PESTISIDA BOTANI

Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.

•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT.Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.
•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT. 

PESTISIDA NABATI DARI DAUN MIMBA

1.PestisidaNabati Dari Daun Mimba:
Pestisida botani diartikan menjadi pestisida yangdiekplorasi berdasarkan tunbuhan. Oleh lantaran kandunngan bioktifnya, flora tersebutdapat dipakai untuk pengendalian organisme pengganggu flora (OPT). Nimba (Azadirachta indica, Meliaceae )adalah flora asli dari India, tetapi sekarang dikembangkan pada AsiaTenggara, Afrika, Fuji serta Amerika Tengah. Pohon nimba bisa tumbuh dilahankritis     ( kering nir subur ) serta menghasilkanzat bioaktif lebih banyak daripada ditanah fertile.  Adapun keuntungan memakai pestisidanabati merupakan :
-Bahan bakunya gampang didapat
-Pembuatan ekstraknya mudah, sederhana dan dalamwaktu yang tidak lama
-Selektif
-Bahan bisa dipakai baik pada keadaan segarataupun kering
-Efek residunya singkat
-Budidayanya gampang serta bersifat multiguna.

2. Bahan :
-Daun Nimba dua kg
-Lengkuas 1 kg
-Serai 1 kg
-Detergen/sabun colek 1 sdk mkn
-Air 1-2 liter

Alat         :

-Blender/ penumbuk
-Bascom
-Gayung
-Dirigen
-Saringan

3.Cara membuatnya:
1.  Daun Nimba, lengkuas, serai ditumbuk halus (diblender ) sampai halus. Lalu direndam kedalam dua liter air selama 24 jam.
2.  Kemudian disaring buat mendapatkanekstraknya.
3.  Dimasukkan kedalam dirigen ( wadah ) untukdisimpan buat siap diaplikasikan
4.  Sabun colek/detergen dicampur pada ketika maudiaplikasi.

4.Cara Aplikasi :
200cc – 500 cc larutan ( ekstrak ) + 10 liter air di masukkan kedalam tangkisemprot.

Kegunaan Pestisida nabati daun nimba diantaranya :
-Untuk mengendalikan hama kutu daun dalam tanamansayuran.
-Keriting pada flora cabe
-Dan buat mengendalikan hama lain pada tanamanhortikultura padaumumnya.

Manfaat lain


Selain sebagai bahan pestisida nabati nimba jugaberguna menjadi bahan sabun mandi, pasta gigi, obat-obatan, sayur-sayuran,kuliner ternak serta tumbuhan hias.

BUDIDAYA BUAH NAGA

I.PENDAHULUAN

1.1LatarBelakang

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen,butir naga sekarang marak dikebunkan. Penanaman buah naga beredar pada Jawa Timur,Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga ke Kalimantan. Kebun-kebun butir naga jugabanyak ditemui. Memang, budidaya butir naga tergolong mudah serta minim perawatan.selain pada lahan luas, butir naga pula mampu diusahakan pada huma sempit seperti dikebun juga halaman rumah menggunakan memakai pot. Itulah sebabnya parapembudidaya buah naga sanggup
Penanaman buah naga sekarang diarahkanke sistem budidaya organik. Dengan membudidayakan butir naga secara organik,bisa dihasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik. Keuntungan berdasarkan teknikbudidaya buah naga secara organik adalah butir yg dihasilkan sehat tanpaadanya sisa bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia serta lingkungansekitar. Dengan demikian pencemaran lingkungan baik air, udara, juga tanaholeh paparan pestisida bisa dikurangi. Disamping itu, penggunaan bahan organikjuga dapat mengembalikan kesuburan tanah, sebagai akibatnya tanah mampu dipakai untukproses budidaya pertanian berkelanjutan.
1.2Tujuan

Adapun konklusi merupakan sebagaiberikut :
1.untukmenjadi petunjuk teknis bagi pelaku utama serta keluarga dalam melakukan budidayaBuah Naga.
2.untukmerubah produksi Buah Naga menjadi optmal dan merubah pendapatan pelaku utamdan keluarganya sebagai lebih baik.

II.BUDIDAYABUAH NAGA

2.1 Syarat Tumbuh

Buah naga sepesies Hylocereus undatus, yaitubuah naga dengan daging putih akan tumbuh baik pada ketinggian kurang dari 300mdpl, sedangkan butir naga spesies Hylocereus costaricensis, yaitu buahnaga menggunakan daging super merah (super red) tumbuh baik pada ketinggian0-100mdpl. Sementara itu butir daga spesies Selenicereus megalanthus,yaitu buah naga dengan kulit kuning, daging putih tanpa sisik, akan tumbuh baikpada wilayah dingin dengan ketinggian lebih berdasarkan 800 mdpl..
Tanaman butir naga lebih menyukai syarat keringdibandingkan dengan kondisi basah dengan curah hujan rendah yaitu 720 mm/tahun.buah naga masih dapat tumbuh pada curah hujan tinggi yaitu antara 1.000-1.300mm/tahun, akan namun rentang terjangkit penyakit busuk akar serta busuk batang.hal ini disebabkan flora buah naga nir tahan genangan air.
2.2Persiapan Lahan

