TERLANJUR JADI BAGIAN DARI GAYA HIDUP ZAMAN NOW TAK DISANGKA HAL INI JUSTRU JADI PINTU PERCERAIAN

Di zaman kini atau kata kerennya kerap diklaim zaman now, siapa yg tidak kenal dengan sosial media. Tiap orang sanggup jadi mempunyai lebih menurut satu akun sosial media.
Tak heran jika sosial media sudah sebagai bagian menurut gaya hidup warga . Tak pandang usia, tua hingga belia memakai media ini buat saling bersosialisasi.
Dalam perkembangannya, tentu saja sosial media memberikan imbas bagi para penggunanya. Banyak yg menduga dampak positifnya lebih poly. Tetapi, tidak sedikit pula yang justru menduga bahwa lebih poly dampak negatifnya ketimbang positifnya.
Lantas, Anda termasuk yg mana? Terlepas menurut kontroversi tadi, tampaknya semuanya bergantung pada motifnya.
Jika motifnya positif, kemungkinan media sosial akan berdampak baik buat kehidupan. Tapi sebaliknya, bila motifnya negatif, tentu kemungkinan media sosial jua akan berdampak buruk.
Dilansir berdasarkan Pikiran Rakyat, sebuah masalah yang pernah ditangani Douglas Kepanis, seseorang pengacara New York, Amerika Serikat ini mungkin sanggup dijadikan sebagai pelajaran. Suatu hari dia pernah menangani masalah perceraian dampak salah satu pada antara sepasang suami-istri mengalami kecanduan sosial media.

Kasus itu bermula waktu salah satu pasangan me-like sebuah unggahan akun Facebook seseorang. Setelah itu, mulailah merambah ke obrolan yg sarat akan unsur seksual, sampai terjadi pertemuan antara keduanya. Dan hal itulah yang memicu pertengkaran pasangan suami-istri ini.

Menurut Douglas, sosial media mampu menjadi galat satu pemicu retaknya hubungan rumah tangga sampai berujung dalam perceraian. Dari sosial media itu jua seorang berpotensi melakukan perselingkuhan dengan orang lain.

INILAH FAKTA MENARIK HEBATNYA ORANG BERTANGAN KIDAL YANG SERING DI DISKRIMINASI

Cara flexi---Anda bertangan kidal atau alias menggunakan tangan kiri lebih secara umum dikuasai dalam beraktivitas, inilah berita menariknya buat orang yg bertangan kidal/kiri. Di Asia, pemilik Tangan Kidal sangat banyak mendapatkan subordinat budaya. Di India misalnya, tangan kiri ditabukan buat makan, dan pada beberapa negara muslim tangan kiri digunakan buat memegang sesuatu yg kotor dan pada anggap haram. Lalu bagaimana Anda sanggup membarui dan memutar sistem kerja otak kami yang kidal? Ini sama aja sanggup jadi kriminal lho, karena justru melakukan pemaksaan dengan sengaja. Padahal telah kodratnya sejak kami di lahirkan menjadi kidal. Bahkan semenjak janin pun struktur gen kami di bentuk menjadi mayoritas kidal. Lalu bagaimana Anda bisa membarui takdir kami itu? Dalam hal ini, jangan pernah menghubungkan Agama dengan sisi kepribadian kami. Agama hanya menjadi anutan yang dibentuk sang manusia sendiri sedangkan Kidal telah terjadi ketika gen di mutasi sebagai sel-sel membangun struktur organ manusia saat masih pada dalam rahim. Sedangkan kepercayaan baru lahir serta terbentuk ketika Anda telah baligh dan mengerti menggunakan keyakinan Tuhan bahkan masih menggunakan keraguan jua.


Hanya satu aja perubahan pada diri aku hingga saat ini, yaitu waktu menulis mampu memakai tangan kanan, meski tangan kiri ini juga masih permanen mampu tapi tulisannya masih rambang-acakan. Mungkin karena gak terbiasa. Tapi seluruh aktivitas yg ku lakukan sepenuhnya 99 % kidal.

“Saya dilahirkan sebagai Left Handed. Ini sama halnya saat Kamu dilahirkn buat terbiasa mengerjakan sesuatu menggunakan Tangan Kanan.”

“Jangan terdapat lagi DISKRIMINASI bagi Kami pada melakukan Segala Hal!!”
Saya tak pernah menganggap bahwa Kidal itu merupakan sebuah kelainan akan tetapi kebalikannya Kidal itu merupakan Keajaiban dari Tuhan. Saya menganggap bahwa Kidal itu Keren, Cerdas, Kreatif, Imajinatif, Pemikir, Bijak, Mudah Mengontrol Emosi, Konseptual, Inovasi, Penuh Gagasan, Jiwa Seni, serta lain-lain, dibandingkan dengan tangan kanan pada umumnya.

Ikutin kami di K.O.K.I (Komunitas Orang Kidal Inonesia)

Silahkan bergabung bagi kalian yang bertangan kidal di seluruh Indonesia, buat sharing sesama kidal tentunya. Tapi bagi yang ingin kenal dengan kami siapapun (tangan kanan), silahkan bergabung di class Kidal Indonesia pada Panpage Facebook.

Apa sih Kidal itu dan bagaimana perilakunya?


Kidal adalah individu yang lebih cenderung menggunakan tangan kiri buat melakukan berbagai tugasan. 15 % populasi pada global ini adalah insan yg kidal (left handed). Hubungan kidal menggunakan otak secara alami lebih menguasai otak pada sebelah kanan. Ini lantaran otak kita berfungsi menyongsong otak kita di sebelah kiri serta menguasai bagian tubuh di sebelah kanan serta otak sebelah kanan juga menguasai bagian tubuh pada sebelah kiri. Otak sebelah kiri (cenderung memakai tangan kanan) menguasai matematik, bahasa, membaca, goresan pena, nalar, urutan, sistematis, analitis sains. Otak sebelah kanan (cenderung menggunakan tangan kiri) menguasai kreativitas, konseptual, penemuan, gagasan, gambar, warna, musik, irama, melodi, mimpi, khayalan, seni, tanggapan, emosi serta kebijaksanaan. Dengan penguasaan otak ini dikatakan individu kidal lebih bijak menurut segi kreativitas dan seni berbanding bagi mereka yg memakai tangan kanan.

Kidal adalah suatu norma kita yang selalu menggunakan tangan kiri untuk melakukan pekerjaan, karya menulis, makan atau memegang sesuatu kesamaan seseorang buat lebih aktif menggunakan anggota tubuh sebelah kiri di bandingkan sebelah kanan. Kidal bukanlah suatu kecacatan sesungguhnya hal ini pada sebabkan lantaran penguasaan fungsi belahan otak yg tidak sama. Dalam anggota tubuh kita otak mempunyai 2 bagian yaitu bagian kiri dan bagian kanan.
Kidal suatu norma kita yang selalu (lebih seringkali) menggunakan tangan kiri buat melakukan pekerjaan, seperti menulis, makan, atau memegang sesuatu. Menurut The Left Handers Club, sebuah organisasi orang-orang kidal tidak pernah menduga bahwa kidal itu merupakan sebuah kelainan, akan tetapi sebaliknya, mereka mengatakan bila kidal itu adalah keren!

Beberapa Orang Kidal populer seperti :
  • Presiden Ronald Reagan, George HW Bush, Bill Clinton, dan Barack Obama, Pangeran Charles dan Pangeran William menurut Inggris.
  • Musisi dan Seni : Julius Caesar, Alexander the Great, Napoleon Bonaparte dan Isterinya, Leonardo Da Vinci, Michelangelo, Jimi Hendrix, Kurt Cobain dan Paul McCartney, Michelangelo Buonaroti, Beethoven.
  • Teknologi : Bill Gates
  • Ilmuwan : Isaac Newton, Marie Curie dan Benjamin Franklin.
  • Tokoh-Tokoh Sejarah : Alexander Agung, Charlemagne dan Julius Caesar.
  • Aktris dan Selebriti : Angelina Jolie, Oprah Winfrey, Amitabh Bachchan, Tom Cruise, Charlie Chaplin, Nicole Kidman, Marilyn Monroe, Keanu Reeves, Sylvester Stallone
  • Olaragawan : Pelé -Edson Arantes do Nascimento (sepakbola), Diego Armando, Maradona (sepakbola), Lieonel Messi (sepakbola), Rafael Nadal (tenis), John McEnro (tenis), Lin Dan (badminton), Valentino Rossi (moto)
Berikut nama-nama orang populer yang kidal yang penulis dapat berdasarkan wikipedia serta kaskus.us :
  • Albert Einstein, Salah satu insan paling jenius didunia, penemu bom atom
  • Isaac Newton, Penemu hukum Newton (anak Fisika tau ni) dan keliru satu ilmuwan besar dunia.
  • Barack Obama, Presiden Amerika Serikat
  • Napoleon Bonaparte, Jendral perang legendaris menurut Prancis
  • Leonardo Da Vinci, Seniman era renaisans paling brilian
  • Aristoteles, Ahli Filsafat zaman Yunani kuno yang terkenal
  • Bill Gates, Pendiri Microsoft, Orang terkaya dunia versi Forbes 
  • Neil Armstrong, Manusia Pertama yg pernah kebulan
  • Ronald Reagan
  • Bill Clinton, Presiden Amerika ter-sukses
  • Justin Bieber, Pemusik sukses
  • Winston Churchill
  • Henry Ford
  • Picasso
  • Babe Ruth
  • Beethoven
  • Marie Curie
  • Jimi Hendrix
  • Harry S. Truman
  • Tony Iommi (Black Sabbath)
  • Dominic Howard (Muse)
  • Ringo Starr ( The Beatles)
  • Zacky Vengeance, Gitaris terkenal berdasarkan grup band Avenged Sevenfold, keliru satu Band favoritku
  • Phil Collins (Genesis)
  • Tom Cruise
  • Lord Baden-Powell, penemu gerakan Pramuka
  • Julia Roberts
  • Oprah Winfrey, Wanita terkaya
  • Slyvester Stallone
  • Bruce Willis
  • Keanu Reeves
  • Michelangelo, Seniman hebat
  • Raphael
  • Robert DeNiro
  • Chester Bennington
  • Angelina Jolie, selebritis terkenal dunia
  • Marilyn Monroe
  • Charlie Chaplin
  • Noel Gallagher (Oasis)
  • Oscar DeLa Hoya
  • Valentino Rossi, pasti engkau udah kenal ma yang ini
  • Monica Seles
  • Iker Casillas
  • Petr Cech
  • Lin Dan, Pe-bulu tangkis terhebat dunia
  • Julius Caesar
  • Joan dari Arc
  • Alexander yg Agung
  • Fidel Castro
  • Nicole Kidman
  • Lionel Messi
  • John McCartney (Beatles)
  • Victoria dari Britania Raya
  • Kurt Cobain, vokalis dan gitaris kelompok musik Nirvana
  • Inoran, gitaris kelompok musik Luna Sea
  • Mesut Ozil
  • Bobby Fischer, pecatur hebat
  • John Cena
  • Jenson Button
Kidal atau seringkali dikenal dengan “Left Power” adalah sebuah peristiwa dimana seorang cenderung lebih tak jarang menggunakan anggota tubuh bagian kiri, dimana otak kanan mereka bekerja lebih sering dan efektif.

Otak manusia beratnya hanya 1400 gr, sedangkan volumenya 1400 cc, pada dalamnya masih ada 50 milyar syaraf yang tersusun rapi. Dalam saat dua dtk, dua milyar frekuwensi listrik dihantarkan bolak-kembali. Namun umumnya manusia hanya menggunakan sekitar lima % menurut otaknya serta masih poly sekali yang wajib dipelajari tentang organ ini.

Pada umumnya otak insan, penglihatan di sebelah kiri pada atur sang otak kanan serta penglihatan di sebelah kanan pada atur sang otak kiri. Jadi otak kanan sangat berperan dalam pengambilan keputusan
Otak kiri (tangan kanan) ketika berbicara sangat logis, seperti tak terdapat yang terlewatkan sia-sia, meski keliatan pintar, akan tetapi orang misalnya itu hanya memakai otak kiri saja, tanpa menggunakan otak kanan sama sekali. Orang yang biasa misalnya itu akan mudah pikun.

Karena otak manusia sangat gampang pada bodohi, misalnya rona tipuan mata, walaupun kita penekanan ke goresan pena, akan tetapi warna yang mengelilinginya menarik perhatian kita, dan mensugesti keputusan kita. Nah, ketika otak insan melihat sesuatu apakah lebih mudah mengenal rona daripada goresan pena? Atau kebalikannya? Tapi ketika kita melakukannya, maka otak kita ditentukan sang situasi dan keadaan, daripada alfabet dan tulisan.otak lebih gampang melihat warna serta telah terbukti. Kita akan terkecoh nir lagi mampu membaca tulisannya tapi hanya melihat warnanya.

Otak kiri kita mengatur pergerakan penguasaan dan bagian kanan tubuh kita mengatur pergerakan dominasi  berdasarkan bagian kiri kita. Pada anak hampir 80% dalam perkembangannya akan menggunakan dominasi belahan otak sebelah kiri sehingga anak  akan aktif dengan tangan kanan dalam beraktivitas sisanya dapat menjadi kidal. Menurut THE LEFT HONDERS CLUB sebuah organisasi orang-orang kidal mereka tidak pernah mengganggap bahwa Kidal adalah sebuah kelainan tapi justru sebaliknya kidal itu merupakan keren.

Kemungkinan penyebab yang menimbulkan orang bertangan Kidal :

GARA-GARA USG

Sampai waktu ini, belum ada satupun dokter atau ilmuwan yg tau niscaya apa penyebab kidal. Ada beberapa teori yg mencetuskan alasan kenapa seseorang bisa kidal, tapi kebenarannya belum teruji secara niscaya.

Menurut Fabiola Priscilla Setiawan, M.psi., psikolog anak serta remaja, kidal terjadi jika otak kanan seseorang lebih dominan dibanding otak kirinya.

“Otak kanan itu mengatur bagian tubuh sebelah kiri, sedangkan otak kiri mengatur tubuh sebelah kanan. Orang yang lebih nyaman memakai tubuh sebelah kiri, termasuk tangan kiri, berarti otak kanannya yg lebih lebih banyak didominasi.

Apa penyebabnya? Bisa jadi lantaran faktor lingkungan, jikalau seseorang anak memang dibiasakan pakai tangan kiri menurut mini , atau mampu jua lantaran faktor genetis. “Kalau pada satu famili terdapat yg kidal, kemungkinan terdapat anggota famili lain yang akan kidal jua. Misalnya anaknya, atau keponakannya,” ujar psikolog yang jua kidal ini. Yah, persis sama denganku serta juga adik bungsuku bertangan kidal. Ini karena gen kami banyak yg kidal pada sisi famili.

Ibu yg melewati proses melahirkan yg sulit, dan yang terlalu sering melakukan USG ketika sedang hamil, jua disebut-sebut menjadi hal yg menyebabkan kidal. Persalinan yg sulit menyebabkan bayi kekurangan oksigen di otak. “Terlalu seringkali USG jua dicurigai sanggup menyebabkan perubahan pada otak janin. Akibatnya, bayi yg dilahirkan jadi kidal,” jelas psikolog ini.

