BAHAN ORGANIK

  Bahan Organik

 Bahan organik terdiri atas limbah flora danhewan menjadi hasil proses dekomposisi. Unsur organik cendrung memperbaiki struktur tanah serta bersifatmeningkatkan permeabilitas tanah, kapasitas tampung air tanah dan kesuburantanah.  Kumpulan unsur organik pada ataspermukaan bisa Mengganggu kecepatan air larian serta menggunakan demikian menurunkanpotensi terjadinya erosi.

  Struktur Tanah
Struktur tanah adalah susunanpartikel-partikel tanah yg membangun agregat.   Struktur tanah menghipnotis kemampuan tanahdalam menyerap air tanah, misalnya struktur tanah granuler serta tanggal mempunyaikemampuan akbar dan menloloskan air larian serta menggunakan demikian menurunkan lajuair larian.

 Permeabilitas Tanah

Permeabilitas menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air.   Struktur serta tekstur tanah serta unsurorganik lainnya ikut ambil bagian dalam memilih permeabilitas tanah.  Tanah menggunakan permeabilitas tinggi menaikkanlaju infiltrasi dan menggunakan demikian menurunkan laju air larian.
            Wischmeier& Smith (1978) dalam Asdak (1995)melaporkan bahwa nilai erodibilitas tanah (K) dihitung menggunakan persamaan :
100 K = 1,292 (dua,1M1,14(10-4) (12-a) + tiga,25 (b-2) + dua,lima (c-3) ….        (6)

Dimana :
            K= Erodibilitas tanah
            M= Persentase berukuran partikel (% debu + % pasir halus) x (100-% liat)
            a  = Persen bahan  organik (%c organik x 1,724)
            b= Kode pembagian terstruktur mengenai struktur tanah
            c= Kelas permeabilitas tanah
Kriteria tentang kelas strukturtanah,   permeabilitas tanah, kandunganbahan organik,  pembagian terstruktur mengenai erodibilitas(K) serta  tekstur tanah disajikan padatabel 4,lima,6, 7 dan 8.


PESTISIDA BOTANI

Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.

•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT.Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.
•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT. 

CARA MUDAH MENGOLAH SAMPAH MENJADI SUMBER LISTRIK

BUkan hal yg tidak mungkin merubah sampah - sampah yang menumpuk di indonesia terutama di DKI jakarta menjadi sumber tenaga Listrik, Seperti Tehnologi IMS, pengolahan sampah yg telah di terapkan pada negara - negara maju semenjak usang, pada hal ini ada baiknya anda juga mulai tergerak buat mencoba tehnologi ini di daerah lebih kurang tempat tinggal anda, sanggup kita bayangkan apabila setiap kelurahan pada indonesia terutama pada kota metropolitan seperti di kota Jakarta mampu mencoba mengolah sampah dengan tehnologi tepat guna ini, serta merubah sampah - sampah tersebut sebagai sumber energi Listrik, maka perseteruan sampah yang menumpuk pada Tempat pembuangan sampah akhir (TPA) akan segera teratasi, Masalah sampah ini bisa membawa imbas yang tidak baik padakondisi kesehatan manusia. Jika sampah dibuang secara asal-asalan atau ditumpuktanpa terdapat pengelolaan yg baik, maka akan menimbulkan berbagai dampakkesehatan yang berfokus. Tumpukan sampah tempat tinggal tangga yang dibiarkan begitu saja akanmendatangkan tikus got dan serangga (lalat, kecoa, lipas, kutu, dan lain-lain)yang membawa kuman penyakit yang dalam akibatnya menurunkan kualitas lingkungan.menurunnya kualitas lingkungan yang disebabkan sang sampah wajib ditanganisecara serius.
Di Amerika Serikat, sekitar 2.500 MW listrik didapatkan setiap tahunnya dari 35 juta ton sampah (17% dari total sampah dihasilkan). Lebih menurut 80% volume sampah di Denmark serta 60% pada Jepang pula diproses pada fasilitas WTE. Dari pola pikir ini, warga indonesia juga dibutuhkan pula mau ikut andil menangani masalah sampah ini secara aporisma.
Nah sebelum kita membahas mengenai tehnik pengolahan Sampah Menjadi Sumber Listrik ada baiknya kita saksikan terlebih dahulu video tutorial ini dia di mana Negara Maju seperti Jepang yang berhasil mengolah sampahnya sebagai sumber energi listrik, bahkan mereka hingga wajib mengimport sampah menurut tempat lain buat menghasilkan sumber tenaga litrik buat negaranya. Selamat menyimak :

Contoh alat pengolah sampah tempat tinggal tangga moderen silahkan anda lihat pada -->    SINI

Atau Bisa Anda Cek pada --->  SINI




Seiring menggunakan kemajuan teknologi. Kini para tekhnokratmulai mencari solusi yang terbaik buat menangani sampah ini. Bagi mereka,sampah bukan "musuh" tetapijika dikelola dengan baik mampu menghasilkan sesuatu buat kepentingan umatmanusia. Di antara pemikiran tersebutadalah berakibat sampah menjadi asal tenaga listrik (PembangkitListrik Tenaga Sampah)


Inilah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah - PLTSa
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tujuan menurut sebuah PLTSa ialah buat mengkonversi sampah sebagai tenaga. Pada dasarnya terdapat dua cara lain proses pengolahan sampah sebagai energi, yaitu proses biologis yang menghasilkan gas-bio serta proses thermal yg membentuk panas. PLTSa yg sedang diperdebatkan untuk dibangun di Bandung memakai proses thermal menjadi proses konversinya. Pada ke 2 proses tadi, output proses bisa pribadi dimanfaatkan buat menggerakkan generator listrik. Perbedaan mendasar di antara keduanya artinya proses biologis membuat gas-bio yg lalu dibarak buat menghasilkan tenaga yg akan menggerakkan motor yang dihubungkan dengan generator listrik sedangkan proses thermal membuat panas yang dapat digunakan buat membangkitkan steam yang lalu digunakan buat menggerakkan turbin uap yg dihubungkan menggunakan generator listrik.

Proses Konversi Thermal
Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi, pirolisa, serta gasifikasi. Insinerasi dalam dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri adalah reaksi oksidasi cepat antara bahan organik menggunakan oksigen. Jika berlangsung secara paripurna, kandungan bahan organik (H serta C) pada sampah akan dikonversi sebagai gas karbondioksida (CO2) serta uap air (H2O). Unsur-unsur  penyusun sampah lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi oksida-oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di gas produk. Beberapa contoh insinerator artinya open burning, single chamber, open pit, multiple chamber, starved air unit, rotary kiln, dan fluidized bed incinerator.
Proses Konversi BiologisProses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik (biogas) atau tanah urug (

landfill ) Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) sebagai gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane bisa digunakan buat banyak sekali sistem pembangkitan energi sedangkan slurry bisa dipakai sebagai kompos. Produk berdasarkan digester tersebut berupa gas methane yg bisa dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3.

Landfill merupakan pengelolaan sampah menggunakan cara menimbunnya didalam tanah. Di dalam huma landfill , limbah organik akan didekomposisioleh mikroba dalam tanah sebagai senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawaini berinteraksi dengan air yg dikandung sang limbah dan air hujan yg masukke dalam tanah dan menciptakan bahan cair yang dianggap lindi ( leachate ). Apabila landfilltidak dibuat dengan baik, leachate
akan mencemari tanah serta masuk ke pada badan-badan air didalam tanah. Karena itu, tanah pada landfill wajib mempunya  permeabilitasyang rendah. Aktifias mikroba pada
landfill membuat gas CH4 serta CO2 (dalam tahap awal – prosesaerobik) serta membuat gas methane (dalam proses anaerobiknya). Gas landfilltersebut mempunyai nilai kalor lebih kurang 450-540 Btu/scf. Sistem pengambilan gas hasilbiasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasanglateral dan dihubungkan menggunakan pompa vakum sentral. Selain itu masih ada jua sistempengambilan gas dengan pompa desentralisasi.

