SENI PERTUNJUKAN DI INDONESIA

Warga belajar--sekalian, dalam pembelajaran Bahasa serta Sastra Indonesia yg kemudian kita sudah membahas tentang Drama sebagai keliru satu seni pertunjukan, tentunya kita perlu tahu dan mendalami apa yg dimaksud dengan seni pertunjukan tadi?. Seni pertunjukan, pada Bahasa Inggris "performance art" adalah karya yg melibatkan aksi individu atau kelompok di loka dan ketika eksklusif. Seni pertunjukan biasanya melibatkan empat unsur waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan artis menggunakan penonton.
Dalam seni pertunjukan termasuk di dalamnya kegiatan-aktivitas seni mainstream misalnya teater, tari, musik, dan sirkus, tapi umumnya aktivitas-kegiatan seni tersebut dalam umumnya lebih dikenal menggunakan istilah seni pertunjukan (performing art). Seni performance merupakan istilah yang umumnya mengacu dalam seni konseptual atau avant garde yg tumbuh menurut seni rupa.
Jenis seni pertunjukan, antara lain :
1. Seni akrobat,
2. Komedi/lawak
3. Tari (sendra tari)
4. Pentas Musik
5. Opera, yaitu sebuah bentuk seni, dari pentasan anjung dramatis sampai pentasan musik.
6. Teater
7. Film serta lain-lain.
Di Indonesia terdapat beberapa bentuk seni pertunjukan yg bersumber berdasarkan seni pertunjukan daerah-wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia.  Contoh seni pertunjukan yg dianggap jua pertunjukan tradisional atau teater tradisi itu seperti di bawah ini :
1. Mamanda
Mamanda merupakan seni pertunjukan warga yang dari menurut wilayah Kalimantan Selatan. Mamanda yg sekarang pada sebut teater Mamanda dari berdasarkan kesenian masyarakat yang jaman dahulu seringkali dimainkan berdasarkan kampung - kekampung pada daerah Kalimantan Selatan ini. Mamanda beranda asal dari istilah "Maman" dan "nda"  (paman dan saya). Dibanding menggunakan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong menurut segi hubungan yang terjalin antara pemain menggunakan penonton. Interaksi ini menciptakan penonton sebagai aktif mengungkapkan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat menciptakan suasana jadi lebih hidup. Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang terus-menerus pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan merupakan tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan ke 2, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri serta Sandut (Putri).  Tokoh-tokoh ini harus terdapat dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda tak jarang pula ditambah menggunakan tokoh-tokoh lain misalnya Raja berdasarkan Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita. Contoh Naskah Mamanda.
2. Tembang Cianjuran
Tembang Cianjuran yg asal berdasarkan Cianjur ini dahulunya bernama kesenian mamaos. Dinamakan tembang Sunda Cianjuran dari tahun 1930-an serta dikukuhkan tahun 1962 waktu diadakan Musyawarah Tembang se-Pasundan di Bandung. Seni Mamaos merupakan seni vokal Sunda dengan indera musik kacapi indung, kacapi rincik, suling, dan atau rebab.
Pada awalnya, Cianjuran adalah revitalisasi menurut seni Pantun. Kacapi dan teknik memainkannya masih kentara dari seni Pantun. Begitu jua lagu-lagunya hampir semuanya berdasarkan sajian seni Pantun. Rumpaka lagunya pun merogoh menurut cerita Pantun Mundinglaya Dikusumah.
3. Wayang
Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa serta Bali. Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang menggunakan menggunakan busana , yg dikenal menjadi wayang orang, dan terdapat pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan sang dalang. Wayang yg dimainkan dalang ini antara lain berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yg dikisahkan dalam pagelaran wayang umumnya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
4. Dramatari Calonarang
Pertunjukan yg dari berdasarkan Bali ini merupakan tari yg menampilkan tokoh Barong (melambangkan kekuatan baik atau magi putih serta Rangda (kekuatan tidak baik atau magi hitam). Tari ini bertujuan buat memulihkan balik keseimbangan antara 2 kekuatan yang tidak sinkron agar semua desa mendapatkan ketentraman.
Pertunjukan yang dibawakan hingga malan hari ini banyak mengundang minat wisatawan khususnya wisatawan asing. Selain karena ceritanya yg mengandung unsur-unsur magis, pertunjukan ini dikemas dalam setting yang apik serta dilakukan di pura (tempat kudus bagi umat Hindu).
5. Reog Ponorogo
Reog Ponorogo adalah bentuk teater populer pada gerombolan drama tari yg asal berdasarkan Ponorogo, Jawa Timur. Pertunjukan ini sering ditampilkan pada berbagai program krusial, sepertin pernikahan, khitanan, serta peringatan hari-hari penting lainnya.
Reog Ponorogo adalah upacara meminta proteksi dalam kekuatan gaib setempat. Singa serta merak yang poly masih ada pada hutan-hutan ponorogo, dianggap menjadi penjelmaan kekuatan tersebut. Menurut cerita, semakin lama unsur binatang semakin terpisah dan upacara, dan dalam abad ke-14 berubah menjadi satu bentuk hiburan untum memperingati peristiwa kepahlawanan.

