PENGERTIAN PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI

Pengertian Penilaian Berbasis Kompetensi 
Penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan warta (angka atau pelukisan verbal), analisis, dan interpretasi untuk merogoh keputusan. Sedangkan evaluasi pendidikan adalah proses pengumpulan serta pengolahan warta buat menentukan pencapaian output belajar peserta didik.

Untuk itu, dibutuhkan data menjadi kabar yg diandalkan menjadi dasar pengambilan keputusan. Dalam hal ini, keputusan herbi sudah atau belum berhasilnya siswa pada mencapai suatu kompetensi. Jadi, evaluasi merupakan galat satu pilar pada pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi.

Penilaian merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan indera penilaian, pengumpulan fakta melalui sejumlah bukti yg memberitahuakn pencapaian output belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian dilaksanakan melalui berbagai bentuk diantaranya: penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), evaluasi proyek, evaluasi melalui kumpulan hasil kerja/karya peserta didik (portfolio), serta penilaian diri. 

Penilaian hasil belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik memberitahuakn apa yg dipahami serta mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan buat dibandingkan dengan siswa lainnya, tetapi dengan output yang dimiliki siswa tadi sebelumnya. Dengan demikian siswa tidak merasa dihakimi oleh pengajar tetapi dibantu buat mencapai apa yg diharapkan.

A. Prinsip Penilaian
Dalam melaksanakan evaluasi mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Memandang penilaian serta kegiatan pembelajaran secara terpadu.
2. Mengembangkan strategi yg mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.
3. Melakukan berbagai taktik penilaian pada pada program pembelajaran buat menyediakan berbagai jenis liputan mengenai hasil belajar siswa.
4. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.
5. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan aktivitas belajar peserta didik.
6. Menggunakan cara dan alat evaluasi yg bervariasi. Penilaian dapat dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan tingkah laku .
7. Melakukan penilaian secara berkesinambungan buat memantau proses, kemajuan, serta perbaikan output, dalam bentuk: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, serta ulangan kenaikan kelas. Ulangan harian bisa dilakukan jika telah merampungkan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar (KD), ulangan tengah semester dilakukan bila telah menyelesaikan beberapa KD atau satu stándar kompetensi (SK), ulangan akhir semester dilakukan setelah merampungkan seluruh KD atau SK semester bersangkutan, sedangkan ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap menggunakan menilai semua SK semester ganjil dan genap, dengan fokus dalam semester genap.
8. Penilaian kompetensi dalam uji kompetensi melibatkan pihak sekolah dan Institusi Pasangan/Asosiasi Profesi, dan pihak lain terutama DU/DI. Idealnya, forum yg menyelenggarakan uji kompetensi ini independen; yakni forum yang tidak dapat diintervensi oleh unsur atau lembaga lain.

Agar evaluasi objektif, pendidik harus berupaya secara optimal buat (1) memanfaatkan banyak sekali bukti hasil kerja siswa berdasarkan sejumlah evaluasi, (dua) menciptakan keputusan yang adil mengenai penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan output kerja (karya).

B. Kegunaan Penilaian 
Kegunaan penilaian antara lain sebagai berikut:
1. Memberikan umpan kembali bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan serta kelemahan dirinya pada proses pencapaian kompetensi. 
2. Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yg dialami peserta didik sebagai akibatnya dapat dilakukan pengayaan serta remedial. 
3. Untuk umpan kembali bagi pendidik/guru pada memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.
4. Memberikan kabar kepada orang tua serta komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.
5. Memberi umpan pulang bagi pengambil kebijakan (Dinas Pendidikan Daerah) dalam menaikkan kualitas evaluasi yg dipakai.

C. Fungsi Penilaian 
Penilaian mempunyai fungsi buat:
1. Menggambarkan sejauhmana siswa sudah menguasai suatu kompetensi.
2. Mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka membantu tahu dirinya, membuat keputusan mengenai langkah berikutnya, baik buat perencanaan acara belajar, pengembangan kepribadian, maupun buat penjurusan (sebagai bimbingan). 
3. Menemukan kesulitan belajar, kemungkinan prestasi yg mampu dikembangkan peserta didik, serta menjadi alat diagnosis yang membantu pendidik/pengajar memilih apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
4. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yg sedang berlangsung guna pemugaran proses pembelajaran berikutnya. 
5. Pengendali bagi pendidik/pengajar dan sekolah mengenai kemajuan perkembangan peserta didik.

D. Jenis-Jenis Penilaian
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tetang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan, jenis evaluasi serta bentuk pengadministrasiannya diuraikan misalnya tabel berikut.

Tabel Jenis-jenis Penilaian


Penilai

No

Jenis

Penilaian

Unsur yg terlibat

Ruang lingkup

materi

Bentuk Administrasi Penilaian

Produktif

Normatif serta Adaptif

Pendidik
1
Ulangan Harian (Penilaian pro-ses akhir KD/tatap muka)
Guru
KD
KHS
KHS
2
Ulangan Tengah Semester (Penilaian akhir beberapa KD atau akhir sebuah SK)
Guru
(Internal/QA)
dan Unsur Eksternal/ QC
Beberapa KD atau SK
KHS/Skill Passport
KHS
3
Ulangan Akhir Semester Ganjil (komprehensif,  semua kompe-tensi pada satu semester)


Guru,
dan Unsur Eksternal
Dapat berupa beberapa KD atau SK
¨KHS/ Skills
¨Passport
¨Laporan
   Hasil
   Belajar
¨Leger
¨Raport
¨Leger

Pendidik (Satuan Pendidikan)

1
Ulangan Kenaikan Kelas/ akhir semester genap
Guru dan Unsur Eksternal
SKL yang dipelajari pada  tahun yang bersangkutan
¨KHS/Skill
Passport
¨Laporan
   Hasil
   Belajar
¨Transkrip
¨Leger
¨Raport
¨Leger



Penilai

No

Jenis

Penilaian

Unsur yg terlibat

Ruang lingkup

materi

Bentuk Administrasi Penilaian

Produktif

Normatif serta Adaptif






2

Ujian Sekolah
¨Sekolah, Pemerintah
¨(Internal/QA serta atau Eksternal/QC)

Mata pelajaran yg tidak diujikan dalam UN buat semua SKL yg telah diajarkan
¨KHS/ Skills
¨Passport
¨Laporan
   Hasil
   Belajar
¨Translrip
¨Ijazah
¨Leger
¨Ijazah
¨Transkrip
¨Leger










Pemerintah

1
Ujian Nasional (UN)
Pememrintah dan Du/Di
Seluruh SKL Ujian Nasional
¨Transkrip
¨Ijazah
¨SKHUN
¨Sertifikat Kompetensi
¨Ijazah
¨SKHUN
¨Leger
Keterangan jenis penilaian:
1. Ulangan Harian
Ulangan harian adalah kegiatan yg dilakukan secara periodik buat mengukur proses pencapaian kompetensi peserta didik sehabis menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih pada proses pembelajaran.

2 Ulangan Tengah Semester 
Ulangan tengah semester merupakan kegiatan yang dilakukan sang pendidik buat mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sesudah melaksanakan 8-9 minggu kegiatan pembelajaran. 

3 Ulangan Akhir Semester 
Ulangan akhir semester adalah kegiatan yg dilakukan buat menilai pencapaian kompetensi siswa di akhir semester gasal. Cakupan materi mencakup indikator-indikator yang merepresentasikan seluruh baku kompetensi (SK) pada semester tersebut.

4 Ulangan Kenaikan Kelas 
Ulangan kenaikan kelas merupakan kegiatan yg dilakukan sang pendidik di akhir semester genap, buat mengukur pencapaian kompetensi siswa pada akhir semester genap. Cakupan materi mencakup indikator-indikator yang merepresentasikan baku kompetensi (SK) pada tahun tadi dengan mengutamakan materi yg dipelajari dalam semester genap.

5 Ujian Sekolah 
Ujian sekolah adalah aktivitas penilaian pencapaian kompetensi siswa yang dilakukan sang satuan pendidikan buat memperoleh pengakuan atas prestasi belajar siswa dan adalah salah satu kondisi kelulusan menurut satuan pendidikan. Mata pelajaran yang diujikan merupakan grup mata pelajaran ilmu pengetahuan serta teknologi yg nir diujikan pada ujian nasional, gerombolan mata pelajaran kepercayaan dan akhlak mulia, dan gerombolan mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yg diatur pada Permendiknas yg dimuntahkan oleh Depdiknas buat tahun yang bersangkutan serta Prosedur Operasional Standar (POS) ujian sekolah yang diterbitkan sang BSNP.

6 Ujian Nasional 
Ujian Nasional merupakan kegiatan penilaian pencapaian kompetensi peserta didik yg dilakukan oleh pemerintah untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar peserta didik dan merupakan salah satu kondisi lulus berdasarkan satuan pendidikan. Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) mengikuti Permendiknas yang dikeluarkan setiap tahun oleh Depdiknas serta Prosedur Operasional Standar (POS) yg diterbitkan oleh BSNP.

E. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal buat setiap mata pelajaran yang dipengaruhi oleh satuan pendidikan, berkisar antara 0-100%. 

1. KKM Program Normatif serta Adaptif
Kriteria ideal ketuntasan buat masing-masing indikator acara normatif dan adaptif merupakan 75%.

KKM acara normatif serta adaptif dipengaruhi dengan mempertimbangkan taraf kemampuan rata-rata siswa, kompleksitas kompetensi, dan kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran dengan rincian menjadi berikut: 

a. Tingkat kemampuan homogen-homogen siswa ”A”
· Rata-homogen nilai = 80 - 100, A diberi skor 3
· Rata-rata nilai = 60 - 79, A diberi skor 2
· Rata-rata nilai = < 60, A diberi skor 1

b. Tingkat kompleksitas/kesulitan kompetensi ”B”
· Kompleksitas/kesulitan rendah, B diberi skor 3
· Kompleksitas/kesulitan sedang, B diberi skor 2
· Kompleksitas/kesulitan tinggi, B diberi skor 1

c. Sumber daya pendukung pembelajaran (SDM, indera serta bahan) ”C”
· Dukungan tinggi, C diberi skor 3
· Dukungan sedang, C diberi skor 2
· Dukungan rendah, C diberi skor 1

Contoh penentuan KKM
Jika dalam pembelajaran suatu kompetensi/mata pelajaran memiliki syarat: kemampuan homogen-homogen siswa ”65”, taraf kesulitan/kompleksitas ”sedang”, dan sumber daya pendukung ”sedang”, maka nilai KKM-nya adalah :
(A + B + C)
KKM        =          ----------------    X  100
                           9
(2 + dua + 2)
=      ----------------    X  100
                           9

   =          66,7 atau dibulatkan 67

2. KKM Program Produktif
KKM acara produktif mengacu pada standar minimal penguasaan kompetensi yg berlaku di global kerja yang bersangkutan. Kriteria ketuntasan buat masing-masing kompetensi dasar (KD) merupakan terpenuhinya indikator yg dipersyaratkan dunia kerja yaitu kompeten atau belum kompeten serta diberi lambang/skor 7,00 jika memenuhi persyaratan minimal.

