BUDIDAYA KARET
Karet (termasuk karet alam) adalah kebutuhan yang vital bagikehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait menggunakan gerak insan danbarang yg memerlukan komponen yang terbuat dari karet misalnya bankendaraan, conveyor belt, sabuktransmisi, dock fender, sepatu serta sandal karet. Kebutuhan karet alam maupunkaret sintetik terus semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya baku hidupmanusia. Kebutuhan karet sintetik nisbi lebih mudah dipenuhikarena asal bahan baku relatiftersedia walaupun harganya mahal, akan namun karet alam dikonsumsi sebagaibahan standar industri tetapi diproduksi menjadi komoditi perkebunan. Pertumbuhanekonomi dunia yg pesat dalam sepuluh tahun terakhir, terutama China danbeberapa negara tempat Asia-Pasifik dan Amerika Latin seperti India, KoreaSelatan dan Brazil, memberi dampakpertumbuhan permintaan karet alam yg cukup tinggi, walaupun pertumbuhanpermintaan karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, EropaBarat dan Jepang relatif stagnan. Menurutperkiraan International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan akan terjadikekurangan pasokan karet alam dalam periode 2 dasa warsa ke depan.
Hal ini menjadikekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban misalnya Bridgestone,Goodyear serta Michellin. Sehingga padatahun 2004, IRSG membangun Task ForceRubber Eco Project (REP) buat melakukan studi tentang permintaan dan penawarankaret hingga dengan tahun 2035. tiga Hasilstudi REP meyatakan bahwa permintaankaret alam serta sintetik dunia pada tahun 2035 merupakan sebesar 31.tiga juta tonuntuk industri ban dan non ban, serta 15 juta ton diantaranya merupakan karetalam. Produksi karet alam dalam tahun 2005diperkirakan 8.lima juta ton. Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan produksiIndonesia akan mencapai tiga% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1% serta Malaysia-2%.
Pertumbuhanproduksi buat Indonesia bisa dicapai melalui peremajaan atau penaman barukaret yg cukup akbar, menggunakan asumsi produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5juta ton serta tahun 2035 sebesar lima.1 juta ton. Sejak pertengahan tahun 2002harga karet mendekati harga US$ 1.00/kg,dan sampai kini ini sudah mencapaiUS$ 1.90kg buat harga SIR 20 diSICOM Singapura. Diperkirakan harga akan mencapai US$ dua.00 pada tahun 2007 danpada jangka panjang sampai 2020 akantetap stabil, dikarenakan permintaan yang terus semakin tinggi terutama dari China,India, Brazil dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggidi Asia-Pasifik.
TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET
Untuk membentuk kebun karet dibutuhkan manajemen danteknologi budidaya tanaman karet yg meliputi, kegiatan sebagai berikut:
• Syarat tumbuh tanamankaret
• Klon-klon karetrekomendasi
• Bahan tanam/bibit
• Persiapan tanam danpenanaman
• Pemeliharaan flora:pengendalian gulma, pemupukan serta pengendalian penyakit
• Penyadapan/panen
1. Syarat Tumbuh Tanaman Karet
Pada dasarnya tumbuhan karet memerlukan persyaratan terhadap kondisiiklim buat menunjang pertumbuhan serta keadaan tanah sebagai mediatumbuhnya.
a. Iklim
Daerah yang cocok buat tanaman karet merupakan pada zone antara 150LS serta 150 LU. Diluar itu pertumbuhan flora karet agakterhambat sehingga memulai produksinya pula terlambat.
b. Curah hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai4.000 mm/tahun,menggunakan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. Tetapi demikian, apabila seringkali hujan dalam pagihari, produksi akan berkurang.
c.tinggi loka
Pada dasarnya flora karettumbuh optimal dalam dataran rendahdengan ketinggian 200 m berdasarkan bagian atas laut. Ketinggian > 600 m daripermukaan laut tidak cocok buat tumbuh flora karet. Suhu optimal diperlukanberkisar antara 250C hingga 350C.
d.angin
Kecepatan angin yg terlalu kencang dalam biasanya kurang baik buat penanaman karet
e.. Tanah
Lahan kering buat pertumbuhan flora karet dalam umumnyalebih mempersyaratkan sifat fisiktanah dibandingkan menggunakan sifatkimianya. Hal ini disebabkan perlakuankimia tanah supaya sinkron dengan kondisi tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan denganlebih gampang dibandingkan menggunakan pemugaran sifat fisiknya. Berbagai jenis tanahdapat sinkron dengan syarat tumbuh flora karet baik tanah vulkanis belia dantua, bahkan pada tanah gambut < 2 m. Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yg relatif baik terutama struktur,tekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi serta drainasenya, tetapi sifatkimianya secara generik kurang baik karenakandungan haranya rendah.
