BAHAN ORGANIK

  Bahan Organik

 Bahan organik terdiri atas limbah flora danhewan menjadi hasil proses dekomposisi. Unsur organik cendrung memperbaiki struktur tanah serta bersifatmeningkatkan permeabilitas tanah, kapasitas tampung air tanah dan kesuburantanah.  Kumpulan unsur organik pada ataspermukaan bisa Mengganggu kecepatan air larian serta menggunakan demikian menurunkanpotensi terjadinya erosi.

  Struktur Tanah
Struktur tanah adalah susunanpartikel-partikel tanah yg membangun agregat.   Struktur tanah menghipnotis kemampuan tanahdalam menyerap air tanah, misalnya struktur tanah granuler serta tanggal mempunyaikemampuan akbar dan menloloskan air larian serta menggunakan demikian menurunkan lajuair larian.

 Permeabilitas Tanah

Permeabilitas menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air.   Struktur serta tekstur tanah serta unsurorganik lainnya ikut ambil bagian dalam memilih permeabilitas tanah.  Tanah menggunakan permeabilitas tinggi menaikkanlaju infiltrasi dan menggunakan demikian menurunkan laju air larian.
            Wischmeier& Smith (1978) dalam Asdak (1995)melaporkan bahwa nilai erodibilitas tanah (K) dihitung menggunakan persamaan :
100 K = 1,292 (dua,1M1,14(10-4) (12-a) + tiga,25 (b-2) + dua,lima (c-3) ….        (6)

Dimana :
            K= Erodibilitas tanah
            M= Persentase berukuran partikel (% debu + % pasir halus) x (100-% liat)
            a  = Persen bahan  organik (%c organik x 1,724)
            b= Kode pembagian terstruktur mengenai struktur tanah
            c= Kelas permeabilitas tanah
Kriteria tentang kelas strukturtanah,   permeabilitas tanah, kandunganbahan organik,  pembagian terstruktur mengenai erodibilitas(K) serta  tekstur tanah disajikan padatabel 4,lima,6, 7 dan 8.


PARAMETER KIMIA KUALITAS AIR

Parameter Kimia Kualitas Air - Air yang dipakai buat budidaya udang atau organisme perairan yg lain memiliki komposisi dan sifat-sifat kimia yg tidak selaras dan tidak kontinu. Komposisi serta sifat-sifat kimia air ini bisa diketahui melalui analisis kimia air. 

Dengan demikian bila ada parameter kimia yg keluar dari batas yang telah  ditentukan dapat segera dikendalikan.

Parameter-parameter kimia yang digunakan buat menganalisis air bagi kepentingan budidaya diantaranya :


PARAMETER KIMIA KUALITAS AIR


1. Salinitas

Salinitas dapat didefinisikan menjadi total konsentrasi ion-ion terlarut dalam air. Dalam budidaya perairan, salinitas dinyatakan pada permil (°/oo) atau ppt (part perthousand) atau gr/liter. 

Tujuh ion primer yaitu : sodium, potasium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat memiliki donasi besar terhadap besarnya salinitas, sedangkan yang lain dianggap mini (Boyd, 1990). 


Sedangkan dari Davis et al. (2004), ion calsium (Ca), potasium (K), serta magnesium (Mg) adalah ion yg paling krusial pada menopang taraf kelulushidupan udang. Salinitas suatu perairan dapat dipengaruhi menggunakan menghitung jumlah kadar klor yg ada dalam suatu sampel (klorinitas). 


Sebagian besar petambak membudidayakan udang pada air payau (15-30 ppt). Meskipun demikian, udang bahari sanggup hidup pada salinitas dibawah 2 ppt serta pada atas 40 ppt.
2. PH

pH didefinisikan menjadi logaritme negatif dari konsentrasi ion hidrogen [H+] yang memiliki skala antara 0 hingga 14. PH mengindikasikan apakah air tadi netral, basa atau asam. 

Air menggunakan pH dibawah 7 termasuk asam dan diatas 7 termasuk basa. PH adalah variabel kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari. Pada perairan generik yang nir dipengaruhi kegiatan biologis yang tinggi, nilai pH sporadis mencapai diatas 8,lima, namun pada tambak ikan atau udang, pH air bisa mencapai 9 atau lebih (Boyd, 2002). 


Perubahan pH ini adalah dampak pribadi dari fotosintesis yg menggunakan CO2 selama proses tersebut. Karbon dioksida pada air bereaksi membentuk asam seperti yg masih ada dalam persamaan pada bawah ini :

CO2 + H2O HCO3 - + H+

Ketika fotosintesis terjadi pada siang hari, CO2 poly terpakai pada proses tersebut. Turunnya konsentrasi CO2 akan menurunkan konsentrasi H+ sebagai akibatnya menaikkan pH air. Sebaliknya dalam malam hari semua organisme melakukan respirasi yang membentuk CO2 sehingga pH menjadi turun. 

Fluktuasi pH yang tinggi bisa terjadi bila densitas plankton tinggi. Tambak dengan total alkalinitas yg tinggi mempunyai fluktuasi pH yang lebih rendah dibandingkan dengan tambak yg beralkalinitas rendah. Hal ini disebabkan kemampuan total alkalinitas sebagai buffer atau penyangga (Boyd, 2002).
3. Alkalinitas

Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa menurunkan pH larutan. Alkalinitas adalah buffer terhadap pengaruh pengasaman. Dalam budidaya perairan, alkalinitas dinyatakan pada mg/l CaCO3. 

Penyusun utama alkalinitas adalah anion bikarbonat (HC03 -), karbonat (CO3 dua- ), hidroksida (OH-) dan pula ion-ion yang jumlahnya kecil misalnya borat (BO3 -), fosfat (P04 tiga-), silikat (SiO4 4-) serta sebagainya (boyd, 1990).
Peranan penting alkalinitas dalam tambak udang diantaranya menekan fluktuasi pH pagi dan siang serta penentu kesuburan alami perairan. 

Tambak dengan alkalinitas tinggi akan mengalami fluktuasi pH harian yg lebih rendah apabila dibandingkan dengan tambak menggunakan nilai alkalinitas rendah (Boyd, 2002). 


Menurut Davis et al. (2004), penambahan kapur bisa menaikkan nilai alkalinitas terutama tambak menggunakan nilai total alkalinitas dibawah 75 ppm.

4. Oksigen Terlarut (dissolved oxygen)

Oksigen terlarut merupakan variabel kualitas air yg sangat penting pada budidaya udang. Semua organisme akuatik membutuhkan oksigen terlarut buat metabolisme. Kelarutan oksigen pada air tergantung pada suhu serta salinitas. 

Kelaruran oksigen akan turun bila suhu serta temperatur naik (Boyd, 1990). Hal ini perlu diperhatikan lantaran dengan adanya kenaikan suhu air, fauna air akan lebih aktif sebagai akibatnya memerlukan lebih poly oksigen.

Oksigen masuk dalam air melalui beberapa proses. Oksigen dapat terdifusi secara eksklusif berdasarkan atmosfir selesainya terjadi kontak antara bagian atas air menggunakan udara yg mengandung oksigen 21% (Boyd, 1990). Fotosintesis tanaman air adalah sumber primer oksigen terlarut dalam air. Sedangkan pada budidaya udang, penambahan suplai oksigen dilakukan dengan menggunakan aerator (Hargreaves, 2003).
Pada waktu cuaca mendung atau hujan bisa menghambat pertumbuhan fitoplankton lantaran kekurangan sinar surya buat proses fotosintesis. Kondisi ini akan mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut lantaran oksigen nir bisa diproduksi ad interim organisme akuatik permanen mengkonsumsi oksigen. 

Keterbatasan sinar surya menembus badan air bisa pula ditimbulkan sang tingginya partikel yang terdapat pada kolom air, baik lantaran bahan organik maupun densitas plankton yg terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya fotosintesis algae yang ada pada dasar tambak (Hargreaves, 1999).

Tingginya kepadatan tebar (stocking density) dan pemberian pakan (feeding rate) bisa menyebabkan turunnya kensentrasi oksigen terlarut dalam air. Sisa pakan (uneaten feed) dan residu hasil metabolisme menyebabkan tingginya kebutuhan oksigen buat menguraikannya (oxygen demand). 

Kemampuan ekosistem kolam budidaya untuk menguraikan bahan organik terbatas sehingga bisa mengakibatkan rendahnya konsentrasi oksigen terlarut dalam air (Boyd, 2004).

