ETIKA BERBICARA YANG BAIK DAN BENAR

Warga belajar dan siswa--sekalian, semua orang kecuali yg tuna wicara atau tuna rungu (bisu tuli) pasti bisa berbicara. Tetapi nir setiap orang sanggup berbicara menggunakan baik serta sahih. Kalau bicara sekedar bicara, anak kecil pun bisa. Balita usia 2-3 tahun sudah pintar berbicara, minimal dapat memanggil ayah ibunya. Bahkan tangisan bayipun sebenarnya adalah bentuk bicara pula.
Berbicara merupakan mengeluarkan, menyusun kata-istilah secara teratur melalui mulut sehingga bisa dimengerti oleh lawan bicaranya. Bicara di sini diartikan sebagai bentuk komunikasi, menggunakan bicara maka komunikasi bisa terjalin, Namun mengatakan-istilah tanpa artipun sebenarnya bicara pula, hanya saja belum dimasukan ke dalam kategori komunikasi.
Kemampuan bicara menjadi penting pada konteks menjalin interaksi komunikasi dengan orang lain. Dalam perkembangannya, bicara menjadi lebih ruwet lantaran ada batasan-batasan etika dan aturannya. Bicara kemudian terkotak-kotak sang kepentingan dan maksud-maksud eksklusif. Setiap aspek kehidupan mempunyai aturan dan etika tersendiri dalam berbicara.
Faktor utama dalam berbicara adalah bahasa. Makna bahasa kini lebih luas lagi, bukan hanya merujuk pada suku bangsa tetapi telah merambah pada disiplin ilmu. Kita sekarang nir hanya mengenal bahasa jawa, Madura, Sunda dan sebagainya yg menurut kesukuan, melainkan bahasa ekonomi, bahasa politik dan sebagainya dalam lingkup disiplin ilmu.
Selanjutnya, dari bahasa tadi menghipnotis etika dan anggaran bicara. Antara bahasa hukum serta bahasa ekonomi ada aturan dan etikanya sendiri, misalnya halnya bahasa Jawa serta bahasa Sunda yg di dalamnya nir terpisahkan sang norma norma dan budaya berdasarkan mana bahasa itu asal.
Dalam pergaulan etika berbicara itu krusial, tidak boleh asal bicara. Semakin tinggi taraf pendidikan serta sosial, seseorang umumnya semakin tinggi jua etikanya pada berbicara. Kelas pendidikan serta sosial seringkali sebagai faktor pembeda pada berbicara. Antara bahasa tukang becak dan dosen kentara berbeda. Dan bial dibolak-balik kesannya akan semakin semrawut.
Kesannya akan lain. Seorang dosen menggunakan strata pendidikan tinggi cita rasanya nir pantas berbicara menggunakan gaya bahas tukang becak yang terbiasa kasar, cespleng serta tidak mengenal unggah-ungguh. Sebaliknya, tukang becak akan sebagai lucu apabila memaksakan diri berbicara menggunakan langgam berbicara seorang dosen yg cenderung ilmiah serta rumit dicerna orang biasa.
Tujuan utama berbicara adalah membuat versus bicara mengerti apa yg dikatakannya. Tidak peduli bahasa apa yg dipakai, punya ungguh-ungguh atau tidak, yang penting orang yg diajak berbicara menangkap dengan kentara maksudnya. Tetapi dalam perkembangannya, seiring dengan kemajuan peradaban, mengerti saja tidak cukup.
Sekarang ini, disamping dapat dimengerti harus juga mencerminkan etika, termasuk didalamnya adalah unggah-unggah. Apalagi di global timur (oriental)yang sangat menghormati nilai-nilai kesopanan, unggah-ungguh sebagai faktor yg tak boleh ditinggalkan. Khususnya di warga Jawa, Unggah-ungga memegang peranan sangat lebih banyak didominasi.
Bahkan bahasa yg dipakaipun berlainan antara bicara kepada orang tua, saudara termuda, atasan dan sebagainya. Orang akan semakin dihormati bila memahami unggah-ungguh. Dan apabila unggah-ungguh itu dilanggar, istiadat-tata cara sudah menyiapkan sangsinya. Orang yg nir memahami sopan-santun dalam berbicara pasti akan dikucilkan selamanya.
1. Berbicara Harus Menatap Lawan Bicara
Yang wajib anda perhatikan waktu berbicara adalah konsentrasikan diri anda sepenuhnya pada versus bicara. Jangan melihat ke arah lain sehingga menciptakan versus bicara tersinggung. Menatap versus bicara benar-benar-sungguh (bukan mendelik/melirik) termasuk etika berbicara yang baik. Obyek anda merupakan versus bicara bukan yang lain.
jangan tinggalkan etika waktu anda sedang berkomunikasi menggunakan orang lain. Kita sendiri pula niscaya tersinggung apabila ada orang lain mengajak bicara datang-tiba memutar hidungnya ke tempat lain. Mau menanggapi bicaranya saja sebenarnya telah wajib disyukuri, jangan malah berpindah hati.
Bicara itu bukan hanya dengan ekspresi, tetapi jua dengan hati serta semua tubuh kita kecuali bila kita berbicara melalui telepon. Ketika berbicara sebaiknya seluruh mobilitas tubuh kita mengarah ke lawan bicara sebagai akibatnya kita tahu bagaimana reaksi versus bicara ketika membalas apa yang kita ucapkan. Kalau pandangan kita beralih ke loka lain, kita tahu apakah lawan bicara nrimo dengan ucapannya atau nir. Bisa jadi lawan bicara bilang putusan bulat tetapi mimik wajahnya serta kita tahu lantaran pandangan kita tidak tertuju kepadanya.
Pada saat berbicara semestinya kita seudah mempersiapkan mental kita sepenuhnya. Lantaran yang kita hadapi adalah manusia yg memiliki perasaan, bisa bahagia dan susah, bisa tersinggung serta marah-marah. Oleh sebab itu, baik itu mimik maupun mata kita harus menunjukkan wajah yg bersahabat serta sungguh-benar-benar. 
2. Suara Harus Terdengar Jelas
Disamping kita harus menatap lawan bicara, yang tidak kalah pentingnya merupakan menata bunyi kita supaya lawan bicara dapat menangkap dengan kentara apa yg sedang kita bicarakan. Tidak boleh terlalu terburu-buru serta jangan terlalu pelan. Usahakan bunyi yang keluar mampu terdengar kentara supaya versus bicara dapat terdengar apa yang kita ucapkan.
Karena kondisi eksklusif tak jarang kita nir bisa mengontrol bunyi kita, sebagai akibatnya menjadi terlalu cepat. Lawan bicara merasa perlu menegaskan kembali dengan bertanya pulang. Atau lantaran tidak ingin didengar orang lain, kita berusaha merendahkan intonasi suara sebagai akibatnya di indera pendengaran versus bicara terdengar seperti desis ular. Kedua-duanya bukan cara yang efektif pada berbicara.
Berbicara menggunakan pelan akan tetapi kentara terdengar. Tidak perlu terlalu keras nir perlu terlalu lemah. Yang perlu kita perhatikan juga adalah taraf emosional kita. Bicaralah waktu emosi kita sedang nir konsentrasi. Contohnya jikalau kita sedang marah atau murung , sebaiknya agar kemarahan atau kesedihan tersebut nir terlihat sang lawan bicara.
Percuma saja kita berbicara terburu-buru hingga nafas kita tersengal-sengal, lawan bicara susah mengerti. Atau terlalu lembut misalnya orang yang sedang dirundung derita berkepanjangan, sebagai akibatnya hanya terdengar seperti rintihan yang menyayat hati. Oleh karena itu hindarilah berbicara terburu-buru atau terlalu pelan. Sebab dalam kondisi berbicara seperti itu, sulit buat meninta respon yg obyektif dari lawan bicara.
Di samping nir efektif, pembicaraan yg kurang terdengar jelas pada telinga versus bicara kadang-kadang menyebabkan kejengkelan bagi lawan bicara. Maunya ingin cepat-cepat selesai tetapi malah mengakibatkan duduk perkara baru yg tidak terselesaikan-selesai. Tentunya ini akan merugikan diri kita sendiri.
3. Gunakanlah Tata Bahasa yang Baik serta Benar
Bahasa bisa menandakan kualitas kepribadian serta latar belakang seseorang. Bahasa pegawai kantor, kentara tidak sama menggunakan orang berjualan pada pasar. Salah satu unsur pembedanya masih ada dalam pemakaian rapikan bahasa yang dipakai. Bahasa pegawai tempat kerja jelas lebih punya etika berdasarkan dalam orang pasar. Bahasa anak gaul tidak sinkron dengan bahasa ningrat keraton.
Sebelum berbicara sebaiknya istilah-kata diatur terlebih dahulu. Jangan hingga pada tengah kalimat tiba-tiba putus karena kita nir memahami apa yang akan kita bicarakan. Dan tentunya tidak boleh memakai istilah-kata yg kasar, apalagi yg meninggung hati versus bicara.
Kita harus mengetahui mana subyek, mana predikat, obyek serta fakta dalam sebuah kalimat. Kita harus tahu pula bagaimana menempatkan perangkat kalimat pada loka yang sahih. Jangan hingga kita resah dengan kalimat yg kita ucapkan sendiri. Umpamanya menggunakan membolak-kembali kedudukan subyek, predikat dan obyek sehingga sebagai kalimat yg tidak beraturan.
4. Jangan memakai Nada Suara yang Tinggi
Citra pegawai tempat kerja adalah citra kesopanan adalah orang lain melihat pegawai tempat kerja sebagai orang yg tahu etika, punya tata-krama serta santun pada segala tindak-tanduknya. Sikap serta perilakunya mencerminkan orang berpendidikan.
Kesan tadi akan semakin membekas saat kita sedang berbicara. Dari pembicaraan itu orang lain akan dapat menilai, apakah kita seorang pegawai tempat kerja atau bukan. Gaya bicara, intonasi yang dipakai, serta tata bahasa, kentara berpengaruh besar pada indera pendengaran pendengar.
Sebagai pegawai kantor, usahakan kita berbicara dengan kalimat yg kentara serta intonasi yang sedang-sedang saja. Tidak terlalu tinggi, jua tidak terlalu rendah. Tunjukan kesan bahwa kita bisa mengontrol intonasi menggunakan baik.
Pakailah nada suara yg datar-datar saja, sebagai akibatnya setiap orang dapat mendengarnya dengan baik. Kalau terlalu tinggi dikhawatirkan tidak semua pendengarnya dapat mendengar dengan baik. Apalagi apabila kita ditunjuk sebagai pembicara, nada bunyi harus sahih-sahih dijaga. Sebab, pendengar dalam sebuah lembaga baik ceramah maupun diskusi cenderung beragam.
Jika nada suara terlalu tinggi kita akan cepat letih. Orang tidak mungkin bisa berteriak selama satu jam monoton. Apa yang kita bicarakan sebaiknya dapat kita rasakan jangan malah menjadi beban.
Disamping itu, kurang beretika cita rasanya bila kita berbicara menggunakan nada suara yg tinggi. Kecuali bila kita sedang membakar semangat para anak-anak muda buat terjun ke medan perang. Dalam situasi yg biasa, kondusif serta nir darurat, Sebaiknya nada bunyi kita tidak terlalu tinggi.
5. Pembicaraan Praktis Dimengerti
Tujuan primer berbicara adalah buat membuat lawan bicara mengerti apa yg sedang kita bicarakan. Oleh sebab itu, usahakan kita relatif toleran menggunakan para pendengar kita. Kita harus pintar-pintar menentukan versus bicara, sebab hal ini berkaitan menggunakan bahasa yg kita pakai. Jangan lantaran ingin dipercaya menjadi pegawai kantor ke mana-mana kita selalu menggunakan bahasa taraf tinggi.
Kita wajib pintar menyesuaikan diri menggunakan kondisi serta latar belakang lawan bicara yang kita hadapi. Jangan terjebak sang impian buat menjaga image atau gengsi sebagai akibatnya mengorbankan lawan bicara.
Pakailah bahasa yg sederhana dan gampang dimengerti. Tidak penting anggapan orang lain terhadap diri kita, yang penting merupakan orang lain mengerti terhadap apa yg sedang kita bicarakan. Biarkan orang lain menduga diri kita bodoh, dan seolah-olah pitar mereka, itu hak mereka.
Sering kita mendengar ada orang berbicara menggunakan memakai bahasa yg tinggi. Padahal pendengarnya hanya para pedagang yang tidak sempat mengikuti perkembangan jaman. Memang ia berhasil membangun kesan di tengah audiennya bahwa beliau pembicara yg pintar, Namun waktu ditanyakan kepada mereka apakah mereka mengerti, mereka malah galau.
Kita semua pasti punya pengalaman yg sama ketika mengikuti khotbah Jum'at. Ada khatib yg selama khotbahnya memakai bahasa Arab di tengah jamaah yang seluruhnya orang Indonesia. Yakinkah anda bahwa jamaah mengerti isi khotbah tersebut?
Tipsnya sebelum mengajak bicara, ketahuilah dulu siapa versus bicaranya. Kalau memang lawan bicara lebih gampang mengerti menggunakan bahasa wilayah, maka kita wajib menyesuaikan diri.
Dari bahasa di atas semakin mengertilah kita bahwa ternyata berbicara itu tidak semudah yang kita bayangkan. Tetapi penulis juga tidak sedang mengarahkan pada satu konklusi bahwa berbicara itu sukar. Singkatnya, menjadi pegawai tempat kerja kita harus tetap menjaga menggunakan baik etika kita pada berbicara.
Sumber : Disarikan menurut Modul Etika Kerja Kesetaraan paket C Sekolah Menengah Atas 2009.

