MEMBUAT MIKROORGANISME LOKAL


1.     Rebung Bambu
Bahan :
  • 2 buah rebung bambu lebih kurang tiga Kg,
  • Air beras lima liter,
  • 1 butir maja (Labu kaye/Aceh) yang sudah matang, apabila nir terdapat buah maja sanggup diganti menggunakan  gula merah  1,lima ons.
Cara menciptakan :
  • Rebung bambu pada tumbuk halus atau diiris-iris masukan pada ember/tong plastik,
  • Campukan menggunakan buah maja yang sudah dihaluskan,
  • Tambahkan gula merah yang telah dihaluskan serta aduk hingga rata,
  • Rendam dengan air cucian beras sebanyak lima liter.
  • Tutup rapat ember/tong dengan plastik, dan berikan slang plastik yg disambungkan dengan air yang berada dalam botol. Biarkan selama 15  hari.
Cara Penggunaan :
  1. Pengomposan : bisa dipakai menjadi dekompouser dengan konsentrasi :
     1 : lima (1 liter cairan MOL ditambah menggunakan 5 Liter air tawar), masukkan gula        merah   1 ons serta adukhingga rata, disiramkan dalam sasat proses pembuatan kompos.
  1. Penggunaan pada tumbuhan : peyemprotan dilakukan pada pagi/sore hari dengan   konsentrasi 400 cc cairan dicampur dengan 14 liter air tawar dalam umur 10 hari, 20 hari 30 dan 40 hari selesainya tanam.
Catatan : Sebagai zat perangsangpertumbuhan dalam fase vegetatif.
2.     Keong Mas ( Siput Murbey)
Bahan :
  • 5 Kg keong mas yang masih hidup/segar,
  • 2 Buah buah maja matang ( apabila tidak ada dapat diganti dengan cairan tebu 1 liter, atau gula merah 1kg)
  • Air kelapa 10 liter.

Cara menciptakan :
  • Keong mas ditumbuk sampai halus masukan dalam tong plasti,
  • Campurkan menggunakan buah maja yang sudah dihaluskan atau gula yg lebih dulu dihaluskan/cairan tebu,
  • Tambahkan  10 liter air kelapa dan kocok hingga homogen.
  • Tutup kedap dengan plastik dan berikan slang palstik sambungkan dalam botol yang sudah berisi air.
Cara Penggunaan :
a.  Pengomposan : Dengankonsentrasi 1 : 5 ( 1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 liter air tawar),tambahkan i ons gula merah, aduk rata serta siramkan dalam bahan organik yg maudikomposkan.
b.  Penggunaan pada tumbuhan :bisa disemprotkan pada berbagai tumbuhan dengan konsentrasi 400 cc dicampurdengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi semenjak fase vegetatif hinggageneratif ( umur 10, 20, 30, 40 atau umur sehabis fase masak susu) MOL keongmas ini dapat dicampur dengan MOL lainnya. Disemprotkan dalam pagi/sore hari,hindari penyemprotan dalam siang hari (Terik Matahari).
3.     Buah Maja ( Labu Kaye/Aceh)
Bahan :
  • 5 butir Labu Kaye/Maja yang matang,
  • 30 liter air beras,
  • 20 liter air kencing sapi/ Kebau/Kambing atau Kelinci.
Cara Pembuatan :
  • Buah Maja dihaluskan serta masukan pada drum/tong plastik,
  • Campukan menggunakan 30 liter air beras serta 20 liter air kencing, diaduk sampai homogen dan
  • Tutup rapat menggunakan plastik,
  • Masukan slang palstik (diameter 0,lima cm) sambungkan kedalam botol plastik yg sudah berisi air tawar,
  • Simpan selama 15 hari.
Penggunaan :
a.   Pengomposan : 1literMOL Maja dicampur menggunakan 5 liter air tawar, tambahkan 1 ons gula merah serta adukhingga homogen, siramkan dalam bahan organik yang akan dikomposkan hingga rata.
b. Penggunaan dalam tanaman :Penyemprotan dilakukan pagi/sore hari menggunakan konsentrasi 400 cc ditambah dengan14 liter air tawar, kocok sampai rata. Disemprotkan dalam umur flora padi : 10hari, 20, 30, 40 dan fase akhir pembungaan (generatif).



4.     MOL Limbah Buah-buahan
Bahan :
  • Limbah butir-buan yang nir tergoda : Jeruk, Tomat, Pepaya Mangga, Pisang, Apel, Salak dll sebanyak 10 Kg,
  • Gula 1Kg,
  • 10 liter air kelapa.
Cara Pembuatan :
  • Buah-buahan sebesar 10 Kg ditumbuk/ dihaluskan,
  • Masukan dalam drum/tong
  • Campurkan dengan air kelapa,
  • Tambahkan gula merah yang sudah dicairkan
  • Tutup dengan plastik beri lubang udara menggunakan cara masukan slang plastik yg dihubungkan dengan botol yang sudah berisi air.
  • Biarkan selama 10- 15 hari.
Penggunaan :
a.  campur MOL serta air denganperbandingan 1 : 5 Liter ( 1 bagian MOL, 5 bagian air)
     tambahkangula 1 0ns. Siramkan dalam bahan organik yg mau dikomposkan.
b. Penggunaan Pada flora Padi .semprotkan pada flora menggunakan  Konsentrasi larutan 400 cc dicampur denganair tawar sebesar 14 liter, semprotkan dalam umur tumbuhan Akhir vegetatif (kurang lebih umur 55 Hari- 60 hari).
5.     MOL  Nasi
Bahan-bahan:
-         Nasi segar (tidak basi)
-         Seresah bambu , berupa daun-daun serta sisa –residu rabat batang bambu yg telah ditebang serta sedang mengalami dekomposisi (penghancuran/penguraian)dalam kondisi lembab
-         Kardus atau peti kayu atau tempat lain yang dapat digunakan
Cara Pembuatan :
Ambil seresah atau residu potonganbambu yg telah ditebang dalam syarat proses pelapukan serta lembab lalumasukan kedalam kardus atau peti kayu, kemudian masukan nasi segar yang sudahdikepal-kepal secukupnya kedalam tumpukan seresah bambu (sepuluh kepal nasidisimpan pada loka/kardus berukuran 40 x 60 CM) simpan ditempat yang sejukdan terlindung berdasarkan sinar matahari langsung serta air hujan. Setelah  limahari pada pada kardus ambil nasi-nasi tadi yg telah berubah warna (merah,hijau atau kuning), masukan kedalam loka/tong plastik yang sudah berisi airtawar atau air beras sebanyak lima liter serta telah dibubuhi gula merah sebanyak3% dari banyaknya cairan, selanjutnya ditutup menggunakan kertas atau kain danbiarkan lebih kurang satu minggu. Dan jika akan disimpan lebih dari  satuminggu tong plastik/tempat cairan campuran nasi serta air gula ditutuprapat  menggunakan cara diberi lubang yg disambungkan dengan  selangplastic, pada bagian ujung selang bagian luar  masukan pada air pada botol atau tempat lain.
Setelah satu minggu, MOL nasitersebut siap dipakai sebagai decomposer buat adonan pembuatankompos  yang akan membantu dan mempercepat penghancuran bahan organik.
           Penggunaan:
           Khusus digunakan menjadi Dekomposer  atau campuran kompos dengan konsentrasilarutan 1 liter MOL nasi dicampur dengan lima liter air tawar serta masukkan gulamerah 1 %.

MOL DARI BAHAN SUMBER PROTEIN YANGDIOLAH LEBIH HIGIENIS.

PUPUK CAIR ORGANIK
Pupuk cair biasa digunakan dengan disemprotkan kepada tumbuhan  akan tetapi bisa pula menggunakan pengecoran ke sekitarakar tumbuhan, apikasinya buat tumbuhan sayuran  mampu setiap 1 minggusekali atau lima hari sekali tergantung kebutuhan.
Pupuk cair adalah pelengkap darikompos serta mol buat mempercepat pertumbuhan tanaman .
Pupuk cair agak berbeda denganmol  dalam hal saat fermentasi, cukup 7 – 10 hari saja dan ditambahkanyakotoran hewan sapi atau kambing sebagai akibatnya diperlukan  kandungan Nutrisi danbiakan mikroorganismenya mencukupi.
Pupuk ciar diaplikasikan lebihefekif pada ketika trend kering, karena dilakukan sembari memberikan penyeramanterhadap flora.
BAHAN BAHAN
  1. Kotoran kambing atau sapi                     :  30  kg  ( 1 karung )
  2. Terasi                                                             :  1,0 kg
  3. Dedak                                                            :  3,0 kg
  4. Gula pasir                                                     :  dua,0 kg
  5. Mol rebung/ bonggol pisang                  :  dua-4 lt
  6. Urin kelinci/ sapi                                         :  2-lima lt
  7. Air jernih                                                      :   80 lt
PERLENGKAPAN /ALAT-ALAT
  1. Drum plastic kapasitas 100 lt
  2. Pengaduk
  3. Saringan
  4. Ember
CARA PEMBUATAN

  1. Kohe  masukan ke dalam drum berikan air 25 lt lalu aduk sampai lumat
  2. Terasi serta gula masukan kedalam ember , larutkan dengan air sebanyak  kurang lebih  lima lt sehabis larut tuangkan ke dalam drum
  3. Aduk sampai merata ,lalu tuangkan  Urin dan MOL
  4. Tambahkan air sampai larutan mencapai ¾ atau head space kurang lebih 15-20 cm
  5. Tutup  dengan kertas Koran atau kain , nir boleh ditutup menggunakan plastik simpan selama 7 – 10 hari.
  6. Penyaring lilakukan  jika akan di aplikasikan  menggunakan cara penyemprotan, tetapi jika buat ngecor tidak perlu pada saring.
  7. Konsentrasi yg pada gunakan berdasarkan buat 1 tangki (14 lt) relatif diberikan larutan pupuk cair  3 – 4 lt.