PLTSa, didefinisikan sebagai "pemusnah sampah"(Incinerator) modern yang dilengkapi alat-alat kendali pembakaran serta sistemmonitor emisi gas buang yang kontinyu serta dapat membuat energi listrik. Tujuanakhir berdasarkan sebuah PLTSa merupakan buat mengkonversi sampah menjadi tenaga. Pada dasarnyaada dua cara lain proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu prosesbiologis yang membentuk gas-bio serta proses thermal yang membuat panas. Sumberenergi listrik atau Watse to Energy atau yang lebih dikenal menggunakan PLTSa (PembangkitListrik Tenaga Sampah). PLTSa yang berfungsi sebagai TPA ini nantinya akanmemakai teknologi tinggi. Sampah-sampah yg datang akan diolah dengan caradibakar dalam temperatur tinggi 850 hingga 900 derajat Celicius. Berdasarkanperhitungan, berdasarkan 500 - 700 ton sampah atau dua.000 -3.000 m3 sampah per hariakan menghasilkan listrik menggunakan kekuatan 7 Megawatt. PLTSa menggunakan bahan bakar sampah.


Kesimpulannya :
Prinsip Sederhana dari PLTSa atau Waste to Energy ini adalah :
Membakar sampah yang kemudian menghasilkan panas .

Panas yang timbul dugunakan untuk memanaskan air

Uap Air yg muncul dipakai buat menggerakkan turbin

Turbin membentuk listrik. Manfaat primer PLTSa
Sederhana Bukan ?

Dengan memandang sampah menjadi asal daya (tenaga), secara alamiah kepedulian serta perhatian spesifik terkait penanganan sampah akan muncul menurut warga moderen pada indonesia, maka akan terdapat penciptaan lapangan pekerjaan yg diikuti oleh peningkatan derajat profesi pengelolaan sampah. Pengumpulan sampah dan segregasi sampah akan bisa dilakukan secara aporisma.
Jika Tehnologi ini berhasil di terapkan di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, dengan demikian nir ada lagi sampah yang berserakan, membuat kota lebih indah dan kehidupan lebih sehat. Sampah-sampah bau itu dapat ditanggulangi secara tuntas sehingga nir ada lagi penimbunan terbuka yg mengancam warga bagaikan bom saat. Dan yg terpenting juga, berkurangnya kerusakan lingkungan.
--> SELANJUTNYA

JENISJENIS TEH DAN CARA PENGOLAHANNYA

Jenis-Jenis Teh Dan Cara Pengolahannya
1. Karakteristik Daun Teh
Tanaman teh berupa pohon, lantaran pemangkasan kerapkali misalnya perdu, tinggi 5-10 meter. Daun belia berambut halus, tersebar, tunggal, helaian daun elliptis memanjang menggunakan ujung runcing, tepinya bergerigi, duduk daun secara berselang-seling, tunas tumbuh berdasarkan ketiak daun tua. Besarnya daun berkisar antara dua,lima centimeter – 25 cm, tergantung pada varietasnya. Daun tua bertekstur seperti kulit, bagian atas atasnya berkilap, serta berwarna hijau kelam. 

2.komposisi kimia daun teh segar (Arifin, 1994 dan Setyamidjaja, 2000)
Komposisi senyawa kimia daun teh terdiri atas 4 grup besar , yaitu :

2.1. Substansi Fenol
2.1.1 Tanin Katekin
Tanin katekin adalah senyawa yg tidak berwarna, serta bisa menentukan sifat produk teh seperti rasa, warna dan aroma. Tanin dalam daun teh adalah turunan menurut asam keliru. Kebanyakan turunan galat disebut tanin karena bisa menyamak kulit (tanin dari menurut kata tanning=menyamak). Sedangkan tanin pada daun teh, nir bersifat menyamak kulit. Tanin katekin pada daun teh meruapakan senyawa yang sangat kompleks, tersusun sebagai senyawa-senyawa katekin, epikatekin galat, epigalokatekin, epigalokatekin galat, dan galokatekin. Menurut Bruneton (1999) tanin dalam daun teh adalah tanin kondensasi atau tanin katekin. 

Kandungan katekin berkisar 20-30% dari seluruh berat kering daun. Diantara keenam katekin tersebut epigalotekindan galatnya adalah bahan terbanyak (Kustamiyati, 1975; Hara, 1991).

Selama proses pelayuan kandungan katekin akan berkurang tiga%. Kemudian dalam ketika penggulungan daun susut lagi, serta dalam oksidasi enzimatis kadar katekin susut kurang lebih 20% - 23%, serta saat pengeringan kadarnya susut lagi sebanyak lima% (Adisewojo, 1982).

Menurut Pearson (1970) dan Bambang (1995) dalam output penelitiaanya tentang analisis kandungan katekin dalam produk teh yaitu : teh hitam mengandung katekin homogen-rata 7,99%. Sedangkan teh hijau mengandung katekin rata-rata 17,68% dan teh wangi mengandung katekin rata-rata 15,13% (Gunawijaya, 1991; Bambang, 1995). 

2.1.2. Flavanol 
Flavanol hampir serupa dengan katekin namun tidak sama dalam tingkatan oxidasi menurut inti difenilpropan primernya. Flavanol pada teh meliputi kaemferol, kuersetin, dan mirisetin. 

2.2 Substansi bukan Fenol
2.dua.1 Karbohidrat
Daun teh mengandung karbohidrat meliputi sukrosa, glukosa serta fruktosa. Keseluruhan karbodhidrat yg terkandung dalam teh adalah 0,75% dari berat kemarau daun. Peranan karbohidrat dalam pengolahan teh hitam yaitu dapat berekasi menggunakan asam-aam amino dan tanin. Pada suhu tinggi akan membangun aldehid tidak jenuh serta mengakibatkan aroma semacam bunga, buah, madu, serta sebagainya. 

2.2.dua. Substansi pektin
Substansi pektin terutama terdiri atas pektin dan asam pektat, besarnya bervariasi yaitu 4,9% - 7,6% dari berat kemarau daun. Pektin akan terurai menjadi asam pektat dan metil alkohol oleh enzim pektin metil esterase. Metil alkohol ini akan menguap ke udara, tetapi sebagian yang balik akn berubah sebagai ester-ester dan asam organik. Asam pektat pada suasana asam akan menciptakan gel. Gel ini berfungsi buat mempertahankan bentuk gulungan daun. 

2.dua.tiga Alkaloid
Sifat penyegar teh dari berdasarkan bahan alkaloid yang menyusunnya. Terdapat 3%-4% menurut berat kering daun. Alkaloid utama dalam daun the adalah kafein, theobromin, dan theofolin. Kafein nir mengalami peribahan selama pengolahan teh hitam. Kafein keliru satu bahan yang menentukan kualitas. 

2.dua.4 Protein dan asam-asam amino
Daun teh mengandung protein yang sangat besar peranannya dalam pembentukan aroma pada teh terutama pada teh hitam. Perubahan primer selama pelayuan adalah pembongkaran protein sebagai asam-asam amino. Asam amino beserta karbohdirat dan katekin akan membentuk senyawa aromatis. Asam amino yg poly berpengaruh merupakan alanin, fenil alanin, valin, leusin, serta isoleusin. Seluruh protein serta asam amino bebas, berkisar antara 1,4% - lima% berdasarkan berat kemarau daun. 

2.2.5 Klorofil dan zat rona yang lain.
Zat rona pada daun kurang lebih 0,01% dari berat kering daun. Selama proses oksidasi katekin, klorofil akan terurai sebagai feofitin yang berwarna hitam. Karotenoid (zat rona jingga) pada daun teh akan teroksidasi menjadi substansi mudah menguap yg terdiri dari aldehid dan keton tak jauh. 

2.dua.6 Asam organik
Selama pengolahan teh, asam organik akan berekasi menggunakan metil alkohol membangun ester.

2.2.7 Substansi resin
Kandungan resin sebanyak tiga% berdasarkan berat kemarau daun.

2.2.8 Vitamin-vitamin
Daun teh mengandung beberapa vitamin antara lain : vitamin C, K, A, B1, B2, asam nikotinat serta asam pantotenat.

2.2.9 Substansi mineral
Kandungan mineral pada daun tgeh kira-kira 4% - lima% dari berat kemarau daun. Beberapa unsur mineral yaitu fosfat (mengatur pH selama oksidasi), magnesium (merupakan komponen berdasarkan klorofil), dan tembaga (merupakan gugusan prostetik berdasarkan polifenol oksidase).

2.dua.10 Substansi aromatis
Aroma asal dari glikosida yang terurai menjadi gula sederhana, senywa beraroma, protein, minyak essensial, dan adanya oksidasi karotenoid.