Demikian seni pertunjukan di Indonesia, semoga dapat dijadikan tambahan pengetahuan buat masyarakat belajar sekalian, terimakasih.

Sumber: disarikan dan dikembangkaan berdasarkan Buku Modul Sosiologi Antropologi Paket C Setara SMA tahun 2010

MENGENAL PERKEMBANGAN SENI SASTRA PADA MASA PENJAJAHAN

Warga Belajar--sekalian, ini dia kita akan menyelidiki mengenai bagaimana Perkembangan seni sastra dalam masa penjajahan pada Indonesia, buat menambah pengetahuan kita tentang seni serta sastra kita. Perkembangan seni sastra dalam masa penjajahan di Indonesia berawal saat pemerintah Hindia Belanda mengizinkan pendirian sekolah-sekolah serta mengizinkan penduduk pribumi (meski hanya kalangan terbatas) buat mengenyam pendidikan (meski terbatas pada tingkat eksklusif saja).
Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam menjalankan politik etis, khususnya pada bidang pendidikan sudah membuka pencerahan warga dalam bidang membaca dan menulis. Hal itu ditandai dengan munculnya aneka macam terbitan surat kabar berbahasa Melayu yg ada pada Jakarta maupun kotakota akbar lainnya. Surat fakta berbahasa Melayu, antara lain:
  1. Surat informasi Bintang Timoer, terbit pada Surabaya, tahun 1862;
  2. Surat fakta Pelita Ketjil, terbit pada Padang, tahun 1882;
  3. Surat liputan Bianglala di Jakarta serta surat informasi Medan Prijaji pada Bandung yg terbit pada tahun 1867.
Melalui surat warta inilah para cerdik cendekiawan pribumi menuangkan banyak sekali gagasan buah pikirannya. Beberapa cerita kontiniu juga cerita roman, baik yang ditulis dalam bahasa Melayu juga bahasa Belanda terbit menghiasi surat informasi tadi. Beberapa karya sastra pada bentuk cerita bersambung atau roman pada waktu itu, diantaranya:
  1. Hikayat Siti Mariah, karangan H. Mukti, merupakan cerita bersambung yg melukiskan kehidupan sehari-hari;
  2. Boesono dan Nyai Permana, karangan Raden Mas Tirto Adhisuryo, adalah cerita roman;
  3. Beberapa karangan mas Marco Martodikromo, berjudul: Mata Gelap (1914), Studen Hidjo (1919), Syair Rempah-Rempah (1919), serta Rasa Merdeka (1924). Karangan mas Marco Martodikromo ini oleh pemerintah Hindia Belanda mengkategorikan sebagai “bacaan liar”, lantaran berisi hasutanhasutan buat memberontak;
  4. Edward Douwes Dekker, seorang pengarang bangsa Belanda yg menggunakan nama samaran Multatuli menerbitkan karya sastranya yg berjudul “Max Havelaar”. Buku tersebut menggambarkan penderitaan rakyat pribumi di bawah kekuasaan pemerintahan penjajah Belanda. Tulisan tersebut dibentuk dari pengalamannya saat bertugas di Indonesia, menjadi asisten residen Lebak, Banten tahun 1856; e) Pada tahun 1908 pemerintah Hindia Belanda mendirikan “commissie voor de Inlandsche school de volkslectuur” atau Komisi Bacaan Rakyat atau Balai Pustaka yang bertugas mengusut serta mencetak naskah-naskah cerita masyarakat yg ditulis dalam bahasa wilayah. Perkembangan berikutnya komisi tadi pula menerbitkan kisah kepahlawanan orang-orang Belanda serta cerita-cerita antik Eropa;
  5. Pada tahun 1914, Balai Pustaka menerbitkan roman pertama dalam bahasa Sunda berjudul: “Beruang ka nu Ngarora” artinya Racun Bagi Kaum Muda pengarangnya D.K. Ardiwinata;
  6. Pada tahun 1918, Balai Pustaka menerbitkan karya saduran Merari Siregar yang berjudul cerita Si Jamin dan si Johan, disadur menurut karya J. Van Maurik. Selain itu Merari Siregar juga mengarang buku roman “Azab dan Sengsara”, adalah roman pertama berbahasa Indonesia yg diterbitkan Balai Pustaka dalam tahun 1920. Roman tadi mengkritisi norma kawin paksa yang berlangsung pada masa itu;