F. Kriteria Penilaian 
1. Validitas
Validitas berarti menilai apa yg seharusnya dinilai dengan memakai indera yg sinkron buat mengukur kompetensi. Misal, dalam pelajaran bahasa Indonesia, pendidik/guru ingin menilai kompetensi berbicara. Bentuk evaluasi valid bila menggunakan tes mulut. Apabila menggunakan tes tertulis penilaian nir valid.

2. Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) output evaluasi. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yg reliable dan mengklaim konsistensi. Misal, guru menilai menggunakan proyek, penilaian akan reliabel jika hasil yg diperoleh itu cenderung sama jika proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin evaluasi yang reliabel petunjuk aplikasi proyek dan penskorannya wajib jelas.

3. Berfokus pada kompetensi
Dalam aplikasi kurikulum taraf satuan pendidikan yang berbasis kompetensi, evaluasi wajib terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan hanya pada penguasaan materi (pengetahuan).

4. Menyeluruh/Komprehensif
Penilaian harus menyeluruh menggunakan menggunakan majemuk cara serta alat untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan peserta didik, sehingga tergambar profil kemampuan peserta didik.

5. Objektivitas
Penilaian wajib dilaksanakan secara objektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terpola, berkesinambungan, serta menerapkan kriteria yg jelas pada hadiah skor.

6. Mendidik
Penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi pendidik/pengajar serta mempertinggi kualitas belajar bagi siswa.

Penilaian Hasil Belajar Kelompok Mata Pelajaran merupakan sebagai berikut:
1. Penilaian output belajar grup mata pelajaran kepercayaan dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan serta kepribadian dilakukan melalui:
a. Pengamatan terhadap perubahan perilaku serta sikap untuk menilai perkembangan kasih sayang serta kepribadian peserta didik.
b. Ujian, ulangan, serta/atau penugasan buat mengukur aspek kognitif peserta didik.

2. Penilaian output belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan serta teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, serta/atau bentuk lain yg sinkron menggunakan karakteristik materi yang dievaluasi,

3. Penilaian output belajar grup mata pelajaran keindahan dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan konduite dan perilaku buat menilai perkembangan kasih sayang serta aktualisasi diri psikomotorik peserta didik.

4. Penilaian output belajar grup mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan dilakukan melalui: 
a. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan perilaku buat menilai perkembangan psikomotorik serta kasih sayang siswa, dan
b. Ulangan serta/atau penugasan buat mengukur aspek kognitif siswa.

PENGERTIAN PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI

Pengertian Penilaian Berbasis Kompetensi 
Penilaian adalah proses sistematis mencakup pengumpulan informasi (nomor atau pelukisan lisan), analisis, serta interpretasi buat merogoh keputusan. Sedangkan penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan serta pengolahan kabar buat menentukan pencapaian output belajar siswa.

Untuk itu, diharapkan data sebagai keterangan yg diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam hal ini, keputusan herbi sudah atau belum berhasilnya peserta didik pada mencapai suatu kompetensi. Jadi, evaluasi adalah keliru satu pilar pada aplikasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yg berbasis kompetensi.

Penilaian merupakan suatu proses yg dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat evaluasi, pengumpulan kabar melalui sejumlah bukti yg memberitahuakn pencapaian output belajar peserta didik, pengolahan, serta penggunaan berita tentang hasil belajar siswa. Penilaian dilaksanakan melalui berbagai bentuk diantaranya: penilaian unjuk kerja (performance), evaluasi sikap, evaluasi tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian melalui deretan output kerja/karya siswa (portfolio), serta penilaian diri. 

Penilaian hasil belajar baik formal juga informal diadakan dalam suasana yg menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menerangkan apa yg dipahami serta bisa dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan menggunakan peserta didik lainnya, namun dengan output yang dimiliki siswa tadi sebelumnya. Dengan demikian peserta didik nir merasa dihakimi sang pengajar tetapi dibantu buat mencapai apa yang diharapkan.

A. Prinsip Penilaian
Dalam melaksanakan evaluasi mempertimbangkan prinsip-prinsip menjadi berikut.
1. Memandang evaluasi dan kegiatan pembelajaran secara terpadu.
2. Mengembangkan taktik yg mendorong serta memperkuat evaluasi menjadi cermin diri.
3. Melakukan banyak sekali taktik penilaian di dalam program pembelajaran buat menyediakan berbagai jenis berita tentang output belajar peserta didik.
4. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.
5. Mengembangkan serta menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar siswa.
6. Menggunakan cara dan indera penilaian yang bervariasi. Penilaian bisa dilakukan dengan cara tertulis, mulut, produk portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan tingkah laris.
7. Melakukan evaluasi secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan output, pada bentuk: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Ulangan harian bisa dilakukan jika telah menuntaskan satu atau beberapa indikator atau satu kompetensi dasar (KD), ulangan tengah semester dilakukan apabila sudah menuntaskan beberapa KD atau satu stándar kompetensi (SK), ulangan akhir semester dilakukan sesudah menuntaskan semua KD atau SK semester bersangkutan, sedangkan ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua SK semester gasal serta genap, menggunakan fokus pada semester genap.
8. Penilaian kompetensi dalam uji kompetensi melibatkan pihak sekolah serta Institusi Pasangan/Asosiasi Profesi, dan pihak lain terutama DU/DI. Idealnya, forum yg menyelenggarakan uji kompetensi ini independen; yakni lembaga yang nir dapat diintervensi oleh unsur atau forum lain.

Agar evaluasi objektif, pendidik wajib berupaya secara optimal buat (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja siswa dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi siswa dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya).

B. Kegunaan Penilaian 
Kegunaan penilaian antara lain menjadi berikut:
1. Memberikan umpan balik bagi siswa supaya mengetahui kekuatan serta kelemahan dirinya dalam proses pencapaian kompetensi. 
2. Memantau kemajuan serta mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sebagai akibatnya bisa dilakukan pengayaan serta remedial. 
3. Untuk umpan pulang bagi pendidik/guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang dipakai.
4. Memberikan liputan kepada orang tua serta komite sekolah mengenai efektivitas pendidikan.
5. Memberi umpan pulang bagi pengambil kebijakan (Dinas Pendidikan Daerah) dalam menaikkan kualitas penilaian yang dipakai.

C. Fungsi Penilaian 
Penilaian mempunyai fungsi buat:
1. Menggambarkan sejauhmana peserta didik sudah menguasai suatu kompetensi.
2. Mengevaluasi output belajar peserta didik pada rangka membantu tahu dirinya, membuat keputusan mengenai langkah berikutnya, baik buat perencanaan acara belajar, pengembangan kepribadian, juga buat penjurusan (menjadi bimbingan). 
3. Menemukan kesulitan belajar, kemungkinan prestasi yang sanggup dikembangkan peserta didik, serta sebagai alat penaksiran yg membantu pendidik/pengajar memilih apakah seorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
4. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna pemugaran proses pembelajaran berikutnya. 
5. Pengendali bagi pendidik/pengajar serta sekolah mengenai kemajuan perkembangan peserta didik.

D. Jenis-Jenis Penilaian
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tetang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan, jenis evaluasi dan bentuk pengadministrasiannya diuraikan misalnya tabel berikut.

Tabel Jenis-jenis Penilaian


Penilai

No

Jenis

Penilaian

Unsur yg terlibat

Ruang lingkup

materi

Bentuk Administrasi Penilaian

Produktif

Normatif serta Adaptif

Pendidik
1
Ulangan Harian (Penilaian pro-ses akhir KD/tatap muka)
Guru
KD
KHS
KHS
2
Ulangan Tengah Semester (Penilaian akhir beberapa KD atau akhir sebuah SK)
Guru
(Internal/QA)
dan Unsur Eksternal/ QC
Beberapa KD atau SK
KHS/Skill Passport
KHS
3
Ulangan Akhir Semester Ganjil (komprehensif,  semua kompe-tensi dalam satu semester)


Guru,
dan Unsur Eksternal
Dapat berupa beberapa KD atau SK
¨KHS/ Skills
¨Passport
¨Laporan
   Hasil
   Belajar
¨Leger
¨Raport
¨Leger

Pendidik (Satuan Pendidikan)

1
Ulangan Kenaikan Kelas/ akhir semester genap
Guru serta Unsur Eksternal
SKL yg dipelajari pada  tahun yang bersangkutan
¨KHS/Skill
Passport
¨Laporan
   Hasil
   Belajar
¨Transkrip
¨Leger
¨Raport
¨Leger



Penilai

No

Jenis

Penilaian

Unsur yg terlibat

Ruang lingkup

materi

Bentuk Administrasi Penilaian

Produktif

Normatif serta Adaptif






2

Ujian Sekolah
¨Sekolah, Pemerintah
¨(Internal/QA dan atau Eksternal/QC)

Mata pelajaran yang nir diujikan pada UN buat semua SKL yang sudah diajarkan
¨KHS/ Skills
¨Passport
¨Laporan
   Hasil
   Belajar
¨Translrip
¨Ijazah
¨Leger
¨Ijazah
¨Transkrip
¨Leger










Pemerintah

1
Ujian Nasional (UN)
Pememrintah serta Du/Di
Seluruh SKL Ujian Nasional
¨Transkrip
¨Ijazah
¨SKHUN
¨Sertifikat Kompetensi
¨Ijazah
¨SKHUN
¨Leger
Keterangan jenis evaluasi:
1. Ulangan Harian
Ulangan harian adalah aktivitas yg dilakukan secara periodik buat mengukur proses pencapaian kompetensi siswa sehabis merampungkan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih dalam proses pembelajaran.

2 Ulangan Tengah Semester 
Ulangan tengah semester merupakan aktivitas yg dilakukan sang pendidik buat mengukur pencapaian kompetensi siswa sesudah melaksanakan 8-9 minggu aktivitas pembelajaran. 

3 Ulangan Akhir Semester 
Ulangan akhir semester merupakan aktivitas yang dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester ganjil . Cakupan materi mencakup indikator-indikator yang merepresentasikan semua standar kompetensi (SK) dalam semester tersebut.

4 Ulangan Kenaikan Kelas 
Ulangan kenaikan kelas merupakan aktivitas yg dilakukan oleh pendidik pada akhir semester genap, buat mengukur pencapaian kompetensi siswa di akhir semester genap. Cakupan materi meliputi indikator-indikator yang merepresentasikan standar kompetensi (SK) pada tahun tersebut dengan mengutamakan materi yg dipelajari pada semester genap.

5 Ujian Sekolah 
Ujian sekolah merupakan kegiatan evaluasi pencapaian kompetensi siswa yang dilakukan oleh satuan pendidikan buat memperoleh pengakuan atas prestasi belajar siswa dan merupakan galat satu syarat kelulusan menurut satuan pendidikan. Mata pelajaran yg diujikan adalah grup mata pelajaran ilmu pengetahuan serta teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional, gerombolan mata pelajaran kepercayaan serta akhlak mulia, dan grup mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang diatur dalam Permendiknas yang dikeluarkan sang Depdiknas untuk tahun yg bersangkutan serta Prosedur Operasional Standar (POS) ujian sekolah yg diterbitkan oleh BSNP.