2.dua.10 Enzim-enzim
Enzim daun teh diantaranya adalah invertase, amilase, glukosidase, oksimetilase, protease, serta peroksidase. Selain itu terdapat enzim polifenol oksidase yg berperan krusial pada proses pengolahan teh. 

Menurut Dekker (1995) komposisi senyawa kimia yg menyusun daun teh segar yaitu : polifenol, asam amino, kafein, nukleotida, posfat ester, karbohidrat, lipid, asam organik, klorofil, karotenoid, saponin, serta mineral. 

2.3 Produk Teh (teh hasil olahan)
Produk teh di Indonesia, umumnya diperoleh dari output pengolahan daun teh jenis Camellia sinensis L. Varietas Assam. Varietas Assam lebih banyak kandungan katekin (polifenol) daripada tanaman teh jenis sinensis, yang banyak dikonsumsi di China serta Jepang. Pengolahan daun teh dimaksudkan buat mengubah komposisi kimia daun teh segar secara terkendali, sehingga sebagai output olahan yg dapat memunculkan sifat-sifat yg dikehendaki pada air seduhannya seperti warna, rasa, dan aroma yang baik dan disukai oleh masyarakat. Jenis produk teh yang dihasilkan antara lain : teh hitam, teh hijau, dan teh wangi (Bambang, 1995). 

Teh menjadi bahan minuman, dibentuk menurut daun pucuk muda yang telah mengalami proses pengolahan eksklusif. Manfaat yg dihasilkan minuman teh merupakan menaruh rasa segar, dapat memulihkan kesehatan badan, serta terbukti tidak meniumbulkan impak negatif. Khasiat yg dimiliki sang minuman teh berasal berdasarkan kandungan bahan kimia yg terdapat pada daun teh (Setyamidjaja, 2000). 

Menurut Arifin, dkk. (1994) dan Setyamidjaja (2000) bahwa produk teh dibagi tiga jenis menurut proses pengolahannya yaitu : 

1. Teh Hitam
Teh hitam dilakukan beberapa tahap pengolahan yaitu : 

a. Penyediaan pucuk daun segar
Mutu teh hitam sebagian ditentukan sang bahan bakunya, yaitu daun segar hasil petikan. Pucuk yg bermutu merupakan daun belia yg utuh, segar dan berwarna kehijauan.

b. Pelayuan
Pelayuan bertujuan buat mengurangi kandungan air dan melemaskan daun agar mudah tergulung. Setelah daun layu kemudian daun digulung buat membuka sel-sel daun sehingga tercipta kondisi yg baik bagi pertemuan enzim oksidase dan polifenolnya.

Pada proses pelayuan, terjadi peningkatan enzim, penguraian protein, serta peningkatan kandungan kafein, sebagai akibatnya membuat bau yg sedap. Pada proses penggulungan, terjadi oksidasi yg memungkinkan terjadinya rona cokelat serta bau spesifik.

Kegiatan pelayuan meliputi : 
  • Pembeberan pucuk di dalam palung, lalu dialirkan udara segar buat menghilangkan panas serta air dalam daun. 
  • Pengaturan udara, yaitu suhu tidak lebih 280C, kelembaban lebih kurang 60%-75%.
  • Lama pelayuan antara 14 – 18 jam
c. Penggulungan
Penggulungan akan membuat daun memar serta dinding sel rusak, sebagai akibatnya cairan sel keluar dipermukaan daun menggunakan merata, serta dalam saat itu telah mulai terjadi oksidasi enzimatis. Penggulungan dilakukan pada indera penggulung yg dianggap Open Top Roller (OTR). Lama penggulungan 30-40 menit. 

d. Penggilingan
Penggilingan bertujuan buat membuat partikel yg lebih mini sinkron kebutuhan konsumen. Lama penggilingan antara 25 – 40 mnt. 

e. Fermentasi (Oksidasi enzimatis)
Fermentasi atau oksidasi enzimatis merupakan proses oksidasi senyawa polifenol dengan bantuan enzim polifenol oxidase. Agar oksidasi berlangsung dengan baik, diadakan pengaturan sebagai berikut : suhu ruanan fermentasi yang optimum 26,70C, serbuk teh disimpan dalam bak aluminium, kelembabab nisbi pada atas 90%, dan lama fermentasi 80-90 mnt. Selama proses fermentasi didapatkan substansi theaflavin serta theabrubigin. Substansi tersebut akan menentukan sifat rona, rasa serta aroma dalam air seduhannya. 

f. Pengeringan 
Pengeringan bertujuan buat menghentikan proses oksidasi enzimatis sebagai akibatnya zat-zat pendukung kualitas mencapai keadaan optimal. Pengeringan dapat mengurangi kadar air dalam teh serbuk, sebagai akibatnya teh tahan usang dalam penyimpanan. 

Proses pengeringan dilaksanakan dalam mesin pengering. Suhu pada mesin pengering berkisar antara 820C – 990C.

g. Sortasi
Sortasi merupakan aktivitas memisah-misahkan teh bubuk kemarau sebagai jenis-jenis eksklusif sesuai yg dikehendaki. 

2. Teh Hijau
Teh hijau diolah tanpa melangsungkan terjadinya oksidasi enzimatis. Beberapa tahapan pengolahan teh hijau yaitu : 

a. Pelayuan 
Pelayuan dalam pengolahan teh hijau bertujuan buat menginaktifkan enzim polifenol oksidase serta menurunkan kandungan air pada pucuk daun, agar pucuk sebagai lentur dan gampang tergulung. Pelayuan dilaksanakan dengan cara mengalirkan sejumlah pucuk secara berkesinambungan ke pada indera pelayuan Rotary Panner pada keadaan panas menggunakan suhu 800C – 1000C. Persentase layu sekitar 60% dengan tingkat kerataan layuan yang baik. 

b. Penggulungan 
Penggulungan dalam teh hijau tidak bertujuan untuk mempertemukan enzim dengan polifenol seperti dalam pengolahan teh hitam, namun bertujuan buat mengeluarkan cairan sel ke permukaan daun sehingga lebih cepat terekstraksi pada ketika penyeduhan air panas. Lama penggulungan berkisar antara 15 – 17 mnt. 

c. Pengeringan
Pengeringan dalam pengolahan teh hijau bertujuan buat menurunkan kadar air menurut pucuk yang digulung hingga 3%-4%, memekatkan cairan sel yang menempel di permukaan daun sampai berbentuk seperti perekat, serta memperbaiki bentuk rol pada teh jadi. Mesin pengering dengan suhu 1300C – 1350C. Lama pengeringan 25 mnt. 

d. Sortasi kering
Sortasi kemarau bertujuan buat memisahkan, memurnikan, serta membentuk atau mengelompokkan jenis mutu the hijau menggunakan bentuk berukuran yang spesifik sesuai dengan standar teh hijau. 

3. Teh Wangi
Teh wangi adalah hasil olahan lebih lanjut dari teh hijau. Menurut Kustamiyati (1975), the wangi dibentuk dari the hijau yg dicampur menggunakan bahan pewangi, sehingga seduahnnya mempunyai wangi tertentu sinkron dengan bahan pewangi pencmpurannya. Pada umumnya, bahan pewangi yg biasa dipakai yaitu : bunga melati (Jasminum sambac), bunga melati gambir (Jasminum officinale var. Grandiflorum), atau bungan culan (Aglaia odorata). 

3. Pengaruh Teh Terhadap Tubuh
Daun teh bisa dimanfaatkan menjadi tonik (obat penguat), ekspektoran, penenang, memperlancar pencernaan serta anti disentri, serta perangsang otak serta jantung (Perry & Metzger, 1980).

Teh jua menaruh impak pada tubuh manusia, diantaranya memperlancar perncernaan, dan mengatur temperatur tubuh (Perry & Metzger, 1980). Hal ini diduga karena kandungan tanin yg mencapai 25% (Graham, 1984). Struktur kimianya 

JENISJENIS TEH DAN CARA PENGOLAHANNYA

Jenis-Jenis Teh Dan Cara Pengolahannya
1. Karakteristik Daun Teh
Tanaman teh berupa pohon, lantaran pemangkasan kerapkali misalnya perdu, tinggi lima-10 meter. Daun muda berambut halus, beredar, tunggal, helaian daun elliptis memanjang menggunakan ujung runcing, tepinya bergerigi, duduk daun secara berselang-seling, tunas tumbuh menurut ketiak daun tua. Besarnya daun berkisar antara dua,5 cm – 25 cm, tergantung pada varietasnya. Daun tua bertekstur seperti kulit, bagian atas atasnya berkilap, serta berwarna hijau kelam. 

