PENGERTIAN LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN MENURUT PARA AHLI

Pengertian landasan psikologi pendidikan Menurut Para Ahli
Untuk tahu karakteristik peserta didik pada masa kanak-kanak, remaja, dewasa, serta usia tua, psikologi pendidikan membuatkan dan menerapkan teori-teori pembangunan manusia. Sering digambarkan sebagai tahap di mana orang lulus saat jatuh tempo, teori-teori perkembangan mendeskripsikan perubahan kemampuan mental (kognisi), kiprah sosial, penalaran moral, serta keyakinan tentang hakikat pengetahuan. 

Menurut Pidarta (2007:194) Psikologi atau ilmu jiwa merupakan ilmu yang menyelidiki jiwa insan. Jiwa itu sendiri merupakan roh pada keadaan mengendalikan jasmani, yg bisa dipengaruhi olaeh alam kurang lebih. Jiwa insan berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan insan, sehingga landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yg membahas banyak sekali warta tentang kehidupan manusia dalam umumnya dan tanda-tanda-tanda-tanda yang berkaitan menggunakan aspek eksklusif manusia dalam setiap tahapan usia perkembangan tertentu buat mengenali dan menyikapi manusia sesuai menggunakan tahapan usia perkembangannya yg bertujuan buat memudahkan proses pendidikan.

Bentuk psikologis pendidikan
A. Psikologis Perkembangan
Ada 3 teori atau pendekatan mengenai perkembangan. Pendekatan-pendekatan yg dimaksud merupakan (Nana Syaodih, 1989).
1. Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan eksklusif. Pada setiap termin mempunyai ciri-karakteristik spesifik yg tidak sinkron menggunakan karakteristik-karakteristik dalam tahap-tahap yg lain. 
2. Pendekatan diferensial. Pendekatan ini ditinjau individu-individu itu memiliki kecenderungan-kesamaan serta disparitas-perbedaan. Atas dasar ini kemudian orang-orang menciptakan kelompok–kelompok. Anak-anak yg mempunyai kesamaan dijadikan satu grup. Maka terjadilah kelompok menurut jenis kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, status sosial ekonomi, dan sebagainya. 
3. Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat ciri setiap individu, bisa saja disebut sebagai pendekatan individual. Melihat perkembangan seseorang secara individual. 

Dari ketiga pendekatan ini, yang paling dilaksanakan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan pentahapan ada dua macam yaitu bersifat menyeluruh dan yang bersifat khusus. Yang menyeluruh akan meliputi segala aspek perkembangan menjadi faktor yg diperhitungkan pada menyusun tahap-termin perkembangan, sedangkan yg bersifat spesifik hanya mempertimbang faktor eksklusif saja menjadi dasar menyusun tahap-tahap perkembangan anak, misalnya pentahapan Piaget, Koglberg, serta Erikson.

Psikologi perkembangan berdasarkan Rouseau membagi masa perkembangan anak atas empat tahap yaitu :
1)Masa bayi dari 0 – dua tahun sebagian besar adalah perkembangan fisik.
2)Masa anak berdasarkan dua – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru misalnya hidup manusia primitif.
3)Masa pubertas berdasarkan 12 – 15 tahun, ditandai menggunakan perkembangan pikiran serta kemauan buat berpetualang.
4)Masa adolesen dari 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, sosial, istilah hati, dan moral. Remaja ini sudah mulai belajar berbudaya.

B. Psikologi Belajar
Menurut Pidarta (2007:206) belajar adalah perubahan konduite yang nisbi permanen menjadi output pengalaman (bukan hasil perkembangan, dampak obat atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain dan sanggup mengomunikasikannya kepada orang lain.

Secara psikologis, belajar bisa didefinisikan sebagai “suatu bisnis yg dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar menurut hasil interaksinya menggunakan lingkungan” (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar adalah suatu bisnis buat mencapai tujuan tertentu yaitu buat mendapatkan perubahan tingkah laris Kedua, perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar.

Dari pengertian belajar di atas, maka aktivitas dan usaha buat mencapai perubahan tingkah laku itu dipandang menjadi Proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri dicermati menjadi Hasil belajar. Hal ini berarti, belajar dalam hakikatnya menyangkut 2 hal yaitu proses belajar serta output belajar.

Para ahli psikologi cenderung buat menggunakan pola-pola tingkah laku insan sebagai suatu contoh yg menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim dianggap menggunakan Teori Belajar.
1. Teori belajar klasik masih permanen dapat dimanfaatkan, diantaranya untuk menghapal perkalian serta melatih soal-soal (Disiplin Mental). Teori Naturalis mampu digunakan pada pendidikan luar sekolah terutama pendidikan seumur hayati. 
2. Teori belajar behaviorisme bermanfaat dalam mengembangkan konduite-konduite nyata, seperti rajin, menerima skor tinggi, nir berkelahi serta sebagainya. 
3. Teori-teori belajar kognisi berguna dalam menilik materi-materi yg rumit yg membutuhkan pemahaman, buat memecahkan perkara dan buat berbagi ide (Pidarta, 2007:218). 

C. Psikologi Sosial
Menurut Hollander (1981) psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seorang pada rakyat, yg mengkombinasikan karakteristik-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk memeriksa efek masyarakat terhadap individu serta antar individu (dikutip Pidarta, 2007:219).

Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memilki 3 kunci primer yaitu.
1. Kepribadian orang itu. Mungkin kita pernah mendengar mengenai orang itu sebelumnya atau cerita-cerita yg seperti menggunakan orang itu, terutama tentang kepribadiannya. 
2. Perilaku orang itu. Ketika melihat perilaku orang itu sesudah berhadapan, maka hubungkan dengan cerita-cerita yang pernah didengar. 
3. Latar belakang situasi. Kedua data di atas kemudian dikaitkan menggunakan situasi pada saat itu, maka menurut kombinasi ketiga data itu akan keluarlah kesan pertama tentang orang itu. 

Dalam dunia pendidikan, kesan pertama yg positif yang dibangkitkan pendidik akan memberikan kemauan serta semangat belajar anak-anak. Motivasi pula merupakan aspek psikologis sosial, karena tanpa motivasi eksklusif seorang sulit buat bersosialisasi dalam warga . Sehubungan menggunakan itu, pendidik punya kewajiban buat menggali motivasi anak-anak agar ada, sebagai akibatnya mereka dengan senang hati belajar pada sekolah.

Menurut Klinger (dikutip Pidarta, 2007:222) faktor-faktor yg menentukan motivasi belajar adalah.
1. Minat dan kebutuhan individu. 
2. Persepsi kesulitan akan tugas-tugas. 
3. Harapan sukses. 

Kontribusi psikologi pendidikan pada proses belajar
1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.

Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan menggunakan pemahaman aspek-aspek konduite dalam konteks belajar mengajar. Terlepas menurut berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, dalam pada dasarnya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan bisa berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.

Secara psikologis, insan adalah individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki sang setiap individu, baik ditinjau dari segi taraf kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan dan karakterisktik-karakteristikindividulainnya.

Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu buat bisa berkembang sesuai dengan potensi yg dimilikinya, baik dalam hal subject matter juga metodepenyampaiannya.

Secara khusus, dalam konteks pendidikan pada Indonesia ketika ini, kurikulum yang dikembangkan ketika ini merupakan kurikulum berbasis kompetensi, yang pada pada dasarnya menekankan dalam upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir serta bertindak secara konsisten serta terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, pada arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar buat melakukan sesuatu.

Dengan demikian pada pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan menggunakan aspek-aspek: (1) kemampuan murid melakukan sesuatu dalam aneka macam konteks; (2) pengalaman belajar murid; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa

2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan sudah melahirkan banyak sekali teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, misalnya : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas menurut kontroversi yang menyertai kelemahan menurut masing masing teori tadi, dalam kenyataannya teori-teori tadi sudah menaruh sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.

Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan jua sejumlah prinsip-prinsip yg melandasi aktivitas pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan 3 belas prinsip pada belajar, yakni :
1) Agar seorang sahih-benar belajar, ia wajib memiliki suatu tujuan
2) Tujuan itu wajib muncul berdasarkan atau herbi kebutuhan hidupnya serta bukan lantaran dipaksakan sang orang lain.
3) Orang itu wajib bersedia mengalami beragam kesulitan serta berusaha menggunakan tekun buat mencapai tujuan yang berharga baginya.
4) Belajar itu wajib terbukti menurut perubahan kelakuannya.
5) Selain tujuan pokok yg hendak dicapai, diperolehnya jua output sambilan.
6) Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
7) Seseorang belajar menjadi keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual tetapi termasuk jua aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
8) Seseorang memerlukan bantuan serta bimbingan menurut orang lain.
9) Untuk belajar dibutuhkan insight. Apa yg dipelajari wajib sahih-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal liputan lepas secara verbalistis.
10) Disamping mengejar tujuan belajar yg sebenarnya, seseorang seringkali mengejar tujuan-tujuan lain.
11) Belajar lebih berhasil, apabila bisnis itu memberi sukses yang menyenangkan.
12) Ulangan serta latihan perlu akan namun wajib didahului oleh pemahaman.
13) Belajar hanya mungkin jika terdapat kemauan serta hasrat buat belajar.

3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan adalah salah satu aspek penting pada pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita bisa tahu perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh siswa sesudah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.

Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata pada pengukuran potensi-potensi yg dimiliki oleh setiap siswa, terutama sehabis dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik buat mengukur taraf kecerdasan, talenta juga kepribadian individu lainnya.kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan buat mengukur potensi seseorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan indera ukur lainnya.

Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, mempunyai arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yg bersangkutan sebagai akibatnya pada gilirannya bisa dicapai perkembangan individu yg optimal.

Oleh karena itu, betapa pentingnya dominasi psikologi pendidikan bagi kalangan guru pada melaksanakan tugas profesionalnya.

Keadaan anak yang tadinya belum dewasa sampai menjadi dewasa berarti mengalami perubahan,karena dibimbing, dan aktivitas bimbingan adalah usaha atau aktivitas berinteraksi antara pendidik,anak didik dan lingkungan.

Perubahan tadi merupakan merupakan gejala yang muncul secara psikologis. Di dalam interaksi inilah kiranya pendidik harus bisa memahami perubahan yang terjadi dalam diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu jua pendidik perlu memahami landasan pendidikan berdasarkan sudut psikologis.