CARA FERMENTASI IKAN PEDA

Cara Fermentasi Ikan Peda - Untuk Menghasilkan Kualitas Ikan Peda yg Baik maka pada perlukan fermentasi yang sinkron. Dalam Proses fermentasi terdapat hal hal yg perlu di perhatikan. 

Dan Setiap Prosedur pada fermentasi ikan peda di harapkan sesuai dengan takaran anugerah garam dan waktu penyimpanan.

Ikan Peda yang berkualitas baik setidaknya mempunyai bau yg enak dan mempunyai daging yg empuk dan warna ikan peda yg sedikit kusam itu adalah dampak menurut proses fermentasi yang baik.

Lantas bagaimana prosedur dalam fermentasi ikan peda.

Cara Fermentasi Ikan Peda


Fermentasi Ikan Peda merupakan proses penguraian daging ikan buat pada awetkan menggunakan atau sang enzim yang akan memberikan output yang menguntungkan. Enzim ini akan mengurai daging ikan yang akan di proses.

Proses fermentasi sama dengan proses pembusukan, tetapi pada dalam proses fermentasi ini membentuk zat-zat yg memberikan rasa serta aroma yg khusus serta cenderung tidak berbau busuk. 

Hal hal yg berpengaruh dalam proses Terjadinya fermentasi memerlukan syarat-syarat sebagai berikut : 

-Suasana lembab, 

- Adanya oksigen pada jumlah terbatas / semi aerob
- Adanya Penggunaan garam.

Cara Fermentasi Ikan Peda cukup Praktis, langkah tadi dengan mencampurkan garam dengan ikan menggunakan dua kali penyimpanan. 

Penyimpanan pertama selama satu minggu, Ikan di campur garam. Pencampuran ikan dengan garam agar proses pada fermentasi ikan mampu aporisma. Perhatukan menggunakan sahih untuk pencampuran garam nya agar rasa ikan yang di hasilkan dari hasil fermnetasi tidak terlalu asin.

Penyimpanan ke 2 selama dua minggu, Ikan penyimpanan pertama output fermentasi ikan pertama pada bongkar dan di bersihkan. Lalu pada simpan lagi menggunakan di atasnya di kasih garam. Dan Langkah ini bisa di bilang sebagai fermentasi Ikan termin ke 2.

Fermentasi dalam ikan terjadi karena adanya Bakteri yg membantu proses tadi. Dan Bakteri Yang berperan dalam Fermentasi Ikan pada antara nya ;


fermentasi didefinisikan ѕеbаgаі proses pemecahan molekul organik kompleks (seperti protein) menjadi komponen sederhana atau penyusunnya (asam amino) dеngаn bantuan mikroorganisme. 


Mikroba уаng ditambahkan bersifat berlawanan dеngаn Mengganggu pertumbuhan bakteri pembusuk уаng terdapat pada ikan atau bahan уаng difermentasikan. 


Mekanisme bakteri berlawanan merusak bakteri patogen dеngаn cara :


a.  Persaingan nutrisi buat pertumbuhan serta perkembangan mikroba.


b.  Penurunan pH lingkungan sebagai akibatnya aktivitas metabolisme bakteri pembusuk terganggu.


c.  Produksi output metabolit уаng bersifat racun bagi bakteri pembusuk.


Jenis bakteri berlawanan уаng ѕеrіng dipakai pada proses fermentasi ikan аdаlаh Lactobacillus plantarum jenis Bakteri Asam Laktat (BAL) serta golongan bakteri Halophili. 


Bеrdаѕаrkаn penelitian Lee,et al. (2014) produk fermentasi udang (saeu-jeot = Korea) уаng difermentasi dеngаn menambahkan garam + 25 % (w/v) pada masing-masing suhu (100C, 150C, 200C dan 250C) memberitahuakn bаhwа mikroorganisme awal proses fermentasi didominasi golongan Proteobacteria misalnya Pseudoalteromonas, Photobacterium, Vibrio, Aliivibrio dan Enterovibrio 


kеmudіаn digantikan dеngаn golongan Firmicutes (Psychrobacter, Staphylococcus, Salimicrobium, dan Alkalibacillus) dan golongan Halanaerobium уаng bertanggung jawab menghasilkan senyawa karbonil misalnya glukosa, gliserol, laktat, asetat, butirat serta metilamine.


Secara umum karakteristik krusial уаng harus dimiliki mikroba pada proses fermentasi аdаlаh :


a.     Mikroba wajib mampu tumbuh dеngаn cepat pada ѕuаtu substrat dan lingkungan уаng cocok dan gampang dibudidayakan pada jumlah akbar.


b.     Mempunyai kemampuan buat mengatur ketahanan fisiologis menghadapi syarat seperti tеrѕеbut diatas dan bisa membuat enzim-enzim esensial dеngаn gampang serta cepat dalam jumlah besar agar syarat уаng diinginkan dараt tercapai.



c.     Kondisi lingkungan уаng diharapkan bagi pertumbuhan dan produksi maksimum secara komparatif harus sederhana.
Adapun pengunaan atau pemakaian garam buat fermentasi ikan peda dari ukuran berat ikan. Prosentasinya antara 25 - 30 persen .

Fermentasi Ikan Peda inilah yg berakibat Ikan peda sangat laris di pasaran dan sebagai produk andalan Bagi nelayan.


Fermentasi Ikan sangat di anjurkan agar sanggup membuat ikan peda menggunakan rasa yg legit dan nikmat.


== Baca Juga ; Cara Membuat Ikan Peda Enak Dan Gurih ==


Ikan Peda saat ini masih buat konsumsi ikan lokal serta peluang tersebut belum termaksimalkan. Alasannya kemungkinan poly masyrakatat atau nelayan belum mengetahui bagaimana Fermentasi Ikan Peda.


selain Fermentasi Ikan Peda terdapat jua fermentasi Ikan Teri serta Fermentasi Ikan Lele. Kedua Jenis Ikan tersebut sudah sangat poly di Gunakan buat fermentasi Ikan.

Setelah Fermentasi Ikan Lantas produk tadi di olah dengan pengolahan pencampuran dengan bumbu dan pada masak sinkron dengan selera masing masing.

Cara Fermentasi Ikan Peda.

PENGERTIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI BIODIVERSITAS

Pengertian Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas)
Pengertian (berdasarkan Society of American Foresters): Biodiversitas mengacu pada macam dan kelimpahan spesies, komposisi genetiknya, serta komunitas, ekosistem dan bentang alam pada mana mereka berada. 

Definisi yg lain menyatakan bahwa biodiversitas sebagai diversitas kehidupan pada seluruh bentuknya, dan pada seluruh level organisasi. Dalam semua bentuknya menyatakan bahwa biodiversitas mencakup flora, hewan, jamur, bakteri dam mikroorganisme yg lain. Semua level organisasi menampakan bahwa biodiversitas mengacu pada diversitas gen, speses dan ekosistem. 

Diversitas genetik meliputi variasi pada material genetik, seperti gen dan khromosom. Diversitas spesies (taksonomi) kebanyakan diintepretasikan menjadi variasi di antara dan pada pada spesies (termasuk spesies insan), meliputi variasi satuan taksonomi seperti filum, keluarga, genus dsb.

Diversitas genetik adalah titik awal dalam tahu dimensi dari info biodiversitas, namun pada level spesies dan ekosistem bidang kehutanan mempunyai impak akbar. 

Diversitas ekosistem atau bahkan dinamakan diversitas biogeografik berkaitan dengan variasi pada pada daerah (region) biogeografik, bentang alam (landscape) dan tempat asal. Kita harus menyadari bahwa biodiversitas selalu peduli menggunakan variabilitas makhluk hayati pada area atau wilayah yg spesifik. 

Belum semua aspek biodiversitas telah diberikan nama. Masih masih ada poly bentuk variasi, seperti variasi musiman, variasi non-genetik ditimbulkan oleh efek lingkungan (variasi fenotipik). Juga terdapat variasi lantaran disparitas pada antara fase kehidupan (diversitas ontogenik) dan mode kehidupan (diversitas kultural). Namun, 3 bentuk diversitas tersebut di atas boleh dikatakan adalah dimensi biodiversitas yang primer. 

Biodiversitas pula mengacu dalam macam struktur ekologi, fungsi atau proses pada seluruh level pada atas. Biodiversitas terjadi dalam skala spasial yang mulai menurut taraf lokal ke regional dan dunia.



Biodiversitas dapat jua dikelompokkan ke pada: diversitas komposisional, struktural serta fungsi Diversitas komposisional mencakup apa yang dikenal dengan diversitas spesies termasuk diversitas genetik dan ekosistem. Menjaga diversitas genetik sangat krusial bagi eksistensi diversitas spesies, sedangkan menjaga diversitas ekosistem penting buat menyediakan tempat asli yang diharapkan buat mengonservasi berbagai spesies.

