MEMAHAMI PENGERTIAN DAN KANDUNGAN SYAIR DALAM LAGULAGU DAERAH NUSANTARA

Cara flexi---Para murid serta masyarakat belajar sekalian, pembahasan materi kesenian kali ini merupakan tentan syair dalam komposisi lagu wilayah, apa sich syair itu? Secara generik pengertian syair merupakan Kata "syair" asal berdasarkan bahasa Arab syu’ur yg berarti "perasaan". Kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yg berarti "puisi" dalam pengertian generik. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan namun, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan serta modifikasi sehingga syair pada desain sesuai dengan keadaan serta situasi yang terjadi. (Sumber: Wikipedia.co.id)

Karena itu syair merupakan simbol bahasa yang dipakai oleh komponis dalam mengekspresikan perasaan buat mempermudah pendengar pada mencerna karya musiknya. Lagu daerah umumnya memakai bahasa wilayah tersebut dalam menuturkan isi lagunya. Dalam syair terkadang komponis mengadakan perulangan. Pengulangan melodi atau syair adalah keliru satu cara buat memberi penekanan dalam emosi lagu tadi. 


Dalam perkembangannya di Asia Tenggara, syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga sebagai spesial Melayu, nir lagi mengacu dalam tradisi sastra syair di negeri Arab. Penyair yg berperan akbar dalam menciptakan syair spesial Melayu merupakan Hamzah Fansuri menggunakan karyanya, diantaranya: Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir. Syair merupakan simbol bahasa yg digunakan komponis dalam mengekspresikan perasaan buat mempermudah pendengar dalam mencerna karya musiknya. Lagu wilayah umumnya memakai bahasa daerah tadi pada mengisahkan budaya setempat, rapikan cara kehidupan sehati-hari, serta istiadat adat. Ini sebagai ciri dari lagu-lagu daerah.

Dalam syair terkadang komponis mengadakan iterasi. Pengulangan melodi atau syair merupakan perwujudan dalam perasaan seseorang seniman, penegasan atas rasa bahagia atau murung yang mendalam. Pengulangan ini adalah kegairahan yang tidak bisa digambarkannya secara konkret.

Coba simak syair lagu Butet dari daerah Tapanuli ini. Apa yang bisa kalian nikmati menurut syair lagu tersebut?

Butet pada pengungsian do amang mu ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet 
I doge, doge, doge, (i) doge (i), doge, doge
I doge, doge, doge, (i) doge (i), doge, doge

Persamaan suara yang terdapat dalam syair lagu pada atas bukanlah bersifat kebetulan, melainkan memang diusahakan sahih-benar buat memperoleh keindahan serta daya yg kuat guna menyebabkan pemahaman (daya evokasi).

1. Sajak Syair

Dalam susunan vertikal dalam akhir baris/frase musk, syair lagu dalam musik daerah dapat diragamkan menjadi berikut :

a.  Bersajak sama (aaaa, bbbb)
Syair lagu Gunung Salahutu dari Maluku

Kota Ambon mak negeri tanah Maluku               (a)
Di pinggir bahari tempat beta bersatu                   (a)  
Dilihat dari jauh Gunung Salahutu                    (a)
Beta jangan lupa beta dahulu pada situ                           (a)

Bulan jelas benderang di pinggirnya pantai    (b)
Bunyi gitar bunyi tifa ramai-ramai                      (b)
Kota Ambon menggunakan teluk yg latif permai   (b)
Apa tempo beta lihat Oselae                              (b)

b.  Bersajak selang (abab)
Syair lagu Lenggang Kangkung dari Jakarta

Lenggang, lenggang kangkung                        (a)
Kangkung di kebon k'lapa                                (b)
Nasib benar-benar beruntung                                (a)
Punya kekasih suka tertawa                            (b)

Lenggang, lenggang kangkung                       (a)
Kangkung dari semarang                                (c) 
Nasib nir beruntung                                     (a)
Punya kekasih direbut orang                           (c)                    

c.  Lagu bersajak peluk (abba)
Baik kedua syair lagu Tari Bali berdasarkan Bali

Sorak sorai tari dendang jaji                     (a)
Mengapa aku nir turut jua                   (b)
Pohon burung sungai ikut serta               (b)
Riang menyanyi tari menari                     (a)

d.  Lagu bersajak pasang (aabbcc)
Syair lagu Tanduk Majeng dari Madura

Ngapote ka'wa lajere eta ngale                     (a)
Reng majeng tan tona la pade mole             (a)
Mong tengguh deri ombek pajelena              (b)
Maseh banyak o angguh 'leh olenha             (b)
Duh mon ajeling odikna o reng majengan     (c)
A bental ombek sapok angen salanjengan    (c)

e.  Lagu bersajak patah (abcb, aaba)
Syair lagu Es Lilin dari Jawa Barat

Es lilin mah Euceu kalapa belia               (a)
Dibantun man euceu ka Majalaya             (a)
Hapunteun man euceu abdi hapunteun    (b)
Bilih aya kalepatan                                    (a)

Bait kedua syair lagu Kok Takan dari Sumatera Barat 

Jiko takana adiak nan di kampung           (a)
Taragak nak pergi apolah dayo             (a)
Jiko takana untuang di badan                  (b)
Jatuahlah balinang si aia mato                (a)


2. Bentuk Syair

a. Syair terikat
Bentuk syair ini terikat menggunakan panduan penulisan syair komposisi klasik. Dibeberapa wilayah syair lagu tersebut berbentuk pantun. Pantun adalah kesenian orisinil Indonesia. Sistem syair terikat sejenis pantun ini terdapat dibeberapa tempat di Indonesia. Walaupun dengan bahasa dan nama yg tidak sama. Orang Aceh dan Ambon menyebutnya dengan istilah Panton, pada daerah Batak Toba disebut umpama, pada Mandailing diklaim ende-ende, pada Bengkulu rejong, pada Jawa parikan serta lagu ludrug, dan di pasundan sesindiran, sesuwalan, dan lagu doger.

Contoh pantun:
Kalau terdapat sumur di ladang ------------ Sampiran
Boleh kita menumpang mandi--------- Sampiran
Kalua terdapat umurku panjang ------------ Isi/maksud
Boleh kita berjumpa lagi --------------- Isi/maksud

Bagi orang melayu atau bangsa Indonesia pada umumnya pantun dipakai buat mencurahkan isi hati baik itu cinta kasih, suka sedih, kerinduan, kekecewaan, dan sebagainya. Sehingga, pantun itu bersifat liris (ekspresi emosi serta puitis). Pantun tidak hanya bercerita mengenai cinta, tetapi pula bersangkut paut menggunakan aneka tentang kehidupan yg lain. Isi pantun mengandung segala macam perasaan rakyat, sehingga layak bila pantun dikatakan sebagai syair masyarakat. Di bawah ini adalah model lagu bersyair pantun.

Pada musik daerah Jawa dan Sunda, syair lagu yang digubah terikat menggunakan panduan bentuk-bentuk pupuh (tembang). Pedoman tadi mengatur hal-hal yg sebagai ciri-karakteristik lagu, seperti;

- banyaknya baris dalam satu bait (padalisan, pengajar gatra)
- banyaknya suku kata pada setiap baris/frase (guru wilangan)
- suara vokal dalam setiap suku kata akhir pada satu baris (pengajar lagu), 
- tabiat tertentu menurut lagu tersebut

Mari kita cermati syair lagu dalam tembang Sunda Asmarandana dibawah ini nanti. Tembang ini yang terdiri dari atas 2 bait syair. Syair bait pertama merupakan sampiran, bait ke 2 merupakan isi tembang. Bandingkan  pola sajak suku istilah dalam urutan baris yg sama di bait pertama dan bait kedua. Kamu akan melihat hubungannya.

Ciri-ciri tembang Asmaradana di antaranya merupakan:
- satu bait terdiri atas tujuh baris,
- guru wilangan serta guru lagunya adalah 8i, 8a, 8e, 8a, 8a, 8u, dan 8a (satu baris ada 8 suku kata dengan vokal terakhir i, a, e, atau u), 
- memiliki watak lagu: cinta, suasana penuh asmara.  

ASMARANDANA

Pamuragan jatipiring               8-i
terusan desa Pagundam         8-a
laju ka kuningan bae               8-e
Cisantana Panulisan               8-a
Cihideung jeung Wanayasa    8-a
aya haur pinggir sumur           8-u
kubang tengah pasawahan     8-a


b. Syair bebas
Syair bebas merupakan syair yg nir mempunyai pedoman dalam penyusunannya. Syair ini beranjak bagaikan air mengalir. Syair lagu wilayah dalam umumnya merupakan syair bebas. Komponis menciptakan lagu tanpa panduan bentuk yg mengikat. Tetapi demikian, syair serta melodi yg diciptakan permanen mempunyai bentuk tententu yang menjadi ciri khas daerah tadi. Sebagai contoh, simaklah lagu Pancang Kelong menurut Melayu Riyau ini.

Syair bebas dapat sepenuhnya menggunakan bahasa dialek atau dicampur menggunakan bahasa nondialek. Pencampuran ini sanggup jadi karena harapan komponis buat memperbaiki bentuk dan membuat ekuilibrium kesatuan dari pola-pola yang sdua terdapat menggunakan pola-polanya sendiri. Kamu bisa melihat contohntya pada lagu Panghegar dari Sunda.

Pancang Kelong -Melayu Riau

Tambak ikan tambaklah nasib Di bahari pancanglah kelong
Badai gelombang nan menyibak resam hidup
Anak nelayan pancanglah kelong

Tenanglah kau ombak redalah kau badai
Telahpun bermusim
Kita bersahabat
Tenanglah kau ombak redalah kau badai
Telahpun bermusim
Kita bersahabat

Perhatikan syair tembang Penghegar (Sunda) ini dia :

Dari mana ya tuan datannya lintah
Dari sawah turun kekali
Dari mana ya tuan datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Ular naga yo mas is the hrutthe slang
Putih putih yo mas bunga melati
Men uhen si yo mas mijn hartche pelang
Perhit detnit perhit dat nit si jantung hati

Kamana mah mgaitkeun kincir
Kakeler katojo bulan
Kamana mah dunungan ngjaitkeun pikir
Moal paler da ku sabulan.

Pemakaian syair dalam tembang di atas, mempunyai latar belakang sejarah rakyat sunda. Saat tembang ini dibuat nenek moyang dan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Saat itu kita tengah ganecar-gencarnya mengadakan gerakan kesadaran kebangsaan. Salah satu alatnya adalah pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Karenanya, dalam tembang ini terdapat syair berbahasa Indonesia. Lalu, dalam masa penyebaran serta awal pengembangan tembang Sunda, para artis ingim memperkenalkannya kepada rakyat luas. Salah satu caranya dengan menggunakan beberapa bahasa lain. Diharapkan dengan campuran bahasa, tembang Sunda bisa menarik simpati siapa saja yang mendengarkannya tanpa membedakan berasal suku serta bangsa.

