapat 5 pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) menurut training ke penampilan, (dua) dari ruang kelas ke di mana serta kapan saja, (3) berdasarkan kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (lima) dari saat siklus ke waktu konkret. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan menggunakan menggunakan media-media komunikasi misalnya telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara pengajar dan anak didik tidak hanya dilakukan melalui interaksi tatap muka tetapi juga dilakukan menggunakan menggunakan media-media tersebut. Guru bisa memberikan layanan tanpa wajib berhadapan eksklusif menggunakan siswa. Demikian jua anak didik dapat memperoleh kabar dalam lingkup yang luas menurut banyak sekali sumber melalui cyber space atau ruang maya menggunakan memakai personal komputer atau internet. Hal yang paling terkini merupakan berkembangnya apa yang diklaim “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pedagogi yang dilakukan menggunakan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper waktu ini artinya e-learning yaitu satu model pembelajaran menggunakan memakai media teknologi komunikasi dan warta khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning adalah satu penggunaan teknologi internet pada penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan 3 kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan buat memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau liputan, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui personal komputer dengan memakai teknologi internet yg standar, (3) memfokuskan dalam pandangan yg paling luas tentang pembelajaran di pulang kerangka berpikir pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning telah berkembang pada banyak sekali contoh pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb. 

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan pada ambang abad 21. Kehadirannya sudah memberikan efek yg relatif akbar terhadap kehidupan umat manusia pada aneka macam aspek dan dimensi. Internet adalah keliru satu instrumen dalam era globalisasi yg telah membuahkan global ini sebagai transparan serta terhubungkan menggunakan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia dunia buat memperoleh fakta dalam aneka macam bidang serta pada glirannya akan menaruh efek dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir sudah terjadi revolusi internet di aneka macam negara dan penggunaannya dalam aneka macam bidang kehidupan. Keberadaan internet dalam masa sekarang telah merupakan satu kebutuhan pokok insan modern dalam menghadapi aneka macam tantangan perkembangan global. Kondisi ini telah tentu akan memberikan efek terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat insan secara holistik. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yg ingin lestari pada menghadapi tantangan dunia, perlu menaikkan kualitas dirinya buat beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK sudah membarui wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai menggunakan hubungan tatap muka antara pengajar dengan siswa baik pada kelas maupun pada luar kelas. 

Di masa-masa mendatang, arus keterangan akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global pada seluruh global serta menuntut siapapun buat menyesuaikan diri menggunakan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat nir dapat terlepas berdasarkan keberadaan personal komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan pada tema "Asia in the New Millenium" yg menaruh citra aneka macam kesamaan perkembangan yang akan terjadi pada Asia dalam banyak sekali aspek misalnya ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. Termasuk pada dalamnya imbas revolusi internet dalam aneka macam dimensi kehidupan. Salah satu goresan pena yg berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul "Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam goresan pena tadi dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh tidak sinkron dengan ruang kelas misalnya sekarang ini yaitu dalam bentuk misalnya laboratorium personal komputer pada mana tidak masih ada lagi format anak duduk di bangku dan pengajar berada pada depan kelas. Ruang kelas di masa yg akan tiba diklaim sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" menjadi tempat anak-anak melakukan kegiatan pembelajaran secara individual maupun grup menggunakan pola belajar yg disebut "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan menggunakan personal komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet buat memperoleh materi belajar menurut aneka macam sumber belajar. Anak akan melakukan aktivitas belajar yang sesuai menggunakan syarat kemampuan individualnya sehingga anak yg lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai menggunakan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yg lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sinkron dengan kondisi lingkungan serta syarat anak sebagai akibatnya memberikan peluang buat terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik pada dimensi saat juga ruang dan materi. Dalam situasi misalnya ini, guru bertindak menjadi fasilitator pembelajaran sesuai dengan kiprah-kiprah sebagaimana dikemukakan di atas. 

Dalam goresan pena itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-kitab dan alat tulis seperti kini ini, akan namun berupa: (1) personal komputer notebook menggunakan akses internet tanpa kabel, yg bermuatan materi-materi belajar yg berupa bahan bacaan, materi buat ditinjau atau didengar, serta dilengkapi dengan kamera digital dan perekam suara, (2) Jam tangan yg dilengkapi menggunakan data langsung, uang elektronika, kode sekuriti buat masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan software, akses internet, permainan, musik, serta TV, (4) indera-indera musik, (5) alat olah raga, serta (6) bingkisan buat makan siang. Hal itu memperlihatkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah pada masa itu nanti berupa perlengkapan yg bernuansa internet menjadi alat bantu belajar. 

Meskipun teknologi fakta komunikasi pada bentuk komputer dan internet sudah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif serta produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan serta kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah menggunakan internetnya itu sendiri dibandingkan menggunakan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yg terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek warta yg diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan liputan berdasarkan internet sehingga sangat berbahaya bila anak kurang mempunyai sikap kritis terhadap warta yg diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yg kurang proporsional bisa mengabaikan peningkatan kemampuan yg bersifat manual misalnya menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu mempunyai kemampuan pada mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian juga perlunya kerjasama yg baik dengan orang tua buat membimbing anak-anak belajar di tempat tinggal masing-masing.

Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk bisa memanfaatkan TIK pada memperbaiki mutu pembelajaran, terdapat tiga hal yang wajib diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus mempunyai akses kepada teknologi digital serta internet pada kelas, sekolah, dan forum pendidikan guru, (2) wajib tersedia materi yang berkualitas, bermakna, serta dukungan kultural bagi siswa dan pengajar, serta (tiga) pengajar harus memilikio pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan asal-sumber digital buat membantu siswa supaya mencaqpai standar akademik. Sejalan menggunakan pesatnya perkembangan TIK, maka sudah terjadi pergeseran pandangan mengenai pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa kemudian (serta masih ada pada masa sekarang), proses pembelajaran dilihat sebagai: (1) sesuatu yg sulit serta berat, (dua) upoaya mengisi kekurangan siswa, (tiga) satu proses transfer serta penerimaan keterangan, (4) proses individual atau soliter, (lima) kegiatan yg dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan mini serta terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif serta pasif, (4) proses linear serta atau nir linear, (5) proses yg berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur murid, (7) aktivitas yg dievaluasi menurut pemenuhan tugas, perolehan output, dan pemecahan masalah konkret baik individual maupun gerombolan .

Hal itu telah menguban kiprah pengajar serta siswa pada pembelajaran. Peran pengajar telah berubah menurut: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber primer fakta, akhli materi, serta sumber segala jawaban, menjadi menjadi fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan kawan belajar; (dua) berdasarkan mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih poly menaruh lebih poly alternatif serta tanggung jawab pada setiap anak didik dalam proses pembelajaran. Sementara itu kiprah murid dalam pembelajaran sudah mengalami perubahan yaitu: (1) menurut penerima keterangan yg pasif sebagai partisipan aktif pada proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan pulang pengetahuan menjadi menghasilkan dan aneka macam pengetahuan, (3) berdasarkan pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif menggunakan siswa lain. 

Lingkungan pembelajaran yang pada masa kemudian berpusat pada guru sudah bergesar menjadi berpusat pada siswa. Secara rinci bisa digambarkan sebagai berikut:
Lingkungan
Berpusat dalam guru
Berpusat pada siswa
Aktivitas kelas
Guru menjadi sentral dan bersifat didaktis
Siswa menjadi sentral dan bersifat interaktif
Peran guru
Menyampaikan warta-kabar, guru sebagai akhli
Kolaboratif, kadang-kadang siswa menjadi akhli
Penekanan pengajaran
Mengingat informasi-fakta
Hubungan antara informasi serta temuan
Konsep pengetahuan
Akumujlasi keterangan secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman , evaluasi acuan patokan
Penilaian
Soal-soal pilihan berganda
Protofolio, pemecahan kasus, serta penampilan
Penggunaan teknologi
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kerja sama, ekspresi
Kreativitas dan kemandirian belajar

Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang relatif berarti terhadap proses serta output pembelajaran baik di kelas maupun pada luar kelas. TIK sudah memungkinkan terjadinya individuasi, percepatan, pengayaan, ekspansi, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yg pada gilirannya akan mempertinggi kualitas pendidikan menjadi infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap murid akan terangsang buat belajar maju berkelanjutan sinkron dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Pembelajaran menggunakan memakai TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan menyebarkan seluruh potensi yang dimilikinya.. 

Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern pada abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan buat mampu beradaptasi menggunakan aneka macam tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hayati ini menggunakan beberapa alasan antara lain: pertama, kreativitas menaruh peluang bagi individu buat mengaktualisasikan dirinya, ke 2, kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan kasus, ketiga, kreativitas bisa menaruh kepuasan hayati, dan keempat, kreativitas memungkinkan insan menaikkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yg memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai menggunakan motivasi yg bertenaga, rasa ingin tahu, tertarik menggunakan tugas beragam, berani menghadapi resiko, nir mudah putus harapan, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, bisa ditransformasikan, dan bisa dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diharapkan pada kehidupan yg penuh tantangan ini sebab kemandirian adalah kunci utama bagi individu buat mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan pada kehidupannya. Kemandirian didukung menggunakan kualitas langsung yg ditandai dengan dominasi kompetensi eksklusif, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif pada berfikir dan bertindak, sanggup mengendalikan dirinya, serta mempunyai komitmen yang kuat terhadap banyak sekali hal.

Dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik kreativitas serta kemandirian tersebut, maka bisa dikatakan bahwa TIK menaruh peluang buat berkembangnya kreativitas serta kemandirian anak didik. Pembelajaran menggunakan dukungan TIK memungkinkan bisa membentuk karya-karya baru yg orsinil, mempunyai nilai yg tinggi, dan bisa dikembangkan lebih jauh buat kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh banyak sekali berita dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga mempertinggi wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yg kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri juga terhadap pihak lain. 

Peran guru
Semua hal itu nir akan terjadi menggunakan sendirinya karena setiap murid mempunyai kondisi yg tidak sama antara satu menggunakan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun menurut orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran menggunakan dukungan TIK. Dalam kaitan ini pengajar memegang peran yang amat krusial serta harus menguasai seluk beluk TIK serta yang lebih krusial lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi fakta wajib bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah kiprah-kiprah tertentu, karena pengajar bukan satu-satunya asal berita melainkan hanya keliru satu asal informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. Dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang kiprah-kiprah guru mengalami perluasan yaitu guru menjadi: instruktur (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, serta pengarang. Sebagai instruktur (coaches), pengajar wajib menaruh peluang yang sebanyak-besarnya bagi anak didik buat mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai menggunakan syarat masing-masing. Pengajar hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja serta tidak memberikan satu cara yg mutlak. Hal ini adalah analogi pada bidang olah raga, pada mana pelatih hanya menaruh petunjuk dasar-dasar permainan, ad interim pada permainan itu sendiri para pemain akan menyebarkan kiat-kiatnya sinkron menggunakan kemampuan dan syarat yg ada. Sebagai konselor, pengajar harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana murid melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif serta tidak ada jeda yang kaku menggunakan pengajar. Disamping itu, pengajar dibutuhkan bisa tahu kondisi setiap anak didik serta membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru mempunyai kemandirian dan swatantra yg seluas-luasnya pada mengelola keseluruhan aktivitas belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh asal-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi pula berperilaku belajar menurut interaksinya menggunakan anak didik. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi beliau sebagai fasilitator pembelajaran murid. Sebagai pemimpin, diperlukan guru bisa sebagai seorang yg mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan beserta. Disamping sebagai pengajar, guru wajib mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab pada aneka macam kegiatan lain pada luiar mengajar. Sebagai pembelajar, pengajar harus secara terus menerus belajar pada rangka menyegarkan kompetensinya dan menaikkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, pengajar wajib selalu kreatif dan inovatif membentuk aneka macam karya yg akan dipakai buat melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang berdikari bukan sebagai tukang atau teknisi yg harus mengikuti satu buku petunjuk yg standar, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang sanggup membuat banyak sekali karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu wajib didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yg tinggi menjadi basis kualitas profesionaliemenya.

PEMBANGUNAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI INDONESIA TANTANGAN DAN PELUANG

Pembangunan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Indonesia, Tantangan Dan Peluang
Sejarah Peradaban Manusia mencatat bahwa 50 tahun terakhir peran teknologi kabar dan komunikasi sudah sebagai bagian utama penentu mobilitas peradaban umat insan. Sebutlah bidang kemanusiaan apa yg ketika ini tidak tersentuh sang teknologi liputan dan komunikasi ini. Bidang ekonomi, perdagangan, pertahanan keamanan, bidang sosial, pendidikan tidak ada satupun yg tidak tersentuh sang teknologi fakta serta komunikasi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah berkembang sangat jauh waktu ini serta telah merevolusi cara hayati kita, baik terhadap cara berkomunikasi, cara belajar, cara bekerja, cara berbisnis, dan lain sebagainya. Era kabar menaruh ruang lingkup yg sangat besar buat mengorganisasikan segala kegiatan melalui cara baru, inovatif, instan, transparan, seksama, sempurna saat, lebih baik, menaruh kenyamanan yang lebih dalam mengelola serta menikmati kehidupan.

Dengan teknologi informasi serta komunikasi semua proses kerja serta konten akan ditransformasikan dari fisik dan statis menjadi digital, mobile, impian serta personal. Akibatnya kecepatan kinerja usaha meningkat dengan cepat. Kecepatan proses semakin tinggi sangat tajam pada poly kegiatan terkini manusia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa poly aktivitas yg berubah sebagai sangat cepat, proses Analisa perdagangan (trading analytics) contohnya, yang dahulu membutuhkan waktu 30 mnt sekarang hanya membutuhkan lima dtk; Operasional penerbangan (airline operation), yg dahulu 20 mnt kini hanya 30 dtk; Pertanyaan-pertanyaan yg diterima oleh call center (call center inquiries), yg dahulu membutuhkan waktu 8 jam, menggunakan donasi expert information system kini hanya membutuhkan saat 10 dtk; Penelusuran posisi keuangan (track financial position), yg dahulu membutuhkan saat 1 hari penuh, sekarang hanya 5 mnt; Supply chain updates, yang dahulu 1 hari sekarang hanya 15 mnt; Transfer dokumen (document transfer) yg dahulu 3 hari, sekarang hanya 45 dtk; Aktifasi telepon (phone activation) yg dahulu 3 hari kini hanya 1 jam; Pemulihan gudang data (refresh data warehouse) yg dahulu 1 bulan sekarang hanya 1 jam; Penyelesaian dagang (trade settlement) yg dahulu 3 hari, kini hanya 1 hari; Pemesanan PC (build to order PC) yg dahulu 6 hari, sekarang hanya 24 jam.

Bagaimana memanfaatkan Teknologi ini buat menaikkan daya saing Nasional misalnya menjadi tugas yang nir ringan1. Sampai dua tahun yang lalu daya saing Indonesia masih menempati urutan ke-58 berdasarkan 60 negara di dunia. Posisi ini balik turun. Kurang berdasarkan dua pekan menurut hari ini kembali kita mendengarkan adanya pengumuman ranking daya saing Indonesia yg balik diturunkan peringkatnya menjadi negara yang memiliki daya saing yg rendah di dunia. 

Human Development Index Indonesia dalam Tahun 2004 masih menempati urutan ke-111 berdasarkan 177 negara dan urutan ke-5 berdasarkan negara ASEAN, E-Readiness Indonesia (kesiapan infrastruktur teknologi kabar dan komunikasi, dan kebijakan lingkungan usaha serta sosial yang mendukung) pada tahun 2005 menempati urutan ke-59 menurut 64 negara.

Realitas syarat ini memberikan kesempatan yang luas bagi Tekonologi Informasi dan komunikasi buat berperan lebih luas. Ruang perkembangan yg sangat luas inilah yg menaruh kesempatan bagi semua rakyat negara, bahkan termasuk para Lulusan Jurusan Ilmu Komputer Unika Parahyangan ini buat ikut berperan mengisinya. Itulah mengapa topik Keynote Speech saya saat ini berkaitan dengan tantangan dan peluang bagi para lulusan Jurusan Ilmu Komputer.

Marilah kita berjalan-jalan melihat seluruh wilayah negeri ini. Marilah kita melihat-lihat garis pantai yg bahkan lebarnyapun akan jauh lebih panjang dibandingkan menggunakan panjang benua Eropa. Negeri kita mempunyai garis pantai terpanjang di semua global. Apa yang dapat dilakukan oleh TIK terhadap kharakter spesial alam negeri ini? Apa yg menjadi kelebihan dari garis pantai yang lebar, apa yg menjadi kekurangannya, apa yg menjadi kelemahan serta kekuatannya ?

