MENGETAHUI KARAKTER SESEORANG DARI TEKSTUR DAN CIRI KULITNYA

Dalambanyak bidang kehidupan, karakter seringkali sebagai prioritas utama untukmenentukan kualitas personal seorang. Misalnya buat melamar suatu pekerjaan,selain keahlian spesifik yg telah sebagai syarat masuk perusahaan pencaritenaga kerja, karakter yg baik jua adalah syarat mutlak yang harusdimiliki sang setiap calon karyawan yang melamar pekerjaan tersebut. Tidakmungkin sebuah perusahaan menerima seorang karyawan begitu saja tanpamengetahui terlebih dahulu seperti apa karakter calon pekerjanya.

Penilaian karakterseorang calon karyawan umumnya dilakukan ketika berlangsungnya sesi interview,setelah para peserta dinyatakan lulus dalam tes pertama (tes tulis). Denganmemberikan pertanyaan-pertanyaan spesifik, penguji akan memilih apakah orangtersebut layak atau nir buat ikut serta menjadi satu tim keluarga kerja diperusahaan. Nah, tahukah Anda selain menilai dari cara kita berbicara memberikanjawaban, penguji pula akan sedikit mengambil evaluasi spesifik berdasarkan karakteristik-ciritubuh calon pesertanya, misalnya berdasarkan bentuk raut muka, ekspresi paras, bahkantekstur serta ciri kulit pula sanggup menjadi bahan evaluasi.

Dalam ranahpsikologi, keadaan tubuh seseorang jua sanggup dipengaruhi oleh kondisi kejiwaanatau pribadinya. Misalnya saja, orang yg memiliki tabiat pemarah (suka berbicaradengan nada keras serta tinggi) maka bentuk raut mukanya akan tidak selaras sekalidengan orang berwatak tenang dalam biasanya. Begitu jua menggunakan orang yg sukamembual, maka bentuk raut otot wajahnya pula berbeda lagi.
Selain diatas, tekstur serta karakteristik spesifik kulit pula bisa mencerminkan karakter dantingkah laris seseorang pada kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, seseorangdengan tekstur kulit yg sangat halus mendeskripsikan langsung yg berperilakulemah lembut dan sangat sensitif. Kebanyakan kaum wanita memiliki teksturseperti ini, serta sanggup dibuktikan bahwa memang hampir semua kaum perempuan memilikisifat-sifat demikian.

Seseorangyang memiliki kulit tangan yg putih higienis mendeskripsikan eksklusif yg begitumemperhatikan kesehatan serta kebersihan kulit. Tekstur kulit misalnya ini jugabanyak ditemukan dalam orang-orang yang religius serta waktunya sudah banyakdihabiskan untuk hal-hal yang bersifat kerohanian. Selain itu, orang-orang yangperasaannya peka serta perasa memiliki tekstur kulit misalnya ini juga.

Orang yangmemiliki tekstur kulit yang tebal serta kasar mendeskripsikan sosokyangkaku dankuat. Pribadi ini juga merupakan sosok pekerja keras, terutama untukbidang-bidang pekerjaan yg memerlukan kekuatan serta ketahanan fisik. Sosok inijuga termasuk orang yg keras kepala dan egois.

Makin haluskulit seseorang, bisa menggambarkan pribadi yg semakin peka terhadap situasisekitar. Umumnya mereka merupakan langsung-eksklusif yg sangat menyukai estetika.tetapi, sosok ini pula termasuk orang yang kurang sanggup memaknai kekurangan yangada.

Kulittangan yang berwarna pucat memberitahuakn pemiliknya merupakan sosok menggunakan kondisifisik yg lemah. La akan gampang sekali mengalami kelelahan sehabis bekerjaberat atau pada syarat berada di bawah tekanan.

Kulittangan yang berwarna kemerahan memperlihatkan sosok menggunakan syarat fisik yangprima. La memiliki stamina yang sangat bertenaga. La jua menjalani hari-hari kehidupannyadengan penuh semangat serta perasaan penuh optimisme.

Selaindengan melihat tekstur serta warna kulit, kita jua mampu menganalisis karakterseseorang menggunakan memperhatikan bulu-bulu yg tumbuh dalam tangan.

Tangan yangberbulu lebat mendeskripsikan sosok seorang dengan vitalitas yg prima.fisiknya sangat kuat dan gairahnya menggebu-gebu. La pula hidup menggunakan semangatdan asa yg tinggi. Kemauannya sangat keras diikuti dengan aktualisasipada setiap aspek yang diinginkannya.

Orang yangtangannya berbulu tipis dan sangat sporadis mendeskripsikan eksklusif yg lebihmenyukai kesendirian. La tidak terlalu terbuka terhadap orang lain tentangapa-apa yang dialaminya. Jika bulu halus tadi disertai dengan rona tanganyang cenderung pucat, menggambarkan sosok yg kondisi fisiknya lemah.

Umumnyamakin lebat bulu pada tangan seseorang mengindikasikan semakin bertenaga fisikpemiliknya. Jika dibandingkan dengan langsung yang berbulu tipis, maka beliau lebihmampu buat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ATAU INOVASI PENDIDIKAN

Pembaharuan Pendidikan Atau Inovasi Pendidikan 
Pembaharuan pendidikan atau penemuan pendidikan adalah konsep yg acapkali didengar pada global pendidikan Indonesia. Hal ini juga yang sejak usang telah didambakan sang masyarakat. Usaha ke arah pembaharuan pendidikan dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional menggunakan banyak sekali cara, antara lain melalui pengubahan kurikulum yang diubahsuaikan menggunakan perkembangan zaman (Fajaroh, 2003). Perubahan kurikulum telah terjadi beberapa kali, serta perubahan paling akhir adalah sinkron Peraturan Mendiknas ditetapkan kurikulum operasional Tingkat Satuan Pendidikan atau sekarang diklaim sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Pendidikan dikatakan bermutu jika proses pembelajaran berlangsung secara efektif, peserta didik (siswa) memperoleh pengalaman yang bermakna bagi dirinya, serta produk pendidikan adalah individu-individu yang berguna bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Selain itu peserta didik tidak selaras dalam aneka macam hal, terutama intelegensinya. Intelegensi adalah holistik kemampuan individu buat berfikir dan bertindak secara terarah serta memasak serta menguasai lingkungan secara efektif. Banyak siswa yang prestasi belajarnya kurang bukan disebabkan sang kemampuan intelegensi yang belum optimal. Tetapi hal ini lebih disebabkan kemampuan berfikir untuk memanfaatkan apa yang mereka ketahui atau diklaim pula menggunakan kemampuan metakognisi, kurang berkembang. 

Oleh karena itu tiga aspek penting dalam aplikasi pembelajaran yg saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, yaitu teaching of thinking, teaching for thinking, dan teaching about thinking harus terus ditumbuhkembangkan sehingga diperlukan metode pembelajaran yg menekankan pada pengalaman berfikir operasional formal yg memungkinkan seorang buat mempunyai tingkah laris masalah solving dan sebuah konsep pembelajaran sistematik atau seringkali disebut pula dengan metode pembelajaran learning cycle. Dengan adanya ke 2 penekanan ini diharapkan murid akan bisa membuatkan keterampilan metakognisinya sebagai akibatnya mengakibatkan prestasi belajarnya semakin tinggi. 

1. Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Konstuktivisme merupakan salah satu genre filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri ( Matthews, 1994). Pengetahuan bukanlah suatu imitasi menurut fenomena, pengetahuan selalu adalah dampak menurut suatu knstruksi kognitif dari fenomena yg terjadi melalui serangkaian kegiatan seseorang (siswa). Siswa membangun skema, kategori, konsep serta struktur pengetahuan yg diharapkan untuk pengetahuan. Pengetahuan bukanlah tentang hal-hal yang terlepas berdasarkan pengamat, tetapi merupakan kreasi insan yg dikonstruksikan menurut pengalaman atau dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus serta setiap kali terjadi reorganisasi atau rekonstruksi lantaran adanya suatu pemahaman yang baru. 

Menurut Von Glaserfeld dalam Paulinan Panen ( 2005 ) dikemukakan bahwa agar murid mampu mengkonstruksi pengetahuan maka diharapkan :
a. Kemampuan anak didik buat mengingat serta mengungkapkan pulang pengalaman, ini sangat penting karena pengetahuan dibuat berdasarkan hubungan individu anak didik dengan pengalaman-pengalaman tadi.
b. Kemampuan siswa buat membandingkan dan mengambil keputusan tentang persamaan dan disparitas suatu hal. Hal ini supaya murid bisa menarik hal yang umum dari pengalaman-pengalaman khusus sebagai akibatnya bisa membuat klasifikasi dan mengkonstruksi pengetahuannya.
c. Kemampuan siswa buat lebih menyukai pengalaman yg satu berdasarkan pengalaman yang lain, sehingga dapat dijadikan landaan bagi pembentukan pengetahuannya.

Dengan demikian maka pengajar wajib dapat menjembatani kepentingan tadi, serta menjadi konsekuensinya guru wajib dapat memilih metode-metode pembelajaran yg bisa membantu anak didik mengkonstruksi pengetahuan berdasakan penalaman-pengalaman belajar yang dilakukannya. Hal tersebut dapat dilakukan bila pengajar :
a. Membebaskan murid menurut ikatan beban kurikulum dan memperbolehkan murid buat berfokus pada ilham-ide menyeluruh.
b. Memberikan kewenangan dalam murid buat mengikuti minatnya, mencari keterkaitan, mereformulasi wangsit dan mencapai konklusi unik.
c. Berbagi fakta dengan murid mengenai kompleksitas kehidupan yang di dalamnya terdapat berbagai perspektif dan kebenaran merupakan interpretasi anak didik per siswa. ( Paulina Panen, 2005 )

2. Pembelajaran Problem Solving
Problem solving merupakan upaya individu atau gerombolan buat menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang sudah dimiliki sebelumnya pada rangka memenuhi tuntutan situasi yg tidak masuk akal. Jadi aktivitas persoalan solving diawali menggunakan konfrontasi serta berakhir jika sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan syarat perkara. Konsep konstruktivisme nampak kentara sebagai dasar pijakan metode pembelajaran duduk perkara solving ini.


Metode pemecahan kasus (problem solving) adalah penggunaan metode pada aktivitas pembelajaran dengan jalan melatih murid menghadapi aneka macam kasus baik itu perkara langsung atau perorangan maupun kasus grup buat dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya merupakan investigasi dan penemuan yg dalam dasarnya adalah pemecahan perkara. 

Problem solving mempunyai 5 asumsi primer :
a. Perseteruan sebagai pemandu, dalam hal ini pertarungan menjadi acuan konkret yg wajib menjadi perhatian anak didik. Bacaan serta materi diberikan sejalan menggunakan permasalahan. Pertarunga sebagai kerangka berpikir bagi anak didik dalam mengerjakan tugas.
b. Konflik sebagai kesatuan serta alat penilaian, di sini pertarungan diberikan sehabis tugas-tugas dan penerangan diberikan. Tujuan utamanya menaruh kesempatan pada siswa buat menerapkan pengetahuan yg telah diperoleh dalam memecahkan kasus.
c. Perseteruan sebagai model, di sini pertarungan adalah keliru satu contoh dan bagian menurut bahan belajar anak didik. Perseteruan dipakai buat menggambarkan teori, konsep atau prinsip serta dibahas pada diskusi antara pengajar dan anak didik.
d. Perseteruan sebagai sarana buat memfasilitasi terjadinya proses, pada hal ini fokusnya adalah akal budi kritis dalam hubungannya dengan perseteruan. Konflik sebagai alat untuk melatih siswa dalam bernalar serta berpikir kritis.
e. Perseteruan menjadi stimulus pada aktivitas belajar, dalam hal ini fokusnya merupakan pengembangan ketrampilan pemecahan masalah berdasarkan masalah-masalah serupa. Ketrampilan tidak diajarkan oleh pengajar tetapi ditemukan dan dikembangkan sendiri sang siswa melalui aktivitas pemecahan kasus ( Paulina Panen, 2005:86-87 )

Metode pembelajaran masalah solving merupakan salah satu metode pembelajaran yg mencerminkan atau dilandasi oleh filsafat konstrukstivisme.

