PESTISIDA BOTANI

Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.

•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT.Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.
•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT. 

PENGELOLAAN TANAMAN PADI SYSTEM RICE OF INTENSIFICATION SRI

Padadasarnya teknologi yg diterapkan sang contoh PTT serta System Rice ofIntensification (SRI) sama, hanya strateginya tidak sinkron. Strategi SRI lebihdipusatkan pada penggunaan bahan organik. Penggunaan bahan organik yangdiintegrasikan menggunakan teknik pengairan terjadwal akan mampu menyediakan harauntuk kebutuhan flora padi. Namun bahan organik yg diharapkan relatif poly yaitusekitar 10 ton kompos / Ha/ trend, yang dalam prakteknya sulit dipenuhi dalamskala bisnis padi yg luas serta akan menambah porto tenaga kerja untukaplikasinya.
TujuanSRI serta PTT paad prinsipnya pula sama yaitu untuk menaikkan produksi dengantarget segmen petani yang tidak sinkron dan pengelola yg tidak sinkron.
Perbedaanantara SRI dan PTT merupakan sebagai berikut :
1.pendekatanSRI berbentuk paket teknologi yang diyakini bisa diterapkan dalam seluruh kondisi
2.komponenteknologi SRI mudah diadopsi petani
3.pendekatanpengembangan SRI adalah sistem belajar orang dewasa sehingga petani merasadiberi posisi yang sempurna menjadi subyek perubahan
4.pttbertujuan menaikkan produktivitas dan efisiensi input seperti benih, pupuk,dan pestisida
5.pttditerapkan dari khusus lokasi
6.pttberorientasi dalam proses produksi rasional serta ramah lingkungan
7.pttmenggunakan pendekatan keproyekan
8.pttmenggunakan cara transfer teknologi satu arah


Tabel 1 Perbedaan komponen teknologi padapendekatan SRI dan PTT

No

Perlakuan

SRI

PTT

1.
Dosis pupuk anjuran
Bahan organik 10 ton /Ha
Sesuai Kepmen pertanian no.1, 2006. Pupuk anorganik dan pupuk organik, BWD dan PUTS atau petak omisi
2.
Seleksi benih
Pemilahan benih bernas menggunakan telur dan air garam
Pemilahan benih bernas dengan air garam atau ZA (tiga%)
3.
Varietas
Varietas lokal atau unggul baru
Varietas unggul baru, varietas unggul tipe baru dan varietas unggul hibrida
4.
Persemaian
Persemaian kering
Persemaian basah diaplikasi kompos, sekam dan pupuk
5.
Tanam bibit
7-14 HSS
10-21 HSS atau semuda mungkin, pakai bibit umur agak tua di wilayah endemis keong mas
6.
Jumlah bibit/ lubang
1
1-3 bibit, bibit sesedikit mungkin
7.
Jarak tanam
30 cm x 30 centimeter atau lebih lebar
VUB / VUTB 20 centimeter x 20 cm
VUH 25 cm x 25 centimeter
Legowo 2 :1, tanam benih pribadi sesuai menggunakan keadaan lokasi
8.
Hama penyakit
Pengendalian hayati
Pestisida biologi dan pestisida nabati
Prinsip PHT
Bila perlu dari hasil monitoring dapat dipakai pestisida kimia, biologi serta botani maupun kombinasinya
9.
Pengelolaan gulma
Penyiangan mekanis/ landak 4 kali
Prinsip Pengendalian Gulma Terpadu (PGT)
Menggunakan landak serta jika perlu menggunakan herbisida kimia atau penyiangan
10.
Pengairan
Tanah dipertahankan lembab hingga retak selama vegetatif
Pengairan berselang
11.
Penanganan pasca panen
Gebot
Mesin perontok dan gebot diubahsuaikan dengan kondisi petani
12.
Metode pendekatan
Pemahaman Ekologi Tanah (PET)
PRA
13.
Kelembagaan
Pemberdayaan kelompok
SIPT, KUAT, KUM
14.
Pendekatan diseminasi
Kelompok studi petani, individu, demplot
Kelompok tani, hamparan, demfarm
15.
Hasil gabah
6,9-8,5 t/Ha GKP*)
5,0-8,lima t/Ha GKG **)
16.
Peningkatan hasil
0,2 – 1,1 t/Ha
0,tiga- dua,3 t/Ha
17.
Pendapatan bersih
Rp 2.240.000,-
Rp 4.580.000,-
Keterangan: *) hasil wawancara petani di Garut, diperoleh menurut percobaan petani dariareal seluas 1000-2000 m2 pada sebagian saja huma milik petani, **)output percobaan di 18 lokasi di 8 provinsi.
Tabel2. Sinergisme antar komponen teknologi pada penerapan contoh PTT

Komponen teknologi

Sinergi menggunakan faktor lain

Keterangan


Penyiangan dengan alat gasrok









Pengairan berselang
























Penggunaan bibit tunggal/lubang tanam

Cara tanam legowo








Penggunaan bahan organik
Cara pemupukan





Pemberian bahan organik



Pertumbuhan akar









Absorpsi oksigen oleh akar




Serangan hama dan penyakit





Penggunaan bibit muda

Persaingan antar tanaman


Serangan hama dan penyakit







Pemupukan

·Pupuk bisa terbenam (deep placement), sehingga kehilangan hara berkurang
·Gulma sebagai asal hara
·Aerasi tanah meningkat, pupuk lebih efisien
·Suasana aerob mengurangi akumulasi bahan-bahan yg bersifat toksik di pada tanah
·Suplai oksigen buat perkembangan akar lebih baik
·Perkembangan akar lebih pesat dan lebih dalam
·Penyerapan hara menjangkau lapisan tanah lebih dalam
·Tanaman tahan rebah pada ketika animo hujan karena akar yg kokoh, dan terhindar menurut penyakit kuning (yellowing syndrome) lantaran kelembaban berkurang
·Suplai oksigen buat respirasi akar semakin tinggi, perkembangan perakaran ke lapisan tanah lebih pada, akibatnya flora tumbuh lebih kokoh serta pembentukan anakan lebih banyak
·Perkembangan hama dan penyakit terutama wereng coklat serta penggerek batang (hama tanaman ) serta penyakit kresek (HDB) terhambat menggunakan penerapan irigasi berselang lantaran kelembaban lingkungan mikro berkurang
·Mengurangi stres tanaman , recovery bibit lebih cepat akibatnya pembentukan anakan lebih banyak
·Persaingan antar individu tumbuhan berkurang. Anakan lebih poly. Penggunaan benih menurun (25 sebagai 15 kg/Ha)
·Gangguan hama tikus berkurang
·Sirkulasi udara antar rumpun lebih baik, sehingga mengurangi agresi penyakit
·Wereng hijau nir menyebar, mengurangi agresi penyakit tungro
·Perawatan tumbuhan lebih mudah dan efisien
· Fisik, kimia serta biologi tanah diperbaiki
·Efisiensi penggunaan pupuk anorganik meningkat (sekitar 30%)
·Serangga netral meningkat, menjadi mangsa musuh alami


BUDIDAYA BUAH NAGA

I.PENDAHULUAN

1.1LatarBelakang

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen,butir naga sekarang marak dikebunkan. Penanaman buah naga beredar pada Jawa Timur,Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga ke Kalimantan. Kebun-kebun butir naga jugabanyak ditemui. Memang, budidaya butir naga tergolong mudah serta minim perawatan.selain pada lahan luas, butir naga pula mampu diusahakan pada huma sempit seperti dikebun juga halaman rumah menggunakan memakai pot. Itulah sebabnya parapembudidaya buah naga sanggup
Penanaman buah naga sekarang diarahkanke sistem budidaya organik. Dengan membudidayakan butir naga secara organik,bisa dihasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik. Keuntungan berdasarkan teknikbudidaya buah naga secara organik adalah butir yg dihasilkan sehat tanpaadanya sisa bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia serta lingkungansekitar. Dengan demikian pencemaran lingkungan baik air, udara, juga tanaholeh paparan pestisida bisa dikurangi. Disamping itu, penggunaan bahan organikjuga dapat mengembalikan kesuburan tanah, sebagai akibatnya tanah mampu dipakai untukproses budidaya pertanian berkelanjutan.
1.2Tujuan

Adapun konklusi merupakan sebagaiberikut :
1.untukmenjadi petunjuk teknis bagi pelaku utama serta keluarga dalam melakukan budidayaBuah Naga.
2.untukmerubah produksi Buah Naga menjadi optmal dan merubah pendapatan pelaku utamdan keluarganya sebagai lebih baik.