Baru-baru ini kita mendengar keberhasilan Polisi Republik Indonesia membongkar penyelundupan 1 Ton narkoba yg dikirim oleh para pengedar obat terlarang ini menurut galat satu lokasi pantai dari ribuan kilometer garis pantai yg kita miliki. Dengan garis pantai yang ribuan kilometer yg kita miliki ini, sebenarnya membuat negeri ini sebagai sangat terbuka. Hampir nir mungkin buat mengendalikan serta mengontrol semua kegiatan yang dilakukan pada titik-titik pantai di perairan laut yang kita miliki. Bagaimana TIK berperan dalam memecahkan kasus misalnya itu ? Ada kesempatan yang luar biasa besar bagi TIK buat ikut membenahi masalah-perkara seperti ini. Yang berarti terbuka peluang yg sangat luas bagi para lulusan ilmu komputer buat ikut berperan langsung.

Marilah kita lihat kini kekayaan alam laut yang kita miliki. Bangsa kita ini mempunyai asal daya alam yang paling banyak ragamnya di muka bumi ini. Belum pernah ada sebuah lokasi yang mempunyai keragaman kekayaan alam laut sebanyak yang diberikan oleh Tuhan kepada Bangsa ini.

Ada sebuah data menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (Data September 2005) yang mengungkapkan bahwa di tahun 2005 ada sekitar 5 juta orang penduduk pada Pulau General Santos Filipina yang menikmati output bahari Indonesia menurut sebanyak 250 kapal ikan Filipina yang menangkap ikan pada Indonesia secara resmi. Data ini membuat ijin menangkap ikan yg tadinya diberikan terpaksa dihentikan dalam tahun itu, lantaran diperkirakan masih ada jutaan ton ikan per tahun yang diangkut ke negara tetangga itu tanpa terdapat bagi output menggunakan Indonesia.

Dari data yg dimiliki sang Departemen yg sama misalnya ketika ini masih ada potensi lestari ikan laut sebesar 6,2 juta ton ikan yang baru tereksploitasi lebih kurang sebesar 3,5 juta ton ikan saja (kurang menurut 56 %).

Sebanyak 65 % potensi ikan tuna global ternyata dimiliki oleh Indonesia. Sisanya 35 % dibagibagi di banyak perairan bahari lain di muka bumi. Data yg luar biasa ini memberikan keterangan pada kita bahwa negeri ini sangat kaya raya. Jutaan dollar potensi hasil bahari yang kita miliki bisa kita pendayagunaan buat menyediakan dana yang relatif bagi kesejahteraan negeri. Jutaan dollar potensi laut yg kita miliki akan menaruh dana yg cukup bagi puluhan juta famili miskin serta jutaan pengangguran yang ada pada Indonesia ini contohnya. Di sinilah kiprah krusial TIK pada Indonesia. Peran penting TIK adalah membantu mengidentifikasi kekayaan yang dimiliki oleh negeri, membantu proses eksploitasi serta pemanfaataannya, dan membantu mengarahkan kelebihan yang dimiliki sang kekayaan alam yg melimpah ruah ini untuk memecahkan aneka macam kasus yang dihadapi sang negeri.

Dalam kegiatan pengembangan embrio usaha dikenal kata technopreneurship. Sebuah kegiatan pengembangan usaha yang mengedepankan kemandirian dalam bidang permodalan kerja dan berorientasi dalam utilitas dan penggunaan keunggulan teknologi termasuk teknologi keterangan. Kita melihat dengan konkret bukti dari technopreneurship ini pada Lembah Silicon. 

Hampir 80 % usaha industri yang waktu ini mendominasi dunia dibangun dari lembah silicon dengan pendekatan technopreneurship ini. Marilah kita lihat fenomena Google yang ketika ini memiliki nilai bisnis lebih dari 120 milyar dollar yang mengungguli pendahulunya Yahoo yg waktu ini mempunyai nilai usaha hanya 60 milyar dollar. Bandingkan nilai bisnis ini dengan contohnya nilai Bisnis PT Telkom Tbk. Yg baru mencapai kurang berdasarkan 1/2 dari nilai bisnis Yahoo. Nilai usaha akbar yang dicapai sang perusahaan-perusahaan berbasis TIK ini ternyata dibangun pada awalnya sang pengembangan nilai-nilai technopreneurship di lembah silicon. 

Kita mampu mengusung konteks technopreneurship ini dalam pemanfaatan keunggulan TIK di Indonesia terhadap berlimpahnya sumber daya alam yg ada pada Indonesia. Di sini dan pada konteks yg sama para lulusan jurusan Ilmu Komputer dapat menemukan kiprah penting serta peluang yg sangat akbar untuk tumbuh serta berkembang.

Terkait dengan hal ini pula perlu saya ingatkan lingkungan industri buat memperhatikan sektor riset dan development. Panduan normal buat alokasi dana Riset serta Pengembangan merupakan sebesar 5 % s.D. 25 % berdasarkan total nilai penjualan yang dimiliki sang perusahaan. Besarnya nilai yang diinvestasikan buat aktivitas R&D ini akan menjadi salah satu pendorong keluarnya aktivitas terkait technopreneurship2. Pengalokasian dana lebih besar buat aktivitas R& D ini akan mendorong lebih cepat technopreneurship.