PENGERTIAN AKHLAQ DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM

Pengertian Akhlaq Dan Kedudukannya Dalam Islam 
1. Pengertian Akhlaq
Kata Akhlaq berasal dari bahasa Arab yg berarti tabiat, budi pekerti, karakter, keperwiraan, kebiasaan. Kata akhlâq ini berakar kata khalaqa yang berarti membentuk, seakar menggunakan kata Khâliq (pencipta), makhlûq (yang diciptakan), serta khalq (penciptaan). Kesamaan akar kata ini mengandung makna bahwa rapikan konduite seorang terhadap orang lain serta lingkungannya wajib merefleksikan dan menurut nilai-nilai kehendak Khâliq (Tuhan). Akhlaq bukan hanya adalah tata aturan atau norma perilaku yang mengatur interaksi antar sesama insan, namun juga kebiasaan yang mengatur interaksi antar insan menggunakan Tuhan serta bahkan dengan alam semesta.

Para ulama memberikan pengertian akhlaq menjadi suatu kondisi jiwa yang tertanam dalam diri seorang, dimana dengannya seorang terdorong melakukan perbuatan dengan tanpa proses pemikiran atau pertimbangan yang mendalam dan tanpa planning atau bisnis yang dibuat-untuk.

Ahmad Amin memberikan pengertian bahwa akhlaq merupakan konduite yg dibiasakan sebagai akibatnya perilaku itu sebagai sebuah kebiasaan yg terus menerus dilakukan. Karena itu juga akhlaq itu bersifat konstan, spontan, tidak temporer serta tidak memerlukan pemikiran serta pertimbangan serta dorongan berdasarkan luar.

Pengertian akhlaq di atas juga memberitahuakn bahwa akhlaq pada dasarnya adalah hal yang bersifat netral, belum memilih pada baik dan jelek. Dalam Islam akhlaq setidaknya memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
a. Rabbani. Ajaran akhlaq pada Islam bersumber dari wahyu Ilahi, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Ciri ini menegaskan bahwa akhlaq dalam Islam bukanlah moral yg kondisional serta situasional, tetapi akhlaq yang sahih-sahih mempunyai nilai mutlak. Ciri ini yang mampu menghindari kekacauan nilai moralitas pada hidup insan.

b. Manusiawi. Ajaran akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi tuntutan fitrah manusia. Akhlaq Islam akan memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya. Akhlaq Islam pula akan mendorong insan buat merindukan dan menemukan kebahagiaan sejati.

c. Universal. Ajaran akhlaq pada Islam sinkron dengan kemanusiaan yg universal dan mencakup segala aspek kehidupan manusia. Keseluruhan aspek tersebut meliputi dimensi yang bersifat vertikal (interaksi dengan Tuhan) serta horizontal (interaksi sesame makhluk).

d. Keseimbangan. Manusia berdasarkan pandangan Islam memiliki dua kekuatan pada dirinya, kekuatan baik dalam hati nurani dan akalnya, dan kekuatan tidak baik dalam hawa nafsunya. Ajaran akhlaq dalam Islam mendorong insan supaya sanggup mengendalikan dua potensi yg telah diberikan Allah kepadanya, sehingga kehidupan eksklusif manusia muslim merupakan insan yang seimbang, antara pemenuhan kewajiban terhadap oleh Khaliq serta pemenuhan kewajiban antar sesama makhluk. 

e. Realistik. Manusia merupakan makhluk yg tidak luput dari kesalahan, selain mempunyai kelebihan dibanding makhluk Allah lainnya. Ajaran akhlaq pada Islam mendorong manusia buat terus memperbaiki diri menurut kesalahan yg sudah dilakukannya menggunakan cara bertaubat. Bahkan dalam kondisi yang terpaksa, Islam membolehkan manusia melakukan sesuatu yang pada keadaan biasa tidak dibenarkan. Akhlaq pada ajaran Islam dengan demikian bersifat realistis, atau memperhatikan kenyataan keadaan manusia.

Ciri-ciri akhlaq tadi menampakan bahwa akhlaq pada Islam nir hanya terkait proses interaksi manusia menggunakan Allah serta atau sesama insan semata. Ajaran akhlaq dalam Islam mencakup seluruh tata aturan hubungan manusia dengan Allah dan semua makhluk, termasuk lingkungan. Ciri-karakteristik ini juga menunjukkan adanya perbedaan antara akhlaq, moral serta etika. Secara substansi antara akhlaq dan moral merupakan sama, yaitu sama-sama mengacu pada ajaran-ajaran, wejangan, kutbah-kutbah, patokan-patokan, gugusan peraturan serta ketetapan baik mulut maupun tertulis mengenai bagaimana insan harus hayati dan bertindak agar sebagai insan yg baik. Perbedaan antara moral dan akhlaq ini masih ada asal ajarannya, di mana akhlaq dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an serta Hadits, sedangkan moral dari pemikiran dan kebiasaan manusia.

Apabila dikaitkan dengan etika, maka secara filosofis antara konsep akhlaq dan etika sesungguhnya berbeda. Akhlaq adalah ajaran-ajaran bagaimana seseorang harus bertindak dalam kehidupan ini agar menjadi orang yg baik, sedangkan etika berbicara mengenai mengapa kita wajib mengikuti ajaran moral tertentu atau bagaimana seseorang dapat merogoh perilaku yang bertanggungjawab menggunakan pelbagai ajaran moral atau akhlaq. Tetapi secara fungsional ke 2 istilah ini tidak bisa dipisahkan, lantaran ketika seseorang berperilaku baik maka menggunakan mengetahui alasannya, mengapa wajib berbuat demikian, akan berakibat lebih mantap pada bertindak, demikian jua sebaliknya saat meninggalkan perbuatan jelek.

2. Kedudukan Akhlaq pada Islam
Ajaran akhlaq dalam Islam sesungguhnya bukanlah ajaran normatif terkait konduite seorang. Berdasar ciri-ciri pada atas sesungguhnya tergambar bahwa akhlaq sesungguhnya bersifat bergerak maju, sesuai situasi dan kondisi kehidupan manusia. Artinya, akhlaq, baik atau buruk, dapat hadir dalam diri seorang jika dibiasakan serta dilakukan terus menerus. Akhlaq yang baik sesungguhnya kebutuhan setiap insan dimana dan kapan pun berada. Demikian kebalikannya, akhlaq yang tidak baik adalah sesuatu yg selalu dihindari oleh siapapun.

Islam menegaskan bahwa akhlaq merupakan bagian nir terpisahkan berdasarkan keimanan seseorang muslim. Kesempurnaan iman seseorang muslim sangat tergantung menurut keluhuran akhlaq yang dimilikinya. Kehadiran Islam sendiri dinyatakan Nabi Muhammad sesungguhnya berfungsi buat memperbaiki kualitas akhlaq manusia. Banyak hadits yang menerangkan bahwa keluhuran akhlaq adalah indicator menurut keimanan seorang muslim, bahkan secara tegas Allah nyatakan bahwa kemuliaan seseorang hamba di hadapan-Nya bukanlah didasarkan dalam kualitas keturunan atau nasab namun berdasar kepada kualitas taqwa menjadi puncak kualitas akhlaq seseorang hamba (Q.S. Al-Hujurat: 13). Akhlaq yang baik (akhlaqul karimah) adalah pola konduite yang dilandaskan dalam serta adalah manifestasi nilai-nilai iman, Islam, dan ihsan (berbuat baik). Ihsan merupakan perbuatan baik yg nampak dalam jiwa dan konduite yang sinkron dan dilandasi oleh aqidah serta aturan Islam. Ihsan atau berbuat baik adalah pranata nilai yg memilih atribut kualitatif langsung seorang. Orang yg sudah mencapai derajat ihsan, maka beliau telah memiliki akhlaqul karimah (akhlaq yg baik).

Perilaku ihsan ini nir hanya dibatasi kepada sesama manusia, namun pula kepada semua makhluk. Sebagai khalifah, insan tidak hanya dimandatkan buat beribadah pada Allah, melainkan juga diperintahkan buat bisa mengelola dan memakmurkan alam serta lingkungannya. Manusia yg sudah mencapai derajat ihsan akan memelihara diri dari berbagai perbuatan yg dapat merusak lingkungan. Hal ini karena perilaku serta konduite Mengganggu lingkungan merupakan perbuatan yg nir disukai Tuhan, serta insan ihsan sesungguhnya insan yg telah sanggup menghadirkan dan mempresentasikan nilai-nilai Tuhan dalam diri dan perilakunya sehari-hari.

Akhlaq merupakan landasan krusial dalam menciptakan peradaban manusia. Ahmad Syauqi Beik, keliru seseorang penyair klasik menyatakan bahwa keberadaan rakyat itu ditentukan sang tetapnya akhlaq anggota masyarakatnya, bila masyarakat itu telah kehilangan akhlaq (telah rusak akhlaqnya) maka runtuh jua prestise warga itu.

Mengelola lingkungan dengan baik sesungguhnya bagian dari menciptakan peradaban manusia, sehingga bila setiap insan dapat berperilaku baik (berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka beliau turut aktif pada membentuk peradaban yang baik. Tetapi jika insan tidak berperilaku baik (nir berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka dia meruntuhkan peradaban insan itu sendiri.

Urgensi Akhlaq Lingkungan
Kata “lingkungan” (environment) dari menurut bahasa Perancis: environner yg berarti: to encircle atau surround, yg dapat dimaknai : 1) lingkungan atau syarat yg mengelilingi atau melingkupi suatu organisme atau sekelompok organisme, dua) kondisi sosial dan kultural yang berpengaruh terhadap individu atau komunitas. Karena insan menghuni lingkungan alami juga buatan atau dunia teknologi, sosial serta kultural, maka keduanya sama-sama pentingnya bagi lingkungan kehidupan (manusia serta makhluk hidup yg lain).

Lingkungan selanjutnya terbentuk dalam sebuah sistem yang adalah suatu jaringan saling ketergantungan antar komponen dan proses, dimana energi serta materi mengalir dari satu komponen ke komponen sistem lainnya. Sistem lingkungan atau yg tak jarang dianggap ekosistem adalah model bagaimana sebuah sistem berjalan. Ekosistem adalah suatu adonan atau gerombolan hewan, flora dan lingkungan alamnya, dimana pada dalamnya masih ada genre atau gerakan atau transfer materi, energi dan warta melalui komponen-komponennya. 

