PENGERTIAN SALURAN PEMASARAN DAN JENISJENIS SALURAN PEMASARAN

Pengertian Saluran Pemasaran Dan Jenis-Jenis Saluran Pemasaran
Pemasaran output pertanian merupakan suatu aktivitas yang bertujuan buat menaikkan dan menyebarkan kegiatan pemasaran suatu produk, kita wajib mempertimbangkan saluran pemasaran yang bisa dipakai buat menyalurkan produk menurut pembuat ke konsumen. Menurut Philip Khotler (1996) mengemukakan bahwa saluran pemasaran merupakan serangkaian organisasi yg saling tergantung serta terlibat pada proses menjadikan suatu produk atau jasa siap buat digunakan atau di konsumsi.

Sedangkan dari Basu Swastha (1999) saluran pemasaran adalah saluran yg dipakai oleh pembuat buat menyalurkan barang tersebut dari pembuat hingga kekonsumen atau pemakai industry.

Dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa saluran pemasaran merupakan serangkaian organisasi yg saling tergantung dalam rangka proses penyaluran barang berdasarkan pembuat kepada konsumen.

suatu barang bisa berpindah melalui beberapa tangan sejak berdasarkan penghasil hingga kepada konsumen. Ada beberapa saluran distribusi yang dapat digunakan buat menyalurkan barang-barang yg ada.

Jenis saluran distribusi dapat diklasifikasikan menjadi berikut :
a. Saluran distribusi pribadi, Saluran ini adalah saluran distribusi yg paling sederhana dan paling rendah yakni saluran distribusi berdasarkan produsen ke konsumen tanpa amenggunakan mediator. Disni penghasil bisa menjual barangnya melalui pos atau mendangi eksklusif tempat tinggal konsumen, saluran ini sanggup pula diberi kata saluran nol tingkat (zero stage chanel).

b. Saluran disrtibusi yg menggunakan satu mediator yakni melibatkan produsen serta pengecer. Disini pengecer besar eksklusif membeli barang kepada produsen, kemudian menjualnya eksklusif pada konsumen. Saluran ini biasa diklaim dengan saluran satu taraf (one stage chanel).

c. Saluran distribusi yang menggunakan 2 gerombolan pedagang besar dan pengecer, saluran distrinusi ini merupakan saluran yang poly dipakai sang produsen. Disini penghasil hanya melayani penjualan pada jumlah besar pada pedagang akbar saja, nir menjual pada pengecer pembelian sang pengecer dilayani oleh pedagang akbar serta pembelian sang konsumen hanya dilayani oleh pengecer saja. Saluran distribusi semacam ini disebut pula saluran distribusi 2 taraf (two stage chanel).

d. Saluran distribusi yang memakai 3 pedagang mediator. Dalam hal ini penghasil memilih agen menjadi perantara buat menyalurkan barangnya pada pedagang akbar yang lalu menjualnya pada took-toko kecil. Saluran distribusi seperti ini dikenal pula dengan kata saluran distribusi 3 tingkat (three stage chanel), Philip Kotler (1996).

Beberapa Fungsi Dalam Proses Pemasaran Hasil Pertanian 
Dalam proses pemasaran, hasil pertanian terdapat beberapa fungsi yg wajib ditampung sang pihak produsen dan elemen-elemen terlibat dalam penyaluran yang seringkali funsi-fungsi ini mengakibatkan masalah yg wajib diperlukan sang penghasil juga elemen-elemen yang terlibat dalam rantai pemesaran. Fungsi-fungsi tadi terdiri berdasarkan :
a. Pembelian dan pengumpulan ini merupakan fungsi ysng bersangkutan dengan pemendihan atau mempunyai sejumlah barang yg dimaksudkan sebagai persedian produksi atau buat mencukupi kebutuhan. Dalam menganalisa pembelian ini terdapat beberapa tindakan yg wajib diperhatikan yaitu penatapan kebutuhan, pencarian asal kebutuhan, negosiasi harga serta transaksi resmi.

b. Penjualan dan penyebaran ini merupakan aktivitas buat mencari dan mengusahakan supaya barang-barang yg sudah diproduksi atau dimiliki bisa dipasarkan secara menguntungkan.

c. Pengangkutan serta transportasi, merupakan suatu fungsi yg berarti memindahkan suatu produk menurut asal penghasilanya ke pasar atau konsumen dalam saat eksklusif yang sempurna disesuaikan dengan kebutuhan serta kepentingan pasar atau konsumen. Jadi transportasi menciptakan kegunaan tempat dan kegunaan ketika.

d. Menyimpan produk (storage), fungsi ini merupakan fungsi yang hampir ditemukan pada setiap lembaga pemasaran, ini adalah suatu pengumpulan sementara produk sebelum dipasarkan.

e. Pengolahan produk, pada tataniaga pemasaran disini bukan pengolahan bentuk, ukuran luar dan sebagainya, namun berupa penyortiran produk-produk tersebut.

f. Pendanaan atau pembiayaan (financing), yaitu penyediaan sejumlah uang guna suatu transaksi jual beli produk.

g. Resiko, merupakan fungsi yg bersangkutan dengan kerugian yang timbul akibat kurang matangnya pertimbangan pada pembuatan planning.

h. Keterangan pasar, yaitu fungsi pencarian berita tentang pasar yang diperlukan buat penyusunan kebijakan pemasaran produk, Mubyarto (1997)

Pengertian Margin Pemasaran dan Faktor Yang Mempengaruhi
Mergin pemasaran adalah disparitas antara harga yg diterima sang petani penghasil dengan harga yang harus dibayarkan oleh konsumen akhir. Besar kecilnya disparitas harga ditingkat konsumen akhir akan dipengaruhi sang:poly forum pemasaran yang ikut dalam proses pemasaran, panjang atau pendeknya saluran yang dilewati dan jeda pasar, Nurlan F (1986).

Menurut Khol serta Uhl dalam Astin Akitasan (2004) mendefinisikan marjin pemasaran merupakan rasio antara nilai tambah yang diperoleh pelaku pemasaran eksklusif dan harga yang dibayarkan sang konsumen.

Sementara itu Downey serta Trocke (1981) margin pemasaran merupakan disparitas antara harga penjualan produk pada dua tahapan yg berurutan pada saluran distribusi pemasaran produk yang bersangkutan.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa margin pemasaran merupakan disparitas atau selisih antara harga penjualan yang diterima setiap lembaga pemasaran pada 2 tahapan yg berurutan pada saluran pemasaran mulai menurut pembuat sampai pada konsumen akhir.

Ada beberapa faktor yg mensugesti besarnya kecilnya margin rapikan pemasaran diantaranya banyaknya lembaga yg terlibat pada proses pemasaran produk tersebut, atau panjang produk yg dilewati buat mencapai pasar.

Menurut Rashit dan Caudry dalam Basirun dkk (1991) mengumumkan bahwa ada dua unsur yg mensugesti margin pemasaran , yaitu:1) porto yang dikeluarkan buat menjalankan fungsi rapikan niaga seperti mengumpulan, pengolahan, penyimpanan, pengepakan, pengangkutan dan lain-lain, dua) akbar keuntungan dari pasar-pasar mediator atau keuntungan pedagang perantara. Selanjutnya Buse dan Brandow pada Basirun dkk (1991) telah melakukan penelitian mengenai hubungan antara volume, biaya serta harga terdapat margin menggunakan memakai ordinary square regrestion. Dimana berdasarkan hasil ketiga variable yg diteliti menerangkan impak yg signifikan terhadap margin tata niaga pemasaran.

1. Kajian Empirik
Penelitian terdahulu yang relevan menggunakan penelitian ini adalah penelitian yg dilakukan oleh Wa Ode Astuti (2006) dengan judul”Analisis Pemasaran Rumput Laut Di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Muna”. Dengan menggunakan analalisis marjin pemasaran. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa marjin pemasaran rumput laut pada kecamatan kulisusu kabupaten muna sangat akbar. 

Penelitian lain yang dilakukan oleh Yusri (2007) menggunakan judul”Studi Pendapatan Kakao Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka”. Dengan menggunakan analisis π = TR –TC dimana π merupakan Pendapatan Bersih, TR= Total Revenue (Pendapatan Kotor), TC= Total Cost (Totaol Biaya). Hasil penelitian ini menerangkan bahwa tingkat pendapatan higienis yang diperoleh petani kakao sinkron kriteria yang ditetapkan BPS, tergolong warga berpendapatan tinggi.

2. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kajian teoritis pada atas, maka kerangka pikir yang mendasari penelitian ini adalah bahwa budidaya rumput bahari yg dilakukan petani rumput laut pada Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton dimaksudkan buat memperoleh produksi, pendapatan dan menyebutkan pemasaran. 

Dimana ketiga (produksi, pendapatan dan pemasaran) variable diatas akan dianalisis menggunakan alat analisis deskptif buat menjawab permasalahan yg dikemukakan sehingga bisa memberikan konklusi serta rekomendasi peningkatan pendapatan buat kesejateraan petani rumput laut di Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Untuk detail dapat dilihat pada skema kerangka pikir penelitian di bawah ini:

Gambar Skema Kerangka Pikir Penelitian

3. Hipotesis
Berdasarkan rumusan kasus di atas, maka penelitian ini merumuskan hipotesisi menjadi berikut:
1. Diduga bahwa produksi serta pendapatan petani rumput bahari di Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton nisbi besar .
2. Diduga bahwa pemasaran rumput bahari yang terdapat pada Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton memakai saluran distribusi langsung dan saluran distribusi satu taraf.