Sebelum mengurai lebih lanjut betapa luasnya manfaat teknologi Informasi dalam kehidupan kita marilah kita melihat sebentar apa yang sudah terjadi dalam bangsa ini beberapa waktu yg kemudian, serta apa peran Teknologi Informasi serta Komunikasi pada sana.

Baru-baru ini waktu terjadi rangkaian bala Tsunami serta gempa bumi akbar pada Pantai Selatan Pulau Jawa, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam teknologi keterangan serta komunikasi hadir membantu remediasi semua kehidupan rakyat korban bala. Ratusan ribu korban yg berguguran menciptakan aktivitas penanganan pasca bala wajib dilakukan dengan sangat cepat. Rusaknya infrastruktur jalan, jaringan telekomunikasi, instalasi listrik, perumahan, dan aneka macam sarana penunjang kegiatan sosial lain menciptakan penanganan korban sebagai sangat tidak gampang.

Teknologi kabar dan komunikasi hadir serta menaruh poly kemudahan dalam proses pengungsian terbesar dalam sejarah Republik ini. Dengan perangkat telepon satelit yg mini serta mudah dibawa; proses evakuasi korban, hadiah bantuan, serta pemantauan keadaan korban bala menjadi gampang dilakukan. Tidak terbayangkan apa yang terjadi di NAD serta Sumatera Utara, Pantai Selatan Pulau Jawa, serta Yogyakarta pasca bala Tsunami serta gempa tanpa donasi teknologi warta dan komunikasi.

Di Nagroe Aceh Darussalam diakui atau nir bencana Tsunami sudah menyebabkan sebuah periode sejarah peradaban manusia Indonesia musnah dari Bhumi Serambi Mekah itu. Demikian juga di Yogyakarta, serta wilayah-daerah pantai pesisir selatan Pulau Jawa.

Selain musnahnya jiwa serta harta, terdapat tak terhitung data dan informasi yang hancur pasca bala tadi. Informasi yg dikumpulkan selama ratusan tahun di Bhumi Aceh misalnya hilang beserta dengan seratus ribu lebih jiwa. Bahkan hingga ketika ini Kita nir memahami warta krusial apa saja yang telah hilang dampak bala besar itu. Informasi itu mungkin sangat dibutuhkan pada masa yg akan datang, dan sampai waktu ini kita juga nir mengetahui bagian Dunia masa depan merupakan global yg dipenuhi jalinan berita masa lalu dan masa sekarang yg rumit. Sebuah bangsa akan kehilangan jati dirinya jika ada setitik jalinan informasi ini yg hilang. Sampai waktu ini ilmu pengetahuan masih belum mengetahui paras integral kondisi masa kemudian peradaban serta kehidupan yang ada pada dunia. Banyak rahasia tak terpecahkan yang timbul lantaran adanya missing link warta. Dan missing link yg timbul ini terbukti poly membuat manusia terbaru malah kehilangan jati dirinya, tidak mengerti arah serta tujuan berkembangnya peradaban. Dan di masa sekarang missing link informasi ini sanggup berarti keluarnya poly kerusakan besar di global.

Tugas kita yg hayati pasca bencana Tsunami yang baru kemudian adalah bagaimana memanfaatkan keunggulan Teknologi Informasi ini buat melindungi keterangan pada seluruh Indonesia, supaya jika ada bala atau kerusakan besar yang melanda, nir lagi ada kemusnahan berita massal yg menciptakan bangsa ini kehilangan jati dirinya.

Puluhan ribu bahkan seratus ribu lebih yg gugur pasca rangkaian bala tadi, memberikan pesan kepada kita yg masih hidup supaya memanfaatkan teknologi fakta buat menjaga kabar berharga pada lebih kurang kita, buat bekal kehidupan bangsa ini pada masa depan. 

Dengan nasabah yang masih berupa lembaran-lembaran kertas, bagaimana menyelamatkan obligasi, surat-surat berharga, yang ketika ini sebagaian besar terbuat dari lembaran kertas. Dalam dunia pendidikan seratus ribu lebih file ijazah sekolah musnah. Dan jutaan data nilai output pendidikan ratusan ribu anak didik pada NAD juga hilang tersapu bala. Bagaimana melalui proses legalisasi pendidikan bila data mengenai output pendidikan bertahun-tahun hilang misalnya ini? Bukankah proses legalisasi pendidikan pada Republik ini masih mengedepankan peranan lembaran kertas yg terlegalisasi ? Bagaimana nasib puluhan ribu lulusan pendidikan yang akan masuk global kerja tanpa adanya legalisasi output pendidikan ?

Bencana beruntun yg terjadi itu kita pulang diingatkan bahwa negeri kita berada di lokasi ring of fire, sebuah negeri yg paling banyak memiliki potensi terkena guncangan gempa.

Tidak mampu kita bayangkan betapa lebih hancurnya Bangsa Indonesia, apabila bala-bencana ini terjadi di Ibu Kota Jakarta, contohnya. Sebuah kota yang memuat lebih menurut 99 % informasi tentang hidup dan kehidupan Bangsa Indonesia. Betapa poly keterangan vital Bangsa yg hancur bila bencana seperti ini terjadi pada Jakarta.

Sungguh Tuhan masih mencintai bangsa Indonesia. Tanah serambi Aceh, Yogyakarta, pantai selatan Pulau Jawa, serta beberapa lokasi negeri ini, buat kesekian kalinya telah memposisikan diri sebagai penyelamat semua Bangsa. Dengan bersedia mendapat rangkaian bencana ini dari Tuhan, maka sebenarnya semua Bangsa Indonesia akan terselamatkan.