Tanah alluvialbiasanya relatif subur, namun sifat fisikanya terutama drainase serta aerasenyakurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3, 0 - pH 8,0 tetapi tidak sesuaipada pH < tiga,0 dan > pH 8,0. Sifat-sifat tanah yang cocok buat tanaman karetpada umumnya antara lain
- Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapatbatu-batuan dan lapisan cadas
- Aerasedan drainase relatif
- Teksturtanah remah, poreus dan dapat menahan air
- Strukturterdiri menurut 35% liat dan 30% pasir
- Tanahbergambut tidak lebih menurut 20 centimeter
- Kandunganhara NPK cukup serta nir kekurangan unsur hara mikro
- Reaksitanah dengan pH 4,lima - pH 6,lima
- Kemiringantanah < 16% dan
- Permukaanair tanah < 100 cm.
2. Klon-klon Karet Rekomendasi
Harga karet alam yang membaik waktu ini harusdijadikan momentum yg bisa mendorong percepatan pembenahan dan peremajaankaret yg kurang produktif dengan memakai klon-klon unggul serta perbaikanteknologi budidaya lainnya. Pemerintah telah menetapkansasaran pengembangan produksi karet alam Indonesia sebesar 3 - 4 juta ton/tahun pada tahun 2025. Sasaranproduksi tersebut hanya dapat dicapai bila minimal 85% areal kebun karet (warga ) yang waktu ini kurang produktifberhasil diremajakan dengan memakai klon karet unggul.
Kegiatan pemuliaankaret pada Indonesia sudah banyak menghasilkan klon-klon karet unggul sebagaipenghasil lateks serta penghasil kayu. Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005, telah direkomendasikan klon-klon unggul barugenerasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR lima, IRR 32, IRR 39,IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 serta IRR 112 akan diajukanpelepasannya sedangkan klon IRR lainnya telah dilepas secara resmi.
Klon-klon tersebutmenunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada banyak sekali lokasi, tetapimemiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya. Oleh karena itu pengguna harus memilih dengancermat klon-klon yg sinkron agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenisproduk karet yang akan dihasilkan. Klon-klon usang yang telah dilepas yaitu GT 1,AVROS 2037, PR 255, PR 261, PR 300, PR 303, RRIM 600, RRIM 712, BPM 1, BPM 24,BPM 107, BPM 109, PB 260, RRIC 100 masih memungkinkan buat dikembangkan,tetapi harus dilakukan secara hati-hati baik dalam penempatan lokasi maupunsistem pengelolaannya.klon GT 1 serta RRIM 600 di aneka macam lokasi dilaporkan mengalami gangguan penyakit daun Colletotrichum dan Corynespora. Sedangkan klon BPM 1, PR 255, PR 261 mempunyai perkara dengan mutulateks sehingga pemanfaatan lateksnya terbatas hanya cocok buat jenis produkkaret tertentu. Klon PB 260 sangat peka terhadap kekeringan alur sadap dan gangguan angin dan kemarau panjang,karenanya pengelolaanya harus dilakukansecara sempurna.
3. Bahan Tanam
Halyang paling krusial pada penanaman karet merupakan bibit/bahan tanam, pada halini bahan tanam yg baik adalah yg asal dari tanaman karet okulasi. Persiapan bahan tanam dilakuka paling tidak1,5 tahun sebelum penanaman. Dalam halbahan tanam terdapat 3 komponen yang perlu disiapkan, yaitu: batang bawah (rootstoct), entres/batang atas (budwood), serta okulasi
(grafting) pada penyiapan bahan tanam. Persiapan batang bawah adalah suatukegiatan buat memperoleh bahan tanam yg mempunyai perakaran kuat dan dayaserap hara yg baik.
Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan pembangunan pembibitanbatang bawah yg memenuhi syarat teknis yg meliputi persiapan tanahpembibitan, penanganan benih, perkecambahan, penanaman kecambah, serta usahapemeliharaan tumbuhan pada pembibitan.
