ETIKA BERBICARA YANG BAIK DAN BENAR

Warga belajar dan siswa--sekalian, semua orang kecuali yg tuna wicara atau tuna rungu (bisu tuli) pasti bisa berbicara. Tetapi nir setiap orang sanggup berbicara menggunakan baik serta sahih. Kalau bicara sekedar bicara, anak kecil pun bisa. Balita usia 2-3 tahun sudah pintar berbicara, minimal dapat memanggil ayah ibunya. Bahkan tangisan bayipun sebenarnya adalah bentuk bicara pula.
Berbicara merupakan mengeluarkan, menyusun kata-istilah secara teratur melalui mulut sehingga bisa dimengerti oleh lawan bicaranya. Bicara di sini diartikan sebagai bentuk komunikasi, menggunakan bicara maka komunikasi bisa terjalin, Namun mengatakan-istilah tanpa artipun sebenarnya bicara pula, hanya saja belum dimasukan ke dalam kategori komunikasi.
Kemampuan bicara menjadi penting pada konteks menjalin interaksi komunikasi dengan orang lain. Dalam perkembangannya, bicara menjadi lebih ruwet lantaran ada batasan-batasan etika dan aturannya. Bicara kemudian terkotak-kotak sang kepentingan dan maksud-maksud eksklusif. Setiap aspek kehidupan mempunyai aturan dan etika tersendiri dalam berbicara.
Faktor utama dalam berbicara adalah bahasa. Makna bahasa kini lebih luas lagi, bukan hanya merujuk pada suku bangsa tetapi telah merambah pada disiplin ilmu. Kita sekarang nir hanya mengenal bahasa jawa, Madura, Sunda dan sebagainya yg menurut kesukuan, melainkan bahasa ekonomi, bahasa politik dan sebagainya dalam lingkup disiplin ilmu.
Selanjutnya, dari bahasa tadi menghipnotis etika dan anggaran bicara. Antara bahasa hukum serta bahasa ekonomi ada aturan dan etikanya sendiri, misalnya halnya bahasa Jawa serta bahasa Sunda yg di dalamnya nir terpisahkan sang norma norma dan budaya berdasarkan mana bahasa itu asal.
Dalam pergaulan etika berbicara itu krusial, tidak boleh asal bicara. Semakin tinggi taraf pendidikan serta sosial, seseorang umumnya semakin tinggi jua etikanya pada berbicara. Kelas pendidikan serta sosial seringkali sebagai faktor pembeda pada berbicara. Antara bahasa tukang becak dan dosen kentara berbeda. Dan bial dibolak-balik kesannya akan semakin semrawut.
Kesannya akan lain. Seorang dosen menggunakan strata pendidikan tinggi cita rasanya nir pantas berbicara menggunakan gaya bahas tukang becak yang terbiasa kasar, cespleng serta tidak mengenal unggah-ungguh. Sebaliknya, tukang becak akan sebagai lucu apabila memaksakan diri berbicara menggunakan langgam berbicara seorang dosen yg cenderung ilmiah serta rumit dicerna orang biasa.
Tujuan utama berbicara adalah membuat versus bicara mengerti apa yg dikatakannya. Tidak peduli bahasa apa yg dipakai, punya ungguh-ungguh atau tidak, yang penting orang yg diajak berbicara menangkap dengan kentara maksudnya. Tetapi dalam perkembangannya, seiring dengan kemajuan peradaban, mengerti saja tidak cukup.
Sekarang ini, disamping dapat dimengerti harus juga mencerminkan etika, termasuk didalamnya adalah unggah-unggah. Apalagi di global timur (oriental)yang sangat menghormati nilai-nilai kesopanan, unggah-ungguh sebagai faktor yg tak boleh ditinggalkan. Khususnya di warga Jawa, Unggah-ungga memegang peranan sangat lebih banyak didominasi.
Bahkan bahasa yg dipakaipun berlainan antara bicara kepada orang tua, saudara termuda, atasan dan sebagainya. Orang akan semakin dihormati bila memahami unggah-ungguh. Dan apabila unggah-ungguh itu dilanggar, istiadat-tata cara sudah menyiapkan sangsinya. Orang yg nir memahami sopan-santun dalam berbicara pasti akan dikucilkan selamanya.
1. Berbicara Harus Menatap Lawan Bicara
Yang wajib anda perhatikan waktu berbicara adalah konsentrasikan diri anda sepenuhnya pada versus bicara. Jangan melihat ke arah lain sehingga menciptakan versus bicara tersinggung. Menatap versus bicara benar-benar-sungguh (bukan mendelik/melirik) termasuk etika berbicara yang baik. Obyek anda merupakan versus bicara bukan yang lain.
jangan tinggalkan etika waktu anda sedang berkomunikasi menggunakan orang lain. Kita sendiri pula niscaya tersinggung apabila ada orang lain mengajak bicara datang-tiba memutar hidungnya ke tempat lain. Mau menanggapi bicaranya saja sebenarnya telah wajib disyukuri, jangan malah berpindah hati.
Bicara itu bukan hanya dengan ekspresi, tetapi jua dengan hati serta semua tubuh kita kecuali bila kita berbicara melalui telepon. Ketika berbicara sebaiknya seluruh mobilitas tubuh kita mengarah ke lawan bicara sebagai akibatnya kita tahu bagaimana reaksi versus bicara ketika membalas apa yang kita ucapkan. Kalau pandangan kita beralih ke loka lain, kita tahu apakah lawan bicara nrimo dengan ucapannya atau nir. Bisa jadi lawan bicara bilang putusan bulat tetapi mimik wajahnya serta kita tahu lantaran pandangan kita tidak tertuju kepadanya.
Pada saat berbicara semestinya kita seudah mempersiapkan mental kita sepenuhnya. Lantaran yang kita hadapi adalah manusia yg memiliki perasaan, bisa bahagia dan susah, bisa tersinggung serta marah-marah. Oleh sebab itu, baik itu mimik maupun mata kita harus menunjukkan wajah yg bersahabat serta sungguh-benar-benar. 
2. Suara Harus Terdengar Jelas
Disamping kita harus menatap lawan bicara, yang tidak kalah pentingnya merupakan menata bunyi kita supaya lawan bicara dapat menangkap dengan kentara apa yg sedang kita bicarakan. Tidak boleh terlalu terburu-buru serta jangan terlalu pelan. Usahakan bunyi yang keluar mampu terdengar kentara supaya versus bicara dapat terdengar apa yang kita ucapkan.
Karena kondisi eksklusif tak jarang kita nir bisa mengontrol bunyi kita, sebagai akibatnya menjadi terlalu cepat. Lawan bicara merasa perlu menegaskan kembali dengan bertanya pulang. Atau lantaran tidak ingin didengar orang lain, kita berusaha merendahkan intonasi suara sebagai akibatnya di indera pendengaran versus bicara terdengar seperti desis ular. Kedua-duanya bukan cara yang efektif pada berbicara.
Berbicara menggunakan pelan akan tetapi kentara terdengar. Tidak perlu terlalu keras nir perlu terlalu lemah. Yang perlu kita perhatikan juga adalah taraf emosional kita. Bicaralah waktu emosi kita sedang nir konsentrasi. Contohnya jikalau kita sedang marah atau murung , sebaiknya agar kemarahan atau kesedihan tersebut nir terlihat sang lawan bicara.
Percuma saja kita berbicara terburu-buru hingga nafas kita tersengal-sengal, lawan bicara susah mengerti. Atau terlalu lembut misalnya orang yang sedang dirundung derita berkepanjangan, sebagai akibatnya hanya terdengar seperti rintihan yang menyayat hati. Oleh karena itu hindarilah berbicara terburu-buru atau terlalu pelan. Sebab dalam kondisi berbicara seperti itu, sulit buat meninta respon yg obyektif dari lawan bicara.
Di samping nir efektif, pembicaraan yg kurang terdengar jelas pada telinga versus bicara kadang-kadang menyebabkan kejengkelan bagi lawan bicara. Maunya ingin cepat-cepat selesai tetapi malah mengakibatkan duduk perkara baru yg tidak terselesaikan-selesai. Tentunya ini akan merugikan diri kita sendiri.
3. Gunakanlah Tata Bahasa yang Baik serta Benar
Bahasa bisa menandakan kualitas kepribadian serta latar belakang seseorang. Bahasa pegawai kantor, kentara tidak sama menggunakan orang berjualan pada pasar. Salah satu unsur pembedanya masih ada dalam pemakaian rapikan bahasa yang dipakai. Bahasa pegawai tempat kerja jelas lebih punya etika berdasarkan dalam orang pasar. Bahasa anak gaul tidak sinkron dengan bahasa ningrat keraton.
Sebelum berbicara sebaiknya istilah-kata diatur terlebih dahulu. Jangan hingga pada tengah kalimat tiba-tiba putus karena kita nir memahami apa yang akan kita bicarakan. Dan tentunya tidak boleh memakai istilah-kata yg kasar, apalagi yg meninggung hati versus bicara.
Kita harus mengetahui mana subyek, mana predikat, obyek serta fakta dalam sebuah kalimat. Kita harus tahu pula bagaimana menempatkan perangkat kalimat pada loka yang sahih. Jangan hingga kita resah dengan kalimat yg kita ucapkan sendiri. Umpamanya menggunakan membolak-kembali kedudukan subyek, predikat dan obyek sehingga sebagai kalimat yg tidak beraturan.
4. Jangan memakai Nada Suara yang Tinggi
Citra pegawai tempat kerja adalah citra kesopanan adalah orang lain melihat pegawai tempat kerja sebagai orang yg tahu etika, punya tata-krama serta santun pada segala tindak-tanduknya. Sikap serta perilakunya mencerminkan orang berpendidikan.
Kesan tadi akan semakin membekas saat kita sedang berbicara. Dari pembicaraan itu orang lain akan dapat menilai, apakah kita seorang pegawai tempat kerja atau bukan. Gaya bicara, intonasi yang dipakai, serta tata bahasa, kentara berpengaruh besar pada indera pendengaran pendengar.
Sebagai pegawai kantor, usahakan kita berbicara dengan kalimat yg kentara serta intonasi yang sedang-sedang saja. Tidak terlalu tinggi, jua tidak terlalu rendah. Tunjukan kesan bahwa kita bisa mengontrol intonasi menggunakan baik.
Pakailah nada suara yg datar-datar saja, sebagai akibatnya setiap orang dapat mendengarnya dengan baik. Kalau terlalu tinggi dikhawatirkan tidak semua pendengarnya dapat mendengar dengan baik. Apalagi apabila kita ditunjuk sebagai pembicara, nada bunyi harus sahih-sahih dijaga. Sebab, pendengar dalam sebuah lembaga baik ceramah maupun diskusi cenderung beragam.
Jika nada suara terlalu tinggi kita akan cepat letih. Orang tidak mungkin bisa berteriak selama satu jam monoton. Apa yang kita bicarakan sebaiknya dapat kita rasakan jangan malah menjadi beban.
Disamping itu, kurang beretika cita rasanya bila kita berbicara menggunakan nada suara yg tinggi. Kecuali bila kita sedang membakar semangat para anak-anak muda buat terjun ke medan perang. Dalam situasi yg biasa, kondusif serta nir darurat, Sebaiknya nada bunyi kita tidak terlalu tinggi.
5. Pembicaraan Praktis Dimengerti
Tujuan primer berbicara adalah buat membuat lawan bicara mengerti apa yg sedang kita bicarakan. Oleh sebab itu, usahakan kita relatif toleran menggunakan para pendengar kita. Kita harus pintar-pintar menentukan versus bicara, sebab hal ini berkaitan menggunakan bahasa yg kita pakai. Jangan lantaran ingin dipercaya menjadi pegawai kantor ke mana-mana kita selalu menggunakan bahasa taraf tinggi.
Kita wajib pintar menyesuaikan diri menggunakan kondisi serta latar belakang lawan bicara yang kita hadapi. Jangan terjebak sang impian buat menjaga image atau gengsi sebagai akibatnya mengorbankan lawan bicara.
Pakailah bahasa yg sederhana dan gampang dimengerti. Tidak penting anggapan orang lain terhadap diri kita, yang penting merupakan orang lain mengerti terhadap apa yg sedang kita bicarakan. Biarkan orang lain menduga diri kita bodoh, dan seolah-olah pitar mereka, itu hak mereka.
Sering kita mendengar ada orang berbicara menggunakan memakai bahasa yg tinggi. Padahal pendengarnya hanya para pedagang yang tidak sempat mengikuti perkembangan jaman. Memang ia berhasil membangun kesan di tengah audiennya bahwa beliau pembicara yg pintar, Namun waktu ditanyakan kepada mereka apakah mereka mengerti, mereka malah galau.
Kita semua pasti punya pengalaman yg sama ketika mengikuti khotbah Jum'at. Ada khatib yg selama khotbahnya memakai bahasa Arab di tengah jamaah yang seluruhnya orang Indonesia. Yakinkah anda bahwa jamaah mengerti isi khotbah tersebut?
Tipsnya sebelum mengajak bicara, ketahuilah dulu siapa versus bicaranya. Kalau memang lawan bicara lebih gampang mengerti menggunakan bahasa wilayah, maka kita wajib menyesuaikan diri.
Dari bahasa di atas semakin mengertilah kita bahwa ternyata berbicara itu tidak semudah yang kita bayangkan. Tetapi penulis juga tidak sedang mengarahkan pada satu konklusi bahwa berbicara itu sukar. Singkatnya, menjadi pegawai tempat kerja kita harus tetap menjaga menggunakan baik etika kita pada berbicara.
Sumber : Disarikan menurut Modul Etika Kerja Kesetaraan paket C Sekolah Menengah Atas 2009.