  7. Pada tahun-tahun berikutnya muncul beberapa roman yang menyoroti tema kawin paksa, yg diterbitkan oleh Balai Pustaka, antara lain:
• Siti Nurbaya, karangan Marah Rusli (1922);
• Muda Teruna, karangan Muhammad Kasim (1922);
• Karam Dalam Gelombang Percintaan, karya Kedjora (1926);
• Pertemuan, karya Abas Sutan Pamuntjak (1928);
• Tjinta Membawa Maut, karya Abdul Ager serta Nursiah Iskandar (1926);
• Darah Muda, karya Adi Negoro (1927);
• Asmara Djaja, karya Adi Negoro (1928);
• Salah Asuhan, karya Abdul Muis (1928).
5) Perkembangan seni pertunjukan dalam Masa Penjajahan
Pada masa penjajahan Belanda perkembangan seni pertunjukan, khususnya seni drama terkini diawali menggunakan adanya grup teater keliling “Teater Bangsawan” pada tahun 1870 yg berasal menurut Penang, Malaysia. Saat mengadakan pentas pada Jakarta rombongan tersebut bubar dan seluruh peralatannya dibeli oleh Jaafar yg kemudian menciptakan rombongan baru yg dinamainya” Stamboel “. Di Deli, Sumatra utara sudah berdiri teater Indera Ratoe Opera. Beberapa perkumpulan seni pertunjukan yang ada di era penjajahan Belanda, antara lain:
  1. Di Surabaya timbul serikat teater bernama Komedi Stamboel yang didirikan oleh August Mehieu, seseorang peranakan indo – Perancis, dan didukung dana sang Yap Goam Tay dan Cassim, bekas pemain teater Indera Bangsawan;
  2. Di lingkungan warga keturunan Cina pada tahun 1908 mendirikan “Opera Derma” atau “Tjoe Tee Hie”, lalu tahun 1911 timbul serikat teater “Tjia Im”, “Kim Ban Lian”, Tjin Ban Lian” yang kemudian timbul grup teater paling populer adalah “Orion” atau “Miss Riboet’s Orion” menggunakan bintang panggungnya yang bernama Miss Riboet;
  3. Di Surabaya dalam tanggal 21 Juni 1926, Willy Klimanoff, seorang Rusia kelahiran Surabaya mendirikan rombongan sandiwara keliling “Dardanella” yg sangat populer. Teater tadi didukung bintang panggung Tan Tjeng Bok (lalu sebagai bintang film populer) serta berhasil mengadakan pertunjukan keliling ke Cina, Burma, serta Eropa, lalu bubar;
  4. Perdro serta Dja, bekas anggota Dardanella mendirikan kelompok “Bolero”;
  5. Fifi Young dan Nyoo Cheong, jua bekas anggota Dardanella mendirikan rombongan baru yang dinamainya “Fifi Young’s Pagoda” dalam tahun 1936;
  6. Pada masa penjajahan Jepang, tahun 1942 muncul teater Bintang Surabaya yg dipimpin oleh Fred Young menggunakan anggota para bekas bintang-bintang Dardanella, yakni Tan Tjeng Bok, Astaman, Dahlia, Ali Yogo, serta Fifi Young;
  7. Pada tahun 1943, bermunculan rombonganrombongan teater, seperti Dewi Mada pimpinan Ferry Kok dan isterinya Dewi Mada, teater Warna Sari pimpinan Dasaad Muchsin, dan teater Irama Masa pimpinan Ali Yogo. Semua teater tersebut memakai bahasa Indonesia;
  8. Berikutnya timbul teater-teater baru yg memakai bahasa daerah, antara lain Teater Miss Tjitjih pimpinan Abubakar Bafakih yang menggunakan bahasa Sunda, Sandiwara Wargo pimpinan Suripto memakai bahasa Jawa, serta seorang tokoh teater bernama Tio Jr menciptakan teater Miss Riboet di Solo.
Demikian warga belajar--sekalian mengenai Perkembangan seni sastra pada masa penjajahan pada Indonesia, semoga berguna buat menambah ilmu pengetahuan kalian, terimakasih.
Source: Indriyawati, E. 2009. Antropologi 1 : Untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas serta MA. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

