SEJARAH LAHIRNYA SOSIOLOGI

Sejarah Lahirnya Sosiologi 
Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa, lantaran pergeseran pandangan tentang rakyat, sebagai ilmu empiris yg memperoleh pijakan yg kokoh. Sosiologi sebagai ilmu yg otonom dapat lahir karena terlepas berdasarkan efek filsafat. Nama sosiologi buat pertama kali digunakan sang August Comte (1798-1857) pada tahun 1839, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan positif yang memepelajari warga . Sosiologi mempelajari aneka macam tindakan sosial yang berkembang menjadi dalam empiris sosial. Mengingat banyaknya realitas social, maka lahirlah berbagai cabang sosiologi seperti sosiologi kebudayaan, sosiologi ekonomi, sosiologi agama, sosiologi pengetahuan, sosiologi pendidikan, dan lain-lain. Rintisan Comte tersebut disambut hangat sang rakyat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar pada bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya asal berdasarkan Eropa. Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan menilik masyarakat yang amat berguna buat perkembangan sosiologi. Émile Durkheim ilmuwan sosial Perancis berhasil melembagakan Sosiologi menjadi disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yg berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang tahu warga seperti tubuh insan, sebagai suatu organisasi yg terdiri atas bagian-bagian yg tergantung satu sama lain. Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yg menganggap permasalahan antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan rakyat. Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan , tujuan, serta sikap yg sebagai penuntun perilaku manusia. Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. 

A. Latar Belakang Historis Sosiologi Pendidikan
Ketika diangkat sebagai Presiden American Sosiological Association pada tahun 1883, Lester Frank Ward, yang berpandangan demokratis, membicarakan pidato pengukuhan dengan menekankan bahwa asal utama disparitas kelas sosial dalam warga Amerika merupakan perbedaan dalam memiliki kesempatan, khususnya kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Orang berpendidikan lebih tinggi mempunyai peluang lebih akbar untuk maju dan mempunyai kehidupan yang lebih bermutu. Pendidikan dilihat sebagai faktor pembeda antara kelas-kelas sosial yang cukup merisaukan. Untuk menghilangkan disparitas-disparitas tadi beliau mendesak pemerintahnya agar menyelenggarakan wajib belajar. Usulan itu dikabulkan, serta wajib belajar di USA berlangsung 11 tahun, hingga tamat Senior High School (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 78).

Buah pikiran Ward dijadikan landasan buat lahirnya Educational Sociology sebagai cabang ilmu yang baru pada sosiologi pada awal abad ke-20. Ia seringkali dijuluki menjadi “Bapak Sosiologi Pendidikan”(Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 79). Fokus kajian Educational Sociology merupakan penggunaan pendidikan pendidikan sebagai alat buat memecahkan perseteruan social serta sekaligus memberikan rekomendasi buat mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri. Kelahiran cabang ilmu baru ini mendapat sambutan luas dikalangan universitas pada USA. Hal itu terbukti dari adanya 14 universitas yg menyelenggarakan perkuliahan Educational Sociology, pada tahun 1914. Selanjutnya, dalam tahun 1923 dibentuk organisasi professional bernama National Society for the Study of Educational Sociology serta menerbitkan Journal of educational Sociology. Pada tahun 1928, organisasi progesional yg mandiri itu bergabung ke dalam seksi pendidikan menurut American Sociological Society.

Pada tahun 1928 Robert Angel mengkeritik Educational Sociology serta memperkenalkan nama baru yaitu Sociology of Education dengan focus perhatian pada penelitian dan publikasi hasilnya, sebagai akibatnya Sociology of Education bisa menjadi sumber data serta informasi ilmiah, dan studi akademis yang bertujuan berbagi teori serta ilmu sendiri. Dengan dukungan dana penelitian yang memadai, berhembuslah angin segar dan menarik para sosiolog buat melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. Maka diubahlah nama Educational Sociology menjadi Sociology of Education serta Journal of Educational Sociology menjadi Journal of the Sociology of Education (1963). Serta seksi Educational Sociology pada American Sociological Society pun berubah menjadi seksi Sociology of Education yg berlaku sampai sekarang. Penelitian serta publikasi hasilnya menandai kehidupan Sociology of Education sejak pasca Perang Dunia II.

Di Indonesia, perhatian akan kiprah pendidikan pada pengembangan rakyat, dimulai lebih kurang tahun 1900, waktu Indonesia masih dijajah Belanda. Para pendukung politis etis pada Negeri Belanda waktu itu melihat adanya keterpurukan kehidupan orang Indonesia. Mereka mendesak agar pemerintah jajahan melakukan politik balas budi buat memerangi ketidakadilan melalui edukasi, irigasi, serta emigrasi. Meskipun pada mulanya acara pendidkan itu amat elitis, lama kelamaan meluas dan meningkat ke arah yang makin populis sampai penyelenggaraan harus belajar dewasa ini. Pelopor pendidikan dalam ketika itu antara lain: Van Deventer, R.A.kartini, dan R.dewi Sartika.

B. Pengertian Landasan Sosiologi
Manusia selalu hayati berkelompok, sesuatu yg jua terdapat pada makhluk hidup lainnya yakni fauna. Meskipun demikian, pengelompokan manusia jauh lebih rumit menurut pengelompokan fauna. 

Wayan Ardhana (1968) menyatakan ciri-ciri hidup berkelompok dalam hewan dalam kutipan berikut. 

Pada fauna, hayati berkelompok memiliki cirri-ciri: Ada pembagian kerja yang tetap pada anggotanya, ada ketergantungan antar anggota, ada kerjasama antar anggota, terdapat komunikasi antar anggota, dan ada subordinat antar individu yg hidup dalam suatu gerombolan dengan individu yang hayati pada kelompok lain. 

Ciri-karakteristik hewan tersebut bisa pula ditemukan pada insan. Kehidupan sosial insan tadi dipelajari oleh filsafat, yg berusaha mencari hakekat warga yang sebenarnya. Filsafat sosial acapkali membedakan insan menjadi individu dan manusia sebagai anggota rakyat. Pandangan genre-genre filsafat mengenai empiris sosial itu berbeda-beda, sebagai akibatnya dapat ditemukan bermacam-macam aliran filsafat sosial.

Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses hubungan antara dua individu, bahkan 2 generasi, yg memungkinkan generasi belia memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yg sistematis terjadi di forum sekolah yang dengan sengaja di bentuk sang rakyat. Perhatian sosiologi dalam pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatnya perhatian sosiologi dalam kegiatan pendidikan tadi maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.

Landasan sosiologis pendidikan merupakan acuan atau asumsi dalam penerapan pendidikan yang bertolak pada hubungan antar individu menjadi mahluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan pendidikan adalah suatu proses interaksi antara 2 individu (pendidik serta peserta didik) bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi belia mengembangkan diri. Pengembangan diri tadi dilakukan dalam aktivitas pendidikan. Oleh karenanya aktivitas pendidikan dapat berlangsung baik di lingkungan famili, sekolah serta warga . Oleh karenanya kajian sosiologis mengenai pendidikan meliputi semua jalur pendidikan tersebut.
Pendidikan famili sangat krusial, karena keluarga adalah lembaga sosial yg pertama bagi setiap insan. Oleh karenanya proses sosialisasi dimulai berdasarkan famili dimana anak mulai berbagi diri. Dalam keluarga itulah mulai ditanamkan nilai-nilai dan perilaku yang dapat menghipnotis perkembangan anak. Nilai-nilai agama, nilai-nilai moral, budaya serta ketrampilan perlu dikembangkan dalam pendidikan famili. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi pada forum sekolah yg dengan sengaja dibentuk sang rakyat menggunakan perencanaan serta aplikasi yang mantap. Selanjutnya disamping sekolah, proses pendidikan jua dipengaruhi sang banyak sekali gerombolan mini pada rakyat. Seperti kelompok keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dll. Yang sebagai fokus pada aktivitas ini merupakan aspek sosiologis, dan dalam aspek pembaharuan masyarakat. Dalam aplikasi pada aneka macam negara diupayakan keseimbangan antara pelestarian serta pengembangan budaya dan rakyat.

C. Norma-Norma Yang Terkandung Dalam Landasan Sosiologi Pendidikan
Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber menurut norma kehidupan warga yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita wajib memusatkan perhatian dalam pola interaksi antar eksklusif serta antar kelompok dalam masyrakat tadi. Untuk terciptanya kehidupan rakyat yg rukun serta damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang pada perkembangannya sebagai norma-kebiasaan social yang mengikat kehidupan bermasyarakat serta wajib dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam kebiasaan yg dianut oleh pengikutnya, yaitu: paham individualisme, paham kolektivisme, paham integralistik.

Paham individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka serta hidup merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya, asalkan nir mengganggu keamanan orang lain. Dampak individualisme mengakibatkan cara pandang yg lebih mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan warga . Dalam warga misalnya ini, usaha buat mencapai pengembangan diri, antara anggota masyarakat satu menggunakan yang lain saling berkompetisi sehingga menimbulkan pengaruh yg kuat. 

Paham kolektivisme memberikan kedudukan yang berlebihan pada masyarakat serta kedudukan anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah menjadi indera bagi masyarakatnya. 

Sedangkan paham integralistik dilandasi pemahaman bahwa masing-masing anggota rakyat saling berafiliasi erat satu sama lain secara organis adalah rakyat. Masyarakat integralistik menempatkan manusia nir secara individualis melainkan dalam konteks strukturnya manusia adalah langsung dan juga merupakan relasi. Kepentingan rakyat secara holistik diutamakan tanpa merugikan kepentingan pribadi.

Landasan sosiologis pendidikan pada Indonesia menganut paham integralistik yg bersumber menurut kebiasaan kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaan serta gotong royong, kebersamaan, musyawarah buat konsensus, (2) kesejahteraan bersama sebagai tujuan hayati bermasyarakat, (3) negara melindungi masyarakat negaranya, serta (4) selaras serasi seimbang antara hak serta kewajiban. Oleh karenanya, pendidikan di Indonesia nir hanya menaikkan kualitas insan secara orang per orang melainkan jua kualitas struktur masyarakatnya.

D. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Para ahli sosiologi dan ahli pendidikan sepakat bahwa, sinkron dengan namanya, Sosiologi Pendidikan atau Sociology of Education (juga Educational Sociology) merupakan cabang ilmu Sosiologi, yg pengkajiannya dibutuhkan oleh professional dibidang pendidikan (calon guru, para pengajar, serta pemikir pendidikan) serta para mahasisiwa dan professional sosiologi.

Sosiologi Pendidikan dibutuhkan bisa menaruh rekomendasi mengenai bagaimana harapan dan tuntutan rakyat mengenai isi dan proses pendidikan itu, atau bagaimana usahakan pendidikan itu berlangsung dari kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional juga lokal.

Sosiologi pendidikan adalah analisis ilmiah tentang proses sosial serta pola-pola interaksi sosial pada pada sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang.