Ekosistem dapat pula dimaknai menjadi suatu situasi atau syarat lingkungan dimana terjadi hubungan antara organisme (flora dan fauna termasuk manusia) menggunakan lingkungan hidupnya. Sebagai sebuah sistem, lingkungan wajib permanen terjaga keteraturannya sebagai akibatnya sistem itu dapat berjalan menggunakan teratur serta menaruh kemanfaatan bagi seluruh anggota ekosistem. Manusia menjadi makhluk yg sempurna, yang sudah diberikan amanah buat menjadi khalifah memiliki kiprah krusial dalam menciptakan serta menjaga keteraturan lingkungan serta system lingkungan ini. Untuk itulah insan dituntut untuk bisa mengembangkan akhlaq (konduite yang baik) terhadap lingkungan.

Berbagai kerusakan lingkungan yg terjadinya dewasa ini sesungguhnya berakar menurut perilaku yg salah berdasarkan manusia pada menyikapi serta mengelola lingkungan dan sumber dayanya. Kerusakan alam serta lingkungan jua berdampak bagi lahirnya peradaban insan yg rendah, dimana menempatkan alam serta lingkungan menjadi diskriminasi menurut insan. Akhlaq lingkungan mengajarkan pada insan buat memiliki konduite yg baik dan menciptakan peradaban manusia yg lebih baik, yg menempatkan alam dan lingkungan menjadi mitra beserta dalam menjalankan tugas sebagai hamba serta khalifah Allah di muka bumi.

Akhlaq lingkungan pula berfungsi menjadi pedoman bagi umat manusia dalam mengembangkan hubungannya menggunakan alam. Seseorang yang mempunyai akhlaq lingkungan akan terdorong buat mengakibatkan alam sebagai mitra serta sekaligus wahana pada memenuhi fungsi dan kewajibannya sebagai seseorang manusia, baik menjadi hamba kepada Tuhan juga sebagai anggota warga menjadi sesama insan, dan pada semua makhluk menjadi khalifatullah fil ardl. Seseorang yg memiliki akhlaq lingkungan tidak akan berakibat alam dan lingkungan menjadi bagian subsistem kehidupannya sebagai akibatnya menggunakan seenaknya dieksplorasi, namun dicermati sebagai makhluk yang memiliki kedudukan sama dihadapan Tuhan sehingga keberadaannya tetap dikelola serta dilestarikan. 

Metode Penumbuhan Akhlaq Lingkungan
Untuk menumbuhkan akhlaq lingkungan maka diharapkan metode eksklusif sebagai cara buat tahu, menggali, berbagi akhlaq lingkungan, atau bisa dipahami sebagai jalan buat menanamkan pemahaman akhlaq lingkungan dalam seseorang sehingga dapat sebagai pribadi yang mempunyai perilaku ramah dan peduli terhadap lingkungan. Pelaksanaan metode ini berdasarkan pada prinsip bahwa pengajaran akhlaq lingkungan disampaikan pada suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, serta motivasi. Pilihan metode berdasarkan pada pandangan dan persepsi dalam menghadapi insan sinkron dengan unsur penciptaannya, yaitu jasmani, nalar, dan jiwa, guna mengarahkannya menjadi langsung yg sempurna.

Metode penumbuhan akhlaq lingkungan ini dapat dilakukan dengan tahapan menjadi berikut:
a. Mengajarkan.
Penumbuhan akhlaq lingkungan mengandaikan pengetahuan teoritis tentang konsep-konsep nilai terkait konduite ramah lingkungan serta pengelolaan lingkungan. Seseorang buat dapat mempunyai kesadaran dan melakukan konduite ramah lingkungan terlebih dahulu harus mengetahui nilai-nilai krusial lingkungan bagi kehidupan serta bagaimana melakukan pengelolaannya. Hal ini berdasarkan pada pemahaman bahwa konduite insan dalam dasarnya banyak dituntun sang pengertian dan pemahaman terhadap nilai menurut konduite yg dilakukannya.

Proses pengajaran mengenai lingkungan ini bisa dilakukan secara pribadi, baik melalui anugerah kabar dengan pembelajaran juga penugasan melalui pembacaan terhadap aneka macam surat keterangan. Bahkan pengajaran ini dapat dilakukan dengan melihat secara eksklusif ayat-ayat kauniyah (fenomena alam) yang ada pada sekitar kehidupan kita.

b. Keteladanan.
Keteladanan pada pendidikan merupakan metode ifluentif yg paling meyakinkan keberhasilan dalam mempersiapkan dan menciptakan anak dalam moral, spiritual serta moral. Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan metode ini sangat penting karena akhlaq adalah kawasan afektif yg terwujud pada bentuk tingkah laris (behavioral). Metode ini didasari pada pemahaman bahwa tingkah laku anak muda dimulai dengan imitatio, meniru serta ini berlaku sejak masih mini . Apa yg dikatakan orang yg lebih tua akan terekam dan dimunculkan kembali oleh anak. Anak belajar melakukan sesuatu menurut sekitarnya, khususnya yg terdekat dan mempunyai intensitas rasional tinggi.

Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan keteladanan ini memiliki imbas yang sangat bertenaga. Bagaimana mungkin orang lain akan bisa menumbuhkan akhlaq lingkungan dalam dirinya kalau orang yg mengajarkan tidak pernah bersikap serta berperilaku yang diajarkan. Pentingnya keteladanan ini sesuai menggunakan adagium bahwa satu keteladanan lebih berharga dibanding dengan seribu nasehat.

c. Pembiasaan.
Unsur krusial bagi penumbuhan akhlaq merupakan bukti dilaksanakannya nilai-nilai normatif akhlaq itu sendiri. Penumbuhan akhlaq akan dapat terlaksana jika dilakukan dengan pembiasaan yg terus menerus sebagai akibatnya menjadi norma yg melekat dalam eksklusif seseorang. Proses pembiasaan ini dapat dilakukan secara sedikit demi sedikit serta di mulai dari hal yang ringan atau mudah. Untuk ini diharapkan suasana atau tempat yang mendukung bagi terciptanya proses pembiasaan. Penyediaan fasilitas, penempelan papan petunjuk, himbauan, embargo, brosur, serta lain sebagainya bisa dilakukan sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kolektif buat secara beserta membiasakan konduite ramah lingkungan.

d. Refleksi.
Akhlaq lingkungan yg akan dibuat oleh penumbuhan melalui banyak sekali macam program dan kebijakan senantiasa perlu dievaluasi dan direfleksikan secara berkesinambungan dan kritis. Tanpa ada usaha buat melihat balik sejauh mana proses penumbuhan akhlaq lingkungan ini direfleksi, dievaluasi, tidak akan pernah terdapat kemajuan. Refleksi adalah kemampuan sadar spesial manusiawi. Berdasar kemampuan sadar ini, manusia mampu mengatasi diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan lebih baik. Segala tindakan dan pembiasaan dalam menumbuhkan akhlaq lingkungan yg telah dilaksanakan, perlulah dilakukan refleksi buat melihat sejauh mana keluarga, gerombolan masyarakat atau pihak yg melakukannya telah berhasil atau gagal dalam menumbuhkan akhlaq lingkungan.

Proses refleksi ini bisa dilakukan dengan cara mengajak memikirkan balik apa yang dirasakan, manfaat yang diterima dan pesan yang tersirat apa yang diterima mengenai perilaku yg sudah dilakukan dan dibiasakan pada kaitannya dengan pengelolaan lingkungan. Semisal apa yg kiranya manfaat dan pesan yang tersirat yg dirasakan dan diterima saat seorang itu konsisten menjaga kebersihan, mengelola sampah menggunakan benar sinkron proporsinya. Keempat metode pada atas adalah pedoman dan patokan pada menghayati serta mencoba menghidupkan akhlaq lingkungan. Keempatnya sanggup dikatakan menjadi bulat bergerak maju dialektis yang senantiasa berputar semakin maju. Hal ini karena penumbuhan akhlaq lingkungan menjadi upaya terus menerus buat membentuk budaya dan norma setiap individu anggota masyarakat pada kehidupannya yg sadar, peduli serta ramah terhadap lingkungan. 

PENGERTIAN AKHLAQ DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM

Pengertian Akhlaq Dan Kedudukannya Dalam Islam 
1. Pengertian Akhlaq
Kata Akhlaq asal dari bahasa Arab yang berarti tabiat, budi pekerti, karakter, keperwiraan, kebiasaan. Kata akhlâq ini berakar kata khalaqa yg berarti menciptakan, seakar menggunakan istilah Khâliq (pencipta), makhlûq (yang diciptakan), dan khalq (penciptaan). Kesamaan akar istilah ini mengandung makna bahwa tata konduite seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya wajib merefleksikan dan menurut nilai-nilai kehendak Khâliq (Tuhan). Akhlaq bukan hanya adalah tata anggaran atau norma konduite yg mengatur interaksi antar sesama insan, namun jua kebiasaan yg mengatur hubungan antar insan dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.

Para ulama memberikan pengertian akhlaq menjadi suatu kondisi jiwa yang tertanam pada diri seseorang, dimana dengannya seorang terdorong melakukan perbuatan dengan tanpa proses pemikiran atau pertimbangan yg mendalam dan tanpa rencana atau bisnis yg dibentuk-buat.

Ahmad Amin menaruh pengertian bahwa akhlaq merupakan konduite yang dibiasakan sebagai akibatnya konduite itu menjadi sebuah kebiasaan yg terus menerus dilakukan. Karena itu jua akhlaq itu bersifat kontinu, impulsif, tidak temporer serta tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan berdasarkan luar.

Pengertian akhlaq di atas juga memperlihatkan bahwa akhlaq dalam dasarnya merupakan hal yang bersifat netral, belum memilih pada baik serta buruk. Dalam Islam akhlaq setidaknya mempunyai karakteristik-ciri sebagai berikut:
a. Rabbani. Ajaran akhlaq dalam Islam bersumber berdasarkan wahyu Ilahi, yaitu al-Qur’an serta as-Sunnah. Ciri ini menegaskan bahwa akhlaq dalam Islam bukanlah moral yg kondisional dan situasional, namun akhlaq yang sahih-benar memiliki nilai mutlak. Ciri ini yang bisa menghindari kekacauan nilai moralitas pada hidup manusia.

b. Manusiawi. Ajaran akhlaq pada Islam sejalan dan memenuhi tuntutan fitrah insan. Akhlaq Islam akan memelihara keberadaan insan sebagai makhluk terhormat, sinkron dengan fitrahnya. Akhlaq Islam jua akan mendorong insan buat merindukan dan menemukan kebahagiaan sejati.

c. Universal. Ajaran akhlaq pada Islam sesuai dengan kemanusiaan yg universal serta meliputi segala aspek kehidupan insan. Keseluruhan aspek tadi meliputi dimensi yg bersifat vertikal (hubungan dengan Tuhan) serta horizontal (hubungan sesame makhluk).

d. Keseimbangan. Manusia dari pandangan Islam mempunyai 2 kekuatan pada dirinya, kekuatan baik dalam hati nurani serta akalnya, serta kekuatan tidak baik dalam hawa nafsunya. Ajaran akhlaq pada Islam mendorong manusia agar mampu mengendalikan 2 potensi yg sudah diberikan Allah kepadanya, sebagai akibatnya kehidupan pribadi manusia muslim adalah manusia yg seimbang, antara pemenuhan kewajiban terhadap oleh Khaliq serta pemenuhan kewajiban antar sesama makhluk. 

e. Realistik. Manusia merupakan makhluk yang tidak luput menurut kesalahan, selain mempunyai kelebihan dibanding makhluk Allah lainnya. Ajaran akhlaq dalam Islam mendorong insan buat terus memperbaiki diri berdasarkan kesalahan yang telah dilakukannya menggunakan cara bertaubat. Bahkan dalam syarat yg terpaksa, Islam membolehkan manusia melakukan sesuatu yang pada keadaan biasa tidak dibenarkan. Akhlaq dalam ajaran Islam menggunakan demikian bersifat realistis, atau memperhatikan kenyataan keadaan insan.