Demikianlah mengenai pengertian serta kandungan syair pada lagu-lagu daerah nusantara, semoga bermanfaat. Terimakasih


Refensi:
//id.wikipedia.org/wiki/Syair
//daemoo.blogspot.com/2012/01/pengertian-lirik-lagu.html
www.gurupendidikan.co.id/8-pengertian-lirik-lagu-berdasarkan-para-ahli-lengkap/
Beni Sukarsa dkk. 1987. Pelajaran Seni Musik untuk SMTP. Jakarta: PT Gramedia.
Rangkuti, R.E. 1981. Kumpulan Lagu-lagu Daerah. Jakarta: Titik Terang.
Sumiarto, Anto. 2000. Tembang Sunda Cianjuran: Pencipta serta Kaidah Estetika. Jakarta.

MAKALAH SASTRA SUNGAI TIBER JANTUNG KOTA ABADI OLEH CHANTAL TROPEA UNIVERSITAS NAPLES LORIENTALE TERJEMAHAN BAHASA INDONESIANYA

TIBER: JANTUNG KOTA ABADI


CHANTAL TROPEA
B.  Bahasa dan Sastra
Universitas Naples L’Orientale
Bahasa serta Budaya Timur


Abstrak

Tulisan ini membahas mengenai konteksbudaya sungai Tiber bangsa Romawi menjadi bentuk penghargaan terhadap mitologi,cerita, etnologi, serta sastra. Zaman dulu, saat mereka membatasi danmenetapkan, tak jarang sungai-sungai membangun batasan-batasan baik secarasimbolis maupun geografis. Sejak awal puisi menggunakan gambaran alam untukmengungkapkan kebutuhan komunikasi dan simbolisnya, serta mungkin nir terdapat unsurlain yang stigma serta bisa disesuaikan buat mencapai tujuan tadi, sepertimisalnya air, secara instrinsik kekurangan bentuk yg konkret.
Sungai dipilih menjadi sebuah rasakepercaya dirian penyair, sama misalnya sungai yg mampu menjaga rahasiaperistiwa-peristiwa yg sebagai saksi mata. Ciri-ciri utama sungai adalahpergerakannya dan keberlangsungannya menghubungkannya dengan cerita sastra dankonstruksi teks-teks sastra.
Roma diklaim sebagai Kota Abadi karenatakdir  global terlihat berhubungan dengantakdir kota dan tesis  itu diperkuat olehsejarah serta berbagai peristiwa. Roma juga dikenal sebagai Caput Mundi karena sejak dulu kota ini menjadi ibukota “DuniaMediterania”. Kota tak pernah mati bisa diketahui berdasarkan sungai yg telah melahirkannya:sungai Tiber, situs perang, pencapaian teknik mesin, jalan utama perdaganganMediterania. Sumber primer puisi berdasarkan mitologi hingga sastra terbaru adalahmengeratkan hubungan dua kenyataan ini buat menyebutkan kepada kita tentangmitos, puisi, pandangan imajinasi terhadap akhirat, membicarakan perasaan yangberbeda, serta sudut pandang seta selalu menerangkan interaksi yg bertahan lamaantara Roma Cuput Mundi dan SungaiTiber.
Kata kunci: sungai, Tiber, Kota Abadidan Cuput Mundi.


PENDAHULUAN


“Demi hidup serta mangkat itu satu, bahkan seperti sungai danlaut itu”

(Khalil Gibran)
Jika sungaimerupakan loka dimana segala hal mengalir, mengganti danmemperbarui dirinya sendiri ke pada wujud yg tidak terhenti, sangatlah mudahdipahami bahwa disetiap zaman, para penyair menjelaskankembali pada nilai-nilai yg dinamik dankontrastif.hal itu selalu herbi antitesis rasa ingin larisecepatnya dan regenerasi yg dalam setiap tingkatannya (dari sejarah sampai eksistensial, berdasarkan lahiriah hinggafilisofi perubahannya akan menjadi sumberinspirasi.
Sebuahtanda awal kesuburan serta pujian pula sebuah retakan jalur geologis restriksi dan penggabungan alam serta sejarah, lingkungandan peradaban, kehidupan yang menyatu menggunakan bundar hidup serta kematian, sebuahsimbol citra ketidak sadaran. Tetapi, di saat yg sama sebuah gambaranmistis terhadap holistik bulat dominasi kesejarahan di dunia. Jadi,sungai memperlihatkan tidak hanya latar belakang atau ilusi yg gamblang, namun juga tindakan sebagai penengah antara puisi danpenyair. Ini menghubungkan masa lalu serta masa kini , serta genre sungai dapatmembantu atau menjadi bagian dari cerita. Sama halnya daftar nama-nama sungaidan bepergian sungai kemungkinan membangun bagian menurut struktur cerita. Puisidari zaman antik hingga sekarang poly berhutang budi dalam sungai dimana air mereka bisa meramalkan udara serta bumi dalamtulisannya.
Sungaimemiliki nilai simbolis yg penting dengan akar budaya yang kuat berdasarkanpentingnya sungai sebagai sebuah kebutuhan hayati (Prudence, J.2005). Semua peradabanbergantung pada ketersediaan air serta tentu saja sungai-sungai merupakan sumberyang baik pada kehidupan. Sungai-sungai pula menyediakan rakyat zaman duluakses perdagangan bukan hanya barang, tetapijugaide-ide termasuk bahasa, goresan pena serta teknologi. Sungai irigasi bisa digunakanmasyarakat buat tujuan tertentu dan mengembangkannya, bahkan di area yangkekurangan ketersediaan air hujan. Untuk budaya-budaya eksklusif hal itubergantung dalam budaya mereka sendiri, sungai merupakan jantung kehidupan. Di “awalzaman perunggu di Levant Selatan,” di NearEastern Archeology, Suzanne Richard (2003) mengungkapkan bahwa peradaban kunodidasarkan dalam, utamanya, kehidupan sungai dan ke 2 non sungai, (misalPalestina). Anda akan melihat masyarakatnya terhubung menggunakan sungai-sungaiterkenal seperti Tigris, Efrat, Nil, Sungai Kuning, dan Tiber yg menjadi intiperadaban antik (Richard, 2003:87).
Sungai-sungai memiliki sebuah tujuan mistis yangsecara terus menerus berubah meskipun mereka terlihat sama saja. Sungai-sungaijuga tak mampu diprediksi, dan lalu timbul banyak sekali cerita mitologi sungaiyang berubah bentuk, dan beberapa perkara dimana air menjadi agen perubahan.diceritakan bahwa Tiber adalah sungai istimewa yg permanen menjaga kebenarandan mitologi pada sejarah Kota Roma. Keterwakilan kekayaan dan semantiknyamemunculkan kekuatan ganda. Ini merupakan titik awal kekaisaran antik yangterbesar serta berpengaruh, secara berangsur-angsur dibanjiri sang perluasan danpertumbuhan kota itu sendiri di luar perubahan klasik pada abad itu dimanaperistiwa-peristiwa yg lain mengalami kemunduran serta perbaikan, terbengkalaidan pembangunan ulang terhadap bepergian selama berabad-abad lantaran konflikdan ketidakpastian. Sungai adalah cerminan kota yang sensitif serta setia,sungai memberi kehidupan. Mengabadikan sungai pada bentuk goresan pena bukanberarti sebuah pengakuan tetap namun secara langsung mengganti sejarah. Padakenyataannya sungai itu sendiri menciptakan sejarah.

PEMBAHASAN


Pandanganidiologis yg timbul dalam pikiran hanya menjelaskan nama Kota Roma danmengambil maknanya. Apabila kita perhatian air Sungai Tiber gelisah dan mengalirdi bawah jembatan-jembatan kota terus menerus. Semua hal krusial pada sejarahdipersyaratkan terhadap lokasi-lokasi yang berkaitan menggunakan kemenangan Roma,Kota Aeterna, kelompok menengah, menemukansungai sendiri yg sebagai jantung kota itu, alasan umum keberadaannya,konsisten terhadap berbagai aktifitas insan dalam keseharian: yangberhubungan dengan kebertahanan hidup, penggunaan, dan perawatan. Sungaimerupakan interaksi yang tak bisa dilepaskan buat kemanfaatan serta kehidupanmanusia. Lebih baik mengungkapkan daripada yang lain “meneruskan” hal-hal dannilai-nilai pada interaksi eksklusif dan interaktif antara insan danlingkungan hidup itu sendiri.
“Para ilahi serta manusia memilih loka ini buat dijadikankota bukan tanpa alasan: pondok-pondok yang terawat, sungai yg nyaman untukmengirim barang dan mendapat bahan makanan berdasarkan laut, sebuah tempat dekat lautsehingga bisa merogoh manfaat dan kesempatan tetapi bukan buat membuka yangmenimbulkan kerusakan armada-armada asing karena terlalu dekat dengan pusatItalia, sangat sesuai buat peningkatan kota, jumlah yang sama yg akhirnyamenjadi bukti”.
(Cicerone, 54A.D.)
Cicerone,dalam tulisannya De Republica1mengungkapkan bahwa rakyat zaman dahulu sudah waspada bahwa alasan pemilihan suatu tempat didasari oleh alasanekonomi. Keberadaan Sungai Tiber terhadap lahirnya sebuah kota. Servius,komentator Roma yang hayati antara abad keempat dan kelima Masehi menunjukkanbahwa nama Sungai Tiber pada zaman kuno asal berdasarkan kata Rumon atau Rumen  (berdasarkan ruo, atau “gulungan”), kemudiandijadikan nama kota itu, sebagai akibatnya Roma berarti “Kota Sungai” (Pallottino, 1993:61-68).
SungaiTiber (dalam bahasa Italia Fiume Tevere)merupakan sungai bersejarah Eropa serta terpanjangdi Italia sesudah sungai Po, yg terlihat pada lereng Gunung Fumaiolo, puncakutama Appennino Tosco-Emiliano. Sungai inipanjangnya 252 mil (405km), secara generik mengalir ke selatan melewati rangkaian jurang yg indah serta lembah-lembah yg luas. SungaiTiber mengalir melewati kota Roma serta masuk Laut Tyrrhenian Mediterania dekat Ostia Antica.
Sebuah pusaran air yg menggelora serta akbar disebabkanoleh Pulau Tiber mempengaruhi infestasi daerah-daerah sekitarnya yg menandaimulai berdirinya ibukota global. Tiber adalah Roma antik yang berbatasandengan Etruscan warga Latin. Tiber merupakan awal mula dongeng semenjak awalasal muasalnya sebagi titik lintas yang strategis.
Menurut legenda kota Roma didirikan padatahun 753 sebelum masehi pada tepi sungai Tiber kurang lebih 25 km (16 mil) berdasarkan lautdi Ostia. Pulau Tiberina di pusat Roma, antara Trastevere dan sentra kuno,merupakan sebuah situs arungan antik penting yang kemudian di temukan. Dalammitologi Roma, Romulus serta Remus merupakan saudara kembar berjenis kelaminlaki-laki. Peristiwa yang menyebabkan ditemukannya Kota Roma serta Kerajaan Romaoleh Romulus. Pembunuhan Remus yang dilakukan sang saudaranya, kisah lain daricerita mereka, sudah mengilhami para seniman menurut berbagai masa. Sejak zamankuno, gambaran saudara kembar telah disusui oleh serigala betina serta menjadisebuah simbol kota Roma serta bangsa Roma. Meskipun dongeng itu ada sebelummunculnya kota Roma kurang lebih 750 sebelum masehi, cerita awal yang populer darimitos tadi ada sebelum akhir abad ke 3 sebelum masehi. Kemungkinan dasarsejarah cerita tersebut sama halnya dengan mitos Si Kembar yang merupakanbagian mitos Roma asli atau  yg padaakhirnya menjadi bahan yg diperdebatkan.
Romulus serta Remus lahir pada Alba Longa, salahsatu kota-kota Latin antik dekat situs masa depan Roma. Ibu mereka, Rhea Silvia,adalah seseorang perawan dalam mitologi Romadanputri menurut mantan raja , Numitor, yang sudah digantikan oleh saudaralaki-lakinya Amulius. Dalam beberapa asal, Rhea Silvia mengandung merekaketika ayah mereka, Dewa Mars, mengunjunginya di sebuah hutan mini yangkeramat yang dipersembahkan untuknya. Dari silsilah bunda mereka, Si Kembarmerupakan keturunan berdasarkan bangsawan Yunani dan Latin.
Melihat Si Kembar sebagai penghalangkekuasaannya, Raja Amulius memerintahkan buat membunuh mereka serta merekaditinggalkan pada tepi sungai Tiber supaya mangkat . Mereka diselamatkan olehDewa Tiberinus, ayah sungai dan dapat bertahan hidup lantaran dirawat oleh oranglain. Situs tadi dalam akhirnya menjadi Roma. Menurut asal-asal lain,para pendiri Roma, mereka ditinggalkan pada air sungai Tiber dimana mereka diselamatkanoleh serigala betina, Lupa (Richard,J.2000:630).
SungaiTibet melambangkan pandangan Virgil terhadap dongengnya. Dalam epos Virgil Aeneid2, galat satu buku-bukupendirian budaya barat, Tiber dikatakan sudah mengambil balik kekunoannya,“sahih” nama “Albula”, meskipun dengan begitu berarti membayangkan kelanjutansebuah fenomena perang dan perang antar sesama buat Roma.
Ada salah satu sebutan terhormat Tiberdi Georgics3, menjadi penjaga lebah Aristaeus menyelam ke dasar airkerajaan ibunya Cyrene.
“...omnia sub magna labentiaflumina terra spectabat diversa locis, Phasimque Lycumque, et caput unde altusprimum se erumpit Enipeus, unde pater Tiberinus et unde Aniena fluenta…”