1. Hubungan sistem pendidikan menggunakan aspek masyarakat lain, yang menyelidiki:
a. Fungsi pendidikan pada kebudayaan.
b. Hubungan sisitem pendidikan serta proses kontrol sosial serta sistem kekuasaan.
c. Fungsi sistem pendidikan pada memelihara serta mendorong proses sosial dan perubahn kebudayaan.
d. Hubungan Pendidikan menggunakan kelas sosial atau sistem status.
e. Fungsionalisasi sistem pendidikan formal pada hubungannya menggunakan ras, kebudayaan, atau grup-gerombolan dalam rakyat 

2. Hubungan humanisme pada sekolah yang mencakup:
a. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang tidak sinkron dengan kebudayaan di luar sekolah.
b. Pola Interaksi sosial atau struktur warga sekolah.

3. Pengaruh sekolah dalam prilaku anggotanya, yang menilik:
a. Peranan sosial pengajar.
b. Sifat kepribadian guru.
c. Pengaruh kepribadian pengajar terhadap tingkah laris siswa.
d. Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak.

4. Sekolah dalam komunitas, yg menilik pola hubungan antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya, yg meliputi:
a. Pelukisan mengenai komunitas misalnya tampak pada pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
b. Analisis tentang komunitas misalnya tampak terjadi dalam sistem sosial komunitas kaum tidak terpelajar.
c. Hubungan antara sekolah dan komunitas pada fungsi kependidikannya.
d. Faktor-faktor demografi dan ekologi pada hubungannya dengan organisasi sekolah.

Keempat bidang yang dipelajari tadi sangat esensial menjadi wahana buat memahami sistem pendidikan pada kaitannya menggunakan holistik hayati rakyat (Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/67).

Rochman Natawidjaja (et. Al., 2007: 82) menyatakan bahwa “sosiologi pendidikan secara operasional ... ... Sebagai cabang sosiologi yang memusatkan perhatian ... Mempelajari interaksi antara pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, ... Unit pendidikan dengan komunitas sekitar, hubungan social ... Orang-orang pada satu unit pendidikan, serta pengaruh pendidikan dalam kehidupan peserta didik”.

E. Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan
1. Fungsi eksplanasi, yaitu mengungkapkan atau memberikan pemahaman tentang kenyataan yg termasuk ke pada ruang lingkup pembahasannya. Untuk diharapkan konsep-konsep, proposisi-proposisi mulai dari yg bercorak generalisasi empirik sampai dalil dan aturan-hukum yg mantap, data dan warta mengenai output penelitian lapangan yg actual, baik berdasarkan lingkungan sendiri juga menurut lingkungan lain, dan fakta tentang kasus serta tantangan yang dihadapi. Dengan fakta yg lengkap dan seksama, komunikan akan memperoleh pemahaman dan wawasan yang baik serta akan bisa menafsirkan fenomena-fenomena yg dihadapi secara akurat. Penjelasan-penerangan itu sanggup disampaikan melalui berbagai media komunikasi.

2. Fungsi prediksi, yaitu meramalkan kondisi serta pertarungan pendidikan yang diperkirakan akan timbul dalam masa yang akan tiba. Sejalan menggunakan itu, tuntutan warga akan berubah dan berkembang akibat bekerjanya faktor-faktor internal serta eksternal yang masuk ke pada warga melalui aneka macam media komunikasi. Fungsi prediksi ini amat dibutuhkan dalam perencanaan pengembangan pendidikan guna mengantisipasi kondisi dan tantangan baru.

3. Fungsi utilisasi, yaitu menangani permasalahan-permasalahan yg dihadapi dalam kehidupan warga misalnya perkara lapangan kerja dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain yg memerlukan dukungan pendidikan, serta masalah penyelenggaraan pendidikan sendiri.

Jadi, secara umum sosiologi pendidikan bertujuan untuk menyebarkan fungsi-kegunaannya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, serta utilisasi) melalui pengkajian mengenai keterkaitan fenomena-fenomena siosial serta pendidikan, pada rangka mencari contoh-model pendidikan yg lebih fungsional dalam kehidupan warga . Secara khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha buat menghimpun data dan kabar tentang interaksi sosial di antara orang-orang yg terlibat pada institusi pendidikan dan dampaknya bagi siswa, mengenai interaksi antara lembaga pendidikan serta komunitas sekitarnya, serta mengenai hubungan antara pendidikan menggunakan pranata kehidupan lain.

F. Masyarakat Indonesia Sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Masyarakat selalu mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung serta terikat sang nilai serta kebiasaan yang dipatuhi bersama, dalam umumnya berdomisili pada daerah tertentu, serta adakalanya mereka memiliki interaksi darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat bisa merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun pada arti sempit. Masyarakat dalam arti luas dalam umumnya lebih abstrak misalnya rakyat bangsa, sedang dalam arti sempit lebih konkrit contohnya marga atau suku. Masyarakat sebagai kesatuan hayati memiliki karakteristik utama, diantaranya: (1) terdapat interaksi antara warga -warganya, (dua) pola tingkah laris warganya diatur sang adapt adat, kebiasaan-norma, hukum, serta aturan-anggaran spesial , (3) ada rasa bukti diri kuat yang mengikat para warganya.

Umar Tirtarahardja dan La Sulo (1994: 100) menyatakan bahwa “kesatuan daerah, kesatuan adat- istiadat, rasa bukti diri, serta rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga menjadi patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial warga Indonesia mempnyai bepergian sejarah yg panjang”

Dari dulu sampai kini , karakteristik yg menonjol dari rakyat Indonesia adalah sebagai warga beragam yg beredar pada ribuan pulau pada nusantara. Melalui perjalanan panjang, warga yg berbeda-beda tadi akhirnya mencapai satu kesatuan politik untuk mendirikan satu negara dan berusaha mewujudkan satu rakyat Indonesia sebagaiu rakyat yang bhinneka tunggal ika. Sampai ketika ini, rakyat Indonesia masih ditandai sang 2 karakteristik yang unik, yakni (1) secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan social atau komunitas menurut perbedaan suku, agama, istiadat tata cara, dan kedaerahan, dan (2) secara vertical ditandai sang adanya disparitas pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, serta lapisan bawah.

Pada zaman penjajahan, sifat dasar warga Indonesia yang menonjol adalah (1) terjadi segmentasi ke dalam bentuk gerombolan social atau golongan social jajahan yang tak jarang mempunyai sub-kebudayaan sendiri, (dua) memiliki struktur social yg terbagi-bagi, (3) tak jarang anggota warga atau gerombolan tidak membuatkan consensus di antara mereka terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar, (4) diantara kelompok relative acapkali mengalami perseteruan, (lima) terdapat saling ketergantungan di bidang ekonomi, (6) adanya dominasi politiuk oleh suatu gerombolan atas grup-kelompok social yang lain, dan (7) secara relative integrasi social sukar dapat tumbuh (Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/70).

Masyarakat Indonesia sesudah kemerdekaan, utamanya dalam zaman pemerintahan Orde Baru, telah banyak mengalami perubahan. Sebagai rakyat beragam, maka komunitas dengan ciri-karakteristik unik, baik secara horizontal juga secara vertical, masih dapat ditemukan, demikian juga halnya menggunakan sifat-sifat dasar menurut zaman penjajahan belum terhapus seluruhnya. Namun niat politik yang bertenaga menjadi suatu masyarakat bangsa Indonesia dan kemajuan pada aneka macam bidang pembangunan, maka sisi ketunggalan menurut “bhinneka tunggal ika” makin mencuat. Berbagai upaya dilakukan, baik melalui aktivitas jalur sekolah maupun jalur luar sekolah, sudah menumbuhkan benih-benih persatuan dan kesatuan yg semakin kokoh.

Berbagai upaya telah dilakukan menggunakan nir mengabaikan fenomena tentang kemajemukan masyarakat Indonesia. Hal terakhir tersebut kini makin menerima perhatian yang semestinya dengan diantaranya dimasukkannya muatan lokal (mulok) di pada kurikulum sekolah. Perlu ditegaskan bahwa muatan local pada dalam kurikulum tidak dimaksudkan sebagai upaya menciptakan “manusia lokal”, akan tetapi haruslah dirancang dan dilaksanakan pada rangka mewujudkan “insan Indonesia” pada suatu lokal eksklusif. Dengan demikian akan dapat diwujudkan insan Indonesia menggunakan wawasan nusantara dan berjiwa nasional akan namun yg memahami serta menyatu dengan lingkungan (alam, sosial, serta budaya) disekitarnya.

SEJARAH LAHIRNYA SOSIOLOGI

Sejarah Lahirnya Sosiologi 
Sosiologi lahir pada abad ke-19 di Eropa, lantaran pergeseran pandangan mengenai masyarakat, menjadi ilmu realitas yang memperoleh pijakan yang kokoh. Sosiologi sebagai ilmu yg otonom dapat lahir lantaran terlepas berdasarkan dampak filsafat. Nama sosiologi buat pertama kali digunakan oleh August Comte (1798-1857) dalam tahun 1839, sosiologi adalah ilmu pengetahuan positif yang memepelajari rakyat. Sosiologi mempelajari aneka macam tindakan sosial yg berubah menjadi dalam empiris sosial. Mengingat banyaknya empiris social, maka lahirlah aneka macam cabang sosiologi seperti sosiologi kebudayaan, sosiologi ekonomi, sosiologi agama, sosiologi pengetahuan, sosiologi pendidikan, dan lain-lain. Rintisan Comte tadi disambut hangat oleh rakyat luas, tampak menurut tampilnya sejumlah ilmuwan akbar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya asal dari Eropa. Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan menyelidiki masyarakat yg amat bermanfaat buat perkembangan sosiologi. Émile Durkheim ilmuwan sosial Perancis berhasil melembagakan Sosiologi menjadi disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial menjadi pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yg tahu masyarakat misalnya tubuh insan, menjadi suatu organisasi yg terdiri atas bagian-bagian yg tergantung satu sama lain. Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yg menduga pertarungan antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan rakyat. Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan , tujuan, serta sikap yang menjadi penuntun konduite manusia. Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. 

A. Latar Belakang Historis Sosiologi Pendidikan
Ketika diangkat menjadi Presiden American Sosiological Association dalam tahun 1883, Lester Frank Ward, yg berpandangan demokratis, menyampaikan pidato pengukuhan dengan menekankan bahwa asal utama disparitas kelas sosial pada masyarakat Amerika adalah disparitas dalam memiliki kesempatan, khususnya kesempatan pada memperoleh pendidikan. Orang berpendidikan lebih tinggi mempunyai peluang lebih akbar buat maju serta mempunyai kehidupan yg lebih bermutu. Pendidikan dipandang sebagai faktor pembeda antara kelas-kelas sosial yang relatif merisaukan. Untuk menghilangkan disparitas-perbedaan tersebut dia mendesak pemerintahnya supaya menyelenggarakan harus belajar. Usulan itu dikabulkan, dan wajib belajar pada USA berlangsung 11 tahun, hingga tamat Senior High School (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 78).