II.BUDIDAYABUAH NAGA

2.1 Syarat Tumbuh

Buah naga sepesies Hylocereus undatus, yaitubuah naga dengan daging putih akan tumbuh baik pada ketinggian kurang dari 300mdpl, sedangkan butir naga spesies Hylocereus costaricensis, yaitu buahnaga menggunakan daging super merah (super red) tumbuh baik pada ketinggian0-100mdpl. Sementara itu butir daga spesies Selenicereus megalanthus,yaitu buah naga dengan kulit kuning, daging putih tanpa sisik, akan tumbuh baikpada wilayah dingin dengan ketinggian lebih berdasarkan 800 mdpl..
Tanaman butir naga lebih menyukai syarat keringdibandingkan dengan kondisi basah dengan curah hujan rendah yaitu 720 mm/tahun.buah naga masih dapat tumbuh pada curah hujan tinggi yaitu antara 1.000-1.300mm/tahun, akan namun rentang terjangkit penyakit busuk akar serta busuk batang.hal ini disebabkan flora buah naga nir tahan genangan air.
2.2Persiapan Lahan

Pemilihan lokasi budidaya butir naga perludiperhatikan, hal ini bertujuan buat memenuhi kondisi tumbuh yg optimal bagipertumbuhan butir naga. Pemilihan lokasi yg sempurna akan menjadi faktor pertamayang menentukan keberhasilan budidaya buah naga. Setelah memilih lokasibudidaya maka langkah selanjutnya merupakan melakukan pengukuran pH tanah untukmenentukan jumlah hadiah kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (dibawah 6,5). Pengukuran sanggup dilakukan menggunakan kertas lakmus, PH meter, ataucairan PH tester. Pengambilan titik sampel mampu dilakukan menggunakan cara zigzag.
Buah naga merupakan tanaman merambat sehingga dibuthkan tiang panjatan untukmenopang pertumbuhan btg dan cabangnya. Bentuk atau contoh tiang panjatandalam budidaya butir naga ada macam, yaitu bentuk tunggal serta bentuk kelompokatau pagar. Tiang panjatan wajib kuat dan bisa bertahan selama beberapa tahunkarena umur tanaman buah naga yg panjang.
ØTiang panjatan bentuktunggal
Tiang panjatan bentuk tunggal mampu memakai betonatau tiang panjatan hayati dari batang tanaman . Tiang panjatan ini digunakanuntuk menopang empat tanaman yg berproduksi menggunakan produktifitas homogen-rata 3kg per-tumbuhan. Para pembudidaya butir naga umumnya memakai tiang panjatanyang terbuat berdasarkan beton atau pipa PVC. Bentuk tiang panjatan sanggup persegi,bulat, segitiga atau bentuk yg lain sesuai dengan kesukaan pembudidaya. Untuktiang panjatan yg berbentuk persegi dibuat menggunakan ukuran 10 centimeter x 10 cm,bentuk bulat dibuat menggunakan diameter 10 centimeter, dan bentuk segitiga dibuat denganpanjang sisi 15 cm. Tinggi tiang panjatan antara 1,5-2 meter. Jika jarak tanambuah naga 2,5 m x dua m dan setiap tiang panjatan ditanami 4 tumbuhan maka untuklahan selua 1 ha dibutuhkan kurang lebih 2.000 tiang panjatan dan 8.000 bibit buahnaga.
Tiang panjatan ditancapkan ke pada tanah dengankedalaman kurang lebih 50 cm agar tiang berdiri kokoh dan kuat menyangga tanaman .pada ujung tiang bagian atas diberi besi melingkar dengan diameter 30-60 cmberbentuk seperti stir mobil. Besi melingkar ini berfungsi sebagai tempatmenopang cabang serta anak cabang tanaman butir naga.
ØTiang panjatan bentukkelompok (double rowing)
Berbeda menggunakan tiang panjatan tunggal, model tiangpanjatan double rowing mirip dengan tiang buat menjemur sandang. Artinya, bisamerambatkan lebih berdasarkan satu tumbuhan butir naga. Tiang panjatan gerombolan lebihhemat dalam porto pembuatannya serta lebih efisien karena sanggup merambatkan banyaktanaman buah naga. Namun, kelemahan bentuk tiang panjatan misalnya ini adalahperawatan yang sulit lantaran cabang tanaman sanggup saling terkait satu sama laindan kurang tahan terhadap beban tumbuhan yang terlalu berat.
Dua butir tiang dihubungkan dengan dawai tebal sebagaipenyangga batang tumbuhan buah naga menggunakan jarak antar tiang 4 meter. Tiangterbuat dari semen cor berukuran minimal 15 centimeter x 15 cm dan tinggi dua-2,5 meter,termasuk bagian yang terpendam di dalam tanah 50 centimeter. Tiang usahakan diberipenguat menurut besi supaya nir miring waktu menopang beratnya sulur flora buahnaga. Pada ujung tiang dipasang palang berdasarkan besi, melintang sepanjang 50-60 cmyang menyatu dengan tiang beton.

ØPengolahan Lahan DanPemupukan Dasar
Pada sistem panjatan tunggal, pengolahan tanah hanyadilakukan disekitar tiang panjatan saja. Buat lubang tanam dengan berukuran 40 cmx 40 centimeter dengan kedalaman 30 centimeter di sekitar tiang panjatan. Masukkan media tanamke pada lubang tanam yg terdiri menurut campuran tanah, pupuk sangkar, danpasir/sekam bakar menggunakan perbandingan 1:1:1 Pada sistem panjatan gerombolan (double rowing) pengolahan tanah dilakukan pada semua alur penanaman diantaradua tiang betong yang telah dipersiapkan. Alur dibuat sepanjang 4 m denganlebar galian 40-60 centimeter. Arah alur sinkron menggunakan arah kawat pengikat btg,yaitu diantara 2 tiang betong. Kemudian media tanam ditebar merata ke dalamalur yang telah dibuat. Komposisi media tanama yang dipakai pada satu aluradalah 20 kg tanah top soil, 20 kg pupuk sangkar, dan 20 kg sekam bakar. Adukbahan tersebut sampai merata lalu dimasukkan ke dalam lubang alur. Setelahsemua media dimasukkan ke pada alur kemudian dilakukan penyiraman dalam mediahingga basah.
2.4Pembibitan

