BAHAN ORGANIK

  Bahan Organik

 Bahan organik terdiri atas limbah flora danhewan menjadi hasil proses dekomposisi. Unsur organik cendrung memperbaiki struktur tanah serta bersifatmeningkatkan permeabilitas tanah, kapasitas tampung air tanah dan kesuburantanah.  Kumpulan unsur organik pada ataspermukaan bisa Mengganggu kecepatan air larian serta menggunakan demikian menurunkanpotensi terjadinya erosi.

  Struktur Tanah
Struktur tanah adalah susunanpartikel-partikel tanah yg membangun agregat.   Struktur tanah menghipnotis kemampuan tanahdalam menyerap air tanah, misalnya struktur tanah granuler serta tanggal mempunyaikemampuan akbar dan menloloskan air larian serta menggunakan demikian menurunkan lajuair larian.

 Permeabilitas Tanah

Permeabilitas menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air.   Struktur serta tekstur tanah serta unsurorganik lainnya ikut ambil bagian dalam memilih permeabilitas tanah.  Tanah menggunakan permeabilitas tinggi menaikkanlaju infiltrasi dan menggunakan demikian menurunkan laju air larian.
            Wischmeier& Smith (1978) dalam Asdak (1995)melaporkan bahwa nilai erodibilitas tanah (K) dihitung menggunakan persamaan :
100 K = 1,292 (dua,1M1,14(10-4) (12-a) + tiga,25 (b-2) + dua,lima (c-3) ….        (6)

Dimana :
            K= Erodibilitas tanah
            M= Persentase berukuran partikel (% debu + % pasir halus) x (100-% liat)
            a  = Persen bahan  organik (%c organik x 1,724)
            b= Kode pembagian terstruktur mengenai struktur tanah
            c= Kelas permeabilitas tanah
Kriteria tentang kelas strukturtanah,   permeabilitas tanah, kandunganbahan organik,  pembagian terstruktur mengenai erodibilitas(K) serta  tekstur tanah disajikan padatabel 4,lima,6, 7 dan 8.


PARAMETER KIMIA KUALITAS AIR

Parameter Kimia Kualitas Air - Air yang dipakai buat budidaya udang atau organisme perairan yg lain memiliki komposisi dan sifat-sifat kimia yg tidak selaras dan tidak kontinu. Komposisi serta sifat-sifat kimia air ini bisa diketahui melalui analisis kimia air. 

Dengan demikian bila ada parameter kimia yg keluar dari batas yang telah  ditentukan dapat segera dikendalikan.

Parameter-parameter kimia yang digunakan buat menganalisis air bagi kepentingan budidaya diantaranya :


PARAMETER KIMIA KUALITAS AIR


1. Salinitas

Salinitas dapat didefinisikan menjadi total konsentrasi ion-ion terlarut dalam air. Dalam budidaya perairan, salinitas dinyatakan pada permil (°/oo) atau ppt (part perthousand) atau gr/liter. 

Tujuh ion primer yaitu : sodium, potasium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat memiliki donasi besar terhadap besarnya salinitas, sedangkan yang lain dianggap mini (Boyd, 1990). 


Sedangkan dari Davis et al. (2004), ion calsium (Ca), potasium (K), serta magnesium (Mg) adalah ion yg paling krusial pada menopang taraf kelulushidupan udang. Salinitas suatu perairan dapat dipengaruhi menggunakan menghitung jumlah kadar klor yg ada dalam suatu sampel (klorinitas). 


Sebagian besar petambak membudidayakan udang pada air payau (15-30 ppt). Meskipun demikian, udang bahari sanggup hidup pada salinitas dibawah 2 ppt serta pada atas 40 ppt.
2. PH

pH didefinisikan menjadi logaritme negatif dari konsentrasi ion hidrogen [H+] yang memiliki skala antara 0 hingga 14. PH mengindikasikan apakah air tadi netral, basa atau asam. 

Air menggunakan pH dibawah 7 termasuk asam dan diatas 7 termasuk basa. PH adalah variabel kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari. Pada perairan generik yang nir dipengaruhi kegiatan biologis yang tinggi, nilai pH sporadis mencapai diatas 8,lima, namun pada tambak ikan atau udang, pH air bisa mencapai 9 atau lebih (Boyd, 2002). 


Perubahan pH ini adalah dampak pribadi dari fotosintesis yg menggunakan CO2 selama proses tersebut. Karbon dioksida pada air bereaksi membentuk asam seperti yg masih ada dalam persamaan pada bawah ini :

CO2 + H2O HCO3 - + H+

Ketika fotosintesis terjadi pada siang hari, CO2 poly terpakai pada proses tersebut. Turunnya konsentrasi CO2 akan menurunkan konsentrasi H+ sebagai akibatnya menaikkan pH air. Sebaliknya dalam malam hari semua organisme melakukan respirasi yang membentuk CO2 sehingga pH menjadi turun. 

Fluktuasi pH yang tinggi bisa terjadi bila densitas plankton tinggi. Tambak dengan total alkalinitas yg tinggi mempunyai fluktuasi pH yang lebih rendah dibandingkan dengan tambak yg beralkalinitas rendah. Hal ini disebabkan kemampuan total alkalinitas sebagai buffer atau penyangga (Boyd, 2002).
3. Alkalinitas

Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa menurunkan pH larutan. Alkalinitas adalah buffer terhadap pengaruh pengasaman. Dalam budidaya perairan, alkalinitas dinyatakan pada mg/l CaCO3. 