Ciri-karakteristik akhlaq tadi memperlihatkan bahwa akhlaq dalam Islam tidak hanya terkait proses interaksi insan dengan Allah serta atau sesama insan semata. Ajaran akhlaq dalam Islam meliputi semua tata anggaran hubungan insan menggunakan Allah dan semua makhluk, termasuk lingkungan. Ciri-ciri ini jua memperlihatkan adanya perbedaan antara akhlaq, moral dan etika. Secara substansi antara akhlaq serta moral adalah sama, yaitu sama-sama mengacu pada ajaran-ajaran, wejangan, kutbah-kutbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik ekspresi juga tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup serta bertindak supaya menjadi manusia yg baik. Perbedaan antara moral dan akhlaq ini terdapat asal ajarannya, di mana akhlaq pada Islam bersumber berdasarkan Al-Qur’an serta Hadits, sedangkan moral berdasarkan pemikiran serta norma insan.

Apabila dikaitkan dengan etika, maka secara filosofis antara konsep akhlaq serta etika sesungguhnya berbeda. Akhlaq merupakan ajaran-ajaran bagaimana seorang harus bertindak pada kehidupan ini supaya menjadi orang yg baik, sedangkan etika berbicara tentang mengapa kita wajib mengikuti ajaran moral eksklusif atau bagaimana seseorang dapat merogoh sikap yg bertanggungjawab menggunakan pelbagai ajaran moral atau akhlaq. Namun secara fungsional ke 2 istilah ini tidak dapat dipisahkan, lantaran saat seseorang berperilaku baik maka dengan mengetahui sebab, mengapa wajib berbuat demikian, akan membuahkan lebih mantap dalam bertindak, demikian juga sebaliknya saat meninggalkan perbuatan tidak baik.

2. Kedudukan Akhlaq dalam Islam
Ajaran akhlaq pada Islam sesungguhnya bukanlah ajaran normatif terkait perilaku seseorang. Berdasar ciri-ciri pada atas sesungguhnya tergambar bahwa akhlaq sesungguhnya bersifat dinamis, sesuai situasi dan syarat kehidupan manusia. Artinya, akhlaq, baik atau tidak baik, bisa hadir pada diri seorang apabila dibiasakan dan dilakukan terus menerus. Akhlaq yang baik sesungguhnya kebutuhan setiap insan dimana dan kapan pun berada. Demikian kebalikannya, akhlaq yang jelek adalah sesuatu yg selalu dihindari sang siapapun.

Islam menegaskan bahwa akhlaq merupakan bagian tidak terpisahkan dari keimanan seseorang muslim. Kesempurnaan iman seseorang muslim sangat tergantung menurut keluhuran akhlaq yang dimilikinya. Kehadiran Islam sendiri dinyatakan Nabi Muhammad sesungguhnya berfungsi untuk memperbaiki kualitas akhlaq insan. Banyak hadits yang menerangkan bahwa keluhuran akhlaq adalah indicator berdasarkan keimanan seorang muslim, bahkan secara tegas Allah nyatakan bahwa kemuliaan seorang hamba pada hadapan-Nya bukanlah berdasarkan dalam kualitas keturunan atau nasab namun berdasar kepada kualitas taqwa sebagai zenit kualitas akhlaq seseorang hamba (Q.S. Al-Hujurat: 13). Akhlaq yang baik (akhlaqul karimah) adalah pola perilaku yg dilandaskan dalam dan adalah manifestasi nilai-nilai iman, Islam, dan ihsan (berbuat baik). Ihsan merupakan perbuatan baik yg nampak dalam jiwa dan perilaku yg sinkron dan dilandasi oleh aqidah serta aturan Islam. Ihsan atau berbuat baik merupakan pranata nilai yg memilih atribut kualitatif eksklusif seorang. Orang yang telah mencapai derajat ihsan, maka ia telah mempunyai akhlaqul karimah (akhlaq yang baik).

Perilaku ihsan ini nir hanya dibatasi kepada sesama insan, namun pula pada semua makhluk. Sebagai khalifah, insan nir hanya dimandatkan buat beribadah pada Allah, melainkan pula diperintahkan buat bisa mengelola dan memakmurkan alam dan lingkungannya. Manusia yg telah mencapai derajat ihsan akan memelihara diri menurut berbagai perbuatan yang bisa merusak lingkungan. Hal ini karena perilaku dan konduite merusak lingkungan adalah perbuatan yang nir disukai Tuhan, dan manusia ihsan sesungguhnya manusia yg telah mampu menghadirkan serta mempresentasikan nilai-nilai Tuhan pada diri dan perilakunya sehari-hari.

Akhlaq merupakan landasan krusial dalam membangun peradaban insan. Ahmad Syauqi Beik, keliru seseorang penyair klasik menyatakan bahwa keberadaan warga itu dipengaruhi sang tetapnya akhlaq anggota masyarakatnya, jika warga itu telah kehilangan akhlaq (sudah rusak akhlaqnya) maka runtuh juga prestise rakyat itu.

Mengelola lingkungan menggunakan baik sesungguhnya bagian dari membentuk peradaban insan, sehingga bila setiap insan dapat berperilaku baik (berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka dia turut aktif dalam membangun peradaban yang baik. Namun bila manusia tidak berperilaku baik (nir berakhlaq) terhadap lingkungannya, maka beliau meruntuhkan peradaban manusia itu sendiri.

Urgensi Akhlaq Lingkungan
Kata “lingkungan” (environment) dari berdasarkan bahasa Perancis: environner yang berarti: to encircle atau surround, yg dapat dimaknai : 1) lingkungan atau syarat yg mengelilingi atau melingkupi suatu organisme atau sekelompok organisme, dua) syarat sosial serta kultural yg berpengaruh terhadap individu atau komunitas. Karena manusia menghuni lingkungan alami maupun buatan atau dunia teknologi, sosial serta kultural, maka keduanya sama-sama pentingnya bagi lingkungan kehidupan (insan dan makhluk hayati yang lain).

Lingkungan selanjutnya terbentuk pada sebuah sistem yang adalah suatu jaringan saling ketergantungan antar komponen serta proses, dimana tenaga serta materi mengalir berdasarkan satu komponen ke komponen sistem lainnya. Sistem lingkungan atau yang seringkali diklaim ekosistem adalah model bagaimana sebuah sistem berjalan. Ekosistem adalah suatu adonan atau grup hewan, flora serta lingkungan alamnya, dimana pada dalamnya masih ada genre atau gerakan atau transfer materi, energi dan kabar melalui komponen-komponennya. 

Ekosistem bisa jua dimaknai sebagai suatu situasi atau kondisi lingkungan dimana terjadi interaksi antara organisme (tumbuhan serta hewan termasuk manusia) menggunakan lingkungan hidupnya. Sebagai sebuah sistem, lingkungan harus tetap terjaga keteraturannya sebagai akibatnya sistem itu bisa berjalan dengan teratur dan memberikan kemanfaatan bagi semua anggota ekosistem. Manusia sebagai makhluk yg paripurna, yang telah diberikan jujur buat menjadi khalifah mempunyai peran krusial dalam membangun dan menjaga keteraturan lingkungan serta system lingkungan ini. Untuk itulah insan dituntut untuk dapat mengembangkan akhlaq (perilaku yg baik) terhadap lingkungan.

Berbagai kerusakan lingkungan yg terjadinya dewasa ini sesungguhnya berakar menurut perilaku yang salah dari manusia pada menyikapi serta mengelola lingkungan serta sumber dayanya. Kerusakan alam serta lingkungan jua berdampak bagi lahirnya peradaban manusia yang rendah, dimana menempatkan alam dan lingkungan menjadi subordinat dari insan. Akhlaq lingkungan mengajarkan kepada insan untuk memiliki konduite yang baik dan menciptakan peradaban insan yg lebih baik, yg menempatkan alam serta lingkungan sebagai mitra beserta pada menjalankan tugas sebagai hamba serta khalifah Allah di muka bumi.

Akhlaq lingkungan jua berfungsi menjadi panduan bagi umat insan pada membuatkan hubungannya dengan alam. Seseorang yang memiliki akhlaq lingkungan akan terdorong buat membuahkan alam sebagai mitra dan sekaligus wahana dalam memenuhi fungsi dan kewajibannya menjadi seorang manusia, baik sebagai hamba pada Tuhan juga menjadi anggota rakyat menjadi sesama manusia, serta kepada semua makhluk sebagai khalifatullah fil ardl. Seseorang yang mempunyai akhlaq lingkungan tidak akan mengakibatkan alam dan lingkungan sebagai bagian subsistem kehidupannya sebagai akibatnya dengan seenaknya dieksplorasi, tetapi ditinjau sebagai makhluk yang memiliki kedudukan sama dihadapan Tuhan sehingga keberadaannya permanen dikelola dan dilestarikan. 

Metode Penumbuhan Akhlaq Lingkungan
Untuk menumbuhkan akhlaq lingkungan maka dibutuhkan metode tertentu sebagai cara buat tahu, menggali, menyebarkan akhlaq lingkungan, atau bisa dipahami menjadi jalan untuk menanamkan pemahaman akhlaq lingkungan pada seorang sebagai akibatnya dapat menjadi eksklusif yg memiliki perilaku ramah serta peduli terhadap lingkungan. Pelaksanaan metode ini didasarkan pada prinsip bahwa pedagogi akhlaq lingkungan disampaikan pada suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, serta motivasi. Pilihan metode didasarkan pada pandangan serta persepsi dalam menghadapi insan sesuai dengan unsur penciptaannya, yaitu jasmani, logika, serta jiwa, guna mengarahkannya menjadi eksklusif yang paripurna.

Metode penumbuhan akhlaq lingkungan ini dapat dilakukan dengan tahapan menjadi berikut:
a. Mengajarkan.
Penumbuhan akhlaq lingkungan mengandaikan pengetahuan teoritis mengenai konsep-konsep nilai terkait perilaku ramah lingkungan serta pengelolaan lingkungan. Seseorang buat bisa mempunyai kesadaran serta melakukan konduite ramah lingkungan terlebih dahulu harus mengetahui nilai-nilai krusial lingkungan bagi kehidupan dan bagaimana melakukan pengelolaannya. Hal ini berdasarkan pada pemahaman bahwa konduite manusia dalam dasarnya poly dituntun sang pengertian dan pemahaman terhadap nilai dari perilaku yang dilakukannya.

Proses pedagogi mengenai lingkungan ini mampu dilakukan secara eksklusif, baik melalui hadiah liputan dengan pembelajaran juga penugasan melalui pembacaan terhadap banyak sekali surat keterangan. Bahkan pedagogi ini bisa dilakukan menggunakan melihat secara eksklusif ayat-ayat kauniyah (fenomena alam) yang ada pada kurang lebih kehidupan kita.

b. Keteladanan.
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode ifluentif yg paling meyakinkan keberhasilan pada mempersiapkan dan menciptakan anak pada moral, spiritual dan moral. Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan metode ini sangat krusial lantaran akhlaq merupakan kawasan afektif yg terwujud dalam bentuk tingkah laku (behavioral). Metode ini didasari dalam pemahaman bahwa tingkah laris anak belia dimulai menggunakan imitatio, meniru serta ini berlaku sejak masih kecil. Apa yg dikatakan orang yg lebih tua akan terekam dan dimunculkan kembali oleh anak. Anak belajar melakukan sesuatu menurut sekitarnya, khususnya yang terdekat serta memiliki intensitas rasional tinggi.