Buah pikiran Ward dijadikan landasan buat lahirnya Educational Sociology sebagai cabang ilmu yg baru dalam sosiologi pada awal abad ke-20. Ia seringkali dijuluki sebagai “Bapak Sosiologi Pendidikan”(Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 79). Fokus kajian Educational Sociology adalah penggunaan pendidikan pendidikan sebagai alat buat memecahkan konflik social dan sekaligus menaruh rekomendasi buat mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri. Kelahiran cabang ilmu baru ini mendapat sambutan luas dikalangan universitas di USA. Hal itu terbukti menurut adanya 14 universitas yg menyelenggarakan perkuliahan Educational Sociology, pada tahun 1914. Selanjutnya, dalam tahun 1923 dibentuk organisasi professional bernama National Society for the Study of Educational Sociology serta menerbitkan Journal of educational Sociology. Pada tahun 1928, organisasi progesional yang mandiri itu bergabung ke dalam seksi pendidikan menurut American Sociological Society.

Pada tahun 1928 Robert Angel mengkeritik Educational Sociology dan memperkenalkan nama baru yaitu Sociology of Education menggunakan focus perhatian dalam penelitian dan publikasi hasilnya, sebagai akibatnya Sociology of Education mampu sebagai sumber data serta liputan ilmiah, serta studi akademis yg bertujuan berbagi teori serta ilmu sendiri. Dengan dukungan dana penelitian yg memadai, berhembuslah angin segar dan menarik para sosiolog buat melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. Maka diubahlah nama Educational Sociology sebagai Sociology of Education serta Journal of Educational Sociology sebagai Journal of the Sociology of Education (1963). Serta seksi Educational Sociology dalam American Sociological Society pun berubah menjadi seksi Sociology of Education yg berlaku sampai sekarang. Penelitian serta publikasi hasilnya menandai kehidupan Sociology of Education semenjak pasca Perang Dunia II.

Di Indonesia, perhatian akan peran pendidikan dalam pengembangan masyarakat, dimulai kurang lebih tahun 1900, waktu Indonesia masih dijajah Belanda. Para pendukung politis etis di Negeri Belanda ketika itu melihat adanya keterpurukan kehidupan orang Indonesia. Mereka mendesak agar pemerintah jajahan melakukan politik balas budi untuk memerangi ketidakadilan melalui edukasi, irigasi, serta emigrasi. Meskipun pada mulanya acara pendidkan itu amat elitis, lama kelamaan meluas serta semakin tinggi ke arah yg makin populis sampai penyelenggaraan harus belajar dewasa ini. Pelopor pendidikan pada saat itu antara lain: Van Deventer, R.A.kartini, serta R.dewi Sartika.

B. Pengertian Landasan Sosiologi
Manusia selalu hidup berkelompok, sesuatu yang pula terdapat pada makhluk hayati lainnya yakni hewan. Meskipun demikian, pengelompokan insan jauh lebih rumit menurut pengelompokan hewan. 

Wayan Ardhana (1968) menyatakan karakteristik-karakteristik hidup berkelompok pada fauna pada kutipan berikut. 

Pada hewan, hayati berkelompok memiliki cirri-karakteristik: Ada pembagian kerja yg permanen dalam anggotanya, ada ketergantungan antar anggota, ada kerjasama antar anggota, ada komunikasi antar anggota, dan ada diskriminasi antar individu yg hidup pada suatu kelompok dengan individu yang hayati dalam kelompok lain. 

Ciri-ciri fauna tadi bisa pula ditemukan dalam manusia. Kehidupan sosial insan tersebut dipelajari oleh filsafat, yang berusaha mencari hakekat rakyat yg sebenarnya. Filsafat sosial acapkali membedakan insan sebagai individu dan insan sebagai anggota rakyat. Pandangan aliran-aliran filsafat mengenai realitas sosial itu berbeda-beda, sebagai akibatnya dapat ditemukan beragam aliran filsafat sosial.

Kegiatan pendidikan adalah suatu proses interaksi antara 2 individu, bahkan 2 generasi, yg memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi pada forum sekolah yg dengan sengaja pada bentuk oleh rakyat. Perhatian sosiologi pada pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatnya perhatian sosiologi pada aktivitas pendidikan tersebut maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.

Landasan sosiologis pendidikan adalah acuan atau perkiraan dalam penerapan pendidikan yang bertolak dalam hubungan antar individu sebagai mahluk sosial pada kehidupan bermasyarakat. Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara 2 individu (pendidik serta siswa) bahkan 2 generasi yg memungkinkan generasi belia berbagi diri. Pengembangan diri tersebut dilakukan dalam aktivitas pendidikan. Oleh karena itu kegiatan pendidikan bisa berlangsung baik di lingkungan famili, sekolah serta rakyat. Oleh karenanya kajian sosiologis mengenai pendidikan mencakup semua jalur pendidikan tersebut.
Pendidikan keluarga sangat krusial, lantaran famili adalah lembaga sosial yg pertama bagi setiap insan. Oleh karenanya proses sosialisasi dimulai berdasarkan famili dimana anak mulai membuatkan diri. Dalam keluarga itulah mulai ditanamkan nilai-nilai serta sikap yang dapat mensugesti perkembangan anak. Nilai-nilai agama, nilai-nilai moral, budaya serta ketrampilan perlu dikembangkan dalam pendidikan keluarga. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yg menggunakan sengaja dibentuk sang warga menggunakan perencanaan serta aplikasi yg mantap. Selanjutnya disamping sekolah, proses pendidikan pula dipengaruhi oleh aneka macam gerombolan kecil pada rakyat. Seperti gerombolan keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dll. Yang menjadi penekanan dalam aktivitas ini adalah aspek sosiologis, dan dalam aspek pembaharuan warga . Dalam pelaksanaan pada banyak sekali negara diupayakan ekuilibrium antara pelestarian serta pengembangan budaya serta rakyat.

C. Norma-Norma Yang Terkandung Dalam Landasan Sosiologi Pendidikan
Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber menurut norma kehidupan masyarakat yg dianut sang suatu bangsa. Untuk tahu kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian dalam pola interaksi antar eksklusif dan antar gerombolan dalam masyrakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan rakyat yang rukun serta damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang pada perkembangannya menjadi kebiasaan-norma social yg mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh pengikutnya, yaitu: paham individualisme, paham kolektivisme, paham integralistik.

Paham individualisme dilandasi teori bahwa insan itu lahir merdeka serta hidup merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja berdasarkan keinginannya, asalkan nir mengganggu keamanan orang lain. Dampak individualisme menyebabkan cara pandang yg lebih mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat. Dalam rakyat seperti ini, usaha buat mencapai pengembangan diri, antara anggota warga satu dengan yang lain saling berkompetisi sebagai akibatnya mengakibatkan dampak yg kuat. 

Paham kolektivisme menaruh kedudukan yang hiperbola pada masyarakat serta kedudukan anggota rakyat secara perseorangan hanyalah sebagai indera bagi masyarakatnya. 

Sedangkan paham integralistik dilandasi pemahaman bahwa masing-masing anggota warga saling berafiliasi erat satu sama lain secara organis adalah rakyat. Masyarakat integralistik menempatkan manusia nir secara individualis melainkan dalam konteks strukturnya insan adalah eksklusif dan jua adalah relasi. Kepentingan rakyat secara keseluruhan diutamakan tanpa merugikan kepentingan pribadi.

Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yg bersumber dari kebiasaan kehidupan warga : (1) kekeluargaan serta gotong royong, kebersamaan, musyawarah buat konsensus, (dua) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, serta (4) selaras harmonis seimbang antara hak serta kewajiban. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia secara orang per orang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.

D. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Para ahli sosiologi dan ahli pendidikan setuju bahwa, sinkron menggunakan namanya, Sosiologi Pendidikan atau Sociology of Education (jua Educational Sociology) merupakan cabang ilmu Sosiologi, yang pengkajiannya diperlukan oleh professional dibidang pendidikan (calon guru, para pengajar, dan pemikir pendidikan) serta para mahasisiwa dan professional sosiologi.

Sosiologi Pendidikan diharapkan sanggup memberikan rekomendasi tentang bagaimana harapan serta tuntutan warga mengenai isi dan proses pendidikan itu, atau bagaimana usahakan pendidikan itu berlangsung dari kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional juga lokal.

Sosiologi pendidikan adalah analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola hubungan sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yg dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang.

1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yg memeriksa:
a. Fungsi pendidikan pada kebudayaan.
b. Hubungan sisitem pendidikan dan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan.
c. Fungsi sistem pendidikan pada memelihara dan mendorong proses sosial serta perubahn kebudayaan.
d. Hubungan Pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status.
e. Fungsionalisasi sistem pendidikan formal dalam hubungannya menggunakan ras, kebudayaan, atau grup-grup dalam warga  

2. Hubungan kemanusiaan pada sekolah yang meliputi:
a. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang tidak sama dengan kebudayaan pada luar sekolah.
b. Pola Interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah.

3. Pengaruh sekolah pada prilaku anggotanya, yang mengusut:
a. Peranan sosial guru.
b. Sifat kepribadian pengajar.
c. Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku murid.
d. Fungsi sekolah pada pengenalan anak-anak.

4. Sekolah dalam komunitas, yg menilik pola interaksi antara sekolah dengan grup sosial lain pada pada komunitasnya, yang mencakup:
a. Pelukisan mengenai komunitas misalnya tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
b. Analisis mengenai komunitas seperti tampak terjadi pada sistem sosial komunitas kaum nir terpelajar.
c. Hubungan antara sekolah serta komunitas pada fungsi kependidikannya.
d. Faktor-faktor demografi dan ekologi pada hubungannya dengan organisasi sekolah.

Keempat bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial menjadi wahana buat memahami sistem pendidikan dalam kaitannya menggunakan holistik hidup rakyat (Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/67).

Rochman Natawidjaja (et. Al., 2007: 82) menyatakan bahwa “sosiologi pendidikan secara operasional ... ... Menjadi cabang sosiologi yang memusatkan perhatian ... Menyelidiki interaksi antara pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, ... Unit pendidikan menggunakan komunitas sekitar, hubungan social ... Orang-orang pada satu unit pendidikan, serta efek pendidikan dalam kehidupan siswa”.

E. Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan
1. Fungsi eksplanasi, yaitu menjelaskan atau memberikan pemahaman mengenai fenomena yg termasuk ke dalam ruang lingkup pembahasannya. Untuk dibutuhkan konsep-konsep, proposisi-proposisi mulai menurut yg bercorak generalisasi empirik hingga dalil dan hukum-hukum yg mantap, data serta kabar tentang hasil penelitian lapangan yg actual, baik dari lingkungan sendiri juga berdasarkan lingkungan lain, dan fakta mengenai kasus serta tantangan yg dihadapi. Dengan kabar yg lengkap serta akurat, komunikan akan memperoleh pemahaman dan wawasan yang baik dan akan bisa menafsirkan kenyataan-fenomena yg dihadapi secara seksama. Penjelasan-penerangan itu bisa disampaikan melalui berbagai media komunikasi.

2. Fungsi prediksi, yaitu meramalkan syarat dan perseteruan pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang. Sejalan menggunakan itu, tuntutan rakyat akan berubah dan berkembang akibat bekerjanya faktor-faktor internal dan eksternal yg masuk ke pada masyarakat melalui aneka macam media komunikasi. Fungsi prediksi ini amat diharapkan pada perencanaan pengembangan pendidikan guna mengantisipasi syarat serta tantangan baru.