PENGERTIAN SENI DAN SENI RUPA JENISJENIS KARYA SENI RUPA

Manusia nir mampu lepas berdasarkan seni, karena seni merupakan keliru satu kebudayaan yang mengandung nilai estetika. Sedangkan setiap manusia menyukai estetika. Melalui seni orang bisa memperoleh kenikmatan secara batiniah.

Tidak ada yg bisa memastikan kapan seni mulai dikenal manusia. Namun, jejak-jejak peninggalan manusia dari masa lampau menerangkan bahwa seni tumbuh dan berkembang sejajar menggunakan perkembangan insan.

Menurut Ensiklopedia Indonesia, pengertian seni adalah penciptaan segala hal atau benda yg lantaran estetika bentuknya orang senang melihat atau mendengarnya. Tetapi tidak seluruh estetika (keindahan) itu selalu bernilai seni (artistik), lantaran kenyataannya nir semua yang indah itu bernilai seni. Banyak keindahan keindahan yang tidak termasuk dalam karya seni.

Keindahan seni adalah estetika yg diciptakan insan. Keindahan di luar kreasi insan nir termasuk estetika yang bernilai seni, contohnya estetika pantai di Bali, estetika Gunung Bromo, serta keindahan seekor burung merak. Jadi, seni adalah kreasi manusia yang mempunyai keindahan.

Bermacam jenis seni, diantaranya seni tari, seni musik, seni teater, dan seni rupa. Seni rupa merupakan hasil karya ciptaan insan, baik berbentuk 2 dimensi maupun tiga dimensi yang mengandung atau memiliki nilai estetika yang diwujudkan dalam bentuk rupa.

Seni rupa dipandang dari segi fungsinya dibagi menjadi dua gerombolan sebagai berikut.

  1. Seni rupa murni (fine art), yaitu karya seni yang hanya buat dinikmati nilai keindahannya saja. Karya seni ini bertujuan buat memenuhi kebutuhan batiniah. Seni rupa murni banyak ditemukan pada cabang seni grafika, seni lukis, dan seni patung.
  2. Seni rupa terapan (applied art), yaitu seni rupa yang mempunyai nilai kegunaan (fungsional) sekaligus memiliki nilai seni. Karya seni ini bertujuan buat memenuhi kebutuhan mudah atau memenuhi kebutuhan seharihari secara materi, misalnya furnitur, tekstil, serta keramik.

Berdasarkan wujud fisiknya, karya seni rupa terapan bisa digolongkan sebagai dua, yaitu sebagai berikut.