Dalam konteks penumbuhan akhlaq lingkungan keteladanan ini mempunyai efek yang sangat kuat. Bagaimana mungkin orang lain akan dapat menumbuhkan akhlaq lingkungan pada dirinya kalau orang yg mengajarkan tidak pernah bersikap dan berperilaku yg diajarkan. Pentingnya keteladanan ini sinkron dengan adagium bahwa satu keteladanan lebih berharga dibanding menggunakan seribu nasehat.

c. Pembiasaan.
Unsur penting bagi penumbuhan akhlaq merupakan bukti dilaksanakannya nilai-nilai normatif akhlaq itu sendiri. Penumbuhan akhlaq akan bisa terealisasi bila dilakukan menggunakan pembiasaan yg terus menerus sebagai akibatnya menjadi norma yang inheren dalam eksklusif seseorang. Proses pembiasaan ini dapat dilakukan secara sedikit demi sedikit serta pada mulai dari hal yg ringan atau mudah. Untuk ini diperlukan suasana atau loka yang mendukung bagi terciptanya proses pembiasaan. Penyediaan fasilitas, penempelan papan petunjuk, himbauan, embargo, brosur, serta lain sebagainya dapat dilakukan sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kolektif untuk secara bersama membiasakan konduite ramah lingkungan.

d. Refleksi.
Akhlaq lingkungan yg akan dibentuk oleh penumbuhan melalui banyak sekali macam program serta kebijakan senantiasa perlu dinilai serta direfleksikan secara berkesinambungan serta kritis. Tanpa ada usaha buat melihat pulang sejauh mana proses penumbuhan akhlaq lingkungan ini direfleksi, dinilai, nir akan pernah terdapat kemajuan. Refleksi merupakan kemampuan sadar khas manusiawi. Berdasar kemampuan sadar ini, insan bisa mengatasi diri dan menaikkan kualitas hidupnya dengan lebih baik. Segala tindakan dan pembiasaan pada menumbuhkan akhlaq lingkungan yang telah dilaksanakan, perlulah dilakukan refleksi untuk melihat sejauh mana famili, grup rakyat atau pihak yang melakukannya telah berhasil atau gagal pada menumbuhkan akhlaq lingkungan.

Proses refleksi ini bisa dilakukan dengan cara mengajak memikirkan pulang apa yg dirasakan, manfaat yang diterima serta pesan tersirat apa yg diterima mengenai konduite yg telah dilakukan dan dibiasakan dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan. Semisal apa yg kiranya manfaat dan hikmah yang dirasakan dan diterima ketika seorang itu konsisten menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan sahih sinkron proporsinya. Keempat metode di atas adalah panduan dan patokan pada menghayati dan mencoba menghidupkan akhlaq lingkungan. Keempatnya sanggup dikatakan sebagai bundar bergerak maju dialektis yang senantiasa berputar semakin maju. Hal ini lantaran penumbuhan akhlaq lingkungan sebagai upaya terus menerus buat membentuk budaya serta norma setiap individu anggota warga pada kehidupannya yang sadar, peduli serta ramah terhadap lingkungan. 

KEBERHASILAN PENDIDIKAN ISLAM

Keberhasilan Pendidikan Islam 
Pendidikan Islam merupakan suatu aktivitas buat berbagi semua aspek kepribadian subjek didik yang berjalan seumur hidup. Maka dalam hal ini pendidikan harus dilaksanakan secara trylogi pendidikan yaitu pendidikan informal (tempat tinggal tangga), pendidikan formal (disekolah) dan pendidikan non formal (dalam warga ). 

H. M. Arifin bahwa pendidikan Islam merupakan menjadi usaha membina dan mengembangkanpribadai insan dari aspek-aspek rohaniah serta jasmaniah juga wajib berlangsung secara sedikit demi sedikit sang lantaran suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/pertumbuhan.

Omar Muhammad At-Toumy al-Syaebani mengemukakan bahwa pendidikan Islam diartikan menjadi usaha membarui tingkah laris individu pada kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan.

Mohd. Fadil Al-Djamaly menyampaikan bahwa pendidikan Islam merupakan proses yg mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik serta mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai menggunakan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (efek menurut luar). 

Pendapat Mohd. Fadil Al-Djamaly pada atas bahwa manusia ketika lahir ke global memiliki potensi (fitrah), maka potensi dasar tersebut perlu dikembangkan melalui pendidikan sebagai akibatnya subjek didik dapat mengaktualisasikan ilmu dalam kehidupannya. 

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat ar-Rum Ayat 30, yg merupakan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada kepercayaan Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah membangun insan menurut fitrah itu, tidak terdapat perubahan dalam fitrah Allah. (itulah) kepercayaan yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Ruum: 30).

Islam menegaskan bahwa anak dalam dasarnya baik, ketiak dilahirkan dalam fitrah yang suci. Sehingga seorang bayi, hidup pada alam paradise (jika mangkat pada keadaan Islam dianggap langsung masuk ke nirwana). Dalam perkembangan selanjutnya, pada istilah keagamaan, lantaran kelemahannya sendiri, sang bayi yang tumbuh pelanpelan menjadi dewasa ini lalu tergiur, lantaran taraikan kehidupan dunia, sebagai akibatnya sedikit-sedikit ia masuk ke dalam inferno “neraka dunia” (metafor buat mereka yeng menjauhi diri dari bunyi hatinya yang suci).

Karena dosanya hatinya pun jadi kotor. Kemudian dalam suatu keadaan yang dianggap penyucian, seorang insan dilatih balik untuk tanggal dari infernonya berdasarkan neraka dirinya. Inilah proses kealam purgatorio, alam pencucian diri, dimana akan dirinya. Inilah proses ke alam purgatorio, alam pencucian diri, dimana akan terbuka balik alam kefitrahannya, yg dalam dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam kefitrahan ini. Keadaan hati yang terdapat pada kecermelangannya. Sebenarnya fitrah ini bukanlah sesuatu yg didapatkan atau diusahakan, tetapi sesuatu yang ditemukan balik . Itu sebabnya istilah yang digunakan (seperti misalnya pada Idul Fitri kita minggu depan) adalah “balik ke fitrah” yang secara simbolik adalah adalah merayakan kembalinya diri kita balik kea lam paradise (surge diri) alam kefitrahan manasia (pulang kepada kecemerlangan suara hati) dari dari penciptaannya. 

Dengan kemampuan dasar pada atas Abdul ‘Ala al-Maududi menyatakan insan telah dibentuk sang Tuhan dalam dua aspek kehidupan pada dua suasana aktivitas yang tidak sinkron. Pertama beliau berada pada pada suasana pada mana dirinya secara menyeluruh diatur sang hukum Tuhannya. Dia sedikitpun tak bisa beringsut dan tak bisa menghindari sama sekali menurut aturan Tuhannya. Juga dia tak bisa mengubah dan melangkahinya. 

Dengan istilah lain dia benar-benar terperangkap pada genggaman aturan alam serta terikat buat mematuhinya. Kedua, insan telah dianugerahi kemampuan nalar serta kecerdasan. Ia dapat berpikir serta membuat pertimbangan dangan akalnya buat memilih dan menolak serta mengambil atau membuangnya. Ia juga bisa memeluk kepercayaan apa saja, mengikuti cara hidup apa saja, dan menciptakan kehidupannya sinkron menggunakan ideology yg dipilih. Diapun dapat membangun kode tingkah lakunya sendiri atau menerima saja kode-kode yg di untuk sang orang lain. Dia telah diberi kemampuan “free will” (bebas berkehendak) serta bisa menetapkan arah perbuatannya sendiri.

Herman H. Horne beropini pendidikan harus dilihat suatu proses penyesuaian diri manusia secara timbale balik menggunakan alam sekitar, dengan sesama manusia serta dengan watak yang tertinggi berdasarkan kosmos.

Brubacher bahwa pendidikan merupakan proses timbal balik menurut tiap pribadi manusia pada rangka penyesuaian dirinya denganalam semesta dan temannya. 

Pendidikan adalah perkembangan yg terorganisasi serta kelengkapan dari seluruh potensi-potensi insan, moral, intelektual serta jasmani (fisik), oleh serta untuk kepribadian individunya dan kegunaan yg diharapkan demi menghimpun semua kegiatan tadi bagi tujuan akhir hidupnya. Pendidikan adalah proses dimana potensi-potensi ini (kemampuan kapasitas) insan yg mudah ditentukan oleh norma-kebiasaan agar disempurnakan oleh kebiasaan yg baik, oleh indera atau media yang disusun sedemikian rupa dan dikelola sang insan untuk menolong orang lain atau dirinya buat mencapai tujuan yg ditetapkan.

Dari pendapat pada atas dapat dijelaskan bahwa setiap jenis pendidikan baik informal, formal serta non informal agar subjek didik terjadi perkembangan kecerdasan baik kecerdasan intelektual, spiritual juga emosional serta pula dapat diaktualisasi oleh subjek didik dalam kehidupannya, maka pendidikan serta pengajaran harus diarahkan sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. 

Dalam hal ini secara empiris kebanyakan subjek didik belum mengaktualisasikan ilmu-ilmu pengetahuan atau meteri-bahan ajar yang telah dipelajari secara formal atau non formal. Justru itu pembelajaran tersebut belum tercapai tujuan operasional yaitu tujuan mudah yang dicapai malalui sejumlah aktivitas pendidikan tertentu. Dalam pendidikan formal, diklaim jua tujuan instruksional yg dikembangkan sebagai Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Tujuan Instruksional tadi adalah tujuan pengajaran yg direncanakan dalam unit kegiatan pedagogi tertentu. Maka dalam hal ini, bila Tujuan Instruksional Umum serta Tujuan Instruksional Khusus belum tercapai, sebagai akibatnya belum tercapai jua Tujuan Pendidikan Islam. Oleh karena itu tujuan pendidikan Islam yang merupakan kemampuan dan keterampilan yang menuju pada insan kamil (insan paripurna). 

Dari di atas Burhan Somad bahwa tujuan pendidikan Islam merupakan membentuk individu bercorak dan berderajat tertinggi menurut ukuran Allah yg merupakan tujuan hayati manusia.

Dalam hal ini Allah sudah berfirman dalam surat at-Tin ayat 4-6 yaitu: “Sesungguhnya Kami sudah membangun manusia pada bentuk yg sebaikbaiknya, lalu Kami kembalikan dia ke derajat yang paling rendah, kecuali orang-orang yang beriman dan yg mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang nir putus-putusnya”. 

Dengan demikian pendidikan Islam merupakan segala upaya atau proses pendidikan yg dilakukan buat membimbing tingkah laris insan baik individu maupun sosial buat mengarahkan potensi baik yg sinkron menggunakan fitrahnya melalui proses intelektual serta spiritual berlandasan nilai Islam buat mencapai kehidupan pada global serta akhirat. Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar “transfer of knowledge” ataupun “transfer of pelatihan”, namun lebih merupakan suatu sistem yang ditata pada atas pondasi “keimanan” serta “kesalehan”, yaitu suatu sistem yang terkait secara pribadi menggunakan Tuhan. Dengan demikian, dapat dikatakan pendidikan Islam merupakan suatu kegiatan yang mengarahkan menggunakan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Maka sosok pendidikan Islam bisa digambarkan menjadi suatu sistem yang membawa manusia kearah kebahagian global serta akhirat melalui ilmu serta ibadah. Karena pendidikan Islam membawa insan untuk kebahagian global serta akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah “nilai-nilai Islam tentang insan, hakikat dan sifat-sifatnya, misi serta tujuan hidupnya pada global ini dan akhirat nanti, hak serta kewajibanny sebagai individu serta anggota warga . Semua ini dapat kita jumpai dalam Al-Quran serta Hadits. Jadi, dapat dikatakan bahwa konsepsi pendidikan contoh Islam, tidak hanya melihat pendidikan itu menjadi upaya “mencerdaskan” semata (pendidikan intelek, kecerdasan), melainkan sejalan menggunakan konsep Islam tentang manusia dan hakikat eksistensinya. Maka pendidikan Islam menjadi suatu pranata sosial, jua sangat terkait dengan pandangan Islam mengenai hakikat eksistensi (eksistensi) insan. Oleh karenanya, pendidikan Islam jua berupaya buat menumbuhkan pemahaman dan pencerahan bahwa manusia itu sama di depan Allah serta perbedaannya adalah terletak dalam kadar ketakwaan masing-masing manusia, menjadi bentuk perbedaan secara kualitiatif. 