3. Fungsi utilisasi, yaitu menangani konflik-permasalahan yg dihadapi dalam kehidupan rakyat misalnya masalah lapangan kerja serta pengangguran, permasalahan sosial, kerusakan lingkungan, serta lain-lain yang memerlukan dukungan pendidikan, serta perkara penyelenggaraan pendidikan sendiri.

Jadi, secara generik sosiologi pendidikan bertujuan buat menyebarkan fungsi-kegunaannya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, serta utilisasi) melalui pengkajian mengenai keterkaitan kenyataan-fenomena siosial dan pendidikan, dalam rangka mencari contoh-contoh pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan warga . Secara spesifik, Sosiologi Pendidikan berusaha buat menghimpun data serta liputan tentang hubungan sosial pada antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara forum pendidikan serta komunitas sekitarnya, serta mengenai hubungan antara pendidikan menggunakan pranata kehidupan lain.

F. Masyarakat Indonesia Sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Masyarakat selalu mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung serta terikat sang nilai serta norma yang dipatuhi bersama, dalam umumnya berdomisili pada daerah tertentu, dan adakalanya mereka mempunyai interaksi darah atau memiliki kepentingan beserta. Masyarakat dapat adalah suatu kesatuan hidup pada arti luas ataupun dalam arti sempit. Masyarakat pada arti luas dalam umumnya lebih abstrak misalnya rakyat bangsa, sedang pada arti sempit lebih konkrit misalnya marga atau suku. Masyarakat menjadi kesatuan hayati memiliki ciri primer, antara lain: (1) ada interaksi antara warga -warganya, (dua) pola tingkah laku warganya diatur sang adapt adat, norma-kebiasaan, hukum, dan aturan-anggaran khas, (tiga) terdapat rasa bukti diri bertenaga yg mengikat para warganya.

Umar Tirtarahardja serta La Sulo (1994: 100) menyatakan bahwa “kesatuan wilayah, kesatuan istiadat- adat, rasa bukti diri, serta rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal berdasarkan perasaan bangga menjadi patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, serta kesetiakawanan sosial warga Indonesia mempnyai bepergian sejarah yg panjang”

Dari dulu hingga kini , ciri yang menonjol berdasarkan warga Indonesia adalah sebagai masyarakat majemuk yang tersebar di ribuan pulau di nusantara. Melalui perjalanan panjang, masyarakat yg berbeda-beda tersebut akhirnya mencapai satu kesatuan politik buat mendirikan satu negara dan berusaha mewujudkan satu masyarakat Indonesia sebagaiu warga yg bhinneka tunggal ika. Sampai ketika ini, rakyat Indonesia masih ditandai oleh dua karakteristik yang unik, yakni (1) secara horizontal ditandai sang adanya kesatuan-kesatuan social atau komunitas menurut perbedaan suku, agama, norma adat, dan kedaerahan, serta (dua) secara vertical ditandai sang adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, dan lapisan bawah.

Pada zaman penjajahan, sifat dasar masyarakat Indonesia yang menonjol adalah (1) terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok social atau golongan social jajahan yang seringkali memiliki sub-kebudayaan sendiri, (dua) mempunyai struktur social yg terbagi-bagi, (3) sering anggota warga atau kelompok tidak berbagi consensus pada antara mereka terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar, (4) diantara gerombolan relative sering mengalami pertarungan, (lima) terdapat saling ketergantungan pada bidang ekonomi, (6) adanya penguasaan politiuk sang suatu kelompok atas kelompok-kelompok social yang lain, dan (7) secara relative integrasi social sukar dapat tumbuh (Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/70).

Masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan, utamanya pada zaman pemerintahan Orde Baru, sudah poly mengalami perubahan. Sebagai masyarakat beragam, maka komunitas dengan ciri-ciri unik, baik secara horizontal juga secara vertical, masih bisa ditemukan, demikian jua halnya menggunakan sifat-sifat dasar berdasarkan zaman penjajahan belum terhapus seluruhnya. Namun niat politik yg kuat sebagai suatu warga bangsa Indonesia serta kemajuan pada banyak sekali bidang pembangunan, maka sisi ketunggalan menurut “bhinneka tunggal ika” makin mencuat. Berbagai upaya dilakukan, baik melalui aktivitas jalur sekolah maupun jalur luar sekolah, telah menumbuhkan benih-benih persatuan serta kesatuan yang semakin kokoh.

Berbagai upaya sudah dilakukan dengan nir mengabaikan fenomena tentang kemajemukan rakyat Indonesia. Hal terakhir tadi sekarang makin menerima perhatian yg semestinya dengan antara lain dimasukkannya muatan lokal (mulok) di pada kurikulum sekolah. Perlu ditegaskan bahwa muatan local pada dalam kurikulum tidak dimaksudkan menjadi upaya menciptakan “manusia lokal”, akan namun haruslah didesain serta dilaksanakan pada rangka mewujudkan “insan Indonesia” di suatu lokal tertentu. Dengan demikian akan bisa diwujudkan insan Indonesia menggunakan wawasan nusantara serta berjiwa nasional akan tetapi yg memahami serta menyatu menggunakan lingkungan (alam, sosial, serta budaya) disekitarnya.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SOSIOLOGI

Sejarah Istilah Sosiologi 

Pada tahun 1842: Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu yang mengusut tentang rakyat lahir pada Eropa lantaran ilmuwan Eropa dalam abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara spesifik memeriksa kondisi serta perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membentuk suatu teori sosial menurut ciri-karakteristik hakiki masyarakat pada tiap termin peradaban manusia. Comte membedakan antara sosiologi statis, dimana perhatian dipusatkan pada aturan-hukum statis yang sebagai dasar adanya rakyat serta sosiologi bergerak maju dimana perhatian dipusatkan tentang perkembangan rakyat dalam arti pembangunan. Rintisan Comte tadi disambut hangat oleh rakyat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka diantaranya Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya dari menurut Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna buat perkembangan Sosiologi.
Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi aneka macam elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.

Pada tahun 1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology serta memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang tahu masyarakat seperti tubuh insan, menjadi suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yg tergantung satu sama lain. Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap pertarungan antar-kelas sosial sebagai intisari perubahan dan perkembangan masyarakat. Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yg berupaya menelusuri nilai, agama, tujuan, dan sikap yg sebagai penuntun perilaku manusia.di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. Sumber!!
Sejarah Perkembangan Sosiologi
Sosiologi termasuk ilmu yg paling muda dibandingkan menggunakan ilmu-ilmu sosial yg terdapat. Sosiologi jua bersumber menurut filsafat. Filsafat adalah induk berdasarkan segala ilmu pengetahuan (mater scientarium) semua ilmu pengetahuan yg kita ketahui selama ini . Filsafat dalam masa itu mencakup jua segala bisnis pemikiran tentang warga . Makin berkembangnya zaman serta tumbuhnya peradaban insan, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat mulai memisahkan diri dan berkembang dari tujuan masing-masing.
Astronomi (ilmu tentang bintang-bintang) serta fisika (ilmu alam) merupakan cabang-cabang filsafat yang pertama kali memisahkan diri. Kemudian, diikuti sang ilmu kimia, hayati, serta geologi. Pada abad ke-19, dua ilmu pengetahuan baru ada, yaitu psikologi (ilmu yg memeriksa perilaku serta sifat-sifat manusia) serta sosilogi (ilmu yang memeriksa masyarakat). Dengan demikian, timbullah sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang di pada proses pertumbuhannya dapat dipisahkan menurut ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya, misalnya ekonomi serta sejarah.
Pemikiran terhadap warga serta lambat laun menerima bentuk menjadi suatu ilmu pengetahuan yang dinamakan sosiologi, pertama kali terjadi di Benua Eropa. Banyak usaha dilakukan manusia baik bersifat ilmiah juga nonilmiah yg menciptakan sosiologi menjadi ilmu pengetahuan serta berdiri sendiri.
Beberapa faktor pendorong utama keluarnya sosiologi adalah meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan rakyat serta perubahan-perubahan yang terjadi di pada warga .
sosiologi di Amerika Serikat dihubungkan dengan usaha-bisnis untuk mempertinggi keadaan sosial insan dan sebagai pendorong buat merampungkan duduk perkara yg ditimbulkan sang kehahatan pelanggaran, pelacuran, pengangguran, kemiskinan, perseteruan, peperangan, serta masalah sosial lainnya.
Banyak ahli sepakat bahwa faktor yg melatar belakangi kelahiran sosiologi adalah adanya krisis yg terjadi di dalam rakyat. Laeyendecker, misalnya mengaitkan kelahiran sosiologi menggunakan serangkaian perubahan pada bidang sosial politik. Perubahan berkenaan dengna adanya reformasi Marthin Luther, meningkatnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan terkini, berkembangnya agama dalam diri sendiri, terjadinya Revolusi Industri pada abad ke-18, serta terjadinya Revolusi Prancis.
Pada abad ke-19 seorang filsuf bangsa Prancis bernama Auguste Comte, sudah menulis beberapa buku yang berisi pendekatan-pendekatan generik buat mengusut masyarakat. Dia beropini bahwa ilmu pengetahuan mempunyai urutan-urutan tertentu berdasarkan logika. Setiap penelitian dilakukan melalui tahap-termin eksklusif buat mencapai tahap akhir, yaitu Ilmiah. Oleh karena itu, Auguste Comte menyarankan supaya seluruh penelitian terhadap rakyat ditingkatkan menjadi suatu ilmu tentang warga yang berdiri sendiri. Dari kondisi tersebut, diartikan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang adalah hasil akhir menurut perkembangan ilmu pengetahuan. Sosilogi lahir pada ketika-ketika terakhir perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, sosiologi berdasarkan pada kemajuan-kemajuan yg telah dicapai oleh ilmu pengetahuan lainnya.
Lahirnya sosiologi tercatat dalam tahun 1842, tatkala Auguste Comte menerbitkan buku berjudul Positive-philosophy. Beberapa pandangan krusial yang dikemukakan sang Auguste Comte adalah "aturan kemajuan insan" atau "aturan 3 jenjang", Menurut pandangan ini, sejarah akan melewati 3 jenjang yang mendaki.
1. Jenjang Teologi
Pada jenjang ini, insan mencoba menyebutkan gejal disekitarnya menggunakan mengacu dalam hal-hal yg besifat adikodrati
2. Jenjang Metafisika
pada jenjang ini, insan mengacu dalam kekuatan-kekuatan metafisi atau abstrak.
3. Jenjang Positif
pada jenjang ini, penjelasan tanda-tanda alam ataupun sosial dilakukan menggunakan mengacu dalam deskripsi ilmiah.
Setengah abad setelah Herbert Spencer menyebarkan suatu sistematika penelitian rakyat pada bukunya yg berjudul Priciples of Sociology, istilah sosiologi menjadi lebih terkenal. Berkat jasa Herbert Spencer pula, sosiologi akhirnya berkembang menggunakan pesat. Sosiologi berkembang dengan pesat pada abad ke-20, terutama pada Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat walaupun arah perkembangannya di ketiga negara tadi tidak selaras satu sama lain. Sosilogi kemudian menyebar ke banyak sekali benua serta negara-negara lain termasuk Indonesia.