JAGO MENGGAMBAR

Gara-gara didominasi otak kanan, orang kidal jadi jauh lebih kreatif dibanding orang-orang yg biasa menggunakan tangan kanan. Otak kiri manfaatnya mengatur hal-hal yg berhubungan dengan logika, sedangkan otak kanan mengatur hal-hal yang tak berbentuk kayak seni, bahasa, musik, dan emosi.
“Itulah sebabnya, orang-orang yg kidal umumnya jago gambar. Jadi, gak heran kalau poly musisi, pelukis, aktor, dan artis yang bertangan kidal,” kata psikolog yg berpraktek pada Lembaga Psikologi Terapan UI ini.

Akibat otak kanan lebih dominan, anak-anak yang kidal pula umumnya punya daya khayal dan khayalan yang tinggi, yang bikin mereka jadi lebih kreatif dibanding anak-anak bertangan kanan.
Itu kelebihannya. Nah bila kekurangannya?

“Anak yg kidal biasanya lebih sensitif. Mereka pula cenderung gak pede, apalagi kalo lingkungannya gak mendapat dia sebagai orang kidal. Penelitian memberitahuakn kalo kompetensi orang yang kidal serta orang yang “normal” itu sebenarnya sama kok!

Menurut sebuah studi yang dilakukan sang Dr Alan Searleman menurut St Lawrence University pada New York, memperlihatkan bahwa orang kidal sanggup mendukung sisi kiri tubuhnya buat semua kegiatan fisik.

Orang Kidal jua 2 kali lebih terampil pada pemecahan perkara serta memiliki IQ lebih tinggi dari orang yang aktif menggunakan tangan kanan. Lantaran anak yang kidal lebih aktif memakai tangan kiri daripada tangan kanan. Anak kidal ini memang tidak banyak populasinya, hanya 10%, dan sisanya merupakan anak-anak yang menggunakan tangan kanan. Anak kidal juga lebih banyak berjenis kelamin pria daripada wanita (dikutip menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Child Development, 1987).

Meski sudah konsisten menggunakan keliru satu tangan semenjak usia 18 bulan, anak baru bisa dipastikan kidal sesudah usianya melewati tiga tahun. Sebelum usia tadi, anak masih bereksplorasi menggunakan ke 2 tangan. Baru dalam usia lima tahun, anak terlihat mantap dengan pilihan tangan yg lebih banyak beliau pakai. Kendati demikian, Anda bisa melakukan pengamatan semenjak dini menggunakan memperhatikan beberapa hal berikut :
  • Tangan mana yang digunakan anak buat meraih mainan yang diletakkan di depan mereka.
  • Tangan mana yg dipakai buat menggosok gigi dan menyisir rambut.
  • Tangan mana yang dipakai buat makan.
  • Tangan mana yg digunakan untuk mengaduk. Anak kidal umumnya mengaduk menggunakan arah yg antagonis dengan arah putaran jarum jam.
  • Ketika menggambar, apakah anak memulai menurut kanan.
  • Apakah anak lebih suka berdiri di atas kaki kiri waktu diminta berdiri di atas satu kaki.
Kidal nir sanggup dilepaskan dari perkembangan otak. Otak besar kita terdiri menurut belahan kiri dan kanan. Masing-masing belahan tidak sama manfaatnya. Bagi kebanyakan orang, belahan kiri bertanggung jawab atas kemampuan lisan seperti bahasa mulut atau goresan pena, serta emosi positif seperti perasaan bahagia. Belahan kanan bertanggung jawab atas kemampuan spasial misalnya kemampuan baca peta, serta emosi negatif misalnya perasaan murung , stres, dll. Fungsi ini bisa terbalik dalam anak kidal, serta umumnya tidak terspesialisasi secara kentara seperti anak-anak yang lebih banyak didominasi tangan kanan.

Yang kentara, setiap anak memang terlahir dengan kesamaan tangan kanan atau tangan kiri. Usaha hiperbola buat mengubahnya akan menyebabkan kecemasan, gagap, atau kesulitan belajar dalam anak. Jadi, nir dianjurkan untuk mengubahnya. Jika, ada anak anda yg lebih mayoritas ke arah kiri, jangan pernah mengubah karakter mereka. Itu sama aja, anda memutar pulang otaknya bekerja.

Dengan penerimaan dan dukungan yg baik, anak kidal tetap dapat berkembang sama baik dengan anak-anak yg nir kidal. Mereka permanen bisa berbagi diri pada olahraga, musik dan kegiatan seni di mana mereka dapat memperoleh kebebasan berekspresi dan nir ada keharusan untuk menggunakan tangan eksklusif.

Membantu anak kidal

Inilah yang bisa dilakukan orangtua pada si kidal:
  • Ajarkan anak buat menggunakan tangan kanan dalam konteks sosial, mengingat kita hayati pada tengah budaya tangan kanan. Misalnya, ketika bersalaman menggunakan tamu, memberi atau mendapat sesuatu dari orang lain.
  • Hindari memberi perintah pada anak buat memakai tangan kanan. 
  • Hindari menegur anak pada depan orang lain, bila ia terlanjur memakai tangan kiri. Anda bisa menegur anak nanti setelah tidak ada orang lain. 
  • Hindari terlalu seringkali menasehati anak buat menggunakan tangan kanan lantaran anak justru akan membentengi diri serta menolak sama sekali.
  • Pakai trik dalam mengajarkan keterampilan misalnya mengikat tali sepatu. Caranya, duduk berhadapan menggunakan anak sehingga anak mudah meniru gerakan tangan kanan Anda. Cara ini lebih efektif daripada duduk di samping anak.  
  • Konsultasikan pada guru anak pada sekolah tentang kondisi kidalnya supaya pengajar jua bisa menyikapi dengan bijak dan membantu anak mengikuti keadaan menggunakan global yang dominan kanan.
Fakta-Fakta Tentang Orang Kidal Yang Harus Anda Tau
Ini beberapa fakta tentang orang Kidal :
  1. Orang kidal punya otak yang lebih terstruktur, sebagai akibatnya memiliki kemampuan yg lebih menurut orang biasa. Kemampuan disini bukan hanya kemampuan intelektual, akan tetapi pula kemampuan Seni,Sastra, olahraga dll
  2. Anak kidal umumnya sensitif.
  3. Juga anak kidal itu cenderung menjadi nir percaya diri, saat lingkungannya tidak menerimanya sebagai orang kidal.
  4. Anak kidal punya daya imajinasi serta khayal yg tinggi, sebagai akibatnya mereka lebih kreatif daripada anak-anak yg bukan kidal.
  5. Hasil penelitian menurut universitas di amerika menandakan pada dasarnya SEMUA MAKHLUK HIDUP ITU KIDAL. Semua makhluk hayati pada planet ini seharusnya kidal, lantaran bergantung dalam asam amino essensial yang berorientasi kidal. Karena faktor evolusi serta genetika jumlah makhluk hayati khususnya manusia yg kidal terus berkurang.
  6. Studi baru – baru ini mengatakan bahwa orang kidal yang duduk pada bangku kuliah menerima input 10 %- 15% lebih poly dari mitranya.
  7. Menurut sebuah studi, orang kidal hidupnya 9 tahun lebih pendek dari yg nir kidal
  8. Entah mengapa, tetapi orang kidal katanya lebih tidak senang buku berjilid spiral dibanding yang tidak kidal.
  9. Jika kedua orangtua kidal, maka terdapat kemungkinan 50% keturunan mereka jua akan kidal. Sementara bila ke 2 orangtua nir kidal, kemungkinan tadi akan turun sebagai 2% saja 
  10. Jumlah Penderita Kidal semakin tinggi pesat sehabis tahun 1910. 
  11. Jumlah orang kidal di dunia lebih kurang lima%-15% dari jumlah penduduk dunia.
  12. Orang kidal mempunyai kecenderungan lebih tinggi buat kecanduan alkohol.
  13. Pria umumnya dua kali lebih cenderung kidal daripada perempuan . 
  14. Semakin tua seseorang Ibu saat melahirkan, semakin akbar kemngkinan anaknya lahir kidal. 
  15. Pada abad pertengahan, menulis menggunakan tangan kiri mampu dieksekusi mangkat .
  16. Orang kidal yang terkena Stroke lebih cepat sembuh berdasarkan orang yang normal.
  17. Mereka yang kidal pintar dalam Musik serta Matermatika.
  18. Orang kidal biasanya unggul dalm renang, tenis, dan Baseball.
  19. Orang yang memakai tangan kiri cenderung memakai otak kanan.
  20. Umumnya IQ anak kidal lebih dari 131.
  21. Kebanyakan orang kidal menggambar obyek menghadap ke kanan.
  22. Stuktur orang kidal tidak sama menggunakan orang normal.
  23. Satu berdasarkan empat Astronot Apollo merupakan orang kidal.
  24. Orang kidal lebih gampang mengontrol emosi daripada yg bukan kidal
  25. Seperti yg pada kutip Ehow bahwa kidal cenderung lebih atletis mempunyai kesadaran yg lebih khas serta berfikir lebih cepat.
  26. Ibu terkini pada Amerika waktu ini sangaat ingin anaknya sebagai kidal lantaran aneka macam keunggulannya.
  27. Para pakar ber-teori bahwa orang kidal mempunyai mental lebih baik disaat usia tua.
  28. Mudah dalam menulis bahasa Arab, lantaran bahasa arab pada tulis dari kanan ke kiri.
  29. Menurut hasil penelitian, orang kidal sanggup melakukan 2 pekerjaan sekaligus.
  30. Lebih cepat dalam berpikir baik pada dominasi komputer, game, teka-teki, serta analisa masalah dan sebagainya.
  31. Orang kidal mempunyai kemungkinan lebih akbar buat sebagai jenius. 
  32. Jika seseorang kecenderungan kidal, jangan dipaksakan buat menggunakan tangan kanan, karena bisa mengakibatkan hal yg jelek baik secara psikologis maupun prestasi, hal ini pernah dialami oleh Raja Inggris King George VI yang jadi gagap serta dyselexia lantaran dipaksa menggunakan tangan kanan.
  33. 4 dari lima desainer personal komputer Mac dilaporkan kidal.
  34. Ada Toko spesifik buat orang-orang kidal misalnya : //www.anythinglefthanded.co.uk/ dan //www.leftyslefthanded.com/
  35. Tanggal 13 Agustus adalah Hari perayaan bagi orang Kidal International di UK.
  36. Albert Einsten serta Isaac Newton merupakan seorang kidal
  37. Bill Gates serta Oprah Winfrey pula kidal.
  38. McCartney, Angelina Jolie, Valentino Rossi, Marilyn Monroe, serta Presiden AS Obama pula kidal.
  39. Pemusik yg kidal : Kurt Cobain, Zacky Vengeance, Dominic Howard, Noel Gallagher (member Oasis) , Ringo starr, dll
  40. Menurut statistik, berdasarkan sebuah populasi, 15%-nya termasuk kidal.
  41. Orang kidal memiliki kemungkinan lebih besar buat mejadi jenius. 20% berdasarkan jumlah anggota organisasi MENSA, sebuah organisasi untuk orang-orang menggunakan IQ tertinggi sedunia, dilaporkan kidal.
  42. Jika Kamu pria, kidal, serta sedang kuliah, maka diperkirakan Kamu akan 15% lebih kaya daripada laki-laki yang nir kidal. Nah, jikalau hingga tamat kuliah, laki-laki kidal akan 20% lebih kaya.
  43. Psikolog dari Universitas Queen di Belfast menyatakan bahwa kucing betina cenderung nir kidal, ad interim kucing jantan cenderung kidal.
  44. Orang kidal bisa merespon stimulasi (rangsangan) menggunakan lebih baik sehingga kebanyakan orang kidal jago bermain game.
  45. Banyak orangtua pada tahun 70-an dan 80-an yg keberatan anaknya kidal sebagai akibatnya memaksa anaknya yg kidal untuk dapat menggunakan tangan kanan. Namun sekarang diketahui bahwa orang kidal lebih unggul, seperti menjadi pilot pesawat tempur atau kemampuan berbicara dan mengemudi dalam saat yg sama. Namun kebalikannya ibu modern pada Amerika waktu ini 120% ingin anaknya kidal karena banyak sekali kelebihannya.
  46. Menurut Scientific American, terdapat kurang lebih 15 % orang yang aktif memakai tangan kiri atau kidal. Alasan sebagian orang kidal tidak sepenuhnya jelas, tergantung pada campuran faktor genetik dan lingkungan.
  47. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuropsychology memperlihatkan bahwa orang kidal lebih cepat memproses beberapa rangsangan ketimbang orang yang memakai tangan kanan. Hal ini juga menciptakan orang kidal lebih kreatif. Penelitian yg dilakukan di Australian National University (ANU) tampaknya mendukung studi sebelumnya yg menerangkan bahwa norma memakai tangan kanan atau kiri ditentukan sejak pada rahim.
  48. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Kidal lebih cepat serta kreatif karena menggunakan kedua belahan otaknya, berbeda menggunakan orang yang terbiasa memakai tangan kanan yang hanya memakai otak kiri. Kedua belahan otak sebenarnya hampir sama, dan sebagian akbar buat memproses liputan yg sama, menggunakan data lewat bolak-balik di antara keduanya terutama melalui jalur saraf utama. Namun, tugas-tugas eksklusif, misalnya pengolahan bahasa, cenderung terjadi pada satu belahan saja. Bagi kebanyakan orang, pengolahan bahasa terjadi pada bagian kiri. Untuk orang kidal, tugas-tugas tersebut mungkin terjadi di kedua belahan otak.
  49. Bidang keahlian lain merupakan pengolahan data indra, umumnya data yang dikumpulkan pada sisi kanan tubuh, seperti mata kanan, indera pendengaran kanan, serta lainnya, akan menuju ke belahan kiri untuk pemrosesan. Dan sebaliknya, data yg dikumpulkan pada belahan kiri akan menuju belahan otak kanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa orang kidal yang terbiasa menulis menggunakan tangan kiri mungkin memiliki otak yg lebih aman buat simultan atau rangsangan serta pengolahan pada kedua bagian otak. Orang kidal lebih mudah memakai ke 2 belahan otak buat mengelola rangsangan, sehingga holistik proses dan ketika respon lebih cepat. Ini juga sanggup berarti bahwa saat keliru satu belahan otak menerima kelebihan beban serta mulai melambat, belahan otak lain sanggup lebih mudah menentukan mengisi kekosongan itu.
  50. Para pakar pula berteori bahwa orang kidal mempunyai mental lebih baik saat di usia tua serta ketika proses otak secara holistik mulai melambat.
  51. Menurut sebuah studi yang dilakukan sang Dr Alan Searleman menurut St Lawrence University pada New York, memperlihatkan bahwa orang kidal sanggup mendukung sisi kiri tubuhnya buat semua kegiatan fisik. Orang kidal juga dua kali lebih terampil dalam pemecahan masalah dan memiliki IQ lebih tinggi dari orang yang aktif dengan tangan kanan.
  52. Orang menggunakan tangan kidal relatif lebih cerdas menurut pada bukan kidal (Guardian UK).
  53. Orang Kidal lebih gampang mengontrol emosi dibandingkan bukan kidal (National Geographic).
  54. Jumlah Penderita Kidal semakin tinggi pesat setelah tahun 1910 (BBC).
  55. Penderita Kidal jumlah hingga saat ini kurang lebih 15 % menurut seluruh populasi dunia (National Geographic).
Fakta menarik lainnya yg pada miliki oleh seseorang Kidal
  • Individu kidal cenderung merasa cemas ataupun memalukan dengan apa yg ingin dilakukan atau dikatakan. Kajian berdasarkan Abertay University Skotlandia menemukan bahwa orang kidal cenderung lebih sepakat menggunakan pernyataan misalnya : “Saya risi membuat kesalahan.” Mereka yang kidal juga setuju dengan penyataan : “Kritik atau omelan menciptakan aku sedikit sakit hati.”. Dr Lynn Wright, yg menjalan kajian tersebut pada Dundee, Skotlandia, percaya kenyataan ini ditimbulkan adanya disparitas bagian otak antara orang kidal dan orang tangan kanan. “Orang kidal cenderung lebih bimbang, sedangkan mereka yg menggunakan tangan kanan cenderung sedikit berkecimpung cepat. Pada orang kidal, bagian otak kanannya lebih lebih banyak didominasi, dan inilah bagian yang sepertinya mengendalikan aspek negatif menurut emosi. Mereka yang lebih banyak menggunakan tangan kanan, bagian otak kirinya lebih dominan,” jelas Dr Lynn Wright.
  • Hubungan kidal menggunakan otak, ini lantaran otak kita berfungsi secara menyongsang otak kita di sebelah kiri menguasai bagian tubuh pada sebelah kanan dan otak sebelah kanan jua menguasai bagian tubuh di sebelah kiri. Otak sebelah kiri (cenderung menggunakan tangan kanan) menguasai pertuturan, bahasa, goresan pena, nalar, matematik dan sains. Otak sebelah kanan (cenderung memakai tangan kiri) menguasai musik, seni, kreatifitas, tanggapan, emosi dan kebijaksanaan. Dengan penguasaan otak ini dikatakan individu kidal lebih bijak berdasarkan segi kreasi dan seni berbanding bagi mereka yg menggunakan tangan kanan.
  • Orang kidal pintar, memang individu kidal yang terkenal namun kepintaran mereka bukan hanya karena kidal namun karena mereka menggunakan 80% – 90% otak. Individu kidal bukan saja menggunakan otak kanan secara maksimal , tetapi jua menggunakan otak kiri lebih banyak dari orang biasa yang menggunakan otak kanannya. Orang Kidal memakai lebih banyak bagian otak karena secara ringkas mereka juga melakukan beberapa pekerjaan memakai tangan kanan selain memakai tangan kiri mereka dan secara otomatis mereka menggunakan kedua belah bagian otak lebih dari orang biasa.
  • Orang kidal lebih ditentukan sang rasa takut, dalam satu percobaan yang terbaru, lefties (kidal) menonton klip 8 mnt dari film Silence of the Lambs menampakan lebih poly gejala gangguan stress pasca-trauma dibandingkan dengan rekan mereka righties (dominan tangan kanan). Itu mungkin lantaran sisi kanan otak, yg secara umum dikuasai di orang kidal, lebih terlibat pada respon ketakutan. Menurut Dr Carolyn Choudhary dari Queen Margaret University di Edinburgh, seperti dikutip dalam The Telegraph. Tetapi penelitian lebih lanjut dibutuhkan, Choudhary memperingatkan.
  • Mereka pemarah, orang kidal serta ambidextrous lebih rentan terhadap emosi negatif, termasuk murka . Sebuah studi kecil yg sudah diterbitkan pada Journal Penyakit saraf dan mental menemukan bahwa otak orang kidal memproses emosi tidak sama dibandingkan dengan righties, menggunakan komunikasi yg lebih antara 2 belahan otak. Akibatnya, daerah yang membuat emosi negatif mengalami kegiatan yg lebih akbar, dari Daily Mail. Kemungkinan lagi orang kidal marah lantaran segala hal di global ini didesain buat pengguna tangan kanan.
  • Mereka lebih terhambat, kaitan emosional itu jua dapat menjelaskan mengapa righties cenderung buat menatap depan, sementara lefties (orang Kidal) “cenderung gentar,” berdasarkan psikolog konduite Lynn Wright, seperti dikutip dalam NewScientist. Sebuah studi yang dilakukan oleh Wright pada Abertay University pada Skotlandia menemukan bahwa lefties lebih terkendali serta lebih khawatir mengenai membuat kesalahan.
  • Mereka menghubungkan “kiri” menggunakan hal baik, kebanyakan orang cenderung mempunyai asosiasi positif menggunakan konsep asosiasi “kanan itu baik ” dan “kiri itu tidak baik.” Lefties adalah kebalikannya. Penelitian terbaru, peneliti Stanford Daniel Casasanto meminta peserta untuk menggambar zebra pada kotak yg paling mewakili hal-hal yg baik, sementara mendeskripsikan panda pada sebuah kotak yg mewakili hal-hal jelek. Orang tangan kanan cenderung menaruh posisi zebra pada sisi kanan kotak, sementara lefties meletakkannya pada sebelah kiri. Itu memperlihatkan bahwa orang kidal percaya “hal baik adalah pada hal-hal kiri serta tidak baik adalah pada sebelah kanan,” Casasanto menyampaikan, misalnya dikutip oleh Laporan Stanford, meskipun begitu banyak sinyal dari bahasa dan budaya “menyampaikan kepada mereka hal yg berlawanan.”
  • Orang kidal mempunyai laba dalam politik, kesimpulan Casasanto sebenarnya bisa mendukung politisi Kidal, setidaknya pada acara-program televisi misalnya debat, istilah Jocelyn Rousey pada Mediaite. Casasanto menemukan bahwa politisi cenderung berbicara sang isyarat menggunakan tangan mayoritas mereka. Ketika rightie memakai tangan yg dominan buat menaruh acungan jempol, pemirsa televisi – yang melihat gambar secara terbalik – melihatnya isyarat pada sisi kiri layar mereka. Lefties, ad interim itu, “tampaknya menempatkan gambaran lebih positif buat 90% dari pemirsa tangan kanan.”