Penyusun utama alkalinitas adalah anion bikarbonat (HC03 -), karbonat (CO3 dua- ), hidroksida (OH-) dan pula ion-ion yang jumlahnya kecil misalnya borat (BO3 -), fosfat (P04 tiga-), silikat (SiO4 4-) serta sebagainya (boyd, 1990).
Peranan penting alkalinitas dalam tambak udang diantaranya menekan fluktuasi pH pagi dan siang serta penentu kesuburan alami perairan. 

Tambak dengan alkalinitas tinggi akan mengalami fluktuasi pH harian yg lebih rendah apabila dibandingkan dengan tambak menggunakan nilai alkalinitas rendah (Boyd, 2002). 


Menurut Davis et al. (2004), penambahan kapur bisa menaikkan nilai alkalinitas terutama tambak menggunakan nilai total alkalinitas dibawah 75 ppm.

4. Oksigen Terlarut (dissolved oxygen)

Oksigen terlarut merupakan variabel kualitas air yg sangat penting pada budidaya udang. Semua organisme akuatik membutuhkan oksigen terlarut buat metabolisme. Kelarutan oksigen pada air tergantung pada suhu serta salinitas. 

Kelaruran oksigen akan turun bila suhu serta temperatur naik (Boyd, 1990). Hal ini perlu diperhatikan lantaran dengan adanya kenaikan suhu air, fauna air akan lebih aktif sebagai akibatnya memerlukan lebih poly oksigen.

Oksigen masuk dalam air melalui beberapa proses. Oksigen dapat terdifusi secara eksklusif berdasarkan atmosfir selesainya terjadi kontak antara bagian atas air menggunakan udara yg mengandung oksigen 21% (Boyd, 1990). Fotosintesis tanaman air adalah sumber primer oksigen terlarut dalam air. Sedangkan pada budidaya udang, penambahan suplai oksigen dilakukan dengan menggunakan aerator (Hargreaves, 2003).
Pada waktu cuaca mendung atau hujan bisa menghambat pertumbuhan fitoplankton lantaran kekurangan sinar surya buat proses fotosintesis. Kondisi ini akan mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut lantaran oksigen nir bisa diproduksi ad interim organisme akuatik permanen mengkonsumsi oksigen. 

Keterbatasan sinar surya menembus badan air bisa pula ditimbulkan sang tingginya partikel yang terdapat pada kolom air, baik lantaran bahan organik maupun densitas plankton yg terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya fotosintesis algae yang ada pada dasar tambak (Hargreaves, 1999).

Tingginya kepadatan tebar (stocking density) dan pemberian pakan (feeding rate) bisa menyebabkan turunnya kensentrasi oksigen terlarut dalam air. Sisa pakan (uneaten feed) dan residu hasil metabolisme menyebabkan tingginya kebutuhan oksigen buat menguraikannya (oxygen demand). 

Kemampuan ekosistem kolam budidaya untuk menguraikan bahan organik terbatas sehingga bisa mengakibatkan rendahnya konsentrasi oksigen terlarut dalam air (Boyd, 2004).

5. Biological Oxygen Demand (BOD)

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan menjadi banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada waktu pemecahan bahan organik pada syarat aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan sang organisme sebagai bahan kuliner dan energinya diperoleh menurut proses oksidasi (Pescod pada Salmin, 2005).
Waktu yg dibutuhkan buat proses oksidasi bahan organik secara paripurna menjadi CO2 dan H2O adalah tidak terbatas. Penghitungan nilai BOD umumnya dilakukan dalam hari ke lima lantaran dalam saat itu persentase reaksi relatif akbar, yaitu 70-80% berdasarkan nilai BOD total (Sawyer dan MC Carty, 1978 pada Salmin, 2005).

6. Produktivitas primer

Dalam kolam budidaya, tanaman air baik macrophyta maupun plankton adalah produsen primer menjadi sumber utama bahan organik. Melalui proses fotosintetis, flora memakai karbon dioksida, air, cahaya mentari serta nutrien buat menghasilkan bahan organik dan oksigen misalnya dalam reaksi :

6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2

Fotosintesis merupakan proses fundamental pada kolam budidaya. Oksigen terlarut yg diproduksi melalui fotosintesis merupakan sumber primer oksigen bagi seluruh organisme pada ekosistem kolam (Howerton, 2001). 

Glukosa atau bahan organik yg dihasilkan adalah penyusun primer material organik yg lebih besar serta kompleks. Hewan yg lebih tinggi tingkatannya pada rantai makanan memakai material organik ini baik secara langsung dengan mengkonsumsi flora atau mengkonsumsi organisme yg memakan tumbuhan tadi (Ghosal et al. 2000).
Proses biologi lainnya yg sangat krusial dalam budidaya perairan adalah respirasi, dengan reaksi :

C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O

Dalam respirasi, bahan organik dioksidasi menggunakan membuat air, karbon dioksida serta energi. Pada ketika siang hari proses fotosintesis dan respirasi berjalan secara beserta-sama. Pada malam hari hanya proses respirasi yang berlangsung, sebagai akibatnya konsentrasi oksigen terlarut pada air turun sedangkan konsentrasi karbon dioksida naik.

Kedua proses tadi mempunyai imbas langsung dalam budidaya perairan. Oksigen terlarut dibutuhkan organisme buat hidup sedangkan fitoplankton merupakan sumber primer oksigen terlarut disamping sebagai penyusun primer rantai kuliner pada ekosistem kolam budidaya. 

Salah satu cara buat memilih status suatu ekosistem pada sedimen adalah dengan menghitung fotosintesis/respirasi rasio (P/R ratio). Jika P/R ratio lebih mini menurut satu (1) maka sedimen tadi termasuk heterotropik, dimana karbon lebih poly digunakan buat respirasi dibandingkan yang didapatkan menurut fotosintesis. 