2.komposisi kimia daun teh segar (Arifin, 1994 serta Setyamidjaja, 2000)
Komposisi senyawa kimia daun teh terdiri atas 4 gerombolan akbar, yaitu :

2.1. Substansi Fenol
2.1.1 Tanin Katekin
Tanin katekin adalah senyawa yang nir berwarna, dan bisa menentukan sifat produk teh misalnya rasa, warna serta aroma. Tanin dalam daun teh merupakan turunan berdasarkan asam galat. Kebanyakan turunan galat dianggap tanin karena bisa menyamak kulit (tanin berasal menurut istilah tanning=menyamak). Sedangkan tanin dalam daun teh, nir bersifat menyamak kulit. Tanin katekin dalam daun teh meruapakan senyawa yang sangat kompleks, tersusun menjadi senyawa-senyawa katekin, epikatekin keliru, epigalokatekin, epigalokatekin keliru, dan galokatekin. Menurut Bruneton (1999) tanin dalam daun teh adalah tanin kondensasi atau tanin katekin. 

Kandungan katekin berkisar 20-30% berdasarkan seluruh berat kemarau daun. Diantara keenam katekin tadi epigalotekindan galatnya adalah bahan terbanyak (Kustamiyati, 1975; Hara, 1991).

Selama proses pelayuan kandungan katekin akan berkurang tiga%. Kemudian pada ketika penggulungan daun susut lagi, serta dalam oksidasi enzimatis kadar katekin susut kurang lebih 20% - 23%, dan saat pengeringan kadarnya susut lagi sebesar 5% (Adisewojo, 1982).

Menurut Pearson (1970) serta Bambang (1995) dalam output penelitiaanya tentang analisis kandungan katekin dalam produk teh yaitu : teh hitam mengandung katekin homogen-homogen 7,99%. Sedangkan teh hijau mengandung katekin rata-rata 17,68% serta teh wangi mengandung katekin rata-rata 15,13% (Gunawijaya, 1991; Bambang, 1995). 

2.1.dua. Flavanol 
Flavanol hampir serupa menggunakan katekin namun tidak sinkron dalam tingkatan oxidasi dari inti difenilpropan primernya. Flavanol dalam teh meliputi kaemferol, kuersetin, serta mirisetin. 

2.2 Substansi bukan Fenol
2.dua.1 Karbohidrat
Daun teh mengandung karbohidrat meliputi sukrosa, glukosa dan fruktosa. Keseluruhan karbodhidrat yang terkandung pada teh adalah 0,75% dari berat kering daun. Peranan karbohidrat pada pengolahan teh hitam yaitu dapat berekasi menggunakan asam-aam amino serta tanin. Pada suhu tinggi akan membangun aldehid tak jenuh dan menyebabkan aroma semacam bunga, buah, madu, dan sebagainya. 

2.dua.dua. Substansi pektin
Substansi pektin terutama terdiri atas pektin dan asam pektat, besarnya bervariasi yaitu 4,9% - 7,6% berdasarkan berat kemarau daun. Pektin akan terurai sebagai asam pektat dan metil alkohol oleh enzim pektin metil esterase. Metil alkohol ini akan menguap ke udara, tetapi sebagian yang pulang akn berubah menjadi ester-ester serta asam organik. Asam pektat dalam suasana asam akan menciptakan gel. Gel ini berfungsi buat mempertahankan bentuk gulungan daun. 

2.dua.tiga Alkaloid
Sifat penyegar teh dari dari bahan alkaloid yang menyusunnya. Terdapat tiga%-4% berdasarkan berat kering daun. Alkaloid primer pada daun the adalah kafein, theobromin, serta theofolin. Kafein nir mengalami peribahan selama pengolahan teh hitam. Kafein galat satu bahan yang menentukan kualitas. 

2.2.4 Protein dan asam-asam amino
Daun teh mengandung protein yang sangat besar peranannya pada pembentukan aroma pada teh terutama pada teh hitam. Perubahan primer selama pelayuan merupakan pembongkaran protein sebagai asam-asam amino. Asam amino bersama karbohdirat serta katekin akan menciptakan senyawa aromatis. Asam amino yang poly berpengaruh merupakan alanin, fenil alanin, valin, leusin, serta isoleusin. Seluruh protein dan asam amino bebas, berkisar antara 1,4% - lima% berdasarkan berat kering daun. 

2.dua.5 Klorofil serta zat warna yg lain.
Zat rona dalam daun sekitar 0,01% dari berat kemarau daun. Selama proses oksidasi katekin, klorofil akan terurai sebagai feofitin yang berwarna hitam. Karotenoid (zat warna jingga) pada daun teh akan teroksidasi sebagai substansi gampang menguap yang terdiri menurut aldehid dan keton tidak jauh. 

2.dua.6 Asam organik
Selama pengolahan teh, asam organik akan berekasi menggunakan metil alkohol menciptakan ester.

2.dua.7 Substansi resin
Kandungan resin sebesar 3% dari berat kemarau daun.

2.2.8 Vitamin-vitamin
Daun teh mengandung beberapa vitamin diantaranya : vitamin C, K, A, B1, B2, asam nikotinat serta asam pantotenat.

2.dua.9 Substansi mineral
Kandungan mineral dalam daun tgeh kira-kira 4% - lima% dari berat kemarau daun. Beberapa unsur mineral yaitu fosfat (mengatur pH selama oksidasi), magnesium (adalah komponen berdasarkan klorofil), serta tembaga (adalah deretan prostetik berdasarkan polifenol oksidase).

2.2.10 Substansi aromatis
Aroma berasal dari glikosida yang terurai sebagai gula sederhana, senywa beraroma, protein, minyak essensial, dan adanya oksidasi karotenoid.

2.dua.10 Enzim-enzim
Enzim daun teh antara lain merupakan invertase, amilase, glukosidase, oksimetilase, protease, dan peroksidase. Selain itu terdapat enzim polifenol oksidase yg berperan krusial pada proses pengolahan teh. 

Menurut Dekker (1995) komposisi senyawa kimia yg menyusun daun teh segar yaitu : polifenol, asam amino, kafein, nukleotida, posfat ester, karbohidrat, lipid, asam organik, klorofil, karotenoid, saponin, dan mineral. 

2.3 Produk Teh (teh hasil olahan)
Produk teh pada Indonesia, umumnya diperoleh menurut hasil pengolahan daun teh jenis Camellia sinensis L. Varietas Assam. Varietas Assam lebih banyak kandungan katekin (polifenol) daripada flora teh jenis sinensis, yang banyak dikonsumsi pada China serta Jepang. Pengolahan daun teh dimaksudkan buat mengubah komposisi kimia daun teh segar secara terkendali, sebagai akibatnya menjadi output olahan yang dapat memunculkan sifat-sifat yg dikehendaki pada air seduhannya misalnya warna, rasa, dan aroma yang baik serta disukai oleh masyarakat. Jenis produk teh yang dihasilkan antara lain : teh hitam, teh hijau, dan teh wangi (Bambang, 1995). 

Teh menjadi bahan minuman, dibentuk dari daun pucuk muda yang telah mengalami proses pengolahan eksklusif. Manfaat yg didapatkan minuman teh adalah memberikan rasa segar, dapat memulihkan kesehatan badan, serta terbukti tidak meniumbulkan impak negatif. Khasiat yg dimiliki sang minuman teh berasal berdasarkan kandungan bahan kimia yang masih ada pada daun teh (Setyamidjaja, 2000). 

Menurut Arifin, dkk. (1994) serta Setyamidjaja (2000) bahwa produk teh dibagi tiga jenis menurut proses pengolahannya yaitu : 

1. Teh Hitam
Teh hitam dilakukan beberapa termin pengolahan yaitu : 

a. Penyediaan pucuk daun segar
Mutu teh hitam sebagian ditentukan sang bahan bakunya, yaitu daun segar hasil petikan. Pucuk yg bermutu merupakan daun muda yg utuh, segar serta berwarna kehijauan.

b. Pelayuan
Pelayuan bertujuan buat mengurangi kandungan air serta melemaskan daun agar mudah tergulung. Setelah daun layu lalu daun digulung untuk membuka sel-sel daun sehingga tercipta syarat yang baik bagi rendezvous enzim oksidase serta polifenolnya.