5. Biological Oxygen Demand (BOD)

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan menjadi banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada waktu pemecahan bahan organik pada syarat aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan sang organisme sebagai bahan kuliner dan energinya diperoleh menurut proses oksidasi (Pescod pada Salmin, 2005).
Waktu yg dibutuhkan buat proses oksidasi bahan organik secara paripurna menjadi CO2 dan H2O adalah tidak terbatas. Penghitungan nilai BOD umumnya dilakukan dalam hari ke lima lantaran dalam saat itu persentase reaksi relatif akbar, yaitu 70-80% berdasarkan nilai BOD total (Sawyer dan MC Carty, 1978 pada Salmin, 2005).

6. Produktivitas primer

Dalam kolam budidaya, tanaman air baik macrophyta maupun plankton adalah produsen primer menjadi sumber utama bahan organik. Melalui proses fotosintetis, flora memakai karbon dioksida, air, cahaya mentari serta nutrien buat menghasilkan bahan organik dan oksigen misalnya dalam reaksi :

6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2

Fotosintesis merupakan proses fundamental pada kolam budidaya. Oksigen terlarut yg diproduksi melalui fotosintesis merupakan sumber primer oksigen bagi seluruh organisme pada ekosistem kolam (Howerton, 2001). 

Glukosa atau bahan organik yg dihasilkan adalah penyusun primer material organik yg lebih besar serta kompleks. Hewan yg lebih tinggi tingkatannya pada rantai makanan memakai material organik ini baik secara langsung dengan mengkonsumsi flora atau mengkonsumsi organisme yg memakan tumbuhan tadi (Ghosal et al. 2000).
Proses biologi lainnya yg sangat krusial dalam budidaya perairan adalah respirasi, dengan reaksi :

C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O

Dalam respirasi, bahan organik dioksidasi menggunakan membuat air, karbon dioksida serta energi. Pada ketika siang hari proses fotosintesis dan respirasi berjalan secara beserta-sama. Pada malam hari hanya proses respirasi yang berlangsung, sebagai akibatnya konsentrasi oksigen terlarut pada air turun sedangkan konsentrasi karbon dioksida naik.

Kedua proses tadi mempunyai imbas langsung dalam budidaya perairan. Oksigen terlarut dibutuhkan organisme buat hidup sedangkan fitoplankton merupakan sumber primer oksigen terlarut disamping sebagai penyusun primer rantai kuliner pada ekosistem kolam budidaya. 

Salah satu cara buat memilih status suatu ekosistem pada sedimen adalah dengan menghitung fotosintesis/respirasi rasio (P/R ratio). Jika P/R ratio lebih mini menurut satu (1) maka sedimen tadi termasuk heterotropik, dimana karbon lebih poly digunakan buat respirasi dibandingkan yang didapatkan menurut fotosintesis. 


Sedangkan jika P/R ratio lebih akbar dari satu (1) memberitahuakn sedimen tadi termasuk autotofik, dimana karbon lebih banyak diproduksi berdasarkan pada dipakai buat respirasi (Eyre serta Ferguson, 2002).

7. Sedimen

Managemen dasar tambak atau sedimen masih kurang diperhatikan apabila dibandingkan menggunakan managemen kualitas air tambak budidaya. Banyak bukti yg menandakan adanya impak yang kuat pertukaran nutrien antara sedimen menggunakan air terhadap kualitas air (Boyd, 2002).
8. Oxidized Layer

Oxidized layer merupakan lapisan sedimen yang berada paling atas yg mengandung oksigen. Lapisan ini sangat berguna serta harus dipelihara keberadaannya selama siklus budidaya (Boyd, 2002). Pada lapisan tersebut terjadi dekomposisi aerobik yang membentuk antara lain : CO2, air, amonia, serta nutrien yang lainnya. 

Pada sedimen anaerobik, beberapa mikroorganisme menguraikan material organik dengan reaksi fermentasi yg membentuk alkohol, keton, aldehida, dan senyawa organik lainnya menjadi hasil metabolisme. Menurut Blackburn (1987) dalam Boyd (2002), 


beberapa mikroorganisme anaerobik bisa memanfaatkan O2 menurut nitrat, nitrit,ferro, sulfat, serta karbon dioksida buat menguraikan bahan organik menggunakan mengeluarkan gas nitrogen, amonia, H2S, serta metan sebagai hasil metabolisme.

Beberapa produk metabolisme, khususnya H2S, nitrit, dan amonia berpotensi toksik terhadap ikan atau udang. 

Lapisan oksigen yang ada pada permukaan sedimen bisa mencegah difusi sebagian besar senyawa beracun sebagai bentuk yang nir beracun melalui proses kimiawi serta biologi ketika melalui permukaan yang beroksigen. 


Nitrit diokdidasi sebagai nitrat, ferro dioksidasi menjadi ferri, dan H2S menjadi sulfat (Boyd, 2004c). Selanjutnya dikatakan bahwa kehilangan oksigen pada sedimen bisa ditimbulkan oleh akumulasi bahan organik yg tinggi sebagai akibatnya oksigen terlarut terpakai sebelum mencapai bagian atas tanah. 


Tingkat anugerah pakan yg tinggi dan blooming plankton bisa mengakibatkan penurunan oksigen terlarut.

9. Bahan Organik

Tanah dasar tambak yang mengandung karbon organik 15-20% atau 30- 40% bahan organik jelek buat budidaya perairan. Kandungan bahan organik yang baik buat budidaya udang kurang lebih 10% atau 20% kandungan karbon organik (Boyd, 2002). 

Kandungan bahan organik yg tinggi akan meningkatkan kebutuhan oksigen buat menguraikan bahan organik tadi menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga akan terjadi persaingan penggunaan oksigen dengan biota yg ada dalam tambak.

Peningkatan kandungan bahan organik pada tanah dasar tambak akan terjadi menggunakan cepat terutama pada tambak yg memakai sistem budidaya secara semi intensif juga intensif menggunakan tingkat hadiah pakan (feeding rate) serta pemupukan yg tinggi (Howerton, 2001). 

Disamping mengendap pada dasar tambak, limbah organik jua tersuspensi dalam air sehingga menghambat penetrasi cahaya surya ke dasar tambak.
Limbah tambak yg terdiri berdasarkan residu pakan (uneaten feed), kotoran udang (feces), serta pemupukan terakumulasi pada dasar tambak maupun tersuspensi pada air. Limbah ini terdegradasi melalui proses mikrobiologi menggunakan membentuk amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat (Zelaya et al., 2001). 

Nutrien ini merangsang tumbuhnya algae/plankton yg dapat mengakibatkan blooming. Sementara itu beberapa hasil degradasi limbah organik bersifat toksik terhadap udang pada level tertentu. Terjadinya die off plankton bisa pula menyebabkan udang tertekan serta kematian lantaran turunnya kadar oksigen terlarut. Limbah tambak udang mengandung lebih poly bahan organik, nitrogen, dan fosfor dibanding tanah biasa serta mempunyai nilai BOD dan COD yg lebih tinggi (Latt, 2002).


10. Nutrien

Dua nutrien yg paling penting di tambak merupakan nitrogen dan fosfor, karena kedua nutrien tersebut keberadaannya terbatas serta dibutuhkan buat pertumbuhan fitoplankton (Boyd, 2000). Keberadaan ke 2 nutrien tersebut pada tambak asal dari pemupukan serta pakan yg diberikan.
11. Nitrogen
Nitrogen umumnya diaplikasikan sebagai pupuk pada bentuk urea atau amonium. Di pada air, urea secara cepat terhidrolisis sebagai amonium yang dapat langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton. Melalui rantai makanan, nitrogen pada fitoplankton akan dikonversi menjadi nitrogen protein pada ikan. Sedangkan nitrogen berdasarkan pakan yang diberikan dalam ikan, hanya 20-40% yang dirubah sebagai protein ikan, sisanya tersuspensi pada air dan mengendap di dasar tambak (Boyd, 2002).

Amonium bisa pula teroksidasi menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi yg bisa dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton. Nitrogen organik dalam plankton yang mati dan kotoran fauna air (feces) akan mengendap di dasar sebagai nitrogen organik tanah. Nitrogen pada material organik tanah akan dimineralisasi sebagai amonia serta balik ke air sehingga bisa dimanfaatkan kembali sang fitoplankton (Durborow, 1997).

12. Fosfor
Fosfor yang ada yg ada dalam tambak budidaya dari dari pupuk misalnya ammoniumfosfat serta calsiumfosfat dan berdasarkan pakan. Fosf


or yg terdapat pada pakan nir semua dikonversi sebagai daging ikan/udang. Menurut Boyd (2002), 2 pertiga fosfor pada pakan terakumulasi di tanah dasar. Sebagian akbar diikat oleh tanah serta sebagian mini larut dalam air. 