Diversitas struktural berkaitan menggunakan susunan spasial unit-unit fisik. Pada level tegakan, diversitas struktural dapat dikarakterisasi menggunakan jumlah tingkatan dalam hutan, contohnya kanopi flora utama, subkanopi, semak, tumbuhan herba. Pada level bentang alam, diversitas struktural bisa diukur dengan distribusi kelas-kelas umur dalam suatu hutan atau susunan spasial menurut ekosistem yg tidak sinkron.

Diversitas fungsional adalah variasi pada proses-proses ekologi, misalnya pendauran unsur hara atau genre energi. Ini merupakan komponen yang paling sulit buat diukur serta dipahami. Perlu dipahami bahwa ketiga komponen diversitas tersebut saling berkaitan. Misalnya, perubahan pada diversitas komposisional dan struktural, mengakibatkan perubahan dalam proses-proses ekologi. 

Ahli ekologi memberdakan biodiversitas pada skala spasial pada tiga kategori: alpha, beta dan gamma . Diversitas alpha merupakan diversitas pada dalam suatu habitat. Diversitas beta adalah diversitas di antara daerah asal, sedangkan diversitas gamma adalah diversitas pada antara geografi (diversitas skala geografi). 

Diversitas genetik
Diversitas genetik terdapat dalam empat level organisasi: di antara spesies, di antara populasi, pada pada populasi serta di pada individu.

Diversitas di antara spesies telah relatif jelas, sungguhpun kita tak jarang tidak berpikir bahwa perbedaan pada antara spesies sebagai manifestasi dari diversitas genetik lantaran kita bisa membedakan spesies dengan mudah tanpa mengetahui komposisi gennya.

Diversitas genetik di antara populasi berdasarkan suatu spesies jua tak jarang sangat besar . Di dunia pertanian contohnya terdapat berbagai macam varietas (padi, jagung), meskipun ini output seleksi buatan. Di spesies pohon disparitas antara populasi dalam spesies yg sama (dikenal menggunakan kata provenans) sering besar . 

Dalam populasi kebanyakan populasi alami, disparitas genetik di antara individu sering pula akbar. Akhirnya diversitas genetik masih ada di dalam suatu individu bilamana ada dua alel buat gen yang sama (perbedaan konfigurasi DNA yg menduduki lokus yg sama pada suatu khromosom). 

Di masa lalu hanya sedikit perhatian diberikan pada diversitas genetik pada populasi alami, sungguhpun ini sangat penting bagi kelestarian berdasarkan bentuk-bentuk biologi, perkembangan diversitas spesies (evolusi) dan berfungsinya biosfer, ekosistem dan komunitas hayati. 

Bersarnya diversitas pada pada suatu spesies tergantung dalam jumlah individu, kisaran penyebaran geografinya, tingkat isolasi dari populasi serta sistem genetiknya. 

Peran krusial pula dilakukan oleh proses-proses seleksi alami dan antropogenik, serta juga faktor-faktor yg berpengaruh pada perubahan spasial dan temporal pada komposisi genetik berdasarkan spesies atau populasi. 

Diversitas genetik krusial bagi kemampuan spesies dan populasi mengikuti keadaan terhadap perubahan kondisi lingkungan serta karenanya adalah persyaratan bagi kelangsungan hidupnya. 

Pada spesies yang berkembang biak secara seksual, setiap populasi lokal mengandung kombinasi gen tertentu. Jadi, suatu spesies merupakan perpaduan populasi yang tidak sama secara genetik satu sama lain. Perbedaan genetik ini diwujudkan sebagai perbedaan pada antara populasi pada sifat morfologi, fisiologi, kelakuan, dan sejarah hidup (life history). Dengan istilah lain, sifat-sifat genetik (genotipe) menghipnotis sifat-sifat yg diekspresikan (fenotipe). 

Seleksi alami pada awalnya bekerja dalam level fenotipik, memihak kepada atau tidak menguntungkan buat sifat-sifat yang diekspresikan (fenotipe). Lukang gen (gene pool) – agregat total gen pada suatu populasi pada suatu ketika, akan berubah ketika organisme menggunakan fenotipe yg kompatibel menggunakan lingkungan akan lebih mampu bertahan hayati dalam jangka lama serta akan berkembang biak lebih banyak dan meneruskan gen-gennya lebih banyak juga ke generasi berikutnya. 

Besarnya diversitas genetik dalam populasi lokal sangat bervariasi. Banyak kegiatan konservasi peduli menggunakan penjagaan diversitas genetik tanaman atau fauna. Populasi kecil yg berbiak secara aseksual dan terisolasi, sering mempunyai diversitas genetik yang kecil di antara individu, sedangkan dalam populasi akbar serta berbiak secara seksual acapkali mempunyai variasi yg akbar. Dua faktor utama yg bertanggung kepada jawab adanya variasi ini, yaitu cara bereproduksi (seksual atau aseksual) dan berukuran populasi. 

Cara reproduksi 
Pada populasi seksual, gen direkombinasi pada setiap generasi, membentuk genotipe baru. Kebanyakan keturunan spesies seksual mewarisi separuh gennya menurut induk betina dan separuhnya lagi dari induk jantan, susunan genetiknya menggunakan demikian tidak sinkron menggunakan ke 2 induknya atau menggunakan individu yg lain pada pada populasi.

Adanya mutasi yg menguntungkan, yg pada awalnya muncul dalam suatu individu dapat direkombinasi dalam kurun waktu eksklusif dalam populasi seksual. Sebaliknya, keturunan individu aseksual secara genetik identik dengan induknya. Satu-satunya sumber kombinasi gen pada populasi aseksual merupakan mutasi (perubahan dalam material genetik yang diwariskan ke keturunannya). Mutasi mungkin terjadi spontan (kekeliruan dalam replikasi material genetik) atau terjadi lantaran efek faktor eksternal (misal radiasi serta bahan kimia eksklusif). Mutasi terjadi di pada gen yang masih ada dalam molekul DNA- deoxyribonucleic acid.  
Populasi aseksual mengakumulasi variasi genetiknya hanya pada laju mutasi genya. Mutasi yg menguntungkan pada individu aseksual yang tidak sinkron tidak mungkin mengalami rekombinasi gen serta ada pada suatu individu seperti layaknya dalam populasi seksual. Kombinasi gen yg menguntungkan akan lebih akbar pada populasi seksual daripada populasi aseksual.

Ukuran populasi
Dalam jangka panjang, diversitas genetik akan lebih lestari dalam populasi besar daripada dalam populasi kecil. Melalui impak damparan genetik (genetic drift- perubahan dalam lukang gen menurut suatu populasi kecil yang berlangsung semata-mata lantaran proses kebetulan), suatu sifat genetik bisa hilang menurut populasi kecil menggunakan cepat.

Sebagai model, populasi mempunyai 2 atau lebih bentuk gen (dinamakan alel). Tergantung alel mana suatu individu mewarisi, suatu fenotipe eksklusif akan didapatkan. Bila populasi tetap berukuran mini dalam jangka waktu usang, mereka mungkin kehilangan salah satu alel menurut setiap gen lantaran proses kebetulan. Kehilangan alel terjadi lantaran eror sampling. Ketika beberapa individu kawin, mereka bertukar gen. Bayangkan awalnya separuh populasi mempunyai satu bentuk gen eksklusif, dan separuhnya populasi yg lain mempunyai bentuk gen yang lain. Karena kebetulan, dalam populasi kecil pertukaran gen dapat mengakibatkan semua individu dalam generasi berikutnya mempunyai alel yg sama. Satu-satunya cara bagi populasi ini mengadung variasi dari gen ini lagi merupakan melalui mutasi gen atau imigrasi individu menurut populasi lain. Meminimalkan kehilangan diversitas genetik pada populasi kecil merupakan dilema primer yang dihadapi dalam upaya perlindungan. 

Diversitas spesies (taksonomi)
Prokaryot : 5.500 spesies terdiri berdasarkan bakteri 
Eukaryot : 
- kerajaan flora (plantae) : lumut-lumutan (17.000 spesies), pakuan, cycad, konifer (750 spesies), ginko, tumbuhan berbunga (250.000 spesies),
- kerajaan hewan : karang (lima.000 spesies), coleonterata (9.000 spesies), echinoderm (6.100 spesies), artoprod (750.000 spesies), ikan (19.000 spesies), amfibi (4.000 spesies), reptil (6.300 spesies), burung (9.000 spesies), mamal (4.100 spesies)
- Prostista serta jamur: 47.000 spesies.

Diversitas ekosistem (biogeografik)
Diversitas spesies ditentukan nir hanya sang jumlah spesies di pada komunitas hayati, misalnya kekayaan spesies (species richness), namun pula sang kelimpahan relatif individu (relative abundance) pada komunitas.

Kelimpahan spesies adalah jumlah individu per spesies dan kelimpahan nisbi mengacu dalam kemerataan distribusi individu di antara spesies dalam suatu komunitas. 

Dua komunitas mungkin sama-sama kaya dalam spesies, tetapi tidak sama pada kelimpahan relatif. Misalnya, dua komunitas mungkin masing-masing mengandung 10 spesies serta 500 individu, tetapi dalam komunitas yang pertama seluruh spesies sama-sama generik (misal, 50 individual buat setiap spesies), ad interim dalam komunias yg kedua satu spesies secara signifikan jumlahnya lebih banyak daripada empat spesies yg lain. Maka komunitas pertama dikatakan mempunyai kelimpahan relatif yg lebih tinggi daripada komunitas kedua. 

