CIRICIRI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI IPTEK

Cara flexi---Wargabelajar dan anak didik sekalian, pada pembahasan kita kali ini, kita akan menggali lebih jauh mengenai ilmu pengetahuan serta Teknologi. Berikut ini akan kita uraikan secara singkat mengenai ciri-ciri ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Agar lebih memudahkan pemahaman kita dalam postingan selanjutnya secara perbagian kita uraikan juga mengenai : IPTEK yg berkembang di Masyarakat, Pengaruh IPTEK terhadap teknologi yg berkembang pada lingkungan lebih kurang kita.

Dalam Ensiklopedia Indonesia dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu sistem menurut banyak sekali pengetahuan yang masing-masing mengenal suatu lapangan pengalaman tertentu yg disusun sedemian rupa berdasarkan azas-azas sampai menjadi kesatuan; suatu sistem dari berbagai pengetahuan yg masing-masing dihasilkan sebagai hasil inspeksi yg dilakukan secara teliti menggunakan memakai metode tertentu (induksi deduksi).

Ilmu pengetahuan mengakibatkan insan dapat mengetahui serta menilik aneka macam hal baik secara pribadi juga tidak langusung menurut peristiwa serta aneka macam fenomena yg masih ada pada global ini. Lantaran itu, ilmu pengetahuan mempunyai empat fungsi, yaitu :
  1. Fungsi deskriptif. Menggambarkan, melukiskan, serta memaparkan suatu obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari sang peneliti.
  2. Fungsi pengembangan. Melanjutkan hasil inovasi yg lalu serta menemukan ilmu pengetahuan yg baru.
  3. Fungsi Prediksi. Meramalkan insiden-kejadian yg akbar kemungkinan terjadi sehingga manusia bisa merogoh tindakan-tindakan yang perlu pada bisnis menghadapinya.
  4. Fungsi kontrol. Berusaha mengendalikan peristiwa-insiden yg nir dikehendaki.
Ilmu pengetahuan nir bisa dilepaskan berdasarkan teknologi yg berbentuk peralatan hayati buat memudahkan dan menaikkan output kerja insan. Alvin Toffler mengumpamakan teknologi itu menjadi mesin yang besar atau menjadi akselerator (indera pemicu) yg dahsyat, serta ilmu pengetahuan sabagai bahan bakarnya. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan secara kuantitatif serta kualitatif, maka kian meningkat pula proses percepatan yang disebabkan sang mesin pengubah, lebih-lebih teknologi mampu membentuk teknologi yg lebih poly dan lebih baik lagi.

Teknologi berasal berdasarkan istilah techne yang berarti serangkaian  prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu obyek atau kecakapan tertentu; pengetahuan mengenai prinsip-prinsip metode; seni, serta logos yang pada bahasa Yunani mengacu dalam rapikan pikir atau keteraturan.

Menurut Sastrapratedja, fenomena teknologi pada rakyat mempunyai ciri-karakteristik sebagai berikut :
  1. Rasionalistik, adalah teknologi selalu bertindak sinkron planning dengan perhitungan rasional
  2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu buatan yg tidak alamiah.
  3. Otomatisme, merupakan pada hal metode organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Selain itu pula bisa merubah kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis.
  4. Teknologi berkembang pada suatu kebudayaan
  5. Monisme, merupakan, semua teknologi bersatu, saling berinteraksi, serta saling bergantung.
  6. Universalisme, artinya sanggup melampaui batas-batas kebudayaan dan ideologi, bahkan bisa menguasai kebudayaan.
  7. Otonomi, adalah teknologi berkembang dari prinsip-prinsip sendiri.
Sebagai wujud kongkrit kebudayaan (kebudayaan material), teknologi erat hubungannya dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya, lantaran dalam menilik teknologi akan selalu dihubungkan dengan fungsi teknologi tadi. Teknologi sebagai alat-alat hidup akan berhubungan dengan aktivitas hidup insan seperti, teknologi dengan pertanian; teknologi dengan susunan atau struktur masyarakat, teknologi menggunakan ilmu pengetahuan, serta lain-lain. 

MENGENAL NANOTEKNOLOGI MOLEKULAR TEKNOLOGI MASA DEPAN

Mengenal Nanoteknologi Molekular, Teknologi Masa Depan
Era globalisasi dan liberalisasi sudah mendorong timbulnya saling ketergantungan antar negara. Situasi ini sudah menciptakan peluang sekaligus ancaman sebagai akibatnya banyak sekali negara merasa perlu melakukan penyesuaian langkah kebijakan buat menghadapinya. Indonesia menjadi bagian dari rakyat global tidak terlepas menurut perubahan yang terjadi baik di taraf regional juga dunia. Tahun 2020 dipercaya sebagai tahun yang sangat krusial menggunakan terbentuknya perdagangan bebas baik di tingkat regional juga global.

Bangsa Indonesia perlu mempersiapkan diri agar sanggup memanfaatkan perubahan sebagai peluang demi keberadaan bangsa sekaligus terwujudnya rakyat yg adil, makmur serta sejahtera. ITB memiliki peranan yg sentral lantaran tingkat kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa hanya mampu dicapai jika masyarakatnya sanggup menguasai serta memanfaatkan sains dan teknologi menggunakan sebaik-baiknya. Untuk mencapai tujuan tadi diharapkan suatu visi yg sanggup membawa ITB memanfaatkan segenap potensi dan asal dayanya pada menghadapi tahun 2020.

Metode dan Sasaran
Untuk menyusun suatu visi yang komprehensif dilakukan pengkajian terhadap banyak sekali literatur yg berisikan hal-hal yg akan mensugesti ITB pada tahun 2020. Sebagai asal awal, karya tulis ini meninjau literatur mengenai perkembangan rakyat maupun ilmu pengetahuan dan teknologi di tahun 2020. Penelitian selanjutnya adalah pengkajian tentang dampak syarat lokal, regional maupun global terhadap rakyat Indonesia hingga tahun 2020 bersama analisa kelemahan yang perlu diatasi. Pengkajian dan analisa dari berbagai literatur tadi diperlukan akan menaruh visi yg tepat bersama langkah-langkah strategis yg diperlukan ITB dalam menghadapi tahun 2020.

Perkembangan Sains Dan Teknologi Di Tahun 2020
Kehidupan pada tahun 2020
Studi yang sangat menarik tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tahun 2020 merupakan gambaran yang dikembangkan oleh tiga serangkai K.J. Kerney, M. Kerney serta R.N Seitz. Kehidupan pada tahun 2020 digambarkan menjadi sesuatu yg sangat menyenangkan menggunakan kemajuan yg sudah dikembangkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimisalkan bahwa seseorang mampu terbangunkan di pagi hari oleh musik-musik favorit yg dicari pada internet sang mesin pencari dari harapan kita serta didown load secara otomatis dalam malam sebelumnya. Sementara itu komputer secara otomatis telah mencetak koran terbitan pagi hari yang sanggup dinikmati sembari sarapan. Alternative lain adalah keterangan berbasis visual, suara digital dan fasilitas hiperlink sehingga sanggup dinikmati secara interaktif. Sambil membuka lemari es, fasilitas layar LCDnya menginformasikan bahwa susu, telur sudah habis serta memberikan buat melakukan pembelian ke toko terdekat. E-mail yang masuk menginformasikan bahwa seseorang pelanggan telah melakukan kontak usaha ad interim uangnya sudah ditransfer ke rekening sehingga sanggup langsung dimanfaatkan buat keperluan eksklusif.

Berbagai Perubahan Sains, Teknologi serta Sosial Masyarakat
Masyarakat pada tahun 2020 merupakan rakyat yang sangat “technology dependent”. Perubahan-perubahan drastis yang akan terjadi sampai ke masa itu merupakan:

1. Nanoteknologi
Sesuai dengan namanya, nanoteknologi atau nanosains adalah ilmu pengetahuan serta teknologi dalam skala nanometer, atau sepermilyar meter. Richard Feynman pada ceramahnya yang berjudul “There is plenty room at the bottom” pada tahun 1959, mengemukakan bahwa, seseorang fisikawan sanggup membuat senyawa menggunakan struktur apapun yg diinginkan seorang kimiawan, dengan cara menyusun atom-atom yang dibutuhkan, dan merangkainya menurut hukum fisika buat menciptakan senyawa baru tadi. Berdasarkan pandangan ini, pendekatan yg digunakan tidak selaras dengan pendekatan teknologi kini yaitu bersifat bottom up atau bisa dianggap molekular teknologi karena berusaha membentuk suatu produk atom demi atom atau molekul demi molekul. Pendekatan ini mempunyai keunggulan utama dibandingkan teknologi konvensional yaitu kemampuannya untuk memanipulasi material dengan fleksibel sesuai keinginan desainernya menjadi dampak pengontrolan pada level molekul. Hasil dari keunggulan ini adalah produk hampir tanpa cacat, tidak adanya atau sedikit limbah yg dihasilkan serta hemat tenaga.

Ilmuwan yg populer pada konsep nanoteknologi merupakan K.E. Drexler. Drexler berbagi nanoteknologi molekular dengan meniru apa yg terjadi dalam sel. Hukum ini selanjutnya dianggap Drexlerian Nanoteknologi dengan idenya yang dianggap assembler. Assembler ini bertindak seperti tangan robot pada pabrik skala makro, yg menaruh atom/molekul pada tempat yang diinginkan. Selanjutnya dengan menggunakan assembler-assembler level awal yg menyusul blok bangunan berupa atom, assembler-assembler pada berukuran yang lebih akbar dibangun. Pada ukuran ini, blok bangunannya berupa molekul. Kemudian assembler yg lebih besar dibangun, serta seterusnya sampai produk-produk biasa ukuran makro dapat terbuat. Perbedaan dengan metode konvensional merupakan, produk nanoteknologi molekular ini lebih bertenaga, prosesnya ekonomis energi serta presisinya hingga level atom. Untuk mempermudah prosesnya, assembler-assembler taraf awal dilengkapi menggunakan kemampuan swa-replikasi (self-replication). 

2. Komputer
Komputer desk top yg mempunyai kemampuan kecerdasan protesis menggunakan harga yang terjangkau telah mampu diperoleh pada masa itu. Jenis komputer bioelektronik menggunakan prinsip nanokomputer diperkirakan akan lebih memiliki keunggulan dibandingkan dengan personal komputer elektronik digital dalam menjalankan tugas-tugas eksklusif seperti pemecahan perkara kombinatorial yang kompleks atau analisa pola imajinasi kompleks. Di tingkat masyarakat umum komputer yg tertanam di suatu alat-alat umum akan mempunyai peranan lebih banyak dibanding menggunakan komputer desktop.

3. Dunia Medis
Pada tahun 2020 “Molecular Medicine” akan sebagai dasar berdasarkan kesehatan manusia. Kemampuan“Gene Chips” buat menganalisa pola-pola spesifik berdasarkan gen yg aktif pada penyakit-penyakit yang tidak selaras akan merombak definisi menurut kategori penyakit yg terdapat sekarang dengan sistem taxonomi komplek yg terdiri dari “family disease” menurut gen. Praktek berdasarkan “Molecular Medicine” yang digunakan pada masa tadi terdiri berdasarkan tindakan pencegahan, diagnosa serta metode perawatan menggunakan target langsung kerusakan fisiologi, molekul bahkan sel penyebab sakit. Metode medis ini akan didasarkan teknik diagnosa yang sangat akurat serta diimplementasikan menggunakan terapi farmasi serta molekular yang didesain secara rasional dan terarah. Vaksin DNA akan diterapkan secara dunia dengan kemampuan yang jauh lebih ampuh dibandingkan vaksin konvensional yang ada pada masa sekarang.

4. Sistem transportasi jalan tol yang cerdas
Pada masa tersebut jalan tol akan menciptakan dirinya sebagaimana layaknya jaringan liputan pada suatu perusahaan. Sistem keterangan di jalan tol akan menaruh fakta posisi, arah maupun kecepatan setiap kendaraan serta akan secara otomatis menaruh signal, mengerem, mengarahkan, memberi peringatan akan potensi kecelakaan bahkan merogoh alih kemudi bila diketahu pengemudi sudah tidak sanggup melakukan kendali atas mobilnya. 

5. Bisnis
E-commerce akan berjalan secara lebih baik di tahun 2020. Belanja sanggup dilakukan secara virtual pada mana pembeli sanggup melihat berdasarkan banyak sekali sudut atau melalui web cams yg mampu ditemukan di toko lokal. Beberapa bank akan membuka cabang secara impian tanpa harus membuka secara fisik. Dengan menyewa suatu ruangan, nasabah yg masuk akan menyentuh komputer touch screen dan berbicara menggunakan staff melalui fasilitas “teleconferencing” tergantung jenis pelayanan yg dia butuhkan.

6. Pendidikan Jarak Jauh
Banyak lembaga pendidikan yang akan menyelenggarakan pendidikan jeda jauh menurut tempat tinggal menjadi alternatif bentuk pendidikan konvensional. Meskipun demikian nir semua jenis pendidikan mampu diselenggarakan secara jeda jauh contohnya bidang pendidikan kedokteran tetap memerlukan kehadiran secara fisik. Kurikulum akan didesain secara fleksible sehingga setiap orang mampu secara leluasa menentukan jenis mata pelajaran dari keperluannya. 