Kelebihan dan Kekurangan Kidal

Kelebihan :
  1. Mudah pada menulis bahasa arab, karena bahasa arab di tulis dari kanan ke kiri.
  2. Bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus (berdasarkan hasil penelitian).
  3. Lebih kreatif dan pemikir, sehingga cocok di bidang seni, musik, dan menulis.
  4. Lebih cepat dalam berpikir baik dalam bidang olahraga, permainan komputer serta sebagainya.
  5. Memiliki keuntungan lebih pada bidang olahraga. Bidang olahraga tersebut seperti Baseball, Tenis, Badminton serta sebagainya. Karena kalau kidal, versus akan menjadi lebih kesulitan pada bermain, lantaran posisi memegang alatnya yang tidak selaras menurut yang lain. Contohnya Bao Chunlai pada bidang badminton serta Ted Williams di bidang Baseball. Mereka berdua adalah orang kidal yg menjadi keliru satu pemain terbaik pada bidangnya.
  1. Dalam Kreativitas individu kidal memakai otak sebelah kanan yg menguasai musik, seni, kreativitas, tanggapan, emosi dan kebijaksanaan.
  2. Dalam bentuk kamera SLR yg memerlukan ke 2-2 belah tangan sedikit menyenangkan individu kidal. Karena tangan kidal akan digunakan buat memegang lensa dan menyokong berat kamera tersebut. Oleh itu, mereka lebih cepat membarui fokus kamera serta kamera dapat disokong menggunakan mudah.
  3. Mudah menyesuaikan diri, lantaran semua pada dunia ini di dominasi produk alat-indera khusus pengguna kanan, kidal akan menggunakan mudah beradaptasi dengan alat tangan kanan, sedangkan tangan kanan tak mampu memakai alat-alat kidal. Kidal ketika ini sangat membutuhkan alat-alat khusus pengguna kidal buat memudahkan mereka pada beraktivitas, tapi setidaknya telah di mulai menghasilkan indera-alat khusus kidal.
  4. Sewaktu peperangan zaman dahulu, bila dua individu bertemu, mereka akan saling memegang tangan kanan antara satu sama lain. Ini akan memperlihatkan mereka nir membawa senjata. Individu kidal saja yang dapat merogoh kesempatan memegang pedang pada belakangnya. Kebanyakan pahlawan kidal terpaksa berlatih pedang dengan pahlawan tangan kanan. Oleh itu, mereka bersedia bertempur menggunakan pahlawan tangan kanan manakala lebih banyak didominasi pahlawan tangan kanan tanpa persediaan waktu menentang pahlawan kidal.
Kekurangan :
  1. Sulit dalam memakai gunting. Selain itu, bila terlalu lama memakai gunting, tangan akan terasa sakit.
  2. Tulisan yang di tulis akan terhapus/tercoret jika pada menulis kita memakai tinta/pulpen cair. Itu terjadi karena, gaya menulis berdasarkan kiri ke kanan, sehingga goresan pena yang telah di tulis akan tersentuh oleh tangan yg sedang menulis.
  3. Sulit menemukan barang yang cocok buat kidal, karena kebanyakan barang-barang pada buat buat orang yg bertangan kanan.
  4. Menurut hasil penelitian, orang kidal lebih poly memiliki perkara psikologis lantaran orang yg kidal kebanyakan memakai otak kanan, dan otak kanan tersebut terfokus pada emosi, bisikan hati, serta pemikiran artistik.
  1. Kesukaran pada menulis di pada buku tebal (diari, kitab laporan,dll ) akan menyulitkan kidal ketika menulis pada bagian kiri. Tulisan yg bermula menurut kiri ke kanan jua adalah galat satu faktor kidal menulis dengan gaya serta cara yang unik.
  2. Penggunaan alat-alat lain tangan kanan seperti gunting, senjata api, indera memanah, dll, komputer, alat-alat dapur, serta lain-lain.
  3. Kursi meja kuliah, dalam penggunaan meja kursi di pada kelas diciptakan spesifik buat orang tangan kanan. Maka, kidal kesulitan dan wajib memiringkan sedikit badan saat menulis.
  4. Intinya kidal mempunyai kelemahan pada banyak sekali aspek seperti pengurusan kesehatan, pendidikan, pekerjaan rumah tangga dll.
 

Hari Orang Kidal Internasional

Kidal pula punya hari akbar, yg jarang di ketahui poly orang. Ini berarti kami sangat di akui sang semua dunia, bahwa kidal itu lebih unggul, lebih menarik serta sangat poly membawa perubahan global.

Tanggal 13 Agustus global memperingati hari yg unik yaitu Hari Orang Kidal Internasional (International Lefthanders Day). Saat ini orang kidal populasinya mencapai kurang lebih 7-15 persen dari total penduduk dunia. Meski orang kidal masih terpinggirkan, namun banyak di antara mereka yang sukses sebagai tokoh dunia. Di Amerika ada pujian tersendiri. Empat menurut lima presiden Amerika terakhir adalah kidal yaitu Barack Obama (presiden ke-44), Bill Clinton (ke-42), George Bush (ke-41), dan Ronald Reagan (ke-40). Dari dunia hiburan kita mengenal Paul McCartney (Beatles), Jimi Hendrix, Phill Collins, serta sebagainya. Masih banyak tokoh artis dunia yang jua kidal, mulai berdasarkan pelukis legendaris Leonardo da Vinci serta Michelangelo, hingga ke aktor Robert deNiro serta Tom Cruise. Di olahraga, yang tampak kekidalannya adalah seperti di cabang bulutangkis. Lin Dan (China), pemenang medali emas tunggal putra Olimpiade 2012 adalah kidal. Dua legenda sepakbola yg paling masyhur yaitu Pele (Edson Arantes do Nascimento) serta Diego Maradona juga kidal. Legenda tenis seperti Jimmy Connors serta John McEnroe (putra) serta Martina Navratilova dan Monica Seles (putri) merupakan kidal.

Hari Kidal Internasional pertama kali diselenggarakan dalam 13 Agustus 1976 sebagai ajakan buat tidak melakukan subordinat pada mereka. Meski di lingkungan rakyat telah mulai mendapat tempat, secara ekonomi masih tersisihkan. Semisal, sejumlah produk pada pasaran kerap tak mempertimbangkan buat menyediakan keperluan serupa bagi para kidal. Seperti gitar, misalnya, bagi mereka yg kidal akan kesulitan memainkan gitar yg biasa dipakai orang normal. Begitu pun sarana umum. Lantaran itulah sambil memperingati Hari Orang Kidal Internasional kita dituntut buat nir melakukan subordinat pada mereka pada segala hal.

Klub Tangan Kidal (The Left-Handers Club) mendesak Presiden Alaihi Salam Barack Obama dan PM Inggris David Cameron (keduanya bertangan kidal), buat menciptakan zona tangan kiri di tempat tinggal mereka dan tempat kerja mereka.

“Klub ini merayakan Hari Kidal Internasional buat mempertinggi pencerahan rakyat terhadap kelebihan dan kekurangan mereka,” tulis Telegraph.

Hari Kidal Internasional berlangsung 13 Agustus, dimulai sang sebuah kelompok pada AS tahun 1976, ditandai dengan acara informal di seluruh dunia. Peserta bisa men-download poster, lagu, serta kuis yang ditujukan pada seremoni kemampuan mereka yang unik.

Para kidal selama ini acapkali mengeluh bahwa alat-alat rumah tangga misalnya gunting, lubang kunci, serta bahkan pena dirancang buat digunakan menggunakan tangan kanan, mengabaikan mereka yang bertangan kidal. Ini sih, curang banget yah!!

Mereka menjamin bahwa kesamaan fisik menyimpan kemampuan mental yg unik. Bahkan, beberapa penelitian menjelaskan mereka rata-rata lebih cerdas ketimbang orang yang tidak kidal.

Yang lebih kerennya lagi, bahwa ada kelebihan lain yang pula menjadi penguasaan kidal dan kanan yang sangat sporadis terjadi.
Ambidexterity, Bakat Langka Manusia

Ambidexterity adalah keadaan dimana seseorang yg mahir menggunakan kedua tangan dalam aktivitas orang tadi (misalnya menulis). Ambidexterity adalah bakat manusia dimana insan tersebut bisa melakukan perubahan penguasaan pergerakan pada galat satu sisi. Orang-orang yg terlahir Ambidexterity umumnya disebut Penwald ambidextrous. Dan mereka jua bisa berhenti memakai kedua tangan mereka serta hanya memakai satu tangan saja.

Meskipun Ambidexterity itu sangat sporadis, tapi orang yang mempunyai bakat ini masih memungkinkan buat melakukan beberapa tugas dengan tangan eksklusif. Tingkat fleksibilitas dengan masing-masing tangan umumnya faktor kualitatif pada menentukan seseorang yg Ambidexterity.

Di zaman yg modern ini, lebih gampang untuk menemukan orang yang mengalami Ambidexterity yg dulunya kidal, dan yg berlatih supaya bisa sebagai Ambidextrous baik secara berlatih berdikari juga diajarkan dalam institusi pendidikan yg menekankan untuk memakai tangan kanan. Dan pula lantaran banyaknya alat yang bentuknya asimetris (model pembuka kaleng, gunting, gitar, dll.) serta pada desain buat orang yg memakai tangan kanan saja. Hal ini mengakibatkan banyak orang kidal yg belajar buat memakai alat tadi dengan tangan kanan lantaran sedikitnya indera yg pada desain khusus buat orang kidal. Dan hal ini menyebabkan orang kidal dapat menggunakan tangan kanannya secara bersamaan dengan tangan kiri.

Ambidexterity tak jarang didorong dalam aktivitas-aktivitas yang memerlukan poly keterampilan pada ke 2 tangan, misalnya juggling, berenang, perkusi, keyboard musik, mengetik, bisbol, lacrosse, pembedahan, tinju, bola basket serta pertempuran.

