MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN

Mengajar Dan Belajar Dalam Standar Proses Pendidikan 
Mengajar adalah suatu perbuatan yang kompleks ( a highly complexion process). Di sebut kompleks lantaran pada tuntut dari adanya kemampuan pprofesional, personal, dan sosio cultural secara terpadu pada proses belajar- mengajar. Di katakan kompleks juga karena pada tuntut penguasaan materi serta metode, teori dan praktik pada hubungan anak didik. Di katakan kompleks pula lantaran mengandung unsur-unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai, dan keterampilan pada proses belajar- mengajar.

Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang menungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yg saling menghipnotis, yakni tujuan instruksional yg ingin di capai, materi yg pada ajarkan, guru serta murid yang wajib memainkan peranannya pada hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yg pada lakukan, dan wahana dan prasarana belajar-mengajar yg tersedia.

Setiap sistem lingkungan atau setiap insiden belajar-mengajar mempunyai profil yg unik, yg mengakibatkan tercapinya tujuan-tujuan yg tidak sinkron. Atau, jika pada katakan secara terbalik, buat mencapai tujuan belajar eksklusif wajib pada ciptakan sistem lingkungan yang eksklusif juga.

Tujuan belajar yang pencapaiannya di sebaiknya secara eksplisit dengan tindakan instruksional tertentu di namakan instruksional effect. Sedangkan tujuan – tujuan yg adalah penggiring, yang tercapainya karena siswa menghidupi suatu sistem lingkungan belajar tertentu pada namakan nurturant effect.

Proses pembelajaran itu sendiri dari Standar Proses Pendidikan merupakan aktivitas yang nir hanya menekankan kiprah pengajar di dalamnya, namun siswa harus di jadikan subjek atau prilaku dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu paradigma yg keliru mengenai pembelajaran selama itu harus pada ubah serta di sesuaikan dengan Standar Proses Pendidikan ( SPP ).

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN
A. MENGAJAR
1. Konsep mengajar
Konsep mengajar pada proses perkembangannya masih di anggap sebagai suatu aktivitas penyampaian atau penyerahan ilmu pengetahuan. Pandangan semacam ini masih generik pada pakai pada kalangan guru. Hasil penelitian dan pendapat para pakar sekarang lebih menyempurnakan konsep tradisional di atas.

Mengajar menurut pengertian terkini adalah suatu perbuatan yg kompleks. Perbuatan mengajar yg kompleks bisa pada terjemahkan menjadi penggunaan secara integratif sejumlah komponen yg terkandung pada perbuatan mengajar buat mengungkapkan pesan pengajaran.

1. 1 Mengajar sebagai proses membicarakan materi pelajaran
Sebagai proses membicarakan atau menanamkan ilmu pengetahuan, maka mengajar memiliki beberapa ciri sebagai berikut :

1.1.1 Proses pengajaran berpusat dalam guru
Dalam kegiatan pengajaran, pengajar memegang peran yg sangat penting. Pengajar menentukan segalanya. Mau pada apakan siswa? Apa yg wajib di kuasai murid? Bagaimana cara melihat keberhasilan mengajar? Semuanya tergantung pengajar. Oleh karena itu begitu pentingnya kiprah guru maka proses pembelajaran baru akan berlangsung apabila ada guru.

1.1.2 Siswa sebagai objek belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran menempatkan murid sebagai objek yg harus menguasai bahan ajar. Mereka di anggap menjadi organisme pasif yang belum tahu apa yg wajib di pahami, sehingga melalui proses pembelajaran mereka di tuntut memahami segala sesuatu yang di berikan pengajar.

1.1.tiga Kegiatan pedagogi terjadi dalam tempat serta ketika tertentu
Proses pedagogi berlangsung dalam loka eksklusif, misalnya pada dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga anak didik hanya belajar jika hanya terdapat kelas yang telah pada desain sedemikian rupa buat loka pembelajaran.

1.1.4 Tujuan primer pedagogi adalah penguasaan materi pelajaran
Keberhasilan suatu proses pembelajaran pada ukur menurut sejauh mana murid bisa menguasai materi pelajaran yg pada sampaikan sang pengajar. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yg di berikan pada sekolah.

1.dua Mengajar menjadi proses mengatur lingkungan
Terdapat beberapa ciri menurut konsep mengajar menjadi proses mengatur lingkungan. Antara lain :

1.2.1 Mengajar berpusat dalam murid (Student centered)
Mengajar nir pada tentukan oleh kesukaan guru, akan namun sangat pada tentukan sang siswa itu sendiri. Hendak belajar apa murid menurut topik yg pada pelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya pengajar yg menetukan tetapi pula siswa

1.dua.2 Siswa sebagai subjek belajar
Siswa tidak hanya pada anggap menjadi organisme pasif yang hanya menjadi penerima fakta, akan namun pada pandang sebagai organisme yg aktif yg memiliki potensi buat berkembang.

1.2.tiga Proses pembelajaran berlangsung pada mana saja
Siswa dapat menggnakan aneka macam tempat untuk belajar. Lantaran tempat juga sangat menunjang proses pembelajaran. Intinya pembelajaran bukan hanya di laksanakan pada dalam kelas namun pada laksanakan sinkron dengan keadaan.

1.2.4 Pembelajaran berorientasi dalam pencapaian tujuan
Tujuan pembelajaran bukan hanya agar murid menguasai bahan ajar, tetapi lebih luas dari dalam itu bahwa tujuan belajar adalah agar anak didik merubah pola perilakunya menuju arah yang lebih baik.

2. Pengertian mengajar
Menurut S Nasution (2000); Mengajar merupakan suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya serta menghubungkannya menggunakan anak sebagai akibatnya terjadilah proses belajar. Di katakan juga mengajar merupakan membentuk syarat yg aman buat berlangsungnya aktivitas belajar mengajar bagi anak didik. 

3. Perlunya perubahan kerangka berpikir mengenai mengajar
Apakah mengajar menjadi proses menanamkan ilmu pengetahuan masih berlaku dalam abad teknologi kini ini ? Bagaimana seandainya guru tidak berhasil menanamkan pengetahuan kepada orang yg di ajarnya juga pada anggap orang tersebut sudah mengajar? Lalu, bila begitu apa kriteria keberhasilan mengajar ? Apakah mengajar hanya di tentukan oleh seberapa akbar pengetahuan yang telah pada sampaikan ?

Pandangan mengajar yg hanya sebatas membicarakan ilmu pengetahuan itu di anggap telah nir sesuai lagi menggunakan keadaan. Hal itu bisa kita lihat berdasarkan 3 alasan penting. Alasan inilah yag lalu menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma mengajar, dari mengajar hanya sebatas membicarakan bahan ajar pada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.

Pertama, anak didik bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini , tetapi mereka merupakan organisme yang sedang berkembang. Pengajar nir lagi memposisikan diri menjadi asal belajar yg bertugas menyampaikan warta, tetapi harus berperan menjadi pengelola sumber belajar buat pada manfaatkan murid itu sendiri.

Kedua, Ledakan ilmu pengetahuan menyebabkan kecenderungan setiap orang nir mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Belajar nir hanya sekadar menghafal kabar, menghafal rumus-rumus, namun bagaimana menggunakan fakta serta pengetahuan itu buat mengasah kemampuan berfikir.

Ketiga, inovasi-inovasi baru khususnya dalam bidang psikologi, menyebabkan pemahaman baru tentang konsep perubahan tingkah laris insan. Manusia dalam hakikatnya memiliki potensi dan dengan dasar potensi itulah insan mampu menyebarkan dirinya. Dengan kata lain bahwa siswa bukan lagi pada jadikan objek pasif namun siswa wajib aktif pada melakukan kegiatan belajar.

Ketiga hal di atas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan di artikan menjadi proses membicarakan materi pembelajaran, tetapi lebih pada pandang sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar sesuai menggunakan kemampuan serta potensi yg di milikinya.

4. Makna mengajar pada Standar Proses Pendidikan
Mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekadar menyampaikan materi ajaran, akan namun pula pada maknai sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar. Makna lain yang demikian sering di istilahkan dalam pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar murid wajib di jadikan sentra berdasarkan aktivitas. Hal ini di maksudkan buat membentuk tabiat, peradaban dan peningkatan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi siswa buat menguasai kompetensi yang di harapkan. Pemberdayaan di arahkan buat mendorong pencapaian kompetensi serta perilaku khusus supaya setiap individu mampu sebagai pembelajar sepanjang hayat serta mewujudkan masyarakat belajar.

Dalam imlementasinya, walaupun kata yang di gunakan “pembelajaran”, nir berarti pengajar menghilangkan kiprahnya sebagai guru, karena secara konseptual dalam dasarnya mengajar itu jua bermakna membelajarkan murid. Mengajar – belajar adalah dua kata yg mempunyai makna tidak dapat di pisahkan. Mengajar merupakan suatu aktifitas yang dapat membuat anak didik belajar. Keterkaitan antara belajar dan mengajar menurut Jhon dewey ( Wina sanjaya , 2009) merupakan “teaching is to learning as selling and buying”. 

Dalam konteks pembelajaran, sama sekali nir berarti memperbesar peran siswa di satu pihak dan mengecilkan kiprah guru pada pihak lain. Dalam kata pembelajaran, guru tetap wajib berperan secara optimal, demikian halnya menggunakan murid. Perbedaan penguasaan serta aktifitas di atas, hanya membuktikan pada perbedaan tugas-tugas atau perlakuan guru dan anak didik terhadap materi serta proses pembelajaran. Sebagai model, waktu guru memilih proses belajar dengan menggunakan metode buzz class (diskusi kelompok kecil), yg lebih menekankan kepada aktifitas siswa maka tidak berarti peran pengajar mejadi mini . Ia akan permanen pada tuntut berperan secara optimal agar proses pembelajaran dengan metode itu mampu berjalan. Demikian pula saat guru memakai pendekatan ekspositori dalam pembelajaran, nir berarti kiprah siswa sebagai mini . Mereka harus tetap berperan secara optimal pada rangka menguasai dan memahami bahan ajar yg pada sampaikan sang pengajar.

Dari uraian pada atas, maka tampak jelas bahwa kata pembelajaran itu menunjukan dalam usaha anak didik menilik bahan pelajaran sebagai dampak perlakuan pengajar. Di sini jelas, proses pembelajaran yg di lakukan siswa nir mungkin terjadi tanpa perlakuan pengajar. Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.

Bruce well (1980) mengemukakan tiga prinsip penting pada proses pembelajaran semacam ini. Antara lain : 
  • Proses pembelajaran merupakan membangun kreasi lingkungan yg bisa menciptakan atau membarui struktur kognitif siswa 
  • Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang wajib pada pelajari 
  • Dalam proses pembelajaran harus melibatkan kiprah lingkungan sosial 

Dari aneka macam penerangan di atas, maka makna pembelajaran pada konteks baku proses pendidikan pada tunjukkan oleh beberapa ciri yg pada jelaskan menjadi berikut : 
  • Pembelajaran merupakan proses berfikir 
  • Proses pembelajaran merupakan memanfaatkan potensi otak 
  • Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat 
B. BELAJAR
1.makna Belajar
Usaha pemahaman tentang makna belajar ini akan di awali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa definisi mengenai belajar, antara lain dapat pada uraikan menjadi berikut : 
  • Cronbach memberikan definisi : Learning is shown by a change in behavior as a result of experience 
  • Harold spears memberikan batasan : Learning is to observe , to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. 
  • Geoch mengatakan : Learning is a change in performance as a result of practice. 
Dari ketiga definisi pada atas maka bisa di terangkan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laris atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik jikalau si subjek melakukan sesuatu, jadi nir terkesan verbalistik.

Dapat Juga pada lihat menurut arti luas bahwa belajar adalah kegiatan psiko – fisik menuju kepada perkembangan yang seutuhnya. Dalam arti sempit bisa di katakan bahwa belajar merupakan bisnis penguasaan materi ilmu pengetahuan yang adalah sebagaian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. 

Namun secara rinci belajar bisa pada katakan tahapan perubahan semua tingkah laris individu yang relatif menetap sebagai output pengalaman dan hubungan menggunakan lingkungan yg melibatkan proses kognitif. 