Pemilihan lokasi budidaya butir naga perludiperhatikan, hal ini bertujuan buat memenuhi kondisi tumbuh yg optimal bagipertumbuhan butir naga. Pemilihan lokasi yg sempurna akan menjadi faktor pertamayang menentukan keberhasilan budidaya buah naga. Setelah memilih lokasibudidaya maka langkah selanjutnya merupakan melakukan pengukuran pH tanah untukmenentukan jumlah hadiah kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (dibawah 6,5). Pengukuran sanggup dilakukan menggunakan kertas lakmus, PH meter, ataucairan PH tester. Pengambilan titik sampel mampu dilakukan menggunakan cara zigzag.
Buah naga merupakan tanaman merambat sehingga dibuthkan tiang panjatan untukmenopang pertumbuhan btg dan cabangnya. Bentuk atau contoh tiang panjatandalam budidaya butir naga ada macam, yaitu bentuk tunggal serta bentuk kelompokatau pagar. Tiang panjatan wajib kuat dan bisa bertahan selama beberapa tahunkarena umur tanaman buah naga yg panjang.
ØTiang panjatan bentuktunggal
Tiang panjatan bentuk tunggal mampu memakai betonatau tiang panjatan hayati dari batang tanaman . Tiang panjatan ini digunakanuntuk menopang empat tanaman yg berproduksi menggunakan produktifitas homogen-rata 3kg per-tumbuhan. Para pembudidaya butir naga umumnya memakai tiang panjatanyang terbuat berdasarkan beton atau pipa PVC. Bentuk tiang panjatan sanggup persegi,bulat, segitiga atau bentuk yg lain sesuai dengan kesukaan pembudidaya. Untuktiang panjatan yg berbentuk persegi dibuat menggunakan ukuran 10 centimeter x 10 cm,bentuk bulat dibuat menggunakan diameter 10 centimeter, dan bentuk segitiga dibuat denganpanjang sisi 15 cm. Tinggi tiang panjatan antara 1,5-2 meter. Jika jarak tanambuah naga 2,5 m x dua m dan setiap tiang panjatan ditanami 4 tumbuhan maka untuklahan selua 1 ha dibutuhkan kurang lebih 2.000 tiang panjatan dan 8.000 bibit buahnaga.
Tiang panjatan ditancapkan ke pada tanah dengankedalaman kurang lebih 50 cm agar tiang berdiri kokoh dan kuat menyangga tanaman .pada ujung tiang bagian atas diberi besi melingkar dengan diameter 30-60 cmberbentuk seperti stir mobil. Besi melingkar ini berfungsi sebagai tempatmenopang cabang serta anak cabang tanaman butir naga.
ØTiang panjatan bentukkelompok (double rowing)
Berbeda menggunakan tiang panjatan tunggal, model tiangpanjatan double rowing mirip dengan tiang buat menjemur sandang. Artinya, bisamerambatkan lebih berdasarkan satu tumbuhan butir naga. Tiang panjatan gerombolan lebihhemat dalam porto pembuatannya serta lebih efisien karena sanggup merambatkan banyaktanaman buah naga. Namun, kelemahan bentuk tiang panjatan misalnya ini adalahperawatan yang sulit lantaran cabang tanaman sanggup saling terkait satu sama laindan kurang tahan terhadap beban tumbuhan yang terlalu berat.
Dua butir tiang dihubungkan dengan dawai tebal sebagaipenyangga batang tumbuhan buah naga menggunakan jarak antar tiang 4 meter. Tiangterbuat dari semen cor berukuran minimal 15 centimeter x 15 cm dan tinggi dua-2,5 meter,termasuk bagian yang terpendam di dalam tanah 50 centimeter. Tiang usahakan diberipenguat menurut besi supaya nir miring waktu menopang beratnya sulur flora buahnaga. Pada ujung tiang dipasang palang berdasarkan besi, melintang sepanjang 50-60 cmyang menyatu dengan tiang beton.