7. Agrikultur
Dengan kemajuan bioteknologi pada pangan sanggup ditemukan produk flora unggulan yang mempunyai kapasitas produksi berlipat berdasarkan yang ada sekarang, lebih tahan penyakit dan memiliki kandungan gizi yg lebih poly. Dengan dikembangkannya tumbuhan unggulan, pemakaian bahan kimia buat pupuk atau pestisida sanggup jauh berkurang sebagai akibatnya menaruh situasi lingkungan yg lebih baik. 

8. Industri Manufaktur
Konsep dari industri manufaktur di tahun 2020 akan lebih luas berdasarkan masa kini . Industri manufaktur meliputi aplikasi, bioteknologi, agribisnis, dan berbagai macam perusahaan yg memproduksi barang. Dasar-dasar menurut persaingan di industri ini adalah kreativitas serta innovasi lantaran konteks industri manufaktur akan meluas. Struktur sosial serta organisasi akan lebih berdasarkan pengetahuan, fleksibel, serta terdistribusi secara dunia. Organisasi suatu perusahaan akan ada, berkoalisi maupun lenyap dengan gampang sinkron dengan dinamika pasar. 

Perkembangan teknologi warta serta komunikasi beserta proses globalisasi sudah merubah banyak wajah menurut industri manufaktur. Ini berarti bahwa fungsi R&D serta Marketing sampai ke Produksi serta Distribusi dijalankan pada dasar-dasar global yg terintegrasi;jaringan, seluruh koordinasi fungsi ini mempergunakan secara intensif jaringan elektronik, terkustomisasi, berarti metode produksi wajib mengikuti detail kustomisasi poduk untuk mengikuti kemauan pelanggan serta pasar lokal, digitalisasi, yang bermakna bahwa poly berdasarkan proses-proses terkendali dilakukan menggunakan menggunakan sistem personal komputer yg canggih yang sanggup meminimalkan intervensi insan.

Inovasi berkelanjutan sudah mendorong industri mikroelektronika ke arah skala pemrosesan yg semakin lama semakin mini sebagai akibatnya bisa menyiapkan contoh kearah revolusi tingkat lanjut pada alat-alat dan proses-proses industri pada masa depan. Kecenderungan produksi komponen skala mini akan terus berlanjut sebagai akibatnya dimungkinkan pembuatan material serta produk baru. Proses nanofabrication akan timbul berdasarkan skala laboratorium hingga ke proses produksi. Penyusunan pada taraf molekul yang komples, struktur fungsi yang seksama akan mengarah ke alat-alat tingkat mikro misalnya sensor, elemen komputasi, robot medis, dan peralatan makroskopik yg tersusun dari blok pembangun dasar. Bioteknologi akan terdorong ke arah penciptaan biosintetik baru dalam proses biomanufaktur.

Fokus kearah proses produksi berkelanjutan serta rendah limbah akan berjalan secara intensif sebagai bagian berdasarkan ekosistem dunia serta peningkatan pencerahan akan tanggung jawab terhadap lingkungan yg lebih baik. Kendali proses yg lebih baik, siklus ulang serta pemanfaatan pulang limbah juga pembuatan material baru akan mendorong ke arah proses menggunakan hampir tanpa limbah buangan. Produk didisain buat sanggup didaur ulang, digunakan lagi ataupun kemungkinan terciptanya beraneka ragam produk yg sangat ramah terhadap lingkungan. 

Gambar  “Pabrik Nano”

Masyarakat Indonesia Dan Dunia Menghadapi Tahun 2020

Dunia menghadapi tahun 2020
Sejalan dengan efek globalisasi dan liberalisasi di dunia, KTT IV pada Singapura, lepas 27-28 Januari 1992, menyepakati pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area-AFTA). Tujuan pembentukan AFTA adalah buat menurunkan tarif dan menghapuskan kendala non-tarif pada antara negara anggota ASEAN, dalam rangka mengintegrasikan perekonomian ASEAN menjadi satu basis produksi, serta membentuk pasar regional bagi kurang lebih 500 juta penduduk. Dalam pandangan ke depan, integrasi ekonomi ASEAN pada kawasan perdagangan bebas, juga akan didukung sang industri, investasi dan jasa-jasa. Dalam kaitan ini, ASEAN menandatangani perjanjian dasar di bidang industri (ASEAN Industrial Cooperation/AICO) pada tahun 1996, perjanjian dasar di bidang Jasa (ASEAN Framework Agreement on Services- AFAS) pada tahun 1995, serta perjanjian dasar di bidang Investasi (Framework Agreement on the ASEAN Investment Area-AIA) pada tahun 1998. 

Untuk meninjak lanjuti putaran Uruguay yang diselenggarakan WTO pada kerangka perdagangan bebas global, pada lepas 15 November 1994 di Bogor, para pemimpin politik menurut 18 wilayah ekonomi Asia Pasifik (APEC) termasuk Indonesia di dalamnya menanda tangani perjanjian disebut “ The APEC Declaration of Common Resolve” atau lebih sering dikenal menggunakan nama “Deklarasi Bogor” Pada dasarnya isi deklarasi tersebut merupakan “ Untuk melengkapi kemajuan menurut perdagangan dan investasi yg bebas di wilayah Asia Pasifik pada kurun saat tidak lebih menurut tahun 2020, dengan langkah implementasi buat negara maju implementasinya tidak lebih menurut tahun 2010 sedang buat negara berkembang tidak lebih berdasarkan tahun 2020” . 

Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN telah merumuskan visi tempat regional ini dalam bentuk ASEAN Vision 2020 pada Kuala Lumpur pada tanggal 15 Desember tahun 1997. Beberapa langkah-langkah penting yang dilakukan pada implementasi visi 2020 tadi adalah : menjaga kestabilan finansial serta makroekonomi regional, kerjasama dan integrasi ekonomi tingkat lanjut, mempromosikan perusahaan mini dan menengah, konvoi energi kerja profesional secara bebas, liberalisasi sektor keuangan, mempercepat perkembangan sains serta teknologi, pembuatan jaringan utilitas dan tenaga yg saling terhubung, memperkuat keamanan pangan, memperkuat teknologi kabar dan komunikasi, dan memperkuat investasi serta perdagangan pada bidang mineral. 

Perkembangan Masyarakat Indonesia Menghadapi tahun 2020
Perkembangan skenario warga regional serta internasional di tahun 2020 memberikan tantangan yang sangat akbar terhadap bangsa Indonesia. Konsekuensi menurut perubahan dunia yang terjadi merupakan : banyak sekali macam produk bebas masuk, masuknya tenaga kerja asing profesional secara bebas, perusahaan swasta asing menggunakan gampang membuat jaringan, dan investasi nir mengenal batas negara sebagai akibatnya pembelian asset domestik sang pihak asing merupakan sesuatu yg nir sanggup pada hindarkan. Di sisi lain krisis moneter yg dimulai tahun1997 dan belum cepat pulihnya syarat ekonomi bangsa Indonesia memberitahuakn bahwa pondasi ekonomi yg dibangun bangsa ini ternyata belumlah kuat. Beberapa kelemahan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam ketika ini merupakan:
  • Sumber-asal ekonomi diperoleh menggunakan mengeksploitasi besar -besaran asal daya alam tidak terbarukan yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan serta pengurasan kekayaan alam. 
  • Masih kuatnya imbas penerimaan minyak dalam anggaran negara. Ironisnya diperkirakan Indonesia akan sebagai net oil importir country pada 9 tahun lagi dan akan sebagai total importer country dalam tahun 2020
  • Industri yang mayoritas pada Indonesia merupakan industri menggunakan taraf teknologi rendah sebagai konsekuensi berdasarkan keunggulan komparatif Indonesia sebagai penyedia energi kerja murah serta tersedianya bahan standar alam yg berlimpah (Gambar dua). Industri jenis ini biasanya akan dengan gampang berpindah apabila iklim dunia bisnis di tempat lain lebih menguntungkan. Untuk Industri teknologi dalam tingkat lebih tinggi hampir seluruhnya bukan milik sendiri atau dibeli sehingga membuahkan pada nir berkembangnya teknologi-teknologi yang menjembatani temuan-temuan ilmiah dan komersialisasi

Gambar  Tingkat Teknologi di manufaktur, 1985-1997 (% nilai tambah)
  • Belum dikembangkannya menggunakan baik perusahaan lokal kelas kecil serta menengah menjadi akibat kebijakan pemerintah di masa sebelumnya yang menganak emaskan konglomerat. Krisis Moneter menandakan bahwa perusahaan kelas kecil dan menengah pada warga terbukti lebih tahan serta mampu menjadi peredam gejolak ekonomi sekaligus penampung energi kerja 
  • Adanya kesenjangan antara potensi serta pemanfaatan kekayaan alam pada Indonesia seperti belum dimanfaatkannya misalnya impor garam serta tepung ikan padahal Indonesia adalah negara bahari
  • Rendahnya daya saing global . Dalam hal daya saing bangsa Indonesia ternyata baru pada urutan 47.
Tabel  Daya Saing Bangsa di Dunia 

(source: Entrepenur Berbasis Iptek, Menristek, Mei 2003)

Kelemahan-kelemahan ini perlu diantisipasi mengingat situasi yang dihadapi pada masa depan akan berbeda dengan masa kini . Kesenjangan ilmu pengetahuan serta teknologi yg berkembang sangat pesat dan berkurangnya perlindungan negara pada perdagangan menjadi konsekuensi perkembangan ekonomi global akan menaruh ancaman yg sangat akbar terhadap keberadaan bangsa Indonesia di tahun 2020 sebagai dampak gejolak yg muncul pada warga yang tidak siap menghadapi. Ini berarti diharapkan adanya visi serta perencanaan pada tingkat pemerintahan baik legislatif, eksekutif maupun pada banyak sekali organisasi baik organisasi pendidikan juga sosial kemasyarakatan.

Dalam tingkat legislatif di Indonesia, perumusan visi tahun 2020 dilakukan sang Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai lembaga tertinggi negara menggunakan munculnya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat RI No. VII/MPR/2001 tanggal 9 November 2001 menggunakan Judul Tentang Indonesia Masa Depan. Secara umum dalam Tap MPR tersebut dinyatakan visi bangsa Indonesia pada tahun 2020 merupakan terwujudnya masyarakat Indonesia yg religius, manusiawi,manunggal, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri dan baik serta higienis dalam penyelenggaraan negara.

Tingkat keberhasilan visi ini, dinyatakan pada parameter-parameter : religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri, baik serta bersih pada penyelenggaraan negara. Untuk mengukur taraf kemajuan bangsa Indonesia dinyatakan pada parameter: meningkatnya kemampuan bangsa dalam pergaulan antar bangsa, meningkatknya kualitas SDM sehingga mampu bekerja sama dan bersaing pada era global,meningkatnya kualitas pendidikan, menaikkan disiplin dan etos kerja, meningkatnya dominasi ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi dan pembudayaannya pada masyarakat, . Teraktualisasikannya keragaman budaya Indonesia. 

Dalam tingkat yang lebih bawah , Kementerian Riset serta Teknologi (KRT) memilih dua tonggak (landmark) berupa penelitian-pengembangan-penerapan ketahanan pangan serta ketersediaan energi buat mempertajam penekanan kegiatan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi periode 2004-2020.

Visi Itb 2020
Untuk mengembangkan Visi ITB di tahun 2020 tidaklah lepas menurut perkembangan yg lebih luas pada tingkat lokal, dunia, regional juga perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang terjadi hingga ke masa itu. Di taraf nasional, meskipun sudah dirumuskan sang Majelis Permusyawaratan Rakyat, suatu perencanaan nasional buat mengimplementasikan visi 2020 belum terpublikasi secara luas seperti perencanaan dalam Repelita pada masa orde baru. Meskipun demikian Tap Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang visi Indonesia 2020 dan acuan dari Kementerian Riset serta Teknologi yang mengkonsentrasikan target dalam pangan dan tenaga mampu digunakan menjadi masukan pada pengembangan visi di ITB dan langkah-langkah strategis yg berkaitan dengan visi tadi. 