1. Hakikat Subjek Didik
Dalam proses pembelajaran subjek didik unsur yang sangat penting di samping pengajar dan fasilitas lainnya, sebagai akibatnya perlu dibahas terlebih dahulu hakikat daripada subjek didik tersebut. Manusia diciptakan Allah selain sebagai hamba-Nya, pula menjadi penguasa (khalifa) di atas bumi. Selaku hamba serta khalifah manusia telah diberikan kelengkapan kemampuan jasmaniah (fisiologis) serta rohaniah (mental psikologis) yg dapat di kembang tumbuhkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi indera yang berdaya guna pada ikhtiar kemanusiaannya buat melaksanakan tugas pokok kehidupan di global. 

Manusia diberi hayati oleh Allah tidak secara outomatis serta eksklusif, akan namun melalui proses panjang yg melibatkan aneka macam faktor dan aspek. Ini nir berarti Allah nir mampu atau nir kuasa menciptakannya sekaligus. Akan tetapi justru lantaran ada proses itulah maka tercipta dan muncul apa yang dianggap “kehidupan” baik bagi manusia itu sendiri maupun bagi makhluk lain yang pula diberi hayati oleh Allah, yakni tumbuhan serta hewan.

Kehidupan yang demikian adalah proses interaksi interaktif secara harmonis serta seimbang yg saling menunjang antara manusia, alam serta segala isinya utamanya flora serta hewan, pada suatu “tata nilai” maupun “tatanan” yg disebut ekosistem. Tata nilai serta tatanan itulah yg disebut pula “moral dan etika kehidupan alam” yang seringkali dipengaruhi sang paradigm sinamis yg berkembang pada komunitas warga di samping dampak ajaran kepercayaan yang menjadi asal pandangan baru moral dan etika itu. 

Oleh karenanya buat mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tadi, pendidikan adalah wahana atau indera yg memilih sampai pada mana titik optimal kemampuan-kemampuan tadi dapat dicapai.

Berdasarkan pernyataan pada pada bisnis pengembangan subjek didik, maka perlu diarahkan materi yg relevan dalam pembelajaran, sehingga subjek didik sanggup menguasai, baik kemampuan kognitif, efektif juga psychomotorik. Jika kemampuan terdapat dalam subjek didik, maka tercapailah tujuan intruksional. Dengan tercapai tujuan instruksional maka tercapai jua tujuan pendidikan Islam. 

Demikian juga hakikat subjek didik adalah menjadi makhluk yg dalam perkembangannya selalu dipengaruhi oleh unsur heredity (keturunan) serta lingkungan. 

Sebagaimana Nabi SAW bersabda: Artinya: “tiap anak yang dilahirkan membawa fitrah, maka ke 2 orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi atau Nasrani atau majusi.

Hadits di atas semenjak manusia lahir telah membawa kemampuankemampuan atau berdasarkan hadits tersebut fitrah (potensi). Sedangkan orang tua pada hadits tersebut adalah lingkungan, sebagaimana dimaksud sang para ahli pendidikan, oleh karena demikian ke 2 faktor tersebut pada atas sangat memilih perkembangan subjek didik pada proses pendidikan.

Pengaruh ini dapat terjadi pada aspek jasmani, logika maupun dalam aspek rohani. Menurut al-Syaibani imbas ini dimulai semenjak bayi berupa embrio serta baru berakhir setelaj kematian orang tersebut. Justru itu begitu bertenaga dan bercampur campurkan dan kocok peranan berdasarkan faktor-faktor ini maka sukar sekali buat bisa memilih faktor mayoritas yeng berpengaruh yang pada perkembangan subjek didik dalam pendidikan, akan namun dalam beberapa hala kita bisa melihat pertumbuhan serta perkembangan yg muncul dalam subjek didik dalam faktor keturunan, seperti roman muka, mata, warna rambut serta sebagainya. Demikian jua dalam faktor lingkungan depat dilihat pada pertumbuhan kepribadian serta sosial subjek didik.

Islam menjadi agama yg sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan serta hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah insan yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan supaya dia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba yang siap menjalankan selebaran yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah pada muka bumi, sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya yg merupakan: “ingatlah waktu Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “sesungguhnya Aku hendak membuahkan seorang khalifah dimuka bumi” mereka mengungkapkan “mengapa Engkau hendak menjaikan seseorang (khalifah) pada muka bumi, itu orang yg akan menciptakan kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”? Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Bagarah: 30). 

Selanjutnya Allah berfirman yg ialah: “sesungguhnya Kami sudah mengemukakan amanat pada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan buat memikul amanat itu serta mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya insan itu amat zalim dan amat udik”. (QS. Al-Ahzab: 72). 

Oleh karena itu pendidikan berarti adalah suatu proses membina seluruh potensi insan sebagai makhluk yg beriman serta bertakwa, berpikir dan berkarya, sehat, bertenaga dan berketerampilan tinggi buat kemaslahatan diri dan lingkungannya. 

Pendidikan dibutuhkan tidak hanya focus dalam masalah intelektual namun pula emosional dan spiritual. Walaupun kecerdasan intelektual (IQ) memiliki kedudukan dan posisi yg sangat penting, akan namun tanpa kehadiran kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang adalah kecerdasan yg berhubungan dengan perasaan yang bersumber pada hati, tidak akan optimal serta bermakna. Banyak orang berusaha untuk merubah global, namun sedikit sekali orang terlebih dahulu berusaha merubah dirinya sebagai langsung yg lebih baik serta shaleh. Orang sukses sejati adalah orang yang terus menerus berusaha membersihakan hati. 

John Locke (1623-1704) filosof Inggris yg populer dengan teorinya tabula rasa berkata bahwa jiwa manusia waktu dilahirkan laksana kertas bersih (istilahnya meja lilin) lalu diisi menggunakan pengalaman-pengalaman yg diperoleh pada hidupnya, maka pendidikan sangat berpengaruh pada seseorang. 

Dalam hal ini, keharusan mendapatkan pendidikan masih ada beberapa aspek diantaranya menjadi berikut: 

a. Aspek paedagogis 
Dalam aspek ini para pakar didik memandang manusia sebagai animal educandum, yaitu makhluk yang memerlukan pendidikan, sebagai akibatnya manusia menggunakan potensi yang dimilikinya bisa dididik dan dikembangkannya, akan sebagai manusia yang memadai secara fisik, psikis dan mental. 

b. Aspek sosiologis dan cultural 
Menurut ahli sosiologi, dalam prinsipnya manusia adalah moscius yaitu makhluk yang berwatak atau berkemampuan dasar atau yg mempunyai garizah (insting) buat hayati bermasyarakat, sebagai makhluk sosial, manusia wajib memiliki rasa tanggung jawab sosial (social responability) yg diharapkan pada menyebarkan interaksi timbal balik (interelasi) dan saling imbas mempengaruhi antara sesame anggota masyarakat dalam kesatuan hayati mereka, oleh karena demikian manusia sosial berkembang, hal ini adalah makhluk yang berkebudayaan, baik moral juga mental. 

c. Aspek Tauhid 
Aspek Tauhid ialah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia merupakan makhluk yang berketuhanan, karena ketika manusia dilahirkan telah memiliki kemampuan dasar (potensi) yaitu percaya pada Tuhan. Itulah sebabnya insan sebagai makhluk yang berketuhanan atau beragama, maka pada dalam jiwa manusia masih ada insting religious atau garizah diniyah (insting percaya dalam agama). Oleh lantaran demikian buat menyebarkan naluri religious atau garizah diniyah, yaitu melalui proses pendidikan, sebagai akibatnya insan atau subjek didik bisa mengaktualisasi pada kehidupannya, sebagai inti dari ajaran Islam yaitu “rahmatal lil ‘alamin” Dalam hal ini Islam menyetujui juga imbas lingkungan pada perkembangan fitrah sebagaimana hadits yg diriwayatkan oleh Bukhari pada atas, tetapi bukan berarti Islam sebagai perhambaan dalam lingkungan. Memang pada realitasnya lingkungan memegang peranan yang cukup krusial dalam pembentukan tingkah laku subjek didik, akan namun bulan satu-satunya faktor yg menentukan, kecuali berat sebelah pada hakikat manusia, pula tidak menghargai harkat insan yg pada hakikatnya berpusat pada proses individualitas san sosialitas secara naluriah yang tidak mungkin dihindarkan dalam perkembangan hidupnya. Individualitas dan sosialitas manusia sebagai makhluk Tuhan, baru terbentuk dengan Integrited apabila dilandasi dengan faktor moralitas.

Menurut Immanuel (1724-1804) filosof akbar global (Jerman), menyampaikan manusia tidak akan bisa mengendalikan diri sendiri. Manusia mengenali dirinya menurut apa yang tampak (baik secara realitas maupun secara bathin). Yang krusial bagi dunia pendidikan menurut Kant adalah bahwa manusia makhluk rasional, manusia bebas bertindak berdasarkan alasan moral manusia bertindak bukan buat dirinya sendiri. Jadi tatkala manusia akan bertindak beliau meski memiliki alasan melakukan tindakan itu. Menurut Kant, hal ini pada fauna tidak. 

Dengan demikian, pemahaman terhadap subjek hakikat subjek didik pada pendidikan Islam merupakan sebagai acuan dalam proses pembalajara, agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Hakikat subjek didik ini mencakup ketrampilan unsur jasmani, kecerdasan intelektual yg absolut diperlukan insan sebagai langkah untuk membuatkan dirinya ke arah kemajuan yang teguh pada Allah, sebagai akibatnya manusia secara langsung bisa mengakui keberadaan Tuhan sebagai zat yang paling mulia. Hal ini telah termaktub dalam surah Al-Ambiya ayat 80 yg berbunyi menjadi berikut: 

Artinya: “Dan telah kami ajarkan pada Daud menciptakan baju besi buat kamu, guna memlihara kamu dalam peperanganmu, maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

Demikian jua pada surat al-Angkabut ayat 43 yg berbunyi sebagai berikut: 
Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat buat manusia serta tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yg berilmu Berdasarkan ayat yang di atas bahwa hakikat subjek manusia sebagai didik memiliki potensi-potensi yg perlu dikembang baik unsur jasmaniyah juga unsur rohaniah. 

2. Tujuan Pendidikan Islam 
Dalam rangka buat mencapai suatu tujuan menurut filsafat pendidikan Islam wajib mempunyai suatu proses pendidikan, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan dalam hakikatnya adalah suatu perwujudan menurut nilai-nilai ideal yang terbentuk pada eksklusif manusia yg diinginkan. Nilai-nilai ideal itu menghipnotis dan mewarnai pola kepribadian manusia sehingga menciptakan dalam prilaku lahiriyah. Oleh karena demikian prilaku lahiriyah adalah cerminan yang memproyeksi nilai-nilai yg sudah mengacu di pada jiwa manusia menjadi produk dari proses kependidikan. 

Tujuan pendidikan Islam merupakan idealisme (harapan) yang mengandung nilai-nilai Islami yg hendak dicapai sang proses kependidikan yg berdasarkan ajaran Islam secara bertahap. Oleh karena itu tujuan pendidikan Islam adalah merupakan penggambaran nilai-nilai Islam yg hendak diwujukan dalam langsung insan menjadi subjek didik yg dalam akhirnya proses pendidikan yg disadari atau dijiwai sang iman serta takwa kepada Allah menjadi asal kekuasaan mutlak.