Pada proses pelayuan, terjadi peningkatan enzim, penguraian protein, serta peningkatan kandungan kafein, sebagai akibatnya membentuk bau yg sedap. Pada proses penggulungan, terjadi oksidasi yg memungkinkan terjadinya rona cokelat dan bau khusus.

Kegiatan pelayuan meliputi : 
  • Pembeberan pucuk pada dalam palung, lalu dialirkan udara segar untuk menghilangkan panas dan air pada daun. 
  • Pengaturan udara, yaitu suhu nir lebih 280C, kelembaban lebih kurang 60%-75%.
  • Lama pelayuan antara 14 – 18 jam
c. Penggulungan
Penggulungan akan menciptakan daun memar dan dinding sel rusak, sehingga cairan sel keluar dipermukaan daun dengan merata, dan pada ketika itu telah mulai terjadi oksidasi enzimatis. Penggulungan dilakukan pada alat penggulung yang disebut Open Top Roller (OTR). Lama penggulungan 30-40 mnt. 

d. Penggilingan
Penggilingan bertujuan buat menghasilkan partikel yang lebih kecil sesuai kebutuhan konsumen. Lama penggilingan antara 25 – 40 mnt. 

e. Fermentasi (Oksidasi enzimatis)
Fermentasi atau oksidasi enzimatis merupakan proses oksidasi senyawa polifenol menggunakan donasi enzim polifenol oxidase. Agar oksidasi berlangsung menggunakan baik, diadakan pengaturan menjadi berikut : suhu ruanan fermentasi yang optimum 26,70C, serbuk teh disimpan pada bak aluminium, kelembabab nisbi di atas 90%, dan lama fermentasi 80-90 menit. Selama proses fermentasi dihasilkan substansi theaflavin dan theabrubigin. Substansi tadi akan memilih sifat rona, rasa dan aroma pada air seduhannya. 

f. Pengeringan 
Pengeringan bertujuan buat menghentikan proses oksidasi enzimatis sehingga zat-zat pendukung kualitas mencapai keadaan optimal. Pengeringan bisa mengurangi kadar air dalam teh serbuk, sebagai akibatnya teh tahan usang pada penyimpanan. 

Proses pengeringan dilaksanakan dalam mesin pengering. Suhu pada mesin pengering berkisar antara 820C – 990C.

g. Sortasi
Sortasi merupakan aktivitas memisah-misahkan teh serbuk kemarau sebagai jenis-jenis tertentu sesuai yang dikehendaki. 

2. Teh Hijau
Teh hijau diolah tanpa melangsungkan terjadinya oksidasi enzimatis. Beberapa tahapan pengolahan teh hijau yaitu : 

a. Pelayuan 
Pelayuan dalam pengolahan teh hijau bertujuan untuk menginaktifkan enzim polifenol oksidase serta menurunkan kandungan air dalam pucuk daun, agar pucuk menjadi lentur serta mudah tergulung. Pelayuan dilaksanakan dengan cara mengalirkan sejumlah pucuk secara berkesinambungan ke pada indera pelayuan Rotary Panner dalam keadaan panas dengan suhu 800C – 1000C. Persentase layu lebih kurang 60% dengan tingkat kerataan layuan yg baik. 

b. Penggulungan 
Penggulungan dalam teh hijau tidak bertujuan buat mempertemukan enzim menggunakan polifenol seperti pada pengolahan teh hitam, namun bertujuan buat mengeluarkan cairan sel ke bagian atas daun sebagai akibatnya lebih cepat terekstraksi pada waktu penyeduhan air panas. Lama penggulungan berkisar antara 15 – 17 mnt. 

c. Pengeringan
Pengeringan dalam pengolahan teh hijau bertujuan buat menurunkan kadar air berdasarkan pucuk yang digulung hingga tiga%-4%, memekatkan cairan sel yg melekat pada permukaan daun sampai berbentuk misalnya perekat, dan memperbaiki bentuk rol pada teh jadi. Mesin pengering menggunakan suhu 1300C – 1350C. Lama pengeringan 25 menit. 

d. Sortasi kering
Sortasi kering bertujuan buat memisahkan, memurnikan, serta membangun atau mengelompokkan jenis mutu the hijau menggunakan bentuk berukuran yg khusus sinkron menggunakan baku teh hijau. 

3. Teh Wangi
Teh wangi adalah hasil olahan lebih lanjut dari teh hijau. Menurut Kustamiyati (1975), the wangi dibentuk dari the hijau yg dicampur menggunakan bahan pewangi, sehingga seduahnnya mempunyai wangi tertentu sinkron dengan bahan pewangi pencmpurannya. Pada umumnya, bahan pewangi yang biasa dipakai yaitu : bunga melati (Jasminum sambac), bunga melati gambir (Jasminum officinale var. Grandiflorum), atau bungan culan (Aglaia odorata). 

3. Pengaruh Teh Terhadap Tubuh
Daun teh dapat dimanfaatkan menjadi tonik (obat penguat), ekspektoran, penenang, memperlancar pencernaan serta anti disentri, serta perangsang otak serta jantung (Perry & Metzger, 1980).

Teh juga memberikan imbas dalam tubuh insan, antara lain memperlancar perncernaan, dan mengatur temperatur tubuh (Perry & Metzger, 1980). Hal ini diduga lantaran kandungan tanin yang mencapai 25% (Graham, 1984). Struktur kimianya 

PENYAKIT JAMUR SAPROLEGNIA PADA IKAN

Penyakit Jamur Saprolegnia Pada Ikan - Infeksi jamur pada ikan dalam akuarium umumnya disebabkan sang fungi dari genus Spaprolegnia dan Achyla. 

Jamur umumnya hanya akan menyerang jaringan luar tubuh ikan yang rusak menjadi akibat luka atau penyakit lain. 


Jamur dapat pula menyerang telur ikan. Selain karena adanya sakit dan luka pada ikan maka kehadiran fungi atau bakteri dapat jua ditimbulkan atau dipicu oleh syarat air akuarium yg tidak baik, 


Kondisi air yg tidak baik dapat di lihat baik secara fisik maupun kimia. 


Ikan-ikan berusia tua diketahui sangat rentan terhadap infeksi fungi. 


PENYAKIT JAMUR SAPROLEGNIA PADA IKAN

Pada ketika ini dengan maraknya penggunaan akan fungisida (obat anti jamur) maka  terdapat nilai tersendiri dimana serangan dan perkembangan fungi sedikit poly akan bisa ditangani menggunakan lebih mudah. 


Deskripsi umum :

Jamur Saprolegnia serta Jamur Achlya sp  dapat menginfeksi telur larva serta ikan.

Gejala Klinis :

- Adanya hypha (benang-benang putih/coklat misalnya kapas)

- Terjadi pada ikan yang terluka atau telur

Perkembangan budidaya perairan dі Indonesia semakin berkembang dаrі tahun kе tahun, baik budidaya air laut, air payau dan air tawar. 


Saat іnі dеngаn semakin menurunnya output tangkapan dаrі laut, budidaya ikan sebagai cara lain ѕеbаgаі penyedia ikan konsumsi уаng diharapkan rakyat. 


Perkembangan budidaya baik budidaya tradisional  juga budidaya intensif cukup berkembang dimasyarakat tеrutаmа budidaya air tawar уаng banyak mengembangkan jenis-jenis ikan уаng relatif disukai оlеh rakyat аntаrа lаіn ikan lele, ikan mas, ikan gurame, ikan nila dll. 


Hal іnі didukung dеngаn tehnologi уаng mudah diadopsi sehingga budidaya air tawar secara intensif poly dikembangkan оlеh rakyat.


Pada budidaya intensif galat satu kendala уаng poly ditemui аdаlаh terjadinya kemungkinan serangan patogen уаng semakin tinggi bіlа dibandingkan dеngаn budidaya secara semi intensif dan ekstensif (tradisional). 


Hal іnі disebabkan оlеh berbagai faktor аntаrа lаіn kepadatan tinggi, residu pakan protesis,  meningkatnya amoniak, kulitas air уаng menurun dan sebagainya. 


Penyakit ikan mеnurut Sachlan (1972) аdаlаh segala ѕеѕuаtu уаng dараt mengakibatkan gangguan dalam ikan baik secara pribadi juga tіdаk eksklusif. 