Sebelummelakukan penyetekan harus dipiliha btg atau cabang tumbuhan yg baik,sehat, tua, dan telah pernah berbuah paling tidak tiga-4 kali. Keberhasilan stekditentukan sang calon btg yang digunakan. Batang yang pernah berbuahpertumbuhannya akan cepat, kokoh, serta mudah membangun tunas. Sedangkan batangatau cabang yg masih muda mengandung banyak air sehingga lebih rentanterserang penyakit. Pilihlah btg atau cabang yg tua, sehat, berwarna hijaugelap dengan ukuran panjang ideal minimal 30 centimeter. Batang atau cabang yangmemenuhi kriteria tersebut akan lebih cepat tumbuh dan mengeluarkan tunas baru.
Stek ditanampada polibag yg sudah diisi media dengan komposisi 1 tanah, 1 pupuk sangkar,serta 1 sekam bakar. Polybag diletakkan pada atas bedengan yg sudah disiapkandengan jarak 20 cm x 20 cm. Bedengan dibentuk dengan lebar 100 centimeter. Langkahselanjutnya tempat persemaian ditutup dengan plastik sungkup transparan denganditopang menggunakan bambu yang dipasang melengkung. Selama pembibitan kondisimedia harus dijaga agar nir kekeringan. Tunas baru
2.5Penanaman

Setelahtanah serta tiang panjatan dibuat, bibit yang telah siap harus segera ditanam dilahan. Penanaman harus dilakukan menggunakan hati-hati. Penanaman yang tidak benarakan menyebabkan bibit stress serta pertumbuhannya terhambat. Perhatikan padasaat penanaman media dalam polybag jangan hingga pecah karena akan membuatbibit kesuliatan beradaptasi dampak mengalami kerusakan akar. Selain itu,kedalaman penanaman idealnya 20% dari panjang bibit. Penanaman yg terlaludalam akan menciptakan bibit mudah terserang penyakit busuk batang.
Teknispenanaman sistem tiang panjat tunggal tidak sinkron dengan penanaman dalam sistemtiang panjat berkelompok. Pada penanaman sistem tiang panjatan tunggaldilakukan dengan jarak tanam 10 cm dari tiang panjatan. Keempat stek ditanammengelilingi tiang panjatan. Ikat keempat bibit tadi pada tiang panjatanmenggunakan tali yang lunak supaya bibit nir mudah jatuh. Lakukan pengikatandengan hati-hati, jangan terlalu bertenaga sehingga menyebabkan batang tanamanterluka. Batang tumbuhan yg terluka akan gampang terserang penyakit, terutamabusuk batang. Lakukan penyiraman setelah penanaman terselesaikan.
2.6 Pemeliharaan Tanaman BuahNaga

ØPengairan
Pada dasarnya flora butir naga nir membutuhkanirigasi spesifik. Umunya pengairan dilakukan menggunakan sistem tadah hujan. Olehkarena akarnya yang sangat lebat, sehingga buah naga tahan terhadap kekeringan.tetapi butir naga tetap memerlukan air yg relatif selama pertumbuhannya.kekurangan air selama fase vegetatif bisa menciptakan tanaman layu serta sulitbertunas.
ØPenyulaman tanaman
Penyulaman adalah aktivitas mengganti tumbuhan yangmati ditimbulkan lantaran agresi hama, penyakit, atau sebab lain. Tujuan berdasarkan penyulamanyaitu agar tanaman sanggup berproduksi optimal serta efisiensi huma tetap tinggi.penyulaman dilakukan dalam umur 7 hari sehabis tanam hingga flora berumur 2bulan.
ØPengikatan batang ataucabang
Pengikatan dilakukan setiap 20-25 cm ke tiangpanjatan. Tali pengikat bisa memakai tali rafia atau tali lunak lainnyadengan membangun angaka 8. Pengikatan jangan terlalu kencang supaya btg ataucabang nir terjepit yang dapat mengakibatkan luka atau bahkan patah. Selainitu tujuan pengikatan juga buat mempermudah akar udara menempel pada tiangpanjatan sehingga memperkokoh posisi tanaman .
ØPemupukan susulan
Oleh karena itu, perlu diberi pupuk susulan atau pupuktambahan. Pada budidaya butir naga menggunakan sistem organik pemberian pupuktambahan dilakukan memakai pupuk kandang atau bahan organik lain yg sudahdifermentasi. Dosis anugerah pupuk organik sebesar 2-5 gram/tanaman dalam fasevegetatif serta 5-10 gr/tumbuhan dalam fase generatif. Frekuensi pemberian pupukdilakukan dua bulan sekali. Pupuk diberikan menggunakan cara menggali lubangdisekitar tanaman , jangan terlalu dekat menggunakan batang lantaran bisa melukai akartanaman, lalu ditaburkan serta segera ditutup dengan tanah. Setelah semuapupuk ditutup dengan tanah, lakukan penyiraman agar pupuk mudah bereaksi danterserap oleh akar tanaman .
ØPemangkasan
Pemangkasan tumbuhan bertujuan buat memperoleh bentukyang baik sehingga menunjang pertumbuhan yg baik. Selain itu, pemangkasanjuga bertujuan buat membuang bagian flora yg nir produktif misalnya cabangyang kerdil atau kurus. Batang atau cabang yang tidak produktif akan menghambatpembentukan tunas baru dan butir lantaran berkompetisi dengan batang produktifdalam memperoleh hara.
ØSeleksibunga serta buah
Tanaman yang sudah mulai berbungan ditandai denganmunculnya bunga dalam cabang produktif. Biasanya akan muncul lebih berdasarkan satubunga. Oleh karena itu, seleksi bunga dilakukan saat bunga masih mini ,sehingga nutrisi nir digunakan buat perkembangan bunga yang dibuang. Pilih2-3 bunga yang paling besar , sehat, berwarna cerah, serta segar dalam setiapcabang produktif dengan jarak antar bunga kurang lebih 30 centimeter.
2.6Pengendalian Hama serta Penyakit

