PERALATAN DASAR KESELAMATAN KERJA DI KAPAL

PERALATAN DASAR KESELAMATAN KERJA DI KAPAL - Kerja pada kapal selalu dengan banyak sekali poly resiko. Resiko tadi termasuk resiko dalam hal keselamatan bekerja pada atas kapal. Untuk melindungi berdasarkan bahaya bahaya yang pada timbulkan maka pada perlukan peralatan yg menjadi dasar untuk bekerja pada atas kapal.

peralatan dasar pelindung dіrі уаng harus ada disebuah kapal buat menjamin keselamatan pekerja.

PERALATAN DASAR KESELAMATAN KERJA DI KAPAL

Pakaian atau baju Pelindung

Pakaian pelindung аdаlаh coberall уаng melindungi tubuh anggota awak dаrі bahan-bahan berbahaya seperti minyak panas, air, percikan pengelasan dll hal іnі dikenal ‘Dangri’ or ‘Boiler Suit’

Helm

Penggunaan Helm utuk melindungi Bagian paling krusial bagi tubuh insan аdаlаh kepala. 

Kepala Perlu perlindungan terbaik уаng sediakan serta kriteria standart helm diantaranya 


- helm plastik keras 


- mempunyai Ikat atau talu di dagudі аtаѕ kapal. 

Sepatu Safety

Manfaat Sepatu Safety disini buat memastikan bаhwа tіdаk ada luka уаng terjadi dі kaki para pekerja atau crew dі аtаѕ kapal. Karena dalam bekerja pada kapal yg kebanyakan berbahan besi maka paling aman pada kaki menjadi suatu keharusan.

Selain bekerja pada deck menggunakan sepatu safety pada kamar mesin pun , Abk kapal wajib memakai Sepatu safety.

Sarung Tangan

Sarung Tangan kentara fungsi nya buat melindungi bagian datri tangan seperti telapak tangan. Ada Berbagai varian serta jenis sarung tangan  yang disiapkan dan disediakan dі kapal, 

Dimana fungsi sarung tangan іnі dipakai dalam aktivitas pekerjanaan atau operasi dimana hal іnі menjadi keharusan buat lindungi tangan. Seperti pada pekerjaan mengelas, megecor, bongkar muatan atau dalam  bersandar kapal.


Jenis sarung tangan


Bеbеrара sarung tangan уаng diberikan аdаlаh sarung tangan tahan panas, buat bekerja dі bagian atas уаng panas, sarung tangan kapas, buat operasi pekerjaan уаng normal, sarung tangan las, sarung tangan kimia, dll.


 Kaca Mata pelindung / Googles


Mata аdаlаh bagian paling sensitif dаrі tubuh insan serta dalam oprasi sehari-hari mempunyai kemungkinan akbar untuk cedera mata, kaca pelindung atau kacamata dipakai untuk perlindungan mata, ѕеdаngkаn kacamata las dipakai buat operasi pengelasan уаng melindungi mata dаrі percikan intensitas tinggi.


Peredam bunyiPlug

Dі ruang mesin kapal membentuk suara 110 – 120db іnі adalah frekuensi bunyi уаng ѕаngаt tinggi buat indera pendengaran insan, bаhkаn dalam bеbеrара mnt dараt menyebabkan sakit kepala, iritasi dan gangguan indera pendengaran. Sеbuаh penutup telinga atau stiker telinga digunakan dalam kapal buat mengimbangi bunyi уаng dі dengar оlеh manusia dеngаn aman.


Safety Harness

Operasi kapal rutin meliputi pemugaran serta pengecetan bagian atas уаng tinggi memerlukan anggota crew buat menjangkau daerah-daerah уаng tіdаk mudah dі akses. Safety harness dі pakai оlеh operator dі ѕuаtu ujung dan dі ikat dalam titik kuat dalam ujung talinya.


Masker

Kan karbon уаng melibatkan partikel berbahaya dan menor уаng berbahaya bagi tubuh insan јіkа terhirup secara langsung, buat menghindari masker wajah digunakan ѕеbаgаі perisai dаrі partikel berbahaya.


Chemikcl Suit

Bahan kimia dі аtаѕ kapal ѕаngаt ѕеrіng dipakai dan bеbеrара bahan kimia ѕаngаt berbahaya bіlа berkontak eksklusif dеngаn kulit insan, Chemical suit dipakai buat menghindari situasi misalnya itu.


Welding Perisai

Welding аdаlаh aktivitas уаng generik dі аtаѕ kapal buat perbaikan struktural dll. Juru las уаng dilengkapi dеngаn perisai las atau topeng уаng melindungi mata dаrі kontak pribadi dеngаn sinar ultraviolet dаrі percikan las. 

Hal іnі wajib diperhatikan serta sebaiknya pemakaian Welding sheeld ѕаngаt diharuskan buat keselamatan pekerja.

DASAR HUKUM PERJANJIAN KERJA LAUT PKL

Dasar Hukum Dаrі Perjanjian Kerja Laut  - Selamat Malam blogger tercinta... Aра kabar ? Sеmоgа ѕеmuа  dalam lindungan Tuhan Yаng Maha Esa.  Malam іnі ѕауа аkаn sedikit mengulas tеntаng ара іtu PKL ( perjanjian kerja bahari ) serta ара уаng sebagai dasar hukum PKL іtu sendiri. 

PKL tіdаk ubahnya ѕеbuаh perjanjian kerja аntаrа pekerja serta pemberi kerja seperti dalam biasanya уаng terjadi selama ini. Sеbuаh perjanjian уаng mengatur kewajiban serta hak pekerja serta kewajiban serta hak pemberi kerja ( perusahaan ). 

Dalam Perjanjian Kerja Laut terdapat sedikit perbedaan.  Perjanjian  kerja dalam umumnya mungkіn hаnуа dі saksikan оlеh bagian HRD atau Pimpinan ( pemberi kerja ) serta Pekerja уаng bersangkutan. 

Nаmun pada Perjanjian Kerja Laut perjanjian dі laksanakan dі kantor syahbandar dan dі lakukan оlеh pihak pemberi kerja уаng bіаѕа dі wakilkan оlеh agen, calon pekerja dan pihak Syahbandar.


DASAR HUKUM PERJANJIAN KERJA LAUT ( PKL )

Pengertian Perjanjian Kerja Laut (PKL).

Pasal 395 Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), berbunyi:

“Perjanjian уаng diadakan аntаrа seseorang pengusaha perkapalan dalam satu pihak dеngаn seseorang buruh dі pihak lain, dimana уаng terakhir іnі mengikat dirinya buat melakukan pekerjaan dalam dinas pada pengusaha perkapalan dеngаn mendapat upah ѕеbаgаі nakhoda atau anak butir kapal.”


Pasal 1 ayat (lima) PP No. 7 Tahun 2000 tеntаng Kepelautan, berbunyi:


“Perjanjian Kerja Laut аdаlаh perjanjian kerja perorangan уаng ditandatangani оlеh pelaut Indonesia dеngаn pengusaha angkutan dі perairan”


Dalam Perjanjian Kerja  Laut form perjanjian dі sediakan оlеh Syahbandar jadi isinya baku atau ѕаmа  аntаrа perusahaan pemberi kerja dalam perusahaan pelayaran. 


Walau kаdаng pemberi kerja melakukan perjanjian sendiri ѕеbеlum melakukan perjanjian kerja bahari dі syahbandar.
Isi dаrі Perjanjaian Kerja Laut ѕеlаіn hak serta kewajiaban dі situ јugа mencantumkan jabatan , gaji уаng аkаn dі terima pekerja, Jam kerja , hak cuti dll. 

Mengingat pentingnya PKL bagi pekerja maka selayaknya jangan dі wakilkan ketika melakukan Perjajian Kerja Laut.

Dasar aturan:

- Kitab Undang-Undang Hukum Dagang(Wetboek Van Koophandel Voor Indonesie, Staatsblad);

- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata(Burgerlijk Wetboek);


- Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2000 tеntаng Kepelautan



- Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 tеntаng Pelayaran;

Dasar aturan dibuatnya perjanjian kerja laut / PKL (zee-arbeidsovereenkomst)  pada prinsipnya mengacu pada Buku II Bab 4 KUHD  tеntаng Perjanjian Kerja Laut, khususnya bagian pertama tеntаng Perjanjian Kerja Laut Pada Umumnya. 

Ketentuan perjanjian kerja bahari ( PKL ) pada KUHD tеrѕеbut јugа mengatur hal-hal bersifat spesifik, contohnya: 


- isi (substansi) PKL уаng lebih luas serta 


- pembuatan PKL wajib dі hadapan Syahbandar (vide Pasal 400 dan Pasal 401 KUHD jo Pasal 18 PP No. 7 Tahun 2000). 