(G. IV, 366-369)

Beberapabaris kutipan ini adalah bentuk bagian penjelasan yg lebih akbar, baikpentingnya sungai juga cerita bidadari. Tiberinus digambarkan sebagai pater karena hubungannya dengan Roma.bagian cerita ini dalam pengertian melayani buat menyeimbangkan referensipermohonan pada air menurut georgicpertama. Kedua kiasan tadi ditujukan bagi Tiber serta dewanya yg diperlihatkandalam lakon dramatis yg diperankan oleh sungai dalam penobatan pencapaianpuisi Virgil, dari mula dan bukti diri eposnya.
Sebutanepinimus dewa didengungkan pada pembukaan bagian tengah kedua dari ceritakepahlawanan, ketika para Trojan datang di dekat muara sungai yang diceritakan,pada bagian cerita yg banyak memperlihatkan tradisi-tradisi sejarah serta sastraterdahulu tantang  pendaratan Trojan diHesperia4:
“…atque hic Aeneas ingentem ex aequore lucum

prospicit. Huncinter fluvio Tiberinus amoeno

verticibus rapidiset multa flavus harena

in mareprorumpit…”. (A. VII, 29-32).


Ada sebuahhutan mini serta tepi sungai, sebuah loka yg tenang dan tenteram. Sungai itusendiri juga memendam sebuah kekuatan serta kehidupan yg sangat sesuai untukibukota tak pernah mati dunia sebagaimana adanya (Mynors,1969).  Penting buat diingat bahwa dalam puisi-puisiVirgil sebagian mencoba buat menyebabkan sebuah adegan yang berkaitan denganpendeta serta menyampaikan pandangan penduduk desa tentang peranan sungai-sungaidan mata air pada bulat akivitas pedesaan.
Dalam bukuVIII kisah kepahlawanan Aeneid, adasebuah jarak, hal keduniawian, serta bepergian kesusastraan dimana sungaimerupakan sebuah lencana paripurna menuju ke arah kemajuan.tiber merupakan  titik pemberangkatan perjalanan Aenas diItalia dan juga menyediakan sebuah latihan menulis serta bercerita. Namun, untukmenghargai ramalan populer Tiberinus tentang takdir pencapaian Aenas nir adaperbedaan antara ramalan serta solusinya.
Tiberinusberjanji buat memandu kapal supaya dapat mendayung serta melewati arus tetapi padaakhirnya arus tersebut berkiprah sendiri. Tiberinus berjanji bahwa Trojan akanmampu mendayung ke hulu (sebuah keistimewaan arus bepergian Tiber) serta agarlebih gampang wajib dipastikan dulu bahwa sungainya damai. Tiberinus membantuAenas sesudah kedatangannya pada Italia berdasarkan Troy yg menyarankan kepadanyauntuk mencari sekutu menggunakan Evander Pallene pada peperangan melawan Turnus dansekutunya. Kedewaan sungai muncul  keAenas dalam sebuah mimpi yang mengungkapkan kepadanya bahwa beliau sudah datang dirumahyang sebenarnya. Tiberinus pula menenangkan air sehingga bahtera Aenas mampumencapai kota menggunakan aman (Moroford, Mark, Lenardon, Robert 1971:215).  Dia dipercaya sebagai keliru satu tuhan airterpenting serta orang selalu melarung sesajen diSungai Tiber setiap bulan Mei. Tiberinus diperingati menggunakan 27 boneka jeramiyang dianggap Argei.
Sungaimewakili masa peralihan berdasarkan satu fase kehidupan ke fase yang lain termasuktata cara perjalanan hingga kematian. Sungai Tiber dikutip beberapa kali olehDante Alighieri pada puisi cerita panjang terkenal Divine Comedi, karya yanglebih rupawan dalam sastra Italia dan keliru satu karya yg terbesar pada sastradunia.
Pandanganimajinatif puisi tentang akhirat dipaparkan dalam pandangan global pertengahanseperti yang telah berkembang di Gereja Barat dalam abad ke-14. Pandangan itu dibagi menjadi 3 bagian yakni; neraka,api penyucian, dan surga . Api penyucian mendeskripsikan pengetahuan pertengahan tentangbumi yg berbentuk bola. Dante mereferensi disparitas bintang-bintang yangdapat dilihat pada Hemisphere selatan, pengubahan posisi global, serta menyebarkan macamzona waktu bumi (Richard H., 2000). Berbeda menggunakan perahu Charon yg melintasi Acherondalam Inferno, jiwa-jiwa kaum Kristendikawal sang Malaikat Perahu menurut loka mereka berkumpul dekat Ostia,pelabuhan laut Roma di muara Tiber melewati pilar-pilar Herkules menyeberanglautan menuju Gunung Penyucian dosa.
[...]”Selamatiga bulan ini dia sudah berlayar misalnya yg dingainkan orang. Karena itu dipantai bahari dimana Tiber menjadi air asin, aku sudah menyatu.  Tepat pada belakang muara sungai beliau mulaibersip-siap lagi karena orang yg nir tenggelam pada sungai Acheron akanselalu terkumpul di sana”[...]
Jiwa yang menuju api penyucian berkumpul pada Romadi muara Sungai Tiber serta akan diantar sang malaikat. Orang yang akan menujuneraka akan dikumpulkan di Sungai Ancheron serta diantar sang setan. Malaikatmenggunakan sayapnya serta menerbangkan kapal dengan gembira. Charon menggunakankayuh untuk mengayuh serta kadang-kadang memukul penumpangnya dengan kayuhnya.jiwa-jiwa yg diberkati akan bernyanyi serentak, jiwa yg dikutuk akanmeratap serta memaki secara tepisah (Lindskoog,1997:10).
Penyair membayangkan bahwa jiwa-jiwa yangditakdirkan buat diselamatkan memperindah diri mereka sendiri pada muara SungaiTiber, menunggu buat disambut masuk ke pada kendi malaikat berkulit hitam danmengirim mereka ke pulau api penyucian. Makna kiasan lokalisasi jelas yakni,menjadi penentang sungai Ancheron merupakan sungai terkutuk. Tiber, secarajelas menerangkan keabadian kota Roma menjadi pusat agama Kristen dan sebagaisungai yg mengumpulkan jiwa-jiwa yg berdosa buat ditakdirkan masuk dalampembebasan tak pernah mati.
Sungai-sungai membantu menjelaskan identitasmasyarakat dengan berbagai tempat lantaran mereka merupakan lencana pemandangankarena hal itu menekankan hubungan orang-orang tertentu menggunakan sebuah loka,sebagai akibatnya sungai dapat berarti memisahkan dan menghubungkan. Ini merupakan temayang krusial bagi penulis dan penyair. Sungai Tiber cenderung sebagai sentra komunikasiyang krusial dan menurut seluruh itu dia memiliki kiprah secara emosi dan budaya hidupmasyarakat Roma. Roma adalah kota dimana semuanya saling terhubung. Jeritan para pejalan kakiberpadu menggunakan kenyamanan gedung-gedung bersejarah. Sungai Tiber perlahan-lahanmengalir dan memisahkan. Kekunoan melawan serta menyatukan  pembaharuan dimana disparitas budaya-budayamerupakan hal biasa. Selama berabad-abad Roma adalah sebuah lambang keadaanmanusia seperti sebuah sirene Homeric, suaranya selalu mempesonakan parapenulis dan penyair menurut semua penjuru dunia. Para penulis misalnya Pirandello,Gabriele D’Annunzio, Giuseppe Ungaretti sudah melihat kota abadi dan hubungannya denganTiber dan menginspirasi mereka. Para penulis tadi telah berbagi rasayang berbeda serta menerima bentu-bentuk yg tidak sinkron berdasarkan sungai tadi.melalui sejarah sastra, berdasarkan mitologi hingga awal abad 20, kota Roma dengansungainya mengungkapkan ciri-karakteristik baru.
Pirandello5 melalui puisinya memperlihatkankonsep romantik akhir menurut inti kedinginan. Penyair murka dan kecewa terhadapgambaran baru mengenai kota kekal yg sudah menjadi simbol berdasarkan korupsi dankemerosotan, menyapu keagungannya. Dia tak dapat dihibur. Roma bukan lagisebuah estetika klasik serta runtuh tanpa ada perlindungan sang orang Romasendiri. Roma dirusak sang para kurcaci pengkhianat yg menciptakan korupsi.pirandelo ingin melihat kilauan kenangan Roma antik serta memberantas kejahatanyakni korupsi sosial serta sipil yg mencengkeram kota.
Di tahun 1901 dia menulis Air Mata Tiber (“Pianto delTevere”) yg inspirasinya terlahir menurut banjir Tiber dalam 2 Desember 1900. Banjiritu hampir berisi reruntuhan bangunan sepanjang antara Cestio dan jembatanPalatine dan air yg berlumpur meluber ke kota melewati alun-alun Pantheon.
“Tak lamalagi kau takkan mampu melihatnya, melewati kota Roma, seperti yang kulakukan,suatu hari; Tiber lewat antara pelupuk mata alami yg bergetar [...] sepertisebuah perbukitan serta beliau turun menggunakan keadaan penuh perampokan, hinggatiap-tiap gelombang bisa mengatasi sudut-sudut batas yg menyesakkan, berlarimelewati jalan-jalan bawah tanah, beliau terlihat menuju Pantheon: “Apakah kamumelihat, sisa-sisa Roma kita yg suci? Aku masih di sini: Roma memerlukanpenyucian yang akbar”

(Pianto delTevere,1990)
Penyair menggunakan kata ganti “kami” lantaran diamerasa bagian menurut kota serta “dia” merujuk dalam sungai Tiber lantaran diamengumpamakan sungai menggunakan keabadian kota. Baginya banjir merupakanpemberontakan serta pelaku primer puisi ini merupakan ratapan sungai yg inginmenguasai tepi sungai buat menutupi Roma serta kelemahannya, menghapus sebuahkota yg hanya sebuah sisa-sisa menurut apa yang terjadi.
Sudut pandang yg tidak selaras dibangun pada puisi6Gabriele D’Annunzio. Roma bukan hanya sebuahkota yang antik tetapi ia merupakan sebuah kota yg bersinar menggunakan berbagaihiasan berharga yang dimilikinya serta diantara hiasan-hiasan itu Sungai Tibermenyatu pada dalamnya. Dia tidak peduli dengan korupsi yang terdapat pada Roma yangmembuat Pirandello khawatir namun dia melihat kemunduran yang sama sebagaisebuah keindahan yg agung.