3. Pembelajaran Learning Cycle
Salah satu tantangan besar yg dihadapi guru waktu ini yakni bagaimana membantu anak menyebarkan akal budi (thinking skills), melangkah berdasarkan pengalaman nyata ke berpikir tak berbentuk yang bisa menghasilkan “loncatan intuitif” melalui sebuah desain pembelajaran aktif. Piagetian-based education mengakui pentingnya menyiapkan lingkungan pada mana anak dapat melangkah menurut pengalaman konkret menuju ke menemukan konsep, dan mengaplikasikan konsep. Mengetahui sebuah objek atau peristiwa, tidak sesederhana melihatnya dan menggambarkannya. Mengetahui objek berarti berbuat terhadapnya, memodifikasinya, mentransformasi dan memahami proses transformasinya, serta menjadi konsekuensi dari pemahaman terhadap objek adalah mengkontruksinya.

Pembelajaran meliputi 3 hal utama yaitu liputan, konsep dan nilai. Fakta-fakta yg dieksplorasi harus bisa dikonseptualisasi buat melahirkan nilai-nilai yg dapat diaplikasikan pada kehidupan. Dengan demikian, saat anak belajar maka sesungguhnya diharapkan bisa melatih serta menyebarkan skill belajar (soft skill) yang mencakup self management skills, thinking skills, research skills, communication skills, social skills, serta masalah solving skills. 

Dengan semakin meningkatnya tantangan kehidupan pada masa depan, menuntut pengembangan teori dan daur belajar secara berkesinambungan. Siklus belajar yg dikembangkan pada sebuah sistem pembelajaran menentukan terbentuknya karakter yang dibutuhkan pada diri anak. Karakter berpikir yg kreatif serta membebaskan dapat sebagai modal primer bagi anak buat sebagai manusia mandiri dalam kehidupan masa depan yg kompetitif. Proses pembelajaran yang berkarakter, membiasakan anak belajar serta bekerja terencana dan sistematis, baik secara individual juga gerombolan dengan lingkungan yang menyediakan ruang bagi anak buat berkreasi dan mencipta. 

Untuk membangun karakter kreatif serta produktif menuju terciptanya kemandirian bagi anak, maka dikembangkan siklus belajar yang meliputi lima aspek pengalaman belajar sebagai berikut:
1) Exploring, merespon warta baru, mengeksplorasi informasi-kabar menggunakan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan menggunakan orang lain, atau menggali warta berdasarkan guru, ahli/pakar atau asal-sumber yg lain.
2) Planning, menyusun rencana kerja, mengidentifikasi indera dan bahan yang diperlukan, memilih langkah-langkah, desain karya serta planning lainnya.
3) Doing/acting, melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya dan melaporkan hasilnya, menuntaskan masalah.
4) Communicating, mengkomunikasikan/mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau output karyanya, sharing serta diskusi. 
5) Reflecting, mengevaluasi proses serta hasil yang telah dicapai, mencari kelemahan-kekurangan guna menaikkan efektivitas perencanaan

Siklus Belajar (Learning Cycle) merupakan suatu model pembelajaran yg berpusat dalam pembelajar (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-termin kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sebagai akibatnya pembelajar bisa menguasai kompetensi-kompetensi yg wajib dicapai dalam pembelajaran menggunakan jalan berperanan aktif. Learning Cycle dalam mulanya terdiri menurut fase-fase eksplorasi (exploration), sosialisasi konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application) (Karplus serta Their dalam Renner et al, 1988).

a. Fase exploration 
Pada termin eksplorasi, pembelajar diberi kesempatan buat memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi menggunakan lingkungan melalui kegiatan-aktivitas seperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau konduite sosial, dan lain-lain.

b. Fase concept introduction / Expalanation 
Pada fase explanation, pengajar wajib mendorong anak didik buat menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti serta penjelasan dari penerangan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. 

c. Fase concept application (elaboration)
Siswa menerapkan konsep serta ketrampilan dalam situasi baru melalui aktivitas-kegiatan seperti praktikum lanjutan serta problem solving.

Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan pada atas, dibutuhkan murid nir hanya mendengar liputan pengajar tetapi bisa berperan aktif untuk menggali serta memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Metode pembelajaran dilema solving akan bisa berhasil dengan baik apabila diterapkan bersama-sama menggunakan metode learning cycle. Paduan ke 2 metode ini akan membawa murid mencapai pengetahuannya dengan cara-cara yang sinkron menggunakan filsafat konstruktivisme.

4. Keterampilan Metakognisi
Metakognisi merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976 dan mengakibatkan poly perdebatan dalam pendefinisiannya. Flavell & Brown (Veenman, 2006) menyatakan bahwa metakognisi merupakan pengetahuan (knowledge) serta regulasi (regulation) pada suatu kegiatan kognitif seseorang dalam proses belajarnya. 

Namun belakangan ini, disparitas paling umum pada metakognisi merupakan memisahkan pengetahuan metakognisi berdasarkan keterampilan metakognisi. Pengetahuan metakognisi mengacu kepada pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional seorang pada penyelesaian masalah (Brown & DeLoache, 1978; Veenman, 2006). Sedangkan keterampilan metakognisi mengacu kepada keterampilan prediksi (prediction skills), keterampilan perencanaan (rencana skills), keterampilan monitroring (monitoring skills), dan keterampilan evaluasi (evaluation skills). 

Pengertian metakognisi yg dikemukakan sang para pakar di atas sangat majemuk, tetapi dalam hakekatnya memberikan penekanan dalam pencerahan berpikir seseorang mengenai proses berpikirnya sendiri. Keterampilan metakognisi berkaitan dengan keterampilan perencanaan, keterampilan prediksi, keterampilan monitoring, serta keterampilan evaluasi. 

Model duduk perkara solving dan learning cycle merupakan cara lain contoh pembelajaran inovatif yang dikembangkan berlandaskan paradigma konstruktivistik. Esensi dari model pembelajaran tadi adalah adanya reorientasi pembelajaran berdasarkan semula berpusat pada pengajar sebagai berpusat dalam pebelajar. Model masalah solving serta learning cycle memberikan peluang pemberdayaan potensi berpikir pebelajar dalam aktivitas-aktivitas pemecahan kasus serta pengambilan keputusan pada konteks kehidupan dunia nyata yg kompleks.

Kerangka Berfikir
Kerangka pemikiran pembelajaran masalah solving serta learning cycle merupakan menjadi upaya meningkatkan keterampilan metakognisi murid. 

Keterangan :
Keterampilan metakognisi murid adalah keterampilan berfikir pada berfikir, dimana peserta didik memahami dan paham akan kemampuan dirinya sendiri. Sehingga siswa bisa mengatur atau memanajemen dirinya sendiri dimana hal ini akan menghipnotis prestasi belajarnya. Dari bagan paradigma tadi bisa ditunjukkan bagaimana metode pembelajaran problem solving dan learning cycle dapat menaikkan keterampilan metakognisi anak didik yg pada akhirnya akan dapat menaikkan prestasi belajar murid sinkron menggunakan harapan KTSP.

Analisis Dan Sintesis
Pendidikan adalah proses yang sangat kompleks, keberhasilan terselenggaranya suatu proses pendidikan di pengaruhi oleh 3 (3) faktor. Pertama Raw input, Environmental input, dan Instrumental input. Artinya buat membuat suatu lulusan, maka hasil menurut hasil lulusan tadi sangat ditentukan sang ketiga faktor tersebut. Raw input herbi masukan bahan mentah. Dalam hal ini yang dimaksud bahan mentah adalah murid sebagai subyek serta obyek pembelajar. Environmental input berkaitan menggunakan faktor lingkungan dimana anak didik tadi melakukan proses belajar. Wujudnya mampu berupa lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis. Baik lingkungan sekolah, rakyat maupun lingkungan keluarga. Faktor ketiga merupakan Instrumental input yaitu berkaitan menggunakan wahana-wahana pendukung misalnya adanya pengajar, fasilitas serta sarana pendukung lainnya.

Keterampilan metakognisi merupakan bagian yang menjadi faktor keberhasilan pencapaian prestasi belajar murid sebagai persiapan output pembelajaran. Keterampilan metakognisi ini erat hubungannya dengan environmental input. Keterampilan ini bergantung dalam pengalaman berfikir anak didik menjadi faktor psikologis pada menghadapi pemasalahan-permasalahan pembelajaran yang ada menurut lingkungan.

Untuk meningkatkan keterampilan metakognisi ini dapat dilakukan dengan termin-tahap sebagai berikut : (a). Kenalan, yaitu murid dikenalkan pada materi pelajaran yang mana akan menyebabkan keingintahuan anak didik terhadap pelajaran, (b). Ajar, yaitu menyatakan cara buat memperoleh keterampilan menurut materi pelajaran dengan memberikan urutan langkah-langkah eksklusif serta apa yang wajib dilakukan pada setiap langkah, (c). Demonstrasi, menampakan keterampilan yg diperoleh menurut proses ajar dan langkah-langkah penyelesaian permasalahan merujuk berdasarkan contoh eksklusif, (d). Aplikasi, mengaplikasikan keterampilan yang diperoleh pada kehidupan sehari-hari, (e). Refleksi, siswa merefleksi mengenai keterampilan yg dipakai. 

Dan metode pembelajaran yg tepat buat merefleksikan tahapan-tahapan tadi yaitu metode pembelajaran learning cycle serta problem solving .

A. Analisis Berdasarkan Metode Pembelajaran Problem Solving
Pembelajaran sangat erat kaitannya menggunakan sebuah konflik yang setiap siswa wajib memecahkan pertarungan tersebut buat mencapai suatu proses belajar yg optimal serta prestasi belajar yang terbaik. Sehubungan dengan hal ini dilema solving adalah metode pembelajaran yang tepat.

Metode pembelajaran duduk perkara solving mempunyai sejumlah karateristik yg membedakannya menggunakan contoh pembelajaran yg lainnya yaitu 1) pembelajaran bersifat student centered, dua) pembelajaran terjadi dalam kelompok-kelompok mini , tiga) dosen atau pengajar berperan sebagai fasilitator dan moderator, 4) kasus sebagai fokus dan merupakan wahana buat berbagi ketrampilan duduk perkara solving, lima) liputan-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning). 

Problem solving mempunyai tahapan-tahapan pembelajaran mulai berdasarkan mengidentifikasi masalah, menentukan altenatif solusi, menganalisis masing-masing solusi dan aneka macam kemungkinannya, menentukan solusi, mengimplementasikan solusi tadi serta pada akhirnya mengevaluasi output yg ditimbulkan oleh solusi itu. Dari termin-termin inilah maka murid dituntut buat berfikir secara sistematis, aktif, serta solutif . 

Problem solving sangat herbi pembelajaran learning cycle. Hanya saja duduk perkara solving lebih menekankan pada solusi yang solutif dari perseteruan riil yang terjadi. Dengan kata lain pembelajaran persoalan solving bisa menguji pencerahan berfikir seseorang mengenai proses berpikirnya sendiri yang acapkali disebut menggunakan keterampilan metakognisi. Dimana hal ini dapat menaikkan prestasi belajar.

B. Analisis Berdasarkan Metode pembelajaran learning cycle
Tahap-tahap pembelajaran learning cycle terbagi menjadi tiga fase yaitu Fase exploration, yang dibutuhkan bisa menimbulkan ketidakseimbangan dalam struktur mental murid (cognitive disequilibrium) yg ditandai menggunakan keluarnya pertanyaan-pertanyaan yang menunjuk pada berkembangnya daya nalar taraf tinggi (high level reasoning) yg diawali menggunakan kata-istilah seperti mengapa dan bagaimana. Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa buat menempuh fase ke 2 yaitu fase concept introduction / Expalanation. Pada fase ini diperlukan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yg telah dimiliki pembelajar menggunakan konsep-konsep yg baru dipelajari melalui kegiatan-aktivitas yang membutuhkan daya logika misalnya menelaah sumber pustaka serta berdiskusi. Dan dalam fase terakhir yaitu fase concept application (elaboration), siswa diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-aktivitas misalnya duduk perkara solving (merampungkan persoalan-problem nyata yg berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat menaikkan pemahaman konsep serta motivasi belajar, karena pembelajar mengetahui penerapan nyata menurut konsep yg mereka pelajari. 