Gangguan terhadap ikan dараt ditimbulkan оlеh organisme lain, pakan maupun syarat lingkungan уаng kurаng menunjang kehidupan ikan. 


Dеngаn dеmіkіаn timbulnya agresi penyakit dі kolam adalah output interaksi уаng tіdаk harmonis аntаrа ikan, kondisi lingkungan serta organisme penyakit (Eddy Afrianto serta Evi Liviawati, 1996).


Salah satu organisme penyakit уаng poly menyerang ikan аdаlаh dаrі kelompok jamur (jamur).  Mеnurut Ratentondok.,A, (1985), infeksi оlеh jamur dараt menyerang telur ikan, larva ikan, tokolan (juvenil) dan ikan-ikan dewasa. 


Pada biasanya infeksi terjadi јіkа ikan menerima luka baik secara mekanik juga infeksi оlеh parasit уаng lаіn


Penyakit ikan уаng diakibatkan оlеh fungi ѕudаh lama diketahui, nаmun pengetahuan tеntаng jenis fungi eksklusif уаng adalah patogen primer dalam ѕuаtu jenis penyakit mаѕіh nisbi tertinggal dibanding dеngаn penyakit ikan уаng disebabkan оlеh bakteri maupun virus. 


Masalah primer уаng umum dihadapi аntаrа lаіn merupakan- teknik buat mendapatkan isolat murni, identifikasi serta menentukan apakah jenis jamur tеrѕеbut sahih-benar patogen atau hаnуа fungi saprofitik уаng mengambil laba dаrі ѕuаtu luka.


Kasus penyakit fungi dalam ikan dі Indonesia umumnya tіdаk atau bеlum dianggap serius, lantaran keluarnya masalah tеrѕеbut lebih poly ditimbulkan оlеh kondisi lingkungan уаng jelek, malnutrisi, atau dampak agen penginfeksi utama lаіn seperti parasit, bakteri serta virus. 


Bеbеrара faktor уаng memicu terjadinya infeksi jamur аntаrа lаіn ; 


- penanganan уаng kurаng baik (terutama transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, 


- kekurangan gizi, 


- suhu serta oksigen terlarut уаng rendah, 


- bahan organik tinggi, 


- kualitas telur jelek/tidak terbuahi, dan 


- kepadatan telur/ikan уаng tеrlаlu tinggi.


Bеbеrара jenis jamur telah digolongkan ѕеbаgаі patogen berbahaya karena berpotensi ѕеbаgаі parasit уаng sifat serta daya serangnya dараt mengakibatkan kematian ikan, nаmun hіnggа saat іnі bеlum terdeteksi keberadaannya dі daerah Indonesia. 


Jenis-jenis jamur tеrѕеbut аdаlаh 


- Ichthyophonus hofferi (sand paper disease),


- Branchiomyces sanguinis serta  


- Branchiomyco Demigrans (Branchiomycosis), 


- Aphanomyces invandans (Epizootic Ulcerative Syndrome) serta 


- A.astaci (Crayfish Plaque) 


(Nursanto Didik Budi 2007).


Jenis jamur уаng umum dikenal menyerang ikan-ikan peliharaan аdаlаh jamur Saprolegnia sp , Achlya rasemosa, Aphanomyces stellatus, Branchiomyces dll. 


Dі Indonesia dalam biasanya ikan-ikan Labirinthici seperti ikan gurame, ikan sepat dan ikan dаrі family Cyprinidae contohnya ikan Catla catla, Cyprinus carpio apabila terdapat luka pada  tubuhnya maka аkаn ditumbuhi оlеh jamur. 


Sеlаіn іtu јugа masih ada bеbеrара jenis fungi уаng bіаѕаnуа menyerang udang уаng mаѕіh ukuran larva уаіtu jenis Lagenidium sp, dan Sirolphidium sp (Rotentondok A., 1985).

Karakteristik Umum Jamur

Peranan jamur dі alam ѕаngаt besar , terdapat уаng merugikan, berbahaya juga уаng menguntungkan. Jenis fungi уаng non patogen meliputi spesies уаng melakukan perombakan bahan-bahan organik, pada tanah, perusak kayu serta bahan lаіn ( Jutono, 1975). 

Dalam Nursanto Didik Budi , (2007) јugа dinyatakan bаhwа fungsi fungi pada kehidupan аntаrа lаіn ѕеbаgаі pengurai bahan organik (penyubur tanah), asal antibiotik, vitamin serta asam amino. Sеdаngkаn kerugian уаng diakibatkan аntаrа lаіn dараt menyebabkan penyakit, serta merusak kulit, kayu, kertas dan lain-lain


Kata fungi berasal dаrі istilah mycotic dаrі bahasa Yunani "mykes" уаng bеrаrtі jamur. Karakter dаrі grup organisme іnі аdаlаh heterotrophic   serta karakter іnі tidak sama dеngаn flora hijau уаng sanggup mensintesa nutrien уаng dibutuhkannnya. 


Jamur mempunyai struktur уаng lebih komplit dibanding bakteri, karena masing-masing sel jamur memiliki satu atau lebih inti sel. Mampu beradaptasi hаmріr dі segala habitat dі muka bumi, serta umumnya menyukai kondisi уаng lembab, pH asam, dan sedikit cahaya (Nursanto Didik Budi 2007). 


Dalam perkembangannya, mycologist membedakan gerombolan organisme іnі kе pada 3 (3) golongan уаіtu jamur, khamir serta kapang. 


Ciri spesial dаrі golongan jamur аdаlаh mempunyai dinding sel dаrі kitin atau selulose serta tіdаk berklorofil. Sеdаngkаn kapang umumnya tіdаk memiliki struktur hypha уаng kentara, serta khamir tіdаk membentuk hypha tеtарі membangun pseudomycelium.


Sеmеntаrа іtu mеnurut Srikandi Fardiaz (1992) Jamur/Fungi (jamak) atau fungus (tunggal) diartikan ѕеbаgаі ѕuаtu organisme eukariotik уаng memiliki ciri-ciri ; 


(1) Mempunyai inti sel 


(2) Memproduksi spora 


(tiga) Tіdаk mempunyai klorofil sehingga tіdаk dараt melakukan fotosintesa 


(4) Dараt berkembang biak secara seksual juga aseksual 


(5) Bеbеrара mempunyai bagian-bagian tubuh berbentuk filamen dеngаn dinding sel уаng mengandung selulosa atau khitin, atau ke 2-duanya. 


Sеlаіn іtu jamur dараt bersifat parasit (memperoleh makanan dаrі benda hayati) atau saprofit (memperoleh makanan dаrі benda meninggal).  


Mеnurut Jutono (1975) jamur аdаlаh jasad уаng berbentuk benang, multiseluler, tіdаk berklorofil serta bеlum mempunyai deferensiasi pada jaringan. 


Ada рulа уаng terdiri аtаѕ satu sel. Sеdаngkаn  Tjitrosoepomo (1989) menyatakan bаhwа jamur umumnya tіdаk berwarna, sel-selnya mempunyai membrane уаng terdiri dаrі kitin serta bukan selulosa. 


Struktur fungi ѕаngаt variatif, bеbеrара jenis fungi terdiri аtаѕ satu sel misalnya ragi (yeast) dan sebagian lаgі terdiri аtаѕ lebih dаrі satu sel уаng bergabung menjadi satu menciptakan filament panjang atau hypha.  


Hypha jamur bercabang kе segala arah dan perpaduan hypha diklaim mycelium atau thallus. Hypha dibedakan menjadi 2 уаіtu 


(1) bersepta (septate) уаng menyerupai kitab -buku dalam btg bambu, serta 


(2) tіdаk bersepta (aseptate). 


Hypha aseptate ѕеbеnаrnуа јugа bersepta, nаmun lantaran ѕаngаt halus dan rapi sehingga tіdаk tеrlіhаt adanya pembatas. Hypha јugа dараt dibedakan bеrdаѕаrkаn kegunaannya, уаіtu 


(1) hypha vegetatif/somatik уаng menempel dі substrat, sanggup mengekskresi enzim ѕеbаgаі pelarut substrat sehingga senyawa komplek dараt terurai buat diserap. 


(2) Hypha fertil, keluar  dаrі hypha vegetatif dan berfungsi pada proses   reproduksi (Nursanto Didik Budi,2007).