PENGERTIAN SALURAN PEMASARAN DAN JENISJENIS SALURAN PEMASARAN

Pengertian Saluran Pemasaran Dan Jenis-Jenis Saluran Pemasaran
Pemasaran hasil pertanian merupakan suatu aktivitas yang bertujuan buat menaikkan serta berbagi kegiatan pemasaran suatu produk, kita harus mempertimbangkan saluran pemasaran yang dapat digunakan buat menyalurkan produk berdasarkan pembuat ke konsumen. Menurut Philip Khotler (1996) mengemukakan bahwa saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yg saling tergantung dan terlibat pada proses menjadikan suatu produk atau jasa siap buat dipakai atau di konsumsi.

Sedangkan dari Basu Swastha (1999) saluran pemasaran adalah saluran yang dipakai oleh penghasil buat menyalurkan barang tadi dari pembuat sampai kekonsumen atau pemakai industry.

Dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa saluran pemasaran merupakan serangkaian organisasi yg saling tergantung pada rangka proses penyaluran barang berdasarkan produsen kepada konsumen.

suatu barang bisa berpindah melalui beberapa tangan sejak menurut pembuat hingga kepada konsumen. Ada beberapa saluran distribusi yang bisa dipakai buat menyalurkan barang-barang yang terdapat.

Jenis saluran distribusi bisa diklasifikasikan menjadi berikut :
a. Saluran distribusi langsung, Saluran ini adalah saluran distribusi yang paling sederhana serta paling rendah yakni saluran distribusi menurut pembuat ke konsumen tanpa amenggunakan mediator. Disni produsen dapat menjual barangnya melalui pos atau mendangi pribadi rumah konsumen, saluran ini bisa jua diberi istilah saluran nol taraf (zero stage chanel).

b. Saluran disrtibusi yg menggunakan satu mediator yakni melibatkan produsen serta pengecer. Disini pengecer akbar eksklusif membeli barang kepada produsen, lalu menjualnya pribadi kepada konsumen. Saluran ini biasa diklaim dengan saluran satu taraf (one stage chanel).

c. Saluran distribusi yang menggunakan dua grup pedagang akbar dan pengecer, saluran distrinusi ini merupakan saluran yang poly dipakai oleh penghasil. Disini produsen hanya melayani penjualan pada jumlah besar pada pedagang besar saja, nir menjual kepada pengecer pembelian sang pengecer dilayani sang pedagang besar serta pembelian oleh konsumen hanya dilayani sang pengecer saja. Saluran distribusi semacam ini diklaim juga saluran distribusi 2 tingkat (two stage chanel).

d. Saluran distribusi yg menggunakan tiga pedagang perantara. Dalam hal ini produsen memilih agen menjadi mediator buat menyalurkan barangnya pada pedagang besar yang kemudian menjualnya pada took-toko mini . Saluran distribusi seperti ini dikenal pula menggunakan kata saluran distribusi tiga taraf (three stage chanel), Philip Kotler (1996).

Beberapa Fungsi Dalam Proses Pemasaran Hasil Pertanian 
Dalam proses pemasaran, output pertanian terdapat beberapa fungsi yang harus ditampung oleh pihak pembuat dan elemen-elemen terlibat dalam penyaluran yang acapkali funsi-fungsi ini menimbulkan perkara yg wajib dibutuhkan oleh produsen maupun elemen-elemen yang terlibat dalam rantai pemesaran. Fungsi-fungsi tersebut terdiri berdasarkan :
a. Pembelian serta pengumpulan ini merupakan fungsi ysng bersangkutan menggunakan pemendihan atau mempunyai sejumlah barang yg dimaksudkan sebagai persedian produksi atau buat mencukupi kebutuhan. Dalam menganalisa pembelian ini ada beberapa tindakan yg harus diperhatikan yaitu penatapan kebutuhan, pencarian sumber kebutuhan, negosiasi harga dan transaksi resmi.

b. Penjualan serta penyebaran ini adalah aktivitas buat mencari serta mengusahakan agar barang-barang yg sudah diproduksi atau dimiliki bisa dipasarkan secara menguntungkan.

c. Pengangkutan serta transportasi, merupakan suatu fungsi yg berarti memindahkan suatu produk menurut asal penghasilanya ke pasar atau konsumen pada waktu tertentu yg tepat diubahsuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan pasar atau konsumen. Jadi transportasi membentuk kegunaan tempat serta kegunaan ketika.

d. Menyimpan produk (storage), fungsi ini adalah fungsi yang hampir ditemukan dalam setiap forum pemasaran, ini merupakan suatu pengumpulan sementara produk sebelum dipasarkan.

e. Pengolahan produk, dalam tataniaga pemasaran disini bukan pengolahan bentuk, berukuran luar dan sebagainya, tetapi berupa penyortiran produk-produk tersebut.

f. Pendanaan atau pembiayaan (financing), yaitu penyediaan sejumlah uang guna suatu transaksi jual beli produk.

g. Resiko, adalah fungsi yang bersangkutan menggunakan kerugian yg muncul akibat kurang matangnya pertimbangan dalam pembuatan rencana.

h. Keterangan pasar, yaitu fungsi pencarian liputan mengenai pasar yg diharapkan buat penyusunan kebijakan pemasaran produk, Mubyarto (1997)

Pengertian Margin Pemasaran dan Faktor Yang Mempengaruhi
Mergin pemasaran adalah perbedaan antara harga yg diterima sang petani penghasil dengan harga yang harus dibayarkan sang konsumen akhir. Besar kecilnya perbedaan harga ditingkat konsumen akhir akan dipengaruhi sang:banyak forum pemasaran yang ikut pada proses pemasaran, panjang atau pendeknya saluran yang dilalui dan jeda pasar, Nurlan F (1986).

Menurut Khol serta Uhl pada Astin Akitasan (2004) mendefinisikan marjin pemasaran merupakan rasio antara nilai tambah yg diperoleh pelaku pemasaran eksklusif dan harga yang dibayarkan oleh konsumen.

Sementara itu Downey dan Trocke (1981) margin pemasaran merupakan perbedaan antara harga penjualan produk pada 2 tahapan yang berurutan pada saluran distribusi pemasaran produk yg bersangkutan.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa margin pemasaran adalah disparitas atau selisih antara harga penjualan yang diterima setiap forum pemasaran dalam dua tahapan yang berurutan pada saluran pemasaran mulai dari produsen sampai pada konsumen akhir.

Ada beberapa faktor yg mensugesti besarnya kecilnya margin rapikan pemasaran antara lain banyaknya forum yg terlibat dalam proses pemasaran produk tersebut, atau panjang produk yg dilalui buat mencapai pasar.

Menurut Rashit dan Caudry dalam Basirun dkk (1991) mengumumkan bahwa ada dua unsur yang menghipnotis margin pemasaran , yaitu:1) porto yang dimuntahkan buat menjalankan fungsi tata niaga seperti mengumpulan, pengolahan, penyimpanan, pengepakan, pengangkutan dan lain-lain, dua) akbar keuntungan menurut pasar-pasar mediator atau keuntungan pedagang mediator. Selanjutnya Buse serta Brandow pada Basirun dkk (1991) sudah melakukan penelitian tentang hubungan antara volume, porto dan harga masih ada margin menggunakan memakai ordinary square regrestion. Dimana dari output ketiga variable yang diteliti memperlihatkan dampak yg signifikan terhadap margin rapikan niaga pemasaran.

1. Kajian Empirik
Penelitian terdahulu yg relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Wa Ode Astuti (2006) dengan judul”Analisis Pemasaran Rumput Laut Di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Muna”. Dengan menggunakan analalisis marjin pemasaran. Hasil penelitian ini menampakan bahwa marjin pemasaran rumput laut pada kecamatan kulisusu kabupaten muna sangat besar . 

Penelitian lain yg dilakukan sang Yusri (2007) menggunakan judul”Studi Pendapatan Kakao Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka”. Dengan memakai analisis π = TR –TC dimana π merupakan Pendapatan Bersih, TR= Total Revenue (Pendapatan Kotor), TC= Total Cost (Totaol Biaya). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan bersih yg diperoleh petani kakao sinkron kriteria yang ditetapkan BPS, tergolong warga berpendapatan tinggi.

2. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kajian teoritis pada atas, maka kerangka pikir yang mendasari penelitian ini adalah bahwa budidaya rumput bahari yang dilakukan petani rumput laut pada Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton dimaksudkan buat memperoleh produksi, pendapatan serta mengungkapkan pemasaran. 

Dimana ketiga (produksi, pendapatan dan pemasaran) variable diatas akan dianalisis menggunakan alat analisis deskptif buat menjawab perseteruan yg dikemukakan sebagai akibatnya bisa memberikan kesimpulan serta rekomendasi peningkatan pendapatan untuk kesejateraan petani rumput bahari pada Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Untuk lebih jelasnya bisa dipandang dalam skema kerangka pikir penelitian di bawah ini:

Gambar Skema Kerangka Pikir Penelitian

3. Hipotesis
Berdasarkan rumusan kasus pada atas, maka penelitian ini merumuskan hipotesisi menjadi berikut:
1. Diduga bahwa produksi dan pendapatan petani rumput bahari pada Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton nisbi besar .
2. Diduga bahwa pemasaran rumput laut yang terdapat di Desa Wawoncusu Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton memakai saluran distribusi pribadi serta saluran distribusi satu taraf.

PENGERTIAN PROMOSI MENURUT PARA AHLI

Pengertian Promosi Menurut Para Ahli
Promosi merupakan arus informasi atau persuasi satu arah yang dapat mengarahkan organisasi atau seseorang buat menciptakan transaksi antara pembeli serta penjual.