Dari tahapan-tahapan diatas menandakan bahwa proses pembelajaran learning cycle adalah cerminan dari tahapan-tahapan yg dapat meningkatkan keterampilan metakognisi. Tahapan exploration adalah wujud dari kenalan, tahapan concept introduction / Expalanation adalah ajar dan demonstrasi sedangkan dalam tahapan concept application (elaboration) adalah termin pelaksanaan serta refleksi. Sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar murid.

PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ATAU INOVASI PENDIDIKAN

Pembaharuan Pendidikan Atau Inovasi Pendidikan 
Pembaharuan pendidikan atau inovasi pendidikan merupakan konsep yang seringkali didengar pada dunia pendidikan Indonesia. Hal ini pula yg sejak lama sudah didambakan oleh warga . Usaha ke arah pembaharuan pendidikan dilakukan sang Departemen Pendidikan Nasional menggunakan berbagai cara, diantaranya melalui pengubahan kurikulum yg diadaptasi menggunakan perkembangan zaman (Fajaroh, 2003). Perubahan kurikulum sudah terjadi beberapa kali, serta perubahan paling akhir merupakan sinkron Peraturan Mendiknas ditetapkan kurikulum operasional Tingkat Satuan Pendidikan atau sekarang diklaim sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Pendidikan dikatakan bermutu apabila proses pembelajaran berlangsung secara efektif, siswa (siswa) memperoleh pengalaman yang bermakna bagi dirinya, dan produk pendidikan adalah individu-individu yg bermanfaat bagi warga dan pembangunan bangsa. Selain itu siswa tidak sama pada banyak sekali hal, terutama intelegensinya. Intelegensi merupakan keseluruhan kemampuan individu buat berfikir dan bertindak secara terarah serta memasak dan menguasai lingkungan secara efektif. Banyak siswa yg prestasi belajarnya kurang bukan ditimbulkan oleh kemampuan intelegensi yang belum optimal. Namun hal ini lebih disebabkan kemampuan berfikir buat memanfaatkan apa yang mereka ketahui atau dianggap juga dengan kemampuan metakognisi, kurang berkembang. 

Oleh karenanya tiga aspek penting pada pelaksanaan pembelajaran yg saling terkait dan nir dapat dipisahkan, yaitu teaching of thinking, teaching for thinking, serta teaching about thinking harus terus ditumbuhkembangkan sehingga diperlukan metode pembelajaran yang menekankan pada pengalaman berfikir operasional formal yg memungkinkan seseorang buat mempunyai tingkah laris problem solving serta sebuah konsep pembelajaran sistematik atau seringkali dianggap jua dengan metode pembelajaran learning cycle. Dengan adanya kedua fokus ini diperlukan murid akan bisa mengembangkan keterampilan metakognisinya sebagai akibatnya mengakibatkan prestasi belajarnya meningkat. 

1. Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Konstuktivisme merupakan galat satu aliran filsafat pengetahuan yg menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri ( Matthews, 1994). Pengetahuan bukanlah suatu imitasi menurut kenyataan, pengetahuan selalu merupakan akibat menurut suatu knstruksi kognitif dari fenomena yg terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang (anak didik). Siswa membentuk skema, kategori, konsep serta struktur pengetahuan yang dibutuhkan buat pengetahuan. Pengetahuan bukanlah tentang hal-hal yang terlepas dari pengamat, tetapi adalah ciptaan insan yang dikonstruksikan menurut pengalaman atau global sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus dan setiap kali terjadi reorganisasi atau rekonstruksi karena adanya suatu pemahaman yg baru. 

Menurut Von Glaserfeld dalam Paulinan Panen ( 2005 ) dikemukakan bahwa agar anak didik mampu mengkonstruksi pengetahuan maka dibutuhkan :
a. Kemampuan murid buat mengingat serta menyampaikan kembali pengalaman, ini sangat penting karena pengetahuan dibentuk dari interaksi individu anak didik dengan pengalaman-pengalaman tadi.
b. Kemampuan siswa buat membandingkan dan merogoh keputusan mengenai persamaan dan disparitas suatu hal. Hal ini agar siswa bisa menarik hal yang generik dari pengalaman-pengalaman spesifik sehingga dapat membuat klasifikasi serta mengkonstruksi pengetahuannya.
c. Kemampuan anak didik buat lebih menyukai pengalaman yang satu menurut pengalaman yang lain, sehingga bisa dijadikan landaan bagi pembentukan pengetahuannya.

Dengan demikian maka pengajar harus bisa menjembatani kepentingan tersebut, serta menjadi konsekuensinya guru harus dapat menentukan metode-metode pembelajaran yg bisa membantu murid mengkonstruksi pengetahuan berdasakan penalaman-pengalaman belajar yang dilakukannya. Hal tersebut bisa dilakukan bila guru :
a. Membebaskan anak didik menurut ikatan beban kurikulum serta memperbolehkan murid buat serius pada inspirasi-ide menyeluruh.
b. Memberikan kewenangan pada anak didik untuk mengikuti minatnya, mencari keterkaitan, mereformulasi ide dan mencapai konklusi unik.
c. Berbagi keterangan menggunakan siswa mengenai kompleksitas kehidupan yg pada dalamnya masih ada aneka macam perspektif serta kebenaran adalah interpretasi murid per murid. ( Paulina Panen, 2005 )

2. Pembelajaran Problem Solving
Problem solving merupakan upaya individu atau grup buat menemukan jawaban menurut pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya pada rangka memenuhi tuntutan situasi yg tidak lumrah. Jadi kegiatan persoalan solving diawali dengan konfrontasi serta berakhir apabila sebuah jawaban sudah diperoleh sesuai menggunakan kondisi perkara. Konsep konstruktivisme nampak jelas menjadi dasar pijakan metode pembelajaran masalah solving ini.


Metode pemecahan kasus (problem solving) merupakan penggunaan metode pada kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih murid menghadapi banyak sekali masalah baik itu kasus langsung atau perorangan maupun kasus kelompok buat dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya merupakan pemeriksaan serta penemuan yg dalam dasarnya merupakan pemecahan masalah. 

Problem solving memiliki 5 perkiraan primer :
a. Pertarunga menjadi pemandu, dalam hal ini pertarungan sebagai acuan konkret yang wajib sebagai perhatian siswa. Bacaan dan materi diberikan sejalan dengan pertarungan. Konflik menjadi paradigma bagi siswa pada mengerjakan tugas.
b. Perseteruan sebagai kesatuan dan alat penilaian, pada sini pertarungan diberikan sesudah tugas-tugas serta penerangan diberikan. Tujuan utamanya memberikan kesempatan dalam murid buat menerapkan pengetahuan yg sudah diperoleh dalam memecahkan masalah.
c. Pertarunga sebagai model, di sini pertarungan merupakan salah satu contoh dan bagian dari bahan belajar siswa. Perseteruan dipakai buat menggambarkan teori, konsep atau prinsip serta dibahas pada diskusi antara pengajar dan murid.
d. Pertarunga sebagai wahana buat memfasilitasi terjadinya proses, pada hal ini fokusnya adalah kepandaian kritis dalam hubungannya dengan perseteruan. Pertarunga sebagai indera buat melatih murid dalam bernalar serta berpikir kritis.
e. Permasalahan sebagai stimulus pada kegiatan belajar, dalam hal ini fokusnya merupakan pengembangan ketrampilan pemecahan perkara dari masalah-masalah serupa. Ketrampilan tidak diajarkan oleh pengajar namun ditemukan serta dikembangkan sendiri oleh anak didik melalui kegiatan pemecahan masalah ( Paulina Panen, 2005:86-87 )

Metode pembelajaran problem solving adalah keliru satu metode pembelajaran yang mencerminkan atau dilandasi sang filsafat konstrukstivisme.

3. Pembelajaran Learning Cycle
Salah satu tantangan akbar yg dihadapi guru waktu ini yakni bagaimana membantu anak membuatkan akal budi (thinking skills), melangkah dari pengalaman konkret ke berpikir abstrak yang dapat membuat “loncatan intuitif” melalui sebuah desain pembelajaran aktif. Piagetian-based education mengakui pentingnya menyiapkan lingkungan di mana anak bisa melangkah dari pengalaman nyata menuju ke menemukan konsep, serta mengaplikasikan konsep. Mengetahui sebuah objek atau peristiwa, nir sesederhana melihatnya serta menggambarkannya. Mengetahui objek berarti berbuat terhadapnya, memodifikasinya, mentransformasi dan tahu proses transformasinya, serta sebagai konsekuensi berdasarkan pemahaman terhadap objek merupakan mengkontruksinya.

Pembelajaran meliputi tiga hal primer yaitu keterangan, konsep dan nilai. Fakta-liputan yang dieksplorasi harus dapat dikonseptualisasi buat melahirkan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan pada kehidupan. Dengan demikian, waktu anak belajar maka sesungguhnya diharapkan bisa melatih serta mengembangkan skill belajar (soft skill) yang meliputi self management skills, thinking skills, research skills, communication skills, social skills, serta duduk perkara solving skills. 

Dengan semakin meningkatnya tantangan kehidupan pada masa depan, menuntut pengembangan teori serta daur belajar secara berkesinambungan. Siklus belajar yang dikembangkan pada sebuah sistem pembelajaran menentukan terbentuknya karakter yang diharapkan dalam diri anak. Karakter berpikir yang kreatif serta membebaskan bisa menjadi modal primer bagi anak buat sebagai insan mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif. Proses pembelajaran yg berkarakter, membiasakan anak belajar serta bekerja berkala dan sistematis, baik secara individual juga gerombolan dengan lingkungan yang menyediakan ruang bagi anak buat berkreasi dan mencipta. 

Untuk membentuk karakter kreatif serta produktif menuju terciptanya kemandirian bagi anak, maka dikembangkan siklus belajar yang meliputi 5 aspek pengalaman belajar menjadi berikut:
1) Exploring, merespon fakta baru, mengeksplorasi liputan-warta menggunakan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan menggunakan orang lain, atau menggali berita dari guru, pakar/ahli atau sumber-sumber yg lain.
2) Planning, menyusun rencana kerja, mengidentifikasi indera serta bahan yg diharapkan, memilih langkah-langkah, desain karya serta planning lainnya.
3) Doing/acting, melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, menciptakan karya serta melaporkan hasilnya, menyelesaikan masalah.
4) Communicating, mengkomunikasikan/mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, inovasi, atau output karyanya, sharing serta diskusi. 
5) Reflecting, mengevaluasi proses dan output yg sudah dicapai, mencari kelemahan-kekurangan guna mempertinggi efektivitas perencanaan

Siklus Belajar (Learning Cycle) merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian termin-termin aktivitas (fase) yg diorganisasi sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yg harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Learning Cycle pada mulanya terdiri berdasarkan fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), serta aplikasi konsep (concept application) (Karplus dan Their pada Renner et al, 1988).

a. Fase exploration 
Pada termin eksplorasi, pembelajar diberi kesempatan buat memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi menggunakan lingkungan melalui aktivitas-kegiatan misalnya praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan kenyataan alam, mengamati kenyataan alam atau konduite sosial, serta lain-lain.

b. Fase concept introduction / Expalanation 
Pada fase explanation, guru harus mendorong siswa buat mengungkapkan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi berdasarkan penerangan mereka, serta mengarahkan kegiatan diskusi. 

c. Fase concept application (elaboration)
Siswa menerapkan konsep serta ketrampilan dalam situasi baru melalui aktivitas-aktivitas seperti praktikum lanjutan serta persoalan solving.

Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus misalnya dipaparkan di atas, dibutuhkan siswa tidak hanya mendengar kabar pengajar namun dapat berperan aktif buat menggali serta memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Metode pembelajaran persoalan solving akan dapat berhasil menggunakan baik jika diterapkan beserta-sama menggunakan metode learning cycle. Paduan kedua metode ini akan membawa siswa mencapai pengetahuannya dengan cara-cara yang sinkron dengan filsafat konstruktivisme.

4. Keterampilan Metakognisi
Metakognisi merupakan suatu kata yang diperkenalkan oleh Flavell dalam tahun 1976 dan menimbulkan banyak perdebatan dalam pendefinisiannya. Flavell & Brown (Veenman, 2006) menyatakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan (knowledge) serta regulasi (regulation) dalam suatu kegiatan kognitif seseorang dalam proses belajarnya. 

Namun belakangan ini, perbedaan paling umum pada metakognisi merupakan memisahkan pengetahuan metakognisi dari keterampilan metakognisi. Pengetahuan metakognisi mengacu pada pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, serta pengetahuan kondisional seseorang pada penyelesaian perkara (Brown & DeLoache, 1978; Veenman, 2006). Sedangkan keterampilan metakognisi mengacu kepada keterampilan prediksi (prediction skills), keterampilan perencanaan (rencana skills), keterampilan monitroring (monitoring skills), serta keterampilan evaluasi (evaluation skills). 

Pengertian metakognisi yang dikemukakan oleh para pakar pada atas sangat majemuk, namun dalam hakekatnya memberikan fokus pada pencerahan berpikir seorang tentang proses berpikirnya sendiri. Keterampilan metakognisi berkaitan dengan keterampilan perencanaan, keterampilan prediksi, keterampilan monitoring, dan keterampilan evaluasi. 

Model problem solving serta learning cycle adalah alternatif model pembelajaran inovatif yang dikembangkan berlandaskan paradigma konstruktivistik. Esensi dari model pembelajaran tadi adalah adanya reorientasi pembelajaran menurut semula berpusat pada pengajar sebagai berpusat pada pebelajar. Model dilema solving dan learning cycle memberikan peluang pemberdayaan potensi berpikir pebelajar pada kegiatan-kegiatan pemecahan perkara dan pengambilan keputusan dalam konteks kehidupan global konkret yang kompleks.

Kerangka Berfikir
Kerangka pemikiran pembelajaran dilema solving serta learning cycle adalah menjadi upaya menaikkan keterampilan metakognisi murid. 

Keterangan :
Keterampilan metakognisi anak didik adalah keterampilan berfikir pada berfikir, dimana peserta didik memahami serta paham akan kemampuan dirinya sendiri. Sehingga siswa bisa mengatur atau memanajemen dirinya sendiri dimana hal ini akan mensugesti prestasi belajarnya. Dari bagan paradigma tersebut dapat ditunjukkan bagaimana metode pembelajaran problem solving serta learning cycle bisa menaikkan keterampilan metakognisi anak didik yg pada akhirnya akan dapat menaikkan prestasi belajar anak didik sesuai dengan harapan KTSP.

Analisis Dan Sintesis
Pendidikan adalah proses yang sangat kompleks, keberhasilan terselenggaranya suatu proses pendidikan di pengaruhi oleh tiga (3) faktor. Pertama Raw input, Environmental input, dan Instrumental input. Artinya buat menghasilkan suatu lulusan, maka hasil menurut output lulusan tersebut sangat ditentukan oleh ketiga faktor tadi. Raw input herbi masukan bahan mentah. Dalam hal ini yg dimaksud bahan mentah merupakan murid sebagai subyek dan obyek pembelajar. Environmental input berkaitan menggunakan faktor lingkungan dimana murid tersebut melakukan proses belajar. Wujudnya mampu berupa lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis. Baik lingkungan sekolah, warga juga lingkungan famili. Faktor ketiga merupakan Instrumental input yaitu berkaitan menggunakan wahana-sarana pendukung misalnya adanya pengajar, fasilitas serta wahana pendukung lainnya.

Keterampilan metakognisi adalah bagian yang sebagai faktor keberhasilan pencapaian prestasi belajar anak didik sebagai persiapan output pembelajaran. Keterampilan metakognisi ini erat hubungannya menggunakan environmental input. Keterampilan ini bergantung pada pengalaman berfikir murid menjadi faktor psikologis pada menghadapi pemasalahan-konflik pembelajaran yg timbul dari lingkungan.

Untuk menaikkan keterampilan metakognisi ini bisa dilakukan dengan tahap-termin menjadi berikut : (a). Kenalan, yaitu murid dikenalkan dalam materi pelajaran yg mana akan mengakibatkan keingintahuan anak didik terhadap pelajaran, (b). Ajar, yaitu menyatakan cara buat memperoleh keterampilan menurut materi pelajaran dengan menaruh urutan langkah-langkah eksklusif dan apa yg harus dilakukan pada setiap langkah, (c). Demonstrasi, menampakan keterampilan yg diperoleh berdasarkan proses ajar dan langkah-langkah penyelesaian permasalahan merujuk berdasarkan contoh eksklusif, (d). Aplikasi, mengaplikasikan keterampilan yg diperoleh pada kehidupan sehari-hari, (e). Refleksi, siswa merefleksi tentang keterampilan yg dipakai. 

Dan metode pembelajaran yg tepat buat merefleksikan tahapan-tahapan tersebut yaitu metode pembelajaran learning cycle serta problem solving .

A. Analisis Berdasarkan Metode Pembelajaran Problem Solving
Pembelajaran sangat erat kaitannya menggunakan sebuah konflik yang setiap siswa wajib memecahkan konflik tadi untuk mencapai suatu proses belajar yang optimal serta prestasi belajar yg terbaik. Sehubungan menggunakan hal ini persoalan solving adalah metode pembelajaran yang tepat.

Metode pembelajaran masalah solving mempunyai sejumlah karateristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yg lainnya yaitu 1) pembelajaran bersifat student centered, 2) pembelajaran terjadi pada gerombolan -kelompok kecil, tiga) dosen atau guru berperan sebagai fasilitator serta moderator, 4) masalah menjadi fokus dan adalah sarana buat mengembangkan ketrampilan problem solving, lima) berita-berita baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning). 

Problem solving memiliki tahapan-tahapan pembelajaran mulai berdasarkan mengidentifikasi kasus, memilih altenatif solusi, menganalisis masing-masing solusi serta aneka macam kemungkinannya, menentukan solusi, mengimplementasikan solusi tadi serta dalam akhirnya mengevaluasi hasil yang ditimbulkan sang solusi itu. Dari termin-termin inilah maka murid dituntut buat berfikir secara sistematis, aktif, dan solutif . 

Problem solving sangat herbi pembelajaran learning cycle. Hanya saja dilema solving lebih menekankan dalam solusi yang solutif dari konflik riil yang terjadi. Dengan kata lain pembelajaran dilema solving dapat menguji kesadaran berfikir seseorang mengenai proses berpikirnya sendiri yg acapkali diklaim dengan keterampilan metakognisi. Dimana hal ini dapat menaikkan prestasi belajar.

B. Analisis Berdasarkan Metode pembelajaran learning cycle
Tahap-tahap pembelajaran learning cycle terbagi sebagai 3 fase yaitu Fase exploration, yg diperlukan bisa menimbulkan ketidakseimbangan pada struktur mental murid (cognitive disequilibrium) yg ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yg menunjuk dalam berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yg diawali dengan kata-istilah misalnya mengapa dan bagaimana. Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus adalah indikator kesiapan murid buat menempuh fase ke 2 yaitu fase concept introduction / Expalanation. Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang sudah dimiliki pembelajar menggunakan konsep-konsep yg baru dipelajari melalui aktivitas-kegiatan yg membutuhkan daya nalar misalnya mengkaji asal pustaka dan berdiskusi. Dan dalam fase terakhir yaitu fase concept application (elaboration), murid diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui aktivitas-aktivitas misalnya dilema solving (menyelesaikan masalah-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep bisa meningkatkan pemahaman konsep serta motivasi belajar, karena pembelajar mengetahui penerapan nyata dari konsep yg mereka pelajari. 

Dari tahapan-tahapan diatas menerangkan bahwa proses pembelajaran learning cycle adalah cerminan menurut tahapan-tahapan yang bisa menaikkan keterampilan metakognisi. Tahapan exploration merupakan wujud berdasarkan kenalan, tahapan concept introduction / Expalanation adalah ajar dan demonstrasi sedangkan pada tahapan concept application (elaboration) adalah termin aplikasi serta refleksi. Sehingga dapat menaikkan prestasi belajar anak didik.

EKSISTENSI DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Eksistensi Dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam
Pengertian Cara Belajar
Dalam kamus bahasa Indonesia, cara merupakan jalan ( anggaran, sistem ) melakukan ( berbuat ) sesuatu, gaya, ragam, norma kebiasaan, usaha atau ikhtiar. Sedangkan belajar merupakan suatu proses bisnis yang pada lakukan seseorang buat memperoleh suatu perubahan tingkah laris yang baru secara holistik, menjadi hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi menggunakan lingkungannya.

Dengan demikian cara belajar anak didik yang di maksud sang penulis, merupakan perilaku individu murid yang lebih spesifik berkaitan menggunakan bisnis yg sedang atau telah biasa dilakukan sang murid buat memperoleh ilmu pengetahuan. 

Pada umumnya setiap orang pada melakukan suatu usaha terpengaruh oleh efisiensi. Efisiensi adalah sebuah pengertaian atau konsepsi yanag mengggambarkan perbandingan terbaik antara suatu usaha menggunakan hasilnya, yaitu kalau output yg diinginkan dapat tercapai menggunakan bisnis terkecil, atau menggunakan usaha eksklusif memberikan kwalitas dan kwantitas output terbesar

Pengertian tersebut bisa diterapkan pada banyak sekali bidang kegiatan termasuk usaha belajar. Apabila diterapkan dalam belajar, maka terdapatlah efisiensi belajar, yaitu perbandingan terbaik antara suatu bisnis belajar menggunakan hasilnya yang dicapai. ( The Liang Gie, 1985:14 ). 

Adapun dari Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam ( 1980 : 220 ) mengartikan cara belajar yang efisien, yaitu cara belajar yg tepat, simpel, irit, terarah, sinkron menggunakan situasi dan tuntutan yang ada guna mencapai tujuan belajar. 

Masing masing anak didik memiliki potensi, kemampuan, situasi, kondisi dan latar belakang individu yg berbeda beda. Dengan istilah lain, murid itu adalah individualitas yang unik. Sehingga cara belajarpun sebagai berbeda beda pula sesuai menggunakan apa adanya murid. Tugas siswa selanjutnya adalah mengembangkan dirinya, sehingga menemukan cara belajar yg cocok bagi dirinya. Bimbingan guru pada hal ini amat di perlukan. Dengan anugerah bimbingan menurut guru, anak didik akan mengenal dirinya dan segala yg memungkinkan dirinya bisa berkembang secara utuh dan menemukan gaya belajarnya sendiri. Penemuan itu wajib secepatnya dia peroleh karena tuntutan belajar itu makin usang makin semakin tinggi serta makin kompleks. 

Supaya cara belajar yg efisien tersebut dapat pada terapkan pada masing masing murid, maka murid perlu buat terus dimotivasi baik secara mental maupun psikomotorik sang guru atau orang tua. Lantaran Syaiful Bahri Djamarah (2002 : 9 ) menjelaskan, bahwa rahasia sukses belajar terletak dalam pemikiran sikap mental cendekia serta satu kata kunci, yaitu penguasaan cara belajar yang baik menjadi penuntun ke arah dominasi ilmu yg optimal.

Setelah anak didik dapat memilih serta memposisikan dirinya pada kondisi yang kondusif, maka siswa perlu menggunakan cara belajar yang efektif.