TERNYATA CARA KERJA OTAK ORANG KIDAL JUGA TERBALIK (STUDI TERBARU)

Tahukah Anda bahwa cara kita menggunakan tangan dan kaki bisa menentukan bagaimana emosi diatur dalam otak? Demikian dari sebuah studi terkini yg dipublikasikan oleh psikolog Geoffrey Brookshire dan Daniel Casasanto menurut The New School for Social Research pada New York.

Motivasi, yaitu dorongan buat mendekati atau menarik diri menurut rangsangan secara fisik dan sosial, sejatinya adalah sebuah dasar pembangun emosi insan. Selama beberapa dekade ilmuwan percaya bahwa motivasi awalnya diproses pada belahan otak kiri, lalu ditarik ke belahan kanan. Studi Brookshire dan Casasanto menentang inspirasi ini dengan menampakan bahwa pada aktivitas otak dengan pola mapan (bukan kidal) ternyata ditemukan berkebalikan dengan yg kidal.

Penelitian ini menggunakan Electroencepahlography (EEG) buat membandingkan kegiatan di belahan kanan serta kiri subjek penelitian selama istirahat. Setelah gelombang otak mereka diukur, para subjek menuntaskan survei mengukur taraf motivasi, aspek inti berdasarkan kepribadian kita. Pada pengguna tangan kanan, motivasi bertenaga dikaitkan dengan aktivitas lebih akbar pada otak kiri ketimbang kanan, konsisten dengan penelitian sebelumnya. Namun, dalam subjek kidal memberitahuakn pola yg berlawanan, motivasi dikaitkan menggunakan aktivitas lebih besar di belahan kanan.

Sebagian akbar fungsi kognitif tidak membalik akibat penggunaan tangan. Bahasa, contohnya, terutama diproses di belahan kiri untuk sebagian akbar pengguna tangan kanan dan kidal. Namun hasil ini bukan di luar dugaan.

“Kami memperkirakan pembalikan ini karena kami mengamati bahwa orang cenderung memakai tangan tidak sinkron untuk melakukan tindakan eksklusif,” istilah Casasanto. Tindakan pendekatan sering dilakukan menggunakan tangan lebih banyak didominasi, sedangkan penghindaran menggunakan tangan yang nir lebih banyak didominasi. Misalnya, pengguna tangan kanan bila mekakukan aksi yg disenanginya menggunakan tangan kanan, akan tetapi menggunakan tangan kiri untuk hal-hal yang tidak disenangi. Mungkin ini sebabnya orang yang habis buang air menggunakan tangan kiri padahal makan menggunakan tangan kanan? Kalau sahih, apakah itu ialah orang kidal membersihkan sesudah buang air menggunakan tangan kanan?

“Motivasi pendekatan dilakukan pada belahan yang mengendalikan tangan kanan (otak kiri) buat pengguna kanan, sementara buat orang kidal kebalikannya.”

Apa manfaat dari studi ini? Salah satunya punya akibat bagi pengobatan gangguan depresi dan kecemasan yang selama ini biasa dilakukan.

Mengingat apa yg telah ditunjukkan Brookshire Casasanto ini, metode pengobatan yang terbukti membantu bagi pengguna tangan kanan boleh jadi berdampak sebaliknya bagi si kidal. Tetapi mereka belum sanggup memastikan apakah temuan mereka itu sudah mampu diterapkan atau belum. Studi lebih lanjut perlu dilakukan sebelum penemuan ini diaplikasikan dalam global medis. Untuk mengobati depresi serta gangguan kecemasan, stimulasi otak digunakan buat menaikkan aktivitas saraf di otak kiri pasien. Pengobatan ini yang membantu sahih handers, akan tetapi bisa merugikan kidal.

“Pendekatan motivasi dihitung menggunakan belahan bumi yg mengendalikan tangan kanan pada kanan handers, dan dalam belahan bumi yg mengontrol tangan kiri di kidal,” kata Casasanto. “Kami tidak berpikir ini adalah kebetulan sirkuit saraf buat motivasi bisa fungsional herbi sirkuit yg mengontrol tindakan tangan -. Emosi dapat dibangun pada atas sirkuit saraf buat tindakan, dalam waktu evolusi atau perkembangan.”

Di kutif dari ScienceDaily (dua Mei 2012). Cara menggunakan tangan kita dapat menentukan bagaimana emosi diatur dalam otak kita, berdasarkan sebuah studi modern yang dipublikasikan di PLoS ONE sang psikolog Geoffrey Brookshire serta Daniel Casasanto berdasarkan The New School for Social Research pada New York Emosi Terbalik di Otak kidal. 


Sumber: Dirangkum dari Berbagai Sumber !!

TIPS MENGATASI NODA KUNING / KECOKLATAN PADA GIGI

Memutihkan gigi secara alami - Noda kuning atau agak coklat pada gigi banyak ditimbulkan oleh faktor yg mempengaruhi. Mulai berdasarkan faktor kebersihan, faktor gaya hidup, makanan serta lain-lainnya. Noda kuning serta kecoklatan pada gigi yg dibiarkan pada jangka panjang sanggup menyebabkan perkara kesehatan dalam gigi seperti timbulnya plak serta karang gigi. Selain itu noda kuning atau kecoklatan pada gigi tentu saja mengakibatkan rasa agama diri seorang akan menurun. Nah berikut beberapa faktor paling umum yg menyebabkan noda kekuningan atau kecoklatan pada gigi:
  • Faktor genetik atau keturunan
  • Faktor kesehatan
  • Kondisi cuaca 
  • Penggunaan obat-obatan kimia dosis tinggi
  • Konsumsi teh, kopi, rokok
  • Kebersihan gigi yang kurang terawat (sporadis membersihkan gigi)
  • Infeksi
  • dll

Nah berdasarkan beberapa faktor diatas yg paling tak jarang kita alami adalah karena konsumsi makanan atau minuman yg mengakibatkan discolouring (perubahan rona) misalnya teh, kopi,serta aktifitas merokok. Perubahan warna gigi yg terus menerus menguning atau kecoklatan lama lama akan sulit buat dihilangkan. Jadi pastikan buat teratur menjaga kebersihan serta kesehatan gigi anda secara teratur seperti menyikat gigi anda secara teratur minimal 2 kali sehari, sebelum tidur serta sehabis bangun tidur. Discolouring gigi akan sangat efektif bekerja saat anda tertidur jadi jangan sampai lupa buat menyikat gigi anda sebelum anda pergi ke tempat tidur.

Mengatasi Noda Kuning / Kecoklatan Pada Gigi
Jika gigi anda telah terlanjur menguning atau kecoklatan akibat terlalu poly minum teh, kopi juga merokok kali ini aku akan sedikit mengembangkan tips bagaimana cara memutihkan gigi secara alami buat mengatasi noda kekuningan atau kecoklatan pada gigi misalnya dikutip dari Top Home Remedies:
Menggunakan baking soda
Soda kue atau baking soda mampu anda gunakan buat memutihkan gigi serta mengatasi noda kuning atau kecoklatan pada gigi secara efektif, namun penting buat diperhatikan bahwa jangan terlalu sering menggunakan baking soda buat pemutih gigi karena penggunaan yg terlalu tak jarang dan terus menerus bisa menyebabkan enamel gigi terkelupas (penipisan bagian atas pelindung gigi). Jadi gunakan hanya apabila gigi anda terlihat kekuningan atau agak coklat saja atau maksimal 1 kali pada 2 minggu.
Caranya encerkan 1/2 sendok baking soda dengan beberapa tetes perasan air lemon, gunakan buat menyikat gigi anda seperti biasa dan berkumur dengan air bersih.
Menggunakan kulit jeruk
Jeruk adalah buah yang kaya akan antioksidan, antibakteri dan vitamin C yg tinggi. Kandungan ini nir hanya terdapat dalam daging buahnya saja tetapi pula dalam kulit luarnya. Selain hal itu kulit jeruk pula sangat bermanfaat buat memutihkan gigi dan mengatasi noda kuning atau agak coklat membandel pada gigi anda. Caranya gosok gigi anda menggunakan kulit jeruk sebelum anda tidur, atau mampu menyikat gigi anda dengan bubuk kulit jeruk yaitu kulit jeruk yg sudah sahih benar kemarau lalu digiling halus sehingga menciptakan powder atau bubuk. Penggunaan tiga-lima kali maka anda akan dapat merasakan perbedaanyya.
Menggunakan garam
Garam mengandung banyak jenis mineral yang sangat baik buat memutihkan gigi serta mengatasi noda kekuningan atau kecoklatan dalam gigi, bahkan garam yang dicampur dengan serbuk arang telah digunakan dari zaman nenek moyang buat membersihkan dan memutihkan gigi. Kandungan mineral pada garam juga membantu melapisi lapisan enamel yang menipis. Caranya pakai garam buat menyikat gigi anda (tanpa pasta gigi) sebelum anda mandi. Penggunaan dua kali pada seminggu maka anda dapat melihat perbedaannya dalam 1 bulan.
Arang
Pernahkah anda membaca atau mungkin mendengar bahwa orang orang dizaman dahulu memiliki gigi putih serta bertenaga hingga mereka tua, apa rahasia mereka. Menurut beberapa penilitian pertanda gigi mereka kuat, putih serta terbebas menurut noda kuning atau agak coklat lantaran mereka rajin menggosok gigi mereka memakai arang dan serbuk batu bata.
Makanan pembersih gigi
Nah bagi anda nih yang senang buah serta sayur segar beberapa bahan kuliner berikut adalah mempunyai manfaat menjadi pembersih alami pada gigi sekaligus memutihkan dan mengatasi noda kuning serta agak coklat pada gigi. Beberapa jenis makanan itu seperti jeruk, strawberry, segala jenis berry, kedondong, apel, pir sayuran segar (salad) dll.
Nah demikian cara serta tips memutihkan serta mengatasi noda kekuningan atau agak coklat dalam gigi secara alami, apabila anda ada masukan silahkan masukkan dalam komentar dibawah posting. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

TELAAH TENTANG DUALISME PENDIDIKAN AGAMA VERSUS PENDIDIKAN UMUM

Telaah Tentang Dualisme Pendidikan Agama Versus Pendidikan Umum
Maurice Bucaille dalam bukunya Bibel, Qur’an serta Sains Modern menyatakan: Alquran diwahyukan menggunakan muceduven serta meyakinkan pada orang yang mempelajarinya secara obyektif dengan mereduksi petunjuk berdasarkan sains terkini, suatu sifat yg spesifik, yakni persesuaian yg sempurna dengan output sains terbaru. Bahkan semenjak zaman Nabi Muhammad saw, hingga dewasa ini, pertanda bahwa Alquran mengandung pernyataan ilmiah yg sangat terbaru serta nir wajar apabila dikatakan bahwa orang yang hayati pada saat –waktu- Alquran diwahyukan itu sebagai pencetus-pencetusnya. Karenanya, ilmu pengetahuan modern memungkinkan kita buat tahu ayat-ayat tertentu dalam Alquran, sampai dewasa ini belum sanggup ditafsirkan,[1] secara kontekstual pada menyikapi perkembangan zaman.

Keterpaduan, persesuaian, bahkan ketergantungan ilmu pengetahuan terkini kepada ilmu pengetahuan Islam (Alquran) nir hanya terdiri atas penemuan-inovasi teori-teori revolusioner yg mengejutkan, namun pula berutang pada memperkenalkan metode-metode serta semangat memerolehnya.[2] Pada termin berikutnya, khazanah keilmuan pada Islam mengalami kemunduran yang drastis. Kemunduran itu terjadi karena umat Islam terlalu bangga atas produk-produk pendahulunya. Mereka cenderung mempertahankan serta melegitimasi ilmu yang pernah diterimanya, sehingga daya ijtihad menyusut dan stagnasi pemikiran menjamur, ta’assub fī al-mażhab berkepanjangan. Tidak hanya itu saja, tekanan ekstrem lebih parah lagi setelah kekalahan umat Islam dalam perang salib, yang menghilangkan semangat keilmuan dan terbakarnya perpustakan-perpustakaan Islam. Maka, waktu itulah bangsa Barat merogoh alih khazanah keilmuan tersebut hingga mampu mendominasi seluruh aspek ilmu pengetahuan.[3]

Sejatinya, diakui sang dunia kesarjanaan modern bahwa sekiranya tidak pernah terdapat Islam serta kaum Muslimin, tentulah ilmu pengetahuan sahih-sahih sudah usang meninggal oleh “Cyril serta Justinian”,[4] tanpa terdapat kemungkinan bangkit lagi, serta Eropa tentunya akan permanen berada dalam kegelapan (the dark age) yang penuh mitologi serta kepercayaan palsu. Zaman terbaru tidak akan pernah ada, maka syukurlah Islam pernah tampil, kemudian berhasil mewariskan ilmu pengetahuan kepada umat manusia melalui Eropa.[5] Namun, efek dari dominasi peradaban Barat, yang terlanjur memodernisasi kemajuan terbaru, menyebabkan format pendidikannya pun sebagai kiblat bagi negara-negara berkembang yang notabene adalah secara umum dikuasai kaum Muslimin (termasuk Indonesia). Realitas pendidikan sepeti ini, tentu akan menunjuk pada westernisasi yg mengacu pada pendidikan sekuler, yaitu pendidikan yang memisahkan antara pendidikan agama menggunakan pendidikan generik. 

Menyikapi empiris pendidikan tersebut, sebagian pakar pendidikan kita selama ini cenderung mengambil sikap seakan-akan segala perkara pendidikan, baik makro juga mikro yang ada pada lingkungan rakyat bisa diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat. Filsafat Barat dalam umumnya bersifat sekuler, yg kurang relevan dengan kehidupan warga Indonesia atau Timur, yg cenderung serta atau lebih bersifat religius. Konsekuaensi berdasarkan kekeliruan memahami serta menyikapi filsafat pendidikan Barat ini, menyebabkan adanya dualisme ilmu di global Islam, yang selanjutnya mengakibatkan terjadinya dualisme pendidikan bagi umat Islam, terutama di Indonesia. Fakta tadi menarik dikaji menggunakan melihat 3 masalah, yaitu: pertama, apa yg dimaksud dibagi dua ilmu dan dualisme pendidikan?. Kedua, mungkin krusial diperhatikan bagaimana efek dualisme sistem pendidikan Islam itu? Dan Ketiga, bagaimana upaya umat Islam buat menghilangkan (mereduksi) dualisme sistem pendidikan Islam tadi?