Dengan demikian, psikologi merupakan salah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara psikologi menggunakan pendidikan adalah satu kesatuan yang sangat sulit dipisahkan. Subyek serta obyek pendidikan merupakan insan, sedangkan psikologi menyelidiki gejala-gejala psikologis berdasarkan manusia. Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

PENGERTIAN PSIKOLOGI HUMANISTIK MENURUT PARA AHLI

Pengertian Psikologi Humanistik Menurut Para Ahli
Psikologi humanistik adalah galat satu genre dalam psikologi yang ada dalam tahun 1950-an, menggunakan akar pemikiran menurut kalangan eksistensialisme yg berkembang dalam abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, misalnya : Abraham Maslow, Carl Rogers serta Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya menelaah secara spesifik tentang berbagai keunikan insan, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, asa, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.

Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme dan ditinjau sebagai “kekuatan ketiga “ dalam genre psikologi. Psikoanalisis dipercaya menjadi kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya tiba menurut psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yg dikombinasikan dengan pencerahan pikiran guna membentuk kepribadian yg sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur sang kekuatan tidak sadar berdasarkan pada diri. 

Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yg dipelopori oleh Ivan Pavlov menggunakan hasil pemikirannya mengenai refleks yg terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa seluruh konduite dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal berdasarkan lingkungan.

Dalam menyebarkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam herbi lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk membicarakan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan serta pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan mengenai 5 (5) dalil primer berdasarkan psikologi humanistik, yaitu: (1) eksistensi manusia nir bisa direduksi ke pada komponen-komponen; (dua) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam herbi insan lainnya; (3) insan mempunyai kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan menggunakan orang lain; (4) insan mempunyai pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (lima) manusia mempunyai pencerahan dan sengaja buat mencari makna, nilai dan kreativitas.

Terdapat beberapa pakar psikologi yang telah menaruh sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari grup fenomenologi yang menelaah tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan menggunakan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yg yang melekat menurut kejadian itu sendiri, melainkan menurut persepsinya terhadap suatu kejadian.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yg memfokuskan dalam kebutuhan psikologis mengenai potensi-potensi yang dimiliki insan. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi serta ekspresi seorang, yang adalah keliru satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berfikirnya sendiri dan lalu mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menjelaskan pula bahwa setiap manusia bisa memikirkan mengenai perasaan-persaannya serta pula mempunyai kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, insan dapat berusaha menjadi lebih baik. Carl Rogers berjasa akbar dalam mengantarkan psikologi humanistik buat bisa diaplikasian dalam pendidikan. Dia berbagi satu filosofi pendidikan yg menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya membangun iklim emosional yang kondusif supaya bisa membentuk pemaknaan personal tadi. Dia memfokuskan dalam interaksi emosional antara guru menggunakan siswa

Berkenaan menggunakan epistemiloginya, teori-teori humanistik dikembangkan lebih menurut dalam metode penelitian kualitatif yang menitik-beratkan dalam pengalaman hidup manusia secara nyata (Aanstoos, Serlin & Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mempelajari tentang mental serta konduite manusia secara ilmiah melalui metode kuantitatif sebagai sesuatu yang keliru kaprah. Tentunya hal ini merupakan kritikan terhadap kalangan kognitivisme yang mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif dalam usaha mempelajari tentang psikologi.

Sebaliknya, psikologi humanistik pun menerima kritikan bahwa teori-teorinya nir mungkin bisa memfalsifikasi dan kurang memiliki kekuatan prediktif sebagai akibatnya dianggap bukan menjadi suatu ilmu (Popper, 1969, Chalmers, 1999).

Hasil pemikiran dari psikologi humanistik poly dimanfaatkan untuk kepentingan konseling serta terapi, galat satunya yang sangat populer merupakan berdasarkan Carl Rogers menggunakan client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien buat dapat mengarahkan diri dan tahu perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya perilaku tulus, saling menghargai serta tanpa berpretensi pada membantu individu mengatasi perkara-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya mempunyai jawaban atas perseteruan yang dihadapinya serta tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yg krusial pada melakukan treatment atau hadiah bantuan pada klien.

Selain menaruh sumbangannya terhadap konseling serta terapi, psikologi humanistik jua memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha berbagi individu secara holistik melalui pembelajaran konkret. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, serta keterampilan dalam berkarier sebagai fokus pada contoh pendidikan humanistik ini.

PENGERTIAN LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN MENURUT PARA AHLI

Pengertian landasan psikologi pendidikan Menurut Para Ahli
Untuk tahu ciri peserta didik dalam masa kanak-kanak, remaja, dewasa, serta usia tua, psikologi pendidikan mengembangkan serta menerapkan teori-teori pembangunan manusia. Sering digambarkan sebagai tahap di mana orang lulus ketika jatuh tempo, teori-teori perkembangan mendeskripsikan perubahan kemampuan mental (kognisi), peran sosial, penalaran moral, serta keyakinan mengenai hakikat pengetahuan. 

Menurut Pidarta (2007:194) Psikologi atau ilmu jiwa merupakan ilmu yang mempelajari jiwa insan. Jiwa itu sendiri merupakan roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang bisa dipengaruhi olaeh alam lebih kurang. Jiwa insan berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan insan, sebagai akibatnya landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan pada proses pendidikan yg membahas banyak sekali warta mengenai kehidupan manusia pada biasanya serta gejala-gejala yg berkaitan menggunakan aspek eksklusif insan dalam setiap tahapan usia perkembangan eksklusif buat mengenali serta menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yg bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.

Bentuk psikologis pendidikan
A. Psikologis Perkembangan
Ada tiga teori atau pendekatan mengenai perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud merupakan (Nana Syaodih, 1989).
1. Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan eksklusif. Pada setiap termin memiliki ciri-ciri khusus yg tidak sinkron dengan ciri-ciri dalam tahap-termin yang lain. 
2. Pendekatan diferensial. Pendekatan ini ditinjau individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan serta disparitas-perbedaan. Atas dasar ini kemudian orang-orang membuat grup–gerombolan . Anak-anak yang memiliki kecenderungan dijadikan satu grup. Maka terjadilah kelompok dari jenis kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, status sosial ekonomi, dan sebagainya. 
3. Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja diklaim sebagai pendekatan individual. Melihat perkembangan seorang secara individual. 

Dari ketiga pendekatan ini, yang paling dilaksanakan merupakan pendekatan pentahapan. Pendekatan pentahapan ada dua macam yaitu bersifat menyeluruh serta yg bersifat spesifik. Yang menyeluruh akan meliputi segala aspek perkembangan menjadi faktor yang diperhitungkan dalam menyusun termin-tahap perkembangan, sedangkan yang bersifat spesifik hanya mempertimbang faktor tertentu saja sebagai dasar menyusun tahap-termin perkembangan anak, contohnya pentahapan Piaget, Koglberg, dan Erikson.

Psikologi perkembangan menurut Rouseau membagi masa perkembangan anak atas empat tahap yaitu :
1)Masa bayi menurut 0 – 2 tahun sebagian akbar merupakan perkembangan fisik.
2)Masa anak berdasarkan dua – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru seperti hidup insan primitif.
3)Masa pubertas menurut 12 – 15 tahun, ditandai menggunakan perkembangan pikiran serta kemauan buat berpetualang.
4)Masa adolesen menurut 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, sosial, kata hati, dan moral. Remaja ini telah mulai belajar berbudaya.

B. Psikologi Belajar
Menurut Pidarta (2007:206) belajar adalah perubahan perilaku yg relatif tetap menjadi hasil pengalaman (bukan output perkembangan, efek obat atau kecelakaan) serta mampu melaksanakannya pada pengetahuan lain dan sanggup mengomunikasikannya pada orang lain.

Secara psikologis, belajar bisa didefinisikan menjadi “suatu usaha yg dilakukan oleh seorang buat memperoleh suatu perubahan tingkah laris secara sadar menurut output interaksinya dengan lingkungan” (Slameto, 1991:dua). Definisi ini menyiratkan 2 makna. Pertama, bahwa belajar adalah suatu usaha buat mencapai tujuan eksklusif yaitu buat mendapatkan perubahan tingkah laku Kedua, perubahan tingkah laris yang terjadi wajib secara sadar.

Dari pengertian belajar di atas, maka aktivitas serta usaha buat mencapai perubahan tingkah laku itu dicermati menjadi Proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laris itu sendiri dilihat sebagai Hasil belajar. Hal ini berarti, belajar dalam hakikatnya menyangkut 2 hal yaitu proses belajar serta output belajar.

Para pakar psikologi cenderung buat menggunakan pola-pola tingkah laku insan sebagai suatu model yg menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim diklaim dengan Teori Belajar.
1. Teori belajar klasik masih permanen dapat dimanfaatkan, diantaranya untuk menghapal perkalian serta melatih soal-soal (Disiplin Mental). Teori Naturalis mampu dipakai pada pendidikan luar sekolah terutama pendidikan seumur hidup. 
2. Teori belajar behaviorisme berguna pada membuatkan perilaku-konduite konkret, seperti rajin, menerima skor tinggi, tidak berkelahi serta sebagainya. 
3. Teori-teori belajar kognisi berguna dalam menilik materi-materi yang rumit yang membutuhkan pemahaman, buat memecahkan perkara dan buat menyebarkan ilham (Pidarta, 2007:218). 

C. Psikologi Sosial
Menurut Hollander (1981) psikologi sosial adalah psikologi yang menilik psikologi seseorang pada rakyat, yang mengkombinasikan karakteristik-ciri psikologi dengan ilmu sosial buat mempelajari imbas masyarakat terhadap individu dan antar individu (dikutip Pidarta, 2007:219).

Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memilki 3 kunci utama yaitu.
1. Kepribadian orang itu. Mungkin kita pernah mendengar tentang orang itu sebelumnya atau cerita-cerita yang mirip menggunakan orang itu, terutama mengenai kepribadiannya. 
2. Perilaku orang itu. Ketika melihat konduite orang itu setelah berhadapan, maka hubungkan menggunakan cerita-cerita yang pernah didengar. 
3. Latar belakang situasi. Kedua data pada atas kemudian dikaitkan dengan situasi pada ketika itu, maka berdasarkan kombinasi ketiga data itu akan keluarlah kesan pertama mengenai orang itu. 

Dalam global pendidikan, kesan pertama yg positif yang dibangkitkan pendidik akan memberikan kemauan dan semangat belajar anak-anak. Motivasi jua adalah aspek psikologis sosial, karena tanpa motivasi eksklusif seseorang sulit buat bersosialisasi dalam warga . Sehubungan menggunakan itu, pendidik punya kewajiban buat menggali motivasi anak-anak supaya ada, sebagai akibatnya mereka dengan bahagia hati belajar di sekolah.

Menurut Klinger (dikutip Pidarta, 2007:222) faktor-faktor yang memilih motivasi belajar merupakan.
1. Minat serta kebutuhan individu. 
2. Persepsi kesulitan akan tugas-tugas. 
3. Harapan sukses. 