Komponen diversitas spesies ini merespons tidak sinkron pada kondisi tempat asli yang tidak sama. Suatu wilayah yg nir mempunyai variasi tempat asli yang luas umumnya miskin spesies, namun beberapa spesies yang sanggup menduduki daerah ini mungkin berlimpah lantaran kompetisi menggunakan spesies lain buat sumberdaya akan berkurang.

Tren dalam kekayaan spesies mungkin mengindikasikan syarat masa lalu dan kini menurut suatu daerah. Kontinen antartika mempunyai sedikit spesies lantaran lingkungannya yang keras, namun pulau-pulau mini di tengah samudra miskin akan spesies karena sulit dicapai berdasarkan lokasi lain. 

Gradien dunia pula berpengaruh dalam kekayaan spesies. Gradien yang paling konkret adalah garis lintang; terdapat lebih banyak spesies pada wilayah tropis daripada di daerah temperit. Faktor-faktor ekologis berperan dalam perbedaan ini. Temperatur lebih tinggi, kepastian iklim, serta musim tumbuh yg lebih lama membangun tempat asal yang lebih aman sehingga membuat diversitas spesies yang lebih besar . Hutan hutan hujan yg paling majemuk, padang rumput tropis lebih majemuk daripada padang rumput temperit. 

Faktor lain yg berpengaruh dalam kekayaan spesies dalam suatu area adalah jarak atau barier yang memisahkan area tadi menggunakan sumber spesies. Probabilitas bahwa spesies akan mencapai suatu pulau pada samudra atau lembah terisolasi adalah mini . Binatang terutama yg nir terbang kemungkinanannya juga mini mencapai area seperti ini.

Berdasarkan pengalaman tanaman serta fauna pada suatu wilayah berbeda dengan daerah lain. Mengapa terjadi ? Mengapa spesies yg sama nir dijumpai dalam suatu daerah meskipun kondisinya cocok buat berkembang?

Kondisi genografis pada seluruh dunia yang mempunyai syarat lingkungkan yg sama sanggup membuat tipe biota yang sama. Situasi ini secara efektif memisahkan biosfer ke pada biom – komunitas ekologi yg memiliki syarat iklim dan fitur geologi yang sama yang mendukung spesies dengan taktik hidup serta adaptasi yg sama. 

Hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe bioma terestrial, ini terletak dalam beberapa tempat pada bumi di mana kondisi iklim dan geologi membuat lingkungan yg seperti. Bioma hutan hujan tropis mengandung komunitas hayati yang secara umum sama, tetapi spesiesnya nir sama berdasarkan satu hutan tropis ke hutan tropis yang lain. Tetapi, setiap hutan tropis akan mengandung organisme yang secara ekologis ekuivalen, yaitu spesies tidak selaras namun mempunyai daur hayati serupa serta cara beradaptasi yang mirip pada kondisi lingkungan. 

Penyebaran hewan serta tanaman yang unik pada berbagai bioma nir dapat hanya dijelaskan melalui faktor iklim dan zonasi lintang. Peristiwa geologis misalnya damparan kontinen serta kondisi iklim masa kemudian wajib dipertimbangkan juga. 

PENGERTIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI BIODIVERSITAS

Pengertian Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas)
Pengertian (menurut Society of American Foresters): Biodiversitas mengacu dalam macam serta kelimpahan spesies, komposisi genetiknya, serta komunitas, ekosistem serta bentang alam di mana mereka berada. 

Definisi yang lain menyatakan bahwa biodiversitas menjadi diversitas kehidupan pada seluruh bentuknya, dan dalam semua level organisasi. Dalam seluruh bentuknya menyatakan bahwa biodiversitas mencakup flora, binatang, jamur, bakteri dam mikroorganisme yg lain. Semua level organisasi menampakan bahwa biodiversitas mengacu pada diversitas gen, speses serta ekosistem. 

Diversitas genetik mencakup variasi pada material genetik, misalnya gen serta khromosom. Diversitas spesies (taksonomi) kebanyakan diintepretasikan menjadi variasi di antara dan di dalam spesies (termasuk spesies manusia), mencakup variasi satuan taksonomi misalnya filum, famili, genus dsb.

Diversitas genetik merupakan titik awal dalam memahami dimensi dari isu biodiversitas, namun pada level spesies serta ekosistem bidang kehutanan mempunyai impak akbar. 

Diversitas ekosistem atau bahkan dinamakan diversitas biogeografik berkaitan menggunakan variasi di pada wilayah (region) biogeografik, bentang alam (landscape) serta tempat asal. Kita harus menyadari bahwa biodiversitas selalu peduli dengan variabilitas makhluk hayati pada area atau wilayah yg spesifik. 

Belum semua aspek biodiversitas telah diberikan nama. Masih terdapat banyak bentuk variasi, seperti variasi musiman, variasi non-genetik ditimbulkan oleh efek lingkungan (variasi fenotipik). Juga terdapat variasi lantaran disparitas pada antara fase kehidupan (diversitas ontogenik) serta mode kehidupan (diversitas kultural). Namun, 3 bentuk diversitas tadi pada atas boleh dikatakan merupakan dimensi biodiversitas yang primer. 

Biodiversitas juga mengacu pada macam struktur ekologi, fungsi atau proses dalam seluruh level di atas. Biodiversitas terjadi dalam skala spasial yg mulai berdasarkan taraf lokal ke regional dan global.



Biodiversitas bisa pula dikelompokkan ke pada: diversitas komposisional, struktural dan fungsi Diversitas komposisional mencakup apa yang dikenal menggunakan diversitas spesies termasuk diversitas genetik serta ekosistem. Menjaga diversitas genetik sangat krusial bagi keberadaan diversitas spesies, sedangkan menjaga diversitas ekosistem krusial buat menyediakan habitat yg diperlukan buat mengonservasi berbagai spesies.

Diversitas struktural berkaitan menggunakan susunan spasial unit-unit fisik. Pada level tegakan, diversitas struktural dapat dikarakterisasi dengan jumlah tingkatan dalam hutan, contohnya kanopi tumbuhan primer, subkanopi, semak, tumbuhan herba. Pada level bentang alam, diversitas struktural dapat diukur dengan distribusi kelas-kelas umur pada suatu hutan atau susunan spasial menurut ekosistem yg berbeda.

Diversitas fungsional merupakan variasi pada proses-proses ekologi, misalnya pendauran unsur hara atau aliran energi. Ini merupakan komponen yang paling sulit buat diukur serta dipahami. Perlu dipahami bahwa ketiga komponen diversitas tadi saling berkaitan. Misalnya, perubahan dalam diversitas komposisional dan struktural, mengakibatkan perubahan dalam proses-proses ekologi. 

Ahli ekologi memberdakan biodiversitas dalam skala spasial pada tiga kategori: alpha, beta serta gamma . Diversitas alpha merupakan diversitas di pada suatu tempat asli. Diversitas beta adalah diversitas di antara habitat, sedangkan diversitas gamma merupakan diversitas pada antara geografi (diversitas skala geografi). 

Diversitas genetik
Diversitas genetik masih ada dalam empat level organisasi: pada antara spesies, di antara populasi, di pada populasi dan pada pada individu.

Diversitas pada antara spesies telah relatif jelas, sungguhpun kita seringkali tidak berpikir bahwa perbedaan pada antara spesies menjadi manifestasi berdasarkan diversitas genetik lantaran kita dapat membedakan spesies menggunakan gampang tanpa mengetahui komposisi gennya.

Diversitas genetik pada antara populasi menurut suatu spesies jua seringkali sangat besar . Di dunia pertanian contohnya terdapat berbagai macam varietas (padi, jagung), meskipun ini hasil seleksi protesis. Di spesies pohon perbedaan antara populasi pada spesies yang sama (dikenal dengan istilah provenans) acapkali akbar. 

Dalam populasi kebanyakan populasi alami, perbedaan genetik pada antara individu sering juga besar . Akhirnya diversitas genetik masih ada di pada suatu individu bilamana terdapat dua alel untuk gen yang sama (disparitas konfigurasi DNA yg menduduki lokus yg sama dalam suatu khromosom). 

Di masa lalu hanya sedikit perhatian diberikan dalam diversitas genetik dalam populasi alami, sungguhpun ini sangat krusial bagi kelestarian menurut bentuk-bentuk hayati, perkembangan diversitas spesies (evolusi) dan berfungsinya biosfer, ekosistem serta komunitas biologi. 

Bersarnya diversitas pada pada suatu spesies tergantung pada jumlah individu, kisaran penyebaran geografinya, tingkat isolasi menurut populasi dan sistem genetiknya. 

Peran penting pula dilakukan sang proses-proses seleksi alami dan antropogenik, serta pula faktor-faktor yg berpengaruh pada perubahan spasial serta temporal pada komposisi genetik berdasarkan spesies atau populasi. 

Diversitas genetik penting bagi kemampuan spesies serta populasi menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi lingkungan dan karenanya adalah persyaratan bagi kelangsungan hidupnya. 

Pada spesies yang berkembang biak secara seksual, setiap populasi lokal mengandung kombinasi gen tertentu. Jadi, suatu spesies adalah perpaduan populasi yg tidak sama secara genetik satu sama lain. Perbedaan genetik ini diwujudkan sebagai perbedaan pada antara populasi pada sifat morfologi, fisiologi, kelakuan, serta sejarah hayati (life history). Dengan istilah lain, sifat-sifat genetik (genotipe) mempengaruhi sifat-sifat yg diekspresikan (fenotipe). 