Promosi adalah aktivitas terakhir dari marketing mix yg sangat krusial karena sekarang ini kebanyakan pasar lebih banyak bersifat pasar pembeli di mana keputusan terakhir terjadinya transaksi jual beli sangat ditentukan sang konsumen. Oleh karenanya pembeli merupakan raja. Para pembuat berbagai barang bersaing untuk merebut hati pembeli supaya tertarik serta mau membeli barang yg dijualnya. Pada dasarnya keputusan membeli sangat dipengaruhi sang motif-motif pertimbangan secara emosional, misalnya : merasa bangga, sugesti, angan-angan dan sebagainya. Tetapi bisa pula pembeli membeli secara rasional seperti: karena mempertimbangkan riwatnya, ekonomisnya, segi kepraktisan, harganya, pengangkutannya dan sebagainya. Dalam promosi terdapat beberapa kegiatan yg dilakukan, pada umumnya ada 4 kegiatan yang biasa dilakukan yaitu:
a. Periklanan.
b. Personal selling.
c. Promosi penjualan.
d. Publisitas dan humas.

a. Periklanan (Advertensi)
Periklanan merupakan keliru satu bentuk aktivitas promosi yang seringkali dilakukan perusahaan melalui komunikasi non individu menggunakan sejumlah biaya misalnya iklan melalui media masa, perusahaan iklan, lembaga non keuntungan, individu-individu yg menciptakan poster serta sebagainya. Periklanan dilakukan buat memasarkan produk baru, memasuki segmen pasar yg baru atau yang tidak terjangkau sang salesman juga personal selling. Periklanan acapkali dilakukan baik melalui surat informasi, radio dan TV, pos eksklusif atau bahkan melalui biro periklanan.

b. Personal selling
Personal selling merupakan aktivitas kenaikan pangkat yg dilakukan antar individu yg sering bertemu muka yg ditujukan buat membangun, memperbaiki, menguasai atau mempertahankan interaksi pertukaran yang saling menguntungkan ke 2 belah pihak.

Proses personal selling adalah sebagai berikut:

Pelayanan sesudah penjualan
Nichles : “Principles of marketing” Prentice Hall 1978.

c. Promosi penjualan
Promosi penjualan merupakan keliru satu bentuk aktivitas promosi dengan memakai indera peraga misalnya: Peragaan, pameran, demonstrasi, hibah, contoh barang serta sebagainya.

d. Publisitas
Publisitas merupakan aktivitas kenaikan pangkat yang hampir sama dengan periklanan yaitu melalui media masa tetapi keterangan yang diberikan nir dalam bentuk iklan namun berupa kabar. Biasanya forum yang dipublisitaskan tidak mengeluarkan biaya sedikitpun namun mampu merugikan jika lembaga yg dipublisitaskan diberitakan kejelekannya

4. Saluran Distribusi ( Place )
Merupakan keputusan distribusi menyangkut kemudahan akses terhadap jasa bagi para pelanggan. Tempat dimana produk tersedia pada sejumlah saluran distribusi dan outlet yang memungkinkan konsumen dapat menggunakan mudah memperoleh suatu produk.

1. Pengertian Saluran Distribusi.
Definisi berdasarkan Philip Kotler mengenai distribusi adalah : “The various the company undertakes to make the product accessible and available to target customer”. Berbagai aktivitas yg dilakukan perusahaan buat membuat produknya gampang diperoleh serta tersedia buat konsumen target. Sebagai salah satu variabel marketing mix, place / distribusi memiliki peranan yg sangat krusial dalam membantu perusahaan memastikan produknya, lantaran tujuan dari distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yg dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen dalam ketika dan tempat yang sempurna.

2. Pemilihan saluran distribusi
Keputusan penentuan lokasi dan saluran yg digunakan buat menaruh jasa pada pelanggan melibatkan pemikiran tentang bagaimana cara mengirimkan atau membicarakan jasa pada pelanggan serta dimana hal tersebut akan dilakukan. Ini harus dipertimbangkan karena dalam bidang jasa sering kali tidak dapat dipengaruhi tempat dimana akan diproduksi dan dikonsumsi pada waktu bersamaan. Saluran distribusi dapat dilihat sebagai kumpulan organisasi yang saling bergantungan satu sama lainnya yang terlibat dalam proses penyediaan sebuah produk/pelayanan buat digunakan atau dikonsumsi. Penyampaian dalam perusahaan jasa wajib dapat mencari agen dan lokasi buat menjangkau populasi yang tersebar luas. Saluran distribusi merupakan saluran yg digunakan pembuat buat menyalurkan barang hasil produksinya kepada konsumen, baik sampai berpindahnya hak (dominasi) sampai menggunakan pemindahan barang juga hanya pemindahan hak kepemilikannya saja. Pemilihan saluran distribusi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Sifat pembeli, misalnya norma membeli, frekuensi pembelian, letak geografis dsb.
b. Sifat produk.
c. Sifat perantara.
d. Sifat pesaing
e. Sifat perusahaan, dan sebagainya Sifat pembeli sangat mensugesti keputusan pembuat dalam menentukan saluran distribusi yg dipakai. Sebagai contohnya, bila jumlah pembeli hanya, frekuensi pembelian pada jumlah yg mini -mini maka akan menciptakan produsen cenderung memilih saluran distribusi yang panjang.

Demikian jua sifat produk pula merupakan pertimbangan pembuat yg nir kalah pentingnya. Misalnya, apakah barang tadi gampang rusak atau nir, bagaimana ukurannya, bagaimana kualitas barang kalau dicermati menurut segi konsumen, harganya serta sebagainya. Kesemuanya itu perlu dijadikan bahan pertimbangan yang krusial pula.

Demikian jua perkara sifat mediator, perusahaan, pesaing, pasar yg dituju dan sebagainya sebagai faktor yg krusial dalam memilih saluran distribusi yg akan digunakan perusahaan. Saluran distribusi yang digunakan itu dengan tujuan agar barang yg ditawarkan sampai pada konsumen industry maupun konsumen akhir. 4.3 Alternatif pemilihan saluran distribusi. Untuk menggunakan saluran distribusi tertentu di samping mempertimbangkan faktor-faktor pada atas perusahaan jua perlu mengetahui unsure apa saja yg sebenarnya jua mensugesti pemilihan saluran distribusi, antara lain:

a. Tipe mediator. Perantara pada kenyataannya juga melakukan beberapa macam fungsi pemasaran seperti penyimpanan, pengangkutan, penjualan, pembelian dan sebagainya. Kalau fungsi pemasaran yang dilakukan perantara ternyata lebih efisien disbanding menggunakan jika fungsi pemasaran dilakukan sang produsen maka produsen yg bersangkutan umumnya memasukan mediator kedalam saluran distribusi yg dipilihnya.

Pada dasarnya ada tiga jenis mediator yaitu : 
1. Pedagang (Wholesaler) adalah mediator yang secara konkret memiliki barang dagangan serta melakukan fungsi pemasaran di mana barang yang di dagangkan dalam jumlah volume penjualan yang besar sebagai akibatnya pedagang besar ini biasanya hanya melayani pembelian pada jumlah yg banyak atau menggunakan kata lain nir melayani kosumen akhir yang membeli buat memenuhi kebutuhan pribadinnya (atau besifat non-usaha). 

2. Pengecer (retailer) merupakan mediator yang berafiliasi pribadi dengan konsumen akhir baik konsumen buat keperluan pribadi maupun konsumen industri. Kalau digambarkan saaluran distribusi tersebut merupakan menjadi berikut 

3. Agen, Agen merupakan mediator yg ketiga, agen memiliki disparitas baik menggunakan pedagang akbar mupun pengecer. Hal ini diperlihatkan pada perkara hak kepemilikan barang yg dijualnya. Kalau pedagang akbar dan pengecer memiliki hak milik dalam barang yang dijual maka kalau pada agen kebalikannya. Biarpun menjadi agen mereka mampu menjual pada partai besar tetapi tetap hak miliknya ada pada produsennya memasukan agen serta langsung ke konsumen akhir. 

b. Jumlah Perantara. Kalau dilihat dari jumlah mediator, ini menyangkut buat taraf penyebaran pasar yang diinginkan oleh produsen. Dengan mempertimbangkan jumlah perantara/penyalur maka produsen memiliki 3 jenis kebijaksanaan alternative pemakaian saluran distribusi, yaitu: 
1. Distribusi Insentif. Kebijaksanaan yg digunakan perusahaan dengan jalan menggunakan sebesar mungkin penyalur atau pengecer buat mencapai dengan cepat kebutuhan konsumen bisa terpenuhi menggunakan segera. Biasanya kebijaksanaan ini dilakukan jikalau pembuat menjual barang-barang konsumsi homogen, konvinen atau kebutuhan utama sehari-hari.
2. Distribusi selektif. Distribusi yg dipilih produsen dengan hanya menggunakan beberapa perantara saja, buat memudahkan pengawasan terhadap penyalur. Distribusi ini digunakan buat memasarkan barang-barang baru, barang spesial juga barang industri jenis alat-alat ekstra. Sehingga dalam pemakaian saluran distribusi ini pembuat berusaha menentukan berapa penyalur yang benar-sahih baik dan sanggup melaksanakan fungsi pemasaran. 
3. Distribusi tertentu. Distribusi yang dipilih pembuat menggunakan hanya menentukan satu mediator saja pada wilayah geografis eksklusif. Hal ini dipakai buat supervisi yang lebih intensif serta mendorong semangat penyalur agar militan pada melaksanakan fungsi pemasarannya. Distribusi ini dipakai pembuat penghasil barang-barang yang nisbi mahal/berat. Lantaran pemasaran bukanlah ilmu pasti misalnya keuangan (finance), teori Marketing mix juga terus berkembang. Dalam perkembangannya, dikenal juga kata 7P dimana 3P yang selanjutnya merupakan People (Orang), Physical Evidence (Bukti Fisik), Process (Proses). Penulis buku Seth Godin, misalnya, pula memberikan teori P baru yaitu Purple Cow.[1] Perencanaan saluran distribusi dilakukan dengan maksud buat memperlancar penyaluran produk agar sampai pada konsumen. Dengan aktivitas distribusi ini diharapkan dapat mempermudah konsumen buat memperoleh produk setiap saat. Kecepatan serta ketepatan berdasarkan saluran distribusi yg dilakukan sang perusahaan akan sangat membantu konsumen dalam menerima produk perusahaan, hal ini supaya dapat menaikkan citra eksistensi produk dan perusahaan itu sendiri.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERKAIT DESAIN ORGANISASI

Pengambilan Keputusan Terkait Desain Organisasi
"Organisasi" mempunyai dua pengertian umum. Pengertian pertama mengindikasikan suatu lembaga atau gerombolan fungsional, se­perti organisasi perusahaan, tempat tinggal sakit, perwakilan pemerintah atau suatu perkumpulan olahraga. Pengertian kedua berkenaan menggunakan proses pengorganisasian, sebagai suatu cara dalam mana aktivitas or­ganisasi pada alokasikan dan ditugaskan di antara para anggotanya agar tujuan organisasi dapat tercapai menggunakan efisien. Dalam bab ini akan dibahas bermacam-macam aspek proses pengorganisasian.