ØTungau (Tetranycus sp.)
Tungau ukuran sangat mini dengan bentuk menyerupailaba-laba dan bersifat polyfag, yaitu menyerang hampir segala jenis tumbuhan.serangga dewasa berukuran sekitar 1 mm serta aktif pada siang hari. Siklushidup tungau berkisar antara 14-15 hari. Tungau menyerang tumbuhan buah nagadengan cara menghisap cairan batang serta cabang. Akibatnya dipermukaan kulitbatang atau cabang flora yg terserang timbul bintik-bintik kuning ataucokelat. Serangan yang berat akan mengakibatkan flora butir naga tumbuh nir normal.
Pengendalian tungau sanggup dilakukan menggunakan penyemprotanpestisida nabati tiga-4 hari sekali, misalnya nimba, tagetes, eceng gondok, ataurumput bahari. Untuk memulihkan flora yg terserang tungau diberikan nutrisitanaman organik, baik melalui akar, dengan cara dikocor, maupun melalui tubuhtanaman, dengan cara disemprot.
ØKutu Kebul (Bemisia tabaci)
Salah satu hama primer dalam budidayabuah naga adalah kutu kebul. Imago serangga dewasa berukuran 1-1,5 mm, berwarnaputih, dan sayapnya ditutupi lapisan lilin yg bertepung. Serangga dewasabiasanya berkelompok pada permukaan bagian bawah cabang. Jika flora disentuhbiasanya serangga akan beterbangan seperti kabut atau kebul putih. Gejalaserangan kutu kebul dalam tumbuhan butir naga ditandai menggunakan adanya bercaknekrotik akibat rusaknya sel-sel serta jaringan flora pada btg atau cabangyang terserang. Ekskresi kutu kebul berupa madu yang adalah media tempattumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan prosesfotosintesis berlangsung tidak normal. Selain kerusakan eksklusif dalam flora,kutu kebul merupakan serangga yang sangat berbahaya karena berperan sebagaivektor penular virus tumbuhan. Kerugian akibat agresi kutu kebul dapatmencapai 20-100%. Hingga waktu ini, tercatat sebesar 60 jenis virus yangberpotensi ditularkan oleh kutu kebul.
Pengendalian hama kutu kebul dapatdilakukan secara kultur teknis, yaitu menggunakan menerapkan metode strip-plantingyaitu penerapan tumbuhan perangkap. Tanaman perangkap sanggup ditanam mengelilingiareal budidaya buah naga sehingga membentuk pagar yg kedap. Beberapa tanamanyang efektif digunakan menjadi perangkap kutu kebul antara lain, jagung, bungamatahai, kacang panjang, dan buncis. Selain penerapan strip planting,pengendalian gulma juga wajib dilakukan secara rutin. Gulma sangat berpotensisebagai inang kutu kebul.
ØBusuk Pangkal Batang
Penyakit busung pangkal btg biasanya menyerang padasaat awal penanaman. Gejala serangan ditandai dengan adanya pembusukan padapangkal btg sebagai akibatnya mengakibatkan batang berair serta berwarna kecokelatan.pada wilayah terjangkit masih ada bulu-bulu putih halus yang adalah miseliumcendawan. Penyakit ini disebabkan oleh agresi cendawan Sclerotium rolfsiiSacc. Serta lebih sering menyerang tanaman dalam waktu cuaca lembab.
Upaya pengendalian bisa dilakukan dengan pengaturandrainase serta kelembaban dalam ketika musim hujan. Penyemprotan flora menggunakanpestisida botani, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah.bahan-bahan tadi direbus dan disemprotkan pada tanaman . Upaya lain yangbisa dilakukan adalah menggunakan pemanfaatan agensia hayati, misalnya Trichoderma sp. Serta Gliocldium sp.
ØBusuk Bakteri
Serangan penyakit ini desebabkan sang infeksi bakteriPseudomonas sp. Gejala flora yg terjangkit penyakit busuk bakteri ditandaidengan adanya pembusukan pada pangkal batang, masih ada lendir putih kekuninganpada wilayah serangan, dan tanaman tanpak kusan serta layu.
Pengendalian terhadap agresi bakteri ini dilakukandengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, pemugaran drainase buat mencegahadanya genangan air, pencabutan flora terjangkit dan tanah disekitar titiktanam dibuang jauh menurut areal budidaya. Usahakan pembuangan tanah tersebutjangan hingga tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi dengan kapur agar pHtanah lokal semakin tinggi. Penyemprotan tumbuhan memakai pestisida botani,seperti daun serai, bawang putih, kunyit, dan bawang merah. Bahan-bahantersebut direbus serta disemprotkan pada tanaman . Upaya lain yg mampu dilakukanadalah menggunakan pemanfaatan agensia biologi, misalnya Trichoderma sp. Serta Gliocldium sp.
2.7Panen

Ciri-Ciribuah naga siap panen :

Umur butir semenjak telah mencapai 50-55 hari setelahmuncul bunga; Warna kulit butir mengkilat dengan sisik berubah menurut hijaumenjadi kemerahan; Mahkota buah telah mengecil;Kedua pangkal buah keriput dankering; Bentuk buah bundar paripurna serta akbar dengan bobot diperkirakan 400-600g.

III.KESIMPULAN
Adapun kesimpilan adlah sebagi berikut ;
1.tanaman butir naga merupakan tanamnobat0obatan yg sangat baik dikonsusi tubuh, ketersediaanya masih terbatas danharganyanmasih tinggi.

2.budidaya flora buah naga tidak rumitdan dapt memberikan pendapatan yg lebih serta dapat menaikkan pendapatanpelaku utama.

PENGERTIAN NILAI TAMBAH PRODUK PERTANIAN MENURUT AHLI

Pengertian Nilai Tambah Produk Pertanian 
Nilai tambah (value added) merupakan pertambahan nilai suatu komoditas lantaran mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan pada suatu produksi. Dalam proses pengolahan nilai tambah dapat didefinisikan menjadi selisih antara nilai produk dengan nilai porto bahan standar serta input lainnya, nir termasuk tenaga kerja. Sedangkan marjin merupakan selisih antara nilai produk menggunakan harga bahan bakunya saja. Dalam marjin ini tercakup komponen faktor produksi yang dipakai yaitu tenaga kerja, input lainnya serta balas jasa pengusaha pengolahan (Hayami et al, 1987).

Berdasarkan pengertian tersebut, perubahan nilai bahan baku yg telah mengalami perlakuan pengolahan besar nilainya dapat diperkirakan. Dengan demikian, atas dasar nilai tambah yg diperoleh, marjin dapat dihitung dan selanjutnya imbalan bagi faktor produksi bisa diketahui. Nilai tambah yang semakin akbar atas produk pertanian khususnya kelapa sawit dan karet tentunya bisa berperan bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang besar tentu saja berdampak bagi peningkatan lapangan usaha serta pendapatan masyarakat yang muara akhirnya adalah menaikkan kesejahteraan masyarakat. Akan namun kondisi yg terus berlangsung ketika ini produk kelapa sawit serta karet pada jumlah yang signifikan diekspor tanpa mengalami pengolahan lebih lanjut di dalam negeri. Akhirnya laba nilai tambah atas kedua produk pertanian tadi hanya dinikmati oleh pihak asing.

Industri dan Pengembangan Produk Kelapa Sawit dan Turunannya
Komoditas agroindustri merupakan subsektor pertanian yang diharapkan dapat berperan krusial terhadap pertumbuhan ekonomi, penerimaan ekspor, penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, serta pemerataan pembangunan daerah. Ditinjau menurut cakupan komoditasnya, masih ada ratusan jenis tumbuhan tahunan serta tanaman musiman dapat tumbuh subur pada Indonesia, sehingga pembangunan agroindustri akan dapat menjangkau banyak sekali tipe komoditas yg sinkron dikembangkan di masingmasing daerah di Indonesia. Dilihat berdasarkan hasil produksinya, komoditas perkebunan adalah bahan baku industri serta barang ekspor, sebagai akibatnya telah inheren adanya kebutuhan keterkaitan aktivitas bisnis dengan aneka macam sektor serta subsektor lainnya. Di samping itu, apabila diamati berdasarkan sisi pengusahaannya, sekitar 85 % komoditas agro merupakan usaha perkebunan rakyat yg beredar di berbagai wilayah. Dengan demikian pembangunan industri agro akan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat, terutama melalui perannya dalam membangun lapangan kerja serta distribusi pemerataan pendapatan. 

Bisnis minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia berkembang pesat pada dasa warsa 1990–2000an dengan daya saing yg relatif mengagumkan. Areal kelapa sawit tumbuh menggunakan laju sekitar 11% berdasarkan 1.126 juta ha pada tahun 1991 sebagai tiga.584 pada tahun 2001 (Susila, 2004b). Perkembangan berikutnya (2000–2005) pertumbuhan ekspor CPO Indonesia serta dunia selalu positif. Pada periode ini, Malaysia masih lebih secara umum dikuasai daripada Indonesia, meski produksi Indonesia lebih tinggi. Pangsa ekspor CPO Malaysia rata-homogen mencapai lebih berdasarkan 50% ekspor CPO global, sementara pangsa ekspor Indonesia belum mencapai 40% (Nuryanti, 2008).