Sedangkan jika P/R ratio lebih akbar dari satu (1) memberitahuakn sedimen tadi termasuk autotofik, dimana karbon lebih banyak diproduksi berdasarkan pada dipakai buat respirasi (Eyre serta Ferguson, 2002).

7. Sedimen

Managemen dasar tambak atau sedimen masih kurang diperhatikan apabila dibandingkan menggunakan managemen kualitas air tambak budidaya. Banyak bukti yg menandakan adanya impak yang kuat pertukaran nutrien antara sedimen menggunakan air terhadap kualitas air (Boyd, 2002).
8. Oxidized Layer

Oxidized layer merupakan lapisan sedimen yang berada paling atas yg mengandung oksigen. Lapisan ini sangat berguna serta harus dipelihara keberadaannya selama siklus budidaya (Boyd, 2002). Pada lapisan tersebut terjadi dekomposisi aerobik yang membentuk antara lain : CO2, air, amonia, serta nutrien yang lainnya. 

Pada sedimen anaerobik, beberapa mikroorganisme menguraikan material organik dengan reaksi fermentasi yg membentuk alkohol, keton, aldehida, dan senyawa organik lainnya menjadi hasil metabolisme. Menurut Blackburn (1987) dalam Boyd (2002), 


beberapa mikroorganisme anaerobik bisa memanfaatkan O2 menurut nitrat, nitrit,ferro, sulfat, serta karbon dioksida buat menguraikan bahan organik menggunakan mengeluarkan gas nitrogen, amonia, H2S, serta metan sebagai hasil metabolisme.

Beberapa produk metabolisme, khususnya H2S, nitrit, dan amonia berpotensi toksik terhadap ikan atau udang. 

Lapisan oksigen yang ada pada permukaan sedimen bisa mencegah difusi sebagian besar senyawa beracun sebagai bentuk yang nir beracun melalui proses kimiawi serta biologi ketika melalui permukaan yang beroksigen. 


Nitrit diokdidasi sebagai nitrat, ferro dioksidasi menjadi ferri, dan H2S menjadi sulfat (Boyd, 2004c). Selanjutnya dikatakan bahwa kehilangan oksigen pada sedimen bisa ditimbulkan oleh akumulasi bahan organik yg tinggi sebagai akibatnya oksigen terlarut terpakai sebelum mencapai bagian atas tanah. 


Tingkat anugerah pakan yg tinggi dan blooming plankton bisa mengakibatkan penurunan oksigen terlarut.

9. Bahan Organik

Tanah dasar tambak yang mengandung karbon organik 15-20% atau 30- 40% bahan organik jelek buat budidaya perairan. Kandungan bahan organik yang baik buat budidaya udang kurang lebih 10% atau 20% kandungan karbon organik (Boyd, 2002). 

Kandungan bahan organik yg tinggi akan meningkatkan kebutuhan oksigen buat menguraikan bahan organik tadi menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga akan terjadi persaingan penggunaan oksigen dengan biota yg ada dalam tambak.

Peningkatan kandungan bahan organik pada tanah dasar tambak akan terjadi menggunakan cepat terutama pada tambak yg memakai sistem budidaya secara semi intensif juga intensif menggunakan tingkat hadiah pakan (feeding rate) serta pemupukan yg tinggi (Howerton, 2001). 

Disamping mengendap pada dasar tambak, limbah organik jua tersuspensi dalam air sehingga menghambat penetrasi cahaya surya ke dasar tambak.
Limbah tambak yg terdiri berdasarkan residu pakan (uneaten feed), kotoran udang (feces), serta pemupukan terakumulasi pada dasar tambak maupun tersuspensi pada air. Limbah ini terdegradasi melalui proses mikrobiologi menggunakan membentuk amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat (Zelaya et al., 2001). 

Nutrien ini merangsang tumbuhnya algae/plankton yg dapat mengakibatkan blooming. Sementara itu beberapa hasil degradasi limbah organik bersifat toksik terhadap udang pada level tertentu. Terjadinya die off plankton bisa pula menyebabkan udang tertekan serta kematian lantaran turunnya kadar oksigen terlarut. Limbah tambak udang mengandung lebih poly bahan organik, nitrogen, dan fosfor dibanding tanah biasa serta mempunyai nilai BOD dan COD yg lebih tinggi (Latt, 2002).


10. Nutrien

Dua nutrien yg paling penting di tambak merupakan nitrogen dan fosfor, karena kedua nutrien tersebut keberadaannya terbatas serta dibutuhkan buat pertumbuhan fitoplankton (Boyd, 2000). Keberadaan ke 2 nutrien tersebut pada tambak asal dari pemupukan serta pakan yg diberikan.
11. Nitrogen
Nitrogen umumnya diaplikasikan sebagai pupuk pada bentuk urea atau amonium. Di pada air, urea secara cepat terhidrolisis sebagai amonium yang dapat langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton. Melalui rantai makanan, nitrogen pada fitoplankton akan dikonversi menjadi nitrogen protein pada ikan. Sedangkan nitrogen berdasarkan pakan yang diberikan dalam ikan, hanya 20-40% yang dirubah sebagai protein ikan, sisanya tersuspensi pada air dan mengendap di dasar tambak (Boyd, 2002).

Amonium bisa pula teroksidasi menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi yg bisa dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton. Nitrogen organik dalam plankton yang mati dan kotoran fauna air (feces) akan mengendap di dasar sebagai nitrogen organik tanah. Nitrogen pada material organik tanah akan dimineralisasi sebagai amonia serta balik ke air sehingga bisa dimanfaatkan kembali sang fitoplankton (Durborow, 1997).