Pengorganisasian (organizing) merupakan proses penyusunan struktur organisasi yg sesuai menggunakan tujuan organisasi, asal daya­sumber daya yg dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Dua aspek utama proses penyusunan struktur organisasi merupakan de­Partementalisasi dan pembagian kerja. Departementalisasi merupakan pengelompokan aktivitas-kegiatan kerja suatu organisasi supaya kegiat­an-kegiatFin yang sejenis serta saling berhubungan bisa dikerjakan beserta. Hal ini akan tercermin pada struktur formal suatu organisa­si, serta tampak atau ditunjukkan oleh suatu bagan organisasi. Pemba­gian kerja adalah pemerincian tugas pekerjaan supaya setiap individu da­lam organisasi bertanggung jawab buat dap melaksanakan sekum­pulan aktivitas yg terbatas. 

Pengertian Pengorganisasian
  • Istilah pengorganisasian memiliki beragam. Penger­tian. Istilah tadi bisa digunakan buat memberitahuakn hal-hal berikut ini
  • Cara manajemen merancang struktur formal buat pengguna­an yang paling efektif asal daya-asal daya keuangan, phisik, bahan standar, serta tenaga kerja organisasi. 
  • Bagaimana organisasi mengelompokkan aktivitas-kegiatannya, di mana setiap pengelompokan diikuti dengan penugasan seorang manajer yg diberi kewenangan buat mengawasi anggota-ang­gota grup. 
  • Hubungan-interaksi antara fungsi-fungsi, jabatan jabatan, tu­gas-tugas dan para karyawan. 
  • Cara pada mana para manajer membagi lebih lanjut tugas-tugas yang wajib dilaksanakan pada departemen mereka dan mende­legasikan kewenangan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas tersebut. 
Pengorganisasian merupakan suatu proses buat merancang struktur formal, mengelompokkan serta mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan pada antara para anggota organisasi, supaya tu­uan organisasi bisa dicapai dengan efisien. Proses pengorganisasi bisa ditunjukkan menggunakan 3 langkah mekanisme berikut ini :
  • Pemerincian semua pekerjaan yg wajib dilaksanakan buat mencapai tujuan organisasi. 
  • Pembagian beban pekerjaan total sebagai kegiatan-aktivitas yg secara logik bisa dilaksanakan oleh satu orang. Pemba­gian kerja usahakan tidak terlalu berat sebagai akibatnya tidak bisa di­selesaikan, atau terlalu ringan sehingga terdapat ketika menganggur, tidak efisien serta terjadi porto yg nir perlu. 
  • Pengadaan serta pengembangan suatu mekanisme buat meng­koordinasikan pekerjaan para anggota organisasi sebagai kesatu­an yg terpadu dan serasi. Mekanisme pengkoordinasian ini akan membuat para anggota organisasi menjaga perhatiannya pada tujuan organisasi serta mengurangi ketidak-eEisienan dan pertarungan-konflik yg menghambat. 
Pelaksanaan proses pengorganisasian yg sukses, akan mem­buat suatu organisasi dapat mencapai tujuannya. Proses ini akan ter­cermin pada struktur organisasi, yg meliputi aspek-aspek krusial organisasi serta proses pengorganisasian, yaitu : 
1) pembagian kerja, 
2) departementalisasi (atau tak jarang dianggap menggunakan istilah iepartemen­tasi), 
3) bagan organisasi formal, 
4) rantai perintah dan kesatuan perintah, 
5) taraf-tingkat hirarki manajemen, 
6) saluran komu­nikasi, 
7) penggunaan komite, 
8) rentang manajemen dan kelom­pok-kelompok informal yang tidak dapat dihindarkan.

Struktur Organisasi
Struktur organisasi (disain organisasi) bisa didefinisikan seba­gai mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola. Struktur organisasi memperlihatkan kerangka dan susunan perwujudan pola permanen hubungan-interaksi di antara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang memberitahuakn keduduk­an, tugas wewenang serta tanggung jawab yg berbeda-Deda pada suatu organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standardisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan serta besaran (berukuran) satuan kerja.

Adapun faktor-faktor utama yg memilih perancangan struktur organisasi merupakan menjadi berikut
1. Strategi organisasi buat mencapai tujuannya. Chandler dua) te­lah mengungkapkan hubungan taktik serta struktur organisasi da­lam studinya pada perusahaan-perusahaan industri di Amerika.
2. Dia dalam dasarnya menyimpulkan bahwa "struktur mengikuti taktik". Strategi akan menjelaskan bagaimana aliran wewe­nang dan saluran komunikasi bisa disusun di antara para mana­jer serta bawahan. Aliran kerja sangat dipengaruhi strategi, se­sampai jika taktik berubah maka struktur organisasi pula ber­ubah.
3. Teknologi yg dipakai. Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi barang barang atau jasa akan membedakan bentuk struktur organisasi. Sebagai contoh, perusahaan mobil yang mempergunakan teknologi industri masal akan memerlu= kan taraf standardisasi serta spesialisasi yg lebih tinggi diban­ding perusahaan industri sandang jadi yg mengutamakan per­ubahan mode.
4. Anggota (karyawan) serta orang-orang yang terlibat dalam orga­nisasi. Kemampuan serta cara berpikir para anggota, dan kebu­yang kuasa mereka buat bekerjasama wajib diperhatikan dalam me­rancang struktur organisasi. Kebutuhan manajer dalam pem­protesis keputusan pula akan mempengaruhi saluran komunika­si, kewenangan serta hubungan di antara satuan-satuan kerja pada rancangan struktur organisasi. Di samping itu, orang-orang pada luar organisasi, misalnya pelanggan, supplier, dan sebagainya perlu dipertimbangkan pada penyusunan struktur.
5. Ukuran organisasi. Besarnya organisasi secara keseluruhan mau­pun satuan-satuan kerjanya akan sangat menghipnotis struktur organisasi. Semakin akbar ukuran organisasi, struktur organisasi akan semakin kompleks, serta harus dipilih bentuk struktur yg sempurna.

Sedangkan unsur-unsur struktur organisasi terdiri menurut :
1. Spesialisasi aktivitas berkenaan menggunakan spesifikasi tugas-tugas individual serta kelompok kerja dalam organisasi (pembagian kerja) serta penyatuan tugas-tugas tadi menjadi satuan-satu­an kerja (departementalisasi).
2. Standardisasi kegiatan, adalah mekanisme-prosedui yang digu­nakan organisasi buat menjamin" terlaksananya kegiatan seper­ti yg direncanakan.
3. Koordinasi aktivitas, menampakan mekanisme-mekanisme yg mengintegrasikan fungsi-fungsi satuan-satuan kerja pada orga­nisasi.
4. Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusapt, yang me­nunjukkan lokasi (letak) kekuasaan pembuatan keputusan.
5. Ukuran satuan kerja memperlihatkan jumlah karyawan pada sua­tu kelompok kerja. 3 )

Pembagian Kerja
Tujuan suatu organisasi merupakan buat mencapai tujuan pada mana individu-individu nir dapat mencapainya sendiri. Kelompok 2 atau lebih orang yg bekerja beserta secara kooperatif dan dikoor­dinasikan bisa mencapai basil lebih daripada dilakukan perseorang­an. Konsep ini diklaim synergy. Tiang dasar pengorganisisian adalah prinsip pembagian kerja (division of labor) yang memurigkinkan sy­nergy terjadi.

Sebagai contoh, pembagian kerja pada team sepak bola : di mana ada manajer tim, ketua instruktur, asisten pelatih, dokter tim, penjaga gawang, dan pemain lainnya. Pembagian kerja ini efektif ka­rena jika hanya omponen kecil dari pekerjaan yg dilaksanakan, kualifikasi personalia yang rendah dipakai, serta latihan jabatan le­bih mudah. Gerakan-gerakan serta perpindahan yg percuma dari komponen pekerjaan yg akbar diminimumkan. Lebih dari itu, pem­bagian kerja mengarahkan penanaman dalam alat-alat dan mesin-me­sin yg efisien buat meningkatkan produktivitas. Tetapi demikian, beberapa penulis sudah memberitahuakn adanya konsekuensi-konsekuensi dalam perilaku karyawan sehubungan menggunakan pembagian kerja, bila hal itu dilaksanakan secara ekstrim. Ini bisa mengakibatkan kebosanan, keletihan, terus-menerus serta kehilangan motivasi yang bisa menghasilkan ketidak efisienan dan bukan efi­siensi.

Bagan Organisasi Formal
Struktur organisasi adalah terlalu kompleks untuk disajikan se­cara lisan. Manajer perlu mendeskripsikan bagan organisasi (organi­zation chart) buat memperlihatkan struktur organisasi. Bagan organi­sasi menunjukkan susunan fungsi-fungsi, departemen-departemen, atau posisi-posisi organisasi dan memperlihatkan bagaimana hubungan di antaranya. Satuan-satuan organisasi yg terpisah umumnya digam­barkan dalam kotak-kotak, di mana dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan garis yg memperlihatkan rantai perintah dan jalur komu­nikasi formal.