PERKEMBANGAN PERADABAN DAN FAKTORFAKTOR JATUH BANGUN SESEBUAH PERADABAN

Perkembangan Peradaban Dan Faktor-Faktor Jatuh Bangun Sesebuah Peradaban 
Teori Alunan ( Rhythmic Theory )
Teori ini dikemukakan oleh Akbar S. Ahmed, seorang bekas menteri di Pakistan dan bekas Profesor pada beberapa universiti ternama seperti Universiti Cambridge, Universiti London serta beliau juga merupakan bekas Profesor Tamu pada Universiti Princeton serta Harvard. Menurut dia, sejarah peradaban insan boleh dicermati menjadi satu alunan yg menaik serta menurun, bukannya berkembang melalui peringkat permulaan, kemuncak dan kemerosotan. Alunan secara kontinum dan pola misalnya ini akan berterusan menurut masa ke semasa atau dari satu generasi ke generasi yang lain. 

Akbar S. Ahmed melihat konsep peradaban itu lebih luas, bukan sekadar sebuah kerajaan dan empayar, tetapi peradaban ( Islam yg dikajinya ) boleh berkembang di mana-mana sahaja berdasarkan masa ke semasa. Meskipun sesebuah kerajaan mengalami kegemilangan dan kemerosotan, malah ada yang merosot serta tidak ada lagi, namun akan terdapat peradaban baru yang akan bangkit. Menurutnya, Delhi diambilalih sang orang Muslim pada tahun 1192 sang Muhammad Ghori, Baghdad tidak usang lalu direbut oleh orang Mongol. Orang Islam menguasai Konstantinopole dalam tahun 1453 serta menamakan kota itu sebagai Istanbul yg bermaksud kota Islam, tetapi pada tahun 1492, Islam kehilangan Granada yg lalu sebagai kota Kristian. Pendek istilah, Islam mengalami kemunduran di suatu tempat, namun hayati kembali di tempat lain; Islam lesu di loka tertentu, namun berkembang pesat pada tempat lain. 

Teori yg diutarakan oleh Akbar S. Ahmed ini diterima dan diperkembangkan lagi sang Profesor Hashim Musa berdasarkan Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya. Asas-asas teori Akbar S. Ahmed diperkukuhkan oleh Hashim Musa yg memfokuskan kajiannya terhadap peradaban Melayu Islam. Kedua-dua sarjana ini memiliki pendapat yang sama dalam bisnis merungkai penafsiran sarjana Barat yg beranggapan bahawa pola pembinaan dan kejatuhan peradaban Islam merupakan sama seperti yg berlaku terhadap tamadun lain di global. Kedua-duanya mengemukakan pola alunan naik turun peradaban berdasarkan peristiwa-peristiwa krusial serta genting yang merentasi tempoh masa eksklusif. 

Akbar S. Ahmed menelusuri kronologi peradaban Islam sejak tahun 853 Sebelum Masihi ( sejak sebutan Arab ditemukan) sehingga 1986 ( Undang-undang Tentera dimansuhkan di Pakistan dan Pembunuhan Profesor Ismail al-Faruki dan isterinya dibunuh di Amerika Syarikat. Hashim Musa pula menjejaki perkembangan peradaban Islam bermula dari tahun 610 Masihi ( wahyu pertama diturunkan ) sebagai akibatnya tahun 1999 ( kudeta tentera di Pakistan serta parti pemerintahan Islam berkuasa pada Pakistan ). Hashim Musa jua memperturunkan dtk-detik utama pada formasi sejarah kebangkitan serta kecundangan dan naik turunnya peradaban Melayu Islam pada Alam Melayu yg bermula dalam tahun 840 Masihi ( Penabalan Sultan Perlak 1 ) sampai tahun 1999 ( Abdul Rahman Wahid sebagai Presiden Indonesia ). 

Dalam usaha menghuraikan teorinya, Akbar S. Ahmed memakai konsep ideal Muslim. Konsep ini membawa maksud bahawa konduite serta tindak-tanduk masyarakat Islam perlu mencontohi amalan Nabi Muhammad s.A.W. Dan para teman baginda, jika ingin mengembalikan kegemilangan peradaban mereka. Akbar S. Ahmed memperturunkan dua buah hadis bagi mengukuhkan hujahnya iaitu “ Yang terbaik daripada kalangan umatku ialah generasiku kemudian mereka yg mengikutinya dan yang mengikuti sehabis itu”. Begitu pula dengan hadis yg berbunyi “ Para sahabatku itu ibarat bintang kejora. Bilamana kamu meneladani salah seseorang di antara mereka, maka kamu memperoleh tuntutan yang sahih”. Justeru Akbar S. Ahmed menegaskan 

“ The farther from the ideal, the greater the tension in society”

Penegasan ini membawa maksud bahawa amalan kehidupan warga Islam berada pada kemuncak pada era Nabi Muhammad s.A.W., kemudian diteruskan oleh para sahabat semasa pemerintahan khalifah al-Rasyidin. Tahap peradaban semakin merosot apabila konsep ideal Muslim diabaikan. Hal ini digambarkan oleh Akbar S. Ahmed misalnya keadaan yang berlaku di Baghdad dalam masa pemerintahan kerajaan Bani Abbasiyyah.

Hashim Musa dalam analisisnya terhadap kemerosotan Tamadun Melayu Islam beropini bahawa kemerosotan sesebuah peradaban berlaku apabila tiada lagi ekuilibrium dan kesaksamaan antara tuntutan serta kekreatifan fizikal, mental serta spritual. Nilai kebendaan pula mengatasi nilai kerohanian. Menurutnya lagi masyarakat yang menggunakan bahan sumber serta barang simpanan buat memenuhi kehendak-kehendak kemewahan dan kemegahan turut menyumbang kepada kemerosotan sesebuah peradaban. Begitu pula dengan sifat kealpaan di peringkat negara serta rakyat yang mengenepikan sifat kerajinan serta kesungguhan, ketabahan serta keusahawanan. Selain itu, ekoran daripada imbas kebendaan, kekayaan dan pangkat merosotkan aspek akhlak serta etika, maka timbullah hasad dengki, dendam kesumat, penyelewengan, keangkuhan, perkelahian dan permusuhan sesama sendiri. Semuanya ini akan menyebabkan keretakan dalaman yg akan merosakkan karakteristik-ciri Islam, iman serta ehsan dalam diri insan dan masyarakatnya. Gejala-gejala seperti ini sudah menyebabkan kejatuhan sentra-sentra tamadun Melayu Islam. 

Teori Kitaran ( cyclical theory )
Menurut pengemuka-pengemuka teori ini, sesebuah kerajaan atau peradaban akan berkecimpung misalnya kitaran atau putaran yg melalui beberapa peringkat perkembangannya. Ruang lingkup perkembangan peradaban itu dimulakan dengan peringkat pengasasan, kemajuan serta kegemilangan, dan akhirnya pada peringkat kemerosotan dan keruntuhan. Kekosongan itu akan diambilalih sang sebuah kerajaan, dinasti atau peradaban yg lain. Kerajaan atau dinasti baru itu akan mengikut pola yang serupa misalnya kerajaan sebelumnya. Dua sarjana yang melihat perkembangan peradaban melalui cara sebegini adalah Ibn Khaldun serta Malik Bennabi.

Nama Ibn Khaldun misalnya yg ditulisnya sendiri artinya Abd. Al-Rahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn al-Hassan ibn Muhammad. Dalam bukunya Mukaddimah, Ibn Khaldun berusaha mencari peraturan bagaimana sesebuah rakyat berperadaban mengalami perkembangan serta kemudiannya merosot. Menurutnya lagi masih ada 5 termin perkembangan sesebuah dinasti atau peradaban.

Pada termin pertama, sesebuah kerajaan atau dinasti dimulakan menggunakan kejayaan menumpaskan dinasti yang sebelumnya serta rajanya berjaya mengekalkan rasa kekitaan serta memiliki perhubungan yg rapat antara seluruh pengikutnya. Tahap yang ke 2, berlaku apabila raja mengenepikan rakyatnya serta menghalang mereka daripada merogoh bahagian dalam urusan pemerintahan. Pada tahap ini pula raja berusaha mengumpul serta memperbanyakkan pengikutnya. Kaum kerabatnya diutamakan. Bagaimanapun, pada kalangan yang menentang baginda, mereka akan diketepikan.

Tahap yang ketiga, adalah tahap bersenang lenang yg ditandai dengan golongan raja serta bangsawan melalui perlonggokan harta, kuasa, pangkat, pembinaan monumen, dan pemberian hadiah kepada rakyatnya. Tahap keempat ialah tahap kepuasan dan kedamaian. Raja bersyukur dan berpuas hati menggunakan apa yg diusahakan oleh pemerintah terdahulu dan menteladani apa yg mereka lakukan. Pada pendapat mereka, melanggar tata cara bererti suatu malapetaka yg akan menimpa ke atas kerajaan mereka.

Tahap kelima merupakan termin pembaziran serta pemborosan, penyalahgunaan kuasa serta pemerintah gemarkan keseronokan serta berfoya-foya. Pada peringkat ini raja serta bangsawan membelanjakan khazanah negara dengan sesuka hati. Mengambil pembantu yg berwatak jahat buat melakukan tugas-tugas krusial dan berusaha merosakkan hubungan orang-orang yang berpengaruh serta disenangi sang rakyat serta pemimpin yang terdahulu. Justeru muncul kebencian, penentangan dan pertarungan dalaman yg membawa kepada pemberontakan pada kalangan rakyat jelata dan kemusnahan sesebuah kerajaan itu. Dinasti yg baru akan mengambil alih kuasa yg akan membangun satu kitaran dinasti atau tamadun yang baru.

Asas kepada pelatihan tamadun manusia ialah asabiyah atau semangat kesukuan. Apabila insan tinggal menetap, mereka jua mengekalkan keperluan asas serta pengeluaran mewah mengatasi keperluan asas. Manakala ekonomi menjadi lemah dan porak poranda. Masyarakat akan jatuh miskin serta rasuah berleluasa. Ekoran perkembangan dalam pelbagai bidang seperti pada bidang kesenian, kraf, sains dan teknologi, maka lahirlah peradaban. Keadaan ini tidak berterusan. Akan sampai masanya golongan elit pemimpin berpuas hati dan lalai menggunakan kemewahan. Semangat asabiyah akan luntur, terhakis sedikit demi sedikit sebagai akibatnya membawa kepada keruntuhan sesebuah peradaban.

Malik Bennabi (1905-1973) seseorang sarjana Algeria yg menerima pendidikan pada Perancis, turut terpengaruh menggunakan teori kitaran yg dikemukakan oleh Ibn Khaldun. Pada asasnya teori kitaran Malik Bennabi berkembang melalui 3 tahap iaitu termin pimpinan roh (permulaan kebangkitan), tahap pimpinan logika ( penyebarluasan ), termin pimpinan naluri ( kehancuran dan kejatuhan ).