PENGERTIAN AKHLAQ DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM

Pengertian Akhlaq Dan Kedudukannya Dalam Islam 
1. Pengertian Akhlaq
Kata Akhlaq berasal dari bahasa Arab yg berarti tabiat, budi pekerti, karakter, keperwiraan, kebiasaan. Kata akhlâq ini berakar kata khalaqa yang berarti membentuk, seakar menggunakan kata Khâliq (pencipta), makhlûq (yang diciptakan), serta khalq (penciptaan). Kesamaan akar kata ini mengandung makna bahwa rapikan konduite seorang terhadap orang lain serta lingkungannya wajib merefleksikan dan menurut nilai-nilai kehendak Khâliq (Tuhan). Akhlaq bukan hanya adalah tata aturan atau norma perilaku yang mengatur interaksi antar sesama insan, namun juga kebiasaan yang mengatur interaksi antar insan menggunakan Tuhan serta bahkan dengan alam semesta.

Para ulama memberikan pengertian akhlaq menjadi suatu kondisi jiwa yang tertanam dalam diri seorang, dimana dengannya seorang terdorong melakukan perbuatan dengan tanpa proses pemikiran atau pertimbangan yang mendalam dan tanpa planning atau bisnis yang dibuat-untuk.

Ahmad Amin memberikan pengertian bahwa akhlaq merupakan konduite yg dibiasakan sebagai akibatnya perilaku itu sebagai sebuah kebiasaan yg terus menerus dilakukan. Karena itu juga akhlaq itu bersifat konstan, spontan, tidak temporer serta tidak memerlukan pemikiran serta pertimbangan serta dorongan berdasarkan luar.

Pengertian akhlaq di atas juga memberitahuakn bahwa akhlaq pada dasarnya adalah hal yang bersifat netral, belum memilih pada baik dan jelek. Dalam Islam akhlaq setidaknya memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
a. Rabbani. Ajaran akhlaq pada Islam bersumber dari wahyu Ilahi, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Ciri ini menegaskan bahwa akhlaq dalam Islam bukanlah moral yg kondisional serta situasional, tetapi akhlaq yang sahih-sahih mempunyai nilai mutlak. Ciri ini yang mampu menghindari kekacauan nilai moralitas pada hidup insan.

b. Manusiawi. Ajaran akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi tuntutan fitrah manusia. Akhlaq Islam akan memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya. Akhlaq Islam pula akan mendorong insan buat merindukan dan menemukan kebahagiaan sejati.

c. Universal. Ajaran akhlaq pada Islam sinkron dengan kemanusiaan yg universal dan mencakup segala aspek kehidupan manusia. Keseluruhan aspek tersebut meliputi dimensi yang bersifat vertikal (interaksi dengan Tuhan) serta horizontal (interaksi sesame makhluk).

d. Keseimbangan. Manusia berdasarkan pandangan Islam memiliki dua kekuatan pada dirinya, kekuatan baik dalam hati nurani dan akalnya, dan kekuatan tidak baik dalam hawa nafsunya. Ajaran akhlaq dalam Islam mendorong insan supaya sanggup mengendalikan dua potensi yg telah diberikan Allah kepadanya, sehingga kehidupan eksklusif manusia muslim merupakan insan yang seimbang, antara pemenuhan kewajiban terhadap oleh Khaliq serta pemenuhan kewajiban antar sesama makhluk. 

e. Realistik. Manusia merupakan makhluk yg tidak luput dari kesalahan, selain mempunyai kelebihan dibanding makhluk Allah lainnya. Ajaran akhlaq pada Islam mendorong manusia buat terus memperbaiki diri menurut kesalahan yg sudah dilakukannya menggunakan cara bertaubat. Bahkan dalam kondisi yang terpaksa, Islam membolehkan manusia melakukan sesuatu yang pada keadaan biasa tidak dibenarkan. Akhlaq pada ajaran Islam dengan demikian bersifat realistis, atau memperhatikan kenyataan keadaan manusia.

Ciri-ciri akhlaq tadi menampakan bahwa akhlaq pada Islam nir hanya terkait proses interaksi manusia menggunakan Allah serta atau sesama insan semata. Ajaran akhlaq dalam Islam mencakup seluruh tata aturan hubungan manusia dengan Allah dan semua makhluk, termasuk lingkungan. Ciri-karakteristik ini juga menunjukkan adanya perbedaan antara akhlaq, moral serta etika. Secara substansi antara akhlaq dan moral merupakan sama, yaitu sama-sama mengacu pada ajaran-ajaran, wejangan, kutbah-kutbah, patokan-patokan, gugusan peraturan serta ketetapan baik mulut maupun tertulis mengenai bagaimana insan harus hayati dan bertindak agar sebagai insan yg baik. Perbedaan antara moral dan akhlaq ini masih ada asal ajarannya, di mana akhlaq dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an serta Hadits, sedangkan moral dari pemikiran dan kebiasaan manusia.

Apabila dikaitkan dengan etika, maka secara filosofis antara konsep akhlaq dan etika sesungguhnya berbeda. Akhlaq adalah ajaran-ajaran bagaimana seseorang harus bertindak dalam kehidupan ini agar menjadi orang yg baik, sedangkan etika berbicara mengenai mengapa kita wajib mengikuti ajaran moral tertentu atau bagaimana seseorang dapat merogoh perilaku yang bertanggungjawab menggunakan pelbagai ajaran moral atau akhlaq. Tetapi secara fungsional ke 2 istilah ini tidak bisa dipisahkan, lantaran ketika seseorang berperilaku baik maka menggunakan mengetahui alasannya, mengapa wajib berbuat demikian, akan berakibat lebih mantap pada bertindak, demikian jua sebaliknya saat meninggalkan perbuatan jelek.

2. Kedudukan Akhlaq pada Islam
Ajaran akhlaq dalam Islam sesungguhnya bukanlah ajaran normatif terkait konduite seorang. Berdasar ciri-ciri pada atas sesungguhnya tergambar bahwa akhlaq sesungguhnya bersifat bergerak maju, sesuai situasi dan kondisi kehidupan manusia. Artinya, akhlaq, baik atau buruk, dapat hadir dalam diri seorang jika dibiasakan serta dilakukan terus menerus. Akhlaq yang baik sesungguhnya kebutuhan setiap insan dimana dan kapan pun berada. Demikian kebalikannya, akhlaq yang tidak baik adalah sesuatu yg selalu dihindari oleh siapapun.