Bagan organisasi menggambarkan lima aspek primer suatu sturk­tur organisasi, yg secara ringkas dapat diuraikan menjadi berikut :
1. Pembagian kerja. Setiap kotak menunjukkan individu atau satu­an organisasi mana yg bertanggung jawab buat aktivitas or­ganisasi eksklusif, dan taraf spesialisasi yg dipakai.
2. Manajer dan bawahan atau rantai perintah. Rantai perintah me­nunjukkan interaksi kewenangan-tanggung jawab yang menghu­bungkan atasan dan bawahan dalam keseluruhan organisasi. Aliran ini dimulai menurut jenjang organisasi yg tertinggi sampai karyawan terendah dala.M organisasi, seperti terlihat pada gam­bar. Oleh karenanya, setiap anggota organisasi memiliki suatu kaitan menggunakan manajer- zenit organisasi. Dalam hal ini prinsip kesatuan perintah wajib jelas, di mana setiap karya­wan mendapat tugas serta pelimpahan wewenang hanya menurut se­orang manajer dan melaporkan pertanggung jawaban pula hanya kepada seorang manajer.
3. Tipe pekerjaan yg dilaksanakan. Label serta pelukisan dalam tiap kotak memperlihatkan pekerjaan organisasional atau Ndang tang­gung jawab yg tidak sama.
4. Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan. Keseluruhan bagan memberitahuakn atas dasar apa aktivitas-kegiatan organisasi dibagi dasar fungsional atau divisional, atau lainnya (departementali­sasi).
5. Tingkatan manajemen. Suatu bagan tidak hanya menerangkan manajer serta bawahan namun jua keseluruhan hirarki manaje­men. 

Seberapa luas tingkat spesialisasi kerja pada organisasi bisa pada perkirakan menggunakan membaca label-label yang memberitahuakn pekerjaan-pekerjaan yang tidak sama serta bagaimana tugas-tugas dikelompok, kan. Garis memberitahuakn rantai perintah yg merupakan aspek kun­ci koordinasi dalam setiap organisasi. Bagan jua dapat menerangkan besarnya (size) berdasarkan organisasi, namun tanpa informasi tambahan akan menimbulkan gambaran yang nir jelas.

Keuntungan serta kelemahan bagan organisasi telah menjadi su­byek perdebatan relatif lama pada antara para penulis manajemen. Sa­lah satu keuntungannya merupakan bahwa karyawan dan lain-lain diberi citra bagaimana organisasi disusun. Manajer, bawahan dan tanggung jawab digambarkan dengan jelas. Bila seseorang diperlukan un­tuk menangani suatu kasus spesifik, bagan memperlihatkan tempat pada mana orang itu dapat ditemukan. Proses pembuatan bagan juga me­mungkinkan manajer mengetahui menggunakan sempurna kelemahan-kelemahan organisasi, misalnya sumber-sumber potensial terjadinya permasalahan atau bidang-bidang di mana duplikasi yg nir diharapkan terjadi.

Kelemahan atau kekurangan utama bagan adalah masih poly hal-hal yang nir jelas atau tidak ditunjukkan. Bagan, sebagai con­toh, nir memperlihatkan seberapa akbar taraf wewenang serta tang­gung jawab setiap strata manajerial. Bagan pula tidak menunjuk­kan interaksi-hubungan informal serta saluran komunikasi, pada mana organisasi nir bisa berfungsi secara efisien tanpa hal-hal itu.

Bentuk-bentuk Bagan Organisasi
Hemy G. Hodges mengemukakan empat bentuk bagan organi­sasi, yaitu 
1. Bentuk piramid. Bentuk ini yang paling poly digunakan, ka­rena sederhana, jelas dan mudah dimengerti. 
2. Bentuk vertikal. Bentuk vertikal relatif menyerupai bentuk pi­ramid, yaitu pada hal pelimpahan kekuasaan dari atas  ba­wah, hanya bagan vertikal berwujud tegak sepenuhnya. 
3. Bentuk horizontal. Digambarkan dariakiri Aliran ke kanan. Jsatu Bentuk bulat. Bagan ini menekankan dalam hubungan antara abatan dengan jabatan lain. Bagan bentuk bulat sporadis sekali digunakan dalam praktek.


Departementalisasi
Departementalisasi sebagaimana sudah diterangkan pada muka, adalah proses penentuan bagian-bagian pada organisasi yg akan bertanggung jawab pada melaku­kan bermacam jenis pekerjaan yang sudah mengkategorikan dari faktor-faktor eksklusif. Dalam mendesain organisasi, khususnya dalam proses departementalisasi sebagaimana diuraikan pada muka, ada beberapa pendekatan yang mampu dipakai sang organisasi, yaitu pendekatan berdasarkan fungsional, menurut produk, dari Pelanggan, berdasarkan geografis, serta berdasarkan matriks.

Pendekatan Fungsional
Penentuan sub-subbagian menurut organisasi atau proses departementalisasi yang pertama adalah berdasarkan fungsi (functional departmentalization). Berdasarkan pen­dekatan ini, proses departementalisasi dilakukan dari fungsi-fungsi tertentu yg mesti dijalankan pada sebuah organisasi. Dalam sebuah organisasi usaha misalnya, ada pekerjaan-pekerjaan yang terkait menggunakan fungsi produksi, ada peketjaan-pekerjaan yg terkait menggunakan pelanggan atau pasar, sebagai akibatnya dinamakan menggunakan fungsi pemasaran, dan lain sebagainya. Pada Gambar  ditunjukkan contoh sebuah desain organisasi melalui departementalisasi yang dibuat dari pendekatan fungsional.


Seperti yang ditunjukkan oleh garis terputus-putus pada Gambar di atas, setiap bagian pada struktur organisasi dibuat buat menjalankan aneka macam fungsi yg terkait dengan aktivitas usaha perusahaan PT ABC. Bagian Keuangan, Produksi, Pemasaran, dan SDM memiliki fungsi yang spesial pada setiap pekerjaan bisnisnya. Dan, setiap bagian tersebut secara lebili rinci diturunkan menjadi subbagian promosi dan penjualan (bagian Pemasaran), produksi serta pergudangan (bagian Produksi), dan rekrutmen serta seleksi serta pembinaan serta pengembangan (bagian SDM).

Pendekatan Produk
Pendekatan kedua pada departementalisasi merupakan dari produk atau product departmentalization. Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian pada organisasi dipengaruhi menurut jenis produk yg dibentuk sang organisasi. Sebagai model, PT ABC mempunyai beberapa jenis produk menurut mulai produk susu, sabun mandi, pasta gigi, hingga mi instan, maka di bawah bagian produksi dapat pula dibuat subbagian.

Bagian-bagian produk susu, sabun mandi, pasta gigi, serta mi instan, misalnya ditunjuk­kan dalam Gambar melalui garis putus-putus, adalah contoh departementalisasi menurut produk. Pada pelaksanaannya, departementalisasi dari produk ini tidak selalu harus berada di bawah bagian eksklusif pada struktur organisasi eksklusif, akan namun jua dapat dibuat tersendiri pada suatu organisasi. Seperti contohnya ditunjukkan dalam Gambar dibawah.

Pada Gambar diatas tadi kentara bahwa bagian-bagian fungsional misalnya Pemasaran, Produksi, Keuangan, serta SDM nir selalu wajib berada pada atas subbagian berdasarkan produk, akan tetapi pula bisa sebagai subbagian dari departemen menurut produk.

Pendekatan Pelanggan
Pendekatan ketiga dalam departementalisasi adalah menurut pelanggan atau customer departmentalization. Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian dalam organisasi ditentukan dari karakteristik pelanggan yg menjadi sasaran pelanggan berdasarkan organisasi. Sebagai contoh, apabila produk sabun mandi berdasarkan PT ABC pada atas ternyata tidak hanya satu, namun ada saburi mandi buat bayi, anak, remaja, dan dewasa, maka bentuk desain organisasi bisa dibuat sebagaimana ditunjukkan pada Gambar ini dia. 

Pendekatan Geografis
Pendekatan keempat pada departementalisasi adalah berdasarkan faktor geografis. Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian dalam organisasi dipengaruhi berdasarkan daerah geografis pada mana organisasi beroperasi. Apabila PT ABC memiliki daerah penjualan pada empat daerah, contohnya Jakarta, Bandung, Makassar,, dan Medan, maka desain organisasi yang dapat dibentuk merupakan sebagaimana ditunjukkan sang Gambar berikut:

Berdasarkan Gambar pada atas, tampak bahwa daerah penjualan dari PT ABC mencakup empat wilayah sebagaimana disebutkan di atas. Agar penjualan lebih bisa terkonsentrasi serta disebabkan karakteristik pelanggan serta lingkungan di daerah geografis bhineka, maka departementalisasi dari geografis sanggup dilakukan. Pendekatan ini nir saja dilakukan buat menentukan bagian atau departemen di bawah bagian penjualan, tetapi jua bisa dilakukan dalam aneka macam jenis organisasi lainnya. Organisasi yang memiliki berbagai cabang pada aneka macam wilayah umumnya melaku­kan desain organisasi berdasarkan pendekatan ini. Perusahaan perbankan pula termasuk ke dalam organisasi yang melakukan departementalisasi berdasarkan geografis dikarena­kan perusahaan perbankan mengandalkan tempat kerja-kantor cabangnya dalam meraih pangsa pasarnya.

