ANALISIS FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN KAS DI BEJ

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dividen Kas Di Bej 
Kebijakan bidang keuangan yang dijalankan perusahaan harus selaras dan harmonis dengan tujuan maksimalisasi keuntungan yang merupakan tujuan primer dari perusahaan. Salah satu kebijakan yg primer buat memaksimalisasi keuntungan perusahaan adalah kegiatan investasi. Dalam kegiatan investasi manajer wajib mengalokasikan dana ke pada bentuk investasi yg bisa membentuk keuntungan dimasa depan. Dalam aktivitas investasi tadi perlu mempertimbangkan sumber pendanaan investasi tadi apakah berdasarkan asal internal atau menurut sumber eksternal sebagai akibatnya keuntungan yang didapatkan mampu aporisma. 

Kebijakan investasi berhubungan dengan pendanaan jika investasi sebagian akbar didanai menggunakan internal equity maka akan mensugesti besarnya dividen yang dibagikan. Semakin akbar investasi maka semakin berkurang dividen yg dibagikan. Dan jika dana internal equity kurang mencukupi menurut dana yang diharapkan buat investasi maka mampu dipenuhi menurut external khususnya berdasarkan utang. Perusahaan yang cenderung memakai sumber dana eksternal buat mendanai tambahan investasi akan memberikan dividen yg lebih akbar. Untuk itulah manajer wajib dapat memilih kebijakan dividen yg memberikan keuntungan pada investor, disisi lain harus menjalankan perusahaan menggunakan tingkat pertumbuhan yg diharapkan. Pembagian dividen bertujuan buat memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau nilai perusahaan yang ditunjukkan dengan nilai saham. Untuk mencapai tujuan tersebut melibatkan dua pihak yang berkepentingan pada pembagian dividen yaitu investor serta emiten. 

Dari sisi emiten, sangat penting buat memilih apakah sebagian keuntungan yg dimiliki sang perusahaan akan lebih poly dipakai buat membayar dividen dibandingkan dengan retained earning atau justru sebaliknya. Jika proporsi laba yg dibagikan menjadi dividen lebih akbar dari laba ditahan, akibatnya adalah dana internal yg dimiliki perusahaan turun, dan perusahaan perlu mencari dana berdasarkan luar perusaahaaan bila perusahaan ingin melakukan ekspansi. Penentuan pembagian pendapatan antara penggunaan pendapatan buat dibayarkan pada para pemegang saham menjadi dividen atau buat dipakai pada pada perusahaan diklaim menggunakan politik dividen atau kebijakan dividen. 

Setiap perusahaan memiliki tujuan serta target tertentu yg berlainan yaitu memaksimalkan nilai perusahaan yang dapat diukur dari harga saham perusahaan yg bersangkutan. Untuk mendukung tujuan tersebut, perusahaan harus melakukan beberapa kebijakan. Salah satu kebijakan krusial yang harus dilaksanakan manajemen pada menyeimbangkan kepentingannya dengan kepentingan pemegang saham adalah kebijakan dividen. Kebijakan pada pembagian dividen masih sebagai masalah kontroversi, karena apakah pemegang saham lebih senang perusahaan membagikan laba sebagai cash dividend atau perusahaan membeli pulang saham atau menggunakan pulang laba itu pada operasi atau biasa disebut sebagai laba ditahan. Dividen diberikan sesudah menerima persetujuan berdasarkan pemegang saham tersebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

Salah satu faktor yg cukup memilih dalam laporan keuangan perusahaan merupakan kebijakan cash dividend perusahaan pada akhir tahun. Hal ini ditimbulkan karena para investor ingin mengetahui berapa akbar cash dividend yg akan mereka terima, apabila mereka melihat pendapatan yg dapat mereka terima termasuk menguntungkan, maka investor tidak akan ragu buat menginvestasikan modal mereka dalam perusahaan tersebut (Siahaan, 2003). Dividen yang paling generik dibagikan perusahaan merupakan cash dividend. Cash dividend merupakan dividen yg diberikan emiten pada pemegang saham dalam bentuk uang tunai (Darmaji serta Fakhruddin, 2001). Oleh karenanya, manajemen perusahaan perlu mempertimbangkan aneka macam faktor yg mensugesti keputusan tentang pembayaran cash dividend supaya tercapai suatu kebijakan dividen yang optimal. 

Ross (1997) mendefinisikan dividen menjadi pembayaran kepada pemilik perusahaan yg diambil menurut keuntungan perusahaan, baik dalam bentuk saham juga tunai. Pembayaran dividen pada bentuk tunai (kas) lebih poly diinginkan investor daripada pada bentuk lain, karena pembayaran cash dividend membantu mengurangi ketidakpastian investor dalam aktivitas investasinya didalam perusahaan. Dalam kaitannya menggunakan pendapatan dividen, para investor dalam umumnya menginginkan pembagian dividen yg relatif stabil atau semakin meningkat berdasarkan saat ke saat, lantaran dengan stabilitas dividen tersebut dapat menaikkan kepercayaan terhadap perusahaan, sehingga mengurangi unsur ketidakpastian pada investasi (Ang, 1997). Seorang manajer keuangan bertugas mengelola keuangan suatu perusahaan, bagaimana memperoleh sumber dana dan menggunakannya. Dalam menjalankan tugasnya, manajer keuangan akan berhadapan menggunakan salah satu kebijakan keuangan yaitu kebijakan dividen (dividend policy). Dalam kebijakan dividen manajer keuangan akan dihadapkan pada keputusan penggunaan keuntungan yg diperoleh akan dibagikan pada bentuk dividen atau ditahan buat keperluan tambahan investasi atau kombinasi keduanya (Yuniningsih, 2002). 

Kebijakan cash dividend sebuah perusahaan mempunyai efek penting bagi banyak pihak yg terlibat di rakyat (Suherli, 2004). Bagi para pemegang saham atau investor, cash dividend merupakan tingkat pengembalian investasi mereka berupa kepemilikan saham yg diterbitkan perusahaan lain. Bagi pihak manajemen, cash dividend merupakan arus kas keluar yg mengurangi kas perusahaan. Perusahaan yang memiliki kemampuan membayar dividen diasumsikan rakyat menjadi perusahaan yang menguntungkan. Tetapi pertimbangan sebagai semakin rumit jika kepentingan aneka macam pihak diakomodasi. Di satu sisi terdapat pihak yang cenderung berharap pembayaran dividen lebih besar atau sebaliknya. Sederhana saja, umumnya pihak manajemen menunda kas buat melunasi hutang atau menaikkan investasi. Maksudnya pengurangan hutang akan mengurangi cash outflow berupa interest expense atau investasi dapat memberikan pengembalian berupa cash inflow bagi perusahaan. Di sisi lain, pemegang saham mengharapkan cash dividend dalam jumlah relatif besar karena ingin menikmati output investasi pada saham perusahaan. Pemegang saham berusaha menjaga supaya pihak manajemen nir terlalu banyak memegang kas lantaran kas yg banyak akan menstimulus pihak manajemen untuk menikmati kas tadi bagi kepentingannya sendiri (Suharli serta Oktorina, 2005). 

Faktor penentu kebijakan cash dividend menjadi sedemikian rumit dan menempatkan pihak manajemen (pula pemegang saham) pada posisi yang dilematis (Suherli serta Harahap, 2004). Dari sedemikian faktor, sulit sekali menyimpulkan mana yang paling mayoritas mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan. Beberapa penelitian mengenai faktor penentu kebijakan dividen telah dilakukan diantaranya sang Parthington (1989) dalam penelitiannya menerangkan beberapa variabel yang menghipnotis penentuan dividen, yaitu: (1) profitabilitas, (2) stabilitas dividen serta earning, (3) likuiditas dan cash flow, (4) investasi, serta (lima) pembiayaan. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba merupakan indikator utama menurut kemampuan perusahaan buat membayar dividen, sebagai akibatnya profitabilitas menjadi faktor penentu terpenting terhadap dividen (Litner, 1956) (dalam Parthington,1989). 

Dividen bergantung pada cash position, yang mencerminkan kemampuan buat membayar dividen, dibanding dalam keuntungan yang sangat ditentukan sang praktik akuntansi serta hal-hal lain yang tidak mencerminkan kemampuan buat membayar dividen. Keputusan dividen bisa mensugesti secara signifikan kebutuhan pembiayaan eksternal perusahaan. Dengan istilah lain, bila perusahaan membutuhkan pembiayaan, maka semakin akbar cash dividend yang dibayarkan semakin besar jumlah pembiayaan yg harus diperoleh pada eksternal melalui pinjaman atau penjualan saham. Pembagian cash dividend pada para pemegang saham adalah perbandingan antara dividen yang diusulkan perusahaan dengan laba higienis sesudah pajak. 

Para pemegang saham akan membutuhkan liputan keuangan untuk memilih besarnya dividen yang akan diterima dalam periode eksklusif. Informasi tadi disajikan melalui laporan keuangan perusahaan yg disusun sinkron menggunakan prinsip-prinsip akuntansi dan mencerminkan kinerja keuangan emiten yang ditunjukkan sang rasio-rasio keuangan. Salah satunya adalah debt to equity ratio yaitu rasio yg dipakai buat menilai perusahaan pada meminjam uang untuk melakukan kegiatan operasi serta investasi. Pembagian dividen dalam perusahaan juga dipengaruhi oleh hutang. Jika perusahaan memperoleh hutang baru buat membiayai ekspansi perusahaan, maka sebelumnya perusahaan wajib sudah lebih dahulu merencanakan bagaimana caranya buat membayar kembali hutang tersebut. Jika perusahaan mempunyai kebijakan pelunasan hutang berdasarkan dana sendiri yang asal dari keuntungan, maka perusahaan harus menunda sebagian besar pendapatannya untuk keperluan itu yang berarti akan dapat mengurangi jumlah laba yg bisa dibagikan sebagai cash dividend. Dengan istilah lain perusahaan harus membagikan dividen yang rendah.

Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia nir semuanya membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya, baik itu dalam cash dividend maupun dividen saham. Hal tadi ditimbulkan lantaran adanya pertimbangan-pertimbangan yg tidak selaras pada menciptakan keputusan kebijakan dan pembayaran dividen pada setiap perusahaan. Sektor manufaktur merupakan sektor yang paling poly membagikan dividen kepada pemegang saham. 

Cash Dividend
Setiap perusahaan selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan tadi pada satu pihak serta pula bisa membayarkan dividen pada para pemegang saham di lain pihak, namun ke 2 tujuan tersebut selalu bertentangan. Sebab bila makin tinggi taraf dividen yang dibayarkan, berarti semakin sedikit keuntungan yang ditahan, dan menjadi akibatnya merupakan Mengganggu tingkat pertumbuhan (rate of growth) dalam pendapatan dan harga sahamnya. Kalau perusahaan ingin menunda sebagian akbar berdasarkan pendapatannya permanen didalam perusahaan, berarti bahwa bagian menurut pendapatan yang tersedia buat pembayaran dividen adalah semakin mini . Persentase berdasarkan pendapatan yang akan dibayarkan pada pemegang saham menjadi “cash dividend” dianggap dividend payout ratio. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin tingginya dividend payout ratio yang ditetapkan oleh perusahaan berarti makin mini dana yang tersedia buat ditanamkan balik pada dalam perusahaan yg ini berarti akan menghambat pertumbuhan perusahaan (Riyanto, 2001:266). 