ØPengolahan Lahan DanPemupukan Dasar
Pada sistem panjatan tunggal, pengolahan tanah hanyadilakukan disekitar tiang panjatan saja. Buat lubang tanam dengan berukuran 40 cmx 40 centimeter dengan kedalaman 30 centimeter di sekitar tiang panjatan. Masukkan media tanamke pada lubang tanam yg terdiri menurut campuran tanah, pupuk sangkar, danpasir/sekam bakar menggunakan perbandingan 1:1:1 Pada sistem panjatan gerombolan (double rowing) pengolahan tanah dilakukan pada semua alur penanaman diantaradua tiang betong yang telah dipersiapkan. Alur dibuat sepanjang 4 m denganlebar galian 40-60 centimeter. Arah alur sinkron menggunakan arah kawat pengikat btg,yaitu diantara 2 tiang betong. Kemudian media tanam ditebar merata ke dalamalur yang telah dibuat. Komposisi media tanama yang dipakai pada satu aluradalah 20 kg tanah top soil, 20 kg pupuk sangkar, dan 20 kg sekam bakar. Adukbahan tersebut sampai merata lalu dimasukkan ke dalam lubang alur. Setelahsemua media dimasukkan ke pada alur kemudian dilakukan penyiraman dalam mediahingga basah.
2.4Pembibitan

Sebelummelakukan penyetekan harus dipiliha btg atau cabang tumbuhan yg baik,sehat, tua, dan telah pernah berbuah paling tidak tiga-4 kali. Keberhasilan stekditentukan sang calon btg yang digunakan. Batang yang pernah berbuahpertumbuhannya akan cepat, kokoh, serta mudah membangun tunas. Sedangkan batangatau cabang yg masih muda mengandung banyak air sehingga lebih rentanterserang penyakit. Pilihlah btg atau cabang yg tua, sehat, berwarna hijaugelap dengan ukuran panjang ideal minimal 30 centimeter. Batang atau cabang yangmemenuhi kriteria tersebut akan lebih cepat tumbuh dan mengeluarkan tunas baru.
Stek ditanampada polibag yg sudah diisi media dengan komposisi 1 tanah, 1 pupuk sangkar,serta 1 sekam bakar. Polybag diletakkan pada atas bedengan yg sudah disiapkandengan jarak 20 cm x 20 cm. Bedengan dibentuk dengan lebar 100 centimeter. Langkahselanjutnya tempat persemaian ditutup dengan plastik sungkup transparan denganditopang menggunakan bambu yang dipasang melengkung. Selama pembibitan kondisimedia harus dijaga agar nir kekeringan. Tunas baru
2.5Penanaman

Setelahtanah serta tiang panjatan dibuat, bibit yang telah siap harus segera ditanam dilahan. Penanaman harus dilakukan menggunakan hati-hati. Penanaman yang tidak benarakan menyebabkan bibit stress serta pertumbuhannya terhambat. Perhatikan padasaat penanaman media dalam polybag jangan hingga pecah karena akan membuatbibit kesuliatan beradaptasi dampak mengalami kerusakan akar. Selain itu,kedalaman penanaman idealnya 20% dari panjang bibit. Penanaman yg terlaludalam akan menciptakan bibit mudah terserang penyakit busuk batang.
Teknispenanaman sistem tiang panjat tunggal tidak sinkron dengan penanaman dalam sistemtiang panjat berkelompok. Pada penanaman sistem tiang panjatan tunggaldilakukan dengan jarak tanam 10 cm dari tiang panjatan. Keempat stek ditanammengelilingi tiang panjatan. Ikat keempat bibit tadi pada tiang panjatanmenggunakan tali yang lunak supaya bibit nir mudah jatuh. Lakukan pengikatandengan hati-hati, jangan terlalu bertenaga sehingga menyebabkan batang tanamanterluka. Batang tumbuhan yg terluka akan gampang terserang penyakit, terutamabusuk batang. Lakukan penyiraman setelah penanaman terselesaikan.
2.6 Pemeliharaan Tanaman BuahNaga