2. Faktor- faktor yg menghipnotis belajar
2.1. Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kesamaan serta kegairahan yang tinggi atau impian yang akbar terhadap sesuatu. Minat mensugesti proses serta output belajar, tidak usah dipertanyakan jikalau seseorang nir berminat untuk menyelidiki sesuatu maka cenderung tidak dapat diperlukan bahwa dia akan berhasil dengan baik pada mengusut hal tadi. Sebaliknya kalau seseorang belajar dengan penuh minat, maka diperlukan bahwa hasilnya akan lebih baik. 

2.dua. Kecerdasan
Telah sebagai hal yg cukup terkenal bahwa kecerdasan besar peranannya dalam berhasil dan tidaknya seorang memeriksa sesuatu atau mengikuti sesuatu acara pendidikan. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih sanggup belajar menurut pada orang yang kurang cerdas pada pada lingkungan. 

2.tiga. Bakat
Bakat adalah suatu kemampuan insan buat melakukan suatu aktivitas serta telah ada semenjak insan itu ada. Hal ini dekat menggunakan dilema intelligensia yg adalah struktur mental yang melahirkan “kemampuan” buat memahami sesuatu. 

Hampir tidak ada orang yang membantah, bahwa belajar dalam bidang yg sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu. Akan namun poly sekali hal-hal yg menghalangi buat terciptanya syarat yang sangat diinginkan oleh setiap orang. Dalam lingkup perguruan tinggi misalnya, tidak selalu perguruan tinggi loka seorang belajar menjanjikan studi yang sahih-benar sesuai menggunakan talenta orang tersebut.

2.4. Motivasi
Motivasi adalah syarat psikologis yg mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu atau kekuatan yg masih ada dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat.. Jadi motivasi belajar adalah syarat psikologis yang mendorong seseorang buat belajar.

2.5. Kemampuan-kemampuan Kognitif
Kemampuan-kemampuan kognitif yang utama merupakan persepsi, ingatan, serta berfikir. Kemampuan seorang dalam melakukan persepsi, pada mengingat, dan pada berfikir akbar pengaruhnya terhadap output belajar.

3. Prinsip- prinsip belajar
Belajar itu sangat kompleks. Hal itu bisa pada ketahui berdasarkan prinsip-prinsip belajar yg akan pada paparkan sebagai berikut : 
  • Agar seseorang sahih-benar belajar maka dia harus memiliki suatu tujuan 
  • Tujuan itu wajib timbul dari / atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena paksaan orang lain 
  • Orang itu wajib bersedia mengalami bermacam- macam kesukaran dan berusaha menggunakan tekun buat mencapai tujuan yang berharga baginya 
  • Belajar itu harus terbukti dari perubahan perilakunya 
  • Selain tujuan utama yang hendak di capai, pada perolehnya jua hasil-hasil sampingan. Misalnya beliau nir hanya bertambah terampil menciptakan soal-soal ilmu pengetahuan alam namun mempunyai minat yg lebih buat bidang studi itu. 
  • Belajar lebih berhasil menggunakan jalan berbuat 
  • Seseorang belajar secara keseluruhan 
  • Dalam belajar seseorang memerlukan bimbingan serta bantuan menurut orang lain 
  • Untuk belajar pada perlukan “Insight” 
  • Di samping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seorang juga ingin mencapai tujuan lain 
  • Adanya kemauan dan asa. 
4. Arti penting belajar
4.1. Arti penting belajar bagi perkembangan manusia
Perubahan dan kemampuan buat berubah merupakan batasan serta makna yang terkandung dalam belajar. Di sebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah maka insan bisa berkembang lebih jauh menurut dalam makhluk-makhluk lainnya sebagai akibatnya ia terbebas dari kemandegan manfaatnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Boleh jadi, karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula manusia secara bebas dapat mengeksploitasi , menentukan serta tetapkan keputusan-keputusan krusial bagi hidupnya.

Banyak sekali bentuk-bentuk perkembangan yg masih ada pada diri manusia yang bergantung pada belajar, misalnya perkembangan kecakapan bicara.

4.dua. Arti krusial belajar bagi kehidupan manusia
Belajar pula memainkan peran penting dalam mempertahankan sekelompok manusia di tengah-tengah persaingan yg semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju lantaran belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis bisa juga terjadi karena belajar.

Meskipun terdapat imbas negatif menurut belajar tetapi kegiatan belajar memiliki arti krusial, bahwa belajar berfungsi sebagai alat mempertahankan kehidupan manusia. Bahkan pada dalam Al-qur’an jua berkali –kali di tekankan agar manusia mau belajar, lantaran dengan belajar maka insan sanggup mengerti arti kebesaran Allah SWT.

5. Teori-teori belajar
5.1 Teori Behaviorisme 
Behaviorisme adalah salah satu genre psikologi yg memandang individu hanya berdasarkan sisi kenyataan jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan istilah lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu pada suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi norma yg dikuasai individu. Beberapa aturan belajar yang dihasilkan berdasarkan pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

5.1.1 Connectionism ( S-R Bond) berdasarkan Thorndike. 
Dari eksperimen yg dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum - hukum belajar, diantaranya: 
  • Law of Readiness; Hubungan antara stimulus serta respon akan mudah terbentuk manakala terdapat kesiapan pada diri individu. 
  • Law of Exercise; ialah bahwa interaksi antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, apabila acapkali di pakai serta akan semakin berkurang bila nir pada gunakan. 
  • Law of effect; Hukum ini menunjuk pada kuat atau lemahnya hubungan stimulus respon tergantung pada dampak yang pada timbulkannya. 
5.1.dua. Classical Conditioning dari Ivan Pavlov
Dari eksperimen yg dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing membuat hukum-hukum belajar, diantaranya : 
  • Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Apabila dua macam stimulus dihadirkan secara stimulan (yang keliru satunya berfungsi menjadi reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. 
  • Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Apabila refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun. 
5.1.tiga. Operant Conditioning berdasarkan B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus serta selanjutnya terhadap burung merpati membuat hukum-aturan belajar, antara lain : 
  • Law of operant conditining yaitu bila timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tadi akan meningkat. 
  • Law of operant extinction yaitu jika timbulnya konduite operant sudah diperkuat melalui proses conditioning tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tadi akan menurun bahkan musnah. 
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yg dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa imbas yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan sang pengaruh yang disebabkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri dalam dasarnya merupakan stimulus yg menaikkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons eksklusif, tetapi tidak sengaja diadakan menjadi pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

5.2 Teori Belajar Kognitif berdasarkan Piaget
Pendekatan teori kognitif lebih menekankan pada arti penting proses internal. Dikemukakan oleh Piaget bahwa belajar akan lebih berhasil bila diadaptasi menggunakan tahap perkembangan kognitif siswa. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen menggunakan obyek fisik, yg ditunjang sang interaksi menggunakan teman sebaya dan dibantu sang pertanyaan tilikan dari pengajar. Pengajar hendaknya poly memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi menggunakan lingkungan secara aktif, mencari serta menemukan banyak sekali hal menurut lingkungan.

5.3 Teori Pemrosesan Informasi menurut Robert Gagne
Asumsi yg mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yg sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan output kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan warta, buat kemudian diolah sebagai akibatnya menghasilkan keluaran pada bentuk output belajar. Dalam pemrosesan kabar terjadi adanya hubungan antara kondisi-kondisi internal serta syarat-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan pada diri individu yang diharapkan buat mencapai output belajar dan proses kognitif yang terjadi pada individu. Sedangkan syarat eksternal adalah rangsangan berdasarkan lingkungan yg mensugesti individu dalam proses pembelajaran.

5.4 Teori Belajar Gestalt
Teori ini tidak selaras menggunakan teori-teori terdahulu, berdasarkan Teori gestalt belajar adalah proses membuatkan insight. Insight merupakan pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Menurut teori ini bahwa belajar bukanlah mengulang-ulang yang harus di pelajari, namun mengerti/ mendapatkan insight. 

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN

Mengajar Dan Belajar Dalam Standar Proses Pendidikan 
Mengajar merupakan suatu perbuatan yg kompleks ( a highly complexion process). Di sebut kompleks lantaran pada tuntut dari adanya kemampuan pprofesional, personal, serta sosio cultural secara terpadu dalam proses belajar- mengajar. Di katakan kompleks jua karena di tuntut penguasaan materi serta metode, teori dan praktik dalam hubungan murid. Di katakan kompleks juga lantaran mengandung unsur-unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai, serta keterampilan dalam proses belajar- mengajar.

Mengajar merupakan penciptaan sistem lingkungan yg menungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mensugesti, yakni tujuan instruksional yang ingin di capai, materi yg pada ajarkan, pengajar dan siswa yang wajib memainkan peranannya dalam hubungan sosial eksklusif, jenis aktivitas yg pada lakukan, serta wahana dan prasarana belajar-mengajar yang tersedia.

Setiap sistem lingkungan atau setiap insiden belajar-mengajar memiliki profil yg unik, yang mengakibatkan tercapinya tujuan-tujuan yang tidak sama. Atau, jikalau di katakan secara terbalik, buat mencapai tujuan belajar eksklusif wajib di ciptakan sistem lingkungan yang eksklusif pula.

Tujuan belajar yg pencapaiannya pada usahakan secara eksplisit dengan tindakan instruksional eksklusif di namakan instruksional effect. Sedangkan tujuan – tujuan yg merupakan penggiring, yang tercapainya karena anak didik menghidupi suatu sistem lingkungan belajar tertentu di namakan nurturant effect.

Proses pembelajaran itu sendiri menurut Standar Proses Pendidikan merupakan kegiatan yang tidak hanya menekankan peran guru pada dalamnya, namun anak didik wajib pada jadikan subjek atau prilaku pada proses pembelajaran. Oleh sebab itu kerangka berpikir yg keliru mengenai pembelajaran selama itu harus di ubah dan di sesuaikan menggunakan Standar Proses Pendidikan ( SPP ).

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN
A. MENGAJAR
1. Konsep mengajar
Konsep mengajar pada proses perkembangannya masih pada anggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan ilmu pengetahuan. Pandangan semacam ini masih umum di pakai pada kalangan guru. Hasil penelitian dan pendapat para ahli kini lebih menyempurnakan konsep tradisional pada atas.

Mengajar dari pengertian terkini merupakan suatu perbuatan yg kompleks. Perbuatan mengajar yang kompleks bisa di terjemahkan menjadi penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung pada perbuatan mengajar buat menyampaikan pesan pedagogi.

1. 1 Mengajar sebagai proses membicarakan materi pelajaran
Sebagai proses menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan, maka mengajar memiliki beberapa ciri menjadi berikut :

1.1.1 Proses pedagogi berpusat pada guru
Dalam kegiatan pengajaran, guru memegang peran yg sangat penting. Guru menentukan segalanya. Mau di apakan anak didik? Apa yg harus di kuasai anak didik? Bagaimana cara melihat keberhasilan mengajar? Semuanya tergantung pengajar. Oleh karenanya begitu pentingnya kiprah guru maka proses pembelajaran baru akan berlangsung jika ada guru.

1.1.2 Siswa menjadi objek belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran menempatkan murid sebagai objek yg wajib menguasai materi ajar. Mereka di anggap sebagai organisme pasif yang belum tahu apa yang wajib di pahami, sehingga melalui proses pembelajaran mereka pada tuntut tahu segala sesuatu yang di berikan pengajar.

1.1.3 Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan ketika tertentu
Proses pedagogi berlangsung pada loka tertentu, misalnya pada pada kelas dengan penjadwalan yg ketat, sehingga murid hanya belajar bila hanya terdapat kelas yg telah pada desain sedemikian rupa buat loka pembelajaran.

1.1.4 Tujuan primer pedagogi merupakan dominasi materi pelajaran
Keberhasilan suatu proses pembelajaran pada ukur menurut sejauh mana anak didik dapat menguasai bahan ajar yg di sampaikan sang pengajar. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yg bersumber menurut mata pelajaran yang di berikan pada sekolah.