Cash dividend sangat diharapkan oleh para pemegang saham, lantaran cash dividend merupakan pengembalian utama yg akan memilih nilai saham bagi para pemilik serta investor. Menurut Riyanto (2001) mendefinisikan cash dividend merupakan aliran kas yg dibayarkan kepada para pemegang saham atau equity investor. 

Menurut Darmaji serta Fakhrudin (2001) mendefinisikan cash dividend adalah dividen yg diberikan emiten ke pemegang saham pada bentuk uang tunai. Sedangkan berdasarkan Sundjaja dan Barlian (2003) mendefinisikan cash dividend artinya pada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu buat setiap saham. 

Pembagian cash dividend pada para pemegang saham merupakan perbandingan antara dividen yang diusulkan perusahaan menggunakan laba bersih sehabis pajak (Baridwan, 2003). Besar kecilnya dividen yang dibagikan tergantung menurut pembatasan-restriksi sang undang-undang, kontrak-kontrak menurut jumlah uang tunai yg dimiliki dan tersedia pada perusahaan. 

Cash dividend atau dengan istilah lain distribusi laba pada bentuk kas oleh sebuah korporasi pada pemegang sahamnya. Walaupun dividen itu dapat dibayarkan pada bentuk aktiva lainnya, tetapi cash dividend adalah bentuk yg paling generik. Biasanya sebuah korporasi harus memenuhi 3 syarat terlebih dahulu agar dapat membayar cash dividend:
1. Laba ditahan yg mencukupi
2. Kas yang memadai
3. Tindakan formal menurut dewan komisaris

Laba ditahan yang tinggi nir selalu berarti sebuah korporasi sanggup membayar cash dividend. Dewan komisaris sebuah korporasi tidak diwajibkan sang undang-undang buat mengumumkan dividen. Hal ini berlaku bahkan apabila saldo keuntungan ditahan juga kas relatif tinggi. Namun, sebagian akbar korporasi mencoba mempertahankan catatan dividen yang stabil dalam rangka menciptakan saham mereka menarik bagi para investor. Walaupun dividen bisa dibayarkan sekali setahun atau secara setengah tahunan, tetapi sebagian akbar korporasi membayar dividen secara kuartalan. Dalam tahun-tahun yang labanya tinggi, korporasi mungkin mengumumkan dividen spesifik atau ekstra. 

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa cash dividend adalah bagian laba yg dibagikan pada pemegang saham pada bentuk uang. Biasanya dividen dibagikan menggunakan interval ketika yg permanen, tetapi kadang-kadang diadakan pembagian dividen tambahan dalam waktu yg bukan umumnya. 

Cash Position
Umumnya, pihak manajemen cenderung menunda kas buat melunasi kewajiban serta melakukan investasi. Jika kondisinya misalnya ini, jumlah dividen yg akan dibayarkan menjadi nisbi mini . Sementara itu, pada pihak pemegang saham tentu saja menginginkan jumlah dividen kas yg tinggi sebagai hasil dari modal yg mereka investasikan. 

Cash Position suatu perusahaan adalah faktor yang penting yang harus dipertimbangkan, sebelum membuat keputusan buat memilih besarnya dividen yang akan dibayarkan pada para pemegang saham. Pembayaran dividen merupakan arus kas keluar, sehingga semakin kuat cash position perusahaan, berarti semakin besar kemampuannya buat membayar dividen. Cash position dihitung berdasarkan perbandingan antara saldo kas akhir tahun menggunakan keuntungan bersih sesudah pajak (Stanley serta Geoffrey,1987). 

Cash position perusahaan adalah faktor yang krusial yg wajib dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan buat menetapkan besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Oleh lantaran dividen adalah “cash outflow”, maka makin kuat cash position perusahaan, berarti makin akbar kemampuan perusahaan buat membayar dividen (Riyanto, 2001:267). Cash position adalah rasio kas akhir tahun menggunakan earnings after tax. Bagi perusahaan yg mempunyai cash position yang semakin kuat akan semakin besar kemampuannya untuk membayar dividen. Faktor ini adalah faktor internal yang dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga pengaruhnya bisa dirasakan secara langsung bagi kebijakan dividen (Sudarsi 2002:79).

Debt to Equity Ratio
Debt to equity ratio adalah indikator menurut proporsi hutang perusahaan terhadap investasi pemegang saham. Debt to equity ratio ini mencerminkan resiko keuangan perusahaan yg ditempatkan pada pemegang saham sebagai hasil menurut financial leverage-nya. Debt to equity ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, yg ditunjukkan sang berapa bagian kapital sendiri yang dipakai buat membayar hutang. Oleh karena itu semakin rendah DER akan meningkat kemampuan perusahaan buat membayar semua kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang digunakan buat struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar juga kewajibannya. 

Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya keuntungan higienis yg tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yang akan diterima, karena kewajiban tadi lebih diprioritaskan daripada pembagian dividen. Jika beban hutang semakin tinggi, maka kemampuan perusahaan untuk membagi dividen akan semakin rendah. Debt to equity ratio dihitung menggunakan total hutang dibagi total ekuitas pemegang saham. 

Debt to equity ratio merupakan rasio yg digunakan buat mengukur tingkat leverage (penggunaan utang) terhadap total shareholders’ equity yg dimiliki perusahaan (Ang, 1997:18.35). Faktor ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya yg ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang dipakai buat membayar hutang. Semakin besar rasio ini menerangkan semakin akbar kewajibannya dan rasio yang semakin rendah akan memberitahuakn semakin tinggi kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya. Apabila perusahaan menentukan bahwa pelunasan utangnya akan diambilkan menurut laba ditahan, berarti perusahaan wajib menahan sebagian besar berdasarkan pendapatannya untuk keperluan tadi, yang ini berarti hanya sebagian kecil saja yang pendapatan yg bisa dibayarkan menjadi dividen (Riyanto, 2001:267). Peningkatan utang ini akan mempengaruhi taraf pendapatan bersih yg tersedia bagi pemegang saham, adalah semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan membayar dividen (Sudarsi, 2002:80).

Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yg menjual produknya yg dimulai dengan proses produksi yang nir terputus nilai dari pembelian bahan baku dilanjutkan dengan proses pengolahan bahan standar serta menjadi produk yg siap dijual dilakukan sendiri oleh perusahaan tadi sebagai akibatnya asal dana yang ada akan terikat usang pada aktiva tetap. Perusahaan manufaktur lebih membutuhkan sumber dana jangka panjang buat membiayai operasi perusahaan mereka keliru satunya menggunakan investasi saham yang tentunya herbi pembagian dividen. 

Peneliti menentukan perusahaan manufaktur untuk menghindarkan perbedaan ciri antara perusahaan manufaktur dan perusahaan non manufaktur dari jumlah perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia, pada dasarnya terdapat dua tanggal pengumuman yaitu tanggal pengumuman pada Bursa Efek Indonesia dan tanggal pengumuman di media massa. Data pada lepas pengumuman dividen pada media massa sulit diperoleh. 

Disamping itu, perusahaan manufaktur yg terdaftar di Bursa Efek Indonesia lebih poly dibanding sektor-sektor lain, lantaran kemampuan analisis dalam suatu sektor dibutuhkan dapat membuat simpulan yg dapat dibandingkan antara satu perusahaan menggunakan perusahaan lainnya, perusahaan manufaktur memiliki kriteria pengungkapan yang lebih sederhana dibandingkan dengan perusahaan perbankan. Peran dan perusahaan manufaktur pada perekonomian pada Indonesia menempati posisi yang mayoritas. Perusahaan manufaktur adalah sektor yg relatif berprospek buat kegiatan berinvestasi karena harga saham perusahaan manufaktur stabil bahkan beranjak naik dalam tahun 2009. 

ANALISIS FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN KAS DI BEJ

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dividen Kas Di Bej 
Kebijakan bidang keuangan yg dijalankan perusahaan harus selaras dan harmonis dengan tujuan maksimalisasi keuntungan yg merupakan tujuan primer menurut perusahaan. Salah satu kebijakan yg primer buat memaksimalisasi laba perusahaan merupakan aktivitas investasi. Dalam kegiatan investasi manajer wajib mengalokasikan dana ke dalam bentuk investasi yang dapat membentuk laba dimasa depan. Dalam aktivitas investasi tersebut perlu mempertimbangkan sumber pendanaan investasi tersebut apakah dari asal internal atau dari asal eksternal sehingga keuntungan yang didapatkan bisa aporisma. 

Kebijakan investasi berhubungan dengan pendanaan jika investasi sebagian besar didanai menggunakan internal equity maka akan menghipnotis besarnya dividen yg dibagikan. Semakin besar investasi maka semakin berkurang dividen yang dibagikan. Dan jika dana internal equity kurang mencukupi menurut dana yg dibutuhkan untuk investasi maka bisa dipenuhi berdasarkan external khususnya menurut utang. Perusahaan yang cenderung memakai asal dana eksternal buat mendanai tambahan investasi akan menunjukkan dividen yg lebih akbar. Untuk itulah manajer harus dapat menentukan kebijakan dividen yg menaruh keuntungan kepada investor, disisi lain wajib menjalankan perusahaan dengan taraf pertumbuhan yang diperlukan. Pembagian dividen bertujuan buat memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau nilai perusahaan yg ditunjukkan menggunakan nilai saham. Untuk mencapai tujuan tersebut melibatkan 2 pihak yg berkepentingan pada pembagian dividen yaitu investor dan emiten. 

Dari sisi emiten, sangat krusial buat menentukan apakah sebagian laba yang dimiliki sang perusahaan akan lebih banyak digunakan buat membayar dividen dibandingkan menggunakan retained earning atau justru sebaliknya. Jika proporsi laba yg dibagikan sebagai dividen lebih akbar menurut keuntungan ditahan, akibatnya merupakan dana internal yg dimiliki perusahaan turun, dan perusahaan perlu mencari dana menurut luar perusaahaaan apabila perusahaan ingin melakukan ekspansi. Penentuan pembagian pendapatan antara penggunaan pendapatan buat dibayarkan pada para pemegang saham sebagai dividen atau buat digunakan pada pada perusahaan dianggap dengan politik dividen atau kebijakan dividen. 

Setiap perusahaan memiliki tujuan serta sasaran eksklusif yang berlainan yaitu memaksimalkan nilai perusahaan yg bisa diukur dari harga saham perusahaan yg bersangkutan. Untuk mendukung tujuan tadi, perusahaan harus melakukan beberapa kebijakan. Salah satu kebijakan penting yg harus dilaksanakan manajemen dalam menyeimbangkan kepentingannya menggunakan kepentingan pemegang saham merupakan kebijakan dividen. Kebijakan dalam pembagian dividen masih menjadi masalah kontroversi, lantaran apakah pemegang saham lebih suka perusahaan membagikan keuntungan menjadi cash dividend atau perusahaan membeli balik saham atau menggunakan kembali laba itu dalam operasi atau biasa disebut menjadi keuntungan ditahan. Dividen diberikan sesudah mendapat persetujuan berdasarkan pemegang saham tersebut pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

Salah satu faktor yg cukup memilih pada laporan keuangan perusahaan merupakan kebijakan cash dividend perusahaan pada akhir tahun. Hal ini ditimbulkan karena para investor ingin mengetahui berapa akbar cash dividend yang akan mereka terima, bila mereka melihat pendapatan yang bisa mereka terima termasuk menguntungkan, maka investor nir akan ragu buat menginvestasikan kapital mereka pada perusahaan tersebut (Siahaan, 2003). Dividen yang paling generik dibagikan perusahaan merupakan cash dividend. Cash dividend adalah dividen yg diberikan emiten kepada pemegang saham pada bentuk uang tunai (Darmaji serta Fakhruddin, 2001). Oleh karena itu, manajemen perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai faktor yg menghipnotis keputusan tentang pembayaran cash dividend agar tercapai suatu kebijakan dividen yang optimal. 