“Roma bersinar pada pagihari pada bulan Mei dalam pelukan mentari , di atas jembatan muncullah arusSungai Tiber yang bersinar, lari diantara tempat tinggal -rumah hijau, sesaat kemudian,pada tanjakan muncullah kota abadi, sangat jelas terukir, misalnya sebuahakropolis, di langit yang biru”

(D’Annunzio, 1889)

D’Annunzio menghubungkan keindahan Sungai Tiber menggunakan kemunculan luasnyaRoma yg datang-datang. Baginya keagungan kota dengan “rasa” epos abadi karenakeindahan Tiber terletak dimana sungai itu lahir, menangkap perhatian pujangga,serta menjadi bagian aktif dari kota yg bersinar.
Setiap ujung kota tersenyum padanya seperti ingin memberi salam yangterakhir bahwa pelaku utama terlihat sangat memohon menggunakan matanya. Pujanggamembaca kota serta Roma membuka matanya sendiri bagi pujangga.
Bagi pujangga Giuseppe Ungaretti7, sungai-sungai selalu sebagai bagian utama dari puisinya, dari empatsungai dalam hidup Ungaretti, ditambah satu lagi “Tiber yang menimbulkanbencana” penonton menurut semua kekejian perang tetapi jua pencerahan barupujangga. Puisi “Sungaiku bahkan kau” merupakan puisi termasyhur serta palingrelijius dimana rasa sakit langsung Ungaretti menanamkan kekhawatiran yangbegitu besar terhadap masyarakat Roma karena rasa sakit dipermalukan terhadappengasingan (Perang Dunia Kedua) pada mana pengakuan terhadap keyakinannyamenjadi lebih dramatis serta tegang.
“Sungaiku, bahkan kau,“Tiber Yang Mematikan”

Ia menusuk hingga kejantungmu

Untuk menimbun rasa sakit

Lelaki itu melimpahkannyake dunia

[...] Hatimu adalah rumahyang dirindukan

Cinta yang tidak sia-sia.

Tangisku yang sunyi taklama lagi bukan milikku”

(Ungaretti, 947)
Dalam puisi ini, Tiber menjadi simbol jalan yang mematikan dari “ketakutan”malam. Sosok Yesus yang penting merupakan saudara laki-laki dari pujangga yangakhirnya memeluk semua kemanusiaannya. Di tahun 1916, Ungaretti menggubahsebuah puisi berjudul “Sungai-Sungai” dimanadia dapat tahu dirinya sendiri melalui sungai-sungai yang beliau temui dalamperjalanan ziarahnya, berdasarkan Mesir, Perancis, sampai Italia. Tiber sebagai sebuahsimbol rasa sakit bahwa cumbuan di malam hari dan memukul yg tidak bersalahdisimbolkan dalam nafsu anak domba [...] sendu yang tak terhingga”. Penderitaanyang terburuk adalah pengharapan dari ketidakpastian itu sendiri dimana penderitaanyang membuat tiap pengungsi merasa tak kondusif. Untuk mengakui situasi ini menjadi“sungai” Ungaretti mengaku bahwa rasa sakit merupakan bagian yg tidak dapatdipisahkan dari pribadinya serta manusia. Secara psikologis hal ini takcukup  buat menerima balik rasasakit buat memberi rasa sakit itu sebuah rasa, tak cukup jua untuk mencatatbukti-bukti yang menciptakan kita tak berdaya, tidak relatif jua jika rasa sakitberlanjut buat membangkitkan rasa sakit yang lebih.

PENUTUP

Sebagai sebuah kekuatan  yang secara tetap dan berubah-ubah bagian daripemandangan alam yang berkiprah, sungai-sungai berinteraksi dengan puisi yangdinamis. Terlepas menurut metafora serta gambaran yg menyenangkan, sebuah sungaidapat menyediakan sebuah inspirasi yang tiba menggunakan meminum air menurut mata airpuitis, menjadi karakteristik dalam sebuah cerita puitis, atau tindakan seperti seorangpenulis, mewakili sebuah kebebasan hidup bercerita dimana penulis dan pembacaikut berpartisipasi.
Tema sungai berhak menerima pengakuan terhadap semakin hilangnya sungaitiap zaman dengan output-output yg tidak sinkron menurut para pujangga yg tidak sama,meminjamkan dirinya sendiri menjadi simbol yg paling tidak selaras serta tafsiran.
Tiap penulis telah menggunakan gambaran sungai dengan cara yang tidak sama,selalu menghubungkan Sungai Tiber dengan Kota Abadi, mengakui ini sebagaijantung kota Roma. Tiber bukan hanya sebuah jalan krusial dalam perdagangan diwilayah Mediterania tetapi juga dipakai dalam puisi serta cerita. Tiber selaludihubungkan dengan sejarah Roma, buat memilih apa yg sastra dapatceritakan kepada kita  tentang Tiber danbagaiman sungai dapat membantu kita berfikir mengenai pengembangan sastra.
Kekuatan besar sungai-sungai seperti Tibermewakili puisi epos, tentu saja seni berpidato tidak bisa dibandingkan denganaliran sungai. Dari mitologi antik yg menceritakan pada kita tentanglahirnya Kota Abadi Roma menggunakan Romulus dan Remus yg diselamatkan olehkedewaan Tiber. Sungai memandu kita melewati insiden-peristiwa epos Virgil Aenid dimana Tiberinus dianggap pater pada hubungannya menggunakan kotaRoma. Pandangan imajinatif Dante Alighieri tentang akhirat menggunakan Tibersebagai sebuah loka awal untuk penyelamatan jiwa-jiwa.
Skenario berubah dengan datangnya sastra modernabad 20 di mana Tiber diibaratkan sebuah asal wangsit sang pujangga modernuntuk mengekspresikan perasaan-perasan yang tidak sama yang dihubungkan denganperubahan Roma. Aliran sungai Tiber dalam puisi penulis membawa khayalan danpemberontakan yang disebabkan oleh kejahatan kota karya  Pirandello. Kemakmuran, kekayaan, dankeduniawian karya D’Annunzio dan aktualisasi diri menyebarkan rasa sakit karya Ungaretti.
Hari ini Sungai Tiber merupakan sebuah jalan air latif yang  melintasi Kota Abadi, menceritakan sejarah,mitos dan puisi melalui alirannya menuju kota tak pernah mati dan ia menjadi bagiannya.
“Pesona Tiber mungkindalam alirannya yg tak pernah putus, tetap terjalin, dalam kesehariannya,menjadi sebuah perwakilan fisik sejarah Roma, menjadi sebuah jalan yang takberubah, jantung kota tak pernah mati. Ini adalah sahih, sungai-sungai merupakan sejarahkehidupan”.

(Tiziano Tiziani)




Catatan:
1 Karya tulis dalam bentuk obrolan politik yang membahasorganisasi politik dan institusi negara dan negara aroma

2 The Aenid merupakan sebuah puisi epos latin, karya Virgilantara 29 dan 9 sebelum masehi, yang menceritakan legenda sejarah Aenas, Trojanyang perjalanan menuju Italia dimana dia sebagai leluhur bangsa Roma

3  The Georgics adalahpuisi karya Latin pujangga Virgil, mungkin diterbitkan abad 29 sebelum masehidan dipercaya sebagai karya utama kedua Virgil.

4 nama dimana orang Yunani mula-mula ditunjuk negeri barat

5 dia merupakan dramawan, penulis, dan pujangga dianugerahiNobel Prize buat sastra tahun 1934. Untuk produksinya, tema-temanyaberhubungan dengan penemuan cerita teater yg dipercaya menjadi pendramaterbesar pada abad 20

6 Dia merupakan penulis, pujangga, jurnalis, dramawan, danprajurit Italia pada Perang Dunia I. Dia menduduki loka terkemuka dalamsastra Italia dari 1889 sampai 1910 serta lalu kehidupan politik dari 1914hingga 1924

7 Giuseppe Ungaretti adalah seseorang pujangga terkini Italia,jurnalis, penulis esai, kritikus, akademisi, dan penerima pengukuhan 1970 Neustadt International Prize untuk bidang sastra. Ketua Ermestimo, beliau adalah salahsatu kontributor terkemuka sastra Italia abad 20




DAFTAR PUSTAKA


Lindskoog, K . 1997. Dante's Divine Comedy: Purgatory: Journey to Joy, Part.Macon: Mercer University Press
Lindskoog, K. 1997. Dante’s DivineComedy. Macon: Mercer University Press
Moroford, Mark and Lenardon, Robert . 1971. Classical Mythology. Oxford: OxfordUniversity Press
Mynors P. 1969. Vergili Maronis Opera Oxford. Oxford:Oxford University Press
Pallottino, M. 1993. Origini e storia primitiva pada Roma.Roma: Bompiani
Prudence, J. 2005.  Reading Rivers in Roman Literature and Culture.lanham, MD: Lexington Books
R. F. Thomas, Reading Virgil and His Texts: Studies in Intertextuality,Ann Arbor, The University of Michigan Press, 1999, 135
Richard H. Lansing, Barolini, T.  2000. TheDante Encyclopedia.  New York:Garland Pub

 Richard,J. A. 2000. Barrington Atlas of the Greek and Roman World: Map-By-MapDirectory.  Princeton, NJ and Oxford, UK: Princeton University Press
Richard, S. NearEastern Archaeology: A Reader.  WinonaLake, IN: Eisenbrauns


* Makalah disampaikan padaSeminar Internasional Sastra Indonesia, Banjarmasin,  6 s.D. 9 Desember 2017

MAKALAH SASTRA SUNGAI : TIBER: JANTUNG KOTA ABADI OLEH CHANTAL TROPEA (Universitas Naples L’Orientale) Terjemahan Bahasa Inggrisnya lihat pada selengkapnya di sini !! 