  1. Karya seni rupa terapan dua dimensi (dwimatra), Karya seni rupa terapan 2 dimensi, yaitu karya seni rupa yang mempunyai berukuran panjang serta lebar dan hanya sanggup dipandang menurut satu arah. Misalnya, wayang kulit, tenun, dan batik.
  2.  Karya seni rupa terapan 3 dimensi (trimatra), Karya seni rupa terapan 3 dimensi, yaitu karya seni rupa yg bisa ditinjau menurut segala arah dan memiliki volume (ruang). Misalnya, rumah norma, senjata tradisional misalnya rencong dan pedang, dan patung.

Jenis-Jenis Karya Seni Rupa Terapan Daerah Setempat

Hasil karya seni rupa terapan setiap wilayah tidak sama. Setiap daerah mempunyai karakteristik khas masing masing. Benda benda seni rupa terapan yang didapatkan di berbagai wilayah, di antaranya sebagai berikut.

1. Kerajinan batik
Sejarah batik di Nusantara berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Majapahit serta kerajaan sesudahnya. Kain batik dibuat menggunakan cara melukis dengan memakai canting dan kuas pada atas kain dengan bahan lilin yg dipanaskan. Hasil proses membatik tersebut dinamakan batik tulis.

Daerah-daerah penghasil batik pada Nusantara, antara lain sebagai berikut.

a. Jawa Tengah dan Yogyakarta
Jawa Tengah adalah daerah produsen kain batik terbesar di Nusantara. Batik Jawa Tengah mempunyai corak yang khas dan sarat dengan filosofi. Daerah produsen batik di Jawa Tengah yg paling menonjol adalah Pekalongan, Solo, serta Semarang. Pusat produsen kain batik populer lainnya merupakan Yogyakarta.

1) Batik Yogyakarta dan Solo (Surakarta)
Sejarah batik Yogyakarta adalah pengembangan dari batik Solo. Hubungan berdasarkan kedua daerah tersebut sangat erat. Batik Yogyakarta serta Solo sarat filosofi serta lebih banyak didominasi warna cokelat dan biru tua. Ada sekitar 4.000 motif batik Yogyakarta, yang cukup populer, di antaranya merupakan motif parang, babon angrem, dan wahyu tumurun. Motif batik Solo, antara lain sidomukti, sidoluruh, dan lereng

2) Batik Pekalongan dan Semarang
Batik Pekalongan mempunyai ciri pesisir menggunakan corak ragam hias alami. Corak ragam hiasnya banyak menerima dampak dari Cina yang dinamis serta kaya akan warna. Batik Pekalongan banyak didominasi rona cerah, hijau, kuning, merah, dan merah muda, dan didominasi motif bunga (buketan). Batik Semarang poly didominasi rona cokelat, kuning, hijau, dan hitam menggunakan motif alam, misalnya bunga, dedaunan, serta burung.

b. Jawa Timur
Jawa Timur termasuk daerah pembuat batik, diantaranya Madura, Tulungagung, Pacitan, Ponorogo, Mojokerto, Tuban, serta lain-lain. Batik Madura mengandalkan corak bunga yg unik menggunakan pola daun-daunan. Di daerah ini masih ada beberapa motif batik tertua, yaitu ramok, sebar jagab, rumput laut, okel, dan panji lintrik. Warna yg digunakan kebanyakan diambil dari bahan alam menggunakan warna yang mencolok.
Batik Tulungagung berwarna sogan (cokelat) serta biru tua dengan motif Lung (tumbuhan) dan bunga. Untuk batik Tuban, yang relatif dikenal adalah batik gedog yang berciri khas golongan batik pesisir. Motif ini didominasi motif burung dan bunga. Sedangkan batik Banyuwangi lebih dikenal dengan motif batik gajah uling, menggunakan dasar kain berwarna putih.

c. Jawa Barat
Daerah produsen batik di Jawa Barat, diantaranya Cirebon dan Tasikmalaya. Batik Cirebon memiliki kekhasan sendiri, yaitu motif mega mendung yg kaya akan rona seperti cokelat, ungu, biru, hijau, merah, serta hitam. Batik Tasikmalaya yang sangat terkenal merupakan batik sarian yang adalah gugusan beberapa motif adonan menurut motif kumeli, rereng, burung, kupu-kupu, serta bunga.
Batik tulis spesial Tasikmalaya banyak memakai rona dasar merah, kuning, ungu, biru, hijau, dan
sogan. Motifnya lebih poly natural (alam).