Visi ITB 2020
Visi ITB buat tahun 2020 adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan diri menjadi perguruan tinggi teknik terbaik se Asia Tenggara 
2. Sebagai induk dari pendidikan berbasis ilmu pengetahuan serta teknologi pada Indonesia dengan memanfaatkan kemajuan teknologi liputan serta menaikkan kerjasama pada aneka macam bidang ilmu
3. Sebagai pusat penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis pemanfaatan asal kekayaan alam nusantara dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta membuatkan cara-cara buat merogoh, mengolah serta memanfaatkan kekayaan alam tadi buat kesejahteraan warga , dengan berpijak pada prinsip keharmonisan kehidupan, keadilan sosial, serta kelestarian
4. Sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia Indonesia yg profesional serta mampu bersaing dengan energi kerja dari luar pada era perdagangan bebas antar negara

Langkah-Langkah Strategis
Untuk mencapai visi ITB di tahun 2020, ITB perlu buat melakukan langkah-langkah strategis :
1. Meningkatkan akses dan keberhasilan mahasiswa dalam menempuh studi pada sistem pendidikan yang bergerak maju, interaktif,dan efektif dalam sistem yg fleksibel 
2. Mengoptimalkan perkembangan teknologi warta pada sistem perkuliahan, penyebaran fakta, komunikasi, kerjasama antar disiplin ilmu maupun dalam pengambilan keputusan 
3. Mengembangkan program pendidikan sarjana teknik dan sains berdasarkan berbagai universitas/politeknik wilayah 
4. Mengembangkan diri menjadi agen-agen pertumbuhan ekonomi nasional
5. Pusat Studi Bio-Teknologi, Nano Teknologi serta Antar Disiplin Ilmu Pengetahuan di Indonesia dalam rangka pemanfaatan secara optimal asal daya alam Indonesia

Secara detail langkah-langkah strategis pada atas diwujudkan dalam bentuk sebagaimana di bawah ini:
1. Meningkatkan akses serta keberhasilan mahasiswa pada menempuh studi pada sistem pendidikan yg dinamis, interaktif,dan efektif dalam sistem yang fleksibel

Perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi dalam tahun 2020 akan memungkinkan terjadinya perombakan dalam sistem pendidikan pada perguruan tinggi. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kabar serta telekomunikasi, sistem pendidikan akan sebagai lebih bergerak maju, interaktif serta efektif .dalam hal sistem pendidikan ada dua sistem yg sanggup dikembangkan:

a. Mahasiswa taraf sarjana:
Mahasiswa dalam taraf sarjana sanggup memanfaatkan menggunakan optimal sistem distance learning. Kehadiran secara fisik di kampus lebih banyak pada hal praktikum juga penelitian dasar tingkat sarjana. Dengan menjalin kerjasama yang lebih erat baik menggunakan instansi pemerintahan juga partikelir, mahasiswa diharapkan lebih banyak keterlibatannnya dengan global pekerjaan secara langsung dengan mengikuti proses magang menjadi management trainee sambil mengikuti kuliah secara online setelah merampungkan kuliah taraf sarjana belia. Peninjauan kuliah matrikulasi (TPB) perlu dilakukan misalkan menggunakan memindahkan bobot kuliah matrikulasi pada taraf SMTA sebagai akibatnya mahasiswa eksklusif berinteraksi menggunakan kuliah yg berkaitan menggunakan bidang yg diambil.

b. Mahasiswa pasca sarjana:
Untuk mahasiswa pasca sarjana, intensitas kehadiran secara fisik di kampus lebih besar dibandingkan pada tingkat sarjana. Dengan berkurangnya kehadiran mahasiswa tingkat sarjana di kampus, maka ITB sanggup mengkonsentrasikan diri dalam bidang penelitian menggunakan melibatkan lebih intensif mahasiswa pasca sarjana baik pada taraf S2 ataupun S3 menjadi peneliti di bawah bimbingan dosen senior. Pada beberapa bidang tertentu, di tingkat S2 ataupun S3 sanggup berlokasi di luar kampus bila memang diharapkan contohnya berlokasi di BHTV ataupun pada wilayah industri eksklusif yang memiliki fasilitas penelitian ataupun pengembangan yang lebih lengkap. 

2. Mengoptimalkan perkembangan teknologi warta pada sistem perkuliahan, penyebaran fakta, komunikasi, kerjasama antar disiplin ilmu maupun dalam pengambilan keputusan 

Kemajuan pengembangan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi informasi adalah kondisi mutlak yang harus dilakukan oleh ITB bila ingin mempertahankan maupun menaikkan reputasinya menjadi perguruan tinggi ilmu dan teknologi yg terkemuka. Sasaran primer pada pengembangan ini dilakukan dalam 3 cara:
Membangun program pendidikan bertaraf internasional dalam bidang teknologi dan kabar. Pencapaian taraf internasional dilakukan menggunakan menaruh dasar-dasar ilmu teknologi dan informasi dalam tingkat sarjana, inovasi menggunakan pemanfaatan ilmu teknologi serta fakta pada taraf master maupun doktor. 
Membentuk acara antar disiplin ilmu menggunakan memanfaatkan ilmu dan teknologi keterangan. Perkembangan ilmu serta teknologi berita sanggup dimanfaatkan pada pengembangan kemajuan banyak sekali disiplin ilmu. Tantangan yang fundamental merupakan menciptakan contoh yang tepat pada membentuk jembatan antara ilmu dan teknologi berita menggunakan berbagai disiplin ilmu yg lainnya. Kreativitas sangat diperlukan buat menemukan terobosan pada pemanfaatan ilmu serta teknologi informasi tadi contohnya pada pengembangan ilmu bioinformatika yang merupakan ilmu baru menjadi hasil gugusan dari ilmu hayati, kimia, matematik dan informatika. 
Sebagai pemimpin dalam kemajuan ilmu serta teknologi kabar pada Asia Tenggara menggunakan aktif berperan pada pengembangan BHTV (Bandung High Tech Valley). Bandung High Technology Valley (BHTV) adalah sebuah program Departemen Perindustrian dan Perdagangan buat menaikkan ekspor elektro Indonesia menurut sekitar USD 4 milyar pertahun dalam tahun 2000 ini sebagai USD 30 milyar pertahun pada tahun 2010. Lokasi BHTV di area daerah Bandung adalah tempat yang ideal di mana ITB bisa merogoh peranan yang besar pada kerjasama antara perguruan tinggi serta global industri. 

3. Mengembangkan program pendidikan sarjana teknik dan sains berdasarkan berbagai universitas/politeknik wilayah 

Era perdagangan bebas pada tahun 2020 akan mengakibatkan tiap negara ataupun daerah menaikkan daya saingnya. Perkembangan sistem pemerintahan yg memberikan swatantra lebih luas ke wilayah akan mendorong ke arah peningkatan kebutuhan energi daerah yang memiliki latar belakang pendidikan teknik serta sains. Kebutuhan ini akan mampu dipenuhi menggunakan lebih gampang bila pendidikan ini dilakukan di wilayah yg bersangkutan disesuaikan menggunakan kebutuhan serta ciri sumber daya ekonomi yg mampu dimanfaatkan buat menggerakkan pembangunan.

Dengan pengalamannya menjadi perguruan tinggi teknik terkemuka di Indonesia, ITB sanggup membantu daerah pada bentuk:

a. Membangun lembaga pendidikan baru
Dalam jenis donasi ini, ITB akan terlibat secara penuh dalam semua kegiatan yang dimulai berdasarkan studi kelayakan, pemilihan lokasi, disain, konstruksi, pembangunan laboratorium, perekrutan staf guru, pengawasan serta meletakkan landasan kerjasama forum pendidikan dengan pihak industri. Institusi yg baru ini harus memiliki perencanaan yg strategis hingga mencapai level yang tinggi dalam hal kualitas menjadi lembagai pendidikan sains serta teknik. Pada ketika level ini tercapai, ITB melepaskan kiprah aktifnya.

b. Mendirikan acara teknik baru
ITB berperan dalam mensupervisi eksistensi program teknik baru dalam bentuk pemanfaatan kurikulum di ITB maupun bahan kuliah.

c. Program donasi staf pengajar
Beberapa bantuan yang bisa dilakukan merupakan : dosen ITB mengajar pada universitas yang bersangkutan, dosen mengambil pendidikan lanjut di ITB maupun training staf guru. 

Dengan kemajuan dalam teknologi kabar serta telekomunikasi, donasi akan berjalan lebih intensif contohnya para mahasiswa berdasarkan daerah sanggup mendown load bahan kuliah maupun hubungan menggunakan sesama mahasiswa dan dosen di ITB. Kerjasama ini bisa semakin tinggi lebih lanjut pada bidang riset juga pertukaran informasi teknologi.

4. Mengembangkan diri menjadi agen-agen pertumbuhan ekonomi nasional
Dengan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang ada, bangsa Indonesia khususnya sivitas akademika ITB memiliki kesempatan emas menjadi agen-agen pertumbuhan ekonomi nasional. Perkembangan & penelitian Ilmu-Pengetahuan nir lagi ber-urut sederhana menjadi suatu garis lurus, tetapi justru pribadi merampungkan poly persoalan-problem yang komplex, yang melalui, memotong, serta/atau melompat lintas batas-batas banyak sekali disiplin-disiplin Ilmu sekaligus. Dengan masuknya masyarakat Global ke zamam Knowledge-Age, warga global berada dalam keadaan lebih berdasarkan berkecukupan (abundance) menggunakan inovasi-inovasi baru dalam bidang disiplin ilmu-Elektronik, ilmu-Biotek, ilmu-Biomed dan disiplin-disiplin ilmu lainnya.

Dengan berlimpahnya ketersediaan liputan ini, ITB sanggup lebih intensif pada memilih inkubator bisnis yg sempurna diterapkan di Indonesia. Prioritas hendaknya dilakukan menggunakan memanfaatkan teknologi yg mampu memanfaatkan potensi-potensi keunggulan yang dimiliki bangsa Indonesia sekaligus terciptanya kreativitas untuk membentuk terobosan yang memiliki daya saing dalam global bisnis.untuk penyediaan tenaga kerja dilakukan dengan merekrut mahasiswa yg sudah menuntaskan termin sarjana muda.

5. Pusat Studi Antar Disiplin Ilmu Pengetahuan di Indonesia pada rangka pemanfaatan secara optimal sumber daya alam Indonesia

Tidak semua perkembangan yg pesat pada kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi sanggup dirasakan atau dimanfaatkan pada negara-negara berkembang. ITB perlu menciptakan suatu lembaga independen serta nir-keuntungan yg memantau perkembangan yg terjadi secara terus menerus. Lembaga ini berfungsi sebagai badan kabar serta studi dan memberikan masukan baik ke kampus (internal) maupun pada tingkat pemerintahan (eksternal). Sebagai badan informasi, lembaga ini mendata dan memperbaharui setiap kabar dari berbagai penjuru global yang berkaitan menggunakan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Dalam kegiatan eksernal, lembaga ini bekerja sama dengan pemerintah juga berbagai lembaga penelitian dalam melakukan penelitian literatur mengenai ketahanan pangan serta pengembangan tenaga alternatif secara komprehensif sebagai konsekuensi menurut bergantinya posisi Indonesia menjadi total oil importer pada tahun 2020. Prioritas utama jua diletakkan pada penelitian dan pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia dan efek perkembangan ilmu serta teknologi terutama nanoteknologi serta bioteknologi terhadap industri berbasis sumber daya alam Indonesia. Target dari lembaga ini adalah dihasilkan kebijakan-kebijakan yang bermuara pada peningkatan daya saing bangsa Indonesia pada menghadapi perkembangan rakyat global di tahun 2020.

STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA YANG BERSUMBER DAYA UNGGUL

Strategi Menciptakan Manusia Yang Bersumber Daya Unggul 
Dalam era reformasi kini ini, bangsa Indonesia ingin mewujudkan Masyarakat Madani Indonesia. Tentunya masyarakat tersebut haruslah berakar serta hidup dalam kebudayaan Indonesia. Memang diakui bahwa suatu rakyat madani memiliki nilai-nilai universal, tetapi perwujuan nilai-nilai universal itu tergantung dalam kondisi sosial dan perkembangan suatu masyarakat. Bangsa Indonesia yg berbhinneka sedang dalam termin belajar buat hidup berdemokrasi dalam arti yang sebenarnya, memerlukan proses belajar menggunakan prioritas nilai-nilai eksklusif misalnya toleransi yg tinggi, rasa kebangsaan yang sehat, ketaatan aturan, serta tanggung jawab sosial.

Pembentukan rakyat madani Indonesia selain meminta usaha-bisnis berdasarkan pada, sekaligus pula menghadapi tantangan-tantangan eksternal pada era globalisasi. Pendidikan pada hal ini Pendidikan Nasional memegang peranan yg sangat strategis pada setiap rakyat serta kebudayaan. Pendidikan Nasional haruslah didasarkan pada paradigma baru yang bertolak dari pengembangan insan Indonesia yg merdeka, bermoral serta bertaqwa serta bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan USPN No. 20 Tahun 2003 pasal 3 yg berbunyi :

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta menciptakan watak serta peradaban bangsa yg bermartabat pada rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi insan yg beriman serta bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, berdikari dan menjadi rakyat negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Sistem Pendidiakan Nasional yg sedang dijalankan bangsa Indonesia harus memperhatikan geostrategis Republik Indonesia yang terdiri berdasarkan ribuan pulau. Masing-masing penghuni pulau tentunya menginginkan kehidupan yg layak sesuai menggunakan tuntutan Masyarakat Madani. Hal ini sinkron dengan pendapat Prof. Dr. Mohamad Zen (2002 : 228) yang menyatakan :

Operasionalisasi Sistem Pendidikan Nasional secara seragam serta menyeluruh ke pelosok tanah air, hendaknya memperhatikan fenomena yang terdapat di lapangan terutama kenyataan geostrategi Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Negara Kepulauan yg terdiri berdasarkan satu kesatuan bahari dengan ribuan pulau pada dalamnya memerlukan suatu penataan pendidikan dasar secara desentralisasi menggunakan memperhatikan karakteristik lingkungan aspek ilmiah (trigatra) yaitu : posisi lokasi serta geografi negara, kekayaan alam serta kemampuan penduduk serta aspek sosial (pancagatra) yang mencakup ; ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan sebagai satu kesatuan yang utuh dalam astagatra menjadi unsur kesatuan nasional.