Pendekatan Matriks
Pendekatan departementalisasi terakhir yg diperkenalkan pada kitab ini adalah pendekatan matriks. Pendekatan ini pada dasarnya adalah proses departementalisasi yg menggabungkan antara pendekatan fungsional dengan pendekatan lain, contohnya berdasarkan proyek tertentu, produk tertentu, ataupun menurut pendekatan lainnya. Setiap pekerja yg berada pada bawah departemen tertentu dalam kenyataannya jua merupakan bagian dari sebuah proyek tertentu atau bagian pekerjaan yang lain berdasarkan perusahaan. Jika kita balik memakai model PT ABC tersebut pada atas, serta melakukan penyesuaian desain organisasinya menjadi bentuk matriks, maka desain organisasi yang dapat dibuat merupakan misalnya ditunjukkan dalam Gambar dibawah berikut adalah.

Berdasarkan Gambar diketahui bahwa PT ABC memiliki struktur organisasi fungsional pada mana di dalamnya masih ada berdasarkan mulai bagian Keuangan, Pemasaran, SDM, serta Riset serta Pengembangan. Masing-masing bagian tadi dikepalai sang seseorang manajer. Selain keempat fungsi tadi, terdapat juga fungsi profit berdasarkan PT ABC yaitu yg terkait dengan usaha yg dijalankan PT ABC buat memperoleh profit yang terdiri berdasarkan produk susu, sabun mandi, pasta gigi, dan mi instan. Masing-masing profit project ini memiliki pengaturan keuangan eksklusif; SDM eksklusif yang dipekerja­kan, Pemasaran eksklusif, serta jua Riser serta Pengembangan eksklusif. Setiap pekerjaan ini mensyaratkan adanya energi kerja yang dipekerjakan. Berdasarkan pendekatan matriks, tenaga kerja selain contohnya ditugaskan pada bawah sebuah departemen eksklusif seperti Pemasaran, SDM, serta lain sebagainya, jua merupakan bagian berdasarkan aktivitas peraihan profit atau profit project.

Irisan kedua bagian ini digambarkan melalui lingkaran atau bentuk lonjong menjadi­mana ditunjukkan sang Gambar  Berdasarkan pendekatan ini energi kerja nir saja bertanggung jawab dan berkoordinasi pada atasan fungsionalnya saja, tetapi juga kepada pimpinan proyek pada mana tenaga tadi terlibat.

Pendekatan Mana yang Lebih Baik?
Setiap pendekatan tentunya mempunyai aneka macam kelebihan sekaligus keterbatasan­nya. Pendekatan fungsional contohnya, memberikan kemudahan bagi organisasi buat membagi-bagi pekerjaan dari fungsi-fungsi yang harus dilakukan dalam organisasi bisnis. Namun pada sisi lain, pendekatan fungsional relatif menyulitkan organisasi waktu misalnya terdapat perbedaan kepentingan antarbagian yg tidak sama. Bagian Pemasaran yg bermaksud buat menaikkan biaya kenaikan pangkat misalnya bisa pertarungan menggunakan bagian Keuangan, atau jua menggunakan bagian SDM yang menerima tuntutan pegawai buat kenaikan honor . Kelemahan menurut pendekatan fungsional ini bisa diselesai­kan menggunakan pendekatan produk contohnya. Di setiap produk misalnya masih ada berbagai subbagian fungsional seperti Pemasaran, Produksi, dan lain-lain yg menggunakan demikian perseteruan antarbagian bisa dihindari. Tetapi, pendekatan ini pula belum tentu sesuai waktu contohnya organisasi memiliki cabang-cabang di berbagai daerah, atau organisasi tadi bukan berupa organisasi usaha. Bagi organisasi nonprofit contohnya, pendekatan berdasarkan produk belum tentu cocok, dan cenderung justru tidak efektif.

Sebagai kesimpulan setiap pendekatan memiliki keterbatasan sekaligus kelebihan­nya. Oleh karenanya penggunaannya jua sangat situasional menggunakan berbagai faktor yang dimiliki serta dihadapi oleh organisasi.

Struktur Organisasi Formal Dan Informal
Apa yang telah dibicarakan dalam bab ini merupakan bagaimana organisasi melakukan proses pengorganisasian yang diawali dengan penyusunan desain organisasi menurut banyak sekali faktor yg dimiliki serta dihadapi sang organisasi. Struktur organisasi yang didapatkan melalui keseluruhan proses tadi kerap dikenal menjadi struktur organisasi formal. Struktur organisasi formal inilah yg dijadikan pedoman bagi seluruh anggota organisasi buat melakukan banyak sekali hal dalam upaya pencapaian tujuan. Dalam kenyataannya, beberapa bagian atau para pekerja seringkali kali mengelompokkan diri nir hanya menurut fungsi yg harus dilaksanakannya sinkron menggunakan struktur organisasi yang telah dibuat, akan tetapi pula bisa mengelompokkan diri dari kecenderungan tuntutan, hobi, dan lain sebagainya. Kelompok-grup pekerja ini acapkali kali dinamakan menggunakan organisasi informal. Seorang manajer yang baik akan tetap memerhatikan dan mengakomodasi aneka macam karakteristik pekerjanya termasuk dengan adanya fenomena organisasi informal tadi. Dalam kondisi eksklusif, organisasi informal tersebut bisa membantu manajer dalam mencapai tujuan organisasi. Tetapi, jika tuntutan organisasi informal ternyata tidak diakomodasi dengan baik, organisasi informal ini akan menyebabkan perseteruan internal yang akan Mengganggu pencapaian tujuan organisasi.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERKAIT DESAIN ORGANISASI

Pengambilan Keputusan Terkait Desain Organisasi
"Organisasi" memiliki 2 pengertian generik. Pengertian pertama menandakan suatu lembaga atau grup fungsional, se­perti organisasi perusahaan, rumah sakit, perwakilan pemerintah atau suatu perkumpulan olahraga. Pengertian kedua berkenaan menggunakan proses pengorganisasian, sebagai suatu cara pada mana aktivitas or­ganisasi pada alokasikan serta ditugaskan di antara para anggotanya supaya tujuan organisasi dapat tercapai menggunakan efisien. Dalam bab ini akan dibahas bermacam-macam aspek proses pengorganisasian.

Pengorganisasian (organizing) merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, asal daya­asal daya yg dimilikinya, dan lingkungan yg melingkupinya. Dua aspek utama proses penyusunan struktur organisasi merupakan de­Partementalisasi serta pembagian kerja. Departementalisasi merupakan pengelompokan kegiatan-aktivitas kerja suatu organisasi supaya kegiat­an-kegiatFin yang sejenis dan saling berhubungan dapat dikerjakan beserta. Hal ini akan tercermin dalam struktur formal suatu organisa­si, serta tampak atau ditunjukkan oleh suatu bagan organisasi. Pemba­gian kerja merupakan pemerincian tugas pekerjaan agar setiap individu da­lam organisasi bertanggung jawab buat dap melaksanakan sekum­pulan aktivitas yg terbatas. 

Pengertian Pengorganisasian
  • Istilah pengorganisasian memiliki beragam. Penger­tian. Istilah tersebut dapat digunakan buat menampakan hal-hal berikut ini
  • Cara manajemen merancang struktur formal buat pengguna­an yang paling efektif asal daya-asal daya keuangan, phisik, bahan baku, dan energi kerja organisasi. 
  • Bagaimana organisasi mengelompokkan kegiatan-kegiatannya, di mana setiap pengelompokan diikuti menggunakan penugasan seorang manajer yang diberi kewenangan buat mengawasi anggota-ang­gota gerombolan . 
  • Hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan jabatan, tu­gas-tugas dan para karyawan. 
  • Cara pada mana para manajer membagi lebih lanjut tugas-tugas yang wajib dilaksanakan pada departemen mereka dan mende­legasikan kewenangan yg diharapkan buat mengerjakan tugas tersebut. 
Pengorganisasian merupakan suatu proses buat merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur dan membagi tugas-tugas atau pekerjaan pada antara para anggota organisasi, agar tu­uan organisasi dapat dicapai menggunakan efisien. Proses pengorganisasi dapat ditunjukkan menggunakan 3 langkah prosedur berikut ini :
  • Pemerincian semua pekerjaan yang harus dilaksanakan buat mencapai tujuan organisasi. 
  • Pembagian beban pekerjaan total sebagai kegiatan-kegiatan yang secara logik dapat dilaksanakan oleh satu orang. Pemba­gian kerja sebaiknya tidak terlalu berat sebagai akibatnya nir bisa di­selesaikan, atau terlalu ringan sehingga ada waktu menganggur, tidak efisien dan terjadi biaya yang nir perlu. 
  • Pengadaan serta pengembangan suatu mekanisme buat meng­koordinasikan pekerjaan para anggota organisasi sebagai kesatu­an yang terpadu serta serasi. Mekanisme pengkoordinasian ini akan membuat para anggota organisasi menjaga perhatiannya pada tujuan organisasi dan mengurangi ketidak-eEisienan dan permasalahan-permasalahan yang Mengganggu. 
Pelaksanaan proses pengorganisasian yg sukses, akan mem­untuk suatu organisasi dapat mencapai tujuannya. Proses ini akan ter­cermin pada struktur organisasi, yang mencakup aspek-aspek krusial organisasi dan proses pengorganisasian, yaitu : 
1) pembagian kerja, 
2) departementalisasi (atau seringkali diklaim dengan istilah iepartemen­tasi), 
3) bagan organisasi formal, 
4) rantai perintah dan kesatuan perintah, 
5) tingkat-taraf hirarki manajemen, 
6) saluran komu­nikasi, 
7) penggunaan komite, 
8) rentang manajemen serta kelom­pok-grup informal yg tidak dapat dihindarkan.

Struktur Organisasi
Struktur organisasi (disain organisasi) dapat didefinisikan seba­gai mekanisme-prosedur formal menggunakan mana organisasi dikelola. Struktur organisasi memberitahuakn kerangka serta susunan perwujudan pola permanen interaksi-interaksi di antara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, juga orang-orang yang memperlihatkan keduduk­an, tugas wewenang serta tanggung jawab yg tidak sinkron-Deda pada suatu organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standardisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi pada pembuatan keputusan dan besaran (berukuran) satuan kerja.