Islam menegaskan bahwa akhlaq merupakan bagian nir terpisahkan berdasarkan keimanan seseorang muslim. Kesempurnaan iman seseorang muslim sangat tergantung menurut keluhuran akhlaq yang dimilikinya. Kehadiran Islam sendiri dinyatakan Nabi Muhammad sesungguhnya berfungsi buat memperbaiki kualitas akhlaq manusia. Banyak hadits yang menerangkan bahwa keluhuran akhlaq adalah indicator menurut keimanan seorang muslim, bahkan secara tegas Allah nyatakan bahwa kemuliaan seseorang hamba di hadapan-Nya bukanlah didasarkan dalam kualitas keturunan atau nasab namun berdasar kepada kualitas taqwa menjadi puncak kualitas akhlaq seseorang hamba (Q.S. Al-Hujurat: 13). Akhlaq yang baik (akhlaqul karimah) adalah pola konduite yang dilandaskan dalam serta adalah manifestasi nilai-nilai iman, Islam, dan ihsan (berbuat baik). Ihsan merupakan perbuatan baik yg nampak dalam jiwa dan konduite yang sinkron dan dilandasi oleh aqidah serta aturan Islam. Ihsan atau berbuat baik adalah pranata nilai yg memilih atribut kualitatif langsung seorang. Orang yg sudah mencapai derajat ihsan, maka beliau telah memiliki akhlaqul karimah (akhlaq yg baik).

Perilaku ihsan ini nir hanya dibatasi kepada sesama manusia, namun pula kepada semua makhluk. Sebagai khalifah, insan tidak hanya dimandatkan buat beribadah pada Allah, melainkan juga diperintahkan buat bisa mengelola dan memakmurkan alam serta lingkungannya. Manusia yg sudah mencapai derajat ihsan akan memelihara diri dari berbagai perbuatan yg dapat merusak lingkungan. Hal ini karena perilaku serta konduite Mengganggu lingkungan merupakan perbuatan yg nir disukai Tuhan, serta insan ihsan sesungguhnya insan yg telah sanggup menghadirkan dan mempresentasikan nilai-nilai Tuhan dalam diri dan perilakunya sehari-hari.

Akhlaq merupakan landasan krusial dalam menciptakan peradaban manusia. Ahmad Syauqi Beik, keliru seseorang penyair klasik menyatakan bahwa keberadaan rakyat itu ditentukan sang tetapnya akhlaq anggota masyarakatnya, bila masyarakat itu telah kehilangan akhlaq (telah rusak akhlaqnya) maka runtuh jua prestise warga itu.

Mengelola lingkungan dengan baik sesungguhnya bagian dari menciptakan peradaban manusia, sehingga bila setiap insan dapat berperilaku baik (berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka beliau turut aktif pada membentuk peradaban yang baik. Tetapi jika insan tidak berperilaku baik (nir berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka dia meruntuhkan peradaban insan itu sendiri.

Urgensi Akhlaq Lingkungan
Kata “lingkungan” (environment) dari menurut bahasa Perancis: environner yg berarti: to encircle atau surround, yg dapat dimaknai : 1) lingkungan atau syarat yg mengelilingi atau melingkupi suatu organisme atau sekelompok organisme, dua) kondisi sosial dan kultural yang berpengaruh terhadap individu atau komunitas. Karena insan menghuni lingkungan alami juga buatan atau dunia teknologi, sosial serta kultural, maka keduanya sama-sama pentingnya bagi lingkungan kehidupan (manusia serta makhluk hidup yg lain).

Lingkungan selanjutnya terbentuk dalam sebuah sistem yang adalah suatu jaringan saling ketergantungan antar komponen dan proses, dimana energi serta materi mengalir dari satu komponen ke komponen sistem lainnya. Sistem lingkungan atau yg tak jarang dianggap ekosistem adalah model bagaimana sebuah sistem berjalan. Ekosistem adalah suatu adonan atau gerombolan hewan, flora dan lingkungan alamnya, dimana pada dalamnya masih ada genre atau gerakan atau transfer materi, energi dan warta melalui komponen-komponennya. 

Ekosistem dapat pula dimaknai menjadi suatu situasi atau syarat lingkungan dimana terjadi hubungan antara organisme (flora dan fauna termasuk manusia) menggunakan lingkungan hidupnya. Sebagai sebuah sistem, lingkungan wajib permanen terjaga keteraturannya sebagai akibatnya sistem itu dapat berjalan menggunakan teratur serta menaruh kemanfaatan bagi seluruh anggota ekosistem. Manusia menjadi makhluk yg sempurna, yang sudah diberikan amanah buat menjadi khalifah memiliki kiprah krusial dalam menciptakan serta menjaga keteraturan lingkungan serta system lingkungan ini. Untuk itulah insan dituntut untuk bisa mengembangkan akhlaq (konduite yang baik) terhadap lingkungan.

Berbagai kerusakan lingkungan yg terjadinya dewasa ini sesungguhnya berakar menurut perilaku yg salah berdasarkan manusia pada menyikapi serta mengelola lingkungan dan sumber dayanya. Kerusakan alam serta lingkungan jua berdampak bagi lahirnya peradaban insan yg rendah, dimana menempatkan alam serta lingkungan menjadi diskriminasi menurut insan. Akhlaq lingkungan mengajarkan pada insan buat memiliki konduite yg baik dan menciptakan peradaban manusia yg lebih baik, yg menempatkan alam dan lingkungan menjadi mitra beserta dalam menjalankan tugas sebagai hamba serta khalifah Allah di muka bumi.

Akhlaq lingkungan pula berfungsi menjadi pedoman bagi umat manusia dalam mengembangkan hubungannya menggunakan alam. Seseorang yang mempunyai akhlaq lingkungan akan terdorong buat mengakibatkan alam sebagai mitra serta sekaligus wahana pada memenuhi fungsi dan kewajibannya sebagai seseorang manusia, baik menjadi hamba kepada Tuhan juga sebagai anggota warga menjadi sesama insan, dan pada semua makhluk menjadi khalifatullah fil ardl. Seseorang yg memiliki akhlaq lingkungan tidak akan berakibat alam dan lingkungan menjadi bagian subsistem kehidupannya sebagai akibatnya menggunakan seenaknya dieksplorasi, namun dicermati sebagai makhluk yang memiliki kedudukan sama dihadapan Tuhan sehingga keberadaannya tetap dikelola serta dilestarikan. 

Metode Penumbuhan Akhlaq Lingkungan
Untuk menumbuhkan akhlaq lingkungan maka diharapkan metode eksklusif sebagai cara buat tahu, menggali, berbagi akhlaq lingkungan, atau bisa dipahami sebagai jalan buat menanamkan pemahaman akhlaq lingkungan dalam seseorang sehingga dapat sebagai pribadi yang mempunyai perilaku ramah dan peduli terhadap lingkungan. Pelaksanaan metode ini berdasarkan pada prinsip bahwa pengajaran akhlaq lingkungan disampaikan pada suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, serta motivasi. Pilihan metode berdasarkan pada pandangan dan persepsi dalam menghadapi insan sinkron dengan unsur penciptaannya, yaitu jasmani, nalar, dan jiwa, guna mengarahkannya menjadi langsung yg sempurna.

Metode penumbuhan akhlaq lingkungan ini dapat dilakukan dengan tahapan menjadi berikut:
a. Mengajarkan.
Penumbuhan akhlaq lingkungan mengandaikan pengetahuan teoritis tentang konsep-konsep nilai terkait konduite ramah lingkungan serta pengelolaan lingkungan. Seseorang buat dapat mempunyai kesadaran dan melakukan konduite ramah lingkungan terlebih dahulu harus mengetahui nilai-nilai krusial lingkungan bagi kehidupan serta bagaimana melakukan pengelolaannya. Hal ini berdasarkan pada pemahaman bahwa konduite insan dalam dasarnya banyak dituntun sang pengertian dan pemahaman terhadap nilai menurut konduite yg dilakukannya.

Proses pengajaran mengenai lingkungan ini bisa dilakukan secara pribadi, baik melalui anugerah kabar dengan pembelajaran juga penugasan melalui pembacaan terhadap aneka macam surat keterangan. Bahkan pengajaran ini dapat dilakukan dengan melihat secara eksklusif ayat-ayat kauniyah (fenomena alam) yang ada pada sekitar kehidupan kita.

b. Keteladanan.
Keteladanan pada pendidikan merupakan metode ifluentif yg paling meyakinkan keberhasilan dalam mempersiapkan dan menciptakan anak dalam moral, spiritual serta moral. Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan metode ini sangat penting karena akhlaq adalah kawasan afektif yg terwujud pada bentuk tingkah laris (behavioral). Metode ini didasari pada pemahaman bahwa tingkah laku anak muda dimulai dengan imitatio, meniru serta ini berlaku sejak masih mini . Apa yg dikatakan orang yg lebih tua akan terekam dan dimunculkan kembali oleh anak. Anak belajar melakukan sesuatu menurut sekitarnya, khususnya yg terdekat dan mempunyai intensitas rasional tinggi.

Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan keteladanan ini memiliki imbas yang sangat bertenaga. Bagaimana mungkin orang lain akan bisa menumbuhkan akhlaq lingkungan dalam dirinya kalau orang yg mengajarkan tidak pernah bersikap serta berperilaku yang diajarkan. Pentingnya keteladanan ini sesuai menggunakan adagium bahwa satu keteladanan lebih berharga dibanding dengan seribu nasehat.

c. Pembiasaan.
Unsur krusial bagi penumbuhan akhlaq merupakan bukti dilaksanakannya nilai-nilai normatif akhlaq itu sendiri. Penumbuhan akhlaq akan dapat terlaksana jika dilakukan dengan pembiasaan yg terus menerus sebagai akibatnya menjadi norma yg melekat dalam eksklusif seseorang. Proses pembiasaan ini dapat dilakukan secara sedikit demi sedikit serta di mulai dari hal yang ringan atau mudah. Untuk ini diharapkan suasana atau tempat yang mendukung bagi terciptanya proses pembiasaan. Penyediaan fasilitas, penempelan papan petunjuk, himbauan, embargo, brosur, serta lain sebagainya bisa dilakukan sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kolektif buat secara beserta membiasakan konduite ramah lingkungan.

d. Refleksi.
Akhlaq lingkungan yg akan dibuat oleh penumbuhan melalui banyak sekali macam program dan kebijakan senantiasa perlu dievaluasi dan direfleksikan secara berkesinambungan dan kritis. Tanpa ada usaha buat melihat balik sejauh mana proses penumbuhan akhlaq lingkungan ini direfleksi, dievaluasi, tidak akan pernah terdapat kemajuan. Refleksi adalah kemampuan sadar spesial manusiawi. Berdasar kemampuan sadar ini, manusia mampu mengatasi diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan lebih baik. Segala tindakan dan pembiasaan dalam menumbuhkan akhlaq lingkungan yg telah dilaksanakan, perlulah dilakukan refleksi buat melihat sejauh mana keluarga, gerombolan masyarakat atau pihak yg melakukannya telah berhasil atau gagal dalam menumbuhkan akhlaq lingkungan.