Ross (1997) mendefinisikan dividen menjadi pembayaran pada pemilik perusahaan yang diambil menurut keuntungan perusahaan, baik dalam bentuk saham maupun tunai. Pembayaran dividen pada bentuk tunai (kas) lebih banyak diinginkan investor daripada pada bentuk lain, karena pembayaran cash dividend membantu mengurangi ketidakpastian investor pada kegiatan investasinya didalam perusahaan. Dalam kaitannya dengan pendapatan dividen, para investor pada umumnya menginginkan pembagian dividen yang relatif stabil atau semakin semakin tinggi dari waktu ke ketika, lantaran dengan stabilitas dividen tadi bisa meningkatkan agama terhadap perusahaan, sehingga mengurangi unsur ketidakpastian dalam investasi (Ang, 1997). Seorang manajer keuangan bertugas mengelola keuangan suatu perusahaan, bagaimana memperoleh asal dana dan menggunakannya. Dalam menjalankan tugasnya, manajer keuangan akan berhadapan dengan galat satu kebijakan keuangan yaitu kebijakan dividen (dividend policy). Dalam kebijakan dividen manajer keuangan akan dihadapkan pada keputusan penggunaan laba yg diperoleh akan dibagikan dalam bentuk dividen atau ditahan buat keperluan tambahan investasi atau kombinasi keduanya (Yuniningsih, 2002). 

Kebijakan cash dividend sebuah perusahaan memiliki dampak penting bagi poly pihak yg terlibat pada masyarakat (Suherli, 2004). Bagi para pemegang saham atau investor, cash dividend adalah taraf pengembalian investasi mereka berupa kepemilikan saham yang diterbitkan perusahaan lain. Bagi pihak manajemen, cash dividend adalah arus kas keluar yg mengurangi kas perusahaan. Perusahaan yang memiliki kemampuan membayar dividen diasumsikan rakyat sebagai perusahaan yg menguntungkan. Tetapi pertimbangan sebagai semakin rumit jika kepentingan berbagai pihak diakomodasi. Di satu sisi ada pihak yang cenderung berharap pembayaran dividen lebih akbar atau kebalikannya. Sederhana saja, umumnya pihak manajemen menahan kas buat melunasi hutang atau menaikkan investasi. Maksudnya pengurangan hutang akan mengurangi cash outflow berupa interest expense atau investasi dapat menaruh pengembalian berupa cash inflow bagi perusahaan. Di sisi lain, pemegang saham mengharapkan cash dividend dalam jumlah relatif besar karena ingin menikmati output investasi dalam saham perusahaan. Pemegang saham berusaha menjaga supaya pihak manajemen tidak terlalu poly memegang kas karena kas yang poly akan menstimulus pihak manajemen buat menikmati kas tersebut bagi kepentingannya sendiri (Suharli serta Oktorina, 2005). 

Faktor penentu kebijakan cash dividend menjadi sedemikian rumit serta menempatkan pihak manajemen (juga pemegang saham) pada posisi yang dilematis (Suherli serta Harahap, 2004). Dari sedemikian faktor, sulit sekali menyimpulkan mana yang paling secara umum dikuasai menghipnotis kebijakan dividen perusahaan. Beberapa penelitian mengenai faktor penentu kebijakan dividen sudah dilakukan antara lain sang Parthington (1989) pada penelitiannya menerangkan beberapa variabel yg mempengaruhi penentuan dividen, yaitu: (1) profitabilitas, (dua) stabilitas dividen dan earning, (3) likuiditas dan cash flow, (4) investasi, serta (5) pembiayaan. Kemampuan perusahaan pada memperoleh keuntungan merupakan indikator utama dari kemampuan perusahaan buat membayar dividen, sehingga profitabilitas menjadi faktor penentu terpenting terhadap dividen (Litner, 1956) (dalam Parthington,1989). 

Dividen bergantung dalam cash position, yg mencerminkan kemampuan buat membayar dividen, dibanding dalam keuntungan yg sangat ditentukan sang praktik akuntansi dan hal-hal lain yang tidak mencerminkan kemampuan buat membayar dividen. Keputusan dividen dapat menghipnotis secara signifikan kebutuhan pembiayaan eksternal perusahaan. Dengan istilah lain, apabila perusahaan membutuhkan pembiayaan, maka semakin besar cash dividend yg dibayarkan semakin akbar jumlah pembiayaan yang wajib diperoleh di eksternal melalui pinjaman atau penjualan saham. Pembagian cash dividend kepada para pemegang saham merupakan perbandingan antara dividen yg diusulkan perusahaan dengan laba higienis selesainya pajak. 

Para pemegang saham akan membutuhkan berita keuangan buat memilih besarnya dividen yg akan diterima pada periode eksklusif. Informasi tersebut disajikan melalui laporan keuangan perusahaan yang disusun sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi dan mencerminkan kinerja keuangan emiten yang ditunjukkan sang rasio-rasio keuangan. Salah satunya adalah debt to equity ratio yaitu rasio yang digunakan buat menilai perusahaan pada meminjam uang untuk melakukan aktivitas operasi dan investasi. Pembagian dividen dalam perusahaan pula dipengaruhi oleh hutang. Apabila perusahaan memperoleh hutang baru buat membiayai perluasan perusahaan, maka sebelumnya perusahaan wajib sudah lebih dahulu merencanakan bagaimana caranya buat membayar pulang hutang tadi. Jika perusahaan mempunyai kebijakan pelunasan hutang dari dana sendiri yg dari berdasarkan laba, maka perusahaan wajib menahan sebagian besar pendapatannya buat keperluan itu yg berarti akan bisa mengurangi jumlah keuntungan yang dapat dibagikan menjadi cash dividend. Dengan kata lain perusahaan wajib menunjukkan dividen yang rendah.

Perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tidak semuanya membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya, baik itu pada cash dividend maupun dividen saham. Hal tersebut disebabkan karena adanya pertimbangan-pertimbangan yang tidak selaras dalam membuat keputusan kebijakan serta pembayaran dividen pada setiap perusahaan. Sektor manufaktur adalah sektor yang paling banyak menunjukkan dividen pada pemegang saham. 

Cash Dividend
Setiap perusahaan selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan tersebut pada satu pihak serta pula dapat membayarkan dividen pada para pemegang saham pada lain pihak, tetapi kedua tujuan tadi selalu bertentangan. Sebab jika makin tinggi tingkat dividen yg dibayarkan, berarti semakin sedikit laba yg ditahan, dan sebagai akibatnya merupakan merusak tingkat pertumbuhan (rate of growth) pada pendapatan dan harga sahamnya. Kalau perusahaan ingin menahan sebagian besar dari pendapatannya tetap didalam perusahaan, berarti bahwa bagian berdasarkan pendapatan yg tersedia buat pembayaran dividen merupakan semakin mini . Persentase dari pendapatan yang akan dibayarkan pada pemegang saham menjadi “cash dividend” diklaim dividend payout ratio. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin tingginya dividend payout ratio yang ditetapkan sang perusahaan berarti makin kecil dana yang tersedia buat ditanamkan kembali di pada perusahaan yang ini berarti akan menghambat pertumbuhan perusahaan (Riyanto, 2001:266). 

Cash dividend sangat dibutuhkan sang para pemegang saham, lantaran cash dividend adalah pengembalian primer yg akan memilih nilai saham bagi para pemilik dan investor. Menurut Riyanto (2001) mendefinisikan cash dividend merupakan genre kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham atau equity investor. 

Menurut Darmaji serta Fakhrudin (2001) mendefinisikan cash dividend merupakan dividen yang diberikan emiten ke pemegang saham dalam bentuk uang tunai. Sedangkan dari Sundjaja serta Barlian (2003) mendefinisikan cash dividend artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu buat setiap saham. 

Pembagian cash dividend kepada para pemegang saham merupakan perbandingan antara dividen yang diusulkan perusahaan menggunakan keuntungan higienis selesainya pajak (Baridwan, 2003). Besar kecilnya dividen yg dibagikan tergantung dari pembatasan-restriksi sang undang-undang, kontrak-kontrak dari jumlah uang tunai yang dimiliki dan tersedia dalam perusahaan. 

Cash dividend atau menggunakan kata lain distribusi keuntungan pada bentuk kas sang sebuah korporasi kepada pemegang sahamnya. Walaupun dividen itu bisa dibayarkan pada bentuk aktiva lainnya, tetapi cash dividend merupakan bentuk yang paling umum. Biasanya sebuah korporasi wajib memenuhi 3 syarat terlebih dahulu supaya dapat membayar cash dividend:
1. Laba ditahan yang mencukupi
2. Kas yang memadai
3. Tindakan formal berdasarkan dewan komisaris

Laba ditahan yg tinggi tidak selalu berarti sebuah korporasi bisa membayar cash dividend. Dewan komisaris sebuah korporasi nir diwajibkan oleh undang-undang buat mengumumkan dividen. Hal ini berlaku bahkan apabila saldo laba ditahan maupun kas relatif tinggi. Namun, sebagian besar korporasi mencoba mempertahankan catatan dividen yg stabil dalam rangka membuat saham mereka menarik bagi para investor. Walaupun dividen mampu dibayarkan sekali setahun atau secara setengah tahunan, tetapi sebagian akbar korporasi membayar dividen secara kuartalan. Dalam tahun-tahun yang labanya tinggi, korporasi mungkin mengumumkan dividen khusus atau ekstra. 

Berdasarkan beberapa definisi di atas bisa disimpulkan bahwa cash dividend merupakan bagian keuntungan yg dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk uang. Biasanya dividen dibagikan menggunakan interval ketika yg permanen, namun kadang-kadang diadakan pembagian dividen tambahan dalam saat yg bukan umumnya. 

Cash Position
Umumnya, pihak manajemen cenderung menahan kas buat melunasi kewajiban serta melakukan investasi. Apabila kondisinya misalnya ini, jumlah dividen yg akan dibayarkan sebagai nisbi mini . Sementara itu, di pihak pemegang saham tentu saja menginginkan jumlah dividen kas yg tinggi sebagai hasil dari kapital yang mereka investasikan. 

Cash Position suatu perusahaan merupakan faktor yang krusial yg harus dipertimbangkan, sebelum menciptakan keputusan buat memilih besarnya dividen yg akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Pembayaran dividen merupakan arus kas keluar, sehingga semakin bertenaga cash position perusahaan, berarti semakin besar kemampuannya buat membayar dividen. Cash position dihitung dari perbandingan antara saldo kas akhir tahun menggunakan keuntungan higienis sesudah pajak (Stanley dan Geoffrey,1987). 