Kontribusi psikologi pendidikan pada proses belajar
1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.

Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas menurut aneka macam aliran psikologi yg mewarnai pendidikan, pada pada dasarnya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan menggunakan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.

Secara psikologis, insan adalah individu yg unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik dicermati berdasarkan segi taraf kecerdasan, kemampuan, perilaku, motivasi, perasaaan dan karakterisktik-karakteristikindividulainnya.

Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu buat bisa berkembang sesuai dengan potensi yg dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metodepenyampaiannya.

Secara khusus, dalam konteks pendidikan pada Indonesia ketika ini, kurikulum yg dikembangkan waktu ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yg pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan pada kebiasaan berfikir serta bertindak. Kebiasaan berfikir serta bertindak secara konsisten serta terus menerus memungkinkan seorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar buat melakukan sesuatu.

Dengan demikian pada pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan menggunakan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam aneka macam konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (tiga) output belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa

2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan aneka macam teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori pada pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif serta teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas berdasarkan kontroversi yg menyertai kelemahan menurut masing masing teori tersebut, dalam kenyataannya teori-teori tadi sudah memberikan sumbangan yang signifikan pada proses pembelajaran.

Di samping itu, kajian psikologi pendidikan sudah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi aktivitas pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan 3 belas prinsip pada belajar, yakni :
1) Agar seseorang sahih-sahih belajar, beliau harus memiliki suatu tujuan
2) Tujuan itu wajib ada berdasarkan atau herbi kebutuhan hidupnya serta bukan lantaran dipaksakan sang orang lain.
3) Orang itu wajib bersedia mengalami beragam kesulitan dan berusaha menggunakan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
4) Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5) Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya juga hasil sambilan.
6) Belajar lebih berhasil menggunakan jalan berbuat atau melakukan.
7) Seseorang belajar menjadi holistik, tidak hanya aspek intelektual tetapi termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
8) Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
9) Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari wajib benar-sahih dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal informasi lepas secara verbalistis.
10) Disamping mengejar tujuan belajar yg sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11) Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
12) Ulangan serta latihan perlu akan tetapi wajib didahului sang pemahaman.
13) Belajar hanya mungkin jikalau terdapat kemauan serta asa buat belajar.

3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan adalah salah satu aspek krusial pada pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita bisa tahu perkembangan perilaku apa saja yg diperoleh peserta didik sehabis mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran eksklusif.

Di samping itu, kajian psikologis sudah menaruh sumbangan konkret pada pengukuran potensi-potensi yang dimiliki sang setiap peserta didik, terutama sehabis dikembangkannya banyak sekali tes psikologis, baik buat mengukur taraf kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.kita mengenal sejumlah tes psikologis yg waktu ini masih poly digunakan buat mengukur potensi seseorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS serta alat ukur lainnya.

Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti krusial bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga dalam gilirannya bisa dicapai perkembangan individu yg optimal.

Oleh karena itu, betapa pentingnya dominasi psikologi pendidikan bagi kalangan pengajar pada melaksanakan tugas profesionalnya.

Keadaan anak yang tadinya belum dewasa hingga menjadi dewasa berarti mengalami perubahan,lantaran dibimbing, dan kegiatan bimbingan merupakan usaha atau aktivitas berinteraksi antara pendidik,murid serta lingkungan.

Perubahan tersebut merupakan merupakan tanda-tanda yg timbul secara psikologis. Di dalam interaksi inilah kiranya pendidik wajib mampu tahu perubahan yg terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu juga pendidik perlu memahami landasan pendidikan menurut sudut psikologis.

Dengan demikian, psikologi adalah galat satu landasan pokok menurut pendidikan. Antara psikologi menggunakan pendidikan merupakan satu kesatuan yg sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah insan, sedangkan psikologi mempelajari tanda-tanda-gejala psikologis dari insan. Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yg tidak terpisahkan.

PENGERTIAN PSIKOLOGI HUMANISTIK MENURUT PARA AHLI

Pengertian Psikologi Humanistik Menurut Para Ahli
Psikologi humanistik adalah keliru satu genre pada psikologi yg muncul pada tahun 1950-an, menggunakan akar pemikiran berdasarkan kalangan eksistensialisme yg berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para pakar psikologi, misalnya : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yg berupaya menyelidiki secara khusus tentang banyak sekali keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), ekspresi, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas serta sejenisnya.

Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas genre psikoanalisis dan behaviorisme dan dicermati sebagai “kekuatan ketiga “ dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap menjadi kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya tiba berdasarkan psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis insan yg dikombinasikan menggunakan pencerahan pikiran guna menghasilkan kepribadian yg sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar menurut pada diri. 

Kekuatan psikologi yg ke 2 merupakan behaviorisme yang dipelopori sang Ivan Pavlov menggunakan output pemikirannya mengenai refleks yang terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa semua konduite dikendalikan sang faktor-faktor eksternal dari lingkungan.

Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi insan dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi menggunakan menitik-beratkan pada kebebasan individu buat membicarakan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, swatantra, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan mengenai lima (5) dalil utama berdasarkan psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke pada komponen-komponen; (dua) manusia mempunyai keunikan tersendiri pada herbi insan lainnya; (3) manusia mempunyai pencerahan akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia mempunyai pilihan-pilihan serta bisa bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja buat mencari makna, nilai serta kreativitas.

Terdapat beberapa pakar psikologi yg sudah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs serta Combs (1949) menurut gerombolan fenomenologi yg mempelajari mengenai persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan menggunakan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yg yg melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan menurut persepsinya terhadap suatu kejadian.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis mengenai potensi-potensi yang dimiliki insan. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami mengenai motivasi serta aktualisasi diri seorang, yang adalah keliru satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa insan dapat memikirkan mengenai proses berfikirnya sendiri serta kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menjelaskan juga bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya serta jua memiliki pencerahan akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia bisa berusaha sebagai lebih baik. Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik buat dapat diaplikasian pada pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yg menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang aman supaya dapat menciptakan pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan dalam interaksi emosional antara pengajar menggunakan siswa

Berkenaan dengan epistemiloginya, teori-teori humanistik dikembangkan lebih dari pada metode penelitian kualitatif yg menitik-beratkan dalam pengalaman hayati insan secara nyata (Aanstoos, Serlin & Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mengkaji tentang mental dan perilaku insan secara ilmiah melalui metode kuantitatif menjadi sesuatu yg galat kaprah. Tentunya hal ini adalah kritikan terhadap kalangan kognitivisme yang mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif pada bisnis mengusut tentang psikologi.

Sebaliknya, psikologi humanistik pun mendapat kritikan bahwa teori-teorinya nir mungkin dapat memfalsifikasi serta kurang mempunyai kekuatan prediktif sehingga dipercaya bukan sebagai suatu ilmu (Popper, 1969, Chalmers, 1999).

Hasil pemikiran menurut psikologi humanistik poly dimanfaatkan buat kepentingan konseling dan terapi, keliru satunya yang sangat populer merupakan berdasarkan Carl Rogers dengan client-centered therapy, yg memfokuskan dalam kapasitas klien buat bisa mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, dan menekankan pentingnya sikap ikhlas, saling menghargai serta tanpa berpretensi dalam membantu individu mengatasi perkara-perkara kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya mempunyai jawaban atas konflik yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yg sahih. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau hadiah donasi pada klien.

Selain menaruh sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik jua memberikan sumbangannya bagi pendidikan cara lain yg dikenal menggunakan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha membuatkan individu secara holistik melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan pada berkarier menjadi fokus pada model pendidikan humanistik ini.

PENGERTIAN BELAJAR DAN MACAMMACAM TEORI BELAJAR

Dalam aktivitas belajar dan mengajar di sekolah terjadi sebuah proses yaitu interaksi antara pengajar menggunakan siswa, siswa menggunakan anak didik bila terjadi kegiatan belajar gerombolan . Dalam interaksi tersebut akan terjadi sebuah proses pembelajaran, pembelajaran secara generik didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan imbas dan pengalaman buat memperoleh, menaikkan, atau menciptakan perubahan’s pengetahuan satu, keterampilan, nilai, serta pandangan global (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).

Belajar menjadi suatu proses berfokus pada apa yang terjadi saat belajar berlangsung. Penjelasan mengenai apa yg terjadi merupakan teori-teori belajar. Teori belajar merupakan upaya buat menggambarkan bagaimana orang dan fauna belajar, sehingga membantu kita tahu proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia)
Bertolak berdasarkan perubahan yang ditimbulkan sang perbuatan belajar, para ahli teori belajar berusaha merumuskan pengertian belajar. Di bawah ini dikutip beberapa batasan belajar, agar bisa menjadi bahan pemikiran dan renungan mengenai pengertian belajar yg berlangsung di kelas.
Belajar proses perubahan tingkah laris seseorang terhadap sesuatu situasi eksklusif yang disebabkan sang pengalamannya yang berulang-ulang pada situasi itu, di mana perubahan tingkah laris itu nir dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, pemaksaan, atau syarat  sementara (seperti  lelah, mabuk, perangsang serta sebagainya).
Menurut Morgan  (Gino, 1988: 5) menyatakan bahwa belajar merupakan adalah galat satu yg nisbi permanen berdasarkan tingkah laris sebagai dampak berdasarkan pengalaman.  Dengan demikian dapat diketahui bahwa belajar merupakan usaha sadar yg dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan buat memperoleh kemampuan baru dan adalah perubahan tingkah laris yang nisbi permanen, menjadi akibat berdasarkan latihan. Menurut Hilgard (Suryabrata, 2001:232) menyatakan belajar adalah proses perbuatan yang dilakukan menggunakan sengaja, yang lalu menimbulkan perubahan, yg keadaannya berbeda menurut perbuatan yg disebabkan oleh lainnya.
Selanjutnya berdasarkan Gerow (1989:168) mengemukakan bahwa “Learning is demonstrated by a relatively permanent change in behavior that occurs as the result of practice or experience”.
Belajar adalah ditunjukkan sang perubahan yg relatif permanen pada konduite yg terjadi karena adanya latihan serta pengalaman-pengalaman.kemudian menurut Bower (1987: 150) “Learning is a cognitive process”.  Belajar merupakan suatu proses kognitif.
Dalam pengertian ini, nir berarti semua perubahan berarti belajar, namun bisa dimasukan dalam pengertian belajar yaitu, perubahan yang mengandung suatu usaha secara sadar, buat mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan pengertian belajar yg dikemukakan di atas dapat diidentifikasi beberapa elemen krusial yg mencirikan pengertian belajar yaitu :

  1. Belajar adalah adalah suatu perubahan dalam tingkah laris, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laris yang baik, namun juga ada kemungkinan menunjuk pada tingkah laku yang jelek. Perubahan itu tidak wajib segera nampak selesainya proses belajar namun dapat nampak pada kesempatan yang akan datang.
  2. Belajar adalah suatu perubahan yg terjadi melalui latihan serta pengalaman.
  3. Untuk bisa dianggap belajar, maka perubahan itu dalam pokoknya merupakan didapatkannya kecakapan baru, yg berlaku pada saat yg nisbi  lama .
  4. Tingkah laris yg mengalami perubahan karena belajar menyangkut banyak sekali aspek kepribadian baik fisik maupun phisikis.