Reformasi yg digulirkan bertujuan buat membina warga Indonesia baru pada rangka buat mewujudkan keinginan proklamasi tahun 1945 yaitu membentuk warga Indonesia yg demokratis. Masyarakat Indonesia yang demokratis inilah yg dinamakan masyarakat madani. Masyarakat madani Indonesia adalah visi menurut gerakan reformasi dan pula visi berdasarkan reformasi Sistem Pendidikan Nasional. Gerakan untuk menciptakan warga madani berkaitan menggunakan proses demokratisasi yang sedang melanda dunia dewasa ini. Sudah tentu perwujudan kehidupan yg demokratis buat setiap bangsa memiliki ciri-karakteristik tertentu disamping karakteristik-karakteristik yang universal.

Pertumbuhan masyarakat maju melahirkan kelompok-kelompok masyarakat yang berdikari. Hal ini didorong sang sifat fitri insan yg membutuhkan pengakuan ats kehadirannya ditengah-tengah rakyat . Semakin besar kompleksitas warga akibat pembangunan, makin kuat cita-cita memperoleh pengakuan terhadap kehadiran diri sebagai anggota masyarakat. Apabila warga diberi kebebasan sepenuhnya buat mengaktualisasikan dirinya dalam mewujudkan aspirasinya secara mandiri, maka timbulah kekuatan besar dalam rakyat buat membentuk. 

Sebenarnya istilah “rakyat Madani” sering diperbincangkan sang kaum intelektual Indonesia dari tahun 1990-an, tetapi relatif terbatas serta perihal ini semakin semarak ketika media massa mempublikasikannya. Munculnya kata masyarakat madani merupakan terjemahan dari beberapa perkataan sebagaimana yg diungkapkan oleh Masykur Hakim (2003 : 13-14) “Pada awalnya istilah “Masyarakat Madani” merupakan keliru satu terjemahan-terjemahan berdasarkan istilah Civil Society seperti “rakyat sipil”, “rakyat kewargaan”, serta “warga rakyat”. Ernest Gellner pernah menulis sebuah kitab berjudul Condition of Liberty, Civil Society and its Rivals kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menggunakan judul Membangun Masyarakat Sipil; Prasarat Menuju Kebebasan”.

Masyarakat Madani adalah suatu masyarakat yang berbudaya, maju serta terbaru, setiap warganya menyadari dan mengetahui hak-hak serta kewajibannya terhadap negara, bangsa dan kepercayaan dan terhadap sesama, serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Masyarakat Madani merupakan suatu warga yg didambakan sang poly orang, bahkan oleh warga dunia. Mereka merupakan citra masyarakat yg diidealkan oleh Islam, dan pernah sebagai bagian dari sejarah Rasulullah waktu dia memimpin negara Islam pertama pada Madinah.

Ciri-ciri utama rakyat madani Indonesia merupakan : 1) Kesukarelaan, artinya bukan warga paksaan. Dua) Keswasembadaan, ialah tidak menggantungkan hayati menggunakan orang lain. 3) Kemandirian, merupakan percaya menggunakan kekuatan sendiri. 4) Keterkaitan menggunakan hukum yang disepakati, ialah mentaati hukum yang berlaku (Tilaar, 2002 : 159).

Kebebasan warga buat mengaktualisasikan dirinya adalah prasarat pokok bagi perkembangan rakyat maju. Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan ekonomi yg merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yg bersifat people centered. Pemberdayaan nir hanya penguatan individu, tetapi pula pranata-pranatanya, serta nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, terbuka, dan bertanggung jawab. Kondisi ini membangun manusia kreatif produktif, berwawasan kemasa depan, dan berdaya unggul. 

Masyarakat Madani yang didambakan manausia terkini merupakan masyarakat yg pluralistik, memiliki sikap toleran terhadap perbedaan yang terdapat, serta bisa menaruh iklim kebebasan yg aman untuik mengemukakan pendapat serta mengepresikan perilaku dan pemikirannya, serta menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Misalnya, berkenaan dengan paham pluralisme tidaklah cukup hanya dengan sikap mengakui realitas warga yg beragam, namun wajib disertai dengan tindakan yang konkrit serta tulus buat mendapat kenyataan kemajemukkan itu sebagai nilai yang positif serta menghormati kebudayaan maupun paham yg majemuk.

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat sebagai sumbangan bagi berbagai pihak antara lain : 
  1. Guru (kawan peneliti khususnya), bisa memacu prestasi murid supaya terciptanya warga Madani Indonesia dimasa yg akan datang.
  2. Siswa, dapat menaikkan kualitas hasil belajar terutama pada meningkatkan cinta tanah air serta disiplin nasional
  3. Lembaga Pendidikan, sebagai bahan pertimbangan dalam membina kemampuan energi pendidik buat tetap mengacu terwujudnya masyarakat Madani Indonesia
  4. Pemerintah Indonesia, sebagai bahan masukan bahwa warga Madani Indonesia harus sesegera mungkin terwujud tanpa wajib menunggu waktu yg terlalu lama . Dan harus disadari tanpa campur tangana pemerintah masyarakat Madani Indonesia nir akan dapat terwujud.
MASYARAKAT MADANI SEBAGAI AMANAH REFORMASI
A. Pengertian Masyarakat Madani
Kata “Madani” dari menurut unsur serapan Bahasa Arab yaitu “Madaniah” yang berarti ; loka /bersifat kekotaan atau beradab/berbudaya. Madanaiah atau Madinah adalah sebuah Kota kudus pada Arab Saudi. Dikota inilah Rasulullah menyebarkan ajaran Islam selama 13 tahun dan hingga akhir hayatnya buat mewujudkan masyarakat yang beriman serta sejahtera. Rasulullah sudah memulai pelatihan masyarakat yang sejahtera, kondusif, damai, demokratis tanpa membedakan kepercayaan , suku, ras. Sehingga orang diluar Islampun menerima proteksi berdasarkan Rasulullah. Sehingga dalam waktu itu warga Madinah menyebut kotanya menggunakan “ Al-mujtama’ al madani .piagam perdamaian yg ditandatangani telah menjadi panduan dalam kehidupan berbangsa serta bernegara pada zaman Rasulullah. Piagam perdamaian itulah yg disebut dengan Piagam Madinah. Di dalam Piagam Madinah, masih ada 10 prinsip dasar, yaitu :
  1. Prinsip kebebasan beragama
  2. Prinsip persaudaraan seagama
  3. Prinsip persatuan politik buat mencapai cita-cita bersama
  4. Prinsip saling membantu yaitu setiap orang memiliki kedudukan yg sama menjadi anggota masyarakat
  5. Prinsip persamaan hak dan kewajiban rakyat negara terhadap negara
  6. Prinsip persamaan pada depan hukum bagi setiap warga negara
  7. Prinsip penegakan aturan demi tegaknya keadilan serta kebenaran tanpa pandang bulu
  8. Prinsip pemberlakuan hukum norma yg permanen berpedoman dalam keadilan dan kebenaran.
  9. Prinsip pedamaian dan keadilan
  10. Prinsip pengakuan hak asasi atas setiap orang  (Tilaar, 2002:160).
Prinsip Piagam Madinah diatas merupakan ciri warga Madani dalam zaman Rasulullah. Masyarakat Madani Indonesia tentunya nir akan jauh perbedaan dengan apa ayang sudah dilakukan Rasulullah. Mewujudkan warga madani Indonesia, yang menuntut pergeseran kerangka berpikir masyarakat Indonesia dewasa ini, tentunya nir terlepas dari kiprah pendidikan nasional. Karena berdasarkan sinilah segala dilema dimulai. 

Hal senada mengenai rakyat madani dikemukakan sang para pakar pendidikan sosial sebagai berikut :
Secara teroritik buat memaknai masyarakat madani seringkali mengacu kepada konsep “civil society” yg dikemukakan Cicero (106-34 SM). Artinya merupakan suatu komunitas politik yang mudun misalnya di contohkan “masyarakat kota” yg mempunyai sistem hukum tersendiri. Sistem ini dikembangkan berdasark pada konsep “civility serta urbanity” (kewargaan dan budaya kota). Kota dalam konsep politik dimaknai lebih luas yaitu menjadi sentra peradaban kebudayaan bukan hanya gugusan orang-orang buat hidup bersama. Dalam rakyat tersebut terdapat nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi memiliki kekuatan di atas sistem yg pada ciptakan sang rakyat itu sendiri (Suwarma, 2001:tiga).

Masyarakat madani dipahami menjadi pengelompokkan dari anggota-anggota masyarakat menjadi rakyat negara mandiri yg dapat menggunakan bebas dan egaliter bertindak aktif dalam tentang dan praksis mengenai segala hal yang berkaitan dengan kasus kemasyarakatan dalam biasanya (Hikam, 1996:84).

Adapun terminologi warga Madani pertama kali dipopulerkan sang Prof. Naquib Al-Attas yg secara etimologi memiliki 2 arti : Pertama, Masyarakat Kota; karena Madani adalah derivat dari kata bahasa arab yakni Madinah yg berarti kota. Kedua, Masyarakat Berperadaban; lantaran Madani adalah pula merupakan derivat menurut istilah Arab Tammaddun atau Madaniah yg berarti peradaban. Dalam bahasa Inggris ini dikenal menjadi civility atau civilization. Maka berdasarkan makna ini Masyarakat madani bisa berarti sama dengan civil siciety yaitu warga yg menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban. Pendapat senada jua dikemukakan oleh Nurcholis Madjid, bahwa istilah tadi merujuk kepada masyarakat Islam yg pernah dibangun Nabi pada Madinah. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa nurcholis berusaha melakukan pendekatan antara konsep masyarakat Madani yg tadinya terlahir sebagai reaksi terhadap realitas kepolitikan Orde Baru dengan Islam, yaitu menggunakan mengidentikkan rakyat Madani dengan warga Rasulullah pada Madinah. Hal ini mudah buat dimengerti lantaran sebenarnya konsep rakyat Madani yang ingin diwujudkan pada negeri ini sebagai acuan masyarakat ideal yang nir pernah terwujud dalam masa Orde Baru adalah sebuah konsep masyarakat yg menjadi prasyarat terciptanya alam demokrasi (Petikan internet, …………….)

B. Ciri-Ciri Masyarakat Madani 
Cita-cita buat menciptakan masyarakat madani telah merupakan suatu gerkan internasional sejalan berkembangnya kehidupan berdemokrasi. Bahkan pandangan baru warga madani telah mulai berkembang sejak zaman Yunani klasik. Ciri-ciri spesial menurut kehidupan bermasyarakat Indonesia adalah kebhinnekaan. Pada masa orde baru unsur kebhinnekaan itu cenderung dikesampingkan dan menekankan sifat kesatuan bangsa. Padahal justru dalam kebhinnekaan itulah terletak kekuatan menurut persatuan bangsa Indonesia. Orde baru telah menghilangkan kekuatan kebhinnekaan itu serta mencoba menyusun suatu masyarakat yg uniform sebagai akibatnya terciptalah suatu struktur kekuasaan yang sangat sentralistik serta birokratik. Hal ini justru telah mengakibatkan disintegrasi bangsa kita karena dalam bisnis menekankan persatuan kita telah mengenyampingkan perbedaan melalui cara-cara refresif, berakibat mematikan inisiatif dan kebebasan berfikir. Cita-cita reformasi yang diinginkan merupakan mengakui adanya kebhinnekaan sebagai modal primer abangsa Indonesia buat mewujudkan suatu rakyat madani yg menghargai akan disparitas.

Negara Indonesia terletak dipersimpangan pengaruh budaya Internasional. Oleh sebab itu bangs Indonesia bukan hanya terjadi berdasarkan berbagai suku tetapi juga dengan banyak sekali jenis kebudayaan sesuai menggunakan pengaruh kebudayaan global yang sudah memasuki Indonesia semenjak berbad abad yg lalu. Dengan demikian kebudayaan Indonesia terjadi menurut lapisan-lapisan budaya menggunakan ciri-ciri yang spesial yg telah memasuki serta berintegrasi pada budaya lokal. Kita mengenal lapisn budaya hindu budha, budaya kristen, budaya Islam, serta kebudayaan global. Pengaruh kebudayaan ini telah membentuk suatu mozaik kebudayaan yg sangat kaya dan bervariasi berdasarkan kebudayaan Indonesia, sama menggunakan kebudayaan biologi yg dimiliki oleh Indonesia.

Seperti yg telah dikemukakan impian buat membentuk warga madani telah merupakan suatu gerakan Internasional sejalan menggunakan berkembangnya kehidupan berdemokrasi. Bahkan wangsit masyarakat madani sudah mulai semenjak zaman Yunani Kuno. Setidaknya terdapat empat ciri primer warga madani, yaitu :

1. Kesukarelaan
Artinya suatu rakyat madani bukanlah suatu warga paksaan atau lantaran indoktrinasi. Keanggotaan masyarakat madani adalah keanggotaan dari eksklusif yg bebas, yg sukarela menciptakan suatu kehidupan beserta dan oleh sebab itu mempunyai komitmen beserta yang sangat akbar buat mewujudkan keinginan beserta. Dengan sendirinya tanggung jawab langsung sangat bertenaga karena diikat sang cita-cita bersama buat mewujudkan cita-cita tadi.