1.2 Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan
Terdapat beberapa ciri dari konsep mengajar menjadi proses mengatur lingkungan. Antara lain :

1.2.1 Mengajar berpusat pada anak didik (Student centered)
Mengajar nir di tentukan sang kesukaan guru, akan tetapi sangat pada tentukan oleh anak didik itu sendiri. Hendak belajar apa anak didik berdasarkan topik yg pada pelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya pengajar yang menetukan tetapi pula siswa

1.dua.2 Siswa sebagai subjek belajar
Siswa tidak hanya di anggap sebagai organisme pasif yang hanya menjadi penerima informasi, akan namun di pandang menjadi organisme yang aktif yg memiliki potensi buat berkembang.

1.dua.3 Proses pembelajaran berlangsung di mana saja
Siswa bisa menggnakan aneka macam tempat untuk belajar. Karena loka juga sangat menunjang proses pembelajaran. Intinya pembelajaran bukan hanya pada laksanakan pada pada kelas namun pada laksanakan sesuai menggunakan keadaan.

1.dua.4 Pembelajaran berorientasi dalam pencapaian tujuan
Tujuan pembelajaran bukan hanya supaya siswa menguasai materi pelajaran, tetapi lebih luas menurut pada itu bahwa tujuan belajar merupakan supaya siswa merubah pola perilakunya menuju arah yang lebih baik.

2. Pengertian mengajar
Menurut S Nasution (2000); Mengajar merupakan suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadilah proses belajar. Di katakan pula mengajar merupakan membentuk kondisi yg aman buat berlangsungnya aktivitas belajar mengajar bagi murid. 

3. Perlunya perubahan kerangka berpikir mengenai mengajar
Apakah mengajar menjadi proses menanamkan ilmu pengetahuan masih berlaku pada abad teknologi kini ini ? Bagaimana seandainya guru nir berhasil menanamkan pengetahuan pada orang yang di ajarnya jua pada anggap orang tadi sudah mengajar? Lalu, bila begitu apa kriteria keberhasilan mengajar ? Apakah mengajar hanya pada tentukan oleh seberapa akbar pengetahuan yg sudah di sampaikan ?

Pandangan mengajar yg hanya sebatas mengungkapkan ilmu pengetahuan itu pada anggap sudah nir sinkron lagi menggunakan keadaan. Hal itu dapat kita lihat dari 3 alasan penting. Alasan inilah yag lalu menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma mengajar, menurut mengajar hanya sebatas mengungkapkan bahan ajar pada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.

Pertama, siswa bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, tetapi mereka merupakan organisme yg sedang berkembang. Pengajar nir lagi memposisikan diri sebagai asal belajar yg bertugas menyampaikan berita, namun wajib berperan menjadi pengelola asal belajar buat di manfaatkan anak didik itu sendiri.

Kedua, Ledakan ilmu pengetahuan menyebabkan kesamaan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Belajar nir hanya sekadar menghafal warta, menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana memakai berita dan pengetahuan itu buat mengasah kemampuan berfikir.

Ketiga, inovasi-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru mengenai konsep perubahan tingkah laris insan. Manusia dalam hakikatnya mempunyai potensi serta dengan dasar potensi itulah manusia bisa menyebarkan dirinya. Dengan kata lain bahwa murid bukan lagi pada jadikan objek pasif tetapi anak didik wajib aktif pada melakukan aktivitas belajar.

Ketiga hal di atas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan pada artikan sebagai proses membicarakan materi pembelajaran, namun lebih di pandang menjadi proses mengatur lingkungan supaya anak didik belajar sesuai menggunakan kemampuan serta potensi yg di milikinya.

4. Makna mengajar dalam Standar Proses Pendidikan
Mengajar pada konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekadar mengungkapkan materi ajaran, akan tetapi juga pada maknai menjadi proses mengatur lingkungan supaya murid belajar. Makna lain yg demikian tak jarang di istilahkan dalam pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa pada proses belajar murid harus di jadikan pusat menurut aktivitas. Hal ini pada maksudkan untuk membentuk watak, peradaban serta peningkatan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan seluruh potensi siswa buat menguasai kompetensi yg di harapkan. Pemberdayaan di arahkan buat mendorong pencapaian kompetensi dan konduite spesifik supaya setiap individu bisa sebagai pembelajar sepanjang hayat serta mewujudkan masyarakat belajar.

Dalam imlementasinya, walaupun istilah yang pada pakai “pembelajaran”, nir berarti guru menghilangkan kiprahnya menjadi guru, karena secara konseptual dalam dasarnya mengajar itu juga bermakna membelajarkan siswa. Mengajar – belajar merupakan 2 istilah yang mempunyai makna tidak bisa di pisahkan. Mengajar merupakan suatu aktifitas yang bisa membuat murid belajar. Keterkaitan antara belajar serta mengajar menurut Jhon dewey ( Wina sanjaya , 2009) merupakan “teaching is to learning as selling and buying”. 

Dalam konteks pembelajaran, sama sekali nir berarti memperbesar kiprah anak didik pada satu pihak dan mengecilkan kiprah guru di pihak lain. Dalam istilah pembelajaran, guru permanen wajib berperan secara optimal, demikian halnya dengan murid. Perbedaan dominasi serta aktifitas pada atas, hanya menandakan kepada disparitas tugas-tugas atau perlakuan pengajar serta siswa terhadap materi serta proses pembelajaran. Sebagai model, saat guru memilih proses belajar dengan memakai metode buzz class (diskusi kelompok kecil), yang lebih menekankan kepada aktifitas siswa maka nir berarti kiprah pengajar mejadi kecil. Ia akan permanen di tuntut berperan secara optimal supaya proses pembelajaran menggunakan metode itu bisa berjalan. Demikian juga saat guru memakai pendekatan ekspositori dalam pembelajaran, tidak berarti kiprah murid menjadi kecil. Mereka wajib tetap berperan secara optimal dalam rangka menguasai serta memahami materi pelajaran yang pada sampaikan oleh pengajar.

Dari uraian pada atas, maka tampak kentara bahwa kata pembelajaran itu membuktikan pada usaha siswa menyelidiki bahan pelajaran menjadi dampak perlakuan guru. Di sini jelas, proses pembelajaran yg pada lakukan anak didik nir mungkin terjadi tanpa perlakuan guru. Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.

Bruce well (1980) mengemukakan 3 prinsip penting pada proses pembelajaran semacam ini. Antara lain : 
  • Proses pembelajaran merupakan membangun kreasi lingkungan yang bisa membentuk atau mengganti struktur kognitif anak didik 
  • Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang wajib di pelajari 
  • Dalam proses pembelajaran wajib melibatkan kiprah lingkungan sosial 

Dari aneka macam penjelasan di atas, maka makna pembelajaran pada konteks baku proses pendidikan pada tunjukkan sang beberapa karakteristik yg di jelaskan sebagai berikut : 
  • Pembelajaran merupakan proses berfikir 
  • Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak 
  • Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat 
B. BELAJAR
1.makna Belajar
Usaha pemahaman tentang makna belajar ini akan pada awali dengan mengemukakan beberapa definisi mengenai belajar. Ada beberapa definisi tentang belajar, diantaranya dapat pada uraikan sebagai berikut : 
  • Cronbach menaruh definisi : Learning is shown by a change in behavior as a result of experience 
  • Harold spears menaruh batasan : Learning is to observe , to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. 
  • Geoch mengungkapkan : Learning is a change in performance as a result of practice. 
Dari ketiga definisi pada atas maka bisa di terangkan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan menggunakan serangkaian aktivitas, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subjek melakukan sesuatu, jadi tidak terkesan verbalistik.

Dapat Juga pada lihat berdasarkan arti luas bahwa belajar adalah aktivitas psiko – fisik menuju kepada perkembangan yg seutuhnya. Dalam arti sempit dapat di katakan bahwa belajar merupakan bisnis penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagaian aktivitas menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. 

Namun secara rinci belajar bisa pada katakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang nisbi menetap sebagai output pengalaman serta interaksi menggunakan lingkungan yg melibatkan proses kognitif. 

2. Faktor- faktor yg menghipnotis belajar
2.1. Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kesamaan serta kegairahan yang tinggi atau impian yg besar terhadap sesuatu. Minat menghipnotis proses dan hasil belajar, tidak usah dipertanyakan jika seorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu maka cenderung nir dapat diharapkan bahwa beliau akan berhasil menggunakan baik pada menyelidiki hal tadi. Sebaliknya kalau seorang belajar menggunakan penuh minat, maka diharapkan bahwa hasilnya akan lebih baik. 

2.2. Kecerdasan
Telah menjadi hal yang relatif populer bahwa kecerdasan akbar peranannya dalam berhasil serta tidaknya seseorang memeriksa sesuatu atau mengikuti sesuatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih bisa belajar dari dalam orang yg kurang cerdas pada dalam lingkungan. 

2.3. Bakat
Bakat merupakan suatu kemampuan manusia buat melakukan suatu kegiatan serta sudah terdapat sejak insan itu ada. Hal ini dekat menggunakan masalah intelligensia yg adalah struktur mental yang melahirkan “kemampuan” buat tahu sesuatu. 

Hampir nir ada orang yang membantah, bahwa belajar dalam bidang yang sesuai menggunakan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu. Akan namun banyak sekali hal-hal yg menghalangi buat terciptanya kondisi yg sangat diinginkan oleh setiap orang. Dalam lingkup perguruan tinggi misalnya, tidak selalu perguruan tinggi loka seorang belajar menjanjikan studi yang benar-benar sinkron dengan bakat orang tersebut.

2.4. Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seorang untuk melakukan sesuatu atau kekuatan yg terdapat dalam diri organisme yg mendorong buat berbuat.. Jadi motivasi belajar merupakan kondisi psikologis yg mendorong seorang buat belajar.

2.lima. Kemampuan-kemampuan Kognitif
Kemampuan-kemampuan kognitif yg utama adalah persepsi, ingatan, serta berfikir. Kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, dalam mengingat, serta pada berfikir besar pengaruhnya terhadap output belajar.

3. Prinsip- prinsip belajar
Belajar itu sangat kompleks. Hal itu bisa di ketahui berdasarkan prinsip-prinsip belajar yang akan di paparkan sebagai berikut : 
  • Agar seseorang sahih-sahih belajar maka dia harus memiliki suatu tujuan 
  • Tujuan itu wajib ada menurut / atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan lantaran paksaan orang lain 
  • Orang itu harus bersedia mengalami bermacam- macam kesukaran serta berusaha dengan tekun buat mencapai tujuan yg berharga baginya 
  • Belajar itu harus terbukti dari perubahan perilakunya 
  • Selain tujuan utama yang hendak pada capai, di perolehnya juga hasil-output sampingan. Misalnya dia tidak hanya bertambah terampil membuat soal-soal ilmu pengetahuan alam tetapi memiliki minat yg lebih untuk bidang studi itu. 
  • Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat 
  • Seseorang belajar secara keseluruhan 
  • Dalam belajar seorang memerlukan bimbingan serta bantuan dari orang lain 
  • Untuk belajar pada perlukan “Insight” 
  • Di samping mengejar tujuan belajar yg sebenarnya, seseorang pula ingin mencapai tujuan lain 
  • Adanya kemauan serta impian. 
4. Arti penting belajar
4.1. Arti penting belajar bagi perkembangan manusia
Perubahan serta kemampuan buat berubah adalah batasan serta makna yang terkandung dalam belajar. Di sebabkan oleh kemampuan berubah lantaran belajarlah maka insan dapat berkembang lebih jauh menurut dalam makhluk-makhluk lainnya sehingga dia terbebas menurut kemandegan kegunaannya menjadi khalifah Allah pada muka bumi. Boleh jadi, lantaran kemampuan berkembang melalui belajar itu jua manusia secara bebas dapat mengeksploitasi , memilih dan memutuskan keputusan-keputusan penting bagi hidupnya.

Banyak sekali bentuk-bentuk perkembangan yg masih ada dalam diri insan yg bergantung dalam belajar, contohnya perkembangan kecakapan bicara.