Fosfor dimanfaatkan sang fitoplankton pada bentuk ortofosfat (PO4 3-) dan terakumulasi dalam tubuh ikan/udang melalui rantai kuliner. Phosphat yang nir diserap oleh fitoplankton akan didikat oleh tanah. Kemampuan mengikat tanah dipengaruhi oleh kandungan liat (clay) tanah. Semakin tinggi kandungan liat pada tanah, semakin semakin tinggi kemampuan tanah mengikat fosfat. Demikan Tentang Parameter Kimia Kualitas Air

Kunjungi pula blog penyuluh perikanan

Semoga Bermanfaat...

PENGELOLAAN TANAMAN PADI SYSTEM RICE OF INTENSIFICATION SRI

Padadasarnya teknologi yg diterapkan sang contoh PTT serta System Rice ofIntensification (SRI) sama, hanya strateginya tidak sinkron. Strategi SRI lebihdipusatkan pada penggunaan bahan organik. Penggunaan bahan organik yangdiintegrasikan menggunakan teknik pengairan terjadwal akan mampu menyediakan harauntuk kebutuhan flora padi. Namun bahan organik yg diharapkan relatif poly yaitusekitar 10 ton kompos / Ha/ trend, yang dalam prakteknya sulit dipenuhi dalamskala bisnis padi yg luas serta akan menambah porto tenaga kerja untukaplikasinya.
TujuanSRI serta PTT paad prinsipnya pula sama yaitu untuk menaikkan produksi dengantarget segmen petani yang tidak sinkron dan pengelola yg tidak sinkron.
Perbedaanantara SRI dan PTT merupakan sebagai berikut :
1.pendekatanSRI berbentuk paket teknologi yang diyakini bisa diterapkan dalam seluruh kondisi
2.komponenteknologi SRI mudah diadopsi petani
3.pendekatanpengembangan SRI adalah sistem belajar orang dewasa sehingga petani merasadiberi posisi yang sempurna menjadi subyek perubahan
4.pttbertujuan menaikkan produktivitas dan efisiensi input seperti benih, pupuk,dan pestisida
5.pttditerapkan dari khusus lokasi
6.pttberorientasi dalam proses produksi rasional serta ramah lingkungan
7.pttmenggunakan pendekatan keproyekan
8.pttmenggunakan cara transfer teknologi satu arah


Tabel 1 Perbedaan komponen teknologi padapendekatan SRI dan PTT

No

Perlakuan

SRI

PTT

1.
Dosis pupuk anjuran
Bahan organik 10 ton /Ha
Sesuai Kepmen pertanian no.1, 2006. Pupuk anorganik dan pupuk organik, BWD dan PUTS atau petak omisi
2.
Seleksi benih
Pemilahan benih bernas menggunakan telur dan air garam
Pemilahan benih bernas dengan air garam atau ZA (tiga%)
3.
Varietas
Varietas lokal atau unggul baru
Varietas unggul baru, varietas unggul tipe baru dan varietas unggul hibrida
4.
Persemaian
Persemaian kering
Persemaian basah diaplikasi kompos, sekam dan pupuk
5.
Tanam bibit
7-14 HSS
10-21 HSS atau semuda mungkin, pakai bibit umur agak tua di wilayah endemis keong mas
6.
Jumlah bibit/ lubang
1
1-3 bibit, bibit sesedikit mungkin
7.
Jarak tanam
30 cm x 30 centimeter atau lebih lebar
VUB / VUTB 20 centimeter x 20 cm
VUH 25 cm x 25 centimeter
Legowo 2 :1, tanam benih pribadi sesuai menggunakan keadaan lokasi
8.
Hama penyakit
Pengendalian hayati
Pestisida biologi dan pestisida nabati
Prinsip PHT
Bila perlu dari hasil monitoring dapat dipakai pestisida kimia, biologi serta botani maupun kombinasinya
9.
Pengelolaan gulma
Penyiangan mekanis/ landak 4 kali
Prinsip Pengendalian Gulma Terpadu (PGT)
Menggunakan landak serta jika perlu menggunakan herbisida kimia atau penyiangan
10.
Pengairan
Tanah dipertahankan lembab hingga retak selama vegetatif
Pengairan berselang
11.
Penanganan pasca panen
Gebot
Mesin perontok dan gebot diubahsuaikan dengan kondisi petani
12.
Metode pendekatan
Pemahaman Ekologi Tanah (PET)
PRA
13.
Kelembagaan
Pemberdayaan kelompok
SIPT, KUAT, KUM
14.
Pendekatan diseminasi
Kelompok studi petani, individu, demplot
Kelompok tani, hamparan, demfarm
15.
Hasil gabah
6,9-8,5 t/Ha GKP*)
5,0-8,lima t/Ha GKG **)
16.
Peningkatan hasil
0,2 – 1,1 t/Ha
0,tiga- dua,3 t/Ha
17.
Pendapatan bersih
Rp 2.240.000,-
Rp 4.580.000,-
Keterangan: *) hasil wawancara petani di Garut, diperoleh menurut percobaan petani dariareal seluas 1000-2000 m2 pada sebagian saja huma milik petani, **)output percobaan di 18 lokasi di 8 provinsi.
Tabel2. Sinergisme antar komponen teknologi pada penerapan contoh PTT

Komponen teknologi

Sinergi menggunakan faktor lain

Keterangan


Penyiangan dengan alat gasrok









Pengairan berselang
























Penggunaan bibit tunggal/lubang tanam

Cara tanam legowo








Penggunaan bahan organik
Cara pemupukan





Pemberian bahan organik



Pertumbuhan akar









Absorpsi oksigen oleh akar




Serangan hama dan penyakit





Penggunaan bibit muda

Persaingan antar tanaman


Serangan hama dan penyakit







Pemupukan

·Pupuk bisa terbenam (deep placement), sehingga kehilangan hara berkurang
·Gulma sebagai asal hara
·Aerasi tanah meningkat, pupuk lebih efisien
·Suasana aerob mengurangi akumulasi bahan-bahan yg bersifat toksik di pada tanah
·Suplai oksigen buat perkembangan akar lebih baik
·Perkembangan akar lebih pesat dan lebih dalam
·Penyerapan hara menjangkau lapisan tanah lebih dalam
·Tanaman tahan rebah pada ketika animo hujan karena akar yg kokoh, dan terhindar menurut penyakit kuning (yellowing syndrome) lantaran kelembaban berkurang
·Suplai oksigen buat respirasi akar semakin tinggi, perkembangan perakaran ke lapisan tanah lebih pada, akibatnya flora tumbuh lebih kokoh serta pembentukan anakan lebih banyak
·Perkembangan hama dan penyakit terutama wereng coklat serta penggerek batang (hama tanaman ) serta penyakit kresek (HDB) terhambat menggunakan penerapan irigasi berselang lantaran kelembaban lingkungan mikro berkurang
·Mengurangi stres tanaman , recovery bibit lebih cepat akibatnya pembentukan anakan lebih banyak
·Persaingan antar individu tumbuhan berkurang. Anakan lebih poly. Penggunaan benih menurun (25 sebagai 15 kg/Ha)
·Gangguan hama tikus berkurang
·Sirkulasi udara antar rumpun lebih baik, sehingga mengurangi agresi penyakit
·Wereng hijau nir menyebar, mengurangi agresi penyakit tungro
·Perawatan tumbuhan lebih mudah dan efisien
· Fisik, kimia serta biologi tanah diperbaiki
·Efisiensi penggunaan pupuk anorganik meningkat (sekitar 30%)
·Serangga netral meningkat, menjadi mangsa musuh alami


KOLAM TANAH UNTUK BUDIDAYA IKAN

Kolam Tanah Untuk Budidaya - Dalam Budidaya Ikan Maka Tak sempurna bila nir ada yg namanya Media Pembudidayaan Yang dinamakan Kolam. Dan Penggunaan Kolam Tersebut telah mulai berkembang berdasarkan penggunaan kolam Tradisional ke kolam Modern.

Walaupun Penggunaan Akan Kolam Secara Modern sudah berlangsung lama dan terbilang telah poly yang beralih, Tetepi Karakteristik berdasarkan penggunaan kolam tradisional tadi adalah sistem dari budidaya perikanan terutama memanfaatkan pakan alami yg masih ada dan berada pada dalam kolam tersebut.


Jumlah serta Kepadatan ikan yang dipelihara pada kolam umumnya rendah, umumnya hanya terdiri atas satu jenis saja (monokultur) sedangkan huma yg digunakan umumnya relatif luas.

Baca Juga ; Penyakit Bakterial Pada Ikan
Dari segi penyerapan tenaga kerja, budidaya ikan menggunakan menggunakan kolam tradisional hanya melibatkan sedikit saja aktivitas insan. 