12. Fosfor
Fosfor yang ada yg ada dalam tambak budidaya dari dari pupuk misalnya ammoniumfosfat serta calsiumfosfat dan berdasarkan pakan. Fosf


or yg terdapat pada pakan nir semua dikonversi sebagai daging ikan/udang. Menurut Boyd (2002), 2 pertiga fosfor pada pakan terakumulasi di tanah dasar. Sebagian akbar diikat oleh tanah serta sebagian mini larut dalam air. 

Fosfor dimanfaatkan sang fitoplankton pada bentuk ortofosfat (PO4 3-) dan terakumulasi dalam tubuh ikan/udang melalui rantai kuliner. Phosphat yang nir diserap oleh fitoplankton akan didikat oleh tanah. Kemampuan mengikat tanah dipengaruhi oleh kandungan liat (clay) tanah. Semakin tinggi kandungan liat pada tanah, semakin semakin tinggi kemampuan tanah mengikat fosfat. Demikan Tentang Parameter Kimia Kualitas Air

Kunjungi pula blog penyuluh perikanan

Semoga Bermanfaat...

TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS

1.PENDAHULUAN


Untukmemenuhi kebutuhan nutrisi serta hara bagi tanaman dalam bisnis tani berbasispertanian organik bisa dilakukan dengan membuat kompos secara sederhana. Sesuai konsep pertanianorganik yaitu menekankan penggunaan bahan-bahan berdasarkan alam sebagai akibatnya semua bahanyang digunakan pada usahatani (bertani) wajib meng-gunakan bahan-bahan alamiseperti daun, dedak dan kotoran fauna.
Salahsatu elemen penting yang diperlukan flora merupakan pupuk. Pupuk organik bisadidapatkan berdasarkan sisa tumbuhan serta kotoran fauna. Secara alami bahan-bahantersebut membutuhkan waktu yg lama buat terdekomposisi sebagai akibatnya dapatdimanfaatkan sang flora, oleh karenanya diharapkan proses atau perlakuanagar bahan-bahan tadi lebih cepat terdekomposisi.



2.APA ITU KOMPOS?


Kompos merupakan bahan organik yg telahmembusuk Lantaran proses fermentasi. Bahan organik ini sanggup berasal dari sisatanaman serta kotoran fauna atau adonan menurut keduanya. Kompos sangat kayanutrisi atau hara yang diperlukan sang flora.
            Membuat kompos bisa dilakukan secara sederhana denganmemanfaatkan limbah tempat tinggal tangga, sampah organik serta hijauan daun. Bahan bakumembuat kompos relatif mudah diperoleh dari lingkungan sekitar tempat tinggal bahkansisa limbah dapur yang berupa residu sortiran sayur dan butir yang tidakdikonsumsi jua adalah bahan standar kompos yang baik.



3.TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS


            Ada beberapa Teknik pembuatan komposyang generik dilakukan, yaitu :
a.Windrow Technic

b.Aerated Static Pile Technic

c.In Vessel Technic

KetigaTeknik ini sudah banyak dioperasionalkan  secara luas.  Dari ke 3 Teknikini, mana yang dapat membentuk kompos yang terbaik tidaklah krusial, karenamasing-masing Teknik mempunyai kelebihan serta kekurangannya masing-masing.

a.Windrow Technic

Windrow Technic(teknik pengeringan dengan aliran udara) adalah proses pembuatan komposyang  paling sederhana dan paling murah. Bahan baku kompos ditumpukmemanjang, tinggi tumpukan 0,6 sampai 1 meter, lebar 2-lima meter.  Sementaraitu panjangnya dapat mencapai 40-50 meter.
Teknikini memanfaatkan sirkulasi udara secara alami. Optimalisasi lebar, tinggi danpanjangnya tumpukan sangat pada-pengaruhi sang keadaan bahan baku,kelembaban, ruang pori, serta sirkulasi udara buat mencapai bagian tengahtumpukan bahan standar.
Idealnyaadalah dalam tumpukan bahan standar ini harus dapat melepaskan panas, untukmengimbangi pengeluaran panas yang disebabkan  sebagai hasil prosesdekomposisi bahan organik sang mikroba.
Windrow Technicini adalah Teknik proses komposting yg baik, yg telah berhasil dilakukandi banyak loka buat memproses pupuk kandang, sampah kebun, lumpur selokan,sampah kota, dll.     Untuk mengaturtemperatur, kelembaban dan oksigen, pada WindrowTechnic ini, maka dilakukan proses pembalikan secara periodik. Inilahsecara prinsip yg membedakannya menurut Teknik pembuatan kompos yang lain. 
            Kelemahan berdasarkan Windrow Technic ini adalah memerlukan areal huma yang cukup luas.

b.Aerated Static Pile Technic

            Teknik pembuatan kompos lainnya yanglebih maju merupakan Aerated Static Pile. Secara prinsip proses kompostingini hampir sama, dengan Windrow Technic,tetapi pada Teknik ini dipasang pipa yg dilubangi buat mengalirkanudara.  Udara ditekan menggunakan blower.lantaran ada peredaran udara, maka tumpukan bahan baku yg sedang diproses dapatlebih tinggi menurut 1 meter. Proses itu sendiri diatur menggunakan pengaliran oksigen.jika temperatur terlalu tinggi, aliran oksigen dihentikan, ad interim apabilatemperatur turun aliran oksigen ditambah. 
            Lantaran nir terdapat proses pembalikan,maka bahan baku kompos wajib dibuat sedemikian rupa homogen sejak awal.  Dalampencampuran wajib terdapat rongga udara yg relatif.  Bahan-bahan baku yangterlalu besar serta panjang harus dipotong-pangkas mencapai ukuran 4 – 10 cm.



c.in Vessel Technic

Teknikyang ke tiga merupakan In Vessel Composting Technic. Dalam Teknik ini dapatmempergunakan kontainer/wadah berupa apa saja, dapat silo atau paritmemanjang.  Lantaran Teknik ini dibatasi sang struktur kontainer, Teknik inibaik dipakai buat mengurangi pengaruh bau yang tidak sedap seperti bausampah kota.
Teknikin vessel juga mempergunakanpengaturan udara sama seperti Teknik Aerated Static Pile. Teknik inimemiliki pintu pemasukan bahan kompos serta pintu pengeluaran kompos jadi yangberbeda.