6 Ujian Nasional 
Ujian Nasional merupakan kegiatan penilaian pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan sang pemerintah buat memperoleh pengakuan atas prestasi belajar siswa dan merupakan galat satu kondisi lulus dari satuan pendidikan. Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) mengikuti Permendiknas yg dikeluarkan setiap tahun sang Depdiknas serta Prosedur Operasional Standar (POS) yang diterbitkan sang BSNP.

E. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal buat setiap mata pelajaran yang dipengaruhi oleh satuan pendidikan, berkisar antara 0-100%. 

1. KKM Program Normatif serta Adaptif
Kriteria ideal ketuntasan buat masing-masing indikator program normatif dan adaptif merupakan 75%.

KKM program normatif dan adaptif ditentukan dengan mempertimbangkan taraf kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas kompetensi, serta kemampuan sumber daya pendukung pada penyelenggaraan pembelajaran dengan rincian menjadi berikut: 

a. Tingkat kemampuan homogen-rata siswa ”A”
· Rata-rata nilai = 80 - 100, A diberi skor 3
· Rata-rata nilai = 60 - 79, A diberi skor 2
· Rata-homogen nilai = < 60, A diberi skor 1

b. Tingkat kompleksitas/kesulitan kompetensi ”B”
· Kompleksitas/kesulitan rendah, B diberi skor 3
· Kompleksitas/kesulitan sedang, B diberi skor 2
· Kompleksitas/kesulitan tinggi, B diberi skor 1

c. Sumber daya pendukung pembelajaran (SDM, indera dan bahan) ”C”
· Dukungan tinggi, C diberi skor 3
· Dukungan sedang, C diberi skor 2
· Dukungan rendah, C diberi skor 1

Contoh penentuan KKM
Jika dalam pembelajaran suatu kompetensi/mata pelajaran memiliki kondisi: kemampuan homogen-homogen siswa ”65”, tingkat kesulitan/kompleksitas ”sedang”, dan sumber daya pendukung ”sedang”, maka nilai KKM-nya adalah :
(A + B + C)
KKM        =          ----------------    X  100
                           9
(2 + 2 + dua)
=      ----------------    X  100
                           9

   =          66,7 atau dibulatkan 67

2. KKM Program Produktif
KKM program produktif mengacu kepada baku minimal penguasaan kompetensi yang berlaku pada global kerja yg bersangkutan. Kriteria ketuntasan buat masing-masing kompetensi dasar (KD) adalah terpenuhinya indikator yang dipersyaratkan dunia kerja yaitu kompeten atau belum kompeten dan diberi lambang/skor 7,00 bila memenuhi persyaratan minimal.

F. Kriteria Penilaian 
1. Validitas
Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dievaluasi menggunakan menggunakan alat yang sinkron buat mengukur kompetensi. Misal, pada pelajaran bahasa Indonesia, pendidik/pengajar ingin menilai kompetensi berbicara. Bentuk evaluasi valid apabila menggunakan tes mulut. Apabila memakai tes tertulis evaluasi nir valid.

2. Reliabilitas
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil evaluasi. Penilaian yang reliable (ajeg) memungkinkan perbandingan yg reliable dan menjamin konsistensi. Misal, pengajar menilai dengan proyek, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama jika proyek itu dilakukan lagi dengan kondisi yg relatif sama. Untuk mengklaim evaluasi yang reliabel petunjuk aplikasi proyek dan penskorannya harus kentara.

3. Berfokus pada kompetensi
Dalam aplikasi kurikulum tingkat satuan pendidikan yg berbasis kompetensi, evaluasi wajib terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan hanya dalam penguasaan materi (pengetahuan).

4. Menyeluruh/Komprehensif
Penilaian wajib menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat buat menilai beragam kompetensi atau kemampuan siswa, sebagai akibatnya tergambar profil kemampuan siswa.

5. Objektivitas
Penilaian wajib dilaksanakan secara objektif. Untuk itu, evaluasi harus adil, terpola, berkesinambungan, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pemberian skor.

6. Mendidik
Penilaian dilakukan buat memperbaiki proses pembelajaran bagi pendidik/pengajar dan menaikkan kualitas belajar bagi peserta didik.

Penilaian Hasil Belajar Kelompok Mata Pelajaran adalah menjadi berikut:
1. Penilaian hasil belajar gerombolan mata pelajaran kepercayaan dan akhlak mulia serta grup mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:
a. Pengamatan terhadap perubahan konduite serta sikap buat menilai perkembangan kasih sayang serta kepribadian peserta didik.
b. Ujian, ulangan, serta/atau penugasan buat mengukur aspek kognitif peserta didik.

2. Penilaian output belajar gerombolan mata pelajaran ilmu pengetahuan serta teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, dan/atau bentuk lain yg sesuai menggunakan ciri materi yg dievaluasi,

3. Penilaian hasil belajar grup mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku serta sikap buat menilai perkembangan kasih sayang dan aktualisasi diri psikomotorik peserta didik.

4. Penilaian output belajar gerombolan mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan dilakukan melalui: 
a. Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap buat menilai perkembangan psikomotorik serta kasih sayang peserta didik, dan
b. Ulangan serta/atau penugasan buat mengukur aspek kognitif peserta didik.

MEMBANGUN AUTOMASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH DENGAN SOFTWARE SLIMS

Membangun Automasi Perpustakaan Sekolah dengan Software SliMS
Perkembangan teknologi informasi saat ini mengalami perkembangan sangat pesat, serta tidak sanggup dipungkiri penggunaan teknologi fakta sudah merambah diberbagai bidang hampir ke seluruh sektor kehidupan manusia. Berbagai instansi ataupun organisasi baik itu skala mini juga akbar nir sanggup berjalan tanpa adanya teknologi liputan.

Penggunaan teknologi informasi menjadi sebuah pilihan lantaran dianggap sangat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, efektif serta efisien. Tujuan menurut setiap instansi atau lembaga merupakan memberikan layanan yg terbaik buat publik. Hal ini berlaku juga pada perpustakaan, yg berperan sebagai pelayanan, penyedia, penyalur berita yang notabene pula menjadi sentra dokumentasi dan liputan selalu dituntut untuk selalu menyediakan keterangan yang cepat serta modern. Inilah keliru satu tantangan perpustakaan sebagai sentral pendidikan untuk mampu menyediakan keterangan menggunakan cepat dan modern.

Kata teknologi berita adalah adonan dari dua istilah dasar yaitu teknologi dan warta. Seperti yg dijelaskan sang Petter Salim dan Yenny Salim dalam kamus akbar bahasa Indonesia kontemporer (1991:1565) teknologi bisa diartikan menjadi aplikasi ilmu. Sedangkan berita adalah sesuatu yg bisa diketahui. Jadi pengertian teknologi berita bisa diartikan sebagai suatu teknologi yg dipakai buat menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta berbagi informasi.

Kenyataan bahwa pada era informasi abad ini, teknologi warta serta komunikasi atau ICT (Information and Communication Teclznology) sudah sebagai bagian yg nir terpisahkan dari kehidupan dunia sang kita karena itu setiap institusi termasuk perpustakaan berlomba buat mengintegrasikan “ICT” guna membangun serta memberdayakan civitas akademikanya berbasis pengetahuan supaya dapat bersaing pada era global. Dalam menyikapi perkembangan ICT dalam era fakta tahun ini, Perpustakaan berbasis teknologi warta (komputerisasi) sangat pada butuhkan.. Keberadaan perpustakaan berbasis komputerisasi dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan dalam pengguna perpustakaan sehingga dapat memperlancar proses belajar-mengajar pada lingkungan Sekolah. Selain itu sistem ini bisa membantu manajemen perpustakaan dan dapat menaikkan Efektifitas dan efisiensi penatalaksanaan perpustakaan.

Perkembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi bagi pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan pada perpustakaan melalui fungsi otomasi perpustakaan, sebagai akibatnya proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif serta efisien. Fungsi otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatisl terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna dapat membantu mencari asal liputan yang diinginkan menggunakan menggunakan catalog on-line yg bisa diakses melalui internet, sebagai akibatnya pencarian informasi dapat dilakukan kapan dan dimanapun dia berada.

Idealnya, setiap perpustakaan memanfaatkan kecanggihan teknologi kabar buat mendukung pengelolaan koleksi perpustakaan. Automasi perpustakaan merupakan sebuah proses pengelolaan perpustakaan menggunakan memakai bantuan teknologi liputan (TI). (Nur: 2007) Dengan bantuan teknologi fakta maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat serta diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih seksama dan cepat untuk ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan bisa menggunakan waktu lebihnya buat mengurusi pengembangan perpustakaan lantaran beberapa pekerjaan yang bersifat berulang (repetable) sudah diambil alih oleh komputer. Faktor penggerak serta alasan membuat automasi perpustakaan berdasarkan Purwono yaitu:

Faktor Penggerak
1. Kemudahan mendapatkan produk TI
2. Harga semakin terjangkau buat memperoleh produk TI
3. Kemampuan menurut teknologi informasi
4. Tuntutan layanan masyarakat serba klik

Alasan lain
1. Mengefisienkan serta mempermudah pekerjaan pada perpustakaan
2. Memberikan layanan yg lebih baik pada pengguna perpustakaan
3. Meningkatkan citra perpustakaan
4. Pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global

Cakupan menurut Automasi Perpustakaan
1. Pengadaan koleksi
2. Katalogisasi
3. Sirkulasi, reserve, inter-library loan
4. Pengelolaan terbitan berkala
5. Penyediaan katalog (OPAC)
6. Pengelolaan anggota
7. Statistik (Laporan)

Komponen Automasi Perpustakaan
Menurut Arif , Sebuah Sistem Automasi Perpustakaan dalam umumnya terdiri berdasarkan tiga(Tiga) bagian, yaitu :(1) Pangkalan Data (dua) User/Pengguna (tiga) Perangkat

Automasi. Ketiga komponen automasi tersebut dijelaskan menjadi berikut.

a. Pangkalan Data
Setiap perpustakaan niscaya nir akan terlepas dari proses pengelolaan koleksi. Tujuan menurut proses ini buat memperoleh data berdasarkan semua koleksi yang dimiliki serta lalu mengorgani-sirnya dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu perpustakaan. Pada sistem manual, proses ini dilakukan dengan menggunakan donasi media kertas atau buku. Pencatatan pada kertas atau kitab merupakan pekerjaan yang sangat mudah tetapi juga merupakan suatu proses yg nir efektif lantaran semua data yg telah dicatat akan sangat sulit ditelusur menggunakan cepat jika jumlah telah berjumlah besar walaupun kita sudah menerapkan proses peng-indeks-an. Dengan menggunakan donasi teknologi liputan, proses ini bisa dipermudah menggunakan memasukkan data pada aplikasi pengolah data seperti : CDS/ISIS (WINISIS), MS Access, MySQL. Perangkat lunak ini akan membantu kita untuk mengelola pangkalan data, ini menjadi lebih mudah lantaran proses pengindeksan akan dilakukan secara otomatis serta proses penelusuran fakta akan dapat dilakukan menggunakan cepat dan akurat karena software ini akan menampilkan seluruh data sesuai kriteria yang kita tentukan.

b. User/Pengguna
Sebuah sistem automasi tidak terlepas dari pengguna sebagai penerima layanan serta seorang atau beberapa operator sebagai pengelola sistem. Pada sistem automasi perpustakaan terdapat beberapa strata operator tergantung dari tanggung jawabnya. Dalam setiap acara aplikasi, user memiliki strata yg berlainan. Misalnya di pada SLiMS (pelaksanaan Automasi Perpustakaan user dibagi menjadi dua yaitu administrator serta nonadministrator.

c. Perangkat Automasi
Perangkat automasi yang dimaksud disini adalah perangkat atau indera yang digunakan buat membantu kelancaran proses automasi. Perangkat ini terdiri berdasarkan dua (dua) bagian, yaitu : 
1. Perangkat Keras, 
2. Perangkat Lunak Automasi. 