Meskipun demikian, jika prosesnya dilaksanakan dengan sungguh-benar-benar akan memberikan beberapa keuntungan antara lain adalah sebagai berikut. 


Dari segi ekonomi, pembuatan kolam adalah salah satu cara pemanfaatan lahan pekarangan/huma kosong sehingga dapat menaruh tambahan penghasilan. 


Fungsi sosial di mana hasil yang diperoleh akan memberikan tambahan gizi keluarga petani, sebagai akibatnya diperlukan bisa menaikkan kecerdasan bangsa pada masa yg akan datang.

Struktur kolam tradisional umumnya masih memakai bahan-bahan alami yg tersedia, seperti buat pematang biasanya dipakai tanah yg dipadatkan, jadi belum memakai bahan modern misalnya semen, ataupun beton. Saluran pembuangan dan pemasukan air kebanyakan belum dibuat sesuai prinsip efisiensi atau belum di untuk secara permanen. 

KOLAM TANAH UNTUK BUDIDAYA IKAN


Di samping itu kebanyakan petani mengelola kolam tradisional hanya menjadi usaha tambahan di samping mata pencaharian primer mereka sebagai petani. 


Berdasarkan syarat seperti dijelaskan di atas, maka kolam tradisional masih digolongkan ke pada budidaya sistem ekstensif. 


Budidaya menggunakan sistem ini sekarang sudah banyak ditinggalkan karena laba yg dihasilkan pada umumnya tidak terlalu besar . 


Jenis ikan yang dipelihara pada kolam diantaranya ikan mas (Cyprinus carpio), lele (Clarias batrachus), mujair (Tilapia mozambica), serta nila (Oreochromis nilotica).

Baca Juga ; Pembenihan Ikan Buntal Air tawar


Sebelum Kita Mulai Membuat Kolam Tradisional dengan menggunakan media kolam tanah maka terdapat beberapa faktor yang harus pada perhatikan. Dan Hal Tersebut diantaranya ;


- Menganalisa jenis tanah yang akan di bangun kolam budidaya.


- Kontur lahan


- Tata letak Kolam


- Penggalian Tanah


- Pembuatan Tanggul Atau Pembatas Kolam


- Saluran Irigasi


- Pengaturan Sirkulasi Air Kolam

JENIS TANAH

Jenis tanah уаng paling baik buat menciptakan kolam tanah аdаlаh tanah liat berpasir. Jenis tanah іnі relatif rapat air, teksturnya solid sehingga pembuatan tanggulnya рun lebih gampang.
Bіlа tanah уаng tersedia tеrlаlu gembur, perlu bisnis ekstra agar berfungsi dеngаn baik. Misalnya dinding kolam diberi lapisan semen atau batu bata. Cara іnі efektif mencegah kebocoran, nаmun biaya kontruksinya jauh lebih mahal.
Cara sederhana memilih jenis tanah аdаlаh dеngаn menggenggam segumpal tanah уаng sudah dibasahi dеngаn air. Kеmudіаn kepalkan tanah tеrѕеbut bertenaga-kuat. Kеmudіаn buka telapak tangan Anda. 
Bіlа dі permukaan telapak tangan hаnуа ada sedikit pasir maka bіѕа dikatakan tanah liat berpasir. Bіlа jumlah pasir уаng menempel dі telapak tangan banyak, tanah tеrѕеbut mengkategorikan tanah gembur.


Baca Juga ; Mengenal Aquarium Sebagai tempat wadah Budidaya

KONTUR LAHAN

Sеtеlаh Kita Mengetahui Jenis tanah menggunakan Cara menganalisis Nya maka langkah Selanjutntyaa merupakan anda perlu buat mengamati akan kontur huma уаng аkаn dijadikan Sebagai kolam Budidaya ikan. 

Apakah Kontur huma Tersebut datar atau huma miring. Karena Setelah Kita sanggup mengetahui akan Kontur tanah tersebut maka akan herbi metode pada penggalian serta pembuatan tanggul atau pembatas kolam.


Semisal Kontur tanah Pada huma miring maka pengaturan pola aliran air lebih mudah dan pembuatan galian serta pembuatan tanggul.

DImana pada Penggalian tanah dÑ– huma miring cukup dilakukan pada satu sisi. Kеmudіаn tanah output galian tersebut lantas dipakai buat membuat pembatas kolam tanggul dÑ– sisi lain. 

Sеdаngkаn pada huma datar, penggalian dilakukan dі ѕеmuа sisi. Hasil tanah galian dijadikan buat menciptakan tanggul. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar dibawah ini.
PEMATANG KOLAM TANAH

Pematang kolam Tanah dibuat buat menunda massa air didalam kolam supaya nir keluar dari pada kolam. 

Oleh karenanya jenis tanah yang akan digunakan buat membuat pematang kolam harus kompak serta kedap air dan tidak mudah bocor.

Jenis serta kultur tanah yang baik buat dijadikan pematang kolam adalah tanah liat atau liat berpasir. Kedua Jenis Tanah Ini Sangat Kuat jika pada pakai buat menunda Tekanan berdasarkan dalam Kolam.

Kedua jenis tanah pasir serta tanah liat ini bisa pada identifikasi menggunakan memperhatikan tanah yang ciri - cirinya diantaranya 


- mempunyai sifat lengket, 


- tidak poros,


-  nir mudah pecah dan


-  bisa menahan air. 


Ukuran pematang diubahsuaikan menggunakan ukuran kolam. 


Dalam Pembuatan Pematang kolam perlu di perhatikan juga tingginya lantaran buat Tinggi pematang ditentukan oleh kedalaman air kolam Jadi Semisal Kedalam air satu meter maka pembuatan lebih dari satu meter.


Idela pada pembuatan pematang kolam tanah usahakan dasar pematang kolam ini ditanam sedalam 20 centimeter berdasarkan bagian atas dasar kolam tanah yang di buat.

Pematang adalah galat satu bagian yg sangat penting berdasarkan konstruksi kolam. Bentuk pematang harus memadai, lantaran pematang berfungsi buat :



- Menahan volume air dalam kolam

- Menahan luapan air yg ada karena banjir maupun hujan lebat

Kedua sisi pematang dibuat miring, kemiringan pematang adalah perbandingan antara sisi tegak serta sisi mendatar sebanyak 1 : 1 sampai 1 : 1 ½ . 


untuk kemiringan pematang bagian luar kolam adalah sebesar 1 : 1 sampai 1 ¼ , sedangkan kemiringan pematang bagian pada kolam 1 : 1 ½ , kalau tanahnya tanah lempung atau 1 : 1 ¾ kalau tanahnya kurang mengandung tanah lempung. Lebar permukaan pematang minimal 1.0 meter.


Tinggi pematang diadaptasi menggunakan luas kolam, sebagai patokan permukaan pematang harus berada lebih tinggi menurut rencana bagian atas air kolam. 


Luas kolam 2.000 m2 tinggi pematang yg ada diatas air relatif 30 cm, sedangkan buat kolam menggunakan luas 4.000 m2 tinggi pematang yang muncul di atas permukaan wajib 50 centimeter. 


Yang perlu diingat, bahwa penampang melintang sebuah pematang wajib seperti bangun trapesium.


Bentuk dan luasan buat pematang kolam yang biasa dibentuk dalam kolam budidaya ikan memiliki terdapat dua bentuk yaitu 

- berbentuk trapesium sama kaki serta 


- bentuk trapesium tidak sama kaki. 


Bentuk pematang trapesium sama kaki ialah perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1
Untuk menghindari terjadinya erosi, sebaiknya pada pematang ditanami rumput atau tumbuhan lain yang juga bisa berfungsi sebagai peneduh.


Sedangkan bentuk pematang trapesium tidak sama kaki merupakan perbandingan antara kemiringan pematang 1 : 1,5

Apabila jenis tanahnya memungkinkan, kolam ikan sanggup dibuat hanya menggunakan menggunakan tanggul tanah. 

Dari segi bentuk serta konstruksi pematang maka pembuatan tanggul tanah lebih murah dan gampang. 


Berikut langkah-langkah membuat tanggul dari tanah:


1. Pematang tanah

- Tetapkan luas kolam yg akan digali, tentukan garis batasnya.

- Kemudian mulai menggali lapisan tanah atas sedalam kurang lebih 10 centimeter. 

- Setelah Tanah Di Gali lantas Tanah Hasil galian di Pisahkan menurut  tanah lapisan atas ini, 

- Dengan Tujuan buat nanti ditebarkan  atau menjadi subtrat kembali ke dasar kolam. 

- Bagian Tanah atas ini tergolong fertile dan kaya akan bahan organik yg bermanfaat dan berguna bagi kehidupan ikan.