Adapun faktor-faktor primer yang menentukan perancangan struktur organisasi merupakan menjadi berikut
1. Strategi organisasi buat mencapai tujuannya. Chandler 2) te­lah menjelaskan hubungan strategi dan struktur organisasi da­lam studinya pada perusahaan-perusahaan industri pada Amerika.
2. Dia dalam dasarnya menyimpulkan bahwa "struktur mengikuti strategi". Strategi akan menjelaskan bagaimana genre wewe­nang serta saluran komunikasi dapat disusun di antara para mana­jer dan bawahan. Aliran kerja sangat ditentukan taktik, se­hingga jika taktik berubah maka struktur organisasi juga ber­ubah.
3. Teknologi yg dipakai. Perbedaan teknologi yang dipakai buat menghasilkan barang barang atau jasa akan membedakan bentuk struktur organisasi. Sebagai contoh, perusahaan kendaraan beroda empat yg mempergunakan teknologi industri masal akan memerlu= kan taraf standardisasi dan spesialisasi yg lebih tinggi diban­ding perusahaan industri sandang jadi yang mengutamakan per­ubahan mode.
4. Anggota (karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam orga­nisasi. Kemampuan dan cara berpikir para anggota, serta kebu­tuhan mereka buat bekerjasama harus diperhatikan pada me­rancang struktur organisasi. Kebutuhan manajer pada pem­buatan keputusan pula akan menghipnotis saluran komunika­si, wewenang serta hubungan di antara satuan-satuan kerja dalam rancangan struktur organisasi. Di samping itu, orang-orang pada luar organisasi, misalnya pelanggan, supplier, dan sebagainya perlu dipertimbangkan pada penyusunan struktur.
5. Ukuran organisasi. Besarnya organisasi secara holistik mau­pun satuan-satuan kerjanya akan sangat menghipnotis struktur organisasi. Semakin akbar berukuran organisasi, struktur organisasi akan semakin kompleks, dan harus dipilih bentuk struktur yang sempurna.

Sedangkan unsur-unsur struktur organisasi terdiri dari :
1. Spesialisasi aktivitas berkenaan menggunakan spesifikasi tugas-tugas individual serta grup kerja dalam organisasi (pembagian kerja) dan penyatuan tugas-tugas tersebut menjadi satuan-satu­an kerja (departementalisasi).
2. Standardisasi kegiatan, merupakan mekanisme-prosedui yang digu­nakan organisasi buat menjamin" terlaksananya kegiatan seper­ti yg direncanakan.
3. Koordinasi kegiatan, memperlihatkan prosedur-mekanisme yang mengintegrasikan fungsi-fungsi satuan-satuan kerja pada orga­nisasi.
4. Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusapt, yang me­nunjukkan lokasi (letak) kekuasaan pembuatan keputusan.
5. Ukuran satuan kerja menerangkan jumlah karyawan dalam sua­tu grup kerja. 3 )

Pembagian Kerja
Tujuan suatu organisasi adalah buat mencapai tujuan pada mana individu-individu nir dapat mencapainya sendiri. Kelompok 2 atau lebih orang yang bekerja beserta secara kooperatif serta dikoor­dinasikan dapat mencapai basil lebih daripada dilakukan perseorang­an. Konsep ini dianggap synergy. Tiang dasar pengorganisisian merupakan prinsip pembagian kerja (division of labor) yg memurigkinkan sy­nergy terjadi.

Sebagai model, pembagian kerja dalam team sepak bola : pada mana ada manajer tim, kepala instruktur, asisten instruktur, dokter tim, penjaga gawang, serta pemain lainnya. Pembagian kerja ini efektif ka­rena apabila hanya omponen kecil berdasarkan pekerjaan yang dilaksanakan, kualifikasi personalia yg rendah dipakai, dan latihan jabatan le­bih gampang. Gerakan-gerakan serta perpindahan yg percuma dari komponen pekerjaan yg akbar diminimumkan. Lebih menurut itu, pem­bagian kerja mengarahkan penanaman pada alat-alat serta mesin-me­sin yang efisien buat menaikkan produktivitas. Namun demikian, beberapa penulis telah menunjukkan adanya konsekuensi-konsekuensi pada konduite karyawan sehubungan dengan pembagian kerja, jika hal itu dilaksanakan secara ekstrim. Ini bisa mengakibatkan kebosanan, keletihan, terus-menerus dan kehilangan motivasi yang dapat membentuk ketidak efisienan serta bukan efi­siensi.

Bagan Organisasi Formal
Struktur organisasi merupakan terlalu kompleks buat tersaji se­cara verbal. Manajer perlu menggambarkan bagan organisasi (organi­zation chart) buat menampakan struktur organisasi. Bagan organi­sasi menerangkan susunan fungsi-fungsi, departemen-departemen, atau posisi-posisi organisasi serta menerangkan bagaimana hubungan pada antaranya. Satuan-satuan organisasi yg terpisah umumnya digam­barkan pada kotak-kotak, di mana dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan garis yang menunjukkan rantai perintah dan jalur komu­nikasi formal.

Bagan organisasi menggambarkan lima aspek primer suatu sturk­tur organisasi, yang secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pembagian kerja. Setiap kotak menampakan individu atau satu­an organisasi mana yang bertanggung jawab untuk aktivitas or­ganisasi tertentu, dan taraf spesialisasi yang digunakan.
2. Manajer dan bawahan atau rantai perintah. Rantai perintah me­nunjukkan hubungan kewenangan-tanggung jawab yang menghu­bungkan atasan serta bawahan pada holistik organisasi. Aliran ini dimulai menurut jenjang organisasi yg tertinggi sampai karyawan terendah dala.M organisasi, misalnya terlihat pada gam­bar. Oleh karena itu, setiap anggota organisasi memiliki suatu kaitan menggunakan manajer- zenit organisasi. Dalam hal ini prinsip kesatuan perintah wajib kentara, pada mana setiap karya­wan menerima tugas dan pelimpahan wewenang hanya dari se­orang manajer dan melaporkan pertanggung jawaban pula hanya kepada seseorang manajer.
3. Tipe pekerjaan yang dilaksanakan. Label dan pelukisan pada tiap kotak menunjukkan pekerjaan organisasional atau Ndang tang­gung jawab yg tidak selaras.
4. Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan. Keseluruhan bagan menerangkan atas dasar apa aktivitas-kegiatan organisasi dibagi dasar fungsional atau divisional, atau lainnya (departementali­sasi).
5. Tingkatan manajemen. Suatu bagan tidak hanya menunjukkan manajer serta bawahan namun jua keseluruhan hirarki manaje­men. 

Seberapa luas taraf spesialisasi kerja pada organisasi bisa pada perkirakan dengan membaca label-label yang menampakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak sama serta bagaimana tugas-tugas dikelompok, kan. Garis menampakan rantai perintah yang merupakan aspek kun­ci koordinasi pada setiap organisasi. Bagan juga dapat menunjukkan besarnya (size) berdasarkan organisasi, tetapi tanpa berita tambahan akan menimbulkan gambaran yang tidak jelas.

Keuntungan serta kelemahan bagan organisasi telah menjadi su­byek perdebatan relatif usang pada antara para penulis manajemen. Sa­lah satu keuntungannya adalah bahwa karyawan serta lain-lain diberi citra bagaimana organisasi disusun. Manajer, bawahan dan tanggung jawab digambarkan dengan kentara. Bila seseorang diharapkan un­tuk menangani suatu perkara khusus, bagan menampakan tempat di mana orang itu bisa ditemukan. Proses pembuatan bagan pula me­mungkinkan manajer mengetahui dengan tepat kelemahan-kelemahan organisasi, seperti sumber-asal potensial terjadinya perseteruan atau bidang-bidang pada mana duplikasi yg nir diharapkan terjadi.

Kelemahan atau kekurangan primer bagan merupakan masih banyak hal-hal yang nir jelas atau tidak ditunjukkan. Bagan, sebagai con­toh, tidak memperlihatkan seberapa akbar taraf wewenang serta tang­gung jawab setiap tingkatan manajerial. Bagan jua nir memilih­kan interaksi-interaksi informal serta saluran komunikasi, pada mana organisasi nir dapat berfungsi secara efisien tanpa hal-hal itu.

Bentuk-bentuk Bagan Organisasi
Hemy G. Hodges mengemukakan empat bentuk bagan organi­sasi, yaitu 
1. Bentuk piramid. Bentuk ini yang paling poly dipakai, ka­rena sederhana, kentara dan gampang dimengerti. 
2. Bentuk vertikal. Bentuk vertikal relatif menyerupai bentuk pi­ramid, yaitu pada hal pelimpahan kekuasaan menurut atas  ba­wah, hanya bagan vertikal berwujud tegak sepenuhnya. 
3. Bentuk horizontal. Digambarkan dariakiri Aliran ke kanan. Jsatu Bentuk bundar. Bagan ini menekankan pada hubungan antara abatan dengan jabatan lain. Bagan bentuk bundar sporadis sekali digunakan dalam praktek.


Departementalisasi
Departementalisasi sebagaimana sudah diterangkan pada muka, adalah proses penentuan bagian-bagian dalam organisasi yg akan bertanggung jawab dalam melaku­kan bermacam jenis pekerjaan yang sudah dikategorikan dari faktor-faktor tertentu. Dalam mendesain organisasi, khususnya pada proses departementalisasi sebagaimana diuraikan pada muka, terdapat beberapa pendekatan yg bisa digunakan sang organisasi, yaitu pendekatan menurut fungsional, menurut produk, menurut Pelanggan, dari geografis, dan menurut matriks.