Tanpa adanya dua perangkat ini secara memadai maka proses automasi nir akan bisa berjalan dengan baik.

Perangkat Keras (Hardware)
Sebelum memulai proses automasi, sebuah perangkat keras perlu disiapkan. Yang dimaksud perangkat keras disini adalah sebuah personal komputer serta alat bantunya misalnya Printer, Barcode, Scanner, dan sebagainya. Empat buah komputer telah relatif buat dipakai di pada memulai proses automasi dalam perpustakaan kecil pada hal ini perpustakaan sekolah. Sedangkan buat perpustakaan akbar, dibutuhkan lebih banyak personal komputer serta pelengkapnya supaya pelayanan pada pengguna menjadi lancar. Spesifikasi minimal umumnya tergantung menurut aplikasi yg dipakai. 

Misalnya, software senayan (program automasi perpustakaan protesis Diknas RI) minimal menggunakan pentium III. Sebab semakin banyak tampilan berbasis grafis (gambar) maka semakin membutuh-kan spesifikasi yg tinggi.

Perangkat Lunak Automasi (Software)
Sebuah perpustakaan yg hendak menjalankan proses automasi maka sine qua non sebuah aplikasi sebagai alat bantu. Perangkat lunak ini absolut dibutuhkan keberadaannya karena dipakai sebagai indera bantu mengefisienkan dan mengefektifkan proses.

Ada tiga (tiga) cara buat memperoleh aplikasi, antara lain :
1) Membangun sendiri menggunakan donasi seseorang developer software. Jika instansi Anda mempunyai tenaga programer maka langkah pertama ini sanggup dilakukan lantaran bisa menghemat biaya membeli aplikasi automasi.
2) Menggunakan aplikasi gratis, misalnya : CDS/ISIS, WinISIS, KOHA,

OtomigenX, Senayan Library, dan sebagainya. 
Perangkat lunak ini mampu didapatkan dari internet karena didistribusikan secara gratis kepada semua saja yang memerlukan. Walaupun perdeo aplikasi ini masih banyak kekurangan dan masih harus dimodifikasi lebih lanjut agar memenuhi sinkron dengankebutuhan masing-masing perpustakaan.

3) Membeli software komersial beserta pelatihan serta supportnya yang dibangun oleh pihak ketiga. Perangkat lunak komersial, adalah hasil riset pengembangnya dan gampang buat diimplementasikan lantaran hanya perlu dilakukan perubahan fitur sedikit atau nir sama sekali. Training serta Support juga akan diberikan sang vendor secara penuh sehingga pengguna dapat langsung memakai tanpa harus bersusah payah lagi. Pilihan ini bisa dipilih jika masih ada dana yang mencukupi buat membeli aplikasi.

Pilihan yang dijatuhkan, software wajib :
1. Sesuai menggunakan keperluan
2. Memiliki ijin pemakaian
3. Ada dukungan teknis, pelatihan , dokumentasi yg relevan dan pemeliharaan.
4. Menentukan staf yg bertanggungjawab atas pemilihan dan penilaian software

Kebutuhan implementasi SLiMS
Untuk dapat menjalankan sebuah aplikasi perangkat lunak otomasi perpustakaan tentu saja membutuhkan perangkat yang harus dipersiapkan baik perangkat keras, aplikasi, dan aplikasi yang lain buat mendukung jalannya aplikasi otomasi perpustakaan. Berikut ini kebutuhan sistem yg harus dipersiapkan untuk mendukung jalannya perangkat lunak Senayan, yaitu:
a. Perangkat keras
Perangkat keras yang diperlukan untuk menjalankan aplikasi Senayan merupakan sebagai berikut:
§ Prosesor kelas pentium III
§ RAM 256 MB
§ Standard VGA menggunakan dukungan rona 16-Bit

b. Perangkat lunak
Perangkat lunak yg dipakai sebagai persyaratan buat dapat menggunakan software Senayan yaitu:
§ Engine scripting PHP menggunakan dukungan ekstension mysql, dukungan XML, serta GD buat bisa mendukung format PNG, JPG, GIF dan FreeType.
§ Web server, pada hal ini direkomendasikan Apache dua.2
§ Server database MySQL dan direkomendasikan lebih atau sama menggunakan versi 5.0
§ Utilitas mysqldump buat backup database
§ Sistem operasi GNU/Linux atau Windows
§ Browser menggunakan kapasitas javascript 1.5, AJAx dan CSS dua. Sebagai model Mozilla Firefox 2
§ Pembaca dokumen PDF misalnya Adobe Reader buat melihat dokumen PDF yg di-generate oleh Senayan

c. Aplikasi pendukung
§ Pembaca barcode buat memindai barcode saat peredaran.

Fitur SLiMS
1.opac
2 Pengolahan koleksi (Bibliograi)
3 Pelayanan Sirkulasi (Circulation)
4 Manajemen anggota (Membership)
5 Setting data master (Master arsip)
6 Setting system (sistem)
7 Laporan (report)
8 Manajemen terbitan berseri
9 Manajemen koleksi digital
10 Katalog Induk
11 Absen Pengunjung (visitor)

Automasi Perpustakaan merupakan sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan memakai bantuan teknologi kabar (TI). Sistem Automasi Perpustakaan merupakan penerapan teknologi fakta pada pekerjaan administratif di perpustakaan yang menyangkut diantaranya: pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan sebagainya. Ada faktor penggerak serta alasan membuat automasi perpustakaan berdasarkan Purwono, 2008. 

Faktor Penggerak automasi perpustakaan antara lain: Kemudahan mendapatkan produk TI, Harga semakin terjangkau untuk memperoleh produk TI, Kemampuan dari teknologi informasi, Tuntutan layanan masyarakat serba klik. Sedangkan alasan lain membuat automasi perpustakaan adalah: mengefisienkan dan mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan, memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan, meningkatkan citra perpustakaan, pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global, pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global. Cakupan menurut Automasi Perpustakaan adalah: Pengadaan koleksi, Katalogisasi, Sirkulasi, reserve, inter-library loan, Pengelolaan penerbitan berkala, Penyediaan katalog (OPAC).

MEMBANGUN AUTOMASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH DENGAN SOFTWARE SLIMS

Membangun Automasi Perpustakaan Sekolah dengan Software SliMS
Perkembangan teknologi warta waktu ini mengalami perkembangan sangat pesat, serta nir bisa dipungkiri penggunaan teknologi warta telah merambah diberbagai bidang hampir ke seluruh sektor kehidupan manusia. Berbagai instansi ataupun organisasi baik itu skala mini maupun akbar nir mampu berjalan tanpa adanya teknologi informasi.

Penggunaan teknologi warta menjadi sebuah pilihan karena dipercaya sangat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, efektif dan efisien. Tujuan menurut setiap instansi atau lembaga ialah menaruh layanan yg terbaik buat publik. Hal ini berlaku jua pada perpustakaan, yang berperan menjadi pelayanan, penyedia, penyalur berita yg notabene juga menjadi sentra dokumentasi dan kabar selalu dituntut buat selalu menyediakan liputan yg cepat dan terbaru. Inilah keliru satu tantangan perpustakaan sebagai sentral pendidikan buat mampu menyediakan informasi dengan cepat serta terkini.

Kata teknologi informasi adalah adonan berdasarkan 2 kata dasar yaitu teknologi serta liputan. Seperti yang dijelaskan oleh Petter Salim serta Yenny Salim pada kamus besar bahasa Indonesia kontemporer (1991:1565) teknologi dapat diartikan menjadi pelaksanaan ilmu. Sedangkan berita adalah sesuatu yang bisa diketahui. Jadi pengertian teknologi keterangan dapat diartikan sebagai suatu teknologi yg dipakai buat menyimpan, membuat, memasak, serta mengembangkan informasi.

Kenyataan bahwa dalam era informasi abad ini, teknologi keterangan serta komunikasi atau ICT (Information and Communication Teclznology) telah sebagai bagian yang tidak terpisahkan berdasarkan kehidupan global sang kita karena itu setiap institusi termasuk perpustakaan berlomba buat mengintegrasikan “ICT” guna membangun serta memberdayakan civitas akademikanya berbasis pengetahuan supaya dapat bersaing dalam era dunia. Dalam menyikapi perkembangan ICT dalam era berita tahun ini, Perpustakaan berbasis teknologi berita (komputerisasi) sangat di butuhkan.. Keberadaan perpustakaan berbasis komputerisasi bisa menaikkan kualitas serta kecepatan proses layanan dalam pengguna perpustakaan sebagai akibatnya dapat memperlancar proses belajar-mengajar di lingkungan Sekolah. Selain itu sistem ini dapat membantu manajemen perpustakaan serta bisa menaikkan Efektifitas dan efisiensi penatalaksanaan perpustakaan.

Perkembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi bagi pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi otomasi perpustakaan, sebagai akibatnya proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif serta efisien. Fungsi otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatisl terkomputerisasi. Sedangkan bagi pengguna dapat membantu mencari asal liputan yg diinginkan dengan menggunakan catalog on-line yang bisa diakses melalui internet, sebagai akibatnya pencarian kabar dapat dilakukan kapan dan dimanapun dia berada.