- Mulai Menggali pulang permukaan tanah sedalam 60 centimeter. 

- Bagian tanah yang ini dipakai buat menciptakan pematang. 

- Bersihkan Tanah dari batuan, akar atau pun sampah lainnya . Manfaat berdasarkan pembersihan kotoran kotoran tadi agar pematang tanah yang disusun tidak bocor.

- Pematang dibentuk dengan penampang berbentuk trapesium. 

Dalam Pembuatan Dengan Bentuk Trafesium Maka Lebar pada bagian bawah dan menyempit pada bagian atas. 

Semakin lebar pematang bagian bawah maka semakin baik, lantaran akan semakin kokoh. 

Tapi tentunya semakin lebar pematang akan memakan tempat serta porto dan waktu akan semakanin banyak

- Sesuaikan lebar pematang menggunakan luas kolam.

- Sebelum pematang dibentuk, sebaiknya gali dasar tanggul sedalam 20-25 centimeter sebagai pondasi . 

- Kemudian isi dengan tanah output galian dan mampatkan. Tanah galian buat menciptakan pematang mampu diairi terlebih dahulu agar solid.

2. Pematang tembok Pada Kolam Tanah


Pematang tembok diharapkan bila kita menginginkan kolam yang lebih permanen serta jenis tanah yang ada tidak memungkinkan buat menciptakan pematang tanah. 

Tembok mampu digunakan menjadi pelapis atau pembatas. 


Sebagai pelapis merupakan, lapisan tembok hanya memperkuat pematang tanah. Biasanya diterapkan dalam kolam tunggal.
Untuk jumlah kolam yang poly, biasanya seluruh pematang dibentuk berdasarkan lapisan batu-bata dan adukan semen atau dibeton. Pematang sebagai pembatas antara kolam yang satu menggunakan kolam yang lain. 

Pembuatan pematang menggunakan bahan batu-bata serta adukan semen atau dibeton tentunya memerlukan cost biaya pengeluaran yg jauh lebih besar daripada pembuatan tanggul tanah.

DASAR KOLAM BUDIDAYA

Subtrat atau Dasar kolam tanah buat budidaya ikan ini dibuat miring ke arah pembuangan air, 

Dimana Nilai kemiringan dasar kolam berkisar antara 1-dua% yang merupakan pada setiap seratus meter panjang dasar kolam ada disparitas tinggi sepanjang 1-dua meter . Tujuan Dari Pembuatan Kemiringan Di dasar Kolam Agar Di ketika Pemanenan Ikan Tidak Terlalu Sulit dimana Ikan Akan berkumpul pada Sisi dasar Kolam Yang Lebih rendah,

Cara pengukuran kemiringan tanah yg gampang merupakan dengan memakai selang air yg mini . Dimana Selang Tersebut akan Menunjukan rata Rata berdasarkan ketinggian Dasar dan Pematang Kolam.

Tahapan dalam Cara Pengukuran 


- Pada masing-masing ujung pintu pemasukan serta pintu pengeluaran air ditempatkan sebatang kayu atau bambu yg telah diberi berukuran, yg paling bagus meteran, 


- lalu selang mini yang telah berisi air direntangkan serta ditempatkan dalam bambu, kayu atau meteran Pada masing-masing ujung pintu pemasukan serta pintu pengeluaran air


- Nilai Perbedaan tinggi air pada ujung ujung selang itu memberitahuakn disparitas tinggi tanah/ kemiringan dasar kolam.

KEMALIR Atau Parit Dangkal

Kemalir atau parit dangkal yg berada pada bagian tengah atau sekeliling tepi kolam adalah bagian kolam yang cukup penting. 

Fungsi kemalir menjadi loka berlindung ikan terhadap agresi hama, bahaya kekeringan dan sengatan surya, dan menjadi tempat berkumpulnya ikan dalam saat akhir penangkapan ikan.


Ukuran kemalir tergantung dalam luas kolam. Jika luas kolam mini (100 – 500 m2), kemalir bisa dibuat menggunakan berukuran lebar 1 meter menggunakan kedalaman 30 cm. Bila kolam lebih luas lagi, kemalir bisa dibentuk menggunakan ukuran lebar 2 – dua,5 meter menggunakan kedalaman 50 cm.

INLET DAN OUTLET AIR KOLAM


Pintu pemasukkan serta pengeluaran air sangat penting bagi suatu kolam, supaya sirkulasi air dapat lancar. Secara tradisional, pintu pemasukkan atau pengeluaran air bisa terbuat menurut batang bambu atau pipa PVC. 

Pintu pemasukkan air diletakkan menembus dalam bagian atas pematang kolam, sedangkan pintu pengeluaran air terletak didasar kolam dan sejajar menggunakan dasar kemalir, menembus pematang kolam hingga kebagian luar kolam. 


Setiap pintu air ini dilengkapi menggunakan saringan yg terbuat berdasarkan anyaman bambu. Saringan ini berfungsi buat mencegah masuknya sampah atau ikan lain kedalam kolam atau mencegah keluar ikan yg sedang dipelihara. 


Setiap saat pintu ini wajib diperiksa agar jangan sampai tersumbat sang kotoran.

Keterangan gambar:


P= pematang


PA = Permukaan Air


B1= pintu pengeluaran air dengan saringan


DK= dasar kolam


B2= pintu pemasukkan menggunakan saringan


K= kemalir


Semoga Bermanfaat...

TEKNIK PENGELOLAAN PENGGELONDONGAN BANDENG



1.pendAHULUAN

            Kegiatan penggelondongan nenermerupakan mata rantai yg bertujuan keliru satunya adalah menekan mortalitasbenih karenan pengelondongan neneradalah masa awal pemeliharaan yang dianggapsebagai masa paling kritis.usaha penggelondongan nener bukan lagi sekedar usahasambilan di sampingusaha pembesarannya tambak, melainkan sebagai usahakomersial yg harusditangani lebih berfokus dan hati-hati. Oleh lantaran usahapenangkapan nener dari alam sulit dilakukan sedangkan kebutuhan atau permintaanakan nener meningkat maka dibutuhkan teknik pengelolaan penggelondongan dapatlebih dikembangkan.  Salah satu metoda dalampenggelondongan nener adalah penggelondongan di petakan tambak. Usaha inidilakukan pada petakan tambak yg ukurannya nisbi mini (500 - 1.000 m2)atau menggunakan cara menyekat tambak menggunakan masa tiga minggu – 1 bulan.
            Usaha penggelondongan telah banyakberkembang dibeberapa daerah pada Indonesia, diantaranya pada Jawa Timur, JawaTenah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan serta DI Aceh.  Untuk itu diupayakan membahas teknikpengelolaan penggelondongan dalam tulisan ini. Tujuan goresan pena ini adalah menginformasikan pada petani maupunpengusaha mengenai teknik mengelola
penggelondongannener yg baik.

2.pemiLIHAN LOKASI

            Pemilihan lokasi hendaknyamemperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1)        Mempertimbangkan aspek-aspek yangberkaitan dengan lokasi misalnya rapikan ruang, asal air dan pengairan. Diusahakan nir begitu jauh dari pantai agarsuhu udara yg ada bisa mendukungkeberhasilan bisnis pemeliharaan benih bandeng. Suhu air dalam tambak berkisarantara 30 -330 C.
2)        Jarak lokasi ideal berdasarkan sumberbenih/nener maksimal 12 jam. Perjalanan selama dalam         pengangkutan konsumen tidak melebihi 12 jam.
3)        Salah satu faktor yang dapatmengakibatkan kegagalan bisnis penggelondongan bandeng merupakan persaingan penggunaan huma antar sesama pengusaha tambak.
4)        Sarana transportasi.
            Kelancaran sarana angkutan terutamajalan, sangat memegang perananpenting pada         usahapenggelondongan nener ini.  Oleh sebabitu dipilih lokasi yg wahana lalu   lintasnyadapat mengklaim mutu nener permanen baik.
5)         Jaringan listrik.
            Sarana yang diperhatikan dalammemilih lokasi adalah yang dekat dengan jaringan listrik negara (PLN). Namun buat usaha penggelondongan bandeng kebutuhan listrik sanggup         diganti dengan indera-indera lain sepertigenset.

3.sistEM PETAK PENENERAN

1)        Petakan buat nener.

            Petakan buat nener pada umumnyadangkal, luasnya berkisar antara 500 - 1.000 m2         Letak petakan nener dekat dengan sumber air tawar maupun air asin.

2)        Petakan buat gelondongan.