2. Keswasembadaan 
Seperti kita lihat keanggotaan yg sukarela buat hidup bersama tentunya tidak akan menggantungkan kehidupannya kepada orang lain. Dan nir tergantung pada negara, juga tidak tergantung pada forum atau organisasi lain. Setiap anggota mempunyai harga diri yg tinggi yang percaya akan kemampuan sendiri.

3. Kemandirian Tinggi Terhadap Negara
Berkaitan dengan karakteristik yg ke 2 tadi, para anggota masyarakat madani merupakan manusia yang percaya diri sehingga tidak tergantung kepada perintah orang lain termasuk negara. Bagi mereka, negara adalah kesepakatan beserta sebagai akibatnya tanggung jawab yang lahir berdasarkan konvensi tadi merupakan pula tuntutan dan tanggung jawab berdasarkan masing-masing anggota. Inilah negara yang berkedaulatan warga .

4. Berdasarkan Hukum 
Masyarakat madani adalah rakyat yang taat dan tunduk terhadap hukum. Hukum ditegakkan dan seluruh warga negara nir terdapat yang kebal terhadap aturan. Yang melakukan perbuatan melawan aturan wajib ditinda sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini kentara dan tercantum dalam Piagam Madinah yang berbunyi “Bahwa orang-orang yg beriman dan bertaqwa harus melawan orang yang melakukan kejahatan diantara mereka sendiri, atau orang-orang yang senang melakukan perbuatan aniaya, kejahatan, permusuhan atau berbuat kerusakan diantara orang-orang beriman sendiri dan mereka harus bersama-sama melawannya walaupun terhadap anak sendiri”.

5. Egaliter
Egaliter artinya kesetaraan. Egalitarian merupakan paham yg mempercayai bahwa semua orang sederajat, semenatara egalitarisme diartikan sebagai doktrin atau pandangan yang menyatakan bahwa insan-manusia itu ditakdirkan sama, sederajat, nir ada perbedaan kelas dan gerombolan . Jadi rakyat egeliter adalah warga yg mengemban nilai egalitarisme dapat digambarkan sebagai warga yg mengakui adanya kesetaraan dalam posisi di rakyat menurut sisi hak dan kewajiban tanpa memandang suku, keturunan, ras, agama dan sebagainya.

6. Toleransi dan Pluralisme
Toleransi serta pluralisme adalah bahwa setiap pemeluk kepercayaan dituntut bukan hanya mengakui eksistensi serta hak agama lain namun juga terlibat pada usaha memahami disparitas dan persamaan guna tercapai kerukunan pada kebhinnekaan. Ide pluralisme sebenarnya asal dari suatu pemahaman tentang warga . Ide ini dari dari ideologi kapitalisme yg memandang bahwa rakyat itu tersusun atas individu-individu yg memiliki aneka macam aqidah (keyakinan, pandangan), kemaslahatan, keturunan serta kebutuhan yg berbeda-beda. Oleh karenanya mereka menganggap telah menjadi keharusan bahwa masyarakat itu beragam, masing-masing gerombolan memiliki tujuan khusus. Perbedaan yg dimiliki suatu warga tadi wajib dijaga karena nir mungkin dapat disatukan. Begitu jua tentang masalah agama, pluralisme diekspresikan pada bentuk obrolan antar kepercayaan , toleransi secara luas antar umat beragama. Dalam bidang politik pun mencerminkan wangsit pluralisme ini, sebagaimana yg terlihat dalam konstelasi politik barat yg membolehkan partai-partai yang berseberanagan aqidah buat berkoalisi melawan partai penguasa. .

7. Keterbukaan
Keterbukaan adalah konsekwensi berdasarkan prikemanasiaan, suatu pandangan yg melihat semua manusia merupakan baik, dan wajib berprasangka baik kepada orang lain. Tidak merasa selalu sahih, bersedia mendengar pendapat orang lain buat diambil dan diikuti mana yg terbaik.

C. Masyarakat Madani Amanah Reformasi
Salah satu amanah reformasi yang paling mendasar adalah tuntutan akan terwujudnya Masyarakat Madani Indonesia. Di era reformasi kini ini, bangsa Indonesia ingin mewujudkan Masyarakat Madani Indonesia. Tentunya warga tersebut haruslah berakar serta hidup dalam kebudayaan Indonesia. Memang diakui bahwa suatu masyarakat madani mempunyai nilai-nilai universal, namun perwujuan nilai-nilai universal itu tergantung pada syarat sosial dan perkembangan suatu rakyat. Bangsa Indonesia yang berbhinneka sedang pada termin belajar buat hayati berdemokrasi pada arti yang sebenarnya, memerlukan proses belajar menggunakan prioritas nilai-nilai eksklusif misalnya toleransi yang tinggi, rasa kebangsaan yg sehat, ketaatan aturan, serta tanggung jawab sosial. 

Tujuan digulirkannya reformasi adalah buat membina rakyat Indonesia baru pada rangka buat mewujudkan impian proklamasi kemerdekaan RI yaitu membangun masyarakat Indonesia yang demokratis. Masyarakat Indonesia yg demokratis inilah yg dinamakan rakyat madani. Masyarakat madani Indonesia merupakan visi berdasarkan gerakan reformasi dan jua visi menurut reformasi Sistem Pendidikan Nasional. Gerakan untuk menciptakan masyarakat madani berkaitan menggunakan proses demokratisasi yang sedang melanda global dewasa ini. 

Gaung reformasi terhadap empiris kepolitikan orde baru sudah menggiring pakar ilmu-ilmu sosial melakukan pengkajian kerangka berpikir warga ideal dimasa yang akan datang yaitu rakyat madani. Gagasan rakyat madani adalah sebagai reaksi bagi kecenderungan banyak sekali analisa terhadap politik di Indonesia. Menurut pendekatan konsep negara, keberadaan negara digambarkan sebagai faktor determinan dan paling memilih proses politik yang berjalan selama orde baru. Walau akhirnya kekuasaan orde baru yang terajut demikian kukuh malalui aliansi strategis antara birokrasi golkar dan militer tersebut runtuh. Pelajaran yang bisa dipetik menurut gagalnya orde baru adalah bahwa kemutlakan, kemahakuasaan negara serta ketidakberdayaan rakyat hanya akan melahirkan banyak sekali praktek distortif yang dapat meruntuhkan banyak sekali tantangan yg terdapat.

STRATEGI MENCIPTAKAN MASYARAKAT MADANI INDONESIA
A. Pemberdayaan Masyarakat
Dalam memberdayakan masyarakat terdapat 3 hal yg perlu dipahami besama, yaitu :
  1. Menciptakan suasana atau iklim yg memungkinkan potensi masyarakat berkembang.
  2. Memperkuat potensi atau pemberdayaan masyarakat
  3. Memberdayaklan mengandung juga pengertian melindungi. Artinya pada proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah bertambah lemah.
Ketiga taktik pemberdayaan diatas bermuara apada tiga langkah, yaitu :
  1. Secara konkret pemberdayaan warga diupayaklan melalui pembangunan ekonomi warga  
  2. Pemberdayaan masyarakat diarahkan dalam terwujudnya transformasi struktur sosial secara bertahap.
  3. Pengemabangan kelembagaan melalaui pemberdayaan rakyat, wajib diupayakan adanya pengembangan kelembagaan. Dalam konteks ini perlu dilakukan revitalisasi organisasi warga tadi, sehingga keberadaannya benar-sahih dapat menjadi peluang yang terbuka bagi semua anggota warga buat ikut serta dalam proses apembangunan.
Beberapa prinsip yg perlu diperhatikan pada pemberdayaan masyarakat.
  1. Prinsip keberpihakan (mengutamakan yang terabaikan); dalamm proses pembangunan kerapkali sebagian akbar rakyat tetap berada dipinggir arus pembangunan yg berjalkan cepat.
  2. Prinsip Penguatan (empowering) masyarakat; dalam konteks ini terkandung pengertian bahwa warga memiliki akses (peluang kesempatan) serta kontrol terhadap aneka macam keadaan yang terjadi dalam kehidupan sekitarnya.
  3. Prinsip masyarakat sebagai pelaku serta orang luar menjadi fasilitator serta bukan pengajar.
  4. Prinsip saling belajar serta mengharagai perbedaan; diawali menurut adanya pengakuan akan pengalaman serta pengetahuan tradisional masyarakat.
  5. Prinsip informal; upaya pemberdayaan warga bersifat luwes, terbuka dan tidak memaksa. Dengan prinsip ini akan timbul hubungan yang akrab, karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota komunitas, bukan sebagai tamu asing.
  6. Prinsip mengoptimalkan hasil liputan kepada rakyat; merupakan dalam mengumpulkan warta tentang suatu komunitas, orang luar harus juga menyerap pendapat masyarakat tentang liputan yang dari warga itu lebih krusial dari pada yg dirumuskan orang luar.
  7. Prinsip orientral mudah, yaitu pengembangan aktivitas beserta yang diarahkan dalam pemecahan perkara komunitas dan menaikkan kehidupan bersama.
  8. Prinsip keberlanjutan dan selang saat; kepentingan dan kasus warga terus berkembang, bergeser menulis waktu sesuai menggunakan perubahan yang dialami oleh rakyat itu sendiri.
  9. Prinsip belajar menurut kesalahan; pada aktivitas pemberdayaan masyarakat adalah sesuatu yang lumrah.
  10. Prinsip terbuka (transparancy); setiap kegiatan wajib terbuka, baik berita, sumber dana, maupun pengelolaannya sebagai akibatnya warga ikut bertanggung jawab atas kegagalan serta ikut menikmati atas keberhasilan.
Dalam rangka pemberdayaan rakyat, hal yang paling mendasar merupakan menaruh kebebasan pada masyarakat buat berbuat yg terbaik, hal sinkron yg dikemukakan oleh Engking Soewarman Hasan (2001 : 1) “ Jika rakyat diberi kebebasan sepenuhnya buat mengaktualisasikan dirinya pada mewujudkan aspirasinya secara mandiri, maka timbulah kekuatan besar dalam rakyat buat menciptakan. Untuk itu kebebasan mayarakat buat mengaktualisasikan diri serta mewujudkan aspirasinya adalah prasarat bagi perkembangan rakyat maju”.

B. Keterpaduan Penyelenggaraan Pendidikan
Sistem pendidikan nasional secara terbuka memberi peluang pada setiap rakyat negara buat mengikuti pendidikan tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, kepercayaan , suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi menggunakan permanen mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan. Konflik yg masih darasakan di pada melaksanakan kebijaksanaan pendidikan nasional adalah sebagai berikut :

1. Pemerataan Kesempatan
Dalam pemerataan kesempatan terkandung tiga arti yaitu : a. Persamaan kesempatan (equality of oppurtunity), b. Aksesibilitas, c. Keadilan atau kewajaran (equity).

2. Relevansi Pendidikan
Relevansi mengandung makna pendidikan harus menyentuh kebutuhan yang cakupannya sangat luas. Konsep link and match (keterkaitan serta kesepadanan) adalah salah satu kebijakan yg mengarah dalam relevansi pendidikan.

3. Kualitas Pendidikan
Kualitas inimengacu kepada kualitas proses serta kualitas produk. Peningkatan kualitas proses serta produk pendidikan diharapkan akan tercapai tahapan proses belajar yang terus meningkat berkelanjutan serta ditopang sang empat pilar yaitu , learning to know, leraning to do, learning to be, and learning to live together.

4. Efisiensi Pendidikan
Upaya pendidikan menjadi episien jika output yang dicapai maksiomal menggunakan porto yg wajar. Tidak terdapat pendidikan yang efisien tanpa ada effectiveness. Upaya semaksimal mungkin buat menekan porto pendidikan yg dikeluarkan oleh masyarakat dengana penghematan.

Keterpaduan penyelenggaraan pendidikan adalah keliru satu pembinaan peserta didik buat menjadi manusia yg berkualitas. Banyak pihak yg menginginkan supaya pendidikan kita mementingkan intelektual, terdapat pula yg menginginkan moral, akhlak, serta terdapat yang merogoh jalan tengah agar kedua-duanya diakomodir. Memang ditengah-tengah euphoria demokrasi selalu timbul berbagai pendapat. Munculnya perbedaan pendapat, pandangan, konsep seperti ini adalah ekspresi yg sudah lama terpendam, supaya pendidikan nasional direformasi. Karena itulah (Tilaar, 2002: 3) menyebut:

Reformasi pendidikan nasional semakin usang semakin perlu, mengingat proses pendidikan adalah tuntutan konstitusi yang mengungkapkan bahwa tujuan untuk membentuk negara yg merdeka ini adalah buat mencerdaskan kehidupan bangsa…tujuan kita membangun negara adalah buat melahirkan bangsa Indonesia yang cerdas. Tujuan tadi bisa dicapai melalui pendidikan nasional. Menggunakan demikian sitem pendidikan nasional sangat erat kaitannya menggunakan politik bangsa.

Hal tersebut merupakan contoh konkret cita-cita yg tidak selaras menurut masing-masing grup pada warga yg bhinneka, yg tidak gampang buat bisa diakomodir sang pemerintah dalam satu bingkai yg sama, tunggal ika. Menyadari hal-hal misalnya ini maka ada baiknya pendidikan kita bertolak menurut kebhinnekaan, baik agama, maupun budaya, setiap daerah memiliki latar belakang budaya eksklusif, memiliki nilai-nilai pendidikan tradisi tertentu juga, mengapa tidak itu saja yg dikembangkan? 