Defenisi Dikotomi Ilmu serta Faktor Munculnya Dualisme Pendidikan
Dikotomi merupakan pembagian dua grup yg saling bertentangan.[6] Dengan menggunakan demikian, dibagi dua ilmu yg dimaksud di sini adalah pembagian 2 gerombolan ilmu pengetahuan, yang secara lahiriyah kelihatan bertentangan, contohnya ilmu agama serta ilmu umum. Ilmu agama diklaim asal menurut Islam, ad interim ilmu umum dianggap dari menurut Barat. Dalam pandangan penulis bahwa, suatu kesalahan besar yg telah dilakukan sebagian pakar pendidikan selama ini yang telah mendikotomikan ilmu pengetahuan, sehingga lahirnya klaim dari kalangan mereka ilmu Islam dan ilmu kafir. Padahal, pada syariat Islam nir terdapat ajaran tentang dikotomi ilmu tersebut. Justru ada adagium yg dilontarkan sang pakar pesan yang tersirat, yakni ; [7] أطلوا العلم ولو بالصين  (tuntutlah ilmu walau pada negeri Cina). Maksudnya, ilmu itu wajib dituntut pada manapun saja, walau pada negerinya orang kafir. Berkaitan dengan ini, maka menurut penulis bahwa ilmu apapun namanya, jika beliau diletakkan dalam nilai-nilai Islam, maka ilmu tersebut diklaim Islam. Atau dengan istilah lain, ilmu yg bersumber berdasarkan Barat jika dia sinkron menggunakan ajaran Islam, maka ilmu tadi wajib diterima secara bijak. Dalam hal ini, perlu dipahami bahwa nir selamanya ilmu Barat (ilmu yang dipahami oleh orang-orang Barat selama ini), secara lahiriyah -bahkan- bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu Islam.

Oleh lantaran sudah terlanjur adanya pendikotomian ilmu yang dilakukan oleh sebagian ahli pendidikan, maka pada gilirannya jua melahirkan kata lain yg dianggap menggunakan “dualisme pendidikan”, yakni pendidikan agama serta pendidikan umum. Istilah dualisme diartikan menjadi 2 paham atau pemahaman yang berkembang serta dianut pada suatu komunitas. Pemahaman itu mungkin tampak sejalan serta mungkin pertentangan. Jika kemungkinan yang terakhir disebut (kontradisksi) yang ada lalu ditarik benang merah, maka dia semakna menggunakan dikotomi secara lahiriyah. Kembali pada istilah dualisme, secara semantik terma ini berarti dua macam pengetahuan, atau 2 macam pandangan, yaitu: Pertama, Pengetahuan (ilmu) yang rasional – pemerolehannya (epistemologi-nya) melalui logika. Kedua, Pengetahuan (ilmu) non rasional – pemerolehannya melalui wahyu. Kaitannya menggunakan pendidikan, ilmu rasional itu dianggap ilmu generik yg kemudian melahirkan sekolah umum. Ilmu non rasional disebut ilmu kepercayaan yg lalu melahirkan bidang-bidang studi kepercayaan pemisahana di antara keduanya.

Berdasarkan uraian pada atas dapat dinyatakan bahwa dualisme pendidikan bukan terpisah-pisahnya ilmu dalam beberapa disiplin, melainkan fungsi ilmu sendiri yang seharusnya masih ada hubungan fungsional kemudian hubungan itu dipisahkan, sehingga muncullah istilah pendidikan kepercayaan serta pendidikan generik. Adapun faktor-faktor penyebab munculnya dualisme sistem pendidikan, pendidikan agama dan umum adalah menjadi berikut:

a. Stagnasi Pemikiran Umat Islam
Stagnasi yang melanda keserjanaan Muslim terjadi semenjak abad XVI hingga abad XVII M. Kondisi tadi secara umum adalah efek dari kelesuan bidang politik serta budaya rakyat Islam saat itu cenderung melihat ke atas, melihat gemerlapannya kejayaan abad pertengahan, sebagai akibatnya lupa fenomena yg tengah terjadi pada lapangan. Maka para sarjana Barat menyatakan, rasa kebanggaan serta keunggulan budaya masa lampau sudah membuat para sarjana Muslim nir menanggapi tantangan-tantangan yang dilemparkan sang sarjana Barat. Padahal bila tantangan tersebut ditangani secara positif dan lebih arif, dunia Muslim bisa mengasimilasikan ilmu pengetahuan baru itu, lalu memberi arah baru.[8]

b. Penjajahan Barat atas Dunia Islam
Penjajahan Barat terhadap global Muslim sudah dicatat para sejarawan berlangsung sejak abad CVIII sampai abad XIX M. Pada saat itu global Muslim sahih-benar nir berdaya pada bawah kekuasaan imprialisme Barat. Dalam kondisi misalnya itu, tentu tidaklah gampang dunia Muslim menolak upaya-upaya yg dilakukan Barat, terutama injeksi budaya serta peradaban modern Barat. Karenanya pendidikan budaya Barat mendominasi budaya tradisional setempat yang dibangun semenjak usang, bahkan bisa dikatakan, pendidikan ilmu-ilmu Barat telah mendominasi kurikulum pendidikan pada sekolah-sekolah di dunia Muslim.

Dengan demikian, integrasi ilmu pengetahuan nir diupayakan apalagi dipertahankan. Ini menjadi efek mengalirnya gaya pemikiran serjana Barat yang memang berusaha memisahkan antara urusan ilmu menggunakan urusan agama. Bagi mereka, kajian keilmuan wajib dipisahkan menurut kajian keagamaan. Sehingga pada global Muslim pula berkembang hal yang sama, yakni kajian ilmu serta teknologi wajib terpisah menurut kajian kepercayaan . Pendekatan keilmuan seperti ini, tepatnya menjelang akhir abad XIX M mulai menghipnotis cabang ilmu lain terutama ilmu yg menyangkut rakyat, misalnya ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi serta politik.[9]

c. Modernisasi atas Dunia Muslim
Faktor lain yang dianggap telah menyebabkan munculnya dikotomi sistem pendidikan pada dunia Muslim merupakan modernisasi. Yang wajib disadari, modernisasi itu muncul menjadi suatu gugusan antara dua ideologi Barat, teknekisme dan nasionalisme.[10] Teknikisme ada sebagai reaksi terhadap dogma, sedangkan nasionalisme ditemukan pada Eropa dan diinjeksikan secara paksa kepada masyarakat Muslim. Perpaduan kedua paham modernisme inilah, menurut Zianuddin,[11] yang sangat membahayakan dibandingkan menggunakan tradisionalisme yang sempit. Selain itu, penyebab dibagi dua sistem pendidikan adalah diterimanya budaya Barat secara total beserta adopsi ilmu pengetahuan dan teknologinya.[12]

Sementera itu, Amrullah Ahmad[13] menilai bahwa penyebab utama terjadinya dibagi dua adalah peradaban umat Islam yg nir mampu menyajikan Islam secara kaffah. Sebagai akibat dari dibagi dua itu, lahirnya pendidikan umat Islam yg sekularistik, rasionalistik, dan materialistik.

Dampak menurut Dikotomi serta Dualisme Sistem Pendidikan
Ketergantungan bangsa Muslim pada bidang pendidikan, disadari sebagai faktor terpenting pada membina umat, hampir nir dapat dihindarkan dari imbas Barat. Ujungnya, krisis identitas pun tidak sanggup dihindarkan melanda umat Islam. Dari istilah AM. Saefuddin, ketidakberdayaan umat Islam itu membuatnya bersifat taqiyyah.[14] Artinya, kaum Muslimin lebih menyembunyikan identitas islamnya, lantaran rasa takut dan membuat malu. Ternyata perilaku misalnya itu yg poly melanda umat Islam pada segala tingkatan dimanapun berada, baik di infrastruktur, juga suprastruktur. Melemahnya orientasi sosial umat Islam ini secara nir sadar sudah memilah-milah pengertian Islam yang kaffah ke dalam pengertiam parsial pada hakikat hidup bermasyarakat. Islam hanya dipandang dari arti ritual saja. Sementara urusan lain poly didominasi serta dikendalikan oleh konsep-konsep Barat. Akibatnya, umat Islam lebih kenal budaya Barat ketimbang budaya sendiri/Islam.

Di samping pengaruh generik yang dirasakan pada atas, berikut akan dipaparkan efek negatif lain sebagai dampak munculnya pendidikan tersebut.

a. Munculnya Ambivalensi Orientasi Pendidikan Islam
Salah satu impak negatif adanya dikotomi sistem pendidikan, terutama pada Indonesia merupakan munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam.[15] Sementara ini, menggunakan pendidikan pesantren, masih dirasakan adanya kekurangan pada program yang diterapkan. Misanya dalam bidang mu’amalah (ibadah pada arti luas) yg meliputi dominasi berbagai disiplin ilmu serta keterampilan, masih ada anggapan, bahwa seolah seluruh itu bukan merupakan bidang garapan Islam, melainkan bidang garapan spesifik sistem pendidikan sekuler. Sistem madrasah apalagi sekolah dan perguruan tinggi Islam, telah membagi forsi materi pendidikan Islam dan materi pendidikan generik pada prosentase tertentu. Hal itu tentu memperlihatkan bahwa pendidikan Islam tidak lagi berorientasi sepenuhnya pada tujuan pendidikan Islam. Tetapi ironisnya, juga tidak sanggup mencapai tujuan pendidikan Barat. Pada akhirnya, pendidikan Islam pada sekolah dan perguruan tinggi (terutama umum) diketahui menjadi materi pelengkap yang melekat sebagai pencapain orientasi pendidikan sekuler.

b. Kesenjangan antara Sisem Pendidikan Islam dan Ajaran Islam
Pandangan dikotomis yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama serta ilmu-ilmu umum bertentangan menggunakan konsep ajaran Islam yang memiliki ajaran integralistik. Islam mengajarkan bahwa urusan dunia nir terpisah dengan urusan akhirat. Implikasinya, jika merujuk dalam ajaran Islam ilmu-ilmu umum seharusnya difahami sebgai bagian tak terpisahkan menurut ilmu-ilmu kepercayaan . Karenanya, apabila paham dibagi dua dan ambivalen dipertahankan, output pendidikannya itu tentu jauh menurut keinginan pendidikan Islam itu sendiri.

c. Disintegrasi Sistem Pendidikan Islam
Hingga ketika ini, boleh dikatakan, bahwa dalam sistem pendidikan kurang terjadinya gugusan (bisnis integralisasi). Kenyataan ini diperburuk sang ketidakpastian interaksi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Bahkan hal itu ditunjang juga oleh kesenjangan antara wawasan guru agama dan kebutuhan anak didik, terutama pada sekolah umum.[16] Dualisme dan dibagi dua pendidikan menurut sstem pendidikan warizan zaman kolonial yg membedakan antara pendidikan umum di satu pihak dan pendidikan kepercayaan pada pihak lain, adalah penyebab utama dari kerancuan serta kesenjangan pendidikan khususnya di Indonesia menggunakan segala akibat yang pada-timbulkannya. Hal tadi, dari Marwan Saridjo,[17] bahwa akibat serta dampak negatif menurut sistem pendidikan dualistic terdapat dua, yaitu; pertama, arti agama sudah dipersempit yaitu sejauh yang berkaitan dengan aspek teologi Islam seprti yang diajarkan pada sekolah-sekolah kepercayaan selama ini; Kedua, sekolah-sekolah agama serta perguruan tinggi kepercayaan Islam rata-rata ber I.Q rendah serta dari gerombolan residual.

Pengaruh-efek negatif yang diakibatkan oleh sistem dualisme pendidikan tersebut sangat merugikan global pendidikan Islam. Ke-cenderungan untuk terpukau pada sistem pendidikan Barat, menjadi tolok ukur kemajuan pendidikan nasional, diakui itu nir telah menghipnotis sistem pendidikan Islam. Sebagai akibatnya sistem pendidikan kepercayaan Islam sebagai terpecah dalam tiga bentuk, yakni; sistem pesantren; madrasah; dan sistem perguruan tinggi Islam,[18] yang masing-masing mempunyai orientasi yg tidak terpadu.. Sistem pesantren berorientasi pada tujuan insttitusionalnya, diantaranya terciptanya pakar ilmu agama. Sistem madrasah bergeser orientasi ke penguasaan ilmu generik sebagai tujuan sekunder. Akhirnya berkembang sebagai sekolah Islam atau sekolah tinggi Islam yg tujuan institusional perimernya merupakan penguasaan ilmu-ilmu generik, sedangkan ilmu-ilmu agama menjadi tujuan skunder.

Upaya Mereduksi Dualisme Sistem Pendidikan di Dunia Islam
Disadari atau nir, masalah dualisme sistem pendidikan Islam itu masih aktual dibicarakan. Hal itu bisa dipandang, di kalangan ahli pendidikan Islam masalah tersebut sering menjadi bahan diskusi cukup berfokus. Mengapa, karena dualisme sistem pendidikan yg seharusnya nir boleh terdapat, malah seolah telah sebagai demam isu pendidikan bagi warga kita. Ditolaknya sistem pendidikan dualisme tersebut, tidak lain lantaran sejarah sudah pertanda sistem pendidikan Barat seringkali tidak tahu prinsip-prinsip Islam, atau setidaknya sistem pendidikan Barat menjadi penghalang dalam melanding-kan Islam secara kaffah pada kehidupan umat Islam.[19] Karenanya, para sarjana Muslim seharusnya melahirkan suatu pemikiran dan atau penafsiran yg searah dan bersatu membentuk ajaran-ajaran mereka sendiri guna membuatkan ilmu pengetahuan alam, sosial dan ilmu humanisme lainnya. Di samping itu, para pemikir Muslim harus berani menantang ilmuan Barat pikiran-pikirannya dipenuhi hipotesis-hipotesis materialistik, yang menolak berlakunya kehnedak Allah di alam ini.[20] Dengan demikian dibutuhkan umat Islam akan dapat kembali menemukan sistem pendidikan Islam dalam bentuk utuhnya.

Sementara, Zianuddin Sardar[21] menaruh solusi buat menghilangkan dikotomi itu menggunakan cara meletakkan epistimologinya serta teosri sistem pendidikan yg bersifat mendasar. Menurutnya, untuk menghilangkan sistem pendidikan dikotomis di global Islam perlu dilakukan bisnis-bisnis menjadi berikut: Pertama, Dari segi epistimologi, umat Islam wajib berani menyebarkan kerangka pengatahuan masa sekarang yang teraktikulasi sepenuhnya. Ini berarti kerangka pengetahuan yang dibuat harus aplikatif. Kerangka pengetahuan dimaksud setidaknya bisa menggambarkan metode-metode serta pendekatan yang sempurna yg nantinya dapat membantu para ahli Musllim pada mengatasi masalah-perkara moral serta etika yg sangat secara umum dikuasai pada masa sekarang.

Kedua, Perlu terdapat suatu kerangka teoritis ilmu serta teknologi yg menggambarkan gaya-gaya serta metode-metode kegiatan ilmiah dan teknologi yang sinkron tinjauan dunia dan mencerminkan nilai serta norma budaya Muslim. Dan Ketiga, Perlu diciptakan teori-teori pendidikan yg memadukan karakteristik-ciri terbaik sistem tradisional dan sistem terkini. Sistem pendidikan integralistik itu secara sentral harus mengacu dalam konsep ajaran Islam, misalnya tazkiah al-nafsu, tauhid dan sebagianya. Di samping itu sistem tadi pula wajib sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan warga Muslim secara multidemensional masa depan. Dan yang terpenting langi, pemaknaan pendidikan, mencari ilmu sebagai pengalaman belajar sepanjang hidup.

Menurut Syed Ali Asyraf,[22] terdapat dua sistem pendidikan yg di negara-negara Muslim yg bisa dilebur kedalam satu sistem. Namun syarat utama yakni fondasi filosofisnya pada konteks Islam. Bersamaan menggunakan itu, kandungan materi (subyek kurikulum) religius wajib permanen eksis menjadi suatu spesialisasi. Setiap pelajar wajib memiliki semua pengetahuan dasar yg diperlukan menjadi seseorang Muslim, dan agar memenuhi tuntunan sebagai sistem pendidikan modern, semua pengetahuan yang termuat didalamnya wajib diatur dan disusun atas prinsip transedental, urutan dan integrasi. Walaupun gagasan para ahli pendidikan Muslim telah banyak dilontarkan, namun disadari benar bahwa soal dualisme sistem pendidikan ini nir mudah diselesaikan. Oleh karena itu, perilaku optimisme dan berani menjadi modal penting. Dengan kapital tadi lambat laun usaha-bisnis para pakar dan sambutan positif warga Islam akan sebagai fenomena.