Bencana-bencana akbar yg melanda, pada hakekatnya adalah keliru satu bentuk kecintaan Tuhan Yang Maha Esa pada bangsa Indonesia, buat menaruh ruang pembelajaran akbar bagi Bangsa ini terutama terhadap pengelolaan warta. Hanya saja mampukah kita seluruh ketika ini menarik pesan tersirat besar dari peristiwa ini ?

Itulah sekelumit peran besar Teknologi Informasi dalam menyelamatkan Bangsa ini. Contoh kasus penanganan bala yang terjadi di beberapa lokasi bala menggunakan donasi Teknologi Informasi dan Komunikasi sebenarnya telah menunjukkan paras dan kiprah krusial Teknologi ini bagi bangsa kita pada masa sekarang serta masa-masa yang akan datang.

Transformasi telah terjadi di seluruh bidang hidup insan dampak Teknologi Informasi. Sampai pertengahan 2006 yg kemudian contohnya Time Magazine mencatat nomor usaha biro jodoh pada internet mencapai lebih 500 juta dollar atau sekitar lima Trilyun rupiah. Di dalam negeri akhir Maret 2006 yg kemudian lebih berdasarkan 1 juta orang nasabah perbankan sudah memakai mobile banking berbasis sms (sms-banking) pada 17 bank Nasional. Bisnis dan bahkan kegiatan personal ketika ini dapat dilakukan dengan sangat efisien menggunakan donasi Teknologi ini.

Sebagai citra betapa besarnya nilai transaksi yang berkait menggunakan kegiatan berbasis online ini misalnya dapat dicermati dari transaksi keuangan yang waktu ini dilakukan Bank Indonesia menggunakan sistem RTGS (real time gross settlement). Volume transaksi yang dilakukan sang sistem yang dibangun sang Bank Indonesia ketika ini telah mencapai rata-homogen Rp 111 triliun rupiah sehari berdasarkan sekitar 18.900 transaksi (bandingkan dengan kliring harian sebanyak 300.000 warkat menggunakan jumlah rata-homogen Rp.4,9 triliun)4? Aktivitas transaksi elektro yg berasal dari kartu kredit, mesin ATM, transaksi elektro antar perusahaan sudah mencapai 81 Trilyun per hari.

Aktivitas E-Commerce dunia berbasis web juga sudah mencapai nilai yang nir kalah akbar. Sebagai gambaran lain tentang besarnya pasar dan aktivitas manusia yang telah terhubung dengan kegiatan e-commerce adalah statistis jumlah pengguna internet di dunia dan gambaran kecepatan perkembangannya6. Pada tahun 1994 jumlah pengguna internet dunia hanya 3 juta orang. Jumlah ini berkembang menggunakan pesat dan dalam ketika 4 tahun pada tahun 1998 jumlahnya sudah mencapai 100 juta pengguna7. Setiap hari jumlah pengguna internet sudah berkembang sebanyak 600 ribu orang per hari8, sebesar 1000 situs per hari tampil di internet pada tahun 2006 ini. Bandingkan jua data ini dengan data berdasarkan DFC Intelligent yang menyampaikan penjualan game on line dunia mencapai nilai lebih dari 3 milyar dollar dalam tahun 2006 serta diperkirakan akan mencapai 13 milyar dollar pada tahun 20119.

Pada tahun 2006 jumlah pengguna internet diperkirakan mencapai jumlah lebih berdasarkan 1 Milyar orang di semua dunia. Karakter pasar raksasa ini tidak sama menggunakan pasar konvensional yang dibatasi oleh koridor ruang serta waktu. Pasar super besar internet ini merupakan pasar tunggal menggunakan karakter sangat terbuka. Tanpa melihat posisi negara yang tidak sinkron dan tanpa melihat dan mengikutsertakan karakter pembuat dan konsumen, maka pasar internet secara hakikat merupakan pasar terbesar yang pernah dibangun sang umat insan.

Pada tahun 1996 penerimaan yg diperoleh dari konsumen e-commerce mencapai nilai sebanyak 1,8 milyar dollar Amerika. Pada tahun 2002 mencapai nilai 26 milyar dollar Amerika.

Pada tahun 2002 jumlah ini berkembang dalam kisaran 42,2 milyar dollar Amerika10. Besarnya nilai transaksi inilah yang menciptakan pengamat seperti Amy Harmon menjuluki E-Commerce menjadi the next big thing11, ad interim internet sendiri menjadi infrastruktur utama ECommerce ketika ini disebut-sebut menjadi the mainstream budaya waktu ini.

Data pertengahan tahun 2006 ini menerangkan industri terkait teknologi kabar berkembang sebesar 6,9 %. Industri jasa berkembang paling besar dengan taraf perkembangan 10,4 %, disusul dengan industri pelaksanaan telematika 8,7 %, hardware 6,lima % dan perangkat komunikasi 7,8 %12.

Teknologi Informasi dan Komunikasi menjanjikan banyak keunggulan yg sebagai tugas kita bersama buat terus mengelaborasinya. Ada tiga bagian primer pembangun teknologi berita yang dirumuskan sang para pakar menjadi kerja sama dari tiga domain C (Computer, Communication, dan Content). Pakar teknologi keterangan komunikasi yang lain merumuskan komponen pembangun itu dengan lebih sederhana yaitu terdiri berdasarkan komponen komponen Hardware, Software, dan Firmware.

Komponen Hardware sungguhpun terlihat kasat mata bentuknya, akan namun ternyata hanya adalah kurang 30 % persen menurut semua bagian sistem yang membentuk Teknologi Informasi serta Komunikasi. Lebih menurut 70 % komponen pembangun Teknologi Informasi serta  Komunikasi adalah aplikasi atau pelaksanaan (Data CITRAS Indonesia).