Karena itu sistem pendidikan nasional yg digariskan dalam UU tentang Sisdiknas, disamping mempersiapkan peserta didik ke arah pencapaian tujuan eksklusif, harus jua memuat/mengatur serta mengakomodir kiprah pendidikan (sekolah) pada mempersiapkan peserta didiknya buat menghadapi realita sosial budaya yang ada pada lingkungan daerah tempat tinggalnya. Hal ini sesungguhnya telah diakomodir sang pemerintah dalam kurikulum 1994, dengan memasukkan 20% kurikulum muatan lokal ke pada kurikulum sekolah, namun menurut pelaksanaannya selama satu dasawarsa, kurikulum muatan lokal yang dulu dituntut sang wilayah pula nir berhasil dengan baik (mungkin gagal), karena pemerintah dan daerah hanya mempersiapkan kurikulumnya saja, tanpa diiringi dengan persiapan tenaga guru yang professional buat itu

Pendidikan bisa menghaluskan dan meningkatkan derajat peserta didik, atau pendidikan budaya merupakan pendidikan yang menaikkan nilai kemanusiaan. Pendidikan menjadi upaya memanusiakan insan atau menuntun insan supaya permanen berada pada kodratnya menjadi mahluk manusia. Pendidikan menuntun manusia buat menyempurnakan rasa, karsa dan ciptanya. Pendidikan dicurahkan buat menolong insan insan menyingkap misteri alam, memupuk bakat serta memimpinnya buat kebaikan dirinya dan masyarakatnya. (Ki Hajar Dewantara, 1962:318-324)

Tujuan tertentu secara nasional yang harus dicapai oleh siswa, misalnya yang digariskan pada RUU Sisdiknas jua perlu, pada rangka mempersiapkan kualitas asal daya generasi penerus bangsa, apalagi perkembangan dunia masa depan penuh dengan persaingan global, kalau kita nir siap, maka kita akan menjadi bangsa ‘penonton’ saja, bukan bangsa pelaku, serta lebih parahnya jika kita sebagai ‘penonton’ di negeri sendiri, bagaimapun lebih baik bila kita sebagai tuan pada negeri sendiri. Pengembangan pribadi pada pada masyarakat yang berbudaya, baik lokal, nasional, maupun dalam budaya global, nir dapat kita elakkan lagi dalam kehidupan dunia abad 21.

Kita sudah melihat kegiatan pendidikan dan pedagogi dalam masyarakat kita dewasa ini memerlukan paradigm shif buat memenuhi kehidupan baru millennium ketiga. Perundanga-undangan yang ada dirasakan nir memadai lagi untuk menjawab tantangan baru tersebut. Kehidupan baru dalam millennium ketiga menuntut kualitas sumber daya manusia yang tinggi, diantaranya manusia yang dapat bersaing pada kehidupan dunia dan tentunya tetap merupakan insan yg bermoral dan bertaqwa. Manusia seutuhnya tersebut tentunya tidak bisa sepenuhnya diwujudkan melalui forum-forum sekolah. Ada baiknya apabila forum-lembaga sekolah kita mengkonsentrasikan pada tugas-tugas utamanya, ialah menyebarkan kemampuan intelektual generasi mda Indonesia dalam arti seluas-luasnya, dan permanen dalam koridor manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa.

Paradigma baru dalam pendidikan pada sekolah-sekolah dalam rakyat Indonesia bukan berarti membawa pendidikan kita pada kekeliruan yang selama ini dilakukan, yaitu intelektualisme yg semu dan kurang memperhatikan perkembangan semua langsung insan Indonesia.

Pendidikan adalah suatu kebutuhan bagi setiap warga negara, karenanya pemerintah wajib memenuhi kebutuhan ini, apalagi telah dijamin pada konstitusi bahwa setiap rakyat negara berhak menerima pendidikan serta pedagogi. Menurut Tilaar (2002 : 169-175) taktik pembangunan pendidikan nasional harus meliputi enam aspek, yaitu: Pertama, Pendidikan berdasarkan, sang dan beserta-sama warga . Kedua, Pendidikan berdasarkan dalam kebudayaan nasional yang bertumpu pada kebudayaan lokal. Ketiga, Proses pendidikan mencakup proses hominisasi dan proses humanisasi. Keempat, Pendidikan demokrasi. Kelima, Kelembagaan pendidikan harus menjiwai serta mewujudkan nilai-nilai demokrasi. Keenam, Desentralisasi manajemen pendidikan nasional. 

Karena itu tepatlah apa yg ditulis sang Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:63): 
Pendidikan nasional diharapkan sanggup menghasilkan manusia dan rakyat Indonesia yg demokratis-religius yang berjiwa berdikari, bermartabat, menjunjung tinggi harkat kemanusiaan, serta menekankan keunggulan sehingga tercapai kemajuan dan kemakmuran. Tujuan yang demikian mulia ini mempersyaratkan kepedulian keluarga, warga , bersama-sama menggunakan organisasi dan institusi pendidikan nasional yg mandiri, bisa buat selalu melakukan inovasi menuju ke suatu system pendidikan nasional yg unggul.

C. Keterpaduan Pembinaan IPTEK dan IMTAQ
Sejarah menampakan bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung dalam kemampuannya pada meningkatkan kualitas sumbser daya insan serta menerapkan industrialisasi dalam kehidupan ekonominya. Industrialisasi itu sendiri berintikan iptek, sedang teknologi adalah ilmu yg diterapkan pada menunjang proses kehidupan sehari-hari. Penerapan teknologi tersebut hanya dapat dilakukan sang sumber daya manusia yang berkualitas. 

Ilmu Pengetahuan serta Teknologi bertujuan buat menaikkan tingkat hayati bangsa menggunakan jalan peningkatan nilai tambah sumber daya insan. Sebagai negara yg sedang berkembang, pembangunan Indonesia diarahkan menuju suatu negara industri. Dalam pencapaian tujuan tersebut dibutuhkan empat tahapan transformasi teknologi, yaitu :
  1. Pemanfaatan teknologi yg sudah ada
  2. Integrasi teknologi buat menghasilkan barang-barang baru dengan cara membangun desain baru.
  3. Inovasi serta pengembangan teknologi baru dengan membangun teknologi tahap sebelumnya.
  4. Penelitian ilmu-ilmu dasar.
Iptek akan sebagai unsur dinamis serta memiliki peranan yg semakin intensif serta ekstensif pada kehidupan warga serta bangsa Indonesia. Upaya buat mengoptimalkan peranan iptek menuntut perhatian yg benar-benar-sungguh terhadap beberapa agenda taktik :
  1. Kualitas asal daya manusia perlu ditingkatkan, khususnya pada menguasai, berbagi, serta memanfaatkan ilmu pengetahuan.
  2. Kekayaan sumber daya alam yang kita miliki memerlukan pemanfaatan serta pengelolaan secara efektif serta efisien buat menaikkan kesejahteraan semua bangsa.
  3. Penyebaran pemerataan aktivitas pembangunan sampai ke kepulauan serta wilayah terpencil, sebagai akibatnya menaruh manfaat yg merata pada seluruh warga .
  4. Globalisasi di bidang ekonomi sebagai akibat menurut perkembangan pada bidang komunikasi, transpormasi serta teknologi produksi menuntut antisipasi melalui upaya peningkatan daya saing serta jasa terhadap negara-negara lain.
  5. Disamping melalui jalur pendidikan sekolah , ilmu pengetahuan dan teknologi perlu pada budidayakan dalam rakyat. Pembudayaan ini dimaksudkan supaya mereka menjadi masyarakat yg melek iptek, yaitu masyaraklat yg menyadari bahwa iptek adalah upaya rasional untuk tahu alam lebih kurang sanggup berkomunikasi dengan bahasa iptek, serta sanggup mengapresiasikan kebijakan dan isu-informasi di bidang iptek.
Tujuan berdasarkan Pendidikan Nasional merupakan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan insan Indonesia seutuhnya, yaitu insan beriman dan bertaqwa terhadap yang kuasa Yang Maha Esa dn berbudi pekerti luhur, mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian iman serta taqwa akan menjiwai sekaligus sebagai perekat dalam membina kualitas sumber daya manusia yg berwawasan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan kepercayaan .

Manusia diberikan logika pikiran yg berkembang serta bisa dikembangkan. Karunia inilah yang bisa membuat budaya yg galat satunya tertuang pada IPTEK. Oleh karenanya, IPTEK sebagai karunia tidak eksklusif dari Tuhan harus kita syukuri, bukan untuk didewa-dewakan atau dipertuhankan. Hubungan insan dengan sesama makhluk diatur oleh Maha Pengatur, sedangkan IPTEK sebagai karunianya, adalah instrumen pembantu buat mencapai kesejahteraan. Melupakan, apalagi mengingkari kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa yang lalu berpaling kepada IPTEK, merupakan kekufuran, yang akibatnya dapat mengakibatkan bala. (Nursid Sumaatmadja, 2000:76-77).

Manusia agamis, sinkron dengan tuntutan ajaran agamanya, adalah sosok pribadi yg mempunyai solidaritas sosial tinggi, pikiran dan prilakunya berjiwa demokrasi, berbuat kebijakan serta kesalihan, santun, berbudi pekerti luhur serta penuh kedamaian, disiplin ketika dan beribadah yang keseluruhannya itu dilandasi iman dan taqwa. Indikator sosok langsung tadi merupakan selaras denagan kandungan tujuan pendidikan nnasional. Oleh sebab itu keterpaduan antara iptek dan imtaq dalam mewujudkan insan Indonesia seutuhnya pada arti warga madani telah terintegrasikan baik konsep maupun operasionalisasinya.

GEOGRAFI DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU

Geografi Dalam Perspektif Filsafat Ilmu 
Pengetahuan mengenai filsafat ilmu biasanya diberikan pada mahasiswa pascasarjana khususnya acara doktor menjadi pondasi dalam tahu filosofi bidang ilmunya dalam waktu para mahasiswa melakukan aktivitas penelitian ilmiah atau seminar ilmiah. Manfaat sesudah memperoleh pengetahuan filsafat ilmu adalah semakin menaikkan pencerahan kita pada meletakkan hakekat “kebenaran” tentang suatu hal pada loka yang tepat. Kita semakin menyadari bahwa kebenaran pada ilmu pengetahuan yang kita peroleh ternyata bersifat relative (tidak bersifat absolute). Dalam konteks inilah latar belakang goresan pena ini dihadapkan pada dilema bagaimana perkembangan ilmu geografi (di Indonesia) ketika ini. Masalah yang dibahas tampak sederhana namun dari ekonomis penulis hal yg sederhana tersebut justru memiliki implikasi yg sangat luas dan mendalam.

Paling tidak terdapat 2 pendapat terhadap perkembangan bidang ilmu geografi saat ini. Pendapat pertama menganut faham geografi menjadi ilmu yang bersifat generalis yang tidak memerlukan bidang spesialisasi. Pendapat kedua mempunyai pemikiran bahwa geografi bisa dikembangkan dalam spesialisasi spesialisasi (cabang atau bahkan ranting) eksklusif. Ke dua pendapat tersebut mengetengahkan kebenaran masing masing sebagai dasar pertimbangan. 

Tulisan ini disusun menggunakan maksud buat menyegarkan balik pemikiran kita tentang global ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu geografi. Proses penyegaran kembali ini perlu dilakukan karena kita ingin permanen memposisikan ilmu geografi menjadi bidang ilmu yg diakui dan selalu relevan menggunakan dinamika perkembangan sains dan teknologi dewasa ini. Dalam tulisan ini, berdasarkan berbagai buku pustaka, akan ditelaah tentang apa sebenarnya substansi pengetahuan filsafat ilmu menjadi pengantar pokok bahasan. Selanjutnya akan dielaborasi dua definisi geografi sebagai titik tolak telaah geografi sebagai bidang ilmu, metode keilmuan bersama perkiraan asumsinya serta selanjutnya disampaikan beberapa pemikiran dari hasil jajak inti goresan pena ini sebagai penutup .

Dalam goresan pena ini jua akan ditunjukkan posisi pengetahuan tentang teknik mutakhir seperti teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan sistem berita geografi (GIS) menjadi wahana analisis pada studi geografi sehingga diperoleh kejelasan perbedaan antara metode (keilmuan) serta teknik analisis penelitian.

Sudah semestinya bahwa hasil pemikiran dalam tulisan ini memerlukan kritik sebagai akibatnya dapat membuat kesamaan pandangan dan berguna bagi perkembangan bidang ilmu geografi di Indonesia. Pada akhirnya, berbagai pemikiran yang didapatkan dalam seminar mengenai filsafat ilmu geografi ini seyogyanya ditindaklanjuti sang pengelola acara pendidikan khususnya pendidikan geografi pada Indonesia sebagai bahan buat meninjau kembali kurikulum baik dalam acara Sarjana hingga program Doktor. Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

APRESIASI TEORI
Haggett (2001) pada bukunya: “Geography. A Global Synthesis” mengungkapkan aneka macam definisi geografi (p. 763) dan keliru satunya adalah “ Geography is an integrative discipline that brings together the physical and human dimensions of the world in the study of people, places, and environments” yg dirumuskan oleh American Geographical Society tahun 1994. Dalam definisi tadi tersirat pengertian yang jelas bahwa geografi merupakan disiplin ilmu bersifat integratif yg menilik obyek studi (penduduk, tempat serta lingkungannya) dalam dimensi fisik dan insan. Sementara I Made Sandy (1973) mengetengahkan sebuah definisi geografi menjadi bidang ilmu yang mengusut berbagai gejala di bagian atas bumi pada perspektif keruangan. Sandy ingin menekankan bahwa tanda-tanda apapun dapat sebagai bidang jajak geografi apabila dicermati menurut sudut pandang keruangan.