ØPengairan
Pada dasarnya flora butir naga nir membutuhkanirigasi spesifik. Umunya pengairan dilakukan menggunakan sistem tadah hujan. Olehkarena akarnya yang sangat lebat, sehingga buah naga tahan terhadap kekeringan.tetapi butir naga tetap memerlukan air yg relatif selama pertumbuhannya.kekurangan air selama fase vegetatif bisa menciptakan tanaman layu serta sulitbertunas.
ØPenyulaman tanaman
Penyulaman adalah aktivitas mengganti tumbuhan yangmati ditimbulkan lantaran agresi hama, penyakit, atau sebab lain. Tujuan berdasarkan penyulamanyaitu agar tanaman sanggup berproduksi optimal serta efisiensi huma tetap tinggi.penyulaman dilakukan dalam umur 7 hari sehabis tanam hingga flora berumur 2bulan.
ØPengikatan batang ataucabang
Pengikatan dilakukan setiap 20-25 cm ke tiangpanjatan. Tali pengikat bisa memakai tali rafia atau tali lunak lainnyadengan membangun angaka 8. Pengikatan jangan terlalu kencang supaya btg ataucabang nir terjepit yang dapat mengakibatkan luka atau bahkan patah. Selainitu tujuan pengikatan juga buat mempermudah akar udara menempel pada tiangpanjatan sehingga memperkokoh posisi tanaman .
ØPemupukan susulan
Oleh karena itu, perlu diberi pupuk susulan atau pupuktambahan. Pada budidaya butir naga menggunakan sistem organik pemberian pupuktambahan dilakukan memakai pupuk kandang atau bahan organik lain yg sudahdifermentasi. Dosis anugerah pupuk organik sebesar 2-5 gram/tanaman dalam fasevegetatif serta 5-10 gr/tumbuhan dalam fase generatif. Frekuensi pemberian pupukdilakukan dua bulan sekali. Pupuk diberikan menggunakan cara menggali lubangdisekitar tanaman , jangan terlalu dekat menggunakan batang lantaran bisa melukai akartanaman, lalu ditaburkan serta segera ditutup dengan tanah. Setelah semuapupuk ditutup dengan tanah, lakukan penyiraman agar pupuk mudah bereaksi danterserap oleh akar tanaman .
ØPemangkasan
Pemangkasan tumbuhan bertujuan buat memperoleh bentukyang baik sehingga menunjang pertumbuhan yg baik. Selain itu, pemangkasanjuga bertujuan buat membuang bagian flora yg nir produktif misalnya cabangyang kerdil atau kurus. Batang atau cabang yang tidak produktif akan menghambatpembentukan tunas baru dan butir lantaran berkompetisi dengan batang produktifdalam memperoleh hara.
ØSeleksibunga serta buah
Tanaman yang sudah mulai berbungan ditandai denganmunculnya bunga dalam cabang produktif. Biasanya akan muncul lebih berdasarkan satubunga. Oleh karena itu, seleksi bunga dilakukan saat bunga masih mini ,sehingga nutrisi nir digunakan buat perkembangan bunga yang dibuang. Pilih2-3 bunga yang paling besar , sehat, berwarna cerah, serta segar dalam setiapcabang produktif dengan jarak antar bunga kurang lebih 30 centimeter.
2.6Pengendalian Hama serta Penyakit

ØTungau (Tetranycus sp.)
Tungau ukuran sangat mini dengan bentuk menyerupailaba-laba dan bersifat polyfag, yaitu menyerang hampir segala jenis tumbuhan.serangga dewasa berukuran sekitar 1 mm serta aktif pada siang hari. Siklushidup tungau berkisar antara 14-15 hari. Tungau menyerang tumbuhan buah nagadengan cara menghisap cairan batang serta cabang. Akibatnya dipermukaan kulitbatang atau cabang flora yg terserang timbul bintik-bintik kuning ataucokelat. Serangan yang berat akan mengakibatkan flora butir naga tumbuh nir normal.
Pengendalian tungau sanggup dilakukan menggunakan penyemprotanpestisida nabati tiga-4 hari sekali, misalnya nimba, tagetes, eceng gondok, ataurumput bahari. Untuk memulihkan flora yg terserang tungau diberikan nutrisitanaman organik, baik melalui akar, dengan cara dikocor, maupun melalui tubuhtanaman, dengan cara disemprot.
ØKutu Kebul (Bemisia tabaci)
Salah satu hama primer dalam budidayabuah naga adalah kutu kebul. Imago serangga dewasa berukuran 1-1,5 mm, berwarnaputih, dan sayapnya ditutupi lapisan lilin yg bertepung. Serangga dewasabiasanya berkelompok pada permukaan bagian bawah cabang. Jika flora disentuhbiasanya serangga akan beterbangan seperti kabut atau kebul putih. Gejalaserangan kutu kebul dalam tumbuhan butir naga ditandai menggunakan adanya bercaknekrotik akibat rusaknya sel-sel serta jaringan flora pada btg atau cabangyang terserang. Ekskresi kutu kebul berupa madu yang adalah media tempattumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan prosesfotosintesis berlangsung tidak normal. Selain kerusakan eksklusif dalam flora,kutu kebul merupakan serangga yang sangat berbahaya karena berperan sebagaivektor penular virus tumbuhan. Kerugian akibat agresi kutu kebul dapatmencapai 20-100%. Hingga waktu ini, tercatat sebesar 60 jenis virus yangberpotensi ditularkan oleh kutu kebul.
Pengendalian hama kutu kebul dapatdilakukan secara kultur teknis, yaitu menggunakan menerapkan metode strip-plantingyaitu penerapan tumbuhan perangkap. Tanaman perangkap sanggup ditanam mengelilingiareal budidaya buah naga sehingga membentuk pagar yg kedap. Beberapa tanamanyang efektif digunakan menjadi perangkap kutu kebul antara lain, jagung, bungamatahai, kacang panjang, dan buncis. Selain penerapan strip planting,pengendalian gulma juga wajib dilakukan secara rutin. Gulma sangat berpotensisebagai inang kutu kebul.
ØBusuk Pangkal Batang
Penyakit busung pangkal btg biasanya menyerang padasaat awal penanaman. Gejala serangan ditandai dengan adanya pembusukan padapangkal btg sebagai akibatnya mengakibatkan batang berair serta berwarna kecokelatan.pada wilayah terjangkit masih ada bulu-bulu putih halus yang adalah miseliumcendawan. Penyakit ini disebabkan oleh agresi cendawan Sclerotium rolfsiiSacc. Serta lebih sering menyerang tanaman dalam waktu cuaca lembab.
Upaya pengendalian bisa dilakukan dengan pengaturandrainase serta kelembaban dalam ketika musim hujan. Penyemprotan flora menggunakanpestisida botani, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah.bahan-bahan tadi direbus dan disemprotkan pada tanaman . Upaya lain yangbisa dilakukan adalah menggunakan pemanfaatan agensia hayati, misalnya Trichoderma sp. Serta Gliocldium sp.
ØBusuk Bakteri
Serangan penyakit ini desebabkan sang infeksi bakteriPseudomonas sp. Gejala flora yg terjangkit penyakit busuk bakteri ditandaidengan adanya pembusukan pada pangkal batang, masih ada lendir putih kekuninganpada wilayah serangan, dan tanaman tanpak kusan serta layu.
Pengendalian terhadap agresi bakteri ini dilakukandengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, pemugaran drainase buat mencegahadanya genangan air, pencabutan flora terjangkit dan tanah disekitar titiktanam dibuang jauh menurut areal budidaya. Usahakan pembuangan tanah tersebutjangan hingga tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi dengan kapur agar pHtanah lokal semakin tinggi. Penyemprotan tumbuhan memakai pestisida botani,seperti daun serai, bawang putih, kunyit, dan bawang merah. Bahan-bahantersebut direbus serta disemprotkan pada tanaman . Upaya lain yg mampu dilakukanadalah menggunakan pemanfaatan agensia biologi, misalnya Trichoderma sp. Serta Gliocldium sp.
2.7Panen