Proses refleksi ini bisa dilakukan dengan cara mengajak memikirkan balik apa yang dirasakan, manfaat yang diterima dan pesan yang tersirat apa yang diterima mengenai perilaku yg sudah dilakukan dan dibiasakan pada kaitannya dengan pengelolaan lingkungan. Semisal apa yg kiranya manfaat dan pesan yang tersirat yg dirasakan dan diterima saat seorang itu konsisten menjaga kebersihan, mengelola sampah menggunakan benar sinkron proporsinya. Keempat metode pada atas adalah pedoman dan patokan pada menghayati serta mencoba menghidupkan akhlaq lingkungan. Keempatnya sanggup dikatakan menjadi bulat bergerak maju dialektis yang senantiasa berputar semakin maju. Hal ini karena penumbuhan akhlaq lingkungan menjadi upaya terus menerus buat membentuk budaya dan norma setiap individu anggota masyarakat pada kehidupannya yg sadar, peduli serta ramah terhadap lingkungan. 

PENGERTIAN AKHLAQ DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM

Pengertian Akhlaq Dan Kedudukannya Dalam Islam 
1. Pengertian Akhlaq
Kata Akhlaq asal dari bahasa Arab yang berarti tabiat, budi pekerti, karakter, keperwiraan, kebiasaan. Kata akhlâq ini berakar kata khalaqa yg berarti menciptakan, seakar menggunakan istilah Khâliq (pencipta), makhlûq (yang diciptakan), dan khalq (penciptaan). Kesamaan akar istilah ini mengandung makna bahwa tata konduite seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya wajib merefleksikan dan menurut nilai-nilai kehendak Khâliq (Tuhan). Akhlaq bukan hanya adalah tata anggaran atau norma konduite yg mengatur interaksi antar sesama insan, namun jua kebiasaan yg mengatur hubungan antar insan dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.

Para ulama memberikan pengertian akhlaq menjadi suatu kondisi jiwa yang tertanam pada diri seseorang, dimana dengannya seorang terdorong melakukan perbuatan dengan tanpa proses pemikiran atau pertimbangan yg mendalam dan tanpa rencana atau bisnis yg dibentuk-buat.

Ahmad Amin menaruh pengertian bahwa akhlaq merupakan konduite yang dibiasakan sebagai akibatnya konduite itu menjadi sebuah kebiasaan yg terus menerus dilakukan. Karena itu jua akhlaq itu bersifat kontinu, impulsif, tidak temporer serta tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan berdasarkan luar.

Pengertian akhlaq di atas juga memperlihatkan bahwa akhlaq dalam dasarnya merupakan hal yang bersifat netral, belum memilih pada baik serta buruk. Dalam Islam akhlaq setidaknya mempunyai karakteristik-ciri sebagai berikut:
a. Rabbani. Ajaran akhlaq dalam Islam bersumber berdasarkan wahyu Ilahi, yaitu al-Qur’an serta as-Sunnah. Ciri ini menegaskan bahwa akhlaq dalam Islam bukanlah moral yg kondisional dan situasional, namun akhlaq yang sahih-benar memiliki nilai mutlak. Ciri ini yang bisa menghindari kekacauan nilai moralitas pada hidup manusia.

b. Manusiawi. Ajaran akhlaq pada Islam sejalan dan memenuhi tuntutan fitrah insan. Akhlaq Islam akan memelihara keberadaan insan sebagai makhluk terhormat, sinkron dengan fitrahnya. Akhlaq Islam jua akan mendorong insan buat merindukan dan menemukan kebahagiaan sejati.

c. Universal. Ajaran akhlaq pada Islam sesuai dengan kemanusiaan yg universal serta meliputi segala aspek kehidupan insan. Keseluruhan aspek tadi meliputi dimensi yg bersifat vertikal (hubungan dengan Tuhan) serta horizontal (hubungan sesame makhluk).

d. Keseimbangan. Manusia dari pandangan Islam mempunyai 2 kekuatan pada dirinya, kekuatan baik dalam hati nurani serta akalnya, serta kekuatan tidak baik dalam hawa nafsunya. Ajaran akhlaq pada Islam mendorong manusia agar mampu mengendalikan 2 potensi yg sudah diberikan Allah kepadanya, sebagai akibatnya kehidupan pribadi manusia muslim adalah manusia yg seimbang, antara pemenuhan kewajiban terhadap oleh Khaliq serta pemenuhan kewajiban antar sesama makhluk. 

e. Realistik. Manusia merupakan makhluk yang tidak luput menurut kesalahan, selain mempunyai kelebihan dibanding makhluk Allah lainnya. Ajaran akhlaq dalam Islam mendorong insan buat terus memperbaiki diri berdasarkan kesalahan yang telah dilakukannya menggunakan cara bertaubat. Bahkan dalam syarat yg terpaksa, Islam membolehkan manusia melakukan sesuatu yang pada keadaan biasa tidak dibenarkan. Akhlaq dalam ajaran Islam menggunakan demikian bersifat realistis, atau memperhatikan kenyataan keadaan insan.

Ciri-karakteristik akhlaq tadi memperlihatkan bahwa akhlaq dalam Islam tidak hanya terkait proses interaksi insan dengan Allah serta atau sesama insan semata. Ajaran akhlaq dalam Islam meliputi semua tata anggaran hubungan insan menggunakan Allah dan semua makhluk, termasuk lingkungan. Ciri-ciri ini jua memperlihatkan adanya perbedaan antara akhlaq, moral dan etika. Secara substansi antara akhlaq serta moral adalah sama, yaitu sama-sama mengacu pada ajaran-ajaran, wejangan, kutbah-kutbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik ekspresi juga tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup serta bertindak supaya menjadi manusia yg baik. Perbedaan antara moral dan akhlaq ini terdapat asal ajarannya, di mana akhlaq pada Islam bersumber berdasarkan Al-Qur’an serta Hadits, sedangkan moral berdasarkan pemikiran serta norma insan.

Apabila dikaitkan dengan etika, maka secara filosofis antara konsep akhlaq serta etika sesungguhnya berbeda. Akhlaq merupakan ajaran-ajaran bagaimana seorang harus bertindak pada kehidupan ini supaya menjadi orang yg baik, sedangkan etika berbicara tentang mengapa kita wajib mengikuti ajaran moral eksklusif atau bagaimana seseorang dapat merogoh sikap yg bertanggungjawab menggunakan pelbagai ajaran moral atau akhlaq. Namun secara fungsional ke 2 istilah ini tidak dapat dipisahkan, lantaran saat seseorang berperilaku baik maka dengan mengetahui sebab, mengapa wajib berbuat demikian, akan membuahkan lebih mantap dalam bertindak, demikian juga sebaliknya saat meninggalkan perbuatan tidak baik.

2. Kedudukan Akhlaq dalam Islam
Ajaran akhlaq pada Islam sesungguhnya bukanlah ajaran normatif terkait perilaku seseorang. Berdasar ciri-ciri pada atas sesungguhnya tergambar bahwa akhlaq sesungguhnya bersifat dinamis, sesuai situasi dan syarat kehidupan manusia. Artinya, akhlaq, baik atau tidak baik, bisa hadir pada diri seorang apabila dibiasakan dan dilakukan terus menerus. Akhlaq yang baik sesungguhnya kebutuhan setiap insan dimana dan kapan pun berada. Demikian kebalikannya, akhlaq yang jelek adalah sesuatu yg selalu dihindari sang siapapun.

Islam menegaskan bahwa akhlaq merupakan bagian tidak terpisahkan dari keimanan seseorang muslim. Kesempurnaan iman seseorang muslim sangat tergantung menurut keluhuran akhlaq yang dimilikinya. Kehadiran Islam sendiri dinyatakan Nabi Muhammad sesungguhnya berfungsi untuk memperbaiki kualitas akhlaq insan. Banyak hadits yang menerangkan bahwa keluhuran akhlaq adalah indicator berdasarkan keimanan seorang muslim, bahkan secara tegas Allah nyatakan bahwa kemuliaan seorang hamba pada hadapan-Nya bukanlah berdasarkan dalam kualitas keturunan atau nasab namun berdasar kepada kualitas taqwa sebagai zenit kualitas akhlaq seseorang hamba (Q.S. Al-Hujurat: 13). Akhlaq yang baik (akhlaqul karimah) adalah pola perilaku yg dilandaskan dalam dan adalah manifestasi nilai-nilai iman, Islam, dan ihsan (berbuat baik). Ihsan merupakan perbuatan baik yg nampak dalam jiwa dan perilaku yg sinkron dan dilandasi oleh aqidah serta aturan Islam. Ihsan atau berbuat baik merupakan pranata nilai yg memilih atribut kualitatif eksklusif seorang. Orang yang telah mencapai derajat ihsan, maka ia telah mempunyai akhlaqul karimah (akhlaq yang baik).

Perilaku ihsan ini nir hanya dibatasi kepada sesama insan, namun pula pada semua makhluk. Sebagai khalifah, insan nir hanya dimandatkan buat beribadah pada Allah, melainkan pula diperintahkan buat bisa mengelola dan memakmurkan alam dan lingkungannya. Manusia yg telah mencapai derajat ihsan akan memelihara diri menurut berbagai perbuatan yang bisa merusak lingkungan. Hal ini karena perilaku dan konduite merusak lingkungan adalah perbuatan yang nir disukai Tuhan, dan manusia ihsan sesungguhnya manusia yg telah mampu menghadirkan serta mempresentasikan nilai-nilai Tuhan pada diri dan perilakunya sehari-hari.