Wаlаuрun demikian, (beberapa) ketentuan Perjanjian Kerja Laut ( PKL ) pada KUHD tersebut, 

Baca Juga ; Kenali Penyebab Kapal Terbakar


merujuk lebih lanjut pada ketentuan perjanjian-perjanjian melakukan pekerjaan (Bab Ketujuh A – Buku II) KUHPerdata SEperti misalnya disebut dalam Pasal 396 KUHD, уаng menjelaskan bahwa, 


“Terhadap PKL berlakulah ѕеlаіn ketentuan-ketentuan dаrі Bab (PKL) ini, (jua berlaku) ketentuan-ketentuan dаrі Bagian Kedua, Ketiga, Keempat, serta Kelima dаrі Bab Ketujuh A dаrі Buku Ketiga KUH Perdata, sekedar berlakunya ketentuan-ketentuan іtu tіdаk dеngаn tegas dikecualikan”. 

Artinya, ѕеlаіn diatur dalam KUHD, PKL јugа tunduk pada Bab Ketujuh A (mengenai Perjanjian-perjanjian Untuk Melakukan Pekerjaan) dаrі Buku Ketiga (mengenai Perikatan) KUH Perdata, ѕераnјаng tіdаk diatur khusus (dengan tegas) dalam KUHD. 

Ketentuan уаng dirujuk pada KUH Perdata sebagaimana dimaksud Pasal 396 tеrѕеbut dі atas, merupakan: 

- Bagian Kedua (tentang Perjanjian Perburuhan Pada Umumnya), 


- Bagian Ketiga (mengenai Kewajiban Majikan), 


- Bagian Keempat (tentang Kewajiban Buruh), serta 


- Bagian Kelima (tentang Bermacam-macam Cara Berakhirnya Perhubungan Kerja Yаng Diterbitkan dаrі Perjanjian). 

Saat ini, ketentuan-ketentuan pada Bab Ketujuh A KUH Perdata dimaksud sebagian akbar (hampir seluruhnya) ѕudаh diatur dalam UU No 13 Tahun 2003 tеntаng Ketenagakerjaan   (“UU Ketenagakerjaan”). 

Dеngаn dеmіkіаn rujukan ketentuan dalam KUH Perdata (sebagaimana dimaksud Pasal 396 KUHD) ѕudаh mengacu pada UU Ketenagakerjaan уаng kini . 
Dі ѕаmріng rujuan akan pasal 396 itu maka sebagian lаgі ketentuan уаng bersifat spesifik sebagaimana dimaksud dalam KUHD, јugа telah diatur dalam UU Pelayaran (kini UU No 17 Tahun 2008 pengganti dаrі UU No. 21 Tahun 1992), 

khususnya (secara detail) dimuat pada PP No 7 Tanun 2000 Tеntаng Kepelautan   (yang mаѕіh adalah peraturan aplikasi dаrі UU No. 21 Tahun 1992 dan mаѕіh berlaku ѕаmраі terdapat penggantinya).

Dеmіkіаn sobat Blogger уаng  tercinta... Perjajian Kerja Laut sebagai instrument krusial bagi kita уаng bekerja ѕеbаgаі pelaut. Karena dі situ hak - hak kita dі lindungi оlеh ѕеbuаh perjanjian уаng sifatnya sebagai ѕеbuаh produk aturan. 

Walau kаdаng уаng ѕеrіng terjadi pada PKL tanda tangan kita dі palsukan buat mempermudah atau mempercepat pembuatan PKL.

Yаng menjadi koreksi kita ѕеrіng kita menemukan isi dalam perjanjian уаng tіdаk sinkron atau beda dеngаn  kenyataannya. 

Misalnya nominal honor kita уаng tertera dalam PKL lebih kecil dаrі уаng kita terima serta lainnya. Kаdаng kita ѕеmuа menduga PKL hаnуа ѕеbuаh formalitas semata.


Melakukan perjanjian kerja laut аntаrа pengusaha kapal dеngаn anak kapal harus dibuat dihadapan anak kapal, dihadapan syahbandar atau pegawai уаng berwajib dan ditandatangani olehnya, pengusaha kapal serta anak butir kapal tesebut.


Baca Juga ; Peralatan Dasar Keselamatan Kerja di Kapal


Disamping kondisi tertulis perjanjian kerja laut harus memenuhi рulа ketentuan уаng diatur dalam pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, аntаrа lain:


a) Adany konvensi atau kemauan secara sukarela dаrі ke 2 belah pihak.


b) Masing-masing mempunyai kecakapan buat bertindak.


c) Persetujuan mengenai atau mengandung ѕuаtu hak eksklusif.


d) Isi perjanjian tіdаk boleh bertentangan dеngаn peraturan perundang-undangan.


Yаng Harus Memiliki PKL.


Sеtіар pelaut уаng sudah disijil harus memiliki Perjanjian Kerja Laut уаng mаѕіh berlaku.

Pasal 145 UU No. 17 tahun 2008, berbunyi:

“Setiap orang tidak boleh mempekerjakan seorang dі kapal pada jabatan ара рun tаnра disijil dan tаnра memiliki kompetensi serta keterampilan dan dokumen pelaut уаng dipersyaratkan.”


Baca Juga ; 10 Tips Lulus Interview Kapal Pesiar


Note:


Sijil аdаlаh daftar dаrі ѕеmuа orang уаng wajib melakukan bepergian dinas ѕеbаgаі awak kapal уаng dараt dirinci ѕеbаgаі bеrіkut :


Sеtіар Perwira serta ABK уаng sudah menciptakan Perjanjian Kerja Laut (PKL) ; serta уаng diwajibkan menjalankan dinas anak kapal;


Orang-orang lain, уаng dеngаn persetujuan pengusaha kapal аtаѕ tanggungan sendiri melakukan ѕuаtu perusahaan dі kapal, misalnya : tukang cukur, pemilik toko уаng menjual barang-barang keperluan sehari-hari bagi pelayar;


Orang-orang lаіn уаng telah membuat perjanjian kerja dеngаn majikan ѕеlаіn pengusaha kapal, уаng mewajibkan mеrеkа buat bekerja pada majikan lаіn tadi.


Baca Juga ; Wajib Hukumnya Tata Kelola ABK di Luar negeri

Bentuk dan Isi PKL.

3 macam bentuk PKL (Pasal 398 KUHD), yaitu:

1. PKL buat saat tertentu.


2. PKL buat satu perjalanan atau lebih.


3. PKL buat saat уаng tіdаk tertentu atau ѕаmраі pemutusan perjanjian.

Isi Perjanjian.

1. Nama serta nama dераn buruh itu, hari kelahirannya atau setidak-tidaknya asumsi umumnya, loka kelahirannya;

2. Tempat serta hari penutupan perjanjian itu;


3. Penunjukan kapal atau kapal-kapal loka buruh іtu mengikat dіrі аkаn bekerja;


4. Bepergian atau bepergian -bepergian уаng аkаn dilakukan, bіlа іnі ѕudаh pasti;


5. Jabatan уаng аkаn dipegang buruh dalam dinasnya;


6. Penyebutan apakah buruh јugа mengikat dіrі buat melakukan pekerjaan dі darat dan bіlа dеmіkіаn pekerjaan apa;


7. Bіlа mungkin, hari dan loka dі mаnа аkаn dimulainya dinas dі kapal;


8. Ketentuan pasal 415 KUHD tеntаng hak аtаѕ hari-hari libur;


9. Tentang pengakhiran interaksi kerja:


a. Bіlа perjanjian diadakan buat ketika tertentu, hari pengakhiran hubungan kerjanya, dеngаn menjelaskan isi pasal 448 KUHD;


b. Bіlа perjanjian diadakan mеnurut bepergian, pelabuhan уаng diperjanjikan buat pengakhiran hubungan kerja itu, dеngаn mengungkapkan isi pasal 449 alinea ke 2 KUHD, bіlа pelabuhannya аdаlаh pelabuhan Indonesia, јugа pasal 452 alinea pertama dan kedua KUHD, sekedar diklaim atau tіdаk nama pelabuhan itu;


c. Bіlа perjanjian іtu diadakan untuk saat tak eksklusif, isi pasal 450 alinea pertama KUHD.

DEFINISI DAN RUANG LINGKUP ERGONOMI

Definisi Dan Ruang Lingkup Ergonomi 
Perubahan waktu, walaupun secara perlahan-lahan, telah merubah insan dari keadaan primitif menjadi insan yang berbudaya. Kejadian ini diantaranya terlihat dalam perubahan rancangan alat-alat-peralatan yg digunakan, yaitu mulai berdasarkan batu yg nir berbentuk menjadi batu yang mulai berbentuk dengan meruncingkan beberapa bagian menurut batu tadi. Perubahan pada indera sederhana ini, memperlihatkan bahwa insan sudah sejak awal kebudayaannya berusaha memperbaiki alat-indera yang dipakainya buat memudahkan pemakaiannya. Hal ini terlihat lagi dalam alat-indera batu runcing yang bagian atasnya dipahat bulat tepat sebanyak genggaman sebagai akibatnya lebih memudahkan dan menggerakan pemakaiannya.

Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang memanfaatkan liputan-kabar tentang sifat, kemampuan dan keterbatasan insan pada rangka menciptakan sistem kerja yg ENASE (efektif, nyaman, kondusif, sehat serta efisien). Ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan dua hal yang nir bisa dipisahkan. Keduanya mengarah pada tujuan yang sama yakni peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life). 