Cash position perusahaan adalah faktor yg penting yang harus dipertimbangkan sebelum merogoh keputusan buat tetapkan besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Oleh lantaran dividen merupakan “cash outflow”, maka makin kuat cash position perusahaan, berarti makin besar kemampuan perusahaan buat membayar dividen (Riyanto, 2001:267). Cash position adalah rasio kas akhir tahun menggunakan earnings after tax. Bagi perusahaan yg mempunyai cash position yang semakin kuat akan semakin besar kemampuannya buat membayar dividen. Faktor ini adalah faktor internal yg dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga pengaruhnya bisa dirasakan secara pribadi bagi kebijakan dividen (Sudarsi 2002:79).

Debt to Equity Ratio
Debt to equity ratio merupakan indikator dari proporsi hutang perusahaan terhadap investasi pemegang saham. Debt to equity ratio ini mencerminkan resiko keuangan perusahaan yang ditempatkan pada pemegang saham menjadi hasil dari financial leverage-nya. Debt to equity ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, yg ditunjukkan sang berapa bagian kapital sendiri yg dipakai buat membayar hutang. Oleh karenanya semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang digunakan buat struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar jua kewajibannya. 

Peningkatan hutang dalam gilirannya akan mensugesti akbar kecilnya keuntungan higienis yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yg akan diterima, lantaran kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividen. Jika beban hutang semakin tinggi, maka kemampuan perusahaan buat membagi dividen akan semakin rendah. Debt to equity ratio dihitung dengan total hutang dibagi total ekuitas pemegang saham. 

Debt to equity ratio adalah rasio yg digunakan buat mengukur tingkat leverage (penggunaan utang) terhadap total shareholders’ equity yg dimiliki perusahaan (Ang, 1997:18.35). Faktor ini mencerminkan kemampuan perusahaan pada memenuhi seluruh kewajibannya yg ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang dipakai buat membayar hutang. Semakin akbar rasio ini memperlihatkan semakin besar kewajibannya dan rasio yang semakin rendah akan menerangkan semakin tinggi kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya. Apabila perusahaan menentukan bahwa pelunasan utangnya akan diambilkan menurut laba ditahan, berarti perusahaan harus menunda sebagian akbar berdasarkan pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang ini berarti hanya sebagian kecil saja yang pendapatan yang dapat dibayarkan sebagai dividen (Riyanto, 2001:267). Peningkatan utang ini akan menghipnotis taraf pendapatan higienis yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan membayar dividen (Sudarsi, 2002:80).

Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yg menjual produknya yg dimulai menggunakan proses produksi yg nir terputus nilai menurut pembelian bahan standar dilanjutkan menggunakan proses pengolahan bahan standar dan sebagai produk yang siap dijual dilakukan sendiri sang perusahaan tersebut sebagai akibatnya asal dana yang terdapat akan terikat lama dalam aktiva tetap. Perusahaan manufaktur lebih membutuhkan sumber dana jangka panjang buat membiayai operasi perusahaan mereka salah satunya menggunakan investasi saham yang tentunya herbi pembagian dividen. 

Peneliti menentukan perusahaan manufaktur buat menghindarkan perbedaan ciri antara perusahaan manufaktur dan perusahaan non manufaktur menurut jumlah perusahaan yg terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dalam dasarnya ada dua lepas pengumuman yaitu lepas pengumuman di Bursa Efek Indonesia serta lepas pengumuman pada media massa. Data pada tanggal pengumuman dividen pada media massa sulit diperoleh. 

Disamping itu, perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia lebih banyak dibanding sektor-sektor lain, karena kemampuan analisis pada suatu sektor dibutuhkan dapat membuat simpulan yg dapat dibandingkan antara satu perusahaan menggunakan perusahaan lainnya, perusahaan manufaktur mempunyai kriteria pengungkapan yg lebih sederhana dibandingkan menggunakan perusahaan perbankan. Peran serta perusahaan manufaktur dalam perekonomian di Indonesia menempati posisi yang secara umum dikuasai. Perusahaan manufaktur adalah sektor yg cukup berprospek buat aktivitas berinvestasi karena harga saham perusahaan manufaktur stabil bahkan beranjak naik dalam tahun 2009. 

CRM TEKNOLOGI INFORMASI STRATEGI PADA DUNIA USAHA

CRM, Teknologi Informasi Strategi Pada Dunia Usaha 
Era keterangan (Information Age) waktu ini, telah banyak merubah lanskap bisnis pada seluruh bidang. Model usaha yg memiliki keunggulan kompetitif buat bersaing adalah model usaha yang menerapakan teknologi warta, yaitu suatu model bisnis dimana proses bisnisnya dilakukan secara elektronika atau digital melalui jaringan internet. Beberapa sistem aplikasi personal komputer yg sudah poly diterapkan di banyak sektor usaha (enterprise information system), nir terkecuali perhotelan adalah sistem ERP, CRM, ataupun juga SCM. 

CRM merupakan suatu piranti baru yang memiliki tujuan yg berorientasi pada kepuasan pelanggan. Konsep berdasarkan CRM merupakan buat mengenal, mengetahui dan menggali menurut apa yg dibutuhkan dari seseorang pelanggan atau konsumen berdasarkan perusahaan. Menurut Gartner Group, CRM adalah taktik usaha yg fokus dalam pelanggan yg dirancang buat mengoptimasi profitabiliti, revenue, dan customer satisfaction. 

Dengan CRM, perusahaan bisa menciptakan databases tentang pelanggan, yg akan mencatat profile pelanggan misalnya jenis pekerjaan, kesukaan, besarnya penghasilan, jumlah anggota famili. Informasi ini kemudian dapat dipergunakan buat membangun rekanan antara perusahaan menggunakan pelanggan, disampingantara pelanggan satu dengan yang lainnya. 

Di Indonesia pada umumnya atau pada Jogjakarta pada khususnya, saat ini terdapat banyak hotel, baik itu hotel berbintang juga hotel kelas melati. Persaingan diantara hotel-hotel ini demikian ketat, mulai dari pemberian bonus, misalnya potongan harga (discount), paket khusus buat pernikahan atau ulang tahun, dll. Perang tarifpun tidak dapat dihindarkan yang bisa berujung dalam persaingan nir sehat. Apalagi sesudah jumlah kunjungan wisata ke Jogjakarta menurun drastis setelah insiden bom bali beberapa tahun silam. 

Namun demikian, yg menjadi konflik merupakan tidak sekadar dalam jumlah kunjungan turis ke Jogjakarta yang berkurang, yg mengakibatkan tingkat okupansi dari kamar hotel menjadi menurun, namun jua lantaran disebabkan oleh faktor internal hotel, baik itu kasus personal maupun manajemen, ataupun kasus eksternal misalnya syarat lingkungan usaha dan lingkungan ekonomi yg mempengaruhinya. 

Oleh karenanya maka perlu diterapkan suatu strategi yg lebih baik dengan cara mengimplementasikan suatu produk teknologi komunikasi berita (baca infokom), yaitu suatu pelaksanaan CRM. Dengan aplikasi CRM, maka diperlukan akan terjalin rekanan yg lebih kuat diantara perusahaan serta pelanggan, dan dalam gilirannya sedikit demi sedikit loyalitas pelanggan dapat terbangun. Pelanggan yg loyal adalah cermin menurut kepuasan pelanggan, dimana pada waktu ini harga nir menjadi faktor yang primer bagi mereka, tetapi menjadi sesuatu yang relatif. 

Ruang Lingkup
Sekarang ini, hampir semua orang pada kalangan usaha mengungkapkan tentang CRM (Customer Relationship Management). Sebenarnya, CRM ini bukan merupakan hal yg baru pada global usaha.

Untuk lebih terarah penyusunan serta penulisan, topik yang dibahas meliputi:
  • Aplikasi CRM pada proses usaha hotel
  • Evaluasi masalah proses bisnis yg terdapat dalam Hotel menggunakan menggunakan Information Technology?
Tujuan serta Manfaat
Tujuan dari penelitian ini adalah buat mengetahui efektifitas CRM yg diterapkan hotel bagi pelanggan dan pula memberikan rekomendasi guna memaksimalkan tampilan informasi yg diberikan ke pelanggan.

Manfaat berdasarkan penelitian ini adalah buat mengetahui hasrat pelanggan serta pula untuk meng-improve Sistem Informasi yg telah berjalan.

Metodologi Penelitian
  • Metode Analisa
Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini merupakan menggunakan menganalisa dan mengidentifikasi masalah serta kebutuhan akan pelanggan menggunakan CRM sebagai evaluasi sistem fakta dalam hotel.
  • Metode Studi Kepustakaan
Metode pengumpulan informasi dipakai melalui studi artikel media internet serta buku-kitab surat keterangan yang dapat dijadikan sumber serta pedoman pada penyusunan penulisan ini.

Customer Relationship Management
a. Konsep CRM
CRM memiliki disparitas menggunakan menggunakan konsep pemasaran generik (mass marketing), dimana dalam konsep pemasaran merupakan bagaimana memasarkan produk secara masal pada konsumen dalam skala pasar homogen juga yang tersegmentasi.

Konsep CRM menekankan dalam pendekatan buat membentuk portofolio melalui jalinan bisnis yang terbentuk menggunakan pelanggan melalui interaksi, memberdayakan hubungan yang terbentuk, pembentukan jaringan, serta meningkatkan komunikasi pada rangka menumbuhkan loyalitas pelanggan. CRM juga mengedepankan sistem kerja sama antara perusahaan dengan pelanggan, dimana sistem ini tidak dimiliki oleh konsep pemasaran secara generik yang menekankan dalam penggunan media periklanan.

CRM mengintegrasikan penjualan, pemasaran, dan strategi pelayanan buat membangun koordinasi dan kerja sama berbasis pengetahuan dengan pelanggan buat kepentingan jangka panjang.

b. Definisi CRM
CRM didefinisikan menjadi suatu rangkaian contoh usaha yang tersusun secara sistematis, yg berfungsi buat mengintegrasikan serta mengotomatisasikan berbagai proses pelayanan pelanggan. CRM lebih menurut sekedar contoh bisnis, CRM dapat juga dipakai sebagai taktik bisnis. Strategi tadi dapat sebagai fungsi-fungsi dalam organisasi agar bisa mencapai tujuan perusahaan yaitu menaikkan keuntungan serta mengelola pelanggan buat mengoptimalkan long-term value.

Berikut ini adalah beberapa pendapat menurut para ahli mengenai CRM :
1. Kalakota serta Robinson (2001, p172)
Customer Relationship Management didefinisikan menjadi suatu fungsi terintegrasi yg terdiri berdasarkan strategi sales, marketing dan services yg bertujuan buat menaikkan pendapatan menurut kepuasan pelanggan.

2. Efraim Turban (2004, p148)
Customer Relationship Management merupakan suatu pendekatan service pada pelanggan dalam membangun suatu planning jangka panjang serta memelihara hubungan menggunakan pelanggan sebagai akibatnya bisa menambah nilai bagi kedua pihak baik pelanggan maupun perusahaan.

3. James G.barnes (2003, p187)
CRM herbi mekanisme membentuk sebuah hubungan menggunakan pelanggan termasuk perolehan data, analisis, dan penyederhanaan proses usaha.

4. Budi Sutedjo (2003, p65)
CRM adalah konsep mengenai menciptakan relasi yg erat antara perusahaan, dalam hal ini pihak manajemen dengan para pelanggannya.