Seleksi alami pada awalnya bekerja pada level fenotipik, memihak pada atau nir menguntungkan buat sifat-sifat yang diekspresikan (fenotipe). Lukang gen (gene pool) – agregat total gen pada suatu populasi dalam suatu waktu, akan berubah waktu organisme menggunakan fenotipe yg kompatibel dengan lingkungan akan lebih bisa bertahan hayati pada jangka lama dan akan berkembang biak lebih poly serta meneruskan gen-gennya lebih banyak juga ke generasi berikutnya. 

Besarnya diversitas genetik dalam populasi lokal sangat bervariasi. Banyak kegiatan konservasi peduli dengan penjagaan diversitas genetik flora atau fauna. Populasi kecil yang berbiak secara aseksual serta terisolasi, seringkali mempunyai diversitas genetik yg mini di antara individu, sedangkan dalam populasi besar dan berbiak secara seksual sering mempunyai variasi yang akbar. Dua faktor primer yang bertanggung pada jawab adanya variasi ini, yaitu cara bereproduksi (seksual atau aseksual) serta berukuran populasi. 

Cara reproduksi 
Pada populasi seksual, gen direkombinasi pada setiap generasi, menghasilkan genotipe baru. Kebanyakan keturunan spesies seksual mewarisi separuh gennya menurut induk betina dan separuhnya lagi berdasarkan induk jantan, susunan genetiknya menggunakan demikian tidak sama dengan kedua induknya atau dengan individu yg lain di dalam populasi.

Adanya mutasi yang menguntungkan, yg dalam awalnya ada pada suatu individu bisa direkombinasi dalam kurun waktu eksklusif pada populasi seksual. Sebaliknya, keturunan individu aseksual secara genetik identik dengan induknya. Satu-satunya sumber kombinasi gen pada populasi aseksual adalah mutasi (perubahan dalam material genetik yg diwariskan ke keturunannya). Mutasi mungkin terjadi spontan (kekeliruan pada replikasi material genetik) atau terjadi karena imbas faktor eksternal (misal radiasi serta bahan kimia tertentu). Mutasi terjadi pada dalam gen yg terdapat pada molekul DNA- deoxyribonucleic acid.  
Populasi aseksual mengakumulasi variasi genetiknya hanya pada laju mutasi genya. Mutasi yang menguntungkan dalam individu aseksual yang tidak sinkron tidak mungkin mengalami rekombinasi gen serta timbul pada suatu individu misalnya layaknya pada populasi seksual. Kombinasi gen yang menguntungkan akan lebih besar pada populasi seksual daripada populasi aseksual.

Ukuran populasi
Dalam jangka panjang, diversitas genetik akan lebih lestari pada populasi akbar daripada pada populasi kecil. Melalui dampak damparan genetik (genetic drift- perubahan dalam lukang gen menurut suatu populasi kecil yang berlangsung semata-mata karena proses kebetulan), suatu sifat genetik dapat hilang dari populasi mini menggunakan cepat.

Sebagai model, populasi memiliki 2 atau lebih bentuk gen (dinamakan alel). Tergantung alel mana suatu individu mewarisi, suatu fenotipe eksklusif akan didapatkan. Bila populasi permanen berukuran kecil dalam jangka ketika usang, mereka mungkin kehilangan galat satu alel dari setiap gen lantaran proses kebetulan. Kehilangan alel terjadi lantaran eror sampling. Ketika beberapa individu kawin, mereka bertukar gen. Bayangkan awalnya separuh populasi memiliki satu bentuk gen tertentu, dan separuhnya populasi yang lain memiliki bentuk gen yg lain. Lantaran kebetulan, pada populasi kecil pertukaran gen bisa menyebabkan semua individu pada generasi berikutnya memiliki alel yang sama. Satu-satunya cara bagi populasi ini mengadung variasi menurut gen ini lagi adalah melalui mutasi gen atau imigrasi individu berdasarkan populasi lain. Meminimalkan kehilangan diversitas genetik dalam populasi kecil merupakan dilema primer yang dihadapi dalam upaya perlindungan. 

Diversitas spesies (taksonomi)
Prokaryot : lima.500 spesies terdiri menurut bakteri 
Eukaryot : 
- kerajaan tumbuhan (plantae) : lumut-lumutan (17.000 spesies), pakuan, cycad, konifer (750 spesies), ginko, flora berbunga (250.000 spesies),
- kerajaan fauna : karang (lima.000 spesies), coleonterata (9.000 spesies), echinoderm (6.100 spesies), artoprod (750.000 spesies), ikan (19.000 spesies), amfibi (4.000 spesies), reptil (6.300 spesies), burung (9.000 spesies), mamal (4.100 spesies)
- Prostista dan jamur: 47.000 spesies.

Diversitas ekosistem (biogeografik)
Diversitas spesies ditentukan nir hanya sang jumlah spesies di pada komunitas biologi, contohnya kekayaan spesies (species richness), namun juga sang kelimpahan relatif individu (relative abundance) pada komunitas.

Kelimpahan spesies adalah jumlah individu per spesies serta kelimpahan relatif mengacu dalam kemerataan distribusi individu pada antara spesies dalam suatu komunitas. 

Dua komunitas mungkin sama-sama kaya pada spesies, tetapi tidak sama pada kelimpahan nisbi. Misalnya, dua komunitas mungkin masing-masing mengandung 10 spesies dan 500 individu, namun dalam komunitas yang pertama seluruh spesies sama-sama umum (misal, 50 individual buat setiap spesies), sementara dalam komunias yg ke 2 satu spesies secara signifikan jumlahnya lebih poly daripada empat spesies yg lain. Maka komunitas pertama dikatakan mempunyai kelimpahan nisbi yang lebih tinggi daripada komunitas kedua. 

Komponen diversitas spesies ini merespons berbeda dalam kondisi tempat asal yang tidak selaras. Suatu wilayah yg tidak mempunyai variasi tempat asli yang luas umumnya miskin spesies, tetapi beberapa spesies yg mampu menduduki wilayah ini mungkin berlimpah karena kompetisi dengan spesies lain untuk sumberdaya akan berkurang.

Tren pada kekayaan spesies mungkin mengindikasikan kondisi masa lalu serta kini dari suatu daerah. Kontinen antartika memiliki sedikit spesies karena lingkungannya yg keras, tetapi pulau-pulau mini pada tengah samudra miskin akan spesies lantaran sulit dicapai menurut lokasi lain. 

Gradien global juga berpengaruh pada kekayaan spesies. Gradien yang paling konkret merupakan garis lintang; terdapat lebih banyak spesies pada daerah tropis daripada pada wilayah temperit. Faktor-faktor ekologis berperan dalam perbedaan ini. Temperatur lebih tinggi, kepastian iklim, dan demam isu tumbuh yg lebih usang menciptakan daerah asal yang lebih aman sebagai akibatnya membuat diversitas spesies yg lebih besar . Hutan hutan hujan yang paling beragam, padang rumput tropis lebih beragam daripada padang rumput temperit. 

Faktor lain yg berpengaruh dalam kekayaan spesies dalam suatu area adalah jeda atau barier yang memisahkan area tersebut menggunakan sumber spesies. Probabilitas bahwa spesies akan mencapai suatu pulau pada samudra atau lembah terisolasi merupakan kecil. Binatang terutama yg tidak terbang kemungkinanannya jua kecil mencapai area seperti ini.

Berdasarkan pengalaman tumbuhan dan fauna pada suatu wilayah tidak sama dengan daerah lain. Mengapa terjadi ? Mengapa spesies yg sama nir dijumpai dalam suatu wilayah meskipun kondisinya cocok buat berkembang?

Kondisi genografis di seluruh dunia yg memiliki kondisi lingkungkan yang sama sanggup membuat tipe biota yg sama. Situasi ini secara efektif memisahkan biosfer ke dalam biom – komunitas ekologi yang mempunyai syarat iklim serta fitur geologi yg sama yg mendukung spesies dengan taktik hidup dan adaptasi yg sama. 

Hutan hujan tropis adalah galat satu tipe bioma terestrial, ini terletak pada beberapa tempat pada bumi di mana syarat iklim dan geologi menghasilkan lingkungan yg mirip. Bioma hutan hujan tropis mengandung komunitas hayati yg secara generik sama, tetapi spesiesnya nir sama dari satu hutan tropis ke hutan tropis yang lain. Namun, setiap hutan tropis akan mengandung organisme yang secara ekologis ekuivalen, yaitu spesies tidak sinkron tetapi memiliki daur hayati serupa serta cara mengikuti keadaan yg seperti dalam syarat lingkungan. 

Penyebaran hewan dan tumbuhan yg unik pada aneka macam bioma tidak dapat hanya dijelaskan melalui faktor iklim serta zonasi lintang. Peristiwa geologis misalnya damparan kontinen dan syarat iklim masa lalu wajib dipertimbangkan jua. 