Sejak tahun 2006, Indonesia berhasil menggeser posisi Malaysia sebagai produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia, lebih cepat dari yang diproyeksikan semula yaitu tahun 2010. Dalam 5 tahun terakhir, kiprah Indonesia menjadi pembuat CPO dunia meningkat tajam sebagai 44,3% dalam 2008, sejalan menggunakan pesatnya pertumbuhan produksi yg tumbuh rata-homogen 9,1 % per tahun. Sebaliknya peran Malaysia turun secara tajam dari 49,8% pada tahun 2000 menjadi 40,9% dalam tahun 2008 (Miranti, 2010). Minat buat terus membuka lahan kebun sawit baru, pada tahuntahun mendatang masih akan sangat besar . Ini ditimbulkan oleh harga CPO pada pasar dunia yang masih akan terus naik, mengikuti kenaikan harga minyak mentah pada pasar internasional (Purwantoro, 2008; Nuryanti, 2008). Selain itu, minyak botani, terutama CPO akan terus diincar sebagai bahan biodiesel karena harganya jauh lebih murah (Tanet al., 2009). 

Konsistensi peningkatan ekspor ini berdasarkan kajian INDEF (2007) memberitahuakn bahwa: 
a. Serapan CPO sang industri domestik masih rendah karena industri hilir kelapa sawit yg nir berkembang. 
b. Nilai tambah tertinggi diperoleh dari produksi CPO, bukan berdasarkan produk turunannya. 

Pengusaha masih lebih tertarik dalam industri primer (CPO) yg cenderung padat energi kerja, bukan padat kapital karena buat memproduksi produk turunan dibutuhkan dana investasi yang tinggi. 

c. Tersedianya pangsa pasar global atas minyak sawit menggunakan pengembangan industri hilir dan asal tenaga alternalif (biodiesel)

Kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu flora perkebunan yang memiliki kiprah penting bagi subsektor perkebunan. Hilirisasi kelapa sawit diantaranya memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani serta warga , membangun nilai tambah pada pada negeri, penyerapan energi kerja, pengembangan wilayah industri, proses alih teknologi, dan buat ekspor sebagai penghasil devisa. Di luar itu, dari sisi upaya pelestarian lingkungan hayati, flora kelapa sawit yg adalah tanaman tahunan berbentuk pohon (tree crops) dapat berperan pada penyerapan efek gas tempat tinggal kaca, misalnya CO2, dan sanggup menghasilkan O2 atau jasa lingkungan lainnya, seperti perlindungan biodiversity atau eko-wisata (Kementan, 2007). Tanaman kelapa sawit jua sebagai asal pangan dan gizi primer penduduk dalam negeri, sebagai akibatnya keberadaannya berpengaruh sangat nyata dalam perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Komoditas kelapa sawit merupakan primadona perdagangan ekspor Indonesia dalam sub-sektor perkebunan serta adalah galat satu industri pertanian yang strategis. Prospeknya ditunjukkan sang peningkatan produksi yang sejalan dengan tingkat permintaannya. Kelapa sawit jua merupakan salah satu berdasarkan sedikit komoditas agribisnis Indonesia yang memiliki daya saing di pasar Internasional . 

Meskipun memiliki industri bahan standar yang melimpah, namun perkembangan industri ini masih kalah dibandingkan menggunakan Malaysia yang kapasitas produksinya mencapai 2 kali lipat menurut Indonesia. Sebagai citra, Indonesia menguasai sekitar 12 persen permintaan oleochemical global yang mencapai enam juta metrik ton per tahun, ad interim Malaysia mencapai 18,6 persen. Industri hilir Malaysia sanggup mengolah CPO sebagai lebih menurut 120 jenis produk bernilai tambah tinggi, sedangkan Indonesia baru belasan produk. Industri oleokimia adalah industri yang strategis lantaran selain keunggulan komparatif yakni ketersediaan bahan standar yang melimpah jua memberikan nilai tambah produksi yang cukup tinggi yakni di atas 40 persen berdasarkan nilai bahan bakunya (ICN, 2009a; Rai, 2010).

Industri oleokimia adalah industri antara yang berbasis minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Dari ke 2 jenis produk ini dapat didapatkan berbagai jenis produk antara sawit yang digunakan menjadi bahan standar bagi industri hilirnya baik untuk kategori pangan ataupun non pangan. Di antara grup industri antara sawit tersebut galat satunya merupakan oleokimia dasar (fatty acid, fatty , fatty amines, methyl esther, glycerol). Produk-produk tersebut menjadi bahan baku bagi beberapa industri misalnya farmasi, toiletries, dan kosmetik (Depperin, 2009; ICN, 2009a; Gumbira-Sa’id, 2010 ). 

Menurut Didu (2003), berdasarkan segi nilai tambah, semakin jauh diversifikasi produk dilakukan akan memberikan nilai tambah yg sangat signifikan. Produk level pertama kelapa sawit berupa CPO akan menaruh nilai tambah lebih kurang 30 % dari nilai TBS. Pengolahan selanjutnya akan memberikan masing-masing nilai tambah berbasis TBS menjadi berikut: minyak goreng (50 persen), asam lemak/fatty acid (100persen), ester (150–200 %), surfaktan atau pengemulsi (300–400 %), serta kosmetik (600–1000 %).

Gambar  Pohon Industri Kelapa Sawit

Sumber : Fadhil Hasan, Nilai Tambah Kelapa Sawit (2011)

Produksi serta Konsumsi Minyak Nabati Dunia 
Produksi CPO dunia mengalami lonjakan pertumbuhan yang cukup mengesankan pada beberapa tahun terakhir, yakni berdasarkan 33,5 juta ton pada 2004 menjadi 43,tiga juta ton pada 2008 atau tumbuh homogen-homogen 6,63 % per tahun. Lonjakan pertumbuhan ini terutama ditimbulkan produksi CPO Indonesia yg semakin tinggi 5,9 juta ton pada periode yg sama yakni berdasarkan 13,6 juta ton sebagai 19,2 juta ton atau bertumbuh rata-rata 9,1 persen per tahun. Produksi CPO dunia diperkirakan akan terus mengalami kenaikan, yakni mencapai 45,1 juta ton dalam 2009 serta 47,1 juta ton dalam 2010 yang dipicu oleh semakin meningkatnya permintaan China dan India, konsumen CPO terbesar global (Miranti, 2010).

Permintaan minyak kelapa sawit dunia terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008, total volume perdagangan minyak botani dunia mencapai 160 juta ton, 10 dimana 48 juta ton (30 persen) antara lain berasal menurut minyak kelapa sawit, disusul oleh minyak kedelai (23 persen). Tingginya permintaan minyak kelapa sawit ini terjadi karena banyaknya produk yang dihasilkan dengan memakai bahan baku minyak kelapa sawit (Syaukat, 2010) di samping harga CPO yang jauh lebih murah hingga mencapai 200 USD/ton kekamibang rapeseed oil (Tan et al., 2009). 