MAKALAH SASTRA TIBER JANTUNG KOTA ABADI OLEH CHANTAL TROPEA UNIVERSITY OF NAPLES LORIENTALE

Tiber: The Heart ofthe Eternal City *


CHANTAL TROPEA
B.  Languagesand Literature
University of Naples L’Orientale
Oriental Languages and Cultures
Email: chantix.ct@gmail.com



ABSTRACT

This paper deals with thecultural context of river Tiber in the Roman “Eternal City “ in respect ofmythology, narrative, ethnology and literature. In the ancient world, sincethey demarcate and define, rivers often establishing boundaries bothsymbolically and in geographical terms. From the beginning, poetry has alwaysused images of the nature to contoh them according to its communicative andsymbolic needs, and perhaps no others elements are deformable and adaptable tothese aim as is water, intrinsically lacking of a definite form.
Water is chosen as a poet’sconfident, as it is able to keep the secrets of the events which it witnessesand The essential characteristics of a river, that is movement anddirectionality, link it to literary narrative and the construction of literarytexts.
Rome is called the EternalCity because the destinies of the world seemed to be related to the city’sdestiny. And the thesis was strengthened by the history and events. It is alsocalled Caput Mundi because it was forso long the capital of the “Mediterranean world”.
The eternal city is identifiedwith its river that gave it birth: the Tiber river, site of wars, engineeringachievements, major “highway” of the Mediterranean trade, but first of allsource of inspiration for the poetry: from mythology to the terbaru literaturepoets have used the strict linking between this two entities to tell us aboutmyths, poem, imaginative vision of the afterlife, expressing different feelingsand point of view, always showing the lasting connection between Roma Caput Mundi and the Tiber river.

Keywords: river, Tiber,Eternal city and Caput Mundi.


INTRODUCTION

“For life and deathare one, even as the river and the sea are one”
(Khalil Gibran)

I
f the river is the place whereeverything flows, altering and renewing itself into a ceaseless becoming, it iseasy understandable that in every epoch, the main poets have represented in itdynamic and contrastive values, always linked to the antithetical sense offugacity and regeneration that at each level (from historical to existential, from physical to philosophy) the changebecome source of inspiration.
A primordial sign of fertilityand pride but also a geological crack of crossing, demarcation and reunion ofnature and history, environment and civilization, living allegory of the cycleof life and death, a symbolic figure of the unconscious, but at the same time amythical image of entire cycles of historical domination in the world. So, theriver offers not just a vivid background or illustration, but acts as amediator between poetry and poet. It can link the past to the present, and theflow of the river can assist or become part of the narrative. Similarly, rivercatalogues and river journeys may form part of a narrative structure. Poetry,from the ancient to the terbaru one, owe a lot to the rivers, where their waterprefigures in the writing of air and earth.
Rivers have great symbolicvalue, with deep cultural roots based on the importance of water as a necessityof life (Prudence, J.2005).all civilizations depend on available water, and, ofcourse, rivers are a fine source of life. Rivers also provided ancientsocieties with access to trade not only of products, but ideas, includinglanguage, writing, and technology. River-based irrigation permitted communitiesto specialize and develop, even in areas lacking adequate rainfall. For thosecultures that depended on them, rivers were the lifeblood. In "The EarlyBronze Age in the Southern Levant," in Near Eastern Archaeology,Suzanne Richard (2003) calls ancient civilization based on rivers, primary or core,and non-riverine (e.G., Palestine), secondary. You'll see that the societiesconnected with famous  rivers such asTigris, Euphrates, Nile, The Yellow River and Tiber are all qualify as coreancient civilizations (Richard, 2003:87).

Rivers have a mysticalimportance in that while constantly changing they seem to stay the same. Riversare also unpredictable, and hence there are many stories in mythology of riverschanging shape, and cases where water becomes an agent of transformation. Giventhat the Tiber is a special river keeping the truth and the mythology in thehistory of the city Rome, its semantic and representative richness raises to amultiple power. It is the birth point of the largest and most influentialempire of the antiquity, gradually overwhelmed by its own growth and expansion,beyond the classical turn of the century in which the alternate events ofdecadence and recovery, abandonment and rebirth  projected on the journey of entire centuriesof conflict and uncertainty. The river is the faithful and sensitive mirror ofthe city it gave birth. Eternalizing the river in the forms of writing is notmerely a permanent testimony but takes directly the place of history, in factit itself makes the history.


DISCUSSION

The ideological view thatcomes to mind only to mention the name of the city of Rome appears and takes onmeaning if we pay attention to the waters of the river Tiber that run uneasyand perpetual under the ripe and bridges of the city. All the"monumental" that in history was the prerequisite of a triumphallocation of  Rome, the aeterna city, well above the commune,find in its river, which it is its heart, the ordinary reason for itsexistence, a strongly secularized response, consistent with everyday life ofmore human activities: related to survival, use and maintenance.
The river is indissolublylinked to the use and the life of men, expressing better than anything else the“handing down” of things and values within a direct and interactiverelationship between human society and the environment of its life.

"Not withoutreason gods and men have chosen this place to found the city: extremelywell-kept huts, a convenient river through which to transport indoor productsand receive sea supplies, a place near the sea enough to take advantage of theopportunities but not exposed to the dangers of foreign fleets because of the excessiveproximity to the centre of Italy, very suitable for the increase of the city,the same size as the latter is the proof ”.

(Cicerone, 54 A.D.)

Cicerone, in his writing De Republica,[1]showed that the ancients were aware that the reasons for choosing the placeon which the city would arise were of a purely economic nature.
The presence of the Tiber riverwas so important for the birth of the city that Servius (Roman commentatorlived between the 4th and 5th  centuries AD) argued that the ancient name ofthe river Tiber, Rumon or Rumen (whose root derives from ruo, or "scroll "), gave itsname to the city, so that Rome would mean" City of the River" (Pallottino,1993: 61-68).

The river Tiber( in Italian FiumeTevere) is the historic river of Europe and the secondlongest Italian river after the Po,rising on the slope of Mount Fumaiolo, a major summit of the Appennino Tosco-Emiliano. With its 252 miles (405 km) long, twisting in agenerally southerly direction through a series of scenic gorges and broadvalleys, the Tiber flows through the city of Rome andenters the TyrrhenianSea of the Mediterranean near Ostia Antica. 
Avivid and overwhelming vortex generated by the Tiber island invests thesurroundings territories, marking the founding start of the capital of theworld: Tiber is in the archaic Rome the border line between Etruscan and Latinpeople, and  it was, the mythic nucleussince the earliest origins, as well as strategic crossing point.

According to the legend, thecity of Rome was founded in 753 BC on the banks of the Tiber about 25kilometres (16 mi) from the sea at Ostia. The Tiberina island in the centre ofRome, between Trastevere and the ancient centre, was the site of an importantancient ford and was later bridged.
In Roman mythology, Romulusand Remus are twin brothers, whose story tells the events that led to thefounding of the city of Rome and the Roman Kingdom by Romulus. The killing ofRemus by his brother, and other tales from their story, have inspired artiststhroughout the ages. Since ancient times, the image of the twins being suckledby a she-wolf, has been a symbol of the city of Rome and the Roman people.although the tale takes place before the founding of Rome around 750 BC, theearliest known written account of the myth is from the late 3rd century BC.possible historical basis for the story, as well as whether the twins' myth wasan original part of Roman myth or a later development is a subject of an ongoingdebate.

Romulus and Remus were born inAlba Longa, one of the ancient Latin cities near the future site of Rome. Theirmother, Rhea Silvia was a vestal virgin and the daughter of the former king,Numitor, who had been displaced by his brother Amulius. In some sources, RheaSilvia conceived them when their father, the god Mars visited her in a sacredgrove dedicated to him. Through their mother, the twins were descended fromGreek and Latin nobility.
Seeing them as a possiblethreat to his rule, King Amulius ordered them to be killed and they wereabandoned on the bank of the Tiber River to die. They were saved by the godTiberinus, Father of the River and survived with the care of others, at thesite of what would eventually become Rome.
 According to other sources, Rome's founders, wereabandoned on the Tiber’s waters, where they were rescued by the she-wolf, Lupa (Richard, J. 2000:630).

The Tibet river representsVirgil's vision of his own storytelling. In Virgil’s epic Aeneid[2],one of the founding books of the western culture, the Tiber is revealed to havereclaimed its ancient, “true” name of “Albula”, though in a way thatforeshadows the continuing reality of war and internecine strife for Rome.
There is one of the mainmention of the Tiber in the Georgics[3], asthe beekeeper Aristaeus enters the underwater realm of his mother Cyrene:

“…omnia sub magnalabentia flumina terra spectabat diversa locis, Phasimque Lycumque, et caputunde altus primum se erumpit Enipeus, unde pater Tiberinus et unde Anienafluenta…”

(G. IV, 366-369).

 The few lines quoted here form part of alarger description of both significant rivers and storied nymphs. Tiberinus isidentified as pater because of hisconnection to Rome; the passage in a sense serves to  balance the supplicatory reference to theriver from the first georgic. Thesetwo allusions to the Tiber and its god set the stage for the dramatic partplayed by the river in Virgil’s crowning poetic achievement, his epic of Rome’sorigins and identity.
The mention of the eponymousgod is echoed near the opening of the second half of the epic, as the Trojansfinally arrive near the mouth of the storied river, in a passage that owes muchto preceding
literary and historical traditionsabout the Trojan landfall in Hesperia[4]:

“…atque hic Aeneas ingentem ex aequore lucum

prospicit. Huncinter fluvio Tiberinus amoeno

verticibus rapidiset multa flavus harena

in mare prorumpit…”.(A. VII, 29-32).


There is a grove, and ariverbank that is a place of refuge and serenity; the river itself is possessedof a vigor and life that is most fitting for the very eternal capital of theworld, as it were ( Mynors,1969). It is important to remember that in thesepoems Virgil was partly trying evoke a pleasant pastoral scene and convey thecountryman's view of the role of  therivers and springs in the cycle of bucolic activities.
In the Book VIII of Virgil'sepic Aeneid, there is a spatial,temporal and literary journey, where the river is a perfect emblem fordirectional progress. The Tiber is the point of embarkation for Aeneas' travelsin Italy and also provides a course for words and narrative. However, inrespect of the famous prophecy of Tiberinus about Aeneas' destined achievements,there is no 'disparity between the prophecy and its fulfillment'. Tiberinuspromises to guide the ship so that the rowers can overcome the current, butlater it is the river itself that checks its current. Tiberinus simply promisesthat the Trojans will be able row upstream (a feature of traffic on the Tiber)and in due course makes this easier by ensuring that the river is calm. Tiberinushelped Aeneas after his arrival in Italy from Troy, suggesting to him that heseek an alliance with Evander of Pallene in the war against Turnus and hisallies. The river’s deity appeared to Aeneas in a dream, telling him he hadarrived at his true home. Tiberinus also calmed the water so that Aeneas' boatwas able to reach the safely city (Moroford, Mark, Lenardon, Robert 1971:215).he was considered the one of the most important river-gods and people made sureto put offerings in the Tiber River every May. Tiberinus was honored withtwenty-seven straw dummies which were called Argei.