Teori manapun dalam prinsifnya, belajar meliputi segala perubahan baik berpikir, pengetahuan, berita, norma, perilaku apresiasi maupun pengertian. Ini berarti aktivitas belajar ditunjukan oleh adanya perubahan tingkah laris menjadi hasil pengalaman. Perubahan dampak proses belajar merupakan karena adanya usaha dari individu serta perubahan tersebut berlangsung lama . Belajar merupakan kegiatan yg aktif, lantaran kegiatan belajar dilakukan menggunakan sengaja, sadar serta bertujuan.
Agar aktivitas belajar mencapai output yang optimal, maka diusahakan faktor penunjang seperti syarat siswa yg baik, fasilitas  serta lingkungan yang mendukung serta proses belajar mengajar yang tepat.
Macam-macam Teori Belajar
Ada 3 kategori primer atau kerangka filosofis tentang teori-teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.  Teori belajar behaviorisme hanya serius pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku buat menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar menjadi sebuah proses di mana pelajar aktif menciptakan atau menciptakan wangsit-wangsit baru atau konsep.
1. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yg dicetuskan oleh Gage serta Berliner mengenai perubahan tingkah laris menjadi output berdasarkan pengalaman. Teori ini lalu berkembang sebagai aliran psikologi belajar yg berpengaruh terhadap arah pengembangan teori serta praktik pendidikan serta pembelajaran yang dikenal menjadi genre behavioristik. Aliran ini menekankan dalam terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model interaksi stimulus-responnya, mendudukkan orang yg belajar menjadi individu yang pasif. Respon atau konduite eksklusif dengan menggunakan metode training atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai sanksi.
2. Teori  Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang dalam abad terakhir sebagai protes terhadap teori konduite yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini mempunyai perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi serta pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan lalu menemukan hubungan antara pengetahuan yg baru dengan pengetahuan yg sudah terdapat. Model ini menekankan dalam bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang berbagi teori kognitif  ini merupakan Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yg tidak sama. Ausubel menekankan dalam apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki dampak primer terhadap belajar.bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep menjadi suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh berita dari lingkungan.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat menciptakan, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme merupakan suatu upaya menciptakan tata susunan hayati yg berbudaya terbaru.
Konstruktivisme adalah landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh insan sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan nir sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat liputan-kabar, konsep, atau kaidah yg siap buat diambil dan diingat. Manusia wajib mengkontruksi pengetahuan itu serta memberi makna melalui pengalaman konkret.
Dengan teori konstruktivisme siswa bisa berfikir buat menyelesaikan kasus, mencari idea serta menciptakan keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung pada mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan bisa mengapliklasikannya dalam seluruh situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan jangan lupa lebih usang seluruh konsep.

Sumber : dikumpulkan menurut aneka macam sumber!!

PENGERTIAN TEORI BEHAVIORAL

Pengertian, Teori Behavioral
1. Konsep Dasar Tentang Manusia Menurut Teori Behaviorisme
Konsep Behavioral adalah konduite insan adalah hasil belajar, sehingga bisa diubah menggunakan memanipulasi dan mengkresi kondisi-syarat belajar. Pada dasarnya, proses konseling adalah suatu penataan proses atau pengalaman belajar buat membantu individu membarui perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.

Pendekatan behavioral modern didasarkan dalam pandangan ilmiah mengenai tingkah laku . Manusia yg menekankan pentingnya pendekatan sistematis dan struktur dalam konseling. Namun pendekatan ini tidak mengesampingkan pentingnya interaksi konseli buat menciptakan pilihan-pilihan. Dari dasar pendekatan tersebut diatas, bisa dikemukakan konsep tentang hakekat manusia sebagai berikut :
1. Tingkah laku insan diperoleh menurut belajar, serta proses terbentuknya kepribadian adalah melalui proses kematangan berdasarkan belajar.
2. Kepribadian manusia berkembang bersama-sama dengan interaksinya menggunakan lingkungannya.
3. Setiap insan lahir dengan membawa kebutuhan bawaa, tetapi sebagian besar kebutuhan dipelajari menurut hasil interaksi menggunakan lingkungannya.
4. Manusia tidak dilahirkan dalam keadaan baik atau dursila, tetapi pada keadaan netral, bagaimana kepribadian seorang dikembangkan, tergantung pada interaksinya menggunakan lingkungan.

Dari konsep mengenai insan berdasarkan teori behavioral masih ada ciri-karakteristik unik konseling tingkah laku , yaitu:
1. Pemusatan perhatian pada tingkah laku yg tampak dan spesifik.
2. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment.
3. Perumusan prosedur treatment yg khusus yg sesuai dengan masalah.
4. Penaksiran objektif atas hasil-hasil konseling. 

Konseling tingkah laku tidak berlandaskan sekumpulan konsep yg sistematik, jua nir berakar pada suatu teori yg dikembangkan dengan baik. Sekalipun mempunyai banyak teknik, tetapi teori tingkah laris hanya memiliki sedikit konsep. Urusan terapeutik primer adalah mengisolasi tingkah laku masalah, serta lalu menciptakan cara-cara buat mengubahnya. 

Dua genre primer menciptakan esensi metode-metode dan teknik-teknik pendekatan-pendekatan konseling yg berlandaskan teori belajar yaitu: pengondisian klasik serta pengondisian Operan. Pengondisian klasik atau pengondisian responden, asal dari karya Pavlov,sebagi contoh yaitu tentang anjing. Pertama kali lampu dihidupkan anjing dikasi makan namun air liurnya nir keluar, begitu seterusnya sampai akhirnya baru dihidupkan lampu air liur anjing itu keluar menggunakan sendirinya tetapi pemilik anjing tidak menaruh kuliner,hal ini bertujuan buat norma. Pengondisian Operan, satu genre primer lainnya berdasarkan pendekatan konseling yang berlandaskan Teori Belajar, melibatkan pemberian ganjaran pada individu atas pemunculan tingkahlakunya (yg diharapkan) dalam waktu tingkah laris itu muncul. Pengondisian ini pula dikenal dengan sebutan fragmental karena memperlihatkan bahwa tingkah laku instrumental bisa dimunculkan oleh organisme yang aktif sebelum perkuatan diberikan buat tingkah laku tersebut. Contoh- model prosedur yang khusus yg asal menurut pengondisian operan merupakan perkuatan positif, penghapusan, hukuman, pencontohan serta penggunaan token economy. 

Pada dasarnya konseling tingkah laris diarahkan dalam tujuan-tujuan memperoleh tingkah laris baru, penghapusan tingkah laku maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Lantaran tingkah laku yg dituju dispesifikasi dengan kentara, tujuan-tujuan treatment dirinci, dan metode terapeutik diterangkan, maka hasil-output konseling sebagai mampu dinilai. Karena konseling tingkah laris menekankan evaluasi atas keefektifan eknik-teknik yg digunakan, maka evolusi serta perbaikan yang berkesinambungan atas prosedur-prosedur treatment menandai proses terapeutik.

2. Proses Konseling Behaviorisme
Dalam proses konseling behavioral masih ada tujuan umum konseling tingkah laris merupakan membentuk syarat-syarat baru bagi proses belajar. Dasar sebab artinya bahwa segenap tingkah laris merupakan dipelajari (learned), termasuk tingkah laris yang maladaptif. Jika tingkah laris neurotic learned, maka dia sanggup unlearned (dihapus menurut ingatan), dan tingkah laris yg lebih efektif mampu diperoleh. 

Hampir seluruh konselor tingkah laris akan menolak anggapan yang mengungkapkan bahwa pendekatan mereka hanya menangani gejala-gejala, karena mereka melihat konselor sebagai pemikul tugas menghapus tingkah laku yg maladaptif serta membantu konseli buat menggantikannya dengan tingkah laku yang lebih adjustive (dapat diubahsuaikan). Tujuan-tujuan yang luas dan generik nir bisa diterima sang para konselor tingkah laris. Contohnya, seseorang konseli mendatangi konseling dengan tujuan mengaktualkan diri. Tujuan generik semacam itu perlu diterjemahkan kedalam perubahan tingkah laris yg spesifik yg diinginkan konseli serta dianalisis kedalam tindakan-tindakan khusus yang dibutuhkan oleh konseli sebagai akibatnya baik konselor maupun konseli sanggup manaksir secara lebih kongkret kemana serta bagaimana mereka berkiprah. Misalnya tujuan mengaktualkan diri mampu dipecah kedalam beberapa subtujuan yg lebih kongkret sebagai berikut: 
1) Membantu konseli buat menjadi lebih asertif dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran serta impian-hasratnya pada situasi-situasi yang membangkitkan tingkah laku asertif.
2) Membantu konseli dalam menghapus ketakutan-ketakutan yang tidak realistis yang menghambat dirinya dari keterlibatan dalam peristiwa-insiden sosial.
3) Konflik batin yg menghambat konseli berdasarkan pembuatan putusan-putusa yg penting bagi kehidupannya.

Krumboltz dan Thorensen sudah mengembangkan tiga kriteria bagi perumusan tujuan yg mampu diterima pada konseling tingkah laku yaitu,
1) Tujuan yg dirumuskan haruslah tujuan yg diinginkan sang konseli.
2) Konselor wajib bersedia membantu konseli pada mencapai tujuan.
3) Harus masih ada kemungkinan buat menaksir sejauh mana klian mampu mencapai tujuannya.

Tugas konselor adalah mendengarkan kesulitan konseli secara aktif dan empatik. Konseling memantulkan balik apa yg dipahaminya buat memastikan apakah persepsinya mengenai pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan konseli sahih. Lebih dari itu, konselor membantu konseli menjabarkan bagaimana dia akan bertindak diluar cara-cara yg ditempuh sebelumnya. Dengan berfokus dalam tingkah laris yang spesifik yang terdapat dalam kehidupan konseli sekarang, konselor membantu konseli menerjemahkan kebingungan yang dialaminya kedalam suatu tujuan kongkret yg mungkin buat dicapai.