Konsumsi CPO global semakin tinggi pesat menurut 29,dua juta ton dalam 2004 menjadi 43,tiga juta ton pada 2008 atau bertumbuh rata-homogen 9,9 % per tahun, jauh diatas pertumbuhan produksi yang hanya 6,6 % per tahun. Oil World memperkirakan konsumsi CPO global akan terus bertumbuh sebagai 45,3 juta ton dalam 2009 dan 47,5 juta ton dalam 2010, sejalan menggunakan meningkat pesatnya permintaan CPO pada negara-negara konsumen khususnya China, India, serta Uni Eropa (USDA, 2009; 2010; Miranti, 2010). Perkembangan produksi dan konsumsi CPO dunia tersaji dalam tabel berikut :

Tabel Perkembangan Produksi dan Konsumsi CPO

Potensi Produksi Nasional 
Produksi CPO Indonesia tumbuh signifikan rata-rata 13,4 persen selama satu dasawarsa terakhir, yang didukung sang pertumbuhan areal tanam homogen-rata 6,7 % per tahun. Pangsa produksi CPO Indonesia di pasar internasional senantiasa menerangkan tren peningkatan. Total produksi Minyak Sawit (CPO serta CPKO) dunia pada 2010 sebanyak 47,1 juta ton, pada mana Indonesia serta Malaysia menguasai lebih menurut 80 persen produksi minyak sawit dunia. Pangsa CPO Indonesia sebesar 47,0 % sedangkan Malaysia sebanyak 38,2 %, sisanya sebesar 14,8 % merupakan sharesejumlah negara-negara lain.

Peningkatan pangsa produksi CPO nir tanggal dari dukungan bertambahnya luas areal kebun kelapa sawit. Wilayah Pulau Sumatera merupakan kontributor terbesar produksi kelapa sawit Indonesia menggunakan luas huma sekitar 70 persen dari total lahan kelapa sawit nasional.nanggroe Aceh Darussalam memiliki luas areal 454,4 ribu ha, Sumatera Utara 258,6 ribu ha, Sumatera Barat 47,7 ribu ha, Riau 1,5 juta ha, Jambi 511,4 ribu ha, Sumatera Selatan 1,3 juta ha, Kalimantan Barat 1,dua juta ha, Kalimantan Tengah 1,4 juta ha, Kalimantan Kamiur dua,8 juta ha, Kalimantan Selatan 965,lima ribu ha, Papua 1,5 juta ha, dan Sulawesi Tengah 215,7 ribu ha.

Tabel Pertumbuhan Luas Areal Kelapa Sawit

Market Share
Ekspor minyak sawit Indonesia semester I 2011 sebesar 8,20 juta metrik ton, meningkat 730 ribu metrik ton menurut tahun sebelumnya (semakin tinggi 8,9 %). Ekspor dalam semester I 2010 sebesar 7,47 juta ton metrik. Ekspor minyak kelapa sawit terdiri menurut minyak sawit dan minyak kernel, dan dalam bentuk minyak mentah dan diproses. Pangsa ekspor minyak sawit pada Indonesia dalam semester I 2011 sebesar 92,07 % (7,55 juta metrik ton), sedangkan pangsa minyak kernel hanya 7,97 persen (652 ribu metrik ton) [GAPKI, 2011].

Dari kedua jenis minyak sawit tersebut Indonesia mengekspor lebih poly minyak mentah dibandingkan dengan minyak olahan. Berdasarkan data GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) semester I 2011 ekspor minyak sawit mentah mencapai 56,02 %, sementara minyak sawit diproses hanya 43,98 %. Namun, bila dibandingkan menggunakan ekspor 2010, persentase minyak sawit olahan mengalami penurunan, pada sisi lain persentase minyak sawit mentah sudah meningkat. Pada 2010, ekspor minyak sawit olahan 46,19 persen dari ekspor total minyak sawit serta minyak sawit mentah 53,81 persen. 

Kondisi kebalikannya terjadi pada ekspor minyak kernel, di mana ada peningkatan ekspor minyak kernel yang telah diproses, ad interim minyak kernel mentah menurun. 

Dari 96 ribu metrik ton minyak kernel diproses (14,93 persen) dalam semester I 2010 meningkat sebagai 107 ribu metrik ton (16,42 %) dalam semester I 2011. Untuk ekspor minyak kernel mentah, menurun berdasarkan 552 ribu metrik ton (85,06 persen) dalam semester I 2010 menjadi 546 ribu metrik ton (83,58 persen) dalam semester I 2011 (GAPKI, 2011). Peningkatan minyak kelapa sawit Indonesia didorong sang kenaikan impor ke India dan China, India membeli 1/2 impor minyak sawit berdasarkan Indonesia dan Malaysia. India sudah melampaui China menjadi pembeli terbesar pada global minyak sawit.

Nilai Tambah Bisnis
Dilihat berdasarkan nilai tambah bisnis, industri pengolahan CPO menjadi keliru satu industri yang prospektif buat dikembangkan ke depan. Selain buat industri minyak makanan dan industri oleokimia, kelapa sawit dapat jua sebagai asal energi cara lain . 

Kementerian Pertanian (2005) mencatat konsumsi minyak sawit domestik mencapai 50-60 % dari produksi. Sebagian akbar penggunaannya, hampir 85 %, buat pangan sedangkan buat industri oleokomia hanya lebih kurang 15 persen. Nilai tambah ekonomi (baik nilai tambah bisnis maupun nilai tambah teknis) produk turunan CPO sangat bervariasi, tergantung berdasarkan harga bahan baku, taraf kesulitan pada ekstraksi produk, dan harga produk turunan pada pasar. Tetapi, satu hal yg niscaya, semakin bisa dimanfaatkan/dibutuhkan produk turunan tersebut, nilai tambahnya meningkat. CPO yg diolah sebagai sabun mandi saja sudah membuat nilai tambah sebesar 300 persen, terlebih lagi jika bisa dijadikan kosmetik yg nilai tambahnya mencapai 600 %. Nilai tambah CPO bila diolah menjadi minyak goreng sawit sebesar 60 persen, sedangkan apabila menjadi margarin mencapai 180 persen (Kementerian Perindustrian, 2011).

Oleh karenanya, pemerintah terus berusaha mendorong pengembangan produk turunan CPO, baik untuk keperluan bahan standar industri pangan juga non pangan. Produk pangan yg dapat didapatkan menurut CPO dan CPKO, misalnya emulsifier, margarin, minyak goreng, shortening, susu full krim, konfeksioneri, yogurt, dan lain-lain. Sedangkan produk non pangan yang dihasilkan berdasarkan CPO dan CPKO, seperti epoxy compound, ester compound, lilin, kosmetik, pelumas, fatty alcohol, biodiesel, serta lain-lain.

Di luar itu,jua masih ada produk samping/limbah, misalnya tandan kosong untuk bahan kertas (pulp), pupuk hijau (kompos), karbon, rayon; cangkang biji buat bahan bakar serta karbon; serat buat fibre board dan bahan bakar; batang pohon serta pelepah buat mebel pulp paper serta makanan ternak; limbah kernel dan sludge dapat dipakai buat makanan ternak (Kementerian Pertanian, 2011). Dengan demikian, poly nilai tambah yang dapat dihasilkan berdasarkan sebuah flora bernama kelapa sawit, akan sangat disayangkan bila hanya diekspor pada bentuk mentah. 

Nilai Tambah Teknis 
Nilai tambah CPO dapat diperoleh berdasarkan pengembangannya dalam industri minyak, makanan maupun industri oleokimia (Gambar 4.dua). Sayangnya, sejauh ini produk hilir CPO di Indonesia belum poly berkembang dibandingkan Malaysia, ketika ini Indonesia baru memproduksi kurang lebih 40 jenis, ad interim Malaysia sudah menghasilkan lebih menurut 100 Jenis (Kemenperin, 2011). Beberapa produk hilir CPO yang sudah diproduksi pada Indonesia diantaranya: (a) minyak goreng, margarin, vegetable gee (minyak samin), cocoa butter substitute (CBS), cocoa butter equivalent (CBE); (b) soap chip, sabun; (c) fatty acid, fatty alkohol, glycerin; dan (d) biodiesel.