Untuk menerima bahan tanam output okulasi yg baikdiperlukan entres yg baik, Pada dasarnya mata okulasi bisa diambil berdasarkan duasumber, yaitu berupa entres cabang berdasarkan kebun produksi atau entres menurut kebunentres. Dari 2 macam asal mataokulasi ini usahakan dipilih entres berdasarkan kebun entres murni, lantaran entrescabang akan membentuk tumbuhan yang pertumbuhannya tidak seragam dankeberhasilan okulasinya rendah. Okulasimerupakan keliru satu cara perbanyakan tumbuhan yg dilakukan dengan menempelkanmata entres menurut satu tumbuhan ke tanamansejenis dengan tujuan menerima sifat yang unggul. Dari output okulasi akan diperoleh bahan tanamkaret unggul berupa stum mata tidur, stum mini , bibit dalam polibeg, atau stumtinggi. Untuk flora karet, mata entresini yang adalah bagian atas menurut tanaman dan dicirikan sang klon yangdigunakan sebagai batang atasnya. Penanaman bibit tumbuhan karet harus tepatwaktu buat menghindari tingginya angka kematian di lapang. Waktutanam yang sinkron merupakan dalam ekspresi dominan hujan. Selain itu perlu disiapkan tenaga kerja buat kegiatan-aktivitas untukpembuatan lubang tanam, pembongkaran, pengangkutan, dan penanaman bibit. Bibityang telah dibongkar usahakan segera ditanam dan tenggang ketika yg diperbolehkan palinglambat satu malam selesainya pembongkaran. Secara lebih terperinci penyiapan bahantanam karet okulasi dapat dipandang Buku Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat (tahun1996, edisi ke-2) atau Booklet Pengelolaan Bahan Tanan Karet (tahun 2005) yg dikeluarkan sang BalaiPenelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet.
4. Persiapan Tanam serta Penanaman
Dalam pelaksanaan penanamantanaman karet dibutuhkan berbagai langkah yang dilakukan secara sistematismulai dari pembukaan huma sampai dengan penanaman.
a. Pembukaan huma (Land Clearing)
Lahan tempat tumbuh tumbuhan karet harus higienis darisisa-sisa tumbuhan hasil tebas tebang, sebagai akibatnya jadwal pembukaan huma harus disesuaikandengan jadwal penanaman. Kegiatanpembukaan huma ini meliputi :
(a) pembabatan semak belukar, (b) penebangan pohon, (c) perecanaandan pemangkasan, (d) pendongkelan akar kayu, (e) penumpukan serta pembersihan.seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan penataan huma pada blok-blok,penataan jalan-jalan kebun, serta penataan saluran drainase dalamperkebunan.
Penataan blok-blok.
Lahan kebun dipetak-petakmenurut satuan terkecil serta ditata ke dalam blok-blok ukuran 10 -20 ha,setiap beberapa blok disatukan sebagai satu hamparan yang memiliki ketika tanamyang relatif sama.
Penataan Jalan-jalan
Jaringan jalan wajib ditata serta dilaksanakan pada saat pembangunan flora baru (tahun 0) dan dikaitkandengan penataan huma ke pada blok-bloktanaman. Pembangunan jalan pada arealdatar serta berbukit dengan panduan dapat menjangkau setiap areal terkecil,menggunakan jarak pikul maksimal sejauh 200 m. Sedapatkan mungkin seluruh jaringan ditumpukkan/ disambungkan, sehinggasecara keseluruhan adalah suatu pola jaringan jalan yg efektif. Lebar jalan diadaptasi dengan jenis/kelasjalan serta alat angkut yang akan dipakai.
Penataan Saluran Drainase
Setelah pemancangan jeda tanam terselesaikan, maka pembuatan danpenataan saluran drainase (field drain) dilaksanakan. Luas penampang disesuaikan dengan curah hujan dalam satuan saat eksklusif, danmempertimbangkan faktor peresapan dan penguapan. Seluruh kelebihan air pada field draindialirkan dalam 10parit-paritpenampungan buat selanjutnya dialirkanke saluran pembuangan (outlet drain).
b. Persiapan LahanPenanaman
Dalam mempersiapkan lahanpertanaman karet pula diperlukan pelaksanaan aneka macam aktivitas yg secarasistematis dapat menjamin kualitas huma yang sinkron dengan persyaratan. Beberapa diantara langkah tersebut diantaranya:
Pemberantasan Alang-alang serta Gulma lainnya
Pada huma yg telah selesai tebas tebang dan huma lain yangmempunyai vegetasi alang-alang, dilakukan pemberantasan alang-alang menggunakan memakai bahan kimia antara lainRound up, Scoup, Dowpon atau Dalapon. Kegiatan ini lalu diikuti denganpemberantasan gulma lainnya, baik secara kimia maupun secara mekanis.