d. Bali
Daerah penghasil batik di Bali, antara lain Gianyar dan Denpasar. Corak batik Bali banyak kesamaan
gaya menggunakan batik di Jawa. Tetapi batik Bali menggunakan warna-rona yg lebih cerah.

e. Sumatra
Daerah pembuat batik Sumatra diantaranya Padang (Sumatra Barat) dan Jambi. Padang populer dengan batik tanah liek. Bahan pewarna batik Sumatra umumnya dari menurut bahan-bahan alami, termasuk akar-akaran yang dicampur tanah liat sebagai akibatnya memiliki ciri spesial tersendiri.

f. Kalimantan
Salah satu penghasil batik populer di Kalimantan merupakan Banjarmasin (Kalimantan Timur). Kain batik yg digunakan adalah berjenis santung,katun, sutra, yuyur, dan satin. Batik
Banjarmasin mempunyai motif yang bervariatif serta banyak mengambil objek alam. Motif-motif batik Banjar,antara lain berbentuk irisan daun pudak, daun bayam, serta fungi mini .

2. Kerajinan ukir
Kerajinan ukir pada Nusantara, diantaranya berupa seni ukir kayu dan seni ukir logam. Daerah-wilayah produsen kerajinan ukir kayu di Nusantara, pada antaranya adalah Jepara, Cirebon, Bali, Kalimantan, Papua, Madura, dan Sumatra.
Kerajinan ukir logam terbuat berdasarkan perak, tembaga, emas,serta kuningan. Proses pembuatan kerajinan logam banyak menggunakan teknik cetak atau cor, tempa, toreh, dan penyepuhan. Daerah produsen kerajinan logam di Nusantara, antara lain Jawa Tengah dan Yogyakarta.

3. Kerajinan anyaman
Anyaman banyak kita jumpai, baik berupa benda gunakan maupun benda hias. Anyaman dibentuk dari bahan alami dan bahan sintetis. Bahan-bahan alami yang digunakan, diantaranya bambu, rotan, daun mendong, serta janur.
Bahan-bahan sintetis yg digunakan, antara lain plastik, pita, dan kertas. Daerah pembuat kerajinan
anyaman, antara lain Bali, Kudus, Kedu, Tasikmalaya,dan Tangerang.

4. Kerajinan topeng
Topeng merupakan hasil karya seni kerajinan yg mampu digunakan buat keperluan perlengkapan tari serta hiasan. Kerajinan topeng umumnya dibuat dari bahan kayu. Daerah penghasil kerajinan topeng di Nusantara, diantaranya Yogyakarta, Cirebon, Bali, Surakarta, dan Bandung. Setiap daerah mempunyai karakteristik spesial topeng yang tidak sama.

5. Kerajinan tenun
Tenun adalah hasil kerajinan tradisional yg dibuat menggunakan teknik serta indera spesifik. Kerajinan tenun banyak masih ada pada Kalimantan, Minangkabau, Sumatra Utara, NTT, NTB, Lampung, Flores, Sulawesi, serta Palembang. Motif yg dibuat pun berlainan pada setiap wilayah. Berbagai motif tenun dari Palembang, diantaranya mawar Jepang, anggun anggun, bintang berantai, nago besaung, serta bunga cino.
Ada dua jenis tenun, yaitu tenun ikat serta tenun songket. Keduanya tidak sama pada teknik serta bahan yang dipakai. Berbeda dengan tenun ikat, pada songket mendapat tambahan benang emas yang diletakkan dengan teknik tusuk serta cukit.

6. Kerajinan wayang
Wayang merupakan budaya asli Nusantara, yang ceritanya berasal berdasarkan budaya Hindu India. Wayang dibentuk buat seni pertunjukan sekaligus sebagai hiasan.jenis wayang terdiri atas wayang kulit yg terbuat berdasarkan kulit kerbau serta wayang golek yang terbuat berdasarkan kayu.
Daerah penghasil kerajinan wayang, di antaranya Bali, Yogyakarta, serta Surakarta.