4.2. Arti krusial belajar bagi kehidupan manusia
Belajar juga memainkan peran krusial dalam mempertahankan sekelompok insan di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yg lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tadi, kenyataan tragis sanggup pula terjadi karena belajar.

Meskipun ada impak negatif dari belajar namun aktivitas belajar memiliki arti penting, bahwa belajar berfungsi sebagai alat mempertahankan kehidupan manusia. Bahkan di pada Al-qur’an jua berkali –kali pada tekankan supaya manusia mau belajar, lantaran dengan belajar maka manusia bisa mengerti arti kebesaran Allah SWT.

5. Teori-teori belajar
5.1 Teori Behaviorisme 
Behaviorisme merupakan galat satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, talenta, minat serta perasaan individu pada suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga sebagai norma yg dikuasai individu. Beberapa aturan belajar yang didapatkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

5.1.1 Connectionism ( S-R Bond) berdasarkan Thorndike. 
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing membuat hukum - aturan belajar, antara lain: 
  • Law of Readiness; Hubungan antara stimulus dan respon akan gampang terbentuk manakala terdapat kesiapan pada diri individu. 
  • Law of Exercise; merupakan bahwa interaksi antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika seringkali di gunakan serta akan semakin berkurang bila tidak pada gunakan. 
  • Law of effect; Hukum ini memilih dalam kuat atau lemahnya hubungan stimulus respon tergantung kepada dampak yg di timbulkannya. 
5.1.dua. Classical Conditioning berdasarkan Ivan Pavlov
Dari eksperimen yg dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan aturan-aturan belajar, diantaranya : 
  • Law of Respondent Conditioning yakni aturan pembiasaan yg dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara stimulan (yg salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. 
  • Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yg dituntut. Jika refleks yg telah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun. 
5.1.tiga. Operant Conditioning dari B.F. Skinner
Dari eksperimen yg dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus serta selanjutnya terhadap burung merpati membentuk hukum-aturan belajar, antara lain : 
  • Law of operant conditining yaitu apabila timbulnya konduite diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tadi akan meningkat. 
  • Law of operant extinction yaitu apabila timbulnya konduite operant sudah diperkuat melalui proses conditioning tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tadi akan menurun bahkan musnah. 
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud menggunakan operant merupakan sejumlah konduite yg membawa imbas yang sama terhadap lingkungan. Respons pada operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan sang dampak yang disebabkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri dalam dasarnya merupakan stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons eksklusif, tetapi tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti pada classical conditioning.

5.2 Teori Belajar Kognitif dari Piaget
Pendekatan teori kognitif lebih menekankan dalam arti krusial proses internal. Dikemukakan sang Piaget bahwa belajar akan lebih berhasil bila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif siswa. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan buat melakukan eksperimen menggunakan obyek fisik, yg ditunjang sang hubungan menggunakan sahabat sebaya dan dibantu sang pertanyaan tilikan dari pengajar. Guru hendaknya poly memberikan rangsangan pada siswa agar mau berinteraksi menggunakan lingkungan secara aktif, mencari serta menemukan berbagai hal menurut lingkungan.

5.3 Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yg mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat krusial dalam perkembangan. Perkembangan adalah hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa pada pembelajaran terjadi proses penerimaan fakta, buat kemudian diolah sebagai akibatnya menghasilkan keluaran pada bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan liputan terjadi adanya interaksi antara kondisi-syarat internal serta syarat-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yg diharapkan buat mencapai hasil belajar dan proses kognitif yg terjadi pada individu. Sedangkan syarat eksternal adalah rangsangan berdasarkan lingkungan yg mempengaruhi individu pada proses pembelajaran.

5.4 Teori Belajar Gestalt
Teori ini tidak sama menggunakan teori-teori terdahulu, berdasarkan Teori gestalt belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight merupakan pemahaman terhadap interaksi antar bagian pada pada suatu situasi konflik. Menurut teori ini bahwa belajar bukanlah mengulang-ulang yang wajib pada pelajari, tetapi mengerti/ menerima insight. 

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan 
Pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yang dibahas dalam artikel ini melalui 3 tahapan primer yaitu proses perencanaan kurikulum , penetapan isi kurikulum, serta implementasi kurikulum. Sebelum membahas masing-masing tahapan tadi, artikel ini terlebih dahulu membahas tentang perspektif historis pendidikan teknologi kejuruan. Perkembangan pendidikan kontemporer, dan yg terpenting merupakan ciri pendidikan teknologi serta kejuruan yang mendasari ketiga tahapan pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi kejuruan.

A.perspektif Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi serta Kejuruan 
1. Perspektif Sejarah
Banyak faktor yg menyebabkan terjadinya perbedaan dalam mengembangkan kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan salah satunya merupakan pengaruh ”sejarah”. Sejarah mempunyai pesan penting untuk memberikan berita peristiwa dulu serta menyediakan perspektif yg bermakna bagi para pengembang kurikulum. Dilihat berdasarkan perspektif sejarah, bisnis perencanaan serta pengembangan kurikulum sudah dimulai pada masa Mesir antik lebih kurang 2000 tahun SM. Program-acara magang yang terorganisir (apprenticeship) menggunakan cara menyelidiki suatu keterampilan tertentu berdasarkan seorang yg sudah ditinjau pakar yg berpengalaman sebagai ciri khas pendidikan pada saat itu. Di lain pihak, pendidikan pada ketika itu, mencakup belajar kemampuan dasar menulis dan membaca karya sastra . Ini tercatat dalam sejarah sebagai usaha awal penggabungan antara belajar di kelas buat kemampuan-kemampuan dasar dan belajar langsung pada tempat kerja untuk hal-hal yang bersifat keterampilan terapan dengan penekanan pada metode menirukan cara bekerja para pakar yg sudah mapan dalam pekerjaannya. Cara ini sempat menyebar ke banyak sekali bagian global lain hingga sekitar abad ke-19.

Sebenarnya ada pula bisnis-bisnis lain yg mencoba memberi cara lain selain acara magang, baik yg berupa pemikiran maupun tindakan nyata berupa pendirian forum-lembaga pendidikan yg telah bersifat agak formal. Pemikiran-pemikiran kependidikan yang dipelopori sang para pakar filsafat misalnya John Locke, Comenius, Pestalozzi, dan Rousseau memberi ide kuat terhadap bentuk-bentuk persekolahan kuno yg mulai meninggalkan praktek magang dan beralih ke bentuk yg lebih formal dengan memasukkan aspek pendidikan mental misalnya filsafat dan logika serta pendidikan kesenian.ketika revolusi industri pecah pada awal abad ke-19 , terjadi permintaan tenaga terlatih yang murah pada jumlah yang sangat akbar sebagai akibatnya nir mungkin lagi terpenuhi menurut sistem pendidikan magang yang umumnya memerlukan waktu yang usang serta biaya nisbi mahal. 

Sejak saat itulah, lalu muncul banyak pemikiran-pemikiran buat mengusahakan perencanaan serta pengembangan kurikulum sekolah secara sistematis, termasuk galat satunya merupakan pemikiran Victor Della Vos yang mengawali adanya pemikiran yg sistematis dalam pengembangan kurikulum pada pendidikan teknologi serta kejuruan. Della yg adalah direktur menurut ”the imperial Technical School of Moscow”, pada tahun 1876 pada Philadelphia Centennia Exposition” mengemukakan pendekatan baru pada pembelajaran teknik, sehingga dalam ketika itu Della menjadi katalis buat pendidikan teknik di Amerika Serikat (lannie 1971). Pada ketika itu Della terkenal dengan 4 perkiraan yg berkaitan dengan pengajaran dalam bidang mekanik, yaitu : (a) pendidikan ditempuh dalam ketika yg sesingkat mungkin (in short education); (b) selalu diupayakan suatu cara buat menaruh pengajaran yg relatif buat jumlah murid yg banyak pada satu ketika; (c) dengan metode yg akan memberikan pelajaran praktek di bengkel menggunakan pemenuhan pengetahuan yg mencukupi, serta (d) sebagai akibatnya memungkinkan guru dapat menetapkan perkembangan anak didik setiap waktu. 

2. Pendidikan Teknologi serta Kejuruan Vs Pendidikan Umum 
Sepanjang hidupnya seorang insan mempunyai kesempatan berpartisipasi baik pada pendidikan formal maupun informal, dan sejauhmana partisipasi ini dilakukan akan menjadi galat satu faktor bagi penentu bagi kemampuannya mengarungi kehidupannya. Finch & Crunkilton (1984 : 8) mendeskripsikan jalinan partisipasi ini dikaitkan menggunakan dua tujuan krusial diselenggarakannya pendidikan secara luas, yaitu : (1) pendidikan buat hidup serta (2) pendidikan buat mencari penghidupan

Gambar  Education in Our Society
Sumber : Finch & Crunkilton (1984 : 8)

3. Konsep Dasar Kurikulum 
Finch & Crunkilton (1984 : 9), mengemukakan definisi kurikulum menjadi .... As the sum of the learning activities and experiences that a student has under the auspices or direction of the school” Dari definisi tersebut dapat paling tidak ada dua point yg harus diperhatikan, yaitu bahwa penekanan primer kurikulum adalah siswa serta yang kedua bahwa bagian dari kurikulum nir hanya mata pelajaran akan namun semua kegiatan (olah raga, klub, aktivitas kokurikuler) mempunyai pengaruh yg signifikan buat pembentukan individu siswa yang total dan buat mencapai efektivitas berdasarkan kurikulum .

4. Hubungan antara Kurikulum serta Pembelajaran 
Penjelasan interaksi antara kurikulum serta pembelajaran akan menaruh membawa konsekuensi eksklusif dalam perbedaan pengertian antara perencanaan kurikulum dan perencanaan pembelajaran. Finch & Crunkilton (1984 : 11) menggambarkan interaksi keduanya sebagai berikut : 

Gambar Possible Shared and Unique Aspects of Instructional Development and Curriculum Development

Dari gambar pada atas, bisa dijelaskan sebagai berikut : Jikalau ada seorang guru merumuskan tujuan buat mata pelajaran yg diampunya, maka kegiatan tadi diklasifikasikan sebagai pengembangan pembelajaran . Di lain pihak bila ada sekelompok guru yang merumuskan tujuan buat digunakan pada mata pelajaran dia sendiri atau bahkan buat mata pelajaran -mata pelajaran yang lainnya, maka aktivitas tesebut dinamakan kegiatan pengembangan kurikulum. 

5. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan 
Pendidikan Teknologi serta Kejuruan merupakan sistem yang nir terpisahkan menurut sistem pendidikan secara menyeluruh. Meskipun demikian, kurikulum pendidikan teknologi serta kejuruan mempunyai ciri dan kekhususan tersendiri yg membedakannya menggunakan sub sistem pendidikan yg lain. Perbedaan ini nir hanya dalam definisi, struktur organisasi, serta tujuan pendidikannya saja, tetapi terlihat berdasarkan aspek lainnya yang berkaitan dengan aspek perencanaan kurikulum . Karakteristik – ciri dasar dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yaitu : 

a. Orientasi 
Keberhasilan utama dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, bukan saja diukur menurut pencapaian hasil belajar berupa kelulusan, namun dalam kemampuan para lulusan kelak di global kerja. Asumsi tadi dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat pendidikan kejuruan yang adalah pendidikan buat penyiapan tenaga kerja, maka dengan sendirinya orientasi pendidikan kejuruan tertuju dalam hasil atau lulusan. 

b. Justifikasi
Kurikulum pendidikan teknologi serta kejuruan berdasarkan pada identifikasi kebutuhan aneka macam jenis pekerjaan yg terdapat di lapangan. Inilah yang menjadi alasan mengapa pendidikan teknologi dan kejuruan perlu ”diselenggarakan”. Justifikasi / alasan eksistensi pendidikan teknologi dan kejuruan didasari oleh asumsi adanya kebutuhan energi kerja pada lapangan. Oleh karena itu, yg dimaksud justifikasi pada sini merupakan justifikasi buat eksistensi. Pendidikan teknologi kejuruan ”nir layak ada” jika pada lapangan tidak dibutuhkan tenaga kerja yg akan dididik di sekolah tersebut. 

c. Fokus 
Fokus kurikulum pendidikan teknologi serta kejuruan nir hanya pada aspek skill / psikomotorik seperti yg dipahami sebagian rakyat, akan tetapi kurikulum membantu anak didik buat berbagi diri pada semua aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan nilai yang tujuan akhirnya buat memberikan kontribusi buat keberhasilan sebagai ”pekerja” atau menggunakan kata lain siswa dididik buat mempunyai kemampuan yang komprehensif dan simultan sehingga mampu sebagai pekerja yg ”produktif”. Mengembangkan salah aspek saja bertentangan dengan hakikat murid sebagai suatu totalitas eksklusif.

d. Kriteria Keberhasilan di Sekolah serta Luar Sekolah (Dual Criteria)
Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu forum pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan berukuran ganda, yaitu keberhasilan anak didik pada sekolah (in-school success) dan keberhasilan pada luar sekolah (out-of-school success). Kriteria yg pertama mencakup aspek keberhasilan anak didik dalam menempuh proses pembelajaran di kelas, sedang kriteria keberhasilan yang ke 2 diindikasikan sang keberhasilan performance lulusan setelah berada di dunia kerja. 

e. Hubungan antara Sekolah –Masyarakat dan Keterlibatan Pemerintah
Hubungan antara sekolah serta warga lebih khususnya dengan dunia industri merupakan karakteristik yang sangat krusial dalam konteks pendidikan teknologi serta kejuruan. Peran masyarakat dan pemerintah dalam hal ini sama pentingnya. Masyarakat dan pemerintah mempunyai tanggung jawab buat mengembangkan pendidikan teknologi serta kejuruan. Perwujudan interaksi timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory committee), kesediaan dunia usaha menampung siswa pendidikan teknologi dan kejuruan dalam program kerjasama yg memungkinkan kesempatan pengalaman lapangan, keterangan kesamaan ketenagakerjaan yg selalu dijabarkan ke dalam perencanaan serta implementasi program pendidikan. 

f. Kepekaan 
Kurikulum pendidikan teknologi serta kejuruan mempunyai ciri lain yaitu kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan rakyat dalam umumnya serta dunia kerja pada khususnya, hal ini dimungkinkan lantaran komitmen pendidikan teknologi dan kejuruan yang tinggi buat selalu berorientasi kepada dunia kerja. Perkembangan ilmu serta teknologi, pasang surutnya suatu bidang pekerjaan, penemuan serta penemuan-penemuan terkini dalam bidang produksi dan jasa, semuanya itu sangat akbar pengaruhnya terhadap kecenderungan pendidikan teknologi serta kejuruan. Tidak terkecuali merupakan gerak kerja baik vertikal maupun horisontal sebagai akibat perkembangan sosial kemasyarakatan yang semuanya harus diantisipasi secara cermat guna mengklaim relevansi yg tinggi antara isi pendidikan teknologi dan kejuruan dan kebutuhan dunia kerja. 

g. Logistik/ Sarana Prasarana serta Pembiayaan 
Dalam implementasi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan , ketersediaan sarana prasarana merupakan sesuatu yang sangat krusial. Kelengkapan sarana prasarana akan dapat membantu mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yg bisa mencerminkan situasi global kerja secara lebih realistis dan edukatif. Bengkel serta laboratorium merupakan kelengkapan yg umum menyertai eksistensi / keberadaan pendidikan teknologi dan kejuruan, selain pengalaman lapangan yg biasanya tercantum dalam kerangka kurikulumnya. Dalam konteks ini, tak jarang dipertanyakan apakah investasi yang akbar di pendidikan teknologi dan kejuruan cukup efisien dibandingkan menggunakan hasilnya. 

B. Model Pengembangan Kurikulum 
1. Model Desain Pengembangan Kurikulum di Pendidikan Teknologi Kejuruan 
Gay dalam Finch (1984) mengemukakan ada empat contoh desain pada proses perencanaan kurikulum yaitu academic model, experiential model, pragmatic contoh, dan technical contoh. 
a. Academic Model / Theoretical Model : Model akademik memanfaatkan nalar ilmiah menjadi basis pada penetapan kurikulum. Kurikulum dikembangkan menurut pendekatan struktur yang sinkron dengan disiplin ilmu atau disiplin ilmu buat membangun isi kurikulum. Model ini cocok buat para calon-calon profesional dalam suatu bidang tertentu.
b. Experiential Model : berorientasi dalam ”learned centered and activity-oriented” person and process oriented. Model ini cocok buat pengembangan individu/guru
c. Pragmatic Model : memandang perencanaan kurikulum selalu dikaitkan dengan konteks lokal/ daerah. Kondisi sosial –politik mendominasi aktivitas perencanaan kurikulum, dimana proses perencanaan kurikulum wajib disesuaikan menggunakan kondisi lokal tidak boleh keluar dari ”school setting”. Model ini cocok relevan buat diterapkan pada konteks pelatihan usaha atau industri
d. Technical Model : pada model ini pembelajaran ditinjau sebagai suatu ”sistem”. ”Sistem” bisa dipahami terdiri dari bagian-bagian yg saling berafiliasi. Sebuah sistem akan efektif dan efisien apabila dikontrol dengan manajemen yang bagus. Dalam model ini, komponen-komponen misalnya analisis kebutuhan, perumusan tujuan yang khusus, pemilihan materi, metode, serta penetapan evaluasi merupakan bagian yang tidak mampu dipisahkan satu sama lain. Model ini cocok diterapkan buat proses belajar mengajar dalam pendidikan teknologi serta kejuruan . 

2. Tinjauan Sistem pada Pengembangan Kurikulum 

Gambar  Vocational Program System
Sumber : Finch & Crunkilton (1984 :26)

C. Perencanaan Kurikulum 
Perencanaan kurikulum merupakan langkah pertama pada proses pengembangan kurikulum. Finch & Crunkilton (1984), mendeskripsikan tahapan dalam pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi serta kejuruan menjadi berikut : 

Gambar Curriculum Development in Vocational and Technical Education
Sumber : Finch & Crunkilton (1984 : 21)

1. Pengambilan Keputusan dalam Perencanaan Kurikulum 
Dalam konteks pengambilan keputusan buat perencanaan kurikulum terdapat lima tahapan yg dilakukan :
a. Mendefinisikan kasus dan mengklarifikasikan beberapa cara lain pemecahan kasus; tahap ini merupakan termin yg cukup kritis dalam mendefinisikan suatu masalah. Pada tahap ini jika suatu kasus dapat “didefinisikan dengan baik” maka pemecahan perkara melalui cara lain yg mungkin bisa diidentifikasi serta diklarifikasi. Sebagai model, suatu community college memperlihatkan 4 program yang berbeda buat pendidikan teknologi serta kejuruan. Data mengenai masing-masing keempat program tadi dapat dikumpulkan dan diklarifikasi serta dianalisis secara simultan buat menetapkan mana diantara keempat acara tersebut (bila nir diambil semuanya) wajib diimplementasikan.

b.menetapkan baku dari masing-masing alternatif ; jikalau dalam tahap pertama beberapa cara lain diklarifikasi, maka pada termin kedua atau selanjutnya merupakan menciptakan baku menurut masing-masing alternatif tersebut. Penetapan standar akan membantu para pengambil keputusan buat memilih alternatif yang paling mungkin buat ditawarkan serta sumber daya apa yg perlu disediakan. Standar akan membantu para pengembang kurikulum pada penetapan dan operasinalisasi berdasarkan acara pendidikan teknologi serta kejuruan yg berkualitas.

c. Pengumpulan data yg herbi sekolah dan warga buat didampingkan menggunakan standar yang terdapat; setelah ditetapkan standar pada tahap ke 2, data sekarang dapat diidentifikasi dan dikumpulkan buat masing-masing cara lain . Data akan diharapkan untuk dikumpulkan menurut dua sumber yaitu sekolah serta rakyat.

d. Analisis Data; Pada tahap keempat, perencana kurikulum harus dengan objektif menganalisis semua data berdasarkan standar yang telah ditetapkan tadi. Pada termin ini dilakukan aktivitas merancang ; menyimpulkan, menganalisis , dan mempersiapakn data dalam bentuk form yg dapat digunakan pada saat pengambilan keputusan datang. Situasi ini mungkin terjadi dalam saat termin yang memerlukan data tambahan yang tidak mampu dikumpulkan, sebagai akibatnya ketetapan data harus dibuat buat pengumpulan data sebelum seluruh data bisa dikumpulkan secara penuh. Dan dianalisis secara seksama. 

e. Memutuskan cara lain mana yang dapat mendukung pada data; Tahap kelima merefresentasikan tahap akhir berdasarkan proses pengambilan keputusan. Pada termin ini, beberapa cara lain bisa diabaikan misalnya data yang tidak layak atau menerima data yang layak yang bisa digunakan dalam menyebarkan kurikulum. Dalam beberapa masalah, hanya satu cara lain yg mungkin dipilih berdasarkan beberapa kemungkinan. Atau seluruh cara lain mungkin dipercaya nir sinkron. Akan tetapi pada kasus lain , semua alternatif dipercaya layak. 

2. Pengumpulan Informasi yang Berkaitan Dengan Sekolah
Salah satu faktor yang wajib diperhatikan sang para perencana kurikulum pada pendidikan teknologi serta kejuruan merupakan ”school setting”. Hal ini wajib diperhatikan mengingat tujuan utama berdasarkan proses pembelajaran di pendidikan teknologi serta kejuruan adalah mempersiapkan murid buat sukses sebagai “pegawai” pada dunia kerja. Dalam bab ini difokuskan buat mengumpulkan data yg berkaitan dengan sistem yg mempengaruhi proses pembelajaran pada sekolah. Beberapa faktor yang yang berkaitan tersebut yaitu :
a. Tingkat droupout serta aneka macam alasan yg mendasarinya; para perencana kurikulum perlu memperhatikan tingkat droupout yang secara nir eksklusif menggambarkan kecenderungan minat menurut siswa. 
b. Ketertarikan dalam karir / jabatan pekerjaan; buat menilai kecenderungan pada karir ini sanggup dilakukan menggunakan cara melalukan banyak sekali tes yang akan sanggup menggambarkan minat/ kesamaan siswa terhadap bidang pekerjaan tertentu. Tes yg dapat dilakukan antara lain : standardized achievement test.
c. Ketertarikan serta concern orang tua murid;keterlibatan orang tua murid menjadi hal yg krusial pada memilih acara pembelajaran pada sekolah. Concern orang tua akan sangat menghipnotis terhadap pemilihan program pendidikan bagi anak-anaknya. Para perencana kurikulum perlu selalu memperhatikan ”masukan” dari para orang tua murid.
d. Keberlanjutan lulusan; keterserapan para lulusan di pasar kerja adalah tujuan primer berdasarkan acara pendidikan teknologi serta kejuruan, sang karena itu para perencana kurikulum perlu memperhatikan faktor ini. Seberapa usang masa tunggu kerja lulusan serta seberapa banyak lulusan terserap di dunia kerja
e. Proyeksi pasar kerja masa depan ; para perencana kurikulum perlu memperhatikan kecenderungan pasar kerja pada masa yg akan tiba. Kecenderungan ini akan ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya adalah perkembangan teknologi fakta akan menuntut buat membuka acara studi baru misalnya ICT atau pembelajaran perlu diorientasikan menggunakan memanfaatkan teknologi tadi. 
f. Penilaian terhadap ketersediaan fasilitas; dalam konteks pendidikan teknologi serta kejuruan, fasilitas memegang peranan krusial. Dengan fasilitas yg memadai akan sangat menunjang terhadap proses pembelajaran . Output lulusan yang ditujukan buat bekerja mengindikasikan fasilitas yang idealnya sinkron menggunakan tuntutan pekerjaan yg terdapat. 