5. James A. O’Brien(2002, p130)
CRM merupakan pelaksanaan e-business lintas fungsi yang mengintegrasikan, serta mengotomatisasikan berbagai proses pelayanan terhadap pelanggan pada kegiatan penjualan, direct marketing, proses order atau pesanan, pembukaan rekening atau account, dan dukungan layanan pelanggan.

Sistem Kerja CRM
Berdasarkan pendapat Budi Sutedjo (2003, p65) CRM diawali dengan pengumpulan berita mengenai apa yg diperlukan dan diharapkan oleh pelanggan berdasarkan perusahaan. Dengan mengetahui kebutuhan serta harapan dari pelanggan tadi, perusahaan bisa memanjakan serta “mengikatnya” dalam sebuah “persahabatan”. Menurut konsepnya CRM mengajurkan agar perusahaan membuka saluran-saluran komunikasi semudah mungkin dengan taraf respon yg tinggi, agar pelanggan merasakan kedekatan dengan pihak perusahaan. Dari situ, loyalitasnya terhadap perusahaan sedikit-sedikit akan menjadi tumbuh dan berkembang. Dengan demikian perusahaan akan memperoleh manfaat dari penerapan CRM ini, yakni memiliki pelanggan yang loyal.

Gambar Summarizing CRM Activities Customer Relationship Management

Tujuan CRM
Tujuan CRM yang primer adalah mengelola dan me-manage pelanggan supaya terjadi suatu interaksi yg baik antara perusahaan dan pelanggan.

Adapun tujuan CRM dari Kalakota, Robinson (2001, p173) :
  1. Mengoptimalkan pelanggan yang sudah ada supaya dapat lebih mempertinggi pendapatan perusahaan. Menyiapkan keterangan yang lengkap mengenai pelanggan buat memaksimalkan interaksi pelanggan menggunakan perusahaan melalui penjualan secara up-selling dan cross-selling sebagai akibatnya pada waktu yang bersamaan bisa menaikkan keuntungan dengan cara mengidentifikasikan, menarik dan mempertahankan pelanggan yang paling bagus.
  2. Menggunakan warta yang terintegrasi untuk membuat pelayanan yg paling memuaskan. Dengan memakai keterangan yang diharapkan oleh pelanggan, kita bisa berhemat ketika pelanggan serta menghindari pelanggan dari berbagai macam keluhan kasus. Sebagai model, pelanggan seharusnya nir perlu menaruh liputan yang berulang-ulang tentang dirinya pada aneka macam departemen, namun pelanggan tadi akan lebih bahagia apabila ternyata sudah dikenal menggunakan baik oleh perusahaan.
Memperkenalkan mekanisme dan proses produksi yg konsisten walaupun sudah digunakan secara berulang-ulang. Dengan semakin banyaknya jaringan pelanggan, maka akan poly karyawan yang terlibat didalam transaksi penjualan. Tanpa memperhitungkan ukuran atau taraf kesulitan, perusahaan harus memperbaiki konsistensi proses serta mekanisme dalam hal manajemen serta penjualan.

Manfaat CRM
Menurut pendapat James G.barnes (2003, p187), manfaat yang diperoleh dari penerapan CRM antara lain :
  1. Memfungsikan penjualan menggunakan berbagi sejarah serta profil pelanggan.
  2. Layanan penunjang melalui manajemen agunan.
  3. Pelacakan dan pemecahan duduk perkara.
  4. Penjualan silang dan menjual lebih banyak produk atau yg mendatangkan keuntungan yg akbar dalam segmen pelanggan yang sebagai target kita.
  5. Menarik pelanggan-pelanggan baru menggunakan memberikan layanan yg bersifat langsung.
Sedangkan menurut Turban, Rainer, Porter (2003, p252) manfaat-manfaat yang bisa diperoleh berdasarkan penerapan CRM :
  1. Memberikan kemudahan bagi konsumen buat melakukan usaha/transaksi menggunakan perusahaan.
  2. CRM bisa memfokuskan dalam konsumen akhir buat produk serta servis.
  3. Mendesain ulang bisnis proses berhadapan muka dengan customer.
  4. Meningkatkan profit perusahaan.
  5. Membangun suatu loyalitas konsumen khususnya pada e-commerce.
Tipe-Tipe CRM
Berdasarkan pendapat Turban (2004, p148), CRM terdiri menurut 3 tipe aktifitas:

a. Operasional
Operasional CRM berkaitan dengan fungsi bisnis suatu perusahaan yang mencakup servis pelanggan, manajemen pesanan, invoice/ billing, manajemen serta otomatiosasi penjualan.

b. Analytical
Analytical CRM merupakan suatu aktifitas yg meliputi menyimpan, memindahkan, memproses, mengartikan dan melaporkan data konsumen atau pengguna, yang kemudian menganalisa apa yang mereka perlukan.

c. Kolaborasi
Kolaborasi CRM merupakan aktifitas buat menggabungkan semua komunikasi yg diharapkan, koordinasi dan kerja sama antara vendors serta customer.

Gambar Customer Relationship Management

Aplikasi-Aplikasi CRM
Aplikasi-aplikasi pada CRM dari Patricia Seybold Group (2002), yang dikutip pada kitab Turban (2004, p153) :

1. Customer Facing Application
Aplikasi ini adalah pelaksanaan yg berafiliasi pribadi menggunakan konsumen, dimana sales, field service, dan contact center berinteraksi langsung menggunakan konsumen. Contoh: Customer service, phone service.

2. Customer Touching Application
Aplikasi ini lebih baru, aplikasi ini berupa e-commerce, self service customer support, serta konsumen lebih berinteraksi lagi dalam pelaksanaan elektronika. Contoh: I-CRM

3. Customer Centric Intelligence Application
Sebuah pendekatan bisnis buat melakukan usaha yg memastikan perusahaan buat menjaga serta menaikkan hubungan menggunakan pelanggan terbaik, serta menjadi indera bantu perusahaan agar sebagai lebih customer centric, yang membantu untuk lebih mengerti pelanggan, sehingga menjadi hubungan yg lebih menguntungkan. Contoh: e-CRM.

Hubungan CRM dengan Kepuasan Pelanggan
Menurut James G.barnes (2003, p63), mencapai tingkat kepuasan pelanggan tertinggi merupakan tujuan primer pemasaran. Pada kenyataannya, akhir-akhir ini poly perhatian tercurah dalam kepuasan “total”, yg implikasinya merupakan mencapai kepuasan sebagian saja tidaklah cukup buat menciptakan pelanggan setia dan pulang lagi. Ketika pelanggan merasa puas akan pelayanan yang dihasilkan dalam waktu proses transaksi serta juga puas akan barang atau jasa yang mereka dapatkan, akbar kemungkinan mereka akan balik lagi serta melakukan pembelian-pembelian yang lain dan jua akan merekomendasikan dalam sahabat-sahabat serta keluarganya mengenai perusahaan tadi serta produk-produknya. Juga kecil kemungkinan mereka berpaling ke pesaing-pesaing lain. Mempertahankan kepuasan pelanggan dari waktu ke waktu akan membina hubungan yg baik menggunakan pelanggan. Hal ini dapat menaikkan laba perusahaan pada jangka panjang.

Kepuasan pelanggan memperlihatkan bahwa terpenuhinya suatu kebutuhan membentuk suatu ketenangan bagi pelanggan, apa yang memuaskan satu pelanggan mungkin tidak memuaskan pelanggan yg lainnya. Kenyataannya, apa yang bisa memuaskan pelanggan di satu situasi mungkin tidak bisa memuaskan pelanggan yang sama pada lain situasi. Dengan demikian, kepuasan pelanggan adalah target yg berubah-ubah, karena masing-masing pelanggan mempunyai serangkaian kebutuhan dalam taraf yg berbeda-beda. Oleh karena itu, CRM diperlukan buat menjaga kepuasan pelanggan tersebut.

Kunci primer CRM: Solusi CRM yang baik wajib :
  1. Membedakan pelanggan - seluruh pelanggan tidak sama; kenali serta hargai pelanggan terbaik dengan nir sama.
  2. Membedakan penawaran - pelanggan menghargai penawaran yang customized dalam dirinya.
  3. Pertahankan terus pelanggan yang telah terdapat - lima sampai 10 kali lebih murah apabila mempertahankan pelanggan yg terdapat dibanding menerima pelanggan baru.
  4. Maksimumkan nilai transaksi - jelajahi kemungkinan up-selling serta cross-selling.
  5. Tingkatkan loyalitas - pelanggan yg loyal lebih menguntungkan.
CRM Strategic Framework
Menurut Payne (Payne, 2000), proses pengerjaan CRM dibagi menjadi lima (5) bagian. Awal dari proses CRM dimulai dari proses pengembangan strategi. Proses ini mencakup taktik usaha berupa visi berdasarkan usaha serta karakteristik dalam berkompetisi dan taktik pelanggan berupa pilihan pelanggan, karakteristik pelanggan serta segmen pelanggan. Kedua proses ini penting karena akan menaikkan nilai yg akan diterima sang pelanggan dan perusahaan sesuai menggunakan analisa umur nilai dalam segmentasi pelanggan (Customer Segment Lifetime Value Analysis). Dengan semakin tingginya nilai yang didapat oleh perusahaan maupun pelanggan, hal tersebut akan menunjang integrasi media komunikasi yang berhubungan dengan pelanggan seperti Sales Force, Outlets, Telephony, Direct Marketing, Electronic Commerce serta Mobile Commerce akan semakin tinggi. Hal ini akan membantu menaikkan output yang dihasilkan stakeholder dan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Semua proses ini tak tanggal menurut kiprah proses manajemen berita, yg berupa sistem Information Technology, indera bantu analisa, aplikasi front office, aplikasi back office serta data repository. Hal tersebut dapat dicermati pada gambar dibawah ini.

Gambar Tahapan Pengerjaan Keseluruhan (Payne, 2000)

Tahap 1: Strategy Development Process
Saat ini perusahaan mulai melihat serta mengambil tindakan-tindakan buat menjalin, mempererat dan menaikkan interaksi perusahaan menggunakan para pelanggannya. Salah satu cara cepat yang banyak digunakan oleh perusahaan merupakan dengan mengubah sistem lama dengan sistem baru yang dapat memenuhi cita-cita pelanggan. Bagaimanapun CRM bukan hanya suatu solusi Teknologi Informasi buat menerima basis pelanggan yg sempurna dan mengandalkan Teknologi Informasi tersebut buat menaruh kepuasan kepada pelanggan. Namun lebih dari itu, diperlukan integrasi ke banyak sekali proses bisnis perusahaan untuk memberikan pelayanan yg baik pada pelanggan.

Strategi Bisnis
Sebuah pandangan taktik bisnis yang baik akan memberikan suatu dasar yang sesuai menggunakan keadaan perusahaan serta juga kebutuhan pelanggan buat bisa membuat strategi CRM yg tepat. Perusahaan dituntut buat sepenuhnya mengerti posisi perusahaan pada ajang kompetisi buat menaruh yang terbaik bagi pelanggan. Untuk menaruh pelayanan terbaik pada pelanggan, setiap bagian di pada perusahaan dituntut menyadari dan bekerja dalam arah taktik yg sama, dan peka buat mengetahui kebutuhan dan asa pelanggan. Biasanya strategi bisnis ini sangat penting bagi perusahaan yang sedang mengalami transisi dari perusahaan yg berorientasi produk ke arah perusahaan yg berorientasi pelanggan.