Tujuan pendidikan Islam adalah buat mencapai ekuilibrium pertumbuhan kepribadian insan secara menyeluruh serta seimbang yg dilakukan melalui latihan jiwa, nalar pikiran (intelektual), diri insan yang rasional, perasaan indra. Lantaran itu, pendidikan hendaknya meliputi pengembangan seluruh aspek fitrah siswa, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual juga kolektif serta mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan manusia terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna pada Allah, baik secara langsung, komunitas, juga semua umat manusia. Pendidikan, jika dipahami dari pengertiannya maka kita bisa menggolongkan menjadi satu disiplin keilmuan yg mandiri, yaitu ilmu pendidikan. 

Ilmu pendidikan adalah sebuah sistem pengetahuan tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset. Riset disajikan dalam bentuk konsep-konsep, maka ilmu pendidikan bisa dibataskan sebagai sistem konsep pendidikan yang didapatkan melalui riset. Disini kita akan memilih objek formal ilmu pendidikan yang maha luas, luas terbatas tetapi jua diartikan sempit. Dalam pengertian maha luas, pendidikan merupakan segala situasi pada hayati yg menghipnotis dalam pertumbuhan seorang, sanggup berupa pengalaman belajar sepanjang hidup, tidak terbatas dalam waktu, loka, bentuk sekolah, jenis lingkungan dan tidak terbatas pada bentuk kegiatannya. 

Pengertian kemaha-luasna implisit pada tujuan pendidikannya. Dalam pengertian sempit, pendidikan adalah sekolah atau persekolahan. Pendidikan sanggup diartikan imbas yg diupayakan dan direkayasa sekolah terhadap siswa agar memiliki kemampuan paripurna serta pencerahan penuh terhadap hubungan dan tusas-tugas sosial mereka. Dengan istilah lain pendidikan memperliahatkan keterbatasan pada ketika, tempat, bentuk kegiatana dan tujuan pada proses berlangsungnya pendidikan. Dalam pengertian luas terbatas memberikan cara lain definisi pendidikan, yaitu menggunakan melihat kelemahan dari definisi pendidikan maha luas yg tidak tegas menggambarkan batas-batas imbas pendidikan serta bukan pendidikan terhadap pertumbuhan individu. Sedangkan kekuatannya terletak pada menempatkan aktivitas atau pengalaman-pengalaman belajar sebagai inti dalam proses pendisikan yg berlangsung dimanapun dalam lingkungan hayati, baik sekolah juga di luar sekolah. Selanjutnya kelemahan pada definisi sempit pendidikan, antara lain terletak dalam sangat kuatnya campur tangan pendidikan dalam proses pendidikan sebagai akibatnya proses pendidikan lebih adalah kegiatan mengajar daripada kegiatan belajar yang mengandung makna pendidikan terasing berdasarkan kehidupan sehingga lulusannya ditolak sang rakyat. Adapun kekuatannya, anatara lain terletak pada bentuk aktivitas pendidikannya yang dilaksanakan secara terprogram serta sistematis. Al-Attas bahwa tujuan pendidikan Islam adalah insan yang baik terlalu generik.

Sedangkan menurut Marimba mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam berbentuk orang yg berkepribadian Muslim Al-Abrasyi mengungkapkan tujuan akhir pendidikan Islam merupakan insan yg berakhlak baik.

Sedang Abdul Fattah tujuan generik pendidikan Islam dan jua merupakan tujuan spesifik pendidikan Islam merupakan mewujud insan sebagai hamba Allah yaitu beribadah pada Allah tujuan tersebut yang dimaksud adalah buat sesame insan atau subjek didik buat bisa beribadah kepada Allah. 

Oleh lantaran demikian, Islam menghendaki agar subjek didik diajarkan agar mampu merealisasikan tujuan hidupnya, sebagaimana Allah sudah mencantumkan dalam Al-Quran nur Karim. Tujuan hayati subjek didik (manusia), agar dapat mengabdi pada Allah, hal ini Allah telah berfirman pada surat Adz-Dzariyat ayat 56, yaitu: 

Artinya: “Dan Aku nir menciptakan jin serta manusia melainkan supaya mereka mengabdi pada-Ku.

Ayat di atas, subjek didik harus menjalankan perintah AllahSWT menggunakan mengabdi kepada-Nya, yg mencakup semua aspek serta segala yang dilakukan subjek didik baik perkataan, perbuatan, perasaan serta zikir atau fikirnya kepada Allah. 

Maka hal ini subjek didik harus memeriksa aspek-aspek tersebut terlebih dahulu untuk tercapai tujuan pendidikan Islam. Maka pada hal ini tujuan pendidikan Islam adalah cerminan serta realisasi berdasarkan perilaku penyerahan diri sepenuhnya pada Allah, baik seorang subjek didik ataupun kelompok juga insan secara holistik, menjadi hamba Allah yang berserah diri pada Khalidnya, ini adalah hamba-Nya yang beriman, berilmu pengetahuan serta beramal shaleh.

Sesuai dengan firman Allah SWT pada surat At-Taubah ayat 122, yg berbunyi: 
Artinya: “Dan nir sepatutnya bagi mukminin itu pulang semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi menurut tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang buat memperdalam pengetahuan mereka mengenai kepercayaan serta buat member peringatan kapada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu bisa menjaga dirinya”.

Ayat pada atas bisa bahwa, maka subjek didik wajib menuntut ilmu pengetahuan, kemudian merealisasikan pada kehidupan, yang merupakan tujuan hidupnya. Dalam hal ini sesuai pada konsep filsafat Islam, bahwa tujuan hidup insan atau subjek didik merupakan mencapai perjumpaan kembali dengan Tuhan, dalam hal ini nir bersifat materi, misalnya pulang air hujan ke laut serta secara materi manusia nir pulang kepada Tuhannya, tetapi pulang ke berasal materi yang membangun jasadnya. Maka pertemuaan itu terjadi dalam tahapan nafs, yg sepenuhnya bersifat spiritual, lantaran hakikat nafs adalah spiritual, lalu Allah SWT memanggil balik pada-Nya dengan sangat indah.

Manusia atau subjek didik dalam hakikatnya merupakan mengandung nilai-nilai prilaku insan yg didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa pada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yg wajib ditaati, sebagai perwujudan penyerahan diri secara total pada Allah. Penyerahan diri tersebut merupakan perhambaan diri manusia hanya pada Allah semata-mata. Oleh lantaran demikian, apabila subjek didik telah bersikap menghambakan diri pada Allah, berarti subjek didik tersebut berada pada dimensi kehidupan menerima kebahagian di global dan kebahagian akhirat, yg adalah tujuan pendidikan Islam secara Insan Kamil (manusia paripurna). Sehingga mendeskripsikan kepribadian subjek didik yang baik atau kepribadian rabbani. 

Adapun demensi kehidupan yg mengandung nilai ideal islami bisa dikatagorikan ked ala 3 macam yaitu sebgai berikut : 
a. Dimensi yang mengandung nilai yabg menaikkan kesejahteraan hayati manusia pada global. Dimensi kehidupan ini mendorong aktivitas insan buat mengelola serta memanfaatkan global ini agar sebagai bakal/sarana bagi kehidupan di akhirat. 
b. Dimensi yang mengandung nilai yang mendorongkan manusia berusaha keras buat meraih kehidupan di akhirat yg membahagiakan. Dimensi ini menuntut insan buat nir terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yg dimiliki, namun kemelaratan atau kemiskinan dunia wajib diberantas, sebab kemelaratan duniawi bisa sebagai ancaman yg menjerumuskan insan kepada kukurufan. 
c. Dimensi yang mengandung nilai yg bisa memadukan ( mengintegrasikan ) antara kepentingan hidup duniwi dan ukhrawi. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan hayati ini menjadi daya tanggal terhadap imbas-pengaruh negative berdasarkan aneka macam gejolak kehidupan yang menggoda kenyamanan hidup insan, baik yang bersiap sepritual , sosial, cultural, ekonomi, juga ideologis dalam hidup pribadi manusia

Oleh karena demikian subjek didik wajib pada berikan pembeljaran yg dapat sistimatis dan termotivasi buat merealisasikan idealitas Islami, sebagai akibatnya dapat memadukan atau mengintegrasikan antara kepentingan dunia serta akhirat, yg mengandung nilai-nilai Islami pada kehidupannya. Maka pada hal ini subjek didik sebagai insan”rahmatal lil ‘alamin ( insan yang mendapat rahamat selurh ala kecil ). 

a. Pendidik Dalam Pendidikan Islam 
Pendidik merupakan :Pengajar, pengajar dalam bahasa arab mu’allim, mu’allimah, ustaz ustazah, sedangkan dalam bahasa inggris merupakan teacher”. Jadi guru atau pendidik siapa yang bertanggung jawab terhadap perkembangan subjek didik, seperti orang tua (ayah dan bunda), Lantaran orang tua merupakan pendidik yg paling pertama dan primer, sebagaiman Allah berfirman dalam Al-Quran at-Tahrim ayat 6 yang berbunyi: 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari ancaman neraka…” 

Berdasarkan ayat di atas “dirimu” merupakan orang tua (ayah serta mak ), sebagai anggota famili yang mempunyai kewajiban tanggung jawab terhadap anak-anaknya yaitu pada mendidik serta menaruh pengetahuan secara murni dan konsukuen, sehingga tercapai tujuan yg pada harapkan. Maka dalam hal ini orang tua merupakan menjadi tugas yang paling pertama serta primer dalam rumah tngga ( Al baitu madrasatul ula ). Akan namun oaring tua tidak mampu mendidik anak-anak pada sebakan karena perkembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap serta kebutuhan pendidikan lainnya, maka pada antarkan ke sekolah formal atau non formal lainnya. Oleh lantaran demikian pendidik dalam pandangan Islam adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi subjek didik, baik potensi kognitif, efektifmaupun psykomotorik, yg harus di kembangkan secara seimbang hingga ke tingkat tinggi Mengajarkan subjek didikdari ketidak tahuan sebagai manusia yg berilmu serta berpengatuahuan, berakhlak dan berperadaban dalah tanggung jawab pendidik bisa menunjuk pendidik-pendidik dalam masa lamapau serta jua pendidik-pendidik dalam mas awal islam bagaiman keikhlasan serta rasa tanggung jawab moral mareka umt sebagai akibatnya menghabiskan ketika bertahun-tahun untuk mencerdaskan umat tanpa mengharap pembalasandari insan. 

Pendidik adalah orang yang memiliki komitmen terhadap tuntutan agamanya. Berbicara sahih serta jujur, mempunyai semangat belajar ( mencari ilmu ) yg tinggi bagi mencapai ilmu yg banyak serta memperluas cakrawala pemikiran sebagai akibatnya sebagai loka bertana manusia lain selama hidupnya. Pendidik merupakan orang dewasa yang bertanggung jawab member bimbingandan bantuan kepada anak didik ( subjek didik ) dalam perkembangan jasmani serta rohaninya supaya mencapai kedewasaannya, bisa melaksakan tugasnya menjadi makhluk allah yaitu khalifah pada bagian atas bumi, sebagai makhluk sosial dan menjadi individu yang mampu berdiri sendiri. 

Pendidikan Islam adalah individuyang melaksanakan tindakan mendidik dan berdasarkan tugas-tugas pendidik secara islam pada satu situasi pandidikan Islam buat mencapai tujuan yg pada harapkan. 

Seorang pendidik menjalankan proses belajar mengajar sangat pada perlukan komitmen, sebab, pendidik merupakan pembangkit motivasi dan penentu arah subjek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Keikhlasan, kesetiaan serta tanggung jawab, kesabaran, bersikap adil, bisa memakai metode yg bervariasi bertingkah laku rabbani (berakhlak yg baik merupakan sifat-sifat seorang pendidik pada mentranfer ilmu pada subjek, sehingga member corak dan model subjek didik yang mapu membuatkan ilmu pengetahuannya dalam kehidupannya. Pendidik itu menjadi pemimpin, pendidik, serta pelatih bagi subjek-subjek di pada kelas, serta juga menjadi rujukan vagi subjek-subjek dan rakyat sekitarnya. Dia wajib menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak, nilai ilmu, serta dapat menjadikan sebagai contoh teladan bagi subjek dan rakyat di mana beliau hidup.