Tujuan Ergonomi
Secara generik penerapan ergonomi terdiri dari poly tujuan. Berikut adalah tujuan pada penerapan ergonomi:
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik serta mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan kenaikan pangkat serta kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial dan mengkoordinasi kerja secara sempurna, guna menaikkan jaminan sosial baik selama kurun saat usia produktif maupun sehabis tidak produktif.
3. Menciptakan ekuilibrium rasional antara aspek teknis, hemat, dan antropologis menurut setiap sistem kerja yang dilakukan sebagai akibatnya tercipta kualitas kerja serta kualitas hayati yang tinggi. (Tarwaka. Dkk, 2004).

Definisi Ergonomi
Ergonomi asal dari kata Yunani ergon (kerja) dan nomos (aturan), secara keseluruhan ergonomi berarti anggaran yang berkaitan menggunakan kerja. Banyak definisi mengenai ergonomi yg dikeluarkan oleh para ahli dibidangnya diantaranya:
1. Ergonomi merupakan ”Ilmu” atau pendekatan multidisipliner yang bertujuan mengoptimalkan sistem manusia-pekerjaannya, sebagai akibatnya tercapai indera, cara serta lingkungan kerja yg sehat, aman, nyaman, dan efisien (Manuaba, A, 1981).
2. Ergonomi merupakan ilmu, seni, serta penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik pada beraktifitas juga istirahat dengan kemampuan serta keterbatasan insan baik fisik juga mental sebagai akibatnya kualitas hayati secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka. Dkk, 2004).
3. Ergonomi merupakan ilmu mengenai insan dalam usaha untuk menaikkan kenyamanan pada lingkungan kerja (Nurmianto, 1996).
4. Ergonomi merupakan ilmu serta penerapannya yg berusaha buat menyerasikan pekerjaan serta lingkungan terhadap orang atau kebalikannya dengan tujuan tercapainya produktifitas serta efisiensi yg setinggi-tingginya melalui pemanfaatan insan seoptimal-optimalnya (Suma’mur, 1987).
5. Ergonomi adalah praktek pada mendesain alat-alat serta rincian pekerjaan sinkron menggunakan kapabilitas pekerja menggunakan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja. (OSHA, 2000).

Dari aneka macam pengertian pada atas, dapat diintepretasikan bahwa sentra berdasarkan ergonomi merupakan manusia. Konsep ergonomi adalah menurut pencerahan, keterbatasan kemampuan, dan kapabilitas manusia. Sehingga pada usaha buat mencegah cidera, menaikkan produktivitas, efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja, pekerjaan serta manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut.

Definisi ergonomi pula bisa dilakukan menggunakan cara menjabarkannya pada fokus, tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi (Mc Coinick 1993) dimana pada penjelasannya disebutkan sebagai berikut:

1. Secara fokus
Ergonomi menfokuskan diri dalam insan serta interaksinya menggunakan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari insan hidup serta bekerja.

2. Secara tujuan
Tujuan ergonomi terdapat dua hal, yaitu peningkatan efektifitas serta efisiensi kerja dan peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan keselamatan kerja, pengurangan rasa lelah dan sebagainya.

3. Secara pendekatan
Pendekatan ergonomi merupakan aplikasi liputan tentang keterbatasan-keterbatasan insan, kemampuan, karakteristik tingkah laris dan motivasi buat merancang mekanisme serta lingkungan loka kegiatan insan tadi sehari-hari.

Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut diatas, definisi ergonomi dapat terangkumkan dalam definisi yang dikemukakan Chapanis (1985), yaitu ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan kabar-liputan mengenai perilaku insan, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya buat merancang alat-alat, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan buat menaikkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan insan.

Sejarah Ergonomi
Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yg berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Beberapa peristiwa krusial diilustrasikan menjadi berikut:

1. C.T. Thackrah, England, 1831
Trackrah merupakan seseorang dokter berdasarkan Inggris/England yang meneruskan pekerjaan berdasarkan seorang Italia bernama Ramazzini, dalam serangkaian aktivitas yg berhubungan dengan lingkungan kerja yang nir nyaman yang dirasakan sang para operator di loka kerjanya. Ia mengamati postur tubuh pada waktu bekerja sebagai bagian menurut perkara kesehatan. Pada waktu itu Trackrah mengamati seseorang penjahit yg bekerja menggunakan posisi serta dimensi kursi-meja yg kurang sinkron secara antropometri, serta pencahayaan yg tidak ergonomis sebagai akibatnya menyebabkan menbungkuknya badan dan iritasi alat penglihatan.

2. F.W. Taylor, U.S.A., 1989
Frederick W. Taylor merupakan seseorang insinyur Amerika yang menerapkan metoda ilmiah untuk menentukan cara yg terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan.

3. F.B. Gilbreth, U.S.A., 1911
Gilbreth juga mengamati serta mengoptimasi metoda kerja, pada hal ini lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan menggunakan Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 beliau menerangkan bagaimana postur membungkuk bisa diatasi menggunakan mendesain suatu sistem meja yang bisa diatur turun-naik (adjustable).

4. E. Mayo serta teman-temannya, U.S.A., 1933
Elton Mayo seseorang warga negara Australia, memulai beberapa studi pada suatu Perusahaan Listrik. Tujuan studinya adalah buat mengkuantifikasi impak dari variabel fisik seperti pencahayaan dan lamanya saat istirahat terhadap faktor efisiensi dari para operator kerja dalam unit perakitan.

5. Pembentukan Kelompok Ergonomi
Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (the Ergonomics Research Society) di England dalam tahun 1949 melibatkan beberapa profesional yg telah poly berkiprah pada bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal (majalah ilmiah) pertama pada bidang Ergonomi dalam November 1957.
Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International Ergonomics Association) terbentuk pada 1957, dan The Human Factors Society pada Amerika pada tahun yang sama.

Diketahui pula bahwa Konferensi Ergonomi Australia yang pertama diselenggarakan pada tahun 1964, dan hal ini mencetuskan terbentuknya Masyarakat Ergonomi Australia dan New Zealand (The Ergonomics Society of Australian and New Zealand).

Perkembangan Ergonomi
Perkembang ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai judul buku yg dikarang sang Prof. Murrel. Sedangkan kata ergonomi itu sendiri asal menurut bahasa Yunani yaitu ergon (kerja) dan nomos (anggaran/prinsip/kaidah). Istilah ergonomi dipakai secara luas di Eropa. Di Amerika Serikat dikenal kata human factor atau human engineering. Kedua istilah tadi (ergonomic dan human factor) hanya tidak selaras dalam penekanannya. Intinya ke 2 istilah tadi sama-sama menekankan pada performansi serta konduite manusia. Menurut Hawkins (1987), buat mencapai tujuan praktisnya, keduanya bisa digunakan menjadi surat keterangan buat teknologi yg sama.

Ergonomi sudah sebagai bagian menurut perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yg lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang benda-benda sederhana, misalnya batu untuk membantu tangan pada melakukan pekerjaannya, hingga dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tadi buat memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan tadi masih nir teratur serta tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan.

Aplikasi / penerapan Ergonomi
Terdapat beberapa aplikasi / penerapan dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Aplikasi / penerapan tadi antara lain:
1. Posisi Kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal serta berat badan tertumpu secara seimbang dalam dua kaki.

2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi ketika bekerja dan sinkron dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan berukuran anthropometri barat dan timur.

3. Tata letak tempat kerja
Display wajib kentara terlihat dalam waktu melakukan kegiatan kerja. Sedangkan simbol yg berlaku secara internasional lebih banyak dipakai daripada istilah-kata.

4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara pada mengangkat beban yakni, menggunakan ketua, bahu, tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menyebabkan cedera tulang punggung, jaringan otot serta persendian akibat gerakan yang berlebihan.

Metode Ergonomi
Terdapat beberapa metode dalam aplikasi ilmu ergonomi. Metode-metode tersebut antara lain:
1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara menggunakan pekerja, inspeksi tempat kerja evaluasi fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist serta pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana hingga kompleks.
2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar dalam waktu diagnosis. Kadang sangat sederhana misalnya merubah posisi mebel, letak pencahayaan atau ventilasi yg sinkron. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.
3. Follow-up, dengan evaluasi yg subyektif atau obyektif, subyektif misalnya menggunakan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu serta siku, keletihan , sakit ketua dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yg ditolak, absensi sakit, nomor kecelakaan serta lain-lain.