Ciri-Ciribuah naga siap panen :

Umur butir semenjak telah mencapai 50-55 hari setelahmuncul bunga; Warna kulit butir mengkilat dengan sisik berubah menurut hijaumenjadi kemerahan; Mahkota buah telah mengecil;Kedua pangkal buah keriput dankering; Bentuk buah bundar paripurna serta akbar dengan bobot diperkirakan 400-600g.

III.KESIMPULAN
Adapun kesimpilan adlah sebagi berikut ;
1.tanaman butir naga merupakan tanamnobat0obatan yg sangat baik dikonsusi tubuh, ketersediaanya masih terbatas danharganyanmasih tinggi.

2.budidaya flora buah naga tidak rumitdan dapt memberikan pendapatan yg lebih serta dapat menaikkan pendapatanpelaku utama.

BUDIDAYA KENTANG

I.PENDAHULUAN

1.1LatarBelakang

Tanamankentang adalah tanaman umbi-umbian yg dapat hayati didataran tinggi serta tanahyang subur. Kentang sangat disukai oleh rakyat lantaran rasanya yang lezat danbanyak mengandung vitamin serta kadar gulanya mini sehingga penderita diabetespaling baik mengkonsumsi kentang daripada nasi. Kentang dapat dikonsumsi setiaphari sang siapapun dan selalu tersedia dipasaran lantaran kentang sayuran yangbayak peminatnya.
Budidayakentang mudah dilakukan tetapi harus mnjaga kelembaban tanah dan lingkungansekitarnya karena tanamankentang rentan terhadap penyakit. Pemasaran kentangsangat gampang serta nir membutuhkan rantai pemasatran yg panjang. Hargakentang jua relatif stabil.
1.2Tujuan

Adapuntujuan adalah sebagi berikut :
1.untukmenjadai petunjuk bagi pelaku utama dan keluarganya pada melakukan budidayatanaman kentang.
2.merubahproduksi flora kentang menjadi optimal dan merubah ekonomi pelaku primer dankeluarganya sebagai lebih baik.



II.BUDIDAYA  KENTANG

2.1 SyaratTumbuh

Tanaman kentang umumnya bisa tumbuhbaik bila ditanam di dataran tinggi (1.500 – tiga.000 m dpl). Tetapi sebagaipengecualian, flora kentang ada yg tumbuh baik dalam ketinggian 500 m dpl.seperti di wilayah Maja, dan tumbuh pada ketinggian 800 m dpl, misalnya di daerahTemanggung, Kedu. Keadaan ketinggian loka pula berhubungan erat dengankeadaan iklim setempat yg berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman , sepertikeadaan suhu udara, keadaan curah hujan, keadaan kelembaban udara, dan keadaanpenyinaran cahaya surya. Semakin tinggi letak geografis tanah, maka keadaansuhu udara akan semakin turun dengan laju penurunan sebesar 0,5˚C setiapkenaikan 100 meter dari permukaan bahari. Sedangkan intensitas cahaya mataharidan kelembaban udaranya meningkat. Demikian jua keadaan curah hujan akansemakin tinggi (Bambang cahyono, 1996).
Untuk menghemat biaya eksploitasiatau pembukaan tanah, maka sebaiknya dipilih lokasi yg keadaan topografitanahnya datar. Dengan demikian tidak perlu menciptakan teras-teras ataupun tanggul-tanggul.akan namun jika keadaannya memaksa wajib memakai tanah yg miring,hendaknya harus memperhitungkan derajat kemiringan tanahnya. Untukpembudidayaan tanaman ditanah yang miring, derajat kemiringan tanah harusdibawah 30%. Sebab, derajat kemiringan tanah diatas 30% telah merupakan faktorpenghambat buat budidaya tanaman sebagai akibatnya sudah tidak menguntungkan lagi(Bambang cahyono, 1996).