Berdasarkan syarat belajarnya, cara belajar mencakup cara belajar pada tempat tinggal , di sekolah serta cara belajar beserta (kelompok)

a. Cara belajar berdikari di rumah
1. Pemenuhan fasilitas serta perabot belajar
Fasilitas serta perabot belajar merupakan indera perlengkapan belajar yang krusial untuk dipenuhi oleh seseorang pelajar, lantaran bila nir terpenuhi bisa menimbulkan dampak negatif bagi kelancaran proses belajar. Proses belajar dapat berhenti dan setidaknya mengganggu motivasi dan konsentrasi pada belajar.

Fasilitas belajar ini berdasarkan The Liang Gie (1985 :43), terdiri menurut peralatan tulis serta perabot buat kamar yaitu meja, kursi dan lemari kitab .

2. Mengatur waktu belajar
Agar belajar bisa berjalan menggunakan baik serta berhasil, perlulah murid mempunyai jadwal yg baik serta bisa melaksanakannya dengan teratur serta disiplin. Adapun cara buat menciptakan jadwal yg baik, adalah :

3. Membaca buku
Kegiatan membaca merupakan aktivitas yang paling banyak dilakukan selama belajar. Dan persoalannya yg primer saat beliau sudah dapat membaca artinya bagaimana cara membaca yang baik serta efisien.

Hary dexter Kitson dalam bukunya How to use Your Mind, Yang dikutip the Liang Gie (1985; 94), mengemukakan ketentuan-ketentuan mengenai reading hygiene :
a. Sewaktu membaca hendaknya pembaca sekali-kali memejamkan matanya atau melihat ke loka yg jauh.
b. Cahaya penerang hendaknya datang berdasarkan arah belakang
c. Pada pagina buku tidak masih ada bayangan
d. Buku dipegang oleh tangan serta nir terletak mendatar diatas permukaan meja.

Terhadap ketentuan-ketentuan diatas ditambahkan hal-hal berikut ini 
e. Ada cahaya penerangan yang cukup, tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang sebagai akibatnya menyilaukan dan bergetar.
f. Jarak antara mata serta yg dibaca kira-kira 25-30 cm
g. Tidak sembari tiduran
h. Beristirahat sementara waktu, kira-kira 1/4 jam sehabis membaca selama satu sampai satu setengah jam.

Langkah pertama (survei), siswa mengusut atau meneliti secara singkat semua struktur teks. Tujuannya agar anak didik mengetahui panjangnya teks, judul bagian, judul sub bagian, istilah serta kata kunci, serta sebagainya. Dalam melakukan survei ini siswa dianjurkan menyiapkan pensil, kertas dan indera pembuat ciri, misalnya stabilo buat menandai bagian-bagian eksklusif yg krusial.

Langkah kedua (question), anak didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kentara, singkat serta relevan menggunakan bagian-bagian teks yg sudah ditandai dalam langkah pertama.

Langkah yang ketiga (Read), siswa membaca secara aktif pada rangka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun. Membaca secara aktif berarti membaca yg difokuskan pada paragraf-paragraf yg diperkirakan relevan dengan pertanyaan tadi.

Langkah selanjutnya recite, siswa menyebutkan lagi jawaban atas pertanyaan yg sudah tersusun.
Dan langkah terakhir review, siswa meninjau ulang seluruh pertanyaan dan jawaban secara singkat. (Muhibbin Syah, 2004: 141). Apabila materi telah tersusun pada sebuah modul, maka hal ini lebih memudahkan bagi siswa, karena materi telah tersusun pada sebuah kompendium, tetapi buat menguatkan pemahaman serta memotivasi keingintahuan tentang materi itu, maka boleh menggunakan metode tersebut.

4. Membuat Ringkasan
Kegiatan ini tidak kalah pentingnya berdasarkan seluruh aktivitas belajar anak didik. Siswa menciptakan kompendium merupakan bertujuan buat memudahkannya pada menghafal dan mengulangi pelajaran.

Adapun langkah-langkah membuat kompendium yang baik, merupakan :
a. Membaca pelajaran yg akan diringkas dengan penuh perhatian, pengertian dan konsentrasi sembari memberi pertanda-tanda pada hal-hal yg dipercaya pokok serta penting. Dalam hal ini murid dapat menggarisbawahi kalimat-kalimat penting atau memakai stabilo atau menuliskan kata-istilah kunci pada pinggir paragraf.
b. Membuat kerangka kompendium dengan membaca sekali lagi serta menuliskan pada atas kertas hal-hal yg sudah ditandai.
c. Membaca kalimat-kalimat yang telah ditulis di kertas tersebut sambil menyelipkan istilah-istilah atau pertanda-tanda penghubung yg perlu, sehingga terdapat pertalian yang erat antara kalimat-kalimat itu.
d. Kalu masih tebal halaman luas serta banyak, maka tulisan tersebut bisa dipersempit menggunakan mengambil utama-pokoknya saja serta menghilangkan hal-hal yang dipercaya kecil atau kurang penting. (Judi Al Falansani serta Fauzan Naif,2002: 38).

5. Menghafal Bahan Pelajaran
Dalam belajar, menghafal adalah salah satu aktivitas pada rangka penguasaan bahan pelajaran.

Ada beberapa syarat buat bisa menghafal menggunakan baik, yaitu:
a. Menyadari sepenuhnya tujuan belajar
b. Mengetahui benar -betul mengenai makna bahan yang dihafal
c. Mencurahkan perhatian sepenuhnya sewaktu menghafal
d. Menghafal secara teratur sesuai kondisi badan yang sebaik-baiknya dan daya serap otak terhadap bahan yg harus dihafal. (Slamento, 1995: 86).

Sedangkan berkaitan menggunakan metode menghafal supaya sesuai menggunakan karakter siswa dibagi menjadi tiga macam :
a. Menghafal melalui pandangan. Bahan pelajaran dibaca pada dalam batin penuh perhatian sambil otak bekerja buat mengingat-jangan lupa. Dapat jua dengan cara menciptakan catatan akbar yg menarik, lalu disampingkan atau ditempelkan pada loka-tempat yg sering dicermati.
b. Menghafal menggunakan telinga melalui penyimakan sendiri. Siswa dapat memakai cara lain yang bertujuan sama, seperti menyuruh temannya membacakan ringkasan atau mendengarkan rekaman kaset yg dibuat sendiri.
c. Menghafal malalui gerakan-gerakan tangan, yatu menggunakan menulis-nulis kompendium berulang-ulang hingga hafal atau menggerakkan jari tangan sambil berfikir.

Ada pula metode yg lain, yaitu metode cantol, metode lokasi, akronim serta kalimat-kalimat kreatif 

Metode cantol digunakan buat menghafal daftar apa saja. Caranya, yaitu menggunakan mencocokkan angka-angka menggunakan istilah-kata berirama sama atau petunjuk-petunjuk visual tertentu. Contohnya paku mirip dengan bunyi satu dan paku menyerupai nomor satu.

Metode lokasi adalah metode yg menggunakan loka yang paling dikenal dan paling mengesankan menjadi contoh (1) pendahuluan tentang hal yg akan dipelajari (dituliskan di pintu depan), (2) Tombol lampu membicarakan dan meyoroti mengenai karakteristik-ciri khusus suatu informasi, konsep atau suatu prinsip pada materi yang sedang dipelajari, dan seterusnya.

Akronim atau singkatan adalah istilah yang dibentuk dari alfabet atau huruf-alfabet awal atau masing-masing bagian menurut sekelompok kata atau istilah adonan Misalnya, Program Pembangunan Lima Tahun di Indonesia disebut PELITA. PSSI merupakan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Sedangkan kalimat-kalimat kreatif digunakan buat menghafal kata-kata yang berurutan, model : buat menghafal susunan planet maka bisa menggunakan kalimat kreatif yaitu Memainkan Violin Bisa Memunculkan Jalinan Suara Unik Tetapi Pasti (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Uranus, Neptunus, Pluto).

6. Mengulangi Bahan Pelajaran
Siswa sepulang sekolah jangan lupa buat mengulangi bahan pelajarannya pada tempat tinggal , karena nir semua bahan ajar yg disampaikan guru terkesan dengan baik.

Cara mengulangi bahan pelajaran adalah menggunakan cara membaca kembali catatan yang sudah ditulis ketika guru sedang memperlihatkan pelajran, atau bila bahan pelajaran berupa tatacara, cara menghafalnya merupakan menggunakan cara mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari supaya pelajaran tetap pada ingatan.

7. Mengerjakan Tugas
Selama belajar, murid tidak akan pernah terlepas dari keharusan mengerjakan tugas-tugas belajar, baik itu tugas harian, pekerjaan tempat tinggal , tugas semesteran, tugas grup maupun tugas individu. Siswa wajib mengerjakan sinkron perintah pengajar menggunakan sempurna waktu. Mengabaikan tugas tadi boleh jadi murid akan menerima sangsi berdasarkan guru.

8. Persiapan Menghadapi Ujian
Dalam menghadapi ujian, murid wajib mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah-kasus perbaikan buat mengingat kembali bahan-bahan yg telah dipelajari dengan cara membaca balik , memperbaiki catatan, menciptakan ikhtisar dan menyusun pengetahuan yang lengkap serta akhirnya tinggal menghafal. Pada waktu-saat menjelang ujian siswa usahakan menghindari belajarterlalu poly karena dapat mengganggu kondisi kesehatan. Siswa juga nir boleh lupa mempersiapkan semua indera tulis buat kelancaran ujian.

9. Menempuh Ujian
Setelah siswa melaksanakan persiapan menghadapi ujian dengan matang, selanjutnya sampailah dalam saat ujian. Maka pada ketika hari ujian, siswa seharusnya datang lebih awal serta menunggu dengan tenang. Masuklah dengan tertib dan duduk di tempat yang sudah dipengaruhi, kemudian baca dan pahami petunjuk soal dengan baik dan menjawabnya sesuai petunjuk tadi. Jangan lupa murid memperhitungkan saat yg disediakan, supaya lebih berhemat ketika soal-soal yg mudah usahakan dikerjakan lebih dahulu. Tulisan wajib kentara, baik serta rapi. Apabila telah terselesaikan murid harus mempertimbangkan lagi apakah jawaban yang sudah dikerjakan sesuai menggunakan permintaannya. Segera kumpulkan jawaban, bila ketika ujian sudah habis.

Siswa dalam menempuh ujian haruslah memiliki rasa percaya diri yg tinggi. Dan rasa percaya diri itu ada saat mereka melakukan persiapan yang matang jauh sebelum ujian dan penyempurnaan waktu mendekati ujian. Sehingga nir ada kecurangan-kecurangan misalnya menyontek atau melihat pekerjaan orang.

b. Cara Belajar pada Sekolah
Adapun beberapa hal yang berkenaan dengan cara belajar yg dilakukan oleh anak didik pada sekolah.

1. Masuk kelas sempurna waktu
Masuk kelas sempurna ketika adalah suatu sikap mental yang poly mendatangkan keuntungan. Pengajar memuji lantaran disiplin, kawan-mitra tidak terganggu ketika sedang memperhatikan pelajaran guru, konsentrasi pun akan terpelihara menggunakan baik. Kondisi tubuh akan damai, jauh berdasarkan keringat dan alam pikiran murid sudah siap menerima pelajaran menurut pengajar Oleh karenanya kedisiplinan masuk kelas mempengaruhi keberhasilan belajar murid.

2. Memperhatikan penerangan guru
Setelah pelajaran dimulai, siswa harus sudah siap buat memperhatikan seluruh pelajaran pengajar, yaitu dengan melihat mobilitas-geriknya, mendengarkan penjelasannya serta jangan lupa menulis kata-kata penting berdasarkan penerangan itu.

3. Bertanya tentang hal-hal yang belum jelas dan menjawab setiap pertanyaan dari pengajar.
Bertanya tentang hal yang belum kentara adalah galat satu cara buat bisa mengerti bahan pelajaran yg belum dimengerti. Siswa jangan memalukan buat bertanya kepada pengajar mengenai bahan pelajaran atau informasi guru yg belum kentara, karena malu akan Mengganggu dominasi bahan yang akan diterima dari pengajar dalam pertemuan yg akan tiba. Bertanyalah menggunakan spesifik jangan berbelit-belit, bila perlu pertanyaan ditulis terlebih dahulu dengan singkat serta kentara, kemudian dibacakan atau dihafalkan.