Prinsip Ergonomi
Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah penilaian setiap tugas atau pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan pada ergonomi terus mengalami kemajuan serta teknologi yang dipakai pada pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip ergonomi adalah pedoman pada menerapkan ergonomi di tempat kerja, dari Baiduri pada diktat kuliah ergonomi masih ada 12 prinsip ergonomi yaitu:
  1. Bekerja pada posisi atau postur normal; 
  2. Mengurangi beban hiperbola; 
  3. Menempatkan alat-alat agar selalu berada pada jangkauan; 
  4. Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh; 
  5. Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan; 
  6. Minimalisasi gerakan tidak aktif; 
  7. Minimalisasikan titik beban; 
  8. Mencakup jarak ruang; 
  9. Menciptakan lingkungan kerja yg nyaman; 
  10. Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan ketika bekerja; 
  11. Membuat agar display dan contoh gampang dimengerti; 
  12. Mengurangi stres. 
Pengelompokkan Bidang Kajian Ergonomi
Pengelompokkan bidang kajian ergonomi yg secara lengkap dikelompokkan oleh Dr. Ir. Iftikar Z. Sutalaksana (1979) sebagai berikut:
1. Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yg meneliti tenaga insan yg dikeluarkan pada suatu pekerjaan. Tujuan dan bidang kajian ini adalah buat perancangan sistem kerja yg bisa meminimasi konsumsi tenaga yang dikeluarkan saat bekerja.
2. Antropometri, yaitu bidang kajian ergonomi yang herbi pengukuran dimensi tubuh manusia buat digunakan dalam perancangan peralatan dan fasilitas sehingga sinkron dengan pemakainya.
3. Biomekanika yaitu bidang kajian ergonomi yang herbi mekanisme tubuh pada melakukan suatu pekerjaan, misalnya keterlibatan otot manusia dalam bekerja dan sebagainya.
4. Penginderaan, yaitu bidang kajian ergonomi yang erat kaitannya menggunakan masalah penginderaan insan, baik alat penglihatan, penciuman, perasa serta sebagainya.
5. Psikologi kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang berkaitan menggunakan impak psikologis serta suatu pekerjaan terhadap pekerjanya, misalnya terjadinya stres serta lain sebagainya.

Pada prakteknya, pada mengevaluasi suatu sistem kerja secara ergonomi, kelima bidang kajian tadi digunakan secara sinergis sebagai akibatnya didapatkan suatu solusi yang optimal, sebagai akibatnya seluruh bidang kajian ergonomi adalah suatu sistem terintegrasi yg semata-mata ditujukan buat perbaikan syarat manusia pekerjanya.

Spesialisasi Bidang Ergonomi
Spesialisasi bidang ergonomi mencakup: ergonomi fisik, ergonomi kognitif, ergonomi sosial, ergonomi organisasi, ergonomi lingkungan serta faktor lain yg sinkron. Evaluasi ergonomi merupakan studi mengenai penerapan ergonomi pada suatu sistem kerja yang bertujuan buat mengetahui kelebihan dan kekurangan penerapan ergonomi, sebagai akibatnya didapatkan suatu rancangan keergonomikan yg terbaik.
1. Ergonomi Fisik: berkaitan menggunakan anatomi tubuh insan, anthropometri, ciri fisiolgi serta biomekanika yg berafiliasi dnegan aktifitas fisik. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain: postur kerja, pemindahan material, gerakan berulan-ulang, MSD, tata letak tempat kerja, keselamatan serta kesehatan.
2. Ergonomi Kognitif: berkaitan menggunakan proses mental insan, termasuk di dalamnya ; persepsi, ingatan, serta reaksi, sebagai akibat menurut hubungan insan terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yg relevan dalam ergonomi kognitif antara lain ; beban kerja, pengambilan keputusan, performance, human-computer interaction, keandalan manusia, dan stres kerja.
3. Ergonomi Organisasi: berkaitan menggunakan optimasi sistem sosioleknik, termasuk sturktur organisasi, kebijakan serta proses. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi organisasi diantaranya ; komunikasi, MSDM, perancangan kerja, perancangan waktu kerja, timwork, perancangan partisipasi, komunitas ergonomi, kultur organisasi, organisasi virtual, dll.
4. Ergonomi Lingkungan: berkaitan menggunakan pencahayaan, temperatur, kebisingan, serta getaran. Topik-topik yang relevan dengan ergonomi lingkungan antara lain ; perancangan ruang kerja, sistem akustik,dll.

PENGERTIAN TATA LETAK FASILITAS

Tinjauan Tata Letak Fasilitas
Didalam perencanaan fasilitas pabrik ada dua hal utama yg akan dibahas, yaitu pertama berkaitan menggunakan perencanaan lokasi pabrik (plant location) yaitu penetapan lokasi dimana fasilitas-fasilitas produksi wajib ditempatkan, dan yang ke 2 merupakan perancangan fasilitas produksi (facilities design) yang akan meliputi perancangan struktur bangunan (structure design), perancangan rapikan letak fasilitas produksi (facilities/plan layout design) serta perancangan sistem pemindahan material. Secara skematis hirarki berdasarkan perencanaan fasilitas pabrik tersebut dapat digambarkan menjadi berikut : (Sritomo,2000)

Gambar  Sistematika perencanaan fasilitas pabrik
Sumber : Sritomo, 2000

Perencanaan lokasi mencakup penentuan tempat fasilitas itu tidak sinkron, yg dipilih menggunakan memperhatikan faktor-faktor misalnya letak pasar, bahan standar, dan keadaan lingkungan. Perencanaan rapikan letak meliputi tata letak buat bangunan primer serta penunjang (misalnya bagian personalia, loka parkir) serta rapikan letak mesin-mesin didalam pabrik. Perencanaan sistem material handling mencakup penanganan bahan standar, personil, fakta dan peralatan-alat-alat yg dibutuhkan buat memperlancar pelaksanaan proses produksi.

Dalam perancangan fasilitas, tata letak pabrik seringkali menimbulkan beberapa masalah yg harus segera diatasi, lantaran kasus tata letak pabrik merupakan hal utama pada menunjang kelancangan proses produksi. Oleh karenanya rapikan letak pabrik sebagai sangat krusial pada menunjang keberhasilan suatu perusahaan, karena dengan tata letak yg baik dapat menaikkan efektivitas serta efisiensi yg tinggi selama proses produksi berlangsung.

Pengertian Tata Letak Fasilitas
Banyak definisi tata letak pabrik yg dikemukakan oleh para ahli yg pada dasarnya merupakan sama, antara lain yaitu :
1. Tata letak pabrik (plan lay out) atau rapikan letak fasilitas (facilities lay out) adalah rapikan cara pengaturan fasilitas-fasilitas fisik pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi (Sritomo, 2000).
2. Tata letak fasilitas merupakan fungsi yg melibatkan analisa (sintesa), perencanaan serta desain berdasarkan interelasi antara pengaturan fasilitas fisik, pergerakan material, kegiatan yang dihubungkan menggunakan personil dan aliran kabar yg diharapkan untuk mencapai performan optimum pada rentang aktivitas yang berhubungan (James M, Apple, 1990).

Ruang Lingkup Rancang Fasilitas
Pekerjaan rancang fasilitas seringkali dikira hanya berhubungan dengan perancangan yang cermnat mengenai susunan peralatan produksi. Padahal perencanaan demikian hanya adalah keliru satu termin saja berdasarkan suatu rangkaian aktivitas yg sangat luas yg saling berhubungan dan yg secara holistik menciptakan kegiatan perancangan rapikan letak fasilitas.

Ruang lingkup pekerjaan rancang fasilitas meliputi satu kajian yg cermat paling tidak berdasarkan bidang-bidang berikut : (James M. Apple, 1990)
1. Pengangkutan
2. Penerimaan
3. Gudang bahan baku
4. Produksi
5. Perakitan
6. Pengemasan dan pengepakan
7. Pemindahan barang
8. Pelayanan pegawai
9. Kegiatan produksi penunjang
10. Pergudangan
11. Pengiriman
12. Perkantoran
13. Fasilitas luar (penunjang)
14. Bangunan
15. Lahan
16. Lokasi
17. Keamanan
18. Buangan

Tujuan Tata Letak Pabrik
Secara garis akbar tujuan primer menurut rapikan letak pabrik adalah mengatur area kerja serta segala fasilitas produksi yg paling ekonomis buat operasi produksi, aman dan nyaman sebagai akibatnya akan menaikkan moral kerja dan performans dari operator. Lebih spesifik lagi rapikan letak yang baik akan bisa menaruh laba-keuntungan dalam sistem produksi, diantaranya menjadi berikut : (Sritomo, 2000)

· Menaikan hasil produksi
Tata letak yang baik akan menaruh keluaran (hasil) yg lebih akbar dengan ongkos yg sama atau lebih sedikit, ketika kerja (man-hours) operator yg lebih kecil, dan mengurangi jam kerja mesin (machine hours).

· Mengurangi ketika tunggu (delay)
Mengatur keseimbangan antara waktu operasi produksi dan beban dari masing-masing departemen atau mesin. Dengan pengaturan yg baik maka bisa mengurangi saat tunggu (delay) yg berlebihan

· Mengurangi proses pemindahan bahan (material handling)
Pada sebagian besar proses produksi, bahan standar akan lebih acapkali dipindahkan dibandingkan menggunakan dua elemen dasar produksi lainnya. Dengan mengingat hal itu maka pada merencanakan rapikan letak wajib menekankan desainnya dalam usaha-bisnis meminimalkan kegiatan pemindahan bahan pada waktu proses produksi berlangsung.

· Penghematan penggunaan areal buat produksi, gudang serta service
Suatu perencanaan tata letak yg baik akan mencoba mengatasi segala pemborosan pemakaian ruangan dan berusaha buat mengoreksinya.

· Pendayagunaan yg lebih akbar menurut pemakaian mesin, energi kerja dan atau fasilitas produksi lainnya
Suatu rapikan letak yang terpola menggunakan baik akan banyak membantu pendayagunaan elemen-elemen produksi secara lebih efektif serta efisien.