Berdasarkan 2 definisi tadi bisa disimpulkan bahwa geografi merupakan bidang ilmu yang bersifat integratif yg mempelajari gejala tanda-tanda yang terjadi pada muka bumi (pada dimensi fisik serta dimensi insan) menggunakan memakai perspektif keruangan (spatial perspective). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa “aspek keruangan”lah yg menjadi karakteristik pembeda bidang geografi dengan bidang ilmu lain.

Menurut pengertian pada atas maka tidaklah sukar untuk menyebutkan makna filosofis diagram Fenneman (Jensen, 1980 p.4) juga diagram Haggett (2001 p. 766) yang pada prinsipnya memberitahuakn keterkaitan dan pendekatan bidang kajian geografi menggunakan bidang kajian ilmu ilmu lainnya. Gejala sosial yg berlangsung di muka bumi jika ditelaah melalui perspektif keruangan membangun bidang kajian geografi sosial. Melalui proses yg sama lahir bidang kajian geografi ekonomi, geografi politik, geografi budaya serta lain lain. Bagian bidang ilmu alam misalnya geologi difokuskan pada pengetahuan geomorfologi, klimatologi dari meteorologi, biogeografi berdasarkan hayati serta seterusnya.

Gambar  Lingkungan lebih kurang bidang ilmu Geografi (modifikasi Fenneman 1919 dalam Jensen, 1980).

Interkoneksi berbagai bidang ilmu dengan bidang geografi menunjukkan fenomena di mana perkembangan bidang ilmu geografi bisa dikatakan sangat dipengaruhi sang kemampuan geograf dalam memperoleh warta perkembangan bidang ilmu lainnya. Hasil riset bidang ilmu lain akan memperkaya (proliferate) cakupan penelitian geografi. Demikian jua, output riset geografi mengenai topik eksklusif (secara terbatas) dapat memicu perkembangan bidang ilmu lainnya. Dalam konteks ini maka terbuka ruang terbentuknya tanda-tanda divergensi bidang ilmu (termasuk geografi) pada aneka macam cabang ilmu yang bersifat lebih khusus (spesialisasi). Tetapi demikian, spesialisasi di bidang ilmu geografi tidaklah semudah seperti membangun spesialisasi anak, spesialisasi tht anak atau anak tht (?) pada bidang ilmu kedokteran atau lainnya.

Dalam perspektif keilmuan, dalam dasarnya seluruh ilmu memiliki kesamaan filosofi yang diklaim dengan metode keilmuan. Masing masing ilmu memiliki cara yang sama buat mencari pengetahuan diantaranya melalui kerangka berpikir rasionalisme serta empirisme. Perlu disampaikan pulang pemikiran para pakar misalnya, John Dewey (1859-1952) menyusun formulasi perkawinan cara berpikir rasionalisme dan empirisme yang sudah dipakai oleh Galileo, Newton maupun Charles Darwin dalam era sebelumnya (Suriasumantri, 1983 p. 28). Secara ringkas dijelaskan bahwa rasionalisme merupakan kerangka pemikiran yg koheren dan logis, sedang empirisme merupakan kerangka pengujian pada memastikan suatu kebenaran pengetahuan absah secara keilmuan. 

Falsafah ilmu
Mengutip pendapat Montello (2006) bahwa tidak terdapat jawaban yg tepat berdasarkan pertanyaan apa yang dimaksud menggunakan scientific approach. Salah satu pengertian tentang ilmu adalah “Science is a personal and social human endeavor in which ideas and empirical evidence are logically applied to create and evaluate knowledge about reality”. Selanjutnya, yang dimaksud menggunakan “empirical evidence” dalam pengertian di atas merupakan sesuatu yang diturunkan menurut kegiatan observasi suatu kasus secara sistematis melalui penalaran yg tak jarang memakai alat bantu teknologi. Montello berpendapat bahwa secara filosofis, makna empirisme tidak selalu berupa pengalaman manusia semenjak lahir. Empirisme ilmu berusaha buat dapat diulang, dapat diakumulasikan dan secara generik bisa diobservasi. Ilmu menganut prinsip prinsip akal formal serta informal serta paling tidak mengikuti prinsip (1) harus menghindari pertentangan (2) meningkat tingkat keyakinan terhadap suatu gejala seiring semakin tingginya observasi yang dilakukan (3) pola keteraturan suatu peristiwa dalam masa kemudian memiliki peluang terjadi dalam masa yg akan datang. 

Suriasumatri (1983) menyatakan bahwa kegiatan ilmu merupakan suatu proses berpikir buat memperoleh pengetahuan. Pengetahuan seorang terhadap suatu obyek yang diamati belum tentu sama menggunakan pengetahuan yg diperoleh orang lain yg mengamati obyek yg sama apabila dilakukan pancaindra insan pada skala observasi atau pada medium yg tidak selaras melalui perspektif yang tidak sinkron. Sebuah pohon kelapa tampak sangat tinggi jika diamati dalam jarak dekat serta tampak pendek bila diamati dalam kejauhan atau sebuah tongkat lurus akan tampak melengkung apabila berada pada pada air, merupakan sekedar model sederhana. 

Para pakar filsafat ilmu menyatakan bahwa dalam lingkungan keilmuan, kebenaran secara keilmuan bersifat nir absolut. Sifat tidak mutlak tersebut juga terjadi jika kebenaran keilmuan dihadapkan dalam kebenaran dari agama, kebenaran dari seni atau kebenaran menurut filosofinya. Kebenaran teknologi cloning hingga ketika ini misalnya tidak diakui sebagai kebenaran dari kepercayaan . Lukisan perempuan telanjang sebagai kebenaran seni dalam umumnya tidak bisa dibenarkan sang agama atau dibuktikan secara keilmuan. Gambar mengungkapkan sebuah skema sederhana dari proses berpikir manusia pada kehidupan sehari hari.

Gambar  Kebenaran berdasarkan perspektif proses berpikir manusia.

Mengingat tidak ada kebenaran yang bersifat absolut maka dapat diduga berdasarkan goresan pena ini akan ada poly pendapat atau pandangan yg tidak sama. Berdasarkan judul pada atas, buat mengurangi beda pendapat, pada goresan pena ini penulis membatasi pengertian filsafat menurut Socrates (470-399 SM) pada Suriasumantri (1983 p.4) menjadi berikut: “filsafat diartikan menjadi suatu cara berpikir yang radikal serta menyeluruh yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya”. Radikal, menyeluruh serta sedalam-dalamnya mengandung makna membutuhkan saat yang panjang buat memperoleh suatu pengetahuan yg menyeluruh serta mendalam.

Selanjutnya dikatakan bahwa ilmu merupakan deretan pengetahuan yg memiliki ciri eksklusif. Bidang ilmu yg satu dapat dibedakan berdasarkan bidang ilmu lainnya didasarkan pada jawaban atas ke 3 pertanyaan utama menjadi karakteristik ilmunya yaitu (1) dasar ontologi ilmu, (2) dasar epistemologi ilmu serta (tiga) dasar axiologi ilmu. Apa yang ingin diketahui atau apa yang sebagai bidang telaah ilmu adalah pertanyaan dasar ontologi. Bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh merupakan dasar pertanyaan epistemologi (teori pengetahuan). Sedangkan apa kegunaan ilmu adalah pertanyaan menurut segi axiologinya (teori mengenai nilai). Jawaban dari ke tiga pertanyaan dasar tadi adalah rangkaian yang nir dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

Tidak sporadis dijumpai keadaan di mana suatu penelitian belum mengungkapkan kegunaan output penelitian sebagai jawaban pertanyaan dasar yang ke tiga, walaupun masalah (apa yang ingin diketahui) serta metodenya (bagaimana cara`memperoleh pengetahuan) dituliskan secara jelas. Pengetahuan yang diperoleh menurut aktivitas penelitian seyogyanya adalah pengetahuan yang mendalam serta bisa dibuktikan memenuhi kaidah keilmuan (dikatakan sah secara keilmuan). 

Penelitian ilmiah
Pengetahuan yang diperoleh melalui proses berpikir yang teratur serta sistematis dikenal menjadi produk kegiatan penelitian ilmiah atau penelitian yg memenuhi kondisi keilmuan. Kegiatan berpikir teratur dan sistematis mengantar kita pada memasuki dunia keilmuan. Sebuah gejala di muka bumi contohnya, menjadi sebuah warta, terjadi secara beraturan dan tidak terjadi secara kebetulan karena dapat dijelaskan pada kerangka konsep keilmuan. Siklus hidrologi merupakan model tanda-tanda alam yang berlangsung secara teratur serta sistematis. 

Dalam konteks aktivitas penelitian, mengenali sebuah berita, merumuskan kasus, menyusun hipotesa, melakukan analisis dan menarik konklusi adalah contoh proses berpikir teratur dan sistematis. Menurut Sandy (1973) hal tadi adalah ciri sebuah ilmu termasuk ilmu geografi. Sebuah konklusi penelitian mencerminkan “pengetahuan” yg didapatkan berdasarkan rasa “ingin memahami” (curiousity) yang diungkap dalam kalimat pertanyaan penelitian (research question).

Para peneliti, pada instansi pertama biasanya menghadapi problem bagaimana merumuskan pertanyaan penelitian yang sahih supaya memperoleh pengetahuan baru yg bermakna. Sebagian besar ketika (hampir 50%) dihabiskan buat merumuskan kasus, selebihnya buat mengumpulkan data, melakukan analisis serta menarik kesimpulan. Apabila rumusan pertanyaannya sahih maka akan diperoleh jawaban yang sahih, jika cara yang dipakai buat menjawab sahih. Sebaliknya, jika pertanyaan penelitiannya diungkap pada kalimat yg nir kentara maka jawabannya pasti sulit diperoleh atau bahkan tidak akan ditemukan, bagaimanapun caranya meneliti. Hal yang sama jika dikaitkan dengan kebenaran data yang digunakan pada penelitian (garbage in garbage out).

Dalam upaya menjawab kasus, terdapat 3 pilihan metode yang bisa digunakan yaitu metode deduktif, metode induktif dan adonan metode deduktif dan induktif. Tetapi demikian ketika ini adonan ke 2 metode deduktif serta metode induktif sebagai pilihan poly peneliti dalam menetapkan metode penelitiannya. Pilihan ini dilandasi pada pemikiran bahwa apa yang diteliti adalah bisnis buat memperkuat konsep atau teori yang sudah terdapat serta adanya cita-cita buat membentuk konsep atau teori baru.

Metode metode yg dimaksud merupakan pembagian terstruktur mengenai konsep berpikir epistemologis dalam upaya menjawab pertanyaan yg diajukan. Sehubungan dengan hal itu ada disparitas pilihan metode pada penelitian bidang pengetahuan alam serta bidang pengetahuan sosial terkait dengan ciri masalah serta jumlah variable penelitian. Sebuah dalil ekamatra seperti teori gravitasi contohnya, akan berlaku kapanpun dan dimanapun. Di sisi lain, teori sosial yang berlaku pada Negara maju tidak selalu sempurna dipakai buat mengatasi perkara sosial di Negara berkembang lantaran ciri masalah serta variable yg terkait tidak sinkron. 

Sebagaimana sudah diuraikan, walaupun terdapat disparitas tetapi setiap bidang ilmu mempunyai kesamaan metode keilmuan yaitu kerangka berpikir rasional serta empiris. Oleh karenanya adanya konsep serta landasan teori yang kuat dan dengan dukungan data atau informasi empirislah kekuatan suatu penelitian ditentukan., apapun bidang ilmunya. Hasil menurut penelitian demikianlah kita bisa memperoleh pengetahuan baru yang sangat berguna. Salah satu prasyarat yg wajib dipenuhi buat memperoleh pengetahuan baru tadi merupakan digunakannya perkiraan asumsi yang sempurna.

Dalam mengenali obyek realitas pada ranah keilmuan kita memerlukan arah serta landasan analisis yang dikenal menjadi asumsi. Suriasumantri (1983 p.8) menyatakan bahwa ada 3 asumsi dasar agar pengetahuan baru yg dihasilkan diakui kebenarannya yaitu:
(1) bahwa obyek eksklusif mempunyai keserupaan satu sama lain. 
(2) bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka saat eksklusif. 
(3) bahwa tiap gejala bukan adalah suatu kejadian yang bersifat kebetulan.

Asumsi pertama berkaitan dengan metode keilmuan yg paling sederhana yaitu penerapan konsep penjabaran. Asumsi ke 2 berkaitan dengan konsep kelestarian yang bersifat relatif adalah suatu benda akan berubah pada ketika singkat dan ada yang berubah dalam jangka waktu panjang. Asumsi ke tiga berkaitan menggunakan konsep determinisme adalah setiap gejala memiliki pola tertentu yg bersifat permanen dengan urutan peristiwa yg sama. 