            Petakan gelondongan mempunyai areallebih besar (luas) serta lebih pada (1.000 - dua.000)   m2 Hal ini dipakai buat menampung gelondongan berdasarkan petakanpeneneran tempat             untukmenumbuhkan gelondonan mini (pre fingerling) atau untuk penyimpanan serta    menunda gelondongan besar (post fingerling).

3)        Petakan Aklimatisasi.

            Petakan buat aklimatisasi atau yangbiasa diklaim ipukan/baby box adalah petakan    mini yg terbuat pada penggelondongan dan bersifat hanyasementara.  Ipukan ini dibatasi sang pematang yg relatif mini (sempitdan rendah) dibangun berdekatan      dengansaluran air, agar mutu lebih baik dan memudahkan pengelolannya.  Ukuran            luasnyatergantung kepada banyaknya nener yang akan ditebarkan (stock).  Pada   musimkemarautemperatur udara bisa naik mencapai 330 C, ipukan bisa menampung     lima.000 - 10.000 ekor per m2  selama 3 hari, meskipun dibawah periode yangrelatif          damai.

4)        Tempat pengumpulan (tempat untukpanen)

            Berupa petakan mini untukpenangkapan atau kanal yg sempit atautempat buat            mengumpulkan gelondongan dalam saat singkat.  Ikan-ikan dikumpulkan ke loka        pengumpulan dengan cara pengaturan aliranair, menurut air dalam saat pasang atau air berdasarkan         petakanlain yg telah disiapkan sebelumnya.
            Aerasi bisa diatur dengan aliranair dari tambak yang berdekatan atau berdasarkan tambak yg lain, sehingga nir terjadi dampak yang merugikan karena kekuranganoksigen, walaupun pada         dalam petakantersebut padat menggunakan ikan.  Dalampetakan ini ikan-ikan tersebut gampang    dijaringdan dipindahkan ke petakan yg lain dengan cara mengunakan jaring buat        pemindahan gelondongan.  Hal ini dipermudah dengan sifat ikan bandengyang bahagia             menentang arus.

5)        Pintu serta gorong-gorong.

            Petakan untuk nener, gelondongan danpenangkapan (pengumpulan) dilengkapi dengan    pintu-pintuatau gorong-gorong, yang dipasang rapi dan diberi saringan.  Yang terutama      perlu diperhatikan merupakan : petakan buat nener jangan sampaikemasukan telur-telur    juga larvapredator misalnya kakap, kerapu, belut dan lain sebagainya.  Pada pintu          perludipasang saringan nylon yg halus atau bahan yang serupa.  Bisa juga             dipergunakansaringan-saringan yang berbentuk kantong berdasarkan nylon yang halus, yg         dipasang dalam ujung berdasarkan gorong-gorongselama persiapan petakan buat nener dan pula   selamasepuluh hari pertama sehabis penebaran nener.


4.pengELOLAAN PETAKAN PENGELONDONGAN

1)        Persiapan petakan untukaklimatisasi
            Beberapa hari sebelum penebarannener bandeng, petakan aklimatisasi dipersiapkan dengan baik, pematang dilapisidengan tanah yg lunak, dilengkapi dengan atap yg dibentuk berdasarkan kisi-kisibambu.  Pada kaki bagian dalam pematangpeneneran sebaiknya diberi berm, guna memudahkan petugas tambak berada ataubertugas lebih dekat menggunakan perbatasan air. Berm memiliki 2 (2) macamkegunaan yaitu merupakan loka buat pembetulan bocoran-bocoran dalam pematangdan menunda longsoran- longsoran tanah dari pematang. Selanjutnya petakandikeringkan dan perataan dasar petakan dikerjakan denan kemiringan yg dibuatmenuju arah pintu air selama tanah belum keras (masih basah).  Untuk perataan tanah dapat digunakan garudari kayu, dan bisa juga memakai papan yg relatif panjang yang didorongoleh dua atau 3 orang.  Lubang bekaskaki ditutup, karena kemungkinan bisa digunakan tempat buat sembunyi ikan-ikanliar atau telurnya yang dapat tahan hayati selama pengeringan dalam masa persiapan.

2)        Kultur Makanan Alami

            Makanan yg paling ideal bibitbandeng serta gelondongan adalah klekap, yakni kumpulan diatome dasar, alga biru,inverterbrata taraf rendah, 200 plankton, juga diharapkan buat melengkapinilai gizi makanan. Gelondongan yang lebih besar dan berukuran panjang 80 mm,telah dapat memakan alga hijau benang atau lumut (chaetomorpha sp., Entormorphasp., dan Cladophora sp.).

3)        Kultur klekap dalam demam isu kemarau

            Musim kemarau merupakan saat yangpaling baik serta cocok buat menumbuhkan klekap sebagai makanan alami.  Setelah petakan terselesaikan perataannya laludibiarkan kemarau sampai tanahnya retak-retak. Waktu pengeringannya diperkirakan selama 2 - tiga minggu tergantung padatenah aslinya.
            Keberhasilan atau kegagalan dalammenumbuhkan klekap yang baik dan menahannya supaya permanen menempel dalam dasartembak tergantung dalam derajat kekeringannya. Pengeringan yg nir seimbang atau  yg kurang paripurna akan membuat klekapyang mudah lepas menurut tanah dan akhirnya mengambang.bilamana terjadisebaliknya, terlalu lama pengeringannya sehinga lapisan bagian atas tanahkekeringan, maka terjadi suatu kondisi yang sangat nir memungkinkan untukpertumbuhan klekap.  Pengeringan dianggapcukup bilamana kandungan air dari lapisan tanah yang tebalnya sekitar 10 cm itukira-kira 18 - 20%. 
            Suatu hal yg simpel untukmengetahinya merupakan menggunakan jalan diatas tanah yang dikeringkan tadi.  Bilamana tanah tadi relatif kuat menahanorang sehingga hanya turun (tenggelam) sekitar dua centimeter, berat badan orang tersebutmaka pengeringan tanah dianggap telah relatif. Pupuk organik lalu ditebarkansetelah tanah cukup mengeras. Kwantitasnya tergantung pada jumlah darikemerosotan bahan organic pada tanah tambak yang akan dipupuk.  Pada umumnya rata-rata tanah memerlukan 500 -1.000 kg bekatul atau bungkil jagung per hektar; 500 -tiga.000 kg kotoran ternakuntuk tiap hektar tambak.  Pupukanorganik segera ditebarkan di tanah tambak, setelah tanah tambak tersebutdigenangi air pasang yang baru, sedalam kira-kira 10 centimeter dan pintu-pintu ditutupserta diblok dengan tanah buat menahan air tersebut.  Beberapa petani tambak menggunakan pupuk Ureaatau Ammonium sulfate (ZA) sebanyak 50 kg atau 100 kg per hektar buat segeraditebarkan pada petak-petak agar lebih mempercepat proses pembusukkan pupukorganik tadi. Air pada pada petakan dibiarkan menguap seluruhnya ataudialirkan keluar bila telah jernih sekali. Pada dasar petakan dikeringkan lagi misalnya keadaan pengeringan pertamasebelum ditebari pupuk organik.  Padaakhirnya mudah seluruh pupuk organik akan membusuk (mengurai). Kegiatanberikutnya memasukkan air ke pada petakan menggunakan cara hati- hati, disaringmelalui saringan halus yg berbentuk kantong serta diikatkan pada pintu airkira-kira 10 cm serta sekali lagi petakan dipupuk menggunakan urea sebanyak 45 kgditambah 45 - 55 kg pupuk TSP untuk tiap hektar.  Jikalau klekap belum mulai tumbuh pada saatpengenangan air yang pertama, dalam waktu ini akan mulai tumbuh dan menutupisemua permukaan dasar tambak. Selanjutnya sedalaman di tambak secara bertahapsampai sekitar 20 cm serta petakan siap buat ditebari ikan (nener ataugelondongan bandeng).

4)        Kultur klekap pada trend hujan.

            Untuk menanggulangi pertumbuhanklekap dalam ekspresi dominan hujan relatif sulit. Penurunan kadar garam menghalangipertumbuhan dan kemungkinan penyebab kerusakan total berdasarkan kuliner bilamanaterjadi perubahan mendadak.  Oleh karenaitu saat (ketika) yang krusial dalam mempersiapkan peneneran dalam musimhujan.  Paling sedikit diharapkan saat 1minggu yg cuacanya baik secara terus menerus jikalau ingin mencapaikeberhasilan. Petakan dikeringkan, diratakan serta dibiarkan paling sedikit 3hari, kemudian air dimasukkan serta dipupuk menggunakan pupuk organik yangkuantitasnya sama menggunakan yang biasa digunakan dalam pemupukan anorganis yangkedua pada demam isu kering.  Pada waktu itujuga ditambahkan bekatul sebanyak 200 kg/Ha. Perlu diketahui klekap yang tumbuhpada animo hujan ini tidak sebesar yang tumbuh di trend kering serta cenderungmudah tanggal menurut tanah dasar petakan yang kemudian mengapung, yang akhirnyamengelompok pada sisi-sisi petakan akibat dihembus oleh angin.  Dalam hal demikian, klekap tidak dapatdimanfaatkan oleh ikan yg dipelihara.