[1]Maurice Bucaille, La Bible Le Qoran Et La Science, diterjemahkan sang H.M. Rsyidi dengan judul Bibel, Qur’an dan Sains Modern (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 373 

[2]Poeradisastra, Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern (Jakarta: P3M, 1986), hal. 19 

[3]Muhaiman, dkk., Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Trigenda, 1993), hal. 39 

[4]Nurchalish Madjid, Islam Doktrin serta Peradaban (Cet. I; Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 2000), hal. Xli

[5]Ibid. 

[6]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 220. 

[7]Ishāq Ahmad Farhān, al-Tarbiyah al-Islāmiyah bayn al-Asālah wa al-Ma’āsirah (Cet. II; t.tp: Dār al-Furqān, 1983), hal. 30 

[8]Abdul Hamid Abu Sulaiman, Krisis Pemikiran (Jakarta: Media Da’wah, 1994), hal. 50 

[9]Syed Ali Ashaf, New Hoizons in Muslim Education, diterjemahkan sang Soni Siregar menggunakan judul Baru Dunia Islam (Jakarta: Logos: Pustaka Firdaus, 1991), hal. 33 

[10]Zianuddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim (Bandung: Mizan, 1986), hal. 75 

[11]Ibid. 

[12]Ibid., hal. 77 

[13]Amrullah Ahmad (ed), Kerangka Dasar Masalah Paradigma Pendidikan Islam, pada Muslih Musa, Pendidikan Islam pada Indonesia; antara cita serta liputan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hal. 52

[14]A. Saifuddin, Desekularisasi Pemikiran (Bandung: Mizan, 1991), hal. 97 

[15]Ibid., hal. 103 

[16]AM. Saefuddin, op. Cit., hal. 105 

[17]Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam (Cet.I; Jakarta: Amisco, 1996), hal. 21.


[18]Tobrani dan Syamsul Arifin, Islam Pluralisme Buaya serta Politik (Yogyakarta: SI Press, 1994), hal. 167 

[19]Ibid. 

[20]Ada disparitas utama antara ahli Muslilm dan ahli Barat dalam memandang hukum alam. Menurut Barat, aturan alam adalah aturan sebab akibat yang pasti terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Sementara dari Islam, hukum alam itu terdapat karena kehendak Tuhan. Jadi sekalipun hukum alam itu berisi sebab dampak, tetapi aturan sebab akibat itu nir berlaku apabila Tuhan tidak menghendakinya. Ismail SM. Dkk., Paradigma Pendidikan Islam (Semarang: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 91

[21]Zianuddin Sardar, op. Cit., hal. 280-281 

[22]Ali Asyraf, op. Cit., hal. 43

REAKTUALISASI PENDEKATAN SOSIOLOGIS TIDAK SELALU RELEVAN

Reaktualisasi, Pendekatan Sosiologis Tidak Selalu Relevan 
Adakah otentisitas pada Islam? Di manakah ruang eksistensial Islam, dalam universalitas atau lokalitas? Ini formasi pertanyaan yang sungguh menggelisahkan poly orang. Jeffrey Lang, seseorang muallaf Amerika, salah satunya. Demi menggapai otentisitas serta apa yg dianggap Islam yg universal, ia pun pulang ke “sentra” Islam, Makkah. Dengan mengenal lebih dekat komunitas muslim serta baytullah, dia berharap bisa memperdalam keislamannya. Lama ia menetap di sana sebelum kemudian mudik selesainya menyadari betapa pemikiran Islam di negeri asalnya, Amerika, lebih cocok dan menantang tinimbang paham Islam yang ditumbuh-kembangkan pada Saudi Arabia yg berorientasi ke masa kemudian. Di Arab Saudi, akunya, Islam berhenti sebagai kekuatan pendorong buat berbagi kepribadian dan itu segera menciptakan imannya kehilangan daya hidup.

Intelektual muslim anyaran asal Amerika itu berupaya meninggalkan watak “Amerika-nya” buat menjadi muslim nan “sejati”. Dan ia gagal. Namun, kegagalannya itu justru menghantarkan ia dalam suatu pencerahan baru: no escape from being an American! Untuk menjadi muslim yang baik, seorang nir lalu berarti musti meninggalkan semua latar budayanya. Islam tidak pernah tiba dalam suatu situasi vakum kultural. Ia hadir dan hayati tidak dalam ruang serta saat yang kosong budaya; keduanya, agama (Islam) dan budaya, berkelindan serta saling memperkaya.

Lang pun menentukan berislam secara realistis, yakni jalan penghayatan religius yg menenggang variabilitas khazanah tradisi. Dalam konteks itu Islam lebih dipahami menjadi entitas ajaran yang lahir serta mengikat diri dalam sejarah. Ia beranjak menyejarah, menjadi kepercayaan , timbul sebagai sebuah kategori sosial yg karena itu profane. Kehadirannya secara demikian merupakan konsekuensi logis menurut keputusan Tuhan buat menyudahi risalahnya, “menyempurnakannya” (Qs. Al-Mâ’idah : tiga). Sebagai oleh author, Tuhan sudah berikan Islam sebagai hal final. Ia tak lagi turut-campur memilih, tapi memasrahkan nasib Islam kepada manusia. Kini tinggallah Ia menunggu kreativitas hamba-Nya pada tahu-menyikapi verbalisasi semua ajaran-Nya yg nge-teks dan mengeras sebagai “corpus resmi tertutup” (mushhaf; official closed corpus). Dan insan pun menghampiri, tahu, dan menghayatinya menggunakan horison budaya masing-masing.

Terlepas mengapa Allah menentukan Arab menjadi locus ajaran-Nya, pengambilan locus bahasa serta budaya (yang kebetulan) Arab tadi niscaya. Seluruh agama waktu memulai proses menyejarah pada dasarnya memerlukan wadah kultural (misalnya bahasa dan budaya). Dalam prosesnya sangat mungkin saling mengkayakan (atau kebalikannya, memiskinkan?) sehingga dapat ada suatu kultur berciri keagamaan atau simbol-simbol kultural tertentu digunakan guna mengekspresikan nilai-nilai keagamaan. Mengingat rakyat tumbuh pada bangun kultur yang beragam, maka ekspresi suatu kepercayaan secara kultural dan simbolik sangat boleh jadi juga beragam, sekalipun pesannya sama. Taruhlah, dalam hal keragaman bahasa: substansi suatu pesan tauhid bisa saja sama namun simbol bahasanya berbeda. Misalnya, sebutan buat Allah swt. Di Jawa, Ia seringkali disapa dengan sebutan “Gusti”, pada Madura Allah disebut bergantian menggunakan nama “Pangeran” atau “Se Kobhasah,” ad interim pada etnis Sasak Lombok Ia digauli akrab menggunakan nama “Ninik Kaji,” dan di suku Mbojo Bima Ia dianggap ta’dzim menggunakan nama “Ruma” atau “Tala”. 

Pendek istilah, Islam dan budaya memang nir bisa dipisahkan sebagai akibatnya sangat logis bila artikulasi dan aktualisasi diri keislaman tidak pernah berwajah tunggal. Kendati masih ada ajaran baku yg diyakini sama-serupa, tetapi di level penafsiran, tradisi serta keyakinan akan selalu dijumpai keanekaragaman. Sayangnya, fenomena itu umumnya terabaikan dalam pencerahan berislam umat. Yang berlangsung justru keterikatan umat Islam secara sangat ta’dzim dalam fakta-fakta partikular masa lalu. Kebanyakan mereka kemudian bangga menyebut diri kaum salafiy (al-salaf al-shâlih).” Lantaran Islam lahir pada tanah Arab, ber-locus bahasa dan budaya Arab, serta ratusan tahun pertama perkembangannya pada kemulan sejarah Arab, maka secara keseluruhan performa keberagamaan mereka nir sanggup (baca: tidak mau) memisahkan antara mana yg budi-daya Arab serta mana yang ajaran Islam. Akibatnya serius, (universalitas nilai) Islam yang sesungguhnya mengatasi dimensi ruang dan ketika sebagai terbekap erat oleh batasan-batasan ruang Arab serta saat Arab kala itu. Simbol-simbol Islam lokal-Arab, semisal jilbab bercadar, jenggot, atau celana cingkrang, akhirnya dipercaya sebagai Islam itu sendiri!

Lalu, bagaimana mendamaikan ketegangan antara Islam yg Arab itu dan lokalitas yang ketempatan Islam? Bagaimana mengejawantahkan pesan substantif Islam pada tengah aneka partikularitas lokal yg tidak sama menggunakan situasi partikular Arab tempo doeloe? 

Problem Pembacaan
Artikulasi dan ekspresi (umat) Islam dalam tatanan budaya dan peradaban menampakan karakter yg bhineka tatkala bersentuhan menggunakan setiap khazanah peradaban yg bercorak-ragam. Islam dalam masing-masing tempat membangun karakter baru sesuai dengan sistem rapikan nilai wilayah bersangkutan. Apa yang acap disebut menjadi capaian prestisius peradaban Islam merupakan sebuah kebudayaan bibit unggul yang dilambari oleh spirit tauhid sehingga tabiat peradaban Islam bersifat toleran, inklusif, dan terbuka bagi berbagai inovasi serta pengembangan intelektual keislaman yg coraknya tentu saja diametral tidak sama menggunakan aktualisasi diri keislaman pada berasal kelahirannya, Hijaz. Demikian pula saat menyentuh masuk ke Indonesia. Islam pun menjumpai aneka varian kultur lokal. 

Akan tetapi, proses-proses simbiose yg seyogyanya berlangsung saling memperkaya, hingga tingkat eksklusif gagal. Dalam poly hal, itu lantaran metode pembacaan yang digunakan masih cenderung “medieval” yang, tentu saja, sangat berorientasi ke teks (text-oriented approach) serta masa lalu ke konteks historis Arab (baca: Timur Tengah) Abad Pertengahan sampai terus ke belakang ke masa Nabi saw. Model tafsir ala Abad Tengah itu umumnya dipegangi secara amat tawadlu’ sang kaum muslim “tradisional” ad interim gerombolan Islam “modernis” yang mencoba menanggalkan khazanah tafsir klasik itu serta merogoh contoh tafsir yang lebih pada masa ini-“terkini”, tragisnya justru kian terjebak pada trend puritanis-fundamentalis. Pendek kata, ad interim kita telah terlanjur mengimpor ajaran Islam yg Arab itu, buat memahaminya pun kita menggunakan metode impor yg menurut poly sisi nir relatif compatible dan karena itu inadequate menggunakan tuntutan-tuntutan pasti dari pluralitas budaya lokal di Indonesia. 

Untuk konteks Indonesia, semua aktivitas pembacaan-penghayatan atas ajaran Islam (yg “Arab” itu) sebagaimana terketengahkan via teks-teks kudus menghadapkan semua muslim Indonesia pada dua pilihan: “mengarabkan Indonesia” atau, kebalikannya, “mengindonesikan Arab”. Trend apa yg berlangsung sejauh ini dalam dinamika pemikiran Islam di Indonesia sepertinya lebih pada yang pertama, “mengarabkan Indonesia” tepatnya merupakan pengaraban tradisi lokal atas nama Islam. Konstruk pembacaan semacam itu, secara hermeneutis, mendudukkan teks-teks begitu lebih banyak didominasi di hadapan konteks, sebagai akibatnya yg lalu menjadi diskriminasi semata-mata. Akibatnya nyaris seluruh nilai dan simbol budaya lokal harus melalui proses “screening” dengan pola pikir Islam-Arab sebagai parameter bagi diterima-tidaknya menjadi simbol Islam. Pola baca sedemikian kentara bukan jawaban solutif bagi variabilitas budaya-tradisi lokal. Dalam konteks itulah Islam perlu mereformulasi performa hadirnya di tengah ragam budaya yg saling menegaskan diri. Dan itu hanya melalui penafsiran Islam yang berikhtiar “mengindonesiakan Arab,” yang memandang ramah dan bersikap arif terhadap lokalitas.

Sayangnya, kehendak “mengindonesiakan Arab,” melokalkan simbo-simbol partikular-lokal Islam-Arab, itu menghadapi persoalan fundamental. Problem tadi menunjuk dalam inadekuasi pola tyafsir yang lazim dilangsungkan di kita. Itu tampaknya berkaitan kuat dengan isu terkini umum pemikiran Islam, termasuk tentang tafsir, terkini. Dalam identifikasinya terhadap kesamaan yg semakin mayoritas di kalangan ulama negeri-negeri muslim kini itu, Arkoun menyebutnya menjadi logosentrisme pemikiran keislaman. Kecenderungan berpikir sedemikian menduga bahwa kebenaran wahyu dapat ditangkap serta dikuasai menggunakan cara analisis gramatikal dan makna istilah pada teks belaka. Wahyu dilihat menjadi sesuatu yg mandek, final, tanpa cara lain . Dalam pada itu, sisi imaginaire pada kehidupan kaum muslim nyaris punah. Sisi ini menampak pada tradisi rakyat, pada budaya yg tumbuh berdasarkan tempat berasal, imajinasi sosial yg dalam sejarah berlangsung impulsif, yg memungkinkan keluarnya aneka aktualisasi diri (tidak melulu keagamaan) otentik pada tengah rakyat muslim. Oleh ekspresi dominan logosentrisme, semua itu sekarang terancam. “Gerakan modernis” dan kian formalistisnya ibadah (selain fenomena urbanisasi) telah mengikis sisi yang kaya itu. Dan umat Islam pun, kata Arkoun, kian terdorong ke arah uniformitas pada cara serta isi mereka berhubungan dengan Allah Swt. 

Di sini, kepentingan kita artinya mengembalikan kekayaan sisi imaginaere itu. Dalam konteks revitalisasi khazanah tradisi pada tengah impian pembumian Islam di Indonesia melalui proses pembacaan-penafsiran (ulang) selebaran Muhammad saw itu menarik apabila menengok hermeneutik dalam arti menjadi sebuah metode epistemologis sekaligus menjadi suatu pencarian ontologis penafsir. Penggunaannya diperlukan mampu mengantar umat Islam yg berlatar budaya-tradisi beda menemukan “otentisitas” Islamnya masing-masing.

Melalui Etnohermeneutik
Hermeneutik dalam prinsipnya merupakan suatu ilmu atau teori metodis mengenai penafsiran yang bertujuan menjelaskan teks mulai berdasarkan karakteristik-cirinya, baik secara objektif (arti gramatikal istilah-istilah serta bermacam variasi historisnya) juga subjektif (maksud pengarang). Teks-teks yang dihampiri terutama berkenaan dengan teks-teks otoritatif (authoritative writings), yakni teks-teks buku suci (sacred scripture). Pengenaan hermeneutik sedemikian sebanding-maksud menggunakan exegesis atau tafsîr dalam khazanah Islam. 