Idealnya, setiap perpustakaan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi buat mendukung pengelolaan koleksi perpustakaan. Automasi perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan memakai bantuan teknologi informasi (TI). (Nur: 2007) Dengan bantuan teknologi informasi maka beberapa pekerjaan manual dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih seksama dan cepat buat ditelusur kembali. Dengan demikian para pustakawan dapat memakai saat lebihnya buat mengurusi pengembangan perpustakaan karena beberapa pekerjaan yg bersifat berulang (repetable) sudah diambil alih sang personal komputer . Faktor penggerak serta alasan membuat automasi perpustakaan menurut Purwono yaitu:

Faktor Penggerak
1. Kemudahan mendapatkan produk TI
2. Harga semakin terjangkau buat memperoleh produk TI
3. Kemampuan dari teknologi informasi
4. Tuntutan layanan rakyat serba klik

Alasan lain
1. Mengefisienkan serta mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan
2. Memberikan layanan yg lebih baik pada pengguna perpustakaan
3. Meningkatkan citra perpustakaan
4. Pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global

Cakupan dari Automasi Perpustakaan
1. Pengadaan koleksi
2. Katalogisasi
3. Sirkulasi, reserve, inter-library loan
4. Pengelolaan terbitan berkala
5. Penyediaan katalog (OPAC)
6. Pengelolaan anggota
7. Statistik (Laporan)

Komponen Automasi Perpustakaan
Menurut Arif , Sebuah Sistem Automasi Perpustakaan pada umumnya terdiri dari 3(Tiga) bagian, yaitu :(1) Pangkalan Data (2) User/Pengguna (3) Perangkat

Automasi. Ketiga komponen automasi tersebut dijelaskan menjadi berikut.

a. Pangkalan Data
Setiap perpustakaan pasti nir akan terlepas dari proses pengelolaan koleksi. Tujuan berdasarkan proses ini buat memperoleh data dari seluruh koleksi yg dimiliki serta kemudian mengorgani-sirnya dengan memakai kaidah-kaidah ilmu perpustakaan. Pada sistem manual, proses ini dilakukan menggunakan memakai bantuan media kertas atau kitab . Pencatatan pada kertas atau buku merupakan pekerjaan yg sangat mudah tetapi pula adalah suatu proses yg tidak efektif karena seluruh data yang sudah dicatat akan sangat sulit ditelusur dengan cepat apabila jumlah telah berjumlah besar walaupun kita telah menerapkan proses peng-indeks-an. Dengan memakai bantuan teknologi warta, proses ini bisa dipermudah dengan memasukkan data pada perangkat lunak pengolah data seperti : CDS/ISIS (WINISIS), MS Access, MySQL. Perangkat lunak ini akan membantu kita buat mengelola pangkalan data, ini menjadi lebih gampang karena proses pengindeksan akan dilakukan secara otomatis serta proses penelusuran kabar akan bisa dilakukan menggunakan cepat dan seksama lantaran aplikasi ini akan menampilkan semua data sinkron kriteria yang kita tentukan.

b. User/Pengguna
Sebuah sistem automasi nir terlepas dari pengguna sebagai penerima layanan dan seseorang atau beberapa operator menjadi pengelola sistem. Pada sistem automasi perpustakaan terdapat beberapa strata operator tergantung berdasarkan tanggung jawabnya. Dalam setiap acara aplikasi, user mempunyai strata yang berlainan. Misalnya di dalam SLiMS (aplikasi Automasi Perpustakaan user dibagi menjadi 2 yaitu administrator dan nonadministrator.

c. Perangkat Automasi
Perangkat automasi yang dimaksud disini merupakan perangkat atau indera yang dipakai buat membantu kelancaran proses automasi. Perangkat ini terdiri menurut dua (dua) bagian, yaitu : 
1. Perangkat Keras, 
2. Perangkat Lunak Automasi. 

Tanpa adanya dua perangkat ini secara memadai maka proses automasi tidak akan bisa berjalan menggunakan baik.

Perangkat Keras (Hardware)
Sebelum memulai proses automasi, sebuah perangkat keras perlu disiapkan. Yang dimaksud perangkat keras disini adalah sebuah komputer serta alat bantunya seperti Printer, Barcode, Scanner, serta sebagainya. Empat butir personal komputer sudah relatif buat digunakan di dalam memulai proses automasi pada perpustakaan kecil dalam hal ini perpustakaan sekolah. Sedangkan buat perpustakaan besar , dibutuhkan lebih poly personal komputer serta pelengkapnya supaya pelayanan kepada pengguna sebagai lancar. Spesifikasi minimal umumnya tergantung dari aplikasi yang digunakan. 

Misalnya, aplikasi senayan (acara automasi perpustakaan buatan Diknas RI) minimal memakai pentium III. Sebab semakin banyak tampilan berbasis grafis (gambar) maka semakin membutuh-kan spesifikasi yang tinggi.

Perangkat Lunak Automasi (Software)
Sebuah perpustakaan yang hendak menjalankan proses automasi maka harus ada sebuah software menjadi indera bantu. Perangkat lunak ini absolut dibutuhkan keberadaannya lantaran dipakai menjadi alat bantu mengefisienkan serta mengefektifkan proses.

Ada 3 (tiga) cara untuk memperoleh software, diantaranya :
1) Membangun sendiri dengan donasi seorang developer perangkat lunak. Jika instansi Anda memiliki energi programer maka langkah pertama ini mampu dilakukan karena bisa menghemat porto membeli perangkat lunak automasi.
2) Menggunakan software perdeo, contohnya : CDS/ISIS, WinISIS, KOHA,

OtomigenX, Senayan Library, serta sebagainya. 
Perangkat lunak ini sanggup dihasilkan menurut internet lantaran didistribusikan secara gratis kepada semua saja yg memerlukan. Walaupun perdeo perangkat lunak ini masih banyak kekurangan serta masih harus dimodifikasi lebih lanjut supaya memenuhi sinkron dengankebutuhan masing-masing perpustakaan.

3) Membeli software komersial bersama pelatihan serta supportnya yg dibangun oleh pihak ketiga. Perangkat lunak komersial, merupakan output riset pengembangnya serta mudah buat diimplementasikan lantaran hanya perlu dilakukan perubahan fitur sedikit atau nir sama sekali. Training serta Support pula akan diberikan oleh vendor secara penuh sehingga pengguna dapat langsung memakai tanpa harus bersusah payah lagi. Pilihan ini bisa dipilih apabila terdapat dana yang mencukupi buat membeli perangkat lunak.

Pilihan yg dijatuhkan, perangkat lunak wajib :
1. Sesuai menggunakan keperluan
2. Memiliki ijin pemakaian
3. Ada dukungan teknis, training , dokumentasi yg relevan dan pemeliharaan.
4. Menentukan staf yg bertanggungjawab atas pemilihan dan penilaian software

Kebutuhan implementasi SLiMS
Untuk bisa menjalankan sebuah pelaksanaan software otomasi perpustakaan tentu saja membutuhkan perangkat yg wajib dipersiapkan baik perangkat keras, aplikasi, serta pelaksanaan yg lain buat mendukung jalannya perangkat lunak otomasi perpustakaan. Berikut ini kebutuhan sistem yang wajib dipersiapkan buat mendukung jalannya software Senayan, yaitu:
a. Perangkat keras
Perangkat keras yang dibutuhkan buat menjalankan perangkat lunak Senayan merupakan menjadi berikut:
§ Prosesor kelas pentium III
§ RAM 256 MB
§ Standard VGA menggunakan dukungan rona 16-Bit

b. Perangkat lunak
Perangkat lunak yang dipakai menjadi persyaratan untuk dapat memakai software Senayan yaitu:
§ Engine scripting PHP dengan dukungan ekstension mysql, dukungan XML, dan GD buat bisa mendukung format PNG, JPG, GIF serta FreeType.
§ Web server, pada hal ini direkomendasikan Apache dua.2
§ Server database MySQL serta direkomendasikan lebih atau sama dengan versi lima.0
§ Utilitas mysqldump buat backup database
§ Sistem operasi GNU/Linux atau Windows
§ Browser dengan kapasitas javascript 1.lima, AJAx dan CSS 2. Menjadi model Mozilla Firefox 2
§ Pembaca dokumen PDF misalnya Adobe Reader buat melihat dokumen PDF yang di-generate oleh Senayan

c. Aplikasi pendukung
§ Pembaca barcode buat memindai barcode ketika aliran.

Fitur SLiMS
1.opac
2 Pengolahan koleksi (Bibliograi)
3 Pelayanan Sirkulasi (Circulation)
4 Manajemen anggota (Membership)
5 Setting data master (Master file)
6 Setting system (sistem)
7 Laporan (report)
8 Manajemen terbitan berseri
9 Manajemen koleksi digital
10 Katalog Induk
11 Absen Pengunjung (visitor)

Automasi Perpustakaan merupakan sebuah proses pengelolaan perpustakaan menggunakan menggunakan donasi teknologi warta (TI). Sistem Automasi Perpustakaan adalah penerapan teknologi kabar pada pekerjaan administratif di perpustakaan yg menyangkut diantaranya: pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik serta sebagainya. Ada faktor penggerak dan alasan membuat automasi perpustakaan berdasarkan Purwono, 2008. 

Faktor Penggerak automasi perpustakaan antara lain: Kemudahan menerima produk TI, Harga semakin terjangkau buat memperoleh produk TI, Kemampuan berdasarkan teknologi informasi, Tuntutan layanan rakyat serba klik. Sedangkan alasan lain menciptakan automasi perpustakaan merupakan: mengefisienkan dan mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan, memberikan layanan yang lebih baik pada pengguna perpustakaan, menaikkan citra perpustakaan, pengembangan infrastruktur nasional, regional dan dunia, pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global. Cakupan berdasarkan Automasi Perpustakaan merupakan: Pengadaan koleksi, Katalogisasi, Sirkulasi, reserve, inter-library loan, Pengelolaan penerbitan terjadwal, Penyediaan katalog (OPAC).

STRATEGI DAN PERENCANAAN UNTUK MEMULAI USAHA

Strategi Dan Perencanaan Untuk Memulai Usaha
Dalam era perdagangan bebas seperti waktu sekarang ini, perkara daya saing serta keunggulan saing merupakan berita kunci serta sekaligus menjadi tantangan yang tidak ringan bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Salah satu ujud nyata tantangan globalisasi dalam produksi misalnya kita dituntut supaya produk Indonesia bisa bersaing terhadap produk luar yang masuk ke Indonesia. Ataupun pada pasar internasional produksi kita didefinisikan (bukan penyedia barang murah bersubsidi) tidak saja akan menciptakan murah produk yg didapatkan tetapi jua akan membangun produk Indonesia yang memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantages). 

Dalam pasar global yg semakin terbuka, masalah daya saing akan menghadapi tantangan yg tidak ringan, maka tanpa dibekali kemampuan dan keunggulan saing yg tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk produk Indonesia, nir akan bisa menembus pasar internasional. Bahkan masuknya produk impor dapat mengancam posisi pasar domestik. Dengan istilah lain, dalam pasar yg bersaing, keunggulan kompetitif (competitive advantages) merupakan faktor penentu pada mempertinggi kinerja perusahaan. Oleh karenanya, upaya menaikkan daya saing serta membentuk keunggulan kompetitif bagi produk Indonesia nir dapat ditunda-tunda lagi dan telah selayaknya menjadi perhatian aneka macam kalangan, bukan saja bagi para pelaku usaha itu sendiri tetapi juga bagi aparat birokrasi, berbagai organisasi serta anggota masyarakat yg merupakan lingkungan kerja berdasarkan aktivitas bisnis korporasi (usaha corporate).

Globalisasi ekonomi pada awal abad 21 adalah suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara pada semua dunia sebagai satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi menggunakan tanpa rintangan batas teritorial negara. Perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut: Globalisasi produksi, pada mana perusahaan berproduksi pada banyak sekali negara, dengan sasaran supaya porto produksi menjadi lebih rendah. Globalisasi pembiayaan, perusahaan dunia memiliki akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun pribadi) pada semua negara di dunia. Globalisasi tenaga kerja, maka human movement akan semakin mudah serta bebas. Globalisasi jaringan informasi, warga suatu negara dengan mudah serta cepat mendapatkan berita dari negara-negara pada global lantaran kemajuan teknologi. Globalisasi perdagangan, terwujud pada bentuk penurunan serta penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan serta persaingan sebagai semakin ketat dan fair. Bahkan, transaksi menjadi semakin cepat lantaran "less papers/documents" pada perdagangan, tetapi bisa mempergunakan jaringan teknologi telekomunikasi yg semakin canggih. 