Artinya tanpa ada pelaksanaan maka sebuah mikro personal komputer , desktop personal komputer , LAP Top atau sebuah Palm Top, ataupun sebuah Super Computer hanyalah onggokan logam tersusun yang nir dapat diambil manfaatnya selain oleh para pencari logam bekas. Sebuah komputer atau bahkan perangkat telekomunikasi seharga 300 juta dollar US misalnya satelit hanyalah sebuah logam bersusun yg tidak bisa dipakai tanpa adanya pelaksanaan atau software yg menjalankannya, susunan logam tersebut hanya akan sebagai sebuah tubuh jiwa. Sesungguhnya JIWA berdasarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi ternyata merupakan aplikasi atau softwarenya.

Sama seperti manusia sesungguhnya yg paling berarti dan memberi makna kehidupan manusia adalah JIWAnya. Lantaran betatapun sentosa dan kuat fisiknya akan namun tanpa JIWA beliau jauh beda menggunakan SEONGGOK BATU.

Sedemikian pentingnya sisi software berdasarkan Teknologi Informasi serta Komunikasi membuat pemerintah memutuskan membentuk Direktorat Aplikasi Telematika di bawah Departemen komunikasi dan informatika. Pembentukan Departemen Komunikasi dan Informatika dan khususnya Dirjen Aplikasi Telematika ini memang ditujukan untuk mendayagunakan kelebihan Teknologi Informasi buat kemajuan bangsa.

Deretan angka ini masih ditambah menggunakan belum siapnya semua komponen Teknologi liputan dan komunikasi buat digelar di seluruh Indonesia. Teledensitas, sebuah angka buat mengukur penetrasi infrastruktur teknologi liputan misalnya masih memperlihatkan nomor 11 – 25% buat kota besar , ad interim buat pedesaan baru mencapai 0.2%. Masih terdapat ± 43.022 desa tanpa akses telepon (64.4% dari 66.778 desa). Penetrasi infrastruktur telekomunikasi, 7.82 juta fixed line (±tiga% penduduk), ± 24 juta telepon selular (5.lima% penduduk). Pelanggan Internet tahun 2004 pada-estimasi sebesar 1.tiga juta. Pengguna Internet tahun 2004 di-estimasi sebanyak 12 juta. Sementara itu 80 % penggunaan bandwith internet waktu ini masih buat game online dan akses-akses non produktif lainnya.

Sementara pada sisi lain kita dituntut sang warga internasional buat segera menyelesaikan persiapan awal menuju Masyarakat Informasi Global.

WSIS – (World Summit on the Information Society) yg adalah lembaga teknologi berita serta komunikasi dunia pada bawah badan PBB ITU (International Telecommunication Union) sepakat buat mencanangkan dalam Tahun 2015, planning-planning aksi menjadi berikut :
1. Menghubungkan Desa dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta membentuk Community Access Point;
2. Menghubungkan Universitas, Akademi, taraf SMU serta SMP, tingkat SD menggunakan Teknologi Informasi serta Komunikasi (TIK);
3. Menghubungkan Pusat Ilmu dan Penelitian menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK);
4. Menghubungkan Perpustakaan Umum, Pusat Kebudayaan, Museum, Kantor Pos dan Kearsipan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK);
5. Menghubungkan Pusat Kesehatan serta Rumah Sakit menggunakan Teknologi Informasi serta Komunikasi (TIK);
6. Menghubungkan semua instansi pemerintah sentra serta daerah dan menciptakan website dan alamat e-mail;
7. Mengadopsi semua kurikulum sekolah dasar dan menengah dalam menghadapi tantangan warga keterangan, wajib diperhitungkan pada tingkat nasional;
8. Memastikan bahwa semua populasi di dunia mempunyai akses buat pelayanan televisi dan radio;
9. Mendorong pengembangan konten dan menempatkan dalam tempatnya syarat secara teknis dalam rangka memfasilitasi keadaan terbaru serta penggunaan seluruh bahasa pada dunia pada Internet;
10. Memastikan bahwa lebih menurut 1/2 penduduk global memiliki akses menggunakan Teknologi Informasi serta Komunikasi (TIK).

Paling tidak sampai dengan tahun ini ketentuan PBB melalui WSIS tersebut belum mampu kita penuhi menggunakan baik. Dari sinilah arti penting serta kegiatan pembangunan yang dilakukan dimulai sang setiap bangsa di seluruh global.

Di pada negeri perkembangan pasar peranti lunak selama ini masih sebagai sasaran pasar bukan pemain. Dengan menjadi target pasar-pun, konsumsi Teknologi Informasi (TI) secara keseluruhan nisbi masih sangat rendah terhadap konsumsi TI di negara-negara tetangga misalnya Malaysia dan Singapura.

Konsumsi TI pada Indonesia per-2005 hanya mencapai US$ 1,9 miliar, dimana 80% masih didominasi sang peranti keras. Sementara itu, produk peranti lunak hanya mencapai 8% serta 12% diraih berdasarkan penjualan layanan peranti lunak. Jika peranti lunak digabung menggunakan layanannya, total sebagai 20% atau lebih kurang US$380 juta.