Akhlaq merupakan landasan krusial dalam membangun peradaban insan. Ahmad Syauqi Beik, keliru seseorang penyair klasik menyatakan bahwa keberadaan warga itu dipengaruhi sang tetapnya akhlaq anggota masyarakatnya, jika warga itu telah kehilangan akhlaq (sudah rusak akhlaqnya) maka runtuh juga prestise rakyat itu.

Mengelola lingkungan menggunakan baik sesungguhnya bagian dari membentuk peradaban insan, sehingga bila setiap insan dapat berperilaku baik (berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka dia turut aktif dalam membangun peradaban yang baik. Namun bila manusia tidak berperilaku baik (nir berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka beliau meruntuhkan peradaban manusia itu sendiri.

Urgensi Akhlaq Lingkungan
Kata “lingkungan” (environment) dari berdasarkan bahasa Perancis: environner yang berarti: to encircle atau surround, yg dapat dimaknai : 1) lingkungan atau syarat yg mengelilingi atau melingkupi suatu organisme atau sekelompok organisme, dua) syarat sosial serta kultural yg berpengaruh terhadap individu atau komunitas. Karena manusia menghuni lingkungan alami maupun buatan atau dunia teknologi, sosial serta kultural, maka keduanya sama-sama pentingnya bagi lingkungan kehidupan (insan dan makhluk hayati yang lain).

Lingkungan selanjutnya terbentuk pada sebuah sistem yang adalah suatu jaringan saling ketergantungan antar komponen serta proses, dimana tenaga serta materi mengalir berdasarkan satu komponen ke komponen sistem lainnya. Sistem lingkungan atau yang seringkali diklaim ekosistem adalah model bagaimana sebuah sistem berjalan. Ekosistem adalah suatu adonan atau grup hewan, flora serta lingkungan alamnya, dimana pada dalamnya masih ada genre atau gerakan atau transfer materi, energi dan kabar melalui komponen-komponennya. 

Ekosistem bisa jua dimaknai sebagai suatu situasi atau kondisi lingkungan dimana terjadi interaksi antara organisme (tumbuhan serta hewan termasuk manusia) menggunakan lingkungan hidupnya. Sebagai sebuah sistem, lingkungan harus tetap terjaga keteraturannya sebagai akibatnya sistem itu bisa berjalan dengan teratur dan memberikan kemanfaatan bagi semua anggota ekosistem. Manusia sebagai makhluk yg paripurna, yang telah diberikan jujur buat menjadi khalifah mempunyai peran krusial dalam membangun dan menjaga keteraturan lingkungan serta system lingkungan ini. Untuk itulah insan dituntut untuk dapat mengembangkan akhlaq (perilaku yg baik) terhadap lingkungan.

Berbagai kerusakan lingkungan yg terjadinya dewasa ini sesungguhnya berakar menurut perilaku yang salah dari manusia pada menyikapi serta mengelola lingkungan serta sumber dayanya. Kerusakan alam serta lingkungan jua berdampak bagi lahirnya peradaban manusia yang rendah, dimana menempatkan alam dan lingkungan menjadi subordinat dari insan. Akhlaq lingkungan mengajarkan kepada insan untuk memiliki konduite yang baik dan menciptakan peradaban insan yg lebih baik, yg menempatkan alam serta lingkungan sebagai mitra beserta pada menjalankan tugas sebagai hamba serta khalifah Allah di muka bumi.

Akhlaq lingkungan jua berfungsi menjadi panduan bagi umat insan pada membuatkan hubungannya dengan alam. Seseorang yang memiliki akhlaq lingkungan akan terdorong buat membuahkan alam sebagai mitra dan sekaligus wahana dalam memenuhi fungsi dan kewajibannya menjadi seorang manusia, baik sebagai hamba pada Tuhan juga menjadi anggota rakyat menjadi sesama manusia, serta kepada semua makhluk sebagai khalifatullah fil ardl. Seseorang yang mempunyai akhlaq lingkungan tidak akan mengakibatkan alam dan lingkungan sebagai bagian subsistem kehidupannya sebagai akibatnya dengan seenaknya dieksplorasi, tetapi ditinjau sebagai makhluk yang memiliki kedudukan sama dihadapan Tuhan sehingga keberadaannya permanen dikelola dan dilestarikan. 

Metode Penumbuhan Akhlaq Lingkungan
Untuk menumbuhkan akhlaq lingkungan maka dibutuhkan metode tertentu sebagai cara buat tahu, menggali, menyebarkan akhlaq lingkungan, atau bisa dipahami menjadi jalan untuk menanamkan pemahaman akhlaq lingkungan pada seorang sebagai akibatnya dapat menjadi eksklusif yg memiliki perilaku ramah serta peduli terhadap lingkungan. Pelaksanaan metode ini didasarkan pada prinsip bahwa pedagogi akhlaq lingkungan disampaikan pada suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, serta motivasi. Pilihan metode didasarkan pada pandangan serta persepsi dalam menghadapi insan sesuai dengan unsur penciptaannya, yaitu jasmani, logika, serta jiwa, guna mengarahkannya menjadi eksklusif yang paripurna.

Metode penumbuhan akhlaq lingkungan ini dapat dilakukan dengan tahapan menjadi berikut:
a. Mengajarkan.
Penumbuhan akhlaq lingkungan mengandaikan pengetahuan teoritis mengenai konsep-konsep nilai terkait perilaku ramah lingkungan serta pengelolaan lingkungan. Seseorang buat bisa mempunyai kesadaran serta melakukan konduite ramah lingkungan terlebih dahulu harus mengetahui nilai-nilai krusial lingkungan bagi kehidupan dan bagaimana melakukan pengelolaannya. Hal ini berdasarkan pada pemahaman bahwa konduite manusia dalam dasarnya poly dituntun sang pengertian dan pemahaman terhadap nilai dari perilaku yang dilakukannya.

Proses pedagogi mengenai lingkungan ini mampu dilakukan secara eksklusif, baik melalui hadiah liputan dengan pembelajaran juga penugasan melalui pembacaan terhadap banyak sekali surat keterangan. Bahkan pedagogi ini bisa dilakukan menggunakan melihat secara eksklusif ayat-ayat kauniyah (fenomena alam) yang ada pada kurang lebih kehidupan kita.

b. Keteladanan.
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode ifluentif yg paling meyakinkan keberhasilan pada mempersiapkan dan menciptakan anak pada moral, spiritual dan moral. Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan metode ini sangat krusial lantaran akhlaq merupakan kawasan afektif yg terwujud dalam bentuk tingkah laku (behavioral). Metode ini didasari dalam pemahaman bahwa tingkah laris anak belia dimulai menggunakan imitatio, meniru serta ini berlaku sejak masih kecil. Apa yg dikatakan orang yg lebih tua akan terekam dan dimunculkan kembali oleh anak. Anak belajar melakukan sesuatu menurut sekitarnya, khususnya yang terdekat serta memiliki intensitas rasional tinggi.

Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan keteladanan ini mempunyai efek yang sangat kuat. Bagaimana mungkin orang lain akan dapat menumbuhkan akhlaq lingkungan pada dirinya kalau orang yg mengajarkan tidak pernah bersikap dan berperilaku yg diajarkan. Pentingnya keteladanan ini sinkron dengan adagium bahwa satu keteladanan lebih berharga dibanding menggunakan seribu nasehat.

c. Pembiasaan.
Unsur penting bagi penumbuhan akhlaq merupakan bukti dilaksanakannya nilai-nilai normatif akhlaq itu sendiri. Penumbuhan akhlaq akan bisa terealisasi bila dilakukan menggunakan pembiasaan yg terus menerus sebagai akibatnya menjadi norma yang inheren dalam eksklusif seseorang. Proses pembiasaan ini dapat dilakukan secara sedikit demi sedikit serta pada mulai dari hal yg ringan atau mudah. Untuk ini diperlukan suasana atau loka yang mendukung bagi terciptanya proses pembiasaan. Penyediaan fasilitas, penempelan papan petunjuk, himbauan, embargo, brosur, serta lain sebagainya dapat dilakukan sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kolektif untuk secara bersama membiasakan konduite ramah lingkungan.

d. Refleksi.
Akhlaq lingkungan yg akan dibentuk oleh penumbuhan melalui banyak sekali macam program serta kebijakan senantiasa perlu dinilai serta direfleksikan secara berkesinambungan serta kritis. Tanpa ada usaha buat melihat pulang sejauh mana proses penumbuhan akhlaq lingkungan ini direfleksi, dinilai, nir akan pernah terdapat kemajuan. Refleksi merupakan kemampuan sadar khas manusiawi. Berdasar kemampuan sadar ini, insan bisa mengatasi diri dan menaikkan kualitas hidupnya dengan lebih baik. Segala tindakan dan pembiasaan pada menumbuhkan akhlaq lingkungan yang telah dilaksanakan, perlulah dilakukan refleksi untuk melihat sejauh mana famili, grup rakyat atau pihak yang melakukannya telah berhasil atau gagal pada menumbuhkan akhlaq lingkungan.

Proses refleksi ini bisa dilakukan dengan cara mengajak memikirkan pulang apa yg dirasakan, manfaat yang diterima serta pesan tersirat apa yg diterima mengenai konduite yg telah dilakukan dan dibiasakan dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan. Semisal apa yg kiranya manfaat dan hikmah yang dirasakan dan diterima ketika seorang itu konsisten menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan sahih sinkron proporsinya. Keempat metode di atas adalah panduan dan patokan pada menghayati dan mencoba menghidupkan akhlaq lingkungan. Keempatnya sanggup dikatakan sebagai bundar bergerak maju dialektis yang senantiasa berputar semakin maju. Hal ini lantaran penumbuhan akhlaq lingkungan sebagai upaya terus menerus buat membentuk budaya serta norma setiap individu anggota warga pada kehidupannya yang sadar, peduli serta ramah terhadap lingkungan. 