· Mengurangi inventory in-process
Siatem produksi dalam dasarnya menghendaki sedapat mungkin bahan standar buat berpindah menurut suatu operasi langsung ke operasi berikutnya secepat-cepatnya serta berusaha mengurangi bertumpuknya bahan 1/2 jadi. Problem ini terutama bisa dilaksanakan dengan mengurangi ketika tunggu dan bahan yang menunggu buat segera diproses.

· Proses manufacturing lebih singkat
Dengan memperpendek jarak antara operasi satu ke operasi yg lainnya serta mengurangi bahan yang menunggu dan penyimpanan yang nir dibutuhkan, maka waktu yg dibutuhkan berdasarkan bahan baku buat berpindah dari satu loka ke loka lainnya pada pabrik akan mampu diperpendek sehingga secara total saat produksi akan dipersingkat.

· Mengurangi resiko bagi kesehatan dan keselamatan kerja operator
Suasana yang aman dan nyaman bagi para pekerja dalam pekerjaannya. Hal-hal yg bisa dipercaya membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan kerja menurut operator haruslah dihindari.

· Memperbaiki moral serta kepuasan kerja
Penataan tata letak pabrik yang baik, rapi dan tertib akan menciptakan suasana kerja yg menyenangkan sebagai akibatnya moral serta kepuasan kerja mampu lebih ditingkatkan.

· Mempermudah kegiatan supervisi
Dengan tata letak pabrik yang terpola dengan baik akan mempermudah dalam mengamati segala aktifitas yang berlangsung di area kerja.

· Mengurangi kemacetan serta kesimpangsiuran
Tata letak pabrik yg baik akan menaruh luasan yg relatif untuk semua operasi yg diharapkan dan proses mampu berlangsung gampang dan sederhana.

· Mengurangi faktor yang bisa merugikan dan mensugesti kualitas berdasarkan bahan standar ataupun produk jadi
Tata letak yg baik akan menjaga bahan baku maupun produk jadi menurut getaran-getaran, debu, panas serta lain-lain sebagai akibatnya akan mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan.

Tujuan-tujuan tadi umumnya tidak dapat dicapai secara sekaligus, karena tujuan yang satu menggunakan yg lainnya dapat antagonis, contohnya buat dapat mempercepat atau memperlancar kegiatan material handling dapat dilakukan dengan memakai peralatan terkini, namun penggunaan peralatan ini tentunya akan menambah investasi modal perusahaan. Penggunaan ruang yang sangat efisien, misalnya penempatan mesin-mesin yg sangat rapat, bisa mengakibatkan kesulitan dalam pemeliharaan lantaran ruang mobilitas yg sangat terbatas. Oleh karenanya, perencanaan perlu memilih sasaran mana yg terutama hendak dicapai.

Pertimbangan Dalam Perencanaan Pabrik
Pada dasarnya perencanaan pulang rapikan letak pabrik menyangkut perencanaan produk baru atau tata letak baru berdasarkan fasilitas produksi yang sudah ada. Pada umumnya perencanaan pulang suatu pabrik ditimbulkan sang beberapa alasan tertentu diantaranya :
1. Adanya perubahan dalam design produk, contoh serta lain-lain.
2. Adanya perubahan lokasi pabrik suatu wilayah pemasaran.
3. Adanya perubahan ataupun peningkatan volume produksi yang akhirnya membawa perubahan kearah modifikasi segala fasilitas produksi yang terdapat.
4. Adanya keluhan-keluhan dari pekerja terhadap syarat kerja yg nir memenuhi persyaratan.
5. Adanya peningkatan jumlah kecelakaan dampak syarat area kerja yg kurang memenuhi persyaratan tersebut.
6. Adanya stagnasi-stagnasi dalam pemindahan bahan, gudang yg terlalu sempit serta lain-lain.

Prosedur Perencanaan dan Penyusunan Tata Letak Fasilitas
Untuk menjamin kelengkapan serta ketepatan pekerjaan yg dilakukan dalam menghasilkan rancangan fasilitas, kebanyakan proses perancangan harus mengikuti langkah-langkah menjadi berikut : (James M. Apple, 1990)
1. Mendapatkan data dasar
2. Menganalisis data dasar
3. Merancang proses produksi
4. Merencanakan pola aliran bahan
5. Mempertimbangkan rencana pemindahan bahan menyeluruh
6. Menghitung kebutuhan peralatan
7. Merencanakan stasiun kerja mandiri
8. Memilih alat-alat pemindah barang tertentu
9. Mengkoordinir kelompok operasi yang berkaitan
10. Merancang keterkaitan kegiatan
11. Menentukan kebutuhan gudang
12. Merencanakan kegiatan pelayanan serta aktivitas lainnya
13. Menentukan kebutuhan gudang
14. Mengalokasikan kegiatan ke semua ruang
15. Mempertimbangkan jenis bangunan
16. Membangun rapikan letak induk
17. Mengevaluasi, menyesuaikan, dan menyelidiki rapikan letak dengan orang yang tepat
18. Memperoleh persetujuan
19. Membangun tata letak
20. Mengikuti pelaksanaan rapikan letak

Jenis-Jenis Persoalan Tata Letak
Permasalahan tata letak tidak selalu ada pada perancangan rapikan letak bagi pabrik baru, namun tak jarang terjadi pada penataletakan ulang menurut suatu proses yang sudah terdapat atau perubahan beberapa bagian berdasarkan susunan peralatan eksklusif.

Masalah-perkara tata letak pabrik dalam umumnya akan ada bila terjadi berbagai hal misalnya : (James M. Apple, 1990)

1. Perubahan rancangan produk
Seringkali perubahan rancangan produk menuntut perubahan proses atau operasi yang dibutuhkan. Perubahan ini hanya memerlukan penggantian sebagian mini tata letak yang telah ada, atau merancang ulang tata letak, tergantung pada perubahan perubahan-perubahan yg terjadi.

2. Perluasan departemen
Jika lantaran suatu alasan diharapkan menambah produksi suatu komponen produk eksklusif, mungkin saja dibutuhkan perubahan pada tata letak.

3. Pengurangan departemen
Jika jumlah produksi berkurang secara drastis dan menetap, perlu dipertimbangkan pemakaian proses yg tidak sinkron dari proses sebelumnya yang digunakan untuk produksi tinggi. Perubahan ini menuntut pemasangan jenis alat-alat baru.

4. Penambahan produk baru
Jika produk baru ditambah maka kemungkinan produk alat-alat yang ada dapat dipakai dengan menambah beberapa mesin baru disana-sini pada tata letak yg telah terdapat dengan penyusunan minimum, atau mungkin memerlukan penyiapan departemen baru atau seksi baru, mungkin jua pabrik baru.

5. Memindahkan satu departemen
Memindahkan satu departemen bisa mengakibatkan perkara tata letak yang akbar karena bisa menimbulkan perubahan kearah penataletakan ulang dalam daerah yang baru.

6. Peremajaan peralatan yang rusak
Persoalan ini menuntut pemindahan alat-alat yg berdekatan buat menerima tambahan ruang.

7. Perubahan metode produksi
Setiap perubahan kecil dalam satu tempat kerja tak jarang mempunyai pengaruh terhadap loka kerja yg berdekatan. Hal ini akan menuntut peninjauan kembali atas wilayah yang terlibat.

8. Penambahan departemen baru
Masalah ini bisa ada menurut harapan buat mengkonsolidasi-kan
9. Penurunan biaya
10. Perencanaan fasilitas baru

Prinsip Dasar Perencanaan Tata Letak Pabrik
Untuk merencanakan rapikan letak pabrik yang baik ada beberapa prinsip yg wajib diperhatikan, prinsip-prinsip tadi antara lain : (Sritomo, 2000)

· Prinsip integrasi secara total
Tata letak pabrik adalah integrasi secara total berdasarkan semua elemen produksi yg ada sebagai suatu operasi yang akbar.

· Prinsip jarak perpindahan bahan yg paling minimal
Hal ini mampu dilaksanakan menggunakan cara mencoba menempatkan operasi yg berikutnya sedekat mungkin menggunakan operasi yang sebelumnya.

· Prinsip aliran dari suatu proses kerja
Prinsip ini adalah kelengkapan berdasarkan jeda perpindahan bahan yang seminimal mungkin, dengan prinsip ini diusahakan untuk menghindari adanya gerakan kembali (back tracking), gerakan memotong (cross movement), stagnasi (congestion), serta sedapat mungkin material berkecimpung terus tanpa ada interupsi.

· Prinsip pemanfaatan ruangan
Pada dasarnya tata letak merupakan pengaturan ruang yg akan dipakai manusia, bahan standar, mesin dan peralatan penunjang proses produksi lainnya.

· Prinsip kepuasan dan keselamatan kerja
Melalui penataan suasana kerja yg menyenangkan serta memuaskan, akan memberikan moral kerja serta keselamatan kerja yang lebih baik serta mengurangi porto produksi.

· Prinsip fleksibilitas
Prinsip ini sangat penting dalam perkembangan disegala bidang, sangat cepat sebagai akibatnya dunia industri harus ikut berpacu buat mengimbanginya.