Sementara itu, berdasarkan riset dari Forrester Research, pasar peranti lunak secara global mencapai US$207 miliar. Jika diproyeksikan terhadap PDB, maka angka konsumsi TI Indonesia di atas hanya lebih kurang 0,7%. Sementara itu, konsumsi TI di India sudah mencapai tiga% terhadap PDB negara tadi. Di India, konsumsi TI tahun lalu mencapai US$18 miliar, sedangkan konsumsi pada Amerika Serikat telah mencapai US$346 miliar. Mestinya Indonesia sanggup mencapai US$tiga miliar (nomor ideal konsumsi TI Indonesia). Di lihat dari syarat perkembangan TI kini , potensi TI Indonesia sebenarnya besar , tetapi pula menyimpan tantangan yang tinggi.
Sementara itu Peta Aktivitas Pengembang Aplikasi pada Indonesia memberitahuakn animo perkembangan menjadi berikut :
1. Jumlah Pengembangan Tingkat menengah ke atas terdapat 200 ISV (Independent Software Vendor); 15 go international
2. Konsentrasi terbesar ada pada Jabotabek (>60%)
3. Anggota ASPILUKI: 94 ISV, perkembangan di daerah2: Jambi, Bali, Jogyakarta
4. Pertumbuhan di daerah2: Bali, Jabar, Jateng, Sumut, Jatim dst.
5. Terdapat Inisiatif pengembangan ‘software development centers

# Pemerintah & partikelir: RICE – Regional IT Center of Excellence; ada 3 lokasi ketika ini:
* RICE PT Inti pada Bandung
* RICE Trisakti pada Jakarta
* RICE Dinas Departemen Perindustrian dan Perdagangan di Bali

# Universitas & swasta: BHTV, SalatigaCamp, Bogor Cyber Park, Cimahi Cyber City, TobaTech dsb.
Peta syarat pada negeri ini di sisi lain bercerita betapa besarnya peluang buat menciptakan industri aplikasi pada negeri. Sampai 25 tahun yang akan datang Industri Software akan sebagai industri yang paling penting pada seluruh global(McFarlan et al). Peran software menjadi menjadi ‘key enablers’ buat industri-industri yang lain (dari entertainment misalnya film hingga menggunakan property, manufacturing, process, e-governement).

Sementara di sisi lain hasil informasi lapangan Global menunjukkan animo umum bahwa negara dengan pertumbuhan TIK yang cepat memiliki pertumbuhan ekonomi yg cepat juga. Sementara pertumbuhan TI dalam informasi lapangan yang sama ditentukan sang akbar pembelanjaan yg tepat dalam bidang aplikasi serta layanan TIK.

Dari penurunan hasil informasi lapangan Global tadi dapat diambil kesimpulan tumbuhnya industri dan pasar sah software lokal akan mendorong nir hanya pasar TIK akan tetapi jua pertumbuhan ekonomi yg lebih baik.

Pemerintah bersama semua stake holder Bangsa berupaya keras mencapai target besaranbesaran Masyarakat Informasi Indonesia ini.

Berikut ini adalah sasaran primer pengembangan industri software yg akan dibangun di pada negeri. Bersama menggunakan rakyat, dunia bisnis, serta industri target ini akan diraih bersamasama.

Di samping target terbangunnya industri TIK tadi pemerintah ketika ini sedang memperjuangkan dengan keras proses pembangunan Regulasi yang akan memberikan kepastian hukum yg lebih baik pada para pengguna TIK pada Indonesia. RUU Informasi serta Transaksi Elektronik (ITE) waktu ini sedang dalam pembahasan yang serius pada lingkungan Pansus RUU ITE DPR-RI untuk dapatnya disahkan sebagai Undang-Undang.

Penggelaran aktivitas elektronik ini di Indonesia masih mengalami kendala berdasarkan sisi aspek legalitas dan dasar hukum bagi pelaksanaan serta pengembangan aktivitasnya. Kendala dari sisi aturan ini menjadi sisi terlemah berdasarkan penggelaran aktivitas berbasis TIK pada Indonesia. Sebagai sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai hukum syarat ini tidak dapat diterima begitu saja pada Indonesia.

Di hampir semua negara pada dunia perkara ini memang masih menjadi perkara yang rumit buat dipecahkan. Di Amerika Serikat jauhnya jarak pemahaman aturan menggunakan pemahaman digital atau pemahaman cyber melahirkan lusinan regulasi transaksi elektronik yg rumit dan teknis. Pemahaman aspek inti teknis yg rumit dari transaksi elektro ini ternyata menyeret lusinan regulasi yang sangat teknis ke dalam domain aturan.

Akan tetapi rendahnya pemahaman mengenai domain TIK dari para penentu regulasi (legislatif dan pula eksekutif) tidak wajib membuat kita nir mempunyai landasan regulasi yang cukup buat melakukan kegiatan yg legal pada pengelaran TIK. Kita doakan pada beberapa ketika yang akan datang kita akan mempunyai Undang-undang ITE yang akan mewadahi secara sah semua aspek kegiatan berbasis TIK yg terdapat pada Indonesia.

Muara menurut semua kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah adalah tercapainya Masyarakat Informasi Indonesia pada tahun 2015 (MII 2015) yang akan tiba. Masyarakat Informasi Indonesia ini adalah masyarakat yang sanggup memanfaatkan keunggulan TIK pada semua sektor menjadi sebuah faktor enabler bagi sektor tersebut. Masyarakat Informasi Indonesia 2015 pula akan memfasilitasi jalan tercapainya bangsa Indonesia yang maju menggunakan Teknologi Informasi.

Mengutip pesan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sebuah pidatonya mengenai peran Teknologi Informasi serta Komunikasi, bahwa telah selayaknyalah pemanafaatan Teknologi informasi bisa memberikan nilai tambah bagi rakyat luas, mendorong partisipasi rakyat pada dalam pemanfaatan Teknologi Informasi sebagai akibatnya terwujud masyarakat yg cerdas yang selanjutnya akan mampu menaikkan daya saing bangsa.