PENGERTIAN TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN DAN KONSELING

Pengertian, Tujuan dan Fungsi Bimbingan serta Konseling
Penggunaan bahasa yang melibatkan kesesuaian pembicaraan telinga dalam suatu dialog bukan hanya gambaran bagaimana mengungkapkan makna dan gagasan melainkan bukti interaksi sosial. Penggunaan bahasa tersebut dipercaya menjadi fungsi bahasa buat membuka saluran komunikasi serta membentuk interaksi diantara rakyat sekolah khususnya guru pembimbing dengan siswa.

Dalam suatu percakapan antara guru pembimbing (konselor) dengan siswa (klien) dalam proses bimbingan serta konseling tidak akan mengajukan bahasa-bahasa yg tidak kontroversial namun dipilih secara hati-hati sesuai kondisi siswa sebagai akibatnya cenderung membuat persetujuan bersama dalam hal mengatasi atau menuntaskan suatu persoalan.

Betapa pentingnya peranan bahasa pada berkomunikasi, sebagai akibatnya keterampilan berbicara bagi kehidupan insan sangat dibutuhkan. Billow (Pateda, 2004:62) menyatakan “ bahasa terutama adalah berbicara”. Berbicara berarti menggunakan bahsa ekspresi secara aktif. Penggunaan bahsa ekspresi secara aktif ini pada kaitannya dengan proses bimbimgan serta konseling bisa saja berwujud perintah, pertanyaan, dorongan, asa, saran, permintaan, pengakuan, penjelasan atau menaruh penerangan

Sehubungan dengan hal tersebut secara rinci dalam proses bimbingan mengandung ciri-karakteristik menjadi berikut : 1) adanya tujuan yg ingin dicapai, dua) ada bahan/pesan yg menjadi isi hubungan, tiga) terdapat peserta didik yg aktif mengalami, 4) terdapat pengajar yg melaksanakan, 5) ada metode buat mencapai tujuan, 6) ada situasi yg memungkinkan proses bimbingan serta konseling berjalan menggunakan baik, 7) terdapat evaluasi terhadap hasil interaksi.

Ini memberitahuakn bahwa peranan bahasa khususnya bahasa instruksi pada proses bimbingan dan konseling adalah suatu komunikasi atau interaksi yg melibatkan pengajar pembimbing (konselor) dan peserta didik (klien) menggunakan maksud buat mencapai tujuan bimbingan yaitu: 1) peserta didik dapat mengenal dirinya sendiri serta lingkungan dimana beliau berada dan kekurangan/kelemahan pada dirinya, dua) dapat menerima diri sndiri serta lingkungan secara positif dan bergerak maju atau apa adanya, 3) bisa merogoh keputusan sendiri tentang berbagai hal, 4) dapat mengarahkan diri sendiri yang didasarkan dalam keputusan yang diambil sinkron apa yg terdapat padanya, lima) perwujudan diri sendiri/ peserta didik bisa merealisasikan dirinya sendiri. Jadi komunikasi antara peserta didik dan pengajar atau guru pembimbing menggunakan siswa memegang peranan krusial pada keberhasilan proses bimbingan serta konseling. Pengajar mempunyai peran buat mengarahkan, membimbing, menaruh dorongan serta motivasi pada pserta didik menggunakan bahasa instruksi yang sesuai kebutuhan serta kondisi peserta didik itu sendiri.

Sesuai menggunakan uraian diatas, tampak jelas bahwa bimbingan serta konseling sebagai galat satu organisasi serta kegiatan acara pendidikan di sekolah menengah pertam perlu di kelolah serta dikembangkan agar dapat menghasilkan produk atau hasil belajar secara optimal. General A. Glad Stein (pada Sarono, 2005:6) Mengemukakan bahwa layanan bimbingan dan konseling yg bemutu itu bisa membantu siswa, nir hanya mengatasi kasus-kasus pendidikan serta pekerjaan tetapi juga sanggup mengatasi masalah-kasus eksklusif murid.

Sesuai harapa guru mata pelajaran Robert F. Gibshon (pada Sarono, 2005:6) beropini bahwa layanan bimbingan serta konseling yang bermutu itu sanggup membantu pengajar mengurangi perilaku murid yg sebagai penyebab keributan atau gangguan di kelas, serta membantu proses pedagogi mudah serta efektif.

Berkaitan menggunakan harapan ketua sekolah Darrel H. Hart dan Donald J. Prince (dalam Sarono, 2005:6) menyatakan pendapat bahwa layanan bimbingna serta konseling yang bermutu itu wajib bisa membantu memecahkan kasus, memperlancar keberhasilan belajar siswa , dan membantu memecahkan masalah pendidikan dan karir murid.

Untuk mengatasi masalah-masalah yg dihadapi peserta didik merupakan bekerja sama dengan pengajar pembimbing (konselor sekolah) menggunakan cara memberikan layanan konseling individual.” Konseling individual “mengandung makna bagaimana seorang berbicara menggunakan orang lain menggunakan tujuan buat membantu agar terjadi perubahan perilaku kearah positif berdasarkan orang yg dibatu.

Dalam konseling individual, kedua belah pihak harus bekerja sama agar klien dapat tahu diri dan permasalahannya dan bisa menyebarkan potensi positif pada dirinya, serta sanggup memecahkan masalahnya sendiri yang tentunya atas donasi dan kepakaran konselor, karena itu seseorang konselor yang berkecimpung di banyak sekali hubungan antar manusia wajib pada lengkapi menggunakan ilmu konseling, ilmu penunjang lain seperti psikologi, antropologi, sosiologi serta ilmu-ilmu lain yang bersinggungan dengan perilaku insan. Selanjutnya konselor harus memiliki keterampilan konseling yaitu menguasai tekhnik-tekhnik konseling di setiap tahapan proses konseling. Tahap awal, termin pertengahan, dan termin akhir supaya konselor mengetahui hingga di mana kemajuan konseling yg dilakukan buat mencapai tujuan yang diharapkan.

Unruk mengoptimalakan proses bimbingan serta konseling kemampuan konselor pada penerapan bahasa instruksi baik menurut segi bentuk maupun isi sangat pada perlukan sehingga benar-sahih terjalin kolaborasi yg baik pada proses bimbingan dan konseling demi tercapainya tujuan bimbingan yang dibutuhkan.

1. Bahasa Instruksi pada Proses Bimbingan dan Konseling
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa “Bahasa merupakan (i) system lambang bunyi yang arbitrer yg digunakan oleh para anggota suatu rakyat buat bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri, (ii) dialog (perkataan) yg baik, tingkah laris yang baik, sopan santun”. Ali Syahbana (dalam Pateda,2003:tiga) menyatakan bahwa bahasa adalah ucapan pikiran serta perasaan manusia dengan teratur menggunakan memakai alat suara. Sedangkn instruksi pada kamus Bahasa Indonesia menyetakan sebagai pelajaran atau petunjuk.

Jadi bahasa instruksi dimaksudkan menjadi suatu ungkapan dalam bentuk kalimat atau istilah menurut seorang kepada orang lain sehingga terjalin hubungan kerja sama saling berinteraksi anatara satu menggunakan lainnya buat mencapai satu tujuan eksklusif menjadi akhir menurut suatu pembicaraan. Sama halnya pada proses bimbingan dan konseling sebagaimana di kemukakan sang Muhammad (2004:4) bahwa “ Bimbingan dan konseling merupakan merupakan proses donasi psikologis dan humanisme secara ilmiah serta profesional yg diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada yg dibimbing (klien), supaya dapat berkembang secara optimal , yaitu mampu tahu diri, mengarahkan diri, dan mengaktualisasikan diri, sinkron termin perkembangan , sifat-sifat, potensi yang dimiliki serta latar belakang kehidupan dan lingkungannya sebagai akibatnya tercapai kebahagiaan dalam kehidupannya “.

Tanpa adanya bahasa instruksi ( bahasa perintah / bahasa petunjuk) pada proses 

Bimbingan dan konseling tentunya maksud serta tujuan yg di kehendaki sebagai akhir berdasarkan pada konseling individual nir akan tercapai. Untuk itu sangat dibutuhkan tehnik dan keterampilan berkomunikasi yg baik serta sopan sebagai akibatnya bisa membuka hati, pikiran serta perasaan secara suka rela serta iklas mengikuti alur pembicaraan yg pada akhirnya klien benar-sahih merasa terbimbing oleh konselor itu sendiri.

2. Bentuk Bahasa Instruksi
Jika mendengar orang berbicara, kita mendengar bunyi bahasa, bunyi bahasa yang digunakannya pada sebut bahasa mulut. Terdapat empat aktivitas berbahasa yakni : 1) berbicara, dua) mendengar, tiga)membaca, 4) menulis (Pateda, 2005:20). Khusus pada proses bimbingan dan konseling bentuk bahasa yang di pakai adalah bahsa ekspresi yaitu bahasa yg disampaikan secara eksklusif antara pembicara serta pendengar. Jadi terdapat yang berbicara dan ada yang mendengar, antara konselor dan klien terjalin interaksi timbal kembali. 

Bentuk bahasa instruksi pada proses bimbingan dan konseling bisa dilakukan dengan cara : 1) menangkap pesan utama , 2) bertanya buat membuka dialog,tiga) bertanya tertutup, 4) dorongan minimal, lima) interpretasi, 7) mengarahkan, 8) memimpin, 9) penekanan, 10) komprontasi, 11) menjernihkan, 12) memudahkan, 13) membisu, 14) mengambil inisiatif, 15) memberi nasehat, 16) memberi kabar, 17) merencanakan, 18) serta menyimpulkan ( S.willis, 2004:187 ) 

3. Isi Bahasa instruksi
Bahasa selalu pada pakai setiap hari. Apa yang di pakai yang berwujud bahasa mengandung isi, mengandung jujur, dan berisi hal-hal menyangkut nama, kegiatan, proses, konsep-konsep, keyakinan, dan pikiran (Pateda, 2005:18)

Miller (dalam Pateda,2005:20) menyampaikan bahwa buat menggunakan bahasa secara efektif, wajib memperhatikan isi bahasa ini dia.
1. Informasi fonologis, maksudnya, kita mendengar bunyi-bunyi bahasa yg bermakna.
2. Informasi leksikal. Kita mendengar istilah atau urutan kata yang berisi pesan atau mengandung makna.
3. Informasi sintaksis. Bunyi-bunyi bahasa berhubung-interaksi membentuk kata berhubung-hubungan dengan istilah lain yg membangun kalimat. Kalimat yang kita gunakan mengandung makna atau memiliki pesan atau jujur.
4. Konsep yang ingin diutarakan dan kenyataannya.
5. Sistem keyakinan, baik yang berkaitan menggunakan agama yang kita yakini maupun evaluasi kita terhadap apa yang kita dengar atau kita baca.