4.MEMBUAT KOMPOS


            Sampah Rumah Tangga terdiri darisampah organik dan anorganik. Sampah organik dibagi 2 yaitu :
1.sampah Organik Hijau(sisa sayur mayur menurut dapur). Contohnya: tangkai/daun singkong, pepaya,kangkung, bayam, kulit terong, wortel, labuh siam, ubi, singkong, kulitbuah-buahan, nanas, pisang, nangka, daun pisang, semangka, ampas kelapa, sisasayur / lauk pauk, dan sampah dari kebum (rumput, daun-daun kemarau/basah) .
2.sampah Organik Hewanyang dimakan misalnya ikan, udang, ayam, daging, telur dansejenisnya.   
Sampahanorganik yaitu berupa bahan-bahan misalnya kertas, karton, besek, kaleng,beragam jenis plastik, styrofoam, dll.
Pengelolaan sampah tempat tinggal tangga menjadikompos dapat dilakukan olehsiapa saja, pada mana saja dan dengan aneka macam cara.
Berikut akan dipaparkan carasederhana menciptakan kompos memakai bahan-bahan yg gampang didapat darilingkungan kurang lebih serta gampang dipraktikkan pada skala tempat tinggal tangga.

1)Kompos Sederhana

            Ini merupakan cara yg palingsederhana pada membuat kompos namunhanya bisa dilakukan bila mempunyai huma kosong.
  • Gali tanah sedalam 50 - 150 cm. Lubang dibuat minimal 10 meter berdasarkan sumur buat mencegah tercemarnya sumur.
  • Isi lubang dengan sampah organik yg sudah ditiriskan.
  • Tutup atau taburi tanah dengan sampah secara berkala buat mengurangi bau.
  • Jika telah penuh, tutup lubang menggunakan tanah.
  • Setelah tiga bulan, lubang bisa digali. Hasil galian dapat dipakai sebagai kompos sedangkan lubangnya bisa dipakai buat membuat kompos kembali.

2)Kompos alternatif ke2
  1. Wadah drum, ember plastik atau gentong
  2. Wadah diberi lubang didasarnya buat pertukaran udara
  3. Bahan sampah yang dipotong dua-4 cm
  4. Mikroorganisme pengurai menjadi aktivator. Contohnya EM-4, Starbio, Temban. Bahan-bahan ini mampu diganti dengan kompos menurut tumbuh-tumbuhan.
  5. Air
  6. Alat pengaduk.
  1. Bahan sampah dimasukkan ke dalam wadah selapis, kemudian ditambah-kan komposatau mikroorganisme pengurai
  2. Lakukan terus menerus selapis demi selapis hingga wadah penuh
  3. Disiram dengan air secara merata
  4. Pada hari ke lima -7, media dapat diaduk-campurkan dan kocok. Pengadukan diulang setiap 5 hari serta dihentikan sampai sampah sebagai hitam serta musnah.

            Demikian sedikit berita tentang membuat kompos secarasederhana semoga bisa diambil keuntungannya danpintu selalu terbuka lebar buat komentar, saran juga kritik yang membangun.

TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS

1.PENDAHULUAN


Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan harabagi flora pada bisnis tani berbasis pertanian organik bisa dilakukan denganmembuatkompos secara sederhana. Sesuai konsep pertanian organikyaitu menekankan penggunaan bahan-bahan menurut alam sebagai akibatnya semua bahan yangdigunakan dalam usahatani (bertani) wajib meng-pakai bahan-bahan alamiseperti daun, dedak serta kotoran hewan.
Salah satu elemen krusial yang dibutuhkantanaman merupakan pupuk. Pupuk organik bisa dihasilkan berdasarkan sisa tanaman dan kotoranhewan. Secara alami bahan-bahan tersebut membutuhkan saat yg usang untukterdekomposisi sehingga bisa dimanfaatkan sang flora, oleh lantaran itudiperlukan proses atau perlakuan supaya bahan-bahan tersebut lebih cepatterdekomposisi.



2.APA ITU KOMPOS?


Komposadalah bahan organik yg sudah membusuk Karena proses fermentasi. Bahanorganik ini bisa dari berdasarkan sisa tumbuhan dan kotoran fauna atau campuran darikeduanya. Kompos sangat kaya nutrisi atau hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan.
            Membuat komposdapat dilakukan secara sederhana menggunakan memanfaatkan limbah tempat tinggal tangga,sampah organik dan hijauan daun. Bahan baku membuat kompos nisbi mudahdiperoleh menurut lingkungan kurang lebih tempat tinggal bahkan residu limbah dapur yang berupasisa sortiran sayur dan buah yg nir dikonsumsi jua merupakan bahan bakukompos yang baik.