FILSAFAT ILMU GEOGRAFI
Berdasarkan hal hal yang sudah diuraikan sebelumnya sampailah kita dalam pertanyaan bagaimana mengungkapkan geografi menjadi bidang ilmu yang bisa disejajarkan dengan bidang bidang ilmu lainnya? Untuk menjawab hal itu maka akan ditelaah secara singkat bagaimana ilmu geografi menjawab ke tiga pertanyaan dasar ontologi ilmu, epistemologi ilmu serta axiologi ilmu.

Ontologi ilmu geografi
Mengacu pengertian geografi yang sudah disampaikan pada atas maka dapat dijelaskan bahwa apa yang ingin diketahui ilmu geografi adalah “aneka macam gejala keruangan berdasarkan penduduk, tempat beraktifitas serta lingkungannya baik dalam dimensi fisik juga dimensi insan”. Perbedaan dan persamaan pola keruangan (spatial pattern) berdasarkan struktur, proses serta perkembangannya adalah penjelasan lebih lanjut menurut apa yg ingin diketahui bidang ilmu geografi. 

Sebagai keliru satu penjelasan lebih rinci, pola keruangan dari tanda-tanda yg berlangsung pada muka bumi umumnya disajikan pada model simbolik (pada bentuk peta). Peta region misalnya, mendeskripsikan berita keruangan atau liputan geografis dalam strata kelas (pembagian terstruktur mengenai) menurut mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi berdasarkan suatu obyek. Di samping liputan kuantitatif, peta tersebut pula dapat memberikan kabar arah serta laju perubahannya. Fakta spasial suatu tanda-tanda tertentu bisa dianalisis lebih jauh buat membuat berita keterkaitannya dengan tanda-tanda lainnya. 

Obyek material studi geografi mencakup lapisan atmosfer, lapisan litosfer, lapisan hidrosfer serta lapisan biosfer (pengetahuan ini telah dijadikan materi ajar geografi di tingkat SLTP/SLTA). Pengetahuan pengetahuan tadi sangat diperlukan pada menjelaskan banyak sekali gejala keruangan berdasarkan suatu obyek yang diteliti buat dapat memenuhi sifat integratif sebagaimana telah didefinisikan pada atas. Berikut disampaikan model sederhana elaborasi hasil penelitian yang memperlihatkan sifat integratif. 

Fakta penelitian yg menunjukkan pola kerusakan bangunan semakin akbar jika jeda lokasi bangunan ke pusat gempa semakin dekat dapat dijelaskan berdasarkan pengetahuan geologi serta ekamatra yg menyatakan bahwa besaran enersi yg didifusikan semakin mini bila semakin jauh menurut pusat gempa lantaran mengalami kendala struktur batuan yg dilewatinya menjadi media difusi. 

Penelitian mengenai bentang alam (geomorfologi) di suatu wilayah menerangkan hubungannya dengan aktivitas penduduk pada mana ada kecenderungan kegiatan penduduk terkonsentrasi di wilayah dataran alluvial dibanding unit bentang alam lainnya. Hal ini bisa dijelaskan antara lain berdasarkan teori ekonomi (efisiensi porto serta aksesibilitas). Teori pusat (central place theory) Christaller dengan model hexagonalnya yg populer memakai salah satu asumsi yaitu hanya berlaku pada daerah yg memiliki bentang alam homogin. 

Faktor fisik memilih perbedaan pola spasial migrasi penduduk, misalnya pada daerah dataran serta pada wilayah pegunungan, di samping dapat dijelaskan berdasarkan teori gravitasi atau push-pull factor. 

Pengetahuan mengenai berbagai tanda-tanda (fisik juga sosial) yg berlangsung di muka bumi yg direpresentasikan menjadi gejala keruangan (spatial phenomena) suatu obyek eksklusif (yg dapat diamati oleh panca indra manusia) adalah jawaban berdasarkan “apa yg ingin diketahui” ilmu geografi. Persoalan selanjutnya merupakan “ bagaimana ilmu geografi menjawab pertanyaan tersebut”. Berkenaan dengan itu secara singkat akan ditelaah mengenai epistemology ilmu geografi.

Epistemologi ilmu geografi
Seperti bidang bidang ilmu lainnya, bidang ilmu geografi bisa memakai metode deduktif, metode induktif atau adonan ke 2 metode tadi, tergantung masalah yg ingin dijawab. Sebagai model sederhana, bila ingin mengetahui hubungan antara bentuk bentang alam serta pola sebaran pemukiman penduduk maka yg pertama wajib dilakukan adalah menjawab pertanyaan pertanyaan berikut:
  • Apakah masih ada interaksi logis antara bentuk bentang alam serta pola pemukiman? 
  • Jika ya, apakah hubungannya bersifat satu arah atau 2 arah? 
  • Selanjutnya, apakah hal tadi pernah diteliti dan teori apa yang dipakai peneliti peneliti sebelumnya?
Apabila paradigma rasionalisme terpenuhi maka menjadi seseorang peneliti kita wajib bisa pertanda sendiri bagaimana interaksi dari tanda-tanda gejala tadi dengan menggunakan kerangka berpikir empirisme. Artinya, adanya dukungan teori dasar untuk meneliti serta ketersediaan data realitas adalah hal yang pokok buat menemukan jawaban yg sahih dari pertanyaan yang diajukan. Selanjutnya, peneliti harus menetapkan metode apa yg akan dipakai : 
  • Apabila sudah terdapat konsep serta teori yg secara rasional dapat menyebutkan hubungan logis ke 2 variable tersebut, maka dapat dipilih metode deduktif buat memperkuat suatu teori yang sudah terdapat. 
  • Apabila ingin mengetahui pola generik hubungan ke 2 tanda-tanda tadi pada suatu wilayah yg lebih luas (contohnya buat Indonesia) maka bisa memakai metode induktif – deduktif. Perlu dicatat, data yg dibutuhkan pada penggunaan metode induktif adalah data sampling pada statistik inferensial. 
Dalam paragraph pada atas dapat dipandang bahwa buah 1 membentuk verifikasi teori tertentu buat memperkuat atau apabila memenuhi syarat eksklusif bisa menaikkan teori menjadi hukum yg bersifat universal (axioma). Sedangkan contoh butir 2 membuat verifikasi penemuan teori baru dari teori sebelumnya, misalnya membentuk model prediksi. Mungkin kita perlu merenung, selama ini penelitian apa yang sudah kita lakukan buat menyebarkan ilmu geografi ? Apakah kita baru sebatas menerapkan konsep dan teori yg sudah ada atau sudah terdapat teori baru yg kita hasilkan?

Metode atau teknik?
Setelah metode dipilih selanjutnya ditetapkan cara atau teknik apa yang akan dipakai dalam pengumpulan data, pengolahan serta analisis data penelitian. Metode induktif misalnya, tidak bisa mengabaikan peranan statistik pada pengumpulan, pengolahan dan analisis data. Sampai pada sini kita wajib dapat membedakan makna metode dan teknik atau cara penelitian. Overlay atau superimposed peta bisa ditinjau sebagai sebuah teknik analisis serta bukan metode analisis.

Menjadi lebih menarik apabila selanjutnya ditelaah mengenai pemanfaatan teknologi informasi yang semakin intens di lingkungan penelitian geografi. Misalnya penggunaan GIS (menjadi sebuah sistem) atau penggunaan data citra, sebagai upaya buat memperoleh data realitas menggunakan memanfaatkan sarana teknologi satelit. Sementara ini kita setuju bahwa ketersediaan sistem dan tekonologi tadi sangat membantu (mempermudah dan mempercepat) penelitian geografi pada aktivitas pengumpulan sampai analisis data output penelitian, sebagaimana kita menggunakan cara statistik. 

Jelas kiranya bahwa dalam konteks penelitian geografi, teknologi RS dan GIS merupakan sebuah pilihan cara atau teknik pada kita mengumpulkan data geografi, mengolah dan menganalisis data. Pilihannya terletak pada wahana atau indera buat analisis, yang dinilai lebih baik dibanding teknik sebelumnya.

Sampai waktu ini kita mengetahui bahwa teknologi penginderaan jauh serta teknologi GIS adalah produk menurut R&D bidang ilmu teknik telekomunikasi, komputer serta informatika. Bidang geografi lebih berperan dalam melakukan interpretasi secara lebih cepat (karena memiliki bekal relatif pengetahuan fisik permukaan bumi) atau paling jauh menciptakan pemodelan aplikasinya. Teknik teknik interpretasinyapun merupakan hasil pengembangan para ahli bidang ilmu lain seperti ekamatra. Gambar di bawah ini secara sederhana ingin memperlihatkan posisi pengetahuan PJ serta GIS pada proses berpikir keilmuan geografi. 

  Proses berpikir komperhensif      Proses menetapkan pilihan metode,   Proses penarikan  

I======================èI=======================èI==========èI  
   dalam menyusun proposal          cara/teknik meneliti, proseskumpul,      kesimpulan

         penelitian                               olah dananalisis data

                                                            PJ serta GIS


Gambar Posisi pengetahuan PJ serta GIS dalam konsep keilmuan geografi.

Geografi adalah bukan bidang ilmu mengenai semua hal yang terdapat dalam kehidupan insan, walaupun ada yang berpendapat bahwa geografi adalah mothers of science atau ilmu yang bersifat generalis. Sebuah kalimat yang seringkali diungkapkan merupakan bahwa “seluruh hal sanggup pada-geografi-kan sepanjang masih bisa dianalisis secara spasial”. Kalimat ini sangat sederhana tetapi mempunyai implikasi yang sangat luas terutama bagi para geograf yg kritis. Pertanyaan kritis yg kemudian dapat dikemukakan adalah “apakah dapat dibuktikan bahwa semua hal bisa dianalisis dalam perspektif spasial?”.

Oleh karena begitu poly hal bisa digeografikan maka muncul bisnis bisnis membuat spesialisasi geografi. Upaya buat memikirkan spesialisasi di bidang ilmu geografi layak buat diapresiasi. Namun, cabang atau ranting ilmu yang dirumuskan hendaknya memenuhi kaidah kaidah yg benar sebagai akibatnya nir menyimpang dari pohon ilmunya. Salah satu contoh merupakan pohon ilmu geografi kentara tidak sama dengan pohon ilmu informatika yang penekanan dalam rekayasa teknik system pengolahan data menjadi berita. Demikian jua pohon ilmu geografi kentara tidak sinkron menggunakan pohon ilmu psikologi yg fokus dalam perilaku (behaviour) insan. Sampai saat ini belum ada yang mampu untuk mengspasialkan sebuah persepsi dan menyajikan dan menjelaskannya pada perspektif keruangan.

Axiologi ilmu geografi
Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, peta dikatakan sebagai satu satunya sarana buat bisa menyajikan keterangan geografi yg memenuhi pola berpikir keruangan, secara cepat dan mudah dipahami. Dari sebuah peta bisa dikenali banyak sekali elemen berukuran sebuah tanda-tanda misalnya titik, garis, area, arah, jeda, luas, kepadatan, kerapatan dan lainnya sebagai satuan berukuran karena bidang ilmu geografi harus dapat terukur. Dari skala peta bisa dinilai tingkatan informasinya, dari yang bersifat umum hingga informasi yang lebih rinci dari sebuah populasi. 

Bidang ilmu geografi sampai saat ini masih eksis lantaran memang mempunyai nilai kegunaan bagi umat manusia baik untuk pengembangan keilmuannya maupun terapannya buat peningkatan kesejahteraan. Oleh karena ilmu bersifat netral maka pengetahuan yg dihasilkan apakah berguna atau bahkan mengakibatkan bencana bagi umat insan dalam dasarnya dipengaruhi oleh para ilmuwan itu sendiri.

Sebuah peta yang tersaji secara sengaja untuk menyesatkan pihak lain adalah sebuah bala bagi penggunanya karena informasinya tidak tepat, akurat serta lengkap. Akibatnya, pengguna peta tidak menemukan fakta yg diperlukan sehabis menghabiskan sumberdaya yang tidak sedikit. Dalam sebuah peperangan, peta dapat sebagai senjata andal buat mengakali serta mengalahkan musuh karena legenda peta sengaja diubah sehingga senjata musuh tidak tentang sasaran.

Dalam kaitan ini suatu aktivitas analisis citra satelit yg dilakukan tanpa ground-check yg cermat akan membentuk peta citra satelit yg menyesatkan. Apalagi apabila secara mentah mentah data citra digital digunakan buat menciptakan pemodelan maka akan bisa diduga kabar output interpretasi gambaran yang didapatkan sulit dibuktikan kebenarannya. Oleh karenanya, apapun kelemahan yg terdapat dengan memakai sarana gambaran satelit perlu dikemukakan selengkapnya, bukan hanya keunggulannya. Di sini menyangkut dasar epistemologisnya dimana “jika putih katakan putih” atau “jika terdapat kelemahan katakan kelemahannya menggunakan amanah”.

Esensi dasar axiology ilmu geografi erat kaitannya dengan ontologinya serta karenanya sebaik-baiknya pengetahuan yg dihasilkan sangat tergantung menurut yang mempunyai pengetahuan tadi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa moral pemilik ilmu tadi merupakan factor yg memilih apa sebenarnya nilai manfaat pengetahuan yang dimiliki bagi umat manusia.