Fungsi dan kiprah konselor
Satu fungsi penting peran konselor adalah menjadi model bagi konseli. Bandura (1969) menerangkan bahwa sebagian akbar proses belajar yang timbul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Ia menyampaikan bahwa salah satu proses fundamental yang memungkinkan konseli mampu mempelajari tingkah laris baru merupakan imitasi atau pencontohan sosial yg tersaji oleh konselor. Konselor menjadi eksklusif, menjadi contoh yg penting bagi konseli. Karena konseli sering memandang konselor menjadi orang yang patut diteladani, konseli acap kali meniru perilaku-perilaku, nila-nilai, agama-agama, serta tingkah laku konselor. Jadi, konselor harus menyadari peranan krusial yang dimainkannya dalam proses identifikasi. Bagi konselor, tidak menyadari kekuatan yg dimilikinya dalam mempengaruhi serta menciptakan cara berpikir serta bertindak konselinya, berarti mengabaikan arti penting kepribadiannya sendiri dalam proses konseling.

Pengalaman Konseli pada Konseling
Salah satu sumbangan yang unik berdasarkan konseling tingkah laris adalah suatu sistem prosedur yg dipengaruhi menggunakan baik yang digunakan sang konselor dalam hubungan menggunakan kiprah yang jua ditentukan dengan baik. Konseling tingkah laris pula memberikan kepada konseli kiprah yg dipengaruhi dengan baik, dan menekankan pentingnya pencerahan serta partisipasi konseli pada proses terapeutik.

Satu aspek yg krusial berdasarkan kiprah konseli dalam konseling tingkah laku merupakan konseli didorong buat bereksperimen dalam tingkah lau baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laris adaptifnya. Dalam konseling, konseli dibantu buat menggeneralisasi serta mentransfer belajar yg diperoleh didalam situasi konseling kedalam diluar konseling.

Konseling ini belum lengkap bila verbalisasi-verbalisasi nir atau belum diikuti oleh tindakan-tindakan. Konseli harus berbuat lebih menurut sekedar memperoleh pemahaman, karena dalam konseling tingkah laku konseli harus bersedia mengambil resiko. Masalah-kasus kehidupan nyata wajib dipecahkan dengan tingkah laris baru di luar konseling, berarti fase tindakan adalah hal yang esensial. Keberhasilan serta kegagalan bisnis-usaha menjalankan tingkah laku baru merupakan bagian yg vital menurut bepergian konseling. 

Hubungan antara Konseli dan Konselor
Peran konselor yang esensial adalah kiprah menjadi agen pemberi perkuatan. Peran konselor tingkah laku tdak dicetak buat memainkan peran yang dingin serta impersonal yang mengerdilkan mereka menjai mesin-mesin yg pada prrogran yg memaksakan teknik-teknik kepada konseli yang mirip robot-robot.

Dalam interaksi konselor serta konseli sebagian akbar dari mereka mengakui bahwa faktor-faktor misalnya kehangatan, empati, keotentikan, perilaku permisif, serta penerimaan adalah kondisi-kondisi yg dibutuhkan, tetapi nir relatif, bagi kemunculan perubahan tingkah laris dalam prosen terapeutik. Goldstin menyatakan bahwa pengembangan interaksi kerja membentuk termin bagi kelangsungan konseling. Ia mencatat bahwa “interaksi semacam itu dalam serta sang dirinya sendiri nir relatif menjadi pemaksimal konseling yang efektif. Sebelum interpensi terapeutik tertentu bisa dimunculkan dengan suatu derajat keefektifan, konselor terleih dahulu haus membuatkan atmosfer kepercayaan dengan memperlihatkan bahwa 
  1. Ia tahu dan menerima pasien,
  2. Kedua orang di antara mereka berafiliasi, dan
  3. Konselor mempunyai indera yg bermanfaat pada membantu kearah yang dikehendaki oleh pasien.
3. Tehnik-tehnik dalam Konseling Behaviorisme
Salah satu sumbangan konseling tingkah laris merupakan pengembangan prosedur-prosedur terapeutik yang spesifik yg mempunyai kemungkinan buat diperbaiki melalui metode ilmiah. Teknik-teknik tingkah laris wajib menerangkan keefektifannya melalui alat-alat yg objektif, serta terdapat usaha yg kontinu buat memperbaikinya. Meskipun para konselor tingkah laris boleh jadi menciptakan kekeliruan-kekeliruan dalam mendiagnosis atau pada menerapkan teknik-teknik, dampak-dampak kekeliruan-kekeliruan itu akan kentara bagi mereka. Mereka menerima umpan kembali langsung menurut konselinya, baik konselinya itu sembuh ataupun tidak. Sebagaimana dinyatakan sang Krumboltz serta Thorensen, “Teknik-teknik yg tidak berfungsi akan selalu disisihkan serta teknik-teknik baru sanggup dicoba”. Mereka menegaskan bahwa teknik-teknik wajib diubahsuaikan menggunakan kebutuhan-kebutuhan individual konseli dan bahwa tidak pernah terdapat teknik yang diterapkan secara rutin dalam setiap konseli tanpa disertai metode-metode alternatif buat mencapai tujuan-tujuan konseli. 

Teknik-teknik utama konseling tingkah laku
Desensitisasi sistematik
Desensitisasi sistematik merupakan salah satu teknik yang paling luas dipakai pada konseling tingkah laris. Desensitisasi sistematik digunakan buat menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi diarahkan kepada mengajar konseli buat menampilkan suatu respons yg tidak konsisten menggunakan kecemasan.

Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Konseli dilatih untuk kalem serta mengasosiasikan keadaan kalem dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yg dibayangkan atau yang divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan pada suatu rangkaian berdasarkan yg sangat nir mengancam. Tingkatan stimulus-stimulus pembuat kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang menggunakan stimulus-stimulus pembuat kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang menggunakan stimulus-stimulus penghasil keadaan kalem hingga kaitan antara stimulus-stimulus penghasil kecemasan serta respons kecemasan itu terhapus. Dalam teknik ini Wolpe sudah membuatkan suatu respons-yakni relaksasi, yg secara fisiologis bertentangan menggunakan kecemasan yg secara sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam. 

Desensitisasi sistematik merupakan teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, konseling keliru bila menduga teknik ini hanya mampu diterapkan dalam penanganan kekuatan-kekuatan. Desensitisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif dalam berbagai situasi penghasil kecemasan, mencangkup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yg generalisasi, kecemasan-kecemasan neurotic, dan impotensa dan frigiditas seksual.

Wolpe (1969) mencatat tiga penyebab kegagalan pada aplikasi desensitisasi sistematik: (1) kesulitan-kesulitan dalam relaksasi, yg bisa jadi menunjuk pada kesilitan-kesulitan pada komunikasi antara konselor serta konseli atau pada keterhambatan yang ekstrem yg dialami oleh konseli, (dua) tingkatan-tingkatan yg menyesatkan atau tidak relevan, yg ada kemungkinan melibatkan penanganan tingkatan yg galat, dan (tiga) ketidakmemadaian pada membayangkan.

Konseling Implosive serta Pembanjiran
Teknik-teknik pembanjiran berlandaskan paradigma mengenai penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan. Teknik pembanjiran berada dengan teknik desensitisasi sistematik pada arti teknik pembanjiran nir memakai agen pengondisian kembali juga tingkatan kecemasan. Konselor memunculkan stimulus-stimulus pembuat kecemasan, konseli membayangkan situasi, dan konselor berusaha mempertahankan kecemasan konseli.

Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran, yg disebut “konseling implosif”. Seperti halnya menggunakan desensitisasi sistematik, konseling implosive berasumsi bahwa tingkah laris neurotik melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus pembuat kecemasan konseling implosif berbeda menggunakan desensitisasi sistematik dalam bisnis konselor buat menghadirkan luapan emosi yg masih. Alasan yg dipakai oleh teknik ini adalah bahwa, bila seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi pembuat kecemasan serta konsekuensi-konsekuensi yang menyeramkan nir muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhapus. Konseli diarahkan buat membayangkan situasi-situasi (stimulus-stimulus) yg mengancam. Dengan secara berulang-ulang dimunculkan dalam setting konseling di mana konsekwensi-konsekwensi yg dibutuhkan dan menakutkan nir timbul, stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasannya, dan penghindaran neurotic.

Latihan asertif
Pendekatan behavioral yg dengan cepat mencapai popularitas merupakan latihan asertif, yang bisa diterapkan terutama dalam situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima fenomena bahwa menyatakan atau menegaskan diri merupakan tindakan yg layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang tidak sanggup membicarakan kemarahan atau perasaan tersinggung, memperlihatkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain buat mendahuluinya, mempunyai kesulitan buat mengatakan “tidak”, mengalami kesulitan buat mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lainnya, merasa tidak punya hak buat memiliki perasaan-perasaan serta pikiran-pikiran sendiri.

Konseling grup latihan asertif pada dasarnya adalah penerapan latihan tingkah laris pada kelompok dengan target membantu individu-individu pada menyebarkan cara-cara yg berhubungan yang lebih eksklusif dalam situasi-situasi interpersonal. Fokusnya merupakan mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehingga individu-individu dibutuhkan bisa mengatasi ketakmemadainya dan belajar bagaimana membicarakan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak buat menunjukkan reaksi-reaksi yg terbuka itu.

Konseling aversi
Teknik-teknik pengondisian aversi, yang sudah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yg khusus, melibatkan pengasosiasian tingkah laris simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laris yg nir diinginkan terhambat kemunculannya. Kendali aversi sanggup melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan banyak sekali bentuk sanksi. Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah hadiah kejutan listrik pada anak autistic ketika tingkah laku khusus yg tidak diinginkan ada.

Teknik-teknik aversi adalah metoda-metoda yg paling kontroversial yang dimiliki sang para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metoda-metoda buat membawa orang-orang kepada tingkah laku yg diinginkan. Kondisi-syarat diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yg diperlukan berdasarkan mereka pada rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif. 

Butir yang krusial dalam teknik aversi adalah bahwa maksud mekanisme-mekanisme aversif merupakan menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaptif dalam suatu periode sehingga masih ada kesempatan buat memperoleh tingkah laris alternative yg adaptif serta yg akan terbukti memperkuat dirinya sendiri.