3. Pengumpulan Data yg Berkaitan menggunakan Masyarakat 
a. Keadaan rakyat; yg dimaksud perkembangan rakyat pada sini diantaranya keadaan geografis dimana sekolah tadi berada, kecenderungan jumlah penduduk, serta nilai-nilai yang berlaku di rakyat, 
b. Arah dan proyeksi bidang ketenagakerjaan; meliputi bidang-bidang pekerjaan yang muncul sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
c. Keseimbangan “supply-demand” tenaga kerja; para perencana kurikulum perlu memperhatikan faktor ini ,menggunakan asa jumlah lulusan yg dihasilkan disesuaikan menggunakan jumlah pekerjaan yang terdapat sehingga tidak terjadi pengangguran .

D. Penetapan Isi Kurikulum 
1. Faktor yang Mempengaruhi Isi Kurikulum 
Berbagai faktor yg menentukan terhadap isi kurikulum paling nir ada 2 hal yg wajib diperhatikan : 
a. Relevansi isi kurikulum menggunakan konteks pendidikan yg berkaitan dengan masalah-duduk perkara yang menyangkut dukungan warga kependidian, ketersediaan energi guru serta jajaran kependidikan yg lain buat mendukung implementasi kurikulum, kualitas masukan calon murid serta aspirasi pendidikannya, serta jua hal-hal yg menyangkut administrasi akademik aplikasi kurikulum tadi.

b. Relevansi kurikulum dengan konteks lapangan kerja menyangkut dilema-persoalan yg berkaitan dengan daya dukung rakyat global kerja baik dalam hal ketersediaan bantuan fisik maupun non fisik, kemungkinan pengumpulan sumber fakta buat masukan perencanaan dan penyempurnaan kurikulum, serta ketersediaan warga dunia usaha serta global industri buat membantu sebagai anggota dewan penasihat kurikulum (advisory commitee).

Faktor lain yang harus diperhatikan dalam penentuan isi kurikulum merupakan perkara kebutuhan individu siswa yg untuk aneka macam jenjang pendidikan akan sangat berbeda. 

2. Strategi Penetapan Isi Kurikulum 
Dalam Finch & Crunkilton (1984: 140) Beberapa taktik / pendekatan yang bisa dipakai pada mengidentifikasi isi kurikulum, adalah :
a. Pendekatan DACUM; Pendekatan ini pada awalnya dikembangkan sang para pakar kurikulum di Canada . DACUM (Developing A Curriculum) pada awalnya merupakan proyek beserta antara Departemen Tenaga Kerja dan Imigrasi dengan General Learning Corporation di Canada, tetapi lalu diseminasinya dilaksanakan di banyak lembaga pendidikan kejuruan.pada sistem ini, isi kurikulum digagas sang para pengusaha atau pekerja menurut industri serta dunia bisnis tanpa melibatkan personil sekolah sama sekali. Ini didasarkan pada asumsi bahwa pada penentuan isi kurikulum pendidikan teknologi dibutuhkan memiliki relevansi yang tinggi menggunakan kebutuhan lapangan kerja. Biasanya pengajar dan pelatih yang sehari-hari terlibat pada mengajar saja kurang bisa memberikan donasi yang positif. Keunikan menurut proses identifikasi isi kurikulum menggunakan pendekatan DACUM ini merupakan urutan dan intensitas partisipasi peserta yg wajib ditargetkan sedemikian rupa, sehingga yang dihasilkan selama proses tersebut, bukan terbatas hanya dalam inventarisasi skill saja atau pengetahuan spesifik yang akan menjadi kerangka isi kurikulum, tetapi jua sampai dalam tingkat kemahiran atau kompetensi sinkron dengan apa yg dibutuhkan dalam situasi kerja yang konkret. Ini adalah kelebihan berdasarkan cara pendekatan yg seluruhnya melibatkan pihak pengusaha menurut industri serta global kerja.

b. Pendekatan Fungsional; Pendekatan ini didasari oleh asumsi bahwa siswa yg belajar melalui pendidikan teknologi dan kejuruan wajib memeriksa fungsi-fungsi apa yang harus ada untuk mengklaim kelangsungan kerja suatu industri atau dunia bisnis tertentu, serta lalu dijabarkan menjadi penampilan-penampilan (performance) yang terkait menggunakan fungsi atau tugas eksklusif.buat dijadikan masukan bagi perencana kurikulum. Prosedur menurut penentuan isi kurikulum ini merupakan dimulai dengan identifikasi jenis-jenis pekerjaan yang kemudian bisa dirinci lagi menjadi daftar kegiatan-kegiatan dalam setiap fungsi, buat lalu dikaitkan menggunakan kompetensi atau keterampilan yang wajib dimiliki sang orang yang akan mengerjakan kegiatan-aktivitas tadi. Kompetensi ini dirumuskan baik pada bentuk pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan dengan taraf yang bervariasi.

c. Pendekatan Analisis Tugas; pada pendekatan ini, isi kurikulum diambil berdasarkan aspek-aspek perilaku serta persyaratan kerja tertentu yg dijabarkan pribadi dari deskripsi pekerjaan atau pelukisan tugas yang sudah ”mapan”. Sebagai model konsorsium pendidikan kejuruan pada Amerika Serikat yg beranggotakan beberapa negara bagian sudah poly menyebarkan kurikulum program studi kejuruan yang berdasarkan atas analisis tugas. Dalam melakukan analisis tugas, perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut (1) melakukan kajian literatur serta berita yang relevan, (dua) Mengembangkan inventori pekerjaan atau jabatan; (tiga) Memilih sampel atau model pekerja sebagai sumber data; (4) melaksanakan survei atau penelitian di lapangan; (lima) menganalisis hasil informasi lapangan buat dijabarkan menjadi kurikulum serta kegiatan belajar pada sekolah . Dari langkah kelima ini, output informasi lapangan analisis tugas, kemudian diorganisir dan diolah sebagai akibatnya menjadi bahan acuan pada penentuan isi kurikulum. Hal ini dilakukan menggunakan cara analisis zona (zone analysis) serta analisis isi (content analysis). Yang pertama melukiskan gambaran menyeluruh isi kurikulum berdasarkan grup mata pelajaran yg dibagi menjadi kelompok spesialisasi, gerombolan penunjang, serta gerombolan dasar, masing-masing menggunakan proporsi yang harus dipikirkan dengan matang. Yang kedua menyangkut penjabaran rincian output analisis tugas menjadi materi belajar atau unit belajar yang nanti dilanjutkan dengan desain kegiatan instruksional serta pengadaan materi instruksionalnya, baik yg berupa lembar keterangan, lbr kerja, lembar tugas, dan lembar pengamatan. 

d. Pendekatan Filosofis; dalam sejarah penentuan isi kurikulum, pemikiran para pakar filsafat sebagai faktor dominan dalam penentuan isi kurikulum. Secara simpel dapat dikatakan bahwa filosofi adalah seperangkat keyakinan yg dimiliki oleh seorang atau gerombolan yg lalu mendasari segenap sikap serta perbuatannya. Dalam literatur poly sekali dijumpai pernyataan-pernyataan filosofi yang berkenaan dengan pendidikan teknologi serta kejuruan dan menurut pernyataan-pernyataan tersebut lalu dapat dijadikan petunjuk menentukan isi kurikulum. Sebagai contoh sederhana, apabila diyakini bahwa pendidikan kejuruan wajib menekankan penyesuaian murid dengan jenis pekerjaan yg terdapat pada lapangan kerja, maka isi kurikulumnya sanggup diramalkan akan sangat didominasi sang penumbuhan kemampuan-kemampuan transisional misalnya bagaimana mengikuti keadaan dengan lingkungan, bagaimana mengatasi problem mobilitas pekerjaan, serta kemampuan berhubungan dengan sesama orang (human relations skill). 

e. Pendekatan Introspektif; Pendekatan introspektif mendasarkan isi kurikulum pada hasil pemikiran perorangan atau grup, namun difokuskan pada pemikiran serta perasaan menurut mereka yang terlibat langsung pada penyelenggaraan pendidikan teknologi serta kejuruan, misalnya contohnya para guru serta administrator yg sehari-harinya bekerja di lingkungan sekolah kejuruan. Biasanya pemikiran ini dimulai menggunakan memeriksa apa yg selama ini sudah berjalan, mungkin dilengkapi menggunakan data komparatif dengan program yang serupa pada tempat lain dalam suatu negara juga dibandingkan dengan orang lain meskipun lewat literatur.

PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan 
Pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yg dibahas pada artikel ini melalui tiga tahapan primer yaitu proses perencanaan kurikulum , penetapan isi kurikulum, dan implementasi kurikulum. Sebelum membahas masing-masing tahapan tersebut, artikel ini terlebih dahulu membahas mengenai perspektif historis pendidikan teknologi kejuruan. Perkembangan pendidikan pada masa ini, dan yang terpenting adalah ciri pendidikan teknologi serta kejuruan yang mendasari ketiga tahapan pengembangan kurikulum pada pendidikan teknologi kejuruan.

A.perspektif Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi serta Kejuruan 
1. Perspektif Sejarah
Banyak faktor yg menyebabkan terjadinya disparitas pada menyebarkan kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan keliru satunya adalah pengaruh ”sejarah”. Sejarah mempunyai pesan penting buat memberikan keterangan peristiwa dulu serta menyediakan perspektif yg bermakna bagi para pengembang kurikulum. Dilihat menurut perspektif sejarah, bisnis perencanaan serta pengembangan kurikulum sudah dimulai dalam masa Mesir antik lebih kurang 2000 tahun SM. Program-acara magang yg terorganisir (apprenticeship) menggunakan cara menyelidiki suatu keterampilan tertentu dari seorang yg telah dipandang ahli yang berpengalaman sebagai karakteristik spesial pendidikan pada saat itu. Di lain pihak, pendidikan dalam waktu itu, meliputi belajar kemampuan dasar menulis dan membaca karya sastra . Ini tercatat dalam sejarah menjadi bisnis awal penggabungan antara belajar pada kelas buat kemampuan-kemampuan dasar serta belajar eksklusif di loka kerja buat hal-hal yang bersifat keterampilan terapan menggunakan fokus pada metode menirukan cara bekerja para ahli yang telah mapan pada pekerjaannya. Cara ini sempat menyebar ke berbagai bagian dunia lain hingga kurang lebih abad ke-19.

Sebenarnya terdapat pula usaha-usaha lain yg mencoba memberi alternatif selain acara magang, baik yg berupa pemikiran maupun tindakan konkret berupa pendirian forum-lembaga pendidikan yg sudah bersifat relatif formal. Pemikiran-pemikiran kependidikan yg dipelopori oleh para pakar filsafat seperti John Locke, Comenius, Pestalozzi, dan Rousseau memberi ilham bertenaga terhadap bentuk-bentuk persekolahan antik yg mulai meninggalkan praktek magang dan beralih ke bentuk yang lebih formal dengan memasukkan aspek pendidikan mental misalnya filsafat dan nalar serta pendidikan kesenian.ketika revolusi industri pecah pada awal abad ke-19 , terjadi permintaan energi terlatih yang murah dalam jumlah yang sangat besar sehingga tidak mungkin lagi terpenuhi berdasarkan sistem pendidikan magang yg umumnya memerlukan saat yg usang serta biaya relatif mahal. 

Sejak saat itulah, kemudian muncul poly pemikiran-pemikiran buat mengusahakan perencanaan serta pengembangan kurikulum sekolah secara sistematis, termasuk galat satunya merupakan pemikiran Victor Della Vos yg mengawali adanya pemikiran yg sistematis dalam pengembangan kurikulum pada pendidikan teknologi dan kejuruan. Della yang merupakan direktur berdasarkan ”the imperial Technical School of Moscow”, pada tahun 1876 pada Philadelphia Centennia Exposition” mengemukakan pendekatan baru pada pembelajaran teknik, sehingga dalam saat itu Della menjadi katalis buat pendidikan teknik di Amerika Serikat (lannie 1971). Pada ketika itu Della terkenal menggunakan 4 asumsi yang berkaitan menggunakan pedagogi pada bidang mekanik, yaitu : (a) pendidikan ditempuh pada ketika yang sesingkat mungkin (in short education); (b) selalu diupayakan suatu cara buat memberikan pengajaran yang relatif buat jumlah siswa yg poly pada satu waktu; (c) menggunakan metode yang akan memberikan pelajaran praktek di bengkel dengan pemenuhan pengetahuan yang mencukupi, serta (d) sebagai akibatnya memungkinkan guru dapat memutuskan perkembangan murid setiap waktu. 

2. Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Vs Pendidikan Umum 
Sepanjang hidupnya seseorang insan mempunyai kesempatan berpartisipasi baik pada pendidikan formal maupun informal, dan sejauhmana partisipasi ini dilakukan akan sebagai keliru satu faktor bagi penentu bagi kemampuannya mengarungi kehidupannya. Finch & Crunkilton (1984 : 8) menggambarkan jalinan partisipasi ini dikaitkan menggunakan dua tujuan krusial diselenggarakannya pendidikan secara luas, yaitu : (1) pendidikan untuk hayati dan (dua) pendidikan buat mencari penghidupan

Gambar  Education in Our Society
Sumber : Finch & Crunkilton (1984 : 8)

3. Konsep Dasar Kurikulum 
Finch & Crunkilton (1984 : 9), mengemukakan definisi kurikulum menjadi .... As the sum of the learning activities and experiences that a student has under the auspices or direction of the school” Dari definisi tersebut dapat paling nir ada 2 point yg harus diperhatikan, yaitu bahwa fokus utama kurikulum adalah siswa dan yg kedua bahwa bagian berdasarkan kurikulum tidak hanya mata pelajaran akan tetapi seluruh kegiatan (olah raga, klub, kegiatan kokurikuler) mempunyai imbas yg signifikan buat pembentukan individu murid yg total dan buat mencapai efektivitas dari kurikulum .

4. Hubungan antara Kurikulum serta Pembelajaran 
Penjelasan hubungan antara kurikulum dan pembelajaran akan menaruh membawa konsekuensi pribadi pada disparitas pengertian antara perencanaan kurikulum serta perencanaan pembelajaran. Finch & Crunkilton (1984 : 11) menggambarkan hubungan keduanya menjadi berikut : 

Gambar Possible Shared and Unique Aspects of Instructional Development and Curriculum Development

Dari gambar di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut : Jikalau ada seorang guru merumuskan tujuan buat mata pelajaran yg diampunya, maka kegiatan tadi diklasifikasikan menjadi pengembangan pembelajaran . Di lain pihak jika ada sekelompok guru yg merumuskan tujuan buat dipakai pada mata pelajaran beliau sendiri atau bahkan buat mata pelajaran -mata pelajaran yang lainnya, maka kegiatan tesebut dinamakan kegiatan pengembangan kurikulum. 

5. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan 
Pendidikan Teknologi serta Kejuruan adalah sistem yg tidak terpisahkan menurut sistem pendidikan secara menyeluruh. Meskipun demikian, kurikulum pendidikan teknologi serta kejuruan memiliki karakteristik serta kekhususan tersendiri yg membedakannya menggunakan sub sistem pendidikan yg lain. Perbedaan ini tidak hanya pada definisi, struktur organisasi, dan tujuan pendidikannya saja, tetapi terlihat dari aspek lainnya yg berkaitan menggunakan aspek perencanaan kurikulum . Karakteristik – karakteristik dasar menurut kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yaitu : 

a. Orientasi 
Keberhasilan utama dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, bukan saja diukur berdasarkan pencapaian output belajar berupa kelulusan, tetapi dalam kemampuan para lulusan kelak di global kerja. Asumsi tadi dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat pendidikan kejuruan yg merupakan pendidikan buat penyiapan energi kerja, maka dengan sendirinya orientasi pendidikan kejuruan tertuju pada output atau lulusan. 

b. Justifikasi
Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan berdasarkan dalam identifikasi kebutuhan berbagai jenis pekerjaan yg ada di lapangan. Inilah yg sebagai alasan mengapa pendidikan teknologi dan kejuruan perlu ”diselenggarakan”. Justifikasi / alasan eksistensi pendidikan teknologi serta kejuruan didasari oleh asumsi adanya kebutuhan energi kerja di lapangan. Oleh karena itu, yg dimaksud justifikasi di sini merupakan justifikasi buat eksistensi. Pendidikan teknologi kejuruan ”tidak layak terdapat” apabila di lapangan nir dibutuhkan tenaga kerja yg akan dididik pada sekolah tersebut. 

c. Fokus 
Fokus kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan nir hanya pada aspek skill / psikomotorik misalnya yang dipahami sebagian rakyat, akan tetapi kurikulum membantu siswa buat mengembangkan diri dalam seluruh aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang tujuan akhirnya buat memberikan donasi buat keberhasilan sebagai ”pekerja” atau menggunakan istilah lain siswa dididik buat memiliki kemampuan yg komprehensif serta simultan sehingga bisa sebagai pekerja yg ”produktif”. Mengembangkan keliru aspek saja bertentangan dengan hakikat murid menjadi suatu totalitas langsung.

d. Kriteria Keberhasilan di Sekolah dan Luar Sekolah (Dual Criteria)
Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria buat memilih keberhasilan suatu forum pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda, yaitu keberhasilan siswa di sekolah (in-school success) serta keberhasilan di luar sekolah (out-of-school success). Kriteria yang pertama mencakup aspek keberhasilan anak didik dalam menempuh proses pembelajaran di kelas, sedang kriteria keberhasilan yang ke 2 diindikasikan sang keberhasilan performance lulusan sehabis berada di global kerja. 

e. Hubungan antara Sekolah –Masyarakat serta Keterlibatan Pemerintah
Hubungan antara sekolah serta rakyat lebih khususnya dengan global industri merupakan karakteristik yg sangat penting pada konteks pendidikan teknologi serta kejuruan. Peran warga serta pemerintah pada hal ini sama pentingnya. Masyarakat serta pemerintah memiliki tanggung jawab buat berbagi pendidikan teknologi serta kejuruan. Perwujudan hubungan timbal pulang yang menunjang ini meliputi adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory committee), kesediaan dunia bisnis menampung siswa pendidikan teknologi dan kejuruan dalam acara kerjasama yg memungkinkan kesempatan pengalaman lapangan, informasi kecenderungan ketenagakerjaan yang selalu dijabarkan ke pada perencanaan serta implementasi program pendidikan. 

f. Kepekaan 
Kurikulum pendidikan teknologi serta kejuruan mempunyai ciri lain yaitu kepekaan atau daya suai yg tinggi terhadap perkembangan masyarakat dalam umumnya serta dunia kerja dalam khususnya, hal ini dimungkinkan karena komitmen pendidikan teknologi dan kejuruan yang tinggi buat selalu berorientasi pada dunia kerja. Perkembangan ilmu serta teknologi, pasang surutnya suatu bidang pekerjaan, penemuan serta penemuan-penemuan terbaru dalam bidang produksi serta jasa, semuanya itu sangat akbar pengaruhnya terhadap kesamaan pendidikan teknologi serta kejuruan. Tidak terkecuali merupakan mobilitas kerja baik vertikal juga horisontal sebagai akibat perkembangan sosial kemasyarakatan yang semuanya wajib diantisipasi secara cermat guna menjamin relevansi yang tinggi antara isi pendidikan teknologi dan kejuruan dan kebutuhan dunia kerja. 

g. Logistik/ Sarana Prasarana dan Pembiayaan 
Dalam implementasi kurikulum di pendidikan teknologi serta kejuruan , ketersediaan wahana prasarana adalah sesuatu yg sangat penting. Kelengkapan sarana prasarana akan dapat membantu mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yg bisa mencerminkan situasi dunia kerja secara lebih realistis dan edukatif. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan yang generik menyertai eksistensi / keberadaan pendidikan teknologi dan kejuruan, selain pengalaman lapangan yang umumnya tercantum dalam kerangka kurikulumnya. Dalam konteks ini, seringkali dipertanyakan apakah investasi yang besar di pendidikan teknologi serta kejuruan relatif efisien dibandingkan dengan hasilnya. 

B. Model Pengembangan Kurikulum 
1. Model Desain Pengembangan Kurikulum di Pendidikan Teknologi Kejuruan 
Gay pada Finch (1984) mengemukakan terdapat empat contoh desain dalam proses perencanaan kurikulum yaitu academic model, experiential contoh, pragmatic model, dan technical contoh. 
a. Academic Model / Theoretical Model : Model akademik memanfaatkan nalar ilmiah sebagai basis dalam penetapan kurikulum. Kurikulum dikembangkan berdasarkan pendekatan struktur yg sinkron menggunakan disiplin ilmu atau disiplin ilmu buat menciptakan isi kurikulum. Model ini cocok buat para calon-calon profesional pada suatu bidang eksklusif.
b. Experiential Model : berorientasi dalam ”learned centered and activity-oriented” person and process oriented. Model ini cocok buat pengembangan individu/guru
c. Pragmatic Model : memandang perencanaan kurikulum selalu dikaitkan dengan konteks lokal/ daerah. Kondisi sosial –politik mendominasi kegiatan perencanaan kurikulum, dimana proses perencanaan kurikulum wajib diadaptasi menggunakan syarat lokal nir boleh keluar berdasarkan ”school setting”. Model ini cocok relevan untuk diterapkan pada konteks pelatihan bisnis atau industri
d. Technical Model : pada model ini pembelajaran dipandang menjadi suatu ”sistem”. ”Sistem” bisa dipahami terdiri dari bagian-bagian yang saling bekerjasama. Sebuah sistem akan efektif dan efisien jika dikontrol menggunakan manajemen yg bagus. Dalam contoh ini, komponen-komponen seperti analisis kebutuhan, perumusan tujuan yg khusus, pemilihan materi, metode, serta penetapan evaluasi merupakan bagian yg nir sanggup dipisahkan satu sama lain. Model ini cocok diterapkan buat proses belajar mengajar pada pendidikan teknologi serta kejuruan . 

2. Tinjauan Sistem pada Pengembangan Kurikulum 

Gambar  Vocational Program System
Sumber : Finch & Crunkilton (1984 :26)

C. Perencanaan Kurikulum 
Perencanaan kurikulum adalah langkah pertama pada proses pengembangan kurikulum. Finch & Crunkilton (1984), menggambarkan tahapan dalam pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan menjadi berikut : 

Gambar Curriculum Development in Vocational and Technical Education
Sumber : Finch & Crunkilton (1984 : 21)

1. Pengambilan Keputusan dalam Perencanaan Kurikulum 
Dalam konteks pengambilan keputusan buat perencanaan kurikulum ada lima tahapan yg dilakukan :
a. Mendefinisikan perkara serta mengklarifikasikan beberapa alternatif pemecahan perkara; termin ini merupakan termin yang relatif kritis pada mendefinisikan suatu kasus. Pada tahap ini jika suatu kasus bisa “didefinisikan dengan baik” maka pemecahan masalah melalui alternatif yang mungkin bisa diidentifikasi dan diklarifikasi. Sebagai contoh, suatu community college menawarkan 4 program yg tidak sinkron buat pendidikan teknologi serta kejuruan. Data mengenai masing-masing keempat acara tersebut dapat dikumpulkan dan diklarifikasi dan dianalisis secara simultan buat memutuskan mana diantara keempat acara tadi (bila nir diambil semuanya) wajib diimplementasikan.

b.menetapkan standar menurut masing-masing alternatif ; bila dalam tahap pertama beberapa alternatif diklarifikasi, maka dalam tahap kedua atau selanjutnya merupakan membuat standar berdasarkan masing-masing cara lain tersebut. Penetapan standar akan membantu para pengambil keputusan buat menentukan cara lain yang paling mungkin buat ditawarkan dan sumber daya apa yang perlu disediakan. Standar akan membantu para pengembang kurikulum pada penetapan serta operasinalisasi berdasarkan program pendidikan teknologi serta kejuruan yg berkualitas.

c. Pengumpulan data yang herbi sekolah serta warga buat didampingkan dengan baku yg ada; sesudah ditetapkan standar pada termin ke 2, data sekarang bisa diidentifikasi dan dikumpulkan buat masing-masing cara lain . Data akan dibutuhkan buat dikumpulkan berdasarkan dua asal yaitu sekolah dan masyarakat.

d. Analisis Data; Pada termin keempat, perencana kurikulum wajib menggunakan objektif menganalisis semua data menurut baku yg telah ditetapkan tadi. Pada tahap ini dilakukan kegiatan merancang ; menyimpulkan, menganalisis , dan mempersiapakn data pada bentuk form yang dapat digunakan pada saat pengambilan keputusan datang. Situasi ini mungkin terjadi dalam ketika termin yg memerlukan data tambahan yg nir bisa dikumpulkan, sebagai akibatnya ketetapan data harus dibentuk buat pengumpulan data sebelum semua data dapat dikumpulkan secara penuh. Dan dianalisis secara seksama. 

e. Memutuskan cara lain mana yang dapat mendukung dalam data; Tahap kelima merefresentasikan termin akhir dari proses pengambilan keputusan. Pada tahap ini, beberapa cara lain bisa diabaikan misalnya data yg nir layak atau menerima data yg layak yg bisa dipakai dalam mengembangkan kurikulum. Dalam beberapa masalah, hanya satu alternatif yang mungkin dipilih berdasarkan beberapa kemungkinan. Atau semua cara lain mungkin dipercaya nir sinkron. Akan namun dalam perkara lain , seluruh cara lain dipercaya layak. 