Beberapa hal penting yg dapat membantu pada memilih taktik usaha sebuah perusahaan merupakan sebagai berikut :
• Profil perusahaan, tujuan, kinerja, dan posisi.
• Tahapan evolusi industri.
• Profil pesaing dan kegiatannya.
• Jalur pemasaran.
• Platform Teknologi Informasi.

Strategi Pelanggan
Bagian lain dari suatu strategi adalah buat menetapkan pelanggan mana yang harus diberikan perhatian lebih serta dijaga, dan pelanggan mana yg tidak terlalu sebagai prioritas utama. Tidak terdapat perusahaan yg dapat berhasil menerapkan “all things to all people” (keistimewaan yang sama buat seluruh pelanggan), namun perusahaan mencari mana pelanggan mereka yang memberikan donasi besar bagi perusahaan serta memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan tadi.

Ada beberapa hal tentang pelanggan yang perlu diperhatikan buat membantu perusahaan pada menentukan serta melakukan strategi pelanggan, antara lain:
• Apa yang biasa dilakukan pelanggan, apa yg disukai dan status pelanggan.
• Segmentasi pelanggan.
• Hubungan dengan pelanggan.
• Pengetahuan serta nilai yg dari dalam pelanggan.
• Produk atau jasa terlibat dan kompleksitas berdasarkan konduite pembelian.
• Tahap dua: Value Creation Process

Proses pembentukan nilai (value creation process) menitik-beratkan dalam transformasi output strategy development process ke bentuk yg relevan serta dapat diterapkan. Pelayanan yg kurang baik kepada pelanggan krusial akan mengakibatkan reputasi yg kurang baik di mata pelanggan. Pertukaran nilai antar investasi yg dikeluarkan perusahaan buat memberikan pelayanan pada pelanggan dan laba yang dihasilkan perusahaan berdasarkan pelanggan yg seimbang akan mengklaim kedua belah pihak mendapatkan Return Of Investment yg baik dan pula hubungan yg baik pula. Value creation process meliputi tiga elemen krusial, yaitu menentukan nilai perusahaan yang akan diberikan kepada pelanggan (value customer receives), memilih nilai yg akan dihasilkan perusahaan menurut pelanggannya (value organization receives) dan mengelola pertukaran nilai tersebut dan mengoptimalkan nilai yang diinginkan segmen pelanggan secara terus-menerus.

• Tahap 3: The Multi-Channel Integration Process
Dalam proses ini ditentukan kombinasi media komunikasi yang paling sesuai bagi pelanggan, bagaimana memastikan pelanggan mengalami pengalaman positif serta citra yg baik tentang perusahaan waktu melakukan hubungan melalui media komunikasi yang disediakan, dan waktu pelanggan berinteraksi dengan satu atau lebih media komunikasi/ fakta tetap ditampilkan berita yang seragam (single unified view).

Hal-hal yg perlu diperhatikan dalam pemilihan kanal, diantaranya :
• Tujuan dari integrasi multi-kanal tersebut.
• Pilihan kanal yg tersedia.
• Pentingnya pengelolahan integrasi kanal pada memberikan pengalaman yang baik bagi pelanggan.
• Tahap 4: Information Management Process

Information Management Process serius dalam pengumpulan kabar pelanggan berdasarkan seluruh titik hubungan pelanggan ke perusahaan dan kabar penunjang lainnya yg berhubungan dengan pelanggan. Proses ini akan semakin penting seiring dengan perkembangan perusahaan dan interaksi dengan jumlah pelanggan yg terus bertambah. Dalam rangka menjaga perkembangan volume data, maka perusahaan dituntut untuk semakin memperbesar kapasitas data base, sehingga antara data yang satu dengan data yg lainnya diharapkan nir akan terpisah-pisah serta saling mendukung. Sedangkan pada dalam CRM dipakai aplikasi seperti Call Center serta sebagainya yang menuntut adanya integrasi dalam seluruh Sistem Informasi perusahaan buat semua hubungan menggunakan pelanggan. Elemen yg krusial dalam proses ini adalah data repository serta analytical tools, sistem Information Technology, dan aplikasi buat front office dan back office.

• Tahap lima: The Performance Assessment Process
Dari proses ini dibutuhkan perusahaan bisa mengevaluasi apakah tujuan taktik buat CRM yang dilakukan telah tercapai dan bisa diterima, serta output penilaian tadi dipakai menjadi dasar buat perkembangan sistem CRM selanjutnya. Dua elemen utama disini merupakan stakeholder result yg menyediakan pandangan “makro” menurut keseluruhan kinerja interaksi ini dan performance monitoring yg menaruh pandangan yg lebih detil “mikro” menjadi Key Performance Indicator (KPI).

Stakeholder result
Untuk menaikkan nilai shareholder, maka perusahaan diharuskan buat memahami secara mendalam empat kunci utama yg dapat mempengaruhi hasil shareholder menggunakan konteks strategi bisnis dan taktik pelanggan yang sudah dibicarakan sebelumnya. 

Empat kunci tadi merupakan:
• Keuntungan yg didapatkan pegawai.
• Keuntungan yg didapatkan pelanggan.
• Keuntungan yang dihasilkan pemegang saham.
• Pengurangan porto, yaitu memakai sistem elektronika, misalnya automated telephony service dimana biayanya akan lebih murah sebagai akibatnya mengurangi staff; dan menggunakan jalur elektronika baru misalnya fasilitas online self-service, internet ataupun WAP dimana mengurangi porto akuisisi pelanggan baru, transaksi serta layanan.

Performance Monitoring
Dalam hal ini diperlukan sebuah standar, perhitungan dan key performance indicator untuk memastikan aktivitas CRM terencana dan dilakukan secara efektif serta masih ada umpan pulang buat menaikkan kinerja serta proses pembelajaran perusahaan tadi.

Kepuasan Pelanggan
Definisi Kepuasan
Berdasarkan pendapat Kotler (2002, p42), kepuasan dapat diartikan sebagai perasaan bahagia atau kecewa seorang yang ada sesudah membandingkan antara persepsi/ kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk serta harapannya. Maka sesudah dijelaskan dalam definisi tersebut, kepuasan adalah fungsi menurut persepsi/kesan atas kinerja serta asa. Apabila kinerja berada dibawah asa, pelanggan tidak puas, jika kinerja memenuhi asa, pelanggan puas. Jika kinerja melebihi asa, pelanggan amat puas serta senang (Oka A. Yoeti, p32, 2000).

Pemicu Kepuasan Pelanggan
Menurut James G. Barnes (2003, p82-89), kepuasan pelanggan seringkali nir ada hubungannya dengan produk atau jasa inti yang ditawarkan, namun tak jarang ada faktor pelayanan yg sebagai pemicu kepuasan pelanggan.

Barnes mendeskripsikan faktor-faktor yg menjadi pemicu kepuasan pelanggan dimasing-masing level berbeda.
• Level 1: Produk atau jasa inti
Ini merupakan hal yang paling mendasar yg ditawarkan kepada pelanggan sekaligus hal yang tersulit bagi perusahaan untuk membuat produk tadi lain daripada yg lain. Dalam pasar yg kompetitif, perusahaan wajib sanggup tetapkan produk pada dasarnya secara sempurna, lantaran jika nir, hubungan menggunakan pelanggan nir akan pernah dimulai.

• Level 2: Sistem serta layanan pendukung
Meliputi layanan-layanan pendukung yg bisa meningkatkan kelengkapan dari layanan atau produk inti, seperti: sistem pembayaran, kemudahan memperoleh produk, jam pelayanan, level karyawan, komunikasi liputan, pendukung teknis serta pemugaran, layanan bantuan via telepon, dan acara-program lain yang mendukung produk inti.

• Level 3: Perfoma teknis
Level ketiga ini pada dasarnya berkaitan menggunakan apakah perusahaan memutuskan produk inti serta layanan pendukungnya menggunakan sahih. Penekanannya adalah perusahaan menampilkan produk pada pelanggan sinkron yg dijanjikan. Ini merupakan komponen yang penting pada menciptakan suatu interaksi. Perusahaan yg berhasil mencapai standar yang tinggi pada memenuhi serta melebihi harapan pelanggan pada pengantaran servis akan mencapai laba kompetitif.

• Level 4: Elemen-elemen pada hubungan pelanggan
Dalam level ini perusahaan bertemu langsung dengan pelanggan. Level ini mengacu dalam interaksi penyedia jasa menggunakan pelanggan melalui tatap muka eksklusif dengan pelanggan atau melalui hubungan berbasis teknologi.

• Level lima: Elemen emosional - dimensi afektif pelayanan
Inti dari level kelima ini merupakan bagaimana kita menumbuhkan perasaan positif dalam diri pelanggan.

Konsep dan Aktivitas CRM 
Customer Relationship Management (CRM) menjadi istilah yg pada beberapa tahun terakhir ini semakin terkenal. Ditambah dengan perkembangan teknologi liputan yg semakin merambah aneka macam pelaksanaan usaha, CRM sebagai galat satu proses usaha yg menarik buat diperbincangkan. Customer Relationship Management meliputi semua aspek yg berkenaan menggunakan hubungan suatu perusahaan menggunakan pelanggannya. Hal ini mampu berupa penjualan jasa ataupun barang. Semuanya berawal menurut kegiatan marketing terhadap pelanggan. Kegiatan marketing mengelola semua aspek menurut daur hayati pelanggan, mulai menurut sales, acquisition, fulfillment, sampai retention, 

Gambar Aplikasi utama CRM

CRM merupakan suatu pendekatan sistematis dalam memanfaatkan liputan dan juga komunikasi buat buat membangun hubungan yg berkesinambungan serta saling menguntungkan dengan pelanggan. CRM adalah taktik komprehensif berdasarkan perusahaan supaya setiap proses dari siklus hayati pelanggan itu dapat dimanfaatkan menggunakan optimal. Pelanggan adalah raja. 

Ada 3 aspek krusial yang perlu dibenahi perusahaan pada proses implementasi CRM: 
• Aspek pertama, orang meliputi internalisasi cara berpikir orang mengenai bagaimana melayani konsumen. Visi implementasi CRM harus kentara terlebih dahulu serta dipahami secara sahih sang seluruh karyawan pada perusahaan. Selanjutnya adalah aspek kesiapan berdasarkan sisi pengetahuan serta keterampilan. Perusahaan perlu mengadakan training-training serta proses belajar yang menciptakan karyawan lebih siap pada proses implementasi CRM. 
• Aspek kedua merupakan proses serta mekanisme. Dari sisi proses dan prosedur, perusahaan wajib mendefinisikan secara lebih jelas sasaran market yang akan dibidik serta prosedur perusahaan secara lebih rinci dalam melayani konsumen. Hal ini krusial supaya karyawan yang bekerjasama eksklusif dengan konsumen memiliki aturan yg jelas tentang bagaimana melayani pelanggan mereka. Selain itu, satu hal yang jua penting adalah bagaimana perusahaan menghubungkan antara kepuasan pelanggan dengan kinerja karyawan. Artinya, tidak hanya sebagai jargon dan slogan, namun proses layanan pelanggan sebagai sistem yang wajib dijalankan sang semua karyawan.
• Aspek ketiga, sistem dan teknologi. Ada beberapa model pada dalam implementasi aplikasi CRM. Apakah akan menerapkan CRM Analitik atau Operasional? Apakah Akan menerapkan CRM Hosted atau in-house? Tentu ini semua memerlukan perhatikan yg cermat, apalagi jika budget perusahaan serta dukungan SDM IT yg terbatas. 