Berkaitan menggunakan semua pertanyaan yang diutarakan sang pengajar pada ketika proses belajar mengajar, murid wajib berani menjawab semua pertanyaan itu dengan baik dan jelas sebagai bukti bahwa dirinya memperhatikan pelajaran. Cara menjawabnya menggunakan sistematis sinkron apa yg sudah diterangkan oleh guru dengan bahasa yg sederhana dan mudah dimengerti.

4. Memanfaatkan ketika istirahat
Di sekolah terdapat bebarapa ketika buat istirahat agar syarat anak didik segar pulang. Menghilangkan kelelahan mata serta pengalihan konsentrasi anak didik buat ad interim. Untuk itu anak didik harus memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan cara bersantai, mengarahkan pandangan mata ke angkasa biru, mengerak-gerakkan badan agar dapat memperlancar aliran darah pada pada tubuh, sebagai akibatnya rasa lelah dan rasa kantuk dapat diusir dengan segera. Apabila haus atau lapar maka segera pergi ke kantin buat minum atau makan secukupnya supaya kesehatan tubuh tetap terjaga. Atau ketika istirahat itu dimanfaatkan buat berkunjung ke perpustakaan.

5. Memanfaatkan perpustakaan sekolah
Perpustakaan sekolah memiliki 3 manfaat, yaitu :
a. Sebagai asal belajar,
b. Sebagai asal kabar,
c. Sebagai asal rekreasi (Choiruddin Hadhiri Suprapto, 2003 : 68)

Perpustakaan bisa dipakai buat memperdalam pemahaman serta pengahayatan pengetahuan yg diperoleh anak didik berdasarkan pengajar, memeperluas cakrawala pengetahuan serta keterampilan siswa serta buat menaruh hiburan, memupuk keterampilan, nilai dan sikap hidup melaluli koleksi ringan dan segar,

Sedangkan cara memanfaatkan perpustakaan tergantung juga pada kesempatan atau waktu-saat eksklusif, contohnya ketika jam-jam istirahat kalu masih ada waktu lebih menurut kepentingan yang lain, seperti makan serta minum, jam-jam kosong dan apabila ada tugas dari guru.

c. Cara Belajar Bersama (kelompok)
Belajar bersama bisa dilakukan di tempat tinggal atau pada loka lain contohnya di perpustakaan, pada sekolah atau di tempat tertentu yang disepakati beserta.

Belajar bersama pada dasarnya memecahkan duduk perkara secara beserta, merupakan setiap anggota turut memberikan sumbangan pikiran pada memecahkan dilema tadi, sebagai akibatnya diperoleh output atau jawaban yang lebih baik. Pikiran menurut banyak orang umumnya lebih paripurna daripada satu orang.

”Ada beberapa petunjuk untuk belajar bersama yg lebih efektif, yaitu :
a. Pilih teman yg cocok untuk bergabung pada satu gerombolan yg terdidri menurut tiga-5 orang. Anggota yang terlalu banyak umumnya kurang efektif.
b. Tentukan dan sepakati kapan, pada mana dan apa yang akan pada bahas serta apa yg diharapkan pada diskusi itu. Lakukan secara rutin minimal satu kali dalam seminggu.
c. Setelah berkumpul secara bergilir, tetapkan siapa pemimpin kelompok yang akan mengatur diskusi dan siapa penulis yg akan mencatat diskusi.
d. Rumuskan pertanyaan atau pertarungan yg akan dipecahkan bersama dan batasi ruang lingkupnya agar pembahasan tidak menyimpang.
e. Bahas dan pecahkan setiap persoalan satu persatu hingga tuntas, dengan cara memberi kesempatan setiap anggota mengajukan pendapat. Dari setiap pendapat yg ada dikaji secara bersama manakah yang paling tepat. Kesimpulan jawaban yg sudah disepakati bersama dicatat oleh penulis. 
f. Bila ada masalah yg tidak dapat dipecahkan, tangguhkan persoalan itu untuk dimintakan pendapatnya kepada guru. Lanjutkan saja pada dilema berikutnya supaya nir membuang ketika.
g. Kesimpulan output diskusi dicatat oleh penulis, kemudian dibagikan pada anggota kelompok buat dipelajaridirumah masing-masing.” (Nana Sudjana, 1989: 168-169).

2. Pengertian Prestasi Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi belajar adalah dominasi pengetahuan atau keterampilan yg dikembangkan sang suatu pelajaran yang lazimnya ditunjukkan menggunakan nilai tes atau nomor yg diberikan sang guru. (Depdikbud, 1993 : 700).

Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan murid sehabis mengikuti suatu mata pelajaran tertentu yg ditunjukkan menggunakan nilai tes berupa angka yg diberikan oleh guru, menjadi contoh nilai mid semester, nilai semester, nilai tugas, nilai ulangan, nilai raport serta sebagainya.

Prestasi dalam arti luas adalah kemampuan anak didik setelah mengalami belajar. Hal ini dapat diperoleh atau diketahui dari akhir kegiatan serta diperoleh atau diketahui dari akhir aktivitas dan diperoleh bukan karena kebetulan, tetapi prestasi diperoleh menggunakan penuh dengan kesadaran dan mengalami proses eksklusif.

Pada prinsipnya, pengungkapan output belajar mencakup 3 ranah, yaitu ranah cipta, rasa juga karsa (kognitif, afektif, psikomotorik). Walaupun pengungkapan tingkah laris semua ranah tadi, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit. Hal ini ditimbulkan perubahan hasil belajar itu ada yg bersifat intangible (tidak dapat diraba), tetapi yang bisa dilakukan sang guru merupakan hanya merogoh cuplikan perubahan tingkah laris yg dianggap krusial dan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi menjadi hasil belajar siswa.

Secara dunia, faktor yg mensugesti prestasi belajar murid, merupakan :
a. Faktor intern siswa
1) Fisiologis, misalnya kesehatan mata dan pendengaran.
2) Fsikologis, seperti intelegensi, perilaku, talenta, minat serta motivasi siswa

b. Faktor ekstern siswa
1). Lingkungan sosial, seperti: guru, sahabat-tema sekelas, tetangga, orang tua serta keadaan masyarakat.
2). Lingkungan non sosial, seperti: rumah, gedung sekolah, sarana dan prasarana, dan sebagainya.

c. Faktor pendekatan belajar (approach to learn), yakni jenis upaya belajar anak didik yang mencakup taktik dan metode yg digunakan murid buat melakukan aktivitas pembelajaran materi-materi pembelajaran.

Pendekatan belajar terdapat 3 yaitu :
1) Pendekatan surface. Manusia belajar lantaran dorongan dari luar antara lain takut tidak lulus yang menyebabkan dia malu. Oleh karena itu, gaya belajarnya kalem, asal hafal serta nir mementingkan pemahaman yg gampang.
2) Pendekatan deep. Siswa ini dimotivasi menurut pada dirinya (intrinsik). Oleh karenanya, gaya belajarnya serius serta berusaha tahu materi secara mendalam dan memikirkan cara mengaplikasikannya. Bagi anak didik ini yang lebih krusial adalah memiliki pengetahuan yang cukup banyak dan berguna bagi kehidupannya dibanding lulus dengan nilai baik.
3) Pendekatan achieving. Pada umumnya dilandasi oleh motif ekstrinsik yang berciri khusus yg dianggap ego-enhanchment, yaitu ambisi eksklusif yg besar dalam menaikkan prestasi keakuan dirinya menggunakan cara meraih indeks prestasi stinggi-tingginya. Gaya belajarnya lebih berfokus, mempunyai keterampilan belajar (study skill) pada arti sangat cerdik serta efisien pada mengatur ketika, ruang kerja dan perangkat silabus. Baginya, berkompetisi menggunakan temannya pada meraih nilai tertinggi merupakan penting, sebagai akibatnya beliau sangat disiplin, rapi dan sistematis dan berencanauntuk terus maju ke depan (plans ahead).

3. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Ada beberapa pengertian Pendidikan Agama Islam menurut pakar pendidikan, yaitu :
a. Chabib Thoha (1999: 4), Pendidikan Agama Islam adalah sebutan yang diberikan dalam slaah satu pelajaran anak didik muslim pada menuntaskan pendidikannya dalam taraf eksklusif.
b. Ahmad D. Marimba (1986: 47), Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani rohani dari hukum-aturan agama Islam menuju terbentuknya kepribadian primer menurut berukuran-ukuran Islam.
c. Zuhairini dkk. (1983 : 27), Pendidikan kepercayaan berarti usaha-bisnis secara sistematis serta pragmatis pada membantu murid supaya supaya mereka hidup sesuai denagn ajaran Islam.

Jadi, Pendidikan Agama Islam, merupakan usaha-bisnis secara sistematis dan pragmatis yang telah terbentuk mata pelajaran berisi bimbingan jasmani rohani yang menurut hukum-aturan Islam menuju pada terbentuknya kepribadian muslim sejati.

SUMBER-SUMBER ARTIKEL DI ATAS :

Abin Syamsuddin Makmun, (2001), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdarkarya.
Ahmad D. Marimba, (1997), Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: PT. AL-MA’arif
Anas Sudjiono, (2000), Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Bobbi De Porter, Mike Hernacki (2003), Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bandung : Kaifa. 
Bobbi De Porter dkk., (2001), Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas, Bandung : Kaifa.
Chabib Thoha dan Abdul Muti, (1999), PBM-PAI pada Sekolah, , Yogyakarata: Pustaka Belajar.
Choiruddi Hadhiri Suprapto, (2003), Jalan Pintas Menjadi Bintang Pelajar, Panduan Untuk Pelajar Islami, Bandung: Mujahid Press.
Departemen Agama RI, (1996), Al-Qur’an Al-Karim serta Terjemahannya, Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (tanpa tahun), Laporan Penilaian Hasil Belajar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), tanpa penerbit.
Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, (1980), Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama / IAIN Pusat.
Gordon Dryen dan Jeannete Vos, (2001), The Learning Revolution (Terjemahan ration service) Bandung: Kaifa.
Muhaimin, (2002), Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Muhibbin Syah, (2004), Psikology Belajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Perasada.
Nana Sudjana, (1991), Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru.
Rohmad Qomari, (1999), Insania, ”Tehnik Penentuan Ukuran Sampel Dalam Penelitian” Edisi Mei-Juli, Purwokerto : P3M STAIN.
Sanafiah Faisal, (1982), Metode Penelitian Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional.
Slamento, (1995), Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Sugiyono, (2004), Statistika Untuk Penelitian, Bandung : Alfabeta.
Suharsimi Arikunto, (1998), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah, (2002), Rahasia Sukses Belajar, Jakarta : PT Rineka Cipta.
The Liang Gie, (1985). Cara Belajar Yang Efisien, Yogyakarta : Pusat Kemajuan Study.
Thursan Hakim, (2002), Belajar Secara Efektif: Panduan Menemukan Teknik Belajar, Memilih Jurusan, serta Menentukan Cita-cita, Jakarta: Puspa Swara.
Zuhairini dkk, (1983), Metodology Pendidikan Agama, Solo: Ramadhani.

PENGERTIAN KEPRIBADIAN MENURUT PARA AHLI

Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli
1. Pengertian Kepribadian
Kepribadian (personality) bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk sang proses pengenalan Kepribadian adalah kecenderungan psikologis seseorang buat melakukan tingkah laris social eksklusif, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak juga perbuatan.

Kepribadian secara umum
Personality atau kepribadian berasal berdasarkan kata persona, kata persona merujuk dalam topeng yang biasa dipakai para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara generik kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menyebabkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah lantaran hanya menilai konduite yang bisa diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa karakteristik-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini dianggap lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun dalam dasarnya kepribadian itu tidak bisa dinilai “baik” atau “jelek” karena bersifat netral.