PENGERTIAN DAN JENIS AIR MENURUT TEMPATNYA DI BUMI

Air sebagai sumber daya adalah air yang diperlukan oleh semua kehidupan, baik flora, mikroorganisme juga manusia. Agar permanen bisa kita gunakan air wajib dijaga agar tidak , karena sifat air yang gampang berubah baik menurut segi bentuk, ukuran dan rasa rona berdasarkan lingkungannya yg mempengaruhinya, apa lagi bila lingkungan yg ternoda maka air pula akan mudah sekali tercemar. Menurut loka terjadinya air bisa dibagi atas, air permukaan, dan air bawah tanah. Sebagai berikut :
1. Air Permukaan
Air pemukaan merupakan air yg ada dipermukaan bumi serta dapat terlihat, terdiri dari :
a. Air sungai
Air sungai merupakan air yang mengalir melalui terusan alami yang kedua pinggirnya dibatasi sang tanggul-tanggul dan airnya mengalir ke laut, ke danau, atau ke sungai lain yg adalah sungai induk. Sungai banyak masih ada di Indonesia yg berhulu pada wilayah pegunungan. Bagi wilayah-daerah eksklusif kegunaan sungai-sungai itu bhineka. Manfaat air sungai bagi kehidupan sangat akbar artinya seperti buat mengairi pertanian di pesawahan, perikanan kemudian lintas perairan, pembangkit tenaga listrik, dan pariwisata.
Sungai bisa dibagi atas 2 jenis:

(1) Sungai hujan, yaitu sungai yang airnya dari dari hujan serta mata-mata air. Sungai misalnya ini airnya tidak permanen. Bila animo hujan airnya poly, adakalanya banjir. Sebaliknya dalam trend kering airnya sedikit. Sungai-sungai pada Indonesia pada umumnya merupakan sungai hujan, kecuali sungai-sungai di Irian Jaya.
(dua) Sungai gletser, yaitu sungai yang mendapat airnya berdasarkan gletser (es) atau salju yg mencair. Sungai misalnya ini airnya tetap. Baik pada musim hujan maupun dalam demam isu kering. Jenis sungai ini pada Indonesia merupakan sungai Membaramo yang Gletsernya berasal menurut zenit gunung Jayawijaya. Di Indonesia sangat banyak sungai, baik yg bisa dilayari maupun tidak.
Berikut ini rincian sungai-sungai di Indonesia
Di Sumatera:
Sungai Peusangan, sungai Jamboaye, Sungai Simpang Kanan, Sungai Simpang Kiri, Sungai Meuruebo, Sungai Wampu, Sungai Asaham, Sungai Kuala, Sungai Bilah, Sungai Barumun, Sungai Batang Toru, Sungai Batang Gadis, Sungai Rokan, Sungai Siak, Sungai Kampar, Sungai Batang Indragiri, Sungai Batang Hari, Sungai Musi, dengan anak-anaknya, sungai Komering, Sungai Ogan, serta sugan Lematang.
Di Jawa:
Cibanten, Ciujung, Cikande, Cisadane, Ciliwung, Citarum, Cimanuk, Cimandiri, Citandui, Kali Serayu, Kali Serang, Begawan Solo, Kali Brantas, Kali Mas, Kali Porong.
Di Kalimantan:
Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Mahakam, sungai Kahayan, Sungai Martapura, sungai Dayak Besar, Sungai Dayak Kecil, Sungai Serujan serta lain-lain.
Di Sulawesi:
Sungai Cenrang, Sungai Sadang, Sungai Karam, Sungai Palu, Sungai Poso, Sungai Kalung, Sungai Kampar, Sungai Bangka, Dan lain-lain.
Di Irian:
Sungai Membarano, Sungai Merauke, Sungai Digul, Sungai Baliem, Sungai Kamandan, Sungai Wapoga dan lain-lain.
b. Air Danau
Berasal dari air hujan, air tanah atua mata air. Berkurangnya air danau disebabkan oleh penguapan, perembesan ke dalam tanah, serta pengaliran sang sungai. Penguapan dan pengembunan umumnya seimbang, kecuali di wilayah yang sangat lembab serta sangat kemarau.
Air danau dan air waduk di Indonesia bisa dimanfaatkan menjadi berikut :
  • Untuk pengairan atau irigasi pertanian persawahan serta pertanian-pertanian lainnya.
  • Untuk perikanan yaitu perikanan air tawar, misalnya pada danau toba (Sumatra Utara), danau laur Tawar (Aceh Tengah), Danau Tempe (Sulawesi).
  • Untuk pembangkit energi listrik, seperti air waduk Jatiluhur (Jawa Barat), Cirata (Jawa Barat), dan lain-lain.
  • Untuk objek Pariwisata, karena pemandangan wilayah disekitar danau yang mempesona serta udara yg sejuk. Di Indonesia telah banyak danau-danau yg telah dijadikan objek pariwisata, misalnya danau toba, danau Singkarak (Sumatera Barat), Danau Poso dan Tempe di Sulawesi, dan lain-alin yang nir sedikit mengundang wisatawan manca negara serta domestik (lokal) atau wisatawan pada negeri.
c. Air Laut
Pencapaian bumi kita sebagian besar terdiri berdasarkan perairan laut, yaitu mencapai 70% luas lautnya, dan luas daratan hanya 30% dari luar permukaan bumi. Di Indonesia perairan bahari lebih luas dibandingkan dengan daratannya, yaitu tiga banding 2 berdasarkan luas semua Indonesia. Apakah engkau ingat, berapakah luar Indonesia holistik. Mari kita sama-sama hitung berapakan luas bahari Indonesia.
Seperti halnya air bagian atas yang lain, air laut pula mempunyai arti yg tinggi bagi kehidupan. Air bahari bisa dimanfaatkan oleh manusia, selain air lautnya sendiri juga lautnya. Manfaat bagi manusia menjadi berikut: 
  • air bahari dapat dijadikan garam dapur, yang merupakan galat satu zat yang sangat diharapkan sang tubuh manusia.
  • Di dalam air bahari dapat dibudidayakan banyak sekali asal protein hewani (ikan laut) dan menjadi huma tempat pembudidayaan rumput laut menjadi bahan dasar membuat supaya-agar serta kosmetika.
  • Perairan laut merupakan lalu lintas pelayaran dan pengangkutan yang paling murah, lantaran bisa menampung pada jumlah tonase yg lebih besar .

2. Air Bawah tanah
a. Gaiser (Geyser)
Air di bawah tanah mampu menguap karena panas magma. Kadang-kadang uap dan air yg panas karena panas magma itu bisa keluar kepemukaan bumi serta menyebur ke atas. Semburan itu dianggap gaiser. Di Indonesia geiser diantaranya masih ada di Cisolok dekat Pelabuhan Ratu (Jawa Barat), pada Grobongan Purwodadi (Jawa Tengah), pada Baturaden (Jawa Tengah).
Selain menyembur, air panas itu pula dapat keluar sebagai asal air panas. Di Indonesia sumber air panas masih ada pada aneka macam loka, seperti pada lereng Gunung Tangkupan Perahu yaitu Ciater, Maribaya, lereng gunung Guntur di Garut (Jawa Barat), pada Baturaden (Jawa Tengah).sumber air panas banyak menaruh keuntungan bagi insan. Umumnya daerah asal air panas ini sebagai objek pariwisata. Sumber air panas dapat menyembuhkan penyakit tertentu.
b. Artois (artesis)
Air yg meresap ke dalam tanah serta tertahan sang suatu lapisan batuan yg kedap air sanggup membentuk suatu cadangan air. Cadangan air itu terdapat yg dangkal serta terdapat yg dalam. Cadangan air yg dangkal disebut air tanah dangkal misalnya air sumur. Sedangkan cadangan air yg lebih dalam lagi disebut air tanah pada yg acapkali diklaim air artesis, mata airnya diklaim mata air artesis. Di daerah-wilayah yang diperkirakan memiliki mata air artesis acapkali sengaja dibuat mata airnya dengan cara mengebor hingga kedalaman eksklusif. Apa apabila sumber air artesis ini akbar, maka dapat dijadikan untuk pengairan huma pertanian dan buat keperluan air minum.

Sumber: Buku Modul Warga Belajar Paket B Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, 2012

PEMANFAATAN ENERGI BIOMASSA SEBAGAI BIOFUEL

Pemanfaatan Energi Biomassa Sebagai Biofuel 
Menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan meningkatnya populasi manusia sangat kontradiktif dengan kebutuhan tenaga bagi kelangsungan hayati insan beserta kegiatan ekonomi serta sosialnya. Sejak lima tahun terakhir Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional dampak menurunnya secara alamiah cadangan minyak dalam sumur-sumur produksi. Padahal menggunakan pertambahan jumlah penduduk meningkat jua kebutuhan akan sarana transportasi serta aktivitas industri yg berakibat dalam peningkatan kebutuhan dan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Untuk memenuhi kebutuhan BBM tersebut, pemerintah mengimpor sebagian BBM. 

Melihat kondisi tersebut, pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor lima Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional buat menyebarkan asal energi alternatif menjadi pengganti BBM. Walaupun kebijakan tersebut menekankan penggunaan batu bara serta gas menjadi pengganti BBM, tetapi jua menetapkan sumber daya yang bisa diperbaharui seperti bahan bakar botani sebagai alternatif pengganti BBM. Selain itu pemerintah juga telah menaruh perhatian serius buat pengembangan bahan bakar nabati (biofuel) ini dengan menerbitkan Instruksi Presiden No 1 Tahun 2006 tanggal 25 Januari 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Oleh karena itu eksplorasi dan pendayagunaan terhadap sumber-asal alternatif saat ini menjadi sebuah kebutuhan. Saat ini melalui kementerian Energi serta Sumber Daya Mineral, pemerintah sedang gencar memasyaratkan penggunaan biofuel buat penghematan tenaga serta penyelamatan lingkungan. 