Rivers represents transitionfrom one phase of life to another, including rites of passage and indeed deathitself. Tiber river is quoted so many times by Dante Alighieri, in the famouslong narrative poem Divine Comedy, the preeminent work in Italian literatureand one of the greatest work of world literature.
The poem's imaginative visionof the afterlife is representative of the medieval world-view as it haddeveloped in the Western Church by the 14th century. It is divided into threeparts: Hell, Purgatory and Paradise or Heaven. The Purgatory demonstrates themedieval knowledge of a spherical Earth, with Dante referencing the differentstars visible in the Southern Hemisphere, the altered position of the sun, andthe various timezones of the Earth (Richard H., 2000).
In a contrast to Charon'sferry across the Acheron in the Inferno,Christians’ souls are escorted by an Angel Boatman from their gathering placesomewhere near Ostia, the seaport of Rome at the mouth of the Tiber, throughthe Pillars of Hercules across the seas to the Mountain of Purgatory.

[…]“ For threemonths now he has been easily taking on board all who want the trip. Thereforeat se seashore where the Tiber becomes saltwater, I was gathered in. Right backto that river mouth he has set his wings again because those who do not sinkdown to the river Acheron are always assembled there” […]


The souls that were bound forPurgatory assembled in Rome at the mouth of the Tiber River and were ferried byan angel; those who were bound for Hell assembled by the River Acheron and wereferried by a demon. The angel used his wings and the heavenly boat flew; Charonused an oar to paddle and sometimes hit his passengers with it. The blessedsouls were singing in unison; the damned were wailing and cursing separately(Lindskoog,1997:10)
The poet imagines that thesouls destined for salvation adorn themselves at the mouth of the Tiber,waiting to be welcomed into the jar of the nigger angel and  transport them to the island of Purgatory.
The allegorical significanceof the localization is evident: as opposed to Acheron, the river of the damned,Tiber, which clearly indicates connection with the eternal city Rome, as thecentre of Christianity, is the river at whose mouth (where it sins) collectssouls destined for the eternal deliverance.

Rivers help to define theidentity of peoples and places because they are an emblem of the landscape andtherefore advertise the association of certain people with a place. So riversdivide as well as connect. This is an important theme for writers and poets. TheTiber river tended to be important centres of communications, and above all hada role in the emotional and cultural life of Roman’s communities. Rome is thecity where everything is linked together. The screams of pedestrians blend withthe silence of the historic buildings; the Tiber slowly flows and divides, theancient resists and merges with the innovation where different cultures aredaily compared; a city that has become for centuries a symbol of humanconditions like an Homeric siren, his “voice” has always charmed writers andpoets from all over the world: authors like Pirandello, Gabriele D’Annunzio,Giuseppe Ungaretti, after have been seeing “the eternal city” and itsconnection with the Tiber and have been inspired from it, they have developed  different feelings and got different shapesof it. Through the history of literature, from the mythology until the early 20thcentury, the city of Rome with its Tiber reveals new features.

Pirandello[5]through his poems expresses the late romantic concept of inner coldness. Thepoet is angry and disappointed with the new image of the eternal city, hasalready became a symbol of corruption and decadence, sweeping away its glory.he is no able to be consoled: Rome is no longer a classical beauty and itsruins instead of be protected by the romans, are destroyed by the “dwarftraitors of build corruption”. Pirandello would like to see shimmering thememories of ancient Rome, and to eradicate the wickedness, that is, the civiland social corruption that grips the city.
In 1901 he wrote  Tiber’sTears (“Pianto del Tevere”) whose inspiration was born from the Tiber’sflood on December dua, 1900, barely contained by the wall still underconstruction which collapsed for a long stretch between the Cestio and thePalatine bridge and its muddy waters came into the city through Pantheon’sSquare.

“You will no longersee him , passing through the city of Rome, as I did , one day;

the Tiber, passingbetween his natural shaky lids [...] like a mugging and full of robbery he comesdown, so that every wave is able to overcome the edges of oppressive margins;running through the underground streets, he is shown to the Pantheon: "Doyou see, sacred scraps of our Rome? I am still here: Rome needs a great wash”

(Pianto del Tevere,1990)


The poet uses  the pronoun “our” because he feels part of thecity and “him” referring to the Tiber, because he personifies the river withthe eternal city. For him the flood is a rebellion, and the protagonist of thispoem is the river’s lament who wants to overcome the banks to cover Rome andits wickedness, erasing a city that was just a scrap of what it was.

Different point of view isfounded in Gabriele D’Annunzio’s poetry[6]: Romeis not the city of antiquity, but it is the city that shines with its preciousornaments, and among its ornaments emerges the river Tiber. He does not careabout Rome’s corruption that made worried Pirandello, but he sees the samedecadence as a great beauty.

“Rome shone in themorning of May embraced by the sun,
on the bridgeappeared the shining stream of river Tiber, fleeing among the green houses,

after a while, onthe  uphill the eternal city appeared,

clearly carved,like an acropolis, in the full blue’s sky.

(D’Annunzio, 1889)


D’Annunzio links the beauty ofthe river Tiber to the sudden appearance of the immensity of Rome.
For him, the majesty of thecity, with the epic eternal “flavour” is due to the Tiber’s beauty from whichthe city was born, capturing the attention of the poet,  becoming active part of the shining city. Everycorner of the city is smiling at him, as if to give the last greeting that theprotagonist seems to implore with his eyes. The poet reads the city and Romeopens itself to the poet.

For the poet GiuseppeUngaretti,[7] riversare always been a central part in his poetry. To the four rivers of Ungaretti’slife, is added the fifth one: “the fatal Tiber” spectator of all the atrocitiesof the war but also of a new awareness of the poet.  The Poem “My River even you” is the mostnotorious and most religious poem in which the personal pain of Ungarettiinstill the angst of the Roman people for the humiliating pain of deportations(Second World War), where his confession of faith becomes more dramatic andtense.
“My River, evenyou, “fatal Tiber”

It pierces in yourheart

The sum of the pain

That man is pouringon the earth;

[…]Your heart isthe passionate home

of love is not invain.

My lonely crying isno longer just mine”

(Ungaretti, 1947)

In this poetry, the Tiberbecomes the symbol of the fatal pass of the night of “fear”. The CrucifiedChrist is the brother from whom the Poet finally embraces all of his humanity.in 1916, Ungaretti wrote a poem entitled “The Rivers” in which he couldunderstand himself through the rivers he met on his life’s pilgrimage: fromEgypt, France, to Italy. The Tiber becomes a symbol of the pain that advancesin the "night" and strikes the innocent, symbolized in the "lustof lambs [...] infinite sobs”.
The worse suffering is theexpectation of the unpredictable pain itself, where the anguish make everyrefuge insecure. In recognizing this situation as "his river",Ungaretti admits that pain is inseparable part of his person and of the human.it is not enough to psychologically regain the pain to give it a sense. It isnot enough to take note of the evidence that makes us impotent. It is notenough if the pain continues to generate only more pain.


CONCLUSION

As a forceful, changeable andconstantly moving part of the landscape, rivers interact with the dynamics ofpoetry. Apart from pleasant illustrations and metaphors a river could serve asa means of inspiration, which came though imbibing water from poeticallysignificant springs, be a character in a poetic story, or act as a kind ofnarrator, representing an independently existing narrative in which author andreader participate.

The theme of river deservesthe recognition of having gone through each era with different results fromdifferent poets, lending itself to the most disparate symbolism andinterpretation.
Every author has used theimage of the river in a different way, always linking the Tiber river with theEternal City, recognizing it as the heart of Rome. The Tiber was not only animportant highway for the trade in the Mediterranean area, but it was used inpoetry and narrative, always linked to the history of Rome, to determine bothwhat literature can tell us about Tiber and, conversely, how the river can helpus think about the development of literature.
Big powerful rivers like theTiber represented epic poetry, and of course oratory could be compared to theflow of a river. From the ancient mythology telling about the birth of theEternal city of Rome, with Romulus and Remus rescued by the Tiber’s deity, theriver guides us through the events of the Virgil’s epic Aenid where Tiberinus is considered the pater for its connection to the city of Rome, to the imaginativevision of the afterlife of Dante Alighieri, using the Tiber like a startingplace for the souls’ salvation.
The scenario changed with thearrival of the nearest terkini literature of the XX century, where the Tiber isused like a source of inspiration by  modernpoets to express  different feelingsconnected to the change of  Rome. TheTiber ‘s flows in the author’s poetry bringing delusion, and rebellion causedby the city wickedness with Pirandello, prosperity, richness and worldlinesswith D’Annunzio and expression of sharing pain with Ungaretti.
Today the Tiber River is awonderful waterway that crosses the Eternal City, telling the history, themyths and poetry through its flow of the city that gave birth and of which itwill eternally be part.

“The charm of the Tiber is perhaps in his continuousflow, remaining unchanged, in his departure, being a sort of physicalrepresentation of the history of Rome, being, in an unchanged way, the heart ofthe eternal city. It's really true, rivers are history of life”.
(Tiziano Tiziani)


REFERENCE
Lindskoog, K . 1997. Dante's Divine Comedy: Purgatory: Journey toJoy, Part.Macon: MercerUniversity Press
Lindskoog, K. 1997. Dante’s Divine Comedy. Macon: MercerUniversity Press
Moroford, Mark andLenardon, Robert . 1971. ClassicalMythology. Oxford: Oxford University Press
Mynors P. 1969. Vergili MaronisOpera Oxford. Oxford: Oxford University Press
Pallottino, M. 1993. Origini e storia primitiva di Roma. Roma: Bompiani
Prudence, J. 2005.  Reading Rivers in RomanLiterature and Culture. Lanham, MD: Lexington Books
R. F. Thomas, Reading Virgiland His Texts: Studies in Intertextuality, Ann Arbor, The University ofMichigan Press, 1999, 135
Richard H.lansing, Barolini, T.  2000. The Dante Encyclopedia.  New York: Garland Pub

 Richard, J. A. 2000.barrington Atlas of the Greek and Roman World: Map-By-Map Directory.  Princeton, NJ and Oxford, UK:Princeton University Press
Richard,S. Near Eastern Archaeology: AReader.  WinonaLake, IN: Eisenbrauns

[1]Writtenwork in the form of political dialogue that discussed the politicalorganization and institutions of the state and of the Roman’s State.
[2]The Aeneid is a latinepic poem, written by Virgil between 29 and 19 BC, that tells the legendarystory of Aeneas, a Trojan who travelled to Italy, where he became the ancestorof the Romans.

[3]The Georgics is apoem by Latin poet Virgil, likely published in 29 BC, and considered Virgil’ssecond major work.
[4]Name withwhich the Greeks originally designated the western lands
[5]He was anItalian playwright, writer and poet, awarded the Nobel Prize for Literature in1934. For his production, the themes dealt with and the innovation oftheatrical tale are considered among the greatest playwrights of the twentiethcentury.

[6]He wasan Italian writer, poet, journalist, playwright and soldier during World War I.he occupied a prominent place in Italian literature from 1889 to 1910 and laterpolitical life from 1914 to 1924.

[7]Giuseppe Ungaretti was anItalian modernist poet, journalist, essayist, critic, academic, and recipientof the inaugural 1970 Neustadt International Prize for Literature. A leadingrepresentative of the experimental trend known as Ermetismo, he was one of themost prominent contributors to 20th century Italian literature.

* Disampaikan pada Seminar Internasional Sastra Indonesia, 6 s.D. 9 Desember 2017 di Banjarmasin.