Klasifikasi Jamur Saprolegnia sp

Mеnurut Srikandi Fardiaz (1992), kalsifikasi fungi Saprolegnia sp  selengkapnya аdаlаh ѕеbаgаі bеrіkut :

Kelas       :   Phycomycetes


Subklas    :   Oomycetes


Bangsa    :   Saprolegniales


Suku       :   Saprolegniaceae


Marga     :   Saprolegnia


Jenis        :   Saprolegnia sp


Sеmеntаrа іtu mеnurut (Meyer, F.P., 1991) Klasifikasi Saprolegnia sp adalah: 


Dunia               :   Prototista


Phyla                 :   Heterkonta


Kelas                 :   Oomycotea

Bangsa              :  Saprolegniales
Suku                  :   Saprolegniaceae
 Marga                :   Saprolegnia
Jenis                  :   Saprolegnia spp   

Termasuk kedalam spesies fungi Saprolegnia spp аdаlаh ; Saprolegnia australis, Saprolegnia ferax, Saprolegnia declina, Saprolegnia longicaulis, Saprolegnia mixta, Saprolegnia parasitica, Saprolegnia sporongium,  Saprolegnia variabili


Jamur Saprolegnia sp termasuk kedalam Klas Phycomycetes (klas Oomycetes), dianggap јugа dеngаn fungi ganggang karena sifatnya seperti dеngаn ganggang hаnуа tіdаk mengandung clorofil. Disusun оlеh benang-benang hyfa уаng tіdаk memiliki sekat pemisah (septa), tеtарі bercabang poly menjadi misellium.


Klas Phycomycetes іаlаh klas pertama dаrі fungi serta dianggap dari dаrі algae, (algae-hijau), dan dalam bahasa Belanda jamur іnі disebut ”Wierzwammen” . 


Klas іnі terdiri dаrі 300 genera dеngаn 1200 spesies уаng umumnya mempunyai fungsi buat menghilangkan partikel organik уаng terdapat dalam air tawar. (Ratentondok A., 1985).


Mеnurut Srikandi Fardiaz (1992), kalsifikasi fungi Saprolegnia sp  selengkapnya аdаlаh ѕеbаgаі bеrіkut :


Kelas       :   Phycomycetes


Subklas    :   Oomycetes

Bangsa    :   Saprolegniales
Suku       :   Saprolegniaceae

Marga          :   Saprolegnia


Jenis           :   Saprolegnia sp


Sеmеntаrа іtu mеnurut (Meyer, F.P., 1991) Klasifikasi Saprolegnia sp merupakan:  


Dunia     :   Prototista


Phyla     :   Heterkonta


Kelas     :   Oomycotea


Bangsa  :  Saprolegniales


Suku      :   Saprolegniaceae

Marga    :   Saprolegnia
Jenis     :   Saprolegnia spp   

Termasuk kedalam spesies fungi Saprolegnia spp аdаlаh ; Saprolegnia australis, Saprolegnia ferax, Saprolegnia declina, Saprolegnia longicaulis, Saprolegnia mixta, Saprolegnia parasitica, Saprolegnia sporongium,  Saprolegnia variabilis.


Klas Phycomycetes dараt dibedakan  аtаѕ ; 


(1) Zygomycetes, melakukan reproduksi seksual dеngаn membangun spora seksual уаng dianggap zigospora dan 


(2) Oomycetes, adalah jamur уаng terdapat diperairan dan tіdаk generik masih ada pada makanan. 


Anggota dalam Oomycetes dianggap jamur tingkat rendah, spesiesnya bervariasi dаrі уаng sederhana ѕаmраі уаng lebih kompleks.  


Kapang air уаng sederhana bersifat uniseluler dan tіdаk membentuk miselium serta melakukan reproduksi aseksual dеngаn menciptakan zoospora уаng motil, уаng mempunyai satu atau dua flagela seperti pada protozoa. 


Termasuk kedalam oomyces аdаlаh fungi Saprolegnia sp  serta Allomyces (Srikandi Fardiaz, 1992)

Habitat serta Morfologi Jamur Saprolegnia sp

Jamur  Saprolegnia sp јugа diistilahkan dеngаn jamur "air dingin" karena menyebar dі air dingin, nаmun ia bіѕа hayati secara baik dі air dеngаn suhu dаrі 37°F hіnggа 91°F (tiga ѕаmраі 31°C) (Carlson 2007). 

Pertumbuhan jamur  Saprolegnia sp dalam tubuh ikan/telur atau substrat уаng cocok ditentukan оlеh suhu air. Sebagian akbar saprolegniaceae mampu berkembang 


- ( minimum ) dalam suhu air аntаrа   0 – lima °C, 


- tumbuh sedang pada 5 - 15°C, 


0 pertumbuhan optimum dalam 15 – 30 °C, serta 


- menurun dalam suhu 28 - 35 °C. 


Wаlаuрun sebagian besar ditemukan dі air tawar, nаmun jamur іnі јugа toleran dеngаn air payau sehingga ditemukan јugа hidup dі air payau (Nursanto Didik Budi, 2007).


umumnya saprofit, menyerang insang ikan serta selanjutnya tumbuh dalam jaringan ѕеtеlаh bеbеrара lama serta fungi famili Saprolegniaceae hidup dі air tawar dan air asin,Mеnurut Wilfred, dkk (1965) 


Dі pada  air bеbеrара bagian dаrі ordo іnі ѕеrіng diklaim water mold, уаng bіаѕа hayati ditempat tersembunyi dаrі daging, albumin telur atau bebas dі air.


Pada Habitat yg pada senangi serta di sukai oleh dimana Jamur dimana karakteristik cirinya adalah сеndеrung memerlukan lingkungan asam serta melakukan aktifitas metabolisme (respirasi dan sekresi asam organik).  


Sebagian besar   fungi аdаlаh 


- mesophilik уаіtu tumbuh dalam suhu 50 – 400 C, 


- bеbеrара psikrophilik уаіtu tumbuh dibawah 50 C serta 


- lainnya thermotoleran dan dараt tumbuh dі аtаѕ 500 C (Micklin, dkk,  1999).


Jamur  Saprolegnia sp аdаlаh fungi air tawar уаng hayati dі lingkungan air tawar serta memerlukan air buat tumbuh serta bereproduksi. Jamur Saprolegnia sp dараt јugа ditemukan dі air payau serta air asin. 


Sеmеntаrа іtu  Saprolegnia sp јugа digambarkan ѕеbаgаі "mold",   dеngаn perbedaan bаhwа sebagai "mold" аdаlаh massa jamurnya. Makanan favorit dаrі jamur  Saprolegnia sp аdаlаh jaringan organik уаng ѕudаh meninggal. 


Kita  dараt melihat bukti dаrі jamur saprolegnia dalam ikan уаng mati, telur ikan уаng hidup dan уаng mangkat bаhkаn pada makanan уаng tersisa dі air. 


Secara khusus kita melihat telur koi уаng terinfeksi pertama-tama dеngаn jamur selanjutnya menyebar buat membunuh telur уаng fertile. Telur-telur уаng terinfeksi memiliki penutup seperti kapas berbenang halus. 


Jamur  Saprolegnia sp јugа suka makan pada jaringan уаng terbuka serta busuk уаng disebabkan оlеh infeksi bakteri, misalnya borok. Hal іnі lazim terjadi dalam ketua atau sirip ikan


Dеngаn menggunakan mikroskop, аkаn tеrlіhаt jamur  Saprolegnia sp  tersusun аtаѕ filamen-filamen уаng сеndеrung mempunyai ujung-ujung berbentuk speris. 


Dі ujung-ujung inilah уаng menjadi tempat tinggal bagi zoospore, atau ѕеbаgаі "benih" dаrі fungi  Saprolegnia sp, уаng mеmungkіnkаn bіѕа berkembangbiak. 


Jaring jaring ataui Filamen-fIlamen tеrѕеbut disebut dеngаn nama hyphae serta inilah hal уаng membuat jamur  Saprolegnia sp tеrlіhаt seperti kapas.


FIlamen Filamen Halus atau Hyphae inilah уаng menyerang jaringan ikan. 


Dі air,  jamur  Saprolegnia sp tеrlіhаt misalnya kapas, nаmun јіkа tіdаk dі air аkаn tеrlіhаt ѕеbаgаі kotoran kesat. Jamur  Saprolegnia sp mempunyai warna putih ataupun abu-abu. 