2.2PengadaanBenih atau Bibit
Benih atau bibit kentang adalahbagian tanaman berupa umbi dan bukan berupa biji botani (True Potato Seed) yangdigunakan buat memperbanyak dan atau mengembangbiakan tumbuhan kentang.  Umbi  yang akan ditanam perlu diseleksi dulu, dipilih yang sehat, danberasal berdasarkan flora yang bebas hama serta penyakit.
1)   PengelompokanUkuran
Pengelompokan ukuran benih adalahpengelompokan dari akbar  kecilnya umbi. Menurut Direktorat Perbenihandan Sarana Produksi, Direktorat  Jendral  Hortikultura, DepartemenPertanian RI, berikut seleksi ukuran benih yg dikelompokan menurut bobotumbi. Ukuran LL bobot lebih menurut 120 gr. Ukuran L2 bobot  90 – 120 gr, Ukuran L1 bibot 60 – 90  gramUkuran M bobot 30 – 60 gr, Ukuran S bobot 10 – 30 gram, Ukuran SS bobot kurang dari 10 gram
2.3Persiapan Lahan

Pada huma berbukit arah bedengan dibentuk tegak lurus kemiringan tanah buat mencegaherosi.  Lebar bedengan 70 cm (1 jalur tanaman ) /140 centimeter (2 jalur tanaman )tinggi 30 centimeter serta jeda atar bedengan 30 centimeter.  Lebar dan jarak antarbedengan bisa diubah  sesuai dengan varietas kentang yg ditanam. Disekeliling petak bedengan dibuat saluran pembuangan air sedalam 50 cm danlebar 50 centimeter..
Pupuk organik dapat juga diberikan sehabis bedengan atau guludan dibuat.  Maksudnya, setelahguludan jadi, dibuat lubang tanam, dan ke pada lubang tanam inilah pupukorganik dimasukkan. Takarannya lebih kurang 0,5 – 1,0 kg per lubang tanam.dengan takaran ini, homogen-homogen kebutuhan per hektar lebih kurang 10 – 15 ton.pupuk anorganik buat kentang dianjurkan memakai Urea (45%), ZA (21% Ndan 24% S), TSP (45%  P2O5), dan KCl (60% K2O).takaran yang dianjurkan buat pupuk anorganik sebagai berikut.urea 225 Kg per hektar, TSP 300 Kg perhektar, KCl 100 Kg per hektar,serta ZA 150 Kgper hektar, Takaran per lubang tanamannya lebih kurang Urea 12 g, ZA8 g, TSP 15 g, serta KCl lima g.
Jarak tanamantar-barisan (alur atau garit) untuk membentuk umbi kentang berukuran bibitadalah 70 – 75 cm dan jeda tanam pada barisan merupakan 20 – 25cm.  Sedangkan untuk tujuan membentuk produksi umbi  konsumsi,jarak tanam sebaiknya relatif lebar yaitu jeda antar – barisan 70 – 80 centimeter danjarak dalam barisan 30 centimeter.
2.4Penanaman
Penanaman ini dilakukan seminggusetelah tahap persiapan huma.  Langkah-langkah penanaman tersebut sebagaiberikut.lubang tanamdisiapkan dengan kedalaman seukuran bibit atau kira-kira 7,5 – 10 cm. Lubang tanam jangan terlalu dalam karena dapat menurunkan bobot produksi.setelah itu, bibit ditanam.  Bibit yg ditanam wajib sudah tumbuhtunasnya sekitar 1 – 2 cm.  Bibit ditanam menggunakan posisi tunas yangtumbuhnya paling baik menghadap ke atas.  Setelah itu timbun lagi dengantanah setebal lima – 6 cm.
2.5Pemeliharaan
ØPemupukan
Bersamaan dengan hadiah pupukkandang tadi sebelum penanaman bibit, pupuk protesis pula diberikan. Carapemberian pupuk protesis adalah diatas pupuk kandang atau diantara umbi bibitdengan jeda 5cm – 7cm di sebelah kanan serta kiri umbi kentang. Jumlah pupukbuatan untuk tanaman kentang bervariasi, tergantung dalam varietas kentang,jenis tanah, kesuburan tanah, lokasi, serta musim. Sebagai pedoman, pemakaianpupuk buatan buat huma seluas satu hektar adalah menggunakan campuran pupukbuatan yg dilakukan 20 hari sekali menjadi berikut: Pupuk Urea sebesar 400 –600 kg/ha. Pupuk ZA sebanyak 150 kg/ha. Pupuk SP36 sebesar 450 kg/ha. PupukKCL sebanyak 100 kg/ha
ØPenyiangan
Biasanyapenyiangan atau membersih rumput dan gulma dilakukan pada ketika pemupukan Susulan1 (20-an HST) serta susulan dua (40-an HST) atau dalam waktu flora berumur sekitar30 hari serta 50 hari.  Tetapi, sebetulnya kapan penyiangan dilakukan, tidakada aturannya. Penyiangan bisa dilakukan kapan saja.  Pada waktumelakukan pemeriksaan rutin, penyiraman, atau aktivitas lain yg sekaligusmemeriksa terdapat tidaknya gulma.