Tanda-Tanda Tata Letak yang Baik
Tata letak yg baik terwujud dengan mempunyai beberapa karakteristik yang kentara yg bisa dilihat bahkan berdasarkan satu pengamatan biasa. Diantara yg paling krusial merupakan :
1. Keterkaitan aktivitas yang terencana
2. Pola aliran barang terencana
3. Aliran yang lurus
4. Langkah balik (pulang ketempat yg sudah dilewati) yg minimum
5. Jalur genre tambahan
6. Gang yang lurus
7. Pemindahan antar operasi minimum
8. Metode pemindahan yang terencana
9. Jarak pemindahan minimum
10. Pemrosesan digabung dengan pemindahan bahan
11. Pemindahan bergerk berdasarkan penerimaan menuju pengiriman
12. Operasi pertama dekat menggunakan penerimaan
13. Operasi terakhir dekat menggunakan pengiriman
14. Penyimpanan pada loka pemakaian bila mungkin
15. Tata letak yg dapat diubahsuaikan menggunakan perubahan
16. Direncanakan buat perluasan terencana
17. Barang 1/2 jadi minimum
18. Sesedikit mungkin bahan yg tengah diproses
19. Pemakaian semua lantai pabrik maksimum
20. Ruang penyimpanan yang cukup
21. Penyediaan ruang yang cukup antar peralatan
22. Bangunan didirikan di sekeliling tata letak
23. Bahan diantar ke pekerja dan diambil menurut tempat kerja
24. Sesedikit mungkin jalan kaki antar operasi produksi
25. Penempatan yang sempurna buat fasilitas pelayanan produksi serta pekerja
26. Alat pemindah terpasang dalam loka yang sesuai
27. Fungsi pelayanan pekerja yang cukup
28. Pengendalian kebisingan, kotoran, debu, asap, kelembaban serta sebagainya yg cukup
29. Waktu pemrosesan bagi waktu produksi total maksimum
30. Sesedikit mungkin pemindahan barang
31. Pemindahan ulang minimum
32. Pemisah nir mengganggu genre barang
33. Pemindahan sang buruh langsung sesedikit mungkin
34. Pemindahan barang residu sekecil mungkin
35. Penempatan yang pantas bagi bagian penerimaan serta pengiriman

Macam-Macam Tipe Tata Letak Pabrik
Tata letak pabrik produksi dapat disusun berdasarkan beberapa alternatif sinkron dengan kebutuhan serta kondisi yg dihadapi. Tata letak fasilitas produksi tersebut dapat dibedakan sebagai berikut : (Sritomo, 2000) 

Tata Letak Fasilitas Sesuai Dengan Aliran Produk (Product Lay Out) 
Tata letak jenis ini dikonsentrasikan pada ketika memproduksi suatu macam produk standar. Tata letak yang dari genre produk akan menghatur mesin dan fasilitas lainnya berdasarkan prinsip “machine after machine”, tidak peduli macam mesin yang digunakan.

Dengan memakai rapikan letak tipe ini segala fasilitas buat proses manufaktur atau juga perakitan akan diletakkan menurut garis aliran (Flow Line) dari proses produksi tadi.

Tata letak dari genre produk ini adalah tipe layout yang paling popular buat pabrik yang bekerja/berproduksi secara massal (mass production).

Contoh tata letak jenis ini bisa dicermati pada gambar berikut :

Gambar  Tata letak berdasarkan genre produk
Sumber : Richard L. Francis, 1992

Tata Letak Berdasarkan Aliran Proses (Process Lay Out) 
Tata letak dari genre proses tak jarang diklaim pula dengan fuctional layout, yaitu metode pengaturan serta penempatan berdasarkan mesin serta segala fasilitas produksi dengan tipe/macam yg sama pada sebuah departemen. Semua fasilitas atau mesin yang memiliki ciri-ciri operasi atau fungsi kerja yg sama diletakkan dalam sebuah departemen. Tata letak jenis ini umumnya diaplikasikan dalam industri yg bekerja dengan jumlah/volume produksi yang nisbi kecil dan terutama sekali buat jenis produk yg nir disetandarkan. Tata letak jenis ini jauh lebih fleksibel dibandingkan menggunakan tipe genre produk.

Tata letak jenis ini bisa dipandang pada contoh dibawah ini :

Gambar  Tata letak berdasarkan genre proses
Sumber : Richard L. Francis, 1992

Tata Letak Dengan Lokasi Tetap 
Tata letak panrik yang menurut dalam posisi permanen, material atau komponen produk utamanya akan permanen tinggal pada posisi/lokasi sedangkan fasilitas produksinya seperti alat-alat, mesin, manusia, serta komponen-komponen lainnya akan berkecimpung menuju lokasi material atau komponen produk utama tadi. Pada posisi perakitan maka lay out tipe ini seringkali dijumpai lantaran disini tools dan peralatan kerja lainnya akan cukup mudah dipindahkan. Tipe lay out jenis posisi permanen ini tidaklah begitu krusial bila dibandingkan dengan tipe-tipe layout lainnya.

Tata letak jenis ini bisa dipandang pada contoh dibawah ini :

Gambar  Tata letak menurut lokasi material tetap
Sumber : Richard L. Francis, 1992

Tata Letak Fasilitas Berdasarkan Kelompok Produk (Group Technologi Lay Out) 
Tata letak jenis ini berdasarkan dalam pengelompokan produk atau komponen yg akan dibentuk. Produk-produk yang nir identik dikelompok-gerombolan berdasarkan langkah-langkah bentuk, mesin atau alat-alat yang digunakan, pemrosesan serta sebagainya. Disini pengelompokan tidak berdasarkan dalam kesamaan jenis produk akhir. Pada tipe ini, mesin-mesin atau fasilitas produksi nantinya pula akan dikelompokan serta ditempatkan dalam sebuah “manufacturing cell”.

Tata letak jenis ini bisa ditinjau pada gambar dibawah ini :

Gambar Group technologi lay out
Sumber : Richard L. Francis, 1992

Dengan adanya pengaturan pengelompokan produk sinkron menggunakan proses pembuatannya maka akan diperoleh eksploitasi mesin yg aporisma. Lintasan genre kerja menjadi lebih lancar dan jeda perpindahan material diharapkan lebih pendek jika dibandingkan rapikan letak menurut fungsi atau macam proses. Berdasarkan pengaturan tata letak fasilitas produksi selama ini, maka suasana kerja gerombolan akan bisa dibentuk sehingga keuntungan-laba dari pelaksanaan job enlargement pula akan diperoleh. Pada dasarnya pengaturan rapikan letak tipe grup produk merupakan kombinasi menurut product layout dan process layout. Umumnya cenderung menggunakan mesin-mesin general purpose.

Perencanaan Yang Sistematis Untuk Tata Letak
Pada perencanaan tata letak pabrik dibutuhkan suatu data-data yang sistematis buat jalannya suatu perancangan, adapun hal-hal yg sistematis tadi meliputi :

Kebutuhan Ruang
Dalam menentukan kebutuhan ruang buat perencanaan tata letak fasilitas adalah hal yg sangat kompleks. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya ketidakpastian didalam perencanaan fasilitas yg mencakup : kemajuan teknologi, perubahan pada komposisi produk, perubahan taraf permintaan serta rancangan organisasi dimasa mendatang.

Permasalahan yg sangat kompleks tersebut pada menentukan kebutuhan ruang, dengan adanya hal tersebut Tomkins (1984) menyarankan adanya pendekatan yang sistematik yang dibangun berdasarkan bawah keatas. Dalam lingkungan manufaktur serta perkantoran kebutuhan ruang dipengaruhi pertama-tama menurut stasiun kerja individual, lalu kebutuhan ruang buat departemen dari formasi stasiun didalam departemen tersebut.

Spesifikasi Departemen
Dalam memilih kebutuhan luas lantai untuk suatu departemen perlu adanya tambahan kelonggaran buat gang. Kelonggaran pada gang tersebut ditentukan berdasarkan berukuran relatif dari beban yg ditangani.

Spesifikasi Stasiun Kerja
Stasiun kerja adalah loka dimana mesin dan alat-alat ditempatkan. Adapun pada stasiun kerja tadi mencakup untuk peralatan, material serta tenaga kerja. Untuk ruang alat-alat dalam stasiun kerja terdiri berdasarkan ruang menjadi berikut :
1. Peralatan
2. Pergerakan mesin
3. Perawatan mesin
4. Pelayanan dipabrik

Pertimbangan-pertimbangan yang wajib diberikan dalam kebutuhan ruang peralatan yang harus tersedia pada data mesin mencakup beberapa hal :
1. Tipe mesin serta produksinya
2. Nomor seri serta contoh mesin
3. Lokasi yg kondusif bagi mesin
4. Kebutuhan bongkar muat
5. Tinggi statistik pada titik maksimum
6. Pergerakan partikal maksimum
7. Lebar statistik pada titik maksimum
8. Pergerakan maksimum kekiri
9. Pergerakan maksimum kekanan
10. Statistik kedalam dalam titik maksimum
11. Pergerakan maksimum ke arah operator
12. Pergerakan maksimum yg menjauhi operator
13. Area dan kebutuhan perawatan
14. Area dan kebuthan pelayanan pabrik

Kebutuhan luas lantai untuk setiap mesin, termasuk konvoi mesin, dapat ditentukan dengan mengalikan lebar total (lebar statistik ditambah konvoi maksimum mesin kekiri serta kekanan), menggunakan panjang total (panjang statistik ditambah pergerakan maksimum mesin). Tambahkan kebutuhan pelayanan pabrik serta perawatan buat setiap kebutuhan lantai bagi setiap mesin. Adapun jumlah total berdasarkan luas lantai tersebut mewakili kebutuhan luas lantai bagi mesin.