Membawa hermeneutik ke pada perihal tafsir pada Islam pada banyak hal boleh jadi mengusik kemapanan dinamika pemikiran keislaman, tidak hanya pada disiplin ‘ulûm al-Qur’ân tapi juga ‘ulûm al-Hadîts. Mengusik, lantaran lantaran tradisi pemikiran Islam klasik (juga modern) pada umumnya menggeliat pada bayang-bayang hegemonik teks. Ini merupakan konsekuensi logis menurut penekanan aspek sakralitas yang berlebihan terhadap teks-teks ajaran Islam (al-Qur’an, hadits). Bahkan, ekspresi dominan sakralisasi itu pula melebar dalam produk pemikiran keagamaan yang kentara-kentara sekedar pemahaman atas ajaran (taqdîs al-afkâr al-dîniyyah) dan bukan Islam itu sendiri. Alhasil, kerangka tafsir yg ditawarkan hermeneutik boleh jadi akan menghentak kesadaran “membaca Islam” yg terlanjur membatu berabad-abad lamanya. Adapun gagasan apa yang disebut pada sini sebagai tafsir lokal membentuk paradigmanya berdasar tawaran hermeneutik itu serta bergerak dengan kerangka etnohermeneutik menjadi basis tolaknya.

Sandaran Ontologis. Dalam kerangka hermeneutik, teks-teks kudus yg tercetak (mushhaf al-Qur’an, misalnya) menjadi disembodied dan terdekontekstualisasi karena segera dapat dipisahkan berdasarkan konteks aslinya. Teks-teks tertulis menggunakan sendirinya memperlihatkan tingginya dekontekstualisasi sejak teks-teks tertulis itu lepas menurut pengarangnya. Terdekontekstualisasinya teks, atau disebut pula intertekstualitas, secara signifikan memberi kekuasaan yang jauh lebih menguniversal pada istilah-kata tertulis. Gagasan atau pesan-pesan yg diungkapkan dalam teks tertulis nir lagi terikat secara kuat menggunakan konteks pengarangnya, karena makna yg ditemukan pembaca/penafsir di dalam teks pada dasarnya jua adalah produk atau tafsiran berdasarkan penafsir teks itu sendiri. 

Teks, dalam dalam itu, otonom (lihat, Gambar ). Tidak ada lagi dialektika antara teks dan pengarang atau antara pengarang dan penafsir via teks, kecuali antara teks serta penafsir. Dialog yang memperkaya hanya mungkin terjadi antara teks dan penafsir―pada mana teks dapat memberi respon sejauh jika, secara hermeneutis, penafsir bersikap terbuka terhadap respons teks. Maka, makna yg ada adalah output perundingan antara penafsir serta teks serta bukan secara dan-merta ditemukan dalam teks itu sendiri. Dus, tahu merupakan suatu peristiwa pada mana keduanya, teks dan penafsir, saling memilih. Alhasil, seluruh aktivitas penafsiran atas teks bersifat kreatif.

Gambar Pola Kaitan Pengarang-Teks-Penafsir

Dengan demikian, anggapan yg memungkinkan terjadinya dialog aktif dan saling memperkaya “pengarang-teks-penafsir” sungguhlah melecehkan akal sehat. Tuntutan rekonstruksi makna teks―misalnya digagas Dilthey merupakan mustahil, karena tatkala teks itu dilepas, maka seketika itu pula teks menjadi otonom menggunakan sendirinya. Karena itu, berbeda menggunakan Dilthey yg menghendaki penafsir menanggalkan konteks (kekinian) historisnya ketika menafsir, pelibatan dimensi historis kekinian penafsir justru harus. Meninggalkan dimensi historis saat menafsiri teks selain mustahil jua tidak perlu. Sebab, justru dengan dimensi historis yang dimiliki, penafsir akan memperkaya penafsirannya. Interpretasi tidak kemudian berarti mengambil makna orisinil yang diletakkan pengarang ke pada teks bikinannya, namun menampilkan makna baru yg sinkron dengan kondisi kekinian penafsir. Itulah sebabnya tindak interpretatif, mengutip Gadamer, bukanlah proses mereproduksi makna teks sinkron kehendak pengarang, melainkan benar-benar-benar-benar memproduksi makan (baru) yang relevan menggunakan konteks kekinian penafsir. 

Memproduksi makna baru pada proses menafsirkan teks adalah suatu kemestian, sebab orang nir bisa menghindar menurut keterkondisian historisnya (historical situatedness), yakni faktisitas ke-terdapat-annya pada dunia. Di sinilah arti penting tradisi dan berpretensi dalam proses tahu, menafsir teks. Keduanya adalah hal yang niscaya pada tindakan menafsir, karena keduanya merefleksikan keterkondisian historis serta kultural manusia. Proses memahami (understanding) terkondisikan sang tradisi masa kemudian dan juga berpretensi kekinian oleh penafsir. Kekhususan situasi ini menciptakan konsep penafsiran yang objektif serta bebas nilai sebagai problematis, karenanya mustahil mengingat prasangka yang berasal berdasarkan sejarah afektif penafsir menyediakan kerangka pikir yg memfasilitasi pemahaman. Dalam setiap kegiatan menafsir, berpretensi itu pasti hadir. Orang mustahil tahu sesuatu tanpa menghubungkannya menggunakan “ke-ada-an dirinya sendiri pada global”. Tak ada kemungkinan meta-narasi terhadap empiris yang bisa diterapkan secara universal. 

Pendek kata, adalah mustahil pembacaan-penafsiran teks membuat tafsiran (baca: “kebenaran”) yg definitif, objektif, dan univokal. Dalam menafsir, seseorang niscaya melibatkan proyeksi nilai, agenda, dan kepentingannya ke dalam teks. Penafsiran yang baik, merujuk Gadamer, adalah penafsiran yg membangun suatu “fusi dari horison-horison”; penafsiran yg berlangsung secara dialogis menuju suatu taraf persetujuan-konvensi antara horison makna yang disediakan teks (misalnya yang disediakan oleh keadaan pada mana teks itu diproduksi) dan yang disediakan sang penafsir.

Secara keseluruhan, peran krusial horison (tradisi, prasangka, dan keterkondisian historis) penafsir dalam setiap proses penafsiran memungkinkan gagasan tafsir lokal ini sah secara ontologis. Ia, pada level pertama, memungkinkan terlukarnya Islam menurut aroma partikular-Arabnya (juz’iyât) sampai yg tinggal dimensi universal (kulliyât; spirit moral)-nya buat kemudian menggumulkannya menggunakan empiris kultural non-Arab demi terbangunnya apa yg diklaim Islam citarasa lokal.

Apa yang hendak digagas pada sini menjadi pola tafsir bergaya lokal dimulai menggunakan pencerahan terhadap watak keberadaan penafsir pada mana horison penafsir bersifat pasti keterlibatannya dalam setiap tindak penafsiran. Betapa pentingnya keterlibatan horison pada menafsir itu semakin menemui kebermaknaannya dan bentuk aktualnya pada salah satu varian hermeneutik terkini, ethnohermeneutics. Tanpa prasangka mencari preseden pada luar tradisi tafsir global Islam, penyinggungan etnohermeneutik pada sini dipentingkan menjadi titik tolak pencarian dan peneguhan awal basis epistemologis dari gagasan tafsir gaya lokal yg coba dipancangkan.

Hal menarik menurut etnohermeneutik merupakan karakteristik utamanya, yakni semua penerapan metode hermeneutis musti berorientasi pada receptor, penerima. Pengalihan orientasi ini berangkat berdasarkan satu postulate bahwa tak ada satu pun metode tafsir yg benar-benar universal, yang berlaku sama cocok pada semua konteks budaya pada mana pesan-pesan teks ajaran hendak dibumikan. Maka, penafsiran teks yg dilakukan dalam konteks lintas-budaya, pada kerangka etnohermeneutik, sejauh mungkin wajib menerapkan metode-metode hermeneutis dinamis yang sudah berfungsi pada kebudayaan dimaksud. Tujuannya buat menafsirkan teks-teks ajaran menggunakan cara-cara yang paling dipahami sehingga melahirkan produk-produk tafsiran yang paling adaptable dengan budaya receptor. 

Ethnohermeneutics bermaksud menafsirkan firman Tuhan dengan cara-cara yg paling dipahami dari dalam weltanschauung rakyat penerimanya. Tersebab itu pencarian pola metodis penafsiran yg berorientasi dalam penerima dengan latar budaya masing-masing yang berlainan sebagai komitmen primer dari pengetengahan etnohermeneutik. Di sini tampak implisit perlunya dilakukan kontekstualisasi teks dalam ruang dan ketika receptor.

Kontekstualisai yang dituntut etnohermeneutik adalah apa yang disebut “kontektualisasi taraf dalam” (deep level contextualization), yang dengannya dibutuhkan menghasilkan suatu pesan kitab suci yang digali menggunakan orientasi kebudayaan penafsir atau penerima pesan. Kontekstualisasi taraf-pada tidak sekedar berkait dengan suatu produk akhir penafsiran yang secara budaya layak, tteapi jua dengan cara-cara pencapaian produk final tersebut yang secara budaya layak juga. Kontekstualisasi yang baik adalah sebuah paket menyeluruh; beliau bersikap peka terhadap segenap aspek suatu kebudayaan, termasuk metode-metode hermeneutis yang boleh jadi muncul berdasarkan kebudayaan tersebut. Bertolak dari status ontologis, pola orientasi, dan kontekstualisasi yang ditawarkan etnohermeneutik sebagai basis awal inilah gagasan tafsir lokal menyusun kerangka epistemologisnya.

Rangka Epistemologis. Dari penyandaran ontologis pada hermeneutik Gadamer dan penitik-tolakan dalam etnohermeneutik, kesan awal yang ada berdasarkan gagasan tafsir lokal boleh jadi “merisaukan.” Jujur, pilihan sedemikian―kemana wangsit tafsir lokal hendak diarahkan memang dapat mengundang persoalan. Dalam hubungan ini “kerisauan hermeneutis” Nasr Hamid Abu-Zayd bisa dipahami. Menurutnya, filsafat hermeneutik kontemporer memberikan tekanan kelewat akbar pada kiprah (horison) penafsir dalam tahu, memilih signifikansi dan makna teks sampai kerapkali keberadaan teks dikorbankan demi kepentingan efektivitas interpretasi. Anggapan yang kemudian mengedepan, sambungnya, artinya bahwa kegiatan penafsiran hanya menarik teks ke horison penafsir.

Tanpa mengurangi spirit ontologis hermeneutik Gadamer sembari tetap memperhatikan wanti-wanti Abu-Zayd, gagasan tafsir lokal membentuk akal epistemologisnya dalam suatu mobilitas hermeneutik melingkar (lihat Gambar dua). Seluruh proses diretas dengan bertolak menurut realitas yg dialami, yang dihadapi yang berada di “alas struktur” (mendasar structure?). Melalui cara mengalami yang baru, kaya, serta mendalam, proses termin pertama dilakukan dengan merumuskan realitas dimaksud. Bagaimana wujud output perumusan empiris akan sangat tergantung pada kaya-mendalam tidaknya cara mengalami. Gerak melingkar ini sekurangnya menegaskan keterlibatan atau kedekatan penafsir dengan konteks empiris sebagai kondisi mesti.

Gambar Lingkar Hermeneutik Tafsir Lokal

Selanjutnya realitas yang sudah terumuskan dihadapkan, tepatnya didialogkan, menggunakan teks-teks suci (Qur’an, hadits) yang bertempat di “puncak struktur” (superstruktur). Tentu pendialogan ini dengan pada waktu yg sama menghiraukan the world of the text, global teks (konteks berdasarkan keberadaan teks). Pendialogan ini secara eksklusif ataupun nir akan menjalankan suatu proses pemetaan kategoris atas teks-teks (tafsir mawdlû‘i?) pada hubungannya dengan realitas yang sudah dirumuskan. Dari situ gerak melingkar hermeneutis diteruskan dalam tahap pelangsungan interpretasi (tafsîr, ta’wîl) atas teks-teks yg telah terpetakan sejalan dengan konteks kekinian berdasarkan realitas yg dirumuskan.

Pada tahap kedua tadi, interpretasi terhadap teks-teks terkait dilakukan dengan mekanisme hermeneutis regresif-progresif. Gerak regresif menegaskan suatu pembalikan terus-menerus ke masa kemudian. Bukan buat memproyeksikan kebutuhan dan tuntutan kekinian atas dasar teks-teks suci itu, melainkan untuk menemukan mekanisme serta faktor-faktor historis yang melatari lahirnya teks-teks tadi serta memberinya fungsi-fungsi. Dalam hal ini proses pemunculan teks (pewahyuan Qur’an) di dalam konteks kemasyarakatan dikaji serta maknanya pada konteks masa kemudian yang spesial dipahami. Namun, proses pemahaman itu dijalankan pada dalam sebuah konteks personal serta sosial kekinian, yakni konteks empiris yang telah dirumuskan tadi. Inilah proses mobilitas progresif. 

Jadi lantaran teks-teks kudus itu adalah bagian integral menurut bukti diri muslim dan aktif di pada sistem ideologis mereka, maka ia wajib dibentuk bekerja balik supaya memperoleh balik makna pada masa ini dan kontekstualnya. Proses ganda regresif-progresif antara teks dengan konteks sosio-historisnya serta konteks umat Islam dengan konteks empiris kekiniannya dianggap sebagai keperluan buat memperoleh suatu pengertian dan makna yg sejalan menggunakan tuntutan-tuntutan realitas sosial kekinian penafsir (umat) itu sendiri. Dengan memproyeksikan interpretasi teks terhadap realitas akan otomatis melahirkan cara baru memahami dan menyikapi empiris teralami secara kreatif-responsif. Ini menandakan gerak melingkarnya tidak mengenal finalitas, terus berlangsung menuju pengayaan yg tiada henti dalam setiap proses hermeneutisnya. Alhasil, gerak hermeneutik yang dilangsungkan secara holistik memiliki dua dimensi, yakni objektif (teks) serta subjektif (konteks realitas yang dirumuskan).

Prosedur regresif-progresif dalam dasarnya adalah penerapan suatu analisis tekstual-kontekstual (textual and contextual analysis) terhadap teks dan konteks sekaligus (lihat, Gambar tiga). Penerapan model analisis ini adalah wujud konkrit berdasarkan pelangsungan mekanisme regresif-progresif. Lantaran itu ia merupakan bagian tak terberai menurut proses hermeneutis melingkar pada atas.

Gambar Analisis Tekstual-Kontekstual

Proses analisis dimaksud bertolak menurut kesadaran akan teks kudus (wahyu: al-Qur’an atau hadits) dan keterikatannya dalam konteks (sejarah, bagian dari global teks). Hubungan antarkeduanya―sebagaimana ditunjukkan menggunakan garis timbal-balik terputus pada gambar―mengindikasikan terdapat-tidaknya interaksi dialektis dalam keduanya (yakni sejarah yang terkait eksklusif dengan kehadiran teks, yg terakomodir; dalam tradisi ‘ulûm al-Qur’ân sekitar semau menggunakan asbâb al-nuzûl). Kemudian dilakukan teoretisasi menurut dan berdasar teks maupun konteks sejarah tersebut buat membentuk suatu kerangka teori (theoretical framework) yg umum (general theory). Penderivasian teoretis menurut keduanya merupakan langkah pertama analisis. Di termin inilah analisis tekstual secara kritis dilakukan.