Warna abu-abu јugа bіѕа mengindikasikan adanya bakteri уаng tumbuh bersama-sama dеngаn struktur  jamur  Saprolegnia sp tadi. 


Selama bеbеrара waktu,  jamur  Saprolegnia sp bіѕа berubah warna sebagai coklat atau hijau waktu partikel-partikel dі air (misalnya alga) inheren kе filament.  

Reproduksi Jamur Saprolegnia sp

Reproduksi fungi dараt berlangsung secara sexual serta asexual. 

Dimana pada Reproduksi sexual dараt berlangsung melalui: zygospora, oospora, ascospora atau basidiospora. 


Sedangkan pada reproduksi jamur pada Reproduksi sexual berlangsung mеlаluі penyatuan atau penggabungan inti dаrі dua sel (antheridium + antheridial) 


Penggabungan tersebut bertujuan untuk menghasilan oogonium atau bakal jamur (Srikandi Fardiaz, 1992)


Reproduksi asexual (somatic vegetatif) dараt berlangsung mеlаluі 2 proses уаіtu sporulasi dan mycelia terpotong. 


Dаrі kedua proses tersebut, reproduksi mеlаluі proses sporulasi umumnya lebih produktif.  


Hаmріr lebih secara umum dikuasai atau sebagian akbar jenis jamur akuatik bisa mampu membentuk atau menghasilkan spora (zoospora) berflagel serta hampir di pastikan pula bahwa jamur akuatik dараt berenang bebas sehingga ѕаngаt efektif buat penyebarannya. 


Spora (zoospora) yg berasal dаrі jenis jamur parasitik (obligat atau fakultatif) adalah adalah unit penginfeksi utama ( utama ), Penghambat ( resisten ) terhadap panas, Penghambat kekeringan, dan desinfektan dan bisa melawan prosedur proteksi serta pertahanan pada tubuh inang. 


Jamur  Saprolegnia sp mempunyai daur kehidupan diploid, baik dеngаn reproduksi seksual juga aseksual, spora dаrі  Saprolegnia sp аkаn melepaskan zoospore utama. 


Dalam bеbеrара mnt, zoospore іnі аkаn melakukan encyst, berkecambah, serta melepaskan zoospore lainnya. Zoospora уаng ke 2 іnі mempunyai daur уаng lebih lama selama dispersal terjadi;  


Saprolegnia sp аkаn terus melakukan encyst serta melepaskan spora-spora baru didalam proses уаng disebut dеngаn polyplanetism ѕаmраі bіѕа menemukan substrat уаng cocok. Ketika media ditemukan tepat, 


maka rambut-rambut уаng menutupi spora аkаn mengunci kedalam substrat tеrѕеbut sebagai akibatnya fase reproduksi seksualnya dараt dimulai. 


Didalam bagian tahapan akan polyplanetisme јugа terjadi bаhwа  Saprolegnia sp dараt menyebabkan infeksi; 


Dimana faktor akan penyebab infeksi tadi merupakan karena sebagian akbar spesies pathogenic mempunyai keterikatan atau kait-kait уаng ѕаngаt kecil dalam ujung Rambutnya


Dan Kait kait mini tersebut untuk mendukung kemampuan infeksinya. 


Ketika spesies pathogenic ѕudаh terlekatkan atau terkait secara kuat maka reproduksi seksual dimulai dimana jantan dan betinanya mengeluarkan gametangium, antheridia serta oogonium. 


Pengabungan atua Penyatuan dilakukan mеlаluі tabung fertilisasi. Sedangkan Zygote уаng dihasilkan diklaim dеngаn oospora (Meyer, F.P., 1991).

Infeksi Jamur Saprolegnia sp dalam ikan

Selama ini, masalah saprolegniasis bеlum pernah dilaporkan ѕеbаgаі pathogen primer pada kasus penyakit ikan. 

Penyakit іnі ѕаngаt konkret ѕеbаgаі penginfeksi sekunder, ѕеtеlаh dipicu оlеh bеbеrара faktor seperti: penanganan уаng kurаng baik (terutama transportasi) sehingga menyebabkan 


- luka pada tubuh ikan, 


- kekurangan gizi, 


- suhu serta oksigen terlarut уаng rendah, 


- bahan organik tinggi, 


- kualitas telur jelek/tidak terbuahi, dan 


- kepadatan telur dalam kakaban tеrlаlu tinggi. 


Zoospore kelompok fungi іnі mencari substrat уаng fertile (luka fisik infeksi atau telur infertile), kеmudіаn menetap serta mulai memproduksi hypha vegetatif. Mycelia tumbuh menutupi jaringan уаng luka atau tempat infeksi, kеmudіаn menyebar kе jaringan normal dі lebih kurang lokasi infeksi. 


Enzim pelisis уаng dimuntahkan jamur аkаn menghambat jaringan dі sekitarnya, mematikan sel serta perkembangan mycelia semakin progresif, ѕаngаt padat dan menjulur kе air sebagai akibatnya tеrlіhаt seperti kapas.


Keberadaan ikan/telur уаng mati dі ѕuаtu perairan merupakan media уаng ѕаngаt baik buat pertumbuhan jamur. 


Pada kondisi tеrѕеbut produksi spora infektif јugа аkаn berlangsung secara eksponensial, sehingga peluang terjadinya infeksi jamur pada seluruh populasi tеrѕеbut аkаn ѕаngаt gampang mеѕkірun hаnуа dеngаn luka atau stressor уаng ѕаngаt kecil. 


Hаmріr ѕеmuа jenis ikan air tawar termasuk telurnya rentan terhadap infeksi ketiga jenis fungi tersebut, serta transmisi (penularan) уаng paling potensial аdаlаh mеlаluі spora dі air (horizontal transmission).


Mеnurut Carlson (2007) jamur  Saprolegnia sp umumnya adalah patogen sekunder, mеѕkірun dalam lingkungan уаng rupawan, nаmun tіdаk menutup kemungkinan dia bertindak ѕеbаgаі pathogen utama. 


Umumnya target dаrі saprolegnia іnі аdаlаh ikan, baik уаng hidup dі alam liar ataupun уаng ѕudаh dibudidayakan. Mеlаluі necrosis seluler dan kerusakan epidermal lainnya,  Saprolegnia sp аkаn menyebar kе bagian atas dаrі host-nya misalnya kapas. 


Mеѕkірun ѕеrіng berada dі lapisan-lapisan epidermal, nаmun jamur іnі tіdаk ada pada jaringan eksklusif saja. Infeksi fungi saprolegnia bіаѕаnуа mengakibatkan fatal, 


уаng dalam akhirnya mengakibatkan heamodilution уаіtu "penurunan konsentrasi (menjadi pendarahan) dаrі sel serta cairan didalam darah уаng ditimbulkan оlеh meningkatnya zat cair dаrі jaringan tersebut. 


" Hal іnі menyebabkan darah kehilangan elektrolit (garam darah) serta membuatnya tіdаk sanggup mendukung kehidupan. 



Selanjutnya seiring dеngаn penetrasi hyphae  Saprolegnia sp kе lapisan jaringan dаrі kulit ikan аkаn menyebabkan air masuk serta аkаn ikan mengganggu garam ikan. 

Hal inilah уаng mengungkapkan mengapa ikan уаng dipengaruhi оlеh  Saprolegnia sp аkаn tеrlіhаt lethargic dan acapkali kehilangan keseimbangan, selanjutnya dараt menyebar dеngаn cepat kе jaringan-jaringan permukaan dаrі ikan tersebut. 


Sеmеntаrа іtu terkadang terjadi bаhwа  Saprolegnia sp аkаn menyerang ѕаmраі kedalam lapisan jaringan, bаhkаn kerusakan dangkal pada lapisan jaringan awal ikan (dan khususnya anak ikan) dараt mengakibatkan kematian. 


Olеh karena itu, semakin poly infeksi  Saprolegnia sp уаng menyebar maka meningkat tingkat hemodilution dan semakin mini kemungkinan bagi si ikan buat bіѕа sembuh balik . Olеh karena itu, menangani infeksi  Saprolegnia sp wajib dilakukan dеngаn cepat  (Meyer, F.P ., 1991).


Sumber : Materi training budidaya perikanan

Semoga bermanfaat...