Pada aktivitas usaha korporasi (bisnis corporate) di atas dapat dikatakan bahwa globalisasi menunjuk pada meningkatnya ketergantungan ekonomi antarnegara melalui peningkatan volume serta keragaman transaksi antarnegara (cross-border transactions) dalam bentuk barang serta jasa, aliran dana internasional (international capital flows), konvoi energi kerja (human movement) serta penyebaran teknologi keterangan yang cepat. Sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa globalisasi secara hampir pasti sudah merupakan salah satu kekuatan yang menaruh impak terhadap bangsa, warga , kehidupan insan, lingkungan kerja serta aktivitas usaha corporate pada Indonesia. Kekuatan ekonomi dunia mengakibatkan usaha korporasi, termasuk partikelir, BUMN/BUMD ataupun koperasi, perlu melakukan tinjauan ulang terhadap struktur dan taktik usaha serta melandaskan strategi manajemennya menggunakan basis entrepreneurship, cost efficiency dan competitive advantages.

Salah satu upaya menciptakan keunggulan bersaing dalam situasi pasar usaha yang sangat dinamis misalnya sekarang ini adalah melakukan pendayagunaan teknologi berita. Pendayagunaan teknologi kabar (TI) memegang peranan yang sangat penting pada mengklaim kelancaran dan optimisasi layanan ke pelanggan dan meningkatkan kinerja suatu perusahaan. Ada sejumlah faktor penting yg menghipnotis pentingnya peranan eksploitasi TI dalam suatu perusahaan, seperti meningkatnya popularitas web, pertumbuhan komputasi pervasive, serta hadirnya model bisnis baru. Akibatnya, sekarang perusahaan memiliki kesempatan lebih luas pada sisi penawaran dan layanan bagi pelanggannya. Dan, makin besarnya peluang yg dimiliki setiap perusahaan, tentu menciptakan tantangannya semakin berat. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan contoh usaha yang tepat dan solusi manajemen teknologi yang mampu mendayagunakan seluruh aset teknologi secara baik dan membantu perusahaan secara cepat dalam menjawab kebutuhan bisnis serta pasar yang terus berkembang. 

Tulisan singkat ini mencoba mengungkap eksploitasi teknologi warta buat mencapai keunggulan bisnis perusahaan.

Teknologi Informasi menjadi Aplikasi Iptek
Ilmu pengetahuan serta teknologi (Iptek), saat ini merupakan istilah kunci bagi keberhasilan pembangunan suatu bangsa juga suatu perusahaan. Perjalanan sejarah dan pengalaman beberapa negara, ternyata inovasi teknologi merupakan salah satu aspek yang memiliki daya bicu (leverage) yang sangat tinggi bagi daya saing suatu bangsa. Hal ini memberitahuakn adanya pergeseran yang besar dalam paradigma pembangunan suatu negara, yg semula hanya mengandalkan asal daya alam sebagai tumpuan pembangunan, berubah menjadi asal daya manusia dan sumber daya iptek. Beberapa negara maju bahkan telah usang mengakibatkan iptek sebagai penghela primer dalam pembangunan bangsanya. Konsep “knowledge base economy” (KBE atau ekonomi berbasis pengetahuan/EBP) adalah konsep yg mencerminkan syarat tersebut. Saat ini konsep EBP poly dikembangkan di negara-negara maju, yg pada intinya menekankan betapa sangat berperannya teknologi serta berita pada pembangunan suatu bangsa.

Pada dasarnya galat satu kunci keberhasilan suatu bangsa menerapkan penemuan teknologi dalam pembangunannya merupakan adanya dukungan sistem kelembagaan inovasi-difusi yg sudah mapan. Antar satu forum dengan lembaga lainnya saling bersinergi, sebagai akibatnya tercipta jejaring kerjasama yg saling mengisi untuk membentuk inovasi yg benar-sahih bisa mempertinggi daya saing bangsa dalam persaingan dunia.

Dalam pada itu, buat mengantisipasi persaingan antar bangsa yg semakin ketat, secara sah formal Bangsa Indonesia sudah memiliki landasan kuat buat mendayagunakan Iptek dalam kehidupan berbangsa, yakni Pasal 31 Ayat lima UUD 45 output Amandemen ke 4. Lebih jauh lagi, sejak tahun 2002 Indonesia sudah mempunyai UU No 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek (Sinasiptek).

Tujuan dari pembuatan UU tersebut merupakan buat memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara dan menaikkan daya saing dan kemandirian pada pergaulan antar bangsa. Kelembagaan dan jejaring kerja antar forum iptek merupakan aspek yang diatur dalam undang-undang tadi. 

Dalam UU no 18 tahun 2002, kelembagaan iptek terdiri atas unsur perguruan tinggi, lembaga litbang, badan bisnis, serta lembaga penunjang. Lembaga litbang menjadi keliru satu unsur kelembagaan pada Sinasiptek berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan iptek. Lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai penemuan (invention) di bidang iptek serta menggali potensi pendayagunannya. Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri, atau bagian dari organisasi pemerintah, pemerintah wilayah, perguruan tinggi, badan bisnis, lembaga penunjang, dan organisasi masyarakat. Untuk memadukan sinergisme kerja aneka macam unsur kelembagaan iptek, Undang-undang tersebut mengungkapkan mengenai jaringan Sinasiptek. Jaringan tadi berfungsi buat menciptakan jalinan hubungan interaktif yg memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek pada membentuk kinerja dan manfaat lebih akbar dibandingkan bila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. Untuk mengembangkan jaringan tadi seluruh elemen Sinasiptek harus mengusahakan kemitraan dalam hubungan yg saling mengisi, melengkapi, memperkuat, serta menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang adalah pemborosan.

Dalam suatu perusahaan galat satu tantangan yang lazim dihadapi perusahaan dalam pengelolaan teknologi merupakan kurangnya asal daya. Banyak perusahaan harus mengelola sistem TI menggunakan keterampilan, sumber daya, serta aturan yang terbatas. Terbatasnya jumlah sumber daya manusia (SDM) serta tingginya tingkat turn-over SDM membuat perusahaan kewalahan pada mengantisipasi kebutuhan pasar dengan kemajuan teknologi yg begitu dinamis. Solusi manajemen yang sempurna diharapkan tidak hanya untuk mengelola sumber daya TI, tapi juga harus memberikan fakta yang gampang dipahami dan digunakan pada lingkungan multiplatform. Dengan demikian, keterampilan sumber daya insan dapat dioptimalkan buat melakukan pemikiran analitis serta strategis yang tujuan akhirnya merupakan meningkatkan kinerja perusahaan. Sebagai model, sebuah solusi manajemen yang baik bisa menampakan titik-titik lemah dalam sebuah jaringan komputer, contohnya komputer yg berkinerja rendah. Dengan kemampuan ini, pengguna tak perlu menilik/menguji secara manual, satu-per-satu, setiap komponen jaringannya. 

E-Business dan E-Commerce Bentuk Optimisasi Layanan ke Pelanggan
Salah satu bentuk pendayagunaan teknologi liputan buat keunggulan bersaing adalah perwujudan pemanfaatan keunggulan teknologi keterangan buat pelayanan ke pelanggan. Dalam kaitannya menggunakan pelanggan, solusi manajemen TI akan mengklaim optimisasi (syarat terbaik) layanan bisnis ke pelanggan. Bentuk solusi manajemen ini harus menyediakan perangkat yang efektif serta terintegrasi untuk mengelola infrastruktur teknologi. Di samping mempunyai infrastruktur yang reliabel, solusi manajemen TI juga wajib sanggup membantu perusahaan mengimplementasikan pendekatan inovatif terhadap usaha serta memanfaatkan aset teknologi buat mempertinggi kinerja melalui pilihan aplikasi usaha strategis yang luas.

Bentuk nyata pelaksanaan teknologi warta pada usaha yg akhir-akhir ini poly ditulis dan dibahas tentang e-business baik pada media cetak maupun elektro, sebut saja Fortune, The Economist, Asian Business. Kalau beberapa waktu yang lalu Amerika dan negara-negara di Eropa demam internet, sekarang gilirannya di Asia, bahkan Indonesia. Internet telah menjadi bagian dari gaya hidup baru. Gelombang fakta yg dapat diakses dengan media ini berpengaruh besar dalam semua bidang, termasuk bidang ekonomi dan bisnis. Bahkan bidang ini masih ada kehadiran berbagai kata baru sebut saja, e-commerce, e-business, e-PR, e-marketing serta lain-lain. 

Pengertian berdasarkan beberapa kata diantaranya : Electronic Commerce (Perniagaan Elektronik), menjadi bagian berdasarkan Electronic Business (bisnis yg dilakukan menggunakan memakai electronic transmission), oleh para ahli dan pelaku usaha dicoba dirumuskan definisinya menurut terminologi E-Commerce (Perniagaan Elektronik). Secara generik e-commerce dapat didefinisikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan/perniagaan barang atau jasa (trade of goods and service) dengan menggunakan media elektro. Jelas, selain menurut yang sudah disebutkan di atas, bahwa kegiatan perniagaan tersebut merupakan bagian berdasarkan aktivitas bisnis. Kesimpulan: "e-commerce is a part of e-business". E-PR (Electronic Public Relations) atau humas melalui elektronika merupakan bagian dari E-Marketing (Pemasaran Elektronik), karena E-Marketing membawahi seluruh jenis komunikasi pemasaran online. E-PR merupakan penerapan dari perangkat ICT (Information and Communication Technologies) untuk keperluan public relations. Praktisi E-PR harus seseorang yang handal pada berselancar pada global maya serta memahami ke mana saja mereka wajib berselancar buat membangun brand. E-PR merupakan satu-satunya cara buat menciptakan merk pada global yang nir kasat yaitu dunia maya mengingat internet sudah menghadirkan global maya di samping dunia konkret.

Internet banyak disadari para perilaku bisnis sebagai salah satu tool (alat) buat menyebarkan usaha pada masa depan. Bahkan Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu daerah e-business utama di kawasan Asia buat masa mendatang. Banyak konglomerat Indonesia yang memilih buat terjun ke global e-business, misalnya Eka Tjipta, James Riady, Peter Gonta, Grup Bakrie dan terdapat yg lainnya. Nah, bagaimana menurut penuturan para ahli serta pimpinan perusahaan tentang e-business tersebut?

Para pakar mengembangkan pengalaman serta kegunaan e-business yg dibahas menurut banyak sekali segi. Berbagai situs internet yang kian hari makin semarak adalah salah satu modal buat terjun ke e-business. Sebab dengan adanya e-business orang bisa bertransaksi eksklusif menggunakan jangkauan dunia. Selain peluang pertumbuhan yg dicapai perusahaan menjadi lebih besar , perusahaan berarti melakukan lompatan jauh ke depan berbisnis tanpa batas wilayah. Di samping itu, e-business memungkinkan para perusahaan menjalin kerjasama menggunakan banyak sekali perusahaan pada semua dunia dan bisa secara pribadi dengan buyer melalui cara yang lebih cepat serta efisien serta hemat biaya .