ØPembumbunan
Bersama denganpenyiangan dilakukan pembumbunan.pembumbunan ini dilakukan menggunakan menaikkan permukaan tanah sekitartanaman agar lebih tinggi dari tanah sekelilingnya.  Tujuan pembumbunanitu agar perakaran flora menjadi lebih baik, menghindarkan umbi kentang darisinar surya sehingga racun solanin yang terdapat dalam umbi kentang, serta berbahaya bagi kesehatan, tidak akan timbul.
ØPemangkasanBunga
Biasanya padaumur 25 – 30 hari, tumbuhan kentang mulai mengeluarkan bunga. Oleh karena itu, bungasebaiknya dipangkas sebelum mengembang (bunga masih kuncup). Kemunculan bunga bisa menciptakan umbi tumbuhnya kecil-mini , Karenaterjadi persaingan pada penggunaan zat kuliner buat pembentukan umbi danbunga.
ØPenyiramandan Pengairan
Kentang tidakhanya membutuhkan kuliner banyak, tetapi pula membutuhkan air yg poly (namun tidakmenghendaki tanah yg becek).  Bilakelembabannya kurang menurut yang diperlukan maka flora perlu penyiraman. Kelembabanyang diharapkan oleh tumbuhan kentang 80%.
2.6 Pengendalian Hama dan Penyakit
1.    Kutu Daun(Aphididae)
Kutu daun atau aphid adalah hama menurut keluarga Aphididae yang berukurankecil (1 – 2mm) serta umumnya menyerang daun dengan cara mengisap cairan daun. Untukmengendalikan hama ini, langkah langkah yg dapat dilakukan adalah:Membersihkan lingkungan sekitar menurut flora liar (gulma) serta membakarbagian tumbuhan yang diserang.menanam tumbuhan perangkap yg tumbuhnya lebih tinggi dari tanaman kentang,ditanam pada pinggiran lahan.  Jenis flora perangkap antara lain tanamanjagung, bunga mentari , atau tumbuhan yg bunganya cenderung kuning ataukekuning-kuningan.pada agresi yang demikian hebat, setiap daun dapat ditemukan aphis sebanyak 7 ekor.penyemprotan pestisida (insektisida) yang sesuai untuk aphis bisa dilakukanjika diharapkan.
2.       Ulat Penggulung daun ( Phthorimaea operculella)
Ulat ini termasuk kedalam Ordo Lepidoptera. Famili Gelechiides. Lepidoptera dari dari kata Yunani yaitu Lepidopteros.  Lepidos artinyasisik, pteros ialah sayap.  Serangga dewasatidak menjadi hama, yang menjadi hama adalah Larvanya, larva berbentuk ulat. Serangan ulat ini dimulai Serangan menggunakan perubahan warna daun darihijau menjadi merah tua. Kemudian ada jalinan seperti benang yang didalamnyaberisi ulat mini berwarna kelabu. Kadang-kadang daun menggulung serta berisilarva. Menggulungnya daun karena bagian atas daun sebelah atas rusak. Seranganini tidak hanya terjadi dilapangan, namun juga pada tempat penyimpanan ataugudang. Umbi yg diserang ditandai dengana adanya kotoran disekitar matatunas.upaya pengendalian hama yg dilakukan, antara lain:Hindari penanaman kentang dalam animo kering.hindari terjadinya keretakan tanah karena lewat retakan ini larva akanmasuk ke dalam tanah dan tanah akan merusak umbi.seiring melakukan pembumbunan buat mencegah larva masuk ke dalam tanah.
3.penyakit hawardaun
Miselium P. Infestans yang terdiri berdasarkan benang-benag hifa yg nir bersekat dan mengandungbanyak inti yg diploid (Brasier & Sansome, 1975), tumbuh diantara sel-seltanaman inang.  Makanan diperoleh menurut pada sel yg diserap sang kaki miselium.