Apa yg dikemukakan sang kedua pakar tadi pertanda bahwa isi bahasa instruksi pada proses bimbingan dan konseling adalah nir terikat dalam suatu bentuk, tetapi bebas memilih bentuk bahasa yg digunakan, buat membicarakan apa yang difikirkan, dikehendaki atau dirasakan sehingga proses konseling berjalan sebagaimana mestinya serta dalam akhirnya klien benar-benar merasa terbimbing, mampu menentukan sikap buat penyelesaian suatu perseteruan ,tantangan dan hambatan yang dihadapinya.

4. Bimbingan dan konseling
a. Pengertian bimbingan 
Bimbingan dan konseling adalah terjemahan dari “Guidance” serta “Conseling” dalam bahasa inggris. Istilah ini mengandung arti : (1) mengarahkan (to direct), (dua) memandu (to pilot), (tiga) mengelola (to manage), serta (4) menyetir (to steer).

Sunaryo (Syamsu Yusuf,A Juntika, 2005:6) mengemukakan bahwa bimbingan sebagai “ Proses membantu individu buat mencapai perkembangan optimal”.sedangkan Rochman Natawijaya mengartikan bimbingan menjadi proses pemberian donasi kepada individu yg dilakukan secara berkesinambungan , agar individu tadi bisa memahami dirinya serta dapat bertindak secara masuk akal, sesuai menggunakan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, rakyat dan khidupan dalam biasanya.

b. Pengertian Konseling
ASCA (American School Counselor Association) mengemukakan bahwa “ Konseling adalah interaksi tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan perilaku penerimaan serta pemebrian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan serta keterampilannya buat membantu kliennya mengatasi masalah-masalahnya” (Syamsu Yusuf, A. Juntika,2005:8) 

Prayitno, Erman Amti(1999: 104) mengemukakan bahwa “ Konseling adalah proses anugerah donasi yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (diklaim konselor) pada individu yg sedang mengalami sesuatu kasus (disebut klien) yang bermuara dalam teratasinya masalah yang dihadapi sang klien”.

Dalam wawancara konseling itu klien mengemukakan maalah –masalah yg dihadapi kepada konselor, dan konselor menciptakan suasana interaksi yg akrab menggunakan menerapkan prinsip-prinsip serta tekhnik wawancara konseling sedemikian rupa, sehingga masalahnya itu terjelajahi sgenap seginya dan pribadi klien terangsang buat mengatasi maslah yang sedang di hadapi menggunakan menggunakan kekuatanya sendiri. Proses konseling pada dasarnya merupakan bisnis menghidupkan serta mendayagunakan secara penuh fungsi-fungsi yg minimal secara potensial organismik terdapat pada diri klien itu. Apabila fungsi ini berjalan dengan baik dapoat dibutuhkan dinamika hayati klien akan pulang berjalan dengan wajar menunjuk kepada tujuan yang positif.

c. Proses Konseling
Jika menyimak pengertian bimbingan dan konseling sebagaimana pada kemukakan pada atas, maka implisit pada dlamnya tujuan konseling yaitu membantu individu/ klien agar sebagai orang yang lebih fungsionbal, mencapai integritas diri, bukti diri diri, dan ekspresi. Versi lain dari tujuqan konseling merupakan agar potensi optimal, mampu memecahkan perkara, serta mampu mengikuti keadaan terhadap lingkungan.

Untuk mencapai tujuan konseling dengan efektif seorang konselor wajib mampu: 1) menangkap berita sentral atau pesan utama klien, dua) utamakan tujuan klien-tujuan konseling. Secara umum dikatakan bahwa tujuan konseling haruslah mencapai : a) Effectif daily living, artinya setelah selesai proses konseling klien wajib bisa menjalani kehidupan sehari-harinya secara effektif dan berdayaguna buat diri, famili, warga , bangsa dan Tuhannya. B) Relationship with Other, adalah klien bisa menjalin interaksi yg harmonis menggunakan orang lain pada famili, sekolah, rakyat dan sebagainya.

Brammer dalam Sofyan S.willis (2004:50) Proses konseing adalah insiden yg tengah berlangsung dan memberi makna bagi para peserta konseling tadi (konselor serta klien) supaya proses konseling berjalan menggunakan lancar dibutuhkan keterampilan spesifik secara sedikit demi sedikit yg dibagi dalam 3 tahapan: (1) termin awal konseling, (2) termin pertengahan /tahap kerja, serta (tiga) Tahap akhir konseling / tahap tindakan

Tahap awal sejak klien menemui konselor hingga berjalan proses konseling hingga sanpai konselor serta klien menemukan defenisi perkara klien atas dasar berita, kepedulian,atau masalah klien. Berangkat berdasarkan defenisi kasus klien yg di sepakati pada termin awal, kegiatan selanjutnya adalah mempokuskan pada ;(1) penjelejahan masalah klien, (dua) donasi apa yang akan di berikan menurut evaluasi balik apa-apa yg telah dijelajah mengenai perkara klien.selanjutnya tahap akhir konseling/ tahap tindakan bertujuan buat : (1) tetapkan perubahan perilaku dan perilaku yg memadai, (2) terjadi transfer of learning pada diri klien, (3) melaksanakan perubahan prilaku, (4) mengakhiri hubungan konseling.

d. Teknik-teknik Konseling
Teknik konseling mengandung pengertian yakni cara yang digunakan oleh sorang konselor pada interaksi konseling buat membantu klien supaya berkembang potensinya serta bisa mengatasi kasus yang di hadapi menggunakan mempertimbangkan kondisi-kondisi lingkungan yakni nilai-nilai sosial, budaya dan kepercayaan .

Tanggung jawab konselor dalam proses konseling merupakan mendorong buat menyebarkan potensi klien, agar beliau bisa bekerja efektif, produktif, dan sebagai insan berdikari. Relasi konselor kliein dalam hubungan konseling ditandai dengan nuansa efektif. Artinya konselor berupaya membangun agar interaksi akrab, saling percaya sebagai akibatnya terjadi self-discbsure (keterbukaan diri) klien serta keterlibatan secara emosional dalam proses konseling.

Berikut ini dijelaskan ragam teknik konseling menjadi berikut: (1) perilaku attending yaitu menjadi perilku menghampiri klien yg meliputi hubungan mata, bahasa badan dan bahasa lisan., (dua) ikut merasakan artinya kemampuan konselor buat mencicipi apa yg pada rasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau mengenai klien, (3) Refleksi adalah keterampilan konselor buat memantulakn kembali pada klien mengenai perasaan, pikiran serta pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap prilaku lisan dan non mulut, (4) eksplorasi merupakan suatu keterasmpilan konselor buat menggali perasaan , pengalaman, serta pikiran klien. Hal ini krusial karena kebanyakan klien menyimpan misteri bathin, menutup diri,atau nir sanggup mengemukakan pendapatnya menggunakan terus terperinci., (lima) menangkap pesan utama (paraphrasing) yg baik merupakan dengan teliti mendengarkan pesan primer klien, nyatakan kembali dengan ringkas, amati respon klien terhadap konselor, (6) bertanya buat membuka percakapan (open quetion) yang baik dimulai dengan kata-kata ; apakah, bagaimana,bolehkah, dapatkah dll., (7) bertanya tertutup (closed question) tujuannya adalah buat mengumpulkan fakta, menjernihkan dan memperjelas sesuatu , serta menghentikan omongan klien yang melantur menyimpang jauh., (8) dorongan minimal (minimal encouragement) merupakan suatu dorongan eksklusif yg singkat terhadap apa yang sudah dikatakan klien, serta menaruh dorongan singkat sperti oh....,ya...., terus...., lalu,...dan..., (9) interpretasiadalah bertujuan buat menaruh rujukan, pandangan atau perilaku klien, agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman berdasarkan output rujukan baru tersebut, (10) mengarahkanadalah suatu keterampilan yg mengatakan kepada klien supaya beliau berbuat sesuatu, atau dengan kata lain mengarahkannya supaya melakukan sesuatu, (11) menyimpulkan ad interim (summarizing) tujuannya adalah menaruh kesempatan kepada klien buat merogoh kilas pulang (feed back) menurut hal-hal yang telah dibicarakan, menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara sedikit demi sedikit, buat menaikkan kualitas diskusi, mempertajam atau memperjelas penekanan pada wawancara konseling, (12) memimpin (leading) bertujuan agar klien nir menyimpang berdasarkan penekanan pembicaraan, supaya arah pembicaraan lurus pada tujuan konseling, (13) fokus merupakan membantu klien buat memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan, (14) komprontasi merupakan suatu tehnik konseling yg menantang klien buat buat melihat adanya diskrepansi atau inkonsistensi antara perkataan dengan bahasa badan (perbuatan), inspirasi awal dengan inspirasi berikutnya, senyum dengan kepedihan dan sebagainya,(15) menjernihkan (clarifying)merupakan menjernihkan ucapan-ucapan klien yang kurang jelas, samar-samar, dan relatif mewaspadai, (16) memudahkan (facilitating) adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien menggunakan mudah berbicara dengan konselor serta menyatakan perasaan, pikiran, serta pengalamannya secara bebas, sebagai akibatnya komunikasi dan partisipasi meningkat dan proses konseling berjalan efektif., (17) membisu tujuannya adalah menanti klien berfikir, menjadi protes apabila klien ngomong berbelit-belit, serta menunjang konduite attending dan empati sebagai akibatnya klien bebas berbicara, (18) mengambil inisiatif tujuannya adalah merogoh inisiatif jika klien kurang semangat, jika klien lambat berfikir buat merogoh keputusan, bila klien kehilangan arah pembicaraan, (19) memberi nasehatini mampu dilakukan jika klien memintanya dan konselor perlu mempertimbangkannya karena dalam anugerah nasehat tetap dijaga supaya tujuan konseling yakni kemandirian klien harus permanen tercapai, (20) hadiah berita dalam hal ini perlu keterbukaan serta kejujuran , bila konselor mengetahui kabar ataukah idak usahakan nir melayani klientetapi diarahkan ketempat yang lebih sesuai / kesumber fakta tadi supaya lebih jelas, (21) merencanakanyaitu membantu klien dalam akhir sesi buat dapat menciptakan planning berupa suatu acara buat action, perbuatan konkret yang produktif bagi kemajuan dirinya., (22) menyimpulkan . Pada akhir sesi konseling membantu klien buat menyimpulkan output pembicaraan menyangkut bagaimana keadaan/perasaan klien terutama tentang kecemasan , memantapkan rencana klien, dan pokok-poko yang akan dibicarakan dalam sesi berikutnya.