5)Kultur plankton

            Disini harus kita perhatikan upayauntuk menumbuhkan plankton agar mencapai hasil yang memuaskan (sukses)diperlukan air yg dalam serta rendah kadar garamnya, terutama selama musimhujan. Mula-mula petakan dikerjakan dan dibiarkan untuk 2 - 3 hari, lalu segeradiisi (digenangi) dengan air pasang yang baru. Pupuk organik yg diberikan wajib cukup yg umumnya terdiri darikombinasi antara Urea atau Amonium sulfate (ZA) sebagai N (nitrogen) danSuperfosfate (TSP) sebagai sumber P2O5 (fosfate) ditambah bekatul yangdigunakan buat membuat air sebagai hijau warnanya, yang sebagian besarnyaadalah phytoplankton. Pada biasanya petani tambak memulai dengan dosis 6 gram N,6 - 9 gram P2O5 serta 50 - 100 gram bekatul buat setiap m3  air yang kemudian dinaikkan dosisnya sampaididapatkan hasil yg diinginkan. Blooming phytoplankton akan terjadi dalam 48 jam pada cuaca yangmemungkinkan.  Petakan siap ditebari ikanjikalau suatu obyek yg putih berada dalam air hilang (lenyap) dari pandanganpada kedalaman sekitar 30 centimeter.

5.peneBARAN (PENANAMAN, STOCKING)

1)        Persiapan petakan untukaklimatisasi (ipukan).

            Petakan untuk aklimatisasi (ipukan)perlu dibuat, atau bila sudah ada perlu disiapkan dengan baik.  Pematangnya diplester (dilapisi) menggunakan tanahyang lunak serta sekalian menutupi bocoran-bocoran.  Atap diharapkan yang umumnya dibentuk darikisi-kisi bambu (kere) buat menaruh kesejukan kita bisa memanfaatkancabang-cabang berdasarkan pohon barah-api yg baru dipotong, seperti daun kelapa, daunnipah diletakkan di aasnya menjadi atap (dapat dipakai daun nipah atau daunkelapa yg dibentuk spesifik buat atap). Ada pula yang ditancapkan dalam kelilingipukan dapat, agar  suasanakesejukan.  Dengan cara demikian ipukantidak mendapat sinar surya lansung serta suhu sebagai rendah pada dalamnya. Untukmengantisipasi adanya hujan turun, atap perlu dilapisi atau ditutup denganplastik (polyethelene sheet).  Bilaipukan dibentuk dengan 1 atau dengan dua pematang dari petakan sebagai sisinya,perlu adanya kanal (saluran mini ) sepanjang berm buat mengalirkan air hujanterutama berdasarkan pematang petakan supaya masuk ke petakan besar serta tidak masuk keipukan. Semua pematang ipukan ditutupi dengan lembaran plastik.  Air hujan terutama yg mengalir  dari pematang petakan dan masuk ke dalamipukan bisa mengakibatkan kematian nener yg disimpan di ipukan pada keadaanpadat. Pada saat yg singkat sebelum nener datang seluruh air di dalam ipukan dikuraskeluar.  Air tawar secukupnya dapat jugaair sumur atau menurut mata air yang lain diisikan dalam ipukan pelan-pelan, selanjutnyaair dipasang yg baru dilewatkan melalui saringan yg halus ditambahkansampai kadar garam mencapai 15 - 20 ppt. Air dibiarkan jernih, sedimen dibiarkan mengendap dahulu dan semuakotoran-kotoran yg mengambang dibuang (sanggup jua diambili).

2)Penebaran Nener

            Nener dibawa ke tambak dengankantong plastik dan diberi oksigen. Biasanya dalam pengangkutan nener digunakanair yg kadar garamnya antara 15 - 20 ppt. Hal inilah yg mengharuskan ipukan diisi air tawar  kadar garam sesuai menggunakan air untukpengangkutan nener.  Pelepasan nenerbiasanya dilaksanakan dalam pagi atau sore hari, pada saat suhu udara relatiflebih dingin (sejuk).  Untuk mempermudahdalam aklimatisasi nener terhadap suhu air maka kantong plastik dibiarkanmengambang di dalam ipukan buat satu atau dua jam lamanya sebelumdilepaskan.  Dan pada dalam petakanpenggelondongan diusahakan buat kepadatan penebaran antara 40 - 50 ekor per m2.
            Pelepasan nener secara eksklusif keipukan bisa pula dilakukan, akan namun lebih aman jikalau hal tadi tidakdilakukan.  Mula-mula nener bersamaairnya dituangkan ke pada baskom plastik lalu air dari ipukan ditambahkanke baskom sedikit demi sedikit hingga kira-kira sama denan kondisinya denganair ipukan itu sendiri.  Setelah itubaskom secara pelan-pelan dimiringkan serta dibiarkan nener itu berenangkeluar.  Pada bagian atas kolam nener akanberenang-renang di dekat permukaan air tetapi sesudah beradaptasi serta merasasegar lagi, mereka mulai makan Benthic algae yang tipis di dasar.  Untuk adaptasi nener sepenuhnya dalam ipukandiperlukan saat kurang lebih 12 jam. Nener yang lemah kondisinya akan memerlukanwaktu lebih lama buat adaptasi serta berenang-berenang di dekat bagian atas airdalam ipukan. Apabila nener sudah tampak aktif bergerak dan makan, maka pematangipukan bisa dipotong sedikit serta disisipkan saringan dengan bahan yg halus ditempattersebut.  Pematang yg dipotong inidipergunakan buat memudahkan pertukaran air pada pada maupun pada luar ipukan (umumnya kadargaram air di luar ipukan lebih dari 40 ppt) dan pada lebih kurang 12 jam sesudahnya,kadar garam akan sama atau yg pada dalam ipukan akan lebih rendah sedikit daripada garam di petakan luar ( pada luar ipukan). Bilamana nener tampak mulaiberkumpul disekitar saringan atau berenang- renang menentang arus yg melewatisaringan, hal ini menunjukkan bahwa nener ini sudah relatif aklimatisasi terhadapkondisi garam berdasarkan petakan buat nener. Saringan sudah dapat diambil serta nener dibiarkan berenang keluar. Halini dikerjakan pada pagi hari atau sore hari waktu air di petakan rendah suhunya.
Ipukantidak dibutuhkan di waktu animo hujan apabila kadar garam pada petakantelah menjadirendah.  Nener bisa dilepaskan langsungke pada airsetelah cukup aklimatisasi di pada baskom. Jikalau Nener Payus (Elopssp.) belum terambil (belum diseleksi), nener hendaknya dilepaskan dalam happanylon (dengan berukuran mata jaring : lima - 6 tiap cm) yg dipasang dalampetakan.  Nener Bandeng bisa lolos keluar sedang di pada happa tertinggal Payus dan nener Bandeng yang agak besarsedikit ukurannya dari mata happa nylon.

3)        Pengaturan Air

            Pada umumnya selama 7 - 10 harisesudah divestasi nener, tidak dilakukan penggantian air.  Selama itu nener tambah sebagai lebih besardan perlu adanya saringan di pintu yang dapat menunda nener keluar, akan tetapidapat memasukkan air ke pada petakan. Penyegaran dapat dilakukan dengan mengalirkan air ke luar kemudiandiganti menggunakan air pasang yang baru. Saringan perlu pada cek setiap ketika membuka pintu.  Penutupan harus dilakukan menggunakan hati-hati,terutama dalam pemasangan papan-papan pintu. Petakan buat Nener mempunyaidasar yg lebih tinggi serta homogen apabila dibandingakn dengan petakan-petakan yanglain.  Oleh karena itu perlu
adanyatindakan bila masih terjadi bocoran-bocoran pada ketika pemasukkan air di saatpasang terakhir.  Pilihan lain ialahperlu menyediakan pompa air untuk pasang yg rendah jika nir bisa mencapaipetak peneneran.
            Nener tumbuh lebih cepat dalam airyang berkadar garam agak rendah.  Oleh karenaitu perlu dalam ekspresi dominan kering dilakukan penyegaran  penggantian air.  Penyegaran yang dilakukan pada musim hujanterutama untuk menjaga (memelihara) klekap atau untuk memperbaiki syarat air. Jikalauplankton adalah makanan primer diharapkan kadar garam yang rendah dan seringada hujan akan lebih bermanfaat.