7. Kerajinan keramik
Keramik merupakan hasil karya seni kerajinan yang berbahan dasar menurut tanah. Hasil kerajinan keramik sangat majemuk, seperti vas bunga, guci, mangkuk, cangkir, dan lain-lain. Daerah produsen kerajinan keramik yg terkenal pada Nusantara, pada antaranya Kasongan (Yogyakarta), Sompok, dan Mayong (Jepara).


Apresiasi Keunikan Gagasan Karya Seni Rupa Terapan Daerah Setempat
Taraf apresiasi rakyat terhadap karya seni perlu ditingkatkan pemahamannya melalui aneka macam aktivitas dan pendidikan seni. Apresiasi (bahasa Inggris appreciate) merupakan menghargai atau menilai. Bagi murid, pelajaran apresiasi sangat penting untuk menumbuhkan kepekaan estetis, menumbuhkan kreativitas, belajar menghargai karya seni, dan melatih murid buat menumbuhkan kecintaan dan
keaktifan dalam banyak sekali kegiatan seni.

Apresiasi muncul sehabis melihat dan mengamati aneka macam bentuk karya seni yang diciptakan, termasuk karya seni rupa terapan wilayah setempat. Kegiatan apresiasi dapat berupa apresiasi aktif serta apresiasi pasif. Seorang seniman yang aktif berkarya mampu dikatakan melakukan apresiasi aktif, sedangkan warga yg bertindak menjadi pengagum atau pengamat karya seni digolongkan dalam apresiasi pasif.

Seni rupa terapan wilayah setempat menggunakan segenap keunikan gagasannya patut mendapatkan apresiasi, baik secara aktif juga pasif. Gagasan (ilham kreatif) tersebut merupakan awal proses penciptaan karya seni, termasuk karya seni rupa terapan daerah setempat yang diciptakan menurut nilai guna tanpa mengesampingkan nilai seni.
Dalam penciptaan karya seni tadi, masing-masing wilayah memiliki keunikan atau kekhasan tersendiri, baik dalam teknik maupun ketersediaan bahan yg terdapat di sekitarnya.

Teknik yang dipakai dalam pembuatan karya seni rupa terapan daerah setempat kebanyakan masih tradisional dan dibuat menggunakan keterampilan tangan. Misalnya, buat membuat keramik, seorang pengrajin keramik cukup memakai teknik putar dengan menggunakan indera yang terbuat dari kayu. Pengrajin ukir kayu cukup menggunakan indera pahat sederhana buat mengukir. Teknik pembuatan karya seni rupa terapan daerah setempat terdiri atas karya seni rupa terapan dua dimensi serta tiga dimensi.

1. Dua dimensi
Teknik pembuatan karya seni rupa terapan daerah setempat menggunakan wujud dua dimensi, diantaranya menjadi berikut.

a. Teknik kerajinan kain batik
Teknik membatik telah mengalami perkembangan tanpa meninggalkan teknik usang yg sudah diwariskan secara turun-temurun. Teknik batik yang kita kenal di Nusantara, diantaranya sebagai berikut.

  1. Batik tulis, yaitu batik yg dibentuk menggunakan teknik menggambar motif di atas kain memakai canting. Canting merupakan indera spesifik untuk menggambar motif batik di atas kain yg berisi cairan lilin atau malam panas buat menutup bagianbagian eksklusif sinkron menggunakan pola yang dibentuk. Batik tulis memiliki keunggulan nilai seni dibandingkan dengan batik yang lain.
  2. Batik cap, yaitu batik yang dibentuk menggunakan menggunakan teknik cap (stempel), umumnya dibuat berdasarkan tembaga serta ditambahkan malam (cairan lilin panas).
  3. Batik sablon, yaitu batik yang dibentuk menggunakan menggunakan klise (hand printing). Motif batik yang sudah dibuat kemudian dibuat klise lalu dicetak.
  4. Batik printing, yaitu batik yang dibentuk dengan teknik printing atau menggunakan indera mesin. Teknik pembuatannya mirip menggunakan batik sablon.
  5. Batik lukis, yaitu batik yg dibentuk dengan teknik melukiskan eksklusif pada atas kain. Alat yg dipakai dan motif yg dibentuk pun lebih bebas.