 Gejala pertama merupakan terdapat bercakkebasah-basahan dengan tepian yg tidak teratur pada tepi daun atautengahnya.  Bercak lalu melebar dan terbentuklah wilayah nekrotik yangberwarna coklat.  Melingkari wilayah nekrotik ini masih ada bagian yangberwarna hijau kelabu yang menghasilkan sporangium berwarna putih. Penyakit dapat terjadi pada tangkai anak daun , rona coklat, melingkar, agakmengendap, serta dapat menimbulkandefoliasi.  Pada ujung btg, penyakit berupa nekrotik yang cepat berkembangpada jaringan flora yang masih belia.  Pengendalian terhadap penyakitlodoh  diantaranya dengan sanitasi lahan pertanaman.  Lantas menanambibit yang sehat dan varietas yang tahan terhadap serangan penyakit tadi.selanjutnya, menanam flora pagar misalnya jagung atau yg lain sebagaipenghalang penyebaran spora menurut tumbuhan yang satu ke tanaman yang lain. Tanaman penghalang ini pula menjadi pencegah agresi serangga yang mungkinmenjadi vektor penyebar penyakit tadi.
4.       Penyakit Kudis
Gejala penyakitini nir tampak dalam bagian di atas bagian atas tanah.  Kulit permukaanumbi masih ada borok-borok kudis yang menonjol keluar serta umumnya berdiameter lima– 8 mm.  Mula-mula tanda-tanda hanya bercak mini berupa pecahan sepertibintang, lalu berkembang meluas dan berwarna gelap.  Scab banyakberjangkit pada demam isu kemarau menggunakan temperatur optimum 25 ˚C – 30 ˚C.
Pengendalian penyakit ini yaitu menanam umbi yg sehat dan merotasikentang denga leguminosae tiga – lima tahun.  Pencelupan umbi ke dalam formalin0,05 % selama satu jam akan mencegah penularan penyakit melaluiumbi.  Gunakan pupuk yg relatif asam misalnya amonium sulfat. Pertanaman diairi secukupnya dan teratur pada masa awal pertumbuhan (Lapwood etal., 1973).
5.        Layu bakteri
Serangan layu bakteri terbanyak dalam animo hujan atau pada udara lembab.  Penularan penyakitdilapangan terjadi dalam tanah, mungkin lewat rembesan air atau percampurandengan tanah yg sudah terinfeksi.  Sedangkan penularan digudang dapatdisebabkan lantaran tercemarnya gudang sang umbi yg sudah terjangkiti penyakitini.
Bila umbi yg terinfeksi, ketika dilakukan pemanenan, akan tampak”lengketan tanah” yang melekat pada ujung stolon atau bagian mata umbi ataubagian ujung umbi.  Lengketan tanah ini dampak lendir yang keluar daribagian yang terinfeksi.  Bila umbi dibelah , maka akan tampak disklorasiatau warna cokelat disekeliling vaskulernya (melingkar) serta berlendir berwarnaputih susu atau keabu-abuan.
Pengendalian penyakit ini meliputi pemakaian umbi yg sehat, melakukanrotasi dengan flora bukan tanaman inang minimal 4 tahun, mengeringkan tanahpada trend kemarau, mengurangi pelukaan lantaran mekanis juga karena nematoda,penyemprotan tanaman dengan Agrimisin 15/1.lima WP, serta menerapkan tindakaneradikasi serta sanitasi.
2.7Panen danPasca Panen 
Tanaman kentang dipanen dalam umur 90 – 160 hari setelah tanam (HST). Untuk memperoleh output yang optimal, penentuan panenhendaknya berdasar pada umur tanaman dan mempelajari umbinya dengan mendangir sebagiantanahnya. Selain itu, ketika pemanenan (pagi, siang, sore) hendaknyadiperhatikan lantaran berpengaruh terhadap kualitas umbi yg dipanen.sistem pemanenan menggunakan cangkul dan cukil bambu. Cangkul lebih seringdigunakan daripada cukil bambu lantaran pekerjaan lebih efisien serta waktu yangdigunakan lebih efektif. Pemanenan menggunakan cangkul juga mempunyai kelemahan,yaitu kemungkinan umbi kentang terkena cangkul sangat akbar sebagai akibatnya persentasekentang stigma mekanik menjadi akbar. Pemanenan dengan cangkul dilakukan denganmembongkar bedengan secara hati-hati agar nir mengenai umbi kentang lalumengambil kentang dan meletakkannya di sisi bedengan.

III.KESIMPULAN

Adapunkesimpulan merupakan sebagai berikut :
1.tanamankentang adalah flora yg rentan terhadap panyakit sebagai akibatnya sangat pentingdiperhatikan kelembabannya serta lingkunagan sekitarnya.

2.pemasarankentang sangat mudah lantaran kentang disukai oleh seluruh lapisan warga dandibutuhkan setiap hari.