Pendekatan Fungsional
Penentuan sub-subbagian menurut organisasi atau proses departementalisasi yg pertama adalah berdasarkan fungsi (functional departmentalization). Berdasarkan pen­dekatan ini, proses departementalisasi dilakukan menurut fungsi-fungsi tertentu yg mesti dijalankan pada sebuah organisasi. Dalam sebuah organisasi bisnis contohnya, ada pekerjaan-pekerjaan yg terkait dengan fungsi produksi, ada peketjaan-pekerjaan yang terkait menggunakan pelanggan atau pasar, sehingga dinamakan menggunakan fungsi pemasaran, serta lain sebagainya. Pada Gambar  ditunjukkan model sebuah desain organisasi melalui departementalisasi yg dibuat menurut pendekatan fungsional.


Seperti yg ditunjukkan oleh garis terputus-putus pada Gambar di atas, setiap bagian dalam struktur organisasi dibentuk buat menjalankan aneka macam fungsi yg terkait dengan aktivitas usaha perusahaan PT ABC. Bagian Keuangan, Produksi, Pemasaran, dan SDM memiliki fungsi yang spesial pada setiap pekerjaan bisnisnya. Dan, setiap bagian tadi secara lebili rinci diturunkan menjadi subbagian kenaikan pangkat dan penjualan (bagian Pemasaran), produksi serta pergudangan (bagian Produksi), dan rekrutmen serta seleksi dan pembinaan dan pengembangan (bagian SDM).

Pendekatan Produk
Pendekatan ke 2 dalam departementalisasi adalah menurut produk atau product departmentalization. Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian pada organisasi ditentukan berdasarkan jenis produk yg dibentuk sang organisasi. Sebagai model, PT ABC mempunyai beberapa jenis produk dari mulai produk susu, sabun mandi, pasta gigi, sampai mi instan, maka pada bawah bagian produksi dapat pula dibentuk subbagian.

Bagian-bagian produk susu, sabun mandi, pasta gigi, dan mi instan, misalnya ditunjuk­kan dalam Gambar melalui garis putus-putus, adalah contoh departementalisasi berdasarkan produk. Pada pelaksanaannya, departementalisasi menurut produk ini tidak selalu wajib berada pada bawah bagian tertentu pada struktur organisasi eksklusif, akan tetapi pula bisa dibuat tersendiri pada suatu organisasi. Seperti misalnya ditunjukkan pada Gambar dibawah.

Pada Gambar diatas tadi jelas bahwa bagian-bagian fungsional misalnya Pemasaran, Produksi, Keuangan, serta SDM nir selalu harus berada di atas subbagian menurut produk, akan namun juga bisa sebagai subbagian menurut departemen dari produk.

Pendekatan Pelanggan
Pendekatan ketiga pada departementalisasi adalah menurut pelanggan atau customer departmentalization. Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian dalam organisasi ditentukan dari karakteristik pelanggan yang sebagai sasaran pelanggan berdasarkan organisasi. Sebagai contoh, apabila produk sabun mandi berdasarkan PT ABC pada atas ternyata nir hanya satu, tetapi terdapat saburi mandi buat bayi, anak, remaja, dan dewasa, maka bentuk desain organisasi dapat dibuat sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar berikut adalah. 

Pendekatan Geografis
Pendekatan keempat pada departementalisasi adalah menurut faktor geografis. Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian pada organisasi ditentukan berdasarkan wilayah geografis di mana organisasi beroperasi. Jika PT ABC memiliki wilayah penjualan pada empat wilayah, misalnya Jakarta, Bandung, Makassar,, serta Medan, maka desain organisasi yg bisa dibentuk adalah sebagaimana ditunjukkan sang Gambar berikut:

Berdasarkan Gambar pada atas, tampak bahwa daerah penjualan dari PT ABC mencakup empat daerah sebagaimana disebutkan di atas. Agar penjualan lebih dapat terkonsentrasi dan disebabkan karakteristik pelanggan serta lingkungan di daerah geografis bhineka, maka departementalisasi dari geografis bisa dilakukan. Pendekatan ini tidak saja dilakukan buat menentukan bagian atau departemen di bawah bagian penjualan, tetapi juga bisa dilakukan dalam aneka macam jenis organisasi lainnya. Organisasi yang memiliki aneka macam cabang di berbagai daerah umumnya melaku­kan desain organisasi dari pendekatan ini. Perusahaan perbankan juga termasuk ke dalam organisasi yang melakukan departementalisasi dari geografis dikarena­kan perusahaan perbankan mengandalkan kantor-tempat kerja cabangnya pada meraih pangsa pasarnya.

Pendekatan Matriks
Pendekatan departementalisasi terakhir yg diperkenalkan dalam kitab ini merupakan pendekatan matriks. Pendekatan ini dalam dasarnya merupakan proses departementalisasi yg menggabungkan antara pendekatan fungsional dengan pendekatan lain, contohnya berdasarkan proyek tertentu, produk tertentu, ataupun dari pendekatan lainnya. Setiap pekerja yang berada pada bawah departemen tertentu dalam kenyataannya jua merupakan bagian berdasarkan sebuah proyek tertentu atau bagian pekerjaan yg lain berdasarkan perusahaan. Apabila kita kembali menggunakan model PT ABC tersebut di atas, dan melakukan penyesuaian desain organisasinya sebagai bentuk matriks, maka desain organisasi yang dapat dibentuk adalah misalnya ditunjukkan pada Gambar dibawah berikut adalah.

Berdasarkan Gambar diketahui bahwa PT ABC memiliki struktur organisasi fungsional di mana di dalamnya masih ada menurut mulai bagian Keuangan, Pemasaran, SDM, serta Riset dan Pengembangan. Masing-masing bagian tadi dikepalai oleh seorang manajer. Selain keempat fungsi tersebut, terdapat juga fungsi profit menurut PT ABC yaitu yang terkait menggunakan usaha yg dijalankan PT ABC buat memperoleh profit yg terdiri berdasarkan produk susu, sabun mandi, pasta gigi, serta mi instan. Masing-masing profit project ini memiliki pengaturan keuangan tertentu; SDM eksklusif yang dipekerja­kan, Pemasaran eksklusif, dan juga Riser dan Pengembangan tertentu. Setiap pekerjaan ini mensyaratkan adanya tenaga kerja yang dipekerjakan. Berdasarkan pendekatan matriks, energi kerja selain misalnya ditugaskan pada bawah sebuah departemen eksklusif seperti Pemasaran, SDM, dan lain sebagainya, juga merupakan bagian berdasarkan kegiatan peraihan profit atau profit project.

Irisan kedua bagian ini digambarkan melalui bulat atau bentuk oval sebagai­mana ditunjukkan sang Gambar  Berdasarkan pendekatan ini tenaga kerja nir saja bertanggung jawab serta berkoordinasi pada atasan fungsionalnya saja, namun pula pada pimpinan proyek di mana tenaga tersebut terlibat.

Pendekatan Mana yang Lebih Baik?
Setiap pendekatan tentunya mempunyai banyak sekali kelebihan sekaligus keterbatasan­nya. Pendekatan fungsional contohnya, menaruh kemudahan bagi organisasi buat membagi-bagi pekerjaan dari fungsi-fungsi yang wajib dilakukan dalam organisasi usaha. Namun di sisi lain, pendekatan fungsional relatif menyulitkan organisasi ketika contohnya masih ada disparitas kepentingan antarbagian yg tidak sama. Bagian Pemasaran yang bermaksud buat menaikkan biaya promosi contohnya dapat pertarungan menggunakan bagian Keuangan, atau juga dengan bagian SDM yang menerima tuntutan pegawai buat kenaikan honor . Kelemahan berdasarkan pendekatan fungsional ini sanggup diselesai­kan menggunakan pendekatan produk misalnya. Di setiap produk misalnya masih ada berbagai subbagian fungsional seperti Pemasaran, Produksi, serta lain-lain yg dengan demikian pertarungan antarbagian dapat dihindari. Namun, pendekatan ini jua belum tentu sinkron waktu contohnya organisasi mempunyai cabang-cabang di aneka macam daerah, atau organisasi tadi bukan berupa organisasi bisnis. Bagi organisasi nonprofit contohnya, pendekatan berdasarkan produk belum tentu cocok, serta cenderung justru tidak efektif.

Sebagai konklusi setiap pendekatan memiliki keterbatasan sekaligus kelebihan­nya. Oleh karena itu penggunaannya jua sangat situasional dengan banyak sekali faktor yg dimiliki dan dihadapi sang organisasi.

Struktur Organisasi Formal Dan Informal
Apa yg sudah dibicarakan pada bab ini adalah bagaimana organisasi melakukan proses pengorganisasian yg diawali dengan penyusunan desain organisasi berdasarkan banyak sekali faktor yg dimiliki dan dihadapi sang organisasi. Struktur organisasi yg didapatkan melalui keseluruhan proses tadi kerap dikenal menjadi struktur organisasi formal. Struktur organisasi formal inilah yang dijadikan pedoman bagi semua anggota organisasi buat melakukan berbagai hal pada upaya pencapaian tujuan. Dalam kenyataannya, beberapa bagian atau para pekerja tak jarang kali mengelompokkan diri nir hanya berdasarkan fungsi yang harus dilaksanakannya sinkron dengan struktur organisasi yg telah dibentuk, akan tetapi pula dapat mengelompokkan diri menurut kesamaan tuntutan, hobi, dan lain sebagainya. Kelompok-gerombolan pekerja ini acapkali kali dinamakan dengan organisasi informal. Seorang manajer yg baik akan permanen memerhatikan serta mengakomodasi berbagai karakteristik pekerjanya termasuk menggunakan adanya fenomena organisasi informal tersebut. Dalam kondisi eksklusif, organisasi informal tersebut dapat membantu manajer pada mencapai tujuan organisasi. Tetapi, apabila tuntutan organisasi informal ternyata nir diakomodasi menggunakan baik, organisasi informal ini akan mengakibatkan konflik internal yg akan Mengganggu pencapaian tujuan organisasi.