Gambar Pilar CRM

Secara umum, beberapa aktifitas primer dari konsep CRM merupakan menjadi berikut: 
1. Membangun database pelanggan yang bertenaga 
Database pelanggan yang kuat adalah kunci utama aplikasi CRM. Ada banyak alasan mengapa perusahaan perlu membentuk database pelanggan yg kuat. Pertama, database pelanggan adalah salah satu aset utama perusahaan, yg juga dapat dihitung performa-nya sebagaimana performa finansial yang lain.

Kedua, database pelanggan bisa dijadikan berukuran tentang ”nilai perusahaan kini ”, dan kemungkinan performanya di masa mendatang. 

Banyak cara yg dapat dilakukan buat mengumpulkan database pelanggan. Misalnya, melalui pengembalian kartu garansi yang harus diisi data lengkap pelanggan, melalui form aplikasi buat pengajuan kredit ataupun permintaan suatu layanan, serta yang paling populer tentu saja merupakan menggunakan menerbitkan kartu keanggotaan. 

Gambar Contoh Interaksi Pelanggan

menunjukkan interaksi pelanggan dengan perusahaan menggunakan bebagai macam media, yang dapat dijadikan sebagai media buat menciptakan database pelanggan. 

Gambar  Pulau Informasi Pelanggan

2. Membuat profil menurut setiap pelanggan 
Langkah selanjutnya adalah menciptakan profil dari masing-masing pelanggan. Ini sebenarnya pengembangan lebih lanjut berdasarkan proses segmentasi konsumen yg telah dilakukan perusahaan. 

Profil pelanggan menyangkut segala aktifitas yang dilakukan oleh pelanggan mengenai penggunaan produk ataupun layanan perusahaan. Profil pelanggan akan memberikan citra tentang kebutuhan, hasrat, dan juga concern mereka mengenai produk atau layanan perusahaan. 

Ada 2 hal yg dapat sebagai parameter perusahaan dalam menentukan profiling pelanggan: pertama adalah usage, dan kedua merupakan uses. Usage menyangkut seberapa poly mereka menggunakan produk atau layanan perusahaan, kapan menggunakannya, serta produk atau layanan apa saja yg dipakai. Sedangkan uses menyangkut bagaimana pelanggan menggunakan produk atau jasa perusahaan. Digabungkan menggunakan data-data demografis, psikografis, dan aneka macam data pendukung lain, profiling semacam ini akan memberikan gambaran yg lebih komprehensif mengenai kebutuhan dan harapan pelanggan. Profil inilah yg kemudian bisa digunakan sang perusahaan buat menentukan aktifitas marketing seperti apa yg cocok diaplikasikan kepada pelanggan.

3. Analisis Profitabilitas menurut tiap-tiap pelanggan 
Dalam analisis profitabilitas, terdapat dua hal yang dinilai berdasarkan masing-masing pelanggan. Pertama adalah penerimaan (revenue) yg dihasilkan menurut masing-masing pelanggan, dan ke 2 merupakan biaya (cost) yg harus dikeluarkan buat melayani masing-masing pelanggan. 

Aspek revenue dicermati berdasarkan beberapa hal: 
•Dari penggunaan produk atau layanan perusahaan yang mereka konsumsi sekarang. 
•Menghitung seberapa poly kemungkinan penggunaan produk atau layanan tersebut dalam tahun-tahun mendatang. 
•Kemungkinan penggunaan produk atau layanan lain yg disediakan perusahaan. 

Sedangkan dari aspek porto, yg perlu dihitung adalah mulai dari biaya akuisisi (acquisition cost) sampai porto buat mempertahankan mereka (retention cost).

Satu lagi biaya yang perlu diperhitungkan merupakan opportunity cost, yaitu biaya peluang atau kesempatan yang diperoleh menurut melayani pelanggan. 

Dengan menghitung dan membandingkan antara aspek penerimaan serta biaya yang wajib dimuntahkan, perusahaan dapat mulai memilah pelanggan mana yang memberikan keuntungan yang lebih banyak serta mana yang tidak terlalu memberikan keuntungan yang akbar. Pemilahan ini akan sebagai alat yang penting supaya perusahaan dapat menaruh layanan yang sinkron menggunakan taraf profitabilitas berdasarkan setiap pelanggan.

4. Interaksi dengan pelanggan yg lebih targeted dan customized 
Dengan profil yg lebih jelas, perusahaan akan lebih mudah buat melihat kebutuhan yang bhineka dari setiap pelanggan. Informasi ini tentu saja akan memudahkan perusahaan untuk menaruh penawaran mengenai produk serta layanan yang diadaptasi kebutuhan mereka. Dengan tingkat kebutuhan yang dipetakan, perusahaan pula dapat memberikan komunikasi pemasaran terpadu yang lebih personal serta customized. Pelanggan akan lebih merasa diperlakukan secara individual yang tentu saja akan memberikan pengalaman yg lebih menarik serta mendukung proses kepuasan pelanggan. Dan tentu saja buat jangka panjang adalah bagaimana hal tadi bisa membangun loyalitas pelanggan buat terus memakai produk atau layanan perusahaan. 

Aplikasi CRM 
Software atau pelaksanaan CRM sekarang ini sudah cukup banyak tersebar di pasaran, kebanyakan dibuat sang perusahaan Amerika serta Eropa yang lebih dulu mengimplementasikan pelaksanaan CRM pada perusahaan mereka. Aplikasi CRM berguna bagi perusahaan dalam banyak hal. Pertama, proses otomatisasi menurut semua data yang ingin digunakan perusahaan pada membangun database pelanggan. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mengumpulkan data-data pelanggan, mencatat berapa kali mereka menghubungi perusahaan pada satu bulan, berapa kali mereka memakai produk atau layanan perusahaan, dan aneka macam data lain apabila dilakukan secara manual. Kedua, pelaksanaan CRM menaruh laporan-laporan berdasarkan data yg dikumpulkan sehingga bisa menjadi fakta yg berguna bagi manajemen buat proses pengambilan keputusan. 

Aplikasi CRM dapat dibagi sebagai beberapa kategori: 
1. Bisnis Intelijen 
2. Sales Force Automation 
3. Marketing Automation 
4. Call Center/Service 

Untuk bisnis perhotelan keempat kategori ini relevan buat diintegrasikan kedalam sistem liputan perhotelan. Bisnis intelijen dipakai sebagai tool buat merencanakan stratejik bisnis yg yang jitu buat di pada rangka memenangi persaingan bisnis hotel yg semakin kompetitif. Sales force automation dapat dipakai buat mendukung proses penjualan kamar-kamar hotel ataupun yg lainnya secara otomatif yang tidak dibatasi sang syarat geografis. Tentunya ini memerlukan dukungan teknologi jaringan internet. Marketing automation dapat dipergunakan buat menciptakan peluang dan mengedukasi pasar, sedangkan yg terakhir call service/center digunakan buat membangun loyalitas pengunjung hotel.

Implementasi Model Bisnis CRM
1. Segmentasi Pelanggan
Dahulu segmentasi pelanggan dilakukan sang suatu perusahaan buat produk maupun pasar tertentu, misalnya adanya produk atau pasar untuk kelas atas, menengah serta bawah. Tetapi kini ini dalam biasanya perusahaan melakukan segmentasi pelanggan buat lebih memperhatikan nilai berdasarkan pelanggan tadi terhadap usaha perusahaan. Pola yang berkembang waktu ini adalah melakukan segmentasi pelanggan dengan mengkategorikan dan memasarkan produk dengan lebih memperhatikan produk apa yang diperlukan sang pelanggan.

Segmentasi dapat membantu perusahaan buat menaruh pelayanan yg sinkron dengan kebutuhan bagi pelanggan tersebut. Hal ini akan menaruh personalisasi yang bersifat dunia kepada sekelompok pelanggan dalam segmen tertentu. Personalisasi akan membuat pelanggan lebih dikenal serta diakui dibandingkan menggunakan perlakuan yang bersifat umum bagi semua orang. Dengan adanya segmentasi ini strategi CRM akan berkembang sinkron dengan segmen pasar yg ingin didapatkan serta dipertahankan sang perusahaan. 

Untuk melakukan suatu segmentasi terhadap pelanggan bisa dilakukan dalam banyak sekali pendekatan yang berdasarkan berdasarkan profil pelanggan yang didapatkan sang Geographic, Demographic, Psychographics dan Buyer Behavior:

a. Geografi
Pembagian profil pelanggan dari daerah geografis dan kebutuhan pada daerah geografis tersebut. Pembagian geografis dipilih karena setiap daerah geografis mempunyai kebutuhan jenis produk atau pelayanan yang mungkin tidak selaras dengan wilayah lainnya, sehingga pembagian daerah geografis yang sempurna bisa membantu mengenal pelanggan dengan lebih baik juga membantu perusahaan buat mengelola operasional perusahaan menggunakan baik.

b. Demografi
Pembagian profil pelanggan menurut informasi demografi misalnya jenis kelamin, usia, status pernikahan, pendapatan, serta pekerjaan. Pembagian berdasarkan kabar demografi digunakan buat mengelompokkan serta mengidentifikasi sasaran pelanggan, calon pelanggan yg ingin didapatkan serta besarnya segmen pasar yang diinginkan.

c. Psikografi
Pembagian profil pelanggan menurut gaya hidup serta kepribadian pelanggan, dapat dipakai buat merumuskan pola pembelian pelanggan. Informasi psikografi bisa mempertajam analisa pola pembelian pelanggan yg telah dikumpulkan menggunakan menggunakan informasi demografi.

d. Perilaku Belanja Pelanggan
Perilaku belanja pelanggan membantu mengungkapkan serta memprediksikan faktor yang menghipnotis pelanggan dalam membeli suatu produk, sebagai akibatnya suatu produk atau jasa bisa dibuat dengan memperhatikan keterangan tersebut.

2. Fase-Fase pada CRM

Gambar Customer Life Cycle Management

Tingkat pemahaman serta kedekatan antara pelanggan serta perusahaan akan tumbuh seiring menggunakan berjalannya waktu, hal ini akan terjadi bila keduanya memiliki komitmen buat melakukan suatu kerjasama yg saling menguntungkan dalam jangka saat yg panjang. Hal ini perlu disadari mengingat semakin berkembangnya kompetisi serta semakin mudahnya pelanggan bisa menemukan pemasok lain yg mungkin menaruh kualitas dan harga yang lebih baik berdasarkan perusahaan tersebut. Hal ini akan semakin mendorong perusahaan buat mengelola menggunakan baik siklus pelanggan secara sempurna dan efisien.

Terdapat 3 (3) fase siklus pelanggan pada CRM, yaitu :
1. Mendapatkan pelanggan baru (acquire)

Perusahaan bisa mendapatkan pelanggan baru dengan cara :
a. Melakukan inovasi baru terhadap produk atau fasilitas layanan yang sudah terdapat, sehingga menarik pelanggan lantaran terdapat lebih banyak cara lain pilihan.
b. Memberikan ketenangan dalam pelanggan dalam menerima informasi produk yang mereka butuhkan, misalnya dengan ketepatan saat pada pengiriman barang pesanan.