Terjemahan Bahasa Indonesia Makalah Sastra TIBER: JANTUNG KOTA ABADI OLEH CHANTAL TROPEA (University of Naples “ L’Orientale ”)  Baca Selengkapnya di sini !!.

MAKALAH SASTRA SUNGAI DALAM PUISI VIETNAM OLEH NGUYEN PHAN QUE MAI VIETNAM DENGAN TERJEMAHAN INDONESIA

RIVERS IN VIETNAM POETRY*

ByNguyen Phan Que Mai


I amdelighted to be here, in Banjarmasin - theThousand River City. Like Banjarmasin and Indonesia, my country Vietnamis blessed with many rivers, too. In fact, more than two thousands threehundred rivers zigzag their ways across my homeland. These rivers can bepeaceful or mighty, flowing their presence into Vietnamese poetry. For usVietnamese people, rivers are the symbol of our homeland, of love, and of life.


Thereare so many Vietnamese poems written about rivers that if I talk about themall, I am afraid no other poet will have time to speak at this conference. Ihave come to realize that every Vietnamese poet wants to write about rivers atleast once in their lives.

But itis not just poets who want to write about rivers. Before our written poetryexists, Vietnamese mothers have sung cadao to their children. Ca dao isour berkaitan dengan mulut poetry, passed from one generation to the next. And ca dao uses the symbol of rivers to tellstories. Below are some examples:

Ơn cha rộng thênh thênh tựa biển
Nghĩa mẹ dài dằng dặc tựa sông....
Vastas oceans is father’s deed
Longas rivers is mother’s love

Sông dài cá lội biệt tăm
Phải duyên chồng vợ ngàn năm cũng chờ
Sông sâu cá lội vào bờ,
Phải duyên thì lấy, đợi chờ nhau chi

Theriver is long, the fish has swum away
Ifdestined to be husband and wife, I’ll wait for you thousands of years
Theriver is deep, the fish has swum to the shore
Ifdestined to be together, why not married now instead of wait?

As youcan see, rivers represent the love life of Vietnamese people. Rivers are soimportant in our love life  that when wesay someone crosses the river, it means the person is getting married. As inthis ca dao:

Ai đem con sáo sang sông,
Để cho con sáo sổ lồng sáo bay

Whohas brought the Whistling Bird across the river
Sothat the bird steps out of her cage and flies away

Asillustrated, rivers are featured prominently in our traditional ca dao. How about in our terbaru poetry?I invite you to visit the Đáy River via a poem from the poet NguyễnQuang Thiều. TheĐáy River in this poem is one of the longest rivers in North Vietnam, runningthrough Hanoi and many other provinces including Hà Nam, Ninh Bình và Nam Định.via a story about Đáy River, the author leads his reader into the Vietnameseculture and our ways of life:

THEĐÁY RIVER

By Nguyễn Quang Thiều


TheĐáy River flows into my life
as mymother balancing heavy baskets on her shoulders, turning into a small lane,returning from each afternoon of hard work
Irubbed my face into her back, trenched with sweat, cool as a piece of nightriver
Duringthe years and months living far away from my homeland, I am someone who haslost his footstep
Thefish’s twirling on the water when it escaped from a hook echoes in my dreams asif a sob
silentlybreaking inside of me, silently breaking at the source of the river
Mymother’s hair as she stood waiting at the worn wharf
spreads cooling shadow onto my pain
a dryand thin corn plant at the end of the season
a lifefilled with sadness among the singing of its leaves

In theafternoons far away from my homeland, I yearn for the river to rise to the skyso that I can see it
sothat my eyes of nostalgia become two burrows on the river’s bank
where bống fish who come to build their nests can receive theoverflowing of the river’s cooling rain

Oh Đáy River! I return to you this afternoon
Thesails of ancient tales have flown far away, into choked agony
Mydarling has crossed the ferry, bringing with her the lips the color of ripeberries on the day the river was absent of water
I onlymeet white corn husks on the riverbed
Iremember my darling’s shirt unraveling, falling onto the wharf, covering theancient moon

Oh Đáy River, Đáy River, I am returning to you thisafternoon
My mother has aged as sand on the bank
Oh the smell of dry sand, the smell of my mother’s hair
I kneel to bring the sand up with my palms, burying itinto my face
I cry
The sand from my face flows into stream after stream

I hopeyou enjoy the above poem. I also hope that in the above poem, you have guessedthe meaning of ‘My darling has crossed the ferry’.

Rivers are not just significant in our love life anddaily life, they are significant in our history, too. As you might know, Vietnamwent through many horrific wars, the most recent war – the Vietnam War – endedonly in 1975. During the Vietnam War, our country was divided into North andSouth for twenty one years, from 1954 to 1975. The border between North andSouth was actually a river - the Bến Hải River - located at the 17thparallel, inthe middle region of Vietnam. This following poem by Hoàng Trung Thông about the Bến Hải River highlights the pain suffered by Vietnamese people because ofour country’s division:

FOG ONTHE OTHER SIDE OF THE BẾN HẢI RIVER

By Hoàng Trung Thông


Ariver as if a stream of tears cut in half
Abridge as if the clenched rows of teeth
Dew,dew falls heavily
Blindingme, blinding me

As if apine tree
Istand silently
Myfeet can’t move away
I askthe wind, the cloud, the tree, the water
Whereis the other half of my country?

Oh theBến Hải River flowing calmly forward
Whydoes it have to bear the name: the border river
Thepeaceful stream suddenly turns into a sword
Slicingacross the Vietnamese stomach
Oh thesmall Hiền Lương Bridge
Howmany spans, yet they bear two colors
Theyhave nothing except lapping waves
Forthe wind to coldly fly by

I longfor the sound of singing
I longfor a ferry to cleave the waves
I longto walk across the windy bridge
I longto put my footsteps onto the banks of South and North…

As inthe above poem of Hoàng Trung Thông, rivers witnessed of our painful past,heavy with sadness. The Vietnam War killed more than three million people. Theirblood died our rivers red. This is a poem of mine, written about the mightyMekong, which ran through the South of Vietnam:

TheMekong


ByNguyen Phan Que Mai


Legends say that ninedragons
bless Vietnam
with the water of ninerivers
- Cửu Long – the Mekong.

I grew up near Bạc Liêu River—
the whisker of one of thedragons
and I often I saw fishermen
rowing wooden sampans
away from the shore,tossing
their fishing nets whichopened
like gigantic flowers intothe water.

Like the water,
stories about the river
ran through my life:
stories of men who diedduring the war
whose bodies lined from oneriver bank to the other,
stories about how chemical
prayed from airplanes
have seeped into thestream,
stories of women toosorrowful
to live after theirhusbands
didn’t return from thebattlefield,
they chose the water astheir graveyard.

I don’t hold on to thesestories,
they flow away. The onlythings that stay
are the voices of thechildren who used to come every New Year - Tết,
their sampans filled withkamquat trees,
with fruit and flowers,their laughter
rising up as they jumpeddown
into the vastness
of the river’s arms.

I didn’t know how to swim,
even though I had letdragonflies
bite my bellybutton
so I sat on the shore
watching them swim.

And I saw how the riverswelled,
not with memories of thewar then,
but with the promise ofspring
exploding in the sound offirecrackers
echoing from afar

echoing from afar.

Riversgive us hope that a better future will come, that human beings will stop makingwar and start loving other human beings. Rivers make us want to celebrate thatwe are alive, as in this poem from Trần Quang Quý, written about the Đà River,one of the most powerful rivers in northern Vietnam:


WITHTHE ĐÀ RIVER


ByTrần Quang Quý


The river, childhood me, virile me, embraces the source
And it will flow without me like the land, forever grand
Some wine
Some wine
A jug with the Đà River
The sodden moon, the delta wind
The river pours vigorously into my life.

My homeland wine has been distilled from the river
My ancestor’s kindness distilled from the source
The river extracts its springs from the deepest of its rockmuscles
I drink wine or I drink the river
My head tilted back, the sky overwhelms me with endlessvastness
The river lies listening to the fermented flow, ancient erasbobbing

Drink wine with the Đà River
Sobbing air, flooding the fermenting land
I hear old times rumbling by
I hear the future engrossed
The Đà River flows spacious with memories
Flows in every safekeeping of my disclosures
Lap against me, friendship, lap against me, my serenehomeland.

Some wine! Some wine! I am with the Đà River
Raising a cup that still flows after a thousand years.

Throughoutfour thousands years of Vietnamese history, rivers have carried the love,sorrow, joy, and longing of Vietnamese people. They have become our friends. Inthis following poem from Nguyễn Trọng Tao, written about Huế, our ancient capital- famous for both the Perfume River and royal palaces - rivers have become ourlife companion:

HUẾ 1


By Nguyễn Trọng Tạo


The Perfume river turns into liquor, I come to drink
I am sober, the royal palaces stumblingly drunk…

I hopemy paper will inspire you to get to know more about Vietnam, our rivers and ourpoetry. I look forward to getting to know the rivers of your own countries andhow they have been represented through literature.

Iwould like to thank the Office of Culture & Tourism and the Government ofBanjarmasin Municipality for organizing this meaningful seminar. Thank you forinviting me and giving me the chance to learn about the richness of theIndonesian culture and literature. Being here, I feel a river flowing among us:a river of friendship, which I treasure and shall nourish in the days to come.

Thankyou.

** By Nguyen Phan Que Mai Disampaikan dalam Seminar Internasional SastraIndonesia, 6 s.D. 9 Desember 2017 di Banjarmasin



SUNGAIDALAM  PUISI VIETNAM*
OlehNguyen Phan Que Mai


Sayasenang berada di sini, pada Banjarmasin – Kota Seribu Sungai. Seperti Banjarmasindan Indonesia, negara saya Vietnam jua dipenuhi poly sungai. Sebenarnya,lebih menurut 2 ribu tiga ratus sungai berliku-liku melintasi tanah air saya.sungai-sungai ini bisa begitu damai atau bertenaga, mengalirkan kehadirannya kedalam puisi orang Vietnam. Bagi kami orang Vietnam, sungai merupakan simbol tanahair, cinta, dan kehidupan kami.

Terdapatbegitu banyak puisi Vietnam yg ditulis tentang sungai-sungai sebagai akibatnya jikasaya menyampaikan semuanya, aku risi penulis puisi yang lain tidak mendapatkesempatan buat berbicara di konferensi ini. Saya menyadari bahwa setiappenulis puisi Vietnam ingin menulis tentang sungai setidaknya sekali dalam hidupmereka.

Namunbukan hanya penyair yang ingin menulis tentang sungai. Sebelum puisi hadirdalam bentuk tertulis, mak -mak pada Vietnam telah menyanyikan ca dao buat anak-anak mereka. Ca dao merupakan puisi ekspresi kami, diturunkandari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan ca dao memakai simbol sungai buat mengungkapkan cerita. Berikutadalah beberapa contohnya:

Ơn cha rộng thênh thênh tựa biển
Nghĩa mẹ dài dằng dặc tựa sông ....
Luasseperti samudera merupakan perbuatan ayah
Panjangseperti sungai adalah cinta ibu

Sông dài cá lội biệt tăm
Phải duyên chồng vợ ngàn năm cũng chờ
Sông sâu cá lội vào bờ,
Phải duyên thì lấy, đợi chờ nhau chi

Sungainyapanjang, ikannya telah berenang
Jikaditakdirkan buat sebagai suami dan istri, saya akan menunggunya ribuan tahun
Sungaiyang pada, ikan telah berenang ke tepi
Jikaditakdirkan buat bersama, mengapa nir menikah kini bukannya menunggu?