Pengondisian operan
Tingkah laris operan merupakan tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme yg aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi pada lingkungan buat menghasilkan dampak-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yg paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, yg mencakup membaca, berbucara, bepakaian, makan dengan indera-indera makan, bemain, dan sebagainya. Menurut Skinner (1971), bila suatu tingkah laku diganjar,maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laris tadi pada masa mendatang akan tinggi. Prinsip perkuatan yang menampakan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku , merupakan inti dari pengondisian operan. Berikut uraian ringkas menurut metode-metode pengondisian operan yg meliputi perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan, dan token economy.

a. Perkuatan positif
Pembentukan suatu pola tingkah laku dengan menaruh ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul merupakan suatu cara yang digdaya buat mengubah tingkah laku . Pemerkuat-pemerkuat, baik primer juga sekunder, diberikan buat rentang tingkah laku yang luas. Pemerkuat-pemerkuat utama memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh pemerkuat utama adalah makanan serta tidur atau istirahat. Pemerkuat-pemerkuat sekunder, yg memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis serta sosial, mempunyai nilai lantaran berasosiasi dengan pemerkuat-pemerkuat utama. Contoh-contoh pemerkuat sekunder yang mampu menjadi alat yang digdaya buat membentuk tingkah laris yg diharapkan diantaranya merupakan senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas, medali atau indikasi penghargaan, uang, serta hibah-bantuan gratis. Penerapan pemberian perkuatan positif pada psikokonseling membutuhkan spesifikasi tingkah laris yg diharapkan, inovasi mengenai apa agen yang memperkuat bagi individu, dan penggunaan perkuatan positif secara sistematis guna memunculkan tingkah laris yang diinginkan.

b. Pembentukan respons
Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang dalam mulanya tidak masih ada pada pembendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan acapkali dipakai pada proses pembentukan respons ini. Jadi, misalnya, bila seorang pengajar ingin membentuk tingkah laku kooperatif menjadi tingkah laris kompetitif, dia sanggup memberikan perhatian dan persetujuan pada tingkah laris yang diinginkannya itu. Pada anak autisik yang tingkah laku motorik, mulut, emosional, serta sosialnya kurang adaptif, konselor bisa membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan menaruh pemerkuat-pemerkuat utama maupun sekunder.

c. Perkuatan intermiten
Di samping membentuk, perkuatan-perkuatan mampu juga dipakai buat memelihara tingkah laris yg sudah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, konselor wajib tahu syarat-kondisi generik dimana perkuatan-perkuatan timbul. Oleh karenanya jadwal-jadwal perkuatan adalah hal yg penting. Perkuatan terus menerus mengganjar tingkah laris setiap kali dia timbul. Sedangkan perkuatan intermiten pada umumnya lebih tahan terhadap penghapusan dibanding menggunakan tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus menerus.

Dalam menerapkan pemberian perkuatan dalam pengubahan tingkah laku , dalam termin-termin permulaan konselor harus mengganjar setiap terjadi keluarnya tingkah laku yg diinginkan. Apabila mungkin, perkuatan-perkuatan diberikan segera setelah tingkah laku yang diinginkan ada. Dengan cara ini, penerima perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yg diganjar. Bagaimanapun, sesudah tingkah laku yg diinginkan itu semakin tinggi frekuensi kemunculannya, frekuensi anugerah perkuatan sanggup dikurangi. Seorang anak yg diberi pujian setiap berhasil merampungkan soal-soal matematika, contohnya, mempunyai kesamaan yg lebih bertenaga buat berputus asa ketika menghadapi kegagalan disbanding dengan apabila si anak hanya diberi kebanggaan sekali-kali.

d. Penghapusan
Konselor, guru serta orang tua yg memakai penghapusan sebagai teknik utama dalam menghapus tingkah laku yang nir diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laris yang nir diinginkan itu pada mulanya mampu menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi. Contohnya, seseorang anak yg sudah belajar bahwa dia menggunakan menomel umumnya memperoleh apa yg diinginkan, mungkin akan memperhebat omelannya ketika permintaannya tidak segera dipenuhi. Jadi, kesabaran menghadapi periode peralihan amat dibutuhkan.

e. Pencontohan
Dalam pencontohan, individu mengamati seorang model dan lalu diperkuan untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura (1969) menyatakan bahwa segenap belajar yg sanggup diperoleh melalui pengalaman pribadi bisa jua diperoleh melalui pengalaman eksklusif bisa juga diperoleh secara nir pribadi dengan mengamati tingkah laris orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Jadi, kecakapan-kecakapan sosial eksklusif mampu diperoleh menggunakan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada. Juga reaksi-reaksi emosional yang terganggu yang dimilki seorang mampu dihapus menggunakan cara orang itu mengamati orang lain yg mendekati objek-objek atau situasi-situasi yg ditakuti tanpa mengalami akibat-dampak yg menyeramkan menggunakan tindakan yg dilakukannya. Pengendalian diri pun sanggup dipelajari melalui pengamatan atas contoh yg dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti, serta orang-orang dalam umumnya dipengaruhi sang tingkah laku model-contoh yg menempati status yg tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.

f. Token Economy
Metode token economy bisa digunakan buat membentuk tingkah laris apabila persetujuan serta penguatan-penguatan yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan efek. Dalam token economy, tingkah laris yg layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yg sanggup diraba (pertanda-indikasi seperti kepingan logam) yg nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini. Metode token economy amat seperti menggunakan yg dijumpai dalam kehidupan konkret dimana, misalnya, para pekerja di bayar buat output pekerjaan mereka. Penggunaan tanda-tanda menjadi pemerkuat-pemerkuat bagi tingkah laku yg layak memiliki beberapa keuntungan: (1) indikasi-tanda nir kehilangan nilai insentifnya, (2) tanda-tanda sanggup mengurangi penundaan yang terdapat di antara tingkah laris yang layak menggunakan ganjarannya, (3) indikasi-tanda bisa digunakan menjadi pengukur yg kongkret bagi motivasi individu buat mengubah tingkah laku eksklusif, (4) tanda-tanda adalah bentik perkuatan yg positif, (5) individu mempunyai kesempatan untuk menetapkan bagaimana menggunakan pertanda-tanda yang diperolehnya, serta (6) indikasi-indikasi cenderung menjembatani kesenjangan yg seringkali ada di antara lembaga serta kehidupan sehari-hari. 

Token Economy merupakan salah satu model menurut perkuatan yang ekstrinsik, yg membuahkan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih “pemikat di ujung tombak”. Tujuan mekanisme ini adalah membarui motivasi yg ekstrinsik sebagai motivasi yg intrinsic. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yg diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan sebagai cukup mengganjar untuk memlihara tingkah laris yg baru.

4. Peran Konselor pada Konseling Behavioral
Jika kita perhatikan lebih lanjut, pendekatan pada konseling behavioral lebih cenderung direktif, lantaran pada pelaksanaannya konselorlah yang lebih banyak berperan. 

Adapun peran konselor dalam konseling behavioral merupakan :
  1. Bersikap mendapat.
  2. Memahami konseli.
  3. Tidak menilai serta mengkritik apa yg diungkapkan sang konseli.
  4. Konselor behavioral berperan sebagai pengajar, pengarah, dan pakar yang membantu konseli dalam mendiagnosis serta melekukan teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan kasus dan tujuan yang diharapkan sebagai akibatnya mengarah dalam tingkah laku yg baru dan adjustif.

PENGERTIAN TEORI BEHAVIORAL

Pengertian, Teori Behavioral
1. Konsep Dasar Tentang Manusia Menurut Teori Behaviorisme
Konsep Behavioral merupakan perilaku manusia adalah output belajar, sehingga bisa diubah menggunakan memanipulasi serta mengkresi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling adalah suatu penataan proses atau pengalaman belajar buat membantu individu mengubah perilakunya supaya dapat memecahkan masalahnya.

Pendekatan behavioral modern didasarkan pada pandangan ilmiah mengenai tingkah laku . Manusia yg menekankan pentingnya pendekatan sistematis serta struktur pada konseling. Tetapi pendekatan ini nir mengesampingkan pentingnya interaksi konseli buat menciptakan pilihan-pilihan. Dari dasar pendekatan tersebut diatas, bisa dikemukakan konsep mengenai hakekat manusia menjadi berikut :
1. Tingkah laku insan diperoleh menurut belajar, serta proses terbentuknya kepribadian merupakan melalui proses kematangan berdasarkan belajar.
2. Kepribadian manusia berkembang beserta-sama menggunakan interaksinya dengan lingkungannya.
3. Setiap manusia lahir dengan membawa kebutuhan bawaa, namun sebagian akbar kebutuhan dipelajari berdasarkan output hubungan dengan lingkungannya.
4. Manusia nir dilahirkan pada keadaan baik atau jahat, tetapi dalam keadaan netral, bagaimana kepribadian seorang dikembangkan, tergantung dalam interaksinya menggunakan lingkungan.

Dari konsep tentang manusia dari teori behavioral terdapat karakteristik-karakteristik unik konseling tingkah laku , yaitu:
1. Pemusatan perhatian pada tingkah laris yang tampak serta spesifik.
2. Kecermatan serta penguraian tujuan-tujuan treatment.
3. Perumusan mekanisme treatment yg khusus yg sesuai menggunakan kasus.
4. Penaksiran objektif atas hasil-output konseling. 

Konseling tingkah laku tidak berlandaskan sekumpulan konsep yg sistematik, pula nir berakar pada suatu teori yg dikembangkan menggunakan baik. Sekalipun memiliki banyak teknik, namun teori tingkah laris hanya memiliki sedikit konsep. Urusan terapeutik primer adalah mengisolasi tingkah laku masalah, serta kemudian membentuk cara-cara buat mengubahnya. 

Dua genre primer membangun esensi metode-metode dan teknik-teknik pendekatan-pendekatan konseling yg berlandaskan teori belajar yaitu: pengondisian klasik dan pengondisian Operan. Pengondisian klasik atau pengondisian responden, berasal berdasarkan karya Pavlov,sebagi contoh yaitu tentang anjing. Pertama kali lampu dihidupkan anjing dikasi makan namun air liurnya nir keluar, begitu seterusnya hingga akhirnya baru dihidupkan lampu air liur anjing itu keluar menggunakan sendirinya tetapi pemilik anjing nir memberikan kuliner,hal ini bertujuan buat norma. Pengondisian Operan, satu genre utama lainnya dari pendekatan konseling yang berlandaskan Teori Belajar, melibatkan pemberian ganjaran kepada individu atas pemunculan tingkahlakunya (yg dibutuhkan) pada saat tingkah laris itu timbul. Pengondisian ini pula dikenal dengan sebutan fragmental karena memberitahuakn bahwa tingkah laris instrumental sanggup dimunculkan sang organisme yang aktif sebelum perkuatan diberikan buat tingkah laku tersebut. Contoh- model mekanisme yang khusus yg asal dari pengondisian operan merupakan perkuatan positif, penghapusan, hukuman, pencontohan serta penggunaan token economy. 