Melihat banyaknya produk turunan yg bisa dikembangkan berdasarkan komoditas CPO di atas dan nilai tambah ekonomi yg bisa didapatkan, maka upaya hilirisasi CPO perlu disikapi secara positif. 

Forward-backward Linkage
Berdasarkan model serta data Input-Output 2008 dapat dipakai buat mengetahui inter-industry connectivity CPO, terutama indikator keterkaitan ke depan (forward linkage) dan keterkaitan ke belakang (backward linkage). Gambar di bawah ini memperlihatkan sektor yang mempunyai keterkaitan ke depan tertinggi merupakan industri minyak serta lemak, lalu kelapa sawit, industri kimia, dan industri makanan lainnya. Sedangkan sektor yg mempunyai keterkaitan langsung ke belakang tertinggi merupakan sektor industri pupuk serta pestisida, disusul forum keuangan, kelapa sawit, bangunan, dan jasa lainnya.

Potensi Permintaan
Siering peningkatan harga CPO di pasar internasional, harga produk hilirnya pun tentu pula mengalami peningkatan. Sekadar gambaran, buat produk hilirisasi minyak goreng, harga homogen-homogen minyak goreng curah serta minyak goreng kemasan pada 2 tahun terakhir mengalami peningkatan cukup signifikan. 

Peluang dan Kendala Pengembangan Industri Sawit Berkelanjutan 
Pengembangan agroindustri akan sangat strategis jika dijalankan secara terpadu serta berkelanjutan. Terpadu ialah ada keterkaitan usaha sektor hulu serta hilir secara sinergis serta produktif dan terdapat keterkaitan antarwilayah, antar sektor bahkan antar komoditas (Djamhari, 2004). Berkelanjutan, sebagaimana dirumuskan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) tahun 1987, adalah “Pembangunan yang sesuai menggunakan kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi berikutnya buat memenuhi kebutuhannya” (Plummer, 2005).

Saat ini kasus yg dihadapi oleh industri CPO nasional terutama infrastruktur termasuk akses jalan dan konektivitasnya menggunakan pengangkutan di pelabuhan buat mendukung industri pengolahan CPO. Masalah lain yang dihadapi merupakan tidak selaras menggunakan pertumbuhan industri turunannya. Pertumbuhan industri CPO dan produk CPO selama ini hanya diikuti pertumbuhan industri hulu. Seperti, industri fatty acid, fatty alcohol, glycerine, methyl esther. Sampai ketika ini CPO belum dimanfaatkan secara opkamial buat pengembangan industri hilir. Produk industri hilir hasil olahan CPO yang pengembangannya masih minim seperti surfactant, farmasi, kosmetik, serta produk kimia dasar organik. Padahal menggunakan menyebarkan industri hilir, maka nilai mata rantai serta nilai tambah produk CPO akan meningkat. Apalagi, produk turunan CPO mempunyai interaksi menggunakan sektor bisnis dan kebutuhan warga pada bidang pangan. Misalnya, pupuk, pestisida, bahan aditif makanan, pengawet kuliner, penyedap kuliner, bungkus plastik (Afifuddin dan Kusuma, 2007; Dou, 2009; ICN, 2009a). 

Pengembangan Karet dan Industri Karet Nasional 
Karet adalah galat satu komoditi perkebunan penting, baik buat asal pendapatan, kesempatan kerja, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-pusat baru pada wilayah sekitar perkebunan karet, maupun pelestarian lingkungan serta sumber daya biologi. Tanaman karet adalah tumbuhan perkebunan yang tumbuh subur di Indonesia. 

Tanaman ini menghasilkan getah karet (lateks) yg bisa diperdagangkan di masyarakat berupa lateks segar, slab/koagulasi, ataupun sit asap/sit angin. Selanjutnya,produk-produk tadi dipakai menjadi bahan standar pabrik crumb rubber (karet remah), yang membuat aneka macam bahan baku buat aneka macam industri hilir, misalnya ban, bola, sepatu, karet, sarung tangan, baju renang, karet gelang, mainan menurut karet, dan aneka macam produk hilir lainnya. Tersedianya huma yg luas memberikan peluang buat membuat produksi karet alam dalam jumlah besar . Di sisi lain, produksi karet alam jua bisa ditingkatkan menggunakan perbaikan teknologi pengolahan karet untuk mempertinggi efisiensi, sebagai akibatnya lateks yg didapatkan berdasarkan getah sanggup lebih banyak serta membuat material residu yang semakin sedikit.

Potensi Produksi
Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara produsen karet alam terbesar pada global dalam 2010 dengan pangsa lebih kurang 28 % menurut produksi karet alam dunia. Peringkat pertama ditempati Thailand menggunakan pangsa produksi sekitar 30 persen dari produksi karet alam dunia. Posisi ini tidak berubah dibanding tahun sebelumnya, di mana produksi karet Indonesia pada 2009 sebesar dua,4 juta ton berada pada urutan ke 2 dunia, sementara Thailand menempati urutan pertama menggunakan tiga,1 juta ton, dan Malaysia pada urutan ketiga menggunakan 951 ribu ton (Kina, 2010). Padahal kebun karet Indonesia merupakan yg terluas di dunia, yaitu mencapai tiga,40 juta ha, disusul Thailand dengan dua,67 juta ha serta Malaysia menggunakan 1,02 juta ha (Kementerian Pertanian, 2009). Ini menunjukkan bahwa produktivitas perkebunan karet Indonesia masih tertinggal dibanding pesaing primer, Thailand.

Pemerintah sudah tetapkan sasaran peningkatan produksi karet alam Indonesia sebanyak tiga-4 juta ton per tahun dalam 2020. Upaya peningkatan produksi ini selain membutuhkan peningkatan produktivitas huma tentunya juga membutuhkan bonus harga produk karet yg menguntungkan. Dari sisi harga ini, dalam pertengahan 2006, karet alam global mencapai harga US$2,lima per kg. Harga tersebut sangat menarik bagi petani serta pelaku usaha karet lainnya. Tren peningkatan terus terjadi hingga 2008, harga karet global mencapai US$3,4 per kg. Ini adalah harga karet alam tertinggi selama 50 tahun terakhir (MediaData, 2009). Sementara dari segi areal perkebunannya, Indonesia memilik hamparan kebun karet terluas di global. Menurut catatan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, sampai 2008 lalu luas areal perkebunan karet Indonesia mencapai lebih kurang 3,47 juta ha menggunakan total produksi karet alam sebanyak dua,9 juta ton. Pada 2009, luas areal perkebunan karet bertambah menjadi 3,52 juta ha menggunakan produksi sebesar 3,0 juta ton (Media Data, 2009).

Market Share
Karet alam termasuk sepuluh komoditas ekspor terbesar Indonesia dari 2008-2010, menggunakan nilai ekspor US$7.329,1 juta pada 2010 (UN Comtrade, 2011). Sementara dicermati dari negara tujuan ekspor, sepanjang 2005-2009 ekspor karet Indonesia pada bentuk remah sebagian akbar tertuju ke Amerika Serikat dengan homogen-homogen pangsa 28 persen, disusul China 16 %, Jepang 14 persen, serta Singapura 6 %. Dengan pangsa ekspor ke Amerika Serikat yg relatif besar tersebut, maka masuk akal saat krisis dunia melanda Amerika Serikat ekspor Indonesia ke negara tadi menurun tajam. Padahal ekspor karet alam Indonesia sempat mencapai nomor tertinggi dalam 2007 sebanyak dua,4 juta ton, namun karena krisis tersebut ekspor menurun pada 2008 menjadi 2,dua juta ton dan turun lagi pada2009 menjadi 1,9 juta ton.