Pada termin pimpinan roh, seorang memiliki fitrah semulajadi, dan dalam period ini pemikiran dan tindakan masyarakat poly dipengaruhi unsur-unsur yg dinamakan roh (spritual). Bagi Malik Bennabi, hanya spiritual akan memberi semangat kemanusiaan untuk berkembang dan membangun peradaban. Apabila spiritual jatuh, menggunakan sendirinya peradaban akan menurun. Dalam sejarah Islam period ini bermula jika lahirnya Nabi Muhammad s.A.W. Dengan memberi petunjuk dan wahyu sehinggalah berlakunya perang Siffin dalam tahun 38 Hijrah. 

Ekoran termin kehidupan insan sebagai lebih maju, kompleks serta insan berhadapan dengan masalah-kasus baru mengakibatkan masyarakat mula cenderung memakai nalar dan proses ini berlaku secara perlahan. Pada period ini insan nir lagi berminat menggunakan pemikiran keagamaan mengakibatkan sedikit sekali imbas kepercayaan dalam kehidupan manusia. Unsur-unsur metafizik (ghaib) semakin terhakis sungguhpun berlakunya perkembangan pada bidang ilmu pengetahuan.

Fenomena ini memberi kesan terhadap psikologi individu serta bentuk moral warga yang berfungsi menjadi pengawal tingkah laris seorang. Semakin jauh rakyat daripada ikatan moral dan norma-kebiasaan, semakin akbar pula kesan terhadap pengamalan moral pada kehidupan sehari-hari. Keadaan ini dikenalpasti sebagai permulaan timbulnya penyakit-penyakit sosial pada masyarakat. Di Eropah period ini berlaku menggunakan lahirnya Descartisme dan ekspansi daerah yg disusuli dengan penemuan benua-benua Amerika sang Columbus. Dalam peradaban Islam, tempoh in berlaku bila berakhirnya perang Siffin, dan Muawiyah bin Sufyan dikatakan bertanggungjawab merosakkan keseimbangan antara unsur-unsur material serta roh.

Pada termin ketiga, logika sudah kehilangan fungsi sosial buat membimbing manusia. Masyarakat terasing daripada pemikiran keagamaan dan cuba menyesuaikan diri menggunakan hal-hal keagamaan mengikut kehendak mereka. Soal-soal keagamaan disempitkan pada hal-hal ibadat sahaja. Dalam termin ini, berlakunya aktivitas rasuah menggunakan berleluasa kerana kehendak naluri yg nir terkawal. Dalam era ini, muncul poly genre sufi yg berdasarkan Malik Bennabi menjadi usaha pelarian rakyat, serta keadaan ini berterusan sampai sekarang.

Malik Bennabi menegaskan bahawa masih ada tiga unsur yg membina peradaban iaitu manusia, bumi, serta idea bagi mencapai kemajuan dan mencipta tamadun. Unsur insan dipercaya lebih primer kerana manusia perlu mempunyai usaha (kerja) yg akan membantu membina peradaban sesuatu bangsa. Beliau memberi contoh bagaimana masyarakat awal Islam sudah berusaha untuk membina masjid pada Madinah yang dijadikan loka mengatur strategi bagi membangunkan ummah. 

Malik Bennabi beropini nilai bumi bergantung kepada pemiliknya bukan berdasarkan sudut jenis dan kesesuaian tumbuhan. Tanah sangat tinggi nilainya bila dimiliki sang orang-orang berperadaban, sebaliknya nir berharga jika dimiliki sang orang yg tidak berperadaban. Di Algeria poly tanah yang dahulunya fertile tetapi kini sebagai tandus dan ditinggalkan sungguhpun beliau mengakui bahawa faktor udara dan iklim (serangan angin pasir) mensugesti kehidupan, namun sikap manusia pada menghadapi ancaman tersebut adalah lebih penting. Manusia perlu berikhtiar dan mencari jalan merampungkan perkara tadi. Sikap yg positif ini tidak ditunjukkan oleh orang Algeria.

Malik Bennabi turut meletakkan keutamaan kepada unsur idea. Kekayaan material atau benda namun miskin idea nir memungkinkan tamadun dibina menggunakan kukuh. Seperti yg ditegaskan Fawzia Bariun:

“He had noticed that the dilemma of the underdeveloped countries was not their lack of things, but their poverty of ideas.”

Beliau merumuskan bahawa masa merupakan penting buat menebus kemunduran umat Islam. Bangsa Arab terutamanya memiliki sama banyak jumlah saat misalnya yang dimiliki sang bangsa yang maju namun bangsa Arab nir memperhitungkan masa menggunakan baik. Menurutnya lagi, kaedah yg paling sesuai buat mengajar umat Islam mengenai pentingnya masa ialah melalui proses pendidikan. Beliau memberi model warga Jerman selepas Perang Dunia Kedua, iaitu pada tahun 1948, pemerintah Jerman mewajibkan semua warganegara bekerja secara sukarela dua jam sehari yg dilakukan semata-mata buat kepentingan warga . Hasilnya dalam masa terdekat perubahan yg akbar sudah berlaku dalam rakyat Jerman dalam bidang ekonomi dan sosial.

Teori Linear
Teori ini beranggapan bahawa sesebuah peradaban akan berubah mengikut landasan yg serupa satu formasi yg berbentuk linear. Teori ini menjelaskan bagaimana sesebuah peradaban dilahirkan, berkembang dengan pesat, mencapai zenit kegemilangan , mengalami kemerosotan serta berakhir menggunakan kemusnahan dan kehancuran. Antara sarjana yg berpegang pada teori ini termasuklah Arnold Toynbee serta Carrol Quigley.

Arnold Toynbee (1889-1949) seorang sarjana sejarah British telah menumpukan kajiannya terhadap arah genre dan peraturan perkembangan peradaban merujuk kepada 21 peradaban melalui bukunya A Study of History. Beliau yg hidup pada era Perang Dunia Pertama serta Perang Dunia Kedua, kurang senang menggunakan perubahan peradaban yang berlaku di sekelilingnya. Beliau melihat kemerosotan yg berlaku serta dikatakan memiliki persamaan misalnya yang diperjelaskan oleh Gibbon pada karyanya berjudul Decline and Fall of the Roman Empire. Toynbee sedar bahawa saat berlakunya kemerosotan Empayar Rom, banyak lagi peradaban lain yg mengalami keadaan yg sama. Melalui data-data yang dikumpulkannya daripada hampir dua dozen peradaban, dia telah merangka teori perkembangan peradaban. 

Menurut Toynbee, sesebuah peradaban akan melalui beberapa tahap perkembangannya iaitu permulaan ( genesis ), pertumbuhan ( growth ), perpecahan ( break down ), kejatuhan ( distintegration ) serta kelenyapan ( dissolution ). 

Permulaan peradaban berlaku ekoran tindak balas insan terhadap cabaran alam semulajadi atau persekitaran sosial. Untuk menghadapi cabaran ini, maka muncullah golongan minoriti kreatif bagi memimpin serta membangunkan rakyat. Toynbee menggelarkan golongan ini menjadi mimesis. Golongan majoriti masyarakat merasa selesa menggunakan pencapaian (memenuhi keperluan golongan majoriti) yang dilakukan sang pemimpin minoriti yg kreatif. 

Keadaan ini akan berakhir sehabis cabaran itu telah menjadi kebiasaan pada mereka. Situasi ini pernah dihadapi oleh warga Neolitik yg berpuashati dengan tempat tinggal, alat-alat yg digunakan serta aktivitas bercucuk tanam yang mereka usahakan. Akibatnya, peradaban itu akan diambil alih sang golongan minoriti mayoritas yg memerintah secara kuku besi. Peradaban mula retak sehabis golongan majoriti melihat golongan minoriti secara umum dikuasai mempunyai keistimewaan pada struktur sosial masyarakat. Masyarakat umumnya nir lagi menganggap golongan minoriti dominan sebagai role contoh mereka.

Golongan majoriti bukan elit ini merasakan mereka bukan lagi berada pada peradaban tersebut dan disingkirkan (alienated) dan Toynbee mengkelaskan golongan ini kepada dua perpaduan iaitu proletariat dalaman dan proletariat luaran. Masyarakat berada dalam keadaan kebingungan, bagaimanapun pemerintahan masih dapat dilaksanakan sang golongan minoriti lebih banyak didominasi. Kelompok elit ini nir lagi kreatif, namun sekadar berjaya mempertahan kedudukannya menjadi grup yg secara umum dikuasai sahaja. Keadaan ini membawa kepada pemerintahan yang kucar-kacir serta kawalan yang longgar ke atas warga sang golongan pemerintah.

Tekanan hebat yang dikenakan ke atas golongan proletariat luaran, mengakibatkan mereka bangkit dan membentuk satu pasukan tentera yg digelar Toynbee sebagai ‘barbarian war-bands’. Golongan ini kemudiannya mengambil alih tampuk pemerintahan. Walaupun mereka belajar dan menguasai teknologi ketenteraan, golongan barbarian ini mengabaikan nilai-nilai kesopanan serta humanisme yang baik.

Tahap seterusnya memperlihatkan golongan ploretariat dalaman mencari jalan keluar menggunakan menganuti agama baru ( higher religious ) serta lain-lain ideologi. Masyarakat melihat agama dipergunakan sang golongan elit pemerintah buat mengekalkan status quo mereka. Akhirnya, bagi Toynbee peradaban tersebut runtuh serta diambil alih oleh pemerintahan yang bercorak ‘Universal Church’ Maka bermulalah peradaban baru.

Arnold Toynbee berpendapat bahawa kesengsaraan hayati adalah faktor utama yg melahirkan tamadun yg tinggi. Penderitaan hidup telah merangsang manusia buat mencari jalan bagi membebaskan diri daripada belenggu kesengsaraan. Keadaan tersebut memberi kekuatan menurut segi mental dan fizikal buat mencipta kejayaan baru.

Toynbee percaya bahawa peranan kepercayaan bisa membuahkan ubat yang paling mujarab buat menangani krisis peradaban yang menuju kehancuran. Beliau seterusnya merumuskan bahawa agama lahir daripada tamadun yang lemah atau sedang runtuh. Berdasarkan krisis moral yang berlaku pada kalangan warga Barat yg membelakangkan agama Kristian, beliau meramalkan Barat akhirnya akan ditentukan sang satu kepercayaan yg berkembang menurut Timur. 

Jangka saat antara ketiga-tiga fasa (break down, distintegration dan dissolution) mungkin merogoh masa yang usang, seribu tahun atau lebih. Toynbee menegaskan bahawa kejatuhan sesebuah peradaban disebabkan sang faktor dalaman serta bukan faktor luaran. Jadi, Toynbee sependapat dengan Ibn Khaldun yg menyatakan bahawa pihak pemerintah yg leka menggunakan kemewahan serta berpuas hati dengan kejayaan yg dicapai memudaratkan sesebuah peradaban.

Carrol Quigley pada bukunya The Evolution of Civilizations, beropini proses perkembangan sesebuah tamadun akan melalui tujuh tahap iaitu bermula menggunakan tahap campuran (mixture), kandungan (gestation), pengembangan (expansion), era konflik (age of conflic), empayar sejagat (universal of empire), keretakan (decay) serta penaklukan (invasion). 