3.TEKNIK PEMBUATAN KOMPOS


            Adabeberapa Teknik pembuatan kompos yang generik dilakukan, yaitu :
a.Windrow Technic

b.Aerated Static Pile Technic

c.In Vessel Technic

Ketiga Teknik ini sudah banyakdioperasionalkan  secara luas.  Dari ke 3 Teknik ini, mana yangdapat membuat kompos yang terbaik tidaklah krusial, lantaran masing-masingTeknik memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

a.Windrow Technic

Windrow Technic(teknik pengeringan menggunakan peredaran udara) adalah proses pembuatan komposyang  paling sederhana serta paling murah. Bahan baku kompos ditumpukmemanjang, tinggi tumpukan 0,6 hingga 1 meter, lebar 2-5 meter.  Sementaraitu panjangnya bisa mencapai 40-50 meter.
Teknik ini memanfaatkan sirkulasiudara secara alami. Optimalisasi lebar, tinggi serta panjangnyatumpukan sangat di-pengaruhi oleh keadaan bahan baku, kelembaban, ruangpori, dan aliran udara buat mencapai bagian tengah tumpukan bahan baku.
Idealnya adalah dalam tumpukan bahanbaku ini wajib bisa melepaskan panas, buat mengimbangi pengeluaran panas yangditimbulkan  menjadi output proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba.
Windrow Technicini merupakan Teknik proses komposting yang baik, yang telah berhasil dilakukandi poly tempat buat memproses pupuk sangkar, sampah kebun, lumpur selokan,sampah kota, dll.          Untukmengatur temperatur, kelembaban dan oksigen, dalam Windrow Technic ini, maka dilakukan proses pembalikan secaraperiodik. Inilah secara prinsip yang membedakannya menurut Teknik pembuatan komposyang lain. 
            Kelemahandari Windrow Technic ini adalahmemerlukan areal huma yg relatif luas.

b.Aerated Static Pile Technic

            Teknikpembuatan kompos lainnya yg lebih maju adalah Aerated Static Pile.secara prinsip proses komposting ini hampir sama, dengan Windrow Technic, tetapi dalam Teknik ini dipasang pipa yangdilubangi untuk mengalirkan udara.  Udara ditekan memakai blower. Lantaran terdapat peredaran udara, makatumpukan bahan standar yg sedang diproses dapat lebih tinggi dari 1 meter.proses itu sendiri diatur dengan pengaliran oksigen. Jika temperatur terlalutinggi, genre oksigen tidak boleh, sementara bila temperatur turun aliranoksigen ditambah. 
            Karenatidak terdapat proses pembalikan, maka bahan baku kompos wajib dibentuk sedemikianrupa sejenis sejak awal.  Dalam pencampuran harus terdapat rongga udarayang cukup.  Bahan-bahan standar yang terlalu besar dan panjang harusdipotong-pangkas mencapai ukuran 4 – 10 cm.



c.in Vessel Technic

Teknik yang ke 3 merupakan InVessel Composting Technic. Dalam Teknik ini bisa mempergunakankontainer/wadah berupa apa saja, bisa silo atau parit memanjang.  KarenaTeknik ini dibatasi oleh struktur kontainer, Teknik ini baik dipakai untukmengurangi dampak bau yg nir sedap seperti bau sampah kota.
Teknik in vessel pula mempergunakan pengaturan udara sama misalnya Teknik AeratedStatic Pile. Teknik ini mempunyai pintu pemasukan bahan kompos serta pintupengeluaran kompos jadi yang tidak selaras.




4.MEMBUATKOMPOS


            SampahRumah Tangga terdiri dari sampah organik dan anorganik. Sampah organik dibagidua yaitu :
1.sampah Organik Hijau (sisa sayurmayur dari dapur). Contohnya: tangkai/daun singkong, pepaya, kangkung, bayam,kulit terong, wortel, labuh siam, ubi, singkong, kulit butir-buahan, nanas,pisang, nangka, daun pisang, semangka, ampas kelapa, residu sayur / lauk pauk,dan sampah dari kebum (rumput, daun-daun kering/basah) .
2.sampah Organik Hewan yang dimakanseperti ikan, udang, ayam, daging, telur dan sejenisnya.   
Sampah anorganik yaitu berupabahan-bahan seperti kertas, karton, besek, kaleng, beragam jenisplastik, styrofoam, dll.
Pengelolaansampah rumah tangga menjadikompos dapat dilakukan olehsiapa saja, di mana saja dan menggunakan berbagai cara.
Berikut akan dipaparkan carasederhana membuat kompos menggunakan bahan-bahan yg mudah didapatdari lingkungan sekitar dan gampang dipraktikkan dalam skala rumah tangga.

1)Kompos Sederhana

            Inimerupakan cara yg paling sederhana pada menciptakan kompos tetapi hanya sanggup dilakukan apabila mempunyai huma kosong.
  • Gali tanah sedalam 50 - 150 cm. Lubang dibentuk minimal 10 meter menurut sumur untuk mencegah tercemarnya sumur.
  • Isi lubang menggunakan sampah organik yg sudah ditiriskan.
  • Tutup atau taburi tanah menggunakan sampah secara bersiklus buat mengurangi bau.
  • Jika sudah penuh, tutup lubang dengan tanah.
  • Setelah 3 bulan, lubang dapat digali. Hasil galian dapat dipakai menjadi kompos sedangkan lubangnya bisa digunakan untuk membuat kompos kembali.

2)Kompos alternatif ke 2
  1. Wadah drum, ember plastik atau gentong
  2. Wadah diberi lubang didasarnya buat pertukaran udara
  3. Bahan sampah yg dipotong dua-4 centimeter
  4. Mikroorganisme pengurai menjadi aktivator. Contohnya EM-4, Starbio, Temban. Bahan-bahan ini bisa diganti menggunakan kompos dari tumbuh-tanaman .
  5. Air
  6. Alat pengaduk.
  1. Bahan sampah dimasukkan ke pada wadah selapis, kemudian ditambah-kan kompos atau mikroorganisme pengurai
  2. Lakukan terus menerus selapis demi selapis sampai wadah penuh
  3. Disiram menggunakan air secara merata
  4. Pada hari ke 5 -7, media bisa diaduk-campurkan dan kocok. Pengadukan diulang setiap 5 hari serta dilarang sampai sampah sebagai hitam serta musnah.
            Demikian sedikit fakta mengenai membuatkompos secara sederhana semoga bisa diambil keuntungannya serta pintuselalu terbuka lebar buat komentar, saran juga kritik yang membangun.