b. Teknik kerajinan wayang kulit
Wayang kulit dibuat dengan teknik pahat dan sungging (digambar) menggunakan bahan cat serta indera sederhana. Desain wayang kulit dibentuk sesuai menggunakan pakem yang telah ditetapkan dari warisan nenek moyang.

c. Teknik kerajinan kain tenun
Kain tenun dibentuk dengan cara memintal benang sedikit demi sedikit menggunakan alat tenun, hingga menjadi kain dengan ragam hias yg latif. Alat tenun terbuat dari kayu atau bambu.

d. Teknik kerajinan sulaman atau bordir
Sulaman atau bordir dibuat menggunakan menggunakan mesin jahit atau dengan teknik tusuk jarum.

2. Tiga dimensi
Teknik pembuatan karya seni rupa terapan wilayah setempat menggunakan wujud tiga dimensi, antara lain menjadi berikut.

a. Teknik cetak (cor tuang)
Teknik cetak untuk pembuatan karya seni terapan, yaitu tuang berulang (bivalve)serta masukkan sekali pakai (a cire perdue). Teknik bivalvemenggunakan 2 jenis cetakan yang terbuat menurut batu, gips, serta semen yg bisa dipakai berulang-ulang sinkron kebutuhan. Teknik bivalvesering dipakai untuk mencetak benda-benda sederhana yg nir terlalu rumit pembuatannya. Sedangkan teknik a cire perduebiasanya memakai benda berdasarkan logam (tembaga, besi) yg bentuk dan hiasannya lebih rumit.

b. Teknik pahat/ukir
Teknik ini dipakai buat memahat, menggores, menoreh, serta membentuk pola bagian atas benda.
Bahan-bahan yang bisa diukir atau dipahat, antara lain kayu, batu, atau bahan lain yang homogen. Alat yang dipakai untuk mengukir merupakan tatah (pahat ukir) yang terbuat dari besi atau baja. Hasil karya seni menurut pahat ukir, diantaranya masih ada dalam alat-alat kebutuhan tempat tinggal tangga, misalnya kursi, meja, lemari, serta hiasan dinding.

c. Teknik tempa
Teknik tempa umumnya digunakan buat menciptakan benda-benda menurut logam (besi, baja, serta kuningan). Logam terlebih dahulu dipanaskan di perapian spesifik lalu ditempa (dibentuk) sinkron keinginan. Contoh benda-benda tradisional menurut hasil teknik tempa adalah aneka senjata tradisional serta benda-benda perhiasan.

d. Teknik anyaman
Hasil karya seni rupa terapan yg menggunakan teknik anyaman, misalnya tikar, topi, tas, kipas, dan
benda-benda hiasan lainnya. Bahan yg digunakan buat menciptakan anyaman terdiri atas bahan alam,
seperti rotan, bambu, serat kayu, dan eceng gondok

Ringkasan
  • Seni rupa merupakan hasil karya ciptaan manusia, baik berbentuk dua dimensi maupun tiga dimensi yang mengandung atau memiliki nilai keindahan dan diwujudkan dalam bentuk rupa.
  • Seni rupa dilihat menurut segi fungsi dibagi sebagai 2 gerombolan , yaitu seni rupa murni serta seni rupa terapan.
  • Karya seni rupa terapan berdasarkan wujud fisiknya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu karya seni rupa terapan 2 dimensi (dwimatra) dan karya seni rupa terapan tiga dimensi (trimarta).
  • Seni rupa terapan daerah setempat menggunakan segenap keunikan gagasannya patut menerima apresiasi, baik secara aktif maupun pasif.
  • Teknik pembuatan karya seni dua dimensi memakai teknik batik, pahat dan sungging, pintal, dan tusuk jarum. Teknik karya seni 3 dimensi menggunakan teknik cetak, pahat atau ukir, tempa, serta anyaman