Kepribadian menurut Psikologi
Untuk mengungkapkan kepribadian menurut psikologi aku akan menggunakan teori menurut George Kelly yang memandang bahwa kepribadian menjadi cara yg unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian menjadi “sesuatu” yg terdapat pada diri individu yg membimbing serta memberi arah pada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.

Lebih detail tentang definisi kepribadian dari Allport yaitu kepribadian merupakan suatu organisasi yg dinamis berdasarkan sistem psikofisik individu yg memilih tingkah laris serta pikiran individu secara khas.

Definisi kepribadian menurut beberapa ahli antara lain sebagai berikut :
a. Yinger 
Kepribadian adalah holistik konduite dari seorang individu dengan system kesamaan tertentu yg berinteraksi menggunakan serangkaian instruksi. 

b. M.A.W Bouwer 
Kepribadian adalah corak tingkah laris social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, impian, opini serta sikap-sikap seseorang.

c. Cuber 
Kepribadian adalah gabungan holistik berdasarkan sifat-sifat yg tampak dan dapat dicermati sang seorang.

d. Theodore R. Newcombe 
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yg dimiliki seorang menjadi latar belakang terhadap konduite.

e. Menurut Horton (1982)
Kepribadian adalah holistik perilaku, perasaan, ekspresi serta temparmen seseorang. Sikap perasaan aktualisasi diri dan tempramen itu akan terwujud pada tindakan seseorang jika di hadapan dalam situasi tertentu. Setiap orang memiliki kecenderungan prilaku yg baku, atau pola serta konsisten, sebagai akibatnya sebagai karakteristik khas pribadinya.

f. Menurut Schever Dan Lamm (1998)
mendevinisikan kepribadian sebagai holistik pola perilaku, kebutuhan, karakteristik-karakteristik kas dan prilaku seorang. Pola berarti sesuatu yg sudah sebagai baku atu standar, sehingga bila di katakan pola perilaku, maka perilaku itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten pada menghadapai situasi yg di hadapi.

2. Teori Kepribadian
Teori Kepribadian
kita sudah sepakat bahwa teori kepribadian didefinisikan berdasarekan konsep-konsep khusus yang terkandung pada teori-teori tertentu yg dipercaya memadai untuk mendeskripsikan atau memahami tingkah laris insan secara lengkap atau utuh. Kita juga telah sepakati bahwa teori terdiri menurut segugusan perkiraan yg saling berhubungan mengenai tanda-tanda-gejala emfiris tertentu dan definisi-definisi realitas yg memungkin sipemakai berkecimpung berdasarkan teori-teori tak berbentuk keobservasi realitas.
Teori-teori kepribadian termasuk kategori pertama ; teori kepribadian adalah teori generik tentang tingkah laku . Pembagian sederhana ini bermanfaat buat memisahkan teori kepribadian berdasarkan rumpun teori-teori kepribadian lainya. Teori kepribadain memperlihatkan poly variasi dalam hal banyaknya konsep motifasi yang digunakan. Beberapa teori kepribadian asal serta berguna buat membuat deskripsi mengenai tingkah laris yg abnormal atau patologis. Teori psikodinamika serius dalam pergerakan energi psikologis pada pada insan, pada bentuk kelekatan, permasalahan, dan motivasi. 

a. Teori kepribadian Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow lahir dalam lepas 1 April 1908 pada Brooklyn, New York. Dia anak pertama dari tujuh bersaudara. Kedua orangtuanya adalah penganut yahudi nir berpendidikan yg berimigrasi dari Rusia. Lantaran sangat berharap anak-anaknya berhasil pada dunia baru, kedua orang tuanya memaksa Maslow serta saudara-saudaranya belajar keras agar meraih keberhasilan di bidang akademik. Tidak heran apabila semasa kanak-kanak dan remaja, Maslow sebagai anak penyendiri serta menghabiskan hari-harinya dengan buku. Maslow menerima kedudukan berdasarkan departemen psikologi di Branders berdasarkan 1951 sampai 1969. Disitu dia bertemu Kurt Goldstein, yg memberi inspirasi atau pikiran mengenai aktualisasi diri pada bukunya yang populer, The Organism (1934). Disini jua beliau memulai mengenalkan psikologi humanistik – sesuatu yg akbar yang lebih penting buat dia daripada teori yg dibuatnya.maslow membuatkan gagasan ini lebih lanjut serta dikenal menggunakan sebutan hirearki kebutuhan:
  • Kebutuhan fisiologis. Ini termasuk kebutuhan akan oksigen, air, protein, garam, gula, kalsium, dan lainnya seperti mineral dan vitamin. Ini jua, termasuk kebutuhan buat menjaga PH agar seimbang dan suhu yang sesuai. Dan jua, ada kebutuhan buat aktif, istirahat, tidur, buat melepaskan diri menurut yang nir diharapkan ( CO2, keringat, air kencing, dan kotoran ), buat menjaga agar tidak sakit dan buat memenuhi.
  • Kebutuhan rasa kondusif. Kalau kebutuhan fisiologis telah diperhatikan, barulah lapisan kebutuhan kedua ini ada. Anda akan semakin ingin menemukan situasi serta syarat yang kondusif, stabil serta terlindung. Anda perlahan – huma akan menginginkan struktur serta tatanan. Sebaliknya, apabila kebutuhan lapisan kedua ini dilihat secara negatif, perhatian anda akan terfokus bukan dalam masalah lapar dan haus, akan tetapi pada rasa takut serta kecemasan. Dikalangan orang-orang dewasa pada amerika, kebutuhan ini akan terwujud dalam asa mereka yg sangat kuat untuk tinggal berdekatan dengan tetangga yang baik, pekerjaan yg aman, perencanaan masa pension yg matang, iuran pertanggungan, serta lain sebagainya.
  • Kebutuhan cinta serta rindu (kebutuhan buat dimiliki atau mempunyai). Ketika kebutuhan fisiologis dan rasa kondusif telah terpenuhi , kebutuhan lapisan ketiga pun ada. Anda mulai merasa butuh teman, kekasih, anak serta bentuk hubungan menurut perasaan Lainnya. Dilihat secara negative, anda akan semakin mencemaskan kesendirian dan kesepian. Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan ini bisa berbentuk harapan buat menikah, memiliki famili, sebagai bagian dari satu grup atau warga .
  • Kebutuhan harga diri. Setelah itu kita akan mencari harga diri. Maslow berkata bahwa terdapat 2 bentuk kebutuhan terhadap harga diri ini : bentuk yang lemah serta yg bertenaga. Bentuk yang lemah adalah kebutuhan kita buat dihargai orang lain, kebutuhan terhadap status, kemuliaan, kehormatan, perhatian, reputasi, apresiasi bahkan penguasaan. Sementara yg bertenaga merupakan kebutuhan kita buat percaya diri, kompetensi, kesuksesan, independensi serta kebebasan. Bentuk ke 2 ini lebih bertenaga lantaran sekali didapat kita tidak melepaskannya, berbeda dengan kebutuhan kita akan penghargaan orang lain. Bentuk negative menurut kebutuhan akan harga diri ini merupakan rendah diri serta kompleks inferioritas. Maslow mwmbenarkan Adler ketika mengatakan bahwa masala inlah yang sebagai dasar perkara-perkara psikologis. Di Negara-negara modern, sebagian akbar orang hanya mementingkan kebutuhan fisiologis serta rasa kondusif. Sering orang nir terlalu memedulikan kebutuhan mereka akan cinta serta kerinduan.kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengenal realita. Jadi insan mempunyai hasrat yang bertenaga buat mengetahui, tahu buka saja tentang dirinya, namun jua diluar dirinya.
  • Aktualisasi diri.tingkat terakhir ini agak sedikit tidak selaras dengan empat taraf sebelumnya. Maslow menyebut taraf ini dengan istilah berbeda-beda: motivasi pertumbuhan (sebagai versus menurut motivasi devisit), kebutuhan-kebutuhan buat terdapat (being-needs) atau B-Needs (sebagai versus dari D-Needs). B-Needs merupakan kebutuhan buat aktualisasi-Diri. Kebutuhan-kebutuhan aktualisasi diri ini nir memerlukan penyeimbangan atau homeostatis. Sekali diperoleh, dia akan terus dirasakan. Kebutuhan ini memang akan meningkat jika kita “menyebarkannya”. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup hasrat buat monoton mewujudkan potensi-potensi diri, hasrat untuk “menjadi apa yang anda bisa”. Kebutuhan ini lebih merupakan duduk perkara sebagai yg paripurna, sebagai “Anda” yg sebenarnya. Oleh lantaran itulah kebutuhan ini disebut aktualisasi-diri.
  • Meta Kebutuhan dan Mega Patologi
Cara lain yg ditempuh Maslow untuk mengetahui apakah sesungguhnya aktualisasi-diri adalah menggunakan mempelajari apa yg menjadi kebutuhan paling dasar (B-needs) orang-orang yg sanggup mengaktualisasikan dirinya. Kebutuhan-kebutuhan yang ingin mereka penuhi demi kebahagiaan adalah:
  • Kebenaran, bukan kepalsuan.
  • Kebaikan, bukan kejahatan .
  • Keindahan, bukan sesuatu yg buruk atau vulgar.
  • Kesatuan, kemenyeluruhan serta penghilangan oposisi biner, bukan pilihan-pilihan sekehendak hati.
  • Kehidupan yg hidup, bukan kematian atau kehidupan bagai mesin.
  • Keunikan, bukan keseragaman.
  • Kesempurnaan serta kepastian, bukan hal yg asal-asalan, ketidakkonsistenan atau kebetulan.
  • Penyelesaian, bukan keterbengkalaian.
  • Keadilan dan keteraturan, bukan ketidakadilan serta kesewenang-wenangan.
  • Kesederhanaan, kerumitan-kerumitan yg tidak perlu.
  • Kebercukupan asal daya, bukan lingkungan yang miskin.
  • Kewajaran, bukan sesuatu ynag didasarkan pada paksaan.
  • Keriangan dan Kegembiraan, bukan sesuatu yang kasar dan mekanistik, kemarau tanpa humor.
  • Kemandirian, bukan ketergantungan.
  • Kebermaknaan, bukan kehampaan hati.

b. Teori Freud
Sigmund Freud beropini bahwa kepribadian terdiri berdasarkan tiga sistem primer: id, ego, dan superego. Setiap tindakan kita merupakan output hubungan serta keseimbangan antara ketiga sistem tersebut. 

c. Teori Jung
Carl Jung pada awalnya adalah salah satu teman terdekat Freud dan anggota bulat koleganya, namun pertemanan mereka berakhir dalam pertengkaran mengenai ketidaksadaran. Menurut Jung, di samping ketidaksadaran individual, manusia mempunyai ketidaksadaran kolektif yg mencakup ingatan universal, simbol-simbol, gambaran eksklusif, dan tema-tema yg disebutya sebagai arketipe. 