PESTISIDA BOTANI

Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.

•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT.Pengertian
Pestisida botani:
Setiapbahan kimia berdasarkan tumbuhan yang bisa menyebabkan satu atau lebih efek biologiterhadap OPT serta memenuhi syarat buat dipakai pada pengendalian OPT

Kategori insektisidabotani
Insektisidabotani pada arti sempit (bahan kimia beracun):
- Racunsyaraf: piretrin berdasarkan bungapiretrum, nikotin berdasarkan tembakau,pipersida berdasarkan     Piperaceae
- Racun respirasi: rotenon menurut akar tubadan skuamosindari biji srikaya
- Penghambat fungsi hormon serangga (IGR):azadirahtin menurut biji mimba


Kategori insektisidabotani (lanjutan)
•Zat penghambat makan: salanin dari mimba, limonin berdasarkan kulitjeruk
•Zat pengusir: senyawa terpenoid menurut Asteraceae
•Zat pemikat: metil eugenol menurut selasih
•Zat pemandul: β-asaron berdasarkan jeringau

Kilas balik sejarah
•Zaman Yunani serta Romawiklasik:
ampas zaitun (Oleaeuropea), bawang putih (Allium sativum), mentimun liar (Citrulluscolocynthis) buat mengendalikan ulat serta belalang

Kilas balik sejarah (lanjutan)
1690:ekstrak tembakau buat mengendalikan kepik jala (Tingidae) pada pohon pir diPerancis

Tembakau(Nicotianatabacum)
•Nikotin (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagi manusia

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•1800: tepung bunga piretrum sebagai insektisida di wilayah Kaukasus-Iran
Piretrum (Tanacetumcinerariaefolium)
•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Kilas kembali sejarah (lanjutan)
•  1848: akar tuba buat mengendalikan hama paladi Malaysia
Tuba (Derriselliptica)
•Rotenon, deguelin, tefrosin (racunrespirasi sel)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun terhadap ikan
Sediaan insektisida menurut bunga piretrum, daun tembakau, dan akar tubasering digunakan pada pengendalian hama sebelum tahun 1950-an

Pemicu kebangkitan minatterhadap insektisida nabati
•Dampak negatif berdasarkan insektisida sintetik
•Meluasnya penerapan konsep PHT
•Berkembangnya pertanian organik
•Upaya pelestarian lingkungan
•Perjanjian perdagangan internasional (Sanitary & Phytosanitary Measures) yg membatasi kadarresidu pestisidapada produk ekspor/impor

Sumber penting insektisida nabati

•Acanthaceae  
•Annonaceae   
•Arecaceae
•Asteraceae(Compositae)
•Clusiaceae(Guttiferae)
•Euphorbiaceae
•Fabaceae (Leguminosae)
•Lamiaceae(Labiatae)
•Meliaceae
•Piperaceae
•Simaroubaceae
•Solanaceae

Acanthaceae

Andrographis paniculata

•Andrografolida
•Antifeedant

Acoraceae/Arecaceae
Acorus calamus (jeringau)

•β-asaron (pemandul)
•Eugenol(pemikat)


Annonaceae

Srikaya (Annona squamosa)

      Bahan aktif: squamosin, dll.(gol asetogenin)

Buah nona sabrang (Annona glabra)

      Bahan aktif: asimisin, dll.(gol asetogenin)

Asteraceae
Piretrum(Tanacetum cinerariifolium)

•Piretrin serta sinerin  (racun syaraf)
•Efektif terhadap banyak sekali jenis serangga
•Cukup kondusif terhadap fauna menyusui
•Beracun terhadap ikan

Ageratum houstonianum

 Bahan aktif: prekosen (antihormon juvenil)

Echinacea angustifolia

 Bahan aktif: ekhinasein (isobutilamida)

Clusiaceae

Mammea americana

  Bahanaktif: mamein (kumarin)

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

  Bahan aktif: diduga kumarin


Calophyllum soulattri
  Bahanaktif: terpenoid serta kumarin (?)

Calophyllum inophyllum
  Bahanaktif: diduga kumarin
Euphorbiaceae

Jarak (Ricinus communis)

 Bahan aktif:risinin (alkaloid)
Fabaceae/Leguminosae

Tuba (Derris elliptica)

•Rotenon,deguelin, tefrosin (racun respirasi sel)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga Beracun terhadap ikan Spesieslain dengan kandungan misalnya tuba:  kacang babi (Tephrosia vogelli)

Lamiaceae

Ocimum basilicum serta Ocimum sanctum
Bahan aktif: juvosimena (efek misalnya hormon juvenil),metil eugenol (attractant)

Meliaceae

Azadirachta indica (mimba)
Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Melia azedarach (mindi)

Bahan aktif: azadirahtin serta limonoid lain

Aglaia odorata (culan)

Bahan aktif: rokaglamida (gol benzofuran)

Swietenia macrophylla (mahoni)

Bahan aktif: swietenin (gol limonoid)

Dysoxylum acutangulum (Meliaceae)

Bahan aktif: Diduga limonoid
Piperaceae

Piper nigrum (lada)

Bahan aktif: piperin, pipersida, dll. (golalkaloid/amida)

Piper retrofractum (cabai jawa)

Bahan aktif: piperin, retrofraktamida, dll.