4)Pakan

Pemberianmakanan tambahan menyebabkan bertambahnya input.  Hal ini hanya diberikan (dilaksanakan) jikamakanan alami habis serta tidak terdapat tempat yang layak atau yg siap untukdipergunakan.  Pengusaha gelondonganbandeng melaksanakan penimbunan (penahanan) gelondongan dengan memberikanmakanan tambahan, karenanya pengusaha tadi berani menggunakan padatpenebaran yg tinggi dalam tambaknya.
Beberapamacam mkanan tambahan yang sering digunakan merupakan :
            a.         Katulyang halus output residu penggilingan padi yang baru berbentuk tepung atau                               dijadikan pellet.
            b.         Tepunggandum (gandum), berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
            c.         Bungkiljagung (bungkil berdasarkan forum jagung), berbentuk tepung atau dijadikan                             pellet.
            d.         Bungkilkacang tanah, berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
            e.         Bungkilkelapa berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
            f.          Rotiyang basi atau sudah usang.
            g.         Kotorankandang ternak atau lebih baik kotoran ayam.
            Penambahan makanan sebaiknya habisdimakan dalam jangka saat dua hingga 3 jam. Bilamana tidak maka air akanmengalami pencemaran. Setidak-tidaknya kuliner diberikan tiga kali setiap hariatau cukup dua kali (pagi serta sore hari). Makanan bisa diberikan menggunakan cara ditaburkan atau ditempelkan padasuatu tempat eksklusif yg berada di pada kolam (di petakan). Kondisigelondongan yg kurang baik (kurus) perlu diperbaiki menjadi persiapan untukpemindahannya ke tambak lain. Gelondongan yang kurus mudah sekali mengalami tekanan.  Sisiknya mudah lepas walupun diperlakukanbiasa saja dan tempat yang nir bersisik akan gampang mengalami infeksi daribakteri dan fungi.

6.hambATAN PENGELOLAAN

            Dalam bisnis pengelolaan tambaksering dijumpai hal-hal yg merusak kelancaran usaha, di antaranya adalahsebagai berikut :
1)        Kondisi nener yg buruk dalam saatpenebaran.

            Pedagang nener umumnya menampungdalam kondisi yang sangat padat sambil menunggu pembeli.  Selama musim nener, pedagang nener mengumpulkanhasil penangkapan tiap hari lalu ditampung serta dikumpulkan hingga cukupbanyak jumlahnya buat memenuhi pesanan berdasarkan pembeli yang tiba pertama.  Sering pula terjadi bahwa nener nir diberi makanuntuk beberapa hari, yang menyebabkan lapar serta lemah mengakibatkan kondisinener sebagai lamban geraknya serta gampang mendapat tekanan (tertekan) ketika dalampenghitungan. Jika diangkut dalam syarat yg berjejal pada kantong plastik,suhu tinggi, terjadi pertukaran zat-zat pada tubuhnya, eksresi, tekananoksigen serta jalanan yg kasar bisa menambah kelelahan nener.  Banyaknya perlakuan pada tambak dapat menambahmakin lelah dan memberatkan situasi dan nir tahan terhadap syarat dalampetakan yang sedikit kurang baik.

2)Aklimatisasi yang kurang cukup.

            Dalam melepaskan nener ke petakpeneneran diharapkan waktu yang relatif buat aklimatisasi, sehingga nener dapatmenyesuaikan diri terhadap keadaan atau syarat lingkungan. Penggantian airsecara mendadak dengan disparitas kadar garam atau suhu yang besar dapatmengakibatkan yg kurang baik.  Nenertidak cukup ketika buat mengikuti keadaan (adaptasi) terhadap kondisilingkungan serta akhirnya menjadi lemah, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

3)Bocoran-bocoran.

            Sifat naluri yg senang menentangarus air mengakibatkan nener mudah lolos melalui bocoran yang terdapat dipematang.  Dasar pintu saringan-saringan danpapan-papan penutup pintu yang nir benar pemasangannya memungkinkan nener dangelondongan kecil bisa lolos ke luar. Hal tadi memungkinkan pula masuknya ikan-ikan buas yang masih mini yangakhirnya dapat memangsa nener dalam petakan.

4)Terjerat

            Alga benang, klekap yg lebar-lebardan lepa berdasarkan dasar tambak, kantong- kantong telur menurut cacing-cacingPolychaeta merupakan benda-benda yang dapat mengakibatkan nener pada tambakterjerat.  Nener terjerat (terbelit) olehalga benang atau terjebak pada gelembung telur-telur Polychaeta.  Pada petakan yg dangkal, selapis klekapyang lebar tiba-tiba mengambang ke permukaan akibat terkumpulnya gelembung-gelembungoksigen berdasarkan output asimilasi komponen tumbuh-tumbuhan bisa mengakibatkan neneryang sedang makan atau berenang di atasnya ikut terangkat ke permukaan serta akhirnyaakan mati karenan terdampar nir dapat balik ke air.


5)Keracunan

            Oleh lantaran petakan buat nenerumumnya berukuran mini , maka gampang mengalami kontaminasi unsur-unsur yangberacun yang beserta air atau dari asal lain. Kematian secara akbar-besaran kadang-kadang terjadi pada tambak yangmengalami air berdasarkan sungai yang mengalirkan sisaa-sisa berdasarkan pabrik (sampahindustri) dibuang.  Hal tadi jugasering terjadi pada daerah-wilayah yang dekat menggunakan daerah pertanian, terutamadaerah sawah yang sering menebari pestisida (buat pemberantasan hama). Kadang-kadangpematang tambak sendiri dapat sebagai asal (sumber)material yg mempunyai dayaracun yang tinggi.  Banyak contohkematian total yang terjadi pada peneneran begitu terselesaikan hujan pertama yanglebat setelah animo kering yang panjang. 
            Kasus demikian pula acapkali terjadidi tambak-tambak yg beru dibangun berdasarkan wilayah rawa-rawa yg poly pohonbakaunya (mangrove). Pematang dibuat berdasarkan tanah-tanah yang terdiri dari banyakakar-akaran yg membusuk dan terkumpul bahan organik yang mengandung unsurracun asam humus serta asam Sulfida (H2S) pada lereng pada atas pematang tadi digambarkansebagai hasil penguapan berdasarkan pematang yg poly mengandung air (kadar airyang tinggi). Senyawaan belerang bisa jua terbentuk dari pembusukkan akaryang tampak di pematang-pematang. Tetesan air hujan mencucinya dan membawanya masuk ke tambak karenaterbatasnya areal pada peneneran, unsur yg dikehendaki tersebut segera menyebarsehingga menyebabkan nener juga gelondongan poly yang mati karenakeracunan.

6)Penanganan yg salah.
Pengeringanyang mendadak disebabkan penutupan pintu kurang paripurna adalah yg seringmenyebabkan poly nener serta gelondongan yg hilang atau mangkat .  Saringan-saringan yang rusak, yg robek ataukesalahan dalam pemasangannya merupakan faktor penyebab hilangnya nener juga.  Sifat masa kolot dari insan (penjaga) tidakdapat dianggap sepi begitu saja. Penjaga yg sangat lelah kadang-kadang gampang(cepat) jatuh tertidur, sedang periode pengeringan atau pengisian peneneranberlangsung dalam malam hari di ketika terjadi surut yang rendah atau pasang yangtinggi, karena tertidur maka penjaga tidak bisa mengontrol keadaan deanganbaik, yang
mengakibatkanlingkungan pematang yg rusak.

7.analISA USAHA PENGGELONDONGAN BANDENG

            Dalam pemeliharaan nener bandeng untukgelondongan dibutuhkan ketika pemeliharaan selama lebih menurut 21 hari, pada usiatersebut ukuran telah mencapai gelondongan yaitu panjang dua - 3 cm dan beratrata-rata dua - 3 gram. Dengan kepadatan tebar 40 - 50 ekor/m2  @ Rp.50,- per ekor maka kelangsungan hidupnener buat mencapai gelondongan adalah 75% - 90%. Harga jual perekor untukukuran gelondongan tersebut adalah Rp. 100,-. Usaha penggelondongan tersebutdapat dilaksanakan pada tambak luas 0,lima HA (4 petakan).  Dalam satu tahun diperhitungkan dapat memeliharabandeng tadi sebanyak 6 periode selanjutnya dalam tebar 200.000 ekor denganSR 80%. Hal inilah yg bisa memberikan harapan buat dikembang usahakansebagai keliru satu komoditas dalam agribisnis. Sebagai gambaran mengenai analisis laba dapat ditinjau padatabel-tabel pada bawah ini.