3. Tahapan Perkembangan Kepribadian
a. Evaluasi inti diri
Evaluasi inti diri adalah tingkat pada mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka sendiri, apakah mereka menduga diri mereka cakap serta efektif, dan apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas [lingkungan] mereka. Evaluasi inti diri seseorang individu ditentukan oleh 2 elemen primer: harga diri serta lokus kendali. Harga diri didefinisikan menjadi tingkat menyukai diri sendiri dan taraf sampai mana individu menduga diri mereka berharga atau nir berharga sebagai seorang insan. 

b. Machiavellianisme
Machiavellianisme merupakan taraf di mana seseorang individu pragmatis, mempertahankan jeda emosional, dan konfiden bahwa hasil lebih krusial daripada proses. Karakteristik kepribadian Machiavellianisme dari dari nama Niccolo Machiavelli, penulis dalam abad keenam belas yang menulis tentang cara mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.
c. Narsisisme
Narsisisme adalah kecenderungan menjadi sombong, memiliki rasa kepentingan diri yg berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, serta mengutamakan diri sendiri. Sebuah penelitian mengungkap bahwa saat individu narsisis berpikir mereka adalah pemimpin yang lebih baik apabila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka menjadi pemimpin yg lebih buruk. Individu narsisis tak jarang ingin mendapatkan pengakuan berdasarkan individu lain dan penguatan atas keunggulan mereka sebagai akibatnya individu narsisis cenderung memandang rendah dnegan berbicara kasar pada individu yg mengancam mereka. Individu narsisis jua cenderung egois dan eksploitif, dan acap kali memanfaatkan sikap yang dimiliki individu lain buat keuntungannya.

d. Pemantauan diri
Pemantauan diri adalah kemampuan seseorang buat menyesuaikan perilakunya menggunakan faktor situasional eksternal. Individu menggunakan tingkat pemantauan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan yg sangat baik dalam menyesuaikan perilaku menggunakan faktor-faktor situasional eksternal. Bukti menampakan bahwa individu dengan tingkat pemantauan diri yg tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pintar beradaptasi apabila dibandingkan menggunakan individu yang mempunyai tingkat pemantauan diri yang rendah. 

e. Kepribadian tipe A
Kepribadian tipe A merupakan keterlibatan secara militan dalam usaha monoton buat mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang menentang dari orang atau hal lain. Dalam kultur Amerika Utara, ciri ini cenderung dihargai dan dikaitkan secara positif dengan ambisi serta perolehan barang-barang material yang berhasil. Karakteristik tipe A merupakan: 
  • selalu bergerak, berjalan, dan makan cepat;
  • merasa tidak sabaran;
  • berusaha keras buat melakukan atau memikirkan 2 hal pada saat yang bersamaan;
  • tidak dapat menikmati saat luang;
  • terobsesi dengan nomor -angka, mengukur keberhasilan pada bentuk jumlah hal yg mampu mereka peroleh.
f. Kepribadian proaktif
Kepribadian proaktif adalah sikap yg cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, serta tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi agresif membangun perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau halangan. 

Tahap termin perkembangan kognitif
Piaget tidak terlalu memperhatikan batasan usia menurut tahapan tahapan perkembangan yg dikemukakannya. Oleh karenanya Ginsburg dan opper mengadakan pengamatan lebih lanjut dan berhasil membuat pengelompokan usia sebagai berikut:
a. Tahap 1: stadium sensori motor ( 00 – 18 atau 24 bulan )
Pada stadium ini mobilitas anak diawali dengan tingkah laku refleks murni (belum ada differensiasi antara anak menggunakan kelilingnya ). Pada akhir periode ini baru nampak differensiasi yg jelas antara subjek dengan objek. Pada masa ini berkembang jua suatu kemampuan khusus, yaitu object permanence ( permanensi objek ). 

Stadium ini dibagi ke pada 6 sub stadium Â: 
1. Sub stadium 1 : Modifikasi refleks ( 0 -1 bulan ) : reflek tanpa arah dan secara efisien
2. Sub stadium dua : Reaksi pengulangan pertama ( 1 -4 bulan ) : aktivitas menyenangkan akan diulang, ada pengertian bahwa aktivitas yg menarik masih ada apada tubuhnya sendiri
3. Sub stadium 3 : Reaksi pengulangan 2 ( 4 -10 bulan ) : Bayi menemukan objek – objek diluar dirinya yang menarik ( secara nir sengaja ), dan akan diulang lagi kegiatan tersebut. Bayi mulai mengetahui adanya hubungan antara aktivitasnya dengan objek objek menarik pada luar dirinya.
4. Sub stadium 4 : Koordinasi reaksi reaksi sekunder ( 10 – 12 bulan _ : Gerak gerik bayi telah mulai terdifferensiasi. Bayi telah mulai bisa mengkoordinasikan dua skema yg terpisah buat menerima sesuatu.
5. Sub stadium 5 : Reaksi pengulangan ketiga ( 12 -18 bulan ) : anak mencari dan mencapai sesuatu yang baru oleh usahanya sendiri. Anak tidak sekedar melakukan gerakan coba – coba secara tidak sengaja namun ia telah bisa membarui gerakan gerakannya buat mencapai suatu output ( ada tujuan yg lebih kentara )
6. Sub stadium 6 : Permulaan berpikir ( 18 – 24 bulan ) : anak mulai dapat berpikir secara internal ( menganalisis suatu kejadian )
b. Tahap dua : Stadium pra operaional ( 2 – 7 tahun )

Pada termin ini anak telah sanggup melakukan aktifitas simbolis ( kegiatan intern ), anak bisa berpura pura, anak bisa meniru ( imitasi dan imitasi tertunda / delayed imitation ), masih egosentris serta centralized : Penyusunan -> anak baru mampu menyusun dua benda menggunakan ukuran tidak sama, Pengelompokan : anak lebih tertarik pada sekelompok benda yang memiliki ciri ciri eksklusif menggunakan jumlah lebih banyak, konservasi : kemampuan anak buat memahami bahwa jumlah benda selalu tetap, meski pada tempatkan di loka yg berbeda beda.

c. Tahap ketiga : Stadium operasional konkrit ( 7 -1 1 tahun)
Pada stadium ini anak sudah sanggup melakukan tugas – tugas perlindungan dengan baik. Cara berpikir egosentrisme mulai berkurang, sanggup memperhatikan lebih berdasarkan satu dimensi serta menghubungkan dimensi dimensi tersebut satu sama lain, mampu berpikir logis, tetapi pada situasi yang kongkrit

d. Tahap 4 : Stadium operasional formal
Pada stadium ini anak sudah bisa berpikir secara operasional formal / abstract thingking yang mempunyai dua sifat krusial : deduktif – hipotesis serta kombinatoris

4. Tipe Kepribadian & Faktor Pendukung
Sembilan Tipe Kepribadian Manusia
Tipe 1 perfeksionis
Orang dengan tipe ini termotivasi sang kebutuhan buat hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain serta menghindari marah.
Tipe 2 penolong
Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif dalam orang lain, serta menghindari kesan membutuhkan.
Tipe 3 pengejar prestasi
Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan buat menjadi orang yg produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar berdasarkan kegagalan.
Tipe 4 romantis
Orang tipe romantis termotivasi sang kebutuhan buat tahu perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hayati, dan menghindari gambaran diri yang biasa-biasa saja.
Tipe lima pengamat
Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu serta alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, dan menghindari kesan kolot atau tidak memiliki jawaban.
Tipe 6 pencemas
Orang tipe 6 termotivasi oleh kebutuhan untuk menerima persetujuan, merasa diperhatikan, serta terhindar menurut kesan pemberontak.
Tipe 7 petualang
Tipe 7 termotivasi oleh kebutuhan buat merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada global, serta terhindar berdasarkan derita dan dukacita.
Tipe 8 pejuang
Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, bertenaga, memberi dampak pada global, dan terhindar menurut kesan lemah.
Tipe 9 pendamai
Para pendamai dimotivasi sang kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu menggunakan orang lain serta menghindari pertarungan.

Tipe kepribadian dari golongan darah
Golongan darah A
Biasanya orang yg bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius, sabar dan santai atau cool, bahasa kerennya.
Orang yang bergolongan darah A ini memiliki karakter yg tegas, bias di andalkan dan dipercaya namun keras ketua.
Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan benar-benar-benar-benar serta secara konsisten.
Mereka berusaha menciptakan diri mereka se lumrah serta ideal mungkin.
Mereka bisa kelihatan menyendiri dan jauh menurut orang-orang.
Mereka mencoba menekan perasaan mereka dan lantaran tak jarang melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yg lembek seperti gugup dan lain sebagainya.
Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang nir sependapat. Makanya mereka cenderung berada pada kurang lebih orang-orang yg ber’temperamen’ sama.


Golongan darah B
Orang yg bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
Mereka juga cenderung memiliki terlalu banyak kegemaran serta hobby. Kalau sedang senang menggunakan sesuatu umumnya mereka menggebu-gebu tetapi cepat pula bosan.
Tapi biasanya mereka bisa menentukan mana yg lebih krusial menurut sekian poly hal yang di kerjakannya.
Mereka cenderung ingin menjadi angka satu pada banyak sekali hal ketimbang hanya dipercaya homogen-homogen. Dan umumnya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus menggunakan kesibukan yg lain. Dengan istilah lain, mereka nir bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.
Mereka dari luar terlihat brilian, riang, bersemangat serta antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali tidak sama dengan yg terdapat didalam diri mereka.
Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang nir ingin bergaul menggunakan banyak orang.

Golongan darah O
Orang yang bergolongan darah O, mereka ini umumnya berperan pada menciptakan gairah buat suatu gerombolan . Dan berperan dalam membentuk suatu keharmonisan diantara para anggota grup tadi.
Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima serta melaksakan sesuatu dengan damai. Mereka pandai menutupi sesuatu sebagai akibatnya mereka kelihatan selalu riang, damai dan nir punya kasus sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).
Mereka biasanya pemurah (baik hati), bahagia berbuat kebajikan. Mereka gemar memberi serta nir segan-segan mengeluarkan uang buat orang lain.
Mereka umumnya di cintai sang seluruh orang, “loved by all”. Tapi mereka sebenarnya keras kepala pula, serta secara rahasia memiliki pendapatnya sendiri mengenai banyak sekali hal.
Dilain pihak, mereka sangat fleksibel serta sangat mudah menerima hal-hal yg baru.
Mereka cenderung gampang pada pengaruhi oleh orang lain dan sang apa yang mereka lihat dari TV.
Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka tak jarang tergelincir serta menciptakan kesalahan yg akbar lantaran kurang berhati-hati.
Tapi hal itu yg mengakibatkan orang yang bergolongan darah O ini di cintai.

Golongan darah AB
Orang yang bergolongan darah AB ini memiliki perasaan yg sensitif, lembut. 
Mereka penuh perhatian menggunakan perasaan orang lain serta selalu menghadapi orang lain menggunakan kepedulian dan kehati-hatian.
Disamping itu mereka keras menggunakan diri mereka sendiri pula menggunakan orang-orang yang dekat dengannya. 
Mereka jadi cenderung kelihatan memiliki dua kepribadian.
Mereka seringkali menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
Mereka memiliki banyak sahabat, tapi mereka membutuhkan saat buat menyendiri buat memikirkan masalah-masalah mereka.

Faktor-faktor yg mensugesti kepribadian:
Faktor keturunan
Keturunan merujuk dalam faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk paras, gender, temperamen, komposisi otot serta refleks, taraf tenaga serta irama biologis adalah ciri yg dalam umumnya dipercaya, entah sepenuhnya atau secara substansial, ditentukan oleh siapa orang tua menurut individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, serta psikologis bawaan berdasarkan individu. Terdapat 3 dasar penelitian yg berbeda yang memberikan sejumlah dapat dipercaya terhadap argumen bahwa faktor keturunan mempunyai kiprah krusial dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama serius pada penyokong genetis dari perilaku serta temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yg dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja menurut saat ke saat dan dalam banyak sekali situasi. Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yg bertenaga terhadap imbas berdasarkan faktor keturunan. Bukti memberitahuakn bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, serta agresif bisa dikaitkan menggunakan ciri genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yg memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan serta warna rambut. Para peneliti telah menyelidiki lebih menurut 100 pasangan kembar identik yg dipisahkan semenjak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kecenderungan buat hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yg signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini pula memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu menghipnotis perkembangan kepribadian atau dengan istilah lain, kepribadian berdasarkan seseorang kembar identik yang dibesarkan pada famili yang tidak sama ternyata lebih mirip menggunakan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yg dibesarkan beserta-sama.

Faktor lain yg memberi efek cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan pada mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma pada famili, sahabat, dan grup sosial; dan imbas-imbas lain yg seseorang manusia bisa alami. Faktor lingkungan ini mempunyai peran dalam menciptakan kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan menurut satu generasi ke generasi berikutnya serta membentuk konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yg secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit imbas dalam kultur yg lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara mempunyai semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yg terus tertanam pada diri mereka melalui kitab , sistem sekolah, famili, serta teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius serta militan apabila dibandingkan dengan individu yg dibesarkan dalam budaya yg menekankan hayati beserta individu lain, kerja sama, dan memprioritaskan famili daripada pekerjaan serta karier.