Menurut Paulus Bambang, Direktur AGIT, terjun ke e-business merupakan konsekuensi logis syarat masa depan. Lain halnya menggunakan Dicky Iskandar Di Nata (Business.htm), Presdir Jaring Data Informasi (JDI), dia cenderung mengungkap data tentang para pengguna Internet yg tentunya akan sebagai pangsa pasar yg berkaitan dengan e-business itu sendiri. Menurutnya kini masih ada 176.000 pelanggan perorangan, 4200 perusahaan serta diperkirakan masih ada 850.000 – 1 juta pengguna Internet. Para pengguna internet pada umumnya terkonsentrasi di Jabotabek yg jumlahnya kurang lebih 50%, selebihnya pada 5 kota besar di Indonesia. Sedangkan akses Internet kebanyakan dilakukan berdasarkan tempat kerja, diperkirakan mencapai 50% dan selebihnya dilakukan berdasarkan tempat tinggal serta warnet. Lebih rinci beliau menyebutkan terdapat lebih kurang 37% pengguna internet tidak pernah melakukan transaksi, sang karena tidak memiliki kartu kredit, selebihnya karena perkara security. Ia jua menambahkan bahwa e-business pada biasanya masih dalam tahap awal development. Untuk memperoleh laba aporisma, tentunya dengan adanya Internet akan menjadi nilai tambah yang relatif berarti bagi global bisnis pada tanah air. Karena Internet adalah platform komunikasi dengan laju pertumbuhan yg paling tinggi semenjak ditemukannya telepon. Internet membangun beragam tingkat komunikasi secara elektronika antar institusi/organisasi tanpa batas. Internet merupakan “low cost delivery mechanism” buat content maupun perangkat lunak.

Hal lain yg diperkirakan akan tumbuh fertile merupakan Application Service Provider (ASP), yg merupakan komponen penting menurut “jaringan ekonomi baru” ini, yaitu menjadi fasilitator mutasi proses usaha pada pada internet (Extended Enterprise). Perkembangan Web Based Software memungkinkan distribusi serta management penggunaan aplikasi pada multiple users menurut data center melalui “wide area network”. Ada beberapa alasan kenapa ASP akan tumbuh fertile ?. Pertama, lantaran biaya investasi packaged aplikasi yg tinggi bagi skala bisnis kecil serta menengah di Indonesia. Kedua, keterbatasan Sumber Daya Manusia pada bidang TI buat implementasi dan pemeliharaan pelaksanaan serta software. Ketiga, lantaran tingginya biaya investasi buat menciptakan infrastruktur IT serta maintenance. 

Pemanfaatan lain yg juga cukup menonjol pada ASP Internet Banking, khususnya industri perbankan. Tanpa dukungan ASP internet banking sistem pembayaran dan settlement yang memadai maka e-business tidak akan berkembang bahkan lebih banyak keraguan. Apa manfaat perbankan menggunakan ASP ?. Entry ke dunia e-business bagi perbankan nasional, memperkecil biaya intermediasi, sarana marketing, pergeseran berdasarkan traditional branch banking (yang relatif mahal) ke future net banking, serta menghantarkan servis perbankan tak terbatas di mana nasabah berada.

Sementara itu, AB Susanto, Direktur JCG diantaranya mengungkapkan tujuh prinsip dalam e-business, yakni harus ada saling pengertian pada antara para customer, perusahaan harus memandang bahwa menggunakan menggunakan internet akan mendatangkan keuntungan yg lebih banyak, para pemegang jabatan di perusahaan menyukai kepastian keuntungan yg dari menurut e-business, para pemegang jabatan di perusahaan bisa memanfaatkan kesempatan yg terbuka, perusahaan serta pemegang jabatan pada perusahaan berani membangun hal-hal yg mendatangkan keuntungan, perusahaan harus mengantisipasi serta lebih proaktif supaya permanen eksis serta sigap terhadap para pesaing baru, serta tidak hanya menguntungkan programnya saja. Selain itu, diperlukan faktor pendukung pada membangun taktik e-business, yaitu menciptakan sebuah taktik team e-business yang efektif, menentukan keperluan customer, menganalisis arus serta potensial pesaing yang strategis, melakukan studi serta identifikasi terhadap nilai tambah customer, merevisi serta mengevaluasi taktik e-business setiap ketika, melakukan seleksi taktik secara optimal, serta mengimplementasikan hal-hal tersebut pada tindakan konkret. 

Untuk menciptakan perusahaan bisa memanfaatkan sepenuhnya potensi e-business dan meraih laba menurut e-business, solusi yg digunakan juga wajib menyediakan perangkat buat meningkatkan keamanan, reliabilitas, dan ketersediaan pelaksanaan e-commerce serta sistem yang mendasarinya seperti customer relationship management (CRM) dan supply chain management (SCM).

Kriteria Penerapan E-Business dalam Perusahaan
Salah satu alasan perusahaan menerapkan e-business adalah efisiensi. Kriteria penilaian efisiensi bisa berdasarkan pada analisis internal perusahaan buat melihat penerapan e-business terhadap kemampuan perusahaan meningkatkan revenue serta menurunkan porto operasional. Adapun kriteria seberapa jauh perusahaan telah menerapkan e-business dilihat menurut beberapa indikator dan sesudah diperoleh data maka perlu dilakukan evaluasi dengan melakukan pembobotan dari beberapa indikator yg terdapat. Beberapa kriteria yang ditetapkan merupakan menjadi berikut: 

1. Customer Value
Yang dimaksud customer value merupakan nilai-nilai yg diterima oleh konsumen ditinjau menurut seluruh aspek nilai-nilai perusahaan yg melekat dalam produk dan atau jasa yg diberikan pada konsumen. Pemahaman ini berdasarkan jua pada pengertian yang disebutkan oleh Phillip Kotler (1999) yg menyatakan, ‘Total customer value is the bundle of benefits customer expect from a given product or service.’ 

Nilai-nilai yang diterima konsumen adalah aneka macam benefit dalam bentuk sebagai berikut: 
a. Product Value: Konsumen memperoleh produk yang berkualitas sesuai menggunakan yang diharapkan.
b. Service Value: Konsumen memperoleh jasa yang berkualitas sinkron menggunakan yg dibutuhkan.
c. Personnel Value: Konsumen memperoleh layanan yg memuaskan berdasarkan karyawan perusahaan.
d. Image Value: Citra perusahaan yang sebagai bahan pertimbangan customer dalam menentukan suatu pembelian produk/jasa.

2. Proses Efisiensi
Melihat proses efisiensi suatu perusahaan dalam aneka macam bidang industri akan sangat bervariasi. Proses efisiensi sendiri didefinisikan menjadi kemampuan perusahaan buat mengoptimalisasi rasio input terhadap output. Pendekatan generik yg sanggup digunakan buat menilai efisiensi merupakan dengan melihat kinerja keuangan. Proses efisiensi suatu perusahaan bisa dilihat dari rasio antara sales dan total jumlah karyawan. Rasio ini setidaknya menggambarkan efisiensi secara generik pada perusahaan, meskipun belum memberikan citra secara spesifik efisiensi secara mendetail.

3. Inovasi
Inovasi dalam bidang teknologi keterangan pada perusahaan dievaluasi dari jenis serta frekuensi penerapan pandangan baru atau gagasan baru dalam proses usaha juga yang berhubungan langsung menggunakan produk atau jasa yang diberikan. Inovasi ini dipengaruhi dalam hitungan satu tahun terakhir.

4. Human Resources
Sumber daya manusia pada konteks evaluasi aplikasi e-business pada suatu perusahaan adalah asal daya insan dalam perusahaan yg dapat menunjang dan mendukung strategi perusahaan dalam menerapkan e-business. Beberapa hal yg dinilai adalah:
a. Persentase karyawan yang memiliki kemampuan menggunakan personal komputer terhadap total jumlah karyawan.
b. Banyaknya pembinaan buat menaikkan kemampuan karyawan pada bidang teknologi warta yang diberikan perusahaan dalam jangka ketika satu tahun.
c. Persyaratan minimum kemampuan/keahlian dalam bidang teknologi keterangan bagi karyawan yg akan masuk perusahaan.
5. Komitmen manajemen terhadap pengembangan teknologi informasi

Komitmen ini bisa ditinjau menurut jumlah investasi yang ditanamkan buat pengembangan e-business pada perusahaan. Komitmen manajemen pada penilaian ini diartikan sebagai besarnya perhatian manajemen perusahaan terhadap penerapan e-business perusahaan ditinjau menurut besarnya investasi dalam bidang teknologi informasi.

6. Penggunaan Internet
Tingkat penggunaan internet buat menunjang implementasi e-business pada perusahaan jua merupakan salah satu indikator aplikasi e-business. Pendekatan ini dilakukan menggunakan melihat: 
a. Perbandingan penggunaan personal address menggunakan domain perusahaan terhadap total jumlah karyawan.
b. Tersedianya situs perusahaan.
c. Tersedianya transaksi bisnis melalui internet.

Beberapa model perusahaan yang sudah sangat maju pada aplikasi teknologi warta di Indonesia dan perusahaan-perusahaan tadi termasuk unggul dalam penerapan teknologi informasi serta performance perusahaan tersebut pula relatif baik serta menjadi pemenang E-Company Award 2002 (Sumber : Warta Ekonomi, 30 Oktober 2002) :

1. Kategori Retail: PT Matahari Putra Prima Tbk. 
Perombakan struktur usaha serta manajemen dilakukan Lippo untuk memperbaiki kinerja usaha PT Matahari Putra Prima Tbk. Lewat implementasi e-commerce B2B (Business to Business), perusahaan dengan 77 department store dan 64 supermarket ini berharap bisa menuju usaha yang lebih efisien. . Untuk itu, perombakan pun dilakukan dalam hubungan peritel ini menggunakan para pemasoknya. Caranya, menggunakan menaikkan kinerja implementasi sistem e-commerce B2B (business to business) yang sudah go live dari tahun 1999 lalu. Saat ini, Matahari tercatat sudah bekerjasama secara elektronis menggunakan pemasok besarnya misalnya Martha Tilaar, Mustika Ratu, serta Nestle. Lewat sebuah gateway yg didirikan sang PT Indosatcom Adimarga, berbagai sistem berdasarkan pemasok diintegrasikan pada sebuah jaringan. Yang diatur merupakan alur fakta menurut pemasok ke Matahari dalam kaitan dengan pengadaan barang yang dibutuhkan oleh konsumen. Yang kentara, ketika ini, dengan bergabung kepada gateway Indosatcom, para pemasok Matahari sanggup memangkas biaya administrasi pengadaan barang sebesar 50%. Angka ini berasal dari berkurangnya biaya pengiriman faks, pengarsipan, dan entry data. Jelasnya, bila sebelumnya porto pengurusan per dokumen mencapai Rp5.694, maka sehabis e-commerce B2B diterapkan, ongkosnya cuma Rp2.854 per dokumen.