Biomassa merupakan bagian yg bisa didegradasi secara biologis berdasarkan produk, limbah serta residu pertanian, kehutanan, industri serta limbah tempat tinggal tangga. Apabila kita berbicara biomassa, maka akan meliputi jua hewan, residu-residu binatang serta bagian tanaman yang bisa dimakan (edible). Oleh karena itu, jika akan memanfaatkan biomassa menjadi asal tenaga kadang-kadang harus berhadapan dengan sumber bahan pangan jua. Sebagai model, poly tumbuhan yang diperlukan dapat sebagai bahan standar pembuatan biofuel ternyata diperlukan buat bahan pangan, misalnya jagung, ketela pohon, kelapa sawit, dll. Dalam hal misalnya ini kemudian muncul kekhawatiran akan kekurangan bahan pangan bila biofuel akan dikembangkan. Apa yang wajib dilakukan ?

Energi Biomassa
Berbicara mengenai asal energi, biomassa adalah salah satu alternatif. Biomassa mengandung tenaga tersimpan dalam jumlah cukup poly Kenyataannya, dalam waktu kita makan, tubuh kita bisa mengganti energi yang tersimpan pada pada makanan menjadi energi atau tenaga buat tumbuh serta berkembang. Pada saat kita berkecimpung, bahkan ketika kita berpikir pun, energi pada makanan akan terbakar. Dari latar belakang itulah kini mulai digali poly kemungkinan pemanfaatan biomassa sebagai sumber bahan bakar botani (biofuel). Dari bahan bakar botani dapat dikembangkan biokerosene (minyak tanah), biodiesel, bioetanol bahkan biopower (buat listrik). 

Indonesia memiliki potensi yang sangat akbar buat menghasilkan biofuel mengingat begitu besarnya asal daya biologi yang terdapat baik di darat maupun pada perairan. Menurut output riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indonesia mempunyai poly jenis flora yang berpotensi menjadi energi bahan bakar cara lain , diantaranya :
  • Kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, sirsak, srikaya, kapuk : menjadi asal bahan bakar cara lain pengganti solar (minyak diesel)
  • Tebu, jagung, sagu, jambu mete, singkong, ubi jalar, dan ubi-ubian yang lain : menjadi asal bahan bakar alternatif pengganti premium. 
  • Nyamplung, algae, azolla : kemungkinan besar dapat dijadikan sebagai asal pengganti kerosene, minyak bakar atau bensin penerbangan.
Beberapa diantara tumbuhan produsen energi menggunakan potensi produksi minyak dalam liter per hektar dan ekivalen energi yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

Tabel Jenis Tumbuhan Penghasil Energi
Jenis Tumbuhan

Produksi Minyak  (Liter per Ha)

Ekivalen Energi         (kWh per Ha)

Elaeis guineensis (kelapa sawit)
3.600-4.000
33.900-37.700
Jatropha curcas (jeda pagar)
2.100-2.800
19.800-26.400
Aleurites fordii (biji kemiri)
1.800-2.700
17.000-25.500
Saccharum officinarum (tebu)
2.450
16.000
Ricinus communis (jeda kepyar)
1.200-dua.000
11.300-18.900
Manihot esculenta (ubi kayu)
1.020
6.600
Sumber : Business Week edisi 15 Maret 2006

Biomassa adalah satu-satunya asal energi terbarukan yang bisa diubah sebagai bahan bakar cair - biofuel buat keperluan transportasi (kendaraan beroda empat, truk, bus, pesawat terbang serta kereta barah). Di antara jenis biofuel yang banyak dikenal adalah biogas, biodiesel dan bioethanol. 

a. Biodiesel 
Biodiesel merupakan bahan bakar menurut minyak nabati yg mempunyai sifat menyerupai minyak diesel atau solar. Bahan bakar ini ramah lingkungan karena membentuk emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan diesel/solar, yaitu bebas sulfur, bilangan asap (smoke number) yang rendah; mempunyai cetane number yang lebih tinggi sebagai akibatnya pembakaran lebih sempurna (clear burning); mempunyai sifat pelumasan terhadap piston mesin; dan dapat terurai (biodegradabe) sehingga nir membuat racun (non toxic). Menurut output penelitian BBPT, biodiesel mampu eksklusif dipakai 100% menjadi bahan bakar dalam mesin diesel tanpa memodifikasi mesin dieselnya atau pada bentuk adonan dengan solar pada berbagai konsentrasi mulai dari 5%. Keuanggulan biodiesel antara lain : 
  • Angka Cetane tinggi (>50), yakni angka yg pertanda ukuran baik tidaknya kualitas Solar dari sifaf kecepatan bakar dalm ruang bakar mesin. Semakin tinggi bilangan Cetane, semakin cepat pembakaran semakin baik efisiensi termodinamisnya. 
  • Titik kilat (flash point) tinggi, yakni temperatur terendah yg dapat mengakibatkan uap Biodiesel menyala, sebagai akibatnya Biodiesel lebih kondusif menurut bahaya kebakaran dalam waktu disimpan juga pada saat didistribusikan menurut pada solar. 
  • Tidak mengandung sulfur dan benzene yg memiliki sifat karsinogen, dan dapat diuraikan secara alami 
  • Menambah pelumasan mesin yang lebih baik daripada solar sebagai akibatnya akan memperpanjang umur pemakaian mesin 
  • Dapat dengan mudah dicampur dengan solar biasa dalam banyak sekali komposisi serta tidak memerlukan modifikasi mesin apapun 
  • Mengurangi asap hitam berdasarkan gas asap buang mesin diesel secara signifikan walaupun penambahan hanya 5% - 10% volume biodiesel kedalam solar 
biodiesel membutuhkan bahan standar minyak nabati yg bisa dihasilkan dari tanaman yang mengandung asam lemak misalnya kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), jarak pagar (Crude Jatropha Oil/CJO), kelapa (Crude Coconut Oil/CCO), sirsak, srikaya, kapuk, dll. Indonesia sangat kaya akan asal daya alam yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku biodiesel. Kelapa sawit merupakan keliru satu sumber bahan baku minyak botani yg prospektif dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia, mengingat produksi CPO Indonesia relatif akbar serta semakin tinggi tiap tahunnya. Tanaman jeda pagar juga prospektif menjadi bahan standar biodiesel mengingat tanaman ini dapat tumbuh di huma kritis serta ciri minyaknya yg sinkron buat biodiesel. 

Menurut Badan Penelitian serta Pengembangan Departemen Pertanian, total kebutuhan biodiesel saat ini mencapai 4,12 juta kiloliter per tahun. Sementara kemampuan produksi biodiesel pada tahun 2006 baru 110 ribu kiloliter per tahun. Pada tahun 2007 kemampuan produksi diperkirakan mencapai 200 ribu kiloliter per tahun. Penghasil-produsen lain merencanakan juga akan beroperasi dalam 2008 sebagai akibatnya kapasitas produksi akan mencapai sekitar 400 ribu kiloliter per tahun. Cetak biru (blueprint) Pengelolaan Energi Nasional mentargetkan produksi biodiesel sebesar 0,72 juta kiloliter dalam tahun 2010 buat menggantikan 2% konsumsi solar yg membutuhkan 200 ribu hektar kebun sawit dan 25 unit pengolahan berkapasitas 30 ribu ton per tahun dengan nilai investasi sebanyak Rp. 1,32 triliun; sampai menjadi sebesar 4,7 juta kiloliter dalam tahun 2025 buat membarui lima% konsumsi solar yang membutuhkan 1,34 juta hektar kebun sawit dan 45 unit pengolahan berkapasitas 100 ribu ton per tahun dengan investasi mencapai Rp. 9 triliun. 

b. Bioetanol 
Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia berdasarkan proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol adalah bahan bakar dari minyak nabati yg mempunyai sifat menyerupai minyak premium. Untuk pengganti premium, terdapat alternatif gasohol yg merupakan adonan antara bensin serta bioetanol. Adapun manfaat pemakaian gasohol pada Indonesia yaitu : memperbesar basis asal daya bahan bakar cair, mengurangi impor BBM, menguatkan security of supply bahan bakar, menaikkan kesempatan kerja, berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan antar individu dan antar daerah, menaikkan kemampuan nasional dalam teknologi pertanian serta industri, mengurangi kesamaan pemanasan global serta pencemaran udara (bahan bakar ramah lingkungan) serta berpotensi mendorong ekspor komoditi baru. Untuk pengembangan bioetanol dibutuhkan bahan baku antara lain : 
  • Nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum cantik, nira kelapa, nira aren, nira siwalan, sari-buah mete 
  • Bahan berpati : tepung-tepung sorgum biji, jagung, cantel, sagu, singkong/ gaplek, ubi jalar, ganyong, garut, suweg, umbi dahlia. 
  • Bahan berselulosa (lignoselulosa):kayu, jerami, batang pisang, bagas, dll. 
Adapun konversi biomasa sebagian tanaman tadi menjadi bioethanol adalah misalnya pada tabel dibawah ini.

Tabel Konversi biomasa sebagai bioethanol
Biomasa (kg)

Kandungan gula (Kg)

Jumlah hasil bioethanol (Liter)

Biomasa :        Bioethanol

Ubi kayu 1.000
250-300
166,6
6,lima : 1
Ubi jalar 1.000
150-200
125
8 : 1
Jagung 1.000
600-700
400
2,lima : 1
Sagu 1.000
120-160
90
12 : 1
Tetes 1.000
500
250
4 : 1
Sumber data : Balai Besar Teknologi Pati-BPPT,2006

Pemanfaatan Bioetanol :
Sebagai bahan bakar substitusi BBM dalam motor berbahan bakar bensin; dipakai dalam bentuk neat 100% (B100) atau diblending menggunakan premium (EXX) Gasohol s/d E10 bisa digunakan pribadi dalam mobil bensin biasa (tanpa mengharuskan mesin dimodifikasi). 