Pada dasarnya konseling tingkah laris diarahkan dalam tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yg diinginkan. Lantaran tingkah laku yg dituju dispesifikasi menggunakan kentara, tujuan-tujuan treatment dirinci, serta metode terapeutik diterangkan, maka output-hasil konseling sebagai mampu dievaluasi. Lantaran konseling tingkah laris menekankan penilaian atas keefektifan eknik-teknik yang dipakai, maka evolusi serta pemugaran yg berkesinambungan atas prosedur-mekanisme treatment menandai proses terapeutik.

2. Proses Konseling Behaviorisme
Dalam proses konseling behavioral masih ada tujuan generik konseling tingkah laku adalah menciptakan syarat-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laris merupakan dipelajari (learned), termasuk tingkah laris yg maladaptif. Apabila tingkah laku neurotic learned, maka ia mampu unlearned (dihapus dari ingatan), dan tingkah laris yang lebih efektif sanggup diperoleh. 

Hampir semua konselor tingkah laris akan menolak anggapan yg menjelaskan bahwa pendekatan mereka hanya menangani tanda-tanda-tanda-tanda, karena mereka melihat konselor sebagai pemikul tugas menghapus tingkah laris yg maladaptif dan membantu konseli buat menggantikannya menggunakan tingkah laris yang lebih adjustive (bisa diubahsuaikan). Tujuan-tujuan yang luas serta umum tidak bisa diterima sang para konselor tingkah laku . Contohnya, seorang konseli mendatangi konseling dengan tujuan mengaktualkan diri. Tujuan generik semacam itu perlu diterjemahkan kedalam perubahan tingkah laris yg spesifik yang diinginkan konseli dan dianalisis kedalam tindakan-tindakan khusus yg diperlukan oleh konseli sebagai akibatnya baik konselor maupun konseli bisa manaksir secara lebih kongkret kemana serta bagaimana mereka berkecimpung. Misalnya tujuan mengaktualkan diri bisa dipecah kedalam beberapa subtujuan yang lebih kongkret menjadi berikut: 
1) Membantu konseli buat sebagai lebih asertif dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasratnya dalam situasi-situasi yg membangkitkan tingkah laku asertif.
2) Membantu konseli dalam menghapus ketakutan-ketakutan yang tidak realistis yang menghambat dirinya berdasarkan keterlibatan pada peristiwa-peristiwa sosial.
3) Permasalahan batin yg Mengganggu konseli dari pembuatan putusan-putusa yg penting bagi kehidupannya.

Krumboltz serta Thorensen telah menyebarkan tiga kriteria bagi perumusan tujuan yg sanggup diterima pada konseling tingkah laris yaitu,
1) Tujuan yang dirumuskan haruslah tujuan yang diinginkan oleh konseli.
2) Konselor wajib bersedia membantu konseli pada mencapai tujuan.
3) Harus terdapat kemungkinan buat menaksir sejauh mana klian sanggup mencapai tujuannya.

Tugas konselor merupakan mendengarkan kesulitan konseli secara aktif dan empatik. Konseling memantulkan kembali apa yg dipahaminya buat memastikan apakah persepsinya mengenai pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan konseli benar. Lebih menurut itu, konselor membantu konseli menjabarkan bagaimana beliau akan bertindak diluar cara-cara yang ditempuh sebelumnya. Dengan berfokus dalam tingkah laku yg spesifik yg terdapat dalam kehidupan konseli kini , konselor membantu konseli menerjemahkan kebingungan yang dialaminya kedalam suatu tujuan kongkret yang mungkin buat dicapai.

Fungsi serta kiprah konselor
Satu fungsi krusial peran konselor adalah menjadi contoh bagi konseli. Bandura (1969) memperlihatkan bahwa sebagian akbar proses belajar yg ada melalui pengalaman langsung jua sanggup diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laris orang lain. Ia mengungkapkan bahwa salah satu proses fundamental yang memungkinkan konseli mampu mempelajari tingkah laku baru merupakan imitasi atau pencontohan sosial yg tersaji sang konselor. Konselor menjadi eksklusif, menjadi contoh yang krusial bagi konseli. Lantaran konseli tak jarang memandang konselor sebagai orang yg patut diteladani, konseli acap kali meniru sikap-sikap, nila-nilai, kepercayaan -agama, serta tingkah laris konselor. Jadi, konselor harus menyadari peranan penting yang dimainkannya dalam proses identifikasi. Bagi konselor, tidak menyadari kekuatan yang dimilikinya pada mempengaruhi serta membentuk cara berpikir serta bertindak konselinya, berarti mengabaikan arti krusial kepribadiannya sendiri pada proses konseling.

Pengalaman Konseli dalam Konseling
Salah satu sumbangan yg unik menurut konseling tingkah laku merupakan suatu sistem prosedur yang dipengaruhi dengan baik yang digunakan sang konselor dalam hubungan menggunakan peran yang jua dipengaruhi menggunakan baik. Konseling tingkah laku jua menaruh kepada konseli peran yg ditentukan menggunakan baik, serta menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses terapeutik.

Satu aspek yg penting dari kiprah konseli dalam konseling tingkah laku adalah konseli didorong buat bereksperimen pada tingkah lau baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laris adaptifnya. Dalam konseling, konseli dibantu buat menggeneralisasi dan mentransfer belajar yang diperoleh didalam situasi konseling kedalam diluar konseling.

Konseling ini belum lengkap apabila verbalisasi-verbalisasi tidak atau belum diikuti sang tindakan-tindakan. Konseli harus berbuat lebih menurut sekedar memperoleh pemahaman, karena pada konseling tingkah laris konseli wajib bersedia merogoh resiko. Masalah-masalah kehidupan konkret harus dipecahkan menggunakan tingkah laris baru pada luar konseling, berarti fase tindakan merupakan hal yg esensial. Keberhasilan dan kegagalan usaha-usaha menjalankan tingkah laris baru merupakan bagian yg penting dari bepergian konseling. 

Hubungan antara Konseli serta Konselor
Peran konselor yang esensial merupakan peran sebagai agen pemberi perkuatan. Peran konselor tingkah laku tdak dicetak untuk memainkan kiprah yang dingin dan impersonal yang mengerdilkan mereka menjai mesin-mesin yg di prrogran yang memaksakan teknik-teknik kepada konseli yang seperti robot-robot.

Dalam interaksi konselor serta konseli sebagian besar berdasarkan mereka mengakui bahwa faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keotentikan, perilaku permisif, serta penerimaan adalah kondisi-kondisi yg diharapkan, tetapi nir cukup, bagi kemunculan perubahan tingkah laku dalam prosen terapeutik. Goldstin menyatakan bahwa pengembangan interaksi kerja menciptakan tahap bagi kelangsungan konseling. Ia mencatat bahwa “hubungan semacam itu dalam dan oleh dirinya sendiri nir cukup sebagai pemaksimal konseling yang efektif. Sebelum interpensi terapeutik tertentu sanggup dimunculkan menggunakan suatu derajat keefektifan, konselor terleih dahulu haus mengembangkan atmosfer agama dengan memberitahuakn bahwa 
  1. Ia memahami dan menerima pasien,
  2. Kedua orang di antara mereka berafiliasi, dan
  3. Konselor memiliki alat yang berguna dalam membantu kearah yang dikehendaki oleh pasien.
3. Tehnik-tehnik pada Konseling Behaviorisme
Salah satu sumbangan konseling tingkah laku adalah pengembangan mekanisme-mekanisme terapeutik yang spesifik yg mempunyai kemungkinan buat diperbaiki melalui metode ilmiah. Teknik-teknik tingkah laris wajib menampakan keefektifannya melalui alat-indera yg objektif, dan terdapat bisnis yang konstan buat memperbaikinya. Meskipun para konselor tingkah laku boleh jadi menciptakan kekeliruan-kekeliruan dalam mendiagnosis atau pada menerapkan teknik-teknik, dampak-dampak kekeliruan-kekeliruan itu akan jelas bagi mereka. Mereka mendapat umpan kembali eksklusif dari konselinya, baik konselinya itu sembuh ataupun nir. Sebagaimana dinyatakan oleh Krumboltz serta Thorensen, “Teknik-teknik yang nir berfungsi akan selalu disisihkan serta teknik-teknik baru bisa dicoba”. Mereka menegaskan bahwa teknik-teknik wajib diubahsuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan individual konseli dan bahwa tidak pernah terdapat teknik yg diterapkan secara rutin dalam setiap konseli tanpa disertai metode-metode cara lain buat mencapai tujuan-tujuan konseli. 

Teknik-teknik primer konseling tingkah laku
Desensitisasi sistematik
Desensitisasi sistematik adalah salah satu teknik yg paling luas dipakai dalam konseling tingkah laku . Desensitisasi sistematik dipakai untuk menghapus tingkah laku yg diperkuat secara negatif, dan dia menyertakan pemunculan tingkah laris yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi diarahkan pada mengajar konseli buat menampilkan suatu respons yang nir konsisten menggunakan kecemasan.

Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Konseli dilatih untuk kalem dan mengasosiasikan keadaan kalem dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau yg divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan pada suatu rangkaian berdasarkan yang sangat tidak mengancam. Tingkatan stimulus-stimulus produsen kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus-stimulus pembuat kecemasan dipasangkan secara berulang-ulang dengan stimulus-stimulus penghasil keadaan santai sampai kaitan antara stimulus-stimulus penghasil kecemasan dan respons kecemasan itu terhapus. Dalam teknik ini Wolpe sudah berbagi suatu respons-yakni relaksasi, yg secara fisiologis bertentangan dengan kecemasan yang secara sistematis diasosiasikan menggunakan aspek-aspek berdasarkan situasi yg mengancam. 

Desensitisasi sistematik adalah teknik yang cocok buat menangani fobia-fobia, konseling keliru jika menganggap teknik ini hanya mampu diterapkan pada penanganan kekuatan-kekuatan. Desensitisasi sistematik bisa diterapkan secara efektif pada banyak sekali situasi produsen kecemasan, mencangkup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yg generalisasi, kecemasan-kecemasan neurotic, dan impotensa dan frigiditas seksual.

Wolpe (1969) mencatat 3 penyebab kegagalan pada pelaksanaan desensitisasi sistematik: (1) kesulitan-kesulitan pada relaksasi, yang bisa jadi menunjuk pada kesilitan-kesulitan pada komunikasi antara konselor dan konseli atau pada keterhambatan yg ekstrem yang dialami sang konseli, (2) strata-tingkatan yang menyesatkan atau nir relevan, yang terdapat kemungkinan melibatkan penanganan strata yang keliru, dan (tiga) ketidakmemadaian pada membayangkan.