2. Meningkatkan nilai pelanggan (enhance)
Perusahaan bisa menaikkan nilai pelanggan menggunakan cara :
a. Mengurangi biaya yang kurang perlu, serta lebih berfokus pada peningkatan pelayanan dan pelanggan.
b. Memberikan pelayanan optimal pada pelanggan.

3. Mempertahankan pelanggan yang sudah ada (retain)
Perusahaan bisa mempertahankan pelanggan yg ada dengan cara :
a. Menyediakan ketika buat mendengarkan kebutuhan pelanggan, termasuk ketidak-puasan pelanggan terhadap produk atau pelayanan kita, yg kita manfaatkan buat menjadi lebih baik lagi.
b. Mengirimkan brosur atau indikasi mata dalam event-event tertentu kepada pelanggan yang setia.

Gambar  Model Siklus CRM

Ketiga fase CRM tersebut semuanya saling bekerjasama serta menerapkan ketiganya pada proporsi yg seimbang bukanlah hal yg gampang meskipun bagi perusahaan terbaik sekalipun. Perusahaan lebih sering wajib menentukan salah satu fase sebagai kompetensi utama buat mempertahankan pelanggannya. Perlu diingat disini, fokus dalam suatu kompetensi utama bukan berarti meninggalkan fase yg lain.

Pilihan ini sangatlah penting lantaran akan mengarahkan strategi infrastruktur Teknologi Informasi yg akan dibangun. Membangun kompetensi pada seluruh fase CRM tadi akan menyebabkan ketidak-pastian, tekanan serta akhirnya akan mengakibatkan perusahaan kehilangan arah dalam memilih kebutuhan teknologi yg sesuai menggunakan taktik CRM yg akan dibangun.

Aplikasi CRM di Perhotelan 
Aplikasi teknologi CRM di hotel secara umum poly memperhitungkan faktor-faktor stratejik element yang mencakup: 

• Guest Recognition. 
Guest recognition merupakan upaya buat mengumpulkan warta tentang pelanggan hotel yang menginap, lalu data profil pelanggan tadi didistribusikan pada karyawan yg terdapat dalam front line employee. Tujuannya adalah agar karyawan hotel yg asal dari front line sebagai lebih familiar terhadap profil-profil berdasarkan pelanggan yang tiba secara terpola. 

• Data capture serta maintenance. 
Sebuah hotel harus sanggup meng-capture data secara tepat serta efektif dan wajib dapat juga me-maintain-nya. Data captrue ini adalah buat keperluan memperoleh guest preferences. Tentu saja ia wajib dapat menggunakan piranti yg tepat, karena profil berdasarkan tamu atau pelanggan serta preferencess-nya akan terus berubah sepanjang ketika. Untuk itu, maka strategi CRM yang komplit memerlukan suatu piranti buat melakukan updating terhadap data data tersebut. 

• Channel integration and consistency. 
Kunci utama dari konsep channel integration and consistency ini adalah bahwa setiap tamu akan menerima perlakuan yangs sama terkait dengan kasus guest recognition, dengan tidak melihat channel apa yang mereka pergunakan dalam melakukan intraksi menggunakan perusahaan. 

• Ranking and discrimination 
Beberapa pelanggan akan memiliki nilai yg lebih dibandingkan pelanggan lainnya, jadi sebuah hotel perlu buat memperhatikan pelanggan eksklusif yg kiranya menaruh benefit yang lebih besar dibandingkan menggunakan pelanggan lainnya. Sebaliknya pelanggan yg berpotensial untuk merugikan perusahaan usahakan wajib remove.

• Two-way personalized obrolan 
Pada element ini berorientasi pada bentuk komunikasi personal antara hotel dengan pelanggan serta berusaha buat mengupayakan peluang yang lebih terhadap liputan.mengenai preferensi serta ciri pelanggan.

Konsep berdasarkan CRM di hotel ini adalah berusaha buat melayani konsumen yang tidak sinkron menggunakan perlakuan yang tidak sinkron jua. Selama ini banyak fungsi menurut sistem perhotelan hanyalah sebatas merekam database saja dan belum pernah diberdayakan untuk menjadi suatu wahana piranti CRM. 

1. Analisis Terhadap Sistem Reservasi. 
Pada kebanyakan sistem reservasi di Hotel, alur yang digunakan masih cenderung standar serta masih belum relatif untuk digunakan menjadi dasar atau basic buat menunjang fungsi CRM. Alur diatas tersebut sebatas buat menuntaskan input database serta penyelesaian transaksi, dimana hal itu kurang merefleksikan unsur CRM. 

Gambar Alur Prosedur Reservasi di Hotel 

Prosedur diatas adalah prosedur yg berlaku secara generik pada kebanyakan hotel. Untuk itu perlu dibuat sutau usulan terhadap flow yg terdapat. Format yg diusulkan tidak jauh tidak sinkron namun lebih menekankan dalam tipikal pemerolehan reservasi itu sendiri. Pada gambar  dijelaskan mengenai dekomposisi menurut usulan prosedur reservasi diatas, dimana bisa ditinjau bahwa fungsi menurut front office adalah sangat penting pada kaitannya sebagai intermediasi pada melayani pelanggan secara CRM based. 

Ada beberapa aktivitas yg dapat dilakukan oleh hotel buat melakukan aktivitas pelayanan terhadapa pelanggan: 
1. Tamu hotel melakukan reservasi melalui travel agent, internet maupun menggunakan tiba langsung ke hotel. 
2. Front Office (FO) menerima reservasi, kemudian melakukan input terhadap nama pelanggan untuk menemukan record pelanggan yang sesuai. 
3. Server melakukan pengecekan terhadap profil pelanggan pada database yang dibangun sistem informasi perhotelan, kemudian akan didapatkan keterangan tentang status pelanggan apakah pernah menginap pada hotel apa belum, bila belum maka karyawan FO akan melakukan input lagi, sedangkan jika pelanggan pernah menginap sebelumnya maka akan didapat data lengkap mengenai profil serta preferensi pelanggan. 

Gambar Usulan Dekomposisi menurut Prosedur Reservasi 

4. FO mengirim notifikasi kepada departemen Food & Beverage (F&B), Housekeeping, engineering serta point of sales (POS) buat segera mempersiapkan kamar sinkron menggunakan liputan yang terdapat di dalam database tentang profil dan preferensi pelanggan pada kamar hotel loka pelanggan yang bersangkutan menginap sebelumnya. Adapun setiap terminal pada tiap-tiap departemen diatas tekoneksi pribadi menggunakan server sebagai akibatnya memungkinkan buat melihat fakta secara seketika (real-time). 

5. Setelah kamar disiapkan, maka bagian FO harus melakukan input buat setiap feedback atau order yg dilakukan sang pelanggan, pada umumnya order dapat bersifat ketidakpuasan atau komplain ataupun permintaan tambahan terhadap layanan yg sudah ada. Pelanggan mengungkapkan order melalui phone call lalu FO harus menggunakan cermat menyimpan tipikal order yg bersangkutan ke pada komputer sebagai antisipasi terhadap perubahan pattern pelanggan. Pada tahapan ini adalah posisi yang krusial bagi pihak hotel lantaran loyalitas menurut pelanggan dipengaruhi sang kemampuan pihak hotel buat menyelesaikan setiap incident yg terjadi secara cepat dan memuaskan. 

6. Ketika tamu hendak check out maka tamu yg bersangkutan ditawari buat mengisi checklist yang berisikan tentang komentar tamu terhadap pelayanan yang dilakukan oleh pihak hotel apakah telah sampai mencapai taraf memuaskan apa belum atau masih terdapat kekurangan yang perlu buat diperbaiki lagi.

2. Analisis Terhadap Guest Card File atau Data Pelanggan. 
Ujung tombak dari CRM merupakan terletak dalam database, pada kebanyakan sistem kabar perhotelan, masih ada beberapa kelemahan yg menyebabkan kurang efektifnya pengambilan keputusan sang bagian marketing buat melayani pelanggan secara cepat dan seksama. Sebaiknya format berdasarkan data pelanggan atau guest card meliputi: 

1. Daftar 
Daftar Pelanggan berisikan tamu tamu yang pernah menginap di Hotel.

2. Profil Pelanggan 
Database pelanggan yg terdapat harus komprehensif sehingga dapat digunakan buat menginisiasikan keperluan CRM. Dengan form yg memadai maka pihak hotel akan bisa mengidentifikasikan profil menurut pelanggan yang sedang menginap, dengan demikian divisi pemasaran dapat memprediksi perilaku konsumen dalam menginap. 

Sebaiknya form guest card arsip yang terdapat seharusnya bisa menampilkan semua warta yg berkaitan eksklusif dengan perilaku pelanggan sehari-hari: 

• Field Check In dan Check Out. 
Field ini dipakai untuk mendata warta tentang berapa usang seorang pelanggan akan menginap di hotel. Dari kabar mengenai pola menginap tamu tadi maka pihak hotel akan bisa mengklasifikasikan tipikal tamu yg berpotensi serta yang nir. 

• Field Jam 
Field ini bisa dimanfaatkan sang pihak hotel buat memeriksa pola kedatangan berdasarkan pelanggan, sehingga pihak hotel dapat mempersiapkan diri buat menyambut pelanggan tersebut terlebih lagi jika pelanggan yang bersangkutan tergolong VIP guest. 

• E-mail, no telepon. 
E-mail dan telepon bisa dimanfaatkan menjadi media buat menotifikasi pelanggan sebagai sarana untuk membentuk loyalitas. 

3. Preferens
Dengan preferensi pihak hotel akan bisa menghimpun informasi tentang item-item selera pelanggan ketika pelanggan hendak menginap atau sedang menginap. Pihak hotel dapat segera menyiapkan kebutuhan pelanggan tanpa perlu menanti pelanggan buat melakukan pesanan atau order terlebih dahulu, sehingga dalam praktiknya pelanggan akan merasa buat diperhatikan. 

4. Aktivitas 
Bagian aktivitas dapat membantu pihak hotel untuk melakukan penilaian serta analisis terhadap permintaan mendadak menurut konsumen yg diluar pattern. Dimana permintaan itu dilakukan sang pelanggan waktu menginap di masa lalu atau saat sedang pada masa menginap. Dari keterangan ini beberapa diantaranya akan dapat ditambahkan kedalam data berdasarkan preferensi pelanggan. 

3. Analisis Terhadap Feedback Pelanggan. 
Pada alur Flowchart reservasi diatas diketahui bahwa feedback pelanggan pada dapatkan melalui 2 cara yaitu melalui phone calls atau interkom hotel dan checklist. Tetapi 2 feedback tadi memiliki karakteristik urgensitas yg berbeda. Untuk feedback melalui phone calls taraf urgensitasnya dirasakan lebih tinggi karena harus di-follow up-i secepatnya, sedangkan feedback yang menggunakan check list lebih cenderung bersifat continuous improvement. Tentu saja ini wajib segera diketahui oleh FO buat segera ditindaklanjuti. Untuk itu dibutuhkan piranti yang bisa segera mengkonversikan feedback ini secara cepat atau otomatis dan lalu disimpan kedalam databases sistem kabar hotel yang terdapat.