Selanjutnya, langkah ke 2, menghadapkan kerangka teori yg sudah terbangun menggunakan teori sosial. Ini merupakan awal berdasarkan proses analisis kontekstual. Teori-teori sosial yg terdapat dipilah serta dipilih buat digunakan melihat serta memahami empiris sosial (kekinian) kemana proses kontekstualisasi nanti hendak dilakukan. Setelah itu, langkah ketiga, dalam rangka tahu secara kritis empiris sosial, penggunaan teori sosial diarahkan dalam penyodoran suatu hipotesis. Bertolak menurut ajuan hipotesis, selanjutnya penafsir mengamati, melibatkan diri dalam realitas sosial (kekinian) buat kemudian berdasar bantuan teori-teori sosial terpilih merumuskan empiris kekinian dimaksud secara baru, kaya, serta mendalam. Di sini, hasil perumusan mampu saja meneguhkan hipotesis (dan suatu teori sosial) atau meruntuhkannya.

Atas hasil pembacaan kritis terhadap empiris yg dihadapi-alami itu seterusnya dilakukan upaya confirm pada kerangka teoretis yang telah disusun berdasar afiksasi teks dan konteks sejarahnya. Berdasar itu kemudian dilakukan teoretisasi baru berdasar konteks kekinian. Di sinilah puncak proses kontekstualisasi teks serta konteks sejarahnya ke konteks hari ini (realitas terhadapi). Dalam kerangka lingkar hermeneutik, proses analisis tekstual-kontekstual ini terus berlangsung tanpa batas finalitas. Dari teks menuju konteks (kekinian), kembali ke teks, buat kemudian dibumikan balik (dikontekstualisasi) ke konteks. Dengan ini diperlukan akan selalu ada bentuk penyikapan empiris yang lebih baru, kaya, dan mendalam berdasar output interpretasi kontekstual atas teks yg baru, kaya dan mendalam jua. 

Secara holistik, proses tekstual-kontekstual itu niscaya menenggang segenap anasir budaya yang bersemayam pada diri dan menjadi horison penafsir. Karena itulah kiprah penafsir menggunakan horisonnya sangatlah menentukan. Melalui cara ini maka yg berlangsung sesungguhnya adalah dialektika bergerak maju manusia dengan empiris di satu pihak, dan dialognya dengan teks di pihak lain suatu proses kreatif kemana peradaban dan kebudayaan menumpukan bangunannya. 

Di sisi lain, pola analisis sedemikian pada dasarnya tengah berupaya berakibat teks-teks ajaran relevan dan menuai signifikansinya buat masa kini , sebagaimana teks-teks tadi pernah relevan dan memberi arti pada konteks kesejarahan aslinya dulu, Makkah serta Madinah. Dengan begitu, eksistensi teks tidaklah terkorbankan sebagaimana dicemaskan Abu-Zayd tetapi pada ketika berbarengan penafsir pula nir berada di bawah bayang-bayang hegemonik teks. Dialektika yang berlangsung tidak saling menegasikan, namun saling memperkaya antara teks dan penafsir. Keduanya berada dalam interaksi dialektik yg seimbang: penafsir memberi makna atas teks lewat tindak interpretatifnya dan teks bisa memberi respons sepanjang secara hermeneutis penafsir membuka diri. 

Melalui pola paradigmatik tafsir semacam itu, gagasan tafsir lokal tidak hanya memfokuskan komitmennya pada gairah melokalkan ajaran-ajaran Islam simbolik yg terikat oleh ruang-waktu historis Arab kala itu, misalnya bacaan al-Qur’an, jilbab, atau simbol-simbol superfisial lain sejenisnya. Lebih jauh dari itu menera ulang jargon “congkak”, shâlih li kulli zamân wa makân, agar realistis dan manusiawi menggunakan jalan memetakan sekaligus melakukan redefinisi, reformulasi, reformasi, rekonstruksi, atau bahkan dekonstruksi beberapa ajaran partikular Islam yg karena konteks jaman yg berubah nir lagi berlaku, misalnya soal waris yg diskriminatif, persaksian serta kepemimpinan wanita, perbudakan, diskriminasi non-muslim, dan seterusnya. 

Gagasan tafsir lokal ini dalam dasarnya nir sedang bermaksud mengusung sebuah metode eksklusif. Ia bukan terutama dimaksudkan sebagai pedoman metodis-teknis-simpel eksklusif penafsiran teks, tetapi lebih sebagai sebuah tawaran paradigmatik, sebuah paradigma pembacaan-penafsiran yg dalam poly hal berupaya menggeser kerangka berpikir (shifting paradigm) tafsîr klasik yg umumnya berorientasi ke teks. Artinya, teknis penafsiran sanggup model apa saja; mawdlu‘î, tahlîlî atau tajzi’î, atau gaya ensiklopedis, atau apalah― asalkan secara paradigmatik ia meniscayakan kontekstualisasi pada mana teks pada akhirnya wajib diabdikan dalam konteks realitas melalui mobilitas regresif-progresif, sehingga output tafsiran mesti diproyeksikan dalam kepentingan sosial-budaya receptor.

Sebegitu, tidak ada kecurigaan dalam nalar secara hiperbola, tidak ada pendewaan teks, tidak terdapat penafian atau apalagi penegasian horison intelektual yang terbangun berdasarkan kearifan lokal. Paradigma yg dikembangkan mendudukkan insan (yang otonom dengan keunikan horison budaya masing-masing) sebagai sentra. Sebagai penafsir atau pembaca, mereka adalah pemakna otonom terhadap konteks, sementara teks mengabdi dalam konteks terumuskan itu. Lantaran itu tidak boleh terdapat monopoli kebenaran, karena makna teks terlalu kaya buat direduksi sebagai satu kebenaran serta dimonopoli sang suatu budaya lebih banyak didominasi (Arab); Allah swt terlalu besar buat diwakili hanya oleh satu penafsiran belaka.

Simpulnya, menjadi sebuah paradigma, tafsir lokal merupakan sebuah pola tafsir yang melibatkan secara terutama semua anasir tradisi-lokal dalam penafsiran teks-teks suci Islam (Qur’an atau hadits), termasuk pada hal ini kitab -buku klasik. Tafsir ini mencoba menafsir Islam dengan melibatkan, contohnya, khazanah tradisi Madura buat melahirkan Islam yg cocok bagi orang Madura serta mereka permanen sebagai oreng Madura. Orang-orang suku Asmat atau Dani pada pedalaman Papua permanen bisa menjadi muslim yang shâlih tanpa harus membuang koteka atau rumbai mereka dan menggantinya dengan kafiyeh atau jilbab bercadar, sebab Islam mengurus aurat serta bukan tetek-bengek model pakaian. 

Dengan pola paradigmatik sedemikian gagasan Tuhan yang bernama Islam itu akan terbumikan dalam arti sesungguhya. Masing-masing lokalitas budaya pada mana Islam merogoh tempat persemayaman memiliki potensi sendiri-sendiri buat mewakili kebenaran Tuhan melalui tradisi mereka masing-masing menjadi titik berangkat. Tawaran tafsir lokal akan membantu kaum muslim menerapkan kebenaran-kebenaran Islam yang mereka rumuskan sendiri berdasar khazanah budaya lokal mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari tanpa wajib terikat oleh tuntutan penerapan yang menundukkan diri dalam partikularitas Islam masa kemudian; tanpa bersandar dalam sekian dogma-dogma keagamaan interpretasional membatu bikinan para ulama klasik di mana mereka sendiri terikat sang konteks Abad pertengahan Hijriyah. Dengan tahu suatu kebudayaan eksklusif dan bertolaka darinya, penerapam kerangka berpikir tafsir lokal memberi kemungkinan orang-orang muslim lokal buat menyebarkan kontekstualisasi ajaran Islam secara mendalam ke dalam kebudayaan mereka sendiri.

Setiap muslim mestilah membentuk interaksi dialogisnya sendiri dengan teks-teks ajaran agamanya berdasar horison budayanya masing-masing. Dengan cara begitu Islam akan selalu mempunyai relevansi menggunakan setiap kebudayaan yg tidak selaras menggunakan kebudayaan Arab loka asalnya. Dan yg lebih krusial lagi itu menegaskan suatu penghayatan keberagamaan baru bahwa beragama memang haruslah benar-benar untuk manusia, serta bukan buat Allah. Bukankah tafsir dalam Islam, mengutip Machasin, dimaknai menggunakan usaha buat mengetahui apa yang dikehendaki Allah sebatas “kemampuan” insan?

Islam Citarasa Lokal?
Demikianlah kebenaran Islam sudah terekspresikan pada berbagai warna serta corak ungkapan sejalan menggunakan keniscayaan-keniscayaan bahasa, budaya, norma-kebiasaan para pemeluknya. Segala ekspresi menggunakan mengikuti kenisbian budaya adalah sah, karena nyaris tidak terdapat jalan lain kecuali begitu itu. Suatu pola norma eksklusif mengutip Ibn ‘Âsyûr, seorang ulama terkemuka Maghrib sekalipun itu adat budaya tempat dilahirkannya Rasul saw, yakni norma Arab, tidaklah bisa dipaksakan pada rakyat lain menurut wilayah lain. Masing-masing lingkungan budaya mempunyai hak buat membuatkan inti kebenaran Islam dari bentuk-bentuk kemestian kultural setempat. Masing-masing tetap mempunyai kans untuk memberi sumbangan kepada Islam dan peradabannya. Demikian halnya menggunakan kaum muslim Indonesia, selalu terbuka peluang lebar buat secara kreatif dan produktif memberi kontribusi dalam pengembangan budaya Islam. 

Pergumulan Islam menggunakan khazanah lokal sebenarnya niscaya, automatically. Namun wangsit “pribumisasi Islam”-nya Gus Dur sebagai relevan dan tetap krusial buat terus didesakkan karena interaksi simbiosis Islam serta budaya yang saling mengkayakan itu dicoba-negasikan oleh kaum modernis-puritanis yg berkecimpung sistematis dengan slogan “al-ruju‘ ilâ al-Qur’ân wa al-hadîts”. Akibatnya, misalnya kita tahu, sungguh menggiriskan. Betapa gerakan buat pulang menghamba dalam teks, yang bertenaga berorientasi ke masa kemudian, itu dalam banyak hal telah membuat kajian Islam sebagai sangat tekstual, hitam-putih, mandul, nir produktif, kemarau, nir kaya.

Akan namun, gagasan tafsir berorientasi lokal ini nir terutama dimaksudkan menjadi counter-paradigm terhadap gerakan kaum “Islamis” itu. Sekedar berikhtiar menggali sebanyak mungkin kebenaran Allah yg me-latent di teks-teks suci (Qur’an atau hadits) dengan menjadikan global insan (horison penafsir, the world of the reader) dengan latar budaya masing-masing sebagai orientasi-proyektif utama kebenaran tersebut. Lantaran Allah “nir menggunakan pakaian eksklusif,” maka kitalah yg (harus) memberi-Nya “busana ” menurut cara dan kesamaan kita masing-masing mempersepsi hasrat atau “pakaian” kesukaan-Nya. 

Kearifan itu akan menciptakan kita welcomed dengan kenyataan betapa Islam multiwajah. Betapa ketika Islam menjumpai varian-varian kultur lokal, maka yg segera berlangsung merupakan proses-proses simbiose yang kurang-lebih sama saling memperkaya. Demikian pada aneka macam belahan, halnya juga pada Indonesia. Maka muncullah berbagai varian Islam. Ada Islam-Jawa, Islam-Madura, Islam-Melayu, Islam-Sasak, Islam-Bima, dan seterusnya yg masing-masing mengetengahkan karakter tidak sama satu sama lain. Begitu jua, tidak cuma Islam-Arab, akan tetapi pula Islam-Iran, Islam-Cina, Islam-Amerika, Islam-Afrika, Islam-India, dan Islam-Indonesia yg muncul dengan bangunan kebenarannya sendiri-sendiri.

Bila begitu, dimanakah kemudian “Islam yg otentik” itu? Masih adakah (bila ini perlu) Islam yang sungguh-sungguh ala Allah swt kini ? Tidak ada. Itu jikalau terma “otentik” pada “Islam” dimaknai sebagai penunjukan pada “Islam yang sesungguhnya,” yakni Islam yang dikehendaki Allah atau Islam yang sahih-benar menurut Rasulillah Muhammad saw. Tetapi bila istilah otentik atau otentisitas dimaknai sebagai “keunikan” dan “swatantra,” maka dengan segera secara ontologis-epistemologis pandangan baru “Islam otentik” tersebut justru memilih pada apa yg dianggap menjadi Islam-lokal. Dalam pengertian generik, otentik atau otentisitas bermakna sebagai diri sendiri. Unique, tidak sama tidak selaras dengan yg lain. Otonom pada memilih, memilah, dan memilih bentuk-bentuk pemaknaan-penghayatan terhadap kehidupan. Dalam konteks warga , otentisitas itu memestikan mereka merumuskan agendanya (politik, ekonomi, dan sosial) secara bersama yang mencerminkan kekayaan budaya mereka sendiri. Seluruh konstruksi nilai maupun kelembagaan harus sinkron menggunakan dan karena itu mesti arus dibangun berdasar kebudayaan rakyat bersangkutan. Ide keotentikan menghendaki pengunggulan budaya sebagai kekuatan utama pada membentuk insan sekaligus inovasi landasan bagi kemencukupan swatantra pada menjustifikasi keyakinan akan kemampuan mereka dalam memaknai kehidupan.

‘Alâ kulli hâl, menghadirkan Islam (yg ndilalah nge-Arab itu) ke pada suatu warga lokal bukan dalam pengertian menjadikannya menjadi kebenaran tunggal yang menjajah atau menepikan semua kebenaran lokal yg selama ini “menafasi” mereka. “Pemaksaan” Islam yang Arab ke dalam warga lokal bukan tak mungkin hanya akan menjerembabkan warga ke dalam alienasi, keterasingan pada (ber) agama. Maka satu-satunya jalan sepertinya merupakan menghadirkannya lebih pada fungsi komplementer, saling melengkapi antara kebenaran bawaan Islam sono dan kebenaran lokal sini. Tanpa proses saling menegasikan, akan tetapi saling mengafirmasi kebenaran (aktual juga potensial) sampai yg muncul adalah kearifan atas kebenaran itu sendiri. Pada gilirannya, yg terhayati di tengah masyarakat merupakan Islam yg dekat, yg tidak senjang, yg ramah, yg merangkul... Rasanya kok itu yg dikhidmati slogan bahwa Islam senantiasa “shâlih li kulli zamân wa makân.”

Dalam konteks itulah ide tafsir berwajah lokal merebahkan niat baiknya: menuntun pada kearifan memahami aneka kebenaran. Kebenaran tidaklah terutama ditentukan apakah ia secara mulut-eksklusif dari berdasarkan Tuhan atau nir. Ia bisa ada dimana saja sebagaimana Allah jua hadir pada mana saja. Allah tidak pernah melempar dadu, akan tetapi kitalah yg mau nir mau terus bertaruh seputar persepsi-persepsi kita mengenai kebenaran-Nya. “Kebenaran itu,” istilah Mohsen Makhmalbaf, sutradara film Iran terkemuka, “laksana cermin yg diberikan Tuhan dan sekarang sudah pecah.” Manusia memungut pecahannya serta tiap orang melihat pantulan pada dalamnya, dan menyangka telah melihat kebenaran. Maka benar-benar repot, apabila lalu terdapat yang memakai pecahan kaca itu buat atas nama kebenaran menusuk orang lain yang memegangi pecahan yang lain.