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP (Sekolah Menengah pertama) Negeri Luwuk Kabupaten Banggai serta dilaksanakan selama tiga bulan pada tahun 2006-2007.

Metode Penelitian
Metode penelitian yg digunakan adalah metode deskriftif kualitatif, dengan membuahkan peneliti menjadi instrumen penelitian. Cara ini pada gunakan pada upaya mengungkap tanda-tanda secara menyeluruh namun kontekstual dengan penekanan penelitian.

Hasil Penelitian

1. Bahasa instruksi pada proses wawancara bimbingan dan konseling
No
Indikator
Hasil Pengamatan
ya
%
tidak
%
1
Konselor serta klien duduk berhadapan
14
93,3
1
6.6
2
Klien tampak bersemangat
10
66,6
5
40
3
Konselor mengajukan Bahasa Instruksi
13
86.6
2
13.3
4
Bahasa Instruksi kelihatan dipahami oleh klien
14
93,3
1
6,6
5
Klien ragu – ragu mereaksi terhadap penggunaan
Bahasa konselor
2
13,3
13
86,6
6
Klien mengajukan pertanyaan kepada konselor
8
56,6
7
46,6
7
Klien berdebat menggunakan konselor
2
13,3
13
86,6
8
Klien melaksanakan apa yg pada instruksikan
14
93,3
1
6,6
9
Konselor mengamati pelaksanaan pekerjaan
14
93,3
1
6,6
10
Konselor memperbaiki kesalahan
12
80
2
13,3
11
Konselor menggunakan klien mendiskusikan masalah
15
100
-
0

Proses wawancara konseling yang dilaksanakan antara klien dan konselor memperlihatkan bahwa Penggunaan Bahasa Instruksi menaruh output yg signifikan terhadap keberhasilan proses hadiah bantuan. Interaksi juga terjadi secara aktif antara klien serta konselor . Kalaupun terjadi keraguan klien mereaksi Bahasa Instruksi konselor hal itu semata – mata disebabkan oleh keragaman daya pikir dan daya logika klien yg dihadapi.

2. Tabel Analisis Bahasa Instruksi pada proses Konseling
No
Indikator
Hasil Pengamatan
ya
%
tidak
%
1
Bahasa Instruksi digunakan sewaktu – waktu
10
6,6
5
33,3
2
Bahasa Instruksi umumnya digunakan buat meminta mengerjakan sesuatu
14
93,3
1
6,6
3
Bahasa Instruksi memakai Bahasa Indonesia ragam baku
2
13,3
13
86,6
4
Bahasa Instruksi tersusun sederhana
14
93,3
1
6,6
5
Pelaksanaan Bahasa Instruksi pada suasana kekeluargaan
13
86,6
2
13,3
6
Bahasa Instruksi dipakai kalau memang ada yang diinstruksikan
6
40
9
60
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Intensitas Penggunaan Bahasa Instruksi disesuaikan dengan kondisi serta permasalahan yg dialami sang klien . Tetapi masih ada sebagian konselor yg beranggapan bahwa Bahasa Instruksi selalu identik dengan perintah atau permintaan melakukan sesuatu, padahal sejatinya Bahasa Instruksi mampu berupa pernyataan, penolakan , permintaan, persetujuan dan lain – lain. Kesederhanaan Bahasa Instruksi juga turut mempengaruhi efektifitas pelaksanaan Bimbingan dan Konseling , lantaran pemahaman klien terhadap Bahasa Instruksi yang diberikan oleh konselor sangat mensugesti reksi klien terhadap Bahasa Instruksi tadi.

3. Tabel : Hasil Pengamatan Bentuk Bahasa Instruksi 
No
Indikator
Hasil Pengamatan
ya
%
tidak
%
1
Bentuk Bahasa Instruksi sederhana
13
86,6
2
13,3
2
Bentuk Bahasa Instruksi paling banyak 5 kata
4
26,6
11
73,3
3
Bentuk Bahasa Instruksi berbentuk perintah
14
93,3
1
6,6
4
Kata-kata buat Bahasa Instruksi umumnya berakhiran – lah
10
66,6
5
33,3
5
Bentuk Bahasa Instruksi diusahakan tidak disalahtafsirkan
15
100
-
0

Bentuk Bahasa Instruksi sangat memperungaruhi keberhasilan proses Bimbingan serta Konseling, kesederhanaan dan ketetpatan penggunaannya berhubungan erat dengan keberhasilan proses Bimbingan serta Konseling , lantaran kesalahan pada menafsirkan Bahasa Instruksi mengakibatkan tujuan proses Bimbingan dan Konseling tidak seperti apa yang diperlukan.

4. Tabel Pengamatan Isi Bahasa Instruksi dalam Wawancara Konseling
No
Indikator
Hasil Pengamatan
ya
%
tidak
%
1
Berisi mengenai pekerjaan yg akan dilaksanakan
3
20
12
80
2
Berisi tentang sesuatu yang akan ditiru
4
26,6
11
73,3
3
Berisi mengenai sesuatu yang kan diikuti
5
33,3
10
66,6
4
Berisi mengenai sesuatu yang nir akan diikuti
2
13,3
13
86,6
5
Berisi tentang sesuatu pilihan
2
13,3
13
86,6
6
Berisi tentang sesuatu dorongan moral
10
66,6
5
40
7
Berisi mengenai yang berhubungan dengan ajaran agama
3
20
13
86,6
8
Berisi tentang sesuatu yg berhubungan dengan budi pekerti
13
86,6
2
13,3
9
Berisi tentang sesuatu yg herbi lingkungan hidup
0
0
15
100
10
Berisi mengenai mengenai sesuatu yg herbi kesehatan
2
13,3
13
86,6
11
Berisi tentang sesuatu yang herbi kemudian lintas
1
6,6
14
93,3
12
Berisi tentang sesuatu yg herbi kesetiakawanan
2
13,3
13
86,6
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Isi Bahasa Instruksi nir melulu berisi perintah atau permintaan atau merlakukan sesuatu, berdasarkan penelitian yg dilakukan menujjukkan hasil bahwa Bahasa Instruksi terdiri menurut beberapa hal dengan prosentase terbanyak berisi mengenai hal yg herbi budi pekerti dan hal yg berhubungan dengan moral. Ini menunjukkan bahwa kompetensi konselor yang sebagai subjek penelitian bisa dikatakan sinkron menggunakan apa yg dibutuhkan.

5. Tabel Penafsiran klien terhadap Bahasa Instruksi 
No
Indikator
Hasil Pengamatan
ya
%
tidak
%
1
Bahasa Instruksi ditafsirkan sahih karena bahasa yg dipakai jelas
14
93,3
1
6,6
2
Bahasa Instruksi ditafsirkan menggunakan sahih karena kalimat yang dipakai pendek
4
26,6
11
73,3
3
Bahasa Instruksi ditafsirkan benar lantaran sinkron kebutuhan klien
14
93,3
1
6,6
4
Bahasa Instruksi ditafsirkan sahih lantaran klien pernah mengalaminya
13
86,6
2
13,3
5
Bahasa Instruksi ditafsirkan benar lantaran ada seseorang yang dicontohi
1
6,6
14
93,3
6
Bahasa Instruksi ditafsirkan sahih karena konselor melafalkannya dengan benar
14
93,3
1
6,6
7
Bahasa Instruksi ditafsirkan sahih karena konselor melaksanakan secara santai
7
46,6
8
53,3

Kejelasan bahasa, penggunaan kalimat dan cara pengucapan dan pelafalan memegang peranan penting pada hal penggunaan Bahasa Instruksi , karena hal ini dapat menaikkan daya penafsiran klien terhadap Bahasa Instruksi konselor . Penelitian menunjukkan , sebagian besar konselor telah menampakkan hasil misalnya apa yang diperlukan.

6. Tabel Reaksi klien terhadap Bahasa Instruksi 
No
Indikator
Hasil Pengamatan
ya
%
tidak
%
1
Klien mereaksi secara tepat
12
80
3
20
2
Klien nir mereaksi karena Bahasa Instruksi tidak jelas
1
6,6
14
93,3
3
Klien nir mereaksi karena Bahasa Instruksi tidak jelas
1
6,6
14
93,3
4
Klien tidak mereaksi karena instruksi nir sesuai pengalaman
13
86,6
2
13,3
5
Klien nir mereaksi lantaran hal yg diinstruksikan nir sesuai kebutuhan
1
6,6
14
93,3
6
Klien nir mereaksi karena isi instruksi bisa ditafsirkan tidak sama-beda
1
6,6
14
93,3
7
Klien nir mereaksi karena dia nir perduli
0
0
15
100

Kesesuaian pengalaman klien terhadap Bahasa Instruksi yg disampaikan adalah satu gejala menarik yang didapatkan dari hasil penelitian, merupakan berdasarkan seluruh objek penelitian, 86 % memperlihatkan reaksi negatif waktu diajukan Bahasa Instruksi yg nir sesuai dengan pengalaman yang pernah dilaluinya.