Sepertiyang Anda lihat, sungai menerangkan kehidupan cinta orang Vietnam. Sungai sangatpenting pada kehidupan cinta kami sebagai akibatnya waktu kami mengungkapkan seorang meenyeberangisungai, berarti orang tadi akan menikah. Seperti pada ca dao ini:

Ai đem con sáo sang sông,
Để cho con sáo sổ lồng sáo bay

Siapayang membawa Burung berkicau menyeberangi sungai
Sehinggaburung tersebut keluar berdasarkan kandangnya serta terbang jauh

Sepertiyang diilustrasikan, sungai ditampilkan secara menonjol pada ca dao tradisional kami. Bagaimanadengan puisi modern kami? Saya mengajak Anda buat mengunjungi Sungai Đáymelalui sebuah puisi menurut penyair Nguyễn Quang Thiều. Sungai Đáy pada puisiini adalah galat satu sungai terpanjang pada Vietnam Utara, melintas melaluiHanoi serta provinsi lainnya termasuk Hà Nam, Ninh Bình và Nam Định. Kisah Viaa mengenai Sungai Đáy, penulismengarahkan pembacanya ke pada budaya Vietnam serta cara hidup masyarakatnya:

SUNGAIĐÁY

Oleh Nguyễn Quang Thiều

SungaiĐáy mengalir ke pada hidupku
Saatibuku menyeimbangkan keranjang-keranjang yg berat pada bahunya, memutar ke gangkecil, balik dari kerja keras setiap sore
Akumengusap wajahku ke punggungnya, terengah-engah dengan keringat, sejuk sepertisepotong sungai malam
Selamabertahun-tahun serta berbulan-bulan hayati jauh berdasarkan tanah air ku, saya adalahseseorang yg telah kehilangan jejaknya
Ikanitu berenang-renang pada atas air waktu tanggal menurut pancing menggema pada mimpikuseolah ada isakan
diam-diammenerobos masuk ke pada diriku, membisu-diam memecah asal sungai
Rambutibuku ketika dia berdiri menunggu di dermaga yg telah usang
menyebarbayangan mendung ke rasa sakit ku
tanamanjagung kering dan tipis pada penghujung musim
sebuahkehidupan yang dipenuhi dengan kesedihan di antara nyanyian daunnya

Padasore hari yang jauh berdasarkan tanah air aku , saya merindukan sungai bangkit kelangit sehingga aku sanggup melihatnya
sehinggakerinduan penglihatanku menjadi dua liang di tepi sungai
Dimanaikan bốngyang datang menciptakan sarangnya mampu mendapat luapan sejuknyaair hujan

Oh sungaiĐáy! Saya kembali lagi ke pada mu sore ini
Layarcerita antik telah terbang jauh, penderitaan yg mendalam
Sayangkutelah dilintasi feri, serta rona  bibirnya seperti buah beri masak disaat sungaiitu tidak ada air.
Sayahanya menjumpai kulit jagung putih di dasar sungai
Akuingat kemeja kekasihku terurai, jatuh ke dermaga, menutupi bulan purba

Oh SungaiĐáy, Sungai Đáy, aku pulang lagi ke pada engkau sore ini
Ibukusudah tua seperti pasir pada tepi sungai
Oh baupasir kemarau, bau rambut ibuku
Akuberlutut buat membawa pasir ke telapak tanganku, menguburnya ke wajahku
akumenangis
Pasirdari wajahku mengalir ke sungai demi sungai

Sayaharap Anda menikmati puisi pada atas. Saya juga berharap bahwa dalam puisi diatas, Anda sudah bisa menebak arti 'sayangku sudah dilintasi feri'.

Sungaitidak hanya signifikan dalam kehidupan cinta dan kehidupan kita sehari-hari, akantetapi juga penting pada sejarah kita. Seperti yang Anda ketahui, Vietnammelalui perang yg mengerikan, perang paling baru merupakan Perang Vietnam yang  berakhir pada tahun 1975. Selama PerangVietnam, negara kami terbagi menjadi Utara dan Selatan selama 2 puluh satutahun, menurut tahun 1954 hingga 1975. Perbatasan antara Utara dan Selatansebenarnya adalah sebuah sungai - Sungai Bến Hải - terletak pada garis paralelke-17, di wilayah tengah Vietnam. Puisi ini dia oleh Hoàng Trung Thôngtentang Sungai Bến Hải menyoroti rasa sakit yang diderita orang-orang Vietnamkarena perpecahan di negara kami:

KABUTDI SISI LAIN DARI SUNGAI BẾN HẢI

Oleh Hoàng Trung Thông

Sebuahsungai bagaikan genre air mata yang terbelah dua
Sebuahjembatan bagaikan barisan gigi terkatup
Embun,embun yang pekat
Membutakanku membutakan ku

Bagaikanpohon pinus
Akuberdiri terdiam
Kakikutidak mampu bergerak menjauh
Saya bertanyakepada angin, awan, pohon, air
Dimanaseparuh negaraku yang lain?

OhSungai Bến Hải mengalir menggunakan hening
Mengapaharus menyandang nama: sungai perbatasan
Aliranyang damai tiba-datang berubah sebagai pedang
Menyayatdi perut bangsa Vietnam
Oh JembatanHiền Lương yang kecil
Seberapajauh bentangnya, sebagai akibatnya harus menanggung 2 warna
Tidakmemiliki apa-apa kecuali ombak yang menggulung
Angindingin yg berlalu

Akumerindukan bunyi nyanyian
Akumerindukan sebuah feri yg membelah ombak
Aku rinduberjalan melintasi jembatan yg berangin
Akurindu meletakkan langkahku ke tepi Selatan serta Utara ...

Sepertidalam puisi Hoàng Trung Thông di atas, sungai menyaksikan masa lalu yangmenyakitkan, penuh kesedihan. Perang Vietnam membunuh lebih berdasarkan tiga jutaorang. Darah korban yg gugur memerahkan sungai. Inilah puisi aku , yangditulis mengenai Mekong yg perkasa, yg melintasi Vietnam Selatan:

Mekong

OlehNguyen Phan Que Mai

Legendamengatakan bahwa sembilan naga
memberkatiVietnam
denganair sembilan sungai
- CửuLong - Mekong.

Akudibesarkan pada dekat Bạc Liêu River-
kumissalah satu naga
dansaya sering melihat nelayan
mendayungsampan kayu
jauhdari tepian, melempar
jaringikannya yg terbuka
sepertibunga raksasa ke dalam air.

Sepertiair,
ceritatentang sungai
melaluihidupku:
ceritatentang pria yg tewas saat perang
yangtubuhnya berjejer menurut satu tepi sungai ke tepi sungai yg lain,
ceritatentang bagaimana bahan kimia
berdoadari pesawat terbang
telahmeresap ke sungai,
Ceritatentang perempuan terlalu menyedihkan

hidupsetelah suami mereka
tidakkembali menurut medan perang,
merekamemilih air menjadi kuburan.

Sayatidak berpegang pada cerita-cerita ini,
Cerita-ceritatersebut mengalir. Satu-satunya hal yang bertahan
adalahsuara anak-anak yg biasa datang setiap Tahun Baru - Tết,
Sampanmereka dipenuhi pohon kamquat,
denganbuah serta bunga, tawa mereka
bangkitsaat mereka terjun
kedalam luasnya
rangkulansungai.

Akutidak tahu bagaimana cara berenang,
meskipunaku telah membiarkan capung
menggigitpusar ku
Jadisaya duduk pada tepian
melihatmereka berenang

Danaku melihat bagaimana sungai itu membengkak,
Bukandengan kenangan perang dulu,
tapidengan janji ekspresi dominan semi
ledakansuara petasan
bergemadari jauh

bergemadari jauh.

Sungaimemberi kita harapan bahwa masa depan yg lebih baik di masa akan tiba,bahwa insan akan berhenti berperang serta mulai mengasihi manusia lain. Sungaimenjadikan kami ingin bersuka cita bahwa kami hidup, misalnya dalam puisi inidari Trần Quang Quý, yang ditulis tentang Sungai Đà, galat satu sungai palingkuat di Vietnam utara:

BERSAMASUNGAI ĐÀ

OlehTrần Quang Quý

Sungai,masa kanak-kanak ku, kejantananku, menyelubungi sumbernya
Dan sungaiitu akan mengalir tanpa saya misalnya tanah, selamanya mengesankan

Beberapaanggur
Beberapaanggur
Sebuahkendi bersama Sungai Đà
Bulanyang basah kuyup, angin delta
Sungaimengalir menggunakan penuh semangat ke dalam hidupku.

Anggurnegeri ku telah disuling dari sungai
Kebaikanleluhur ku disuling berdasarkan sumbernya
Sungaimengekstraksi mata airnya berdasarkan otot batu yg paling dalam
Sayaminum anggur atau aku minum sungai
Kepalakumemiringkan ke belakang, langit melimpahi ku menggunakan luasnya yang tak berbatas
Sungaiitu membentang mendengarkan aliran yg difermentasi, era antik yang terombang-ambing

Minumanggur bersama Sungai Đà
Sambilmenenggak udara, membanjiri lahan fermentasi
Kudengarmasa kemudian bergemuruh
Kudengarmasa depan mengasyikan
SungaiĐà mengalir megah dengan kenangan
Alirandi setiap perlindungan inovasi ku
Menyelubungiku, persahabatan, menyelunbungi ku, negeri ku yang tentram.

Beberapaanggur! Beberapa anggur! Saya beserta Sungai Đà
Mengangkatgelas yang masih mengalir sehabis seribu tahun.

Sepanjangempat ribu tahun sejarah Vietnam, sungai telah membawa cinta, duka cita,kegembiraan, serta kerinduan orang Vietnam. Sungai telah sebagai teman kami.dalam puisi ini dia dari Nguyễn Trọng Tao, menulis mengenai Huế, mak kota lamakami- yg populer baik Sungai Harum maupun istana kerajaan - sungai telahmenjadi pendamping kehidupan kami:

HUẾ 1

OlehNguyễn Trọng Tạo

SungaiHarum berubah sebagai minuman keras, aku tiba buat meminumnya
Akusadar, istana kerajaan tersandung mabuk ...

Sayaberharap makalah saya akan memberi ide Anda semua untuk lebih mengenalVietnam, sungai dan puisi kami. Saya berharap bisa mengenal sungai-sungai dinegara Anda sendiri dan bagaimana sungai tergambarkan melalui sastra.

Sayaingin mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata danPemerintah Kota Banjarmasin buat menyelenggarakan seminar yg berarti ini.terima kasih sudah mengundang saya serta memberi saya kesempatan buat belajartentang kekayaan budaya serta sastra Indonesia. Berada pada sini, aku merasakansebuah sungai mengalir pada antara kita: sungai persahabatan, yang saya hargaidan wajib terpelihara pada masa yang akan datang.

Terimakasih.


* Disampaikan dalam Seminar Internasional SastraIndonesia, Banjarmasin, 6 s.D. 9 Desember 2017