Bagi menggunapakai teorinya, beliau telah merujuk pada lebih 10 tamadun iaitu tamadun Mesir, Mesopotamia, Tamadun Klasik, Rusia, China, India, Islam, Inca, Aztec dan Minoan. Setiap tamadun ini diberi tempoh masa mengikut termin eksklusif. 

Setiap peradaban bermula dengan adonan 2 atau lebih budaya. Kebanyakan adonan budaya ini muncul di tempat sempadan antara dua atau lebih budaya. Jika keadaan ini berlaku, akan wujudlah persefahaman dalam hal-hal yg berkaitan dengan norma serta juga keperluan-keperluan asas. Kedua-2 pihak perlu menciptakan keputusan beserta bagi memenuhi kehendak mereka, dengan itu wujudlah peradaban baru yang menurut persetujuan beserta. 

Pada tahap ke 2 masih ada sedikit perubahan dalam warga dan kebanyakan anggota warga dilihat memiliki kedudukan yang stabil pada struktur masyarakatnya. Quigley menamakan tahap ini sebagai termin kandungan. Tahap yg ketiga timbul bila wujudnya ciri-ciri berikut iaitu perubahan dalam pengeluaran makanan, pertambahan jumlah penduduk, berlakunya proses penjelajahan serta penjajahan dan perubahan pada ilmu pengetahuan.

Bagi Quigley tahap keempat iaitu era pertarungan merupakan termin lebih kompleks, cukup menarik dan lebih kritikal apabila dibandingkan menggunakan ke 7-tujuh tahap peradaban. Antara ciri-ciri utama tahap ini adalah kemerosotan dalam pengembangan, keluarnya ketegangan dan berlakunya konflik kelas khususnya pada daerah-kawasan penempatan utama. Selain itu era ini pula digambarkan menggunakan bertambahnya keganasan akibat berlakunya peperangan dengan penjajah dan timbulnya ketidakwarasan, sikap gampang putus harapan, pengamalan agama tahyul serta penentangan terhadap aspek keduniaan semata-mata. Ekoran daripada penglibatan dalam perang imperialis, menyebabkan kadar pengembangan sebagai perlahan.

Keadaan seterusnya akan mengakibatkan wujudnya dominasi politik oleh satu pihak yang melahirkan fasa kelima iaitu tahap empayar sejagat. Tahap ini ini dikenali Quigley menjadi zaman keemasan iaitu era keamanan dan kemakmuran. Keamanan muncul sehabis ketiadaan perbalahan antara unit-unit politik dan pula ketiadaan pertentangan menggunakan masyarakat yg berhampiran. Kemakmuran jua wujud kerana berakhirnya peperangan pada masyarakat, luasnya perdagangan antarabangsa serta kewujudan sistem mata wang. Tahap ini bisa dicermati dengan kemajuan yang berlaku pada bandar-bandar primer dan pelatihan monumen seperti Taman Tergantung Babylon, piramid dan sebagainya. 

Tahap keretakan ada jika berlakunya kemerosotan ekonomi yg ketara, kemerosotan tingkat hayati, perang saudara dengan pelbagai pihak yang berkepentingan dan termin buta alfabet yg tinggi. Masyarakat semakin lemah walaupun pelbagai bisnis diambil untuk memulihkan keadaan, tetapi kepincangan dalam masyarakat terus berlaku. Pada masa ini ada gerakan agama baru buat menarik perhatian warga . 

Tahap ini mungkin merogoh masa yg lama sehingga ada tahap yg ketujuh iaitu tahap penaklukan. Tahap ini berlaku apabila rakyat bersedia mempertahankan diri mereka dan kesempatan ini diambil sang pihak luar yang lebih berwibawa dan bertenaga. Kesan daripada penaklukan ini menyebabkan sesebuah peradaban itu musnah serta lenyap.

Quigley beropini bahawa jatuh bangunnya sesebuah peradaban dipengaruhi oleh indera pengembangan (an instrument of expansion). Terdapat 3 elemen krusial dalam indera pengembangan ini iaitu bonus untuk mencipta, terdapat peningkatan dalam hasil (accumulation of surplus) yang membolehkan sebahagian warga menguasai kekayaan dan membelanjakan kekayaan tadi. Peningkatan hasil tadi dipakai buat membuat ciptaan-kreasi baru. Kejayaan dalam penciptaan itu bergantung kepada cara masyarakat itu mengelolakan anggotanya. Sesetengah rakyat menunjukkan insentif yg banyak, kerana terdapat poly ganjaran serta galakan daripada instituisi mereka. .

Accumulation of surplus bermaksud sebahagian individu atau organisasi dalam rakyat memiliki asal-sumber kekayaan yg melebihi keperluan mereka serta ini membolehkan perbelanjaan sumber-asal tadi dalam jangka masa pendek.

Surplus creating instrument merupakan elemen penting buat menyemarakkan lagi perkembangan peradaban di samping adanya unsur-unsur rekacipta (invention) dan pelaburan. Unsur “lebihan mencipta alat” ini bukan sahaja merujuk pada organisasi ekonomi namun boleh pula pada organisasi-organisasi politik, ketenteraan, sosial, kepercayaan dan sebagainya. Di Mesopotamia, golongan rahib diberi penghormatan yang tinggi dalam warga . Di Mesir, organisasi politik mencipta lebihan melalui kutipan cukai daripada masyarakat jelata. Dalam peradaban Barat , pada zaman Feudal, organisasi ketenteraan mencipta ( lebihan mencipta indera ) dengan membenarkan sebahagian kecil rakyat, golongan tentera atau tuan-tuan tanah mengumpul hasil-hasil ekonomi daripada golongan serf agar golongan serf mendapat perlindungan.

“Alat pengembangan” akan merosot secara perlahan ekoran kadar pelaburan susut nilai. Keadaan ini semakin buruk apabila berlakunya pengurangan dalam penciptaan serta accumulator of surplus. Hal ini boleh berlaku kerana beberapa sebab. Antaranya ialah sekumpulan masyarakat menguasai asal-sumber ekonomi dan golongan ini nir mahu melakukan apa-apa perubahan buat memperbaiki masyarakat. Dalam masa yg sama, bisnis-usaha training monumen, dan perbelanjaan terhadap projek-projek mewah nir membawa pada cara pengeluaran yang berkesan. Keadaan pada masyarakat terus mewujudkan tekanan serta melemahkan anggota warga buat melakukan aktiviti yang kreatif serta inovatif. Quigley merumuskan bahawa peradaban itu muncul bila lahirnya ‘ a producing society with an intrument of expansion ‘ 

Teori Pertembungan/Petentangan Peradaban
Sungguhpun kedua-2 tokoh yg akan dibincangkan ini kurang jelas membicarkan masalah perkembangan proses perkembangan peradaban, tetapi penulis merasakan bahawa idea-idea yg diketengahkan mereka masih relevan menggunakan pokok masalah kita iaitu perkembangan peradaban dan faktor-faktor yg menentu jatuh bangunnya sesebuah peradaban. 

Apabila membincangkan teori-teori jatuh bangunnya sebuah peradaban masa sekarang, cita rasanya kurang lengkap bila kita nir mengetengahkan tesis yang dikemukakan sang Samuel P. Huntington pada bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order. Buku yg penuh kontroversi serta menarik perdebatan ramai, kini sudah membuka era baru pada kajian peradaban yang lebih komprehensif apabila dibandingkan menggunakan teori-teori yg terdahulu.

Sungguhpun Huntington lebih memfokuskan kepada tema pertembungan peradaban, namun beliau mengakui ada faktor-faktor yang menyumbang pada kekuatan sesebuah peradaban moden serta ada faktor-faktor yg menjadi penentu kurangnya pengaruh sesebuah peradaban. Hal ini ditegaskan oleh dia bahawa peradaban-peradaban senantiasa mengalami kemunduran sekaligus berkembang. Peradaban bersifat bergerak maju, bangkit dan jatuh, menyatu dan saling terpisah, dan sebagaimana halnya dengan apa yang mereka belajar sejarah, ia jua tenggelam dan terkubur di dalam pasir-pasir masa.

Bagi Huntington, pertarungan antara peradaban adalah fasa yg terbaru pada pertarungan global moden khususnya selepas era perang dingin. Menurutnya identiti peradaban akan sebagai lebih krusial dalam masa hadapan, serta sebahagian dunia akan dibentuk oleh interaksi antara tujuh atau peradaban besar ini. Peradaban akbar itu termasuklah peradaban Barat, Confucios, Jepun, Islam, Hindu, Slavic-Orthodox, Latin Amerika dan mungkin jua peradaban Afrika. Konflik yg paling krusial pada masa hadapan dijangka akan berlaku pada garis keretakan yang memisahkan peradaban-peradaban ini. 

Huntington memperturunkan enam faktor yg mengakibatkan berlakunya keretakan atau pertembungan antara peradaban. Faktor yang pertama merupakan peradaban dibezakan antara satu sama lain sang sejarah, bahasa, budaya, tradisi dan yang paling penting merupakan kepercayaan . Justeru, warga daripada peradaban yg berbeza memiliki pandangan yg berlainan mengenai banyak kasus. Menurut Huntington perbezaan ini timbul dalam proses yg usang serta perbezaan ini nir mudah lenyap kerana sifatnya lebih asasi, berbanding dengan perbezaan ideologi politik dan rejim kerajaan yang berasaskan politik.

Kedua, hubungan antara manusia daripada berlainan peradaban semakin bertambah kerana global kini semakin mengecil. Peningkatan hubungan ini memperdalamkan lagi kesedaran di kalangan grup itu sendiri. Orang Amerika misalnya lebih bersifat negatif terhadap pelabur-pelabur Jepun daripada pelabur dari Kanada dan negara-negara Eropah yg lain.

Ketiga, proses pemodenan ekonomi serta perubahan sosial pada seluruh global telah memisahkan orang daripada identiti tempatan yg sudah usang berakar umbi serta proses ini melemahkan negara bangsa sebagai asas identiti. Bagaimanapun dari Huntington, kepercayaan telah berjaya menembusi jurang selalunya pada bentuk gerakan yang dilabelkan menjadi fundamentalis. Golongan fundamentalis terdiri daripada kalangan anak muda, lulusan universiti, sekolah menengah, para profesional dan pakar perniagaan.

Keempat, kesedaran tamadun akan semakin semakin tinggi dan akan dipercepatkan oleh dwi-peranan Barat. Pada satu pihak, Barat berada pada puncak kekuasaan dan pada masa yang sama sebagai kesan kekuasaan Barat mengakibatkan dunia Barat mencari jalan keluar misalnya pengislaman semula Timur Tengah. Kelima, ciri dan perbezaan kebudayaan agak sukar buat diubahsuai dan sang itu sukar dikompromikan berbanding menggunakan ciri-ciri ekonomi serta politik. Malah lebih daripada duduk perkara etnik, kepercayaan merupakan tekanan yang hebat di kalangan umat manusia. Seseorang itu mungkin boleh dianggap separuh Perancis dan separuh Arab dan seterusnya menjadi rakyat dua negara. Tetapi nir mungkin boleh menjadi separuh Katolik serta separuh Islam.