2. Pengumpulan Informasi yg Berkaitan Dengan Sekolah
Salah satu faktor yang harus diperhatikan sang para perencana kurikulum di pendidikan teknologi serta kejuruan merupakan ”school setting”. Hal ini wajib diperhatikan mengingat tujuan utama dari proses pembelajaran pada pendidikan teknologi dan kejuruan merupakan mempersiapkan siswa buat sukses sebagai “pegawai” pada dunia kerja. Dalam bab ini difokuskan buat mengumpulkan data yang berkaitan dengan sistem yang menghipnotis proses pembelajaran di sekolah. Beberapa faktor yg yg berkaitan tadi yaitu :
a. Tingkat droupout dan aneka macam alasan yg mendasarinya; para perencana kurikulum perlu memperhatikan tingkat droupout yg secara nir langsung menggambarkan kesamaan minat menurut siswa. 
b. Ketertarikan pada karir / jabatan pekerjaan; buat menilai kesamaan pada karir ini mampu dilakukan dengan cara melalukan banyak sekali tes yang akan mampu menggambarkan minat/ kecenderungan peserta didik terhadap bidang pekerjaan tertentu. Tes yang bisa dilakukan diantaranya : standardized achievement test.
c. Ketertarikan serta concern orang tua murid;keterlibatan orang tua murid menjadi hal yg krusial pada menentukan acara pembelajaran di sekolah. Concern orang tua akan sangat mempengaruhi terhadap pemilihan program pendidikan bagi anak-anaknya. Para perencana kurikulum perlu selalu memperhatikan ”masukan” menurut para orang tua anak didik.
d. Keberlanjutan lulusan; keterserapan para lulusan pada pasar kerja merupakan tujuan utama berdasarkan acara pendidikan teknologi dan kejuruan, oleh karena itu para perencana kurikulum perlu memperhatikan faktor ini. Seberapa lama masa tunggu kerja lulusan dan seberapa banyak lulusan terserap di dunia kerja
e. Proyeksi pasar kerja masa depan ; para perencana kurikulum perlu memperhatikan kesamaan pasar kerja pada masa yg akan tiba. Kecenderungan ini akan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Contohnya adalah perkembangan teknologi fakta akan menuntut buat membuka program studi baru contohnya ICT atau pembelajaran perlu diorientasikan menggunakan memanfaatkan teknologi tersebut. 
f. Penilaian terhadap ketersediaan fasilitas; dalam konteks pendidikan teknologi serta kejuruan, fasilitas memegang peranan krusial. Dengan fasilitas yg memadai akan sangat menunjang terhadap proses pembelajaran . Output lulusan yang ditujukan buat bekerja menandakan fasilitas yg idealnya sinkron menggunakan tuntutan pekerjaan yang terdapat. 

3. Pengumpulan Data yang Berkaitan dengan Masyarakat 
a. Keadaan rakyat; yg dimaksud perkembangan masyarakat di sini diantaranya keadaan geografis dimana sekolah tersebut berada, kesamaan jumlah penduduk, dan nilai-nilai yg berlaku pada warga , 
b. Arah dan proyeksi bidang ketenagakerjaan; meliputi bidang-bidang pekerjaan yg muncul sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
c. Keseimbangan “supply-demand” tenaga kerja; para perencana kurikulum perlu memperhatikan faktor ini ,dengan asa jumlah lulusan yang dihasilkan disesuaikan dengan jumlah pekerjaan yang terdapat sehingga nir terjadi pengangguran .

D. Penetapan Isi Kurikulum 
1. Faktor yang Mempengaruhi Isi Kurikulum 
Berbagai faktor yg memilih terhadap isi kurikulum paling nir ada dua hal yg harus diperhatikan : 
a. Relevansi isi kurikulum menggunakan konteks pendidikan yg berkaitan menggunakan problem-persoalan yang menyangkut dukungan rakyat kependidian, ketersediaan energi guru dan jajaran kependidikan yg lain untuk mendukung implementasi kurikulum, kualitas masukan calon siswa dan aspirasi pendidikannya, serta jua hal-hal yang menyangkut administrasi akademik aplikasi kurikulum tersebut.

b. Relevansi kurikulum dengan konteks lapangan kerja menyangkut dilema-dilema yang berkaitan menggunakan daya dukung rakyat dunia kerja baik pada hal ketersediaan bantuan fisik juga non fisik, kemungkinan pengumpulan asal fakta buat masukan perencanaan serta penyempurnaan kurikulum, serta ketersediaan rakyat global usaha dan dunia industri buat membantu menjadi anggota dewan penasihat kurikulum (advisory commitee).

Faktor lain yang wajib diperhatikan dalam penentuan isi kurikulum adalah kasus kebutuhan individu siswa yg buat berbagai jenjang pendidikan akan sangat tidak selaras. 

2. Strategi Penetapan Isi Kurikulum 
Dalam Finch & Crunkilton (1984: 140) Beberapa strategi / pendekatan yang bisa digunakan pada mengidentifikasi isi kurikulum, adalah :
a. Pendekatan DACUM; Pendekatan ini pada awalnya dikembangkan oleh para pakar kurikulum pada Canada . DACUM (Developing A Curriculum) pada awalnya adalah proyek bersama antara Departemen Tenaga Kerja dan Imigrasi menggunakan General Learning Corporation pada Canada, tetapi lalu diseminasinya dilaksanakan di poly lembaga pendidikan kejuruan.pada sistem ini, isi kurikulum digagas oleh para pengusaha atau pekerja menurut industri serta dunia bisnis tanpa melibatkan personil sekolah sama sekali. Ini didasarkan pada perkiraan bahwa pada penentuan isi kurikulum pendidikan teknologi diharapkan mempunyai relevansi yg tinggi menggunakan kebutuhan lapangan kerja. Biasanya pengajar dan instruktur yang sehari-hari terlibat dalam mengajar saja kurang dapat menaruh kontribusi yg positif. Keunikan menurut proses identifikasi isi kurikulum menggunakan pendekatan DACUM ini adalah urutan dan intensitas partisipasi peserta yang harus ditargetkan sedemikian rupa, sehingga yg dihasilkan selama proses tadi, bukan terbatas hanya dalam inventarisasi skill saja atau pengetahuan khusus yg akan menjadi kerangka isi kurikulum, tetapi jua hingga dalam taraf kemahiran atau kompetensi sesuai dengan apa yg diharapkan pada situasi kerja yang konkret. Ini adalah kelebihan berdasarkan cara pendekatan yang seluruhnya melibatkan pihak pengusaha dari industri serta dunia kerja.

b. Pendekatan Fungsional; Pendekatan ini didasari oleh perkiraan bahwa anak didik yang belajar melalui pendidikan teknologi serta kejuruan harus mengusut fungsi-fungsi apa yang harus ada buat mengklaim kelangsungan kerja suatu industri atau global usaha tertentu, serta kemudian dijabarkan menjadi penampilan-penampilan (performance) yang terkait menggunakan fungsi atau tugas eksklusif.buat dijadikan masukan bagi perencana kurikulum. Prosedur dari penentuan isi kurikulum ini adalah dimulai dengan identifikasi jenis-jenis pekerjaan yang kemudian bisa dirinci lagi sebagai daftar kegiatan-kegiatan pada setiap fungsi, buat kemudian dikaitkan dengan kompetensi atau keterampilan yg harus dimiliki sang orang yang akan mengerjakan kegiatan-aktivitas tadi. Kompetensi ini dirumuskan baik pada bentuk pengetahuan, pemahaman, serta kemampuan menggunakan tingkat yang bervariasi.

c. Pendekatan Analisis Tugas; pada pendekatan ini, isi kurikulum diambil berdasarkan aspek-aspek perilaku dan persyaratan kerja tertentu yg dijabarkan eksklusif berdasarkan pelukisan pekerjaan atau pelukisan tugas yg sudah ”mapan”. Sebagai model konsorsium pendidikan kejuruan pada Amerika Serikat yang beranggotakan beberapa negara bagian sudah poly menyebarkan kurikulum acara studi kejuruan yang berdasarkan atas analisis tugas. Dalam melakukan analisis tugas, perlu diperhatikan langkah-langkah menjadi berikut (1) melakukan kajian literatur serta liputan yang relevan, (dua) Mengembangkan inventori pekerjaan atau jabatan; (tiga) Memilih sampel atau contoh pekerja menjadi sumber data; (4) melaksanakan survei atau penelitian di lapangan; (lima) menganalisis output kuesioner untuk dijabarkan sebagai kurikulum dan kegiatan belajar di sekolah . Dari langkah kelima ini, hasil kuesioner analisis tugas, lalu diorganisir serta diolah sehingga sebagai bahan acuan pada penentuan isi kurikulum. Hal ini dilakukan dengan cara analisis zona (zone analysis) dan analisis isi (content analysis). Yang pertama melukiskan citra menyeluruh isi kurikulum berdasarkan kelompok mata pelajaran yg dibagi sebagai gerombolan spesialisasi, kelompok penunjang, dan gerombolan dasar, masing-masing menggunakan proporsi yang wajib dipikirkan menggunakan matang. Yang ke 2 menyangkut pembagian terstruktur mengenai rincian output analisis tugas sebagai materi belajar atau unit belajar yang nanti dilanjutkan menggunakan desain aktivitas instruksional serta pengadaan materi instruksionalnya, baik yg berupa lbr liputan, lbr kerja, lembar tugas, dan lbr pengamatan. 

d. Pendekatan Filosofis; dalam sejarah penentuan isi kurikulum, pemikiran para pakar filsafat sebagai faktor secara umum dikuasai pada penentuan isi kurikulum. Secara mudah bisa dikatakan bahwa filosofi adalah seperangkat keyakinan yg dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang lalu mendasari segenap sikap serta perbuatannya. Dalam literatur poly sekali dijumpai pernyataan-pernyataan filosofi yg berkenaan dengan pendidikan teknologi serta kejuruan serta berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut kemudian dapat dijadikan petunjuk menentukan isi kurikulum. Sebagai contoh sederhana, apabila diyakini bahwa pendidikan kejuruan wajib menekankan penyesuaian siswa menggunakan jenis pekerjaan yg terdapat pada lapangan kerja, maka isi kurikulumnya bisa diramalkan akan sangat didominasi oleh penumbuhan kemampuan-kemampuan transisional seperti bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, bagaimana mengatasi masalah gerak pekerjaan, dan kemampuan herbi sesama orang (human relations skill). 

e. Pendekatan Introspektif; Pendekatan introspektif mendasarkan isi kurikulum pada output pemikiran perorangan atau kelompok, tetapi difokuskan pada pemikiran serta perasaan berdasarkan mereka yang terlibat langsung pada penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan, seperti contohnya para guru dan administrator yg sehari-harinya bekerja pada lingkungan sekolah kejuruan. Biasanya pemikiran ini dimulai menggunakan mempelajari apa yang selama ini sudah berjalan, mungkin dilengkapi menggunakan data komparatif dengan program yg serupa di loka lain dalam suatu negara juga dibandingkan menggunakan orang lain meskipun lewat literatur.