Pendidik itu menjadi pemegang jujur ibu bapak orang tua atau warga , sang karena itu wajib cepat dan tanggap terhadap kebutuhan dan harapan warga dan mak bapak subjek. Ia wajib menyadari serta penuh komitmen bahwa tugasnya mendidik, mengajar, dan wajib dapat mengikuti perkembangan zaman serta berbagi metode mengajar supaya nir membosankan subjek. 

Namun demikian bila kita sudah memiliki komitmen pada mengajar serta membimbing siswa atau subjek agar menjadi insan yg berguna dunia serta akhirat. 

Kita juga harus mempunyai komitmen yang bertenaga terhadap manhaj kehidupan kita sesuai dengan tuntutan Allah serta Rasul-nya. Pendidik perlu memberikan pelajaran pada subjek didik tentang komitmententang manhaj Allah pada aqidah, ibadah, etika, kehidupan sosial, yang tinggi pada kehidupan sehari-hari yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Rasul SAW serta wajib selalu dalam manhaj Allah pada berakidah yg benar, beribadah dan berakhlak misalnya akhlak Rasulullah SAW, pada kehidupan sosial antara seseorang muslim dengan muslim yg lain adalah bersaudara serta penuhilah hak-hak mareka menjadi saudara kandung. 

Oleh lantaran demikian pendidik harus mempunyai kompetensi baik pengetahuan yang di perlukan untuk di berikan pada subjek didik. Pengetahuan nir sekedardi ketahui sang pendidik, namun pula pada amalkan serta di yakininya. Juga memiliki ketrampilan serta nilai-nilai keagamaan yang harus pada berikan kepada subjek didik dalam suatu pembelajaran tertentu, sebagai akibatnya subjek didik mampu serta mempunyai pengetahuan yg relatif, ketrampilan yg memadai dan nilai-nilai keaagamaan yang wajib dimiliki, sebagai akibatnya tercapailah tujuan pembelajarannya. 

Di samping itu pula tugas pendidik adalah : 
a. Membimbing subjek didik yaitu dengan cara mencari pengenalan terhadapnya mengenai kebutuhan, kesnggupan, talenta, minat dan sebagainya. 
b. Menciptakan situasi buat pendidikan yaitu suatu keadaan dimana tindakan pendidikan bisa berlangsung dengan baik serta output yg memuaskan. 
c. Memiliki pengetahuan yang cukup, supaya pembelajaran bisa pada pahami sang subjek didik, sehingga tercapai tujuan yang di inginkan dengan demikian pendidik harus melaksakan tugas-tugasnya dalm proses pembelajaran baik membimbing, menolong, mengevaluasi, kreativitas serta jua mempunyai pengetahuan yg tinggi, juga mempunyai sifat-sifat pendidik, sehingga subjek didik bisa tahu dan mengerti apa yang telah di jelaskannya dan bisa mengaplikasi dalam kehidupannya. 

b. Metode dlam proses proses pendidikan Islam 
Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat krusial pada upaya pencapaian tujuan. Tanpa metode dalam suatu pembelajaran terhadap suatu materi nir akan berjalan pembelajaran secara efektif dan efisien. 

Justru itu pada penggunaan metode harus sempurna guna , shingga mengandung nilai-nilai intrinsik ekstrinsik yang relevan dengan materi pembelajaran, maka secara fungsional dapat di gunakan buat merealisasikan nilai-nilai ideal yg terkandung dalam tujuan pendidikan Islam. Antara penggunaan metode dengan materi pembelajaran wajib relevasi ( keterkaitan, karena proses pendidikan Islam mengandung makna internalisasi dan transformasi nilai-nilai islam ke pada langsung subjek didik dalam upaya membentuk eksklusif muslim yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan yg amaliah mengacu dalam tuntutan kepercayaan dan tuntutan hidup bermasyarakat jadi metode-metode pembelajaran, contohnya metode ceramah, tnya jawab, demontrasi, diskusi drama, metode karya wisata, metode nasehat, metode ‘iqab, metode karja gerombolan , metode drill, metode Imlak, metode hafalan dan lain-lain. 

Penggunaan metode mengajar sperti yg tadi di atas cukup poly, hal ini terbukti pada zaman keemasan Islam perkembangan ilmu pengetahuan yaitu filosoffilosof Islam populer misalnya al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Maskaweh. Al- Mawardi, ibnu Saina, Al- Ghazali. Ibnu Rusydi, Ibnu Thufail, Ibnu Khaldun dan lain-lain, metodemetode pembelajaran yang digunakan yaitu: metode Halaqah (bulat), metode mendengar, metode mambaca, metode Imla’, metode hafalan, metode pemahaman, metode lawatan serta lain-lain. Maka hal ini bisa terlihat bahwa, missal dalam penggunaan metode Halaqah (bundar) sangat efektif serta efesien, misalnya pada membahas suatu topic, seminar dan lain-lain, sehingga subjek termotivasi dalam proses pembelajaran, sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. 

Oleh karena demikian menjadi keliru satu komponen operasional ilmu pendidikan Islam, metode harus mengandung potensi yg bersifat mengarahkan meteri pelajaran pada tujuan pendidikan yg ingin dicapai, melalui proses, baik kelembagaan formal, non formal juga informal, sebagai akibatnya memiliki hubungan dan relevansi yang senada menggunakan tujuan pendidika Islam. 

Dalam hal ini terdapat 3 aspek nilai yang terkandung pada tujuan pendidikan Islam yang hendak direalisasikan melalui metode yg memiliki hubungan dan relavansi, yaitu: pertama, menciptakan subjek didik sebagai hamba Allah yg mengabdi pada-Nya. Kedua, bernilai edukatif yang mengacu pada petunjuk Al-Quran. Ketiga, adalah berkaitan menggunakan motivasi serta kedisiplinan sinkron menggunakan ajaran Al-Quran yg disebut pahala serta siksa.

Sedangkan menurut ilmu Hasan Langgulung, penggunaan metode pembelajaran adalah cara buat mencapai tujuan pendidikan Islam, melalui 3 aspek, yaitu: pertama, pembinaan karakter subjek didik, yaitu insan dilahirkan dalam keadaan fitrah, sehingga pendidik menggunkan metode-metode yang bervariasi pada pendidikan dan pedagogi dakan perubahan dan perkembangan potensi subjek didik kearah yg lebih baik. Kedua, penggunaan metode yang relevan menggunakan syarat dan materi pelajaran. Ketiga, yaitu konvoi (motivasi) serta disiplin yaitu ganjaran (Thawab) serta hukuman (‘Iqab).

c. Pendidikan dalam perspektif Pendidikan Islam 
Dalam pendidikan Islam, pendidikan mempunyai arti serta yang sangat krusial, kerena memiliki tanggung jawab serta menentukan arah pendidikan. Diantara kiprah pendidikan yaitu, menjadi pengajar, pendamping, fasilitator, motivator, pembimbing, pengarah, sebagai uswah bhasanah (contoh teladan yang baik) serta lain-lainnya. Oleh karena demikian kiprah pendidik sangat krusial dalam pendidikan Islam dan menggunakan berbagai macam cara mentrasfer ilmu pengetahuan kepada subjek didik. Justru itu Islam sangat menghargai orang-orang yg berilmu pengetahuan serta mengangkat derajat mereka dan memuliakan mereka melebihi orang Islam lainnya, yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan bukan pendidik. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat al-Mujadalah ayat 11 yg berbunyi: 

Artinya: “hai orang-orang yang beriman jika dikatakan padamu “belapanglapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah pasti Allah akan member kelapangan untukmu dan apabila dikatakan “berdirilah engkau ” maka berdirilah, pasti Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman di antaramu serta orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat serta Allah Maha Mangetahui apa yg engkau kerjakan”.

Dari ayat pada atas bisa dijelaskan bahwa sangatlah keberuntungan yg dimiliki oleh orang yg berilmu pengetahuan atau pendidik yg mengajar ilmunya kepada orang lain. Agar pendidik berhasil melaksanakan tugasnya dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini Al-Ghazali manyarankan pendidik harus memiliki adab yang baik, sehingga subjek didik akan selalu melihat kepadanya menjadi contoh yang wajib selalu diikutinya, Al-Ghazali mengatakan: “mata siswa selalu tertuju kepadanya, telinganya selalu menganggap baik, berarti baik jua di sisi mereka serta bila menganggap jelek, berarti tidak baik jua pada sisi mereka.

Maka pada hal ini pendidik harus memiliki sifat uswatun hasanah pada kehidupannya sehari-hari baik di sekolah, di tempat tinggal tangga juga pada masyarkat, sehingga subjek didik dapat mencontohkannya. Justru itu materi yang disampaikan bisa diterima sang subjek didik, lantaran sesuai antara perkataan menggunakan perbuatan. 

Lembaga pendidikan islam 
Dalam proses perkembangan potensi subjek didik, maka forum pendidikan adalah syarat absolut menggunakan tugas dan tanggung jawabnya yang cultural edukatif terhadap subjek didik dan pula masyarakat pada pengembangan pendidikan secara continuo (terus menerus). Dengan demikian lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab pada bisnis untuk pengembangan subjek didik buat mencapai tujuan hidup, yaitu: 

1. Pembebasan manusia atau subjek didik berdasarkan semacam api neraka sinkron dengan perintah Allah, sebagaimana sudah berfirman dalam surat at-Tahrim ayat 6, yang artinya “jagalah dirimu dan keluargamu dari ancaman barah neraka”. 

2. Pembinaan umat manusia menjadi hamba Allah yang mempunyai keselarasan dan keseimbangan hayati bahagia pada global dan di akhirat sebagai realisasi dambaan seorang yg beriman buat mencapai tujuan hayati manusia 

3. Membentuk pribadi subjek didik yang bisa berbagi potensi-potensi atau kemampuan yang telah dimiliki, baik kemampuan pengetahuan, kemampuan nilai serta pula kemapuan skill (keterampilan), sebagai akibatnya subjek didik bisa memperhambakan dirinya pada Allah. 

Dengan demikian bahwa forum-forum pendidikan adalah cerminan menurut idealitas umat Islam yang sekaligus dalam tingkat eksklusif ia dapat sebagai perubahan terhadap ketinggalan atau kemunduran idealitas umat Islam. Dalam hal ini forum-lembaga pendidikan Islam sebagai dimisiator (pembangkit) atau mativator terhadap umat Islam, sehingga terpancar asal idealitas ajaran Islam yg dianalisa serta dikembangkan oelh lembaga tadi.

Justru lembaga pendidikan tadi dapat menyiapkan subjek didik yang unggul, menggunakan kriteria sekurang-kurangnya menjadi berikut: pertama, harus berdedikasi dan berdisiplin yg tinggi, yaitu mempunyai rasa pengabdian terhadap tugas serta pekerjaannya. Kedua, insan unggul wajib mempunyai sifat amanah, yaitu dapat bekerja sama (pada suatu networking) dengan orang lain. Ketiga, insan atau subjek didik yg unggul haruslah inovatif, yaitu dia selalu mengadakan kompetisi, sebagai akibatnya selalu mencari yang lain. Keempat, manusia atau subjek didik unggul harus tekun, yaitu melaksanakan dan memfokuskan aktivitas yang sedang dihadapi. Kelima, subjek didik yg unggul haruslah giat, yaitu perilaku tekun yang suatu dedikasi terhadap pekerjaannya dalam mencari yg lebih baik. Keenam, subjek didik ungguk harus mampu mengendalikan dirinya.

Justru ini buat mencapai keunggulan serta kemajuaan subjek didik secara baik serta paripurna, maka harus dilaksanakan serta diusahakan, yaitu kedisiplinan yg tinggi, kejujuran, giat, inovatif, dan kreati dalam mencari banyak sekali ilmu pengetahuan yg lebih maju lantaran akan mengalami perubahan serta tantangan pada hayati. Dengan demikian forum-forum pendidikan Islam mengalami tantangan dan hambatannya dalam melaksanakan fungsi serta tugasnya.