Yang terakhir artinya keserantauan ekonomi semakin semakin tinggi menyebabkan kerjasama serantau menguntungkan negara-negara anggota kesatuan berdasarkan peradaban yg sama. Salah satu kejayaan Barat ialah kerjasama serantau yang diamalkan dan dikongsi beserta seperti Kesatuan Ekonomi Eropah (EEC). Bergantung kepada asas-asas dalam budaya pada Eropah serta Kristian Barat tetapi kejayaan ini nir absolut akibat ada masalah tentang tiadanya persefahaman seperti itu. Penggunaan mata wang Euro menerangkan Britain enggan menyertainya. Sungguhpun peradaban-peradaban lain di Asia Selatan dan Asia Tenggara memiliki organisasi serantau mereka sendiri misalnya South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC) serta Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), tetapi kejayaan kerjasama pada bidang ekonomi kurang menggalakkan. 

Faktor ke 2 yang mengakibatkan peradaban Barat lebih dominan ialah pelaku utamanya iaitu Amerika berganding bahu pada belakang sahabat seagama mereka. Barat sekarang berada pada kemuncak kekuasaannya. Musuhnya Jepun nir memiliki taring yang berbeza. Barat menguasai politik antarabangsa serta instituisi keselamatan bersama-sama Jepun. Soal politik sejagat dan isu keselamatan diselesaikan menggunakan arahan Amerika Syarikat, Britain dan Perancis secara berkesan. Isu ekonomi global diselenggarakan sang Amerika Syarikat, Jerman serta Jepun dan kesemuanya mengekalkan hubungan yang amat rapat antara satu sama lain menggunakan mengenepikan negara-negara yang sebahagian besarnya bukan negara Barat.

Pengaruh Barat terhadap Majlis Keselamatan Bangsa-Bangsa Bersatu yg hanya sekali waktu diganggu sang pengecualian undi China, mendorong keputusan Bangsa-Bangsa Bersatu memerangi Iraq dan seterusnya memusnahkan senjata canggih Iraq serta menghapuskan kemampuannya menciptakan senjata. 

Dalam menyampaikan termin perkembangan peradaban manusia, Ali Shariati mengaitkan peristiwa Habil serta Qabil sebagai titik bermula sejarah bermulanya pertentangan insan. Dengan melihat dari sudut sosiologi, kisah ini mencerminkan berakhirnya zaman kehidupan primitif. Berakhirnya zaman ini bererti sistem kehidupan dari insan yg menitikberatkan soal persamaan serta persaudaraan sebagaimana yang digambarkan melalui aktivitas berburu serta menangkap ikan dalam zaman Habil.

Sistem ini kemudiannya digantikan jua dengan sistem pertanian yg mengizinkan pemilikan peribadi. Apabila berlakunya pembolotan pemilikan peribadi, maka lahirlah rakyat kelas pertama yg melakukan penindasan serta kezaliman. Matinya Habil dan hidupnya Qabil, adalah kenyataan sejarah yang tidak bisa diubah lagi. Habil mangkat tanpa meninggalkan zuriat, yg mengizinkan keturunan Qabil buat terus hidup, berkuasa dan mencorakkan segala-galanya. Apabila masyarakat, kerajaan, ekonomi, kepercayaan sudah dikuasai sang Qabil maka pandangan serta perbuatan Qabil mula diterima menjadi nilai sejagat masyarakat selepas itu. Inilah insiden yang menjadi punca pada keidakseimbang yang berlaku dalam pandangan serta kehidupan insan sekarang.

Ali Shariati menegaskan lagi bahawa pertelagahan yg berlaku antara Habil serta Qabil bukanlah pertelagahan antara adik beradik kerana merebut seseorang gadis, malah pertelagahan tersebut mewakili satu pertentangan yg berterusan antara dua pihak pada masyarakat insan . Kisah ini adalah cerita yg menjadi transedental kisah hayati insan pada sepanjang zaman.

Sebagai lanjutan daripada kisah Habil. Ali Shariati menyebut empat manusia yang dianggap pada Al-Quran yang dilambangkan melalui tabiat Firaun, Qarun, Haman, dan Bal’am. Pada setiap zaman, keempat-empat jenis manusia ini telah tampil menjadi pendukung status quo serta penentang perubahan sosial. Firaun adalah penguasa yang korup, penindas yg selalu merasa dirinya sahaja yg sahih, tonggak sistem kezaliman serta kemusyrikan. Haman mewakili grup teknokrat, ilmuan yg menunjang kezaliman dengan memperalatkan ilmu. Qarun adalah cerminan kaum kapitalis, pemilik sumber kekayaan, rakus, menghisap semua kekayaan massa. Bal’am melambangkan kaum ruhaniyun, tokoh-tokoh kepercayaan yg menggunakan kepercayaan buat mengesahkan kekuasaan yg dikumpul.

Ali Shariati menyampaikan ada 2 kasus yang memungkinkan terbinanya sesebuah peradaban. Faktor yang pertama adalah kenyataan hijrah atau migrasi serta faktor ke 2 merupakan peranan insan khususnya golongan intelektual.

Bagi Ali Shariati, hijrah bukan sahaja merujuk kepada perpindahan Nabi Muhammad s.A.W. Menurut Mekah ke kota Madinah buat menyelamatkan diri daripada seksaan kaum Quraisy tetapi mempunyai erti kata yang lebih luas dan mendalam. Daripada kajian beliau terhadap 27 peradaban, Ali Shariati merumuskan bahawa peradaban lahir ditimbulkan penghijrahan manusia dari tempat dari ke tempat baru. Sebaliknya tidak terdapat sebarang peradaban yg lahir dan berkembang di kalangan rakyat primitif yang nir pernah berpindah dari satu tempat ke loka yang lain.

Faktor kedua merupakan peranan manusia itu sendiri khususnya golongan intelektual yg bertanggungjawab menentukan nasib serta membarui masa depan mereka, kerana mereka diberi logika fikiran dan kudrat buat berusaha. Beliau mengaitkan faktor tadi menggunakan ayat Al-Quran :

“Tuhan nir akan mengganti nasib sesuatu kaum apabila mereka nir mahu mengubahnya”.(Al Quran)

Golongan intelektual turut terlibat pada menegakkan sesebuah peradaban. Istilah golongan intelektual yg digunakan Ali Shariati artinya rausyanfikr. Golongan ini bukan sekadar ilmuan tetapi golongan yg merasa bertanggungjawab buat memperbaiki masyarakatnya bagi menunaikan hasrat mereka. Merumuskannya ke dalam bahasa yg bisa difahami setiap orang, menunjukkan taktik serta alternatif penyelesaian masalah. Beliau mentafsirkan bahawa golongan intelektual

”one who is conscious of his own “humanistic status” in a specific social and historical time and place. His self awareness lays upon him the burden of responsibility. He responsibily, self-conciuosly leads his people in scientific, social and revolutionary action.” 

Teori Pendekatan Psikologi/Ketuhanan
Aurobindo, seorang reformis serta pakar falsafah India beropini bahawa pola perkembangan peradaban manusia boleh difahami dengan menggunakan pendekatan psikologi. Dengan itu beliau menolak pendekatan teori-teori jatuh bangun oleh para-para sarjana sebelum ini. Beliau mendapati pendekatan psikologi yang digunakan oleh ahli psikologi Jerman iaitu Lamprecht, cukup relevan bagi mengungkapkan tahap-tahap perkembangan peradaban manusia. Lima tahap tadi merupakan tahap simbolik, typal, konvensional, individualis serta subjektif.

Pada termin simbolik, simbol-simbol keagamaan memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Manusia secara umumnya melahirkan perasaan mereka melalui unsur-unsur mitos, puisi, dan kesenian. Amalan–amalan budaya dan instituisi sosial turut terpengaruh menggunakan unsur-unsur simbolik. Misalnya dalam buku Rig Veda dalam zaman Vedik (1500-1000SM) menyanjung dan mengagung-agungkan upacara perkahwinan Surya, puteri kepada Dewa Matahari. Manusia dipercaya sebagai manusia kerdil serta merupakan imej ketuhanan. Pendek istilah simbol-simbol keagamaan hadir di belakang kehidupan mereka. Aurobindo meletakkan Zaman Vedik iaitu zaman pembentukan budaya orang Arya pada India tergolong dalam tahap ini.

Tahap typal menampakan perkembangan seterusnya dalam perkembangan peradaban manusia .menurut Aurobindo kesedaran terhadap sistem varna mula berubah. Struktur serta sistem sosial masyarakat mula berkembang kerana wujudnya perbezaan serta fungsi ekonomi empat golongan yakni brahmin, ksatriya, vaisya serta sudra. Pada tahap ini, agama sebagai penghalang buat mewujudkan etika kehidupan yg paripurna.

Pada tahap konvensional, pengamalan sistem varna menjadi lebih ketara. Agama pula digambarkan sang Aurobindo sebagai

“religion in the conventional stage becomes stereotype, thought subjected to infallible authorities, and education bound to unchangeable forms”. Eropah pada Zaman Pertengahan dan India dalam masa kini berdasarkan Aurobindo masih berada pada termin konvensional.

Tahap individualis dianggap menjadi ta’kul (reason), memberontak (revolt), kemajuan (progress) serta kebebasan (freedom). Keempat-empat elemen tersebut relatif krusial untuk melahirkan rasa ketidakpuashatian di kalangan anggota warga . Dalam bisnis mengatur kehidupan yg lebih paripurna, usaha buat mewujudkan persamaan serta kebebasan di kalangan anggota masyarakat mula terserlah. Kesannya muncullah pihak-pihak yg memperjuangkan hak masing-masing nir kira golongan miskin atau kaya yg kemudiannya melahirkan golongan berideologi fasis, komunis dan sosialis. 

Pada termin subjektif bagi Aurobindo, insan mestilah melalui seluruh empat termin sebelum ini buat mencapai termin terakhir yang pula diklaim sebagai spiritual atau dikenali juga menjadi tahap minda unggul (supermind). Pada termin ini manusia percaya bahawa kuasa ketuhanan mengatasi keupayaan intelek. Manusia melihat intelek sebagai mediator antara global material (infrarational) dan global kerohanian (suprarational). Apabila semua orang atau sebahagiannya menerima ilmu pengetahuan yg subjektif menggunakan identiti ketuhanan, maka muncullah termin warga berperadaban. 

Bagi Aurobindo syarat buat mencapai termin minda unggul atau ketuhanan, dua perkara mesti dipenuhi serentak. Pertama, mestilah timbul individu

“ who are able to see, to develop, to re-create themselves in the image of Spirit and communicate both their idea and its power to mass.” 

Menurutnya, Mahatma Ghandi telah mencapai tahap ini. Pandangan ini sama menggunakan pandangan Ali Shariati yg menduga bahawa golongan intelek perlu ada untuk menggerakkan warga .

Kedua, kesediaan buat membaca minda warga agar message daripada Tuhan bisa diterima. Manusia pada masa ini dipenuhi dengan rasa rendah diri, kurang berkesedaran dan kurang mengetahui aspek spiritual. Justeru mereka tidak bersedia menerima imej ketuhanan. Aurobindo seterusnya menegaskan bahawa apabila seorang ingin mencapai termin ketuhanan, unsur-unsur material perlu dihindarkan dalam rakyat.