Simaroubaceae

Quassia amara
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)

Eurycoma longifolia
Bahan aktif: quasin (gol quasinoid)
Solanaceae

Tembakau(Nicotiana tabacum)

•Nikotin (racunsyaraf)
•Efektifterhadap banyak sekali jenis serangga
•Beracun bagimanusia

§Ulatkubis Crocidolomia pavonana gagal ganti kulit dampak ekstrak mimba

§UlatC. Pavonana tanpa perlakuan

§pupaCrocidolomia pavonana cacat akibat ekstrak mimba serta pupa normal

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa dan imago cacat akibat ekstrak mimba.

§Ulat Crocidolomia pavonana mati/gagalganti kulit dampak ekstrak Dysoxylum acutangulum  dan ulat tanpa perlakuan

§Imago Crocidolomia pavonana gagalkeluar menurut kulit pupa (kiri) serta imago stigma (kanan) akibat ekstrak Dysoxylumacutangulum


Syarat-kondisi insektisida nabati yg baik
•Efektif pdkonsentrasi relatif rendah(≤ 0,5%  utk ekstrak dg pelarut organik; ≤lima-10% utk
ekstrak air)& nir fitotoksik
•Aman terhadap  musuh alami hama& organismebukan target lainnya
•Tumbuhansumber insektisida nabati mudah ditemukan/dibudidayakan.
•Untuk produksikomersial, bahan aktif mudah diekstraksi & produkinsektisida nabati mudah   distandarisasi.

Kelebihaninsektisida nabati vs sintetik
•Praktis terurai di lingkungan
•Umumnya cukup kondusif terhadap makhlukbukan target termasuk musuh alami hama
•Bisa dipadukan dg komponen lainPHT
•Tidak cepat mengakibatkan resistensi
•Komponen ekstrak mampu bersifatsinergis
•Beberapa jenis dapat disiapkansendiri sang petani

Keterbatasan insektisida nabati
•Persistensi singkat Ú perlu pelaksanaan berulang
•Spektrum kegiatan terbatas
•Ekstrak dg pelarut air tidaktahan lama
•Untuk produksi komersial:
              -pasokanbahan standar terbatas
              -biayaproduksi relatif mahal
         -standarisasi tidak selalu gampang karenakandunganbahan aktif dlm tumbuhanberagam
Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanianorganik

•Serbuk tanaman + air, tanpapemanasan
• Serbuk tanaman + air, dgn pemanasan/perebusan
• Serbuk tumbuhan + lerak + air (tanpa atau
dgnpemanasan/perebusan)

Catatan:
Air dlm tongdi luar ruangan Ú asal airpanas

Penyiapan insektisida botani utk PHTpertanian organik (lanjutan)
Modifikasiekstrak sederhana utk menaikkan keefektifan:

• Serbuk tanaman + diterjen* + air (tanpaatau dgn pemanasan/perebusan)
• Serbuk tumbuhan + biosurfaktan + air
• Serbuk tanaman + sedikit alkohol/metanol*
   + biosurfaktan + air
* Perlu dicekSNI ttg pertanian organik

Peggunaan insektisida botani dlm PHT:
•Mengacu dalam asas-asas PHT (PPNo 6/1995dan empat pilar PHT)
•Ekstrak kasar lebih baik drpdsenyawa murniÚ sinergisme & menekan resistensi
•Insektisida botani dlm bentukcampuran Ú menekan resistensi, sinergisme,mengatasiketerbatasan bahan standar.
•Penggunaan insektisida botanisecaraberselang-seling Ú menekan resistensi,mengatasiketerbatasan bahan standar.

SLPHT edisi kedua
SLPHT edisipertama: Sekolah Lapangan PHT
SLPHT edisikedua: Stasiun Lapangan PHT
   - Bukan stasiunlapangan fisik yg tetap, lebih bersifat sbg stasiun bergerak
   - Uji cobakomponen PHT pada huma petani danbersamapetani
   -Teknik PHT yang diuji: dikembangkan petani,forum pendamping atau gabungan
   - Pestisidasintetik sanggup dimasukkan (kecualiPHT utkpertanian organik)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
SLPHT edisi kedua: StasiunLapangan PHT
- Lembagaterkait pada daerah yg perlu bekerjasama (Balai Proteksi Tanaman,DinasPertanian, LSM, perguruan tinggi, dll.)
- Secara terpola dilakukan temu lapang(mengundangpetani dan praktisi lain   dariberbagai daerah, penyuluh,peneliti, danpejabatterkait).

Contoh: ARS (ActionResearch Station) PHT kentang serta kubis di Pangalengan Bandung (kerja samaDep Proteksi Tanaman IPB & IPPHTI Pangalengan)

SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Esensi pendidikan (sekolah):Memperbaiki pemahaman(kognitif) serta menciptakan perilaku (afektif) dan tindakan (psikomotor) anakdidik yang sesuai menggunakan norma-kebiasaan yang berlaku


SLPHT edisi ke 2 (lanjutan)
Pemasyarakatanteknologi melalui contoh SLPHT edisi ke 2 diharapkan bisa memperbaikipengetahuan (kognitif), perilaku (afektif), serta tindakan (psikomotor)petani pada penerapan PHT dan dampaknya mampu langgeng, termasuk melalui pewarisan pengetahuan danpengalaman dari generasi ke generasi.



Penutup
•Insektisida nabati mempunyai peluangyg akbar utk dpt  diterapkan dlm PHT pd pertanian organiktetapi akan menerima persaingan yg keras berdasarkan insektisida sintetik generasibaru yang lebih aman & insektisidaalami lain dlm penerapannya utk PHT pd pertanian konvensional.
•Perlu dikembangkan sistempemasyarakatan yang memerhatikan segi pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif),dan tindakan (psikomotor) petani — misal melalui stasiun lapangan PHT (SLPHTedisi kedua) — dalam meningkatkan peranan insektisida nabati dalam PHT.