Pengujian pada tunggangan roda empat di laboratorium BPPT menerangkan bahwa taraf emisi karbon serta hidrokarbon Gasohol E-10 yang merupakan campuran bensin serta etanol 10% lebih rendah dibandingkan menggunakan premium serta pertamax. Pengujian ciri unjuk kerja yaitu daya serta torsi menampakan bahwa etanol 10% identik atau cenderung lebih baik daripada pertamax. Etanol mengandung 35% oksigen sehingga menaikkan efisiensi pembakaran. 

c. Biogas
Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik menggunakan donasi bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas. Energi gas bio didominasi gas metan (60% - 70%), karbondioksida (40% - 30%) dan beberapa gas lain dalam jumlah lebih mini . Gas metan termasuk gas tempat tinggal kaca (greenhouse gas), beserta menggunakan gas co2 (CO2) menaruh dampak tempat tinggal kaca yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan dunia. Pengurangan gas metan secara lokal ini dapat berperan positif dalam upaya penyelesaian permasalahan global. 

Pada prinsipnya, pembuatan gas bio sangat sederhana, hanya dengan memasukkan substrat (kotoran ternak) ke dalam digester yang anaerob. Dalam saat tertentu gas bio akan terbentuk yg selanjutnya bisa dipakai sebagai sumber tenaga, contohnya buat kompor gas atau listrik. Penggunaan biodigester dapat membantu pengembangan sistem pertanian menggunakan mendaur ulang kotoran ternak buat menghasilkan gas bio serta diperoleh output samping (by-product) berupa pupuk organik. Selain itu, dengan pemanfaatan biodigester dapat mengurangi emisi gas metan (CH4) yang didapatkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi berdasarkan sektor pertanian serta peternakan, lantaran kotoran sapi nir dibiarkan terdekomposisi secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi gas bio.

Potensi kotoran sapi buat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan gas bio sebenarnya cukup akbar, tetapi belum poly dimanfaatkan. Bahkan selama ini telah menyebabkan masalah pencemaran serta kesehatan lingkungan. Umumnya para peternak membuang kotoran sapi tadi ke sungai atau pribadi menjualnya ke pengepul menggunakan harga sangat murah. Padahal berdasarkan kotoran sapi saja bisa diperoleh produk-produk sampingan (by-product) yg relatif banyak. Sebagai model pupuk organik cair yg diperoleh berdasarkan urine mengandung auksin relatif tinggi sehingga baik buat pupuk sumber zat tumbuh. Serum darah sapi dari tempat-loka mutilasi hewan dapat dimanfaatkan menjadi sumber nutrisi bagi tanaman , selain itu menurut limbah jeroan sapi dapat pula dihasilkan aktivator sebagai cara lain sumber dekomposer. 

(pengaruh rumah kaca), sehingga upaya ini dapat diusulkan menjadi bagian dari acara 

Tantangan ke Depan : Biofuel vs Ketahanan Pangan

Untuk pengembangan biofuel, poly hal harus dipertimbangkan antara lain :
1. Dibandingkan dengan minyak bumi serta gas yg ketersediaannya terbatas serta pengelolaannya dikuasai oleh pihak-pihak yg sangat terbatas, biomassa sebenarnya relatif melimpah pada Indonesia dan rakyat bisa memanfaatkannya secara langsung. Permasalahan yg dihadapi merupakan keterbatasan teknologi, keterbatasan lahan dan keterbatasan pasar atau penggunanya. Selain itu, belum adanya anggaran aturan yg jelas dalam industri ini serta standar penggunaan bahan-bahan buat biodiesel dan bioetanol menyulitkan warga dan penghasil biodiesel serta bioetanol buat memperoleh pembiayaan dan menjalankan bisnisnya. Kurangnya jaringan distribusi serta infrastruktur menyulitkan pemasaran biodiesel serta bioetanol di pasar domestik. Sebagai konsekuensi, sebagian besar biodiesel serta bioetanol yg diproduksi di Indonesia sekarang digunakan buat pasar ekspor.
2. Dibutuhkan motor penggerak serta kapital yang akbar buat membiayai budi daya bahan baku baik menurut segi pengadaan lahan, bibit, pupuk maupun obat-obatan. Perusahaan-perusahaan besar yang berkiprah dibidang pertanian serta perkebunan diperlukan dapat sebagai motor penggerak bagi bisnis budi daya ini lantaran besarnya porto budidaya serta pengembangan. 
3. Adanya hambatan sosial dalam pengembangan beberapa komoditas flora sumber energi, misalnya tumbuhan jeda, wajib segera ditangani buat menciptakan rasa saling percaya antara petani jeda dengan pengusaha menjadi pengolah biji jeda. Meskipun tumbuhan jeda sangat potensial dikembangkan menjadi energi terbarukan menggunakan harga murah, bisa ditanam pada huma kritis, serta dapat mempertinggi pendapatan petani, tapi belum semua pihak menyadari potensi tadi.
4. Terkait menggunakan info ketahanan pangan (food security), yang wajib dilakukan merupakan : 
Meningkatkan produktivitas lahan melalui acara intensifikasi yg mencakup pemilihan bibit, peningkatan kualitas kultur teknis sampai pengelolaan pasca panen. Melalui aktivitas dibutuhkan produktivitas flora meningkat signifikan, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran akan kekurangan bahan pangan. 
Meningkatkan produksi melalui ekstensifikasi atau ekspansi lahan menggunakan memanfaatkan huma-huma kritis / marjinal. Beberapa tumbuhan asal energi, misalnya jarak, cantel, jagung dan jambu mete, adalah flora yg relatif tahan kemarau serta sanggup beradaptasi dalam lingkungan yang kurang menguntungkan. Oleh karenanya untuk penanaman diusahakan agar jangan hingga menggeser peruntukan tanaman pangan. Berbagai lahan marjinal yang bisa dimanfaatkan antara lain : huma pantai, tanah karst, bantaran sungai, atau huma berkemiringan curam. 
Perlu segera dilakukan diversifikasi buat menemukan jenis-jenis tumbuhan baru penghasil energi. Beberapa tanaman yg sedang diteliti serta dikembangkan di Indonesia diantaranya : jambu mete, widuri, kerandang, kacang-kacangan, nyamplung, algae dan masih banyak lagi. 

Road Map Penelitian dan Pengembangan Energi di UMY
Penelitian serta pengembangan bidang tenaga pada UMY sudah dimulai tahun 2000 pada Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, PUSPER (Pusat Studi Pengelolaan Energi Regional). Melalui kerjasama dengan aneka macam pihak, penelitian serta pengembangan yang telah, sedang dan akan dilakukan diantaranya :
Bidang

Penelitian & Pengembangan

Hasil

(s/d ketika ini)

Pengembangan lanjutan

Audit energi
-Audit tenaga buat aneka macam stakeholders
-Pelatihan audit energi bagi staf dan mahasiswa Fakultas Teknik
-Hasil audit energi industri, perkantoran serta perorangan
-Sertifikasi auditor tenaga

Micro Hydro Power
-Survei potensi dan lokasi buat MHPP (Micro Hidro Power Plant)
-  Peta potensi untuk pengembangan energi (termasuk MHPP) : CAREPI
- Pengembangan stasiun MHPP

Hydro Power
-Belum signifikan
-Belum signifikan
-Pemanfaatan generator berbasis air serta air bahari buat produksi bio-kerosene serta bio-premium
Wind energy
-Pengembangan windmill pada huma pantai Bugel KP dan pantai Samas Bantul
-Berhasil menghidupkan generator
-Peralatan rusak lantaran korosi dan sedimentasi garam
-Pengujian bahan baku
-Pengujian pelapis logam anti karat
-Pengujian generator buat meningkatkan air pengairan
Solar energi
Belum signifikan
-  Belum signifikan
-    Pengujian solar cell untuk generator pembangkit listrik
Bioethanol
-Sakarifikasi ketela pohon, ubi jalar, ubi-ubian yg lain, sayuran, buah-buahan
-Fermentasi bahan standar dengan yeast
-Nira
-Syrup

-Pemurnian etanol
-Pengujian kualitas
-Scaling up produksi
-Produksi serta pengujian mesin pemroses
Biodiesel
Pengujian bahan baku
Belum signifikan
Pengujian bahan standar (kelapa, algae,kerandang, air, dll)
Bio-avtur (bensin penerbangan)
Pengujian bio-avtur berbasis bio-kerosene
Kualitas bio-avtur yg dihasilkan
Pengujian bio-avtur berbasis bio-kerosene serta bioetanol
Biogas
-Teknologi proses produksi biogas dari berbagai limbah (waste)
-Pengujian reaktor biogas
-Biogas skala tempat tinggal tangga
-Reaktor biogas portable
-Pengujian limbah lain buat produksi biogas
By-product
-Isolasi, karakterisasi dan multiplikasi dekomposer berdasarkan berbagai sumber
- Pemanfaatan dekomposer buat digesti limbah dalam proses produksi bioetanol dan pupuk
-Pemanfaatan limbah buat produksi bahan pangan (Nata de Cassava, Nata de Pina, selai, sirup, dll)
-Isolat bakteri serta jamur dekomposer
-Pupuk organik padat
-Pupuk organik cair
-Identifikasi,determinasi dan scaling up produksi isolat dekomposer
-Pemanfaatan limbah (tapioka, residu sayuran dan buah-buahan) buat produksi aktivator serta ZPT