Ekspor karet alam Indonesia didominasi sang jenis SIR/TSR (Standard Indonesia Rubber/Technically Specified Rubber) yangmencapai 93,6persen dari total ekspor. Di antara karet alam jenis SIR itu, jenis karet alam yg paling poly diminta oleh kalangan industri ban adalah SIR 20.sementara itu, ekspor produk karet masih relatif kecil kendati terus menampakan peningkatan. Pada 2004 nilai ekspor produk karet Indonesia mencapai US$774,9 juta dan naik menjadi US$1,lima miliar pada 2008. Produk karet yang diekspor terutama berupa ban, sarung tangan karet serta produk karet lainnya. Pada 2008 ekspor ban Indonesia mencapai US$ 934 juta, sedangkan nilai ekspor sarung tangan karet mencapai US$ 175,9 juta.

Konsumsi karet alam pada dalam negeri sejauh ini masih nisbi kecil. Pada 2009 volume karet alam yg dikonsumsi pada pada negeri hanya sekitar 15persen (422ributon) berdasarkan total produksi karet alam nasional(Gambar 4.9).dari jumlah konsumsi domestik itu, sekitar 55persendi antaranya dari menurut konsumsi industri ban. Konsumsi domestik lainnya dari menurut industri vulkanisir, industri sepatu serta alas kaki, sarung tangan dan benang, produk karet industri lainnya, alat-alat rumah tangga,serta peralatan olahraga.

Nilai Tambah Bisnis
Prospek usaha pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan permanen menarik, karena marjin laba yang diperoleh pabrik nisbi pasti. Marjin pemasaran berkisar antara 3,7-32,lima % menurut harga FOB (Free On Board), tergantung pada taraf harga yg berlaku (Kementerian Pertanian, 2007). Tingkat harga FOB itu sendiri sangat ditentukan sang harga global yang mencerminkan permintaan serta penawaran karet alam, serta harga beli pabrik dipengaruhi kontrak pabrik menggunakan pembeli/buyer (umumnya pabrik ban) yg wajib dipenuhi. Pada umumnya marjin yang diterima pabrik akan semakin akbar apabila harga meningkat. 

Pemanfaatan karet alam pada luar industri ban tunggangan di Indonesia masih relative mini , mengingat industri karet di luar ban umumnya dalam skala mini atau menengah. 

Sementara itu, industri berbasis lateks pada ketika ini belum berkembang lantaran poly menghadapi hambatan. Kendala utama adalah rendahnya daya saing produk-produkindustri lateks Indonesia bila dibandingkan dengan pembuat lain, terutama Malaysia.

Selain itu, produktivitas karet Indonesia juga lebih rendah dibanding India, hanya kurang lebih 50 % saja menurut produktivitas karet pada India (Kementerian Koordinator Perekonomian, 2011). Meskipun demikian, di kembali tantangan inilah sesungguhnya letak peluang bisnis hilirisasi industri karet alam mengingat pasar yang cukup potensial serta kompetisi antarprodusen di Indonesia yg nisbi masih terbatas.

Nilai Tambah Teknis
Indonesia belum sanggup memanfaatkan produk karet alam secara opkamial. Dari lebih kurang 2,9 juta ton produk karet nasional, sebanyak 85 persen diekspor pada bentuk bahan baku (crumb rubber, sheet, lateks, serta sebagainya). Hanya sekitar 15 % produk karet alam yg diserap oleh industri rekayasa pada dalam negeri (Media Data, 2009). Kondisi ini jauh tidak selaras dibandingkan menggunakan Malaysia, dimana industri hilir dalam negeri bisa menyerap lebih kurang 70 persen menurut total produksi negara tersebut (Kementerian Pertanian, 2007). Rendahnya konsumsi karet alam domestik mencerminkan belum berkembangnya industri hilir yg berbasis karet alam. Hal ini menyebabkan perolehan nilai tambah komoditi karet masih nisbi rendah. 

Pohon Industri Karet
Banyak produk turunan yg dapat dikembangkan dari karet alam. Hasil primer dari pohon karet adalah lateks, yang bisa dijual atau diperdagangkan dimasyarakat berupa lateks segar, slab (koagulasi), ataupun sit asap (sit angin). Selanjutnya, produkproduk tadi akan digunakan menjadi bahan standar pabrik crumb rubber, yang membuat aneka macam bahan standar untuk berbagai industri hilir seperti ban, bola, sepatu, karet busa ,sarung tangan, mainan dari karet, dan banyak sekali produk hilir lainnya.

Forward-backward Linkage
Berdasarkan contoh dan data Input-Output 2008 bisa digunakan buat mengetahui inter industry connectivity karet, terutama indikator keterkaitan ke depan (forward linkage) dan keterkaitan ke belakang (backward linkage). Sektor yg mempunyai keterkaitan ke depan tertinggi merupakan industri barang karet dan plastik, kemudian karet, industri tekstil, sandang serta kulit, dan industri kimia. Sedangkan sektor yg mempunyai keterkaitan pribadi ke belakang tertinggi adalah sektor karet, disusul industri pupuk dan pestisida, industri kimia, perdagangan, dan bangunan.

Potensi Permintaan
Permintaan karet alam global cenderung meningkat berdasarkan periode 2008-2011. 
Peningkatan permintaan terutama menurut China, India, Brazil serta negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tinggi di Asia Pasifik. Bahkan dalam tahun 2008 dan 2010 sempat terjadi defisit permintaan karet masing-masing sebanyak 47 ribu ton dan 377 ribu ton, terutama lantaran meningkatnya permintaan dari Asia Pasifik. Menurut IRSG (International Rubber Studi Group) diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam dalam 2 dasa warsa ke depan (Kementerian Perindustrian, 2007).

Tren peningkatan permintaan karet alam global mendorong kenaikan harga. Hal ini adalah insentif bagi penghasil karet buat menaikkan produksinya. Pada akhir 2008, harga karet alam di pasar dunia sempat turun sampai ke level terendah senilai US$1,2 per kg. Hal ini disebabkan turunnya harga minyak mentah dunia dan terjadinya krisis keuangan pada Amerika Serikat. Padahal, selama ini Amerika Serikat merupakan importir karet alam terbesar global beserta China serta Jepang. Tetapi, tren peningkatan harga balik terjadi baik buat karet TSR20 maupun RSS3 sejak triwulan I 2009 sampai triwulan I 2011.

Lokasi Penyebaran
Sejumlah lokasi pada Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok buat penanaman karet, sebagian besar berada pada wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dengan adanya penyebaran huma‐lahan penanaman pohon karet hampir pada semua provinsi yg ada pada Indonesia saat ini akan membantu dalam pemenuhan kebutuhan karet alami serta pemenuhan industri pengolahan hasil berdasarkan pengolahan pohon karet.

Pengembangan industri karet di wilayah Sumatera adalah hal yg cukup realistis buat segera diwujudkan. Dengan pangsa produksi karet alam sebanyak 65 persen dari total produksi nasional ketersediaan bahan baku di wilayah ini relatif lebih terjamin (Kementerian Koordinator Perekonomian, 2011). Lebih dari itu, menggunakan semakin meningkatnya industri otomotif pada dunia dibutuhkan permintaan karet alami akan semakin semakin tinggi ke depan.