2. Kategori Manufacturing: PT Unilever Indonesia Tbk.
Untuk mempertahankan dominasinya pada pasar consumer goods, PT Unilever Indonesia Tbk. Mengandalkan kemampuannya melakukan penemuan. Untuk mempertinggi laba, Unilever tetapkan memanfaatkan jaringan internet dalam memperoleh pasokan bahan standar.

Hadir pada Indonesia sejak tahun 1933, penguasaan produk-produk PT Unilever Indonesia Tbk. Pada pasar consumer goods kian sulit tergoyahkan sang para kompetitornya. Bahkan cengkeraman usaha Unilever justru makin kuat dan kian menggurita. Unilever sekarang telah membentuk 400 macam produk serta hampir seluruhnya merupakan produk-produk pemimpin pasar. Sulit cita rasanya menjumpai orang yg tidak mengenal produk Unilever, mulai menurut deterjen serbuk Rinso, pasta gigi Pepsodent, sampo Sunsilk, sabun Lux, hingga margarin Blue Band.

Bahkan terakhir Unilever berupaya menggandeng Texchem Resources Berhad Malaysia buat mendirikan perusahaan patungan bernama PT Technopia Lever. Perusahaan ini nantinya akan bergerak pada bidang pengembangan serta distribusi produk kesehatan, seperti obat nyamuk bakar, pembasmi serangga, dan oil spray. Bagi kantor pusat Unilever yang berada di Belanda, anak usahanya yang berada di Indonesia ini memang terhitung menjadi penyumbang pendapatan Unilever yang besar .

3. Kategori Telecommunication: PT Telkom Seluler (Telkomsel)
Dalam rangka memberikan kepuasan Pelanggan Berbasis TI, perluasan dan inovasi yg terus-menerus dilakukan menjadi kunci keberhasilan Telkomsel buat menjadi perusahaan operator angka satu pada Indonesia. Tidak puas hanya menjadi jago sangkar di negeri sendiri, maka Tekomsel pun berambisi menjadi yang terbaik di tempat Asia.

Menjadi perusahaan operator seluler yang terbaik pada Asia merupakan salah satu misi yang diemban sang Telkomsel. Misi itu pulalah yg mengakibatkan perusahaan yang berdiri dalam 26 Mei 1995 ini makin getoll buat terus menaikkan kualitas layanan, infrastruktur, serta teknologi yg dimilikinya. Komitmen tentang hadiah layanan yang prima ini tampaknya terpancar dari para pucuk pimpinan Telkomsel yg dengan 'legowo' berjanji akan menerima masukan berupa keluhan atau usulan berdasarkan para konsumennya. 'Selain bersifat terbuka, hal lain yg nir kalah pentingnya merupakan bagaimana supaya kami mampu menerjemahkan impian serta kebutuhan pelanggan.

Demi kepuasan pelanggan pulalah maka Telkomsel tak henti-hentinya berinovasi menciptakan layanan-layanan baru. Di antaranya, customer care by online (caroline), billing and customer care system (bianca), supervision network performance (superman), serta aneka kabar tagihan (anita). Meskipun layanan yang ditawarkan kelihatannya sederhana, namun hal itu membutuhkan kemampuan dan kesiapan sistem teknologi informasi (TI) yg kuat.

4. Kategori Transportation & Distribution: PT Birotika Semesta (DHL)
Lebih 50% dari total pengiriman DHL Indonesia dilakukan menggunakan cara otomatis. Dengan bekal sebuah scanner genggam, para kurir DHL membantu pelanggan melacak bepergian kirimannya. Ini bagian paling konkret berdasarkan proses DHL memasuki ranah e-commerce.

Scanner serta bukan pistol. Itulah 'senjata genggam' paling mutakhir yg wajib dimiliki oleh ujung tombak dari perusahaan pengiriman barang misalnya PT Birotika Semesta (DHL). Di perusahaan ini, sebuah scanner yang digenggam oleh petugas/kurir DHL sebagai titik awal perjalanan sebuah paket kiriman, sekaligus membuat paket tadi berada pada jangkauan pemantauan pengirimnya. 

Setiap sorotan scanner yg dilakukan petugas/kurir DHL pada tahap demi tahap pengiriman adalah berita berharga bagi pengirimnya. Di dalam scanner itu data dihimpun dan masuk ke back end system DHL serta terus ke sistem besar (service center). Dengan keterangan inilah mereka bisa menandai lokasi paket kirimannya.

5. Kategori Finance: Bank Central Asia Tbk.
Sebuah bank yang bersandarkan diri dalam TI. Strategi BCA terus membentuk delivery channel dengan TI yang memegang peranan krusial boleh dikatakan sukses. Ia boleh dibilang berhasil permanen menjadi bank partikelir ritel terbesar pada Indonesia. 

Pada 21 Februari 1957, pada pusat perniagaan Jakarta berdirilah sebuah bank bernama Bank Central Asia NV. Dalam perjalanan sejarahnya, Bank Central Asia (BCA) yg kemudian menjadi sebuah bank publik ini terus mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Anggapan ini sanggup dikatakan tidaklah hiperbola waktu BCA berhasil membuktikannya melalui peningkatan total asetnya yang mencapai Rp53,36 triliun dalam akhir 1997. Angka ini semakin tinggi hampir 50% dari total aset pada tahun 1996. Walaupun pada tahun 1998 total aset BCA sempat turun saat insiden rush nasabah menderanya, namun hingga Juli 2002, nilai aset BCA terus membengkak sebagai Rp104,229 triliun. Saat ini selain telah berhasil membangun jaringan ATM terbesar pada Indonesia, BCA kini pula berhasil meluncurkan layanan internet banking serta mobile banking.

Keberhasilan Pemberdayaan TI serta Prospeknya
Pemberdayaan/eksploitasi teknologi adalah kebutuhan yang dimiliki serta harus dipenuhi sang seluruh perusahaan, baik perusahaan akbar maupun mini buat mempunyai daya saing yg kompetitif. Untuk perusahaan mini diperlukan solusi manajemen TI menggunakan ketentuan diantaranya: (1) memiliki kemampuan buat mengelola aplikasi, sistem, jaringan, serta internet tanpa mengganggu roda perusahaan yang sudah berjalan lancar; (dua) Ada agama (accountability) terhadap seluruh pihak yang terlibat; (3) Ada ketangguhan dalam menghadapi perubahan yang cepat. 

Untuk mendukung keberhasilan dalam pengelolaan teknologi warta harus didukung oleh empat pilar, yaitu: 
  1. Sistem manajemen memberikan solusi bagi perusahaan buat mempermudah pengorganisasian semua sumber TI yang tersebar untuk dikelola secara terpusat; 
  2. Storage manajemen adalah solusi yg memungkinkan pelanggan buat mempertinggi, mengakses, membagi, dan memproteksi aset informasinya. Pengelolaan storage menjadi penting karena keberhasilan di dalam pasar dunia nir hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi pula seberapa cepat pelanggan serta pemasok dapat memperoleh liputan. Storage manajemen menciptakan perusahaan memiliki kesiapan buat mengimplementasikan, mengelola, dan melindungi infrastruktur keterangan buat memasuki pasar dunia. Dengan revolusi web dan dinamisnya perkembangan e-business saat ini, ketersediaan berita sebagai satu mission critical bagi suatu usaha buat dapat terus bersaing serta dapat cepat menjawab kebutuhan pasar; 
  3. Sistem keamanan merupakan solusi keamanan yg sanggup memecahkan masalah keamanan yang ada berdasarkan e-business, dengan memberikan solusi pengelolaan keamanan yg terpusat; 
  4. Pervasive manajemen. Tantangan bagi CIO (Chief Information Officer) ketika ini merupakan membentuk suatu sistem yg sudah ada buat memfasilitasi pengelolaan perangkat, baik yang tradisional juga nontradisional. Pervasive manajemen merupakan suatu solusi yg dapat membangun, menaruh, serta mengelola secara cepat serta sempurna kebutuhan layanan perangkat bergerak dengan seluruh perkembangannya. 

Kondisi waktu ini serta masa-masa mendatang, para analis memprediksikan bahwa pengelolaan teknologi merupakan kunci keberhasilan pada transformasi e-business. Oleh karenanya jika sebuah perusahaan nir melakukan hal tadi akan kalah bersaing dengan para pesaingnya (kompetitornya). Untuk itu pengelolaan teknologi sudah merupakan suatu keharusan bagi setiap perusahaan buat bisa meraih keunggulan yg kompetitif. 

Semakin konvergennya perkembangan Teknologi Informasi serta Telekomunikasi dewasa ini, sudah menyebabkan semakin beragamnya pula aneka jasa-jasa (features) fasilitas telekomunikasi yang terdapat, serta semakin canggihnya produk-produk teknologi fakta yg mampu mengintegrasikan seluruh media informasi. Di tengah globalisasi komunikasi yg semakin terpadu (dunia communication network) menggunakan semakin populernya Internet seakan telah membuat dunia semakin menciut (shrinking the world) serta semakin memudarkan batas-batas negara berikut kedaulatan dan tatanan masyarakatnya. Ironisnya, dinamika masyarakat Indonesia yg masih baru tumbuh serta berkembang sebagai rakyat industri dan masyarakat Informasi, seolah masih tampak prematur buat mengiringi perkembangan teknologi tadi. Tentunya jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka kita tak akan lagi sanggup bersaing menggunakan negara-negara tetangga. 

Pemanfaatan ICT dan e-Business akan semakin berkembang pada Indonesia yg mempunyai penduduk 220 juta jiwa lebih dan hal ini adalah pasar yang sangat atraktif bagi para pengusaha. Mereka, tentunya, membutuhkan banyak sekali perangkat ICT buat mendukung kelangsungan bisnisnya pada Indonesia, misalnya telepon, faksimili maupun internet. Perangkat ini bukan hanya buat menjual serta membeli, tapi jua buat melayani pelanggan dan melakukan kerja sama dengan kawan usaha masing-masing Selain itu, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, interaksi antar penduduk yang beredar di banyak sekali pulau paling efisien dengan memanfaatkan ICT. Walau perkembangannya nir sepesat negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan serta RRCina, ICT dan e-Business di Indonesia permanen akan berkembang serta semakin mempengaruhi kehidupan personal serta usaha. Apabila dicermati menjadi pasar, tentu saja Indonesia sangat menarik. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam hal jumlah penduduk. Sementara itu, wahana serta prasarana telekomunikasi yg ada masih jauh dari memadai. Dengan jumlah di atas 200 juta jiwa, densitas telepon saluran tetap di sini hanya berkisar antara tiga-4% dari total penduduknya. Faktor lain yg pula mampu mendorong pertumbuhan itu merupakan kian banyaknya jumlah kalangan terdidik pada Indonesia. Tentu saja, semakin besarnya jumlah kalangan ini akan semakin menaikkan intensitas penggunaan ICT pada Indonesia. Karenanya, Indonesia juga tidak boleh melupakan faktor pendidikan dalam konteks ini. Ini penting bila Indonesia ingin berperan menjadi pengembang serta pembuat. Bukan hanya sebagai pengguna. Pemerintah dan kalangan swasta harus mendukung upaya edukasi pada bidang ini.