Konseling Implosive dan Pembanjiran
Teknik-teknik pembanjiran berlandaskan kerangka berpikir mengenai penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa anugerah perkuatan. Teknik pembanjiran berada dengan teknik desensitisasi sistematik dalam arti teknik pembanjiran nir memakai agen pengondisian kembali maupun tingkatan kecemasan. Konselor memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, konseli membayangkan situasi, serta konselor berusaha mempertahankan kecemasan konseli.

Stampfl (1975) berbagi teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran, yang diklaim “konseling implosif”. Seperti halnya menggunakan desensitisasi sistematik, konseling implosive berasumsi bahwa tingkah laris neurotik melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus pembuat kecemasan konseling implosif berbeda menggunakan desensitisasi sistematik pada usaha konselor buat menghadirkan luapan emosi yg masih. Alasan yang digunakan sang teknik ini adalah bahwa, bila seorang secara berulang-ulang dihadapkan dalam suatu situasi produsen kecemasan serta konsekuensi-konsekuensi yg menakutkan tidak ada, maka kecemasan tereduksi atau terhapus. Konseli diarahkan untuk membayangkan situasi-situasi (stimulus-stimulus) yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dimunculkan pada setting konseling pada mana konsekwensi-konsekwensi yang diperlukan serta menakutkan nir muncul, stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasannya, serta penghindaran neurotic.

Latihan asertif
Pendekatan behavioral yg menggunakan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif, yang sanggup diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan buat menerima fenomena bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang yang tidak bisa menyampaikan kemarahan atau perasaan tersinggung, menampakan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain buat mendahuluinya, memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, mengalami kesulitan buat menyampaikan kasih sayang dan respons-respons positif lainnya, merasa nir punya hak buat mempunyai perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Konseling grup latihan asertif dalam dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada grup menggunakan sasaran membantu individu-individu pada mengembangkan cara-cara yang bekerjasama yang lebih eksklusif pada situasi-situasi interpersonal. Fokusnya merupakan mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan berteman yg baru diperoleh sehingga individu-individu dibutuhkan sanggup mengatasi ketakmemadainya dan belajar bagaimana menyampaikan perasaan-perasaan serta pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk memberitahuakn reaksi-reaksi yg terbuka itu.

Konseling aversi
Teknik-teknik pengondisian aversi, yg telah dipakai secara luas buat meredakan gangguan-gangguan behavioral yg khusus, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yg menyakitkan hingga tingkah laku yg nir diinginkan terhambat kemunculannya. Kendali aversi mampu melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk sanksi. Contoh penggunaan hukuman menjadi cara pengendalian merupakan hadiah kejutan listrik pada anak autistic waktu tingkah laris spesifik yg tidak diinginkan ada.

Teknik-teknik aversi merupakan metoda-metoda yang paling kontroversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metoda-metoda buat membawa orang-orang pada tingkah laku yg diinginkan. Kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yg diharapkan dari mereka pada rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif. 

Butir yang krusial dalam teknik aversi adalah bahwa maksud mekanisme-prosedur aversif adalah menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaptif dalam suatu periode sebagai akibatnya masih ada kesempatan buat memperoleh tingkah laris alternative yang adaptif serta yg akan terbukti memperkuat dirinya sendiri.

Pengondisian operan
Tingkah laku operan merupakan tingkah laris yg memancar yang menjadi karakteristik organisme yg aktif. Ia adalah tingkah laris beroperasi pada lingkungan buat membentuk dampak-dampak. Tingkah laris operan merupakan tingkah laku yg paling berarti pada kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbucara, bepakaian, makan menggunakan alat-indera makan, bemain, dan sebagainya. Menurut Skinner (1971), apabila suatu tingkah laris diganjar,maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laris tadi pada masa mendatang akan tinggi. Prinsip perkuatan yang memberitahuakn pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laris, merupakan inti berdasarkan pengondisian operan. Berikut uraian ringkas berdasarkan metode-metode pengondisian operan yg mencakup perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan, serta token economy.

a. Perkuatan positif
Pembentukan suatu pola tingkah laris menggunakan menaruh ganjaran atau perkuatan segera sehabis tingkah laris yang dibutuhkan ada merupakan suatu cara yang ampuh buat membarui tingkah laris. Pemerkuat-pemerkuat, baik utama maupun sekunder, diberikan buat rentang tingkah laris yang luas. Pemerkuat-pemerkuat primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh pemerkuat primer adalah kuliner serta tidur atau istirahat. Pemerkuat-pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis serta sosial, memiliki nilai lantaran berasosiasi menggunakan pemerkuat-pemerkuat utama. Contoh-model pemerkuat sekunder yg bisa menjadi alat yg digdaya buat menciptakan tingkah laku yang dibutuhkan diantaranya merupakan senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas, medali atau pertanda penghargaan, uang, serta hadiah-hibah. Penerapan anugerah perkuatan positif pada psikokonseling membutuhkan spesifikasi tingkah laku yg diperlukan, inovasi mengenai apa agen yg memperkuat bagi individu, serta penggunaan perkuatan positif secara sistematis guna memunculkan tingkah laris yang diinginkan.

b. Pembentukan respons
Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya nir masih ada dalam pembendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan seringkali dipakai dalam proses pembentukan respons ini. Jadi, misalnya, bila seorang pengajar ingin menciptakan tingkah laku kooperatif sebagai tingkah laku kompetitif, dia mampu menaruh perhatian serta persetujuan kepada tingkah laris yg diinginkannya itu. Pada anak autisik yang tingkah laku motorik, mulut, emosional, serta sosialnya kurang adaptif, konselor sanggup membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-pemerkuat primer juga sekunder.

c. Perkuatan intermiten
Di samping membangun, perkuatan-perkuatan sanggup jua dipakai buat memelihara tingkah laku yg telah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, konselor harus memahami kondisi-syarat generik dimana perkuatan-perkuatan muncul. Oleh karenanya jadwal-jadwal perkuatan adalah hal yang krusial. Perkuatan terus menerus mengganjar tingkah laris setiap kali dia timbul. Sedangkan perkuatan intermiten pada umumnya lebih tahan terhadap penghapusan dibanding dengan tingkah laris yg dikondisikan melalui pemberian perkuatan yg terus menerus.

Dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku , pada tahap-termin permulaan konselor harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laris yang diinginkan. Jika mungkin, perkuatan-perkuatan diberikan segera sesudah tingkah laris yg diinginkan ada. Dengan cara ini, penerima perkuatan akan belajar, tingkah laris spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah laris yg diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi hadiah perkuatan sanggup dikurangi. Seorang anak yg diberi kebanggaan setiap berhasil menyelesaikan soal-soal matematika, contohnya, memiliki kecenderungan yang lebih kuat buat berputus asa ketika menghadapi kegagalan disbanding menggunakan bila si anak hanya diberi pujian sekali-kali.

d. Penghapusan
Konselor, pengajar serta orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai teknik utama dalam menghapus tingkah laris yg nir diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laris yg nir diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih jelek sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi. Contohnya, seseorang anak yg sudah belajar bahwa beliau dengan menomel umumnya memperoleh apa yg diinginkan, mungkin akan memperhebat omelannya ketika permintaannya nir segera dipenuhi. Jadi, kesabaran menghadapi periode peralihan amat dibutuhkan.

e. Pencontohan
Dalam pencontohan, individu mengamati seseorang model serta kemudian diperkuan buat mencontoh tingkah laris oleh model. Bandura (1969) menyatakan bahwa segenap belajar yg sanggup diperoleh melalui pengalaman langsung mampu juga diperoleh melalui pengalaman pribadi sanggup pula diperoleh secara nir pribadi dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Jadi, kecakapan-kecakapan sosial eksklusif sanggup diperoleh menggunakan mengamati serta mencontoh tingkah laris model-contoh yang terdapat. Juga reaksi-reaksi emosional yang terganggu yg dimilki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati orang lain yg mendekati objek-objek atau situasi-situasi yang ditakuti tanpa mengalami dampak-dampak yang angker menggunakan tindakan yg dilakukannya. Pengendalian diri pun sanggup dipelajari melalui pengamatan atas contoh yg dikenai sanksi. Status serta kehormatan model amat berarti, serta orang-orang dalam umumnya ditentukan oleh tingkah laris model-contoh yg menempati status yang tinggi dan terhormat di mata mereka menjadi pengamat.

f. Token Economy
Metode token economy bisa digunakan buat membentuk tingkah laris jika persetujuan serta penguatan-penguatan yg nir bisa diraba lainnya tidak menaruh imbas. Dalam token economy, tingkah laris yang layak sanggup diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang sanggup diraba (tanda-tanda misalnya kepingan logam) yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yg diingini. Metode token economy amat seperti menggunakan yg dijumpai pada kehidupan nyata dimana, contohnya, para pekerja di bayar buat output pekerjaan mereka. Penggunaan pertanda-tanda sebagai pemerkuat-pemerkuat bagi tingkah laku yang layak memiliki beberapa laba: (1) pertanda-indikasi nir kehilangan nilai insentifnya, (2) tanda-pertanda sanggup mengurangi penundaan yang terdapat pada antara tingkah laris yang layak dengan ganjarannya, (tiga) indikasi-pertanda sanggup dipakai sebagai pengukur yg kongkret bagi motivasi individu buat mengganti tingkah laku tertentu, (4) tanda-tanda merupakan bentik perkuatan yg positif, (5) individu mempunyai kesempatan buat menetapkan bagaimana memakai tanda-pertanda yang diperolehnya, serta (6) tanda-tanda cenderung menjembatani kesenjangan yang sering muncul di antara forum dan kehidupan sehari-hari. 

Token Economy adalah galat satu contoh menurut perkuatan yang ekstrinsik, yg menjadikan orang-orang melakukan sesuatu buat meraih “pemikat di ujung tombak”. Tujuan mekanisme ini adalah membarui motivasi yang ekstrinsik sebagai motivasi yg intrinsic. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yg diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan sebagai cukup mengganjar buat memlihara tingkah laris yang baru.

4. Peran Konselor pada Konseling Behavioral
Jika kita perhatikan lebih lanjut, pendekatan dalam konseling behavioral lebih cenderung direktif, lantaran pada pelaksanaannya konselorlah yang lebih banyak berperan. 

Adapun kiprah konselor pada konseling behavioral adalah :
  1. Bersikap mendapat.
  2. Memahami konseli.
  3. Tidak menilai serta mengkritik apa yang diungkapkan sang konseli.
  4. Konselor behavioral berperan sebagai pengajar, pengarah, serta pakar yg membantu konseli dalam mendiagnosis dan melekukan teknik-teknik modifikasi konduite yg sinkron dengan masalah dan tujuan yang dibutuhkan sebagai akibatnya menunjuk pada tingkah laris yang baru serta adjustif.