Pengolahan Tanah
Dengan tujuan efisiensi biaya , pengolahan lahan buat pertanaman karet dapatdilaksanakan dengan sistem minimum tillage, yakni menggunakan membuat larikan antarabarisan satu meter menggunakan cara mencangkul selebar 20 cm. Tetapi demikian pengolahan tanah secaramekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan permanen menjaga kelestariandan kesuburan tanah.
Pembuatan teras/Petakan dan Benteng/Piket
Pada areal lahan yang mempunyai kemiringan lebih dari 50 diperlukanpembuatan teras/petakan dengan sistem kontur serta kemiringan ke pada sekitar150. Hal ini dimaksudkan buat merusak kemungkinan terjadi erosi oleh airhujan. Lebar teras berkisar antara 1,25sampai 1,50 cm, tergantung dalam derajat kemiringan huma. Untuk setiap 6 - 10 pohon (tergantung derajat kemiringan tanah)dibentuk benteng/piket dengan tujuan mencegah erosi dalam permukaan petakan.
Pengajiran
Pada dasarnya pemancangan air merupakan buat menerai loka lubangtanaman
dengan ketentuan jarak tanaman menjadi berikut :
a) Padaareal huma yang relatif datar / landai (kemiringan antara 00 - 80) jeda tanam adalah 7 m x tiga m (= 476 lubang/hektar) berbentukbarisan lurus mengikuti arahTimur - Barat berjarak 7m dan arah Utara - Selatan berjarak tiga m (lihat
b) Padaareal huma bergelombang atau berbukit (kemiringan 8% - 15%) jeda tanam 8 m x 2, lima m (=500 lubang/ha) pada teras-teras yang diaturbersambung setiap 1,25 m(penanaman secara kontur),
Bahanajir bisa menggunakan rabat bambu tipis menggunakan ukuran 20 cm - 30 cm. Pada setiap titik pemancangan ajir tadi merupakan loka ekskavasi lubang buat tanaman .
Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang buat flora dibuat 60 cm x 60 cm bagian atas , dan40 cm x 40 centimeter bagian dasar menggunakan kedalaman 60 cm. Pada saat melubang, tanahbagian atas (top soil) diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (subsoil) diletakkan pada sebelah kanan Lubang flora dibiarkan selama 1 bulansebelum bibit karet ditanam.
Penanaman Kacangan Penutup Tanah (Legume cover crops = LCC)
Penanaman kacanganpenutup tanah ini dilakukan sebelum bibit karet mulai ditanam menggunakan tujuanuntuk menghindari kemungkinan erosi, memperbaiki struktur fisik serta kimiatanah, mengurangi pengupan air, serta buat membatasi pertumbuhan gulma.
Komposisi LCCuntuk setiap hektar huma merupakan 4 kg. Pueraria javanica, 6 kg Colopogonium mucunoides, serta 4 kg Centrosemapubescens, yang dicampur ke pada 5 kg Rock Phosphate (RP) menjadi media. Selain itu juga dianjurkan buat menyisipkanColopogonium caerulem yang tahan naungan(shade resistence) ex biji atau ex steck dalam polibag kecil sebesar 1.000bibit/ha. Tanaman kacangan dipelihara menggunakan melakukan penyiangan, danpemupukan menggunakan 200 kg RP per hektar, dengan cara menyebar rata pada atas flora kacangan.
c. Seleksi dan PenanamanBibit
Seleksi bibit
Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibituntuk memperoleh bahan tanam yg memeliki sifat-sifat umum yg baik antaralain : berproduksi tinggi, responsif terhadap stimulasi output, resitensiterhadap agresi hama dan penyakit daun serta kulit, serta pemulihan luka kulit yg baik. Beberapa kondisi yg harus dipenuhi bibitsiap tanam adalah antara lain :
- Bibit karet dipolybag yang sudah berpayung dua.
- Mata okulasibenar-benar baik serta telah mulai bertunas
- Akar tunggangtumbuh baik dan mempunyai akar lateral
- Bebas menurut penyakitjamur akar (Jamur Akar Putih).
Kebutuhan bibit
Dengan jarak tanam 7 m x 3 m (untuk tanah landai), dibutuhkan bibittanaman karet buat penanaman sebanyak 476 bibit, serta cadangan buat penyulamansebanyak 47 (10%) sehingga buat setiap hektar kebun dibutuhkan sebanyak 523batang bibit karet.
Penanaman
Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musimpenghujanyakni antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukupbanyak, dan hari hujan sudah lebih menurut 100 hari. Pada waktu penanaman, tanahpenutup lubang digunakan top soilyang sudah dicampur menggunakan pupuk RP 100 gr per lubang, disamping pemupukan dengan urea 50 gr serta SP - 36 sebesar100 gr sebagai pupuk dasar.