Area bagi energi kerja didalam stasiun kerja mencakup ruang buat :
1. Operator
2. Penanganan material
3. Pergerakan operator

Area bagi material buat stasiun kerja dalam ruang buat :
1. Penerimaan serta penyimpanan material
2. Material in-proses
3. Penyimpanan serta pengiriman material
4. Penyimpanan dan pengiriman residu material dan scraf
5. Peralatan, dies, fixtures, jig serta material buat perawatan

Dalam spesifikasi kebutuhan luas lantai bagi operator dan penanganan material dapat diperoleh secara pribadi berdasarkan metoda kerja yang ditetapkan dengan menggunakan study gerakan terhadap pekerjaan yang dilakukan serta studi ergonomi buat operator.

Adapun gambaran faktor-faktor yang wajib diperhatikan pada hal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Stasiun kerja dirancang buat meminimasi operator pada menjangkau atau meletakan materiah tanpa harus berjalan jauh.
2. Stasiun kerja harus dibuat buat utilitas yang efektif serta efisien bagi operator.
3. Stasiun kerja dirancang buat meminimasi terdapat ketika buat menangani meterial secara manual.
4. Stasiun kerja dibuat buat memberikan ketenangan, keamanan yang maksimum buat produktivitas operator.

Stasiun kerja dibuat buat meminimasi adanya bahaya yang ada menurut operator, dampak kelelahan serta ketegangan mata.

Pada hal-hal tersebut diatas, operator wajib diberikan ruang buat pergerakannya pada melewati gang dengan lebar minimum 30 inchi. Apabila operator berkiprah diantara objek yang membisu dan mesin yg sedang beroperasi, maka lebar minimum yg diberikan untuk gang tersebut merupakan 38 inchi. Dan jika operator berkiprah diantara dua mesin yg beroperasi, maka lebar minimum yang diberikan merupakan sebesar 43 inchi.

PENGERTIAN DAN DEFINISI ERGONOMI

Pengertian Dan Definisi Ergonomi
Istilah “ergonomi” berasal berdasarkan bahasa latin yaitu Ergon (Kerja) serta Nomos (Hukum Alam) serta bisa didefinisikan sebagai studi mengenai aspek-aspek insan pada lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan. Ergonomi berkenaan juga dengan oprimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di tempat tinggal , dan loka rekreasi. Didalam ergonomi diharapkan studi mengenai sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi menggunakan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja menggunakan manusianya. Ergonomi disebut pula menjadi “ Fuman Factors”. Ergonomi jua digunakan sang berbagai macam pakar/profesional pada bidangnya contohnya : pakar anatomi, arsitektur, perancangan produk industri, ekamatra, fisioterapi, terapi pekerjaan, psikologi dan teknik industri. (Definisi diatas menurut pada Internasional Ergonomics Association). Selain itu ergonomi pula bisa diterapkan buat bidang fisiologi, psikologi, perancangan, analisis, sintesis, evaluasi proses kerja dan produk bagi wiraswastawan, manajer, pemerintahan, militer, dosen serta mahasiswa. (Nurmianto, 2004)

Mendefinisikan kata ergonomi yaitu “Suatu cabang ilmu yang sistematis buat memanfaatkan kabar-innformasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan insan buat merancang sistem kerja sehingga orang dapat hayati dan bekerja dalam sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu, dengan efektif, kondusif dan nyaman”. (Sutalaksana, 2004:61)

Definisi yang mampu dibuat buat menyebutkan arti ergonomi seperti human factors, human factors engineering, human engineering, engineering psychology, applied ergonomics, industrial ergonomics serta/atau industrial engineering. Tujuan utamanya merupakan memperoleh kesesuaian antara kebutuhan menggunakan rancangan, pengembangan, implementasi serta evaluasi sistem insan mesin serta lingkungan fisiknya supaya lebih produktif, nyaman, aman serta memuaskan buat penggunaannya (Wignjosoebroto, 1995:54).

Beberapa pakar mendefinisikan Ergonomi sebagai berikut :
1. Nurmianto Eko pada bukunya yaitu Konsep Dasar dan Aplikasinya, 2004, ergonomi dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia pada lingkungan kerjanya yg ditinjau secara anatomi, fisiologi, engineering, manajemen serta desain/perancangan.
2. Iftikar Z. Sutalaksana dalam bukunya yaitu Teknik Tata Cara Kerja, 2006, mendefinisikan ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis buat memanfaatkan berita-fakta mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia buat merancang suatu sistem kerja sebagai akibatnya orang dapat hidup serta bekerja dalam sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yg diinginkan melalui pekerjaan itu, dengan efektif, kondusif, sehat,nyaman, serta efisien.
3. Sritomo Wignjosoebroto pada bukunya yaitu Ergonomi Studi Gerak serta Waktu, 1995, mendefinisikan ergonomi merupakan suatu disiplin ilmu yang berhubungan dengan perancangan serta pembuatan alat-alat sang insan sebagai akibatnya insan dapat menggunakannya secara efektif dan kondusif serta membangun kesesuaian pada lingkungan pekerjaan dan kehidupan mereka.

Sejarah Ergonomi
Istilah “Ergonomi” mulai dicetuskan dalam tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Hal ini dapat di lihat ketika manusia masih mengunakan batu sebagai alat bantu dalam melakukan aktivitasnya, pada awalnya batu yang di gunakan adalah batu alami, namun seiring berjalannya waktu mereka merubah alat tadi menjadi lebih runcing yang membuat alat tersebut lebih berguna. Keadaan tersebut membuktikan bahwa insan telah mengenal ergonomi walaupun penerapannya tidak secara matematis bahkan terkesan kebetulan. Istilah ergonomi tidak sinkron di berbagai negara, seperti “Arbeltswisssenchchaft” pada Jerman, “Bioteknologi” di Negara-negara Skandinavia, sedangkan pada Amerika istilah ergonomi lebih pada kenal dengan Human Engineering atau Human Factors Engineering. Perbedaan nama-nama diatas hendaknya tidak dijadikan kasus, karena secara praktis, kata-istilah tersebut mempunyai maksud yg sama. Pada mulanya ergonomi poly dikuasai oleh ahli psikologi, dimana dalam saat itu pemilihan operator merupakan hal yg paling di utamakan. Kenyataannya, walaupun kita menerima operator yang berprestasi serta mempunyai keahlian tinggi, namun output akhir tidak selamanya memuaskan. Salah satu penyebabnya adalah sistem kerja yang di rancang nir memperhatikan kemampuan serta keterbatasan operator itu sendiri. Hal ini terbukti menggunakan konkret dalam saat perang dunia II. Pesawat terbang, senjata serta alat-alat lainnya yang dibuat serba otomatis menjadi nir digdaya keguanaannya misalnya hancurnya pesawat terbang, bom dan peluru yg nir mengenai target, disebabkan tidak lain karena operator tidak mampu menguasai operasi yg kompleks berdasarkan indera tersebut. (Sutalaksana, 2006:72)

Dasar Keilmuan menurut Ergonomi
Banyak penerapan ergonomi yg hanya berdasarkan sekedar “common sense” (dipercaya suatu hal yg telah biasa terjadi), dan hal itu benar, jika sekiranya suatu laba yang akbar mampu didapat hanya sekedar menggunakan penerapan suatu prinsip yg sederhana. Hal ini umumnya merupakan perkara dimana ergonomi belum bisa diterima sepenuhnya sebagai indera buat proses desain, namun masih banyak aspek ergonomi yang jauh dari pencerahan insan. Karakterisrik fungsional berdasarkan manusia seperti kemampuan penginderaan berdasarkan insan. Waktu respon atau tanggapan, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki buat efisiensi kerja otot, dan lain-lain, adalah merupakan suatu hal yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat umum . Agar didapat suatu perencanaan pekerjaan juga produk yg optimal dari pada tergantung serta wajib dengan “trial and eror” maka pendekatan ilmiah wajib segera diadakan. (Nurmiano,2004:5)

Ilmu-ilmu terapan yg poly herbi fungsi tubuh manusia adalah anatomi dan fisiologi. Untuk sebagai ergonomi dibutuhkan pengetahuan dasar mengenai fungsi dari sistem kerangka otot, yg herbi hal tadi adalah kinesiologi (mekanika konvoi insan) dan biomekanik (aplikasi ilmu mekanika teknik buat analisis sistem kerangka otot insan). Ilmu ini akan menaruh modal dasar buat mengatasi masalah postur dan pergerakan manusia ditempat dan ruang kerjanya. Disamping itu, suatu hal yg vital pada penerapan ilmiah buat ergonomi merupakan antopometri (kalibrasi tubuh manusia). Dalam hal ini terjadi penggabungan serta pemakaian data antopometri menggunakan ilmu-ilmu statistik yang menjadi prasyarat umumnya. (Nurmianto,2004:5)

Kegunaan dari penerapan ergonomi merupakan buat :
a. Memperbaiki performasi kerja (menambah kecepatan kerja, keakuratan, keselamatan kerja dan mengurangi energi kerja yang hiperbola dan mengurangi kelelahan).
b. Mengurangi saat yg terbuang sia-sia serta meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan “human error”
c. Memperbaiki ketenangan insan dalam kerja

Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia
Anatomi merupakan susunan tubuh dan interaksi bagian-bagiannya satu sama lain. Anatomi regional menurut letak geografis bagian tubuh, serta setiap region atau daerah, contohnya lengan tungkai, kepala, dada, serta seterusnya ternyata terdiri atas sejumlah struktur atau susunan yg generik didapati pada seluruh region. Dan fisiologi mempelajari fungsi atau kerja tubuh insan dalam keadaan normal. (Pearce, C, 1989:72)

Gambar Anggota mobilitas atas kanan, pandanan lateral, dengan lengah bawah terputar ke dalam, memperlihatkan kedudukan otot-otot utama dari lengan atas. Ibu jari diregangankan (pada abduksi) buat mengendorkan tendon extensio menurut lengan bawah dengan ini menerangkan lekukan yg dikenal dengan Anatomical Sniff-Box (Kotak isap Anatomik)
(Sumber : Pearce, Evelyn, C, 1989, Anatomi serta Fisiologi untuk Pramedis:38)

Gambar (Pandangan palmaris dari tangan kiri yang menandakan kedudukan sendi Metakarpal-Falanx. Otot Eninensia dan Hipotenaris, Fasia palmaris dan tendon yang melingkar pergelangan tangan dibawah Flexor Retinakular atau Ligamen Annalaris Anterior. Hal penting buat ini adalah jika menggunakkan bidai atau balutan gips agar pergelangan tangan tetap lurus sebagai akibatnya tidak menyentuh sendi Metakarpo-Falanx, namun berakhir pada bawahnya, guna menyakinkan bahwa seseorang bisa membengkokkan jari-jarinya diatas bidai, membangun sudut tegak lurus dengan telapak tangan.
(Sumber : Pearce, Evelyn, C, 1989, Anatomi serta Fisiologi untuk Pramedis:39) 

Kerangka Anggota Atas (Tulang Pergelangan Tangan dan Tangan)
Tulang tangan disusun dalam beberapa kelompok. Karpus (tulang pangkal tangan atau tulang yang masuk deretan pergelngan, merupakan tulang pendek. Metakarpal membangun kerangka tapak tangan dan berbentuk tulang pipa. Falaxn merupakan tulang jari dan berbentuk tulang pipa. (Pearce, C, 1989:72)

Gambar Pandangan anterior dari tulang pergelangan serta tangan kanan, beserta nama hubungan kedudukan terhadap satu-satu tulang.
(Sumber : Pearce, Evelyn, C, 1989, Anatomi dan Fisiologi untuk Pramedis:73)

Otot Kerangka
Otot dikaitkkan pada tulang, tulang rawan, ligamen serta kulit. Yang langsung terletak dibawah kelit datar, dan yang pada anggota gerak panjang. (Pearce, C, 1989:102)

Gambar Otot tangan, dan otot tepi diatas sisi anterior lengah bawah (kanan)
(Sumber : Pearce, Evelyn, C, 1989, Anatomi dan Fisiologi buat Pramedis:111)

Gambar Otot di sisi posterior serta lengan bawah (kanan) menunjukkan juga tendon extensor buat tangan dan yang berjalan bi bawah retinakulum
(Sumber : Pearce, Evelyn, C, 1989, Anatomi serta Fisiologi buat Pramedis:112)

Pemindahan Bahan Secara Manual
Perilaku dan posisi pemindahan material secara manual sudah sebagai perhatian yg sangat penting buat menciptakan perencanaan yg efisien dalam penanganan pekerjaan pemindahan material dan sludi buat melindungi pekerja dari kecelakaan dan cedera. Berdasarkan output penelitian yg dibuat oleh NIOSH diperoleh bahwa kecelakaan pada industri disebabkan sang penggunaan tenaga yg hiperbola yg selanjutnya berefek pada cedera tulang belakang bagian bawah. Penelitian-penelitian buat mencari penyebab primer cedera tulang belakang ini telah poly dilakukan keliru satunya merupakan dengan dikembangkan model Biomekanika buat memperkirakan besarnya gaya yg menekan tulang belakang bagian bawah. Beberapa model Biomekanika sudah dikembangkan diantaranya model Biomekanika Statis bidang Sagital dikembangkan oleh Doti B. Chaffin (1975), model Biomekanika Dinamik bidang sagital dikembangkan sang Ayoub dan EI-Bassousi (1978). Kedua contoh ini hanya bisa dipakai buat memprediksikan besarnya gaya tekan serta gaya geser di L51/SI untukpengangkatan dalam bidang sagital. Model Biomekanika Statis bidang sagital dikembangkan lagi oleh Haris Kustantio (1999) sebagai akibatnya contoh Biomekanika inidapat dipakai Untuk berbagai posisi pengangkatan diantaranya pengangkatan asimetrik. Pada contoh Biomekanika Statik tiga dimensi ini tubuh insan direpresentasikan oleh tujuh segmen yaitu segmen betis kiri, segmen betis kanan, segmen paha kiri, segmen paha kanan, segmen badan dan kepala, segmen lengan kiri dan lengan kanan. Model Biomekanika ini mempunyai kelemahan yaitu segmen lengan mewakili lengan atas dan lengan bawah dan penentuan titik berat lengan yang berada dalam 50% panjang lengan. Atas dasar inilah perlu dilakukan pengembangan contoh Biomekanika Statis maupun model Biomekanika Dinamik agar bisa lebih representatif buat memodelkan tubuh insan dan representatif digunakan buat berbagai posisi pengangkatan material secara manual. Pekerjaan pengangkatan pada industri memiliki posisi serta metoda pengangkatan yang bhineka diantaranya pengangkatan penurunan pada bidang sagital, serta pengangkatan/penurunan asimetrik. Masing-masing posisi ini akan memberikan imbas yang tidak sama dalam tulang belakang bagian bawah. 

Pemindahan bahan secara manual jika tidak dilakukan secara ergonomis akan menimbulkan kecelakaan pada industri. Kecelakaan dalam industri (industrial accident) yang disebut sebagai “Over exertion-lifting ang carrying” yaitu kerusakan tubuh yang diakibatkan oleh bebab angkat yg berlebihan. Data tentang peristiwa tersebut sudah mencapai homogen-homogen 18% dari sekuruh kecelakaan selama tahun 1982-1985 menurut data statistik tentang kompensasi para pekerja pada negara bagian New South Wales, Australia. Dari data kecelakaan ini 93% antara lain diakibatkan oleh Strain (rasa nyeri yang hiperbola) sedangkan 5% lainnya pada hernia. Dari data tentang Strain 61% diantaranya berada pada bagian punggung. Sementara itu faktor yg berpengaruh terhadap timbulnya nyeri punggung (back injury), arah beban yang akan diangkat serta frekwensi aktivitas pemindahan. Resiko-resiko nyeri tadi banyak dijumpai dalam beberapa industri sebagai berikut : (Nurmianto, 2004:152)
a. Industri berat
b. Pertambangan
c. Pemindahan material
d. Konstruksi / bangunan
e. Pertanian
f. Rumah sakit, dan lain-lain.

Back Injury yg diakibatkan berdasarkan efek pemindahan beban juga poly terdapat aktifitas rekreasi atau santai (Leisure). Usaha-bisnis untuk mengurangi hal tadi adalah menggunakan cara mengadakan pelatihan, pendidikan dan penyuluhan tentang dampak negatifnya dan perhatian spesifik pada perancangan produk yg nantinya akan dikonsumsi buat masyarakat. Beberapa aktifitas yang akan menimbulkan efek sampingan negatif ( hazard ) tersebut antara lain :
a. Mengangkat beban berat dikantor/ perusahaan
b. Mengoprasikan alat-alat/ fasilitas kerja di industri manufaktur juga jasa, dan lain-lain.

Pada semua masalah diatas rakyat wajib sadar bahwa dalam usia menengah (yaitu diatas 40 tahun) merupakan usia yg berpeluang akbar buat mendapatkan usia ini. Tetapi demikian kaum muda, diperlukan jua berhati-hati dalam mengangkat beban secara repelitive (berulang).

Beberapa parameter yg harus diperhatikan merupakan sebagai berikut:
1. Beban yang harus diangkat
2. Perbandingan antara berat beban serta orangnya
3. Jeda horizontal dari beban terhadap orangnya
4. Berukuran beban yang akan diangkat (beban yg berdimensi besar akan mempunya jarak CG (center of gravity) yg lebih jauh menurut tubuh, yg biasa mengganggu jarak pandangnya.